Anda di halaman 1dari 22

1.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Di dunia, terdapat banyak masalah kesehatan yang berdampak pada
derajat kesehatan masyarakat. Salah satu masalah kesehatan tersebut ada
yang ditularkan oleh binatang atau biasa disebut penyakit zoonosis.
Penyakit zoonosis yang banyak terjadi di masyarakat dan kejadiannya
meningkat secara fluktuatif yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD).
Demam berdarah Dengue banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-
tropis. Asia adalah salah satu benua yang menempati urutan pertama dalam
jumlah penderita DBD setiap tahunnya. WHO (World Health
Organization) mencatat bahwa Indonesia adalah negara di Asia Tenggara
dengan kasus DBD tertinggi.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu
masalah kesehatan yang mendapat perhatian. Karena jumlah penderita dan
persebarannya makin hari makin meluas. Hal ini disebabkan karena
sulitnya dilakukan pengendalian penyakit yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedes Aegypti. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara
endemik demam berdarah yang setiap tahunnya selalu terjadi KLB di
berbagai kota. Hingga saat ini, belum terdapat vaksin untuk mencegah
terjadinya kejadian demam berdarah.
Jumlah Penderita DBD sejak tahun 2004 hingga 2014 fluktuatif
setiap tahunnya, jumlah penderita tertinggi terjadi pada tahun 2010, disusul
tahun 2013 dan tahun 2006 hal ini dipengaruhi oleh faktor cuaca (curah
hujan). Jumlah penderita DBD pada tahun 2014 di Kota Yogyakarta
sebanyak 418 orang dan jumlah penderita DBD yang meninggal selama
tahun 2014 sebanyak 3 orang (CFR 0,72 %).
Dengan jumlah penderita DBD di Yogyakarta tersebut, perlu adanya
pengendalian penyakit demam berdarah dengan cara yang efektif agar
kejadiannya dapat diminimalkan. Salah satunya dapat dilakukan melalui
Communication for Behavioural Impact (COMBI) atau perencanaan
program komunikasi untuk perubahan perilaku kepada masyarakat agar
masyarakat lebih peduli terhadap penyakit demam berdarah, dapat

1
merubah perilaku yang lebih sehat dan terhindar dari penyakit demam
berdarah.

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana analisis COMBI pada kejadian demam berdarah di Yogyakarta


tahun 2014?

1.3. Tujuan

Untuk mengetahui analisis COMBI pada kejadian demam berdarah di


Yogyakarta tahun 2014

1.4. Manfaat
Dapat mengetahui analisis COMBI pada kejadian demam berdarah di
Yogyakarta tahun 2014

2
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Demam Berdarah


a. Penyebab
Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan virus dengue
yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses)
yang dikenal sebagai genus Flavivirus, familiy Flaviviridae.
Memiliki 4 jenis serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4.
Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap
serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibodi yang terbentuk
terhadap serotipe lain sangat kurang, sehingga tidak dapat
memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain
tersebut. (Depkes RI, 2011)
b. Vektor penyakit
Nyamuk aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil
dibanding dengan rata-rata nyamuk lain. Nyamuk ini mempunyai
dasar hitam dengan bintik-bintik putih. Nyamuk Aedes aegypti
jantan menghisap tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan
hidupnya, sedangkan nyamuk betina menghisap darah. Nyamuk
betina biasanya mencari mangsa pada pagi hari yaitu mulai pukul
(09.00-10.00) sampai petang (16.00-17.00). Nyamuk ini sangat
infektif sebagai penular penyakit. Tempat hinggap nyamuk Aedes
aegypti yaitu ditempat yang agak gelap, lembab, dan pada benda-
benda menggantung. (Siregar, 2004).
c. Cara penularan
Penyakit Demam Berdarah Dengue ditularkan oleh nyamuk
Aedes aegypti. Nyamuk mendapat virus Dengue sewaktu mengigit
mengisap darah orang yang sakit Demam Berdarah Dengue atau
tidak sakit tetapi didalam darahnya terdapat virus dengue. Seseorang
yang didalam darahnya mengandung virus dengue merupakan
sumber penularan penyakit demam berdarah. Virus dengue berada
dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila
penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah

