Anda di halaman 1dari 8

ISSN : 1907-7556

KARAKTERISTIK PETANI SAGU DAN KERAGAMAN


SERTA MANFAAT EKONOMI SAGU BAGI MASYARAKAT DUSUN WAIPALITI
DESA HITU KECAMATAN LEIHITU KABUPATEN MALUKU TENGAH

NOVITA L. RUHUKAIL
Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire

ABSTRACT
The research of sago forest on Waipaliti, Hitu village was looking characteristic of sago
farmers, variety of sago, also economic used of sago to community inhabitants Waipaliti.
The method that shall be used in this research is survey method with observation the
area, including interview with the sago farmers. Survey to do in sago forest, for to knew
totally wide of area, other vegetations around sago and information of climate. The data
and information about economic profit of sago farmers, will be analysis and results of
this research, was : (1) The sago farmers in Waipaliti was including productive group
has big percentage is 97,5 %, (2) Processing of sago on Waipaliti still was traditional
processing, (3) The variety of sago in Waipaliti, Hitu village is Molat, Tuni and Ihur.
Usualy the farmers used only tuni and ihur for sago processing, (3) The area of sago was
bellongs of the people or family in Hitu village, (4) The result of economic profit analysis
has average profit/month is Rp 3.116.818,-. Its sago was gived good contribution for
sago farmers, also for community inhabitants Waipaliti on Hitu village.
Keywords : sago, characteristic, variety.
PENDAHULUAN dikembangkan lagi menjadi bahan industri
Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat pangan seperti : bahan pembuat roti, biskuit, mi,
seringkali menimbulkan permasalahan dalam hal dan beras sagu, lalu diolah juga menjadi bahan
ketahanan pangan. Hal ini terjadi bila pertambahan industri plastik yang dikenal dengan istilah
penduduk tidak diimbangi dengan ketersediaan biodegradable plastic (plastik yang mudah
pangan yang cukup. Pola konsumsi yang hanya terurai) (Louhenapessy, dkk., 2010). Belakangan
bertumpu pada satu jenis bahan pangan pokok ini, sagu dikembangkan juga sebagai bahan energi
menjadi salah satu penyebab timbulnya masalah alternatif yaitu bioetanol. Sebagai hasil buangan/
tersebut. Dan masalah ini terjadi hampir di seluruh limbah padat sagupun dapat dimanfaatkan sebagai
daerah di Indonesia, termasuk daerah Maluku. bahan ramuan rumah, atap rumah, bahan anyaman
Kenyataan ini disebabkan karena masyarakat dan bahan kerajinan. Limbah sagu lainnya, seperti
tetap menjadikan beras sebagai satu-satunya : ulat sagu, ternyata dapat dimanfaatkan juga
pangan pokok, padahal di Maluku sendiri sebagai bahan makanan untuk dikonsumsi dan
mempunyai pangan pokok lokal yang sudah mulai dapat dijadikan sebagai pakan ternak.
ditinggalkan yaitu sagu. Dengan keanekaragaman potensi dan
Sagu (Metroxylon sp) merupakan pangan manfaat sagu seperti yang telah diuraikan, maka
pokok lokal yang sudah dikenal sejak dahulu, keberadaan sagu perlu dikembangkan karena
di beberapa daerah antara lain : Maluku, Papua selain sebagai tanaman potensial yang memiliki
dan Sulawesi. Sebagai tanaman tradisional khas nilai ekonomi cukup tinggi, sagu juga merupakan
masyarakat Maluku, sagu merupakan tanaman salah satu kearifan lokal masyarakat Maluku,
yang cukup berpotensi, dimana sejak dahulu, termasuk masyarakat di Dusun Waipaliti Desa
pati sagu telah dimanfaatkan sebagai bahan Hitu, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku
pangan pokok (Staple food), seperti : papeda, Tengah. Umumnya masyarakat Dusun Waipaliti
sagu lempeng, sinoli, bubur sagu serta penganan, telah memanfaatkan sagu sebagai bahan pangan
seperti : serut, bagea dan sagu tumbu. Sejalan dari sejak dahulu, yang dilakukan secara turun
dengan perkembangan, pengolahan pati sagu temurun. Dimana batang sagu tersebut diolah,
66 Jurnal Agroforestri VII Nomor 1 Maret 2012

