Anda di halaman 1dari 11

Tugas Individu

Pemodelan Peternakan

MODEL PEMBANGUNAN PETERNAKAN


DITINJAU DARI SISI HULU PRODUKSI
PETERNAKAN SAPI POTONG

APRISAL NUR
I 012 17 1 006

FAKULTAS PETERNAKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia tiap tahunnya mengalami peningkatan.


Data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan pertumbuhan penduduk dari
tahun 2010 sampai tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar 1,38% dari tahun
sebelumnya. Peningkatan penduduk ini tentunya berbanding lurus dengan peningkatan
konsumsi masyarakat akan bahan makanan, salah satunya adalah kebutuhan akan
protein.

Kebutuhan protein bisa di dapatkan dari tumbuhan dan hewan. Namun protein yang
paling bagus dan besar jumlahnya adalah bersumber dari produk hewani. Salah satunya
adalah daging sapi. Pada 2016, pemerintah memperkirakan kebutuhan sapi rata-rata
nasional 2,61 kg per kapita atau total secara nasional mencapai 674,69 ribu ton yang
setara dengan 3,9 juta ekor sapi. Dari kebutuhan tersebut, produksi sapi lokal hanya
mencapai 439,53 ribu ton per tahun (65 persen) atau setara dengan 2,5 juta ekor sapi.
Sisanya 1,4 juta ekor atau 235,16 ribu ton berasal dari impor dalam bentuk daging beku
dan sapi hidup bakalan atau sapi yang masih harus digemukan di dalam negeri.

Besarnya kebutuhan masyarakat akan daging membuat berbagai instansi


melaukukan upaya dalam mengatasi hal tersebut. Dari sisi pemerintah, telah melakukan
upaya diantaranya adalah mengurangi bahkan melakukan pemberhentian impor daging
untuk menguatkan pasar sapi dalam negeri sehingga petani peternak dalam negeri tidak
mati. Disamping itu pemerintah mengeluarkan program-program yang salah satunya
adalah swasembada daging. Tidak hanya pemerintah, semua instansi baik distributor,
produsen pakan, tenaga ahli dan lain sebagainya pun melakukan upaya untuk turut
berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan daging dalam negeri.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang akan dibahas dalam
makalah inia adalah bagaimana pemodelan peternakan di Iindonesia khususnya sapi
potong pada peternakan rakyat ditinjau dari hulu produksi.

C. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Pemodelan Peternakan di


Indonesia Khususnya Sapi Potong pada peternakan rakyat ditiaju dari Hulu produksinya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Populasi Sapi Potong di Indonesia

Perkembangan perekonomian nasional saat ini telah berdampak pada perubahan


pola hidup masyarakat, termasuk pola konsumsi. Jika pada masa lalu, masyarakat
Indonesia lebih banyak mengkonsumsi karbohidrat sebagai sumber pangan utama,
maka saat ini, masyarakat mulai banyak mengkonsumsi pangan mengandung protein
tinggi sebagai sumber nutrisi.

Produk peternakan merupakan sumber protein utama bagi masyarakat, disamping


produk perikanan sebagai alternatif. Dewasa ini, kebutuhan protein yang berasal dari
telur dan daging unggas telah terpenuhi dari produk nasional, akan tetapi untuk produk
daging sapi, masih harus dipenuhi dengan jalan impor. Kondisi ini telah mendorong
pemotongan dan pengeluaran ternak secara tidak terkendali dari daerah-daerah
lumbung ternak, termasuk Sulawesi Selatan, yang berakibat pada penurunan populasi
sapi baik secara nasional maupun lokal. Untuk lebih jelasnya, perkembangan populasi
ternak ruminansia dapat dilihat pada Tabel II-1.

