Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu kedokteran gigi anak, salah satu yang dipelajari adalah tentang suatu

metode pencegahan terhadap terjadinya karies pada gigi anak. Berbagai tindakan

pencegahan terjadinya karies telah diupayakan melalui fluoridasi air minum,

topikal aplikasi fluor pada fase perkembangan enamel, dan program kontrol plak

bagi masing-masing individu. Hal ini tidak terbukti efektif mengurangi insiden

karies pada pit dan fisura yang merupakan bagian yang rentan karies, karena

bentukan anatomisnya yang menyempit.

Upaya upaya untuk mencegah terjadinya karies gigi harus dilaksanakan

sedini mungkin agar berkembannya faktor-faktor etiologi karies dapat diambat.

Upaya pencegahan dilakukan pada saat awal setelah gigi erupsi,dan permukaan

gigi yang baik untuk upaya pencegahan adalah gigi yang bebas dari karies.

Pemberian fluor secara topikal dan sistemik, tidak banyak berpengaruh

terhadap insidensi pada karies pit dan fisura. Hal ini karena pit dan fisura

merupakan daerah cekungan yang terlindung.Kondisi ini mendukung terjadinya

proses karies. Fluor yang telah diberikan tidak cukup kuat untuk mencegah karies.

Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukanlah suatu cara preventif yang ditujukan

khusus untuk mencegah karies pada daerah ini melalui teknik fissure sealant.

Fissure sealant merupakan bahan yang diletakkan pada pit dan fisura gigi

yang bertujuan untuk mencegah proses karies gigi (J.H. Nunn et al, 2000). Bentuk

pit dan fisura beragam, akan tetapi bentuk umumnya adalah sempit, melipat dan

1
tidak teratur. Bakteri dan sisa makanan menumpuk di daerah tersebut. Saliva dan

alat pembersih mekanis sulit menjangkaunya. Dengan diberikannya bahan

penutup pit dan fisura pada awal erupsi gigi, diharapkan dapat mencegah bakteri

sisa makanan berada dalam pit dan fisura (Sari Kervanto, 2009: 12).

Tujuan utama diberikannya sealant adalah agar terjadinya penetrasi bahan

ke dalam pit dan fisura serta berpolimerisai dan menutup daerah tersebut dari

bakteri dan debris (Kenneth J Anusavice, 2004: 260-261). Bahan sealant ideal

mempunyai kemampuan retensi yang tahan lama, kelarutan terhadap cairan mulut

rendah, biokompatibel dengan jaringan rongga mulut, dsn mudah diaplikasikan

(Donna Lesser, 2001).

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian dari Pit dan fisure ?

2. Apa Klasifikasi dari Pit dan fisure ?

3. Bagaimana Histopatologi Karies pada Pit dan Fisura ?

4. Bagaimana Perawatan pada Pit dan Fisura ?

5. Indikasi dan kontraindikasi dari perawatan pit dan fisure sealant ?

6. Apakah Jenis-jenis bahan yang digunakan pada perawatan Pit dan Fissure

sealant ?

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui teknik perawatan pit dan fisure sealant pada gigi anak.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pit dan Fisure

Pit adalah titik terdalam berada pada pertemuan antar beberapa groove

atau akhir dari groove. Istilah pit sering berkaitan dengan fisura. Fisura adalah

garis berupa celah yang dalam pada permukaan gigi (Russel C.Wheeler, 1974).

Macam pit dan fisura bervariasi bentuk dan kedalamannya, dapat berupa tipe U

(terbuka cukup lebar); tipe V (terbuka, namun sempit); tipe I (bentuk seperti leher

botol).

Bentuk pit dan fisura bentuk U cenderung dangkal, lebar sehingga mudah

dibersihkan dan lebih tahan karies. Sedangkan bentuk pit dan fisura bentuk V atau

I cenderung dalam, sempit dan berkelok sehingga lebih rentan karies. Bentukan

ini mengakibatkan penumpukan plak, mikroorganisme dan debris.

Morfologi permukaan oklusal gigi bervariasi berbagai individu. Pada

umumnya bentuk oklusal pada premolar nampak dengan tiga atau empat pit. Pada

molar biasanya terdapat sepuluh pit terpisah dengan fisura tambahan (M. John

hick dalam J.R Pinkham, 1994: 454).

2.2 Klasifikasi pada pit dan fisure

Dalam mengklasifikasikan pit dan fisure oklusal para peneliti sering

menggunakankode dibawah ini :

0 : tidak berwarna,sonde tidak tersangkut

1 : Fisure berubah warna,sonde tidak tersangkut.

3
2 : Fisure bisa berubah warna atau tidak. Kadang-kadang sonde tersangkut

tetapi tidak ada penetrasi.

Kelompok 0 dan 1 dianggap tidak karies, sedangkan kelompok 2 dianggap lesi

meragukan. Para peneliti berpendapat bahwa jika sonde tersangkut pada

fisure,dianggap karies dan dirawat dengan restorasi bahan resin atau restorasi

kelas I konvensional. Diagnosa akan semakin jelas jika terdapat tanda lain seperti

dekalsifikasi, gigi yang berwarna abu-abu karena adanya karies yang

menggauang,atau radiolusen yang terlihat pada bite wing.

Permukaan pit dan fisure merupakan daerah yang rentan terhadap karies.

