Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa Penulis juga mengucapkan
banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan Penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman Penulis, Penulis yakin
masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, Penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, 25 September 2017

Penyusun Kelompok 5

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 3
A. DEFINISI PEMERIKSAAN TANDA VITAL ............................. 3
B. FAKTOR YANG MEMEPENGARUHI TANDA VITAL ......... 3
1. SUHU ...................................................................................... 3
2. DENYUT NADI ..................................................................... 4
3. TEKANAN DARAH .............................................................. 4
4. PERNAPASAN ...................................................................... 5
C. MACAM-MACAM TANDA VITAL .......................................... 6
1. DENYUT NADI ..................................................................... 6
2. TEKANAN DARAH .............................................................. 6
3. PERNAPASAN ...................................................................... 7
4. SUHU ...................................................................................... 7
D. PEMRIKSAAN TANDA VITAL ................................................. 7
1. PEMERIKSAAN DENYUT NADI ........................................ 7
2. PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH ................................. 9
3. PEMERIKSAAN PERNAPASAN ......................................... 15
4. PEMERIKSAAN SUHU ........................................................ 16
BAB III PENUTUP ................................................................................. 20
A. Kesimpulan ................................................................................... 20
B. Saran .............................................................................................. 20
LAMPIRAN ............................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. iii

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam lingkungan masyarakat, kesehatan itu penting untuk dipelihara.
Peran tenaga medis juga penting untuk memberi pengetahuan tentang kesehatan.
Agar masyarakat tetap menjaga kesehatan dan kebersihan diri juga lingkungan.
Seiring berjalannya zaman yang semakin modern dan perlengkapan atau
penanganan medis yang semakin canggih dan maju. Untuk itu di perlukan
beberapa peran penting bagi masyarakat mengenai kesehatan.
Tanda vital meliputi suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi pernapasan, dan
tekanan darah. Perubahan tanda vital dapat terjadi bila tubuh dalam keadaan sakit
atau kelelahan. Perubahan tersebut merupakan indikator adanya gangguan sistem
tubuh. Pemeriksaan tanda vital yang dilaksanakan oleh tenaga medis seperti
dokter, bidan, dan perawat digunakan untuk memantau perkembangan pasien.
Tindakan ini bukan hanya merupakan kegiatan rutin pada pasien, tetapi
merupakan tindakan pengawasan terhadap perubahan atau gangguan sistem tubuh.
Pelaksanaan pemeriksaan tanda vital pada pasien tentu berbeda dengan pasien
yang lainnya. Tingkat kegawatan dan penanganan pasien juga berbeda beda,
mulai dari yang keadaan kritisi hingga dalam keadaan pasien yang sakit ringan.
Prosedur pameriksaan tanda vital yang dilakukan pada pasien meliputi
pengukuran suhu, pemeriksaan denyut nadi, pemeriksaan pernapasan dan
pengukuran tekanan darah.
Untuk menegakkan diagnosis, setelah dilakukan anamnesis berikutnya
adalah pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dimulai dengan pemeriksaan kesan
umum, tanda vital dan kemudian analisis sistem organ secara sistematis.
Pemeriksaan ini sangat penting dalam menilai sistem berbagai organ yang bekerja
dalam tubuh seseorang. Pemeriksaan tanda vital terdiri dari pemeriksaan tekanan
darah, nadi, laju pernafasan (respiratory rate) dan suhu. Semua komponen tersebut
harus dinilai pada saat melakukanpemeriksaan fisik. Hasil yang didapat dari
pemeriksaan ini dapat mengarahkan dokter dalammelakukan pemeriksaan lebih
lanjut, guna menegakkan diagnosis pada seseorang penderita.

1
B. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian dari pemeriksaan tanda vital.
2. Faktor yang mempengaruhi tanda vital
3. Macam-macam pemeriksaan tanda vital.
4. Pemeriksaan tanda vital.