3
akan ikut terisap masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya
virus akan memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan
tubuh nyamuk termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1
minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap
untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik).
Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang
hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes aegypti yang telah
mengisap virus dengue itu menjadi penular (infektif) sepanjang
hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk
menusuk/mengigit, sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air
liur melalui alat tusuknya (proboscis) agar darah yang diisap tidak
membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari
nyamuk ke orang lain (Siregar, 2004).
d. Pencegahan dan penanggulangan
Pengembangan vaksin untuk penyakit DBD masih sulit,
karena proteksi terhadap 1-2 virus dengue akan meningkatkan risiko
penyakit DBD menjadi lebih berat (WHO, 2008). Halstead pada
tahun 1973 mengajukan hipotesis secondary heterologous infection
yang menyatakan bahwa DHF terjadi bila seseorang terinfeksi ulang
virus dengue dengan tipe yang berbeda. Re-infeksi menyebabkan
reaksi anamnestic antibodi sehingga mengakibatkan konsentrasi
komplek imun yang tinggi (Suhendro, et.al., 2006). Oleh karena
itulah, maka pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD
dilakukan secara promotif dan preventif, dengan pemberantasan
nyamuk vektor (hewan perantara penularan).

2.2. Communication for Behavioural Impact (COMBI)


2.2.1. Definisi COMBI
COMBI merupakan sebuah proses yang menggabungkan
berbagai intervensi komunikasi secara strategis yang dimaksudkan
untuk melibatkan individu dan keluarga dalam mempertimbangkan
perilaku sehat yang dianjurkan dan untuk mendorong pengadopsian
dan pemeliharaan perilaku tersebut.

4
COMBI mengakui bahwa tujuan akhir dalam kesehatan
adalah dampak perubahan perilaku: seseorang melakukan sesuatu.
COMBI menekankan: kita memerlukan informasi; kita memerlukan
edukasi; kita memerlukan persuasi, kita memerlukan keterlibatan
masyarakat; kita memerlukan masyarakat yang berkembang; kita
memerlukan pemerintah yang mempunyai komitmen; dan kita juga
memerlukan kepekaan konsumen yang memfokuskan pada
pengambilan keputusan dan perilaku, yang diterapkan pada perilaku
sehat.
Kunci dalam perencanaan program COMBI adalah
mengupayakan sebuah pendekatan terpadu dengan penggabungan
yang tepat dan pemilihan aksi-aski komunikasi yang sesuai dengan
hasil perubahan perilaku yang diharapkan, dan tidak mempercayai
bahwa satau jenis intervensi komunikasi adalah sangat kuat.

2.2.2. Langkah-langkah dalam COMBI


1) Langkah 1 : Menetapkan tujuan umum
Menetapkan tujuan rencana aksi COMBI untuk merubah
perilaku masyarakat terkait masalah kesehatan yang ada.

2) Langkah 2 : Menetapkan tujuan khusus yaitu perubahan


perilaku yang diinginkan
Menetapkan tujuan yang lebih spesifik dan rinci pada
perubahan perilaku yang diinginkan terkait dengan masalah
kesehatan yang ada.

3) Langkah 3 : Melakukan Analisa Situasi Pasar untuk


Kunci-Kunci Komunikasi (SMACK) terhadap tujuan
perubahan perilaku yang jelas
Melihat situasi pasar atau konsumen dengan tujuan
untuk mengetahui cara merubah perilaku masyarakat yang
sesuai dengan keadaan yang ada, serta hambatan yang dapat

5
terjadi dalam proses merubah perilaku, sehingga komunikasi
nantinya dapat berjalan dengan efektif dan sesuai dengan
keinginan masyarakat. Hasilnya yaitu perubahan perilaku untuk
mencegah suatu penyakit pada masyarakat yang lebih baik.
Terdapat beberapa alat untuk melakukan analisa situasi
pasar untuk kunci-kunci komunikasi, diantaranya HIC-DARM
(Hear, Informed, Convinced, Decision, Action, Re-
confirmation, dan Maintain), segmentasi pasar, analisa medan
kekuatan, analisa SWOT, komunikasi pemasaran terpadu
(IMC), Analisa DILO (Day In The Life Of) dan MILO (Moment
In The Life Of), TOMA (Top-Of-The-Mind Analysis), dan
Analisa kompetitor.