Suatu usaha telah dilakukan untuk mengklasifikasikan pit dan fisure dalam 2 tipe

yaitu :

a. Fisure dangkal,lebar,gambaran berbentuk V.

b. Fisure dalam dan sempit, Fisure berbentuk Idan sedikit menyempit dan

menyerupai leher botol dimana fisure tersebut dapat menyebabkan celah

sempit dengan dasar yang lebih besar yang meluas kearah batas email

dentin.

2.3 Histopatologi Karies pada Pit dan Fisura

Permukaan oklusal gigi posterior merupakan daerah yang paling rawan

untuk terjadinya karies. Bentuk anatiomis gigi ini yang memungkinkan terjadinya

retensi dan maturasi plak. Aktivitas bakteri dalam plak berakibat terjadinya

fluktuasi pH. Kondisi naiknya pH memberikan keuntungan terjadinya

penambahan mineral (remineralisasi) gigi, sedangkan turunnya pH akan berakibat

4
hilangnya mineral gigi. Kehilangan mineral ini merupakan suatu proses

demineralisasi jaringan keras yang menjadi tanda dan gejala sebuah penyakit (Sari

Kervanto, 2009: 9).

Gejala dini suatu karies enamel yang terlihat secra makroskopik adalah

berupa bercak putih. Bercak ini memiliki warna yang tampak sangat berbeda

dengan enamel sekitarnya yang masih sehat. Kadang-kadang lesi akan tampak

berwarna coklat disebabkan oleh materi di sekelilingnya yang terserap ke dalam

pori-porinya. Baik bercak putih maupun bercak coklat bisa bertahan tahunan

lamanya.

Istilah karies fisura menggambarkan adanya karies pada pit dan fisura.

Karies berawal dari dinding-dinding fisura. Karies ini membesar ukurannya dan

menyatu pada dasar fisura. Karies enamel akan melebar kearah dentin dibawahnya

sesuai dengan arah prisma enamelnya. Arah perkembangan karies ke lateral

sehingga terbentuk karies yang menggaung (Edwina A.M. Kidd, 1992:25).

Awal pembentukan karies dimulai dari fisura, yaitu bagian terdalam dan

bagian paling dasar dari permukaan gigi. Kemudian karies berlanjut ke arah

lateral dinding fisura dan lereng cusp.Enamel pada dasar fisura merupakan daerah

yang terkena karies paling awal, karies akan menyebar sepanjang enamel,

kemudian karies berlanjut hingga dentinoenamel junction. Bila dentin terkena

karies, maka perkembangan karies menjadi lebih cepat dibandingkan saat enamel

terkena lesi. Pada kavitas fisura terjadi kehilangan mineral dan struktur

pendukung dari enamel dan dentin, sehingga secara klinis nampak karies (M. John

Hick dalam J.R Pinkham, 1994: 455).

5
Setelah enamel terkena karies, diperlukan waktu sekitar 3-4 tahun karies

berkembang hingga mencapai dentin. Perkembangan karies secara klinis

terdeteksi tergantung hilangnya ketebalan enamel dan bentukan morfologis pit

dan fisura.

2.4 Perawatan Pit dan Fisura

Menurut M. John Hick (dalam J.R Pinkham, 1994: 456), sejumlah pilihan

perawatan bagi para dokter gigi dalam merawat pit dan fisura, meliputi:

a. Melalui pengamatan (observasi), menjaga oral higiene, dan pemberian

fluor

b. Pemberian sealant

Upaya pencegahan terjadinya karies permukaan gigi telah dilakukan

melalui fluoridasi air minum, aplikasi topikal fluor selama perkembangan enamel,

dan program plak kontrol. Namun tindakan ini tidak sepenuhnya efektif

menurunkan insiden karies pada pit dan fisura, dikarenakan adanya sisi anatomi

gigi yang sempit.

Pemberian fluor secara topikal dan sistemik, tidak banyak berpengaruh

terhadap insidensi karies pit dan fisura. Hal ini karena pit dan fisura merupakan

daerah cekungan yang dalam dan sempit. Fluor yang telah diberikan tidak cukup

kuat untuk mencegah karies. (R.J Andlaw, 1992: 58). Pemberian fluor ini terbukti

efektif bila diberikan pada permukaan gigi yang halus, dengan pit dan fisura

minimal.

6
2.5 Indikasi dan Kontraindikasi Pit dan fissure sealant

. Tujuan sealant pada pit dan fisura adalah agar sealant berpenetrasi dan

menutup semua celah, pit dan fisura pada permukaan oklusal baik gigi sulung

maupun permanent. Area tersebut diduga menjadi tempat awal terjadinya karies

dan sulit dilakukan pembersihan secara mekanis.

Indikasi pemberian sealant pada pit dan fisura adalah sebagai berikut:

a. Dalam, pit dan fisura retentif

b. Pit dan fisura dengan dekalsifikasi minimal

c. Karies pada pit dan fisura atau restorasi pada gigi sulung atau permanen

lainnya

d. Tidak adanya karies interproximal

e. Memungkinkan isolasi adekuat terhadap kontaminasi saliva

f. Umur gigi erupsi kurang dari 4 tahun.

Sedangkan kontraindikasi pemberian sealant pada pit dan fisura adalah

a. Self cleansing yang baik pada pit dan fisura

b. Terdapat tanda klinis maupun radiografis adanya karies interproximal

yang memerlukan perawatan

c. Banyaknya karies interproximal dan restorasi

d. Gigi erupsi hanya sebagian dan tidak memungkinkan isolasi dari

kontaminasi saliva

e. Umur erupsi gigi lebih dari 4 tahun.