C. TUJUAN PENULISAN
Diharapkan setelah melakukan kegiatan keterampilan pemeriksaan Tanda
Vital ini, mahasiswa mampu:
1. Mampu mengetahui tentang definisi dari pemeriksaan tanda-tanda vital.
2. Mampu mengetahui faktor yang mempengaruhi tanda vital.
3. Mampu mengetahui macam-macam pemeriksaan tanda-tanda vital.
4. Mampu memahami tata cara pemeriksaan tanda-tanda vital.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI PEMERIKSAAN TANDA VITAL


Pemeriksaan tanda vital merupakan suatu cara untuk mendeteksi adanya
perubahan sitem tubuh. Tanda vital meliputi suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi
pernafasan dan tekanan darah. Tanda vital mempunyai nilai sangat penting pada
fungsi tubuh. Adanya perubahan tanda vital, misalnya suhu tubuh dapat
menunjukkan keadaan metabolisme dalam tubuh, denyut nadi dapat menunjukkan
perubahan pada sistem kardiovaskuler, frekuensi pernafasan dapat menunjukkan
fungsi pernafasan; dan tekanan darah dapat menilai kemampuan sistem
kardiovaskuler yang dapat dikaitkan dengan denyut nadi (enykus; 2003).
Semua tanda vital tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi.
Perubahan tanda vital dapat terjadi bila tubuh dalam dalam kondisi aktivitas berat
atau dalam keadaan sakit dan perubahan tersebut merupakan indikator adanya
gangguan sistem tubuh.
Pemeriksaan tanda vital yang dilaksanakan oleh perawat digunakan untuk
memantau perkembangan pasien. Tindakan ini bukan hanya merupakan kegiatan
rutin pada klien, akan tetapi merupakan tindakan pengawasan terhadap perubahan
atau gangguan sistem tubuh.
Pelaksanaan pemeriksaan tanda vital pada semua klien berbeda satu
dengan yang lain. Tingkat kegawatan pasien seperti pada kondisi pasien kritis
akan membutuhkan pengawasan terhadap tanda vital yang lebih ketat dibanding
pada kondisi pasien yang tidak kritis, demikian sebaliknya. Prosedur pemeriksaan
tanda vital yang dilakukan pada pasien meliputi pengukuran suhu, pemeriksaan
denyut nadi, pemeriksaan pernafasan, dan pengukuran tekanan darah.

B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TANDA VITAL


1. Faktor- Faktor yang mempengaruhi Suhu Tubuh yaitu antara lain (Clevo
Rendy; 2010):
a. Umur
b. Aktifitas tubuh

3
c. Jenis kelamin
d. Perubahan emosi
e. Perubahan cuaca
f. Makan, minum, rokok, dan lavemen.
2. Faktor yang bertanggung jawab bagi kelangsungan denyutan nadi yang
dapat dirasakan (Kusyati; 2004):
a. Pemberian darah secara berkala dengan selang waktu pendek dari
jantung ke aorta, yang tekanannya berganti-ganti naik turun dalam
pembuluh darah. Bila darah mengalir tetap dari jantung ke aorta,
tekanan tetap, sehingga tidak ada denyutan.
b. Elastisitas dinding arteri yang memungkinkannya meneruskan aliran
darah dan aliran balik. Bila dinding tidak elastis, seperti dinding
sebuah gelas, masih tetap ada pergantian tekanan tinggi rendah dalam
sistol dan diastol ventrikel, namun dinding tersebut tidak dapat
melanjutkan aliran dan mengembalikan aliran sehingga denyut pun
tidak dapat dirasakan.
3. Faktor yang mempengaruhi tekanan darah (Fundamental of Nursing,
2005):
a. Usia
Dapat mempengaruhi tekanan darah karena tingkat normal tekanan
darah bervariasi sepanjang kehidupan. Tingkat tekanan darah anak-
anak atau remaja dikaji dengan memperhitungkan ukuran tubuh dan
usia (task porce on blood pressure control in children 1987). Anak-
anak yang lebih besar (lebih berat atau lebih tinggi) tekanan darahnya
lebih tinggi dari pada anak-anak yang lebih kecil dari usia yang sama.
Tekanan darah dewasa cenderung meningkat seiring dengan
pertambahan usia. Lansia tekanan sistoliknya meningkat sehubungan
dengan penurunan elastisitas pembuluh.
b. Stres
Takut, nyeri dan stress emosi mengakibatkan stimulasi simpatik,
yang meningkatkan frekuensi darah, curah jantung dan tahanan
vascular perifer. Efek stimulasi simpatik meningkatkan tekanan darah.