Tabel 1. Populasi ternak ruminansia nasional tahun 2009 2013 (x 1000 ekor)
Tahun
No. Jenis/Spesies
2009 2010 2011 2012 2013

1 Sapi Pedaging 12.760 13.582 14.824 15981 16.607

2 Sapi Perah 475 488 597 612 638

3 Kerbau 1.933 2.000 1.305 1.438 1.484

4 Kambing 15.815 16.620 16.946 17.906 18.576

5 Domba 10.199 10.725 11.791 13.420 14.560

Sumber: Statistik Peternakan, Dirjen Peternakan, 2013

Pada tahun 2012 secara nasional populasi ternak besar mengalami peningkatan
jumlah populasi bila dibandingkan dengan populasi pada tahun 2011 dengan rincian
sebagai berikut: sapi potong 15,98 juta ekor (peningkatan 7,80%), sapi perah 0,61 juta
ekor (peningkatan 2,47%), kerbau 1,44 juta ekor (peningkatan 10,21%) dan kuda 0,44
juta ekor (peningkatan 7,03%). Sedangkan untuk populasi ternak kecil secara nasional
pada tahun 2012 mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan jumlah populasi
pada tahun 2011 yaitu: kambing 17,91 juta ekor (peningkatan 5,66%), domba 13,42 juta
ekor (peningkatan 13,82%), babi 7,90 juta ekor (peningkatan 4,99%). Kondisi tersebut
juga terjadi di Sulawesi Selatan

Tabel 2. Populasi ternak Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009-2014 (ekor)


Jenis Tahun
r (%)
Ternak 2009 2010 2011 2012 2013

Sapi Potong 729.066 848.916 1.021.110 1.112.893 1.128.306 8,92

Sapi Perah 1.826 2.198 1.690 1.961 1.426 0,69

Kerbau 124.141 130.097 96.505 103.160 100.831 -7,08

Kambing 437.918 477.068 466.393 572.587 599.216 13,88

Domba 490 468 377 468 530 -2,89

Sumber: Buku Statitik Peternakan Provinsi Sulawesi Selatan, 2014

Untuk periode antara 2009-2013, terjadi dua kondisi yang kontradiktif. Populasi
ternak sapi di Sulawesi Selatan meningkat dari 729.066 ekor pada tahun 2009 menjadi
1.128.306 ekor tahun 2013, namun populasi ternak kerbau menurun 7,08% dari 124.141
ekor tahun 2009 menjadi 100.831 ekor pada tahun 2013. Jika dicermati lebih jauh,
peningkatan populasi sapi potong yang terjadi tidak diikuti aspek performans ternak.
Data di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa tingkat kelahiran ternak sapi hanya
mencapai 52% dari populasi betina produktif yang ada dengan jarak kelahiran rata-rata
18 bulan, jauh lebih panjang dari potensi jarak kelahiran 12 bulan. Demikian pula berat
lahir yang hanya berkisar pada 11 12,5 kg dengan pertambahan berat badan harian
hanya berkisar 0,2 0,3 kg per hari pada kondisi peternakan rakyat. Berat badan sapi
yang ada di Sulawesi Selatan saat ini juga semakin rendah. Jika pada tahun 1970-an
sapi jantan dengan berat 400 500 kg dengan tinggi pundak 126 cm masih dapat
diperoleh dengan mudah (tanpa penggemukan), maka pada saat ini berat badan
tertinggi hanya berkisar 275 300 kg (itupun dengan program penggemukan) dengan
tinggi pundak hanya 119,9 cm. Keadaan ini menunjukkan bahwa sapi Bali yang ada di
Sulawesi Selatan sudah semakin kecil (sapi bonzai) yang tentu saja kontras dengan
kondisi sebelumnya yang pernah menjadi lumbung ternak di Indonesia.

B. Faktor Yang Mendukung Peternakan Sapi Potong

Beberapa faktor yang mendukung keberhasilan suatu peternakan sapi potong


diantaranya adalah petani/peternaknya, ketersediaan makanan, obat-obatan, sistem
perkandangan, dan bagaimana manajemen pemeliharaan yang digunakan.

a. Petani Peternak

Petani peternak adalah mereka yang melakukan budidaya atau


mengembangbiakkan hewan untk mendapatkan manfaat dari hasil kegiatan yang
dilakukannya. Peternak sapi tentunya harus memiliki rasa sayang kepada ternaknya
sehingga dalam memahami kebutuhan ternak akan lebih mudah.

