Anda di halaman 1dari 12

HEAT COAGULATION TEST

TUJUAN
Mengetahui adanya protein di dalam urin/proteinuria (analisis kualitatif)
PRINSIP
Denaturasi, koagulasi dan presipitasi
ALAT DAN BAHAN
- Urin sewaktu
- Larutan asam cuka 2%
- Air
- Tabung reaksi
- Kertas saring
- Pipet
- Corong kaca
- Penjepit tabung
- Lampu spritus
- Gelas ukur
- Sarung tangan
CARA KERJA
1. Pakai sarung tangan sebelum memulai pemeriksaan
2. Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan
3. Menyaring urin
a. Letakan corong kaca ke dalam tabung reaksi
b. Letakan kertas sarimg di atas corong kaca
c. Teteskan 2-3 tetes akuades di atas kertas saring
d. Saring 5 mL urin
4. Pemanasan (langsung)
a. Jepit tabung dengan menggunakan pipet penjepit tabung
b. Panaskan urin dalam tabung di atas lampu spritus sampai mendidih
c. Amati perubahan yang terjadi
5. Setelah dipanaskan, tetesi urin dengan 2-3 tetes asam cuka 2%
6. Amati perubahan yang terjadi
HASIL PERCOBAAN
Dari hasil pengamatan setelah dilakukan percobaan pada urin pasien penderita
Glomerulonefritis (+) ditemukan bahwa urin berubah menjadi keruh setelah
dipanaskan dan ada terbentuk endapan. Ini menunjukkan bahwa protein lolos dari
penyaringan di glomerulus. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa keadaan, misalnya
disfungsi Glomerulus, radang, serta gangguan fungsi ginjal lainnya.

Gambar : Urin Pasien Glomerulonefritis.


Dari hasil percobaan masing-masing anggota kelompok kami, 12 orang didapatkan hasil
negatif (normal), dan 1 orang ada terbentuk endapan.

Gambar hasil perorangan

Gambar hasil positif (?) salah satu anggota (Rebecca Lalujan)

TEORI

Urin pada orang normal adalah urin yang segar berwarna kekuningan (kuning
pucat) dan jernih. Pigmen utamanya adalah urokrom, tetapi juga terdapat sejumlah
kecil urobilin dan hematoporfirin.Urin dibentuk oleh ginjal dalam menjalankan
system homeostatic. Sifat dan sususnan urin dipengaruhi oleh factor fisiologis
(misalkan masukan diet, berbagai proses dalam tubuh, suhu, lingkungan, stress,
mental, dan fisik) dan factor patologis (seperti pada gangguan metabolisme misalnya
diabetes mellitus dan penyakit ginjal). Oleh karena itu pemeriksaan urin berguna
untuk menunjang diagnosis suatu penyakit. Pada penyakit tertentu, dalam urin dapat
ditemukan zat-zat patologik antara lain glukosa, protein dan zat keton (Probosunu,
1994).

Urin dibentuk oleh penggabungan 3 proses yaitunya 1). fikrasi plasma darah
oleh glomerulus. 2) Absorpsi kembali selektif zat-zat seperti garam, air, gula
sederhana dan asam amino oleh tubulus yang diperlukan untuk mempertahankan
lingkungan internal atau untuk membantu proses-proses metabolik; dan 3) Sekresi
zat-zat oleh tubulus dari darah ke dalam lumen tubulus untuk dieksresikan ke dalam
urin. Proses ini mengikutsertakan penahanan kalium, asam urat, anion organik, dan
ion hidrogen. Tugasnya untuk memperbaiki komponen buffer darah dan untuk
mengeluarkan zat-zat yang mungkin merugikan (Sinosuke,2009).

Unit anatomi yang melakukan fungsi ini adalah nefron. Tiap-tiap ginjal
memiliki sekitar 1 juta nefron. Darah dihantarkan dari aorta melalui arteri renalis dan
cabang-cabang arteria renalis ke arterioli afferen. Tepat distal dari stuktur ini adalah
glomerulus, suatu jaringan kapiler yang menyerupai jumbai yang terdiri atas unit
penyaringan. Kapiler ini bergabung untuk membentuk arteriole efferen, suatu
pembuluh darah dengan dinding ototyang karenanya mampu mengubah diameter
lumennya. Arteriole efferen segera membagi lagi menjadi kapiler kedua yang
mengelilingi bagian lainnya dari nefron (Sinosuke,2009).

