Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Alkohol adalah senyawa yang memiliki rumus molekul R-OH gugus alkil
tersubstitusi. Gugus ini bisa alcohol primer, sekunder, tersier bisa juga rantai terbuka.
Ikatan rangkap atau pun rantai tertutup/siklis yang berikatan dengan gugus aromatis
(Organic Chemistry 3th hal 492-493). Alkohol dapat dibuat dari bahan yang
mengandung gula atau dari bahan yang dapat dijadikan gula. Bagi bahan bergula
pembuatan alcohol lebih sederhana. Untuk bahan yang digunakan adalah buah apel.
Apel adalah jenis buah-buahan, atau buah yang dihasilkan dari pohon buah apel.
Buah apel biasanya berwarna merah kulitnya jika masak dan (siap dimakan), namun
bisa juga kulitnya berwarna hijau atau kuning. Kulit buahnya agak lunak, daging
buahnya keras. Buah ini memiliki beberapa biji di dalamnya. Apel memiliki manfaat
yang banyak bagi tubuh manusia diantaranya dapat melancarkan pencernaan, baik
bagi pernapasan, baik bagi kesehatan, dan juga memiliki kandungan vitamin yang
banyak diantaranya adalah vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin
B5, vitamin B6, vitamin B9 dan vitamin C.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana pembuatan alkohol dari sari buah apel?
2. Bagaimana pengaruh KH2PO4 terhadap pembuatan yeast pada pembuatan
starter ?
3. Bagaimana pengaruh variasi kadar glukosa substrat 8, 10, 18% terhadap
konversi pembuatan alkohol ?

1.3. Tujuan Praktikum


1. Membuat alkohol dari sari buah apel
2. Mempelajari pengaruh KH2PO4 terhadap pembuatan yeast pada pembuatan
starter
3. Mempelajari pengaruh variasi kadar glukosa substrat 8, 10, 18% terhadap
konversi pembuatan alkohol

1.4. Manfaat Praktikum


1. Mahasiswa dapat membuat alkohol dari sari buah apel
2. Mahasiswa dapat mempelajari pengaruh KH2PO4 terhadap pembuatan yeast
pada pembuatan starter

1
3. Mahasiswa dapat mempelajari pengaruh variasi kadar glukosa substrat 8, 10,
18% terhadap konversi pembuatan alkohol

2
BAB II
TINJUAN PUSTAKA

2.1. Bahan Baku dan Spesifikasi


Apel (Malus sylvestris Mill.) merupakan tanaman yang biasa tumbuh di iklim
subtropis.Apel di Indonesia dikembangkan di berbagai daerah terutama di Kota Batu
dan Kota Malang yang terkenal dengan Kota Apel. Apel merupakan buah yang dapat
tumbuh pada suhu sedang. Tiga jenis gula utama yang biasa ditemukan pada buah
apel adalah fruktosa, glukosa, dan sukrosa dengan kadar yang beragam tergantung
pada tingkat perkembangan, iklim dan cara penanaman buahnya. Buah apel
berdasarkan ukurannya diklasifikasikan menjadi 5 grade buah antara lain : (1)Grade
A berisi 3 4 buah per Kg, (2) Grade B berisi 5 7 buah per Kg, (3) Grade C berisi 8
10 buah per Kg, (4) Grade D berisi 11 15 buah per Kg, (5) Grade C berisi buah
dengan kondisi yang cacat.
Berikut adalah tabel kandungan secara umum dari buah apel sendiri :
Tabel 2.1 Kandungan Apel
Kandungan Gizi Jumlah Kandungan Jumlah
Gizi
Energi 218 kJ (52 kkal) Asam Pantotenat 0.061 mg
(B5)
Karbohidrat 13.81 g Vitamin B6 0.041 mg
Gula 10.39 g Float (Vit. B9) 3 mg
Serat Diet (dietary fiber) 2.4 g Vitamin C 4.6 mg
Lemak 0.17 g Kalsium 6 mg
Protein 0.26 g Zat Besi 0.12 mg
Air 85.56 g Magnesium 5 mg
Vitamin A 3 mg Fosfor 11 mg
Tiamin (Vit. B1) 0.017 mg Kalium 107 mg
Riboflavin (Vit. B2) 0.026 mg Seng 0.04 mg
Niasin (Vit. B3) 0.09 mg

Sumber : (estiasih dan Saadah, 2015)

2.2. Bioetanol
Bioetanol merupakan etanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula)
yang dilanjutkan dengan proses destilasi. Proses destilasi dapat menghasilkan etanol

