Anda di halaman 1dari 22

Lampiran 8.

Contoh TOR RZWP-3-K

KERANGKA ACUAN KERJA

DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
DIREKTORAT TATA RUANG LAUT, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI


WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL
DI PROVINSI.............

2013

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-1


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

KERANGKA ACUAN KERJA


PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR
DAN PULAU-PULAU KECIL PROVINSI

1. Latar Belakang
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dikenal pula sebagai negara
2 2
maritim dengan luas lautan mencapai 5,8 juta km yang terdiri dari perairan territorial 3,1 juta km
2
dan ZEE Indonesia 2,7 km . Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia terdiri dari 17.504
buah pulau dan panjang pantai mencapai 95.181 km (KKP, 2011). Kondisi ini merupakan
anugrah yang sangat besar bagi pembangunan perikanan dan kelautan. Disamping itu,
sumberdaya ikan yang hidup di wilayah perairan Indonesia memiliki tingkat keragaman hayati
(bio-diversity) sangat tinggi, dan bahkan laut Indonesia merupakan wilayah Marine Mega-
Biodiversity terbesar di dunia, yang memiliki sekitar 8.500 species ikan, 555 species rumput laut
dan 950 species biota terumbu karang. Sumberdaya ikan tersebut meliputi 37 persen dari
species ikan di dunia. Disamping sumberdaya dapat pulih sebagaimana dikemukakan di atas,
perairan laut Indonesia juga memiliki sumberdaya tidak pulih seperti mineral (minyak, gas dan
lain sebagainya) serta jasa-jasa lingkungan seperti sumber energi yang berasal dari arus pasang
surut, gelombang, perbedaan salinitas, angin dan perbedaan suhu air laut di lapisan permukaan
dan lapisan dalam perairan yang dikenal dengan ocean thermal energy convertion (OTEC).
Kondisi ini selanjutnya menjadikan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sangat potensial untuk
dikembangkan berbagai kegiatan. Potensi sumberdaya kelautan, seperti minyak dan gas,
meneral dan energi, perhubungan laut, industry maritim, dan industri jasa seperti pariwisata serta
perikanan yang terdiri dari perikanan tangkap dan budidaya sangat potensial untuk
pembangunan ekonomi nasional.
Akan tetapi, dalam pemanfaatan dan pengolahan sumber daya alam tersebut masih
belum optimal dan kurang tepat sasaran. Disamping wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang
rentan terhadap perubahan lingkungan, bencana alam, dan perubahan iklim, juga banyaknya
konflik pemanfaatan ruang dan kerusakan habitat yang diakibatkan oleh ulah manusia.
Untuk itu, wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil perlu dikelola secara terpadu dalam
rangka mewujudkn tata ruang wilayah yang aman, nyaman dan produktif, agar diperoleh
manfaat baik dari segi lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya.
Keberadaan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pulau-Pulau Kecil dan Pulau-Pulau Kecil jo Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 mengamanatkan
bahwa dalam rangka pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, yang didalamnya
meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan dan pengendalian, memerlukan
upaya yang sistematis dan terukur agar dapat mengoptimalkan potensi wilayahnya demi
kesejahteraan masyarakat.
Pengelolaan WP3K dilaksanakan dengan tujuan :
a. melindungi, mengonservasi, merehabilitasi, memanfaatkan, dan memperkaya Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta sistem ekologisnya secara berkelanjutan;
b. menciptakan keharmonisan dan sinergi antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam
pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
c. memperkuat peran serta masyarakat dan lembaga pemerintah serta mendorong inisiasif
masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil agar tercapai
keadilan, keseimbangan, dan keberlanjutan; dan
d. meningkatkan nilai sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat melalui peran serta masyarakat
dalam pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Dalam UU No 27 Tahun 2007 jo Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 pasal 7 ayat (3),
memandatkan kepada Pemerintah Daerah untuk menyusun semua dokumen perencanaan
sesuai dengan kewenangan masing-masing. Salah satu perencanaan yang wajib disusun adalah

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-2


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

perencanaan spasial yang berupa Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RZWP-3-K), yang berfungsi sebagai arahan pemanfaatan bagi berbagai kegiatan berbasiskan
pada sumberdaya di wilayah laut, pesisir dan pulau-pulau kecil.

2. Maksud dan Tujuan


Maksud yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah menyusun dokumen Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) Provinsi.
Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah :
Melakukan identifikasi potensi sumberdaya alam, sumberdaya fisik, dan sumberdaya
manusia, serta kendala pemanfaatan sumberdaya alam
Memformulasikan tujuan, kebijakan dan strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-
pulau kecil
Menyusun rencana alokasi ruang RZWP-3-K
Menyusun peta dasar, peta-peta tematik, dan peta RZWP-3-K
Menyusun peraturan pemanfaatan ruang
Memformulasikan indikasi program
Menyusun Dokumen Awal, Dokumen Antara, dan Dokumen Final RZWP3-K
Menyusun Ranperda RZWP3K
(Disesuaikan dengan fokus pekerjaan, apakah sampai dengan tahap dokumen awal, dokumen
antara, atau dokumen final.)

3. Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan ini antara lain :
a. teridentifikasinya potensi dan permasalahan wilayah
b. terformulasikannya tujuan, kebijakan, dan strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-
pulau kecil
c. tersusunnya rencana alokasi ruang
d. tersusunnya peta-peta tematik dan peta RZWP-3-K
e. tersusunnya peraturan pemanfaatan ruang
f. terformulasikannya indikasi program
g. tersusunnya Dokumen Awal, Dokumen Antara, dan Dokumen Final RZWP3-K
h. tersusunnya Ranperda RZWP3K

4. Lokasi Kegiatan
Wilayah perencanaan kegiatan Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil Provinsi adalah ke arah darat adalah Kecamatan Pesisir dan ke arah laut hingga batas
wilayah pengelolaan perairan Provinsi sejauh 12 mil laut.

5. Sumber Pendanaan
(Besarnya anggaran disesuaikan dengan fokus pekerjaan.)

6. Landasan Hukum
1. UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
2. UU No 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
3. UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
4. UU No 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan;
5. UU No 1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
6. PP No 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan;
7. PP No 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang;
8. PP No 64 Tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
9. PP No 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang;
10. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.16/ MEN/2008 tentang Perencanaan
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
11. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.17/MEN/2008 tentang Kawasan
Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
12. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.8/MEN/2012 tentang Kepelabuhanan
Perikanan;

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-3


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

13. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.18/MEN/2013 tentang Perubahan


Ketiga atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.2/MEN/2011 tentang Jalur
Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan
Ikan di Wilayah Pengeloaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

7. Studi-Studi Terdahulu
Studi-studi yang telah dilakukan, antara lain :
1) RTRW Provinsi
2) RPJPD Kabupaten/Kota
3) RTRW Kabupaten/Kota
4) dll

8. Ruang Lingkup Pekerjaan


Tahapan pelaksanaan kegiatan penyusunan RZWP-3-K adalah sebagai berikut:
8.1. Persiapan
1) Penyiapan personil dalam tim kerja (tenaga ahli dan tenaga pendukung sesuai dengan
tata laksana personil).
2) Penyiapan administrasi.
3) Studi literatur sebagai awal atau referensi untuk pelaksanaan kegiatan.
4) Penyusunan rencana kerja
- Jadwal pekerjaan
- Metode pengumpulan data/survei lapangan berdasarkan Peta RBI, LPI, Peta Laut
Dishidros TNI AL, dan Citra Satelit di wilayah perencanaan.
- Peta rencana lokasi sampling

