Anda di halaman 1dari 36

PENGOLAHAN LIMBAH PABRIK

PT. SIER (PERSERO) SURABAYA

Disusun Oleh :

1. Daud Perwira Yudha (1431010044)


2. Nurindah Safitri (1431010053)
3. Adi Gumelar Cakra P (1431010055)
4. Hasan Djadid Assegaff (1431010056)
5. Kurnia Arifiani Kusuma (1431010060)
6. Muhamad Fikri Salim (1431010077)
7. Burhanuddin Rabbani (1431010083)
8. Aqshatul Rizki (1431010091)

PARALEL B

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat dan ridho Allah SWT, karena dengan ridho-
Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah pengolahan limbah pabrik dengan menggunakan
sampel dari limbah PT. Sier (persero) Surabaya.
Makalah ini berisi tentang karakteristik, analisis limbah cair pabrik, reaksi-reaksi
flokulasi. Makalah ini dibuat dengan tujuan agar mahasiswa dapat memahami karakteristik dari
limbah tertentu serta cara pengolahan dan baku mutu sesuai peraturan gubernur jawa timur.
Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan makalah ini. Bapak Ketut Sumada, selaku Dosen Pengolahan Limbah Pabrik
yang telah mengarahkan dan memberikan beberapa sub. bagian materi. Rekan rekan
kelompok yang turut aktif membantu terselesainya makalah ini dengan baik. Semoga makalah
ini dapat berguna dan bermanfaat bagi banyak pihak terutama mahasiswa Teknik Kimia.
Apabila terdapat kesalahan dalam penyusunan makalah ini, baik penulisan atau yang lainnya,
penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penulis

Surabaya, November 2017


BAB I
PENDAHULUAN

II.1 Latar Belakang


Aktivitas industri yang terus berjalan akan memberikan produk yang dapat memenuhi
kebutuhan hidup manusia, namun dalam aktivitas produksi tersebut terdapat bahan buangan
yang disebut limbah, dimana limbah tersebut harus dilakukan treatment terlebih dahulu
sebelum dibuang ke lingkungan. Limbah cair atau air limbah merupakan salah satu jenis limbah
yang banyak dihasilkan dalam kegiatan perindustrian. Secara normatif pemerintah telah
membuat aturan tentang pengolahan limbah cair, antara lain Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup No.5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah dan Peraturan Gubernur Jawa Timur
No. 72 Tahun 2013 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Industri dan/atau Kegiatan Usaha
Lainnya.
PT SIER-PIER memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang menggunakan
pengolahan air limbah dengan metode fisik (primary treatment) dan metoda biologi (secondary
treatment) tanpa menggunakan atau menambahkan bahan kimia. Pengolahan awal dalam
sebuah pengolahan air limbah adalah pengolahan dengan metode fisik, hal ini
dikarenakan metode fisik berfungsi untuk mengendapkan, menyaring dan menghilang- kan
partikel-partikel pasir atau pertikel dan benda yang lebih besar yang terapung atau tenggelam
yang dapat menghambat bahkan merusak kinerja mesin pada pengolahan selanjutnya.
Instalasi Pengolahan Air Limbah di kawasan industri Rembang ini telah berdiri sejak
tahun 1989. Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan dan perkembangan industri yang berada
di kawasan tersebut semakin meningkat. Dibuktikan dengan semakin banyak jumlah industri
yang bernaung didalamnya. Hal tersebut berpotensi akan menambah kuantitas limbah yang
harus diolah oleh IPAL PT SIER-PIER. Dilain sisi bertambahnya usia IPAL dapat menyebab-
kan efisiensi IPAL PT SIER-PIER mengalami penurunan. Sehubungan dengan hal tersebut,
perlu dilakukan penelitian evaluasi kinerja instalasi yang mengolah limbah dari proses awal
limbah masuk instalasi sampai dengan limbah tersebut dibuang ke lingkungan.

II.2 Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air limbah dan baku mutu air limbah
yang dihasilkan oleh PT. SIER (Persero) Surabaya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Air Limbah Industri


Air limbah merupakan air yang keluar dan tidak terpakai lagi dari suatu aktivitas
(Industri, rumah tangga, supermarket, hotel dan sebagainya). Air limbah ini biasanya
mengandung berbagai zat pencemar (kontaminan) seperti padatan tersuspensi, padatan terlarut,
logam berat, bahan organik, bahan beracun, dan dapat bertemperatur tinggi. Air limbah ini
umumnya akan dibuang ke badan air penerima seperti sungai, laut dan kedalam tanah.
Pembuangan air limbah dengan kandungan berbagai zat pencemar mengakibatkan terjadinya
pencemaran pada sungai, laut, tanah dan bahkan mencemari udara.
Limbah industri adalah semua jenis bahan sisa atau bahan buangan yang berasal
dari hasil samping suatu proses perindustrian. Limbah industri dapat menjadi limbah yang
sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan manusia.
Menurut Mulia (2005), air limbah industri umumnya terjadi sebagai akibat adanya
pemakaian air dalam proses produksi. Di industri, air umumnya memiliki beberapa fungsi
berikut:
1. Sebagai air pendingin, untuk memindahkan panas yang terjadi dari proses
industri.
2. Untuk mentransportasikan produk atau bahan baku.
3. Sebagai air proses, misalnya sebagai umpan boiler pada pabrik minuman dan
sebagainya.
4. Untuk mencuci dan membilas produk dan/atau gedung serta instalasi.

Limbah industri bersumber dari kegiatan industri baik karena proses secara langsung
maupun proses secara tidak langsung. Limbah yang bersumber langsung dari kegiatan industri
yaitu limbah yang terproduksi bersamaan dengan proses produksi sedang berlangsung, dimana
produk dan limbah hadir pada saat yang sama. Sedangkan limbah tidak langsung terproduksi
sebelum proses maupun sesudah proses produksi.
II.1.1 Komposisi Air Limbah
Menurut Sugiharto (2008), sesuai dengan sumber asalnya, maka air limbah
mempunyai komposisi yang sangat bervariasi dari setiap tempat dan setiap saat. Akan
tetapi, secara garis besar zat-zat yang terdapat di air limbah data dikelompokkan seperti
pada skema berikut ini:

Air Limbah

Air (99,9%)
Bahan Padat (0,1%)

Organik Anorganik

Protein (65%)
Karbohidrat (25%) Butiran
Lemak (10%) Garam
Metal
II.1.2 Sumber Air Limbah
Data tentang sumber air limbah dapat dipergunakan untuk memperkirakan jumlah rata-
rata aliran air limbah dari berbagai jenis perumahan, industri dan aliran air tanah yang ada di
sekitarnya. Kesemuanya ini harus diperhitungkan peningkatannya sebelum membuat suatu
bangunan pengolah air limbah dan merencanakan pemasangan saluran pembawanya.