3
dengan kadar 95% volume, untuk digunakan sebagai bahan bakar (biofuel) perlu
lebih dimurnikan lagi hingga mencapai 99% yang lazim disebut Fuel Grade Ethanol
(FGE). Proses pemurnian dengan prinsip dehidrasi umumnya dilakukan dengan
metode Molecular Sieve, untuk memisahkan air dari senyawa etanol (Musanif, 2012
dalam Rachmadena, 2014).
Etanol dikategorikan dalam dua kelompok utama, yaitu:
1. Etanol 95-96%, disebut dengan etanol berhidrat, yang dibagai dalam:
a. Technical/raw spirit grade, digunakan untuk bahan bakar spiritua, minuman,
desinfektan, dan pelarut.
b. Industrial grade, digunakan untuk bahan baku industri dan pelarut. c. Potable
grade, untuk minuman berkualitas tinggi.
2. Etanol > 99,5%, digunakan untuk bahan bakar. Jika dimurnikan lebih lanjut dapat
digunakan untuk keperluan farmasi dan pelarut di laboratorium analisis. Etanol
ini disebut dengan dengan Fuel Grade Ethanol (FGE) atau anhydrous ethanol
(etanol anhidrat) atau etanol kering, yakni etanol yang bebas 5 air atau hanya
mengandung air minimal (Prihandana, 2007 dalam Rachmadena, 2014).

Gambar 2.1. Diagram Alir Pembuatan Bioetanol

Pada pembuatan bioetanol dengan menggunakan bahan yang mengandung gula


tidak perlu perlakuan pendahuluan (pretreatment) seperti proses liquifikasi,
pemasakan, sakarifikasi dan hidrolisis. Tetapi jika ditinjau dari segi harga bahan
baku, bahan yang mengandung gula lebih mahal dari bahan berpati dan berselulosa.
Produksi ethanol/bioethanol dengan bahan baku tanaman yang mengandung
pati atau karbohidrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula
(glukosa) larut air.
1. Persiapan Bahan Baku
Bahan baku untuk produksi biethanol bisa didapatkan dari berbagai tanaman,
baik yang secara langsung menghasilkan gula sederhana semisal Tebu
(sugarcane), gandum manis (sweet sorghum) atau yang menghasilkan tepung
seperti jagung (corn), singkong (cassava) dan gandum (grain sorghum)
disamping bahan lainnya. Persiapan bahan baku beragam bergantung pada jenis

4
bahan bakunya, sebagai contoh digunakan bahan baku nanas. Nanas yang telah
dikupas dan dibersihkan dihancurkan untuk memecahkan susunan tepungnya
agar bisa berinteraksi dengan air secara baik.
2. Liquifikasi dan Sakarifikasi
Kandungan karbohidrat berupa tepung atau pati pada bahan baku nanas
dikonversi menjadi gula kompleks menggunakan Enzym Alfa Amylase melalui
proses pemanasan (pemasakan) pada suhu 90oC(hidrolisis). Pada kondisi ini
tepung akan mengalami gelatinasi. Pada kondisi optimum Enzym Alfa Amylase
bekerja memecahkan struktur tepung secara kimia menjadi gula kompleks
(dextrin).
Proses Liquifikasi selesai ditandai dengan parameter dimana bubur yang diproses
berubah menjadi lebih cair seperti sup. Sedangkan proses Sakarifikasi
(pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana) melibatkan tahapan sebagai
berikut :
Pendinginan bubur sampai mencapai suhu optimum Enzym Glukosa
Amylase bekerja.
Pengaturan pH optimum enzim.
Penambahan Enzym Glukosa Amilase secara tepat dan mempertahankan
pH serta temperatur pada suhu 60 derajat celcius hingga proses Sakarifikasi
selesai (dilakukan dengan melakukan pengetesan kadar gula sederhana
yang dihasilkan).
3. Fermentasi
Pada tahap ini, tepung telah berubah menjadi gula sederhana (glukosa dan
sebagian fruktosa) dengan kadar gula berkisar antara 5-12%. Tahapan
selanjutnya adalah mencampurkan ragi (yeast) pada cairan bahan baku tersebut
dan mendiamkannya dalam wadah tertutup (fermentor) pada kisaran suhu
optimum 27 s/d 32 derajat celcius selama kurun waktu 5 hingga 7 hari
(fermentasi secara anaerob).
4. Distilasi
Distilasi atau lebih umum dikenal dengan istilah penyulingan dilakukan untuk
memisahkan alkohol dalam cairan beer hasil fermentasi. Dalam proses distilasi,
pada suhu 78 derajat celcius (setara dengan titik didih alkohol) ethanol akan
menguap lebih dulu ketimbang air yang bertitik didih 95 derajat celcius. Uap
ethanol didalam distillator akan dialirkan kebagian kondensor sehingga
terkondensasi menjadi cairan ethanol. Kegiatan penyulingan ethanol merupakan
bagian terpenting dari keseluruhan proses produksi bioethanol.