8.2. Pengumpulan Data Sekunder


Data sekunder yang dikumpulkan, meliputi :
1. Data terestrial (diambil dari Dokumen RTRW)
a. Peta topografi
b. Peta kemiringan lereng
c. Peta tanah
2. Data Bathimetri
3. Data geologi dan geomorfologi laut
4. Data ekosistem pesisir dan kelimpahan sumberdaya ikan
a. Data ekosistem pesisir (terumbu karang, mangrove, lamun)
b. Data kelimpahan sumberdaya ikan
5. Data penggunaan lahan dan status lahan
a. Status (kepemilikan) Lahan (tanah negara, bukan tanah negara,dll)
6. Data pemanfaatan wilayah laut eksisting (misalnya perikanan budidaya, perikanan
tangkap, pariwisata, pertambangan, pelabuhan, alur pelayaran, alur biota, kawasan
konservasi)
7. Data sumberdaya air
8. Data infrastruktur
9. Data sosial dan budaya
a. Jumlah penduduk
b. Jumlah tenaga kerja
c. Kepadatan penduduk
d. Proyeksi pertumbuhan penduduk
e. Mata pencaharian penduduk
f. Jumlah nelayan dan dan pembudidaya ikan per kecamatan
g. wilayah masyarakat hukum adat
h. wilayah penangkapan ikan secara tradisional
i. kondisi dan karakteristik masyarakat setempat termasuk tempat suci dan
kegiatan peribadatannya
j. aktifitas/ritual keagamaan, situs cagar budaya.
10. Data ekonomi wilayah
a. PDRB
b. Pendapatan per kapita
c. Angkatan kerja dan tingkat pengangguran

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-4


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

d. Laju pertumbuhan ekonomi sektoral dan kabupaten


e. Komoditi unggulan
f. Kegiatan perekonomian perikanan dan kelautan
g. Produksi perikanan
11. Data resiko bencana dan pencemaran
a. Jenis, lokasi, batas riwayat kebencanaan, tingkat kerusakan dan kerugian
bencana
b. Sumber dan lokasi pencemaran
12. Rencana Struktur dan Pola Ruang Wilayah dari RTRW Provinsi
13. Rencana Struktur dan Pola Ruang Wilayah dari RTRW Kabupaten/Kota

Apabila data tersebut masih dalam bentuk hardcopy (analog), format gambar (jpg, pdf, tif,
ppt) harus dikonversi ke dalam format standar (shapefile).

8.3. Perumusan Tujuan, Kebijakan, dan Strategi


Tujuan, kebijakan, dan strategi diadopsi dari Tujuan, kebijakan, dan strategi yang tertuang
dalam dokumen RSWP-3-K. Apabila belum ada, maka harus merumuskan Tujuan,
kebijakan, dan strategi Pengelolaan WP-3-K melalui FGD. Tujuan, Kebijakan, dan Strategi
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi merupakan terjemahan dari visi
dan misi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil pengembangan provinsi untuk
mencapai kondisi ideal pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi yang
diharapkan.

1. Tujuan
Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi merupakan arahan
perwujudan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi yang ingin
dicapai pada masa yang akan datang (20 tahun).

Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi memiliki fungsi:
1) sebagai dasar untuk memformulasikan kebijakan dan strategi RZWP-3-K provinsi;
2) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama RZWP-3-K provinsi;
dan
3) sebagai dasar penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi.

Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi dirumuskan


berdasarkan:
1) visi dan misi pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi;
2) karakteristik wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi;
3) isu strategis; dan
4) kondisi objektif yang diinginkan.
Tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi dirumuskan dengan
kriteria:
1) tidak bertentangan dengan tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
nasional;
2) jelas dan dapat tercapai sesuai jangka waktu perencanaan; dan
3) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

2. Kebijakan
Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi merupakan arah
tindakan yang harus ditetapkan untuk mencapai tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil provinsi.

Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi berfungsi sebagai:
1) sebagai dasar untuk memformulasikan strategi pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil provinsi;

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-5


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

2) sebagai dasar untuk merumuskan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil;
3) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi; dan
4) sebagai dasar penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil.

Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi dirumuskan


berdasarkan:
1) tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi;
2) karakteristik wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi;
3) kapasitas sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi dalam
mewujudkan tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
4) ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.

Kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi dirumuskan dengan
kriteria:
1) mengakomodasi kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
nasional dan provinsi yang berlaku pada wilayah provinsi bersangkutan;
2) jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi bersangkutan;
3) mampu menjawab isu-isu strategis baik yang ada sekarang maupun yang
diperkirakan akan timbul di masa yang akan datang; dan
4) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

3. Strategi
Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi merupakan
penjabaran kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi ke
dalam langkah-langkah operasional untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi berfungsi:
1) sebagai dasar untuk penyusunan rencana alokasi ruang, dan penetapan kawasan
strategis provinsi;
2) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RZWP-3-K
provinsi; dan
3) sebagai dasar dalam penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi.

Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi dirumuskan


berdasarkan:
1) kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil wilayah provinsi;
2) kapasitas sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi dalam
melaksanakan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
3) ketentuan peraturan perundang-undangan.

Strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil wilayah provinsi dirumuskan
dengan kriteria:
1) memiliki kaitan logis dengan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil;
2) tidak bertentangan dengan tujuan, kebijakan, dan strategi pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil nasional;
3) jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi bersangkutan secara efisien dan
efektif;
4) harus dapat dijabarkan secara spasial dalam rencana alokasi ruang wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil provinsi; dan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-6


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

5) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

8.4. Survey Lapangan


Survei lapangan dilaksanakan dalam rangka pengumpulan data sekunder dan primer yang
belum tersedia, serta validasi terhadap data sekunder yang sudah terkumpul sebelumnya.
Adapun jenis data primer yang dikumpulkan, antara lain :
1). Teresterial / topografi
Terestrial
Peta tanah umumnya sudah ada di peta RTRW sehingga apabila peta RTRW sudah
tersedia, maka tidak perlu dilakukan analisis pemetaan tanah di lokasi perencanaan.
Topografi
Pemetaan topografi suatu wilayah dimaksudkan untuk mengetahui kondisi relief atau
kelerengan dan ketinggian tempat di atas permukaan laut.
Peta topografi umumnya dapat diperoleh dari instansi terkait (diturunkan dari peta
Rupabumi skala 1 : 250.000 untuk kabupaten). Apabila peta topografi untuk skala
tertentu tidak tersedia, perlu dilakukan survei lapangan.
Beberapa metode pengukuran kemiringan lereng, yaitu :
1. Metode Went Worth
Peta Kemiringan Lereng dapat diperoleh melalui perhitungan dari peta topografi
menggunakan rumus Went-Worth yaitu pada peta topografi yang menjadi dasar
pembuatan peta kemiringan lereng dengan dibuat grid atau jaring-jaring berukuran
1 cm kemudian masing-masing bujur sangkar dibuat garis horizontal. Dengan
mengetahui jumlah konturnya dan perbedaan tinggi kontur yang memotong garis
horizontal tersebut, dapat ditentukan kemiringan atau sudut lereng.
2. Metode Terestris
Pengukuran topografi dilakukan dilapangan dilakukan dengan menggunakan
peralatan ukur seperti : Theodolit, Waterpass, GPS, dan Total Station.
3. Metode pemodelan Digital Elevasi Model (DEM)
Informasi topografi yang diwakili oleh bentuk relief dan kemiringan lereng dapat
diperoleh melalui pemodelan DEM. Data DEM diolah melalui analisis kontur
permukan bumi yang diperoleh dari peta rupabumi.

2). Bathimetri
Pengumpulan data bathimetri dimaksudkan sebagai data dasar dalam menganalisis
kedalaman perairan laut. Metode penentuan lokasi survei dan pengukuran dengan
menggunakan metode pemeruman, yaitu penentuan lokasi ditentukan secara sistematis
dengan pertimbangan dapat mewakili karakteristik kedalaman di wilayah perairan
setempat. Metode pengambilan data, yaitu :
- Grid pengukuran 30 meter yaitu dengan perekaman data bathimetri setiap 1 (satu)
detik. Misal: Lebar tegak lurus ke arah laut (ke utara) 12 mil/ kedalaman
maksimum 100 m dan sejajar garis pantai Provinsi ........ sepanjang .......km
- Koordinat titik - titik pengukuran didapat dengan menggunakan alat GPS (Global
Positioning Sistem) yang telah terintegrasi dengan Echosounder.