II.1.3 Baku Mutu Air Sesuai Peruntukannya

Di wilayah propinsi Jawa Timur, standarisasi kualitas air telah dituangkan di dalam
Keputusan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Timur No. 5 tahun 2000 tentang
pengendalian Pencemaran Air di Propinsi Jawa Timur. Inti dari keputusan tersebut adalah
penggolongan baku mutu air ke dalam lima golongan, yaitu :
1. Golongan I
Yaitu air pada sumber air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung, tanpa
diolah terlebih dahulu.
2. Golongan II
Yaitu air yang dapat digunakan sebagai bahan baku air minum dan keperluan rumah tangga
lainnya.
3. Golongan III
Yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan.
4. Golongan IV
Yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, industri dan PLTA.
5. Golongan V
Yaitu air yang tidak dapat digunakan seperti yang tertera dalam penjelasan pada golongan
I, II, III, dan IV.

II.2 Karakteristik Air Limbah


Ada beberapa karakteristik khas yang dimiliki air limbah menurut Chandra (2006):
a. Karakteristik Fisik
1) Warna
Air limbah yang masih segar umumnya berwarna abu abu dan sebagian akibat
dari penguraian senyawa senyawa organic oleh bakteri, maka air limbah menjadi
hitam. Hal ini menunjukkan bahwa air limbah berada pada keadaan septic (Metcalf dan
Eddy, 1991). Warna air limbah menunjukkan kekuatannya. Air limbah yang masih
baru berwarna abu abu sedang limbah yang sudah basi atau busuk berwarna gelap.
Dalam hal ini warna sering digunakan oleh orang awam untuk menilai keadaan air
limbah, namun warna tidak menunjukkan secara tegas bahaya yang dikandungnya
(Mahida, 1984)
2) Bau
Bau dapat menunjukkan air limbah masih baru atau telah membusuk. Bau
bauan busuk menyerupai bau Nitrogen Sulfida, menunjukkan adanya air limbah yang
busuk. Banyak bau yang tidak sedap itu disebabkan karena adanya campuran nitrogen,
sulfur, dan fosfor, dan juga berasal dai pembusukan protein serta bahan organic lain
yang terdapat daalm air limbah. Namun bau yang paling menyengat adalah bau yang
berasal dari Hidrogen Sulfida. Bau dapat menunjukkan konsentarasi yang sangat kecil
dari suatu zat tertentu yang terkandung dalam air limbah (Mahida, 1984).
3) Temperature
Pada umumnya temperature air limbah lebih tinggi daripada temperature air
minum. Hal ini disebabkan karena adanya penambahan yang lebih panas dari
pemakaian rumah tangga atau aktifitas aktifitas pabrik. Temperature air limbah
member pengaruh kehidupan dalam air, kelarutan gas, aktifitas bakteri, serta reaksi
reaksi kimia dan kecepatan reaksi (Metcalf dan Eddy, 1991).
4) Total Padatan
Total padatan adalah zat zat yang tertinggal sebagai residu penguapan pada
temperatur 1030C 1050C. zat zat yang hilang pada tekanan uap tersebut tidak dapat
didefinisikan sebagai total padatan (Metcalf dan Eddy, 1991).

b. Karakteristik Kimia
Air limbah biasanya bercampur dengan zat kimia anorganik yang berasal dari air
bersih dan zat organik dari limbah itu sendiri. Saat keluar dari sumber air limbah
bersifat basa. Namun air limbah yang sudah lama atau membusuk akan bersifat asam
karena sudah mengalami kandungan bahan organiknya telah mengalami proses
dekomposisi yang dapat menimbulkan bau tidak menyenangkan. Komposisi campuran
dari zat-zat itu dapat berupa:
1) Gabungan dengan nitrogen misalnya urea, protein, atau asam amino.
2) Gabungan dengan non-nitrogen misalnya lemak, sabun, atau karbohidrat.

c. Karakteristik bakteriologis
Kelompok mikroorganisme terpenting dalam air limbah ada 2 macam, yaitu :
1) Kelompok protista : terdiri dari protozoa
2) Kelompok tumbuh tumbuhan : meliputi paku pakuan dan lumut

Bakteri berperan penting dalam air limbah, terutama dalam proses biologis, misalnya :
trikling filter. Sedangkan protozoa dan air limbah berfungsi untuk mengontrol ssemua
bakteri sehingga terjadi keseimbangan. Alga sebagai penghasil oksigen pada proses
fotosintesis juga dapat mengurangi nitrogen yang terdapat dalam air. Namun alga juga
dapat menimbulkan gangguan pada permukaan air karena alga dapat timbul dengan cepat
dan menutupi permukaan air pada kondisi yang menguntungkan ,sehingga menyebabkan
sinar matahari tidak dapat menembus permukaan air.

II.3 Parameter Kualitas Air Limbah

Menurut Mulyadi (1984) untuk mengetahui kualitas atau karakteristik limbah cair
sebelum dan sesudah pengolahan, dapat ditentukan dengan parameter parameter sebagai
berikut :
1. Parameter organik, meliputi : COD, DO, minyak, phenol, dan lain lain.
2. Parameter anorganik, meliputi keasaman, logam, halogen, fosfat, nitrogen, amoniak,
nitrit, nitrat, dan lain lain.
3. Parameter lain, meliputi : warna, kekeruhan, bau, rasa, temperature, TSS, TDS.
4. Parameter biologis, meliputi : jenis jenis mikroba.