(M. John Hick dalam J.R Pinkham, 1994: 459-61)

7
Pertimbangan lain dalam pemberian sealant juga sebaiknya diperhatikan.

Umur anak berkaitan dengan waktu awal erupsi gigi-gigi tersebut. Umur 3-4

tahun merupakan waktu yang berharga untuk pemberian sealant pada geligi susu;

umur 6-7 tahun merupakan saat erupsi gigi permanen molar pertama; umur 11-13

tahun merupakan saatnya molar kedua dan premolar erupsi. Sealant segera dapat

diletakkan pada gigi tersebut secepatnya. Sealant juga seharusnya diberikan pada

gigi dewasa bila terbukti banyak konsumsi gula berlebih atau karena efek obat dan

radiasi yang mengakibatkan xerostomia.

2.6 Bahan Penutup Pit dan Fisura

Sealant diaplikasikan pada pit dan fisura guna menutup dan melindungi

dari karies. Bahan sealant dibedakan menurut bahan dasar yang digunakan,

metode polimerisasi, dan ada tidaknya kandungan fluoride. Meskipun kebanyakan

sealant di pasaran, bahan sealant berbahan dasar dan memiliki komposisi kimia

sama, namun hal ini penting guna mengetahui keefektifan dan kemampuan retensi

masing-masing bahan tersebut.

Kemampuan sealant untuk melepaskan fluoride, pada permukaan pit dan

fisura akan memberikan keuntungan tersendiri pada bahan sealant semen ionomer.

Semen ionomer disarankan sebagai bahan ideal untuk menutup pit dan fisura

karena memiliki kemampuan melepas fluoride dan melekat pada enamel

(Subramaniam, 2008).

A. Bahan Sealant Berbasis Resin


a. Bahan matriks resin
Bahan matriksnya adalah bisfenol A-glisidil metakrilat (bis-GMA), suatu
resin dimetakrilat. Karena bis-GMA memiliki berat molekul yang lebih tinggi dari

8
metal metakrilat, kepadatan gugus metakrilat berikatan ganda adalah lebih rendah
dalam monomer bis-GMA, suatu faktor yang mengurangi pengerutan
polimerisasi. Penggunaan dimetakrilat juga menyebabkan bertambahnya ikatan
silang dan perbaikan sifat polimer (Kenneth J Anusavice, 2004: 230).
Bis-GMA, urethane dimetrakilat (UEDMA), dan trietil glikol dimetakrilat

(TEGDMA) adalah dimetakrilat yang umum digunakan dalam komposit gigi.

Monomer dengan berat molekul tinggi, khususnya bis-GMA amatlah kental pada

temperature ruang. Penggunaan monomer pengental penting untuk memperoleh

tingkat pengisi yang tinggi dan menghasilkan konsistensi pasta yang dapat

digunakan secara klinis. Pengencer bisa berupa monomer metakrilat dan monomer

dimetakrilat (Kenneth J Anusavice, 2004: 230).

Kebanyakan bahan resin saat ini menggunakan molekul bis-GMA, yang

merupakan monomer dimetakrilat yang disintesis oleh reaksi antara bisfenol-A

dan glisidil metakrilat. Reaksi ini dikatalisasi melalui sistem amine-peroksida

(Lloyd Baum, 1997: 254).

b. Partikel bahan pengisi

Dimasukkannya partikel bahan pengisi ke dalam suatu matriks secara

nyata meningkatkan sifat bahan matriks bila partikel pengisi benar-benar

berikatan dengan matriks. Penyerapan air dan koefisiensi termal dari komposit

juga lebih kecil dibandingkan dengan resin tanpa bahan pengisi. Sifat mekanis

seperti kekuatan kompresi, kekuatan tarik, dan modulus elastis membaik, begitu

juga ketahanan aus. Semua perbaikan ini terjadi dengan peningkatan volume

fraksi bahan pengisi (Kenneth J Anusavice, 2004: 230-1).

9
Bis-GMA saat ini merupakan matriks resin pilihan sebagai bahan sealant.

Bisa dengan atau tanpa bahan pengisi. Penambahan bahan pengisi meliputi serpih

kaca mikroskopis, partikel quartz dan bahan pengisi lainnya. Bahan ini membuat

sealant lebih tahan terhadap abrasi (Norman O. Harris, 1999: 246).

Bahan yang digunakan bahan pengisi makro adalah partikel-partikel halus

dari komponen silika, cristalin quartz, atau silikat glass boron. Quartz telah

digunakan secara luas sebagai bahan pengisi. Quartz memiliki keunggulan sebagai

bahan kimia yang kuat. Sementara sifat radiopak bahan pengisi disebabkan oleh

sejumlah kaca dan porselen yang mengandung logam berat seperti barium,

strontium dan zirconium. Penambahan bahan pengisi mengurangi pengerutan

pada saat polimerisasi dan menambah kekerasan (Lloyd Baum, 1997: 254).

c. Bahan coupling

Bahan pengisi sangatlah penting berikatan dengan matriks resin. Hal ini

memungkinkan matriks polimer lebih fleksibel dalam meneruskan tekanan ke

partikel yang lebih kaku. Ikatan antara 2 fase komposit diperoleh dengan bahan

coupling. Aplikasi bahan coupling yang tepat dapat meningkatan sifat mekanis

dan fisik serta memberikan kestabilan hidrolitik dengan mencegah air menembus

sepanjang antar bahan pengisi dan resin. -metakriloksipropiltrimetoksi silane

adalah bahan yang sering digunakan sebagai bahan coupling (Kenneth J

Anusavice, 2004: 230-1).

d. Penghambat

Untuk mencegah polimerisasi spontan dari monomer, bahan penghambat

ditambahkan pada sistem resin. Penghambat ini mempunyai potensi reaksi kuat

10
dengan radikal bebas. Bila radikal bebas telah terbentuk, bahan penghambat akan

bereaksi dengan radikal bebas kemudian menghambat perpanjangan rantai dengan

mengakhiri kemampuan radikal bebas untuk mengawali proses polimerisasi.

