Anda di halaman 1dari 98

SKRIPSI

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP


TINDAKAN MAIN HAKIM SENDIRI
( EIGENRECHTING )

PUTU BAGUS DARMA PUTRA


NIM : 1116051031

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016

i
PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP
TINDAKAN MAIN HAKIM SENDIRI
( EIGENRECHTING )

Skripsi ini dibuat untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum


pada Fakultas Hukum Universitas Udayana

PUTU BAGUS DARMA PUTRA


NIM : 1116051031

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016

ii
Lembar Persetujuan Pembimbing

SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI


PADA TANGGAL 2 JUNI 2016

Pembimbing I

A.A Ngurah Yusa Darmadi,SH.,MH


NIP 195711251986021001

Pembimbing II

I Gusti Ngurah Parwata,SH.,MH


NIP 195612241986031005

iii
iv

SKRIPSI INI TELAH DIUJI

PADA TANGGAL : 16 juli 2016

Panitia Penguji Skripsi

Berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana

Nomor : 0903/UN14.4E/IV/pp.07.02.05/2016 Tanggal 11 Juli 2016

Ketua : A.A Ngurah Yusa Darmadi,SH.,MH ( )

Sekretaris : I Gusti Ngurah Parwata,SH.,MH ( )

Anggota : 1. Prof. Dr. I Ketut Mertha, SH.,M.Hum ( )

2. I Wayan Suardana, SH.,MH ( )

3. Sagung Putri M.E Purwani, SH.,MH ( )

iv
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa

atas segala penyertaan dan rahmat-Nya, karena dapat menyelesaikan karya tulis

ilmiah ini yang merupakan tugas dan kewajiban bagi setiap mahasiswa di tingkat

terakhir pada Fakultas Hukum Universitas Udayana dan sebagai syarat untuk

menempuh ujian akhir guna memperoleh gelar Sarjana Hukum. Meskipun pada

awalnya terdapat berbagai hambatan dan keraguan dalam proses pembuatannya,

namun karena ini adalah kewajiban penulis yang harus diselesaikan sebagai

bagian dari pertanggungjawaban, maka sudah menjadi kewajiban penulis untuk

dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan sebaik-baiknya. Adapun judul

skripsi yang penulis angkat ialah PENEGAKAN HUKUM PIDANA

TERHADAP TINDAKAN MAIN HAKIM SENDIRI ( EIGENRECHTING ).

Dengan terselesaikannya skripsi akhir ini, maka satu kewajiban penulis dapat

terselesaikan. Keberhasilan ini tidak begitu saja dapat diraih tanpa adanya

motivasi, baik itu dalam bentuk materiil dan imaterril dari berbagai pihak.

Sehingga baiknya penulis sampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya dan

dari hati yang paling dalam kepada :

1. Bapak Prof. Dr. I Made Arya Utama, S.H., MHum., Dekan Fakultas Hukum

Universitas Udayana.

2. Bapak Dr. Gde Made Swardhana, S.H., M.H., Pembantu Dekan I Fakultas

Hukum Universitas Udayana.

v
3. Ibu Dr. Ni Ketut Sri Utari, S.H., M.H., Pembantu Dekan II Fakultas Hukum

Universitas Udayana.

4. Bapak Dr. I Gede Yusa, S.H., M.H., Pembantu Dekan III Fakultas Hukum

Universitas Udayana.

5. Bapak A.A Gede Oka Parwata, SH., M.Si., Ketua Program Ekstensi Fakultas

Hukum Universitas Udayana.

6. Ibu A.A Sri Utari, SH.,MH, Dosen Pembimbing Akademik yang telah

memberi banyak motivasi dalam penyusunan skripsi ini.

7. Bapak A.A Ngurah Yusa Darmadi, SH.,MH, Dosen Pembimbing I dalam

penyusunan skripsi ini, beliau selalu memberikan petunjuk, arahan, motivasi

serta meluangkan waktu dan pikiran untuk memberikan bimbingan serta

petunjuk dengan penuh kesabaran kepada penulis sehingga skripsi ini dapat

diselesaikan.

8. Bapak I Gusti Ngurah Parwata, SH.,MH, Dosen Pembimbing II yang telah

memberikan saran serta masukan dalam perbaikan skripsi ini, guna

menghasilkan skripsi yang sempurna, beliau selalu teliti, cermat serta sabar

dalam membimbing penulis untuk menyelesaikan penyusunan skripsi.

9. Bapak-bapak dan Ibu-ibu dosen serta pegawai administrasi dilingkungan

Fakultas Hukum Universitas Udayana.

10. Kedua Orang Tua tercinta, AKP I Wayan Mudiasa, SH dan Ibu AKP Ni

Ketut Purnamawati, SH serta Adik saya Ni Komang Ayu Indah Paramitha

yang telah banyak membantu lewat doa, perhatian, dorongan dan semangat.

peran mereka sungguh besar terhadap penulis karena tanpa dukungan,

vi
dampingan serta kasih sayang mereka penulis tidak akan bisa menyelesaikan

skripsi ini, mereka telah berkorban demi penulis, mereka selalu ada disaat

penulis susah ataupun senang, mendidik, serta selalu memberi nasehat dan

selalu memberikan semangat agar penulis tidak putus asa.

11. Seorang wanita istimewa, A.A Ayu Manik Pratiwiningrat, SH yang tidak

henti-hentinya menuntun, menemani, menasihati serta mendukung dan

memberikan semangat moril maupun materil kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

12. Teman-teman angkatan 2011 di Fakultas Hukum Universitas Udayana yang

tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan nuansa dan warna

selama menjalani masa perkuliahan.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan

skripsi ini. Penulis menyadari bahwa kesempurnaan adalah hanya milik Tuhan/Ida

Shang Hyang Widhi Wasa, dan kekurangan adalah milik segala manusia, maka

begitu pula dalam skripsi ini mungkin belum mampu memaparkan secara

sempurna permasalahan yang di kaji, sehingga Penulis tidak menutup diri

terhadap kritik dan saran yang konstruktif. Akhir kata semoga skripsi ini

bermanfaat bagi perkembangan pemikiran di masa mendatang.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Denpasar, Juni 2016

Penulis

vii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN

Dengan ini penulis menyatakan bahwa Karya Ilmiah/Penulisan


Hukum/Skripsi ini merupakan hasil karya asli penulis, tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi
manapun dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh penulis lain, kecuali yang
secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila Karya Ilmiah/Penulisan Hukum/Skripsi ini terbukti merupakan
duplikasi ataupun plagiasi dari hasil karya penulis lain dan/atau dengan sengaja
mengajukan karya atau pendapat yang merupakan hasil karya penulis lain, maka
penulis bersedia menerima sanksi akademik dan/atau sanksi hukum yang berlaku.
Demikian Surat Pernyataan ini saya buat sebagai pertanggungjawaban ilmiah
tanpa ada paksaan maupun tekanan dari pihak manapun juga.

Denpasar, 8 Juni 2016


Yang menyatakan,

(Putu Bagus Darma Putra)


NIM. 1116051031
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN

HALAMAN SAMPUN DALAM ..................................................................... i

HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM .................... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING/PENGESAHAN ............... iii

HALAMAN PENETAPAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI ......................... iv

HALAMAN KATA PENGANTAR ................................................................. v

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ............................................................ viii

DAFTAR ISI ...................................................................................................... ix

ABSTRAK ......................................................................................................... xii

ABSTRACT ........................................................................................................ xiii

BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang Masalah .............................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 6

1.3 Ruang Lingkup Masalah.............................................................. 6

1.4 Tujuan Penulisan ......................................................................... 8

1.4.1 Tujuan Umum .................................................................... 8

1.4.2 Tujuan Khusus ................................................................... 8

1.5 Manfaat Penelitian ....................................................................... 8

1.5.1 Manfaat Teoritis ................................................................. 8

1.5.2 Manfaat Praktis .................................................................. 9

1.6 Landasan Teori ........................................................................... 9

ix
1.6.1 Landasan Teori ................................................................... 9

1.6.2 Hipotesa ............................................................................. 31

1.7 Metode Penulisan ........................................................................ 32

1.7.1 Jenis Penelitian................................................................... 32

1.7.2 Jenis Pendekatan ................................................................ 32

1.7.3 Data dan Sumber Data ...................................................... 32

1.7.3.1 Data Primer ......................................................... 32

1.7.3.2 Data Sekunder ..................................................... 32

1.7.4 Teknik Pengumpulan Data ................................................. 33

1.7.5 Teknik Pengolahan dan Analisis ........................................ 33

BAB II. TINJAUAN UMUM TENTANG TINDAKAN MAIN HAKIM

SENDIRI DAN PENEGAKAN HUKUM

2.1. Tindakan Main Hakim Sendiri (Eigenrechting) .......................... 34

2.1.1. Pengertian Tindak Pidana . ................................................ 34

2.1.2. Pengertian tindakan main hakim sendiri (eigenrechting). 37

2.1.3. Unsur-unsur tindakan main hakim sendiri (eigenrechting). 38

2.1.4 Jenis-jenis tindakan main hakim sendiri (eigenrechting) ... 40

2.2. Penegakan Hukum ....................................................................... 41

2.2.1. Pengertian penegakan hukum. ........................................... 41

2.2.2. Unsur-unsur penegakan hukum. ........................................ 43

2.2.3.Tujuan dan fungsi penegakan hukum. ................................ 45

x
BAB III. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA

TINDAKAN MAIN HAKIM SENDIRI (EIGENRECHTING)

3.1. Faktor Penal.............................................................................. 46

3.2. Faktor Non Penal ...................................................................... 51

BAB IV. PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAKAN MAIN

HAKIM SENDIRI (EIGENRECHTING)

4.1. Tindakan Main Hakim Sendiri Sebagai Tindakan Melawan

Hukum ....................................................................................... 61

4.2. Tindakan Main Hakim Sendiri Dan Penegakan Hukum ........... 71

BAB V. PENUTUP

5.1 Simpulan ................................................................................... 81

5.2 Saran .......................................................................................... 82

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR INFORMAN

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RINGKASAN SKRIPSI

xi
ABSTRAK

Penelitian ini berjudul penegakan hukum pidana terhadap tindakan main


hakim sendiri (eigenrechting), latar belakang dari penelitian ini adalah Hukum
pada hakekatnya bertujuan untuk menjamin adanya kepastian dan tertib hukum di
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Sebagai negara hukum, maka adanya
pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dalam bidang
hukum, politik, sosial, budaya, ekonomi dan keamanan merupakan syarat utama
disamping terjadinya peradilan yang bebas dari segala pengaruh kekuatan lain dan
tidak memihak serta adanya aparatur pemerintah yang tidak "Kebal Hukum", atau
dapat dipertanggung jawabkan secara yuridis, oleh karena banyaknya tindakan
main hakim sendiri yang dilakukan oleh masyarakat, dan tindakan main hakim
yang banyak tidak diproses secara hukum karena kurangnya alat bukti, selain itu
Kondisi masyarakat yang emosionalnya sangat besar dalam menghadapi pelaku
kasus kriminal secara langsung terutama golongan masyarakat yang ekonominya
kebawah, ditambah rendahnya pengetahuan hukum.
Metode penulisan pada penelitian ini menggunakan metode penelitian
Empiris dengan melihat fakta-fakta yang ada dilapangan menggunakan
pendekatan Sosiologis yaitu pendekatan secara fakta yaitu mengadakan penelitian
lapangan dengan melihat kenyataan yang ada sesuai permasalahn yang diangkat,
dengan teknik penulisan kualitatif.
Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya tindakan main hakim
adalah, Faktor Individu yaitu kurangnya pemahaman dan kesadaran hukum
membuat seseorang cendrung menggunakan caranya sendiri dalam menyelesaikan
masalah tanpa melalui proses hukum. Faktor Instrumental yaitu produk hukum
yang tidak sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat, sehingga menimbulkan
ketidakserasian dan terhadap masyarakat tidak percaya terhadap hukum itu
sendiri. Faktor Institusional yaitu aparat penegak hukum sering melaksanakan
tugas diluar kewenangannya dan cendrung memihak dalam menyelesaikan
masalah. Penegakkan hukum terhadap tindakan main hakim sendiri merupakan
salah satu perbuatan tindak pidana oleh karena itu, Barang siapa yang melakukan
perbuatan pidana harus diproses secara hukum sesuai dengan ketentuan undang-
undang yang berlaku. Aparat penegak hukum harus mampu memberikan
perlindungan hukum pada masyarakat. Hukum itu harus ditegakkan sesuai dengan
norma-norma dan kaidah-kaidah yang berlaku.

Kata Kunci: Faktor, Penegakan Hukum, Tindak Pidana, Main Hakim


Sendiri.

xii
ABSTRACT

The tittle of this study is law enforcement to eigenrechting toward


someone body law interest, background of this study is law at essential have
purpose to guaranteee there is assure and obedient to the law in nation life. As
the stated based on the law, hence there is confession and protection on human
right in the law field, politic, social, culture, economoic and security is priority
beside occurance of free judicature from all other power effect and imparrtially
and government official is impunity or able be responsible juridically, thus many
vigilantism by public and eigenrechting that many dont processed in law
because there was many lack of evidence, beside that high emotional public
condition to face the actor of criminal case directly especially public with low
economic, added to have low law knoledge.
This study method was used emperical design with facts that exist at field
by using sociology approach that is by conduct field research by looking reality
that match with issue arised by using qualitative technique.
This study is empirical study by using sociology and fact approach, with
qualitative method. Some factor effected on eigenrechting are individual factor
that is lack of knowledge and awareness of law to make someone tend to use
hisself to solve theirself problem without through law process. Instrument facto
that is law product that unmatching with publics norms, so that it arise
unmatching and for the public dont believe on the law itself. Institutional factor
is law enforcement official that often conduct on duty outside its authority and
tend take side in settlement of case. Law enforcement on eigenrechting is one of
criminal action. Who is conduct a criminal should be processed in law as
accordding the law applied. The law enforcer should give law protection for the
public. This law should be enforced as according the norms and rules applied.

Keywords: factor, law enforcement, criminal, eigenrechting

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hukum pada hakekatnya bertujuan untuk menjamin adanya kepastian dan

tertib hukum di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Indonesia, jaminan

adanya tertib hukum dapat dilihat dari sistem Pemerintahan Negara Indonesia

yang tertuang di dalam penjelasan umum Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia 1945, yaitu : "Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat),

tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat)".

Sebagai negara hukum, maka adanya pengakuan dan perlindungan

terhadap hak-hak asasi manusia dalam bidang hukum, politik, sosial, budaya,

ekonomi dan keamanan merupakan syarat utama disamping terjadinya peradilan

yang bebas dari segala pengaruh kekuatan lain dan tidak memihak serta adanya

aparatur pemerintah yang tidak "Kebal Hukum", atau dapat dipertanggung

jawabkan secara yuridis.

Adanya pengakuan terhadap hak asasi manusia dalam bidang hukum maka

sebagai konsekwensinya adalah bahwa setiap orang diakui sebagai subyek hukum

yang mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat terhadap hukum dan

Undang-undang.

Adanya persamaan kedudukan di dalam hukum termasuk pula di dalamnya

kesamaan dan kesejajaran setiap warga negara dalam menghadap di depan sidang

pengadilan serta kesamaan dan kesejajaran setiap warga negara untuk membela

diri dari tuntutan ataupun dakwaan yang diajukan kepadanya.

1
2

Didalam proses beracara pidana, maka sejalan dengan tujuan hukum acara

pidana untuk menemukan dan mewujudkan kebenaran materiil, maka terdapat

dua macam kepentingan yang harus diperhatikan yaitu :

(1) Kepentingan masyarakat, bahwa seorang yang melanggar suatu peraturan


hukum pidana harus mendapat hukuman yang setimpal dengan
kesalahannya guna keamanan masyarakat.
(2) Kepentingan orang yang dituntut, bahwa ia harus diperlakukan secara
adil demikian rupa, sehingga jangan sampai orang yang tidak berdosa
mendapat hukuman atau kalau memang ia berdosa, jangan sampai
mendapat hukuman yang terlalu berat tidak seimbang dengan
kesalahannya.1

Mengingat demikian penting tujuan menentukan dan mewujudkan

kebenaran materiil dengan memperhatikan kepentingan masyarakat dan

kepentingan tersangka, maka proses penyidikan sebagai upaya penting dalam

mencari kebenaran sejati tentang adanya persangkaan dilakukan tindak pidana

guna menemukan si bersalah merupakan tugas yang harus benar-benar

diperhatikan oleh polri dalam kedudukannya sebagai aparat negara dalam

menangani proses pemeriksaan tindak pidana yang terjadi dalam masyarakat.2

Sebagai suatu upaya penting dalam rangka mencari kebenaran yang sejati

maka proses penyidikan harus benar-benar menyadari kedudukan tersangka

sebagai pihak yang wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan hakim

yang mempunyai kekuatan hukum tetap, sehingga ia harus ditetapkan sebagai

subyek yang harus diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai

manusia.

1
Wiryono Prodjodikoro, 1992, Hukum Acara Pidana Di Indonesia, Cet XIV, Sumur,
Bandung, hal. 21.
2
Martiman Prodjohamidjojo, 1984, Penyelidikan dan Penyidikan, Ghalia Indonesia,
Jakarta, hal. 17 (Selanjutnya disebut Martiman Prodjohamidjojo I).
3

Polisi sebagai salah satu alat negara penegak hukum merupakan aparat

negara yang dipercaya dan diharapkan mampu menegakkan wibawa hukum

dengan selalu menjunjung tinggi hak-hak asasi rakyat dan hukum negara serta

senantisasa mengindahkan norma keagamaan perikemanusiaan, kesopanan dan

kesusilaan, sehingga Polisi tidak dibenarkan melakukan segala macam tekanan

dan paksaan yang menjurus pada tindakan yang menyimpang dari ketentuan

hukum acara pidana baik dalam melakukan penangkapan maupun dalam

memperoleh keterangan dari tersangka.3

Suatu Negara dapat dikatakan sebagai negara hukum rechstaat

menurut Burkens, apabila memenuhi syarat-syarat:

1. Asas legalitas. Setiap pihak pemerintahan harus didasarkan atas


peraturan perundang-undangan (wettelijke gronslag). Dengan landasan
ini, undang-undang dalam arti formil dan undang-undang sendiri
merupakan tumuan dasar tindak pemerintahan. Dalam hubungan ini
pembentukan undang-undang merupakan bagian penting Negara
hukum.
2. Pembagian kekuasaan. Syarat ini mengandung makna bahwa
kekuasaan negara tidak boleh hanya bertumpu pada satu tangan.
3. Hak-hak dasar (grondrechten), merupakan sasaran perlindungan diri
pemerintahan terhadap rakyat dan sekaligus membatasi kekuasaan
pembentuk undang-undang.
4. Pengawasan pengadilan bagi rakyat tersedia. 4

Bagir Manan, lebih lanjut mengetengahkan ciri-ciri minimal Negara

hukum sebagai berikut:

1. Semua tindakan harus berdasarkan hukum.


2. Ada ketentuan yang menjamin hak-hak dasar dan hak-hak lainnya.
3. Ada kelembagaan yang bebas untuk menilai perbuatan penguasa
terhadap masyarakat (badan peradilan yang bebas).
4. Adanya pembagian kekuasaan. 5

3
D. P. M Sitompul, 1985, Hukum Kepolisian Di Indonesia, Tarsito, Bandung, hal. 114.
4
Burkens, M.C., et.al. 1990, Beginselen van de Democratiche Rechtasstaat, 1988,
Kebebasan Indonesia, Disertasi dalam meraih Doktor pada Program Pasca Sarjana UNAIR
Surabaya, hal.111.
4

Terkait dengan Penegakan hukum menurut Soerjono Soekanto


mengemukakan, bahwa inti dan arti penegakan hukum, secara
konsepsional terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai
yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah
dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk
menciptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian pergaulan
hidup.6

Dalam konteks penegakan hukum, mencari dan menemukan kebenaran

adalah pekerjaan yang amat mahal di Indonesia. Bahkan boleh dikatakan,

mustahil. Lembaga-lembaga yang mengurus kebenaran secara telanjang telah

mengangkangi kebenaran yang hakiki. Karena itu upaya mencari kebenaran

akhirnya direbut oleh massa di jalan raya, atau dilempar secara sengaja kepada

khalayak. Pada akhirnya rakyat lebih memilih untuk jadi hakim sendiri (walaupun

ramai-ramai) dari pada hakim yang main sendiri. Fenomena kekecewaan

masyarakat yang memuncak terhadap penegakan hukum tersebut semakin

mendapat perannya ketika roda reformasi digulirkan oleh mahasiswa. Tindakan

aksi massa yang menghakimi sendiri pelaku yang dianggap bersalah menjadi

berita utama di beberapa media, karena tidak dapat dipungkiri tindakan main

hakim sendiri sudah menjadi mega trend di berbagai daerah.