4
c. Medikasi
Banyak medikasi yang secara langsung maupun tidak langsung,
mempengaruhi tekanan darah. Golongan medikasi lain yang
mempengaruhi tekanan darah adalah analgesic narkotik, yang dapat
menurunkan tekanan darah.
d. Variasi diurnal
Tingkat tekanan darah berubah-ubah sepanjang hari. Tekanan
darah biasanya rendah pada pagi-pagi sekali, secara berangsur-angsur
naik pagi menjelang siang dan sore, dan puncaknya pada senja hari
atau malam. Tidak ada orang yang pola dan derajat variasinya sama.
e. Jenis kelamin
Secara klinis tidak ada perbedaan yang signifikan dari tekanan
darah pada anak laki-laki atau perempuan. Setelah pubertas, pria
cenderung memiliki bacaan tekanan darah yang lebih tinggi. Setelah
menopause, wanita cenderung memiliki tekanan darah yang lebih
tinggi daripada pria pada usia tersebut.
4. Faktor yang mempengaruhi frekuensi pernapasan manusia (meyla; 2013):
Frekuensi pernapasan pada manusia merupakan intensitas inspirasi dan
ekspirasi udara pernapasan pada manusia yang dilakukan setiap menit.
Dalm keadaan normal proses inspirasi dan ekspirasi berlangsusng
sebanyak 15 sampai dengan 18 kali per menitnya. Akan tetapi, keadaan ini
bisa berubah dan berbeda pada setiap orang dikarenakan ada faktor-faktor
yang mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses
inspirasi dan ekspirasi pada seseorang meliputi:
a. Faktor fisik seperti umur, jenis kelamin, suhu tubuh, posisi tubuh, dan
aktivitas tubuh.
b. Faktor Psikologi seperti emosi, kejiwaan, perasaan, energi dan aura,
dan kestabilan rohani.

5
C. MACAM-MACAM PEMERIKSAAN TANDA VITAL
1. Denyut Nadi
Detak jantung atau juga dikenal dengan denyut nadi adalah tanda penting
dalam bidang medis yang bermanfaat untuk mengevaluasi dengan cepat
kesehatan atau mengetahui kebugaran seseorang secara umum. Pada orang
dewasa yang sehat, saat sedang istirahat maka denyut jantung yang normal
adalah sekitar 60-100 denyut per menit (bpm). Jika didapatkan denyut jantung
yang lebih rendah saat sedang istirahat pada umumnya menunjukkan fungsi
jantung yang lebih efisien dan lebih baik kebugaran kardiovaskularnya.
Denyut nadi (pulse rate) menggambarkan frekuensi kontraksi jantung
seseorang. Pemeriksaan denyut nadi sederhana, biasanya dilakukan secara
palpasi. Palpasi adalah cara pemeriksaan dengan meraba, menyentuh, atau
merasakan struktur dengan ujung-ujung jari, sedangkan pemeriksaan dengan
cara auskultasi, apabila pemeriksaan dilakukan dengan mendengarkan suara-
suara alami yang diproduksi dalam tubuh.
Denyut jantung yang optimal untuk setiap individu berbeda-beda
tergantung pada kapan waktu mengukur detak jantung tersebut saat istirahat
atau setelah berolahraga. Variasi dalam detak jantung sesuai dengan jumlah
oksigen yang diperlukan oleh tubuh saat itu. Denyut jantung seseorang juga
dipengaruhi oleh usia dan aktivitasnya. Olahraga aau aktivitas fisik dapat
meningkatkan jumlah denyut jantung, namun jika jumlahnya terlalu
berlebihan atau diluar batas sehat dapa menimbulkan bahaya. Selain itu udara
disekitar, posisi tubuh (berbaring atau berdiri), tingkat emosi, ukuran tubuh
serta obat yang sedang dikonsumsi juga mempengaruhi denyut nadi seseorang.
2. Tekanan Darah
Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri.
Tekanan ini sangatdipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah jantung,
ketegangan arteri, volume, dan laju serta kekuatan (viskositas) darah. Tekanan
darah terjadi akibat fenomena siklis. Tekanan puncak terjadi saat jantung
beristirahat. Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan
sistolik terhadap tekanan diastolik, dengan nilai dewasa normalnya berkisar

6
dari 100/60 mmHg sampai 140/90 mmHg. Rata-rata tekanan darah normal
biasanya 120/80 mmHg (Smeltzer & Bare, 2002).
3. Pernapasan
Pernapasan adalah pertukaran gas antara makhluk hidup (organisme)
dengan lingkungan. Pernapasan adalah suatu proses dimana kita menghirup
oksigen dari udara serta mengeluarkan karbon dioksida dan uap air.
4. Suhu
Suhu adalah sensasi dingin atau hangatnya sebuah benda yang dirasakan
ketika menyentuhnya. Secara kuantitatif, kita dapat mengetahuinya dengan
menggunakan termometer. Suhu dapat diukur dengan menggunakan
termometer yang berisi air raksa atau alkohol.