4) Langkah 4 : Mengembangkan strategi COMBI untuk


mencapai perubahan perilaku yang ditetapkan
COMBI dilakukan dengan tujuan untuk merubah
perilaku masyarakat. Strategi COMBI sebaiknya mengandung
pesan-pesan kunci, urutannya, sifat umum strategi, perpaduan
aksi-aksi komunikasi (mobilisasi administrative/advokasi
masyarakat/hubungan masyarakat, mobilisasi masyarakat,
periklanan, penjualan personal/komunikasi interpersonal,
promosi di tempat pelayanan), hubungan di antara aksi-aksi
komunikasi yang berbeda ini, dan gambaran umum tentang
bagaimana rencana tersebut akan dikelola dan dievaluasi.
Terdapat 3 fenomena kunci mengenai komunikasi
efektif, yaitu perhatian selektif, persepsi selektif, dan ingatan
selektif. Perhatian selektif adalah perhatian penuh yang dapat
kita berikan pada suatu hal selama kira-kira 40 detik, lalu kita
memikirkan hal yang lain, dan kita perhat. Persepsi selektif
yaitu pandangan mereka terhadap suatu hal menurut pendapat
mereka sendiri, hal ini dapat dipengaruhi oleh budaya, adat
istiadat, dsb. Sedangkan ingatan selektif adalah tendensi kita

6
untuk melupakan suatu hal diluar alam sadar, maka perlu adanya
pengulangan pesan secara terus menerus, agar pesan dapat
diterima dengan baik. Hal yang membuat pesan dapat dilupakan
yaitu sudut pandang yang tidak sesuai dengan dirinya dan beban
informasi yang terlalu banyak.

5) Langkah 5 : Menyajikan rencana aksi COMBI


Rencana aksi merupakan instrument utama dalam
pelaksanaan COMBI. Rencana aksi berisi tentang penjabaran
kegiatan yang akan dilakukan, mulai dari persiapan sampai
dengan strategi implementasi.

6) Langkah 6 : Manajemen
Struktur manajemen berfungsi untuk mengawasi
kegiatan implementasi yang sedang berlangsung agar berjalan
efektif. Perlu ditunjuk beberapa staff khusus atau agen
kerjasama untuk mengkoordinator aksi komunikasi. Perlu
ditunjuk juga penasehat teknis atau badan pemerintah untuk
memperoleh dukungan teknis dan kepada siapa tim akan
menyampaikan laporan.

7) Langkah 7 : Pemantauan
Dilakukan pemantauan kemajuan implementasi,
sehingga dapat mengetahui masalah dalam implementasi dan
cara menyelesaikannya. Selain itu, pemantauan juga dapat
melihat dampak perubahan perilaku pada masyarakat dan dapat
melakukan modifikasi strategi untuk perubahan perilaku
masyarakat yang lebih baik lagi

7
8) Langkah 8 : Penilaian dampak
Dapat menjelaskan bagaimana tujuan perubahan perilaku
dapat tercapai. Serta dapat menilai dampak dari perubahan
perilaku yang dilakukan dengan rencana aksi

9) Langkah 9 : Penjadwalan : Rencana Kerja


Pada tahap ini, memasukkan kegiatan-kegiatan aksi
kedalam jadwal rencana kerja yang menjadi alat implemetasi dan
manajemen dalam melaksanakan program COMBI. Format
rencana kerja terdiri dari judul-judul kolom seperti: Kegiatan,
Tanggal Selesai, Tanggung Jawab (anggota staff, agen mitra, dan
seterusnya), dan kemajuan. Kolom kemajuan berisi catatan
singkat tentnag keadaan implementasi

10) Langkah 10 : Anggaran


Membuat anggaran lengkap pada kegiatan yang
diusulkan dalam rencana COMBI, seperti jumlah item yang
dibuat, biaya per unit, dan lain-lain. Mengusulkan format
presentasi yang mencakup bidang komunikasi kunci seperti
mobilisasi Administratif/Hubungan masyarakat/Advokasi
masyarakat, mobilisasi masyarakat, penjualan personal,
periklanan dan promosi, dan promosi di tempat pelayanan (jika
ada).

