Anda di halaman 1dari 30

PERKEMBANGAN PARADIGMA KEHUTANAN1

Oleh :
Endang Suhendang2

Paradigma, Pergeseran Paradigma, dan Perkembangan Paradigma


Istilah paradigma (paradigm) secara harfiah mengandung arti model, pola, atau contoh.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1996) dinyatakan bahwa
paradigma dapat mengandung arti model dalam teori ilmu pengetahuan, atau kerangka
berfikir. Menurut Websters New World College Dictionary (Neufeldt dan Guralnik,
1996), paradigma dapat mengandung arti suatu kesatuan konsep yang utuh yang diterima
oleh sebagian besar orang dari suatu komunitas intelektual tertentu, seperti misalnya dalam
komunitas masyarakat ilmu kealaman, oleh karena konsep tersebut memiliki efektivitas
yang lebih tinggi dalam menjelaskan suatu proses yang kompleks, gagasan, atau
sekumpulan data, dibandingkan dengan konsep yang lainnya.
Dalam tulisan ini, paradigma diartikan secara lebih umum dan populer sebagai suatu
kesatuan yang bersifat utuh dalam hal cara pandang, pola pikir, dan pendekatan yang
dianut secara kuat dan konsisten oleh suatu kelompok masyarakat tertentu sehingga
mendasari sikap dan perilakunya dalam mengatasi (memformulasikan konsep untuk
menjawab) permasalahan yang dihadapinya.
Paradigma yang dianut oleh sekelompok masyarakat tertentu bersifat dinamis, dapat
berubah menurut ruang dan waktu. Secara konvensional, perubahan paradigma dalam
masyarakat selalu dianggap sebagai pergeseran paradigma (paradigm shift) yang
berkonotasi berubah meninggalkan paradigma lama menuju paradigma baru yang
menggantikannya. Dalam konsep pergeseran paradigma, paradigma lama selalu diartikan
ditinggalkan dan digantikan oleh paradigma baru yang dianggap lebih sesuai dengan
perkembangan zaman mutakhir yang dihadapinya.
Dalam pemahaman yang bersifat umum, perubahan paradigma tidak harus selalu mengandung
arti pergeseran paradigma, akan tetapi dapat pula berupa perkembangan paradigma (paradigm
development). Dalam konsep yang terakhir ini, paradigma baru hasil perubahan dari
paradigma lama itu merupakan hasil pengembangan paradigma lama melalui proses
penyempurnaan. Penyempurnaan ini dilakukan melalui penyeleksian nilai-nilai, konsep, dan
pendekatan lama sehingga menghasilkan sejumlah nilai-nilai, konsep, dan pendekatan lama
yang bersifat unggul, kemudian diperkaya dengan nilai-nilai, konsep, dan pendekatan baru
yang diperlukan untuk mengisi kekurangan dari nilai-nilai, konsep, dan pendekatan lama yang
bersifat unggul tersebut dalam menjawab permasalahan kehidupan mutakhir yang dihadapinya.

1
Makalah disampaikan dalam Diskusi Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem sebagai Pendekatan untuk
Pengelolaan Hutan Indonesia dalam Paradigma Kehutanan Indonesia Baru. Diselenggarakan dalam rangka
Ulang Tahun Emas Fakultas Kehutanan IPB (1963 -2013). Bogor, Agustus 2013.
2
Guru Besar Tetap Ilmu Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
2

Dengan demikian, maka paradigma baru hasil pengembangan paradigma lama tersebut
merupakan paradigma yang lebih sempurna dibandingkan dengan paradigma lama, sehingga
akan lebih mampu menjadi landasan penyelesaian masalah kehidupan mutakhir yang dihadapi
oleh sekelompok masyarakat penganutnya. Dalam konsep perkembangan paradigma, tidak
ada proses meninggalkan paradigma lama secara utuh dan menggantikannya dengan
paradigma yang sama sekali baru. Yang ada adalah proses penyempurnaan paradigma lama
guna memperoleh paradigma baru yang lebih unggul, lebih lengkap, dan lebih tepat
dibandingkan dengan paradigma lama.
Seperti akan dapat dilihat dalam uraian berikut, perubahan paradigma dalam bidang kehutanan
seyogyanya dilakukan melalui proses pengembangan Paradigma Kehutanan, bukan
penggeseran Paradigma Kehutanan. Pengertian secara operasional Perkembangan Paradigma
Kehutanan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah seperti dapat dilihat pada Kotak 1.

Kotak 1
Perkembangan Paradigma Kehutanan
Perkembangan Paradigma Kehutanan adalah suatu proses penyeleksian nilai-nilai,
konsep-konsep, cara pandang, pola pikir, dan pendekatan yang berkenaan dengan
hutan, hasil hutan, pendekatan dalam pengelolaan hutan, dan peran insan kehutanan
yang terkandung dalam paradigma lama, sehingga diperoleh nilai-nilai, konsep-konsep,
cara pandang, pola pikir, dan pendekatan dalam pengelolaan hutan lama yang bersifat
unggul serta memperkayanya dengan nilai-nilai, konsep-konsep, cara pandang, pola
pikir, dan pendekatan pengelolaan hutan yang baru yang diperlukan untuk menjawab
permasalahan dalam pengurusan dan pengelolaan hutan di masa mendatang untuk
sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat, seluruh kehidupan di muka bumi, dan
keserasian alam semesta secara berkelanjutan.

Dilema dalam Pengelolaan Hutan


Pada saat ini lingkungan global dunia kehutanan sudah jauh berbeda dengan keadaan sekitar
abad ke-17 dan 18-an, yaitu abad saat mulai lahirnya Ilmu Kehutanan. Lebih-lebih apabila
dibandingkan dengan keadaan sebelum abad tersebut. Luas hutan alam dunia yang pada
keadaan mula-mula (6000 SM atau 8000 tahun yang lalu) sekitar 6,2 milyar hektar (Gardner
dan Engelman, 1999), pada saat ini hanya sekitar 4,0 milyar hektar (FAO, 2010) yang terdiri
dari hutan alam primer dan hutan tanaman. Pengurangan luas hutan dunia yang sangat tajam
ini terutama terjadi antara tahun 1800-1990an dan mulai melambat sejak saat itu, walaupun
masih sangat tinggi. Di luar itu, permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan global terus
makin meningkat dari waktu ke waktu baik ragam jenisnya maupun kuantitasnya. Sementara
itu, populasi manusia terus meningkat dan tingkat peradaban manusia pun terus makin maju,
sejalan dengan perkembangan budaya yang mampu dihasilkannya, termasuk di dalamnya ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dapat dicapai oleh umat manusia.
Resultante dari adanya perubahan faktor-faktor sebagaimana diutarakan di muka bagi umat
manusia, adalah tidak terelakannya dampak terhadap perkembangan permintaan akan barang
dan jasa yang dapat mencukupi seluruh keperluan kehidupannya. Untuk jenis barang dan jasa
tertentu yang diperlukan dalam kehidupan manusia itu mungkin saja berkurang, atau bahkan
3

dapat saja digantikan oleh jenis barang dan jasa baru yang selain dapat mensubstitusi jenis
barang dan jasa lama juga memiliki berbagai keunggulan dalam hal efektivitas dan efisiensinya.
Bahkan, mungkin pula dalam hal kelezatan (untuk makanan), kenyamanan (untuk jasa yang
mendukung kenyamanan hidup manusia), serta nilai kemewahannya. Akan tetapi totalitas
permintaan dalam hal keanekaragaman jenisnya, kuantitasnya, dan kualitasnya, pada akhirnya
diduga akan terus meningkat dari waktu ke waktu.
Dalam hal permintaan terhadap barang dan jasa yang dapat dihasilkan oleh ekosistem hutan,
ternyata keanekaragaman jenis barang dan jasa, kuantitasnya, dan kualitasnya telah terbukti
terus meningkat dari waktu ke waktu. Sebagai gambaran, laju permintaan dunia terhadap kayu
- yaitu salah satu jenis barang yang secara konvensional telah melekat sebagai trade mark bagi
hutan dalam khazanah pengetahuan umat manusia - diperkirakan sebesar 3 (tiga) persen per
tahun atau dua kali rata-rata laju pertumbuhan penduduk dunia, yaitu 1,5 (satu setengah)
persen per tahun (Gardner dan Engelman, 1999). Angka-angka laju permintaan terhadap
barang yang dapat dihasilkan oleh ekosistem hutan selain kayu, juga permintaan terhadap jasa
ekosistem hutan yang sangat diperlukan untuk mempertahankan keberlanjutan kehidupan
manusia, seluruh kehidupan, dan keserasian alam semesta ini apabila dihitung secara seksama
diduga tidak akan lebih rendah dari laju permintaan dunia terhadap kayu tersebut, bahkan akan
sangat jauh lebih tinggi.
Di lain pihak, populasi manusia di muka bumi terus meningkat dan keadaan lingkungan hidup
yang memerlukan jasa ekosistem hutan untuk memperbaiki dan mempertahankan kualitasnya
pun terus memburuk. Keadaan ini menyebabkan kita dan seluruh kehidupan di muka bumi ini
setiap saat memerlukan hutan dengan luasan yang selalu lebih luas dari luas hutan yang
diperlukan sebelumnya untuk dapat mempertahankan keberlanjutan kehidupan dan agar
kualitas lingkungan hidup tertentu yang diharapkan dapat dipertahankan (Gardner dan
Engelman, 1999). Faktanya, luas hutan di dunia terus menurun, sehingga kemampuannya
untuk menghasilkan barang dan jasa ekosistem hutan yang diperlukan untuk memenuhi
keperluan manusia menjadi makin terbatas. Jadi pada saat ini dan di masa mendatang, kita
akan berada pada keadaan dilema antara makin meningkatnya kebutuhan terhadap barang dan
jasa dari ekosistem hutan dengan kemampuan hutan yang makin terbatas untuk menyediakan
berbagai macam hasilnya guna mencukupi kebutuhan tersebut. Dilema inilah yang pada
akhirnya menghantarkan kita, umat manusia, ke dalam makin menganganya kesenjangan
antara besarnya permintaan dan persediaan barang dan jasa dari ekosistem hutan untuk
mencukupi kebutuhan dalam mempertahankan keberlanjutan kehidupan di muka bumi. Jadi,
dilema kehidupan yang kita hadapi pada saat ini dan ke depan adalah : We both need more
forest and need forest more than ever before (Gardner dan Engelman, 1999). Adapun
rumusan secara operasional pengertian dilema dalam pengelolaan hutan yang dihadapi oleh
umat manusia pada saat ini dan ke depan adalah seperti tertera pada Kotak 2.
4

Kotak 2
Dilema dalam Pengelolaan Hutan
Dilema situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua
kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan - yang
kita hadapi dalam kehidupan kita pada saat ini dan ke depan, khususnya dalam hal
mencukupi barang dan jasa ekosistem hutan yang diperlukan untuk mencukupi
keperluan dalam kehidupan, adalah bahwa setiap saat kita selain memerlukan hutan
dengan luasan yang selalu lebih luas dari luas hutan yang diperlukan sebelumnya, pada
saat yang bersamaan kita pun memerlukan kualitas hutan (produktivitas hutan,
kesehatan hutan) yang lebih tinggi dari kualitas hutan yang pernah ada sebelumnya.
Dilema inilah yang harus kita hadapi dan kita carikan jawabannya. Rimbawan
(forester) dan para penyandang profesi lain yang berhubungan dengan kegiatan
pengurusan hutan (ilmuwan, akademisi, praktisi, dan pelaku usaha dalam bidang
kehutanan) sudah sepantasnyalah untuk berada dan berdiri pada garda terdepan dalam
menghadapi dan mencari jawaban atas dilema ini.

Untuk dapat menjawab dilema yang sedang dan akan terus kita hadapi tersebut jawabannya
adalah perubahan, yaitu perubahan ke arah yang selain lebih benar, juga harus lebih baik dan
lebih maju. Agar perubahan yang terjadi menuju ke arah yang lebih benar, lebih baik, dan
lebih maju, maka perubahan yang dilakukan tidak cukup hanya pada tingkat perangkat keras
(hardware) kehidupan (a.l. berupa : tatanan dan infrastruktur pekerjaan, IPTEKS, serta
keterampilan), akan tetapi harus pula terjadi pada tingkat perangkat lunak (software)
kehidupan (a.l. berupa : cara pandang, pola pikir, serta sikap dan perilaku). Dengan tuntutan
perubahan pada tatanan kehidupan seperti itu, maka pertanyaan mendasar yang harus kita
jawab adalah apa sajakah yang harus berubah dan ke arah manakah harus berubah. Itulah kira-
kira pertanyaan yang relevan bagi kita para insan kehutanan - penyandang profesi dalam
bidang kehutanan dalam arti luas - dan harus kita jawab dalam menentukan arah
pengembangan paradigma kehutanan di masa mendatang.