3). Geologi dan geomorfologi


A. Geologi laut
Peta geologi dasar laut memberikan petunjuk tentang susunan lapisan batuan dasar
laut dan pada umumnya memberikan informasi tentang formasi apa saja yang ada
di daerah yang dipetakan. Metode identifikasi, antara lain :
1. Analisis citra satelit altimetry
2. Pemeruman dasar perairan
3. Peralatan Pengambilan contoh sedimen dasar laut
Untuk mendeteksi lokasi dan jenis substrat dasar laut dilakukan survey
pengambilan sample. Survey substrat dasar laut dilakukan pada kedalaman
maksimal 100 m.
4. Analisa Laboratorium (Analisis besar butir, Analisis mineral berat, Analisis
Geokimia, Analisis Unsur Tanah Jarang, Mikrofauna

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-7


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

B. Geomorfologi laut
Pemetaan geomorfologi laut dimaksudkan untuk memperoleh informasi bentuk
lahan laut. Metode pengumpulan data menggunakan teknik interpretasi citra,
pengolahan citra secara digital dan survei lapangan.
Penentuan Lokasi sampel dilakukan menggunakan metode acak proporsional
berstrata (Stratified Proportional Random Sampling). Analisis penginderaan jarak
jauh dilakukan dengan plotting data dan perbaikan interpretasi (re interpretasi)
berdasarkan hasil groundcheck/survei lapangan

4). Oceanografi
Seluruh pengumpulan data primer dataset oseanografi dilakukan hingga kedalaman 50
m, data yang diambil meliputi:
1. Fisika Perairan
a. Arus
Arus diukur dengan Current meter bolak balik dengan berbagai type yang dapat
mengukur dari berbagai arah atau dengan ADCP (Acoustic Dopler Current
Profiler). Pengukuran arus untuk mengetahui arah dan kecepatan arus.
Arus diukur selama 3 hari 3 secara bolak-balik pada .... titik pengamatan secara
simultan bersamaan dengan pengukuran pasang surut. Pengukuran sebaiknya
dilakukan pada saat kondisi pasang surut pada fase spring tide (pasang surut di
saat bulan purnama atau bulan mati), hal ini untuk memperoleh hasil pengukuran
arus yang optimal.

b. Pasang Surut
Pasang surut diukur dengan menggunakan peralatan Tide Recorder, selama 7
hari 7 malam pada .... stasiun pengamatan secara simultan. Setelah dilakukan
pengukuran harus diikat dengan Bench Mark terdekat (kalau ada). Jika tidak ada
maka harus dibuatkan Bench Mark. Pengukuran pasut dilakukan bersamaan
dengan pengukuran arus.

c. Gelombang
Gelombang dapat diprediksi dari data angin dengan mempertimbangkan panjang
fetch, kecepatan dan arah angin. Apabila pasang surut diukur dengan tide
recorder, maka tinggi gelombang dapat diketahui dari pengukuran pasang surut.

Gelombang juga dapat diukur dengan alat papan berskala, meteran, serta
Wave Rider atau Wave Recorder, pada saat musim barat dan musim timur,
masing-masing selama 7 hari dengan interval waktu pencatatan antara 10 menit
1 jam.

d. Suhu, Kecerahan, dan TSS


1) Suhu
Suhu diinterpretasi dengan citra satelit modis dan dilakukan ground check
dengan thermometer pada titik lokasi yang ditentukan berdasarkan
interpretasi citra satelit.
2) Kecerahan
Kecerahan dilakukan secara insitu dengan menggunakan secchi disk pada
titik lokasi yang ditentukan berdasarkan analisis.
3) Total Suspended Solid (TSS)
Total Suspended Solid (TSS) dilakukan di laboratorium.

2. Kimia dan Biologi Perairan


1) pH dan Salinitas
pH, Salinitas diukur dengan menggunakan waterchecker dan dianalisis di
laboratorium.
2) COD, BOD, Amonia
COD, BOD, Amonia diutamakan diukur di muara sungai dengan
menggunakan waterchecker dan dianalisis di laboratorium.
3) Klorofil

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-8


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

Klorofil dianalisis dengan citra satelit modis/seaWIFS dan dilakukan ground


check pada titik pengambilan sample yang lokasinya ditentukan berdasarkan
analisis citra satelit.

5). Ekosistem pesisir dan sumberdaya ikan


1. Ekosistem Pesisir
A. Terumbu Karang
Data dan informasi tentang terumbu karang yang dikumpulkan, yang meliputi :
sebaran, luasan, dan kondisi terumbu karang. Untuk mendeteksi keberadaan,
sebaran dan luasan terumbu karang dilakukan analisis citra satelit, dengan
resolusi minimal 20 x 20 m. Hasil analisis citra satelit digunakan untuk penentuan
lokasi sample, dengan jumlah sample .... titik pengamatan. Berdasarkan
penentuan titik sample, dilakukan survey lapangan untuk mengetahui tutupan
dan kondisi terumbu karang.

B. Lamun
Data dan informasi tentang lamun yang dikumpulkan, meliputi : sebaran, luasan,
dan kondisi lamun. Jumlah sample ..... titik pengamatan. Berdasarkan penentuan
titik sample, dilakukan survey lapangan untuk mengetahui tutupan dan kondisi
lamun.
Identifikasi data lamun menggunakan metode penginderaan jauh (on screen
digitizing/transformasi Lyzenga dan survei lapangan dengan metode Transek
Kuadrat. Pengukuran struktur komunitas padang lamun dilakukan melalui
Metode Transek Kuadrat yang dibentangkan secara tegak lurus terhadap garis
pantai. Metode ini digunakan untuk mengetahui komposisi spesies dan
persentase penutupan lamun. Petak pengamatan seluas 10 m x 10 m, pada
petakan tersebut diletakkan kuadrat ukuran 1 m x 1 m secara sejajar luas areal
pengamatan. Pengamatan didukung dengan kamera bawah air (underwater
camera) sesuai dengan ukuran yang ditetapkan. Hasil yang diperoleh dari
metode ini adalah persentase tutupan relatif

C. Mangrove
Data dan informasi tentang mangrove yang meliputi : sebaran, luasan, dan
kondisi (penutupan tajuk dan kerapatan pohon) mangrove. Untuk mendeteksi
keberadaan, sebaran dan luasan mangrove dilakukan analisis citra satelit,
dengan resolusi minimal 20 x 20 m. Hasil analisis citra satelit digunakan untuk
penentuan lokasi sample, dengan jumlah sample .... titik pengamatan.
Berdasarkan penentuan titik sample, dilakukan survey lapangan untuk
mengetahui penutupan tajuk (%) dan kerapatan pohon (jumlah pohon per
hektare) dan kondisi mangrove.

Identifikasi data mangrove menggunakan metode penginderaan jauh (on screen


digitizing/transformasi Lyzenga dan survei lapangan dengan plot petak. Untuk
mengidentifikasi struktur komunitas mangrove, menggunakan plot/petak dengan
ukuran 10 x 10 meter yang diletakkan secara acak.

Dilakukan identifikasi jumlah individu setiap jenis, dan lingkaran batang setiap
pohon mangrove. Data-data mengenai spesies, jumlah individu dan diameter
pohon yang telah dicatat pada tabel Form Mangrove.

Berdasarkan data-data mangrove yang telah diidentifikasi di lapangan berupa


spesies, jumlah individu dan diameter pohon, dilakukan pengolahan lebih lanjut
untuk memperoleh kerapatan jenis, frekuensi jenis, luas area penutupan, dan
nilai penting jenis suatu spesies dan keanekaragaman spesies.

2. Sumberdaya ikan
A. Ikan Demersal

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-9


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

Data dan informasi yang dikumpulkan yaitu sebaran ikan demersal, diperoleh
dari hasil survey lapangan. Survey lapangan dilakukan bersamaan dengan
survey ekosistem (terumbu karang,lamun, dan mangrove), untuk memperoleh
jenis, kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dominansi ikan demersal,
dan makrobentos.
Untuk mendeteksi digunakan metode analisis GIS dengan pendekatan
ekosistem perairan. Beberapa parameter yang digunakan yaitu sebaran dan
kualitas terumbu karang, padang lamun, mangrove, kedalaman perairan,
topografi perairan, kecerahan, perubahan cuaca dan pencemaran.

Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan metode overlay dan skoring
parameter-parameter sebaran dan kualitas terumbu karang, padang lamun,
mangrove, kedalaman perairan, topografi perairan, kecerahan, perubahan
cuaca dan pencemaran.

B. Ikan Pelagis
Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi sebaran ikan pelagis. Untuk
mendeteksi keberadaan ikan pelagis dilakukan analisis citra satelit, dengan
resolusi minimal 20 x 20 m terhadap kedalaman, klorofil, TSS, suhu permukaan
laut, serta dikombinasikan dengan pola arus dari hasil simulasi model
hidrodinamika. Hasil analisis citra satelit digunakan untuk penentuan lokasi
ground check untuk mengetahui jenis dan kelimpahan ikan, dengan jumlah
sample 10 titik pengamatan.

C. Jenis Ikan yang dilindungi


Ddata dan informasi jenis ikan yang dilindungi dikumpulkan bersamaan dengan
survei ikan pelagis dan ikan demersal.

6). Pemanfaatan ruang laut (Marine use)


Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi : area pertambangan, konservasi(Daerah
yang dapat dimanfaatkan) yang sudah ditetapkan, Pariwisata, BMKT, Tambat Labuh,
Rig, Floating Unit, Bangunan perikanan permanen (KJA, Seabed,dll), Area penangkapan
ikan modern dan tradisional, udidaya laut: rumput laut, mutiara. Untuk mendeteksi lokasi
pemanfaatan wilayah laut yang ada dilakukan analisis citra satelit google pro dengan
resolusi minimal 1 m dan data sekunder pemanfaatan wilayah laut. Hasil analisis citra
satelit google pro digunakan untuk ground check untuk mengetahui jenis pemanfaatan
wilayah laut yang ada.

7). Infrastruktur
Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi : Bandara, terminal, pasar umum,
pelabuhan umum, kawasan industri, kantor pemerintah, sekolah, rumah
sakit/puskesmas, bangunan wisata/sejarah. Infrastruktur khusus, misalnya : Pasar ikan,
KUD, Balai Benih Ikan (BBI), Pelabuhan perikanan, Tempat Pelelangan Ikan, Gudang
penyimpanan, Bangunan perlindungan pesisir (jeti, penahan gelombang). Jaringan
sarana prasarana, misalnya : transportasi, sumberdaya air, energi, telekomunikasi,
persampahan, sanitasi, drainase. Untuk mendeteksi keberadaan infrastruktur di atas
dilakukan analisis citra satelit google pro. Untuk mendeteksi lokasi dan sebarannya
dilakukan ground check dengan menggunakan GPS.

9). Sumberdaya air


Sumberdaya air di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil menggambarkan informasi
mengenai potensi air alami yang ada di wilayah daratan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Pendekatan yang digunakan untuk memperoleh data sumberdaya air :
Identifikasi batas DAS dari data sekunder yang sudah ada di instansi terkait.
Perhitungan cadangan air permukaan : untuk daerah aliran sungai yang telah
dilakukan pengukuran debitnya agar menggunakan data hasil pengukuran debit
sungai pada DAS tersebut.
Perhitungan cadangan air bawah tanah ada beberapa pendekatan: perhitungan
cadangan air bawah tanah diperlukan data tebal akifer, sebaran akuifer dan
transmisibilitas akuifer baik akuifer tidak tertekan maupun tertekan.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-10


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

10). Demografi dan sosial


Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi
a) Demografi, meliputi : jumlah penduduk, gender, tenaga kerja, jumlah nelayan dan
pembudidaya ikan, mata pencaharian, pendidikan
b) Sosial, meliputi : wilayah masyarakat hukum adat (lokasi, batas dan karakteristik),
wilayah penangkapan ikan secara tradisional (lokasi, batas, dan karakteristik),
kelembagaan
c) Budaya, meliputi : kondisi dan karakteristik masyarakat setempat termasuk agama,
tempat suci dan kegiatan peribadatannya, aktifitas/ritual keagamaan, kearifan lokal,
situs cagar budaya dll.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terstruktur maupun wawancara
mendalam, observasi (pengamatan langsung) dan diskusi dengan kelompok-kelompok
masyarakat (Focus Group Discussion).

11). Ekonomi wilayah


Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi : Pendapatan perkapita, Pola pergerakan
ekonomi wilayah, Angkatan kerja dan tingkat pengangguran, Tenaga kerja, Pendapatan
di sektor perikanan, Produksi perikanan, Pendapatan rata-rata dan pengeluaran,
komoditas unggulan, dll. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan cara
wawancara terstruktur maupun wawancara mendalam, observasi (pengamatan
langsung) dan diskusi dengan kelompok-kelompok masyarakat (Focus Group
Discussion).

12). Risiko Bencana dan Pencemaran


Data dan informasi yang dikumpulkan, meliputi : resiko bencana (jenis, lokasi, batas,
riwayat kebencanan, tingkat kerusakan, kerugian) dan pencemaran (sumber
pencemaran). Untuk mendeteksi resiko bencana dan pencemaran dilakukan ground
check dengan menggunakan GPS dan wawancara.

8.5. Analisis Data dan Penyusunan Peta-Peta Tematik


1) Bathimetri
Hasil pengukuran bathimetri diolah dengan menggunakan software surfer atau
sejenisnya dengan cara interpolasi terhadap titik-titik kedalaman yang telah diukur di
lapangan. Titik-titik lokasi yang memiliki informasi kedalaman kemudian diinterpolasi
menghasilkan peta kedalaman (isobath) perairan. Peta bathimetri skala 1: 250.000
digambar dengan interval 0;2;5;10;15;20;30;50;70;100.

2) Oseanografi
1. Fisika Perairan
a) Arus, gelombang, dan Pasut
a. Arus
Hasil pengukuran digambarkan dalam scatter diagram, vektor plot,
current rose (mawar arus). Untuk distribusi spasial pola arus untuk tiap
500 m disimulasikan dengan model hidrodinamika pola arus dengan grid
maksimal 500 x 500 m, dan dikalibrasi dengan hasil pengukuran. Peta
arus skala 1:250.000, digambar dalam bentuk kontur isoline dengan
interval per 0,05 m/detik.
b. Gelombang
Gelombang diprediksi dari data angin dengan mempertimbangkan
panjang fetch, kecepatan dan arah angin. Distribusi spasial tinggi dan
arah gelombang setiap 500 m disimulasikan dengan model refraksi
gelombang. Peta tinggi gelombang skala 1:250.000 digambarkan dalam
bentuk kontur isoline per 0,1 m.
c. Pasang Surut
Penyedia jasa harus memplot hasil pengukuran pasang surut untuk
mengetahui tinggi elevasi muka air pasang surut terhadap waktu
pengukuran. Kemudian diolah dengan analisis harmonic pasang surut
dengan menggunakan metode admiralty untuk mengetahui komponen

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-11


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

pasang surut sehingga dapat diketahui tipe pasang surut serta


karakteristik pasang surut lainnya.
b) Suhu
Suhu yang telah diperoleh dari hasil interpretasi citra yang telah di lakukan
groundcheck, penyedia jasa harus menuangkan dalam peta suhu skala
1:250.000, dan digambar dalam bentuk kontur isoline dengan interval per 1
(C).
c) Kecerahan
Data kecerahan yang telah diperoleh dari hasil pengukuran dituangkan dalam
peta kecerahan skala 1:250.000 dan digambarkan dalam bentuk kontur
isoline dengan interval per 1 meter
d) TSS
Sampel TSS yang diambil dianalisis di laboratorium dan dilakukan interpolasi
sehingga menghasilkan Peta TSS skala 1:250.000 dan digambar dalam
bentuk kontur isoline.