D. PEMERIKSAAN TANDA VITAL


1. Pemeriksaan nadi/arteri
Jantung bekerja memompa darah ke sirkulasi tubuh (dari ventrikel kiri)
dan ke paru (dari ventrikel kanan). Melalui ventrikel kiri, darah disemburkan
melalui aorta dan kemudian diteruskan ke arteri di seluruh tubuh. Sebagai
akibatnya, timbullah suatu gelombang tekanan yang bergerak cepat pada arteri
dan dapat dirasakan sebagai denyut nadi. Dengan menghitung frekuensi
denyut nadi, dapat diketahui frekuensi denyut jantung dalam 1 menit.
a. Prosedur pemeriksaan nadi/arteri
1) Penderita dapat dalam posisi duduk atau berbaring. Lengan dalam
posisi bebas danrileks.
2) Periksalah denyut arteri radialis di pergelangan tangan dengan cara
meletakkan jaritelunjuk dan jari tengah atau 3 jari (jari telunjuk, tengah
dan manis) di atas arteriradialis dan sedikit ditekan sampai teraba
pulsasi yang kuat.
3) Penilaian nadi/arteri meliputi: frekuensi (jumlah) per menit, irama
(teratur atautidaknya), pengisian, dan dibandingkan antara arteri
radialis kanan dan kiri.
4) Bila iramanya teratur dan frekuensi nadinya terlihat normal dapat
dilakukan hitunganselama 15 detik kemudian dikalikan 4, tetapi bila

7
iramanya tidak teratur atau denyutnadinya terlalu lemah, terlalu pelan
atau terlalu cepat, dihitung sampai 60 detik.
5) Apabila iramanya tidak teratur (irregular) harus dikonfirmasi dengan
pemeriksaanauskultasi jantung (cardiac auscultation) pada apeks
jantung.

Gambar 1. Pemeriksaan nadi arteri radialis


b. Pemeriksaan nadi/arteri karotis
Perabaan nadi dapat memberikan gambaran tentang aktivitas pompa
jantung maupun keadaan pembuluh itu sendiri. Kadang-kadang nadi lebih
jelas jika diraba padapembuluh yang lebih besar, misalnya arteri karotis.
Pada pemeriksaan nadi/arteri karotis kanan dan kiri tidak boleh bersamaan.

Gambar 2. Pemeriksaan nadi (arteri karotis)


c. Pemeriksaan nadi/arteri ekstermitas lainnya
1) Pemeriksaan nadi/arteri brachialis (gambar 3a).
2) Pemeriksaan nadi/arteri femoralis (gambar 3b).
3) Pemeriksaan nadi/arteri tibialis posterior (gambar 3c).
4) Pemeriksaan nadi/arteri dorsalis pedis (gambar 3d).

8
Gambar 3a. pemeriksaan pulsasi arteri brachialis pada orang dewasa
dan anak

Gambar 3b. Pemeriksaan pulpasi arteri femoralis

Gambar 3c. Pemeriksaan pulsasi Gambar 3d. Pemeriksaan pulsasi


arteri tibialis posterior Arteri dorsalis pedis

2. Pemeriksaan tekanan darah


Metode klasik memeriksa tekanan ialah dengan menentukan tinggi kolom
cairan yang memproduksi tekanan yang setara dengan tekanan yang diukur.
Alat yang mengukur tekanandengan metode ini disebut manometer. Alat klinis
yang biasa digunakan dalam mengukurtekanan adalah sphygmomanometer,

9
yang mengukur tekanan darah. Dua tipe tekanan gauge dipergunakan dalam
sphygmomanometer. Pada manometer merkuri, tekanan diindikasikan dengan
tinggi kolom merkuri dalam tabung kaca. Pada manometer aneroid, tekanan
mengubah bentuk tabung fleksibel tertutup, yang mengakibatkan jarum
bergerak ke angka.