8
3. PEMBAHASAN

3.1. Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD)


Jumlah Penderita DBD sejak tahun 2004 hingga 2014 fluktuatif
setiap tahunnya, jumlah penderita tertinggi terjadi pada tahun 2010, disusul
tahun 2013 dan tahun 2006 hal ini dipengaruhi oleh faktor cuaca (curah
hujan). Jumlah penderita meninggal terbanyak terjadi pada tahun 2004
sebanyak 12 orang (CFR 1,7 %) dan tahun 2006 sebanyak 7 orang (CFR
0,78%). Jumlah penderita DBD dan meninggal terendah pada tahun 2005
sebanyak 343 orang dan jumlah meninggal sebanyak 1 orang.

Jumlah penderita DBD pada tahun 2014 di Kota Yogyakarta


sebanyak 418 orang dan jumlah penderita DBD yang meninggal selama
tahun 2014 sebanyak 3 orang (CFR 0,72 %). Berdasarkan wilayah
Puskesmas, penderita terbanyak terjadi di wilayah Puskesmas Umbulharjo
I (47 orang), Wirobrajan (40 orang) dan Mergangsan (39 orang). Penderita
DBD yang meninggal selama tahun 2014 terjadi di wilayah Puskesmas

9
Kotagede 2, Umbulharjo 1 dan Umbulharjo 2 masing-masing 1 orang
meninggal.

3.2. Analisis kejadian demam berdarah dengan 10 langkah COMBI


1. Langkah 1 : Menetapkan tujuan umum
Tujuan umum : Untuk berkontribusi membantu menurunkan
kejadian penyakit dan kematian akibat demam berdarah dengue di
Yogyakarta tahun 2014 dengan gerakan PSN (Pemberantasan
Sarang Nyamuk) dengan 3M plus agar masyarakat mampu untuk
melenyapkan tempat perkembangbiakan nyamuk di lingkungan
rumah mereka.

2. Langkah 2 : Menetapkan tujuan khusus yaitu perubahan


perilaku yang diinginkan
Tujuan khusus :
a. 70% masyarakat mendapat informasi mengenai pencegahan
dan pengendalian penyakit demam berdarah dengan

10
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M plus
melalui penyuluhan dan sosialisasi.
b. 80% masyarakat menerapkan cara pencegahan penyakit
demam berdarah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN) dengan 3M plus.
c. 85% Angka Bebas Jentik (ABJ) terlampaui sehingga
pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan
3M plus telah efektif dilakukan masyarakat

3. Langkah 3 : Melakukan Analisa Situasi Pasar untuk Kunci-


kunci Komunikasi (SMACK) terhadap tujuan perubahan
perilaku yang jelas
a. Analisis situasi pasar dengan metode TOMA
Analisis puncak pikiran (TOMA) memungkinkan untuk
menggali persepsi yang berhubungan dengan isu tertentu.
Dengan memberikan pertanyaan terkait pencegahan
penyakit demam berdarah, maka dapat dihasilkan beberapa
kemungkinan pemikiran utama terkait pencegahan penyakit
demam berdarah seperti memberantas nyamuk,
menggunakan repellent, menggunakan kelambu.
b. Analisa situasi/isu komunikasi dengan MS.CREFS
Proses komunikasi melibatkan Message (Pesan), dari Source
(Sumber) yang dikirimkan melalui Channel (Saluran)
kepada Receiver (Penerima) dengan Efek tertentu yang
dimaksudkan dengan peluang memberikan Feedback
(Umpan balik) dan Situasi. Dalam menyampaikan informasi
mengenai perilaku pencegahan demam berdarah dengan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M Plus
dapat dijelaskan sebagai berikut ;
1) Massage
Pesan yang ingin disampaikan adalah pencegahan
demam berdarah melalui Pemberantasan Sarang