5
2.3. Starter / Sacharomyces cerevisiae
Saccharomyces cerevisiae merupakan salah satu spesies ragi yang memiliki
daya konversi gula menjadi bioetanol dengan baik sehingga digunakan sebagai starter
pada pembuatan bioethanol. Tujuan pembuatan starter adalahuntuk memperbanyak
yeast dan untuk melatih yeast tersebut pada kondisi yang akan difermentasi. Syarat
yeast yang dapat dipakai dalam proses fermentasi:
Mempunyai kemampuan tumbuh dan berkembang biak dengan cepat dalam
membuat struktur yang sesuai.
Dapat menghasilkan enzim dengan cepat untuk mengubah gula menjadi alkohol.
Mempunyai daya fermentasi yang tinggi terhadap glukosa, fruktosa, galaktosa dan
maltosa
Tahan terhadap mikroba lain.
Mikroba ini biasanya dikenal dengan bakers yeast dan metabolismenya telah
dipelajari dengan baik. Produk metabolik utama adalah bioetanol, CO2, dan air
sedangkan beberapa produk lain dihasilkan dalam jumlah sangat sedikit. Ragi ini
bersifat fakultatif anaerobik. Saccharomyces cerevisiae memerlukan suhu 30oC dan
pH 4,0-4,6 agar dapat tumbuh dengan baik. Ragi tumbuh optimum pada suhu 25-
30oC dan 9 maksimum pada 35-47oC. Nilai pH untuk pertumbuhan ragi yang baik
antara 3-6. Perubahan pH dapat mempengaruhi pembentukan hasil samping
fermentasi. Pada pH tinggi maka konsentrasi gliserin akan naik dan juga berkorelasi
positif antara pH dan pembentukan asam piruvat. Pada pH tinggi maka lag phase
akan berkurang dan aktivitas fermentasi akan naik (Winjaya, 2011 dalam
Rachmadena 2014).
Saccharomyces cerevisiae merupakan genus khamir/ragi/yeast yang memiliki
kemampuan mengubah glukosa menjadi alkohol dan CO2. Saccharomyces cerevisiae
merupakan mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil, termasuk kelompok
Eumycetes. Tumbuh baik pada suhu 30oC dan pH 4,8. Beberapa kelebihan
Saccharomyces cerevisiae dalam proses fermentasi yaitu mikroorganisme ini cepat
berkembang biak, tahan terhadap kadar alkohol yang tinggi, tahan terhadap suhu
yang tinggi, mempunyai sifat stabil dan cepat mengadakan adaptasi. Hasil ini lebih
bagus dibanding genus lainnya seperti Candida dan Trochosporon. Pertumbuhan
Saccharomyces cerevisiae dipengaruhi oleh adanya penambahan nutrisi yaitu unsur C
sebagai sumber karbon, unsur N yang diperoleh dari penambahan urea, Z, amonium
dan pepton, mineral dan vitamin. Suhu optimum untuk fermentasi antara 28-30oC
(http://id.wikipedia.org/wiki/Saccharomyces).

6
2.4.Fenomena Titrasi
Gula reduksi adalah gula yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi. Hal ini
dikarenakan adanya gugus aldehid atau keton bebas. Senyawa-senyawa yang
mengoksidasi atau bersifat reduktor adalah logam-logam oksidator seperti Cu (II).
Gula reduksi adalah gula yang dalam bentuk larutan alkali membentuk aldehida atau
keton. Gula reduksi dapat mereduksi ion logamkarena mempunyai gugus aldehida atau
keton yang dapat menarik kembali O2 dari logam basa, sehingga logam basa akan tereduksi dan
mengendap sebagai Cu2O. Gula invert termasuk golongan gula reduksi karena dapat
mereduksi ion tembaga dalam larutan alkali. Salah satu yang termasuk gula reduksi
adalah gula invert. Gula invert dihasilkan dari hidrolisis sukrosa menghasilkan
glukosa dan fruktosa. Sukrosa bereaksi bersama asam dalam campuran air dengan
bantuan enzim invertase. Reaksi hidrolisis sukrosa adalah sebagai berikut :
C12H22O11 + H2O C6H12O6 + C6H12O6
Fehling dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu senyawa mengandung
karbonil aldehid atau keton. Kompleks bistartrato kuprate(II) dalamlarutan Fehling
merupakan bahan pengoksidasi dan reagen aktif dalam uji tersebut.
Senyawa yang akan diuji ditambahkan kelarutan Fehling dan campuran ini
dipanaskan. Aldehida yang teroksidasi, memberikan hasil yang positif, namun keton
tidak bereaksi, kecuali mereka adalah alfa-hidroksi-keton.
Uji Fehling dapat digunakan sebagai uji generik untuk monosakarida. Hal ini akan
memberikan hasil positif untuk monosakarida aldosa(karena gugus aledehida dapat
dioksidasi) tetapi juga untuk monosakarisa ketosa, karena mereka diubah menjadi
aldosa oleh basa dalam reagen tersebut, dan kemudian memberikan hasil positif.
Untuk alasan ini, reagen Fehling kadang-kadang disebut sebagai uji umum untuk
monosakarida.
Ini adalah reaksi yang terjadi:
2 Cu2+ + 2 OH- Cu2O + H2O
Endapan