Bahan penghambat yang umum digunakan adalah butylated hydroxytoluene

(Kenneth J. Anusavice, 2004: 232).

e. Sifat bahan resin

Secara umum resin memiliki sifat mekanis yang baik, kelarutan bahan

resin sangat rendah. Sifat termis bahan resin sebagai isolator termis yang baik.

Bahan resin memiliki koefisien termal yang tinggi. Kebanyakan resin bersifat

radiopaque (E.C Combe, 1992: 176-7).

Resin memiliki karakteristik warna yang dapat disesuaikan dengan

kebutuhan perawatan. Sifat mekanis yang baik sehingga dapat digunakan pada

gigi dengan beban kunyah besar. Terjadinya pengerutan selama proses

polimerisasi yang tinggi menyebabkan kelemahan klinis dan sering menyebabkan

kegagalan. Kebocoran tepi akibat pengerutan dalam proses polimerisasi dapat

menyebabkan karies sekunder. Pemolesan bahan harus bagus karena kekasaran

pada permukaan komposit dapat dijadikan tempat menempelnya plak (Kenneth J

Anusavice, 2004: 247).

f. Indikasi fisure sealant berbasis resin

Penggunaan sealant berbasis resin digukanan pada hal berikut:

a. Digunakan pada geligi permanen

b. Kekuatan kunyah besar

11
c. Insidensi karies relatif rendah

d. Gigi sudah erupsi sempurna

e. Area bebas kontaminasi atau mudah dikontrol

f. Pasien kooperatif, karena banyaknya tahapan yang membutuhkan waktu

lebih lama.

Pengerasan Sealant Berbasis Resin

Terdapat dua tipe bis-GMA yaitu yang mengalami polimerisasi setelah

pencampuran komponen katalis dan yang mengalami polimerisasi hanya setelah

sumber sinar yang sesuai. Sampai sekarang sinar ultraviolet (panjang gelombang

365 nm) telah digunakan, tetapi telah banyak digantikan oleh sinar tampak (biru)

dengan panjang gelombang 430-490 nm (R.J Andlaw, 1992: 58).

Pengerasan Sealant Berbasis Resin secara Otomatis

Proses ini kadang disebut dengan cold curing, chemical curing, atau self

curing. Bahan yang dipasok dalam 2 pasta, satu mengandung inisiator benzoil

peroksida dan lainnya mengandung amin tersier. Bila kedua pasta diaduk, amin

bereaksi dengan benzoil peroksida untuk membentuk radikal bebas dan

polimerisasi tambahan dimulai (Kenneth J. Anusavice, 2004: 232).

Sealant bis-GMA dipolimerisasi oleh bahan amina organik akselerator

yang terdiri atas dua sistem komponen. Komponen pertama berisi bis-GMA tipe

monomer dan inisiator benzoil peroksida, dan komponen kedua berisi tipe

monomer bis-GMA dengan akselerator 5% amina organik. Monomer bis-GMA

dilarutkan dengan monomer metal metakrilat. Sebuah bahan sealant komersil

berisi pigmen putih, dimana mengandung 40% bahan partikel quartz dengan

12
diameter rata-rata 2 mikrometer. Kedua komponen tadi bercampur sebelum

diaplikasikan ke gigi dan berpolimerisasi ikatan silang sebagai reaksi sederhana

(Norman O.Harris, 1979: 30)

Pada bahan ini operator tidak memiliki kemampuan mengendalikan waktu

kerja setelah bahan diaduk. Jadi pembentukan kontur restorasi harus diselesaikan

begitu tahap inisiasi selesai. Jadi proses polimerisasi terus-menerus terganggu

sampai operator telah menyelesaikan proses pembentukan kontur restorasi

(Kenneth J. Anusavice, 2004: 235).

Pengerasan Sealant Berbasis Resin dengan Sinar

Radikal bebas pemula reaksi polimerisasi terdiri atas foto-inisiator dan

activator amin terdapat dalam satu pasta. Bila tidak terkena sinar, maka kedua

komponen tersebut tidak bereaksi. Pemaparan terhadap sinar dengan panjang

gelombang yang tepat (468 nm) merangsang fotoinisiator berinteraksi dengan

amin untuk membentuk radikal bebas yang mengawali polimerisasi tambahan.

Foto-inisiator yang digunakan adalah camphoroquinone. Sumber sinar

modern biasanya berasal dari bohlam tungsten halogen melalui suatu filter sinar

ultra merah dan spectrum sinar tampak dengan panjang gelombang 500 nm

(Gambar10). Waktu polimerisasi sekitar 20-60 detik. Untuk mengimbangi

penurunan intensitas sinar, waktu pemaparan harus diperpanjang 2 atau 3 kali

(Kenneth J. Anusavice, 2004: 232-5).

Saat ini telah tersedia bahan fissure sealant berbasis resin dalam syringe

yang akan berpolimerisasi setelah diaktivasi dengan sinar (Gambar 9). Sealant

bis-GMA berpolimerisasi dengan sinar ultraviolet (340-400 nm) adalah satu

13
sistem tanpa diperlukan adanya pencampuran. Tiga bahan kental monomer bis-

GMA dilarutkan dengan 1 bagian monomer metil metakrilat. Dengan aktivator

berupa 2% benzoin metil eter (Robert G. Craig, 1979: 30).