kemudian diambil patinya untuk dijadikan R = Revenue/Penerimaan


bahan pangan. Dari sisi potensinya, sagu di C = Cost/Biaya Pengeluaraan
Maluku memiliki potensi yang sangat besar,
akan tetapi pada kenyataannya potensi sagu yang Hasil analisa tersebut disajikan dalam
dimanfaatkan hanya sebagian saja, sedangkan bentuk tabulasi, serta dilengkapi dengan
sisanya terbuang percuma di hutan. Kenyataan uraian penjelasan, dan akan dilakukan
ini pula yang terlihat di Dusun Waipaliti Desa penarikan kesimpulan yang merupakan
Hitu Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku
hasil akhir secara keseluruhan.
Tengah, bahwa dengan begitu banyak potensi
dan manfaat sagu yang ada ternyata bahwa sagu HASIL DAN PEMBAHASAN
yang dimanfaatkan itu hanya untuk dikonsumsi
dan sebagian lagi diperjual belikan. Karakteristik Petani Sagu
Adapun penelitian ini bertujuan untuk 1) Umur dan Tingkat Pendidikan
mengetahui karakteristik petani sagu di dusun Berdasarkan hasil wawancara yang
Waipaliti, keragaman sagu yang tersebar di Dusun dilakukan dengan masyarakat petani pengelola
Waipaliti Desa Hitu Kecamatan Leihitu Kabupaten sagu, maka diketahui bahwa mereka ini bukan
Maluku Tengah dan manfaat ekonominya bagi merupakan penduduk asli Desa Hitu, tetapi
masyarakat setempat. dominan mereka ini merupakan masyarakat
pendatang dari pulau Sulawesi (Buton) hanya
METODOLOGI PENELITIAN telah menetap berpuluh-puluh tahun di Dusun
Waipaliti. Pekerjaan sebagai pengelola sagu
Pelaksanaan Penelitian
ini telah dilakukan selama puluhan tahun
Penelitian ini dilaksanakan di dusun secara turun temurun sebagai warisan orang
Waipaliti Desa Hitu Kecamatan Leihitu Kabupaten tua mereka. Petani pengelola sagu yang ada di
Maluku Tengah. Metode yang digunakan dalam Dusun Waipaliti ini berjumlah 11 KK, dengan
penelitian ini adalah metode survei dengan tingkat umur dan pendidikan yang berbeda-beda.
observasi lapangan. Survei dilakukan pada Adapun karakteristiknya dapat dilihat pada tabel
hutan sagu, untuk mengetahui luasan lahan berikut.
sagu. Pengamatan juga dilakukan pada vegetasi Tabel 1. Karakteristik Petani Pengelola Sagu
lainnya yang tumbuh di sekitar tanaman sagu dan Berdasarkan Tingkat Umur dan Pendidikan
penyebaran jenis sagu yang ada, serta pengambilan Tingkat Pendidikan
data iklim pada Stasiun Meteorologi, Geofisika Resp Umur
SD SMP SMA PT
dan Klimatologi terdekat. Selanjutnya dilakukan 1 32 - - -
wawancara dengan menggunakan isian kuesioner 2 35 - - -
pada masyarakat petani pengelola sagu, untuk 3 47 - - -
mengetahui karakteristik petani serta kondisi 4 45 - - -
sosial ekonominya. 5 63 - - -
6 36 - - -
Analisis Data
7 50 - - -
Data dan informasi yang diperoleh, 8 46 - - -
kemudian dianalisis dengan analisa 9 51 - - -
10 39 - - -
pendapatan ekonomi petani sagu 11 35 - - -
digunakan rumus (Suratiyah, 2009) Jumlah : 7 4 0 0
sebagai berikut : Persentase (%) 63.64 36.36 0 0
Berdasarkan hasil persentase karakteristik
petani pengelola sagu berdasarkan tingkat umur
Dimana : dan pendidikan maka diperoleh bahwa yang
mempunyai tingkat pendidikan paling rendah
= Keuntungan/Pendapatan
SD, menempati persentase terbesar yaitu 63.64%

