Anda di halaman 1dari 12

INJEKSI PLIKA VOKALIS TRANSTIROHYOID

MENGGUNAKAN NASOLARINGOSKOP-TERPANDU
FLEKSIBEL OPERATOR-TUNGGAL

C. Kwang Sung, MD, MS; Gabriel J. Tsao, MD

ABSTRAK

Tujuan: Sejumlah teknik injeksi laring telah dideskripsikan untuk


melakukan medialisasi plika vokalis atau pemberian obat-obatan, termasuk
pendekatan peroral dan perkutan. Meskipun injeksi melalui nasolaringoskopi-
terpandu yang fleksibel (FNGI) meningkatkan visualisasi dan toleransi pasien
terhadap endoskopi yang kaku, teknik ini memerlukan asisten untuk
memanipulasi laringoskop. Efikasi dan toleransi pasien terhadap teknik operator-
tunggal untuk FNGI dievaluasi.

Metode: Pasien yang membutuhkan injeksi laringeal untuk medialisasi plika


vokalis atau untuk pemberian cidofovir atau steroid dimasukkan dalam penelitian
ini. Indikasi meliputi paresis atau kelumpuhan plika vokalis, deformitas sulkus,
papillomatosis respirasi rekuren, polip plika vokalis, dan granuloma laringeal.
Semua prosedur dilakukan di kantor dengan anestesi topikal dan lokal dengan
pasien terbangun. Dokter bedah melakukan nasolaringoskopi fleksibel dengan
tangan nondominan saat menggunakan tangan dominan untuk melakukan injeksi
transthyrohyoid dengan jarum berukuran 25-gauge dengan lengkungan proksimal
dan distal.

Hasil: Dua puluh enam pasien menjalani 42 prosedur FNGI operator-


tunggal; dilakukan 19 suntikan unilateral dan 23 suntikan bilateral. Semua kecuali
1 prosedur dilengkapi dengan visualisasi dan penempatan dari suntikan yang
adekuat serta toleransi pasien yang bagus.

Simpulan: FNGI operator-tunggal melalui pendekatan transthyrohyoid adalah


teknik injeksi laring yang mudah dan serbaguna untuk berbagai indikasi. Ini
menyediakan akses ke bagian anterior, tengah, dan posterior laring. Ini
menghilangkan kebutuhan akan asisten yang berpengalaman dalam
nasolaringoskopi dan memungkinkan ahli bedah untuk menyesuaikan dan
mengoptimalkan visualisasi dengan cara yang analog dengan operasi sinus
endoskopik.

Kata Kunci: cidofovir, laringoplasti injeksi, prosedur di kantor, steroid,


pendekatan thyrohyoid, injeksi plika vokalis.

PENDAHULUAN

Prosedur laryngeal berbasis-kantor telah mendapatkan popularitas di


kalangan ahli laring selama dekade terakhir, melakukan reklamasi prosedur yang
berada dalam lingkup laryngologi operatif dengan anestesi umum. Meskipun
beberapa teknik dideskripsikan sejauh abad ke-19 dan awal abad ke-20, beberapa
faktor telah berkontribusi pada naiknya prosedur berbasis-kantor. Pertama, dengan
pengembangan teknologi kamera distal-chip, visualisasi transnasal fleksibel
menyaingi tampilan yang tersedia di ruang operasi. Faktor ekonomi
memperkenankan prosedur yang lebih pendek yang dapat dilakukan dengan cepat
di kantor tanpa biaya tambahan dari ruang operasi dan anestesi umum. Akhirnya,
penerimaan dan preferensi pasien telah meningkatkan permintaan akan prosedur
ini.

Sejumlah teknik injeksi laringeal (dengan pasien tersadar) telah dijelaskan


untuk melakukan augmentasi plika vokalis atau pengiriman obat-obatan, termasuk
1) injeksi transoral menggunakan jarum melengkung panjang yang dipandu oleh
endoskopi kaku atau nasolaringoskopi fleksibel; 2) injeksi transthyrohyoid
perkutan dengan jarum yang diinsersikan pada jakun; 3) injeksi kartilago trans-
tiroid perkutan dengan insersi jarum melalui ala dari kartilago tiroid pada tingkat
plika vokalis; dan 4) injeksi transkrikotiroid perkutan, di mana jarum dimasukkan
di bawah margin inferior kartilago tiroid dan menyudut secara superolateral ke
dalam plika vokalis. Semua teknik perkutan dilakukan dengan panduan visual
menggunakan nasolaringoskopi fleksibel.
Tabel 1. Stanford Voice and Swallowing Center In-Office Laryngeal Injection
Phone Survey