Contoh yang dapat dikedepankan terhadap hal ini adalah tewasnya Jhony

Leopato di Baturiti, pengeroyokan pengacara dalam eksekusi obyek sengketa di

Padangsambian, penyerangan oleh para preman terhadap petugas negara yang

sedang mengeksekusi obyek sengketa Hotel Bali Garden di Kuta, pembakaran

5
Bagir Manan,1994, Dasar-Dasar Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945,
Makalah disampaikan kepada Mahasiswa Pasca Sarjana, Unpad, Tahun 1994-1995, di Bandung,
hal. 19.
6
Soerjono Soekanto, 1988, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, PT. Raja Grafindo Perkasa,
Jakarta, hal. 203.
5

rumah di Yangapi Tabanan, pembakaran bus Akas yang menabrak seorang nenek

di Antosari Tabanan dan beberapa kasus lainnya yang cenderung menghakimi

sendiri pelakunya.7

Berikut data tindakan main hakim sendiri yang terjadi di Kota Denpasar

pada tahun 2015 2016 adalah sebgai berikut :

Tahun Denbar Densel Dentim Denut Kuta Kutsel

2015 28 13 4 5 6 5

2016 12 6 3 4 6 4
Sumber Data : Polresta Denpasar tahun 2016

Kasus tindakan main hakim sendiri ini banyak yang diproses secara

hukum sesuai ketentuan yang berlaku tetapi tidak sedikit juga yang dilepas begitu

saja karena kurangnya bukti. Kondisi masyarakat yang emosionalnya sangat besar

dalam menghadapi pelaku kasus kriminal secara langsung terutama golongan

masyarakat yang ekonominya kebawah, ditambah rendahnya pengetahuan hukum

sehingga mudah memicu kemaharan dan lebih suka melakukan penghukuman

sendiri pada pelaku kejahatan karena bagi masyarakat penghukuman seperti itu

lebih efektif.8

Masyarakat yang ikut melakukan perbuatan main hakim sendiri

seharusnya dapat dipidana karena melanggar Pasal 351 ayat (1) KUHP, yang

disebutkan bahwa, Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama

dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus

7
http://hendrapgmi.blogspot.co.id/2012/05/perbuatan-main-hakim-sendiri-dalam.html
8
Revrisond Baswir, 1996, Kesenjagan, Korupsi, Dan Kerusuhan Massa, Media Indonesia
No. 5857, Th.XXVII, hal.6.
6

rupiah. Dalam hali ini, mengingat si korban kehilangan nyawa akibat

penganiayaan tersebut, dalam Pasal 351 (3) KUHP diatur bahwa: Jika

mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Dalam Pasal 170 ayat (1) KUHP, disebutkan bahwa, barang siapa yang

dimuka umum secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap prang atau

barang, dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun 6 bulan ( Lima tahun enam

bualan ) Dalam hal ini, mengingat si korban kehilangan nyawa/matinya orang

akibat kekerasan tersebut maka berdasarkan Pasal 170 ayat (2) ke-3 KUHP

diancam pidana dengan penjara selama-lamanya 12 (dua belas) tahun.

Budaya main hakim sendiri pada perkembangannya akan melahirkan cara-

cara lain seperti terror baik dengan sasaran psikologis maupun fisik. Maka dalam

membangun masyarakat yang sadar dan patuh hukum pemerintah harus

secepatnya membangan moral force (kekuatan moral) yang dimulai dari penegak

hukum dengan mensosialisasikan hakikat perlunya hukum dipatuhi oleh

masyarakat dibarengi dengan menindak secara tegas setiap anggota atau

kelompok masyarakat yang melakukan cara main hakim dalam menyelesaikan

persoalan-persoalan hukum yang mereka hadapi. Selain itu pencegahannya dapat

diupayakan baik dari segi masyarakat sendiri, pemerintah, maupun perangkat

peraturan hukum pidana yang berlaku.

Melihat fakta kasus diatas, bahwa kasus main hakim sendiri banyak yang

dihentikan kasusnya padahal korban hilang jiwa dan menghilangkan nyawa

seseorang melanggar hak asasi manusia. Sehingga peneliti ingin mengetahui

bagaimana persepsi aparat penegak hukum yang menjunjung supremasi hukum.


7

Berdasarkan latar belakang peneliti tertarik untuk mengangkat judul penelitian

yaitu : PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAKAN MAIN

HAKIM SENDIRI ( EIGENRECHTING )

1.2. Rumusan masalah

Terhadap permasalahan yang telah dikemukakan diatas, menarik untuk

dibahas sebagai pokok pembahasan adalah :

1. Faktor apakah yang mempengaruhi terjadinya tindakan main hakim sendiri ?

2. Bagaimanakah penegakan hukum terhadap tindakan main hakim sendiri ?

1.3. Ruang lingkup masalah

Agar pembahasan tidak menyimpang dari substansi permasalahan diatas,

maka rumusan permasalahan akan dibatasi mengenai Faktor yang mempengaruhi

terjadinya tindakan main hakim sendiri dan Penegakan hukum terhadap tindakan

main hakim sendiri.

1.4 Tujuan Penulisan

Tujuan pokok dari penyusunan skripsi ini dapat dibedakan menjadi 2

antara lain :

1.4.1. Tujuan Umum meliputi :

Untuk mengetahui penegakkan hukum pidana terhadap tindakan main

hakim sendiri (Eigenrechting).


8

1.4.2. Tujuan Khusus meliputi:

1. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi terjadinya tindakan

main hakim sendiri.

2. Untuk mengetahui penegakan hukum terhadap tindakan main hakim

sendiri.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1. Manfaat Teoritis

Manfaat dari segi teoritis, diharapkan hasil penulisan ini dapat

memberikan sumbangan dan manfaat terutama bagi penambahan ilmu

pengetahuan yang sekaligus dapat memperkaya bahan-bahan pengembangan

keilmuan yang berdimensi hukum acara pidana khususnya mengenai tindakan

main hakim sendiri.

1.5.2. Manfaat Praktis

Diharapkan juga penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat khsusnya

dalam tindakan main hakim sendiri, dan bagi mahasiswa yang ingin melakukan

penelitian hukum pidana khususnya tindakan main hakim sendiri.

1.6 Landasan Teoritis dan Hipotesis

1.6.1. Landasan Teori

1. Teori Negara Hukum

Dalam konsep negara hukum seperti yang dinyatakan dalam Pasal 1 (3)

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 bahwa Indonesia


9

merupakan negara hukum, penguasa Negara dan pemerintah sesunguhnya

hanyalah pelaksana dari hukum, baik yang diciptakan oleh negara sendiri maupun

oleh rakyat sendiri. Oleh karena itu siapapun yang malakukan pelanggaran hukum

harus dikenakan sanksi hukum, baik penyelenggara Negara/ Pemerintah termasuk

para penegak hukum itu sendiri, maupun masyarakat harus dikenakan sanksi

hukum. Jadi dalam suatu negara hukum, tidak ada seseorang pun yang kebal akan

hukum, baik anggota masyarakat maupun penyelenggara pemerintahan, serta para

penegak hukumnya.

Itulah konsep equality before the law (persamaan didepan hukum) dalam

konsep rule of law. Konsep rule of law itu sendiri seperti diterangkan oleh A.V

Dicey, memiliki unsur utama yaitu : supremacy of law, equality before the law

dan the constiution based on individual right.9

Unsur pertama, yaitu supremacy of law atau supremasi hukum, di Inggris

tempat dicetuskannya konsep tersebut merupakan hal yang tidak dapat ditawar-

tawar lagi, hal ini merupakan unsur yang diperjuangkan rakyat inggris lebih awal

jika dibandingkan dengan negar-negara barat lainnya.

Unsur kedua, yaitu equality before the law atau persamaan di depan

hukum. Semua warga baik selaku pejabat negara maupun sebagai individu biasa

tunduk pada hukum dan di adili di pengadilan biasa yang sama. Jadi setiap warga

negara sama kedudukannya di hadapan hukum dan apabila melanggar hukum baik

secara individu maupun selaku pejabat negara, ia akan diadili dengan hukum yang

sama dan dalam pengadilan yang sama pula.

8
Azhary, 1995, Negara Hukum Indonesia, UI Press, Jakarta, hal. 20
10

Unsur ketiga, yaitu constiution based on individual right, disini tidak

seperti yang umum terdapat di negara lain yang berupa sebuah dokumen yang

disebut constition atau Undang-undang dasar, melainkan constition disini

menunjuk pada sejumlah dokumen yang isinya bersifat fundamental.10

Dalam konsep negara hukum, penguasa Negara dan pemerintah

sesunguhnya hanyalah pelaksana dari hukum, baik yang diciptakan oleh negara

sendiri maupun oleh rakyat sendiri. Oleh karena itu siapapun yang malakukan

pelanggaran hukum harus dikenakan sanksi hukum, baik penyelenggara Negara/

Pemerintah termasuk para penegak hukum itu sendiri, maupun masyarakat harus

dikenakan sanksi hukum. Jadi dalam suatu negara hukum, tidak ada seseorang pun

yang kebal akan hukum, baik anggota masyarakat maupun penyelenggara

pemerintahan, serta para penegak hukumnya.

Konsep rule of law bukan satu-satunya konsep negara hukum, selain itu

masih banyak konsep negara hukum dari negara-negara lain yang dikenal dengan

konsep Rechsstaat. Pemahaman mengenai negara hukum dengan konsep rule of

law umumnya berkembang di negara-negara eropa kontinental, pemahaman

terhadap negara hukum mengikuti konsep rechsstaat. Konsep rechsstaat menurut

beberapa sarjana dikenal dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Menurut Friedich Julius Stahl, rechsstaat memiliki unsur utama, sebagai


berikut:
a. Pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia,
b. Pemisahan kekuasaan berdasarkan prinsip Trias Politika,
c. Penyelenggaraan Pemerintah menurut Undang-undang (wetmatig
bestuur), dan
d. Adanya peradilan administrasi negara.11

9
Ibid, hal. 51.
11
Ibid, hal. 66.
11

2. Menurut Scheltema, unsur utama rechsstaat, meliputi:


a. Kepastian hukum,
b. Persamaan,
c. Demokrasi, dan
d. Pemerintahan yang melayani kepentingan umum.12

3. Menurut H.D.Van Wijk dan Konijnenbelt, dengan unsur utama :


a. Pemerintahan menurut hukum (wetmatig bestur);
b. Hak-hak asasi,
c. Pembagian kekuasaan, dan
d. Pengawasan oleh kekuasaan peradilan.13

4. Menurut zippenlius, unsur utama negara hukum adalah :


a. Pemerintahan menurut hukum,
b. Jaminan terhadap hak-hak asasi,
c. Pembagian kekuasaan dan
d. Pengawasan yustisial terhadap pemerintah.

Selanjutnya Bagir Manan mengemukakan ciri-ciri minimal dari negara

yang berdasarkan hukum, yaitu :

1. Semua tindakan harus berdasarkan hukum.


2. Ada ketentuan yang menjamin hak-hak dasar dan hak-hak lainnya
3. Ada kelembagaan yang bebas untuk meniliai perbuatan penguasa
terhadap masyarakat (badan peradilan yang bebas)
4. Adanya pembagian kekuasaan.14

Selain itu Sri Soemantri juga mengungkapkan bahwa unsur-unsur yang


terpenting dari negara hukum ada 4, yaitu :
1. Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus
berdasarkan hukum.
2. Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia
3. Adanya pembagian kekuasaan dalam negara.
4. Adanya pengawasan dan badan-badan peradilan (Rechterlijke
Controle)15

12
Ibid, hal. 66
13
A. Hamid S Attamimi, 1990, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam
Penyelenggaraan Pemerintah Negara, Disertasi, Universitas Indonesia, hal. 311.
14
Bagir Manan, 1994, Dasar- dasar Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD
1945, Makalah Ilmiah Disampaikan Pada Mahsiswa Pasca Sarjana UNPAD, Tahun 1994-1995,
di Bandung, hal.19.
15
Sri Soemantri M, 1992, Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia, Alumni
Bandung, hal. 29.
12

Demikian pula seperti yang diunkapkan oleh Philipus M. Hadjon yang

mendasarkan diri pada sifat-sifat liberal dan demokratis yang dikemukakan oleh

S.W. Couwenberg berpendapat bahwa ciri-ciri rechsstaat, adalah :

1. Adanya Undang-Udang Dasar atau konstitusi yang memuat ketentuan


tertulis tentang hubungan antara penguasa dan rakyat.
2. Adanya pembagia kekuasaan negara yang meliputi kekuasaan pembuat
undang-undang yang ada pada parlemen, kekuasaan kehakiman yang
bebas yang tidak hanya menangani sengketa antara individu rakyat
tetapi juga antara penguasa dan rakyat, dan pemerintah yang
mendasarkan tindakannya atas Undang-undang.
3. Diakui serta dilindunginya hak-hak kebebasan rakyat.16

Ditambahkan oleh Philipus M Hadjon, bahwa atas cin-cin tersebut diatas,

maka rechsstaat adalah pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi

manusia yang bertumpu pada prinsip kebebasan dan persamaan.

Negara Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila. Hal ini

berarti bahwa setiap tindakan pemerintah dalam menjalankan tugas dan

wewenangnya harus didasarkan pada norma-norma hukum yang berlaku, baik

yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Seperti yang tersirat dalam Pasal 1 ayat

(3) amandemen UUDNRI 1945 menyatkan bahwa " Negara Indonesia adalah

negara Hukum". Sehingga jika dikaitkan deng ruang lingkup Pengadilan Pajak

maka secara filosofis konstitusional jelas di nyatakan bahwa Indonesia menganut

prinsip Negara Hukum yang dinamis atau welfare state (negara kesejahteraan),

sebab negara wajib menjamin kepastian hukum serta kesejahteraan sosial

masyarakat.17

16
Philipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, Bina Ilmu,
Surabaya, hal. 76.
17
S.F. Marbun, Moh.Mahfud MD, 2000, Pokok-pokok Hukum Administrasi Negara,
Cet.Kedua, Liberty, Yogyakarta, hal.52
13

2 Teori tentang Penegakan (Efektivitas) Hukum

Menurut Badudu dan Zain dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia

efektivitas berarti keefektifan, keefektifan artinya sifat atau keadaan efektif.

Efektif artinya mulai berlaku (tentang undang-undang), jadi efektivitas adalah

sifat atau keadaan mulai berlakunya undang-undang.18

Demikian pula dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, bahwa

efektivitas berarti keefektifan. Keefektifan artinya hal mulai berlakunya (tentang

undang-undang, peraturan), jadi efektivitas adalah hal mulai berlakunya undang-

undang atau peraturan.19

Soerjono Soekanto mengemukakan, bahwa inti dan arti penegakan hukum,

secara konsepsional terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai

yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dan

sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan,

memelihara, dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.20

Berbicara efektivitas hukum Soerjono Soekanto berpendapat, bahwa

salah satu fungsi hukum baik sebagai kaidah maupun sebagai sikap tindak atau

perilaku teratur adalah membimbing perilaku manusia. Masalah penegakan

hukum tidak hanya terbatas pada timbulnya ketaatan atau kepatuhan pada hukum,

18
J.S. Badudu dan Sutan Muhammad Zain, 2001, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Sinar
Harapan, Jakarta, hal. 371.
19
Departemen Pendidikan Nasional, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga,
Balai Pustaka, Jakarta, hal. 284.
20
Soerjono Soekanto I, loc. cit.
14

tapi mencakup efek total dari hukum terhadap sikap tindak atau perilaku baik

yang bersifat positif atau negatif.21

Ketaatan seseorang berperilaku sesuai harapan pembentuk undang-undang,

Friedman menyatakan bahwa:

Compliance is, in other words, knowing conformity with a norm or


command, a deliberate instance of legal behavior that bens toward the
legal act that evoked it. Compliance and deviance are two poles of a
continuum. Of the legal behavior frustrates the goals of a legal act, but
falls short of noncompliance or, as the case may be, legal culpability.22

Berdasarkan pendapat Friedman tersebut bahwa pengaruh hukum terhadap

sikap tindak atau perilaku, dapat diklasifikasikan sebagai ketaatan (compliance),

ketidaktaatan atau penyimpangan (deviance) dan pengelakan (evasion). Konsep-

konsep ketaatan, ketidaktaatan atau penyimpangan dan pengelakan berkaitan

dengan hukum yang berisikan larangan atau suruhan.23

Masalah pokok penegakan hukum terletak pada faktor-faktor yang

mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral,

sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum menurut Soerjono

Soekanto, yaitu :

a) Faktor hukumnya sendiri, seperti pada undang-undang.


b) Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun
menerapkan hukum.
c) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.
d) Faktor masyarakat, yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku
atau diterapkan.

21
Siswantoro Sunarso, 2004, Penegakan Hukum Psikotropika dalam Kajian Sosiologi
Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 88.
22
Lawrence, Friedman M., The Legal System A Social Science Perspective, Russell Sage
Foundation, New York, 1975, dalam Siswantoro Sunarso, 2004, Penegakan Hukum Psikotropika
dalam Kajian Sosiologi Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 88.
23
Siswantoro Sunarso, loc.cit.
15

e) Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang
didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.24

Kelima faktor di atas saling berkaitan erat satu dengan yang lainnya,

karena merupakan esensi dari penegakan hukum dan merupakan tolok ukur

daripada efektivitas penegakan hukum.