Karakteristik Petani Sagu dan Keragaman Serta Manfaat Ekonomi Sagu Bagi Masyarakat Dusun Waipaliti
Desa Hitu Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah
Jurnal Agroforestri VII Nomor 1 Maret 2012 67

dengan jumlah KK sebanyak 7 KK, sedangkan kulit batang, sudah menggunakan mesin
untuk tingkat pendidikan SMP hanya 4 KK parut dan ayakan. Ekstraksi pati, dilakukan
dengan persentasenya hanya 36.36%. Hal ini dalam keadaan basah dikenal dengan nama
menunjukkan bahwa umumnya petani pengelola ramas sagu, dimana hancuran empulur
sagu mempunyai tingkat pendidikannya rendah, diletakan pada pangkal pelepah yang disebut
itu berarti pengetahuan mereka juga sangat sahani, biasanya dipakai pangkal pelepah
minim, sehingga hal ini berdampak pada tingkat sagu dan telah dipasang runut, biasanya
kehidupan mereka yang semuanya masih di dipakai seludang kelapa atau juga kain sifon.
bawah rata-rata. Dan umur petani sagu yang Untuk pengambilan airnya juga ada yang
berkisar antara 32- 63 tahun, menunjukkan bahwa masih menggunakan timba tetapi ada juga
ternyata ada diantara petani ini yang bukan lagi yang sudah menggunakan pompa air.
merupakan usia produktif karena sudah berusia >
48 tahun dan ini akan berpengaruh untuk aktivitas
dan kinerja kerja, akan tetapi kenyataan yang
terlihat di lapangan bahwa justru petani yang
usianya > 48 tahun, seperti : 50, 51 dan 63 tahun,
justru mereka ini yang mempunyai semangat
kerja yang tinggi, dibandingkan dengan yang
masih muda.
2) Teknik Pengelolaan Sagu
Umumnya tingkat pendidikan seseorang Gambar 2. Tumang sagu
akan berpengaruh pada cara dan pola hidupnya,
Penampungan dan Pengendapan Pati,
hal ini juga yang terjadi pada masyarakat petani
biasanya pada tempat yang disebut tawear
pengelola sagu Dusun Waipaliti, dimana dengan
atau goti, biasanya dibuat pada belahan
tingkat pendidikan yang di bawah rata-rata
batang sagu tetapi petani dusun Waipaliti
memberi dampak pada cara mereka melakukan
sudah menggunakan tempat penampungan
pekerjaan pengelolaan sagu. Kenyataan inilah
yang dibuat dari papan dengan menggunakan
yang terlihat di lapangan yaitu pada cara dan
plastik terpal untuk mempermudah
teknik petani mengelola sagunya, dimana rata-
penampungan patinya.
rata teknik pengelolaan sagu yang dilakukan
masih bersifat tradisional sampai semi mekanis. Pengemasan Pati Basah, dilakukan dalam
Petani pengelola sagu di dusun Waipaliti ini, dalam keranjang yang dibuat dari daun sagu disebut
melakukan pengolahan sagu masih menggunakan tumang.
alat-alat tradisional, walaupun beberapa di antara Dari gambaran teknik pengelolaan sagu
mereka juga sudah menggunakan yang semi yang dilakukan petani dusun Waipaliti di atas,
mekanis, seperti : menunjukkan bahwa umumnya petani masih
melakukan proses pengolahan secara tradisional
sampai semi mekanis, sehingga perbedaannya
hanya pada alat-alat yang digunakan adalah alat-
alat bermesin.
3) Status Kepemilikan Lahan Sagu
Lahan sagu yang berada pada daerah
Gambar 1. ramas sagu penelitian mempunyai status kepemilikan lahan
Penebangan, masih menggunakan parang bukan milik negeri/desa tetapi merupakan milik
dan kapak tetapi ada juga yang sudah perorangan atau personal, atau keluarga, atau
memakai chain saw. dikenal sebagai milik dati. Sehingga untuk luas
Penghancuran empulur, dikenal dengan nani lahan sagu itu sendiri, rata-rata petani pengelola
sagu yaitu proses melepaskan empulur dari sagu dusun Waipaliti tidak mengetahuinya secara

