Anda di halaman 1dari 12

OBAT TRADISIONAL SERBUK

JAMU LEO

Tujuan : Untuk mengetahui analisis fisik, kimia dan BKO dari obat
tradisional bentuk sediaan serbuk merk (Jamu Leo)
Dasar Teori :
Obat tradisional yang diperlukan oleh masyarakat adalah obat tradisonal yang
mengandung bahan atau ramuan bahan yang memelihara kesehatan, mengobati gangguan
kesehatan, serta dapat memulihkan kesehatan. Bahan- bahan ramuan obat tradisional
seperti bahan tumbuh- tumbuhan, hewan, sediaan sarian atau galenik yang memiliki fungsi,
serta pengaruh serta khasiat sebagai obat, dalam pengertian umum kefarmasian bahan yang
digunakan sebagai obat disebut simplisia. Simplisia adalah bahan alamiah yang
dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali
dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995).
Tanaman obat adalah tanaman yang memiliki khasiat obat dan digunakan sebagai
obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit.Pengertian berkhasiat obat adalah
mengandung zat aktif yang berfungsi mengobati penyakit tertentu atau jika tidak
mengandung zat aktif tertentu tapi mengandung efek resultan / sinergi dari berbagai zat
yang berfungsi mengobati. Tanaman obat atau biofarmaka didefinisikan sebagai jenis
tanaman yang sebagian, seluruh tanaman dan atau eksudat tanaman tersebut digunakan
sebagai obat, bahan atau ramuan obat- obatan. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara
spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya.
Eksudattanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara
tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya (Flora, 2008).
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan,
bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan bahan tersebut
yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman
(Menurut Peraturan Kepala Badan POM Nomor HK.00.05.41.184 ). Persyaratan OT sesuai
perundang-undang No.23 Tahun 1992 yang berlaku OT dilarang menggunakan sebagai
berikut.
1. Bahan kimia hasil isolasi/sintetik berkhasiat obat.
2. Narkotikan atau psikotropika.
3. Hewan atau tumbuhan yang dilindungi.
Macam - macam bentuk obat tradisional banyak sekali antara lain simplisia (dalam
bentuk rajangan), serbuk, pil, tablet, kapsul, salep atau krim, dan cairan obat dalam.
Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan. Pada
pembuatan serbuk kasar, terutama serbuk nabati, digerus terlebuh dahulu samapi serajat
halus tertentu setelahah itu dikeringkan pada suhu tidak lebih 50. Sebuk obat tradisional
menurut SK Menkes 1994 adalah sediaan obat tradidional berupa butiran homogen dengan
derajat halus yang cocok, bahan bakunya berupa simplisia sediaan galenik atau
campurannya. Sediaan serbuk ini penggunannya dengan cara diseduh dalam air mendidih.
Air seduhan diminum sesuai kebutuhan. Karena serbuk berbahankan dari obat tumbuh-
tumbuhan yang dikeringkan secara alamiah ataupun merupakan campuran 2 atau lebih
unsur kimia murni yang menjadi serbuk dalam perbandingan tertentu. Sedangkan menurut
Farmakope Indonesia III serbuk adalah campuran homogen dari dua atau lebih obat yang
diserbukkan. Menurut Farmakope Indonesia IV, serbuk adalah campuran kering bahan
obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral maupun topikal
secara kimia-fisika serbuk mempunyai ukuran antara 10.000- 0,1 mikrometer. Adapun
karakteristik serbuk yaitu :
1. Homogen dan kering, homogenisitasnya dipengaruhi ukuran partikel dan
densitasnya/ berat jenis.
2. Punya derajat kehalusan tertentu.