Faktor hukumnya sendiri, seperti pada undang-undang merupakan faktor

pertama yang menjadi tolok ukur dari efektivitas penegakan hukum. Undang-

undang dalam arti material adalah peraturan tertulis yang berlaku umum dan

dibuat oleh Penguasa Pusat maupun Daerah yang sah. Gangguan terhadap

penegakan hukum yang berasal dari undang-undang, dapat disebabkan25 :

a) tidak diikutinya asas-asas berlakunya undang-undang, seperti undang-


undang tidak berlaku surut (artinya undang-undang hanya boleh
diterapkan terhadap peristiwa yang disebut di dalam undang-undang
tersebut dan terjadi setelah undang-undang dinyatakan berlaku;
b) belum adanya peraturan pelaksanaan yang sangat dibutuhkan untuk
menerapkan undang-undang (adanya berbagai undang-undang yang belum
juga mempunyai peraturan pelaksanaan, padahal di dalam undang-undnag
tersebut diperintahkan demikian);
c) ketidakjelasan arti kata-kata di dalam undang-undang yang mengakibatkan
kesimpangsiuran di dalam penafsiran serta penerapannya. Kemungkinan
hal itu disebabkan karena penggunaan kata-kata yang artinya dapat
ditafsirkan secara luas sekali, atau karena soal terjemahan dari bahasa
asing (Belanda) yang kurang tepat.

Faktor kedua yakni, penegak hukum yang meliputi mereka yang bertugas

di bidang-bidang kehakiman, kejaksaan, kepolisian, kepengacaraan, dan

pemasyarakatan. Penegak hukum mempunyai kedudukan (status) dan peranan

(role). Kedudukan (status) merupakan suatu wadah yang isinya adalah hak-hak

dan kewajiban-kewajiban, dimana kedua unsur tersebut merupakan peranan

(role). Suatu hak merupakan wewenang untuk berbuat atau tidak berbuat,

24
Soerjono Soekanto I, op.cit., hal. 8.
25
Soerjono Soekanto I, op.cit., hal. 17-18.
16

sedangkan kewajiban adalah beban atau tugas. Ada berbagai halangan yang

mungkin dijumpai pada penerapan peran yang seharusnya dari penegak hukum

yang berasal dari dirinya sendiri atau dari lingkungan, yaitu :

a) keterbatasan kemampuan untuk menempatkan diri dalam peranan


pihak lain dengan siapa dia berinteraksi;
b) tingkat aspiraasi yang relatif belum tinggi;
c) kegairahan yang sangat terbatas untuk memikirkan masa depan,
sehingga sulit sekali untuk membuat suatu proyeksi;
d) belum adanya kemampuan untuk menunda pemuasan suatu kebutuhan
tertentu, terutama kebutuhan material;
e) kurangnya daya inovatif yang sebenarnya merupakan pasangan
konservatisme.26
Faktor ketiga, yakni sarana dan fasilitas yang sangat penting peranannya

dalam penegakan hukum. Sarana dan fasilitas tersebut, antara lain mencakup

tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan

yang memadai, keuangan yang cukup. Tanpa adanya sarana dan fasilitas tidak

mungkin penegak hukum menyerasikan peranan yang seharusnya dengan peranan

yang aktual. Jalan pikkiran yang sebaiknya dianut, khususnya untuk sarana atau

fasilitas tersebut, yaitu :

a) yang tidak ada diadakan yang baru betul;


b) yang rusak atau salah diperbaiki atau dibetulkan;
c) yang kurang ditambah;
d) yang macet dilancarkan;
e) yang mundur atau merosot dimajukan atau ditingkatkan.27

Masyarakat merupakan faktor keempat yang mempengaruhi penegakan

hukum. Penegakan hukum berasal dari masyarakat, dan bertujuan untuk mencapai

kedamaian di dalam masyarakat. Salah satu arti hukum yang diberikan oleh

masyarakat Indonesia yakni : hukum diartikan sebagai petugas (polisi, jaksa,

26
Soerjono Soekanto I, op.cit., hal. 34-35.
27
Soerjono Soekanto I, op.cit., hal. 44.
17

hakim). Anggapan dari masyarakat bahwa hukum adalah identik dengan penegak

hukum mengakibatkan harapan-harapan yang tertuju pada peranan aktual penegak

hukum menjadi terlampau banyak, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya

kebingungan pada diri penegak hukum, oleh karena terjadinya berbagai konflik

dalam dirinya.

Keadaan demikian juga dapat memberikan pengaruh yang baik, yakni

penegak hukum merasa perilakunya senantiasa mendapat perhatian dari

masyarakat. Masalah lain yang timbul dari anggapan tersebut adalah mengenai

penerapan perundang-undangan. Jika penegak hukum menyadari bahwa dirinya

dianggap hukum oleh masyarakat, maka tidak mustahil bahwa perundang-

undangan ditafsirkan terlalu luas atau terlalu sempit. Disamping itu, mungkin juga

timbul kebiasaan untuk kurang menelaah perundang-undangan yang kadangkala

tertinggal dengan perkembangan di dalam masyarakat.

Disamping itu, ada golongan masyarakat yang mengartikan hukum

sebagai tata hukum atau hukum positif tertulis. Akibat dari anggapan bahwa

hukum adalah hukum positif tertulis belaka adalah adanya kecenderungan kuat

satu-satunya tugas hukum adalah kepastian hukum. Dengan demikian, akan

muncul anggapan yang kuat bahwa satu-satunya tujuan hukum adalah ketertiban.

Lebih menekankan pada kepentingan ketertiban berarti lebih menekankan pada

kepentingan umum, sehingga timbul gagasan kuat bahwa semua bidang

kehidupan akan dapat diatur dengan hukum tertulis. Kecenderungan ini pada
18

akhirnya akan menemukan kepuasan pada lahirnya perundang-undangan yang

belum tentu berlaku secara sosiologis.28

Faktor kelima kebudayaan. Setiap kelompok sosial yang ingin menyebut

dirinya sebagai masyarakat, haruslah menghasilkan kebudayaan yang merupakan

hasil karya, rasa, dan cipta. Kebudayaan tersebut merupakan hasil dari masyarakat

manusia, sangat berguna bagi warga masyarakat tersebut, karena kebudayaan

melindungi diri manusia terhadap alam, mengatur hubungan antara manusia, dan

sebagai wadah dari segenap persaan manusia. Dari sekian banyak kegunaan

kebudayaan bagi manusia khususnya, akan diperhatikan aspek yang mengatur

hubungan antarmanusia, karena aspek tersebut bertujuan untuk menghasilkan tata

tertib di dalam pergaulan hidup manusia dengan aneka warna kepentingan yang

tidak jarang berlawanan satu dengan lainnya.

Hasil dari usaha-usaha manusia untuk mengatur pergaulan hidupnya,

merupakan hasil rasa masyarakat yang mewujudkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai

masyarakat. Hasil rasa tersebut merupakan daya upaya manusia untuk melindungi

dirinya terhadap kekuatan lain di dalam masyarakat. Kekuatan dalam masyarakat

tidak selamanya baik dan untuk menghadapi kekuatan yang buruk.29

3. Teori Keadilan

Teori Keadilan untuk menganalisa perbuatan main hakim sendiri, menurut

Rawls adalah tokoh yang meyakini bahwa prinsip-prinsip etika dapat menjadi

dasar yang kuat dalam membangun masyarakat yang adil. Rawls mengembangkan

28
Soerjono Soekanto I, op.cit., hal. 54-55.
29
Soerjono Soekanto, 1988, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Penerbit : PT. Raja Grafindo
Perkasa, Jakarta, hal. 203.
19

pemikirannya tentang masyarakat yang adil dengan teori keadilannya yang

dikenal pula dengan teori Posisi Asli. Dalam mengembangkan teorinya, Rawls

banyak terpengaruh oleh aliran Utilitarianisme.30

Rawls berpendapat perlu ada keseimbangan antara kepentingan pribadi

dan kepentingan bersama. Bagaimana ukuran dari keseimbangan itu harus

diberikan, itulah yang disebut dengan keadilan. Keadilan merupakan nilai yang

tidak dapat ditawar-tawar karena hanya dengan keadilanlah ada jaminan stabilitas

hidup mannusia. Agar tidak terjadi benturan kepentingan pribadi dan kepentingan

bersama itu, perlu ada aturan-aturan. Di sinilah diperlukan hukum sebagai

wasitnya. Pada masyarakat yang telah maju, hukum baru akan ditaati apabila ia

mampu meletakkan prinsip-prinsip keadilan.

Rawls melihat, dalam kenyataannya, distribusi beban dan keuntungan

sosial, seperti pekerjaan, kekayaan, sandang, pangan, papan, dan hak-hak asasi,

ternyata belum dirasakan seimbang. Faktor-faktor seperti agama, ras, keturunan,

kelas sosial, dan sebagainya, menghalangi tercapainya keadilan dalam distribusi

itu. Rawls mengatakan, hal itu tidak lain karena struktur dasar masyarakat yang

belum sehat. Untuk itu Rawls menganjurkan agar dilakukan reorganisasi (call for

redress) sebagai syarat mutlak untuk menuju kepada suatu masyarakat ideal yang

baru.31

Menurut Rawls, kebutuhan-kebutuhan pokok meliputi hak-hak dasar,

kebebasan, kekuasaan, kewibawaan, kesempatan, pendapatan, dan kesejahteraan.

Jadi dalam kerangka dasar struktur masyarakat, kebutuhan-kebutuhan pokok

30
Ibid, hal. 159.
31
Ibid. hal. 159.
20

(primary goods) terutama dapat dipandang sebagai sarana mengejar tujuan dan

kondisi pemilihan yang kritis serta seksama atas tujuan dan rencana seseorang.

Jika diterapkan pada fakta struktur dasar masyarakat, prinsip-prinsip keadilan

harus mengerjakan dua hal :

1. Prinsip keadilan harus memberi penilaian konkret tentang adil tidaknya

institusi-institusi dan praktik-praktik institusional.

2. Prinsip-prinsip keadilan harus membimbing kita dalam memperkembangkan

kebijakan-kebijakan dan hukum untuk mengoreksi ketidakadilan dalam

struktur dasar masyarakat tertentu .

Ada tiga syarat supaya manusia dapat sampai pada posisi aslinya, yakni :

1. Diandaikan bahwa tidak diketahui, manakah posisi yang akan diraih seorang

pribadi tertentu di kemudian hari. Tidak diketahui manakah bakatnya,

intelegensinya, kesehatannya, kekayaannya, rencana hidupnya, keadaan

psikisnya.

2. Diandaikan bahwa prinsip-prinsip keadilan dipilih dengan semangat keadilan,

yakni dengan keadilan untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang telah

dipilih. Sikap ini perlu oleh karena sasaran-sasaran individual yang dituju

harus dibagi rata antara banyak orang, dan pasti tidak semua orang akan

menerima apa yang mereka inginkan. Sikap ini sebenarnya bertepatan dengan

sikap rasional yang dapat diharapkan dari seorang yang bijaksana.

3. Diandaikan bahwa tiap-tiap orang pertama-tama suka mengejar kepentingan

individualnya dan baru kemudian kepentingan umum.


21

Rawls mengakui bahwa kecenderungan manusia untuk mementingkan diri

sendiri merupakan kendala utama dalam mencari prinsip-prinsip keadilan itu.

Apabila dapat menempatkan diri pada posisi asli itu, manusia akan sampai pada

dua prinsip keadilan yang paling mendasar sebagai berikut

1. Prinsip kebebasan yang sama sebesar-besarnya (principle of greatest equal

liberty). Menurut prinsip ini setiap orang mempunyai hak yang sama atas

seluruh keuntungan masyarakat. Prinsip ini tidak menghalangi orang untuk

mencari keuntungan pribadi asalkan kegiatan itu tetap menguntungkan semua

pihak.

2. Prinsip ketidaksamaan, yang menyatakan bahwa situasi perbedaan (sosial

ekonomi) harus diberikan aturan sedemikian rupa sehingga paling

menguntungkan golongan masyarakat yang paling lemah (paling tidak

mendapat peluang untuk mencapai prospek kesejahteraan, pendapatan dan

otoritas). Rumusan prinsip kedua ini sesungguhnya merupakan gabungan dari

dua prinsip, yaitu prinsip perbedaan (different principle) dan prinsip

persamaan yang adil atas kesempatan (the principle of fair equality of

opportunity).

Secara keseluruhan, berarti ada tiga prinsip keadilan yang dikemukakan

oleh Rawls, yaitu prinsip : (1) kebebasan yang sama yang sebesar-besarnya, (2)

perbedaan, dan (3) persamaan yang adil atas kesempatan. Tentu saja, tidak semua

prinsip-prinsip keadilan ini dapat diwujudkan bersama-sama karena dapat terjadi

prinsip yang satu berbenturan dengan prinsip yang lainnya. Untuk itu Rawls

memberikan prioritas.
22

Prioritas pertama menetapkan bahwa prinsip kebebasan yang sama

sebesar-besarnya secara leksikal berlaku lebih dulu daripadai prinsip kedua dan

ketiga. Hanya setelah kebebasan diagungkan sepenuhnya, kita dapat bebas pula

mengarahkan usaha mengejar tuntutan yang terdapat dalam prinsip berikutnya.

Selanjutnya, prioritas kedua merupakan relasi antardua bagian prinsip keadilan

yang kedua (yaitu antara prinsip perbedaan dan prinsip persamaan yang adil atas

kesempatan). Menurut Rawls, prinsip persamaan yang adil atas kesempatan secara

leksikal berlaku lebih dulu daripada prinsip perbedaan.

Pertanyaan terakhir kita berikutnya adalah tentang teori keadilan seperti

apa yang berlaku bagi bangsa Indonesia? Secara jelas kita dapat langsung

menemukan, bahwa dalam rumusan sila-sila Pancasila terdapat kata-kata adil itu.

Sila ke-2 berbunyi : Kemanusiaan yang adil dan beradab, dan Sila ke-5

menyatakan : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam Ketetapan

MPR No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila,

butir-butir dari prinsip keadilan (termasuk yang disebutkan oleh Rawls) telah

diungkapkan pula secara jelas. Selanjutnya, apabila kita melihat Pembukaan

Undang-Undang Dasar 1945, secara tegas juga disebutkan komitmen bangsa

Indonesia terhadap keadilan itu.

Jadi dapatlah dikatakan keadilan menurut konsepsi bangsa Indonesia

adalah keadilan sosial. Untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan keadilan

sosial ini, pertama kali harus dikembalikan kepada pengertian adil seperti telah

diuraikan di atas. Aristoteles menyatakan, bahwa seseorang dikatakan berlaku

tidak adil adalah orang itu mengambil lebih dari bagian yang semestinya. Orang
23

yang tdaik menghiraukan hukum juga adalah orang yang tidak adil, karena semua

hal yang didasarkan kepada hukum dapat dianggap sebagai adil. Jadi keadilan

adalah pernilaian dengan memberikan kepada siapapun sesuai dengan apa yang

menjadi haknya, yakni dengan bertindak proporsional dan tidak melanggar

hukum.

Keadilan sosial menuntut supaya manusia hidup dengan layak dalam

masyarakat. Masing-masing harus diberi kesempatan menurut menselijke

waardigheid (kepatutan kemanusiaan). Pembangunan dan pelaksanaan

pembangunan, tidak hanya perlu mengandaikan dan mewujudkan keadilan,

melainkan juga kepatutan. Istilah kepatutan kemanusiaan seperti disebutkan oleh

Notohamidjojo dia tas dapat juga disebut dengan kepatutan yang wajar atau

proporsional.

Keadilan dengan begitu berkaitan erat dengan hak. Hanya saja, dalam

konsepsi keadilan bangsa Indonesia, hak ini tidak dapat dipisahkan dengan

pasangan antinominya, yaitu kewajiban. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab,

misalnya, dengan tegas mengamanatkan keserasian antara hak dan kewajiban

sebagai manusia yang hidup bermasyarakat. Keadilan hanya dapat tegak dalam

masyarakat yang beradab, atau sebaliknya, hanya masyarakat yang beradab yang

dapat menghargai keadilan. Dipersoalkannya keserasian hak dan kewajiban itu

menunjukkan bahwa manusia adalah mahluk berdimensi monodualistis, yakni

sebagai mahluk individual dan sosial (kolektif). Kedua nilai antinomis itu tidak

dapat saling meniadakan. Dari teori-teori keadilan yang diuraikan di atas, tampak

bahwa kriteria keadilan sangatlah relatif, sehingga keadilan tidak lain adalah
24

keseimbangan dari nilai-nilai antinomi yang ada. Purnadi Purbacaraka dan

Soerjono Soekanto (1985 : 7 : 39) menyebutkan enam pasangan nilai-nilai : (1)

spritualisme/idealisme dan materialisme, (2) individualisme dan kolektivitas, (3)

pragmatisme dan voluntarisme, (4) acsetisisme dan hedonisme, (5) empirisme dan

intuisionisme, (6) rasionalisme dan romantisisme.

Pengertian adil bagi bangsa Indonesia pun tidak serta merta mengarah ke

arah suatu maksimum penggunaan barang bagi suatu komunitas (average utility,

dihitung per kapita) menurut Utilitarianisme, atau ke arah suatu maksimum

penggunaan barang secara merata dengan tetap memperhatikan kepribadian tiap-

tiap orang menurut teori keadilan dari Rawls. Sesuai dengan keseimbangan nilai-

nilai antinomi, maka keadilan sosial dengan demikian menuntut keserasian antara

nilai spiritualisme dan materialisme, indvidulisme dan kolektivisme, pragmatisme

dan voluntarisme, acsetisisme dan hedonisme, empirisme dan intuisionisme,

rasionalisme dan romantisme.

Sehingga akhirnya penegakan the rule of law (yang artinya tidak lain

daripada supremasi of the law atau bahwa hukum dianggap sebagai kekuasaan

yang tertinggi) hendaknya bukan hanya berarti penegakkan hukum yang

diciptakan oleh negara atau penguasa raja, hal mana akan berarti penegakan

hukum yang melindungi kwasi-kwasi hak (quasi rights) saja. Akan tetapi

penegakkan the rule of law didalam negara hukum itu hendaknya berarti

penegakkan hukum yang melindungi hak-hak yang sebenarnya, yaitu hak-hak

yang memenuhi syarat-syarat kebutuhan masyarakat, pengakuan dan perlindungan

oleh negara dan pengakuan masyarakat inilah yang dapat menimbulkan ketaatan
25

masyarakat kepada hukum, tanpa perlu diadakannya kekuasaan oleh pihak

penguasa.

Maka akhirnya ini akan berarti, bahwa penegakan rule of law secara ideal

adalah penegakan the rule of social justice atau keadilan sosial.

Yaitu justice atau keadilan, sesuai dengan alam pikiran atau pola masyarakat yang

bersangkutan. Atau dapat pula kita katakan bahwa the rule of law itu berarti the

rule of just law, kekuasaan daripada hukum yang adil. Sebab hanya hukum yang

dapat membawa dan menjamin keadilan sosial itu dapat mengadakan pembagian

(distribusi) daripada hak-hak secara adil pula.