Jumbai glomerulus terletak dalam kapsula Bowman, suatu kantung epitel


berdinding rangkap yang merupakan bagian dari sistem tubulus paling proksimal.
Kapsula Bowman langsung berubah menjadi tubulus kontortus proksimalis dan dari
sini menjadi komponen-komponen berikutnya: tubulus rektus proksimalis dan
lengkung Henle sendiri, terdiri dari pars descendens, pars decendens yang tipis, dan
pars decendens yang tebal. Yang terakhir terletak dalam medulla dan korteks ginjal.
Pars ascendens yang tebal dari lengkung Henle berubah menjadi tubulus kontortus
distalis, tubulus kolligens kortikal, dan tubulus kolligens medulla dan papila. Tiap-
tiap bagian sistem tubular ini mempunyai fungsiyang spesifik (Ali, 2008).
System urin terdiri dari ginjal, ureter, kantong kemih dan uretra dengan
menghasilkan urin yang membawa serta berbagai produk sisa metabolisme untuk
dibuang. Ginjal juga berfungsi dalam pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit
tubuh dan merupakan tempat pembuangan hormon rennin dan eritropitin. Renin ikut
berperan dalam pengaturan tekanan darah dan eritropitin berperan dalam merangsang
produksi sel darah merah. Urin juga dihasilkan oleh ginjal berjalan melalui ureter ke
kantung kemih melalui uretra (Juncquiera, 1997).

Sistem urinaria yaitu suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan


darah, sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan
menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak
dikeluarkan berupa urin (air kemih). Susunan sistem urinaria ini yaitu : Ginjal ureter
vesica urinaria ureter urine (Syaifuddin, 1997).

Ginjal merupakan suatu kelenjar yang terletak di belakang dari kavum


abdominalis di belakang peritonium. Fungsi ginjal yaitu berperan penting dalam
pengeluaran zat-zat toksis atau racun. Mempertahankan suasana racun (keseimbangan
racun), mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh,
mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh,
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari produksi ureum, kreatinin dan
amoniak ( kartolo, 1990).

Glomerulus berfungsi sebagai ultrafiltrasi, pada simpauni bawman yang


berfungsi untuk menampung hasil filtrasi dari glomerulus. Urin berasal dari darah
yang dibawa arteri renalis masuk ke dalam ginjal, darah ini terdiri dari bagian yang
padat yaitu sel darah dan plasma darah ( kartolo, 1990).

Ada tiga tahap pembentukan urin yaitu : 1) Proses filtrasi merupakan prpses
yang terjadi dalam glomerulus, terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari
permukaan eferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian tersaring
adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh
simpauni bawman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat
diteruskan ke tubulus seminiferos. 2) Proses reabsorpsi : terjadi penyerapan kembali
sebagian dari glukosa, sodium, kloroda dan fospat dan beberpa ion bikarbonat. Prose
ini terjadi secara pasif yang dikenal obligator reapsorbsi terjadi pada tubulus atas. 3)
proses sekresi : sisanya penyerapan kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan
ke piala ginjal selanjutnya diteruskan keluar (Syaifuddin, 1997).

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah atau keadaan urine yaitu


diantaranya : jumlah air yang diminum, keadaan sistem syaraf, hormon ADH,
banyaknya garam yang harus dikeluarkan dari darah agar tekanan menjadi osmotic,
pada penderita diabetes melitus pengeluaran glukosa diikuti kenaikan volume urine
(Thenawijaya, 1995).

Peranan penting osmoregulasidiantaranya : membuang hasil sampingan


metabolisme, mencegah terganggunya aktivitas metabolisme dalam tubuh dengan
cara mensekresikan zat buangan, mengandalikan kandungan air dalam cairan tubuh,
mengatur jumlah air yang tetap cairan tubuh (Djuanda, 1980).

Komposisi dari urine yaitu terdiri dari kira-kira 95 % air, zat-zat sisa nitrogen
dari hasil metabolisme protein asam urea, amoniak, dan kreatinin, elektrolit natreium,
kalsium, NH3, bikarbonat, fospat dan sulfat, juga terdiri dari pigmen (bilirubin,
urobilin) toksin dean hormon (Yatim, 1982).

Sifat fisis urine terdiri dari jumlah ekskresi dalam 24 jam adalh lebih kuramg
1500 cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya, warna bening,
kuning muda, dan bila diniarkan akan menjadi keruh, warna kuning tergantung dari
kepekatan, diet obat-obatan dan sebagainya. Berbau, bau khas air kemihbila dibiarkan
lamaakan berbau amoniak, berat jenis 1,015 1,020, reaksinya asam, bila lama-lama
menjadi alkalis juga tergantung dari pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan
protein memberi reaksi asam) (Kartolo, 1990).

Menurut kimball (1998) bahwa urine orang sakit yang telah diuji dengan
benedict akan berwarna biru, kuning, hijau, atau merah dan sedikit keruh. Hal ini
disebabkan karena suatuy hormon yang meningkatkan penyerapan kembali air dan
demikian mengurangi volume urine yang terbentuk.