II.4 Tahapan Pengolahan Air Limbah

Menurut Achmad 2008, bahwa metode dan tahapan proses pengolahan limbah cair
yang telah dikembangkan sangat beragam. Merode ditetapkan berdasarkan parameter
fisika, kimia dan biologi yang terkandung dalam air limbah. Limbah cair dengan kandungan
polutan yang berbeda kemungkinan akan membutuhkan proses pengolahan yang berbeda
pula. Proses- proses pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara keseluruhan, berupa
kombinasi beberapa proses atau hanya salah satu. Proses pengolahan tersebut juga dapat
dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau faktor finansial terdiri dari :
1. Pengolahan Primer (primary treatment)
Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan
secara fisika :
a) Penyaringan (Screening)
Limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji
saring. Metode ini disebut penyaringan. Metode penyaringan merupakan cara yang
efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air
limbah.
b) Pengolahan Awal (Pretreatment)
Limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang
berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang
berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan
cara kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel
partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses
selanjutnya.
c) Penyaringan (Screening)
Limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji
saring. Metode ini disebut penyaringan. Metode penyaringan merupakan cara yang
efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air
limbah.
2. Pengolahan Awal (Pretreatment)
Limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang
berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran relatif
besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah
dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel partikel pasir jatuh ke dasar tangki
sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya.
a) Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau
bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang
paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di tangki
pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel partikel padat yang tersuspensi
dalam air limbah dapat mengendap ke dasar tangki. Enadapan partikel tersebut akan
membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain
untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal juga metode
pengapungan (Floation).
b) Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak.
Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan
gelembung- gelembung udara berukuran kecil ( 30 120 mikron). Gelembung udara
tersebut akan membawa partikel partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah
sehingga kemudian dapat disingkirkan.

II.5 Sistem Pengolahan Air Limbah di IPAL PT. SIER (persero)

Manajemen pengolahan limbah di kawasan industry dibagi menjadi 2 kelompok


kegiatan yaitu : sanitasi dan pengolahn limbah yang berasal dari seluruh kawasan industry.
Untuk mendukung kelancaran proses dikenakan biaya pemeliharaan dan operasi dari system
pengolahan limbah yang dikenal dengan istilah BPO kepada semua pabrik yang ada di kawasan
industry yang dikeloal oleh PT. IPAL SIER (Persero) sesuai dengan Pasal 11 surat perjanjian
sewa menyewa pabrik dan Pasal 8 surat perjanjian sewa menyewa SUIK. BPO ini berlaku
selama 1 tahun dan diadakan peninjauan kembali setiap tahun.
Penentuan besarnya BPO yang harus dibayar oleh tiap pabrik didasarkan pada :
1. Besarnya beban polusi air (limbah yang dibuang ke saluran air limbah PT. IPAL SIER
(Persero))
2. Besarnya volume atau debit air limbah di pabrik.
Sumber air limbah yang diolah di PT. IPAL SIER (Persero) berasal dari seluruh pabrik
dan perkantoran yang berada di kawasan Rungkut dan Brebek. Jumlah pabrik dan perkantoran
yang membuang air limbah di PT. IPAL SIER (Persero) sebanyak 393 perusahaan. Nama
nama perusahan tersebut dapat dilihat pada lampiran.
Sumber air limbah yang masuk ke PT. IPAL SIER (Persero) Surabaya beraneka ragam.
Air limbah yang masuk ke IPAL berasal dari berbagai jenis industry diantaranya :
a. Industry kayu dan rotan
b. Industry plastic
c. Industry logam
d. Industry kimia
e. Industry makanan dan minuman
f. Industry tembakau
g. Industry tekstil
h. Industri karet
i. Industry penyamakan kulit
Air limbah sebelum masuk ke saluran air limbah yang ada di PT. IPAL SIER (Persero)
maka tiap tiap industry harus memenuhi semua persyaratan yang telah ditetapkan oleh pihak
PT. IPAL SIER (Persero). Hal ini dilakukan agar tidak merusak saluran, mesin, dan peralatan
yang ada di PT. IPAL SIER (Persero), dimana persyaratan dan ketentuan untuk karakteristik
air limbah tersebut dibuat menyesuaikan dengan design bangunan pengolahan air limbah di
PT. IPAL SIER (Persero).

II.5.1 Persyaratan Air Limbah


Ketentuan itu dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Ketentuan umum
Bahan yang dilarang dibuang ke dalam system saluran air limbah kawasan industry yang
dikelola PT. SIER (Persero) antara lain :
a) Air hujan, air tanah, air dari talang, air dari pekarangan.
b) Kalsium karbida
c) Bahan yang mudah terbakar
d) Cairan, zat padat dan gas yang karena jumlahnya sudah cukup untuk dapat
menimbulkan kebakaran atau ledakan yang dapat menyebabkan kerusakan system
saluran air limbah.
e) Bahan baku yang karena kondisinya sendiri atau penggabungan atau reaksi elemen
dengan air limbah lainnya dapat menimbulkan gas, uap, bau, atau bahan semacamnya
yang dapat membahayakan kehidupan masyarakat.
f) Ragi, ter, aspal, minyak mentah, minyak pelumas, solar, karbon disulfida, hidro sulfida,
poli sulfida.
g) Bahan radioaktif.
h) Semua limbah yang dapat menimbulkan pelapisan keras, atau endapan di dalam system
saluran air limbah.
i) Limbah yang mengandung bahan pewarna yang tidak dapat diolah secara biologis.
j) Bahan yang dapat merusak atau mengganggu mesin maupun peralatan yang terpasang
dalam saluran dan system pengolahan air limbah.
k) Pestisida, fungisida, herbisida, insektisida, radentisida, fumigans.
l) Limbah padat.
b. Ketentuan khusus
Secara khusus, air limbah yang boleh dibuang ke system saluran air limbah PT. IPAL SIER
(Persero) tiidak boleh melebihi standart yang telah ditetapkan, yaitu yang tercantum pada
table berikut :
N0. PARAMETER FISIKA Kode Nilai Satuan