Teknik Aplikasi Fissure Sealant Berbasis Resin

1. Pembersihan pit dan fisura pada gigi yang akan dilakukan aplikasi fissure

sealant menggunakan brush dan pumis.

Syarat pumis yang digunakan dalam perawatan gigi:

a. Memiliki kemampuan abrasif ringan

b. Tanpa ada pencampur bahan perasa

c. Tidak mengandung minyak

d. Tidak mengandung Fluor

e. Mampu membersihkan dan menghilangkan debris, plak dan stain

f. Memiliki kemampuan poles yang bagus

2. Pembilasan dengan air

Syarat air: Air bersih,Air tidak mengandung mineral,dan Air tidak

mengandung bahan kontaminan

3. Isolasi gigi

Gunakan cotton roll atau gunakan rubber dam.

4. Keringkan permukaan gigi selama 20-30 detik dengan udara.

14
Syarat udara : Udara harus kering,Udara tidak membawa air (tidak

lembab),Udara tidak mengandung minyak,Udara sebaiknya tersimpan dalam

syringe udara dan dihembuskan langsung ke permukaan gigi.

5. Lakukan pengetsaan pada permukaan gigi

a. Lama etsa tergantung petunjuk pabrik

b. Jika jenis etsa yang digunakan adalah gel, maka etsa bentuk gel tersebut

harus dipertahankan pada permukaan gigi yang dietsa hingga waktu etsa

telah cukup.

c. Jika jenis etsa yang digunakan adalah berbentuk cair, maka etsa bentuk

cair tersebut harus terus-menerus diberikan pada permukaan gigi yang

dietsa hingga waktu etsa telah cukup.

6. Pembilasan dengan air selama 60 detik

7. Pengeringan dengan udara setelah pengetsaan permukaan pit dan fisura

a. Syarat udara sama dengan point 3.

b. Cek keberhasilan pengetsaan dengan mengeringkannya dengan udara,

permukaan yang teretsa akan tampak lebih putih

c. Jika tidak berhasil, ulangi proses etsa

d. Letakkan cotton roll baru, dan keringkan

e. Keringkan dengan udara selama 20-30 detik

8. Aplikasi bahan sealant

a. Self curing: campurkan kedua bagian komponen bahan, polimerisasi akan

terjadi selama 60-90 detik.

15
b. Light curing: aplikasi dengan alat pabrikan (semacam syringe), aplikasi

penyinaran pada bahan, polimerisasi akan terjadi dalam 20-30 detik.

9. Evaluasi permukaan oklusal

a. Cek oklusi dengan articulating paper

b. Penyesuaian dilakukan bila terdapat kontak berlebih (spot grinding)

(Donna Lesser, 2001)

B. Bahan Sealant Semen Ionomer Kaca

Semen ionomer kaca adalah nama generik dari sekelompok bahan yang

menggunakan bubuk kaca silikat dan larutan asam poliakrilat. Bahan ini

mendapatkan namanya dari formulanya yaitu suatu bubuk kaca dan asam ionomer

yang mengandung gugus karboksil. Juga disebut sebagai semen polialkenoat.

Bahan dalam semen ionomer kaca terdiri atas bubuk dan cairan.

a. Bubuk semen ionomer kaca

Bubuk adalah kaca kalsium fluoroaluminosilikat yang larut dalam asam.

Komposisi dari bubuk semen ionomer kaca adalah silica, alumina, aluminium

fluoride, calsium fluoride, sodium fluoride, dan aluminium phosphate. Bahan-

bahan mentah digabung sehingga membentuk kaca yang seragam dengan

memanaskannya samapi temperature 1100-1500 C. Lanthanum, strontium,

barium, atau oksida seng ditambahkan untuk menimbulkan sifat radiopak

(Kenneth J. Anusavice, 2004: 449).

b. Cairan semen ionomer kaca


Cairan yang digunakan untuk semen ini adalah larutan asam poliakrilat
dengan konsentrasi 50%. Cairannya cukup kental dan cenderung membentuk gel

16
setelah beberapa waktu. Pada sebagian besar semen, asam poliakrilat dalam cairan
adalah dalam bentuk kopolimer dengan asam itikonik, maleik atau trikarbalik.
Asam-asam ini cenderung menambah reaktivitas dari cairan, mengurangi
kekentalan, dan mengurangi kecenderungan membentuk gel. Selain itu,
memperbaiki karakteristik manipulasi dan meningkatkan waktu kerja dan
memperpendek waktu pengerasan (Lloyd Baum, 1997: 254).
c. Pengerasan

Ketika bubuk dan cairan dicampur untuk membentuk suatu pasta (gambar

2), permukan partikel kaca akan terpajan asam. Ion-ion kalsium, aluminium,

natrium dan fluorin dilepaskan ke dalam media yang bersifat cair. Rantai asam

poliakrilat akan berikatan silang dengan ion-ion kalsium dan membentuk masa

yang padat.

Selama 24 jam berikutnya, terbentuk fase baru dimana ion-ion aluminium

menjadi terikat dalam campuran semen. Ini membuat semen menjadi lebih kaku.

Ion natrium dan fluorin tidak berperan serta di dalam ikatan silang dari semen.