Peternak yang baik adalah mereka yang telah memiliki pengalaman serta memiliki
pengetahuan yang lebih untuk membesarkan binatang ternaknya. Pengalaman yang
semakin banyak tentunya akan membuat peternak semakin terampil dalam menangani
suatu persoalan. Pengetahuan yang banyak baik mengenai ternak itu sendiri, maupun
yang lainnya seperti kebutuhan pakan, diamana mendapatkan pakan, apa saja yang
dilakukan untuk menangani ternak yang terkena penyakit, bahkan bagaimana cara
pengolahan limbah dari hasil buangannya.

b. Pakan

Pakan adalah makanan/asupan yang diberikan kepada hewan ternak (peliharaan).


Istilah ini diadopsi dari bahasa Jawa. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi
pertumbuhan dan dan kehidupan makhluk hidup. Zat yang terpenting
dalam pakanadalah protein.

Bahan pakan terdiri dari bahan organik dan anorganik. Bahan organik yang
terkandung dalam bahan pakan, protein, lemak, serat kasar, bahan ekstrak tanpa
nitrogen, sedang bahan anorganik seperti calsium, phospor, magnesium, kalium,
natrium. Kandungan bahan organik ini dapat diketahui dengan melakukan analisis
proximat dan analisis terhadap vitamin dan mineral untuk masing masing komponen
vitamin dan mineral yang terkandung didalam bahan yang dilakukan di laboratorium
dengan teknik dan alat yang spesifik.

Pemeberian makanan/pakan pada ternak di bedakan berdasarkan jenis dan cara


pemeberian serta umur ternaknya. Untuk penggemukan, ternak diberikan pakan yang
sudah diatur komposisinya dalam bentuk konsentrat. Kandungan konsentrat yang sudah
lengkap dapat memudahkan dalam pemberiannya ke ternak namun, biayanya lebih
mahal.

Cara pemberian makanan ke ternak yang lainnya adalah dengan cara


menggembalakan. Ternak digembalakan di padang rumput pada pagi dan sore harinya.
Biaya yang dikeluarkan pun sangat sedikit dimana hanya untuk perawatan rumputnya.

c. Obat-obatan

Obat-obatan sangata dibutuhkan pada peternakan hewan untuk mengobati ternak


yang terserang penyakit. Selain itu dapat mencegah terjadinya penularan penyakit.
Jenis obat yang digunakan sangat beragam tergantung penyakit yang di derita oleh
ternak.

Penyakit dapat dibebabkan oleh bakteri, jamur, virus dan kontak fisik. Penanganan
penyakt yang umum di peternakan adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing.
Ternak yang terserang penyakit cacing akan menyebabkan ternak menjadi kurus karena
nafsu makan yang semakin menurun.

Penyakit lain yang menyerang ternak khususnya sap potog adalah antraks, penyakit
ini merupakan penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat berpindah dari satu ternak ke
ternak lainnya, bahkan bisa berpindah ke manusianya. Penyebara penyakit ini sangatlah
cepat, sehingga peternak harus mempunyai penanganan yang lebih cepat pula ketika
mendapatkan gejala-gejalanya.

d. Sistem Perkandangan

Kandang merupakan suatu bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal ternak
untuk sebagian atau sepanjang hidupnya. Selain kandang suatu peternakan yang
dikelola dengan tata laksana pemeliharaaan yang baik memerlukan sarana fisik sebagai
penunjang dan kelengkapan. Sarana fisik tersebut antara lain kantor kelola, gudang,
kebun hijauan makanan ternak dan jalan. Komplek kandang dan bangunan-bangunan
pendukung tersebut disebut sebagai perkandangan. Dengan demikian perkandangan
adalah segala aspek fisik yang berkaitan dengan kandang dan sarana maupun
prasarana yang bersifat sebagai penunjang kelengkapan dalam suatu peternakan.