Silakan menilai jumlah nyeri atau ketidaknyamanan Anda selama prosedur injeksi
laring:
Tidak ada Nyeri
nyeri sekali
Hidung: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tenggorokan: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Keseluruhan: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Apakah Anda mengalami tersedak? Ya Tidak
Apakah Anda mengalami kesulitan bernapas? Ya Tidak
Apakah Anda mengalami kesulitan menelan Ya Tidak
setelah prosedur?
Silakan menilai rasa sakit atau ketidaknyamanan
Anda setelah prosedur:
Tidak ada Nyeri
nyeri sekali
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Apakah Anda memerlukan obat nyeri setelah Ya Tidak
prosedur ini?
Jika YA, jenis obat apa? __________________________
Apakah Anda mempertimbangkan untuk Ya Tidak
melakukan prosedur ini lagi jika diperlukan?
Jika TIDAK, mengapa? __________________________

Pendekatan transtirohyoid pertama kali dijelaskan oleh Getz dkk sebagai


alat untuk pengiriman cidofovir untuk papilloma laringeal untuk mengatasi
beberapa kekurangan pendekatan injeksi lainnya. Ami dan Zeitler dan Amin
kemudian menyesuaikan pendekatan untuk digunakan dalam augmentasi plika
vokalis dan mencatat beberapa keuntungan dari pendekatan ini, termasuk
kesederhanaan, kemampuan untuk mendapatkan akses ke keseluruhan laring, dan
visualisasi langsung ujung jarum saat memasuki tempat suntikan. Salah satu
kekurangan untuk ini dan untuk injeksi nasolaringoskop-terpandu fleksibel
(FNGIs) lainnya adalah kebutuhan asisten berkualitas untuk memanipulasi
nasolaringoskop fleksibel sementara dokter bedah melakukan injeksi. Di banyak
tempat, tidak mungkin memiliki asisten yang cukup mahir dalam memandu
nasolaringoskop untuk memungkinkan paparan bedah yang adekuat. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kemanjuran dan toleransi pasien
terhadap teknik operator-tunggal untuk FNGI yang menghilangkan kebutuhan
akan seorang asisten.

BAHAN DAN METODE

Studi ini disetujui oleh Stanford University School of Medicine


Institutional Review Board dan oleh Veterans Affairs Palo Alto Health Care
System Research and Development Committee. Bagan dari 26 pasien dengan
penyakit laring yang diobati dengan FNGI transtirohyoid operator-tunggal yang
dilakukan di Rumah Sakit Universitas Stanford dan Klinik & Sistem Perawatan
Kesehatan Veteran Palo Alto antara Januari 2011 dan Maret 2012 diperiksa secara
retrospektif untuk demografi, diagnosis, zat injeksi, kemampuan untuk
memvisualisasikan laring, dan kemampuan untuk menyelesaikan injeksi.
Kemampuan untuk memvisualisasikan laring didefinisikan sebagai visualisasi
endoskopik dari keseluruhan panjang bagian muskulomembran dari plika vokalis
yang ditargetkan. Penyelesaian injeksi didefinisikan sebagai eliminasi dari
perrubahan tepi plika vokalis (berubah dari bentuk cekung menjadi bentuk lurus
atau cembung) dalam prosedur medialisasi plika vokalis atau pengiriman 1 mL
atau lebih obat (larutan dexamethasone sodium phosphate atau larutan cidofovir)
ke tempat yang ditargetkan. Semua prosedur dilakukan oleh penulis senior
(C.K.S.). Semua pasien berusia 18 tahun atau lebih. Setidaknya 3 usaha dilakukan

Gambar 1. Jarum injeksi 25-Gauge, 1,5 inci (3,8 cm) dengan lengkungan 45 di
hub jarum dan lengkungan 45 kira-kira 1 cm ke ujung proksimal.
untuk menjangkau setiap subjek melalui telepon untuk pengumpulan data pasca
operasi. Setelah persetujuan verbal diperoleh, sebuah survei dilakukan oleh
seorang anggota staf studi (Tabel 1). Survei ini disesuaikan untuk tujuan
penelitian ini dari survei yang digunakan oleh Rees dkk untuk evaluasi
pengobatan pulsed dye laser di-kantor. Tanggapan dicatat secara anonim dan
dimasukkan ke dalam spreadsheet untuk analisis statistik standar.