1.1 Suhu 40 Celsius

1.2 Jumlah Padatan Terlarut TDS 2000 Mg/ l

1.3 Jumlah Padatan Tersuspensi TSS 400 Mg/ l

1.4 Warna 300 Pt.Co Scala

NO. PARAMETER KIMIA Kode Nilai Satuan

2.1 Biological Oxygen Demand BOD 1500 Mg/ l

2.2 Chemical Oxygen Demand COD 3000 Mg/ l

2.3 Derajat Keasaman pH 69

2.4 Amonia NH3 20 Mg/ l

2.5 Deterjen MBAS 5 Mg/ l


2.6 Phenol 2 Mg/ l

2.7 Fluorida F 30 Mg/ l

2.8 Klorida Cl 500 Mg/ l

2.9 Minyak & Lemak 30 Mg/ l

2.10 Nitrat NO3 50 Mg/ l

2.11 Nitrit NO2 5 Mg/ l

2.12 Sisa Klor Cl2 1 Mg/ l

2.13 Sulfat SO4 500 Mg/ l

2.14 Sulfida S 1 Mg/ l

NO. I T E M KIMIA Kode Nilai Satuan

2.15 Arsen As 1 Mg/ l

2.16 Barium Ba 5 Mg/ l

2.17 Besi Fe 30 Mg/ l

2.18 Kadmium Cd 1 Mg/ l

2.19 Kobalt Co 1 Mg/ l

2.20 Krom Heksavalen Cr 2 Mg/ l

2.21 Mangan Mn 10 Mg/ l

2.22 Nikel Ni 2 Mg/ l

2.23 Air Raksa Hg 0,005 Mg/ l

2.24 Selenium Se 1 Mg/ l

2.25 Seng Zn 5 Mg/ l

2.26 Tembaga Cu 5 Mg/ l


2.27 Timbal Pb 3 Mg/ l

2.28 Sianida CN 1 Mg/ l

II.6 Spesifikasi Instalasi Pengolahan Air Limbah PT. IPAL SIER

Bangunan pengolahan air limbah dan spesifikasinya


Berikut ini akan diuraikan mengenai : fungsi, kapasitas, spesifikasi, utilitas penunjang
masing masing bangunan pengolahan air limbah yang ada di PT. IPAL SIER (Persero).

1. Sumur pengumpul
Sumur pengumpul ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air limbah yang
bersunber dari semua industri industri di kawasan PT. IPAL SIER (Persero). Namun, air
limbah atau air buangan dari setiap industry harus memenuhi standar yang telah ditentukan
oleh PT.IPAL SIER (Persero). Sumur ini berbentuk lingkaran (circular) dengan diameter 5 m
dan kedalaman 8 m. Sumur ini terbagi menjadi dua bagian yang dibatasi oleh beton setebal
30 cm,kedua bagian tersebut adalah :
Dua buah pipa yang besarnya masing masing 400 mm dan 600 mm yang berfungsi
sebagai saluran buangan industry dan perkantoran.
Dua buah rel yang terpasang pada dinding sumur dan papan yang terbentang 4 m
yang digunakan sebagai pijakkan petugas yang akan membersihkan sumur.
Saringan kasar yang terpasang pada piapa induk dan berfungsi untuk menahan
benda benda besar yang masuk dalam sumur basah seperti : kayu, plastic, kaleng,
dan lain lain.
Debit yang masuk ke sumur pengumpul ini 8000 l/hari. Jumlah debit yang masuk
tergantung pada aktifitas perkantoran dan pabrik disekitar PT. IPAL SIER (Persero). Dalam
sumur pengumpul limbah cair akan mengalami homogenisasi sehingga pada saat dialirkan ke
proses selanjutnya akan mempunyai kondisi dan beban pencemaran yang sama. Limbah cair di
sumur pengumpul ini dipompa menggunakan pompa sentrifugal dengan debit 60 l/ detik.
Gambar II.1 : Sumur pengumpul
Pada sumur ini diambil sample influent limbah cair untuk diteliti di dalam laboratorium
untuk diketahui jumlah COD, DO, dan lain lain. Hal tersebut dilakukan karena limbah
cair yang masuk ke dalam PT. IPAL SIER (Persero) harus memenuhi standart yang telah
ditentukan.

2. Sumur kering
Sumur yang ada di IPAL adalah sumur yang sering disebut dengan rumah pompa.Perlu kita
ketahui bahwa di dalam rumah pompa tersebut ada 4 pompa yang berfungsi membantu jalannya
pengolahan limbah yang ada dii IPAL. Pompa tersebut adalah pompa centrifugal yang secara
otomatis dapat bekrja dengan sendirinya dengan level control untuk memompa air limbah ke
bak pengendap pertama (primary settling tank).
Pompa ini masing masing dapat bekerja dalm mengalirkan air limbah dengan debit 60
liter/dt. Dan peralatan yang digunakan di rumah pompa ini antara lain :
Crane untuk mengangkat
Vertical centrifugal pump untuk pemomopaan air limbah.
Secara keseluruhan sumur pengumpul ini mempunyai fungsi sebagai berikut :
a) Sebagai tempat penampung sementara dari limbah industry di kawasan PT. IPAL SIER
(Persero) Surabaya. Sumur ini mampu menampung buangan industry dan perkantoran
dengan debit sebesar 10.000 m3/hari. Limbah yang terkumpul disumur pengumpul ini
dialirkan secara otomatis oleh pompa sentrifugal (centrifugal pump) berdasarkkan level
control menuju bak pengendap pertama (primary settling tank).
b) Pembersihan sampah sampah atau kotoran yang mengapung dilakukan secara manual
oleh operator melalui dua buah rel (jet savelling/ crame)
c) Pada sumur pengumpul ini juga terjadi proses homogenesis air limbah yaitu pemerataan.
3. Bak pengendap pertama (primary settling tank)
Bak pengendap pertama atau settling tank mempunyai fungsi umum yaitu :
a) Mengendapkan pertikel partikel terutama zat padat tersuspensi secara gravitasi
b) Penyaringan kotoran terapung
c) Sebagai tempat homogenisasi air limbah sebelum masuk ke oxidation ditch.
d) Pemerataan beban hidrolisis dan organic sehingga tidak akan terjadi shock loading
pada proses selanjutnya akibat flokulasi beban.
Bak pengendap pertama berbentuk persegi panjang yang dilengkapi dengan buffle serta
tiga bak kecil yang memiliki fungsi tertentu.

Gambar II.2 Primary Sattling Tank

Bak pengendap pertama ini dilengkapi dengan :


a) Meter air yang dihubungkan dengan baling baling yang fungsinya untuk mengetahui
debit air (influent) dengan jelas.
b) Penyekat (skimmer) yang mempunyai ketebalan 80 cm, berjumlah dua buah dan terpasang
secara simetris. Alat ini digunakan untuk menghalangi benda benda yang terapung agar
tidak masuk ke tahap slanjutnya, misalnya : plastic, busa deterjen, minyak dan partikel
terapung lainnya. Dan kemudian dibelokkan ke selokan dan di alirrkan ke bak floating
(floating tank) ini benda benda tterapung tersebut akan diambil secara mekanik
sedangkan air yang berada dibawah akan dialirkan kedalm oxidation ditch.
c) Pompa yang dipasang pada bagian bak besar (bak pengendapp pertama) yang berfungsi
untuk mengalirkan partikel terapung lumpur hasil dari pengendapan ke bak penampung
partikel partikel terapung ini dilengkapi dengan saluran air yang berbentuk selokan
(parit) sehingga aliran air limbah dapat berjalan mudah dan lancar sehingga operator
mudah mengontrolnya
d) Lumpur hasil pengendapan dibawa ke bak pengering lumpur (sludge drying bed) Factor.
4. Parit oksidasi (oxidation ditch)
Pada oxidation ditch ini, air limbah diolah secara biologis dengan bantuan
mikroorganisme pengurai air limbah, sehingga dibutuhkan oksigen untuk aktivitas organisme
dalam menguraikan bahan organic dalam air limbah. Kebutuhan oksigen diperoleh dari proses
aerasi dengan menggunakan Mammoth Rotor.