Novita L. Ruhukail
68 Jurnal Agroforestri VII Nomor 1 Maret 2012

pasti, sebab status kepemilikan lahannya tersebut 2) Ciri-ciri Sagu Tuni, antara lain :
adalah milik personal atau milik keluarga. Dan Pelepah daun besar dari batang
rata-rata dari semua petani pengelola sagu dusun Helai daun tegak, runcing, kecil dan
Waipatili ini tidak memiliki lahan sagu. Lahan panjang
sagu yang ada adalah milik masyarakat Hitu yang Warna daun hijau tua
merupakan pemilik tanah pada dusun Waipatili. Tulang daun sangat keras
Walaupun demikian, dalam hal pengelolaan Warna pelepah daun hijau tua
sagu ini harus sesuai dengan ketentuan atau Duri panjang, runcing, berwarna
aturan-aturan yang telah disepakati bersama, kecoklatan
baik itu untuk penebangan sagu, pengambilan Warna pati basah lebih putih dari sagu
bahan (atap, gaba-gaba) maupun dalam hal Ihur
pemanfaatan lahan sagu. Sehingga biasanya untuk Isi pati tidak terlalu banyak.
memanfaatkan sagu maka pohon sagu tersebut 3) Ciri ciri sagu Ihur, antara lain :
harus dibeli oleh petani pengelola sagu, atau Tulang daun lunak
bisanya juga terjadi sistem bagi hasil, dimana Warna pelepah daun hijau muda
pohon sagunya bisa diolah oleh petani tetapi Duri lebih panjang dan lebih lentur dari
dengan ketentuan bagi hasil dengan pemilik sagu tuni, berwarna coklat kemerahan
pohon sagu, sehingga kedua belah pihak saling 2. Fase Pertumbuhan Sagu
menguntungkan.
Fase pertumbuhan sagu yang diamati pada
Keragaman Tanaman Sagu lokasi penelitian, dinilai berdasarkan Kriteria Fase
1. Jenis Tanaman Sagu Pertumbuhan Sagu yaitu semai, sapihan, tiang,
pohon, masak tebang (MT) dan lewat masak
Tanaman sagu yang tumbuh dan menyebar
tebang (LMT). Pengamatan fase pertumbuhan
di dusun Waipaliti desa Hitu, umumnya ada 3
sagu ini dilakukan secara keseluruhan dengan
(tiga) jenis yaitu :
melihat beberapa sampel pohon yang diambil
1) Sagu Molat (M. sagus Rotb), secara acak pada lokasi penelitian. Adapun uraian
2) Sagu Tuni (M. rumphii Mart) fase pertumbuhan sagu yang dijumpai di lokasi
3) Sagu Ihur (M. sylvester Mart) penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut :
Dari ketiga jenis sagu tersebut, sagu yang
a. Fase Semaian (seedling);
dominan tumbuh dan yang banyak digunakan
oleh petani hanya adalah sagu Tuni (M. rumphii Merupakan suatu fase dimana terjadi
Mart) dan sagu Ihur (M. sylvester Mart). Untuk perkecambahan sampai pembentukan daun
sagu molat, dijumpai masih sedikit sekali dewasa pertama dan pembentukan bongkol
penyebarannya. sebagai pangkal pembentukan akar dan
batang, dan masih menempel di pohon
Secara ilmiah, ketiga jenis sagu ini
induk.
mempunyai ciri yang berbeda. Hasil di lapangan
menunjukkan bahwa umumnya petani mempunyai b. Fase Sapihan (sapling);
pengetahuan sendiri untuk membedakan ciri-ciri Mulai pembentukan batang dan
ketiga jenis sagu ini berdasarkan pengalaman perkembangan perakaran sampai tinggi
selama ini, adapun ciri-ciri sagu tersebut adalah batang bebas daun 1,5 m.
sebagai berikut : c. Tiang (pole);
1) Ciri-ciri sagu Molat , antara lain: Merupakan fase pertumbuhan dengan tinggi
Secara visual tidak berduri batang bebas daun 1,5 5 m.
Hasil olahan patinya tidak terlalu banyak d. Pohon (tree);
seperti jenis sagu tuni dan ihur
Fase pertumbuhan dengan tinggi batang
Warna pati basah jauh lebih putih
bebas daun > 5 m.
dibandingkan dengan jenis sagu
lainnya.