Arah Perkembangan Paradigma Kehutanan


Dilema yang dihadapi dalam bidang kehutanan pada saat ini dan ke depan bersifat sangat
mendasar. Oleh karenanya sangatlah keliru apabila kita menganggap bahwa kesalahan
mendasar yang menghantarkan kita pada dilema seperti itu terutama disebabkan oleh
kekeliruan asumsi-asumsi dan teori-teori dalam Ilmu Kehutanan yang melandasi praktek
pengelolaan hutan di dunia, termasuk di Indonesia. Asumsi-asumsi yang dibuat untuk
dapat berlakunya sebuah teori, demikian pula dengan teori-teori yang berhasil ditemukan
oleh umat manusia dalam ilmu pengetahuan tidak pernah bersifat mutlak benar dan tidak
pernah berlaku untuk selamanya. Teori-teori dalam ilmu pengetahuan senantiasa
berkembang ke arah yang lebih benar dan lebih maju dari teori-teori yang pernah ada
sebelumnya. Teori menjadi lebih benar maknanya adalah teori tersebut lebih mampu
menjelaskan gejala yang sebenarnya terjadi di dunia nyata. Penjelasan tersebut sifatnya
berupa pendekatan saja terhadap keadaan yang sesungguhnya di dunia nyata, sementara
keadaaan yang sesungguhnya di dalam dunia nyata itu walaupun diyakini pasti ada, dan
bersifat khas, akan tetapi tidak akan pernah diketahui dengan pasti oleh umat manusia.
5

Teori menjadi lebih maju maknanya adalah bahwa teori tersebut untuk dapat berlakunya
memerlukan syarat asumsi-asumsi yang lebih sederhana dibandingkan dengan asums-
asumsi yang diperlukan untuk dapat berlakunya teori sebelumnya. Dengan demikian,
maka keadaan dalam dunia hayal yang harus dibentuk dengan memberlakukan asumsi-
asumsi yang diperlukan untuk dapat berlakunya sebuah teori tersebut akan lebih mudah
untuk dapat didekati dalam keadaan dunia nyata yang sesungguhnya. Perkembangan
seperti ini lazim terjadi pada keseluruhan tubuh ilmu pengetahuan, bukan hanya terjadi
pada Ilmu Kehutanan sebagai bagian dari tubuh tersebut. Itulah sebabnya mengapa dalam
dunia ilmu pengetahuan, seorang ilmuwan lazimnya tidak akan menyatakan salah terhadap
teori yang pernah ditemukan, diterima, dan berlaku pada kurun waktu tertentu. Jika
kemudian diperoleh bukti yang kuat yang mendukung adanya kebenaran baru yang tidak
sepenuhnya sama dengan teori sebelumnya, atau bahkan mungkin bertentangan dengan
teori tersebut, maka yang lazim dilakukan para ilmuwan adalah menyatakan bahwa teori
yang berdasarkan kepada kebenaran baru tersebut lebih benar dari teori sebelumnya. Dan
jangan lupa, teori yang pada kurun waktu tertentu tersebut dinyatakan lebih benar dari teori
sebelumnya pun, pada gilirannya akan digantikan pula oleh teori baru lainnya yang
memiliki kadar kebenaran lebih tinggi (lebih benar) dari teori tersebut. Begitu seterusnya.
Fakta inilah yang mendasari keyakinan yang lazimnya populer dan diterima di kalangan
para ilmuwan besar dunia tentang sifat kesementaraan dari setiap teori dalam ilmu
pengetahuan. Stephen Hawking seorang ilmuwan - ahli fisika - besar yang hidup pada
abad ke-21 ini, dalam salah sebuah buku ilmiah populer karangannya (A Brief History of
Time : from the Big Bang to Black Holes, yang diterbitkan pertama kalinya oleh Bantam
Dell Publishing Group tahun 1988) menyatakan bahwa setiap teori dalam Ilmu Fisika
pada akhirnya akan menjadi tidak lebih dari sebuah hipotesis. Dan fakta seperti itu
sebenarnya berlaku secara umum dalam ilmu pengetahuan, bukan hanya dalam Ilmu Fisika
saja.
Ilmu pengetahuan tidak pernah dan tidak akan pernah berperan dengan sendirinya dalam
memenuhi kebutuhan hidup manusia. Ia akan berperan apabila digunakan oleh manusia.
Penggunaan ilmu pengetahuan oleh umat manusia dilakukan melalui penerapan teori-teori
ilmu pengetahuan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Bentuk penerapan teori-teori
tersebut, antara lain, dalam bentuk paket teknologi untuk proses produksi yang lebih efisien
dalam menghasilkan barang-barang hasil industri, berbagai paket konsep yang diperlukan baik
sebagai dasar dalam menyusun teknik manajemen yang lebih efektif, maupun sebagai landasan
kebijakan yang selain lebih efektif juga mampu menjawab permasalahan yang dihadapi
dengan lebih tepat juga lebih efisien apabila dibandingkan dengan tanpa berlandaskan kepada
teori-teori dalam ilmu pengetahuan. Dengan demikian, maka penggunaan ilmu pengetahuan
memberikan dampak yang menguntungkan bagi kehidupan umat manusia, apabila proses
produksi yang lebih efisien, teknik manajemen yang lebih efektif, dan kebijakan yang lebih
tepat ini ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika ini yang dituju dalam
penggunaan ilmu pengetahun, maka hasilnya adalah dicapainya tingkat kesejahteraan
masyarakat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Akan tetapi, sejarah panjang peradaban umat
manusia di muka bumi ini telah menunjukan kepada kita bahwa dengan menerapkan teori-teori
dalam ilmu pengetahuan, manusia juga bisa menghasilkan teknologi, teknik manajemen, dan
kebijakan yang tujuan penggunaannya justru sebaliknya dari yang diutarakan di muka. Jika hal
ini terjadi maka penggunaan ilmu pengetahuan memberikan dampak yang merugikan bagi
kehidupan umat manusia. Penerapan ilmu pengetahuan pada keadaan yang terakhir ini harus
dipandang sebagai kekeliruan, yaitu kekeliruan yang dibuat oleh manusia pada tingkat
6

penggunaan ilmu pengetahuan. Kekeliruan seperti ini bisa terjadi pada berbagai sendi
kehidupan manusia dan berbagai bidang pekerjaan.
Khusus untuk penerapan ilmu pengetahuan dalam bidang pengelolaan sumberdaya alam,
para ahli ilmu pengetahuan dalam bidang ini mensinyalir adanya kekeliruan umat manusia
yang lebih mendasar dari kekeliruan tingkat penggunaan ilmu pengetahuan. Kekeliruan
mendasar yang dilakukan oleh umat manusia dalam menerapkan ilmu pengetahuan untuk
kegiatan pengelolaan sumberdaya alam adalah kekeliruan dalam memposisikan ilmu
pengetahuan di antara pengetahuan-pengetahuan lain yang tumbuh dan berkembang di
tengah-tengah masyarakat.
Dalam pengelolaan sumberdaya alam konvensional, termasuk di dalamnya pengelolaan
hutan konvensional yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan, lazimnya ilmu pengetahuan
ditempatkan pada posisi penentu akhir dan satu-satunya pengarah dalam penyusunan
kebijakan untuk pengelolaan. Dengan demikian, maka rumusan pengelolaan terutama
disusun berdasarkan kepada konsep-konsep penerapan teori-teori ilmu pengetahuan yang
lazimnya bersifat universal. Sejarah panjang pengelolaan sumberdaya alam dengan
pendekatan seperti ini telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa dalam
prakteknya kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya alam yang dihasilkan seringkali
memberikan dampak sosial yang merugikan. Berbagai macam konflik sosial seringkali
muncul menyertai kebijakan pengelolaan sumberdaya alam seperti itu. Konflik sosial ini
pada umumnya muncul sebagai akibat beragamnya harapan dan kepentingan pihak-pihak
yang berkepentingan di dalam masyarakat terhadap manfaat dari pengelolaan sumberdaya
alam tersebut, dan tidak seluruhnya dapat diakomodasikan dalam kebijakan yang dibuat.
Itulah sebabnya mengapa dalam pengelolaan sumberdaya alam mutakhir, ilmu
pengetahuan tidak diposisikan sebagai satu-satunya pengarah dalam menentukan kebijakan
pengelolaan. Ilmu pengetahuan yang utuh, kuat, dan logis harus disejajarkan dengan hasil
penilaian yang baik dari para pihak pemangku kepentingan dalam memberikan arah
kebijakan pengelolaan sumberdaya alam tersebut (based on sound science and good
judgement). Dengan demikian, maka kebijakan pengelolaan sumberdaya alam di suatu
tempat tertentu merupakan resultante dari pertimbangan-pertimbangan yang berlandaskan
kepada teori-teori dalam ilmu pengetahuan yang bersifat universal serta pengetahuan, nilai-
nilai, dan kearifan lokal masyarakat di tempat itu.
Ilustrasi di muka merupakan contoh tentang apa sajakah yang harus berubah dari para
pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam pengelolaan sumberdaya alam, dalam hal ini
adalah berubah dalam cara pandang terhadap posisi ilmu pengetahuan (science) dalam
melandasi kebijakan pengelolaan sumberdaya alam. Untuk pengelolaan sumberdaya hutan,
maka para pihak yang maksud adalah para pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam
pengelolaan sumberdaya hutan (pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha dalam bidang
kehutanan). Pada kelompok masyarakat sebagai komponen para pihak dimaksud,
termasuk di dalamnya adalah masyarakat yang tinggal di wilayah hutan tersebut berada,
serta masyarakat ilmuwan, praktisi (profesional), dan pemerhati masalah-masalah dalam
bidang kehutanan. Bagian dari kelompok inilah yang seyogyanya menjadi pelopor
perubahan ke arah yang diinginkan.
Untuk dapat menjawab dilema yang dihadapi dalam pengelolaan hutan diperlukan adanya
perubahan dalam cara pandang, pola pikir, sikap, dan perilaku dari para pihak yang terlibat
dan berkepentingan dalam pengelolaan hutan. Berbagai literatur telah banyak mengupas
7

tentang perlunya perubahan ini berikut apa-apa sajakah yang harus berubah, dan ke mana
arah perubahan tersebut. Berikut adalah pendapat beberapa pakar yang berkenaan dengan
arah perubahan yang seyogyanya dilakukan oleh umat manusia untuk menghahadapi
perkembangan permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan sumberdaya alam.

a. Pergeseran Paradigma (paradigm shift) vs Perkembangan Paradigma (paradigm


development)
Paradigma (Inggris : paradigm, Perancis : paradigme, Latin : paradigma, Yunani :
paradeigma) dalam kehidupan masyarakat ilmiah mengandung arti keseluruhan konsep
yang diterima oleh sebagian besar orang dalam suatu masyarakat ilmiah (scientific
community) dalam memandang sesuatu (Neufeldt dan Guralnik, 1996). Sedangkan
dalam kehidupan masyarakat umum paradigma seringkali diartikan sebagai sebuah
kerangka pola pemikiran yang dianut oleh seseorang atau sekelompok orang dalam
memandang sesuatu permasalahan tertentu.
Paradigma, baik yang dianut dalam dunia masyarakat ilmiah maupun dalam kehidupan
masyarakat secara umum tidaklah tetap, melainkan berubah. Peru-bahan paradigma ini
dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah paradigm shift. Akan tetapi, walaupun kata
shift dalam bahasa Inggris dapat diartikan perubahan atau pergeseran, makna istilah
paradigm shift dalam bahasa Inggris, dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai
pergeseran paradigma. Dan pada kenyataannya pemahaman tentang perubahan
paradigma di dalam kehidupan masyarakat selalu dianggap sebagai pergeseran paradigma,
bukan pengertian yang lain dari perubahan, misalnya perkembangan (development).
Oleh karena memaknai perubahan paradigma itu terkungkung dalam pengertian
pergeseran paradigma, maka perubahan paradigma sifatnya seakan selalu mengandung
arti berpindah tempat (bergeser). Dengan cara berpikir ini, maka apabila suatu saat
paradigma lama dianggap tidak relevan lagi dan perlu diganti oleh paradigma baru,
maknanya adalah paradigma lama itu seluruhnya harus ditinggalkan dan digantikan
seluruhnya oleh paradigma baru. Padahal, apabila ditelaah secara seksama, bisa saja
paradigma baru yang diperlukan itu bukan merupakan penggantian total terhadap
paradigma lama, akan tetapi sebuah hasil perombakan terhadap paradigma lama dengan
cara mengembangkannya agar lebih sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Jadi
paradigma baru yang diperlukan adalah hasil pengembangan paradigma lama (paradigm
development), bukan hasil pergeseran paradigma lama (paradigm shift).
Dalam bidang Kehutanan, perubahan paradigma dalam memandang hasil hutan kiranya
perlu dikaji dengan seksama. Perubahan cara pandang orang terhadap hasil utama yang
diharapkan dari hutan, dari tadinya hanya untuk menghasilkan kayu sebagai hasil utama
sedangkan hasil lainnya sebagai hasil tambahan (by product) ke arah optimalisasi berbagai
hasil (barang dan jasa) yang dapat diperoleh dari hutan sebagai sebuah ekosistem, adalah
sebuah proses pengembangan cara pandang terhadap hasil hutan, bukan proses pengge-
seran cara pandang. Bilamana yang dilakukan adalah menggeser cara pandang, maka
pandangan baru itu haruslah menjadikan hasil hutan selain kayu sebagai hasil utamanya
dan kayu menjadi hasil ikutannya (by product). Jika alternatif ini yang dipilih, dari
manakah bangsa Indonesia akan memenuhi kebutuhan kayunya yang terus meningkat ?
Kita impor sajalah, yang penting harganya murah ? Padahal potensi hutan Indonesia untuk
menghasilkan kayu tanpa harus merusak hutannya pun sebenarnya sangat tinggi.
8