2. Kimia dan Biologi Perairan


a) pH dan salinitas
Peta pH digambar dalam bentuk kontur isoline dengan interval per 0,5. Peta
o
Salinitas digambar dalam bentuk kontur isoline dengan interval per 1 /oo.
b) COD, BOD dan amonia
Peta COD, BOD, Amonia digambar pada skala 1:250.000. Peta COD dan BOD
digambar dengan bentuk kontur isoline dengan selang 0,4 mg/l. Peta Amonia
digambar dalam bentuk kontur isoline dengan selang 0,1 mg/l.
c) Klorofil
Peta klorofil skala 1:250.000, digambar dalam bentuk kontur isoline dengan
3
interval per 0,1 mg/m .

3) Ekosistem Pesisir
Ekosistem pesisir dianalisis untuk mengetahui sebaran, luasan dan kondisinya. Hasil
analisis ditampilkan pada peta ekosistem pesisir skala 1:250.000 dalam bentuk polygon
dan kondisi dalam bentuk pie chart.

4) Sumberdaya Ikan
a) Sumberdaya ikan demersal
Hasil survey Sumberdaya ikan demersal dianalisis untuk mengetahui jenis,
kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dominansi ikan demersal, dan
makrobentos. hasil analisis sumberdaya ikan demersal ditampilkan pada Peta
sumberdaya ikan demersal skala 1:250.000 digambar dalam bentuk pie chart
dengan informasi dasar ekosistem pesisir.
b) Sumberdaya ikan pelagis
Hasil survey sumberdaya ikan pelagis dianalisis untuk mengetahui lokasi,
keberadaan, jenis dan kelimpahan ikan pelagis. hasil analisis ditampilkan pada
Peta sumberdaya ikan pelagis skala 1:250.000 digambar dalam bentuk polygon,
dan jenis serta kelimpahan ikan dalam bentuk pie chart dengan informasi dasar
lokasi fishing ground.
c) Ikan yang dilindungi
Hasil survey sumberdaya ikan yang dilindungi dianalisis untuk mengetahui lokasi,
keberadaan, jenis dan kelimpahan ikan yang dilindungi. hasil analisis ditampilkan
pada Peta sumberdaya ikan yang dilindungi skala 1:250.000 digambar dalam
bentuk polygon, dan jenis serta kelimpahan ikan dalam bentuk pie chart

5) Pemanfaatan Wilayah Laut Eksisting


Hasil survey pemanfaatan wilayah laut dituangkan pada Peta pemanfaatan wilayah laut
skala 1:250.000 dalam bentuk polygon dan point.

6) Substrat Dasar Laut


Hasil pengambilan sample substrat dasar laut dianalisis di laboratorium untuk
mengetahui persentase ukuran butir dan jenis substrat. Hasil survey substrat dasar laut
dituangkan pada Peta Substrat Dasar Laut skala 1:250.000 dalam bentuk polygon.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-12


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

7) Infrastruktur
Hasil survey infrastruktur dituangkan pada peta infrastruktur skala 1:250.000 dalam
bentuk point.

8) Demografi dan Sosial


Data demografi dan sosial dituangkan pada peta demografi dan sosial skala 1:250.000
dalam bentuk point/polygon disertai informasi yang disajikan dalam bentuk
diagram/tabel/pie chart.

9) Ekonomi Wilayah
Data ekonomi wilayah dituangkan pada peta ekonomi wilayah skala 1:250.000 dalam
bentuk point/polygon disertai informasi yang disajikan dalam bentuk diagram/tabel/pie
chart.

10) Resiko Bencana dan Pencemaran


Data resiko bencana (jenis, lokasi, batas, riwayat kebencanan, tingkat kerusakan,
kerugian) dan pencemaran (lokasi dan sumber pencemaran) dituangkan pada peta
resiko bencana dan pencemaran skala 1:250.000 dalam bentuk polygon/point.

8.6. Penyusunan Dokumen Awal


Dokumen Awal memuat : 1). Pendahuluan (Dasar Hukum Penyusunan RZWP3K, Profil
Wilayah, Isu-isu Strategis Wilayah, Peta-peta yang minimal mencakup peta orientasi
wilayah), 2). Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil, dan 3) Album Peta Tematik.
Album Peta Tematik disesuaikan dengan Pedoman Teknis Pemetaan RZWP3K, yang
terdiri atas :
1) Peta Wilayah Perencanaan WP3K Provinsi
2) Peta Rencana Struktur dan Pola Ruang Wilayah dari RTRW Provinsi
3) Peta Topografi
4) Peta Kemiringan Lereng
5) Peta Tanah
6) Peta Bathimetri
7) Peta Geologi Laut
8) Peta Geomorfologi Laut
9) Peta Arus
10) Peta Gelombang
11) Peta Suhu Permukaan Laut (SPL)
12) Peta Kecerahan
13) Peta pH
14) Peta Salinitas
15) Peta Sebaran Klorofil
16) Peta Sosial Ekonomi dan budaya
a. Peta ekonomi wilayah
b. Peta Wilayah masyarakat Hukum Adat
c. Peta Wilayah penangkapan ikan secara tradisional
17) Peta Penggunaan Lahan Eksisting (RTRW)
18) Peta Pemanfaatan Perairan (Eksisting)
a. Peta Perikanan Budidaya
b. Peta perikanan tangkap (Fishing ground)
c. Peta Pelabuhan
d. Peta Pariwisata
e. Peta Alur pelayaran
19) Peta ekosistem pesisir dan kelimpahan sumberdaya ikan
a. Peta sebaran ekosistem pesisir (terumbu karang, mangrove dan lamun)
b. Peta kelimpahan sumberdaya ikan
20) Peta Status (kepemilikan) lahan
21) Peta Sumber daya air
22) Peta Infrastruktur (RTRW)
a. Peta Jaringan jalan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-13


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

b. Peta transportasi laut


c. Peta jaringan Listrik
d. Peta Jaringan Telekomunikasi
e. Peta Jaringan Air Bersih

23) Peta Demografi


a. Peta Jumlah Penduduk
b. Peta Kepadatan Penduduk
c. Peta Proyeksi Pertumbuhan Penduduk
d. Peta Mata Pencaharian Penduduk
24) Peta Resiko bencana dan pencemaran
a. Peta resiko bencana (jenis dan lokasi bencana)
b. Peta pencemaran (lokasi dan sumber pencemaran)

8.7. Konsultasi Publik I


Konsultasi publik dilakukan kepada POKJA dan masyarakat sebanyak 40 orang di Provinsi,
yang terdiri atas : Pusat (KKP), Provinsi (Bappeda, DKP, Dinas Pariwisata, Dinas
Kehutanan, Dinas Perhubungan, BLHD, Dinas PU, Dinas Pertambangan, BPBD, BPN,
Administrasi Pelabuhan, Perguruan Tinggi, HNSI, LSM, Camat Pesisir, Polairud, TNI AL,
DPRD, Bagian Hukum Sekda, Tokoh Adat) untuk memberikan masukan dan saran terhadap
Tujuan, Sasaran, kebijakan, dan Strategi Pengelolaan WP-3-K, disamping itu Konsultasi
Publik I dimaksudkan untuk memperoleh masukan dan saran serta memverifikasi data
dan/atau peta-peta tematik serta informasi. Hasil konsultasi publik dituangkan ke dalam
Berita Acara, dilengkapi dengan notulensi, daftar hadir, dan dokumentasi.

8.8. Penyusunan Paket Sumberdaya


Berdasarkan peta dasar dan peta tematik yang telah disusun, selanjutnya dilakukan analisis
paket sumberdaya, yang berisi informasi mengenai karakteristik perairan yang merupakan
kombinasi dari berbagai parameter yang ada. Hasil analisis paket sumberdaya dituangkan
ke dalam peta paket sumberdaya. Berdasarkan Peta Paket Sumberdaya dilakukan
pendeskripsian nilai-nilai sumberdaya.

8.9. Analisis Kesesuaian Perairan


Selain menggunakan paket sumbedaya, dapat juga dilakukan analisis kesesuaian perairan
dengan menggunakan kriteria-kriteria untuk menentukan kesesuaian kawasan/zona/sub
zona.