2 Cu2+ + 2 OH- Cu2O + H2O


+2 +1
Cu2+ mengalami reduksi menjadi ion Cu+.Dalam pereaksi ini ion
Cu+ direduksi menjadi ion Cu+ yang dalam suasana basaakan diendapkan menjadi
Cu2O. Fehling II berfungsi untuk mencegah Cu+ mengendap dalam suasana
alkalis. Larutan fehling merupakan larutan alkalin yang mengandungtembaga (II)
yangmengoksidasi aldosa menjadi aldonat dan dalam prosesnya akantereduksi menjdi

7
tembaga (I), yaitu Cu2O yang berwarna merah bata dan mengendap (Nur Istiqomah,
2014).

8
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Rancangan Praktikum


3.1.1 Skema Rancangan Praktikum

Analisa Pembuatan Fermentasi Pengukuran


bahan baku starter variabel respon

Gambar 3.1 Skema pembuatan alkohol

3.1.2 Variabel Operasi


Variabel Tetap
1. Starter : sari buah apel 200 ml, MgSO4 3 gr/L, urea 3 gr/L, yeast 3 gr/L, pH 4
2. Fermentasi : pH 4, dan %V =7%
Variabel Berubah
1. Starter : KH2PO4 2,4,6 gr/L
2. Fermentasi : jumlah starter dan % SB 8,10, 18%

3.2 Alat dan Bahan yang Digunakan


3.2.1 Bahan
1. Sari Buah Apel 6. Fehling A dan Fehling B
2. Glukosa 7. Indikator MB
3. KH2PO4 dan MgSO4 8. Ragi roti (Fermipan)
4. NaOH 9. Aquadest
5. H2SO4
3.2.2 Alat yang Digunakan
1. Erlenmeyer
2. Buret, statif, klem
3. Gelasukur
4. Pengaduk
5. Autoclave
6. Beaker glass
7. Pipet tetes
8. Kompor listrik

9
3.3. Gambar Alat
Tabel 3.1.Rangkaian Alat Praktikum

Pipettetes Erlenmeyer Beaker glass Buret, statif,


klem

Pengaduk
Komporlistrik Autoclave Gelasukur

3.4. Prosedur Praktikum


3.4.1 Analisa Bahan Baku
1. Analisa Gula
2. Analisa Kadar Air
3.4.2 Pembuatan Starter
a. Sari buah apel sebanyak 200 ml ditambahkan masing-masing 6, 4, dan 2 gr/l
KH2PO4, 3 gr/l MgSO4, dan 3 gr/l urea.
b. Larutan tersebut disterilkan dengan cara dididihkan.
c. Adonan didinginkan sampai dengan suhu kamar.
d. pH diatur hingga 4.
e. Ragi/fermipan sebanyak 3 gram/liter ditambahkan ke dalam larutan tersebut .
f. Jumlah yeast dan densitas dalam larutan dihitung setiap hari sampai dengan
konstan.
3.4.3 Fermentasi
1. Persiapan sari buah
a. Sari buah apel yang telah bebas dari ampas disiapkan 200 ml
b. Sari buah apel disterilkan dengan cara dididihkan.
c. Adonan didinginkan sampai suhu kamar, lalu diatur pH 4
2. Penentuan kadar glukosa substrat
a. Kadar glukosa substrat sebelum fermentasi diatur sebesar 8%, 10%, dan
18%

10
Contoh : Bila dalam substrat kita menginginkan kadar glukosanya 14%

Berat sukrosa = X mol . 342 gr/mol = Y gram


Y gram dilarutkan ke dalam substrat tersebut
3. Fermentasi media sari buah
a. Substrat yang telah diatur kadar glukosanya diambil.
b. Substrat ditambahkan starter sesuai variable.
c. Densitas dan volume konstan diukur sebelum fermentasi.
d. Fermentasi anaerob selama 5 hari.