Gambar 4. Manometer merkuri dan manometer aneroid

a. Prinsip pengukuran
Tekanan darah diukur menggunakan sebuah manometer berisi air
raksa. Alat itu dikaitkan padakantong tertutup yang dibalutkan
mengelilingilengan atas (bladder & cuff). Tekanan udara dalam kantong
pertama dinaikkan cukup di atas tekanan darah sistolik dengan
pemompaan udara ke dalamnya. Ini memutuskan aliran arteri brakhial
dalam lengan atas, memutuskan aliran darah ke dalam arteri lengan bawah.
Kemudian, udara dilepaskan secara perlahan-lahan dari kantong selagi
stetoskop digunakan untuk mendengarkan kembalinya denyut dalam
lengan bawah.
b. Jenis tekanan darah
1) Tekanan darah sistolik
Yaitu tekanan maksimum dinsing arteri pada saat kontraksi ventrikel
kiri.
2) Tekanan darah diastolik
Yaitu tekanan minimum dinding arteri pada saat relaksasi ventrikel
kiri.
3) Tekanan arteri atau tekanan nadi
Yaitu jarak antara tekanan sistolik dan diastolik.

10
Pengukuran tekanan darah merupakan gambaran resistensi pembuluh
darah, cardiac output, status sirkulasi dan keseimbangan cairan. Tekanan
darah ini dipengaruhi beberapa faktor, antara lain: aktifitas fisik, status
emosional, nyeri, demam atau pengaruh kopi dan tembakau.
c. Prosedur pemeriksaan
1) Pemilihan sphygmomanometer (blood pressure cuff)
Sphygmomanometer adalah alat yang digunakan untuk pengukuran
tekanan darah, yang terdiri dari cuff, bladder dan alat ukur air raksa.
Dalam melakukan pemeriksaan ini harus diperhatikan:
a) Lebar dari bladder kira-kira 40% lingkar lengan atas (12-14 cm
pada dewasa).
b) Panjang bladder kira-kira 80% lingkar lengan atas.

Bladder
Cuff

Gambar 5. Bagian-bagian manometer

Gambar 6. Bagian-bagian stetoskop


2) Persiapan pengukuran tekanan darah
Pada saat akan memulai pemeriksaan, sebaiknya:
a) Pasien dalam kondisi tenang.
b) Pasien diminta untuk tidak meroko atau minum yang mengandung
kafein minimal 30 menit sebelum pemeriksaan.

11
c) Istirahat sekitar 5 menit setelah melakukan aktifitas fisik ringan.
d) Lengan yang diperiksa harus bebas dari pakaian.
e) Raba arteri brachialis dan pastikan bahwa pulsasinya cukup.
f) Pemeriksaan tekanan darah bisa dilakukan dengan posisi berbaring,
duduk maupun berdiri tergantung dari tujuan pemeriksaan. Hasil
pemeriksaan tersebut dipengaruhi oleh posisi pasien.
g) Posisikan lengan sedemikian sehingga arteri brachialis kurang
lebih pada level setinggi jantung.
h) Jika pasien duduk, letakkan lengan pada meja sedikit diatas
pinggang dan kedua kaki menapak dilantai.
i) Apabila menggunakan tensimeter air raksa, usahakan agar posisi
manometer selalu vertikal, dan pada waktu membaca hasilnya,
mata harus berada segaris horisontal dengan level air raksa.
j) Pengulangan pengukuran dilakukan beberapa menit setelah
pengukuran pertama.
3) Pengukuran tekanan darah
Tekanan sistolik, ditentukan berdasarkan bunyi Korotkoff 1,
sedangkan diastolik pada Korotkoff 5. Pada saat cuff dinaikkan
tekanannya, selama manset menekan lengan dengansedikit sekali tekanan
sehingga arteri tetap terdistensi dengan darah, tidak ada bunyi
yangterdengar melalui stetoskop. Kemudian tekanan dalam cuff dikurangi
secara perlahan. Begitutekanan dalam cuff turun di bawah tekanan sistolik,
akan ada darah yang mengalir melaluiarteri yang terletak di bawah cuff
selama puncak tekanan sistolik dan kita mulai mendengarbunyi berdetak
dalam arteri yang sinkron dengan denyut jantung. Bunyi-bunyi pada
setiapdenyutan tersebut disebut bunyi korotkoff. Ada 5 fase bunyi
korotkoff:
Tabel 1. Bunyi korotkoff
Bunyi Korotkoff Deskripsi
Fase 1 Bunyi pertama yang terdengar setelah tekanan cuff
diturunkan perlahan. Begitu bunyi ini terdengar,
nilai tekanan yang ditunjukkan pada manometer

12
dinilai sebagai tekanan sistolik.
Fase 2 Perubahan kualitas bunyi menjadi bunyi berdesir.
Fase 3 Bunyi semakin jelas dan keras.
Fase 4 Bunyi menjadi meredam.
Fase 5 Bunyi menghilang seluruhnya setelah tekanan
dalam cuff turun lagi sebanyak 5-6 mmHg. Nilai
tekanan yang ditunjukkan manometer pada fase ini
dinilai sebagai tekanan diastolik.

