Anda di halaman 1dari 14

MELESTARIKAN KEBERADAAN AIR TANAH

World Water Day,di setiap awal tahunnya diperingati oleh masyarakat dunia.Ihwal tersebut
menjelaskan kita, betapa pentingnya air bagi kehidupan dibumi ini.Air dengan rumus dasar kimia
H2O, adalah sejenis zat maha dahsyat dengan multi peran bagi kehidupan dan berbagai aspek
kehidupan. Tak ada kehidupan tanpa air.
Zat air begitu sempurna, hingga tak ada satupun zat lain mampu mensubsitusinya secara
sempurna, dan bahkan molekul air ini memiliki kemampuan berinteraksi secara nature dengan
ekosistem lingkungan sekitarnya. Selain itu, air memiliki kemampuan self Purification, atau
pemurnian air secara berulangkali tanpa kenal henti, dimensi ruang dan waktu. Kemampuan
alamiah yang luar biasa ini merupakan dinamika gerak abadi air.Proses ini disebut daur
Hidrologi.
Kemampuan kasad mata ini memberikan persepsi menyesatkan, bahwa air di Bumi tak terbatas
jumlahnya dan Renewable. Hal ini bahkan diperparah dengan pemahaman yang keliru terhadap
Hukum Thermodinamika kedua, yang menyatakan bahwa jumlah air dibumi Absolut, dan takkan
mungkin berkurang.
Selain itu, para teknokrat kolotan di era River basin development, sejak abad duapuluh hingga
kini masih merujuk prosedur standar klasik didalam penerapan teknologi eksploitasi air untuk
kehidupan manusia, yakni membaca hasil hasil survey, menganalisa data primair-skundair yang
belum tentu akurasinya, memprediksi kebutuhan berdasarkan standar rencana, yang seluruhnya
berujung pada asumsi dan hypotesa, bahwa air dapat diperlakukan sebagai materi yang selalu
bisa ditata, dikuasai, diatur, dikendalikan, dieksploitasi sekehendak hati dengan alasan demi
kepentingan rakyat agar dapat lebih makmur karena dapat menikmati air irigasi, air minum,
kesehatan, energi, perikanan, transportasi, olahraga, wisata, estetika lingkungan dan sosiokultur.
Pemahaman masa lalu, pengadaan air diasumsikan dengan kemampuan untuk mengendalikan
keberadaan air. Penanganan air tanah dibedakan dengan penangananair permukaan. Penanganan
kualitas air dibedakan atau dipisahkan dengan penanganan kuantitas air. Manajemen air
terfragmentasikan dari penataan ruang. Curah hujan yang melimpah ruah meninabobokan
kesadaran banyak orang untuk mengelola air secara bijaksana.
Dan dunia semakin menggelobal. Bumi makin panas dan terdegradasikan. Manusia semakin
sesak, sementara teknologi eksploitasi air menghasilkan limbah limbah yang bervariant. Tata
ruang tanpa kendali, dan tanah dikonversi secara mena. Gunung digunduli dan hutan hutan
ditelanjangi, atmosfir gerah dan menyesak. Elemen dan komponen alam kehilangan
keseimbangan menjadikan mata rantai daur hidrologi terputus. Bumi menuai bencana.
Bencana karena air, banjir dan kekeringan. Dua bencana yang datang bergantian dan selalu
terjadi setiap tahun, bahkan cenderung meningkat dari tahun ketahun. Dapat dipastikan, hal ini
terjadi karena rusaknya lahan pada kawasan River basin Area. Bila datang hujan, air akan terus
meluncur kehilir, tanpa tertahan oleh akar pepohonan dikawasan hulu. Begitupun sebaliknya,
bila kemarau, air tak ada lagi yang bisa tertampung akibat tak adanya peresapan keperut bumi.
Sumber daya air dikekinian memang sudah menjadi problema krusial, dari tahun ke tahun
bencana alam silih berganti. Kemarau dan banjir menjadi problema linear dan persoalannya
komflik. Seperti kerusakan lahan, pencemaran lingkungan yang mungkin saja disebabkan karena
mismanajemen dalam pengelolaan sumberdaya air yang dapat berakibatkrisis air. Tragisnya
Global water partnership memprediksikan Indonesia akan mengalami krisis air ditahun 2025
mendatang.
Saat ini jutaan orang, baik diperkotaan maupun pedesaan masih kurang mendapatkan akses air
untuk keperluan sehari-hari seperti air minum, fasilitas sanitasi dan pemanfaatan air lainnya,
apalagi dimusim kemarau.
Padahal saat ini, sistem irigasi teknis di Indonesia baru sekitar 10 sd 15 % yang mendapatkan air
dari waduk waduk penyimpan air.Untuk kebutuhan energi listrik baru 15 % pertahun.Untuk
penyediaan air bersih baru rata rata 20-30 % saja. Komitmen global pada pertemuan World
Summit Sustainable Development yang berlangsung di Nusa dua Bali, menyatakan agar negara
negara berkembang bisa mencukupi kebutuhan air bersih bagi warganya sebesar 50 % dari
kebutuhan seluruhnya hingga tahun 2015.
Dalam kaitan seperti ini, kita tidak bisa memandang air sebagai materi yang bebas nilai. yang
bisa diambil secara bebas tanpa adanya kompensasi nilai ekonominya. Pengambilan air dalam
kondisi krisis air memerlukan Threatment yang mahal. Apalagi bila tngkat pencemaran yang
masuk kedalam badan air tersebut konsentrasinya cukup tinggi, maka akan menambah beban
biaya dalam pengolahannya untuk mendapatkan air yang layak pakai.
Problematik air memang penuh serbaneka, dan gaya penangan masalahnya pun dengan berbagai
konsep pendekatan. Semisal modelpolisentrisitas, dalam manajemen sungai pada konsepriver
basin development, dimana air tak bisa lepas dari keberadaan sungai. Karena itu harus dikelola
dengan baik secara sistem dari hulu kehilir, dengan berbagai infrastruktur air yang berkaitan
langsung dengan aktifitas dan kepentingan manusia, khususnya yang bermukim dikawasan DAS
nya.
Kunci keberhasilan model polisentrisitas ini adalah prinsip komitmen antara pihak yang
berkepentingan dengan pengelolaan sumberdaya air secara integrated dan sustainable dengan
mengaplikasikan slogan Water is every body businees