8.10. Analisis Non Sasial


Selanjutnya dilakukan analisis non spasial yang meliputi :
a) Analisis Kebijakan dan Kewilayahan
b) Analisis Sosial dan Budaya
c) Analisis Infrastruktur
d) Analisis Ekonomi Wilayah
e) Analisis Daya Dukung Wilayah
Hasil analisis non spasial diformulasikan untuk menyempurnakan usulan peta alokasi ruang.

8.11. Analisis Konflik Pemanfaatan Ruang


Analisis konflik pemanfaatan ruang dilakukan baik di wilayah perairan maupun
penyelarasannya dengan struktur ruang dan pola ruang di darat. Analisis konflik
pemanfaatan ruang di perairan dilakukan terhadap potensi penggunaan ruang perairan
secara tiga dimensi (horizontal dan vertikal). Dalam analisis tersebut, perlu diikuti dengan
alternatif penyelesaian konflik (resolusi konflik).

8.12. Penentuan Alokasi Ruang


Hasil akhir keseluruhan proses dituangkan ke dalam Draft peta RZWP3K berupa rumusan
alokasi ruang kawasan/zona/subzona.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-14


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

8.13. Penyusunan Peraturan Pemanfaatan Ruang


Penyusunan draft ketentuan-ketentuan mengenai kriteria dan persyaratan dalam
pemanfaatan ruang untuk setiap zona/sub zona yang akan menjadi muatan peraturan
pemanfaatan ruang.

8.14. Penyusunan Indikasi Program


Penyusunan desain/rancangan rangkaian program pemanfaaatan ruang jangka panjang
(20 tahun) yang tersusun ke dalam tahapan jangka menengah dan institusi yang menjadi
leading sector. Dalam desain program tersebut, termasuk mencantumkan lokasi dan
sumber pendanaan program serta indikasi program utama/prioritasi program.

8.15. Penyusunan Ranperda


Penyusunan naskah Rancangan Perda RZWP-3-K Provinsi yang terdiri atas:
1. Ranperda, yang merupakan rumusan pasal per pasal dari Dokumen Final yang
disajikan dalam bentuk A4.
2. Lampiran, yang terdiri atas peta rencana alokasi ruang yang disajikan dalam bentuk
A3, serta tabel indikasi program.

8.16. Penyusunan Dokumen Antara


Penyusunan Dokumen Antara, yang memuat Dokumen Awal yang telah
dikonsultasipublikkan ditambah dengan penetapan alokasi ruang wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil, hasil analisis paket sumberdaya dan kesesuaian perairan, dan telah
dioverlay dengan analisis non spasial dan telah dilakukan penyelarasan, Penyerasian dan
Penyeimbangan antara RZWP-3-K dengan RTRW dilengkapi dengan Peta-peta tematik
dan Draft Peta Rencana Zonasi.
Sistematika Dokumen Antara, meliputi : 1). Pendahuluan (Dasar Hukum Penyusunan
RZWP-3-K, Profil Wilayah, Isu-isu Strategis Wilayah, Peta-peta yang minimal mencakup
peta orientasi wilayah), 2). Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota, 3) Draft RZWP-3-K, 4). Peraturan Pemanfaatan
Ruang, 5). Indikasi Program, dan 6). Album Peta Tematik.

8.17. Konsultasi Publik II


Konsultasi publik dilakukan kepada POKJA dan masyarakat sebanyak 40 orang di
Provinsi, yang terdiri atas : Pusat (KKP), Provinsi (Bappeda, DKP, Dinas Pariwisata, Dinas
Kehutanan, Dinas Perhubungan, BLHD, Dinas PU, Dinas Pertambangan, BPBD, BPN,
Administrasi Pelabuhan, Perguruan Tinggi, HNSI, LSM, Camat Pesisir, Polairud, TNI AL,
DPRD, Bagian Hukum Sekda, Tokoh Adat), untuk menjaring masukan terhadap usulan
peta alokasi ruang. Hasil konsultasi publik dituangkan ke dalam Berita Acara, dilengkapi
dengan notulensi, daftar hadir, dan dokumentasi.

8.18. Penyusunan Dokumen Final


Dokumen Final merupakan perbaikan terhadap Dokumen Antara yang telah
dikonsultasipublikkan, dengan sistematika : 1). Pendahuluan (Dasar Hukum Penyusunan
RZWP3K, Profil Wilayah, Isu-isu Strategis Wilayah, Peta-peta yang minimal mencakup
peta orientasi wilayah), 2). Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota, 3) Rencana Alokasi Ruang, 4). Peraturan
Pemanfaatan Ruang, 5). Indikasi Program, dan 6). Album Peta Tematik dan Album Peta
RZWP-3-K. Dokumen Final tersebut dilengkapi dengan Draft Ranperda RZWP-3-K.

9. Keluaran
Keluaran (output) kegiatan Rencana Zonasi WP3K Provinsi (contoh sampai dengan tahap
Dokumen Final), antara lain :
1. Laporan Pendahuluan
2. Laporan Antara
3. Draft Laporan Akhir
4. Laporan Akhir
5. Dokumen Awal RZWP-3-K
6. Dokumen Antara RZWP-3-K
7. Dokumen Final RZWP-3-K
8. Album peta

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-15


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

9. Draft Ranperda RZWP-3-K


10. DVD Softcopy seluruh Laporan dan Dokumen
(Disesuaikan dengan fokus pekerjaan, apakah sampai dengan tahap dokumen awal, dokumen
antara, atau dokumen final.)

10. Standar Teknis


Sandar teknis Pelaporan dan Peta adalah sebagai berikut :
1) Format Laporan
Kertas (HVS, A4, 80 gram)
Tulisan (huruf standar, 1,5 spasi)
Sampul/cover (Hard cover, laminating, biru muda)
2) Format Peta
(1) Peta disajikan berdasarkan hasil interpertasi citra, ground check dan analisis potensi
wilayah.
(2) Peta-peta yang disajikan meliputi:
- Peta Hasil Interpretasi Citra, skala sesuai sumber citra.
- Peta-peta Tematik, skala sesuai sumbernya.
- Peta Kerja / Peta Analisis, skala 1:250.000
- Draft peta dibuat dengan sistim referensi geografis grid UTM (Universal
Tranverse Mercartor) dan sistem proyeksi WGS 84.
(3) Untuk Hardcopy keseluruhan peta tersebut dalam laporan, Dokumen Awal dan Album
peta dapat disajikan dalam bentuk perkecilan optis sampai batas ukuran / format yang
masih dapat dibaca dan diterima dari segi estetika (ukuran A3, kertas 100 gr).
(4) Untuk Softcopy keseluruhan laporan dan peta tersebut meliputi:
- Laporan Pendahuluan, Laporan Antara, Draft Laporan Akhir, Laporan Akhir,
Dokumen Awal, Dokumen Antara, dan Dokumen Final dalam bentuk MsWord dan
(.pdf)
- Peta Dasar dan Peta Tematik dalam bentuk digital dalam format shape file (*.shp)
dan disusun dalam bentuk geodatabase (*.gdb).
- Citra Satelit dalam bentuk raw data dan header citra dasar serta sudah terkoreksi
secara geometrik dan radiometrik. Citra satelit yang digunakan memiliki resolusi
spasial 10 x 10 m dan minimal perekaman tahun 2009.
- Album Peta dibuat dalam skala 1:250.000.
- Softcopy tersebut disimpan dalam Digital Video Disk (DVD)