Kandang merupakan salah satu unsur penting dalam suatu usaha peternakan,
terutama dalam penggemukan ternak potong. Bangunan kandang yang baik harus bisa
memberikan jaminan hidup yang sehat dan nyaman. Bangunan kandang diupayakan
pertama-tama untuk melindungi sapi terhadap gangguan dari luar yang merugikan, baik
dari sengatan matahari, kedinginan, kehujanan dan tiupan angin kencang. Selain itu,
kandang juga harus bisa menunjang peternak dalam melakukan kegiatannya, baik dari
segi ekonomi maupun segi kemudahan dalam pelayanan. Kandang berfungsi sebagai
lokasi tempat pemberian pakan dan minum. Dengan adanya kandang, diharapkan sapi
tidak berkeliaran di sembarang tempat, mudah dalam pemberian pakan dan kotorannya
pun bisa dimanfaatkan seefisien mungkin

Sistem perkandangan juga perlu diperhatikan sebelum memulai peternakan. Apakah


ternak akan di kandangakan secara intensif atau semi intensif. Tentunya dari kedua
system perkandangan ini mempunya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Secara
intensif ternak dikandangan selama 24 jam sehingga pakan dan minuman harus
diberikan secara langsung oleh peternaknya, dan ini membutuhkan biaya yang lebih
mahal. Sistem ini banyak digunakan untuk peternakan yang diksususkan untuk
penggemukan.

Sistem perkandangan secara semi intensif adalah ternak digembalakan di siang hari
dan di kandangkan pada malam hari. Sistem ini lebih ekonomis dari sistem
perkandangan intensif, namun performa sapi tentunya lebih rendah dibandingkan jika
diternakkan secara intensif.

Selain sistem perkandanagannya, jenis kandang juga perlu diperhartikan. Jenis


kandang akan memudahkan dalam manajemen peternakannya. Jenis kandang sapi
potong dibedakan menjadi beberap yaitu kandang tunggal dan kandang koloni.

e. Manajemen Pemeliharaan

Manajemen pemeliharaan ternak perlu diperhatikan agar lebih efisien dalam


penggunaan waktu serta penggunaan biayanya. Peternak yang mempunya manajemen
yang baik akan lebih cepat berhasil dibandingkan dengan peternak yang hanya tahunya
memberi makan sapi saja.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Pemodelan Peternakan Sapi Potong

Dalam mendukung keberhasilan suatu peternakan maka perlu diperhatikan


beberapa factor diantaranya adalah petani peternak, pakan, obat-obatan, system
perkandangan, serta maanajemen pemeliharaannya.

Peternakan Sapi Potong

Peternak
Ternak
Peternakan
Sapi Potong Pakan
Obat-obata
Kandang

Untuk menjalankan suatu peternakan sapi potong maka perlu diperhatikan faktor-
faktor yang menjadi penentu keberhasilannya. Ketika salah satu komponen tersebut
tidak terpenuhi maka peternakan sapi potong tidak bisa di jalankan dengan baik.

Misalnya pakan, pakan merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi oleh
mahluk hidup. Pakan yang dikonsumsi ternak berfngsi untuk menjadi sumber energi
dalam melakukan aktifitasnya.

Obat merupakan hal yang dibutuhkan untuk mengobati ternak ketika terjangkit
penyakit. Penanganan ternak harus dilakuakan apalagi penyakit yang bersifat zoonosis
atau bisa menular baik dari hewan ke hewan maupun ke manusia.

Kandang yang menjadi tempat tinggal ternak mempunyai fungsi lain diantaranya
adalah untuk memudahkan dalam manajemen serta melindungi ternak dari ancaman
luar yang membahayakan ternak. Misalnya, binatang buas, bahkan pencurian.
BAB IV
KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Dalam permodelan peternakan khususnya sapi potong maka perlu diperhatikan semua
factor yang mendukung dalam pelaksanaannya. Ketika salah satu factor tidak terpenuhi maka
peternakan sapi potong tidak bisa berjalan dengan baik.

B. Saran

Peternak harus memperhatikan factor-faktor dalam menjalankan peternakan agar


peternakan bisa berjalan dengan baik.