Bukankah hutan itu dapat berupa hutan alam dan hutan tanaman ? Selain itu, bukankah
hutan itu selain dapat tumbuh pada lahan yang berstatus tanah negara, juga dapat tumbuh
pada lahan dengan status tanah milik ? Kalau demikian, mengapa peranan hutan untuk
menghasilkan kayu harus digeser oleh hasil hutan selain kayu ? Mengapa tidak
dikembangkan saja peran hutan itu menjadi menghasilkan barang dan jasa ekosistem
hutan secara utuh ?
Cara pandang orang terhadap makna hutan, baik wujud hutan, fungsi hutan, maupun
status hukum kepemilikan lahan hutannya pun harus kita kembangkan, bukan digeser.
Makna wujud biofisik hutan dari tadinya sekedar berupa satu kesatuan masyarakat
tumbuhan yang didominasi oleh pohon-pohon sebagai sebuah tegakan hutan, pada saat
ini sudah berkembang ke arah cara pandang hutan sebagai satu kesatuan ekosistem,
dan bahkan hutan sebagai bagian (sub sistem) dari ekosistem bentang alam ekologis
(ecological landscape). Demikian pula dengan cara pandang terhadap fungsi hutan.
Cara pandang orang terhadap fungsi hutan yang tadinya memandang hutan dapat
dikotak-kotakkan menurut fungsinya menjadi hutan dengan fungsi utama produksi,
hutan dengan fungsi utama hidroorologi, dan hutan dengan fungsi utama konservasi ke
arah fungsi hutan yang bersifat menyeluruh (holistic) dan terintegrasi (integrated)
merupakan sebuah hasil pengembangan cara pandang, bukan hasil menggeser cara
pandang. Akhirnya, khusus di Indonesia, cara pandang orang yang telah terlanjur
mempersempit pemahaman tentang hutan tetap yang identik dengan kawasan hutan
dan identik dengan hutan negara, perlu dikembangkan ke arah cara pandang hutan
tetap itu dapat berada pada lahan yang berstatus sebagai tanah negara, atau tanah adat,
atau tanah milik. Dengan demikian, maka penetapan peruntukan suatu hamparan
lahan untuk hutan tetap, terutama haruslah berdasarkan pada pendekatan fungsional,
bukan hanya berlandaskan status yuridis lahannya sebagai tanah negara.
Dari uraian di muka jelaslah kiranya bahwa dalam bidang Kehutanan, cara kita
memandang perubahan paradigma itu seyogyanya dimaknai sebagai perkembangan
paradigma (paradigm development), bukan pergeseran paradigma (paradigm shift).

b. Pergeseran Mazhab dalam Etika Lingkungan dari Mazhab Antroposentrisme ke


Arah Mazhab Ekosentrisme vs Perkembangan Mazhab dalam Etika Lingkungan
dari Mazhab Antroposentrisme ke Arah Mazhab Etika Keutamaan-Paripurna
(the Perfect-Virtue Ethics)
Dalam sejarah perkembangan etika lingkungan, setidaknya ada tiga mazhab besar yang
menurut para pakar dalam bidang ini dianut oleh sebagian besar umat manusia, yaitu :
Mazhab Antroposentrisme, Mazhab Biosentrisme, dan Mazhab Ekosentrisme
(Keraf, 2002). Perbedaan mendasar dari ketiga mazhab tersebut terletak pada cara
pandang umat manusia dalam mengakui nilai yang melekat pada mahluk selain
manusia, yaitu mahluk hidup (hayati) selain umat manusia dan mahluk tidak hidup (non
hayati) atau benda mati yang seluruhnya merupakan ciptaan Tuhan (Al-Khalik).
Mazhab Antroposentrisme mengembangkan standar etika tentang benar dan salah
berdasarkan kepada anggapan bahwa dalam kehidupan di dunia ini, hanya umat
manusialah yang oleh Sang Pencipta diberikan nilai yang langsung melekat padanya,
sementara mahluk lainnya tidak secara langsung memiliki nilai yang bersifat melekat
tersebut. Kelompok mahluk selain manusia ini hanya akan memiliki nilai bilamana ia
diberi nilai oleh manusia. Manusia akan memberikan nilai kepada kelompok mahluk
9

selain manusia ini hanya apabila ia mampu memberikan manfaat dalam mencukupi
kebutuhan manusia. Padahal, pada kenyataannya pengetahuan manusia tentang manfaat
dari setiap jenis mahluk selain manusia itu sepenuhnya ditentukan oleh pengetahuan
manusia sendiri, bukan ditentukan oleh ada atau tidaknya manfaat yang melekat pada
setiap jenis mahluk selain manusia itu. Adapun ketidaktahuan manusia terhadap
manfaat dari setiap jenis mahluk selain manusia itu dapat merupakan akibat dari
keterbatasan kemampuan seluruh umat manusia di muka bumi ini yang akan terus
terjadi sepanjang masa dalam menguak dan menemukan manfaat atau manfaat-manfaat
setiap jenis mahluk selain umat manusia bagi kehidupan umat manusia yang ada di jagat
raya ini. Keterbatasan kemampuan umat manusia inilah yang membatasi penemuan
ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) yang diperlukan untuk mengungkap
manfaat atau manfaat setiap jenis mahluk hidup selain manusia untuk keperluan
kehidupan manusia. Akan tetapi ketidaktahuan kelompok manusia tertentu dapat juga
disebabkan oleh adanya keterbatasan kemampuannya untuk mengakses informasi yang
telah ditemukan dan berkembang dalam kelompok manusia yang lain. Walaupun masih
bersifat kontroversi, sementara pakar dalam bidang etika lingkungan berpendapat bahwa
resultante dari cara pandang manusia yang bersifat ke-akuan (egocentrisme) seperti ini
dan diikuti oleh sifat-sifat negatif yang dimilikinya yang cenderung untuk merusak
seperti tamak dan serakah, padahal pada kenyataannya kemampuan untuk mengetahui
mereka sangat terbatas, adalah kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan hidupnya,
walaupun di sisi lain manusia memiliki pula sifat-sifat baik (membangun) dan kearifan
(wisdom) dalam bertindak.
Oleh karena adanya kelemahan yang dianggap sangat mendasar dalam cara pandang
manusia yang melandasi pemikiran tentang etika lingkungan dalam Mazhab
Antroposentrisme, maka beberapa pakar kemudian berusaha untuk mencari cara
pandang yang menurut pendapatnya lebih maju dari cara pandang tersebut.
Berdasarkan hasil pemikiran baru tersebut, kemudian muncul mazhab baru dalam
etika lingkungan, yaitu Mazhab Biosentrisme, dan kemudian diikuti dengan Mazhab
Ekosentrisme. Dalam Mazhab Biosentrisme, standar etika tentang benar dan salah
berlandaskan kepada anggapan bahwa selain kepada manusia, Sang Pencipta
memberikan pula nilai yang bersifat melekat kepada mahluk hidup selain manusia,
akan tetapi nilai untuk mahluk yang tidak hidup (benda mati) tetap diberikan oleh
manusia. Sementara standar etika tentang benar dan salah pada dan Mazhab
Ekosentrisme berlandaskan kepada anggapan bahwa Sang Pencipta memberikan nilai
yang bersifat melekat kepada seluruh mahluknya, yaitu manusia, mahluk hidup selain
manusia, dan benda mati. Dengan demikian, tidak ada hak pada manusia untuk
memberikan nilai kepada mahluk selain manusia, oleh karena nilai tersebut telah ada
dengan sendirinya, melekat pada dirinya, langsung diberikan oleh Sang Pencipta,
seperti halnya nilai yang melekat pada manusia. Oleh karena cara pandang manusia
dalam Mazhab Ekosentrisme dianggap lebih sempurna dibandingkan dengan cara
pandang Mazhab Antroposentrisme, maupun Mazhab Biosentrisme, maka
sementara pakar berpendapat bahwa seyogyanya kita, umat manusia, menggeser
(beralih) mazhab dalam etika lingkungan dari Mazhab Antroposentrisme ke arah
Mazhab Biosentrisme, dan bahkan akhirnya harus menuju ke arah Mazhab
Ekosentrisme. Dengan demikian, maka Mazhab Antroposentrisme harus
ditinggalkan dan dibuang jauh-jauh dari kehidupan manusia sehari-hari.
10

Penulis berpendapat, menggeser mazhab dalam etika lingkungan yang seyogyanya dianut
dalam kehidupan manusia dari Mazhab Antroposentrisme ke arah Mazhab
Ekosentrisme bukanlah cara yang bijak dalam menghadapi permasalahan lingkungan
hidup yang terus semakin banyak dan makin besar dari waktu ke waktu. Alasannya
adalah, oleh karena dalam cara pandang yang mendasari standar etika tentang benar dan
salah dalam Mazhab Antroposentrisme, Mazhab Biosentrisme, dan Mazhab
Ekosentrisme masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahannya untuk mendukung
pola pikir, sikap, dan perilaku manusia dalam mengelola sumberdaya alam dan
lingkungannya secara umum. Kelebihan cara pandang dalam Mazhab
Antroposentrisme antara lain adalah adanya pengakuan terhadap hak manusia untuk
memanfaatkan komponen-komponen sumberdaya alam dan lingkungannya, baik yang
bersifat hidup maupun benda mati. Adapun kelemahannya adalah cara pandang yang
bersifat egosentrisme, yaitu dengan menganggap manusia sebagai satu-satunya sumber
nilai bagi mahluk lain (selain manusia) yang ada di jagat raya ini. Sementara cara
pandang yang melandasi Mazhab Biosentrisme maupun Mazhab Ekosentrisme yang
menganggap bahwa seluruh mahluk hidup (Mazhab Biosentrisme) dan seluruh mahluk,
baik mahluk hidup maupun benda mati (Mazhab Ekosentrisme) yang diciptakan Tuhan
sebagai Al-Khaliq, masing-masing memiliki nilai dengan sendirinya (melekat pada dirinya)
yang diberikan oleh Sang Pencipta, merupakan salah satu kekuatan dari kedua mazhab ini.
Akan tetapi cara pandang yang muncul kemudian sebagai konsekuensi logis dari cara
pandang tersebut menganggap bahwa manusia tidak dapat dengan semena-mena
memanfaatkan komponen-komponen sumberdaya alam yang bersifat hidup (Mazhab
Biosentrisme) atau seluruh komponen sumberdaya alam dan lingkungannya yang bersifat
hidup maupun benda mati (Mazhab Ekosentrisme) merupakan kelemahan dari cara
pandang dalam kedua mazhab ini. Alasannya adalah oleh karena dalam pandangan yang
bersifat ekstrim, para penganut kedua mazhab ini (Mazhab Biosentrisme dan Mazhab
Ekosentrisme) menolak adanya hak manusia untuk memanfaatkan sumberdaya alam dan
lingkungannya dengan sangat ekstrim.
Berdasarkan kenyataan bahwa dalam cara pandang yang mendasari standar benar dan
salah dalam setiap mazhab etika lingkungan yang berkembang di dalam masyarakat itu
masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan dalam mendukung pola pikir, sikap,
dan perilaku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungannya, maka
menurut pendapat penulis mazhab etika lingkungan yang seyogyanya dianut dalam
kehidupan manusia itu bukan salah satu dari ketiga mazhab tersebut, yaitu atau Mazhab
Antroposentrisme, atau Mazhab Biosentrisme, atau Mazhab Ekosentrisme. Yang
seyogyanya dianut adalah mazhab baru yang berlandaskan kepada cara pandang yang
bersifat unggul dari cara pandang yang mendasari ketiga mazhab tersebut.
Dengan pola pikir ini, maka cara pandang yang seyogyanya menjadi standar benar dan
salah dalam etika lingkungan adalah adanya pengakuan terhadap hak manusia dalam
memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungannya untuk memenuhi keperluan
dalam kehidupan manusia dan pada saat yang bersamaan manusia pun harus mengakui
adanya nilai yang melekat pada seluruh mahluk yang diciptakan oleh Sang Pencipta.
Jadi nilai yang dimiliki oleh mahluk selain manusia itu tidak hanya akan ada bilamana
diberikan oleh manusia, akan tetapi nilai tersebut ada melekat padanya dengan
sendirinya. Dan nilai tersebut bersumber dari Sang Pencipta, yaitu sumber nilai yang
sama yang dimiliki oleh manusia. Dengan demikian, maka cara pandang ini dapat
11

dikatakan sebagai cara pandang yang bersifat paripurna (perfect) yang dapat
dipikirkan oleh umat manusia pada saat ini.
Selanjutnya, untuk dapat menerapkan etika lingkungan dengan berlandaskan kepada cara
pandang di muka dengan baik, maka perlu dianut Teori Etika Keutamaan (Virtue Ethics
Theorm) dalam menerapkan etika tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Keraf
(2002), berbeda dengan Teori Etika Deontologi yang melandaskan baik atau buruk suatu
tindakan berdasarkan apa yang menjadi kewajiban manusia dalam menghadapi dunia
nyata yang sesungguhnya, atau Teori Etika Teleologi yang melandaskan baik atau buruk
suatu tindakan berdasarkan apa yang menjadi tujuan manusia dalam menghadapi dunia
nyata yang sesungguhnya, maka dalam Teori Etika Keutamaan landasan yang
dipergunakan sebagai dasar dalam menentukan baik atau buruknya suatu tindakan itu
berlandaskan kepada teladan tentang karakter moral yang diberikan oleh para tokoh moral
yang diakui dan tumbuh di dalam masyarakat. Dengan demikian, maka apa yang
dianggap baik dalam kehidupan manusia menurut teori etika ini adalah apa yang
diteladankan sebagai sikap, perilaku, dan tindakan yang baik yang diteladankan oleh para
tokoh teladan tersebut. Sikap, perilaku, dan tindakan sebaliknya dari yang ditelandankan
oleh tokok tersebut dalam menghadapi kehidupan nyata yang sesungguhnya merupakan
sikap, perilaku, dan tindakan yang buruk.
Dengan demikian, menurut teori ini, untuk dapat tegaknya etika lingkungan hidup
dalam sikap, perilaku, dan tindakan kehidupan dalam dunia nyata yang sesungguhnya,
maka setiap orang harus berusaha agar dapat menjadi panutan orang lain dalam
mempraktekan sikap, perilaku, dan tindakan yang baik yang diberikan oleh para tokoh
teladan pendahulunya.
Itulah gambaran tentang etika lingkungan yang seyogyanya dianut dalam menghadapi
permasalahan lingkungan hidup, termasuk dalam bidang Kehutanan, yang merebak pada
saat ini dan ke depan. Oleh karena mazhab dalam etika lingungan yang penulis ajukan ini
merupakan perpaduan antara cara pandang yang melandasi standar etika lingkungan, yaitu
Etika Paripurna (Perfect Ethics), dengan teori etika yang dipergunakan untuk menerapkan
etika lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Etika Keutamaan (Virtue Ethics),
maka mazhab etika lingkungan ini, mungkin dapat kita beri nama Etika Keutamaan-
Paripurna (the Perfect-Virtue Ethics).
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa etika lingkungan yang seyogyanya dianut
dalam kehidupan pada saat ini dan ke depan, yaitu Etika Keutamaan-Paripurna, pada
dasarnya merupakan hasil pengembangan dari nilai-nilai unggul yang terdapat dalam
Etika Antroposentrisme yang telah berabad-abad dianut dalam kehidupan manusia di
muka bumi ini memperkayanya dengan nilai-nilai dan cara pandang unggul dari Etika
Biosentrisme dan Etika Ekosentrisme. Jadi bukan dengan cara menggeser Etika
Antroposentrisme ke arah Etika Ekosentrisme.

