Anda di halaman 1dari 6

ANATOMI UNGGAS

Sistem Digesti
Sistem pencernaan unggas terdiri dari beak (paruh), esophagus, crop (tembolok),
proventriculucus, pars muscularis atau gizzard, usus halus (duodenum, jejenum, ileum), usus
besar, dan kloaka. Sekilas tampak bahwa alat pencernaannya mempunyai lambung jamak, namun
dilihat dari fungsinya ternyata beberapa lambung tersebut hanya merupakan alat penyimpanan.
Oleh karena itu berdasarkan alat pencernaan, sering dikatakan bahwa unggas adalah hewan
pseudopolygastric (Soeharsono, 2010).

Sistem pencernaan unggas berbeda dengan pencernaan hewan lainnya. Unggas tidak
memiliki gigi sehingga tidak terjadi pencernaan mekanik di dalam beak. Makanan akan langsung
melewati esophagus dan selanjutnya menuju tembolok yang disertai dengan sekresi mukus oleh
tembolok yang berfungsi sebagai pelumas untuk menghaluskan makanan. Tembolok merupakan
organ penyimpanan makanan sementara, kapasitas tembolok mampu menampung bolus hingga
250 g.

Organ ini banyak terdapat saraf yang berhubungan dengan pusat lapar kenyang di
hipotalamus sehingga banyak sedikitnya pakan di dalam tembolok mempengaruhi tindakan
makan atau menghentikan makan. Setelah melewati pelumasan di dalam tembolok, selanjutnya
makanan akan menuju pada lambung kelenjar atau proventriculus serta disekresikan enzim
pepsin dan amilase oleh organ tersebut. Makanan berlanjut pada tahap pencernaan di gizzard
yaitu lambung yang tersusun oleh otot yang kuat berisi pasir atau bebatuan yang akan
menghancurkan makanan.

Proses absorpsi terjadi di dalam usus halus yang terdiri dari duodenum, jejenum, dan
ileum. Menurut Soeharsono (2010), hubungan relatif antara usus halus dengan tubuh pada
unggas lebih pendek daripada mamalia, tetapi terdapat variasi panjang, yang dipengaruhi oleh
kebiasaan makan (eating habits). Usus halus akan lebih panjang pada unggas pemakan hijauan
dan butiran sedangkan pada unggas pemakan daging lebih pendek. Disimpulkan bahwa
pencernaan untuk pakan hijauan atau biji-bijian lebih lama dibandingkan dengan unggas
pemakan daging hal ini dilihat dari perbandingan panjangnya usus halus pada unggas.

Setelah melewati pencernaan di usus halus, makanan akan menuju keusus besar, dan
kloaka. Unggas yang memakan biji-bijian dapat memiliki dua sekum yang besar, sedangkan pada
jenis unggas lainnya hanya terdapat kantung sekum yang rudimter bahkan pada beberapa unggas
tidak memiliki sekum sama sekali. Saluran terakhir dari pencernaan unggas adalah kloaka yang
merupakan tempat pembentukan feces. kloaka pada unggas betina adalah daerah pertemuan
antara saluran telur, urine, serta feces. Sedangkan pada unggas jantan sebagai pengganti oviduct
ialah vasa deferentiae.
Sistem Reproduksi

1. Sistem reproduksi unggas jantan.


Sistem reproduksi ayam jantan terdiri dari dua testis yang memiliki epididimis dan vas
deferens yang menuju ke alat copulatory (copulatory organ). Testis ayam jantan terletak di
rongga badan dekat tulang belakang, melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan
dibatasi oleh ligamentum mesorchium, berdekatan dengan aorta dan vena cavar, atau di belakang
paru-paru bagian depan dari ginjal (Mahmudah, 2014).

Testis memiliki bentuk elipsoid dan berwarna kuning terang, sering pula berwarna
kemerahan karena banyaknya cabang-cabang pembuluh darah pada permukaan. Testis terdiri dari
sejumlah besar saluran kecil yang bergulung-gulung dan lapisan-lapisannya menghasilkan
sperma (Suprijatna et al., 2008). Alat copulatory pada ayam memiliki dua papillae dan satu alat
copulatory mengecil yang berada di daerah sekitar kloaka (vent) (Mahmudah, 2014).

Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis) yang mengalami rudimenter, kecuali pada
itik berbentuk spiral yang panjangnya 12-18 cm. Pada papila ini juga diproduksi cairan
transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya kopulasi. Alat kopulasi pada itik
berupa penjuluran yang berkembang dari dinding kloaka, bersifat fibrosa yang memanjang yang
dibelit oleh saluran spiral untuk mengalirkan sperma (Mahmudah, 2014).
2. Sistem reproduksi ayam betina.

Sistem reproduksi ayam betina terdiri dari satu ovarium dan satu oviduk. Walaupun organ
reproduksi merupakan tempat produksi sel-sel benih (grem cells), organ tersebut juga merupakan
kelenjar endokrin. Pada ayam betina terdapat sebuah ovarium yang terletak pada rongga badan
sebelah kiri. Pada saat perkembangan embrionik, terdapat dua ovari yaitu vari kanan dan ovari
kiri. Tetapi pada perkembangan selanjutnya mengalami regresi sehingga pada saat menetas
hanya dijumpai sebuah ovarium kiri, sedangkan yang kanan rudimeter (Mahmudah, 2014).

Menurut fungsinya saluran telur dibagi menjadi 5 bagian yaitu infundibulum adalah
corong pada ujung oviduct yang berfungsi menangkap sel telur saat diovulasikan oleh ovarium,
magnum yang menghasilkan albumin kental, panjang magnum sekitar 33 cm, isthmus yang
mengeluarkan selaput kerabang, uterus atau kelenjar kerabang berfungsi untuk tempat
pembentukan cangkang dan tempat pigmentasi cangkang, dan vagina yang merupakan organ
kopulasi betina dengan panjang 15 cm dan kloaka (Mahmudah, 2014).

Daftar Pustaka

Soeharsono. 2010. Fisiologi Ternak. Bandung : Widya Padjadjaran. Hal : 163-190

Mahmudah, Dyah Umi. 2014. Anatomi Fisiologis Ternak Unggas (Ayam Unggas). Malang
Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (Stpp)