Pengukuran Variabel Respon


1. Metode perhitungan yeast
Cara Perhitungan Jumlah Mikroorganisme dengan Hemositometer
a. Sampel sebanyak 1 ml diencerkan 100x.
b. Sampel diteteskan pada meja hemositometer .
c. Hemositometer diletakkan pada mikroskop.
d. Gambar/preparat dicari dengan mengatur perbesaran.
e. Jumlah yeast dihitung pada ruang hemositometer.
f. Jumlah yeast/mikroorganisme dihitung dengan mengalikan faktor pengenceran.

Gambar 3.1 Tampilan hemositometer menggunakan mikroskop

11
Jumlah mikroorganisme per sampel:
1
xfp x total volume starter x jumlah sel
80 x 25 . 105 x 103

2. Metode Analisa Glukosa


a. Analisa Glukosa Standar
1. Pembuatan Glukosa Standar
1,25 gram glukosa anhidrit larutkan dengan aquadest di labu takar 500 ml.
2. Standarisasi Kadar Glukosa
a) 5 ml glukosa standar, encerkan hingga 100 ml. Kemudian ambil 5ml dan
netralkan pH nya.
b) Tambah 5 ml fehling A dan 5 ml fehling B.
c) Panaskan hingga suhu 60C sampai dengan 70C.
d) Larutan dititrasi dengan glukosa standar sambil dipanaskan 60C s.d.70C
hingga warna biru hampir hilang, lalu teteskan 2 tetes MB.
e) Titrasi lagi dengan glukosa standar sambil dipanaskan 60C s.d.70C
hinga warna biru menjadi merah bata.
f) Catat kebutuhan titran.
F= volume titran.
b. Mengukur Kadar Glukosa Sari Buah
1. Ukur densitas sari buah
2. Cari nilai M
a. 5 ml sari buah encerkan hingga 100 ml, ambil 5 ml.
b. Larutan ditambahkan 5 ml fehling A dan 5 ml fehling B, tambahkan 5
ml glukosa standar yang telah diencerkan.
c. Panaskan hingga 60C s.d. 70C.
d. Larutan dititrasi dengan glukosa standar sambil dipnaskan 60C s.d.
70C sampai warn biru hampir hilang lalu tambahkan 2 tetes MB.
e. Titrasi kembali dengan glukosa standar sambil dipanaskan 60C s.d.
70C sampai warna biru menjadi merah bata.
f. Catat kebutuhan titran.
M = Volume Titran

()( )( )

%SB = x 0,0025 x 100%

12
3. Analisa Densitas
a. Timbang berat piknometer kosong.
b. Tuangkan sampel ke dalam piknometer sampai penuh.
c. Timbang piknometer berisi sampel.

4. Analisa hasil
1. Densitas diukur setelah fermentasi
2. F dan M dicari
3. Kadar glukosa hasil fermentasi dianalisa dengan rumus :

()( )( )

%h = x 0,0025 x 100%

13
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengaruh Penambahan KH2PO4 terhadap Jumlah Koloni pada Starter

Tabel 4.1 Data Jumlah Koloni pada Starter

Data KH2PO4 Starter A Starter B Starter C


6 5,8 x 1010 3,9 x 1010 5,5 x 1010
KH2PO4 4 6,8 x 1010 4,2 x 1010 3,3 x 1010
gr/L 2 7,1 x 1010 6,3 x 1010 7,8 x 1010

10
8
Jumlah Koloni (1010)

6
Starter A
4
2 Starter B
0 Starter C
0 2 4
Waktu (hari)

Gambar 4.1 Grafik Penambahan KH2PO4 terhadap Jumlah Koloni pada Starter

Grafik di atas menunjukkan perkembangan jumlah koloni yang bertambah


seiring bertambahnya waktu. Pada hari kedua Saccharomyces cereviceae mengalami
aktivitas yang paling besar sehingga jumlah koloni yang dihasilkan bertambah.

Pada starter A ditambahkan 6 gr/L KH2PO4, starter B ditambahkan 4 gr/L


KH2PO4, dan starter C ditambahkan 2 gr/L KH2PO4. Semakin banyak KH2PO4 yang
ditambahkan, maka semakin banyak mikroorganisme yang mampu memecah glukosa
menjadi alkohol (Agus Kresno, 2002). Hal ini disebabkan karena mikroba mengalami
fase log (eksponensial) yaitu fase dimana mikroba memperbanyak sel sehingga
terjadi pertumbuhan yang meningkat. Akibatnya jumlah koloni yang terlihat semakin
banyak (Oktarina, 2008). Jadi seiring bertambahnya waktu, jumlah koloni bertambah
karena mikroorganisme sampai pada fase eksponensial. Fase eksponensial merupakan
fase dimana khamir membelah dengan cepat dan konstan. Dapat dilihat, starter C
mempunyai fase lonjakan pertumbuhan koloni paling besar. Hal ini disebabkan oleh
jumlah KH2PO4 yang ditambahkan yaitu 6 gr/L, lebih banyak daripada starter yang
lainnya.