4. Pengertian Perlindungan Hukum

Pengertian perlindungan hukum, seperti dilihat dalam Kamus Bahasa

Indonesia adalah sebagai berikut :

Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer yang dimaksudkan dengan

perlindungan hukum adalah :

Suatu upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memperoleh

perlindungan berdasarkan peraturan-peraturan atau undang-undang.32

Sedangkan menurut Kamus Hukum Perlindungan Hukum adalah :

Suatu upaya kepastian hukum untuk mendapatkan perlindungan berdasarkan

peraturan-peraturan yang dibuat oleh suatu kekuasaan negara dan sebagainya atau

dapat yang berlaku bagi semua orang di suatu masyarakat atau negara. 33

32
Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, 1991, Balai Pustaka, Jakarta, hal. 897.
33
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998, Kamus Hukum, hal. 954.
26

Konsep perlindungan hukum atas suatu kepentingan tertentu, merupakan

manifestasi dari prasyarat untuk masuk ke dalam phase Negara kesejahteraan.

Fenomena Negara kesejahteraan (welfare state) merupakan fenomena penting di

akhir abad ke-19 dengan gagasan bahwa Negara didorong untuk semakin

meningkatkan perannya dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh

masyarakat, termasuk masalah-masalah perekonomian yang dalam tradisi

liberalisme sebelumnya cenderung dianggap sebagai urusan masyarakat sendiri.34

Perlindungan tidak hanya berdasar hukum tertulis tetapi termasuk juga

hukum tidak tertulis dengan harapan ada jaminan terhadap benda yang dimiliki

dalam menjalankan hak dan kewajibannya. Hadjon menyebutkan, ada 2 macam

perlindungan hukum bagi rakyat yaitu :

1. Perlindungan Hukum Preventif : Kepada rakyat diberi kesempatan untuk

mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu keputusan pemerintah

mendapat bentuk yang definitive. Bertujuan mencegah terjadinya sengketa.

2. Perlindungan Hukum Represif : bertujuan menyelesaikan sengketa.35

Perlindungan hukum preventif sangat besar artinya bagi pemerintah yang

didasarkan kebebasan bertindak karena dengan adanya perlindungan hukum

preventif, pemerintah terdorong untuk bersifat hati-hati dalam mengambil

keputusan yang didasarkan pada diskresi. Dengan pengertian demikian,

penanganan perlindungan hukum bagi rakyat oleh peradilan umum di Indonesia

termasuk kategori perlindungan hukum represif.

34
Jimly Asshiddiqie, 2000. Pergeseran-pergeseran Kekuasaan Legislatif & Eksekutif,
Universitas Indonesia, Jakarta, hal. 97.
35
Hardjon M. Philippus, 1988. Perlindungan Hukum bagi Rakyat Indonesia, Bina Ilmu
Surabaya.
27

Mengenai perilaku kolektif yang agresif-destruktif atau yang lebih lazimnya

disebut sebagai tindakan main hakim sendiri (eigenrechting) ini secara normatif

tidak ada satu ketentuan pun yang mengatur apa yang dimaksud dengan main

hakim sendiri. Oleh karenanya untuk memperoleh pengertian yuridis dari tindakan

main hakim sendiri tersebut akan disampaikan beberapa pendapat sarjana.

Menurut Wirjono Prodjodikoro menghakimi sendiri (eigenrichting) ini

memiliki hubungan erat dengan sifat melawan hukum dari setiap tindak pidana.36

Selanjutnya dikatakan, biasanya dengan suatu tindak pidana seseorang

menderita kerugian. Ada kalanya si korban berusaha sendiri untuk meniadakan

kerugian yang ia derita dengan tidak menunggu tindakan alat-alat negara seperti

polisi atau jaksa, seolah-olah ia menghakimi sendiri (eigenrichting). Usaha orang

ini tidak dilarang selama ia, dalam usahanya itu, tidak melakukan perbuatan yang

masuk perumusan tindak pidana lain. Apabila misalnya, seorang dicopet

dompetnya, dan ia meminta kembali dompetnya itu dari si pencopet, dan

permintaan itu dituruti, maka tindakan menghakimi sendiri ini tidak dilarang.

Selanjutnya dikatakan lain halnya apabila si pencopet semula tidak mau

mengembalikan barangnya, kemudian si korban memaksa si pencopet dengan

kekerasan untuk menyerahkan barangnya, maka tindakan si korban dapat masuk

perumusan tindak pidana memaksa orang lain untuk berbuat sesuatu dari pasal

335 ayat 1 KUHP ; maka dari itu sebetulnya tidak diperbolehkan.

Korban dapat dikatakan terpaksa juga untuk melakukan kekerasan terhadap

si pencopet, dan kekerasan ini mutlak perlu untuk membela kepentingannya

36
Wirjono Prodjodikoro, 2002, Tindak-Tindak Pidana Tertentu Di Indonesia, Edisi ke-2,
Cet.V, Refika Aditama, Bandung, hal 3
28

berupa milik atas barang yang dicopet. Maka berdasar atas pasal 49 ayat 1 KUHP

(noodweer atau membela diri), si korban berhak melakukan kekerasan ini. Asal

tentunya, kekerasan yang dilakukan itu tidak melampaui batas, seimbang dengan

kepentingan si korban yang dibelanya.

Kemudian dikatakan bahwa hal menghakimi sendiri atau eigenrechting ada

kalanya diperbolehkan, artinya tidak bersifat melanggar hukum, dan dari itu tidak

merupakan suatu tindak pidana.

Menurut Satochid Kartanegara mengatakan, bahwa sebenarnya seseorang

yang melakukan sesuatu perbuatan, yang merupakan sesuatu delik. Perbuatan

mana dilakukannya untuk membela diri terhadap serangan yang dilakukan oleh

orang lain, melakukan sesuatu perbuatan yang disebut : Daad Van

Eigenrichting.37

Daad Van Eigenrichting ini sebenarnya dilakukan oleh undang-undang.

Adapun artinya dari daad van eigenrichting ini adalah Tindakan yang diambilnya

sendiri dan ini dilarang.

Baliau mengatakan, dengan diketahuinya larangan terhadap daad van

eigenrichting ini belum lagi diketahui bagaimana hubungannya itu dengan

pembelaan, yang dilakukan oleh seseorang berdasarkan noodweer. Walaupun

daad van eigenrichting itu tidak diperkenankan, akan tetapi apabila perbuatan itu

semata-mata dilakukan untuk membela diri terhadap serangan, yang dilakukan

oleh orang lain terhadap dirinya, maka perbuatan itu diperkenankan.

37
Satochid Kartanegara, 1989, Hukum Pidana, Bagian I, tanpa nomor cetakan, Balai
Lektur Mahasiswa, tanpa tempat dan tahun, hal. 474
29

Adapun perbuatan, yang dilakukan semata-mata untuk mencegah serangan

itu diperkenankan, oleh karena orang yang justru menghadapi serangan pada

ketika itu dan untuk menunggu tindakan/ pertolongan dari perlengkapan/ alat

negara, tidak ada waktu lagi dan akan terlambat.

Berangkat dari kerangka teoritis tersebut diatas secara yuridis tindakan

eigenrechting ada kalanya diperkenankan, artinya tidak bersifat melanggar hukum

asalkan dalam melakukan pembelaan tersebut tidak melampaui batas, dan

seimbang dengan kepentingan yang dibelanya.

Namun demikian dalam konteks penegakan hukum terhadap tindakan

main hakim sendiri yang dilakukan oleh seseorang dalam keadaan terpaksa untuk

membela kepentingannya berdasarkan ketentuan pasal 49 ayat 1 KUHP

(noodweer), maka kewajiban dari penegak hukumlah tentunya yang harus

membuktikan sifat dari pembelaannya itu.

Dalam hal ini Soerjono Seokanto, mengatakan seorang penegak hukum,

sebagaimana halnya dengan warga-warga masyarakat lainnya, lazimnya

mempunyai beberapa kedudukan dan peranan sekaligus. Dengan demikian

tidaklah mustahil, bahwa antara pelbagai kedudukan dan peranan timbul konflik

(status conflict dan conflicy of roles). Kalau didalam kenyataan terjadi suatu

kesenjangan antara peranan yang seharusnya dengan peranan yang sebenarnnya

dilakukan atau peranan aktual, maka terjadi suatu kesenjangan peranan (role-

distance).38

38
Soerjono Soekanto, 2002, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum
(buku II), Edisi ke-1, Cet. IV, RajaGrafindo Persada, Jakarta , hal. 4.
30

Apabila kita merujuk pada pendapat Soerjono Soekanto, dapat dikatakan

bahwa peranan dan integritas penegak hukum sangatlah menentukan dalam hal

penegakan hukum atau dengan kata lain bahwa aparat penegak hukum dengan

kewenangannya memiliki kewajiban utama dalam penegakan hukum.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut RE.Baringbing mengatakan, untuk

dapat menegakkan sendi-sendi hukum di Indonesia, maka integritas penegak

hukum merupakan salah satu yang utama yang harus dimunculkan. Aparat catur

wangsa yang tidak memiliki integritas, sama saja dengan melakukan pekerjaan

menghabiskan waktu, menumpuk persolan dan tuntutan.39

Beliau mengatakan para penegak hukum inilah yang secara langsung

mempunyai wewenang dan kewajiban menegakkan hukum dengan cara

membuktikan dan menyatakan kebenaran ataupun kesalahan dan sanksi

berdasarkan hukum yang ada. Jika kebenaran dan keadilan hukum sudah dapat

dilihat dan dirasakan masyarakat maka akan tercipta masyarakat yang taat hukum.

Karena setiap pelaku perbuatan pelanggaran hukum pasti menanggung sanksinya,

sehingga setiap orang pasti merasa takut melakukan perbuatan yang melanggar

hukum.

1.7.2. Hipotesa

Berangkat dari kerangka teoritis tersebut diatas, dapat ditarik hipotesa,

bahwa :

39
RE.Baringbing, 2001, Simpul Mewujudkan Supremasi Hukum, Cet.I, Pusat Kajian
Reformasi, Jakarta, hal. 190.
31

1. Faktor penegak hukum memiliki pengaruh yang sangat dominan dalam

mempengaruhi terjadinya tindakan main hakim sendiri (eigenrechting).

2. Tindakan main hakim sendiri (eigenrechting) merupakan perbuatan melanggar

hukum, namun ada kalanya diperkenankan asalkan dalam melakukan

pembelaan tersebut tidak melampaui batas, dan seimbang dengan kepentingan

yang dibelanya.

1.8 Metode Penelitian

1.8.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah emperis dengan melihat bagaimana fakta-fakta

yang ada dilapangan khususnya berkaitan dengan tindak pidana main hakim

sendiri dan Penegakkan Hukum di Wilayah Hukum Polresta Denpasar.

1.8.2. Jenis Pendekatan

Jenis pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologis yaitu

pendekatan secara fakta yaitu mengadakan penelitian lapangan dengan melihat

kenyataan atau fakta-fakta yang ada sesuai permasalahan yang diangkat.

1.8.3. Data dan Sumber Data

Data yang diteliti dalam penelitian hukum empiris ada dua jenis yaitu data

primer dan data sekunder.


32

1.8.3.1 Data Primer

Sumber data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini bersumber pada

fakra-fakta yang terjadi di lapangan terkait tindakan main hakim sendiri khusus di

Pengadilan Negeri Denpasar dan Polresta Denpasar.

1.8.3.2 Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari penelitian lapangan

(Field Research), yaitu dengan mengadakan wawancara secara langsung dengan

hakim di Pengadilan Negeri Denpasar, Kepolisian Negara Republik Indonesia,

dan Narasumber yang memahami tentang permasalahan untuk memperoleh data

yang konkret untuk menunjang pembahasan masalah dalam proposal ini.

1.8.4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, penulis mempelajari literatur yang ada

hubungannya dengan topik permasalahan yang dikumpulkan sedemikian rupa

melalui membaca, mencatat, memberi catatan. Disamping itu penulis juga

mengadakan interview atau wawancara langsung dengan Hakim Pengadilan

Negeri Denpasar, Polresta Denpasar dan dengan para informan yang berkaitan

dengan permasalahan dan bahan hukum dengan mengkaji peraturan perundang-

undangan dan membaca literature lalu dicatat dalam catatan kecil dan dituangkan

kedalam karya ilmiah dengan mengkaitkan permasalahan yang dibahas. 40

40
Sumadi Siryanrata, Metode Penelitian, CV. Rajawali, Jakarta, 1998. hal. 13.
33

1.8.5. Teknik Pengolahan dan Analisis

Setelah data-data yang dibutuhkan terkumpul, maka data-data tersebut

akan diolah dan dianalisa dengan menggunakan teknik pengolahan data secara

kualitatif. Yang dimaksud dengan teknik pengolahan data secara deskriptif

kualitatif, yaitu dengan memilih data dengan kualitasnya untuk dapat menjawab

permasalahan yang diajukan.41 Penyajiannya dilakukan secara kualitatif analisis

yaitu suatu cara analisa data yang dilakukan dengan jalan menulis yang paling

berkualitas sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang ilmiah.

41
Ronny Hanitijo Soemitro, 1990, Metodelogi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Cet. IV,
Ghalia Indonesia, Jakarta, hal.47.
BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG TINDAKAN MAIN HAKIM SENDIRI

DAN PENEGAKAN HUKUM

2.1. Tindakan Main Hakim Sendiri (Eigenrechting)

2.1.1. Pengertian Tindak Pidana

Menurut Moeljatno meyatakan bahwa Pengertian Tindak Pidana berarti

perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, terhadap siapa saja yg

melanggar larangan tersebut. Perbuatan tersebut harus juga dirasakan oleh

masyarakat sebagai suatu hambatan tata pergaulan yang dicita-citakan oleh

masyarakat.42

Kanter dan Sianturi, Pengertian Tindak Pidana didefinisikan suatu

tindakan pada tempat, waktu dan keadaan tertentu, yang dilarang/ diharuskan dan

diancam dengan pidana oleh undang-undang hukum pidana, bersifat melawan

hukum, serta dengan kesalahan dilakukan oleh seseorang (yang mampu

bertanggung jawab). Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpukan bahwa

Pengertian tindak pidana adalah suatu perbuatan yang dilakukan manusia yang

dapat bertanggung jawab yang mana perbuatan tersebut dilarang atau

diperintahkan atau dibolehkan oleh undang-undang hukum pidana yang diberi

sanksi berupa sanksi pidana.

Untuk membedakan suatu perbuatan sebagai tindak pidana atau bukan

tindak pidana ialah apakah perbuatan tersebut diberi sanksi pidana atau tidak

42
Moeljatno, 1998, Hukum Pidana Indonesia, Liberty, Jogjakarta, hal. 145.

34
35

diberi sanksi pidana. Pengertian Tindak Pidana menurut istilah adalah terjemahan

paling umum untuk istilah "strafbaar feit" dalam bahasa Belanda walaupun secara

resmi tidak ada terjemahan resmi strafbaar feit.

Lebih lanjut Prof. Moeljatno S.H., Tindak Pidana (strafbaar feit). adalah

perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai

ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar

aturan tersebut. Terdapat 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan :

1. Perbuatan pidana adalah perbuatan oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam
pidana.
2. Larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan atau kejadian yang
ditimbulkan oleh kelakuan orang), sedangkan ancaman pidana ditujukan kepada orang
yang menimbulkan kejadian itu.
3. Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat, oleh karena antara
kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu ada hubungan erat pula. Kejadian
tidak dapat dilarang jika yang menimbulkan bukan orang, dan orang tidak dapat
diancam pidana jika tidak karena kejadian yang ditimbulkan olehnya. 43

Beliau membedakan membedakan dengan tegas dapat dipidananya

perbuatan (die strafbaarheid an het feit) dan dapat dipidananya orang

(strafbaarheid van den person). Sejalan dengan itu memisahkan pengertian

perbuatan pidana (criminal act) dan pertanggungjawaban pidana (criminal

responsibility). Pandangan ini disebut pandangan dualistis yang sering dihadapkan

dengan pandangan monistis yang tidak membedakan keduanya.

Dalam hukum pidana Belanda yaitu stafbaar feit. Walaupun istilah ini

terdapat dalam WvS Belanda atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, tetapi

tidak ada penjelasan resmi tentang apa yang dimaksud dengan tindak pidana

43
Ibid
36

tersebut. Karena itu para ahli hukum berusaha untuk memberikan arti dan isi dari

istilah itu.

Perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan dengan mana

disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang

melanggar larangan tersebut. Pengertian straafbaarfeit menurut Simons dalam

rumusannya adalah Tindakan yang melanggar hukum yang telah dilakukan

dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang dapat

dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh Undang-Undang telah

dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum.

Rumusan pengertian tindak pidana (straafbaarfeit) yang dinyatakan oleh

Simons juga diatur dalam asas hukum pidana Indonesia, yaitu asas legalitas

(principle of legality) atau dalam bahasa latin biasanya dikenal dengan Nullum

Delictum Noella Poena Sine Praevia Lege Poenali. maksudnya bahwa Tidak ada

perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana jika tidak ditentukan terlebih

dahulu dalam perundang-undangan, ketentuan yang senada dengan asas tersebut

juga diatur dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP yaitu : Tiada suatu perbuatan dapat

dipidana, kecuali atas kekuatan peraturan pidana dalam perundang-undangan

Pasal tersebut.44

Tindak pidana akan melahirkan pertanggungjawaban pidana yang hanya

dapat terjadi setelah sebelumnya seseorang melakukan tindak pidana, dimana

pertanggungjawaban pidana dilakukan dengan asas yang berbeda yaitu dengan

asas yang tidak tertulis Tiada pidana tanpa kesalahan. Tindak pidana merupakan

44
Wirjono Prodjo, SH, 1976, Perbuatan Melawan Hukum, Cetakan ke VI, Sumur
Bandung, hal. 90.
37

suatu pengertian dasar dalam Hukum Pidana. Tindak Pidana adalah pengertian

yuridis, lain halnya dengan istilah perbuatan jahat atau kejahatan ( crime atu

verbrechen atau misdaad) yang biasa diartikan seeara yuridis (hukum) atau secara

kriminologis.

2.1.2. Pengertian tindakan main hakim sendiri (eigenrechting).

Tindakan atau tindak pidana adalah istilah yang dipakai dalam hukum

pidana terhadap perbuatan yang dilakukan yang dilarang dan diancam dengan

pidana bagi barangsiapa yang melanggarnya.

Main hakim sendiri dalam pengertian umum sinonim dengan menghukum

sendiri. Menghukum merupakan suatu perbuatan atau tindakan memberikan

nestapa. Dalam konteks hukum pidana menghukum sendiri adalah perbuatan

memberikan nestapa yang dilakukan sendiri tanpa melalaui alat-alat negara seperti

hakim. hal mana perbuatan tersebut dilarang dan diancam dengan pidana.45

Menghakimi sendiri (eigenrechting) ini memiliki hubungan erat dengan

sifat melanggar hukum dari setiap tindak pidana. Biasanya dengan suatu tindak

pidana seseorang menderita kerugian dan untuk meniadakan kerugian itu orang

tersebut melakukan suatu perbuatan tanpa menunggu tindakan alat-alat negara.