11
Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus. Pesan dapat berbunyi
seperti berikut
Ayo berantas nyamuk aedes aegypti dengan 3M
Plus, yaitu mengubur, menguras, menutup, dan
menggunakan abate
2) Source
Untuk sumber informasi yaitu ibu-ibu kader
Jumantik (Juru Pemantau Jentik) atau tenaga kesehatan
dari puskemas didaerah masing-masing
3) Channel
Media penyampaian informasi mengenai
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus
yaitu melalui penyuluhan dan sosialisasi kepada ibu-ibu
di balai RW masing-masing daerah di Yogyakarta.
Intervensi juga dapat dilakukan melalui penempelan
poster mengenai 3M Plus, agar masyarakat mudah
mengingat tiap langkah dari 3M Plus.
4) Receiver
Receiver adalah seluruh masyarakat Yogyakarta
yang pernah menderita demam berdarah dan masyarakat
yang belum pernah terjangkit penyakit demam berdarah
agar dapat mencegah penyakit demam berdarah tersebut.
5) Efek
Efek yang diharapkan adalah penerapan program
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus
pada masyarakat Yogyakarta dan penurunan angka
kejadian demam berdarah.
6) Feedback
Feedback dapat dilihat dari angka kejadian demam
berdarah yang menurun di tiap puskesmas di
Yogyakarta.
7) Situasi

12
Intervensi komunikasi berupa penyuluhan dapat
dilakukan pada waktu masyarakat terutama ibu-ibu yang
berkumpul dalam suatu acara, seperti arisan dan
pengajian. Untuk intervensi komunikasi berupa poster,
dapat dipasang di balai RW, tiap rumah warga, dan
lokasi yang sering dikunjungi masyarakat.

4. Langkah 4 : Mengembangkan strategi COMBI untuk


mencapai perubahan perilaku yang ditetapkan
a. Menetapkan kembali tujuan perubahan perilaku
Tujuan perubahan perilaku berdasarkan analisa situasi
yang telah dilakukan yaitu untuk menurunkan kejadian
demam berdarah dengue di Yogyakarta dengan peningkatan
pengetahuan masyarakat melalui sosialisasi dan penyuluhan
tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M
plus
b. Menetapkan Tujuan Perubahan Perilaku yang akan
dicapai untuk memberikan kontribusi terhadap
pencapaian tujuan perubahan perilaku.
Mayoritas masyarakat tidak mengetahui cara
menanggulangi perkembangbiakkan nyamuk aedes aegypti,
sehingga kejadian demam berdarah di Yogyakarta tetap
tinggi. Sehingga, yang dapat dilakukan agar masyarakat
mengerti dan paham cara untuk menanggulangi
perkembangbiakkan nyamuk yaitu dengan meningkatkan
pengetahuan masyarakat melalui sosialisasi dan penyuluhan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M plus.
c. Mengupayakan komunikasi aktif terpadu dan interaksi
dan partisipasi yang jelas
Mengupayakan komunikasi aktif yang dimaksud disini
yaitu adanya interaksi dengan masyarakat terkait masalah
yang dimiliki dengan mendengarkan keluh kesah

13
masyarakat. Pada program Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN) dengan 3M plus, masyarakat biasanya akan bertanya
tentang memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang
bekas yang menjadi potensi tempat perkembangbiakkan
nyamuk yang bagaimana apa. Lalu, kita akan menjelaskan
bahwa barang bekas yang dapat didaur ulang seperti kaleng
bekas, ban bekas, dsb.

5. Langkah 5 : Menyajikan rencana aksi COMBI


Program atau kegiatan yang dapat dilakukan untuk
melenyapkan tempat perkembangbiakkan nyamuk aedes aegypti
sebagai penyebab penyakit demam berdarah adalah Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M plus disetiap rumah
a. Menentukan kegiatan khusus berdasarkan lima bidang
umum intervensi komunikasi
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M plus adalah
program yang terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1) Melakukan sosialisasi dan penyuluhan mengenai
pencegahan dan pengendalian penyakit demam berdarah
dengan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
aedes aegypti dengan 3M plus
2) Menjelaskan tahap-tahap dari Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus, yaitu :
a) Menguras, adalah membersihkan tempat yang
sering dijadikan tempat penampungan air seperti
bak mandi, ember air, tempat penampungan air
minum, penampung air lemari es dan lain-lain
b) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-
tempat penampungan air seperti drum, kendi,
toren air, dan lain sebagainya
c) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang
barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi

14
tempat perkembangbiakan nyamuk penular
Demam Berdarah.
d) Menaburkan bubuk larvasida/abate pada tempat
penampungan air, menggunakan obat nyamuk
atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat
tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk,
menghindari kebiasaan menggantung pakaian di
dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat
nyamuk, dan lain-lain.