Karakteristik Petani Sagu dan Keragaman Serta Manfaat Ekonomi Sagu Bagi Masyarakat Dusun Waipaliti
Desa Hitu Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah
Jurnal Agroforestri VII Nomor 1 Maret 2012 69

e. Kematangan Produktif/Masak Tebang aromatica), bambu (Bambusa glaucescens),


(MT) siripopar (Piper miricatum), keladi hutan
Maputi masa; pembengkakan pada (Colocasia sp), paku-pakuan (Pteridophyta),
pucuk tumbuh (sagu bunting) sampai daun sapu, sungga-sungga, pandan air (Thorahos
jantung mulai keluar. kachium bancanum) dan pandan duri (Pandanus
Sirih buah; kuncup bunga mulai offine), biroro, dan putri malu (Mimosa pudica).
mekar, bercabang seperti tanduk rusa Manfaat Ekonomi Sagu
dan bunga kelihatan seperti buah siri.
1) Produksi Pati Sagu dan Hasil Jualnya
f. Kematangan Tidak Produktif/Lewat masak
tebang; Melalui wawancara yang dilakukan,
diketahui bahwa sagu memberikan manfaat
Fase pertumbuhan dimana pohon sagu sudah
yang besar kepada masyarakat, terutama pada
berbuah sampai pohon mati.
masyarakat petani pengelola sagu. Hasil dari
3. Asosiasi Vegetasi pengelolaan sagu yang dilakukan, menunjukkan
Asosiasi vegetasi merupakan vegetasi bahwa umumnya hasilnya cukup baik. Hasil
lain yang ada di sekitar tanaman sagu. Pada analisa ekonomi yang dilakukan berdasarkan
daerah penelitian diperoleh adanya beberapa produksi pati per pohon disajikan pada tabel di
vegetasi, antara lain : kakao (Theobroma bawah ini.
cacao), pisang (Musa paradisiaca), langsat Tabel 2. Hasil Analisa Ekonomi Sagu Berdasarkan
(Lansium domesticum), durian (Durio zibetinus), Jenis dan Produksi untuk Satu Pohon
manggustan hutan (Garcinia sp), pandan tikar
(Pandannus militaris), cengkeh (Eugenia

Macam Sagu Produksi Pati/Pohon Pendapatan (Rp.)


Total
Dari Tot. Dari Tot.
Responden Tinggi Brt Jumlah Berat Pati
Tumang Berat
Jenis Batang Tumang Tumang/ (BrtXTot.
(Rp. 35.000/ (Rp. 1.350/
(M) (Kg) Phn Tum)
Tumang) Kg)
(Kg)
1 Ihur,Tuni 22 24 20 480 700.000 648.000
2 Ihur 20 24 30 720 1.050.000 972.000
3 Ihur 20 23 30 690 1.050.000 931.500
4 Ihur 17 22 20 440 700.000 594.000
5 Ihur 20 24 30 720 1.050.000 972.000
6 Ihur 17 24 20 480 700.000 648.000
7 Ihur 22 23 15 345 525.00 465.750
8 Ihur 20 24 17 408 595.000 550.800
9 Ihur 18 22 17 374 595.000 504.900
10 Ihur 18 24 17 408 595.000 550.800
11 Ihur 18 24 15 360 525.000 486.000
Total : 258 231 5.425 8.085.000 7.323.750
Rata Rata : 23,45 21 493.18 735.000 665.796
Dari hasil tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa berdasar hasil pengelolaan sagu yang dikelola
oleh petani pengelola sagu di daerah penelitian, Untuk harga jual per tumang, rata-
biasanya untuk satu pohon saja, petani bisa rata harganya sama yaitu sebesar Rp. 35.000,-.
memperoleh produksi pati/tumang sebanyak Sehingga dari hasil analisa ekonomi untuk satu
15 30 tumang/po hon. Hasil ini bervariasi pohon saja, petani dapat memperoleh pendapatan
karena tergantung jenis dan besarnya pohon antara Rp. 525.000 Rp. 1.050.000,-. Walaupun
(tergantung panjang pohon dan besar diameter demikian, ada juga beberapa petani yang menjual
batang pohon). hasilnya tidak dalam bentuk tumang tetapi per Kg