Perbuatan mana dilakukan dengan menggunakan kekerasan yang dapat masuk

dalam perumusan tindak pidana.46

45
Roeslan Saleh, 1983, Sifat Melawan Hukum Dari Perbuatan Pidana, Cet.IV, Aksara
Baru, Yogyakarta, September, hal. 10.
46
Ny. Soemarni, Diktat Kuliah Hukum Acara Pidana, 1965/1966, Yayasan Universitas
Djanabadra Djogyakarta, hal. 62.
38

Dengan demikian menghakimi sendiri itu adalah sebagai perbuatan

melawan hukum, karena untuk meniadakan kerugian itu seseorang melakukan

kekerasan yang dapat diancam pidana.

Secara normatif tidak ada ketentuan yang dapat memberikan pengertian

apa yang dimaksud dengan main hakim sendiri. Untuk meniadakan kebekuan

terhadap istilah dan pengertian tersebut kiranya penjelasan diatas dapat

memberikan suatu pengertian secara umum dari tindakan main hakim sendiri.

Yang dimaksud dengan tindakan main hakim sendiri adalah suatu

perbuatan dengan maksud untuk meniadakan kerugian yang diderita yang

dilakukan dengan kekerasan terhadap orang atau barang, perbuatan mana

dilakukan secara melawan hukum.47

2.1.3. Unsur-unsur tindakan main hakim sendiri ( eigenrechting ).

Dari pengertian tindakan main hakim sendiri tersebut diatas dapat ditarik

unsur-unsur sebagai berikut :

1) Unsur subyektif (strict liability)

a) Adanya orang yang berbuat.

Pada hakekatnya tiap-tiap perbuatan pidana harus terdiri dari unsur-unsur

lahir. Untuk adanya perbuatan pidana diperlukan orang yang yang melakukan

perbuatan.48

Yang dihukum sebagai orang yang melakukan disini dapat dibagi 4

macam yaitu :

47
Bambang Purnomo,1982, Asas-Asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Yogyakarta,
hal. 126.
48
Adami Chazawi, 2002, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, PT.Raja Grafindo Persada,
Jakarta, hal.79.
39

i) Orang yang melakukan (plegen).

ii) Orang yang menyuruh melakukan (doen plegen).

iii) Orang yang turut melakukan (medeplegen).

iv) Orang yang membujuk melakukan (uitlokking).49

b) Adanya maksud atau kehendak.

Kehendak disini maksudnya adalah niat dari keadaan si pelaku. Niat ini

telah keluar dan diarahkan pada terwujudnya perbuatan seperti dirumuskan oleh

undang-undang. Pidana pada umumnya dijatuhkan hanya pada Barangsiapa

melakukan perbuatan yang dilarang, dengan dikehendaki dan diketahui.

2) Unsur obyektif (criminal act).

a) Dilakukan dengan kekerasan.

Melakukan kekerasan artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani

tidak kecil secara tidak sah. Misalnya memukul dengan tangan atau dengan

segala macam senjata, menyepak, menendang dan sebagainya.

b) Ditujukan terhadap orang atau barang.

Kekerasan itu harus ditujukan kepada orang atau barang. Hewan atau binatang

masuk pula dalam pengertian barang.

c) Bersifat melawan hukum

Hal ini berkaitan dengan azas legalitas (pasal 1 ayat 1 KUHP) yang

menyatakan tiada suatu perbuatan boleh dihukum, melainkan atas kekuatan

pidana dalam undang-undang, yang ada terdahulu dari pada perbuatan itu.

49
Sudarto, 1977, Hukum dan Hukum Pidana, Penerbit : Alimni Bandung, hal. 231.
40

Sifat melawan hukum adalah unsur mutlak dari tiap-tiap tindak pidana. Hal ini

harus dibuktikan unsur kemampuan bertanggung jawab dari perbuatan yang

dilakukan. 50

2.1.4. Jenis-jenis tindakan main hakim sendiri (eigenrechting).

Penggolongan tindakan main hakim sendiri ini, didalam ketentuan Kitab

Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak ada disebutkan. Begitu pula di

dalam literature atau penelaahan kepustakaan tidak ditemukan jenis-jenis tindakan

main hakim sendiri.

Tindak pidana yang dikwalifikasikan sebagai tindakan main hakim sendiri

(eigenrechting) adalah :

1) Tindak pidana penganiayaan berat dari pasal 354 KUHP.

Ayat (1), menyatakan :

Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain, dihukum karena

menganiaya berat, dengan hukuman penjara selama-lamanya delapan tahun.

Ayat (2), menyatakan :

Jika perbuatan itu menjadikan kematian orangnya, sitersalah dihukum penjara

selama-lamanya sepuluh tahun.51

2) Tindak pidana penganiayaan ringan dari pasal 352 KUHP.

Ayat (1), menyatakan :

Selain dari pada apa yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka
penganiayaan yang tidak menjadikan sakit atau halangan untuk melakukan
jabatan atau pekerjaan sebagai penganiayaan ringan, dihukum penjara selama-

50
R. Tresno, 1979, Azas-azas Hukum Pidana, PT. Tiara Ltd Jakarta, hal. 130.
51
P.A.F. Lamintang & C. Djisman Samosir, 1979, Hukum Pidana Indonesia, Sinar Baru
Bandung, hal. 54.
41

lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4500,-. Hukuman ini


boleh ditambah sepertiganya, bila kejahatan itu dilakukan terhadap orang yang
bekerja padanya atau yang ada dibawah perintahnya.

Ayat (2), menyatakan :

Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat dihukum.

c) Tindak pidana pengeroyokan dari pasal 358 KUHP.

Pasal 358 KUHP, menyatakan :

Barangsiapa dengan sengaja turut campur dalam penyerangan atau perkelahian


yang dilakukan oleh beberapa orang, maka selain dari pada tanggungannya
masing-masing bagi perbuatan yang khusus, dihukum :
1e. Penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan, jika penyerangan atau
perkelahian itu hanya menjadikan ada orang mendapat luka berat saja.
2e. Penjara selama-lamanya empat tahun, jika penyerangan atau perkelahian
itu menjadikan ada orang mati.

2.2. Penegakan Hukum

2.2.1. Pengertian penegakan hukum.

Menurut Barda Nawawi, menyebutkan bahwa Penegakan hukum adalah

suatu usaha untuk menanggulangi kejahatan secara rasional, memenuhi rasa

keadilan dan berdaya guna. Dalam rangka menanggulangi kejahatan terhadap

berbagai sarana sebagai reaksi yang dapat diberikan kepada pelaku kejahatan,

berupa sarana pidana maupun non hukum pidana, yang dapat diintegrasikan satu

dengan yang lainnya. Apabila sarana pidana dipanggil untuk menanggulangi

kejahatan, berarti akan dilaksanakan politik hukum pidana, yakni mengadakan

pemilihan untuk mencapai hasil perundang-undangan pidana yang sesuai dengan

keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa-masa yang akan datang.52

52
Barda Nawawi Arief, 2002, Kebijakan Hukum Pidana, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, hal. 109
42

Penegakan hukum dapat menjamin kepastian hukum, ketertiban dan per

lindungan hukum pada era modernisasi dan globalisasi saat ini dapat terlaksana,

apabila berbagai dimensi kehidupan hukum selalu menjaga keselarasan,

keseimbangan dan keserasian antara moralitas sipil yang didasarkan oleh nilai-

nilai actual di dalam masyarakat beradab. Sebagai proses kegiatan yang meliputi

berbagai pihak termasuk masyarakat dalam rangka pencapaian tujuan adalah

keharusan untuk melihat penegakan hukum pidana sebagai suatu sistem peradilan

pidana.53

Menurut Jimly Asshiddiqie, Pada pokoknya penegakan hukum merupakan

upaya yang secara bersengaja dilakukan untuk mewujudkan cita-cita hukum

dalam rangka menciptakan keadilan dan kedamaian dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.54

Beliau berpendapat, bahwa tegaknya hukum itu dalam arti sempit identik

dengan tegaknya undang-undang (penegakan undang-undang). Akan tetapi, dalam

arti luas tegaknya hukum itu adalah upaya untuk menjamin tegaknya hukum dan

nilai-nilai keadilan dalam masyarakat (penegakan hukum). Lebih luas lagi

dikatakan yang ditegakkan itu pokoknya adalah hukum sebagai suatu sistem,

bukan saja menyangkut peraturan dalam arti formal, tetapi juga institusinya dan

bahkan nilai-nilai yang tercermin dalam perilaku masyarakat.

Pandangan yang sama juga disampaikan oleh Soerjono Seokanto. Beliau

mengatakan inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan

53
Ibid
54
Jimly Asshiddiqie, 1998, Agenda Pembangunan Hukum Nasional di Abad Globalisasi,
Cet.I, Balai Pustaka, Jakarta, hal. 93.
43

hubungan nilai-nilai yang terjabarkan didalam kaidah-kaidah yang mantap dan

mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran tahap akhir, untuk

menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.55

Dikatakan bahwa penegakan hukum bukanlah semata-mata berarti

pelaksanaan perundang-undangan, walaupun didalam kenyataan di Indonesia

kecenderungannya adalah demikian, sehingga pengertian law enforcement

begitu populer.

Jika kita menarik kesimpulan dari kedua pendapat diatas dapat dirumuskan

pengertian dari penegakan hukum adalah sebagai suatu kegiatan yang dilakukan

secara bersengaja dalam upaya menyerasikan nilai-nilai yang tercermin dalam

perilaku masyarakat untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan

kedamaian pergaulan hidup.

2.2.2. Unsur-unsur penegakan hukum.

Unsur-unsur yang dapat ditarik dari pengertian penegakan hukum diatas,

yaitu :

1. Adanya kegiatan yang dilakukan secara bersengaja

Tanpa adanya usaha yang konkrit dari semua pihak, penegakan hukum

tidak akan mencapai cita-cita yang diharapkan. Cita-cita tanpa usaha sama saja

artinya sebagai sebuah angan-angan belaka. Penegakan hukum harus dilakukan

dengan suatu aksi atau tindakan yang nyata. Bukan hanya wacana dan retorika.

Dalam konteks penegakan hukum aparat penegak hukum merupakan unsur

utama. Aparatur penegak hukum meliputi aparat penegak hukum (orangnya) dan

55
Soerjono Soekanto II, Op.Cit, hal. 3.
44

lembaga-lembaganya (institusi). Dengan demikian, proses penegakan hukum pada

pokoknya menyangkut soal orang, soal institusi dan soal mekanisme kerja yang

perlu dikembangkan atau diusahakan dalam rangka benar-benar menjamin

tegaknya hukum dan keadilan. Dan proses peradilan itu sendiri haruslah dipahami

mulai dari masyarakat sampai ke masyarakat.

2. Sebagai upaya menyerasikan nilai-nilai yang tercermin dalam perilaku

masyarakat.

Penegakan hukum merupakan proses untuk menyerasikan nilai-nilai yang

terjabarkan dalam kaidah-kaidah yang mengajewantah. Konsepsi yang

mempunyai dasar filosofis tersebut, memerlukan penjelasan lebih lanjut, sehingga

akan tanmpak lebih konkrit.

Didalam penegakan hukum nilai-nilai tersebut perlu diserasikan,

umpamanya ; perlu penyerasian antara nilai ketertiban dengan nilai ketenteraman.

Sebab, nilai ketertiban bertitik tolak pada keterikatan, sedangkan nilai

ketentraman titik tolaknya adalah kebebasan.

Pasangan nilai-nilai yang telah diserasikan tersebut secara lebih konkrit

terjadi dalam bentuk kaidah-kaidah, dalam hal ini kaidah hukum, yang mungkin

berisikan suruhan, larangan atau kebolehan.

3. Untuk menciptakan, memilihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan

hidup

Pasangan nilai-nilai yang telah diserasikan yang terjabarkan dalam kaidah-

kaidah tersebut kemudian menjadi patokan bagi perilaku atau sikap tindak yang
45

dianggap pantas, atau yang seharusnya. Perilaku atau sikap tindak tersebut

bertujuan untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian.56

2.2.3. Tujuan dan fungsi penegakan hukum.

Pada umumnya tujuan hukum adalah mencapai ketenteraman didalam

pergaulan hidup masyarakat. Dari berbagai pandangan para pakar hukum, hukum

bertujuan mengatur tingkah laku manusia didalam dinamika perikehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Soerjono Soekanto mengatakan norma atau kaidah hukum bertujuan agar

tercapai kedamaian didalam kehidupan bersama, dimana kedamaian berarti suatu

keserasian antara ketertiban dengan ketenteraman, atau keserasian antara

keterikatan dengan kebebasan.

Oleh karena itu upaya penegakan hukum dalam kehidupan suatu bangsa

merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kerangka pembangunan nasional

secara keseluruhan. Dengan demikian penegakan hukum haruslah dilihat secara

holistik sebagai upaya sadar, sistematis dan berkesinambungan untuk membangun

kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang semakin maju, sejahtera,

aman dan tentram di atas landasan hukum yang adil dan pasti.

Sedangkan fungsi penegakan hukum adalah tidak lain daripada mencapai

suatu keserasian antara kepastian hukum dengan kesebandingan hukum. 57

56
P.A.F. Lamintang & C. Djisman Samosir, Hukum Pidana Indonesia, 1979, Sinar Baru
Bandung, hal. 54.
57
Soerjono Soekanto II, Op.Cit, hal. 2.
BAB III

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA

TINDAKAN MAIN HAKIM SENDIRI ( EIGENRECHTING )

Didalam mewujudkan tujuan penegakan hukum, kemungkinan konflik

dapat terjadi apabila apa yang menjadi harapan (das sein) tidak sesuai dengan

kenyataan (das sollen).

Ketidakserasian tersebut muncul bilamana faktor-faktor penegakan hukum

itu tidak berjalan sesuai dengan yang semestinya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tindakan main hakim sendiri

terdiri dari faktor Penal dan fakor Non penal adalah :

3.1. Faktor Penal

1. Faktor Perundang- undangan (Substansi hukum)

Dalam praktek menyelenggaraan penegakan hukum di lapangan seringkali

terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan. Hal ini dikarenakan

konsepsi keadilan merupakan suatu rumusan yang bersifat abstrak sedangkan

kepastian hukum merupakan prosedur yang telah ditentukan secara normatif.

Oleh karena itu suatu tindakan atau kebijakan yang tidak sepenuhnya berdasarkan

hukum merupakan suatu yang dapat dibenarkan sepanjang kebijakan atau

tindakan itu tidak bertentangan dengan hukum (wawancara dengan AKP Zulhadi,

S.H Kepala Unit 1 Reskrim Polresta Denpasar pada 21 Maret 2014 pukul 10.30

WITA)

46
47

2. Faktor penegak hukum

Salah satu kunci dari keberhasilan dalam penegakan hukum adalah

mentalitas atau kepribadian dari penegak hukumnya sendiri. Dalam kerangka

penegakan hukum dan implementasi penegakan hukum bahwa penegakan

keadilan tanpa kebenaran adalah suatu kebejatan. Penegakan kebenaran tanpa

kejujuran adalah suatu kemunafikan. Dalam rangka penegakan hukum oleh setiap

lembaga penegak hukum, keadilan dan kebenaran harus dinyatakan, terasa,

terlihat dan diaktualisasikan.58

3. Faktor sarana dan fasilitas

Sarana dan fasilitas yang mendukung mencakup tenaga manusia yang

berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai,

keuangan yang cukup. Tanpa sarana dan fasilitas yang memadai, penegakan

hukum tidak dapat berjalan dengan lancar dan penegak hukum tidak mungkin

menjalankan peranan semestinya (wawancara dengan IPDA I Nyoman Wijaya,

S.H Kasubnit 2 Unit 1 Reskrim Polresta Denpasar pada 21 Maret 2014 pukul

11.30 WITA )

4. Faktor instrumental

Yaitu perspektif materi hukum dan prosedur-prosedurnya. Hukum

merupakan gejala sosial masyarakat. Oleh karenanya hukum yang baik adalah

58
Barda Nawawi Arief, 2001, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan
Penanggulangan Kejahatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 23.
48

hukum yang dapat memahami dinamika kehidupan mayarakat, sehingga segala

kepentingan masyarakat akan terlindungi oleh hukum.59

Hukum yang tidak sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat akan

menimbulkan ketidakserasian yang pada akhirnya akan menimbulkan

ketidakpercayaan terhadap hukum.

Secara sosiologis proses pembentukan suatu undang-undang merupakan

upaya mengakomodasikan kepentingan masyarakat secara luas melalui sarana

partisipasi aktif dari masyarakat dalam merumuskan norma-norma yang sesuai

dengan harapan masyarakat. keterlibatan masyarakat yang diwakili oleh tokoh-

tokohnya dalam proses pembentukan undang-undang merupakan instrumen dalam

perspektif pembangunan hukum yang harus dilakukan secara bersama-sama

dengan pembentuk undang-undang agar nantinya peraturan yang telah dihasilkan

dapat berlaku baik secara filosofis, sosiologis maupun yuridis ( wawancara

dengan IPDA I Nyoman Wijaya, S.H Kasubnit 2 Unit 1 Reskrim Polresta

Denpasar pada 21 Maret 2014 pukul 11.30 WITA )

5. Faktor institusional

Faktor institusional dilihat dari perspektif penegak hukum dan sarana atau

fasilitas. Aparat penegak hukum meliputi Kehakiman, Kejaksaan, Kepolisian,

Kepengacaraan dan Lembaga Pemasyarakatan.

Institusi penegak hukum sebagai lembaga yang melindungi dan

mengayomi kehidupan warga negara merupakan alat perlengkapan negara yang

memiliki kedudukan dan peranan yang sangat dominan dalam penegakan hukum.

59
Muladi, 1995, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang, hal. 178.
49

Dalam hal pelaksanaan tugas yudisiil aparat penegak hukum dilengkapi

dengan wewenang yang diberikan oleh undang-undang. Hal ini berarti segala

tindakan aparat penegak hukum harus berdasarkan undang-undang.

Konsekwensinya adalah apabila aparat penegak hukum yang menjalankan

tugas berdasarkan wewenang yang dimilikinya tanpa berdasarkan undang-undang

dapat diganggu gugat.

Secara sistemik proses peradilan pidana menyangkut perilaku

menyimpang (deviant behaviour) yang diatasi oleh kepolisian. Polisi dengan

kewenangannya melakukan penyelidikan dan/atau penyidikan. Dari hasil

penyidikan tersebut kemudian dilimpahkan serta ditangani oleh kejaksaan.

Kejaksaan lalu mengajukan tuntutan dalam sidang pengadilan. Dari hasil

pemeriksaan dalam sidang pengadilan, hakim memberikan putusannya. Apabila

terbukti bersalah maka pelaku dikenakan sanksi pidana dan kemudian pembinaan

dilakukan oleh lembaga pemasyarakatan atau lembaga koreksi. 60

Pendekatan institusional dilihat dari perspektif sarana atau fasilitas

merupakan proses penegakan hukum sebagai upaya integral dalam mendukung

kelancaran tugas-tugas penegak hukum.

Kehidupan masyarakat dewasa ini yang begitu kompleks dan dinamis

memerlukan mobilitas penanganan yang cepat sehingga efektifitas dan efisiensi

operasional dapat dicapai secara maksimal. Sarana atau fasilitas tersebut antara

lain mencangkup sumber daya manusia penegak hukum yang berintegritas,

60
Atmasasmita, 2001, Reformasi Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Penegakan Hukum,
Bandung, CV Mandar Maju.
50

kelembagaan yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup dan lain-

lainnya.61

Penegak hukum yang tidak memiliki integritas dan keterampilan yang baik

akan mengalami kendala didalam penanganan suatu perkara. Para petugas

penegak hukum yang diharapkan oleh masyarakat mampu menangani berbagai

tindakan kriminal dalam masyarakat ternyata tidak memiliki kemampuan yang

memadai untuk menerapkan peraturan perundang-undangan secara baik.