6. Langkah 6 : Manajemen
Perlu adanya manajemen pada Program Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus untuk memastikan bahwa
implementasi program berjalan secara efektif
a. Membentuk tim implementasi program PSN dengan 3M
Plus
Perlu adanya tim dalam mengimplementasikan program
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M, antara lain
adanya ketua sebagai penanggung jawab program dan staff-staff
yang membantu dalam pelaksanaan program. Tim berfungsi
untuk memantau proses berlangsungnya program, mengatasi
segala hambatan yang ada dan melakukan evaluasi agar
program berjalan dengan baik dan efektif
b. Mempertimbangkan pembentukan kelompok penasehat
Kelompok penasehat adalah kelompok yang bertugas
mengkaji ulang perkembangan yang ada. Kelompok penasehat
dalam program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan
3M Plus yaitu beberapa puskemas di Yogyakarta dan dinas
kesehatan.

15
7. Langkah 7 : Pemantauan
Pemantauan dilakukan untuk melihat kemajuan dari
implementasi dan dampak perubahan perilaku dari program
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus
a. Membuat rencana untuk survai pelacakan
Survei pelacakan dilakukan pada salah satu daerah di
Yogyakarta, yaitu daerah Umbulharjo 1. Daerah Umbulharjo
1 dipilih karena banyak penderita demam berdarah terjadi
pada daerah tersebut. Survai dilakukan pada sampel 100
rumah tangga dengan menanyakan penerapan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus
ditiap rumah, apa sudah diterapkan atau belum. Kalau belum
dilakukan, perlu adanya kajian ulang dan modifikasi strategi
komunikasi pada masyarakat.

8. Langkah 8 : Penilaian dampak


Tujuan khusus dan Indikator Hasil Program Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) melaui 3M Plus di Yogyakarta
No. Tujuan khusus Indikator hasil
1 Masyarakat mendapat Berdasarkan survei
informasi mengenai lapangan, diketahui 70%
pencegahan dan pengendalian masyarakat mendapatkan
penyakit demam berdarah informasi mengenai
dengan Pemberantasan pencegahan dan
Sarang Nyamuk (PSN) pengendalian penyakit
dengan 3M plus melalui demam berdarah dengan
penyuluhan dan sosialisasi Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) dengan
3M plus melalui
penyuluhan dan
sosialisasi

16
2 Masyarakat menerapkan cara Berdasarkan suvei
pencegahan penyakit demam lapangan, 80%
berdarah melalui masyarakat telah
Pemberantasan Sarang menerapkan cara
Nyamuk (PSN) dengan 3M pencegahan nyamuk
plus. demam berdarah dengan
3M Plus
3 Angka Bebas Jentik (ABJ) Berdasarkan suvei
terlampaui sehingga lapangan, 85% Angka
pelaksanaan Pemberantasan Bebas Nyamuk (ABJ)
Sarang Nyamuk (PSN) terlampaui, sehingga 3M
dengan 3M plus telah efektif Plus telah efektif
dilakukan masyarakat dilakukan masyarakat

9. Langkah 9 : Penjadwalan : Rencana Kerja


Jadwal rencana kerja disusun berdasarkan program
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M Plus yang
dilakukan selama 3 bulan, dimulai dari penyuluhan dan sosialisasi
hingga evaluasi dengan melihat indikator keberhasilan. Rincian
kegiatan adalah sebagai berikut :
Waktu pelaksanaan
Kegiatan Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Pembentukan tim
penyuluhan dan
sosialisasi
Pemberantasan
Sarang Nyamuk
(PSN) dengan 3M
Plus
2. Pelaksanaan
penyuluhan dan