Cara untuk Melestarikan Air Tanah


Air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya
dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan.

Air tanah juga mempunyai peranan yang sangat penting terutama dalam menjaga keseimbangan
dan ketersediaanbahan baku air untuk kepentingan rumah tangga (domestik) maupun untuk
kepentingan industri.

Manfaat Air Tanah

Sebagai sumber air bersih


Irigasi
Sumber air untuk industri

Cara untuk Melestarikan Air Tanah

Melakukan konservasi hutan


Melakukan konservasi tanah
Membuat sumur resapan
Mengatur pembuangan limbah
Merencanakan tata hutan yang baik

Air tanah terdapat dalam lapisan bebatuan atau tanah


Geiser, mata air panas yang menyembur secara periodik
Berbagi Pengetahuan Melestarikan Sumber Air Untuk
Kehidupan

Sebuah pertanyaan menarik seputar air yang seringkali di sepelekan serta dianggap remeh oleh
kebanyakan orang, apalagi ketika memasuki bulan Desember seperti sekarang ini dimana air
hujan biasanya melimpah ruah membasahi setiap jengkal tanah di bumi pertiwi dan mengisi
kembali debit sumber air tanah yang ada di berbagai daerah.

Bagaimana Kiranya Jika Air Sebagai Salah Satu Unsur Terpenting Yang Tidak Dapat
Dipisahkan Dari Kehidupan Setiap Makhluk Di Dunia Ini Habis, Hilang Atau Tiada ?