Indikasi untuk injeksi laring adalah paresis atau kelumpuhan plika vokalis
unilateral, deformitas atau skar sulkus plika vokalis, presbilaring, papillomatosis
respiratori rekuren (RRP), polip plika vokalis, dan granuloma proses vokal. Pasien
dengan insufisiensi glotis sebagai akibat paresis atau kelumpuhan, kelainan
bentuk sulkus atau skar, atau presbilaring diobati dengan gel air gliserin-
karboksimetilselulosa (Radiesse Voice Gel, Bioform Medical, San Mateo,
California) atau gel kalsium hidroksilapatit (Radiesse Voice, Bioform Medical).
Polip plika vokalis dan granuloma proses vokal diobati dengan injeksi
deksametason natrium fosfat 4 mg / mL. Kasus RRP diobati dengan cidofovir 5
mg / mL. Penggunaan cidofovir untuk pengobatan RRP adalah penggunaan obat
yang tidak sesuai atau tidak disetujui. Peningkatan efek samping telah dilaporkan
dengan penggunaan cidofovir di luar label, walaupun sebagian besar kejadian
tampaknya terkait dengan pemberian obat intraokular atau topikal.
Gambar 2. Injeksi steroid transtirohyoid dengan nasolaringoskop-terpandu
operator-tunggal ke polip plika vokalis kiri. Perhatikan bahwa bagian fleksibel
dari laringoskop lurus, untuk memudahkan kontrol lapangan pandang.

Gambar 3. Tampilan endoskopik pasien yang sama seperti pada Gambar 2,


dengan jarum langsung di polip plika vokalis kiri.

Injeksi berbasis-kantor dilakukan dengan pasien duduk tegak di kursi


pemeriksaan. Rongga hidung dibius dan diberi dekongestan dengan campuran
lidokain hidroklorida 4% dan semprotan hidroklorida phenylephrine 1%.
Kartilago laring dipalpasi untuk mengidentifikasi penanda, dan leher dibersihkan
dengan bantalan alkohol. Dengan leher diekstensikan dengan lembut, tanda dibuat
di cekungan jakun di garis midline dengan pena tanda, kira-kira 2 sampai 3 mm
lebih tinggi dari tepi kartilago. Kemudian 0,5 mL lidokain 1% disuntik dengan
jarum 22-gauge ke dalam kulit dan jaringan subkutan di tempat yang telah
ditandai. Anestesi topikal diberikan dengan injeksi transtrakeal 4 mL lidokain 4%
dengan jarum yang sama dan pasien diperintahkan untuk batuk supaya obat
anestesi tersebar ke seluruh laring dan faring. Perhatian diambil untuk apirasi
udara ke dalam syringe untuk memastikan posisi intraluminal jarum yang tepat
sebelum injeksi. Jarum berukuran 25-gauge, 1,5 atau 2 inci (sekitar 4 sampai 5
cm) dilekatkan pada jarum suntik yang mengandung injektan, ditekuk pada sudut
45 pada hub dan kira-kira 1 cm dari ujungnya (Gambar 1), prima, dan
ditempatkan di sisi Mayo ke sisi pasien. Prosedur dapat dimulai 3 sampai 5 menit
setelah injeksi topikal transtrakeal dilakukan. Sebuah nasolaringoskop fleksibel
distal (ENF-VQ; Olympus America, Center Valley, Pennsylvania) dipandu
melalui rongga hidung paten lebih banyak dengan tangan nondominan ahli bedah
dan digunakan untuk memvisualisasikan laring, dengan fokus pada area tangkai
epiglotis. Jakun dipalpasi di tempat yang ditandai. Lokasi suntikan yang tepat,
dikonfirmasi dengan visualisasi pergerakan tangkai daun saat jakun mengalami
depresi. Dengan tangan yang dominan, ahli bedah menggunakan jarum untuk
menembus kulit di tempat yang ditandai dan melewatinya melalui membran
tirohyoid, tepat di atas jakun, yang mengarah ke sudut 45 (Gambar 2). Jarum
memasuki laring pada inferior dari tangkai epiglotis dan diarahkan ke tempat
suntikan yang sesuai (Gambar 3). Nasolaringoskop disesuaikan untuk mengikuti
ujung jarum dan mengoptimalkan tampilan. Jarum tersebut dapat diarahkan ke
beberapa tempat suntikan di dalam laring tanpa menariknya dari endolaring.