4.2 Pengaruh Penambahan KH2PO4 terhadap Densitas pada Starter

Tabel 4.2 Data Densitas pada Starter

14
Data KH2PO4 Starter A Starter B Starter C
6 1,2428 1,2404 1,2472
KH2PO4 4 1,077 1,0746 1,0836
gr/L 2 1,198 1,1972 1,205

1.3
1.25

Densitas
1.2
Starter A
1.15
1.1 Starter B
1.05
Starter C
0 2 4
Waktu (hari)

Gambar 4.2 Grafik Penambahan KH2PO4 terhadap Densitas pada Starter

Dapat dilihat pada grafik di atas mengalami fluktuasi yakni terjadi penurunan
kemudia kenaikan, hal ini disebabkan pertumbuhan spora yang tidak tetap, densitas
terjadi penurunan pada penambahan KH2PO4 disebabkan penambahan 4gr/L KH2PO4
dapat menumbuhkan mikroba yang nantinya dapat merubah glukosa menjadi etanol
namun praktisnya pada penambahan 6gr/L densitas mengalami kenaikan hal ini
terjadi karena pertumbuhan mikroba yang tidak tetap (Winda, 2009).

4.3 Hubungan antara Densitas dan Jumlah Koloni pada Starter

Tabel 4.3 Data Densitas dan Jumlah Koloni Starter

Data Hari ke- Starter A Starter B Starter C


Densitas 0
(gr/mL) 1,2428 1,2404 1,2472
1
1,077 1,0746 1,0836
2
1,198 1,1972 1,205
Jumlah 0
5,8 x 1010 3,9 x 1010 5,5 x 1010
Koloni 1
6,8 x 1010 4,2 x 1010 6,3 x 1010
2
7,1 x 1010 6,3 x 1010 7,8 x 1010

15
1.26
1.24
1.22

Densitas (gr/cm3
1.2
1.18
1.16 Starter B
1.14 Starter A
1.12
1.1 Starter C
1.08
1.06
0 2 4 6 8 10
Jumlah Koloni(1010)

Gambar 4.3 Grafik Hubungan antara Densitas dan Jumlah Koloni pada Starter

Grafik di atas menunjukkan bahwa semakin bertambahnya waktu densitas


mengalami penurunan dan kenaikan sedangkan jumlah koloni mengalami kenaikan.
Pada starter A densitas mengalami penurunan yaitu; hari pertama 1,2428 gr/cm3, lalu
pada hari ke-2 1,077gr/cm3, hari ke-3 1,198 gr/cm3. Untuk jumlah koloni mengalami
peningkatan yaitu; 5,8 x 1010, hari kedua 6,8 x 1010, dan hari ketiga 7,1 x 1010.
Sedangkan untuk starter B, densitas awal 1,2404 gr/cm3, pada hari ke-2 1.0746
gr/cm3, dan pada hari ke-3 1,1972 gr/cm3. Jumlah koloni hari pertama; 3,9 x 1010,
hari kedua 4,2 x 1010, dan hari ketiga 6,3 x 1010. Untuk starter C hari pertama 1,2472
gr/cm3, hari ke-2 1,0836 gr/cm3, dan hari ke-3 1,205gr/cm3. Jumlah koloni hari
pertama; 5,5 x 1010, hari kedua sebanyak 6,3 x 1010 dan hari ketiga sebanyak 7,8 x
1010
Pada grafik dapat dilihat bahwa grafik mengalamin fluktuasi , terjadi
penurunan karena dengan seiring bertambahnya waktu, bahwa semakin lama
fermentasi aktivitas mikrobia mengalami pertumbuhan dengan berkembang biak
semakin banyak, sehingga dengan semakin meningkatnya jumlah mikroba maka
semakin banyak pula karbohidrat yang terurai menjadi alkohol. Dengan
meningkatnya jumlah alkohol ini maka berat atau densitas daripada campuran
alkohol-air akan semakin rendah. Hal ini karena ragi Saccharomyces cerevisiae
merubah glukosa menjadi etanol, dimana jika ragi yang diberikan banyak maka
etanol yang dihasilkan juga akan semakin banyak dan begitu juga sebaliknya,
sehingga densitasnya akan semakin rendah. Namun, pada grafik dapat dilihat bahwa
terjadi kenaikan karena disebabkan pertumbuhan mikroba seraya berkembangbiak
yang dapat menaikkan angka biomassa sehingga densitas naik.