Tentunya sebuah pertanyaan sederhana yang bersifat retoris, dan saya rasa setiap orang mampu
untuk menjawabnya, meskipun bangku sekolah juga kuliah tak pernah di rasakannya bahkan
prestasi tak pernah di sandangnya.

Dari pertanyaan yang saya angkat ini pastinya memiliki beragam dasar, mengingat cerita dan
fakta mengenai kekeringan serta langkanya sumber air bersih di masyarakat yang saat ini hampir
tak pernah ada putusnya menghiasi media-media dari mulai koran, radio, televisi hingga sosial
media.

Perhatikan saja, bagaimana warga di berbagai daerah mengantri air bersih selama berjam-jam,
rusaknya lahan pertanian karena kekeringan, tanaman padi para petani yang puso, bagaimana
masyarakat masih banyak yang memanfaatkan air sungai, kolam tampung bahkan got yang kotor
untuk keperluan sehari-hari, hingga merebaknya beragam penyakit yang timbul akibat musim
kering berkepanjangan yang tak kunjung sirna.
SEPUTAR AIR

Seperti kita ketahui bersama air merupakan sumber utama bagi kehidupan setiap mahluk selain
udara (oksigen), karena itu dapat kita perhitungkan apabila selama berjam-jam hingga berhari-
hari tubuh kita tidak mengkonsumsi air karena keberadaannya yang habis, hilang atau tiada,
maka dapat dipastikan bahwa tubuh kita yang tadinya kokoh, sehat dan kuat akan lemah tak
berdaya karena kekurangan cairan (dehidrasi) yang dapat menyebabkan kematian.

Kenapa demikian ? ada yang bisa menjawab ? tentunya hal ini dikarenakan kandungan air yang
ada di dalam tubuh manusia yang mencapai 2/3 dari berat tubuhnya atau dapat kita kalkulasikan
sekitar 60% hingga 70% dari berat tubuh yang ada. Dan dari prosentase ini, kandungan air pada
otak kita mencapai sekitar 80%, sedangkan kandungan pada darah mencapai sekitar 90%. Karena
itu tiap harinya manusia harus minum kurang lebih 2 liter air atau setara dengan 8 hingga 12
gelas air untuk mencukupi asupan cairan yang di butuhkan oleh tubuh untuk melakukan beragam
aktifitas.

Oleh sebab itu efek yang sering kali kita rasakan ketika kekurangan cairan tubuh pastinya rasa
pusing dibarengi kantuk yang tak tertahankan akan menghinggapi. Begitupula dengan apa yang
pernah saya rasakan ketika bepergian jauh menggunakan sepeda motor keluar kota, dimana hal
remeh yang seringkali saya lakukan yaitu menunda minum hingga sampai ketempat tujuan.
Padahal jelas, selama perjalanan yang lumayan panjang antara Magelang-Jogja atau Magelang-
Solo yang biasa saya lakukan, ditambah suasana siang hari yang panas terik merupakan
penyebab utama dehidrasi terjadi, karena itu jika kita melakukan perjalanan jauh dan tidak
mempersiapkan bekal dengan sungguh-sungguh meskipun hanya sebotol air putih, maka rasa
pusing dikepala dibarengi kantuk dan juga pegal-pegal di sekitar leher belakang akan segera
menghinggapi.

Air memang merupakan unsur yang vital dalam kehidupan manusia. Seseorang tidak dapat
bertahan hidup tanpa air, karena itulah air merupakan salah satu penopang hidup bagi manusia
dan juga seluruh mahluk di muka bumi sejak dahulu, kini hingga dimasa depan yang harus
dilindungi dan diberdayakan kelestariannya.
DILEMA SEPUTAR AIR BERSIH

Ketersediaan air di dunia begitu melimpah ruah, apalagi di Indonesia yang mana dari luas total
wilayah yang ada di dominasi oleh lautan, danau dan juga sungai. Namun coba perhitungkan
berapa banyak debit air yang dapat dikonsumsi oleh warganya untuk keperluan air minum.