Gambar II.3 Oxidation Ditch


Oxidation ditch ini berbentuk parit melingkar memenjang yang berjumlah 4 buah.
Oxidation ditch ini mampu mengolah air limbah sebanyak 9000 m3/hari. Oxidation ditch
ini memiliki tepian permukaan kolam yang kasar serta dilapisi dengan batu kali sebagai
tempat menempelnya mikroorganisme.
Pada setiap unit oxidation ditch dilengkapi dengan unit mammoth rotor yang berfungsi
untuk mengaduk limbah sehingga dapat diperoleh oksigen yang cukup untuk proses
pengolahan. Pada oxidation ditch ini harus diteliti kadar lumpur yang masuk ke dalam bak
oksidasi karena jika terlalu banyak ataupun terlalu sedikit lumpur yang ada maka proses
pengolahan tidak akan berjalan dengan baik.

5. Distribution box
Di dalam bak pembagi ini lumpur aktif yang masih tercampur dengan air limbah dari
oxidation ditch akan dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian akan dialirkan ke bak pengendap
kedua (clarifier) dan satu bagian lagi akan dialirkan kedalam oxidation ditch (di recycle)
sebesar 30% dari total lumpur yang masuk ke bak pembagi (distribution box).
Gambar II.4 Bak pembagi (Distribution Box)
Lumpur aktif dikembalikan ke oxidation ditch dengan bantuan return sludge pump tipe
screw pump conveyor, sedangkan air limbah dan lumpur aktif yang dialirkan menuju bak
pengendap kedua dilakukan dengan menggunakan prinsip perbedaan tekanan yaitu prinsip
perbedaan diameter dua buah pipa (yaitu pipa menuju secondary clarifier dan pipa menuju
distribution box). Fungsi dari bak ini adalah
a. Sebagai tempat penampung sementara air limbah dari oxidation ditch sebelum masuk
ke secondary clarifier.
b. Sebagai pembagi lumpur aktif yang akan dialirkan ke secondary clarifier yang akan
dikembalikan ke oxidation ditch.
Bak ini dilengkapi dua pompa yang berfungsi submersible yang berfungsi mengalirkan
lumpur yang akan dibuang ke bak pengering lumpur dan srew pump yang berfungsi untuk
mengembalikan lumpur ke oxidation ditch sebagai return sludge.

6. Bak pengendap kedua (secondary clarifier)


Bak pengendap kedua ini berfungsi sebagai pengendap lumpur yang terkandung dalam
air limbah setelah melewati proses oksidasi sehingga air menjadi bersih untuk dibuang ke
sungai. Pada bak pengendap kedua ini dilengkapi dengan alat pengeruk lumpur atau scrapper.
Alat ini berbentuk jembatan (scrubber bridge) yang mampu membentang dari arah tengah bak
seperti jari jari lingkaran yang mampu mengintari bak.
Gambar II.5 bak pengendap II (secondary claryfier)

Alat ini biasanya digerakkan oleh motor listrik dengan daya 0,25 KW dan frekuensinya 50 Hz.
Gerakan pada alat ini sangat lambat dikarenakan untuk mencegah terjadinya gelombang pada
air saat pemutaran. Gelombang air akan dapat mengganggu pengendapan (sedimentasi).
Spesifikasi dari bak pengendap kedua ini antara lain ;
Bak pengendapan kedua ini memiliki dua bagian yaitu :
a. Bagian dasar yang memiliki lengkungan yang berfungsi sebagai tempat penampungan
lumpur serta sekaligus meninggikan tekanan air sehingga lumpur tersebut dapat
dialirkan secara alami ke bak distribusi dengan menerapkan hukum bejana yang
didasarkan akan perbedaan tekanan.
b. Bagian tengah bak dimana terdapat pipa dengan diameter 5 m dengan panjang 2,5 m
yang berfungsi seperti buffel berfungsi sebagai pencegah aliran putaran olahan yang
berasal dari bak pendistribusi yang masuk ke bak ini.

7. Bak pengering Lumpur (sludge drying bed)

Bak ini berbentuk persegi panjang yang memiliki dasar kemiringan. Bak ini dilengkapi
pasir kasar, pasir halus dan batuan sebagai penyaring. Pasir ini harus terus diisi saat pengerukan
limbah cair karena jumlahnya akan terus berkurang pada saat pengerukan. Pengeringan di bak
ini dilakukan dengan bantuan dari sinar matahari langsung.
Di IPAL PT. SIER (Persero) Surabaya terdapat 2 jenis bak pengering yaitu:
Bak pengering Primer yang berfungsi untuk mengeringkan lumpur yang berasal dari
bak pengendap pertama.
Bak pengering sekunder yaitu bak pengering yang digunakan untuk mengeringkan
lumpur yang berupa return sludge dari bak pembagi.
II.7 Ketentuan Baku Mutu Air Limbah