Sediaan serbuk dibagi menjadi 2 jenis yaitu pulvis dan pulveres. Pulvis (serbuk tak
terbagi) adalah serbuk yang tidak dapat terbagi untuk pemakaiannya, contohnya serbuk
tabur, serbuk gigi dan serbuk effervecent. Pulveres (serbuk terbagi) adalah serbuk yang
dapat dibagi dalam bobot yang sama, dibungkus menggunakan kemasan untuk sekali
minum, serbuk terbagi boleh dibagi secara visual/penglihatan, maksimal 10 serbuk secara
bersamaan. Umumnya serbuk berbobot 0,5 gram, pengisinya laktosa. Penimbangan
diperlukan apabila pasien memperoleh dosis 80% dari dosis maksimum untuk sekali atau
sehari pakai.
Adapun kelebihan sediaan serbuk sebagai berikut :
1. Campuran obat dan bahan obat yang sesuai kebutuhan.
2. Dosis lebih tepat, lebih stabil dari sediaan larutan.
3. Disolusi/ melarut cepat dalam tubuh.
4. Tidak memerlukan banyak bahan tambahan yang tidak perlu
Adapun kekurangan sediaan serbuk sebagai berikut :
1. Kurang baik untuk zat obat yang mudah terurai karena kontak dengan udara.
2. Sulituntukditutupirasanya (tidakenakmaupunbaunya).
3. Peracikannyamembutuhkanwaktu yang relatif lama
Menurut peraturan peringatan nomor K.H.00.01.1.5116 tentang obat tradisional
mengandung bahan kimia obat (BKO), mengkonsumsi obat tradisional dengan
mengandung bahan kimia obat keras dapat membahayakan kesehatan bahkan mematikan.
Pemakaian obat keras harus melalui resep dokter. BKO merupakan senyawa sintetis atau
bisa juga produk kimiawi yang berasal dari bahan alam yang umumnya digunakan untuk
pengobatan modern. Penggunaan BKO pada pengobatan modern selalu disertai takaran
atau dosis, aturan pakai yang jelas dan peringatan-peringatan akan bahaya dalam
penggunaannya demi menjaga keamanan penggunaannya (BPOM, 2010)
Dalam Menkes RI (659/MENKES/SK/X/1991) disebutkan bahwa Pencemaran fisik,
kimiawi atau jasad renik terhadap obat tradisional yang dapat merugikan kesehatan atau
mempengaruhi mutu suatu produk dilarang serta. Pencemaran oleh khamir, kapang dan
atau kaman nonpatogen terhadap obat tradisional meskipun sifat dan tingkatannya tidak
berpengaruh langsung pada kesehatan harus dicegah sekecil mungkin sampai dengan
persyaratan batas yang berlaku. Adapun parameter pengujian obat tradisional sediaan
serbuk, baik uji fisika, uji kimia maupun uji biologi.
Jamu yang akan diuji adalah jamu merk Leo pegal linu.
A. UJI MUTU FISIK
1. Uji Organoleptis
Uji organoleptis meliputi pengujian terhadap bentuk, warna, rasa, dan bau serta
tanda-tanda lain yang dapat dilihat dengan mata biasa.
2. Uji kemasan
Uji kemasan untuk menilai mengenai kemasan, penandaan, bobot, contoh yang
diuji. Perbedaan yang ada dengan normal dapat menunjukkan perbedaan mutu dari contoh
yang diuji.
3. Keseragaman bobot.
Dari 20 kemasan primer tidak lebih dari 2 kemasan yang masing-masing bobot
isinya menyimpang dari bobot isi rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan pada
kolom A dan tidak satu kemasanpun yang bobotisinyamenyimpangdaribobotisi rata-rata
lebihbesardariharga yang ditetapkandalamkolom B, yang terterapadadaftarberikut :
Tidak lebih dari 2 bungkus serbuk, yang masing masing bobot isinya menyimpang dari
bobot isi rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom A dan tidak satu
bungkuspun yang bobot isinya menyimpang dari bobot isi rata-rata lebih besar dari harga
yang ditetapkan dalam kolom B, yang tertera pada daftar berikut: Bobot rata-rata
Penyimpangan terhadap bobot isi rata-rata isi serbuk A B 5 g sampai dengan 10 g 8 % 10
%
Timbang isi tiap bungkus serbuk. Timbang seluruh isi 20 bungkus serbuk, hitung bobot isi
serbuk rata-rata.