Seringkali tuntutan yang diajukan oleh jaksa misalnya, dalam persidangan

ternyata tidak memiliki cukup bukti untuk diadakan penuntutan, ataupun kurang

cermat dalam merumuskan sesuatu delik. Hal ini akan berimplikasi pada

kekecewaan masyarakat terhadap integritas dan kemampuan SDM dari aparatur

penegak hukum serta kinerja kelembagaan yang tidak koordinatif antara

kepolisian dan kejaksaan.

Tersedianya peralatan yang memadai dan keuangan yang cukup secara

preventif memungkinkan dilakukan upaya-upaya pencegahan seperti melakukan

patroli keamanan di tempat-tempat yang dianggap rawan kejahatan, penyuluhan

hukum kepada masyarakat yang merupakan fungsi Binmas, dan upaya-upaya lain

yang ditujukan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kinerja lembaga

penegak hukum.

Seperti dikemukakan diatas, ketidak mampuan para penegak hukum

didalam menerapkan peraturan perundang-undangan dan kinerja kelembagaan

61
Saparinah Sadli, 1976, Persepsi Sosial Mengenai Perilaku Pidana Menyimpang,
hal. 56.
51

yang tidak koordinatif akan membawa pengaruh yang tidak baik dalam

masyarakat.

Mereka akan bertindak sendiri sesuai dengan hukum yang mereka anggap

adil dan keterbatasan dalam melakukan upaya pencegahan menjadikan ruang

menimbulkan tindakan pengadilan massa.

3.2. Faktor Non Penal

Kondisi seperti yang ada diatas adalah masalah-masalah yang akan sangat

sulit dipecahkan apabila hanya mengendalkan pendekatan penal saja. Oleh karena

itu pemecahan masalah ini harus didukung dengan pendekatan non-penal yaitu

pencegahan sebelum terjadinya kejahatan.

Berdasarkan keterangan diatas, maka dapat kita mengetahui bahwa

kejahatan berakar dari faktor-faktor yang berkaitan dengan lingkungan sosial

masyarakat sendiri. Penyelesaian masalah yang berkaitan dengan masyarakat

tidak akan dapat diselesaikan dengan pendekatan penal. Karena pendekatan penal

tidak dapat menyentuh penyebab kejahatan sampai ke akar-akar permasalahan.

Tujuan utama dari pendekatan non-penal adalah memperbaiki kondisi-

kondisi sosial tertentu, namun secara tidak langsung mempunyai pengeruh

pencegahan terhadap kejahatan. Usaha-usaha non penal ini antara lain misalnya

penyantunan dan pendidikan sosial dalam rangka mengembangkan tanggung

jawab sosial masyarakat; penggarapan kesehatan jiwa masyarakat melalui

pendidikan moral, agama dan sebagainya; peningkatan usaha-usaha kesejahteraan

anak dan remaja, kegiatan Karang Taruna, Pramuka, kegiatan pesantren kilat
52

selama liburan sekolah; kegiatan patroli dan pengawasan lainnya secara teratur

oleh polisi atau aparat keamanan lainnya; dan sebagainya. 62

1. Faktor masyarakat

Masyarakat mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pelaksanaan

penegakan hukum, sebab penegakan hukum berasal dari masyarakat dan

bertujuan untuk mencapai dalam masyarakat. Bagian yang terpenting dalam

menentukan penegak hukum adalah kesadaran hukum masyarakat. Semakin

tinggi kesadaran hukum masyarakat maka akan semakin memungkinkan

penegakan hukum yang baik. Semakin rendah tingkat kesadaran hukum

masyarakat, maka akan semakin sukar untuk melaksanakan penegakan hukum

yang baik ( wawancara dengan AKP Zulhadi, S.H Kepala Unit 1 Reskrim Polresta

Denpasar pada 21 Maret 2014, pukul 10.30 WITA )

Masyarakat yang heterogen dengan kompleksitas kehidupan yang serba

dinamis memerlukan upaya yang terpadu dalam menangani setiap konflik yang

timbul. Tidak saja penegak hukum sebagai penjaga keamanan akan tetapi

masyarakat sendiri haruslah berperan serta untuk ikut menjaga, memelihara dan

bertindak sesuai dengan norma-norma hukum.

Dalam mewujudkan hal tersebut, upaya untuk menciptakan kesadaran

hukum dalam masyarakat merupakan langkah yang harus dimulai dari aparatur

penegak hukum. Sejauhmana kepastian hukum telah ditegakkan dan sampai

dimana usaha-usaha yang dilakukan untuk menjaga, melindungi dan mengayomi

62
M. Hamdan, 2003, Politik Hukum Pidana, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, hal. 28.
53

kepentingan hukum masyarakat. Sangatlah penting diupayakan agar hukum

tampak lebih nyata dalam setiap tindakan aparat penegak hukum. 63

Terdapat kecenderungan yang besar pada masyarakat untuk mengartikan

hukum dan bahkan mengidentifikasikannya dengan petugas. Konsekwensinya

adalah bahwa baik buruknya hukum senantiasa dikaitkan dengan pola perilaku

penegak hukum tersebut, yang menurut mereka merupakan pencerminan dari

hukum sebagai struktur maupun proses.

Tidak setiap kegiatan atau usaha yang bertujuan supaya warga masyarakat

menaati hukum, menghasilkan kepatuhan tersebut. Ada kemungkinan bahwa

kegiatan atau usaha tersebut malahan menghasilkan sikap tindak yang

bertentangan dengan tujuannya. Misalnya, kalau ketaatan terhadap hukum

dilakukan dengan hanya mengetengahkan sanksi-sanksi negatif yang berwujud

hukuman apabila hukum dilanggar, maka mungkin warga masyarakat malahan

hanya taat pada petugas saja. Hal ini bukanlah berarti bahwa cara demikian selalu

menghasilkan ketaatan yang semu. Maksudnya adalah, apabila cara demikian

selalu ditempuh, maka hukum dan penegak hukum dianggap sebagai sesuatu yang

menakutkan.64

Penegakan hukum berasal dari masyarakat, dan bertujuan untuk mencapai

kedamaian didalam masyarakat. oleh karena itu dipandang dari sudut tertentu

maka masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum tersebut.

63
Barda Nawawi Arief, 1996, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung, hal. 1.
64
Soerjono Soekanto II, Op.Cit, hal 38
54

Masyarakat Indonesia pada khususnya, mempunyai pendapat-pendapat

tertentu mengenai hukum. Terdapat kecenderungan yang besar pada masyarakat,

untuk mengidentifikasikan hukum dengan petugas. Salah satu akibatnya adalah,

bahwa baik buruknya hukum senantiasa dikaitkan dengan pola perilaku penegak

hukum tersebut, yang menurut pendapatnya merupakan pencerminan dari hukum

sebagai struktur maupun proses.

Apabila kita mencermati kembali data yang telah diuraikan dimuka,

adanya kasus-kasus yang belum diselesaikan oleh kepolisian menurut M. Sabir,

akan menjadi side effect dalam masyarakat. masyarakat akan mengikuti perbuatan

tersebut. Walaupun mereka mengetahui bahwa tindakan menghakimi sendiri

tersebut sebagai suatu tindak pidana namun terhadap perbuatan yang sama tidak

dilakukan penangkapan dan atau penahanan. Dan melegitimasikan tindakannya

tersebut dengan mengatasnamakan masyarakat desa. Oleh karenanya untuk

menekan terjadinya tindakan main hakim sendiri tersebut pihak kepolisian harus

mengambil tindakan penyelidikan atau penyidikan. ( Wawancara dengan Hadi

Masruni, S.H., M.Hum, Hakim Pengadilan Negeri Denpasar pada 28 Maret 2016

pukul 9.30 WITA )

Tidak setiap kegiatan atau usaha yang bertujuan supaya warga masyarakat

menaati hukum, menghasilkan kepatuhan tersebut. Ada kemungkinan bahwa

kegiatan atau usaha tersebut malahan sebaliknya. Misalnya, kalau ketaatan

terhadap hukum dilakukan hanya mengetengahkan sanksi-sanksi negatif, maka

mungkin masyarakat malahan hanya taat pada saat ada petugas saja. Hal ini akan
55

menhasilkan ketaatan yang semua. Apabila cara demikian ditempuh maka hukum

dan penegak hukum dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan.65

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa anggapan-anggapan dari

masyarakat tersebut harus mengalami perubahan-perubahan dalam kadar tertentu.

Perubahan-perubahan tersebut dapat dilakukan melalui penerangan atau

penyuluhan hukum yang berkesinambungan. Agar nantinya akan dapat

menempatkan hukum pada kedudukan dan peranan yang semestinya.

2. Faktor Kebudayaan

Kebudayaan Indonesia merupakan dasar dari berlakunya hukum adat.

Berlakunya hukum tertulis (perundang-undangan) harus mencerminkan nilai-nilai

yang menjadi dasar hukum adat. Dalam penegakan hukum, semakin banyak

penyesuaian antara peraturan perundang-undangan dengan kebudayaan

masyarakat, maka akan semakin mudahlah dalam menegakannya. Apabila

peraturan-peraturan perundang- undangan tidak sesuai atau bertentangan dengan

kebudayaan masyarakat, maka akan semakin sukar untuk melaksanakan dan

menegakkan peraturan hukum.

Masyarakat yang heterogen dengan kemajemukan adat istiadat, agama,

suku, ras memiliki pengaruh yang rentan menimbulkan konflik. Hukum sebagai

kebudayaan memiliki tatanan nilai-nilai yang ditaati oleh masyarakat. Nilai-nilai

tersebut mencerminkan tingkah laku masyarakat tentang apa yang boleh dilakukan

dan apa yang tidak boleh diperbuat.

65
Surachmin dan Suhandi Cahaya, 2011, Strategi & Teknik Korupsi Mengetahui Untuk
Mencegah Sinar Grafika, Jakarta, hal. 187.
56

Didalam kehidupan sosial kemasyarakatan hukum dianggap sebagai

pengejewantahan dari nilai-nilai adat istiadat yang harus dipertahankan. Jika

terjadi ancaman maka mereka berkewajiban mempertahankannya. tindakan

masyarakat didalam mengambil suatu keputusan terkadang arogan jika ancaman

itu telah menyinggung area sensitif nilai-nilai yang mereka anut. Tindakan-

tindakan seperti penyerangan terhadap kelompok lain, pembakaran, penganiayaan

merupakan ungkapan perlawanan dari ancaman tersebut.

Perilaku kolektif yang agresif destruktif tersebut memunculkan fenomena

kekerasan yang sangat merugikan dalam kehidupan berdemokrasi. Dan jika hal ini

tidak diantisipasi akan menjadi preseden buruk terhadap penegakan hukum.

Demikianlah uraian dari bab III ini yang jika kita menarik kesimpulan dari

hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa penegak hukum memiliki pengaruh

yang signifikan dalam hal terjadinya tindakan main hakim sendiri.

Sebagai suatu sistem, hukum mencakup struktur, substansi dan

kebudayaan. Kebudayaan (system) hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai

yang mendasari hukum yang berlaku, nilai-nilai mana merupakan konsepsi-

konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik (sehingga dianuti) dan apa

yang dianggap buruk (sehingga dihindari). Nilai-nilai tersebut, lazimnya

merupakan pasangan nilai-nilai yang mencerminkan dua keadaan ekstrim yang

harus diserasikan.66

Pasangan nilai-nilai yang berperanan dalam hukum adalah sebagai berikut :

(1) Nilai ketertiban dan nilai ketenteraman.

66
Soerjono Soekanto II, Op.Cit, hal. 47
57

Pasangan nilai-nilai ini sebenarnya sejajar dengan nilai kepentingan umum

dan kepentingan pribadi. Pasangan nilai ketertiban dan nilai ketenteraman

merupakan pasangan nilai universal. Mungkin keserasiannya berbeda menurut

keadaan masing-masing kebudayaan, dimana pasangan nilai itu diterapkan.

Di Indonesia hukum adat merupakan hukum kebiasaan yang berlaku di

kalangan rakyat terbanyak. Disamping berlaku pula hukum tertulis (perundang-

undangan). Hukum tertulis (perundang-undangan) tersebut harus dapat

mencerminkan nilai-nilai yang menjadi dasar dari hukum adat agar supaya

perundang-undangan tersebut dapat berlaku efektif.

(2) Nilai jasmaniah/kebendaan dan nilai rohaniah/keakhlaan.

Pasangan nilai-nilai kebendaan dan keakhlaan, juga merupakan pasangan

nilai yang bersifat universal. akan tetapi didalam kenyataan pada masing-masing

masyarakat timbul perbedaan-perbedaan karena pelbagai macam pengaruh.

Pengaruh dari kegiatan-kegiatan modernisasi di bidang materil misalnya, tidak

mustahil akan menempatkan nilai kebendaan pada posisi yang lebih tinggi

daripada nilai keakhlaan, sehingga akan menimbulkan pula suatu keadaan yang

tidak serasi. Salah satu akibat daripada penempatan nilai kebendaan pada posisi

lebih tinggi adalah bahwa didalam proses pelembagaan hukum dalam masyarakat,

sanksi-sanski negatif lebih dipentingkan daripada kesadaran untuk mematuhi

hukum.

(3) Nilai kelanggengan / konservatisme dan nilai kebaruan / inovatisme.

Pasangan nilai konservatisme dan nilai inovatisme senantiasa berperan

didalam perkembangan hukum, oleh karena disatu pihak ada yang menyatakan
58

bahwa hukum hanya mengikuti perubahan yang terjadi dan bertujuan untuk

mempertahankan status quo.

Dilain pihak ada anggapan-anggapan yang kuat pula, bahwa hukum juga

dapat berfungsi sebagai sarana untuk mengadakan perubahan dan menciptakan

hal-hal baru. Keserasian antara kedua nilai tersebut akan menempatkan hukum

pada kedudukan dan peranan yang semestinya.

Dari uraian tersebut diatas, kelima faktor itu mempunyai pengaruh

terhadap penegakan hukum. mungkin pengaruhnya positif dan mungkin juga

negatif.

Diantara kelima faktor tersebut, maka faktor penegak hukum menempati

titik sentral didalam penegakan hukum, oleh karena undang-undang disusun oleh

penegak hukum, penerapannya dilaksanakan oleh penegak hukum dan penegak

hukum dianggap sebagai golongan panutan oleh masyarakat. baik atau buruknya

perilaku penegak hukum dianggap mencerminkan hukum itu sendiri.

Tanpa adanya sarana atau fasilitas tertentu, maka tidak mungkin

penegakan hukum akan berlangsung dengan lancar. Sarana atau fasilitas tersebut,

antara lain mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi

yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup, dan seterusnya. Kalau

hal-hal itu tidak terpenuhi, maka mustahil penegakan hukum akan mencapai

tujuannya.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa secara kwalitatif dari tunggakan

kasus yang belum diselesaikan menurut I Gde Ginarsa, S.H, Hakim Pengadilan

Negeri Denpasar :
59

1) Tidak adanya bukti yang cukup untuk melakukan tindakan penangkapan

dan atau penahanan.

2) Kasus tersebut diselesaikan secara damai oleh masing-masing pihak.

3) Untuk menjaga kepentingan umum yang lebih besar sehingga terhadap

kasus-kasus tertentu tidak diambil tindakan ( wawancara dengan I Gde

Ginarsa, S.H, Hakim Pengadilan Negeri Denpasar pada 28 Maret 2016

pukul 10.30 WITA )

Dari apa yang disebutkan diatas menunjukan bahwa kemampuan SDM

dari aparat kepolisian masih perlu ditingkatkan profesionalismenya baik personal

maupun institusinya. Hal itu dapat dilihat dari beberapa faktor, antara lain :

(1) Sebagai petugas penegak hukum kepolisian memiliki kewenangan sebagai

penyelidik / penyidik untuk mengungkap suatu peristiwa tindak pidana, sehingga

dengan kewenangannya tersebut sangat mustahil tidak memperoleh bukti-bukti

untuk melakukan penangkan dan atau penahanan.

(2) Perdamaian dalam tindak pidana tidak dimungkinkan karena hukum pidana

sebagai hukum publik memiliki sifat memaksa. Sehingga setiap tindak pidana

yang dilakukan harus dilakukan proses hukum.

(3) Kepentingan umum yang lebih besar tersebut harus didifinisikan lebih lanjut,

karena tidak semua tindak pidana yang dilakukan tidak dipidana. Kasus-kasus

yang dikwalifikasikan sebagai tindak pidana main hakim sendiri seharusnya

ditangani secara serius oleh kepolisian, sekalipun tindak pidana yang dilakukan

tersebut mengatasnamakan desa misalnya atau dilakukan oleh seorang pejabat

penting, bukan berarti hukum harus dikorbankan.


60

Dengan demikian dapat dikatakan disini bahwa sarana untuk

meningkatkan kemampuan dan keterampilan SDM kepolisian harus juga

diperhitungkan. Tanpa kemampuan dan keterampilan yang memadai dari aparat

penegak hukum tersebut mustahil akan dapat mengatasi tingkat kriminalitas yang

dewasa ini semakin meningkat dengan modus operasi baru.


BAB IV

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAKAN MAIN HAKIM

SENDIRI (EIGENRECHTING )

4.1. Tindakan Main Hakim Sendiri Sebagai Tindakan Melawan Hukum

Mengenai hal ini dapat dijelaskan beberapa hal menyangkut tindakan main

hakim sendiri sebagai tindakan melawan hukum, yaitu :

a. Sifat melawan hukum dari tindakan main hakim sendiri.

Menghakimi sendiri (eigenrechting) ini memiliki hubungan erat dengan

sifat melanggar hukum dari setiap tindak pidana. Biasanya dengan suatu tindak

pidana seseorang menderita kerugian dan untuk meniadakan kerugian itu orang

tersebut melakukan suatu perbuatan tanpa menunggu alat-alat negara, perbuatan

mana dilakukan dengan menggunakan kekerasan yang dapat masuk dalam

perumusan tindak pidana.67

Dengan dinyatakannya sesuatu perbuatan dapat dipidana, maka pembentuk

undang-undang memandang bahwa perbuatan itu adalah bersifat melawan hukum.

Sifat melawan hukum ini adalah unsur yang mutlak dari perbuatan pidana.68

Dengan mengakui bahwa sifat melawan hukum selalu menjadi unsur

perbuatan pidana, ini tidak berarti bahwa karena itu harus selalu dibuktikan

adanya unsur tersebut oleh penuntut umum. Soal apakah harus dibuktikan atau

tidak, adalah tergantung dari rumusan delik yaitu apakah dalam rumusan unsur

67
Soerjono Soekanto II, loc.cit.
68
Roeslan Saleh, 1983, Sifat Melawan Hukum Dari Perbuatan Pidana, Cet.IV, Aksara
Baru, Yogyakarta, September, hal. 10.