c. Pergeseran dari Pendekatan Pengelolaan Tegakan Hutan ke Arah Pendekatan


Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem vs Perkembangan dari Pendekatan
Pengelolaan Tegakan Hutan ke Arah Pendekatan Pengelolaan Hutan Berbasis
Ekosistem
Pada awal perkembangan Ilmu Kehutanan, khususnya dalam bidang Ilmu Pengelolaan
Hutan (Forest Management) pengelolaan hutan mengandung makna pengelolaan tegakan
12

hutan untuk menghasilkan kayu secara terus menerus (berkelanjutan atau lestari). Prinsip
berkelanjutan dalam konsep pengelolaan ini diukur oleh jumlah pengulangan proses
produksi untuk menghasilkan tegakan hutan yang siap dipanen yang bersifat tidak
berhingga (infinite). Teori yang pada mulanya dicetuskan oleh Dr. Martin Faustmann
pada tahun 1849 dalam menghitung Nilai Harapan Lahan yang ditujukan untuk
menghasilkan kayu secara berkelanjutan itu, selanjutnya diterima sebagai landasan dalam
menerapkan prinsip kelestarian hasil (Sustainable Yield Principle) dalam pengelolaan
hutan (Davis dan Johnson, 1987, Davis et al., 2001, dan Buongiorno dan Gilles, 2003).
Satu ulangan proses produksi adalah satu kali rangkaian kegiatan yang lengkap dalam
sistem silvikultur yang diawali dengan penanaman, pemeliharaan tegakan hutan sampai
memperoleh tegakan hutan yang siap dipanen, dan pemanenan. Setelah dipanen lahan
tegakan hutan tersebut ditanami atau diremajakan kembali, dan kemudian diikuti oleh
tindakan yang diperlukan dalam rangkaian sistem silvikultur sampai diperoleh tegakan
hutan yang siap dipanen kembali, begitu seterusnya. Dengan konsep seperti ini, dalam
suatu proses produksi sebagai sub sistem dari sistem pengelolaan hutan menurut konsep
pengelolaan tegakan hutan, maka tegakan hutan yang terbentuk merupakan keluaran
(output) dari proses produksi. Sedangkan kayu yang diperoleh melalui pemanenan dari
tegakan hutan tersebut merupakan hasil (outcome) dari proses produksi tersebut. Dengan
demikian maka upaya yang dilakukan dalam proses produksi melalui penerapan tindakan
silvikultur tertentu yang dianggap paling sesuai, termasuk di dalamnya pemberian
masukan (input) teknologi tertentu yang dianggap paling tepat, keseluruhannya ditujukan
untuk menghasilkan tegakan hutan yang paling mendekati tegakan hutan ideal yang dapat
dibangun (dibuat) di tempat itu. Adapun tegakan hutan ideal menurut konsep pengelolaan
hutan ini adalah hutan tanaman monokultur (satu jenis) dan satu umur atau berumur sama
(even aged), yang memiliki riap pertumbuhan tertinggi yang mungkin dicapai serta bentuk
dan kesehatan pohon yang terbaik yang mungkin diperoleh, dengan menerapkan
perlakuan silvikultur terbaik dan paling tepat untuk tempat itu. Tegakan hutan seperti
inilah yang disebut tegakan hutan normal.
Metode penebangan (pemanenan kayu) yang lazim diterapkan dalam setiap
tegakannya adalah metode tebang habis, sedangkan metode permudaannya
(penanaman kembali, peremajaan) dapat dilakukan dengan metode permudaan buatan
atau permudaan alam. Berdasarkan metode yang dipergunakan dalam penebangan dan
permudaan tegakan ini, maka sistem silvikultur yang diterapkan dalam pengelolaan
hutan dengan konsep ini adalah Sistem Tebang Habis dengan Permudaan Buatan
(THPB) atau Sistem Tebang Habis dengan Permudaan Alam (THPA).
Dalam perkembangannya, prinsip dalam kedua sistem silvikultur ini diterapkan pula
pada hutan alam, terutama pada hutan alam tropika, yang tegakan hutannya berupa
hutan campuran jenis (heterogeneous), dalam setiap tegakan terdapat berbagai fase
pertumbuhan pohonnya (uneven-aged) yang tumbuh secara alami di tempat itu.
Walaupun metode penebangan yang diterapkan dinamakan metode tabang pilih, akan
tetapi yang diterapkan sebenarnya tebang habis untuk pohon-pohon yang memiliki
diameter sama atau lebih besar dari diameter pohon minimal yang boleh ditebang.
Jadi metode penebangan yang diterapkan sebenarnya merupakan modifikasi dari
metode tebang habis dalam metode penebangan hutan tanaman homogen dan seumur.
Metode permudaan yang diterapkan dalam sistem silvikultur pada hutan alam di
Indonesia dapat berupa metode permudaan alami (dalam sistem silvikultur Tebang
Pilih Indonesia, TPI) atau dapat pula berupa metode permudaan buatan (dalam sistem
13

silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia, TPTI). Pada kedua sistem silvikultur ini
pada mulanya ditetapkan batas diameter pohon terendah yang boleh ditebang 50 cm.
Beberapa sistem silvikultur lain yang pernah diterapkan dan diuji coba pada hutan
alam yang merupakan modifikasi dari sistem silvikultur TPI dan TPTI adalah sistem
silvikultur Tebang Jalur Tanam Indonesesia (TJTI), sistem silvikultur Tebang Jalur
Tanam Konservasi (TJTK), sistem silvikultur Silvikultur Intensif (Silin), dan sistem
silvikultur yang merupakan kombinasi dari berbagai macam sistem silvikultur tunggal
yang ada (THPA, THPB, TPI, TPTI, TJTI, TJTK, dan Silin) dalam suatu unit
pengelolaan hutan, dinamakan multi sistem silvikultur. Penerapan sistem-sistem
silvikultur ini tujuannya sama, yaitu untuk membentuk tegakan hutan yang mendekati
bentuk tegakan hutan idealnya yang dapat dibangun di tempat itu. Tegakan hutan
adalah suatu hamparan lahan yang ditumbuhi pohon-pohonan yang memiliki keadaan
yang homogen dalam tempat tumbuh, tegakan pohon, dan fasilitas pengembangannya.
Dalam konsep pengelolaan hutan dengan basis tegakan hutan, satu kesatuan hutan
pengertiannya identik dengan satu kesatuan pengelolaan hutan yang dibentuk oleh tegakan
hutan-tegakan hutan dengan jumlah dan pola penyebaran (umur tegakan, letak tegakan)
yang memenuhi syarat-syarat kelestarian hasil (produksi), kelestarian usaha, serta
efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaannya. Bentuk sebaran kelas umur tegakan
hutan-tegakan hutan yang membentuk satu kesatuan hutan yang dikehendaki adalah
bentuk sebaran kelas umur yang dapat memberikan jaminan diperolehnya hasil yang
berkelanjutan. Jika kualitas tempat tumbuh sama dan setiap tahun dikehendaki jumlah
volume kayu hasil tebangan yang sama, maka bentuk sebaran kelas umur tegakan hutan
harus berbentuk sebaran yang seragam (sama luasnya untuk setiap kelas umur). Akan
tetapi jika kualitas tempat tumbuh tidak sama dan dikehendaki volume kayu hasil
tebangan yang sama, maka bentuk sebaran kelas umur tegakan akan bersifat sebanding
dengan bentuk sebaran kualitas tempat tumbuhnya. Sebaliknya, bila kualitas tempat
tumbuh tidak sama dan dikehendaki luas tebangan yang sama setiap tahunnya, maka
besarnya volume kayu hasil tebangan per tahunnya akan sebanding dengan proporsi kuali-
tas tempat tumbuh areal tegakan yang ditebang per tahunnya. Setiap skenario penebangan
yang dipilih (luas tebangan yang tetap atau hasil tebangan yang tetap) akan memerlukan
bentuk sebaran kelas umur tegakan yang tertentu. Hutan yang memiliki bentuk sebaran
yang dapat memberikan jaminan berkelanjutan untuk setiap skenario penebangan yang
ditentukan ini dinamakan hutan normal. Dengan demikian, bentuk sebaran kelas umur
hutan normal itu tidak satu atau berbentuk sebaran seragam saja, akan tetapi akan bersifat
sangat spesifik bergantung kepada sebaran luas menurut kualitas tempat tumbuhnya dan
skenario penebangan yang dikehendaki. Akan tetapi kualitas tegakan yang membentuk
hutan normal tetap sama, yaitu tegakan yang memiliki produktivitas dan keadaan pohon-
pohonnya yang paling ideal yang mungkin diperoleh di tempat itu.
Dalam pengelolaan hutan berbasis tegakan hutan, hasil utama yang diharapkan
biasanya tertentu jumlahnya. Lazimnya hasil utama yang diharapkan hanya satu, yaitu
kayu. Adapun hasil hutan lainnya (selain hasil utama) yang dapat diperoleh dengan
sendirinya akibat adanya hutan di suatu tempat, baik berupa barang maupun jasa,
dikelompokan ke dalam hasil ikutan (by product). Hasil hutan utama merupakan hasil
yang direncanakan (by designed), sehingga besarnya ditetapkan sesuai dengan target
yang dikehendaki. Hasil hutan ikutan dapat dipandang sebagai hasil yang terjadi
secara tidak direncanakan, sehingga besarnya tidak bisa ditetapkan sebagai target
seperti yang dikehendaki.
14

Dalam pengelolaan hutan berbasis tegakan hutan, hutan (unit pengelolaan hutan)
berfungsi sebagai satu kesatuan analisis untuk perencanaan dan satu kesatuan usaha
yang berdiri sendiri. Dengan demikian, maka ukuran-ukuran untuk tingkat kelestarian
hasil, kelestarian usaha, kecukupan fasilitas pengembangan, dan dampak yang terjadi,
ditetapkan untuk setiap satu kesatuan hutan yang berdiri sendiri. Walaupun dalam
perkembangan terakhir prinsip dalam pengelolaan hutan berbasis tegakan hutan
dikembangkan dari prinsip kelestarian hasil (sustained yield principle) menjadi prinsip
pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management, SFM) dengan memperluas
aspek hasil (dari kayu) menjadi aspek-aspek produksi (ekonomi), ekologi, dan sosial
secara serempak, akan tetapi konsep dan fungsi tentang hutan dalam pengelolaan hutan
tidak mengalami perubahan.
Dengan konsep hutan, fungsi hutan, dan penentuan hasil seperti yang diutarakan di muka,
maka bilamana dalam pengelolaan hutan berbasis tegakan hutan dilakukan pendekatan
pengelolaan yang bersifat terpadu (integrated), yang akan diperoleh adalah pengelolaan
terpadu yang bersifat parsial dalam pengelolaan ekosistem hutan. Demikian pula
bilamana tujuan pengelolaan ditetapkan dengan pendekatan optimalisasi, maka yang akan
diperoleh adalah hasil optimal yang bersifat semu terhadap hasil optimal dari ekosistem
hutan.
Berdasarkan uraian mengenai pengelolaan hutan berbasis tegakan hutan di muka,
maka dapat dibuat rumusan operasional pengertian pokok dari konsep pengelolaan
hutan berbasis tegakan hutan seperti tertera pada Kotak 3.