B. UJI MUTU KIMIA :


1. Cemaran logam berat
Batas angka cemaran logam pada sediaan serbuk.
Pb : 10 mg/kg atau mg/L atau ppm
Cd : 0,3 mg/kg atau mg/L atau ppm
As : 5 mg/kg atau mg/L atau ppm
Hg : 0,5 mg/kg atau mg/L atau ppm

C. UJI MUTU BIOLOGI


1. Cemaran mikroba
Batas cemaran mikroba untuk sediaan serbuk. Pengujian menggunakan metode
angka lempeng total (ALT) dan angka kapang khamir.
Angka Lempeng Total : 104 koloni/g
Angka Kapang Khamir : 103 koloni/g
Eschericia coli : negatif/g
Salmonella spp : negatif/g
Shigella spp : negatif/g
Pseudomonas aeruginosa : negatif/g
Staphylococcus aureus : negatif/g
D. UJI KADAR AIR
Kadar air berlebih mempercepat pertumbuhan mikroorganisme dan hidrolisis
senyawa kimia (syarat menurut farmakope kadar air 8-14%). Materia Medika Jilid VI
tahun 1995 yaitu tidak lebih dari 10%. Penetapan kadar air pada sediaan jamu serbuk
dilakukan dengan metode destilasi azeotrop,prinsipnya menguapkan air dengan pembawa
cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi daripada air dan tidak dapat
bercampur dengan air serta mempunyai berat jenis lebih rendah daripada air. (MMI)

E. UJI KADAR ABU


Abu dapat berasal dari jaringan tanaman atau pengotoran (tanah/ pasir) hanya untuk
bentuk simplisia dan bukan bentuk sediaan.

F. UJI BAHAN PENGAWET 1%


Bahan pengawet merukan bahan yang digunakan untuk mengawetkan jamu atau
bentuk sediaan yang ada. Dalam sediaan jamu harusnya bahan pengawet tidak melebihi
kadar 1%. Biasanya pengawet yang digunakan adalah senyawa nipagin, nipasol dan lain
lain. Jika keberadaan bahan pengawet lebih dari 1% dalam sediaan jamu bisa dikatakan
jamu tersebut tidak layak untuk dikonsumsi dan didak layak jual.

G. BAHAN KIMIA OBAT


Bahan kimia obat merupakan bahan yang ditambahkan dalam jamu dimana
difungsikan sebagai peningkat kasiat. Padahal, sebenarnya dalam jamu tidak diperbolehkan
adanya bahan kimia obat. Hal ini di larang karena dimungkinkan bahan kimia obat dapat
beraksi dengan senyawa aktif pada jamu dan nantinya malah akan menimbulkan efek
negatif. Maka dari itu, bahan kimia obat dilarang keras dalam bentuk sediaan jamu.

Alat : Desikator
Neraca Botol aquades.
Gelas arloji Bahan :
Sendok tanduk
1. Serbuk
Oven
2. Aquades
Prosedur Kerja :
A. Uji organoleptis (makroskopik)

1. Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.


2. Mengambil sedikit serbuk kemudian melakukan pengamatan terhadap warnanya.
3. Mengambil sedikit serbuk kemudian mencium aroma dan mencicipi rasanya.
4. Mencatat hasil pengematan.

B. Uji kemasan

1. Disiapkan produk sampel.


2. Periksa nama produk.
3. Periksa bentuk sediaan.
4. Periksa nomer bets.
5. Periksa alamat industry pembuatan.
6. Periksa tanggal mulai dan selesai pengemasan.
7. Periksa bentuk, jenis dan ukuran kemasan.
8. Data lain yang diperlukan.

C. Uji keseragaman bobot

1. Siapkan 20 bungkus serbuk yang akan dilakukan pengujian.


2. Timbang dengan teliti satu per satu sediaan serbuk pada timbangan analitik.
3. Catat hasil yang diperoleh dari setiap sediaan serbuk.
4. Lakukan perhitungan untuk mengetahui bobot penyimpangan.

D. Uji kadar air


Pada uji kadar air, metode yang digunakan adalah metode gravimetric. Adapun
prosedurnya sebagai berikut.