4) Prosedur pengukuran tekanan darah ada 2 teknik


a) Palpatoir
Siapkan tensimeter dan stetoskop.
Posisi pasien boleh berbaring, duduk atau berdiri tergantung tujuan
pemeriksaan.
Lengan dalam keadaan bebas dan rileks, bebas dari pakaian.
Pasang bladder sedemikian rupa sehingga melingkari bagian
tengah lengan atas dengan rapi, tidak terlalu ketat atau terlalu
longgar. Bagian bladder yang paling bawah berada 2 cm/2 jari
diatas fossa cubiti. Posisikan lengan sehingga membentuk sedikit
sudut (fleksi) pada siku.

Gambar 7. Memasang bladder atau manset


Carilah arteri brachialis/arteri radialis, biasanya terletak disebelah
medial tendo muskulus biceps brachii.
Untuk menentukan seberapa besar menaikkan tekanan pada cuff,
perkiraan tekanan sistolik palpatoir dengan meraba arteri

13
brachialis/arteri radialis dengan satu jari tangan sambil menaikkan
tekanan pada cuff sampai nadi menjadi tak teraba, kemudian
tambahkan 30 mmHg dari angka tersebut. Hal ini bertujuan untuk
menghindari ketidaknyamanan pasien dan untuk menghindari
auscultatory gap. Setelah menaikkan tekanan cuff 30 mmHg tadi,
longgarkan cuff sampai teraba denyutan arteri brachialis (tekanan
sistolik palpatoir). Kemudian kendorkan tekanan secara komplit
(deflate).
Hasil pemeriksaan tekanan darah secara palpatoir akan didapatkan
tekanan darah sistolik dan tidak bisa untuk mengukur tekanan
darah diastolik.
b) Auskultatoir
Pastikan membran stetoskop terdengar suara saat diketuk dengan
jari.
Letakkan membran stetoskop pada fossa cubiti tepat diatas arteri
brachialis.

Gambar 8. Memompa bladder/manset


Naikkan tekanan dalam bladder dengan memompa bulb sampai
tekanan sistolik palpatoir ditambah 30 mmHg.
Turunkan tekanan perlahan, kurang lebih 2-3 mmHg/detik.
Dengarkan menggunakan stetoskop dan catat dimana bunyi
korotkoff 1 terdengar pertama kali. Ini merupakan hasil tekanan
darah sistolik.

14
Terus turunkan tekanan bladder sampai bunyi korotkoff 5 (bunyi
terakhir terdengar). Ini merupakan hasil tekanan darah diastolik.
Untuk validitas pemeriksaan tekanan darah minimal diulang 3 kali.
Hasilnya diambil rata-rata dari hasil pemeriksaan tersebut.
5) Kesalahan yang sering terjadi pada saat pengukuran tekanan darah:
a) Ukuran bladder dan cuff tidak tepat (terlalu kecil atau terlalu
besar). Bila terlalu kecil, tekanan darah akan terukur lebih tinggi
dari yang sebenarnya, dan sebaliknya bila terlalu besar.
b) Pemasangan bladder dan cuff terlalu longgar, tekanan darah
terukur lebih tinggi dari yang seharusnya.
c) Pusat cuff tidak berada diatas arteri brachialis.
d) Cuff dikembangakn terlalu lambat, mengakibatkan kongesti vena,
sehingga bunyi korotkoff tidak terdengar dengan jelas.
e) Saat mencoba mengulang pemeriksaan, kembali menaikkan
tekanan cuff tanpa mengempiskannya dengan sempurna atau re-
inflasi cuff terlalu cepat. Hal ini mengakibatkan distensi vena
sehingga bunyi korotkoff tidak terdengar dengan jelas.
3. Pemeriksaan pernafasan
Bernafas adalah suatu tindakan involunter (tidak disadari) , diatur oleh
batang otak dan dilakukan dengan bantuan otot-otot pernafasan, saat inspirasi,
diafragma dan otot-otot interkostalis berkontraksi, memperluas kavum thoraks
dan mengembangkan paru-paru. Dinding dada akan bergerak ke atas, ke depan
dan ke lateral, sedangkan diafragma terdorong ke bawah. Saat inspirasi
berhenti, paru-paru kembali mengempis, diafragma naik secara pasif dan
dinding dada kembali ke posisi semula.
a. Persiapan pemeriksaan
1) Pasien dalam keadaan tenang, posisi tidur.
2) Dokter meminta ijin kepada pasien untuk membuka baju bagian atas.
b. Cara pemeriksaan pernafasan
1) Pemeriksaan inspeksi: perhatikan gerakan pernafasan pasien secara
menyeluruh (lakukan inspeksi ini tanpa mempengaruhi psikis
penderita).