Beberapa ion natrium dapat menngantikan ion-ion hidrogen dari gugus karboksil,

sementara sisanya bergabung dengan ion-ion fluorin membentuk natrium fluoride

yang menyebar merata di dalam semen yang mengeras (Kenneth J. Anusavice,

2004: 451).

Mekanisme pengikatan ionomer kaca dengan struktur gigi belum dapat

diterangkan dengan jelas. Meskipun demikian, perekatan ini diduga terutama

melibatkan proses kelasi dari gugus karboksil dari poliasam dengan kalsium di

kristal apatit pada enamel dan dentin. Ikatan antara semen dengan enamel selalu

lebih besar daripada ikatannya dengan dentin, mungkin karena kandungan

17
anorganiknya enamel yang lebih banyak dan homogenitasnya lebih besar

(Kenneth J. Anusavice, 2004: 452).

d. Sifat semen ionomer kaca

Semen ini memiliki sifat kekerasan yang baik, namun jauh inferior

dibanding kekerasan bahan resin. Kemampuan adhesi melibatkan proses kelasi

dari gugus karboksil dari poliasam dengan kalsium di kristal apatit enamel dan

dentin. Semen ini memiliki sifat anti karies karena kemampuannya melepaskan

fluor. Dalam proses pengerasan harus dihindarkan dari saliva karena mudah larut

dalam cairan dan menurunkan kemampuan adhesi. Ikatan fisiko kimiawi antara

bahan dan permukaan gigi sangat baik sehingga mengurangi kebocoran tepi

tumpatan (Kenneth J. Anusavice, 2004: 453).

e. Klasifikasi Semen Ionomer Kaca Berdasarkan Kegunaannya

a. Type I Luting cements

SIK tipe luting semen sangat baik untuk sementasi permanen mahkota,

jembatan,veneer dan lainnya. Dapat digunakan sebagai liner komposit. Secara

kimiawi berikatan dengan dentin enamel, logam mulia dan porselen. Memiliki

translusensiyang baik dan warna yang baik, dengan kekuatan tekan tinggi. SIK

yang diberikanpada dasar kavitas akan menghasilkan ion fluorida serta

berkurangnya sensitifitasgigi, perlindungan pulpa dan isolasi. Hal ini mengurangi

timbulnya kebocoranmikro ( micro-leakage) ketika digunakan sebagai semen

inlay komposit atau onlay (Craig, 2004).

b. Type II Restorasi

18
Karena sifat perekatnya, kerapuhan dan estetika yang cukup memuaskan,

SIK juga digunakan untuk mengembalikan struktur gigi yang hilang seperti abrasi

servikal. Abrasi awalnya diakibatkan dari iritasi kronis seperti kebiasaan menyikat

gigi yang terlalu keras (Craig, 2004).

c. Type III Liners and Bases

Pada teknik sandwich, SIK dilibatkan sebagai pengganti dentine, dan

komposit sebagai pengganti enamel. Bahan-bahan lining dipersiapkan dengan

cepat untuk kemudianmenjadi reseptor bonding pada resin komposit (kelebihan air

pada matriks SIK dibersihkan agar dapat memberikan kekasaran mikroskopis

yang nantinya akan ditempatkan oleh resin sebagi pengganti enamel (Anusavice,

2009).

d. Type IV Fissure Sealants

Tipe IV SIK dapat digunakan juga sebagai fissure sealant. Pencampuran

bahan dengan konsistensi cair, memungkinkan bahan mengalir ke lubang dan

celah gigi posterior yang sempit (Powers, 2008).

e. Type V - Orthodontic Cements

Pada saat ini, braket ortodonti paling banyak menggunakan bahan resin

komposit. Namun SIK juga memiliki kelebihan tertentu. SIK memiliki ikatan

langsung ke jaringan gigi oleh interaksi ion Polyacrylate dan kristal hidroksiapatit,

dengan demikian dapat menghindari etsa asam. Selain itu, SIK memiliki efek

antikariogenik karena kemampuannya melepas fluor. Bukti dari tinjauan

sistematis uji klinis menunjukkan tidak adanya perbedaan dalam tingkat

kegagalan braket Ortodonti antara resin modifikasi SIK dan resin adhesif (Powers,

2008).

19
f. Type VI Core build up

Beberapa dokter gigi menggunakan SIK sebagai inti (core), mengingat

kemudahan SIK dalam jelas penempatan, adhesi, fluor yang dihasilkan, dan baik

dalam koefisienekspansi termal. Logam yang mengandung SIK (misalnya cermet,

Ketac perak, EspeGMbH, Germanyn) atau campuran SIK dan amalgam telah

populer. Saat ini, banyak SIK konvensional yang radiopaque lebih mudah untuk

menangani daripada logamyang mengandung bahan-bahan lain. Namun demikian, banyak

yang menganggap SIK tidak cukup kuat untuk menopang inti (core). Maka

direkomendasikan bahwagigi harus memiliki minimal dua dinding utuh jika

menggunakan SIK (Powers, 2008).

g. Type VII - Fluoride releasing

Banyak laboratorium percobaan telah mempelajari fluorida yang

dihasilkan SIK dibandingkan dengan bahan lainnya. Namun, tidak ada review

sistematis dengan atau tanpa meta-analisis yang telah dilakukan. Hasil dari satu

percobaan, dengan salah satu tindak lanjut periode terpanjang, menemukan bahwa

SIK konvensional menghasilkan fluorida lima kali lebih banyak daripada

kompomer dan 21 kali lebih banyak dari resin komposit dalam waktu 12 bulan.