16
4.4 Pengaruh Kadar Glukosa Awal Terhadap Konversi pada Fermentasi

Tabel 4.4 Data Konversi Etanol Setiap Variabel


Variabel ke- Konversi Etanol (%)
Hari 0-1 Hari 1-2 Hari 2-5
1 (A 8%) 85,81 73,33 62,66
2 (A 10%) 85,65 79,37 64,47
3 (A 18%) 87,81 66,16 73,86
4 (B 8%) 88,48 72,42 84,40
5 (B 10%) 96,75 74,75 75,17
6 (B 18%) 90,07 71,19 77,15
7 (C 8%) 94,19 84,05 87,71
8 (C 10%) 95,55 86,42 89,46
9 (C 18%) 93,27 87,25 90,01

120
100
Konversi (%)

80
60 8%
40 10%
20 18%
0
0 1 2 3 4
Hari (waktu)

Gambar 4.4 Grafik Pengaruh Kadar Glukosa Awal Terhadap Konversi pada
Fermentasi

120
100
Konversi (%)

80
60 8%
40 10%
20 18%
0
0 1 2 3 4
Hari (waktu)

Gambar 4.5 Grafik Pengaruh Kadar Glukosa Awal Terhadap Konversi pada
Fermentasi

17
100

80

Konversi (%)
60
8%
40
10%
20 18%
0
0 1 2 3 4
Hari (waktu)

Gambar 4.6 Grafik Pengaruh Kadar Glukosa Awal Terhadap Konversi pada
Fermentasi

Dari grafik di atas menunjukan konversi glukosa pada setiap variabel. Dari
semua starter mengalami kenaikan dan penurunan. Kenaikan konversi disebabkan
karena seiring berjalannya waktu jumlah koloni semakin banyak maka semakin
banyak pula mikroorganisme yang mengurai glukosa menjadi etanol sehingga
konversi glukosa menjadi mengalami kenaikan (Rikana & Adam, 2008). Semakin
besar konversi glukosa maka semakin besar glukosa yang telah terkonversi seiring
berjalannya waktu. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak persen kadar glukosa
yang digunakan dalam fermentasi maka semakin banyak jumlah koloni dari
mikroorganisme yang tumbuh (sesuai dengan data percobaan) sehingga dengan
semakin banyaknya jumlah koloni dari mikroorganisme tersebut akan menghasilkan
produk (etanol) yang semakin banyak pula. Seiring bertambahnya waktu fenomena
yang terjadi adalah penurunan konversi glukosa pada beberapa variabel. Terjadinya
penurunan konversi glukosa dikarenakan terjadi pemecahan disakarida menjadi
glukosa yang menyebabkan glukosa bertambah dan terjadi penurunan konversi. Jika
ditinjau dari kemampuan mikroorganisme dari waktu ke waktu, kecepatan
pertumbuhan sel pada jam ke-0 sampai ke-24 lebih rendah dari jam-jam berikutnya.
Hal ini disebabkan karena mikroba masih dalam fase adaptasi (fase lag) dimana sel
masih beradaptasi dengan kondisi lingkungannya. Pada fase ini mikroba merombak
substrat menjadi nutrisi untuk pertumbuhannya. Pada jam berikutnya yaitu memasuki
jam ke-24 sampi jam ke-48 terlihat adanya percepatan pertambahan sel mikroba. Hal
ini menandakan bahwa telah memasuki fase pertumbuhan eksponensial (Wahono,
2011).

4.5 Pengaruh Waktu terhadap Kadar Glukosa pada Fermentasi

Tabel 4.5 Data Kadar Glukosa Substrat (%h)

Variabel ke- % h (Kadar Glukosa)

18
Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3
1 (A 8%) 1,100 2,113 2,987
2 (B 8%) 1,413 1,650 2,842
3 (C 8%) 0,975 2,707 2,091
4 (A 10%) 0,325 2,758 1,560
5 (B 10%) 0,753 2,525 2,483
6 (C 10%) 0,993 2,881 2,285
7 (A 18%) 1,045 2,871 2,212
8 (B 18%) 0,809 2,444 1,897
9 (C 18%) 1,210 2,295 1,798