Novita L. Ruhukail
70 Jurnal Agroforestri VII Nomor 1 Maret 2012

yaitu sebesar Rp. 1.350, dimana pendapatannya untuk pemilik pohon sagu. Sejauh ini tidak ada
juga cukup baik, tetapi untuk hasil jual dalam pihak yang dirugikan, karena petani juga tetap
bentuk tumang jauh lebih baik dari hasil jual mendapat pendapatan yang cukup baik dari sistem
dalam bentuk Kg (Lihat Tabel 2). Hal inipun bagi hasil tersebut.
dibenarkan oleh para petani pengelola sagu di Dari hasil analisa ekonomi untuk
Dusun Waipaliti bahwa hasil pendapatan jual sagu pendapatan/bulan bagi petani pengelola sagu
dalam bentuk tumang lebih baik daripada dijual pada daerah penelitian, menunjukkan bahwa
dalam bentuk Kg. rata-rata pendapatan yang diperoleh cukup untuk
2) Pendapatan Petani memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pendapatan
Berdasarkan hasil jual produksi pati yang bisa dihasilkan dari hasil penjualan itu antara
sagu per pohon yang disajikan pada tabel 2, Rp 2.200.000 3.950.000,-. Atau rata- ratanya
menunjukkan bahwa petani bisa memperoleh adalah Rp 3.116.818,-. Hasil pendapatan ini
pendapatan yang cukup baik. Adapun hasil analisa diperoleh dengan menghitung hasil penjualan,
pendapatan/bulan dari petani pengelola sagu ini dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan
disajikan pada tabel 3. Selain pendapatan sendiri selama proses pengelolaan sagu berlangsung.
yang dapat diperoleh terkadang juga terjadi sistem Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sagu
bagi hasil, dimana dari hasil pengelolaan sagu memberikan kontribusi positif terhadap ekonomi
biasanya hasil dibagi dengan pemilik pohon sagu. petani pengelola sagu di Dusun Waipaliti Desa
Pembagian ini biasanya itu, dengan perhitungan Hitu. (Tabel 3.)
jika hasil 10 tumang, maka bagi hasilnya yaitu 7 Tabel 3. Analisa Pendapatan/Bulan Petani Pengelola
tumang untuk petani pengelola sagu dan 3 tumang Sagu Dusun Waipaliti Desa Hitu