Jumlah fluorida yang dihasilkan, selama 24 jam periode satu tahun setelah

pengobatan, adalah lima sampai enam kali lebih tinggidari kompomer atau

komposit yang mengandung fluor (Craig, 2004).

h. Type VIII - ART (atraumatic restorative technique)

ART adalah metode manajemen karies yang dikembangkan untuk digunakan

dinegara-negara dimana tenaga terampil gigi dan fasilitas terbatas namun

kebutuhan penduduk tinggi. Hal ini diakui oleh organisasi kesehatan dunia.

20
Teknik menggunakan alat-alat tangan sederhana (seperti pahat dan excavator)

untuk menerobos enamel dan menghapus karies sebanyak mungkin. Ketika karies

dibersihkan,rongga yang tersisa direstorasi dengan menggunakan SIK viskositas

tinggi. SIK memberikan kekuatan beban fungsional (Craig, 2004).

i. Type IX - Deciduous teeth restoration

Restorasi gigi susu berbeda dari restorasi di gigi permanen karena

kekuatan kunyahdan usia gigi. Pada awal tahun 1977, disarankan bahwa semen

ionomer kaca dapat memberikan keuntungan restoratif bahan dalam gigi susu

karena kemampuan SIK untuk melepaskan fluor dan untuk menggantikan jaringan

keras gigi, serta memerlukan waktu yang cepat dalam mengisi kavitas. Hal ini

dapat dijadikan keuntungan dalam merawat gigi pada anak-anak. Namun, masih

diperlukan tinjauanklinis lebih lanjut (Craig, 2004)

e. Indikasi fisure sealant semen ionomer kaca

Indikasi penggunaan Fissure sealant dengan semen ionomer kaca sebagai berikut:

a. Digunakan pada geligi sulung

b. Kekuatan kunyah relatif tidak besar

c. Pada insidensi karies tinggi

d. Gigi yang belum erupsi sempurna

e. Area yang kontaminasi sulit dihindari

f. Pasien kurang kooperatif

21
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Skenario

Seorang anak perempuan umur 7 tahun datang bersama ibunya ke RSGM

dengan keluhan ingin memeriksakan gigi anaknya yang bergaris hitam pada gigi

bagian atas gigi geraham belakang. Si ibu juga mau anaknya bebas dari karies.

Pemeriksaan klinis terlihat pit dan fissure yang pada gigi 75.

Pertanyaan :

1. Apa diagnosa dari kasus tersebut ?

2. Apa rencana perawatan kasus tersebut ?

3. Apa bahan yang digunakandan bagaimana prosedur kerjanya ?

4. Apa follow up yang dikerjakan agar gigi anak terbebas dari karies.

5. Bagaimana prosedur kerja follow-up kasus diatas ?

3.2 Terminologi

Pit dan fissure adalah Pit adalah titik terdalam berada pada pertemuan

antar beberapa groove atau akhir dari groove. Istilah pit sering berkaitan

dengan fisura. Fisura adalah garis berupa celah yang dalam pada permukaan

gigi.

3.3 Identifikasi masalah

A. Pemeriksaan yang dilakukan

a. Pemeriksaan subjektif

i. Annamnesis

Nama : tidak ada

22
Umur : 7 tahun

Alamat : tidak ada

Pekerjaan : tidak ada

Kebiasaan : tidak ada

Riwayat penyakit umum : tidak ada

Riwayat penyakit dental : tidak ada

b. Pemeriksaan Objektif

i. Extra oral

ii. Intraoral

1. Terdapat garis-garis hitap pada permukaan oklusal gigi

geraham belakang

2. Terlihat fit dan fisure yang dalam pada gigi 75

c. Pemeriksaan penunjang Radiologi

Tidak ada

B. Diagnosis Kasus

Pit dan fissure yang dalam (tipe 2)

Klasifikasi pit dan fissura terdiri dari 2 tipe yaitu tipe pertama

fissura dengan bentuk V, dangkal, lebar dan mudah dibersihkan. Tipe

kedua fisura dengan bentuk I, dalam, sempit dan bentuk leher botol fissura

yaitu fissura dengan celah yang sempit dan dasar yang meluas kearah

dentino Email Junction. Fisura tipe II merupakan tipe yang rawan

terhadap proses karies karena bentuk morfologi yang demikian

memudahkan terjadinya penumpukan organik yang terdiri dari sisa sel

23
epithelium enamell, mikroorganisme, debris, yang menyebabkan

terbentuknya plak dan asam yang mengawali proses terjadinya karies.

C. Rencana Perawatan

a. Menjaga Oral higiene,dan pemberian fluor.

b. Pit Fissure Silen.

D. Bahan yang Digunakan

Bahan yang digunakan untuk Pit dan fissure Sealent yaitu GIC tipe IV.

E. Prosedur Kerja

Pit dan Fissure Sealent

a. Pembersihan pit dan fisura pada gigi yang akan dilakukan aplikasi

fissure sealant menggunakan brush dan pumis (Gambar 1)

Syarat pumis yang digunakan dalam perawatan gigi:

i. Memiliki kemampuan abrasif ringan.

ii. Tanpa ada pencampur bahan perasa.

iii. Tidak mengandung minyak.

iv. Tidak mengandung Fluor.

v. Mampu membersihkan dan menghilangkan debris, plak dan stain.

vi. Memiliki kemampuan poles yang bagus.

b. Pembilasan dengan air

Syarat air: Air bersih,Air tidak mengandung mineral, dan Air tidak

mengandung bahan kontaminan.

c. Isolasi gigi

Gunakan cotton roll atau gunakan rubber dam.