3.5

3 Variabel 1
Variabel 2
Kadar Glukosa (%h)

2.5
Variabel 3
2
Variabel 4
1.5
Variabel 5
1
Variabel 6
0.5 Variabel 7
0 Variabel 8
0 1 2 3 4
Variabel 9
Hari (waktu)

Gambar 4.7 Grafik Pengaruh Waku terhadap Kadar Glukosa pada Fermentasi

Berdasarkan grafik tersebut, dari semua variabel menunjukkan kenaikan dan


dilanjutkan penurunan kadar glukosa seiring berjalannya waktu. Hal ini tidak sesuai
dengan yang seharusnya dimana nilai yang semakin tinggi dari konversi gula maka
banyak juga spora yang tumbuh (Winda, 2009). Penyebab penyimpangan ini
disebabkan karena pengaturan kondisi lingkungan yang kurang optimal sehingga
membuat konversi menjadi naik dan mengalami fluktuasi. (Winda, 2009)

19
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Densitas starter mengalami penurunan dari waktu ke waktu karena perubahan


sebagian glukosa menjadi etanol.
2. Jumlah koloni meningkat seiring pertambahan waktu. Peningkatan paling
spesifik terjadi pada hari kedua karena mikroorganisme mengalami fase
eksponensial.
3. Semakin banyak KH2PO4 yang ditambahkan, semakin banyak pula
mikroorganisme yang membelah sehingga koloni semakin bertambah.
4. Semakin bertambahnya waktu, densitas starter mengalami penurunan
sedangkan jumlah koloni mengalami kenaikan.
5. Kadar glukosa dari setiap variable ada yang mengalami peningkatan dan
penurunan. Kadar glukosa yang mengalami peningkatan disebabkan karena
masih terjadi pemecahan disakarida menjadi monosakarida. Sedangkan kadar
glukosa yang turun disebabkan karena glukosa dikonversi menjadi etanol.

5.2 Saran

1. Sampel disterilkan di laboratorium saat hendak praktikum sehingga


meminimalisir kontaminan yang ada pada sampel
2. Pindahkan mikroskop ke tempat yang cukup pencahayaannya agar
penglihatan dapat dilakukan dengan jelas
3. Gunakan dan simpan larutan reagen fehling A dan B di tempat terlindung dari
cahaya matahari langsung agar larutan tidak rusak
4. Proses pembuatan starter paling lambat hanya 1 hari, karena setelah 8 jam
starter yang diinkubasi sudah siap untuk diinokulasikan di dalam substrat
fermentasi, sehingga alkohol yang dihasilkan maksimal
5. Memperhatikan perubahan warna saat TAT dengan teliti.

20
DAFTAR PUSTAKA

Agus, Kresno. 2002. Pengaruh Ragi dalam Proses Fermentasi. Jurusan Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponogoro, Semarang.
Arlianovita, dkk. 2014. Laporan Praktikum Metabolisme Uji Fehling. Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Prodi Pendidikan Sains Universitas
Negeri Surabaya, Surabaya.
Aryulina, Diah dkk. 2004. Biologi 3 untuk SMA/MA. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Azizah, N. 2012. Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Kadar Alkohol, pH, dan
Produksi Gas pada Proses Fermentasi Bioetanol Dari Whey dengan
Substitusi Kulit Nanas. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan.
Collins, J.L. 1960. The Principle Botany, Cultivation and Utilization, Leonard -
Menggunakan Enzim Bromelain, Balai Pustaka, Jakarta.
Firmansyah. 2011. Pembuatan Etanol Dari Nira Sogum Dengan Proses Fermentasi.
Indramayu: Akamigas.
Johnprimen. 2012. Pengaruh Massa Ragi, Jenis Ragi dan Waktu Fermentasi Pada
Bioetanol dari Biji Durian. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Sriwijaya.
Kavanagh, Kevin, 2005, Fungi Biology and Applications, John Willey & Sons Ltd,
England.
Khodijah, S., dan Abtokhi, A. 2015. Analisis Pengaruh Variasi Presentase Ragi
(Saccharomyces cerevisiae) Dan Waktu Pada Proses Fermentasi Dalam
Pemanfaatan Duckweed (Lemna minor) Sebagai Bioethanol, vol 7, pp 72-
75.
Mahrusari, Rosida. 2009. Bentonit Terpilat TiO sebagai Katalis Pembuatan
Hidrogen dalam Pelarut Air pada Hidrogenasi Glukosa Menjadi Sorbitol
dengan Katalis Nikel. Departemen Kimia Fakultas Sains dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, Medan.
Mastuti, Retno. 2016. Nutrisi Mineral Tumbuhan. Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Brawijaya Malang.
Oktarina, Eva. 2008. Penapisan dan Uji Aktivitas Bakteri Alkalo Termofilik
Penghasil Xilanase. Universitas Indonesia, Jakarta.
Rikana, Heppy dan Risky Adam. 2008. Pembuatan Bioethanol dari Singkong Secara
Fermentasi dari Ragi Tape. Teknik Kimia Universitas Diponegoro,
Semarang.

21