15
Pada inspirasi, perhatikan: gerakan iga ke lateral, pelebaran sudut
epigastrium, adanya retraksi dinding dada (supraklavikuler,
suprasternal, interkostal, epigastrium), penggunaan otot-otot
pernafasan aksesoria serta penambahan ukuran anteroposterior rongga
dada.
Pada ekspirasi, perhatikan: masuknya kembali iga, menyempitnya
sudut epigastrium dan pengurangan diameter anteroposteior rongga
dada.
2) Pemeriksaan palpasi: pemeriksa meletakkan telapak tangan untuk
merasakan naik turunnya gerakan dinding dada.
3) Pemeriksaan auskultasi: menggunakan membran stetoskop diletakkan
pada dinding dada diluar lokasi bunyi jantung.
c. Interpretasi pemeriksaan pernapasan:
1) Frekuensi: hitung frekuensi pernafasan selama 1 menit dengan
inspeksi, palpasi, atau dengan menggunakan stetoskop. Normalnya
frekuensi nafas orang dewasa sekitar 14-20 kali per menit dengan pola
nafas yang teratur dan tenang.
2) Irama pernapasan: reguler atau ireguler.
4. Pemeriksaan suhu
Suhu merupakan gambaran hasil metabolisme tubuh. Termogenesis
(produksi panas tubuh) dan termolisis (panas yang hilang) secara normal
diatur oleh pusat thermoregulator hipothalamus.

16
Gambar9. Bagian-bagian Gambar10. Gambar11.
termometer Termometer Termometer rektal
oral/aksila
Pemeriksaan suhu dapat dilakukan dimulut (gambar 12), aksila (gambar
13) atau rektal (gambar 14), dan ditunggu selama 3-5 menit. Pemeriksaan suhu
dilakukan dengan menggunakan termometer baik dengan glass thermometer
atau electronik thermometer harus dibuat sampai menunjuk angka 35oC atau
dibawahnya.
Pengukuran suhu oral biasanya lebih mudah dan hasilnya lebih tepat,
tetapi termometer air raksa dengan kaca tidak seyogyanya dipakai untuk
pengukuran suhu oral, yaitu pada penderitayang tidak sadar, gelisah atau tidak
kooperatif, tidak dapat menutup mulutnya atau pada bayi dan orang tua.
a. Prosedur pemeriksaan suhu secara oral
1) Turunkan air raksa sedemikian sehinggan air raksa pada termometer
menunjuk angka 35oC atau dibawahnya dengan cara mengibaskan
termometer beberapa kali.
2) Letakkan ujung termometer dibawah salah satu sisi lidah. Minta pasien
untuk menutup mulut dan bernafas melalui hidung.
3) Tunggu 3-5 menit. Baca suhu pada termometer.
4) Apabila penderita baru minum dingin atau panas, pemeriksaan harus
ditunda selama 10-15 menit agar suhu minuman tidak mempengaruhi
hasil pengukuran.

17
Gambar 12. Pengukuran suhu oral
b. Prosedur pengukuran suhu aksila

1 1. Turunkan air raksa


sedemikian sehingga air
2
raksa pada termometer
menunjuk angka 35oC atau
dibawahnya.
2. Letakkan termometer di
3
lipatan aksila. Lipatan aksila
harus dalam keadaan kering.
Pastikan termometer
4
menempel pada kulit dan
tidak terhalang baju pasien.
3. Jepit aksila dengan
merapatkan lengan pasien ke
tubuhnya.
4. Tunggu 3-5 menit. Baca
suhu pada termometer.