Kotak 3
Pengelolaan Hutan Berbasis Tegakan Hutan dengan
Prinsip Kelestarian Hasil (Sustained Yield Principle) dan
Prinsip Pengelolaan Hutan Lestari atau PHL
(Sustainable Forest Management, SFM)

Pengelolaan hutan berbasis tegakan hutan adalah pengelolaan hutan yang


memandang hutan sebagai himpunan dari tegakan hutan dengan sebaran kelas
umur yang ideal menurut hasil yang diharapkan. Hasil yang diharapkan dapat
berupa kayu sebagai hasil utama dan hasil hutan selain kayu sebagai hasil hutan
ikutannya (sustained yield principle), atau berupa kombinasi yang optimal antara
manfaat-manfaat ekonomi, ekologi, dan sosial secara berkelanjutan (SFM). Baik
dengan berlandaskan kepada prinsip kelestarian hasil maupun SFM, dalam
konsep pengelolaan hutan ini, setiap satu kesatuan hutan sebagai kumpulan dari
tegakan hutan berfungsi sebagai satu kesatuan analisis dalam perencanaan dan
merupakan satu kesatuan usaha yang berdiri sendiri. Pengelolaan terpadu dalam
konsep pengelolaan hutan ini merupakan pengelolaan terpadu yang bersifat
parsial dari pengelolaan ekosistem hutan, dan tujuan yang bersifat optimal dari
aspek-aspek ekonomi, ekologi, dan sosial merupakan tingkat optimal yang
bersifat semu jika dibandingkan dengan tingkat optimal yang dapat dicapai dari
ekosistem. Dalam pengelolaan hutan di Indonesia konsep pengelolaan hutan ini
hanya dapat diterapkan dalam pengelolaan hutan produksi.
15

Berdasarkan pengalaman praktek pengelolaan hutan dengan berlandaskan pada


pendekatan yang berbasis tegakan hutan ternyata mengarah pada tindakan yang
cenderung eksploitatif sehingga memberikan berbagai dampak negatif yang sangat
besar, maka beberapa pakar dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu yang
beragam mulai memikirkan pendekatan baru dalam pengelolaan hutan. Salah satu
pemikiran yang bersifat utuh dalam pendekatan baru ini adalah rumusan yang
dihasilkan dalam Konferensi Nasional di Amerika Serikat dengan topik Defining
Sustainable Forestry yang dilaksanakan pada bulan Januari 1992. Tujuan konferensi
ini adalah untuk memulai membangun kerangka umum yang dapat dipergunakan
dalam pembangunan kehutanan di masa yang akan datang. Dari konferensi ini
diperoleh kesimpulan umum bahwa pendekatan ekosistem dalam pengelolaan hutan
hendaknya melandasi praktek pengelolaan hutan di abad mendatang.
Dalam laporan konferensi itu, dikatakan bahwa berdasarkan diskusi yang berkembang
dalam konferensi tersebut, tidak ada satu ungkapan lain yang lebih baik untuk
meringkaskannya selain dari gagasan bahwa dalam pembangunan kehutanan yang
berkelanjutan haruslah bersifat ecologically sound, economically viable, and socially
desirable (Aplet et al., 1993 dalam Schlaepfer dan Elliot, 2000). Tafsiran bebas
untuk sifat pembangunan kehutanan yang berkelanjutan tersebut adalah : secara
ekologis kuat dan logis (masuk akal), secara ekonomis menjanjikan dan dapat
dilaksanakan, serta secara sosial diinginkan dan diperlukan.
Pengelolaan ekosistem (ecosystem management) sebagai sebuah kebijakan dalam
pengelolaan sumberdaya alam pertama kali muncul dalam US Forest Services New
Perspectives Program (Salwasser, 1999 dalam Schlaepfer dan Elliot, 2000). Adapun
pengertian pengelolaan ekosistem menurut program ini adalah merupakan sebuah konsep
dalam pengelolaan sumberdaya alam yang di dalamnya termasuk kegiatan kehutanan
nasional, dalam konteks interaksi ekonomi, ekologi, dan sosial dalam suatu daerah atau
wilayah tertentu, baik dalam jangka pendek maupun jangka pandang (Thomas dan Huke,
1996 dalam Schlaepfer dan Elliot, 2000). Gambaran keragaman pengertian tentang
konsep pengelolaan ekosistem dapat tercermin dari berbagai definisi tentang pengelolaan
ekosistem yang telah dibuat oleh berbagai pakar dan lembaga seperti diuraikan di bawah
ini (Schlaepfer dan Elliot, 2000).

1. The Ecological Society of America


Pengelolaan ekosistem adalah pengelolaan yang diarahkan oleh tujuan atau tujuan-
tujuan tertentu yang tegas, dilaksanakan melalui kebijakan, protokol, dan tindakan
praktis, serta dibuat agar dapat diadaptasikan melalui monitoring dan penelitian
yang berlandaskan kepada pemahaman terbaik kita terhadap interaksi ekologis dan
proses-proses yang diperlukan untuk mempertahankan keberlanjutan komposisi,
struktur, dan fungsi ekosistem. Pengelolaan ekosistem mencakup keberlanjutan,
tujuan-tujuan, model dan pemahaman ekologi yang kuat dan logis, kompleksitas
dan keterhubungan, dinamika sifat-sifat ekosistem, konteks dan skala, manusia
sebagai komponen dari ekosistem, kemampuan adaptasi, dan akuntabilitas.
16

2. The Interagency Ecosystem Management Task Force (1994) yang dibentuk


oleh Pemerintah Bill Clinton (Amerika Serikat)
Pengelolaan ekosistem adalah suatu pendekatan yang diarahkan oleh tujuan untuk
memulihkan dan melestarikan ekosisrem yang sehat berikut fungsi-fungsi dan nilai-
nilainya dengan menggunakan ilmu pengetahuan terbaik dari yang tersedia.
Pengelolaan ekosistem memerlukan cara kerja kolaboratif antara pengelola dengan
pemerintah pusat, masyarakat adat dan pemerintah setempat, kelompok-kelompok
masyarakat pemilik lahan, dan kelompok kepentingan lain untuk membangun visi
tentang keadaan ekosistem yang diharapkan di masa yang akan datang. Visi ini
merupakan perpaduan antara faktor-faktor ekologis, ekonomis, dan sosial yang
berpengaruh terhadap unit pengelolaan yang dibatasi oleh batas-batas ekologis, bukan
oleh batas-batas politik. Tujuannya adalah memulihkan dan melestarikan kesehatan
ekosistem dan pada saat yang sama juga mendukung kegiatan ekonomi dan
kemasyarakatan.
Beberapa pakar telah pula mengemukakan pandangannya tentang butir-butir
penekanan dalam memberikan pengertian tentang pengelolaab ekosistem, seperti
diuraikan berikut ini.
a. Overbay (1992) seperti dikutip oleh Schlaepfer dan Elliot (2000):
Pengelolaan ekosistem merupakan alat yang dapat dipergunakan untuk
mencapai tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan dalam program dan rencana.
Pengelolaan ekosistem adalah alat untuk mencapai tujuan, akan tetapi bukan
tujuan itu sendiri. Kita tidak mengelola ekosistem semata-mata hanya untuk
ekosistem itu sendiri, atau untuk nilai-nilai tertentu dari ekosistem itu saja.
Kita mengelola ekosistem untuk tujuan tertentu, seperti memproduksi,
memulihkan, atau melestarikan keadaan ekologis tertentu; penggunaan
sumberdaya dan hasil-hasilnya; jasa-jasa lingkungan yang penting; serta
keindahan budaya atau nilai-nilai spiritual.

b. Salwasser (1999) seperti dikutip oleh Schlaepfer dan Elliot (2000):


Penekanan dalam pengelolaan ekosistem adalah yang pertama untuk
mempertahankan keberlanjutan kesehatan ekosistem, sedangkan yang kedua
untuk menyediakan keperluan manusia dengan berbagai manfaat serta pilihan-
pilihan yang mereka perlukan; dan bukan sebaliknya.

c. Schlaepfer dan Elliot (2000) :


Pengelolaan ekosistem merupakan tipe pengelolaan yang bersifat kompleks dan
memerlukan pendekatan yang bersifat interdisiplin bidang ilmu, oleh karenanya
memerlukan monitoring yang baik dan kontribusi ilmu pengetahuan yang relevan.
Dalam pengelolaan ekosistem, aspek ekologi dan manusia merupakan unsur-unsur
pengelolaan yang bersifat sangat fundamental.
Memperhatikan definisi dan berbagai pandangan yang berkenaan dengan
pengelolaan ekosistem sebagaimana diutarakan di muka, maka butir-butir pokok
untuk pengertian pengelolaan hutan dengan pendekatan pengelolaan ekosistem
hutan (forest ecosystem management) secara operasional adalah seperti tertera
pada Kotak 4.
17

Kotak 4
Pengelolaan Hutan dengan Pendekatan Pengelolaan
Ekosistem Hutan (Forest Ecosystem Management)
Pengelolaan Hutan dengan Pendekatan Pengelolaan Ekosistem Hutan adalah
pengelolaan yang berlandaskan kepada kesatuan ekosistem hutan dengan tipe
dan batas-batas ekologis tertentu sebagai kesatuan analisis dalam
perencanaannya. Kesatuan ini berfungsi pula sebagai kesatuan pengelolaan
yang berdiri sendiri. Dalam Pengelolaan Hutan dengan Pendekatan
Pengelolaan Ekosistem Hutan penekanan tujuannya adalah memulihkan dan
mempertahankan kesehatan ekosistem hutan sebagai tujuan utama (pertama)
dan pada saat yang sama juga untuk menyediakan keperluan manusia dengan
berbagai manfaat dan pilihan-pilihan yang diperlukan. Ukuran untuk
keberhasilan dalam Pengelolaan Hutan dengan Pendekatan Pengelolaan
Ekosistem Hutan adalah keberlanjutan kesehatan ekosistem hutan yang
dicirikan oleh faktor-faktor komposisi, struktur, dan fungsi ekosistem hutan
yang dikelola. Visi tentang kesehatan ekosistem hutan yang diharapkan di
masa mendatang ditentukan berdasarkan kolaborasi antara pengelola hutan,
pemerintah, masyarakat adat setempat, serta kelompok-kelompok masyarakat
yang berkepentingan terhadap keberlanjutan kesehatan ekosistem hutan yang
dikelola berikut manfaat-manfaat dan nilai-nilai yang dapat diberikannya.
Pengelolaan Hutan dengan Pendekatan Pengelolaan Ekosistem Hutan
merupakan tipe pengelolaan yang bersifat kompleks dan memerlukan
pendekatan interdisiplin bidang ilmu. Oleh karenanya maka pelaksanaannya
haruslah berlandaskan kepada hasil monitoring yang baik dan ditunjang oleh
ilmu pengetahuan yang logis, kuat, dan lengkap.

Oleh karena dalam konsep Pengelolaan Hutan dengan Pendekatan Pengelolaan


Ekosistem Hutan memandang setiap kesatuan hutan dengan tipe dan batas-batas
ekologis tertentu merupakan satu kesatuan pengelolaan yang berdiri sendiri
dengan tujuan pengelolaan adalah memulihkan dan mempertahankan
keberlanjutan kesehatannya (komposisi, struktur, fungsi), maka haruslah dibuat
anggapan adanya kesamaan fungsi penggunaan untuk setiap kesatuan hamparan
lahan hutan. Persyaratan ini akan menyulitkan penerapan konsep Pengelolaan
Hutan dengan Pendekatan Pengelolaan Ekosistem Hutan dalam pengelolaan hutan
produksi di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, penerapan pengelolaan hutan dengan berlandaskan kepada
pendekatan Pengelolaan Ekosistem Hutan sangat sulit dilakukan. Dengan
pertimbangan ini, sejak konsep ini dimunculkan telah mengundang pendapat yang
berbeda-beda dari para pakar dalam bidang pengelolaan hutan. Menurut Schlaepfer
dan Elliot (2000), walaupun konsep pengelolaan ekosistem secara umum diakui
sebagai landasan konsepsional yang baik untuk pembangunan keberlanjutan, akan
tetapi konsep ini telah mengundang kontroversi pendapat. Beberapa pakar secara
kuat mendukung konsep ini, akan tetapi beberapa kelompok pakar yang lain menolak.
Khusus untuk penerapan konsep pengelolaan ekosistem dalam pengelolaan hutan
(Pengelolaan Hutan dengan Pendekatan Pengelolaan Ekosistem Hutan), Bennett
18

(1966) yang dikutip oleh Schlaepfer dan Elliot (2000) menyatakan bahwa walaupun
banyak pandangan yang secara umum menerima konsep dan nilai-nilai yang
terkandung dalam Pengelolaan Hutan dengan Pendekatan Pengelolaan Ekosistem
Hutan, akan tetapi masih terdapat banyak perbedaan dalam menafsirkannya.
Beberapa kelompok penganjur konsep Pengelolaan Hutan dengan Pendekatan
Pengelolaan Ekosistem Hutan lebih menitikberatkan kepada pertimbangan
ekologis yang bersifat ekskusif dalam penetapan tujuannya, sementara kelompok
kepentingan yang lain memandang bahwa Pengelolaan Hutan dengan Pendekatan
Pengelolaan Ekosistem Hutan merupakan cara untuk mengkompromikan antara
kepentingan manusia untuk memperoleh kayu dengan kepentingan untuk
melestarikan nilai-nilai lingkungan.
Untuk mengkaji kemungkinan penerapan konsep pengelolaan ekosistem dalam
pengelolaan hutan di Amerika Serikat, pada tahun 1993 Presiden Bill Clinton
membentuk kelompok kerja Forest Ecosystem Management Assessment Team
(FEMAT). Berdasarkan laporan FEMAT (FEMAT, 1993 dalam Schlaepfer dan
Elliot, 2000) gejala tarik menarik antara kelompok yang sangat kuat untuk
menitikberatkan kepentingan ekologis dengan kelompok yang lebih mengutamakan
pemanenan kayu terjadi dalam proses penyusunan Northwest Forest Plan.
Berdasarkan tingginya kontroversi pendapat antar berbagai kelompok kepentingan
yang menyertai penerapan pendekatan Pengelolaan Ekosistem Hutan dalam
pengelolaan hutan, maka Schlaepfer dan Elliot (2000) mengusulkan adanya
perubahan dalam paradigma yang dipergunakan dalam pengelolaan hutan.
Perubahan dimaksud adalah pengembangan paradigma agar menjadi cara pandang
yang lebih luas dari cara pandang yang dipergunakan dalam Pengelolaan Hutan
Lestari atau PHL (SFM) dan pengelolaan hutan dengan pendekatan Pengelolaan
Ekosistem Hutan atau PEH (Forest Ecosystem Management, FEM). Paradigma yang
diperlukan adalah paradigma yang memungkinkan kita untuk memperbaiki kualitas
pengelolaan dengan memasukkan kepentingan-kepentingan ekologis, ekonomis, dan
sosial yang diperlukan pada saat ini dan generasi mendatang. Paradigma baru
dimaksud menurut Schlaepfer (1997) dalam Schlaepfer dan Elliot (2000) adalah
paradigma Pengelolaan Berbasis Ekosistem atau PBE (Ecosystem-Based
Management, EBM). Konsep PBE dapat dipergunakan dalam setiap tipe sumberdaya
alam, antara lain dapat berupa : Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem atau PHBE
(Ecosystem Based Management of Forest Resources), Pengelolaan Sumberdaya Air
Berbasis Ekosistem (Ecosystem Based Management of Water Resources), dan
Pengelolaan Hidupan Liar Berbasis Ekosistem (Ecosystem Based Wildlife
Management).
PHBE merupakan sebuah proses yang bersifat sistematik dengan berlandaskan
kepada hasil penilaian yang baik dengan menggunakan konsep ilmu pengetahuan
yang kuat, logis, dan relevan. PHBE ditujukan untuk mencapai penggunaan hutan
secara berkelanjutan dengan meningkatkan sensitivitas ekologis dalam bentuk-bentuk
praktek kegiatan dalam pengelolaan. Dalam PHBE, pertimbangan-pertimbangan
ekologis, ekonomis, dan sosial diintegrasikan dengan mempertimbangkan faktor
teknologi yang terbaik yang dapat diterapkan, dalam dimensi waktu jangka pendek
dan jangka panjang, dari skala tempat tumbuh sampai kepada skala ekosistem
19