61
62

tersebut disebutkan nyata-nyata. Jika dalam rumusan delik unsur tersebut tidak

dinyatakan, maka juga tidak perlu dibuktikan. Pada umumnya dalam perundang-

undangan kita, lebih banyak delik yang tidak memuat unsur melawan hukum

didalam rumusannya.69

Moelyatno maupun Roeslan Saleh berpendapat, bahwa jika unsur melawan

hukum tidak tersebut dalam rumusan delik, maka unsur itu dianggap dengan

diam-diam telah ada, kecuali jika dibuktikan sebaliknya oleh pihak terdakwa.

Jika demikian halnya maka, tindakan main hakim sendiri merupakan

tindakan melawan hukum, karena dalam perbuatannya itu, seseorang melakukan

kekerasan, perbuatan mana yang dilakukan masuk dalam perumusan tindak

pidana.

Sifat melawan hukumnya tindakan main hakim sendiri tersebut terletak

pada kekerasan yang dilakukan. Karena dalam meniadakan kerugian tersebut

seseorang telah melampaui batas pembelaan dalam meniadakan kerugian yang

dideritanya itu.

b. Pertanggungjawaban pidana dalam tindakan main hakim sendiri.

Perbuatan pidana hanya menunjuk kepada dilarang dan diancamnya

perbuatan dengan suatu pidana. apakah orang yang melakukan perbuatan

kemudian juga dijatuhi pidana, sebagaimana telah diancamkan, ini tergantung dari

soal apakah dalam melakukan perbuatan ini dia mempunyai kesalahan. Sebab azas

dalam pertanggungjawaban pidana ialah tidak dipidana jika tidak ada kesalahan

(geen straf zonder schuld).

69
Moelyatno, Op.Cit, hal. 134.
63

Dengan demikian ternyata, bahwa orang dapat dikatakan mempunyai

kesalahan, jika dia pada waktu melakukan perbuatan pidana, dilihat dari segi

masyarakat dapat dicela. Perbuatan mana dilakukan baik dengan sengaja ataupun

karena suatu kelalaian.

Tindakan main hakim sendiri dalam hal tertentu dianggap sebagai

perbuatan yang mutlak diperlukan. Berdasarkan atas pasal 49 ayat 1 KUHP

tentang pembelaan (noodweer), si korban berhak melakukan kekerasan ini, asal

tentunya kekerasan yang dilakukan itu tidak melampaui batas dan seimbang

dengan kepentingan yang dibela. Hal itu berarti menghakimi sendiri

(eigenrechting) ada kalanya diperbolehkan artinya tidak melanggar hukum dan

dari itu bukan merupakan tindak pidana.

Didalam pasal 49 ayat 1 KUHP dinyatakan, bahwa barangsiapa terpaksa

melakukan perbuatan untuk pembelaan karena ada serangan atau ancaman

serangan ketika itu yang melawan hukum terhadap diri sendiri maupun orang lain

terhadap kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, tidak

dipidana.

Dalam konteks penegakan hukum, pertanggungjawaban pidana dari

tindakan main hakim sendiri dengan pembelaan yang dilakukan berdasarkan pasal

49 ayat 1 KUHP (noodweer), maka yang menjadi soal adalah :

Pertama, ialah bahwa perbuatan yang dimaksud dalam pasal 49 ayat 1 KUHP

diatas, harus berupa pembelaan. Artinya lebih dahulu harus ada hal-hal memaksa

terdakwa melakukan perbuatannya. Terpaksa yaitu pembelaannya harus bersifat


64

terpaksa, artinya tidak ada jalan lain bagi yang terkena untuk pada saat-saat itu

menghalau serangan. 70

Maka dalam kata terpaksa melakukan pembelaan ada 3 pengertian yaitu :

1). Harus ada serangan atau ancaman serangan.

2). Harus ada jalan lain untuk menghalaukan serangan atau ancaman serangan

pada saat itu. Artinya antara saat melihatnya ada serangan dan saat

mengadakan pembelaan tidak ada jarak waktu yang lama. Begitu ada

serangan seketika itu juga dia mengadakan pembelaan.

3). Perbuatan pembelaan harus seimbang dengan sifatnya serangan atau ancaman

serangan

Kedua, adalah mengenai kepentingan macam apa saja yang harus diserang

sehingga dibolehkan pembelaan. Ada 3 hal yang masing-masing baik kepunyaan

sendiri maupun kepunyaan orang lain, yaitu :

1). Diri atau badan orang.

2). Kehormatan, kesusilaan (eerbarheid)

3). Harta benda orang

Ketiga, ialah bahwa serangannya harus bersifat melawan hukum. Hanya terhadap

gangguan yang melawan hukum, orang yang terkena mempunyai hak atau

wewenang untuk mengadakan pembelaan.

Dari hal tersebut diatas menunjukkan bahwa tindakan main hakim sendiri

(eigenrechting), merupakan tindak pidana, karena :

70
Moelyatno, Op.Cit, hal. 144.
65

1). Pembelaan yang dilakukan bukan pada saat mendapat ancaman serangan atau

dengan kata lain telah lewat waktu dari saat mendapat serangan dengan waktu

melakukan pembelaan.

2). Pembelaan yang dilakukan tersebut melampaui batas dari kepentingan yang

dibelannya, maka dari hal itu perbuatan tersebut dilarang dan bersifat melawan

hukum.

3). Pertanggungjawaban dari masing-masing pelaku tindak pidana yang dapat

dihukum sebagai orang yang melakukan dapat dibedakan menjadi :

(a) Orang yang melakukan (plegen)

Orang yang melakukan sendiri segala anasir atau elemen dari tindak pidana.

(b) Orang yang menyuruh melakukan (doenplegen).

Disini sedikitnya ada dua orang, yang menyuruh (doenplegen) dan yang

disuruh (plegen). Jadi bukan orang itu sendiri yang melakukan, tetapi ia

menyuruh orang lain, meskipun demikian toh ia dipandang dan dihukum

sebagai orang yang melakukan sendiri. Yang disuruh itu harus hanya

merupakan alat (instrument) saja dan ia tidak dapat dihukum karna tidak

dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, A berniat mencuri sepeda yang

diparkir di areal swalayan, karena tidak berani melakukan sendiri, lalu A

menyuruh C untuk mengambilnya dengan mengatakan sepeda itu miliknya,

sedangkan A sendiri menunggu dari kejauhan.

Jika C jadi mengambil sepeda itu, ia tidak dapat dipersalahkan mencuri

karena elemen sengaja tidak ada, oleh karenanya tidak dapat

dipertanggungjawabkan.
66

(c) Orang yang turut melakukan (medeplegen).

Disini sedikitnya harus ada 2 orang, yaitu orang yang melakukan dan orang

yang turut melakukan perbuatan pidana. Disini kedua orang itu secara

bersama-sama mewujudkan segala anasir atau elemen dari tindak pidana.

Dalam hal ini membantu melakukan (medeplichtige) dari pasal 56 KUHP

dapat dihukum.

(d) Orang yang dengan sengaja membujuk melakukan (uitlokking).

Pertanggungjawaban pembujuk dibatasi hanya pada apa yang dibujukkan

untuk dilakukan serta akibatnya. Perbuatan membujuk harus memakai cara-

cara seperti dengan pemberian atau salah memakai kekuasaan.

Disini sedikitnya harus ada dua orang, ialah orang yang membujuk dengan

yang dibujuk. Orang yang dibujuk itu dapat dihukum juga sebagai plegen.

Dalam kasus yang telah terjadi tindak pidana pembunuhan yang dilakukan oleh :

1. Nama Lengkap : Drs. I Made Sudana

2. Tempat Lahir : Singaraja

3. Umur/Tgl Lahir : 47 tahun

4. Jenis Kelamin : Laki-laki

5. Kebangsaan : Indonesia

6. Tempat Tinggal : Jln. Akasia I No. 10 Denpasar

7. Agama : Hindu

8. Pekerjaan : Wiraswasta

Adapun duduk persoalannya adalah Bahwa terdakwa Drs. I Made Sudana,

pada hari Jumat tanggal 24 Januari 2004, sekitar pukul 23.30 Wita, yang
67

bertempat tinggal di Jalan Akasia I Denpasar Timur, Kodya Dati II Denpasar, Br.

Buaji Sari, Desa Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Madya

Daerah Tingkat II Denpasar, Propinsi Daerah Tingkat I Bali, telah melakukan

pembunuhan terhadap diri korban I Nyoman Gede Kondra.

Yang dilakukan dengan cara : Ia terdakwa dengan membawa alat berupa

sabit atau setidaknya suatu alat yang bermata tajam telah mendatangi korban I

Nyoman Gede Kondra yang sedang duduk bersama istri terdakwa bernama Ni

Luh Slamet di sebuah Kijang DK-1891 JY yang diparkir disamping rumah

terdakwa di Jalan Akasia I, lalu terdakwa mengedor pintu sebelah kanan tempat

korban duduk dengan mengatakan tolong buka, kemudian setelah pintu dibuka

dan saat korban turun terdakwa melaksanakan maksudnya dengan sengaja

menyabet tubuh korban dengan menggunakan sabit atau setidaknya suatu alat

yang bermata tajam berkali-kali, kemudian korban berusaha merebut sabit

tersebut dan dapat lolos dan lari ke arah belakang mobil tersebut sambil berusaha

membuka pintunya, namun terdakwa mengejar dan menyabit tangan korban, lalu

korban lari menuju arah mobil, namun terdakwa tetap mengejarnya sambil

menyabit tubuh korban beberapa kali sehingga tangkai sabit tersebut patah,

selanjutnya terdakwa lari mengambil parang/blakas atau setidaknya alat yang

bermata tajam dari rak garasi di depan rumahnya, kemudian menebas tubuh

korban antara lain pada bagian kepala beberapa kali hingga tangkai blakas patah

dan korban terjatuh, selanjutnya untuk memastikan korban meninggal dunia lalu

terdakwa mengambil cangkul dari gang kecil sebelah selatan rumahnya, kemudian

cangkul tersebut digunakan terdakwa untuk mencangkul tubuh korban yang

mengena pada bagian kepala, bahu, lengan, mendapat luka terbuka yang banyak
68

mengeluarkan darah. Karena luka, korban yang bernama I Nyoman Gede Kondra

telah meninggal dunia sebagaimana disebutkan dalam visum Et Repertum nomor :

KF-27/VR/I/2003 tanggal 25 Januari 2003, yang dibuat dan ditandatangani oleh

dokter I Made Maker, Sp.F, selaku dokter pemerintah pada laboratorium Ilmu

Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar yang dalam

kesimpulan pada pokoknya menyatakan meninggalnya korban disebabkan oleh

karena kekerasan benda tajam pada kepala samping kanan yang mengakibatkan

patah tulang kepala disertai robeknya jaringan otak besar, otak kecil, dan batang

otak.

Bahwa di muka persidangan telah dibacakan visum et repertum No. KF-

27/VR/I/2003 tanggal 25 Januari 2003 yang dibuat dan ditandatangani oleh dokter

I Made Marker, Sp.F selaku dokter pemerintah dalam laboratorium ilmu

kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar yang pada pokok

kesimpulannya menyatakan : Meninggalnya korban disebabkan oleh karena

kekerasan benda tajam pada kepala samping kanan yang mengakibatkan patah

tulang kepala disertai robeknya otak besar, otak kecil dan batang otak.

Bahwa terdakwa di muka persidangan oleh jaksa penuntut umum telah

didakwa dengan dakwaan alternative artinya apabila dakwaan primair telah

terbukti maka dakwaan subsidair tidak perlu dipertimbangkan lagi.

Menimbang, bahwa dakwaan tersebut adalah ;

1. Primair melanggar pasal 338 KUHP

2. Subsidair melanggar pasal 354 ayat (2) KUHP

3. Lebih Subsidair melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP


69

Menimbang, bahwa berdasarkan pasal 183 KUHAP disebutkan bahwa

hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan

sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa

suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah

melakukannya.

Adapun alat bukti yang sah menurut pasal 184 KUHAP ialah :

(a) keterangan saksi;

(b) keterangan ahli;

(c) surat;

(d) petunjuk;

(e) keterangan terdakwa.

Menimbang, Bahwa untuk menetapkan bersalah tidaknya terdakwa, maka

unsur-unsur dari pasal yang didakwakan kepada terdakwa harus dibuktikan

terlebih dahulu.

Bahwa unsur-unsur dari pasal 338 KUHP dalam dakwaan primair adalah :

1. Unsur Barang Siapa

Menimbang, bahwa barang siapa yang dimaksud adalah siapa saja yang

dapat mempertanggungjawabkan dalam peristiwa pidana.

Menimbang, bahwa unsur ini dapat dibuktikan di muka persidangan yaitu

dari keterangan para saksi yang dihubungkan dengan barang bukti juga pengakuan

terdakwa maka barang siapa yang dimaksud dalam perkara ini adalah benar

terdakwa Drs. I Made Sudana yang pada hari Jumat tanggal 24 Januari 2003

sekitar pukul 23.30 Wita di sebelah utara rumah terdakwa di Jalan Akasia I No. 10
70

termasuk Br. Buaji Sari, Desa Sumerta Kelod Kecamatan Denpasar Timur Kota

Denpasar telah menghilangkan nyawa orang lain yaitu I Nyoman Gede Kondra.

Menimbang, bahwa dengan demikian unsur barang siapa telah dapat

dibuktikan dengan sah dan menyakinkan.

2. Unsur Dengan Sengaja

Bahwa KUHP tidak memberi batasan tentang apa yang dimaksud dengan

kesengajaan tentang dasar penjelasan Undang-undang itu sendiri disebutkan

bahwa seseorang yang melakukan perbuatan dengan sengaja haruslah dikehendaki

atau diinsyapi atau akibat perbuatan itu.

3. Unsur Menghilangkan Nyawa Orang Lain

Menghilangkan nyawa orang lain berarti juga membuat orang lain

meninggal dunia, bahwa yang dimaksud orang lain dalam perkara ini adalah

korban yaitu I Nyoman Gede Kondra.

Menimbang, bahwa unsur ini dapat dibuktikan dari keterangan saksi-saksi

yang didengarkan keterangannya dengan dibawah sumpah yang juga telah

dibenarkan dan diakui oleh terdakwa sendiri serta adanya barang bukti yang satu

sama lain saling berhubungan maka terbukti bahwa terdakwa telah menyabit dan

menebas tubuh korban berkali-kali lalu terdakwa mencangkulinya sehingga

korban meninggal seketika ditempat kejadian.

Bahwa hal ini juga diperkuat dengan adanya visum et repertum No.

KF/27/FR/I/2003, tanggal 25 Januari 2003 yang dibuat dan ditandatangani oleh

doktor I Made Marker Sp.F., selaku Doktor pemerintah pada laboratorium ilmu
71

kedokteran forensik RSUP Sanglah Denpasar yang dalam kesimpulannya pada

pokoknya menyatakan bahwa :

Meninggalnya korban disebabkan oleh karena kekerasan benda tajam pada kepala

samping kanan yang mengakibatkan patah tulang kepala disertai robeknya

jaringan otak besar, otak kecil dan batang otak.

Terhadap hal ini majelis tidak sependapat karena : Menurut Yuris Prudensi

RI MA tanggal 2 Januari 1980 No. 1295/PID/1980, kesengajaan untuk

menghilangkan nyawa orang lain dapat dibuktikan dengan alat yang dipergunakan

untuk melakukan tindak pidana tersebut dan tepat pada korban yang dilukai alat

itu.

Menimbang bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan

telah terbukti bahwa belati yang digunakan untuk melukai korban adalah berupa

sabit, belakas dan cangkul yang semuanya bermata tajam dan terdakwa

mengayunkan ke korban berkali-kali diarahkan ke kepala korban yang merupakan

bagian tubuh yang paling vital dan dari akibat luka yang ditimbulkan dapat

menimbulkan kematian seketika.

4.2. Tindakan Main Hakim Sendiri Dan Penegakan Hukum

Sebelum menguraikan mengenai tindakan main hakim sendiri terlebih

dahulu di ulas mengenai penegakkan hukum. Dalam kitab undang-undang Hukum

Acara Pidana (KUHAP) telah diatur dan ditentukan Unsur-Unsur penegak hukum,

yang terdiri dari Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan. Namun demikian tidak

terdapat batasan pengertian tentang penegakan hukum itu sendiri. Oleh karena
72

tidak ada pengaturan dalam Undang-Undang, maka penulis mencari pandangan

dari para pakar di bidang hukum, yakni : Satjipto Rahardjo mengatakan : dalam

teori ada dua macam kualitas penegakan hukum minimalis mengajarkan tuntutan

yang cukup sederhana, yaitu agar ia dijalankan sesuai dengan prosedur yang telah

ditentukan (secara formal). Lebih dari itu tidak ada tuntutan lagi. Sedangkan

konsep ideais, orang tidak lagi hanya berpedoman kepada prosedur yang telah

ditentukan, melainkan juga mengembangkan kepekaan terhadap tuntutan ideal

dalam masyarakat.71

Dengan demikian pengertian penegakan hukum minimalis mengandung

arti penegakan hukum yang didasarkan pada prosedur formal sesuai peraturan

perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan penegakan hukum idealis adalah

penegakan hukum yang tidak didasarkan pada prosedur formal belaka, tetapi

harus pula memperhatikan dan mengembangkan kepekaan terhadap tuntutan

masyarakat yang berkembang secara dinamis.

Model Penegakan Hukum dengan Konsep Ideal tersebut, menurut penulis

sangat memadai dalam menampung aspirasi masyarakat untuk memberantas,

dimana penegakan hukum yang dijalankan sesuai prosedur yang telah ditentukan

secara formal tidak mampu menyelesaikan kasus-kasus tindakan main hakim

sendiri yang mengikat kuantitas dan kualitasnya.

Sejalan dengan pandangan Satjipto Rahardjo, Muladi mengatakan.

Penegakan hukum (law enforcement) merupakan usaha untuk menegakan norma-

71
Satjipto Rahardjo, 1998, Sumbangan Pemikiran Tertulis Dalam Diskusi Mennagkap
Rasa Keadilan Masyarakat Oleh Penegak Hukum, 18 Juli 1988, Diterbitkan : Yayasan Keadilan
Jakarta. Hal. 154.
73

norma hukum dan sekaligus nilai-nilai yang ada dibelakang norma tersebut.

Dengan demikian para penegak hukum harus memahami benar-benar spirit

hukum (legal spirit) yang mendasari peraturan hukum yang harus ditegakan dan

hal ini berkaitan dengan berbagai dinamika yang terjadi dalam proses pembuatan

perundang-undangan.72

Pada bagian lain Muladi mengatakan Penegakan hukum yang ideal harus

disertai dengan kesadaran bahwa penegakan hukum merupakan sub sistem sosial,

sehingga pengaruh lingkungan cukup berarti seperti pengaruh perkembangan

politik, ekonomi, sosial budaya, hankam, iptek, pendidikan dan sebagainya.73

Sorjono Soekanto mengatakan Penegakan hukum itu sendiri merupakan suatu

proses penyesuaian antara nilai-nilai, kaidah-kaidah dan sikap tindak atau

perilaku.