Dari total jumlah air yang ada di Indonesia, hanya 20% saja yang tersedia sebagai air bersih
layak minum, sedangkan sisanya adalah air laut yang masih perlu beragam proses panjang untuk
menjadikannya air minum yang menyegarkan.

Selain itu, kecenderungan yang terjadi sekarang ini adalah berkurangnya ketersediaan air bersih
dari hari ke hari. Hal ini jelas, karena semakin meningkatnya populasi, semakin besar pula
kebutuhan akan air minum. Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya dimana arus
urbanisasi masal tiap tahun melonjak dahsyat, sehingga ketersediaan air bersih pun semakin
berkurang.
Seperti yang disampaikan Jacques Diouf, Direktur Jenderal Organisasi Pangandan Pertanian
Dunia (FAO), saat ini penggunaan air di dunia naik dua kali lipat lebih dibandingkan dengan
seabad silam, namun ketersediaannya justru menurun. Akibatnya, terjadi kelangkaan air yang
harus ditanggung oleh lebih dari 40 persen penduduk bumi. Dan kondisi ini akan kian parah
menjelang tahun 2025 karena 1,8 miliar orang akan tinggal dikawasan yang mengalami
kelangkaan air secara absolut.

Seperti telah di ketahui kebanyakan orang, kekurangan air kini telah berdampak negatif terhadap
semua sektor, termasuk kesehatan salah satunya. Tanpa akses air minum yang higienis menurut
penelitian para ahli mengakibatkan sekitar 3.800 anak meninggal tiap hari oleh penyakit.

Begitu peliknya masalah ini sehingga para ahli berpendapat bahwa pada suatu saat nanti, akan
terjadi pertarungan sengit adu kanuragan hingga adu persenjataan modern nan canggih sekedar
untuk memperbuatkan air bersih. Tentunya hal ini hampir sama dengan pertarungan untuk
memperebutkan sumber energi fosil di beberapa negeri yang hingga saat ini masih eksis terjadi
dengan beragam dalil (alasan)-nya yang mengakibatkan banyak kekacauan disana-sini.

Dan disamping bertambahnya populasi manusia, kerusakan lingkungan merupakan salah satu
penyebab berkurangnya sumber air bersih. Abrasi pantai juga, hal ini seringkali menyebabkan
rembesan air laut masuk ke daratan yang pada akhirnya akan mengontaminasi sumber air bersih
yang ada dibawah permukaan tanah.

Pembuangan sampah disungai yang sembarang, hal ini juga seringkali menyebabkan air sungai
menjadi kotor dan tidak sehat untuk digunakan. Di Indonesia sendiri diperkirakan 60 persen
sungai yang ada, terutama di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi, sudah tercemar
berbagai limbah, mulai dari bahan organik hingga bakteri coliform dan fecalcoli penyebab diare.
Tak hanya itu saja, pembabatan hutan dan penebangan pohon yang tak sesuai dengan AMDAL
(Analisis Dampak Lingkungan) ternyata juga mengurangi daya resap tanah terhadap air, dan ini
turut serta pula dalam menambah berkurangnya asupan air bersih di negeri ini.

Ditambah lagi pendistribusian air yang tidak merata kepenjuru negeri, permasalahan yang satu
ini juga ikut andil dalam memperkeruh krisis air yang ada. Dan berkaitan dengan krisis air
bersih, diprediksikan pada tahun 2025 nanti hampir dua pertiga penduduk dunia akan tinggal di
daerah-daerah yang mengalami kekurangan air.
Prediksi ini di lansir oleh World Water Assesment Programme (WWAP), Lembaga ini
menegaskan bahwa krisis air di dunia akan memberikan dampak yang mengenaskan. Tidak
hanya membangkitkan penyakit yang merenggut nyawa pastinya, tapi juga akan mengakibatkan
bencana kelaparan diberbagai belahan dunia termasuk Indonesia salah satunya.
Konservasi Air: Menjaga Air Tanah