bentang alam (landscape-scale ecosystem). PHBE pada dasarnya merupakan alat


untuk membantu dalam memanfaatkan sumberdaya hutan dengan cara simultan
mempertahankan produktivitasnya, melindungi ekosistem-ekosistem tertentu yang
dianggap penting, memulihkan ekosistem hutan yang terdegradasi, dan merehabilitasi
ekosistem hutan yang rusak.
Dalam menerapkan pendekatan pengelolaan berbasis ekosistem untuk pengelolaan
sumberdaya hutan dan bentang alam ekologis atau lanskap (landscape), perlu
diperhatikan prinsip-prinsip dalam pengelolaan sumberdaya alam untuk
pembangunan berkelanjutan. Menurut Schlaepfer dan Elliot (2000), ada 12 prinsip
dalam pengelolaan sumberdaya hutan dan lanskap untuk pembangunan berkelanjutan
(Managing forest and landscape resources for sustainable development), yaitu :
1. Diarahkan untuk mencapai penggunaan sumberdaya ekosistem yang
berkelanjutan (Tends towards sustainable use of ecosystem resources).
2. Bersifat menyeluruh (Is holistic)
3. Berbasis ekosistem (Is ecosystem based)
4. Berperspektif lanskap (Has a landscape perspective)
5. Bertujuan ganda dan tertentu (Fixed multitiple objectives)
6. Bersifat terpadu (Is integrating)
7. Mencakup partisipasi (Includes participation)
8. Berlandaskan kepada pemantauan (Is based on monitoring)
9. Bersifat adaptif (Is adaptive)
10. Berlandaskan kepada ilmu pengetahuan yang kuat, lengkap, dan logis, serta
penilaian yang baik (Is based on sound science and good judgement).
11. Memasukan pertimbangan-pertimbangan pengetahuan, emosi, dan reaksi
moral (Takes cognitive, emotional and moral into account)
12. Berlandaskan kepada prinsip pencegahan (Is based on the precautionary
principle).
Memperhatikan prinsip yang dianut dalam pengelolaan hutan dengan pendekatan
PEH (mempertahankan keberlanjutan komposisi, struktur, dan fungsi) dan dengan
pendekatan PHBE (berbasis ekosistem, bersifat adaptif, dan berlandaskan kepada
prinsip pencegahan), maka wujud biofisik hutan sebagai keluaran (output) dari
pengelolaan hutan dengan dua pendekatan ini adalah hutan yang paling mendekati
bentuk dan keadaan hutan yang tumbuh secara alami atau yang pernah tumbuh
secara alami di tempat hutan itu berada.
Paradigma pembangunan hutan yang berlandaskan kepada anggapan bahwa
bentuk hutan terbaik yang harus dibangun pada suatu hamparan tanah kosong atau
dihutankan kembali pada hamparan lahan hutan alam yang rusak adalah bentuk
hutan yang tumbuh secara alami atau pernah tumbuh secara alami di tempat itu,
dikenal dengan istilah Paradigma Paling Mendekati Bentuk Hutan Alam
(Closed to the Natural Forest Paradigm). Paradigma ini mulai berkembang di
Eropa sekitar tahun 1990-an dan dinilai lebih tepat dalam mengembangkan
pembangunan hutan tanaman di masa mendatang, pada mulanya dipelopori oleh
beberapa pakar kehutanan mulai tahun 1970-an (Weidelt, 1975; Johnson, 1977;
dan Evans, 1982, dalam Manan, 1997).
20

Berdasarkan uraian mengenai pengelolaan sumberdaya alam berbasis ekosistem di


muka, maka untuk menerapkannya dalam pengelolaan hutan dengan pendekatan
PHBE pengertiannya secara operasional adalah seperti tertera pada Kotak 5.

Kotak 5
Pengelolaan Hutan dengan Berlandaskan
Prinsip Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem
(Ecosystem Based Managementof of Forest Resources)
Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem adalah pendekatan dalam pengelolaan
hutan yang menganggap hutan sebagai satu kesatuan ekosistem merupakan
bagian (sub-sistem) yang tidak terpisahkan dari ekosisten yang lebih besar, yaitu
ekosistem bentang alam ekolo-gis (ecological landscape), yang berfungsi
sebagai satu kesatuan analisis dalam perencanaan pengelolaan. Kesatuan
ekosistem hutan yang terdapat dalam suatu kesatuan bentang alam ekologis
dapat dikelola sebagai suatu kesatuan pengelolaan hutan, akan tetapi tujuan
pengelolaan, preskripsi pengelolaan, dan ukuran-ukuran keberhasilan
pengelolaan hutan harus merupakan turunan dari dan/atau sejalan dengan tujuan
pengelolaan, preskripsi pengelolaan, dan ukuran-ukuran keberhasilan
pengelolaan kesatuan bentang alam ekologis tempat ekosistem hutan berada
yang telah ditetapkan lebih dulu. Dengan demikian, maka dalam pengelolaan
hutan berbasis ekosistem, hutan sebagai satu kesatuan ekosistem bukan
merupakan kesatuan pengelolaan yang bersifat eksklusif atau berdiri sendiri
yang terpisah dengan kesatuan-kesatuan ekosistem lain yang terdapat di dalam
kesatuan pengelolaan bentang alam ekologisnya. Untuk dapat menerapkan
prinsip pengelolaan hutan berbasis ekosistem dalam pengelolaan suatu kestauan
ekosistem hutan, maka pengelolaan hutan harus dilaksanakan dengan
berlandaskan pada 12 prinsip yang harus dianut dalam pengelolaan sumberdaya
hutan dan bentang alam ekologis untuk pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan uraian mengenai pendekatan dalam pengelolaan hutan dari Pengelolaan


Hutan Berbasis Tegakan Hutan, pengelolaan hutan dengan pendekatan Pengelolaan
Ekosistem Hutan, dan Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem, yang terjadi adalah
pengembangan ranah yang berfungsi sebagai satu kesatuan analisis untuk
perencanaan dan satu kesatuan pengelolaan dari hutan sebagai tegakan hutan, hutan
sebagai ekosistem hutan, dan bentang alam ekologis sebagai ekosistem. Jadi bukan
pergeseran ranah pengelolaan. Dengan demikian, maka perubahan pendekatan yang
terjadi dalam pengelolaan hutan itu merupakan pengembangan dalam pendekatan
pengelolaan hutan, bukan pergeseran pendekatan dalam pengelolaan hutan.
Perkembangan pendekatan dalam pengelolaan hutan dari pendekatan tegakan hutan
ke arah pendekatan ekosistem hutan dan selanjutnya menjadi pendekatan berbasis
ekosistem lanskap, dapat kita pandang sebagai perkembangan dari sasaran wilayah
pengelolaan dan ruang lingkup kegiatan pengelolaan. Gambaran perkembangan
kedua hal ini dalam pengelolaan hutan di Indonesia adalah seperti terlihat pada Tabel
1.
21

Tabel 1. Arah Perkembangan Sasaran Wilayah Pengelolaan dan Ruang Lingkup


Kegiatan Pengelolaan dalam Pendekatan Pengelolaan Hutan di Indonesia

Ruang Sasaran Wilayah Pengelolaan


Lingkup
Kegiatan Tegakan Hutan atau Komponen Ekosistem Bentang
Ekosistem Hutan
Pengelolaan Ekosistem Hutan Lain Secara Parsial Alam Ekologis

Eksploitasi Eksploitasi Hutan pada Areal HPH - -


Pemanfaatan Kawasan Hutan (Secara
Pemanfaatan - -
Terpadu)
Pengelolaan Pengelolaan Hutan
Pengelolaan -
Ekosistem Hutan Berbasis Ekosistem
Sumber : Suhendang (2012)
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada saat ini pengelolaan hutan produksi di
Indonesia berada pada baris kedua kolom pertama, yaitu Pemanfaatan Kawasan
Hutan Produksi (Secara Terpadu), sedangkan pengelolaan hutan pada hutan
lindung dan hutan konservasi berada pada baris kedua kolom kedua, yaitu
Pengelolaan Hutan dengan Pendekatan Pengelolaan Ekosistem Hutan. Arah
Perkembangan pendekatan pengelolaan di Indonesia ke depan, baik pada hutan
produksi, hutan lindung, maupun hutan konservasi, seyogyanya berada pada baris
ketiga kolom ketiga, yaitu Pengelolaan Hutan Berlandaskan Prinsip Pengelolaan
Hutan Berbasis Ekosistem.
Arah perkembangan pengelolaan hutan di Indonesia dari keadaan mula-mula pada
baris pertama kolom pertama pada Tabel 1 (Eksploitasi Hutan pada Areal HPH)
menuju ke baris ketiga kolom ketiga pada Tabel 1 (Pengeloaan Hutan
Berlandaskan Prinsip Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem) ternyata
menyerupai bentuk huruf L. Walaupun tidak persis sama, rute arah
perkembangan pendekatan dalam pengelo-laan hutan di Indonesia pada Tabel 1
tersebut kira-kira menyerupai bentuk langkah kuda dalam permainan catur. Atas
dasar ini, maka dapatlah kiranya strategi dalam menuju arah pengelolaan hutan
Indonesia dari keadaan mula-mula, pada saat ini, dan ke depan itu kita beri nama
Strategi Langkah Kuda (the Step of Horse Strategy).

Arah Perkembangan Paradigma, Sikap, dan Perilaku


Insan Kehutanan Indonesia di Masa Mendatang
Mengikuti perkembangan pola pikir manusia dalam memandang dirinya, penulis cenderung
untuk menggunakan istilah insan kehutanan sebagai bentuk pengembangan dari istilah
sumberdaya manusia kehutanan. Pilihan penulis ini berlandaskan kepada pendapat kelompok
pakar yang menyatakan bahwa dalam istilah sumberdaya manusia terdapat konotasi anggapan
bahwa manusia lebih dipandang hanya sebagai faktor produksi, setara dengan sumberdaya
lainnya (ruang, waktu, dana) dalam suatu sistem produksi. Sementara dalam istilah insan
kehutanan terkandung konotasi manusia sebagai modal insani (human capital) yang memiliki
potensi untuk berkembang, mengurus, melindungi, dan mengayomi.
Sejalan dengan pemikiran tentang insan kehutanan sebagai modal insani dalam bidang
kehutanan dan perkembangan cara pandang terhadap hutan, mazhab etika lingkungan yang
22

seyogianya dianut dalam pengelolaan hutan, serta pendekatan ranah dalam pengelolaan
hutan seperti telah diutarakan di muka, maka adanya perkembangan pola pikir insan
kehutanan Indonesia dalam menghadapi permasalahan kehutanan yang mungkin timbul di
masa mendatang merupakan sebuah kebutuhan. Adapun perkembangan pola pikir
dimaksud seyogianya mencakup perkembangan keseluruhan pola pikir pada kehidupan
masyarakat yang bersifat universal pada tingkat global, perkembangan pola pikir pada
tingkat ranah bidang kehutanan (ilmu pengetahuan, kegiatan, bidang pekerjaan), dan
perkembangan pola pikir pada tingkat ranah pengelolaan hutan dengan pendekatan yang
diharapkan (Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem).
Dalam kehidupan masyarakat yang bersifat universal pada tingkat global dapat dicatat bahwa
mulai awal tahun 1990-an dunia telah mengalami perkembangan luar biasa dalam bidang
industri, yang pada saat ini dikenal dan dipahami sebagai Revolusi Industri Ketiga (the Third
Industrial Revolution). Revolusi industri terakhir ini terjadi berkat tersedianya teknologi yang
telah memfasilitasi gerakan globalisasi yang berkelanjutan dan mendorong terbentuknya
Knowlegde Society dan Knowledge Economy (Meek et al., 2009). Pada saat ini, kedua macam
karakter masyarakat tersebut telah menempatkan sumberdaya pengetahuan sebagai pusat
aktivitas manusia dan pusat dinamika sosial. Menurut UNESCO (2005), Knowlegde Society
atau Masyarakat Pembelajar adalah masyarakat yang kehidupannya diasuh dan diurus oleh
keragaman dan kapasitas yang dimilikinya. Dalam masyarakat dengan karakteristik seperti ini,
akses kepada pendidikan dan pelatihan yang menjadi hak anggota masyarakat harus setinggi
dan semudah mungkin, sementara kemudahannya dalam memperoleh akses tersebut harus
dijamin oleh pemerintah yang menjadi kewajibannya. Proses pembelajaran secara terus
menerus di dalam masyarakat sangat penting, oleh karena setiap kelompok masyarakat
biasanya memiliki asset pengetahuan sendiri (local knowledge) yang harus digali dan dikenali;
serta dilindungi agar supaya menjadi satu mata rantai yang saling berhubungan dengan
pengetahuan-pengetahuan baru yang berbeda yang dikembangkan oleh Knowledge Economy
(Ekonomi berbasis Ilmu Pengetahuan). Untuk mencapai keadaan masyarakat yang seperti ini,
beberapa hal yang bersifat mendasar sangat penting untuk dipahami, yaitu (Meek at al., 2009):
1. Knowledge-based society harus membantu mengembangkan andil (peran) ilmu
pengetahuan bagi pengembangan kehidupan masyarakat.
2. Teknologi Informasi dan Komunikasi (Information and Communication Technology
ICTs) akan menciptakan peluang baru untuk mencapai tujuan tersebut (butir 1).
3. Knowledge-based society memiliki dimensi yang lebih luas dan lebih kaya daripada
masyarakat informasi (information society)
4. Knowledge-based society akan dapat menawarkan pendekatan yang lebih segar dan lebih
relevan untuk pembangunan pada negara-negara Selatan (negara-negara berkembang).
Pada tingkat ranah bidang Kehutanan, arah perubahan pola pikir ke depan harus ditentukan
dengan berlandaskan kepada perkembangan pola pikir manusia dalam pengelolaan
sumberdaya alam dan lingkungan sebagai ranah tempat kedudukan (home base) bidang
Kehutanan. Terkait dengan ini, salah satu kecenderungan arah perkembangan pola pikir yang
dapat kita acu adalah kepentingan arah perkembangan intelektual yang diharapkan dalam
pendidikan tinggi bidang pertanian dalam arti luas. Menurut Kunkel et al. (1996), pola pikir
dalam pendidikan tinggi bidang Pertanian dalam arti luas seyogianya dikembangkan dari yang
tadinya secara tradisional terfokus pada kepentingan yang tertentu saja, yaitu : pengelolaan
lahan, pengelolaan air, pengelolaan vegetasi, serta manipulasi tumbuhan dan binatang untuk
memenuhi keperluan hidup manusia, ke arah yang lebih luas, yaitu pengelolaan sumberdaya
23