HASIL

Sebanyak 26 pasien menjalani 42 prosedur injeksi terpisah (rata-rata, 1,6


prosedur per pasien); 7 subyek menerima banyak prosedur. Dari 26 pasien
tersebut, 17 adalah laki-laki (usia rata-rata, 59,3 tahun) dan 9 adalah perempuan
(usia rata-rata, 60,9 tahun). Indikasi yang paling umum adalah RRP (13 prosedur),
diikuti oleh paresis atau kelumpuhan unilateral (12 prosedur), presbilaring (7),
granuloma (5), polip (3), dan sulkus atau skar (2; Tabel 2). Sembilan belas dari 42
prosedur adalah unilateral, dan 23 bilateral. Secara keseluruhan, 41 dari 42
prosedur (97,6%) dianggap berhasil diselesaikan. Satu kegagalan tersebut adalah
injeksi cidofovir untuk RRP di mana plika vokalis sejati kanan dan plika vokalis
palsu kiri berhasil disuntikkan namun batuk yang berlebihan merupakan larangan
injeksi dari plika vokalis sejati kiri. Jarum 2 inci digunakan dalam 8 kasus di
mana pasien memiliki laring besar atau tempat suntikan berada di bagian posterior
laring.

Dari 26 pasien, 17 (65%) berhasil dihubungi untuk survei telepon. Salah


satu pasien tidak dapat mengingat apapun tentang prosedur ini, dan surveinya
tidak disertaka/dieksklusi. Hasil dari survei dirangkum dalam Tabel 3. Sebagian
besar subjek memiliki lebih banyak rasa sakit atau ketidaknyamanan pada
tenggorokan (skor nyeri rata-rata, 4,38 2,22) dibandingkan dengan hidung
selama prosedur (2,44 1,93; di mana 1 tidak ada rasa sakit dan 10 adalah rasa
sakit yang paling buruk). Tingkat keseluruhan rasa sakit atau ketidaknyamanan
(4,38 1,86) adalah sebanding dengan tenggorokan. Sebagian besar pasien tidak
melaporkan adanya masalah dengan tersedak (68,8%), bernapas (93,8%), atau
menelan (62,5%). Hanya 1 pasien (6,2%) yang melaporkan perlu menggunakan
analgesik (ibuprofen) setelah prosedur. Skor nyeri rata-rata setelah prosedur
adalah 2,31 1,70. Akhirnya, 93,8% subjek mengatakan bahwa mereka akan
mengulangi injeksi jika diperlukan secara medis. Salah satu subjek yang
mengalami sakit parah selama injeksi steroid keduanya untuk polip, mengira dia
mungkin tidak akan menjalani prosedur ini lagi, walaupun ia juga enggan
menjalani anestesi umum.

Tabel 2. Indikasi dari injeksi plika vokalis menggunakan nasolaringoskop-


terpandu fleksibel operator-tunggal

Indikasi Kasus Jumlah pasien


Jumlah %
Papillomatosis respiratori rekuren 13 31 4
Paresis atau kelumpuhan unilateral 12 29 9
Presbilaring 7 17 6
Granuloma proses vocal 5 12 3
Polip plika vokalis 3 7 2
Sulkus atau skar 2 5 2
Total 42 100 26
Tabel 3. Hasil survei telepon untuk injeksi plika vokalis (n = 16)

Pertanyaan survei Hasil*


Nyeri hidung 2.441.93
Nyeri tenggorokan 4.382.22
Nyeri keseluruhan 4.381.86
Tersedak Tidak, 68.8%
Kesulitan bernapas Tidak, 93.8%
Kesulitan menelan Tidak, 62.5%
Nyeri setelah prosedur 2.311.70
Butuh analgetik Tidak, 93.8%
Akan melakukan prosedur ini lagi jika Ya, 93.8%
diperlukam
*1 tidak nyeri; 10 - nyeri Satu pasien tidak ingat bagaimana dia
merasakan selama atau setelah prosedur.

DISKUSI

Sejumlah teknik injeksi laring telah dideskripsikan untuk melakukan


augmentasi plika vokalis atau pengiriman obat pada setting kantor, termasuk
pendekatan peroral original yang dideskripsikan oleh Bruening pada tahun 1911.
Pada tahun-tahun berikutnya, pendekatan perkutan terhadap laring dideskripsikan,
termasuk rute transkrikotiroid dan transtiroid. Pendekatan peroral diperkenalkan
kembali oleh Arnold pada tahun 1950an dan masih merupakan pendekatan injeksi
yang disukai bagi banyak klinisi. Salah satu manfaat dari pendekatan peroral
adalah bahwa hal itu dapat dilakukan oleh operator tunggal dengan menggunakan
teleskop 70 atau 90 yang kaku. Biasanya, pasien memegang lidahnya sendiri,
sementara ahli bedah menggunakan satu tangan untuk memegang teleskop dan
satu tangan memegang jarum injeksi. Teknik ini bisa menjadi tantangan, karena
tidak semua ahli bedah mahir menggunakan teleskop kaku transoral, dan beberapa
pasien mengalami kesulitan untuk mentolerir pendekatan ini karena refleks
muntah.

Selanjutnya, Amin dan rekannya mengenalkan pendekatan perkutan


transtirohyoid pada injeksi laring. Mereka menyoroti kualitas positif dari
pendekatan ini dan menemukan bahwa hal itu menggabungkan toleransi pasien
terhadap injeksi perkutan tradisional dengan presisi dan fleksibilitas injeksi
peroral.

Dua kelemahan pendekatan transtirohyoid dicatat oleh Zeitler dan Amin.


Yang pertama adalah asisten perlu menahan endoskopi pada posisi yang benar
selama prosedur berlangsung. Meskipun ini bisa menjadi tugas yang cukup mudah
bagi endoskopis yang berpengalaman, asisten yang terlatih dengan baik mungkin
tidak selalu tersedia di setiap setting klinik. Bagi endoskopis yang tidak
berpengalaman, visualisasi yang memadai bisa menjadi tantangan besar karena
gerakan pasien terbatuk-batuk atau tertelan, serta kaburnya gambar dari lendir
atau darah di ujung endoskopi. Teknik injeksi operator-tunggal yang dijelaskan
dalam penelitian ini menghilangkan kebutuhan akan asisten terlatih. Endoskopi
dengan tangan nondominan adalah tugas yang dapat segera dipelajari oleh ahli
bedah berpengalaman selama beberapa pemeriksaan laringoskopik nonsurgical.
Penting untuk dicatat bahwa mengendalikan endoskopi dengan satu tangan jauh
lebih mudah saat pasien ditempatkan pada ketinggian yang nyaman di kursi
pemeriksaan dan bila tidak ada kelonggaran atau kelengkungan di bagian
lapangan pandang fleksibel yang tetap berada di luar pasien. Dengan latihan,
teknik single-handed menjadi pilihan kedua, dan prosedur injeksi mirip dengan
operasi sinus endoskopik. Hal ini memungkinkan dokter bedah untuk
mengarahkan pandangangannya ke tepat lokasi suntikan. Jika ujung lapangan
pandang terkontaminasi dengan lendir atau darah, ahli bedah dapat
"membersihkan" ujungnya dengan mencabutnya dari laring dan menyeka ujung
dinding faring posterior atau dengan cara pasien diperintahkan untuk menelan.
Relatif aman bagi pasien untuk menelan, sementara jarum berada di dalam laring,
sepanjang ujung jarum tersebut berada di lumen.

Kelemahan kedua yang dicatat oleh Zeitler dan Amin adalah kesulitan
dalam beberapa kasus untuk mendapatkan sudut masuk yang diperlukan untuk
melakukan injeksi anterior. Membengkokan jarum di hub dan ujung proksimal 1
cm membantu mengatasi kelemahan ini (Gambar 1). Modifikasi ini,
diperkenalkan kepada penulis senior oleh Ramon Franco, Jr, dan dilaporkan oleh
Achkar dkk, memfasilitasi proses injeksi dengan beberapa cara. Ini menempatkan
ujung jarum dalam orientasi vertikal yang mendekati sudut tegak lurus dari insersi
yang dicapai dalam injeksi peroral. Lengkungan distal memungkinkan akses
mudah ke sepertiga anterior plika vokalis dan komisura anterior. Lengkungan
distal juga berfungsi sebagai penanda pada jarum untuk membantu ahli bedah
menentukan kedalaman insersi. Lengkungan proksimal mencegah interferensi
dengan syringe dengan tangan ahli bedah dari dagu pasien saat jarum diarahkan
ke arah anterior. Dalam kasus di mana tempat injeksi berada di posterior di laring,
seperti granuloma proses vokal, lengkungan distal dibuat kurang dari 1 cm dari
ujung (sekitar 30). Seringkali jarum 2 inci (5 cm) diperlukan untuk injeksi
posterior, pada pasien dengan tenggorokan besar, atau pada pasien dengan
peningkatan lemak subkutan di leher anterior.

Dalam penelitian ini, ditunjukkan bahwa operator-tunggal transtirohyoid


FNGI adalah teknik yang layak untuk mengobati berbagai kelainan laring,
termasuk papillomatosis laring, paresis atau kelumpuhan plika vokalis,
presbilaring, polip plika vokalis, dan granuloma proses vokal. Secara keseluruhan,
41 dari 42 prosedur (97,6%) dilengkapi dengan visualisasi dan injeksi yang
adekuat. Prosedur tunggal yang dibatalkan adalah injeksi cidofovir bilateral yang
terganggu sebelum injeksi plika vokalis sejati kanan yang kedua saat pasien mulai
batuk setelah injeksi plika vokalis palsu kiri. Plika vokalis palsu cenderung lebih
sensitif daripada plika vokalis sejati, dan sebaiknya dihindari sampai akhir
prosedur. Blok saraf laring superior dapat memudahkan toleransi pasien terhadap
injeksi plika vokalis palsu. Visualisasi laring yang memadai dicapai dalam semua
kasus. Pembahasan perlakuan terhadap kondisi yang ditunjukkan berada di luar
cakupan artikel ini, namun dapat ditemukan di tempat lain.

Amin dan rekannya mencatat bahwa teknik injeksi transtirohyoid dapat


ditoleransi dengan baik oleh pasien. Dalam penelitian ini, kami mencoba untuk
secara formal menilai ketidaknyamanan dan toleransi pasien. Enam belas dari 26
subjek mampu mengingat prosedur tersebut dan berhasil menyelesaikan survei
telepon. Rasa sakit dan ketidaknyamanan berada pada kisaran ringan sampai
sedang untuk hidung (2,44 1,93, di mana 1 tidak terasa sakit dan 10 adalah rasa
sakit yang paling buruk), untuk tenggorokan (4,38 2,22), dan keseluruhan (4,38
1,86) selama prosedur. Ketidaknyamanan utama adalah dari jarum suntik, bukan
nasolaringoskop. Ketidaknyamanan setelah prosedur juga ringan (2,31 1,70) dan
jarang diperlukan penggunaan analgesik. Mayoritas pasien tidak mengalami
masalah dengan tersedak (68,8%), bernapas (93,8%), atau menelan (62,5%). Yang
paling menonjol, 93,8% pasien mengatakan bahwa mereka bersedia mengulangi
prosedur jika diperlukan. Hasil ini konsisten dengan hasil yang ditemukan oleh
Rees dkk untuk toleransi pasien pengobatan pulsed-dye-laser di kantor pada
saluran aerodigestif bagian atas.

SIMPULAN

FNGI operator-tunggal melalui pendekatan transtirohyoid adalah teknik injeksi


laring yang mudah dan serbaguna untuk berbagai indikasi. Ini menyediakan
kemampuan untuk mengakses bagian anterior, tengah, dan posterior laring. Ini
menghilangkan kebutuhan akan asisten yang berpengalaman dalam
nasolaringoskopi dan memungkinkan ahli bedah untuk menyesuaikan dan
mengoptimalkan visualisasi dengan cara yang analog dengan operasi sinus
endoskopik. Pasien mentolerir prosedur dengan baik, hanya dengan nyeri atau
ketidaknyamanan ringan atau sedang. Hampir semua pasien akan mengulangi
prosedur jika perlu. Arah ke depan untuk penelitian dapat mencakup percobaan
prospektif operator tunggal versus dual operator FNGI plika vokalis
transtirohyoid atau teknik injeksi plika vokalis lainnya untuk mencoba
menentukan pendekatan injeksi yang paling efektif dan terbaik.