Dengan demikian usaha penegakkan hukum sebenarnya dipengaruhi oleh

beberapa faktor seperti :

(a) Hukumnya sendiri

(b) Kepribadian (terutama sikap tindak) penegak hukum

(c) Fasilitas kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat

(d) Taraf kesadaran dan kepatuhan masyarakat

(e) Kebudayaan yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan.74

72
Muladi, 1997, Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana, Badan
Penerbit Universitas Diponegoro Semarang, hal. 69.
73
Tresno R, 1995, Azas-azas Hukum Pidana, Jakarta, PT. Tiara Ltd, hal. 45.
74
Soerjono Soeknato, 1988, Mennagkap Rasa Keadilan Masyarakat Oleh Penegak
Hukum Diskusi Pemikir Hukum Indonesia, Yayasan Keadilan, Jakarta, hal. 29.
74

Sedangkan Sudarto mengatakan : Penegakan hukum itu diwujudkan dengan

pemberian sanksi. Salah satu sanksi adalah sanksi pidana.75 Selain pandangan

para sarjana, seminar hukum nasional ke IV tahun 1979 memberikan batasan

pengertian penegakan hukum yaitu : Penegakan hukum adalah keseluruhan

kegiatan dari para pelaksana penegak hukum ke arah tegaknya hukum, keadilan

dan perlindungan terhadp harkat dan martabat manusia, ketertiban, ketentraman

dan kepastian hukum sesuai dengan UUDNRI 1945.

Mantan Jaksa Agung Sukarton Marmosoedjono mengemukakan pula :

bahwa penegakan hukum merupakan komitmen dan tanggung jawab terhadap

baik aparatur negara dan penasehat hukum yang sering kami sebut sebagai

suprasrukur penegak hukum, maupun organisasi-organisasi profesi dan

masyarakat yang memiliki kesadaran hukum yang sering kami sebut infrasruktur

penegak hukum76. Termasuk pula dalam hal ini para cendikiawan dan tokoh-

tokoh masyarakat yang memiliki peranan dan pengaruh tertentu untuk

memberikan atau menanamkan restrasi dan kesadaran hukum masyarakat pada

umumnya.

Unsur-unsur penegak hukum secara tegas diatur dalam KUHAP yaitu Bab

IV pasal 4 s/d 15 bagian ke satu tentang penyelidik dan penyidik, bagian ke tiga

pasal 13 s/d 15 tentang Penuntut Umum, bab 10 mengatur tentang wewenang

pengadilan untuk mengadili : yakni bagian kesatu tentang Praperadilan Paal 77 s/d

83, bagian kedua tentang Pengadilan Negeri (pasal 84s/d 86), bagian ketiga

75
Sudarto, 1977, Hukum dan Hukum Pidana, Alimni Bandung, hal. 80
76
Sukarton Marmosoedjono, Acuan Untuk Penegak Hukum Mewujudkan Keadilan,
Yayasan Keadilan, Jakarta, hal. 20.
75

tentang Pengadilan Tinggi (Pasal 87), bagian keempat tentang Mahkamah Agung

(Pasal 88). Pada Bab XI diatur tentang koneksitas (Pasal 89 s/d 94), serta tentang

Lembaga Pemasrayarakatan secara tersirat diatur dalam pasal 281 dan pasal 282

KUHAP.

Selain itu menurut Romli Atmasasmita, komponen sistem peradilan pidana

yang lazim diakui, baik dalam pengetahuan mengenai kebijakan pidana (criminal

policy) maupun dalam lingkup praktek penegakan hukum, terdiri atas unsur-unsur

kepolisian, kejaksaaan pengadilan dan lembaga permasyaarakatan.77

Di samping itu Arif Gosita juga mengemukakan : bahwa usaha

penegakan hukum yang selaras dengan pembangunan nasional (mental, fisik dan

sosial) wajib dilakukan oleh setiap warga masyarakat dengan berbagai upaya

aturan dan kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan, membina, memelihara,

memulihkan dan mengembangkan kesejahteraan sosial.78

Tindakan main hakim sendiri terhadap penegakkan hukum, agar undang-

undang tersebut mempunyai dampak yang positif. Artinya agar supaya undang-

undang tersebut tercapai tujuannya, sehingga efektif. Azas-azas tersebut antara

lain :

(1) Undang-undang tidak berlaku surut. Artinya undang-undang hanya boleh

diterapkan terhadap peristiwa yang disebut didalam undang-undang tersebut,

serta terjadi setelah undang-undang itu dinyatakan berlaku.

77
Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana Perspektif Eksistensialisme
78
Arif Gisita, 1980, Usaha Penegakan Hukum dan Victimisasi Struktural, seminar
Kriminologi Ke IV, UNDIP, Semarang, hal. 19.
76

(2) Undang-undang yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi, mempunyai

kedudukan yang lebih tinggi pula.

(3) Undang-undang yang bersifat khusus menyampingkan undang-undang yang

bersifat umum (lex specialis derogat lex generalis). Artinya terhadap suatu

perbuatan yang diatur didalam ketentuan umum, namun juga diatur dalam

ketentuan khusus maka ketentuan khususlah yang berlaku, terkecuali

disebutkan lain dalam undang-undang itu.

(4) Undang-undang yang berlaku belakangan membatalkan undang-undang yang

berlaku terdahulu. Artinya, undang-undang lain yang lebih dahulu berlaku

dimana diatur mengenai suatu hal tertentu, tidak berlaku lagi apabila ada

undang-undang baru yang berlaku belakangan yang mengatur pula hal

tertentu tersebut, akan tetapi makna atau tujuannya berbeda demean undang-

undang lama tersebut.

(5) Undang-undang tidak dapat diganggu gugat.

(6) Undang-undang merupakan sarana untuk mencapai kesejahteraan spiritual dan

materiil bagi masyarakat maupun pribadi, melalui pelestarian ataupun

pembaharuan. Artinya supaya pembuat undang-undang tidak sewenang-

wenang atau supaya undang-undang tersebut tidak menjadi huruf mati, maka

perlu dipenuhi beberapa syarat tertentu, yakni antara lain sebagai berikut :

a). Keterbukaan didalam proses pembuatan undang-undang.

b). Pemberian hak kepada warga masyarakat untuk mengajukan usul-usul

tertentu, melalui cara-cara, sebagai berikut :


77

(i) Penguasa setempat mengundang mereka yang berminat untuk

menghadiri suatu pembicaraan mengenai peraturan tertentu yang

akan dibuat.

(ii) Suatu departemen tertentu, mengundang organisasi-organisasi

tertentu untuk memberikan masukan bagi suatu rancangan undang-

undang yang sedang disusun.

iii) Acara dengar pendapat di Dewan Perwakilan Rakyat.

iv) Pembentukan kelompok-kelompok penasihat yang terdiri dri tokoh-

tokoh atau ahli-ahli terkemuka.

Suatu masalah lain yang dijumpai didalam undang-undang adalah adanya

pelbagai undang-undang yang belum juga mempunyai peraturan pelaksanaan,

padahal dalam undang-undang tersebut diperintahkan demikian.

Tidak adanya peraturan pelaksanaan sebagaimana diperintahkan tersebut,

akan mengganggu keserasian antara ketertiban dengan ketenteraman yang sangat

merugikan masyarakat. tidak adanya peraturan pelaksanaan dari undang-undang

itu kadang-kadang diatasi dengan jalan mengeluarkan peraturan pelaksanaan yang

derajatnya lebih rendah dari apa yang diperintahkan oleh undang-undang.

Persoalan lain yang timbul didalam undang-undang, adalah ketidakjelasan

didalam kata-kata yang dipergunakan didalam perumusan pasal-pasal tertentu.

Kemungkinan hal itu disebabkan oleh karena penggunaan kata-kata yang artinya

dapat ditafsirkan secara luas sekali, atau karena soal terjemahan dari bahasa asing

yang kurang tepat.


78

Tindakan main hakim sendiri merupakan gangguan terhadap penegakan

hukum yang berasal dari undang-undang mungkin disebabkan, karena :

1). Tidak diikutinya azas-azas berlakunya undang-undang.

2). Belum adanya peraturan pelaksanaan yang sangat dibutuhkan untuk

menerapkan undang-undang.

3). Ketidakjelasan arti kata-kata didalam undang-undang yang

mengakibatkan kesimpangsiuran didalam penafsiran serta penerapannya.

b. Faktor penegak hukum.

Yang dimaksud dengan penegak hukum disini mencakup mereka yang

bertugas dibidang-bidang kehakiman, kejaksaan, kepolisian, kepengacaraan dan

pemasyarakatan.

Seorang penegak hukum, sebagaimana halnya dengan warga-warga

masyarakat lainnya, lazimnya mempunyai beberapa kedudukan dan peranan

sekaligus. Dengan demikian tidaklah mustahil, bahwa antara pelbagai kedudukan

dan peranan timbul konflik. Kalau didalam kenyataannya terjadi suatu

kesenjangan antara peranan yang seharusnya dengan peranan yang sebenarnya

dilakukan atau peranan aktual, maka terjadi suatu kesenjangan peranan

(wawancara dengan I Wayan Kawisuda, S.H., M.Hum, Hakim Pengadilan Negeri

Denpasar pada 29 Maret 2016 pukul 10.00 WITA)

Masalah peranan dianggap penting, oleh karena pembahasan mengenai

penegak hukum sebenarnya lebih banyak tertuju pada diskresi. Sebagaimana

dikatakan dimuka, maka diskresi menyangkut pengambilan keputusan yang tidak

sangat terikat oleh hukum, dimana penilaian pribadi juga memegang peranan.
79

Penggunaan kata diskresi selalu berhubungan dengan kepolisian dalam

lingkup pelaksanaan tugas kepolisian atau diskresi yang diterapkan oleh anggota

kepolisian. Jadi diskresi selalu dikaitkan dengan pengambilan keputusan,

kekuasaan atau kewenangan yang dilakukan oleh seorang terhadap persoalan yang

dihadapi.79

Diskresi kepolisian adalah wewenang kepolisian yang bersumber dari asas

kewajiban umum kepolisian (plichtimatigeheids beginsel) yaitu suatu asas yang

memberi wewenang kepada pejabat kepolisian untuk bertindak atau tidak

bertindak menurut penilaian sendiri dalam rangka kewajiban umum, menjaga,

memelihara, ketertiban dan menjamin keamanan umum. 80

Namun demikian wewenang diskresi yang dimiliki kepolisian ini demikian

luasnya dan sifatnya subyektif, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya

penyalahgunaan wewenang disatu sisi dan disisi lain adanya disparitas dalam

tindakan kepolisian, seperti dilakukan tidaknya tindakan penangkapan/ penahanan

sangat tergantung dari keputusan pejabat kepolisian (penyelidik/penyidik).81

Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan diskresi dalam menghadapi

suatu persoalan akan memunculkan ruang yang kondusif bagi oknum penegak

hukum melakukan praktek-praktek illegal seperti menerima suap untuk

meloloskan seseorang dari jeratan hukum. kontradiktif peranan ini akan muncul

79
Djoko Prakoso, 1987, Polri Sebagai Penyidik Dalam Penengakan Hukum, Cet.I, Bina
Aksara, Jakarta, hal. 182.
80
Tangun Susila, I Wayan, Diskresi Kepolisian dan Eksistensinya Dalam Proses
Peradilan Pidana, disampaikan dalam Simposium Pengembangan Ilmu Hukum Dalam Rangka
Penegakan Supremasi Hukum, Denpasar 30-31 Januari 2003
81
Tahir, Hadiri Djenawi, 1989, Pokok-Pokok Pikiran Dalam KUHAP, Bandung, Penerbit
Alumni, hal. 78.
80

terus bilamana integritas dari para penegak hukum belum mendapat penanganan

dari institusi mereka sebagai penjaga keamanan negara.

Penegak hukum merupakan golongan panutan dalam masyarakat, yang

hendaknya mempunyai kemampuan-kemampuan tertentu, sesuai dengan aspirasi

masyarakat. mereka harus dapat berkomunikasi dan mendapatkan pengertian dari

golongan sasaran, disamping mampu membawakan atau menjalankan peranan

yang dapat diterima oleh mereka. Kecuali itu maka golongan panutan harus dapat

memanfaatkan unsur-unsur pola tradisional tertentu, sehingga menggairahkan

partisipasi dari golongan sasaran atau masyarakat luas. golongan panutan juga

harus dapat memilih waktu dan lingkungan yang tepat didalam memperkenalkan

norma-norma atau kaidah-kaidah hukum yang baru, serta memberikan

keteladanan yang baik.82

82
Soerjono Soekanto II, Op.Cit, hal. 24.
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Dari uraian pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan yaitu :

a. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya tindakan main hakim

adalah :

1. Faktor Individu yaitu kurangnya pemahaman dan kesadaran hukum

membuat seseorang cendrung menggunakan caranya sendiri dalam

menyelesaikan masalah tanpa melalui proses hukum.

2. Faktor Instrumental yaitu produk hukum yang tidak sesuai dengan

norma-norma dalam masyarakat, sehingga menimbulkan

ketidakserasian dan terhadap masyarakat tidak percaya terhadap

hukum itu sendiri

3. Faktor Institusional yaitu aparat penegak hukum sering melaksanakan

tugas diluar kewenangannya dan cendrung memihak dalam

menyelesaikan masalah.

b.. Penegakkan hukum terhadap tindakan main hakim sendiri merupakan salah

satu perbuatan tindak pidana oleh karena itu :

1. Barang siapa yang melakukan perbuatan pidana harus diproses secara

hukum sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku.

2. Aparat penegak hukum harus mampu memberikan perlindungan hukum

pada masyarakat.

81
82

3. Hukum itu harus ditegakkan sesuai dengan norma-norma dan kaidah-

kaidah yang berlaku.

5.2. Saran-Saran

1. Integritas penegak hukum harus ditingkatkan dan diskresi kepolisian

khususnya tidak boleh terus dibiarkan karena dapat menimbulkan ruang

terjadinya penyalahgunaan wewenang. Disamping itu fungsi penyuluhan

hukum sebagai sarana pendidikan klinis hukum harus terus ditingkatkan

secara intens dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat.

2. Dalam penegakan hukum perdamaian dalam tindak pidana tidak

dimungkinkan karena hukum pidana sebagai hukum publik memiliki sifat

memaksa. Sehingga terhadap pelaku main hakim sendiri tersebut harus

dilakukan proses hukum.


DAFTAR PUSTAKA

Buku

Arif Gisita, Usaha Penegakan Hukum dan Victimisasi Struktural, seminar


Kriminologi Ke IV, UNDIP, Semasarang, 1980.

Baringbing, RE., 2001, Simpul Mewujudkan Supremasi Hukum, Cet.I, Pusat


Kajian Reformasi, Jakarta.

Djoko Prakoso, 1987, Polri Sebagai Penyidik Dalam Penengakan Hukum, Cet.I,
Bina Aksara, Jakarta.

Jimly Asshiddiqie, 1998, Agenda Pembangunan Hukum Nasional Di Abad


Globalisasi, Cet.I, Balai Pustaka, Jakarta.

Muladi, Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana, Badan Penerbit
Universitas Diponegoro Semarang, 1997.

Ronny Hanitijo Soemitro, 1990, Metodelogi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Cet.
IV, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Roeslan Saleh, 1983, Sifat Melawan Hukum Dari Perbuatan Pidana, Cet.IV,
Aksara Baru, Yogyakarta, September.

Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana Perspektif Eksistensialisme

Soerjono Soekanto, 1989, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-


masalah Sosial (buku I) Cet.II, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Satochid Kartanegara, 1989, Hukum Pidana, Bagian I, tanpa nomor cetakan, Balai
Lektur Mahasiswa, tanpa tempat dan tahun.

Soerjono Soekanto, 2002, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan


Hukum (buku II), Edisi ke-1, Cet. IV, RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Satjipto Rahardjo, 1998, Sumbangan Pemikiran Tertulis Dalam Diskusi


Menangkap Rasa Keadilan Masyarakat Oleh Penegak Hukum, 18 Juli
1988, Diterbitkan : Yayasan Keadilan Jakarta.

Sumarni, 1979, Diktat Kuliah Hukum Acara Pidana, Yayasan Universitas


Djanabadra Djogjakarta

83
84

Sutarto, 1985, Suryono, Diktat Kuliah Hukum Acara Pidana, Dikeluarkan oleh
Jurusan Hukum Pidana, Universitas Diponegoro Semarang, Jilid I Cetakan
ke 4

Wirjono Prodjodikoro, 2002, Tindak-Tindak Pidana Tertentu Di Indonesia, Edisi


ke-2, Cet.V, Refika Aditama, Bandung.

Soerjono Soeknato, Mennagkap Rasa Keadilan Masyarakat Oleh Penegak


Hukum Diskusi Pemikir Hukum Indonesia, Yayasan Keadilan, Jakarta,
1988.

Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, Penerbit : Alimni Bandung, 1977.

Sukarton Marmosoedjono, Acuan Untuk Penegak Hukum Mewujudkan Keadilan,


Yayasan Keadilan, Jakarta.

Tangun Susila, I Wayan, Diskresi Kepolisian dan Eksistensinya Dalam Proses


Peradilan Pidana, disampaikan dalam Simposium Pengembangan Ilmu
Hukum Dalam Rangka Penegakan Supremasi Hukum, Denpasar 30-31
Januari 2003.

Tresno R, Azas-azas Hukum Pidana, Jakarta, PT. Tiara Ltd, 1959.

Tahir, Hadiri Djenawi, 1989, Pokok-Pokok Pikiran Dalam KUHAP, Bandung,


Penerbit Alumni

Peraturan Perundang-undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( Wetboek van Strafrecht voor


Nederlandsch-Indie).
85

DAFTAR INFORMAN

1. Nama : Zulhadi, S.H


NIP :-
Tgl lahir :-
Pangkat/Gol : AKP
Jabatan : Kepala Unit 1 Reskrim Polresta Denpasar
Alamat : Jl. Gunung Sanghyang No. 110 Denpasar, Bali

2. Nama : I Nyoman Wijaya, S.H


NIP :-
Tgl lahir :-
Pangkat/Gol : IPDA
Jabatan : Kasubnit 2 Unit 1 Reskrim Polresta Denpasar
Alamat : Jl. Gunung Sanghyang No. 110 Denpasar, Bali

3. Nama : Hadi Masruri, S.H., M.Hum


NIP : 195809151983031004
Tgl Lahir : Kediri, 15 September 1958
Pangkat/Gol :-
Jabatan : Hakim Pengadilan Negeri Denpasar
Alamat : Jl. Panglima Besar Jendral Sudirman No. 1 Dauh Puri,
Denpasar, Bali

4. Nama : I Gde Ginarsa, S.H.


NIP : 196006271988031001
Tgl Lahir : Denpasar, 27 Juni 1960
Pangkat Gol :-
Jabatan : Hakim Pengadilan Negeri Denpasar
Alamat : Jl. Panglima Besar Jendral Sudirman No. 1 Dauh Puri,
Denpasar, Bali

5. Nama : I Wayan Kawisuda, S.H., M.Hum.


NIP : 195907051988031004
Tgl Lahir : Pakutatan, 05 Juli 1959
Pangkat/Gol :-
Jabatan : Hakim Pengadilan Negeri Denpasar
Alamat : Jl. Panglima Besar Jendral Sudirman No. 1 Dauh Puri,
Denpasar, Bali