pertanian dan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan masyarakat dunia terhadap
makanan, serat, dan jasa lingkungan dengan cara yang lebih efisien. Dengan arah
pengembangan seperti ini, maka bidang gerak pertanian dalam arti luas haruslah mencakup
pengelolaan ekosistem, pengelolaan kualitas lingkungan, konservasi keanekaragaman hayati,
serta keberlanjutan dan keterpaduan antara sumberdaya lahan, sumberdaya air, dan
sumberdaya udara dalam menghasilkan barang dan jasa, baik untuk keperluan konsumsi
maupun untuk keperluan bukan konsumsi dari sumberdaya yang kita miliki berikut interaksi
aspek-aspek tersebut dengan manusia, budaya, dan nilai-nilai etika.
Dengan arah perkembangan bidang pertanian dalam arti luas seperti itu, maka menurut
Goldberg (1993) dalam Kunkel dan Thompson (1996), pendidikan tinggi dalam bidang
pertanian haruslah mencakup bidang-bidang sains; bioteknologi; sumberdaya lahan dan
sumberdaya air; proses produksi; serta perdagangan, pemasaran, pengelolaan lahan
pertanian, hutan, perikanan, dan produk-produk bioteknologi; transformasi makanan;
konsumsi dan kesehatan manusia; teknologi daur ulang; dan kebijakan publik. Dengan
cakupan ini, maka fungsi-fungsi yang bersifat tradisional dari makanan dan sistem
pertanian perlu diinterpretasikan kembali menjadi :
a. Petani (farmer) atau rimbawan (forester) harus diperluas menjadi seorang manajer
atau manipulator teknologi, produk, sumberdaya, dan lingkungan, baik lingkungan
alami maupun lingkungan budaya.
b. Masukan (input) dalam agribisnis berupa pakan, benih, mesin, pestisida, dan pupuk;
haruslah diperluas menjadi sumber teknologi serta koordinator dan inisiator dalam
menghasilkan produk-produk pertanian (dalam arti luas).
c. Tenaga yang menangani dan mengolah hasil-hasil pertanian harus ditingkatkan
menjadi tenaga yang membangun berbagai rangkaian hasil-hasil pertanian,
koordinator informasi, serta melayani keperluan logistik untuk pemasaran hasil-hasil
pertanian, berupa : makanan, serat; bahan bakar; biokimia; dan obat-obatan.
d. Pekerja pada pabrik makanan dan minuman diperluas menjadi penemu produk-produk
makanan dan minuman dengan kualitas yang unik, nutrisi yang bermanfaat, dan
bersifat ramah lingkungan.
e. Pekerja pada bidang distribusi dan pedagang eceran diperluas menjadi tenaga yang
mengadvokasi konsumen.
Memperhatikan fakta dan gejala berikut arah perkembangan pola pikir, ruang lingkup, dan
konsep dalam bidang pertanian dalam arti luas (termasuk di dalamnya bidang kehutanan),
serta perlunya perluasan peran dan fungsi para pelaku yang terlibat dalam kegiatan
pembangunan pertanian sebagaimana diutarakan di muka, banyak pakar yang meramalkan
akan makin tergusurnya bidang-bidang pekerjaan dalam bidang pertanian dalam arti luas
yang bersifat konvensional bilamana tidak mengembangkan dirinya sejalan dengan
tuntutan arah perubahan yang akan terjadi. Dalam bidang kehutanan, arah perubahan
praktek pengelolaan hutan di masa mendatang akan berkembang dari yang tadinya bersifat
konvensional, yaitu pengelolaan hutan berbasis tegakan hutan ke arah pengelolaan hutan
berbasis ekosistem (PHBE).
Terkait dengan perkembangan pendekatan dalam pengelolaan hutan yang bersifat radikal dari
pendekatan konvensional ke arah pendekatan PHBE, Schlaepfer dan Elliot (2000)
mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat propokatif : Apakah hal tersebut merupakan
24

akhir dari kehutanan ? Terhadap pertanyaan yang mereka ajukan sendiri itu, mereka
memberikan jawaban sebagai berikut :
Jika Francis Fukuyama (dalam artikel yang berjudul The End of History, dimuat dalam
The National Interest, 1989, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku tahun 1993)
beranggapan bahwa runtuhnya tembok Berlin dan jatuhnya komunis mengandung arti
akhir dari sejarah, maka ia salah. Hal ini terlihat dari munculnya kejadian-kejadian di
Irak dan Semenanjung Balkan setelah tembok Berlin runtuh ! Mari kita belajar dari
kesalahannya, dan janganlah mengasumsikan bahwa perkembangan pendekatan dalam
pengelolaan hutan ke arah pengelolaan hutan berbasis ekosistem mengandung arti
sebagai akhir dari kehutanan. Akan tetapi hal tersebut haruslah kita pandang sebagai
keharusan adanya perkembangan yang sangat penting baik pada insan kehutanan
(forester) maupun pada bidang kehutanan (kegiatan, ilmu pengetahuan, dan bidang
pekerjaan). Para insan kehutanan akan harus belajar untuk berdialog, berkomitmen, dan
bekerja-sama dengan insan dengan latar belakang bidang ilmu dan pekerjaan lain seperti
ahli biologi, ahli antropologi, dan ahli ekonomi, serta berdiri pada landasan yang sama.
Para insan kehutanan harus beradaptasi terhadap tuntutan perlunya partisipasi publik
yang lebih besar dari masyarakat lokal, masyarakat perkotaan, dan pihak-pihak
masyarakat lainnya. Bilamana insan kehutanan mampu beradaptasi dengan tuntutan ini,
maka mereka tanpa diragukan akan dapat menggunakan keahliannya pada tingkat ranah
lanskap, yaitu ranah di atas batas-batas ranah hutan sebagai ekosistem. Akan tetapi,
bilamana insan kehutanan tidak mampu beradaptasi terhadap tuntutan perkembangan
tersebut, maka mereka hanya akan tetap berada pada peran tradisionalnya. Peran
seperti ini, bahkan dalam lingkup hutan sekalipun, akan secara dramatis menjadi
berkurang.
Adakah peran khusus yang dapat diambil oleh para insan kehutanan, sebagai manajer
dalam pengelolaan hutan pada era PHBE ? Terkait dengan ini, Davis et al. (2001)
menyatakan pendapatnya sebagai berikut :
Pada saat ini, dan ke depan, pengelolaan hutan mengharuskan penggunaan hutan untuk
memenuhi tujuan pemilik lahan dan masyarakat. Walaupun tujuan pengelolaan hutan
dapat saja berubah dan alat untuk mencapai tujuan tersebut menjadi lebih mutakhir,
akan tetapi pengelolaan hutan tetap harus diusahakan untuk menjadikan hutan dapat
memenuhi tujuan masyarakat. Pengelola hutan haruslah menjadi seorang yang dapat
berperan sebagai katalisator dari usaha ini. Oleh karenanya seorang pengelola hutan
haruslah memiliki pemahaman yang mendalam dalam hal proses-proses biologis,
pengetahuan yang cukup tentang binatang dan habitatnya; mengetahui cara
menghargai dan memelihara sungai-sungai kecil yang terdapat di dalam hutan berikut
lingkungannya; memiliki pandangan jauh ke depan dari seorang perencana; seorang
negosiator yang sabar terhadap para pekerja dan para pihak yang berkepentingan;
memiliki keterampilan dalam bidang administrasi; dan haruslah merupakan seorang
yang memiliki ketajaman perhatian, bersifat luwes, dan seorang eksekutif dalam bisnis
yang sukses dalam mengelola keseluruhan sumberdaya yang dikelolanya. Di atas itu
semua, dari seorang pengelola hutan dituntut untuk memiliki rasa memiliki terhadap
hutan yang dikelolanya sebagai satu kesatuan yang utuh (ekosistem). Setiap kesatuan
hutan memiliki karakteristik dan kemampuan dalam menghasilkan barang dan jasanya
sendiri-sendiri. Memahami keunikan yang dimiliki oleh hutan yang dikelola dan
menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan yang sesuai dengan keunikan tersebut dapat
kita pandang sebagai jantung bagi kehidupan pengelolaan hutan.
25

Selain harus mengembangkan cara pandang dan pola pikir yang bersifat umum seperti
diutarakan di muka, untuk menghadapi era PHBE dalam pengelolaan hutan di Indonesia,
para insan kehutanan Indonesia kiranya perlu pula mengenali arah perkembangan yang
diperlukan dalam cara pandang dan pola pikir yang bersifat khusus, yaitu dalam hal
pemenuhan terhadap prinsip-prinsip yang menjadi tuntutan dalam menerapkan pendekatan
PHBE untuk pengelolaan hutan. Penulis berpendapat, arah perkembangan dimaksud,
untuk setiap butir prinsip dalam PHBE adalah seperti diuraikan berikut ini.

1. Prinsip Diarahkan untuk Mengelola Sumberdaya Ekosistem


Hutan harus dipandang sebagai bagian dari ekosistem bentang alam ekologis tempat hutan
berada. Dengan demikian maka mengelola hutan harus menjadi bagian dari rangkaian
kegiatan yang bersifat utuh dalam pengelolaan ekosistem bentang alam ekologis tersebut.

2. Prinsip Bersifat Menyeluruh atau Holistik


Pengelolaan hutan harus dipandang sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan dalam
pengelolaan hutan yang saling terkait satu sama lain (Catatan: Menurut ketentuan
dalam peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia pada saat ini, pengelolaan
hutan yang dimaksud dalam PHBE memiliki ruang lingkup kegiatan yang sama
dengan Pengurusan Hutan).

3. Prinsip Berbasis Ekosistem


Pengelolaan hutan pada dasarnya merupakan pengelolaan ekosistem hutan. Dengan
demikian maka mempertahankan keberlanjutan produktivitas dan kualitas ekosistem
hutan (komposisi, struktur, dan fungsi) haruslah menjadi ukuran keberhasilan dalam
pencapaian tujuan pengelolaan hutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat.

4. Prinsip Berlandaskan Perspektif Lanskap


Menentukan tujuan pengelolaan hutan, menyusun rencana pengelolaan hutan, dan
mengukur keberhasilan pengelolaan hutan, harus dilakukan pada tingkat ekosistem
lanskap sebagai kesatuan pengelolaannya, bukan pada tingkat kesatuan ekosistem
hutan yang bersifat berdiri sendiri.

5. Prinsip Berbasis Tujuan Ganda yang Telah Ditetapkan


Tujuan dalam peengelolaan hutan harus merupakan optimalisasi dari berbagai tujuan-
tujuan yang mungkin dan perlu diperoleh dari ekosistem hutan tersebut sebagai sub-sistem
dari ekosistem lanskapnya. Tujuan pada tingkat lanskap ini harus dirumuskan dengan
jelas dan tegas dan ditentukan terlebih dahulu.

6. Prinsip Bersifat Terpadu


Pengelolaan hutan harus merupakan bagian dari pengelolaan ekosistem lanskap yang
bersifat saling mendukung (sinergis) dengan pengelolaan ekosistem-ekosistem lain yang
terdapat di dalam ekosistem lanskap sebagai kesatuan pengelolaan yang bersifat utuh.

7. Prinsip Berlandaskan Partisipasi


Penetapan fungsi dan peran ekosistem hutan dalam ekosistem lanskap, tujuan
pengelolaan, dan ukuran-ukuran keberhasilan dalam pengelolaan hutan harus dilaku-
kan dengan melibatkan para pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan hutan.
26

8. Prinsip Berbasis Monitoring Secara Berkelanjutan


Pengelolaan hutan merupakan sebuah proses yang bersifat iteratif. Melalui proses ini
maka preskripsi pengelolaan berikut tindakan-tindakan dalam melaksanakannya harus
dievaluasi dan disesuaikan dari waktu ke waktu, serta dilakukan penyesuaian bilamana
terdapat penyimpangan yang berarti dari yang telah ditetapkan. Evaluasi dan arah penye-
suaian ini haruslah berlandaskan kepada data dan informasi nyata yang terjadi di lapangan
yang diperoleh berdasarkan hasil monitoring yang dilaksanakan secara terus menerus.