11. Personil
(Kebutuhan tenaga ahli dan tenaga pendukung disesuaikan dengan fokus pekerjaan dan
anggaran yang tersedia)

11.1. Kebutuhan Tenaga Ahli


Tabel 1. Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung

No Klasifikasi Tenaga Ahli Kualifikasi/Jumlah Pengalaman

Tenaga Ahli
1 Ahli Pengelolaan Sumberdaya S2 Manajemen Sumberdaya Perairan (1 5 Tahun
Pesisir (Team Leader) orang)
2 Ahli Pengelolaan Sumberdaya S1 Manajemen Sumberdaya Perairan/ S2 5 Tahun / 3 Tahun
Pesisir Manajemen Sumberdaya Perairan
(1 orang)
3 Ahli Perencanaan Wilayah S1 Planologi, S1 Pengambangan 5 Tahun / 3 Tahun
Wilayah/S2 Planologi, S2 Perencanaan
Wilayah (1 orang)
4 Ahli Geografi (Sistem S1 Geografi/ S2 Geografi (1 orang) 5 Tahun / 3 Tahun
Informasi Geografi) dan
Penginderaan Jauh
5 Ahli Kelautan/Ahli S1 Kelautan,S1 Oseanografi,S1 Sipil 5 Tahun / 3 Tahun
Oseanografi Hidro / S2 Kelautan,S2 Oseanografi,S2

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-16


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

Sipil Hidro
(1 orang)
6 Ahli Perikanan S1 Perikanan/ S2 Perikanan (1 orang) 5 Tahun / 3 Tahun

7 Ahli Sosial Ekonomi S1 Sosial Ekonomi/ S2 Sosial Ekonomi (1 5 Tahun / 3 Tahun


orang)
8 Ahli Geologi dan Geomorfologi S1 Geologi, S1 Teknik Geologi, S1 5 Tahun / 3 Tahun
Laut Geografi/ S2 Geologi, S2 Teknik
Geologi, S2 Geografi
(1 orang)
9 Ahli Permodelan S1 Oseanografi,S1 Teknik Kelautan,S1 5 Tahun / 3 Tahun
Hidrodinamika Teknik Sipil / S2 Oseanografi,S2
Teknik Kelautan,S2 Teknik Sipil (1
orang)
10 Ahli Hidrografer S1 Kelautan,S1 Oseanografi,S1 Sipil 5 Tahun / 3 Tahun
Hidro / S2 Kelautan,S2 Oseanografi,S2
Sipil Hidro
(1 orang)
Tenaga Pendukung
1 Tenaga Selam Perikanan Sertifikat B1 (1 orang) 3 Tahun

2 Teknisi Oseanografi S1 Oseanografi/ (3 orang) 2 Tahun


3 Tenaga Survei Sosial Ekonomi S1 Sosial Ekonomi Perikanan 2 Tahun
(1 orang)
4 Tenaga Survei ekosistem S1 Perikanan (1 orang) 2 Tahun
pesisir dan pulau-pulau kecil
5 Tenaga Survei Geologi dan S1 Geologi/ S1 Geografi 2 Tahun
Geomorfologi Laut (1orang)
6 Operator GIS dan Remote S1 Geografi/S1 Geodesi/S1 Kelautan 2 Tahun
Sensing (1 orang)

7 Operator Komputer D3 Komputer (1 orang) 2 Tahun


8 Kartografer S1 Geografi / S1 Geodesi/ S1 Kelautan/ 2 Tahun
S1 Planologi (10 orang)
9 CAD Drafter S1 Oseanografi / S1 Kelautan / S1 Teknik 2 Tahun
Sipil

11.2. Kualifikasi Personil


Kualifikasi personil untuk pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
11.2.1. Tenaga Ahli
1) Ahli Pengelolaan Sumberdaya Pesisir (Team Leader)
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan
b. menyusun langkah-langkah pelaksanaan kegiatan perencanaan yang dilakukan
seluruh bidang keahlian.
c. melaksanakan pembahasan laporan pendahuluan, draft laporan akhir, dan
laporan akhir di pusat
d. Melakukan asistensi dengan pemberi pekerjaan dalam rangka pelaksanaan
pekerjaan di pusat
e. memimpin pelaksanaan survei lapangan dan pembahasan di daerah.
f. menyiapkan kerangka model proses perencanaan pengelolaan WP3K.
g. melakukan analisis hubungan antara kesesuaian peruntukan dengan aspek-
aspek non-spasial untuk mewujudkan alokasi ruang WP3K.
h. menyusun indikasi program
i. melakukan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan masing-masing bidang
keahlian.

2) Ahli Pengelolaan Sumberdaya Pesisir


Tugas dan Tanggung Jawab :

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-17


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

a. membantu Team Leader dalam memformulasikan tujuan, kebijakan, sasaran,


dan strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
b. mengumpulkan data lintas sektor terkait tentang kebijakan pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil.
c. melakukan FGD dalam rangka perumusan tujuan, kebijakan, sasaran, dan
strategi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

3) Ahli Perencanaan Wilayah


Tugas dan Tanggung Jawab :
a. membantu Team Leader dalam menyusun konsep, analisis, dan perencanaan
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
b. mengumpulkan data lintas sektor terkait tentang kebijakan pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil.

4) Ahli Sistem Informasi Geografis.


Tugas dan Tanggung Jawab :
a. membantu Team Leader dalam analisis GIS untuk penyusunan Rencana Zonasi
WP-3-K
b. melakukan proses pengolahan citra (koreksi dan interpretasi)
c. menyiapkan peta kerja sebagai acuan untuk survei lapangan
d. melakukan survei lapangan berupa ground check hasil interpretasi citra, plotting
posisi pemanfaatan perairan laut yang sudah ada (eksisting) dan infrastruktur
e. melakukan analisis data hasil survei lapangan
f. menyiapkan peta-peta tematik hasil survei lapangan masing-masing bidang
keahlian sesuai dengan kaidah one map policy.
g. melakukan analisis paket sumberdaya
h. melakukan analisis kesesuaian peruntukan perairan
i. menuangkan hasil analisis spasial dan non spasial untuk menentukan alokasi
ruang
j. menyiapkan peta rencana zonasi.
k. Menyusun database manajemen sistem sesuai standar Pedoman Pemetaan
RZWP3K
l. melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi
m. mengikuti pelaksanaan survei lapangan, pembahasan dan konsultasi publik di
daerah

5) Ahli Kelautan/Ahli Oseanografi


Tugas dan tanggung jawab :
a. membantu Team Leader dalam analisis oseanografi untuk penyusunan Rencana
Zonasi WP-3-K
b. menelaah data-data sekunder terkait oseanografi, meliputi : arus, gelombang,
pasang surut, suhu, kecerahan, pH, salinitas, COD, BOD, amonia, klorofil,
c. melakukan survei lapangan terkait oseanografi
d. melakukan pengolahan data hasil survei terkait oseanografi
e. menyiapkan hasil analisis dalam bentuk numerik, tubular, dan sebaran (spasial)
f. memberi masukan penyiapan peta-peta tematik hasil survei lapangan terkait
oseanografi.
g. melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi
h. mengikuti pelaksanaan survei lapangan, pembahasan dan konsultasi publik di
daerah

6) Ahli Perikanan
Tugas dan tanggung jawab :
a. membantu Team Leader dalam analisis perikanan untuk penyusunan Rencana
Zonasi WP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-18


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

b. menelaah data-data sekunder terkait perikanan, meliputi : produksi perikanan,


pengolahan hasil perikanan, konsumsi perikanan, distribusi perikanan, tata niaga
hasil perikanan, sumberdaya ikan (pelagis, demersal), fishing ground,
kelimpahan ikan, ekosistem pesisir (terumbu karang, mangrove, lamun), sarana
dan prasarana perikanan, sosial ekonomi perikanan,
c. melakukan survei lapangan terkait perikanan
d. melakukan pengolahan data hasil survei terkait perikanan
e. menyiapkan hasil analisis dalam bentuk numerik, tubular, dan sebaran (spasial)
f. memberi masukan penyiapan peta-peta tematik hasil survei lapangan terkait
perikanan.
g. melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi
h. mengikuti pelaksanaan survei lapangan, pembahasan dan konsultasi publik di
daerah