KESIMPULAN
Pada percobaan masing-masing anggota kelompok kami didapatkan hasil negatif
dimana hasil 12 orang menunjukkan tidak adanya protein di urin karena tidak keruh
dan tidak tebentuk endapan. 1 anggota kelompok menunjukkan adanya endapan,
namun masih di pertanyakan sesuai keadaan (haid, kerja berat, intake protein berlebih,
dan lainnya)
PERCOBAAN BENEDICT

TUJUAN
Menunjukan adanya glukosa (gula pereduksi) dalam urine
PRINSIP
Reduksi dalam suasana basah lemah
DASAR TEORI
Gula yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan mereduksi ion Cu2+
dalam suasana alkalis menjadi Cu+ yang mengendap sebagai Cu2O yang berwarna
merah bata.
ALAT DAN BAHAN
1. Tabung reaksi
2. Pipet
3. Penangas air
4. Penjepit tabung
5. Larutan Benedict kualitatif: CuSo4, 17 gr, Na2CO3, 100 gr, dan Na citrae 17 gr,
dilarutkan dalam aquadest sampai 1 liter
6. Urine
CARA KERJA
1. Masukkan 3 ml larutan Benedict kedalam tabung reaksi
2. Tambahkan 5 tetes urine, cocok.
3. Panaskan
4. Amati hasil yang terjadi.
Catatan
Pada reaksi yang positif akan terlihat endapan dari mulai hijau, kuning sampai
merah bata.
HASIL PERCOBAAN
Dari hasil percobaan sampel urin diabetes melitus didapatkan hasil positif adanya
glukosa (gula pereduksi) dalam urin ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna
merah bata.

Gambar urin penderita DM

Berikut adalah table hasil warna dengan penilaian kandungan glukosa dalam urin.
Warna Penilaian Konsentrasi
Biru/hijau keruh - -
Hijau/hijau kekuningan +1 Kurang dari 0.5%
Kuning kehijauan/kuning +2 0.5 1.0%
Jingga +3 1.0 2.0%
Merah +4 Lebih dari 2%

Jelas bahwa pasien dengan DM memiliki penilaian +4 dengan hasil endapan merah
bata pada bagian bawah.
TEORI
Pemeriksaanterhadapadanyaglukosadalam urine termasuk pemeriksaan penyaring
menyatakan adanya glukosa dapat dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Tes
glukosa urine adalah pemeriksaan pada sampel urine untuk mengetahui ada atau
tidaknya glukosa dalam urine. Pada DM berat jenis urin tinggi. Glukosa dan protein
dalam urin meninggikan berat jenis urin yaitu 0,001 setiap 2,7 gram glukosa atau
setiap 3,9 gram protein.
Protein adalah sumber asam amino yang mengandung unsur C,H,O dan N .
Protein sangat penting sebagai sumber asam amino yang digunakan untuk
memnbangun struktur tubuh. Selain itu protein juga bisa digunakan sebagai sumber
energi bila terjadi defisiensi energi dari karbohidrat dan/atau lemak. Sifat-sifat protein
beraneka ragam, dituangkan dalam berbagai sifatnya saat bereaksi dengan air,
beberapa reagen dengan pemanasan serta beberapa perlakuan lainnya.Urin terdiri dari
air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan
materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan
interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi.

Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang


diserap oleh tubulus ginjal dan diekskresikan ke dalam urin. Normal ekskresi protein
biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10 mg/dl urin. Lebih dari 10 mg/dl
didefinisikan sebagai proteinuria. Adanya protein dalam urine disebut proteinuria.

Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan proteinuria adalah : penyakit


ginjal (glomerulonefritis, nefropati karena diabetes, pielonefritis, nefrosis lipoid),
demam, hipertensi, multiple myeloma, keracunan kehamilan (pre-eklampsia,
eklampsia), infeksi saluran kemih (urinary tract infection). Proteinuria juga dapat
dijumpai pada orang sehat setelah kerja jasmani, urine yang pekat atau stress karena
emosi.

Untuk mengetahui adanya protein di dalam urin dilakukan pemeriksaan.


Prinsip dari pemeriksaan ini terjadi endapan urine jika direaksikan dengan asam
sulfosalisila.
KESIMPULAN
Pada percobaan ini didapatkan positif adanya glukosa (gula pereduksi) dalam urin
penderita DM. Terlihat juga perubahan warna sebelumya biru kabur tetapi setelah
terbentuk endapan terjadi perubahan warna sampai terlihat warna merah bata yang
mengendap.
MODUL LABORATORY SKILLS-2

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM

Heat Coagulation Test dan Percobaan Benedict

Disusun Oleh

RUANG 10

Clara Walukow (13011101096)

Hendry Tandra (13011101059)

Flinka Keles (13011101067)

Livya Goni (13011101091)

Tanya Putri (13011101237)

Dhea Tiara (13011101068)

Rebecca Lalujan (13011101149)

Mahardika Tirajoh (13011101102)

I Gusti Bagus Ngurah Rai (13011101030)

Genuine Tendean (13011101093)

Kezia Tindas (13011101087)

Yeremias Setyawan (13011101062)

Faleriano Makay (13011101180)