9. Prinsip Bersifat Adaptif


Tujuan, ukuran-ukuran keberhasilan, preskripsi pengelolaan, masukan teknologi, dan
tindakan-tindakan pengelolaan dalam menerapkan preskripsi pengelolaan ditentukan
berdasarkan keadaan spesifik yang nyata dari karakteristik hutan dan keadaan sosial,
ekonomi, dan budaya masyarakatnya. Penyesuaian perlu dilakukan sejalan dengan
perubahan faktor-faktor tersebut yang bersifat dinamis.

10. Prinsip Berlandaskan Ilmu Pengetahuan yang Logis, Kuat, dan Logis serta
Penilaian yang Baik
Praktek pengelolaan harus berlandaskan kepada ilmu pengetahuan terbaik dan paling tepat
dari yang tersedia. Akan tetapi peran ilmu pengetahuan tidaklah bersifat mutlak (satu-
satunya penentu) sebagai landasan yang dipergunakan dalam menetapkan kebijakan yang
diperlukan dalam pengelolaan hutan. Ilmu pengetahuan harus dijadikan landasan dalam
penyusunan kebijakan pengelolaan bersama-sama dengan hasil penilaian terbaik dari para
pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam pengelolaan hutan berdasarkan pengetahuan,
nilai-nilai, dan kearifan lokal yang mereka miliki.

11. Prinsip Mempertimbangan Pengetahuan, Emosi, dan Moral


Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penilaian yang terbaik yang diperoleh
dari para pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam pengelolaan hutan haruslah
mencakup hasil penilaiannya menurut pengetahuan, emosi (harapan yang diinginkan), dan
moral (harapan-harapan terhadap hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam pengelolaan
hutan) dari para pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan hutan.

12. Prinsip Berlandaskan Pencegahan


Pengelolaan hutan harus berlandaskan pada asumsi bahwa memulihkan kualitas
ekosistem hutan dan ekosistem lanskap akibat dampak negatif dari pengelolaan hutan
akan memerlukan tingkat pengorbanan yang jauh lebih besar jika dibandingkan
dengan korbanan yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan. Dengan pola
pikir ini, maka tindakan yang bersifat mencegah dan penuh kehati-hatian merupakan
pilihan tindakan yang paling rasional yang harus diambil dalam pengelolaan hutan.

Bagaimana Cara Kita Mengembangkan Paradigma Kehutanan


Dari uraian di muka kita dapat memperoleh gambaran bahwa untuk dapat melaksanakan
pengelolaan hutan berlandaskan pendekatan PHBE memerlukan cara pandang, pola pikir,
kesadaran, pemahaman, perilaku, dan tindakan baru yang merupakan hasil pengembangan
dari yang selama ini sudah menjadi kebiasaan (konvensional) dari insan kehutanan, para
profesional di luar insan kehutanan yang berhubungan dengan kegiatan pengelolaan hutan,
27

dan para pihak lain yang berkepentingan dalam pengelolaan hutan. Yang kita perlukan
adalah mengembangkannya menjadi lebih berdimensi luas, baik dalam ruang dan waktu,
maupun dalam wawasan berfikir dari dimensi dan wawasan lama yang bersifat sempit. Jadi
bukan semata-mata berpindah ke dimensi dan wawasan yang baru dengan cara
meninggalkan sama sekali keseluruhan dimensi dan wawasan lama.
Mengembangkan mengandung arti menjadikan ukuran baru menjadi lebih besar, lebih luas,
dan lebih panjang apabila dibandingkan dengan ukuran asal (yang dikembangkan).
Bilamana dimensi-dimensi yang kita kembangkan itu kita setarakan saja dengan benda
berdimensi tiga (ruang), maka proses pengembangan cara pandang terhadap dimensi ruang,
waktu, serta wawasan berfikir itu, akan sangat baik bilamana kita setarakan dengan proses
pengembangan atau penggelembungan balon mainan anak-anak yang terbuat dari karet yang
elastis. Apabila kita perhatikan, dalam proses pengembangan balon mainan anak-anak yang
terbuat dari karet, maka proses menggelembungkannya selalu dilakukan dari dalam balon.
Balon mainan anak-anak biasanya digelembungkan dengan cara meniupkan udara ke dalam
balon sehingga sisi-sisi balon yang terbuat dari karet itu menjadi berkembang karena
mendapat tekanan udara yang ditiupkan. Penggelembungan balon dilakukan dengan cara ini,
oleh karena cara ini merupakan cara yang paling efektif dan efisien dalam menggelembung-
kan balon. Dari gejala menggelembungkan balon dengan cara ini kita dapat memperoleh
pelajaran bahwa balon dapat kita gelembungkan dengan mudah (efektif) bilamana proses
penggelembungannya dilakukan dari bagian dalam balon. Oleh karena untuk balon karet
mainan anak-anak proses penggelembungan balon dilakukan dengan cara meniupkan udara
ke dalam balon, maka bolehlah teori untuk menjelaskan gejala proses penggelembungan
balon tersebut kita beri nama Teori Meniup Balon (To Blow of Balloon Theorm).
Apabila proses penggelembungan balon mainan anak-anak itu kita setarakan dengan proses
pengembangan, dan balon karet yang digelembungkan itu kita setarakan dengan cara
pandang, pola pikir, sikap, dan perilaku manusia, maka Teori Meniup Balon dalam proses
menggelembungkan balon itu dapat kita modifikasi menjadi :
Bilamana sebagian dari sekelompok manusia berkehendak untuk merubah cara pandang,
pola pikir, sikap, dan perilaku kelompoknya menuju ke arah perkembangan yang
dikehendaki dengan efektif dan efisien, maka perubahan secara sadar, sistematis, dan
terencana yang dilakukan dari dalam bagian kelompok manusia tersebut merupakan
strategi terbaik yang dapat dilakukan.
Dari uraian mengenai arah perkembangan paradigma kehutanan sebagaimana telah
diutarakan di muka, maka perkembangan paradigma menuju paradigma kehutanan yang
diperlukan untuk melandasi pengelolaan hutan Indonesia mulai saat ini ke depan, yaitu
pengelolaan hutan dengan pendekatan PHBE diperlukan terjadi pada seluruh masyarakat
yang terlibat dan berkepentingan dengan pengelolaan hutan di Indonesia (pemerintah,
pelaku usaha, masyarakat lokal, masyarakat profesional, pemerhati, dan masyarakat secara
umum). Insan kehutanan sebagai bagian dari masyarakat dapat berada pada setiap
kelompok masyarakat tersebut. Insan kehutanan, apabila kita petakan ke dalam Balon
Karet Mainan Anak-Anak sebagai sebuah sistem, dapat kita pandang sebagai kumpulan
partikel udara yang berada di dalam balon tersebut. Apabila karet kulit balon yang bersifat
elastis itu kita pandang sebagai paradigma kehutanan yang akan kita kembangan dengan
bentuk dan ukuran (arah pengembangan paradigma kehutanan) yang kita kehendaki, maka
menurut Teori Meniup Balon, insan kehutanan inilah yang seyogianya menjadi pelopor
28

perkembangan paradigma kehutanan tersebut. Adapun cara yang harus dilakukan adalah
memberikan keteladanan dan mendorong terjadinya pengembangan paradigma kehutanan
di dalam masyarakat ke arah yang dikehendaki. Sedangkan keteladanan dan dorongan yang
seyogianya diberikan oleh insan kehutanan Indonesia dalam upaya mengembangkan
paradigma kehutanan, antara lain, adalah sebagai berikut :

a. Dalam kehidupan masyarakat yang bersifat universal pada tingkat global


Memberikan keteladanan dan dorongan untuk terbentuknya cara pandang, pola pikir,
sikap, dan perilaku manusia yang mendukung terselenggaranya pengelolaan hutan
dengan berlandaskan pendekatan PHBE pada era kehidupan masyarakat yang berada
pada lingkungan Knowledge Society dan Knowledge Economy yang sejalan dengan
karakteristik budaya Bangsa Indonesia. Tindakan untuk senantiasa mengedepankan
secara konsisten dalam hal cara pandang, pola pikir, sikap, dan perilaku yang sejalan
dengan Mazhab Etika Lingkungan Keutamaan-Paripurna yang dilandasi dengan
kuat oleh nilai-nilai dan norma-norma agama merupakan sikap insan kehutanan
Indonesia yang harus senantiasa tercermin di tengah-tengah masyarakatnya di
manapun ia bekerja dan bertempat tinggal.

b. Pada tingkat masyarakat profesi


Sebagai insan yang berprofesi kehutanan di tengah-tengah kehidupan profesional dari
berbagai profesi lain yang terlibat dan berkepentingan dalam pengelolaan hutan di
Indonesia, insan kehutanan Indonesia harus senantiasa mengedepankan cara pandang,
pola pikir, sikap, dan perilaku yang sejalan dengan tuntutan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, sains, dan etika profesi mutakhir, serta wawasan yang sesuai
dengan wawasan yang diperlukan dalam pengelolaan hutan dengan pendekatan PHBE.
Beberapa sikap dan wawasan yang diperlukan untuk ini sebagaimana telah diuraikan di
muka (12 prinsip dalam pengelolaan hutan dan lanskap untuk pembangunan berkelanjutan)
merupakan sikap keteladanan yang harus senantiasa tercermin dalam kehidupan sehari-
hari insan kehutana Indonesia di tengah-tengah masyarakat profesi dan lingkungan tempat
ia bekerja serta mengabdikan dirinya.

PENUTUP
1. Perubahan paradigma yang tercermin dalam cara pandang, pola pikir, sikap, dan
perilaku masyarakat yang berkenaan dengan bidang kehutanan ke arah paradigma
yang sejalan dengan landasan pengelolaan hutan yang diperlukan di masa yang akan
datang merupakan sebuah kebutuhan.
2. Dalam bidang kehutanan, perubahan paradigma tersebut seyogianya dimaknai sebagai
perkembangan paradigma, yaitu sebuah proses penyempurnaan paradigma lama
menjadi paradigma baru yang lebih sesuai untuk menjawab permasalahan mutakhir
dalam bidang kehutanan. Dalam penyempurnaan paradigma lama, nilai-nilai, cara
pandang, pola pikir, dan cara pendekatan dalam pengelolaan hutan yang terdapat pada
paradigma lama diseleksi guna memperoleh nilai-nilai, cara pandang, pola pikir, dan
cara pendekatan lama yang bersifat unggul; kemudian diperkaya dengan nilai-nilai,
cara pandang, pola pikir, dan cara pendekatan baru yang tidak terdapat dalam paradig-
ma lama tetapi diperlukan untuk menjawab permasalahan mutakhir yang dihadapi.
29

3. Perkembangan paradigma kehutanan di Indonesia di masa mendatang seyogianya


diarahkan menuju paradigma yang mampu memberikan landasan yang kuat bagi
terselenggaranya pengelolaan hutan Indonesia dengan pendekatan Pengelolaan Hutan
Berbasis Ekosistem.
4. Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki paradigma kehutanan seperti
yang diharapkan di masa mendatang, peran kepeloporan insan kehutanan Indonesia
dengan cara memberikan keteladanan dan dorongan dalam kehidupaan nyata di dalam
masyarakat mutlak diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA
Balai Pustaka. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Balai Pustaka, Jakarta.
Buongiorno, J. and J.K. Gilles. 2003. Decision Methods for Forest Resource Management.
Academic Press, New York.
Davis, L.S. and K.N. Johnson. 1987. Forest Management. Third Edition. McGraw-Hill
Book Co., New York.
Davis, L.S., K.N. Johnson, P.S. Bettinger, and T,E, Howard. 2001. Forest Management:
to sustain ecological, economic, and social values. Fourth Edition. McGraw-Hill
Book Co., New York.
Gardner, T. and R, Engelman. 1999. Forest Future. Population Action International,
Washington D.C.
Keraf, A.S. 2002. Etika Lingkungan. Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Kunkel, H.O. and P.B. Thompson. 1996. Thinking through higher education in
agriculture : content, values, and purpose. In : Kunkel, H.O., I.L. Maw, and C.L.
Skaggs. 1996. Revoluzioniting Higher Education In Agriculture : frame work for
change. Iowa State University Press, Ames, Iowa, 17-40.
Manan, S. 1982. Tebang Habis dan Tebang Pilih : mencari sistem silvikultur yang aman
dan menguntungkan di Indonesia. Dalam : Manan, S. 1997. Hutan, Rimbawan, dan
Masyarakat, Penerbit IPB Press, Bogor: 41-48.
Meek, V.L., U. Teichler, and M-L. Kearney (Editors). 2009. Higher Education, Research,
and Innovation : Changing Dynamics. Report on the UNESCO Forum on Higher
Education, Research, and Knowledge 2001-2009. International Center for Higher
Education Research Kassel (INCHER-Kassel), Germany.
Neufeldt, V. and D.B. Guralnik. 1996. Websters New World College Dictionary. Third
Edition. MacMillan, USA.
Schlaepfer, R. and C. Elliot. 2000. Ecological and landscape consideration in forest
management the end of forestry ? In : Gadow, K.V., T. Pukkala, and M. Tome
(Editors). 2000. Managing Forest Ecosystem : Sustainable Forest Management.
Kluwer Academic Publisher Dordrecht, The Netherlands: 1-68.
Suhendang, E. 2012. Konsep pemanfaatan kawasan hutan terpadu di Indonesia. Makalah
dalam Workshop Pemanfaatan Kawasan Hutan Terpadu di Indonesia. Kerjasama
antara Forma-IPH SPs IPB dengan YSWJ. Bogor, 2012.
PERKEMBANGAN PARADIGMA
KEHUTANAN

Oleh :
Endang Suhendang
Guru Besar Tetap Ilmu Manajemen Hutan
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Makalah Disampaikan dalam


Diskusi Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem sebagai Pendekatan
untuk Pengelolaan Hutan Indonesia dalam Paradigma
Kehutanan Indonesia Baru
Diselenggarakan dalam rangka :
Ulang Tahun Emas Fakultas Kehutanan IPB
(1963 2013)
Bogor, 20 Agustus 2013