18
Gambar 13. Pengukuran Gambar 14. Pengukuran
suhu rektal pada orang suhu rektal pada bayi
dewasa dan anak

c. Prosedur pengukuran suhu secara rektal


1) Pemeriksaan suhu melalui rektum ini biasanya dilakukan terhadap
bayi.
2) Pilihlah termometer dengan ujung bulat, beri pelumas di ujungnya.
3) Masukkan ujung termometer ke dalam anus sedalam 3-4 cm.
4) Cabut dan bacalah selama 3 menit.

19
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Metode yang digunakan dalam pemeriksaan tanda-tanda vital dapat
berupa palpasi (rabaan), auskultasi(mendengar lewat bantuan stetoskop
dan ispeksi (dengan melihat).
2. Pemeriksaan tanda vital yang sering dilakukan oleh medis maupun
paramedis adalah pemeriksaan suhu tubuh, pemeriksaan denyut nadi,
pemeriksaan pernafasan dan pemeriksaan tekanan darah.
3. Perubahan tanda-tanda vital pada diri seseorang dapat terjadi akibat
gangguan yang terjadi pada seseorang tersebut.
4. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu tubuh adalah thermometer.
Suhu normal tubuh manusia adalah 36,5-37,5oC.
5. Denyut nadi normal manusia berkisar antar 60-90 kali/menit.
6. Frekuensi pernafasan normal pada remaja adalah 15-24 kali/menit dan
pada dewasa adalah 16-20 kali/menit dengan sifat torako-abdominal
yang dominan pada wanita dan abdomino-torakal pada laki-laki.
7. Tekanan darah normal pada manusia adalah antara 90-140 mmHg
dalam keadaan sistolik dan 60-90 dalam keadaan diastolik.

B. SARAN
Demikianlah yang dapat Penulis sampaikan mengenai materi yang
menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahan, karena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada. Penulis berharap para
pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini berguna, bagi saya
khususnya dan juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

20
LAMPIRAN

21
Gambar 1. Mulusia sedang melakukan Gambar 2. Khoiril sedang melakukan
tindakan pemeriksaan tekanan darah tindakan pemeriksaan tekanan darah

Gambar 3. Wiyata sedang melakukan


tindakan pemeriksaan tekanan darah

Gambar 4. Oktavia sedang melakukan


tindakan pemeriksaan tekanan darah

Gambar 6. Vinny sedang melakukan


Gambar 5. Muna sedang melakukan
tindakan pemeriksaan nadi
tindakan pemeriksaan nadi

22
Gambar 7. Sufya sedang melakukan Gambar 8. Rapli sedang melakukan
tindakan pemeriksaan nadi dan respirasi tindakan pengukuran suhu

23
DAFTAR PUSTAKA

Enykus, 2003, keterampilan dasar dan prosedur perawatan dasar, ed 1.


Semarang, Kilat press
M. Clevo Rendy. Keterampilan Dasar BIDAN & PERAWAT. Yogyakarta :
Nuha Media ; 2010
Eni, Kusyati, Ns.,S.Kep. 2004. Keterampilan Dan Prosedur Laboratorium
Keperawatan Dasar. EGC:Jakarta
https://keperawatanku.wordpress.com/2012/02/28/tekanan-darah/
https://meylahazizah.wordpress.com/2013/12/27/sistem-pernafasan-manusia
https://sistempernapasanpadamanusia.wordpress.com/
Pery, Anne Griffin, Potter, patricia A.,(1999). Fundamental Keperawatan
Konsep proses dan praktek.EGC: Jakarta
Robert Priraharjo, 1996, Pengkajian Fisik Keperawatan ,cetakan II, Jakarta,
EGC
Pery, Anne Griffin, Potter, patricia A., Yasmin, Asih (editor). (1999). Buku
Saku Ketrampilan Dan Prosedur Dasar. EGC: Jakarta
Cameron J.R., Skofronick J.G., Grant R.M. 2006. Fisika Tubuh Manusia. Ed.
2. Jakarta: Sagung Seto, pp : 124-125
Guyton and Hall. 2007. Fisiologi kedokteran. Ed. 9. Jakarta : EGC, pp : 221-222
Robert M. S., William J. R., and Karen S. Q. Pshychophysiological recording,
electronic version

iii