Ketika membaca tentang tema tentang konservasi air yang ada di halaman green holic ini saya langsung
teringat dengan UUD 1945 pasal 33 ayat 3 yang berbunyi Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung
di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Isi pasal
tersebut bermakna bahwa segala sesuatu mengenai sumber daya alam termasuk di dalamnya air
beserta kekayaan alam lainnya milik atau berada dalam wilayah teritori NKRI berarti dikuasai, diatur,
dikelola, dan didistribusikan oleh negara atau pemerintah dengan segenap lembaga pengelolanya untuk
dipergunakan bagi memakmurkan atau mensejahterakan rakyat.
Kemudian dengan dikeluarkannya UU No 5 tahun 1960 Tentang Undang-Undang Pokok Agraria pasal 2
ayat 1 disini adanya, Hak menguasai dari Negara termaksud dalam ayat (1) pasal ini memberi wewenang
untuk a). mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan
bumi, air dan ruang angkasa tersebut; b). Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum
antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa; c). Dan menentukan dan mengatur hubungan-
hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan
ruang angkasa.
Di sini sudah sangat jelas bahwa pemerintah diberi wewenang khusus untuk mengatur air. Air yang
dimaksudkan adalah air yang dipermukaan maupun yang berada didalam tubuh bumi. Pengaturan
tersebut meliputi peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan. Pemerintah lewat
perusahaan air minum mempunyai wewenang yang sangat spesifik untuk mengekploitasi air tanah dan
mendistribusikanya keseluruh penjuru masyarakat, sehingga masyarakat mendapatkan pelayanan air
tersebut. Hal ini mempuyai tujuan untuk mengatur persediaan dan pemeliharaan air agar masyarakat
tidak sembarangan mengeksploitasi air tanah karena setiap tahun keberadaan air tanah terus menyusut.
Melalui undang-undang yang telah saya sebutkan diawal tulisan ini, sepertinya yang menjaga dan
mengelola air hanya pemerintah saja. Namun sebagai warga negara yang baik, yang tentunya juga
membutuhkan air untuk aktifitas kehidupan sehari-hari kita juga harus turut andil dalam menjaga
sumber daya air.
Beberapa hal sederhana dan simple yang bisa dilaksanakan oleh masyarakat dan juga pemerintah.
Sekaligus sebagai wujud sinergi antara pemerintah dan masyarakat, misal pemerintah harus mendata
sumur-sumur yang telah ada. Kemudian harusnya didaftarkan oleh pemerintah agar tidak lagi ada
penambahan sumur yang tidak penting oleh masyrakat. Hal tersebut demi kontrol terhadap keberadaan
air tanah serta pendistribusian air bersih yang diatur oleh pemerintah.
Sementara konservasi terhadap air tanah juga bisa dilakukan oleh masyarakat misalnya, dengan jalan
terus meningkatkan gerakan menanam pohon; adanya sumur resapan di tiap rumah untuk menampung
air hujan agar tidak langsung menuju sungai; pembangunan bendungan-bendungan ditiap daerah yang
mempuyai debit air yang besar dan lokasi topografi yang mendukung; melindungi hutan lindung sebagai
penyangga hujan; tidak mengijinkan daerah resapan air untuk digunakan sebagai lokasi pembangunan;
kemudian tidak menggarap tanah-tanah yang bergambut sebab tanah gambut merupakan salah satu
wadah penyerapan air tanah yang efektif.
Selain itu, masyarakat dan pemerintah juga harus terus konsisten untuk menjaga dan sama-sama
memanfaatkan air sebagai sumber daya yang sangat penting. Sebab air bukan hanya sumber daya alam,
namun air juga merupakan sumber kehidupan. Jika air menghilang dari permukaan bumi hanya karena
manusia yang hidup di bumi tidak bijak mengelola dan memanfaatkannya, maka itu merupakan awal
dari kehancuran populasi manusia sendiri. Salam dari saya, Agus Dhanang Purnomo,