Tabel I.1 Baku Mutu Air Limbah

II.8 Dampak Limbah

Sesuai dengan batasan air limbah yang merupakan benda sisa, maka air limbah
sudah tidak dipergunakan lagi. Akan tetapi, tidak berarti air limbah tidak perlu diolah.
Karena apabila limbah tidak dikelola dengan baik dan benar maka akanmenimbulkan
gangguan tehadap lingkungan dan kehidupan yang ada. Menurut Sugiharto (1987)
menyatakan bahwa efek buruk dari air limbah dapat menyebabkan terjadinya berbagai
macam gangguan, antara lain :
1. Gangguan terhadap kesehatan
Sudah mebjadi suatu kenyataan bahwa air limbah sangat berbahaya terhadap
kesehatan manusia. Oleh karena itu, air limbah berfungsi sebagai media pembawa
penyakit seperti kolera, radang usus, hepatitis infektiosa, serta shistosomiasis. Air
limbah sendiri mengandung banyak bakteri pathogen penyebab iritasi, bau, dan warna,
bahkan pada suhu yang tinggi menimbulkan bahan bahn lain yang mudah terbakar.
2. Gangguan terhadap komponen biotik
Banyak zat tercemar dalam air limbah mengakibatkan turunnya kadar oksigen
yang terlarut dalam air, sehingga menyebabkan kehidupan air yang membutuhkan
oksigen terganggu, bahkan kematian makhluk hidup dalam air meningkat.
3. Gangguan terhadap keindahan
Banyak zat organik yang dibuang oleh perusahaan yang memproduksi bahan
organic seperti tapioca, maka setiap hari akan menghasilkan limbah yang berupa bahan
bahan organic dalam jumlah yang besar. Ampas yang berasal dari pabrik ini perlu
dilakukan pengendapan terlebih dahulu sebelum dibuang kesaluran air limbah, akan
tetapi memerlukan waktu yang lama. Selama waktu tersebut maka air limbaha
mengalami proses pembusukan dari zat organic yang ada didalam, sehingga
menimbulkan bau yang sangat menusuk hidung. Selain itu juga menimbulkan
gangguan keindahan tempat disekitar tumpukan ampas tersebut.
4. Gangguan terhadap kerusakan benda.
Apabila air limbah mengandung gas carbondioksida yang agresif, maka akan
mempercepat proses karat pada benda yang terbuat dari besi serta bangunan air kotor
lainnya. Dengan cepat rusaknya benda tesebut maka biaya pemeliharaan semakin besar,
yang akan menimbulkan kerugian material. Selain carbondioksida agresif air limbah
yang berkadar pH rendah atau tinggi akan menimbulkan kerusakan pada benda benda
yang lainnya.
BAB III
PEMBAHASAN

III.1 Pengolahan Limbah Cair


Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah cair
yang berbahaya bagi lingkungan. Bagi industri-industri besar, seperti industri pulp dan kertas,
teknologi pengolahan limbah cair yang dihasilkannya mungkin sudah memadai, namun tidak
demikian bagi industri kecil atau sedang. Namun demikian, mengingat penting dan besarnya
dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan, penting bagi sektor industri kehutanan
untuk memahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair.
Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian
lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang
dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi
pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang
bersangkutan.
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah
dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah
dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan:
1. Pengolahan secara fisika
2. Pengolahan secara kimia
3. Pengolahan secara biologi
Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan
secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.
1. Pengolahan Secara Fisika
Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan,
diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau
bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan
cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar.
Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses
pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan
mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.
Penapisan
Pemisahan
Presipitasi Klarifier
Cair - Padatan
Tipe konvensional
Tipe resirkulasi berlumpur

Tipe selimut lumpur

Tipe pallet selimut lumpur

Pemekatan
Flotasi

Filtrasi Filtrasi Filtrasi lambat


Filtrasi cepat
Tipe bertekanan
Tipe gravitasi

Filtrasi precoat

Filter membran Mikro filter

Ultra filter

Reverse osmosis

Dialisis elektris
Dewatering Filter vacuum rotasi

Filter tekan/press

Belt press

Contrifugasi Presipitasi sentrifugasi

Dehidrasi sentrifugasi

Gambar 3. Skema Diagram Pengolahan Fisik

Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung


seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. Flotasi juga
dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau
pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air
flotation).
Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk mendahului
proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan
sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi
atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa.
Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan senyawa
aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika diinginkan
untuk menggunakan kembali air buangan tersebut. Teknologi membran (reverse osmosis)
biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan
untuk menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.

2. Pengolahan Secara Kimia


Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan
partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor,
dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang
diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan
sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan
(flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung
sebagai hasil reaksi oksidasi.

Netralisasi
Pengolahan Kimia Koagulasi & Flokulasi
- Fisik
Oksidasi dan/atau Reduksi

Oksidasi kimia/reduksi

Aerasi

Elektrolisis

Ozonisasi

UV
Adsorbsi Karbon aktif

Alumina aktif

Penukar ion Resin penukar kation

Resin penukar anion

Resin penukar anion

Zeolite

Gambar 4. Skema Diagram pengolahan Kimiawi

Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan
elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi
netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam
berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya)
sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan
hidroksiapatit. Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk
hidroksiapatit pada pH > 9,5. Khusus untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai
krom hidroksida [Cr(OH)3], terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan
membubuhkan reduktor (FeSO4, SO2, atau Na2S2O5). Penyisihan bahan-bahan organik beracun
seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya
dengan klor (Cl2), kalsium permanganat, aerasi, ozon hidrogen peroksida.
Pada dasarnya kita dapat memperoleh efisiensi tinggi dengan pengolahan secara kimia,
akan tetapi biaya pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia.
3. Pengolahan secara biologi
Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai
pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling
murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode pengolahan
biologi dengan segala modifikasinya.
Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);
2. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).
Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang
dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam
reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya, antara
lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif
konvensional, oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD
dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih
sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan
yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). Proses kontak-stabilisasi
dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak
sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan.
Kolam oksidasi dan lagoon, baik yang diaerasi maupun yang tidak, juga termasuk
dalam jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi. Untuk iklim tropis seperti Indonesia, waktu
detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak
diaerasi, cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang
ditetapkan. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja.
Di dalam reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung dengan
membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya.
Berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini, antara lain:
1. trickling filter
2. cakram biologi
3. filter terendam
4. reaktor fludisasi
Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%.
Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi, proses ini
dapat dibedakan menjadi dua jenis:
1. Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;
2. Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen.
Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob masih dapat dianggap lebih
ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l, proses anaerob menjadi lebih
ekonomis.

Pengolahan aerob
Pengolahan
Proses lumpur aktif
Biologi
Metode standar

Aerasi

Proses bebas bulki

Saluran oksidasi

Proses nitrifikasi dan denitrifikasi

Pengolahan film biologi

Lagoon Filter trikling

Cakram biologi

Aerasi kontak

Proses filter biologi diaerasi

Proses media unggun biologi

Anaerobic treatment Pencerna anaerobi

Proses UASB

Gambar 5. Skema Diagram pengolahan Biologi


BAB IV
ANALISA DATA

IV.1 Karakteristik Limbah PT.SIER

1. pH 7
2. Warna hitam keruh
3. Bau sangat busuk
4. Terdapat banyak endapan

IV.1.1 Analisa Laboratorium


Tabel 1. Efisiensi Penyisihan IPAL
Posisi Ulangan pH TSS COD BOD
( mg/l ) ( mg/l ) ( mg/l )

Inlet 2 7 424 292.8 131.8

IPAL 3 4 240 752.7 338.7


194.8
Ratarata 6 312 432.87

1 7 176 79.58 35.99

2 7 256 60.74 27.89

3 7 88 64.89 29.20

Ratarata 7 173.33 68.403


Outlet IPAL 31.027

Efisiensi Removal (%) 44.444 84.198 85.279


IV.1.2 Hasil Analisis Outlet IPAL PT SIER-PIER
Bulan pH TSS COD BOD
( )
34.8
Juli 2015 6.38 18.4 62.24 24.262

Agustus 2015 7.18 20.8 68 17.376

September 2015 6.65 16 70.24 16.309

Oktober 2015 6.61 12 75.2 17.255

November 2015 6.82 18.8 97.28 24.383

Desember 2015 6.62 27.6 99.2 32.396

Januari 2016 7.66 20.2 83.52 30.302

Febbruari 2016 6.35 11.4 62.08 14.174

Maret 2016 6.33 9.2 64 30.221

Rata -Rata 6.808 32.531 72.452 23.277


Baku Mutu 6-9 150 100 50

Sumber: Hasil pengujian laboratoriam BLHD Pasuruan

IV.1.3 Pengolahan Secara Kimia


Analisa secara kimia dilakukan dengan penambahan Al2(SO4)3 atau tawas dengan
kecepatan pengadukan 100 rpm dan waktu pengadukan 10 menit.

Pada analisa ke- 1 dan 2 air limbah ditambah tawas Al2(SO4)3 sebanyak 5 ml pada setiap
analisa:

Analisa
Gambar Keterangan
ke-

pH awal = 7
Larutan menjadi lebih jernih, terbentuk flok,
sebagian masih terbentuk banyak floating dan
bau masih menyengat. Waktu pengendapan 8
1 menit.
Setelah penambahan tawas pH menjadi 6
Pada analisa ke- 2 air limbah ditambahkan NaOH 5 ml :

Analisa
Gambar Keterangan
ke-

pH awal = 6
Larutan menjadi jernih, terbentuk flok yang lebih
besar sehingga cepat mengendap dan bau tidak
menyengat seperti awal. Waktu pengendapan
2 lebih cepat yaitu 5 menit..
Tetapi pada pH menjadi 10 , ini tidak sesuai
dengan baku mutu yaitu 6-9.

Pada analisa ke-3 ditambahkan tawas 10 ml :


Analisa
Gambar Keterangan
ke-
pH awal = 10
Larutan menjadi lebih jernih, terbentuk flok dan
sebagian terbentuk sedikit floating dan bau
sedikit menyengat. Waktu pengendapan 6 menit.
3
Setelah penambahan tawas pH menjadi 7
Gambar (a) merupakan limbah yang telah diberi
tawas terlihat lebih cepat mengendap daripada
(a) (b) gambar (b) yang tidak diberi tawas.
Hasil Pengolahan Limbah Secara Kimia
Sebelum Pengolahan Setelah Pengolahan

IV.1.4 Pengolahan Secara Fisika


Pengolahan secara fisika dilakukan dengan pembuatan sand filter dengan komposisi isian
berupa : karbon aktif ,pasir , batuan gravel dan kertas saring.

Gambar Keterangan

Limbah hasil pengolahan secara kimia yaitu cairan


yang masih tercampur dengan flok dilewatkan ke
dalam sand filter. Kemudian flok akan tertahan di
dalam sand filter , sementara air besih akan turun ke
bawah. Sehingga diperoleh hasil limbah cair yang
berwarna putih jernih. Didalam pengolahan secara
fisika, tidak ada perubahan pH.
Hasil Pengolahan Limbah Secara Fisika
Sebelum Pengolahan Setelah Pengolahan

IV.1.5 Pengolahan Secara Biologi


Pengolahan secara biologi dilakukan dengan menggunakan metode kontak-stabilisasi dengan
proses aerasi. Dalam proses ini menggunakan bantuan mikroba dari PT.SIER
Gambar Keterangan
Limbah cair sebelum diolah secara biologi.
Warna : Hitam Keruh
Bau : menyegat
pH : 7
Terdapat banyak flok

Limbah cair dimasukkan ke dalam alat pengolahan


air limbah secara biologi aerob dengan kontak-
stabilisasi yang telah berisi mikroba. Proses tersebut
berlangsung selama 24 jam.
Hasil pengolahan air limbah secara biologi aerob
dengan kontak-stabilisasi masih terdapat flok yang
ukuran floknya lebih besar daripada pengolahan
secara kimia. Sehingga proses pengendapan lebih
cepat yaitu selama 4 menit dan terbentuk banyak
endapan.

Hasil perbandingan pengolahan secara biologi.


Hasil nya lebih jernih meskipun masih berwarna
kuning bening dibanding pada kondisi awal. Untuk
pH nya tetap 7.

Hasil Pengolahan Limbah Secara Biologi


Sebelum Pengolahan Setelah Pengolahan
IV.1.6 Pengolahan dengan Metode Ion Exchange
Gambar Keterangan

Pengolahan Limbah K2Cr2O7 , dengan karakteristik


limbah :

1. pH 6,8
2. 200 mg/l
3. Warna kuning
4. Tidak ada endapan
5. Tidak berbau

Limbah K2Cr2O7 sebanyak 100 ml ditambahkan resin


anion sebanyak 10 gram , lalu kemudian ditambahkan
lagi limbah dengan interval 50 ml terus menerus
hingga jenuh dengan waktu pengadukan selama 4-5
menit. Larutan menjadi bening dengan pH 6,9

Kemudian ditambahkan lagi limbah dengan interval 50


ml terus menerus hingga mencapai volume 500 ml
resin sudah tidak dapat menjernihkan limbah lagi .
Dengan waktu pengadukan selama 10 menit.
Tidak ada perubahan yang signifikan ketika ada
penambahan kation. Larutan tetap berwarna kuning.

Limbah dari Natrium Silika dilakukan pengolahan


menggunakan ion exchange. Hasil yang didapatkan
untuk sebalah kanan dengan menggunakan kation
exchange maka hasilnya tidak ada perubahan warna.
Sedangkan anion menjadi bening tetapi berat jenis
natrium silika lebih besar sehingga anion exchange nya
mengambang.