7) Ahli Sosial Ekonomi


Tugas dan tanggung jawab :
a. membantu Team Leader dalam analisis sosial ekonomi untuk penyusunan
Rencana Zonasi WP-3-K
b. menelaah data-data sekunder terkait sosial ekonomi, yang meliputi :
- Demografi : jumlah penduduk, gender, tenaga kerja, jumlah nelayan dan
pembudidaya ikan, mata pencaharian, pendidikan
- Sosial : wilayah masyarakat hukum adat (lokasi, batas dan karakteristik),
wilayah penangkapan ikan secara tradisional (lokasi, batas, dan
karakteristik), kelembagaan
- Budaya : kondisi dan karakteristik masyarakat setempat termasuk agama,
tempat suci dan kegiatan peribadatannya, aktifitas/ritual keagamaan, kearifan
lokal, situs cagar budaya dll.
- Ekonomi : mata pencaharain, pendapatan perkapita, angkatan kerja dan
tingkat pengangguran, pendapatan kegiatan ekonomi perikanan dan
kelautan, produksi perikanan, pendapatan rata-rata dan pengeluaran,
komoditas unggulan, dll.
c. melakukan analisis lokasi optimum kegiatan kelautan dan perikanan
d. melakukan survei lapangan terkait sosial ekonomi
e. melakukan pengolahan data dan informasi hasil survei terkait sosial ekonomi
f. menyiapkan hasil analisis dalam bentuk numerik, tubular, dan sebaran (spasial)
g. memberi masukan penyiapan peta-peta tematik hasil survei lapangan terkait
sosial ekonomi.
h. melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi
i. mengikuti pelaksanaan survei lapangan, pembahasan dan konsultasi publik di
daerah

8) Ahli geologi dan geomorfologi laut


Tugas dan tanggung jawab:
a. membantu Team Leader dalam analisis geologi dan geomorfologi laut untuk
penyusunan Rencana Zonasi WP-3-K
b. menelaah data-data sekunder terkait geologi dan geomorfologi laut meliputi
substrat dasar laut, morfologi dasar laut, morfologi pantai.
c. melakukan survei lapangan terkait geologi dan geomorfologi laut meliputi
pengambilan sampel substrat dasar, observasi morfologi pantai.
d. melakukan pengolahan data terkait substrat dasar laut, morfologi dasar laut,
morfologi pantai.
e. memberi masukan penyiapan peta-peta tematik hasil survei lapangan terkait
geologi dan geomorfologi laut.
f. melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-19


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

g. mengikuti pelaksanaan survei lapangan, pembahasan dan konsultasi publik di


daerah

9) Ahli Permodelan Hidrodinamika


Tugas dan tanggung jawab:
a. melakukan permodelan hidrodinamika, yang meliputi : pola arus dan gelombang
untuk berbagai musim (musim barat, musim, timur, musin peralihan)
b. melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asistensi

10) Ahli Hidrografer


Tugas dan tanggung jawab:
a. melakukan permodelan bathimetri
b. melaksanakan pertemuan-pertemuan dengan penyedia pekerjaan, pada saat
pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, dan draft laporan akhir, serta
asisten

11.2.2. Tenaga Pendukung


1) Tenaga Selam Perikanan
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli Perikanan dalam melakukan survey terumbu karang dan
sumberdaya ikan (ikan demersal)
b. Membantu menganalisis ekosistem pesisir

2) Teknisi Oseanografi
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli Oseanografi dalam melakukan pemasangan peralatan
dan pengukuran oseanografi
b. Membantu Tenaga Ahli Oseanografi dalam pencatatan dan analisis data
oseanografi
3) Tenaga Survei Sosial Ekonomi
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli Sosial Ekonomi dalam melakukan survey sosial ekonomi
4) Tenaga survei ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli Perikanan dalam melakukan survey ekosistem pesisir
dan pulau-pulau kecil
5) Tenaga survei geologi dan geomorfologi laut
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli geologi dan geomorfologi laut dalam melakukan survey
geologi dan geomorfologi laut meliputi pengambilan sampel substrat dasar,
observasi morfologi pantai.
6) Operator GIS dan Remote Sensing
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu proses pemasukan data digital spasial;
b. Membantu menyusun peta-peta tematik;
c. Membantu menginterpretasi citra;
d. Membantu menyusun database manajemen sistem sesuai standar Pedoman
Pemetaan RZWP3K;
7) Operator Komputer
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu proses pemasukan data digital;
b. Membantu menyusun dokumen laporan;
c. Membantu dalam bidang administrasi kegiatan, surat menyurat dan lain-lain.
8) Kartografer
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli GIS dalam menyiapkan format standar (layout) peta
tematik maupun peta Rencana Zonasi

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-20


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

b. Membantu Tenaga Ahli GIS dalam menuangkan data dan informasi, serta
rencana ke dalam peta yang sesuai dengan kaidah-kaidah kartografi
9) CAD Drafter
Tugas dan Tanggung Jawab :
a. Membantu Tenaga Ahli Hidrografer dalam menuangkan data dan informasi
terkait dengan bathimetri

12. Jangka Waktu Penyediaan Kegiatan


(Jangka waktu pelaksanaan kegiatan Penyusunan RZWP-3-K disesuaikan dengan fokus
pekerjaan dan anggaran yang tersedia)

Tabel 2. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


Bulan
No. Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Persiapan
a. Penyiapan personil dalam tim kerja (tenaga ahli dan
tenaga pendukung sesuai dengan tata laksana personil
b. Penyiapan administrasi
c. Studi literatur sebagai awal atau referensi untuk
pelaksanaan kegiatan
d. Penyusunan rencana kerja
2 Pengumpulan Data Sekunder
3 Perumusan Tujuan, Sasaran, Kebijakan, dan Strategi
4 Survey lapangan
5 Analisis Data dan Penyusunan Peta-Peta Tematik
6 Penyusunan dokumen awal
7 Konsultasi Publik I
8 Analisis Paket Sumberdaya
9 Analisis Kesesuaian
10 Analisis Non Spasial
11 Penetapan Alokasi Ruang
12 Penyusunan Dokumen Antara
13 Konsultasi Publik II
14 Penyusunan Dokumen Final dan Ranperda
15 Penyusunan Laporan
- Penyusunan laporan Pendahuluan
- Penyusunan Laporan Antara
- Penyusunan Draft Laporan Akhir
- Penyusunan Laporan Akhir
16 Pembahasan Laporan
1) pembahasan laporan di pusat
- inception meeting
- interim meeting
- draft final meeting
2) pembahasan laporan di daerah
- inception meeting
- interim meeting
- draft final meeting

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-21


Lampiran 8. Contoh TOR RZWP-3-K

13. Kegiatan Pelaporan


13.1. Penyusunan Laporan Pendahuluan
Laporan pendahuluan memuat antara lain :
a) Pendahuluan
b) Tinjauan Kebijakan
c) Metodologi
d) Gambaran Umum
e) Rencana Pelaksanaan Kegiatan, yang memuat :
- rencana kerja rinci (termasuk rencana lokasi pengambilan titik sample dataset);
- rencana waktu pelaksanaan (dibuat per hari);
- rencana mobilisasi tenaga ahli dan peralatan survei;

13.2. Penyusunan Laporan Antara


Laporan Antara merupakan Laporan Pendahuluan yang telah diperbaiki berdasarkan
masukan dan informasi yang diperoleh dari berbagai pemangku kepentingan di pusat
dan di daerah ditambahkan hasil analisa yang diperoleh dari data primer dan sekunder.

13.3. Penyusunan Draft Laporan Akhir


Draft laporan akhir merupakan penyempurnaan Laporan Antara yang telah diberikan
masukan dan informasi dari berbagai pemangku kepentingan di pusat dan telah
dilakukan pembahasan di daerah. Dalam tahap ini dapat dilakukan proses pengolahan
data dan analisis kembali.

13.4. Penyusunan Laporan Akhir


Laporan akhir memuat laporan pekerjaan yang telah dilakukan dalam penyusunan
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Laporan akhir memuat
Pendahuluan, Tinjauan Kebijakan, Metodologi, Gambaran Umum, dan Analisis.
Laporan Akhir disusun setelah Draft Laporan Akhir disepakati oleh semua pihak.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN L.8-22