17
sosialisasi
Pemberantasan
Sarang Nyamuk
(PSN) dengan 3M
Plus
3. Pelaksanaan
Pemberantasan
Sarang Nyamuk
(PSN) dengan 3M
Plus
4. Pemantauan
pelaksanaan
program
Pemberantasan
Sarang Nyamuk
(PSN) dengan 3M
Plus
5. Evaluasi program
Pemberantasan
Sarang Nyamuk
(PSN) dengan 3M
Plus

10. Langkah 10 : Anggaran


Perlu dibuat form budget yang isinya terdiri dari
item/spesifikasi kegiatan/banyaknya bahan yang digunakan dalam
kegiatan ini per unit cost dsb dan disebutkan berapa nominal
anggaran yang dipergunakan serta dilampirkan pula penjelasan
secara rinci mengenai hal tersebut. Sumber anggaran dapat berasal
dari dana kesehatan oleh Pemerintah yang telah diberikan kepada
Puskesmas. Rincian anggaran per puskemas adalah sebagai berikut
:

18
No. Barang Jumlah Biaya Total
unit satuan
1. Poster 3M Plus 50 Rp. 5.000 Rp. 250.000
2. Konsumsi 100 Rp. 5.000 Rp. 500.000
3. Abate 100 Rp. 2.000 Rp. 200.000
Total Rp. 950.000

19
4. PENUTUP

4.1. Kesimpulan
COMBI merupakan sebuah proses yang menggabungkan berbagai
intervensi komunikasi secara strategis yang dimaksudkan untuk
melibatkan individu dan keluarga dalam mempertimbangkan perilaku
sehat yang dianjurkan dan untuk mendorong pengadopsian dan
pemeliharaan perilaku tersebut. Tujuan akhir dari COMBI adalah dampak
perubahan perilaku yang lebih baik
Analisis COMBI salah satunya adalah penerapan perubahan
perilaku masyarakat Yogyakarta untuk mencegah penyakit demam
berdarah melalui program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan
3M Plus, yaitu menguras, mengubur, menutup, menaburkan bubuk abate
pada penampungan air, menggunakan obat anti nyamuk, menggunakan
kelambu, dsb. 10 tahap COMBI telah dilaksanakan untuk merubah
perilaku masyarakat dan hasilnya pun efektif untuk mencegah penyakit
yang dapat dilihat dari indikator hasil.

4.2. Saran
1. Bagi pelaksana kegiatan
Secara keseluruhan pelaksanaan COMBI untuk mencegah penyakit
demam berdarah di Yogyakarta sudah cukup baik dan perlu adanya
kegiatan pemantauan Angka Bebas Jentik (ABJ) secara terus menerus
oleh kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik) agar program dapat
berjalan secara berkelanjutan sehingga angka kejadian demam berdarah
dapat diminimalisir.
2. Bagi pemerintah dan puskemas
Berdasarkan program yang telah dilaksanakan, harapannya pemerintah
dan puskesmas akan selalu mendukung program Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus, agar angka kejadian demam berdarah
semakin kecil bahkan tidak ada kejadian demam berdarah lagi di
Yogyakarta.

20
3. Bagi masyarakat
Masyarakat Yogyarakarta mendapat informasi terkait pencegahan
penyakit demam berdarah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN) melalui 3M plus dan harapannya masyarakat dapat menerapkan
program tersebut dengan kesadaran sendiri untuk mencegah adanya
penyakit demam berdarah.

21
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Tata Laksana DBD.


http://www.depkes.go.id/downloads/Tata%20Laksana%20DBD.pdf
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. 2015. Profil Kesehatan Tahun 2015 Kota
Yogyakarta (Data Tahun 2014). Dinas Kesehatan Yogyakarta. Yogyakarta
Kementrian Kesehatan RI. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi, Topik utama
Demam Berdarah Dengue. Volume 2. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta
Siregar, Faziah A. 2004. Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah
Dengue (DBD) di Indonesia
http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkmfazidah3.pdf
Suhendro, et.al. Demam Berdarah Dengue. In : Sudoyo, Aru W, et al. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam edisi ke-4. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2006. p. 1709-
1710.
WHO. Pedoman Perencanaan Program Komunikasi untuk Perubahan Perilaku
(COMBI) bagi Kesehatan. WHO. Tunisia.

22