1. Timbang crus porselen kosong dahulu


2. Timbang 10 g zatobatserbuk
3. Keringkan pada suhu 105oC selama 5 jam, dan timbang.
4. Lanjutkan pengeringan dan timbang pada jarak 1 jam
5. Dilakukan pengeringan dan timbang pada jarak 1 jam lagi sampai perbedaan antar
dua penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,25%.
E. Uji kadar abu

1. Mengeringkan cawan porselen pada oven selama 1 jam dengan suhu 105
2. Mendinginkan cawan porselen dalam desikator selama 15 menit agar uapnya
menghilang kemudian menimbang berat cawan
3. Menimbang sampel sebanyak 5 g pada cawan yang telah didinginkan
4. Mengeringkan sampel selama 5 jam dengan suhu 105
5. Sampel yang dihasilkan merupakan hasil dari analisis kadar air
6. Mengarangkan sampel dalam kompor listrik hingga tidak mengeluarkan asap
7. Memasukan sampel kedalam tanur dengan suhu 600o
8. Memasukan cawan yang berisi abu kedalam oven selama 1 jam dengan suhu 105oC
9. Memasukan sampel kedalam desikator selama 1 jam hingga berat konstan

F. Uji BKO Antalgin

1. Pembuatan larutan sampel


- Timbang 7g serbuk jamu.
- Masukkan dalam erlenmeyer 100mL.
- Tambahkan 75ml air, kocok selama 30 menit lalu disaring.
- Tambahkan asam asetat (Ph 3-4).
- Ekstraksi menggunakan kloroform 2x25 ml.
- Uapkan hingga kering.
- Filtrat dilarutkan dalam 2ml etanol.
(MA Balai POM, Emscience/Modifikasi, 2005)

2. Pembuatan larutan baku pembanding 2


- Timbang 7g jamu serbuk.
- Tambah dengan 25mg antalgin, masukkan dalam erlenmeyer 100ml.
- Tambahkan 75ml air lalu kocok selama 30menit lalu disaring.
- Tambahkan asam asetat pHT 3-4.
- Ekstraksi dengan kloroform 2x25ml.
- Uapkan hingga kering kemudian filtrat dilarutkan dengan 2ml etanol
3. Pembuatan larutan baku pembanding 1
- Dibuat larutan baku antalgin 0,1 %b/v dalam metanol
- Pembuatan larutan baku antalgin : timbang antalgin sebanyak 100mg dan
dilarutkan dengan metanol ad 100ml didalam labu ukur.

4. Penyiapan bejana pengembang (chamber)


- Chamber dibersihkan
- Chamber di jenuhkan dengan cara meletakkan secarik kertas saring yang bersih
pada dinding dalam bejana dan dibasahi dengan larutan pengembang
- Larutan pengembang (eluen) yanng digunakan adalah asam asetat : aceton :
benzen : metanol (5:5:70:20). Atau sikloheksana : kloroform : metanol : dieflamin
(60:30:5:5). (MA Balai POM, Emscience/Modifikasi,2005)

5. Penyiapan kromatografi lapis tipis


- Plat KLT di oven pada suhu 105oC
- Beri garis dengan pensil dengan jarak 1cm dari tepi atas dan 2cm dari tepi
bawah
- Diberi skala masing-masing 2cm untuk tempat penotolan larutan sampel, Bp 1,
Bp 2. (Roth dan Blaschke, 1988)

6. Pengerjaan kromatografi lapis tipis(Farmakope Indonesia edisi IV, 1995)


- Totolkan larutan sampel, Bp1 dan Bp2 dengan menggunakan pipa kapiler pada
plat KLT
- Plat KLT tersebut dimasukkan dalam chamber dan tutup segera
- Biarkan beberapa saat sampai larutan naik hingga baris batas atas
- Setelah larutan penggembang naik, plat dikeluarkan dari bejana dan diamati
dibawah lampu UV
- Kemudian tentukan harga Rf

Perhitungan :
Rf (retardation factor) = jarak gerak elusi / jarak gerak pelarut
A = larutan sampel
B = sampel + nipagin (0,1%) ( kontrol
C = standart nipagin (0,1%)
Hasil pengamatan

1. Uji organoleptis
Warna serbuk : Coklat kekuningan
Bau serbuk : Bau khas jamu yang kuat
Rasa serbuk : Rasa khas jamu yang pahit dan sedikit pedas

2. Uji Kemasan :
a. Nama produk : Jamu Leo
b. Bentuk sediaan : Serbuk
c. Tanggal expired : ED.050219
d. alamatindustri : Semarang-Indonesia
e. Tanggal mulai dan selesai pengemasan : tanggal mulai 16-03-17
f. Bentuk, jenis dan ukuran kemasan : sachet, plastik, 10x7cm