24
d. Keringkan permukaan gigi selama 20-30 detik dengan udara.Syarat

udara :

i. Udara harus kering.

ii. Udara tidak membawa air (tidak lembab).

iii. Udara tidak mengandung minyak.

iv. Udara sebaiknya tersimpan dalam syringe udara dan dihembuskan

langsung ke permukaan gigi.

e. Aplikasi bahan dentin kondisioner selama 10-20 detik (tergantung

instruksi pabrik). Hal ini akan menghilangkan plak dan pelikel dan

mempersiapkan semen beradaptasi dengan baik dengan permukaan

gigi dan memberikan perlekatan yang bagus (Gambar 3).

f. Pembilasan dengan air selama 60 detik.

g. Pengeringan dengan udara setelah aplikasi dentin kondisioner

permukaan pit dan fisura dilakukan pembilasan, keringkan dengan

udara selama 20-30 detik.

h. Aplikasikan bahan SIK pada pit dan fisura (Gambar 4).

i. Segera aplikasi bahan varnish setelah aplikasi fissure sealant

dilakukan (Gambar 5).

j. Evaluasi permukaan oklusal

i. Cek oklusi dengan articulating paper

ii. Penyesuaian dilakukan bila terdapat kontak berlebih (spot

grinding).

25
TAHAPAN APLIKASI FISSURE SEALANT BERBASIS SEMEN

IONOMER KACA (Gambar 1-6)

(Dr J. Lucas dalam www. gcasia.info, 2008)

Gambar 1. Gigi molar yang baru erupsi

setelah dilakukan penyikatan guna

menghilangkan plak dan debris.

Gambar 2. Pencampuran bahan fissure

sealant hingga merata.

Gambar 3. Pemberian kondisioner setelah

gigi dibersihkan dan dikeringkan.

Gambar 4. Aplikasi bahan pada pit dan

fisura.

Gambar 5. Aplikasi bahan varnish segera

setelah aplikasi bahan selesai.

Gambar 6. gigi molar yang telah dilakukan

fissure sealant.

26
F. Follow up yang dikerjakan agar gigi anak terbebas dari karies

Follow up yang dilakukan adalah Dental Health Education dan

Pengaplikasian Flour secara topical dengan pilihan bahan TAF dengan

alasan penggunaan pasta gigi dan obat kumur menggandung flour dirasa

cukup untuk mencegah dan menghambat karies.

G. Prosedur kerja follow-up kasus.

a. Teknik Dental Health Education,

i. Plak Kontrol adalah Tindakan untuk memeriksa bersih tidaknya

gigi dengan menggunakan bahan pewarna plak. Pelaksanaannya

1. Bila bahan pewarna berupa cairan, teteskan di ujung lidah dan

dengan lidah dioleskan ke seluruh gigi.

2. Bila bahan pewarna berupa tablet, kunyahlah dan ratakan

dengan lidah keseluruh pemukaan gigi.

ii. Sikat Gigi

Dalam mengajar anak untuk menggosok gigi-gigi mereka,

tujuannya haruslah memberi instruksi dan mendorong semangat

mereka untuk mengeluarkan semua debris dan plak dari semua

permukaan gigi yang dapat dijangkau.

iii. Flossing

Penggunaan dental floss memungkinkan plak dihilangkan

dari permukaan aproksimal gigi yang tidak dapat dijangkau sikat

gigi . Idealnya, flossing dilakukan disamping menggosok gigi

27
sebagai bagian latihan oral hygiene seharihari. Pada mereka

diperlihatkan bagaimana menggunakan floss pada gigi-gigi

anterior terlebih dahulu, kemudian diperluas ke

gigi-gigi posterior. Cara lain, orang tua yang termotivasi untuk

menggunakan floss dapat didorong untuk melakukan flossing pada

gigi anaknya. Bagi dokter gigi atau ahli kesehatan untuk

mengawasi prosedur ini secara berkala, karena teknik flossing

yang salah dapat mengakibatkan lebih banyak

kerusakan dari pada kebaikan yang diharapkan.

28
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pit dan fissure adalah Pit adalah titik terdalam berada pada

pertemuan antar beberapa groove atau akhir dari groove. Istilah pit sering

berkaitan dengan fisura. Fisura adalah garis berupa celah yang dalam pada

permukaan gigi.

Pada kasus diatas didapatkan diagnosis pit dan fisure yang dalam,

dengan menggunakan rencana perawatan pit dan fisure sealant. Adpaut bahan

yang dipakai yaitu GIC tipe 4.

29
Daftar Pustaka

Laurence, J. Walsh. Preventive Dentistry for The General Dental Practitioner.

Australian Dental Journal . 2000;45:(2):76-82.

Anusavice, Kenneth, J. 2004. Philips Buku Ajar Kedokteran gigi. Terjemahan

oleh Lilian Juwono edisi 10. Jakarta. EGC.

Subramaniam P. 2008. Retention of Resin Based Sealant and Glass Ionomer used
as a Fissure Sealant: a Comparative Study. Jurnal Indian Soc. Pedodontics
Prevent

Walsh, Laurence J, Prof. 2006. Pit and Fissure Sealant: Current Evidence and
Concepts. Dental Practice Journal.

Lesser, Donna, RDH, BS. 2001. An Overview of Dental Sealants.

Nunn, J.H. 2000. British Society of Paediatric Dentistry: A Policy Document on


Fissure Sealants in Paediatric Dentistry

30