Bahkan yang sungguh menambah miris lagi yaitu ketika kekeringan terjadi di Tangerang
tepatnya di Kampung Bugel, Kelurahan Kaduageng, Kecamatan Tigayaksa. Menurut informasi
yang saya dapatkan dari situsnya www.tagerang.go. id, per-bulan September 2012 kemaren,
selama 3 bulan warga menggunakan air kotor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian
mereka, yang berasal dari kubangan bekas galian komplek yang biasanya dijadikan tempat
berkumpul dan mandi kawanan kerbau milik warga.

Memang hingga saat ini sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki akses terhadap air
bersih dengan optimal. Adapun yang memiliki akses, sebagian besar mendapatkan air bersih dari
penyalur air, usaha air secara kelompok serta memanfaatan sumur air dalam dengan
menggunakan genset atau pompa untuk mengangkatnya. Kondisi ini ironis mengingat Indonesia
termasuk ke dalam 10 negara yang kaya akan sumber air tawar.

Bahkan dari informasi yang saya baca, menurut laporan Kelompok Kerja Air Minum dan
Penyehatan Lingkungan Indonesia yang anggotanya terdiri dari departemen-departemen terkait
seperti Departemen Dalam Negeri, Departemen Kesehatan, Departemen Permukiman dan
Prasarana Wilayah, dan juga Departemen Kesehatan serta dikoordinasikan oleh Bappenas,
ketersediaan air di Pulau Jawa hanya 1.750 meter kubik perkapita pertahun pada tahun 2000, dan
akan terus menurun hingga 1.200 meter kubik perkapita pertahun pada tahun 2020. Padahal,
standar kecukupan minimal air bersih adalah 2.000 meter kubik perkapita pertahun.
Penyediaan air bersih bagi masyarakat memang erat kaitannya dengan keluaran-keluaran kualitas
pembangunan manusia, selain itu hal ini juga berhubungan erat dengan tingkat kesehatan
masyarakat yang secara tidak langsung dampaknya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Mengupas cara menjaga kelestarian sumber air pastinya tak akan lepas dari keberadaan air tanah.
Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan
tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan
kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit untuk dilakukan.
Karena itu harus ada langkah nyata untuk menjaganya supaya kelestariannya mampu berperan
optimal dalam memenuhi kebutuhan konsumsi warga negara Indonesia dari Sabang menembus
batas ke pelosok nusantara hingga Merauke.

Berikut Langkah Nyata Untuk Melestarikan Sumber Air :

1. Hemat dan Bijaklah Dalam Menggunakan Air Bersih

Hal ini bukan berarti menggunakannya secara minim, akan tetapi bijak dalam penggunaan,
dalam artian memprioritaskan hal-hal yang bermanfaat serta memiliki nilai lebih dalam
memanfaatkan air tanah dan juga air keran baik sebagai air minum maupun untuk kebutuhan
rumah tangga lainnya.

Berikut saya akan berikan beberapa contoh langkah menghemat air.

Jangan biarkan air keran dirumah, kantor atau fasilitas umum terbuka terus.
Matikan air keran saat kita menggosok gigi, cuci muka atau mencukur.
Cuci kendaraan kita dengan air bekas (limbah) yang masih layak pakai. Baru setelah
tahap akhir bilas dengan air bersih.
Cuci pakaian dan perabot rumah tangga dengan menggunakan air tampungan terlebih
dahulu, baru kemudian membilasnya menggunakan air keran
Manfaatkan sumur-sumur air tanah yang ada di sekitar kita secara maksimal dan bijak,
seperti apa yang biasa dilakukan saudara saya di Semin, Gunung Kidul, Jogjakarta.