IV.2 Pembahasan
Pada pengolahan air limbah PT. SIER yang telah kami lakukan menggunakan proses
kimia dengan menambahkan larutan tawas atau Al2(SO4)3 sebanyak 5 ml setiap satu kali
percobaan lalu diaduk dengan kecepatan 100 rpm selama 10 menit sesuai dengan ketentuan
pada proses koagulasi. Pada percobaan pertama setelah penambahan tawas sebanyak 5 ml pH
air limbah tetap 7 . Selain pH waktu yang dibutuhkan untuk mengendapkan air limbah tersebut
adalah 10 meint. Hasil dari percobaan pertama adalah air limbah yang menjadi jernih lalu
terbentuk flok dan floating tetapi bau masih menyengat.
Pada percobaan kedua ditambahkan larutan tawas sebanyak 5 ml pH air limbah turun
menjadi 7 dan waktu yang diperlukan untuk mengendapkan flok yang terbentuk bertambah
menjadi 13 menit. Hasil percobaan kedua tetap sama seperti percobaan pertama hanya flok
yang terbentuk bertambah banyak tetapi floating yang terbentuk berkurang.
Kemudian pada percobaan ketiga air limbah yang telah di olah menggunakan tawas
ditambahkan larutan NaOH sebanyak 5 ml dengan perlakuan pengadukan dan waktu
pengadukan yang sama. Hasilnya air limbah PT. SIER yang mempunyai pH 7 setelah
ditambahkan larutan NaOH naik lagi menjadi 10 waktu pengendapan yang dibutuhkan selama
8 menit. Selain itu larutan menjadi jernih, terbentuk flok yang lebih besar sehingga cepat
mengendap dan bau tidak menyengat seperti awal. Tetapi dalam pH ini tidak di izinkan karena
melebihi baku mutu yang telah di tentukan di dalam S.K Gubernur No.72 tahun 2017 pada
baku mutu pengolahan limbah kawasan indsutri yaitu pH mempunyai rentan 6,0 9,0.
Pada pengolahan secara fisika menggunakan sand filter ebagai media pemisah. Limbah
hasil pengolahan secara kimia yaitu cairan yang masih tercampur dengan flok dilewatkan ke
dalam sand filter. Kemudian flok akan tertahan di dalam sand filter , sementara air besih akan
turun ke bawah. Sehingga diperoleh hasil limbah cair yang berwarna putih jernih. Didalam
pengolahan secara fisika, tidak ada perubahan pH.
Sedangkan pada pengolahan pada biologi digunakan metode Stabillization Contactor.
Proses aerasi dilakukan selama 24 jam secara berkala diinjeksikan oksigen untuk lumpur
mikroba yang bertugas menguraikan limbah secara aerob. Hasil pengolahan air limbah secara
biologi aerob dengan kontak-stabilisasi masih terdapat flok yang ukuran floknya lebih besar
daripada pengolahan secara kimia. Sehingga proses pengendapan lebih cepat yaitu selama 4
menit dan terbentuk banyak endapan. Pada proses pengolahan secara biologi ini didapatkan
hasil yang lebih baik daripada pengolahan secara kimia, yaitu berupa hasil limbah yang lebih
jernih.

Proses percobaan yang terakhir dengan menggunakan ion exchanger. Limbah yang
diolah adalah limbah K2Cr2O7 dengan kandungan K 2+ sebesar 200 mg/Liter. Limbah K2Cr2O7
sebanyak 100 ml ditambahkan resin anion sebanyak 10 gram , lalu kemudian ditambahkan lagi
limbah dengan interval 50 ml terus menerus hingga jenuh dengan waktu pengadukan selama
4-5 menit. Larutan menjadi bening dengan pH 6,9. Kemudian ditambahkan lagi limbah dengan
interval 50 ml terus menerus hingga mencapai volume 500 ml resin sudah tidak dapat
menjernihkan limbah lagi . hal ini menujukkan bahwa kemampuan resin Anion untuk mengolah
limbah K2Cr2O7 hanya sebesar <500 mL dengan konsentrasi K2+ sebesar 200 mg/L.
Hasil pengolahan air limbah (effluent) yang akan dibuang ke badan air telah memenuhi
baku mutu yang ditetapkan untuk air limbah golongan II, di antaranya pH sebesar 6.808 dengan
baku mutu 6-9, TSS sebesar 32,531 mg/l dan dengan baku mutu sebesar 200 mg/l, COD
sebesar 72 mg/l dengan baku mutu sebesar 100 mg/l dan BOD sebesar 23,277 mg/l dengan
baku mutu sebesar 50 mg/l.
BAB IV
KESIMPULAN

IV.1 Kesimpulan

1. Proses pengolahan air limbah di IPAL PT SIER adalah pengolahan air limbah yang berasal
dari berbagai perusahaan/industri (baik limbah domestik maupun limbah industri) yang
berada di kawasan industri Rungkut dan Berbek dengan menggunakan activated
sludge/lumpur aktif.
2. Air limbah yang sudah diolah memenuhi mutu kualitas limbah cair kedalam golongan II
(bidang perikanan dan peternakan) sesuai Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 72 Tahun
2013, sehingga aman dibuang ke sungai kelas III (badan air yang menampung air limbah)
yaitu Sungai Tambak Oso.
3. Hasil pengolahan limbah PT.SIER di antaranya pH sebesar 6.808 dengan baku mutu 6-9,
TSS sebesar 32,531 mg/l dan dengan baku mutu sebesar 200 mg/l, COD sebesar 72 mg/l
dengan baku mutu sebesar 100 mg/l dan BOD sebesar 23,277 mg/l dengan baku mutu
sebesar 50 mg/l.
4. Hasil pengolahan limbah secara kimia dengan proses koagulasi yaitu penambahan tawas
diperoleh bahwa limbah tersebut akan terbentuk flok dan endapan. Larutan menjadi lebih
jernih dan bau berkurang.
5. pH awal sebelum penambahan tawas adalah 8 dengan baku mutu sebesar 6,0 9,0 dalam
hal ini sudah sesuai dengan standar baku mutu, tetapi ketika ada penambahan tawas pH
menjadi 7 dengan kondisi fisik larutan menjadi lebih jernih dan bau nya berkurang.
6. Hasil pengolahan secara fisika didapatkan bahwa larutan menjadi jernih karena flok
tertahan didalam isian sand filter tetapi masih terdapat bau yang sedikit menyengat.
7. Hasil pengolahan secara biologi dilakukan dengan kontak stabilisasi dengan penambahan
mikroba menghasilkan flok yang lebih besar dan cepat mengendap tetapi warna cairan nya
masih sedikit kuning.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Air Limbah. http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/47


606/Chapter
Anonim. 2013. Baku Mutu Air Limbah Bagi Industri (Pergub Jatim).
http://blh.jatimprov.go.id/index .php