2. Uji keseragaman bobot


Bobot 20 serbuk

No. Bobot tiap serbuk % penyimpangan

1 7,2042 g 2,533 %
2 7,7356 g 4,655%
3 7,5388 g 1,993%
4 7,3691 g 0,303%
5 8,0074 g 8,333%
6 7,2708g 1,633%
7 7,1010g 3,930%
8 7,4316g 0,543%
9 7,6654g 3,706%
10 7,2804g 1,503%
11 7,5414g 2,028%
12 7,6503g 3,501%
13 7,5047g 1,531%
14 6,9784g 5,589%
15 7,7726g 5,156%
16 7,1893g 2,736%
17 7,2268g 2,228%
18 7,2583g 1,802%
19 7,0723g 4,318%
20 7,0337g 4,841%
Rata-rata isi serbuk 7,3915 g

3. Uji kadar air

Berat cawan kosong = 62,6758g


Berat sampel = 10,0110g
Berat cawan dan sampel = 72,6868g
*berat cawan dan sampel sebelum di oven
No Hasil Oven Berat Awal Berat Akhir Presentase
Ke- penyusutan
1. I 72,6868 g 72,5673 g 0,001%
2. II 72,5673 g 72,4675 g 0,001%
3. III 72,4675 g 72,4653 g -
4. IV 72,4653 g 72,4557 g 0,0001%
5 V 72,4557 g 72,4548 g 1,2%
6. VI 72,4548 g 72,4548 g 0%
*berat cawan dan sampel sesudah di oven

Setelah dilakukan penimbangan sebanyak 6 kali didapatkan bobot konstan dari


berat cawan dan sampel yaitu 72,4548 g. Dengan berat cawan kosong sebesar 62,6758 g,
berat sampel sebesar 9,779 g. Jika dikurangi dengan bobot sampel awal sebelum di oven
terjadi pengurangan bobot sebesar 0,232 g. Maka, didapat presentase kadar air dalam
serbuk kapsul sebesar 2,31% batas maksimal menurut Farmakope Indonesia sebesar 8-14%
dan menurut Materia Medika Indonesia tidak lebih dari 10%. Jadi, kapsul Uratan telan
lolos dalam uji kadar air.

Perhitungan :
Kadar Air (%b/v) = w1 : w x 100%

w1 = kehilangan bobot setelah dikeringkan (di oven)


w = bobot sampel sebelum dikeringkan (di oven)
Diketahui = Ditanyakan = presentase kadar air
w1 = 0,232 g ?
w = 10,011 g

Dijawab = 0,232 g : 10,011 g x 100% = 2,31%

Pembahasan
Dari hasil praktikum kali ini pada uji keseragaman bobot di daapatkan rata-rata
7,3915 dan ada 1 kemasan bobotnya tidak sesuai yaitu 8,0074g . dari data yang didapat
dapat dikatakan bahwa serbuk pegel linu LEO memenuhi syarat untuk uji keseragaman
bobot karena hanya 1 kemasan dengan bobot yang menyimpang. Dalam FI edisi III
mengatakan Dari 20 kemasan primer tidak lebih dari 2 kemasan yang masing-masing
bobot isinya menyimpang dari bobot isi rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan
pada kolom A dan tidak satu kemasan pun yang bobot isinya menyimpang dari bobot isi
rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom B
Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil analisa yang telah dilakukan adalah serbuk jamu leo yang
diproduksi oleh PT Leo Agung Raya dikatakan memenuhi standar yang telah ditetapkan,
karena dari parameter yang dilakukan mulai dari uji kemasan, uji organoleptis, uji
keseragaman bobot,uji kadar air, uji kadar abu dan uji Bahan Kimia Obat. Jamu serbuk
Leo telah sesuai dan memenuhi kriteria, walaupun dalam uji keseragaman bobot terdapat 1
sachet yang tidak sesuai dengan kriteria,namun dalam uji keseragaman bobot dikatakan
menyimpang apabila ditemukan tidak lebih dari 2 sachet.

Anda mungkin juga menyukai