Biaya Pengeluaraan/
Banyak Jumlah Penerimaan/ Bulan Pendapatan/ Bulan
Bulan
Responden Pohon/ Tumang/ (R) (R C)
(C)
Bln Bulan (Byk tum. X Rp.35.000) (Rp.)
(Rp.)
1 10 230 8.050.000 4.100.000 3.950.000
2 7 200 7.000.000 3.860.000 3.140.000
3 8 220 7.700.000 3.940.000 3.760.000
4 7 196 6.860.000 3.860.000 3.000.000
5 10 210 7.350.000 4.000.000 3.350.000
6 9 186 6.510.000 4.020.000 2.490.000
7 9 148 5.180.000 2.980.000 2.200.000
8 8 200 7.000.000 3.840.000 3.160.000
9 7 194 6.790.000 3.500.000 3.290.000
10 10 200 7.000.000 4.000.000 3.000.000
11 9 167 5.845.000 2.900.000 2.945.000
Total : 75.285.000 41.000.000 34.285.000
Rata Rata : 6.644.091 3.727.273 3.116.818
Ket : Pengeluaraan (C: Beli pohon (Rp. 80.000/pohon), Transport, Konsumsi, Bensin,
Tenaga Kerja.
Hasil wawancara juga mengambarkan bahwa untuk pemasaran hasil produksi sagu selama
ini, berjalan cukup lancar artinya ada pedagang juga yang langsung dibawa ke pasar. Itu berarti
pembeli yang langsung membeli di tempat usaha, bahwa rantai pemasaran produksi komoditi sagu
tetapi terkadang juga petani harus berjualan berjalan dengan baik.
keliling dari satu desa ke desa lainnya, atau ada

Karakteristik Petani Sagu dan Keragaman Serta Manfaat Ekonomi Sagu Bagi Masyarakat Dusun Waipaliti
Desa Hitu Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah
Jurnal Agroforestri VII Nomor 1 Maret 2012 71

Manfaat Lainnya KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka
kesimpulan yang dapat diambil adalah :
1. Umumnya petani pengelola sagu di Dusun
Waipaliti Desa Hitu, adalah petani dengan
usia produktif dengan persentase terbesar
yaitu 97,5 % dan memiliki tingkat pendidikan
di bawah rata-rata, hanya sampai sekolah
tingkat menengah pertama.
2. Proses pengelolaan sagu yang dilakukan
Gambar 3. B e n t u k p e m a n f a a t a n S a g u masih secara tradisional sampai semi
Masyarakat Waipaliti mekanis, terbukti dari alat-alat yang
Selain manfaat ekonomi sagu yang
digunakan dalam pengolahan sagunya.
cukup memberikan pendapatan lebih bagi
petani, manfaat sagu lainnya yang didapat 3. Keragaman sagu yang ada di Dusun
oleh masyarakat cukup banyak, terutama bagi Waipaliti Desa Hitu Kecamatan Leihitu
masyarakat petani pengelola sagu. Sagu selain Kabupaten Maluku Tengah, penyebarannya
dari hasil olahan produksi patinya yang dijual, cukup beragam dimana ada 3 (tiga) jenis
tetapi sagu juga dimanfaatkan oleh keluarga sagu yang ditemukan yaitu : Sagu Molat (M.
petani sebagai bahan pangan keluarga, selain sagus Rotb), Sagu Tuni (M. rumphii Mart)
itu juga sagu dibuat berbagai bentuk penganan dan Sagu Ihur (M. sylvester Mart). Jenis sagu
(makanan) baik untuk dikonsumsi dan juga untuk yang dominan dan yang banyak digunakan
dijual. oleh petani adalah jenis sagu Tuni dan Sagu
Ihur.
Manfaat sagu juga bukan hanya sebatas
sebagai bahan pangan saja, tetapi dengan tanaman 4. Lahan sagu yang ada pada lokasi penelitian
sagu masyarakat juga, dilindungi dari bahaya adalah milik perorangan/keluarga/milik dati
banjir terutama masyarakat yang ada di sekitar sehingga untuk luasannya tidak diketahui
daerah sungai, sebab lahan sagu merupakan dengan pasti.
daerah penyangga bagi banjir. Di lain sisi juga, 5. Hasil analisa ekonomi menunjukkan bahwa
masyarakat memanfaatkan bagian lain dari sagu memberikan kontribusi yang cukup,
tanaman sagu untuk dijadikan bahan bangunan bagi pendapatan petani pengolah sagu
seperti : daun sagu dijadikan atap, pelepah sagu dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari,
(gaba-gaba) dijadikan untuk pembuatan dinding dimana rata-rata pendapatan/bulan adalah
rumah, untuk tempat duduk (degu-degu), sebagai Rp 3.116.818,-
rakit untuk mainan anak dan sebagainya. 6. Selain manfaat sagu sebagai bahan pangan
keluarga, sagu juga dapat memberikan
manfaat lebih bagi masyarakat Dusun
Waipaliti Desa Hitu, terutama bagi
masyarakat petani pengolah sagu.
Saran
Adapun saran yang dapat diberikan,
adalah :
1. Diharapkan kedepan agar sagu tetap
dilestarikan dan tetap dijadikan sebagai
Gambar 4. Pemanfaatan Daun dan Pelepah Sagu tanaman endemik Maluku yang menjadi
oleh Masyarakat

Novita L. Ruhukail
72 Jurnal Agroforestri VII Nomor 1 Maret 2012

bahan pangan lokal unggulan yang nantinya 3. Perlu penelitian lanjutan, untuk bagaimana
dapat dikembangkan lagi sagu bisa dimanfaatkan lagi dan
2. Perlu adanya rehabilitasi lahan sagu yang dikembangkan dalam bentuk yang lain.
ada, sehingga upaya pelestarian sagu ini
berhasil untuk anak cucu nantinya.
DAFTAR PUSTAKA
Akhyar, 2010. Kerapatan dan Struktur Populasi Tanaman Sagu (Metroxylon spp). di Desa Sawai
Kecamatan Seram Utara Kabupaten Maluku Tengah. Fakultas Pertanian.
Botanri, S. dan Muhuria, L., 2010. Potensi Sagu di Pulau Seram dan Peluang Investasinya. Makalah
Sail Banda 2010. Fakultas Pertanian Universitas Darussalam, Ambon.
Deinum, H.K., 1948. Sagu dalam landbow in de Indische Archipel II A. NV Uitgeverij W. van Hoewe.
S Gravenhage.
Haryanto dan Pangloli, 1992. Tanaman Sagu. http://www.erisco.wordpress.com/
2010/03/30/tanaman-sagu/. Diakses : 16 Februari 2011.
Harsanto, P.B. 1986. Budidaya dan Pengolahan Sagu. Kanisius, Yogyakarta.
, 1986. Tanaman Sagu. http://www.erisco.wordpress.com/2010/03/30/ tanaman-
sagu/.pdf. Diakses : 1 Maret 2011.
Haryanto, B. dan Pangloli, P., 1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius. Yogyakarta.
Haryanto, B. dan Suharjito, 1986. Model Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Sebagai Salah S a t u
Alternatif Pengembangan Sagu. Prosiding Symposium Nasional Sagu III, Pekan Baru,
27-28 Februari 1996.
Louhenapessy, J.E., dkk, 2010. Sagu, Harapan Dan Tantangan. Bumi Aksara, Jakarta
Lubis, R., 1953. Sagu di Maluku. Percetakan Maluku, Ambon.
Mulyanto, B. and Suwardi, 2000. Distribution and Characteristics of Land, The Sagu Palm (Metroxylon
spp.) Habitat in Indonesia. Proc. Sago Seminar. Bogor, March 22-23, 2000.
Notohadiprawiro dan Louhenapessy, 1992. The role of the sago palm in the development of integrated
farm system in Maluku Province of Indonesia
Rumalatu, 1981. Potensi Dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius, Yogyakarta.
Samad, M.Y., 2002. Identifikasi Jenis-Jenis Sagu (Metroxylon Sp). http://www.syair79.
wordperss.com/2009/05/02/Identifikasi-jenis-jenis sagu-metroxylon sp/.pdf. Diakses : 1 Maret
2011.
Takaba Askia, 2010. Tinjauan Mengenai Budidaya Sagu di Dusun Rupaitu Negeri Tulehu Kecamatan
Salahutu Kabupaten Maluku Tengah. Laporan Praktek Kerja Lapangan Fakultas Pertanian
Universitas Pattimura Ambon. (Tidak dipublikasikan).

Karakteristik Petani Sagu dan Keragaman Serta Manfaat Ekonomi Sagu Bagi Masyarakat Dusun Waipaliti
Desa Hitu Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah