Anda di halaman 1dari 27

DIGANTI K

OVER ANDA

BAGIAN <XXX>
INDAHNYA TANPA SAMPAH
Michael Martin L (XI IA-5 / 29)

<Judulwarna
Gantilah Analisis Anda>
merah 1
dengan warna yang sesuai kover anda
2 <Judul Anda>
1. Pendahuluan

keengganan warga mengolah sampah rumah


tangga dijawab Teti dengan menciptakan alat
pembuat kompos atau komposter sederhana.
Komposter buatan Teti berbahan kaleng bekas cat
berukuran 25 kilogram, yang diberi alat pemutar
pada bagian samping atau tutup kaleng.

Semua ini berawal saat Teti terpilih sebagai


kader kebersihan oleh Dinas Kebersihan DKI
Jakarta, enam tahun lalu. Sebagai kader, dia
mendapat banyak informasi tentang pengolahan
sampah menjadi kompos.

Pengetahuan itu tak dibiarkannya begitu saja.


Tetapi dia mengembangkannya dengan
menciptakan komposter. Untuk memenuhi selera
masyarakat, Teti telah mengembangkan 13 tipe
komposter dengan bahan baku kaleng dengan alat
pemutar. Tahun lalu, dia mengembangkan
komposter gantung yang dibuat dari tempayan air,
untuk mengajari warga membuat kompos cair.

<Judul Analisis Anda> 3


"Setiap kali saya ceramah soal pengolahan sampah
rumah tangga, warga malah bertanya 'ngapain
susah-susah ngurus sampah?' Mereka merasa sudah
membayar retribusi kebersihan, jadi enggak perlu
pusing mikirin sampah," cerita Teti.

Ketika ia meminta warga belajar bikin


kompos, "Sebagian warga menjawab, untuk apa?
Beli saja, kompos kan harganya murah, cuma Rp
1.000 per kilogram," ujarnya.

Sikap apatis warga yang dia datangi lewat


kelompok arisan, pengajian, PKK, warga
perumahan, guru, maupun karyawan itu tetap tak
menyurutkan semangat Teti untuk berbagi dan
mengubah paradigma berpikir masyarakat soal
sampah. Keluhan itu justru membuat dia kreatif
dengan menciptakan komposter untuk mengurangi
sampah di rumah.

4 <Judul Anda>
Umumnya warga kota malas berurusan dengan
sampah organik atau basah yang mudah berbau
busuk. Mereka enggan membuka tempat
pembuangan sampah, lalu mengaduknya agar tak
bau dan berbelatung.

"Dari situlah saya terpikir harus membuat


alat pengaduk sehingga tempat sampah organik tak
harus sering dibuka. Saya lalu ke tukang las, minta
kaleng bekas cat itu dilubangi sisi kiri dan
kanannya, lalu dipasangi seperti jeruji yang
memudahkan pemutaran sampah di dalamnya,"
tuturnya.

Komposter ala Teti bahkan bisa disimpan di


ruang tamu, tanpa orang sadar bahwa isinya sampah
basah. Adapun komposter gantung dari tempayan
air cocok dipasang di rumah yang tak punya
halaman.

<Judul Analisis Anda> 5


Keterlibatan Teti mengajak warga memilah
dan mengolah sampah semakin intens ketika
suaminya terpilih menjadi Wakil Ketua RW 15,
Kampung Bulak, Klender, Jakarta Timur, tahun
2004. Teti, yang saat itu aktif sebagai instruktur
pendidikan lingkungan hidup bagi guru-guru DKI
Jakarta, merasa harus mendukung tugas suami.

"Ketika itu ada lomba RW bersih dan sehat


tingkat kelurahan. Saya ikut terlibat di PKK dan
harus menggerakkan semua warga agar
berpartisipasi," kenangnya.

Kondisi lingkungan tempat tinggal yang


kumuh dan sempit menginspirasi dia untuk
mengajak warga mengubahnya menjadi lingkungan
yang bersih dan hijau. Ia minta setiap rumah
menanam dua pohon. "Ini menimbulkan pro-
kontra."

Warga yang umumnya masyarakat


menengah-bawah keberatan harus membeli

6 <Judul Anda>
tanaman dan pot. Teti pun menyarankan kaleng
bekas sebagai ganti pot.

Selain itu, setiap pukul 16.00, salah satu


penghuni rumah harus membersihkan halaman
masing-masing. Bagi warga yang tak bersedia, ada
denda menyediakan dua pohon di depan rumah.

"Cara itu efektif untuk membangkitkan


kesadaran warga. Mereka ikut aktif menciptakan
kebersihan lingkungan. Setelah tampak hasilnya,
warga jadi gemar bertanam," kata Teti. Hasilnya?
RW 15 ditunjuk sebagai RW percontohan di Jakarta
Timur.

Namun, kecintaan warga menanam itu


menimbulkan persoalan lain. Mereka sulit
menemukan media tanam. Dan Teti lalu
memperkenalkan kompos sebagai media tanam.

Pembuatan kompos menuntut warga punya


kebiasaan memilah sampah di rumah. Sampah
organik warga RW itu dikumpulkan di enam posko,
sedangkan sampah nonorganik, seperti kertas,

<Judul Analisis Anda> 7


plastik, dan kayu, dijual atau dibuat kerajinan
tangan. Petugas kebersihan hanya mengangkut
sampah yang sama sekali tak bisa didaur ulang.

Dalam kurun 2004-2006, RW 15 "hanya"


mendapat juara ketiga RW bersih dan sehat tingkat
Provinsi DKI Jakarta. Tetapi, kebiasaan mengelola
sampah rumah dan mengolahnya menjadi kompos
telah menjadi pola hidup warga. Mereka cinta
lingkungan bukan karena ada lomba.

Baru pada 2007, RW 15 menjadi juara


nasional RW Bersih yang diselenggarakan ke
Menterian Negara Lingkungan Hidup. Sejak itu,
kawasan ini sering didatangi masyarakat dan
pejabat yang ingin mengetahui bagaimana warga
setempat mengelola sampah rumah tangga.

"Untuk menumbuhkan kesadaran warga,


seperti memilah sampah di rumah, tak semudah
membalik telapak tangan," katanya. Padahal,
sampah organik mencapai 60 persen dari total
sampah rumah tangga.

8 <Judul Anda>
"Kalau semua orang mau sedikit saja susah,
memilah sampah dan mengolahnya, bayangkan,
betapa nikmatnya lingkungan hidup ini. Akibat
global warming pun bisa diminimalkan," ujarnya
lebih lanjut.

Tahun 2006 Teti menggagas muatan lokal


lingkungan hidup sebagai materi pelajaran di
sekolah tempatnya mengajar. Pengolahan sampah
termasuk salah satu materi yang diajarkan. Ia
membuat semacam kurikulum, siswa diajak praktik
di rumah dan di sekolah.

Apa yang dia lakukan membuahkan hasil.


Sekolah tempatnya mengajar, SMAN 12 Jakarta,
terpilih sebagai sekolah berwawasan lingkungan
tingkat nasional. Dalam lomba pemanfaatan
sampah oleh pelajar yang digelar World Wildlife
Fund, SMAN 12 Jakarta meraih juara kedua. Siswa
mengolah sampah plastik menjadi aksesori.

Kiprah Teti yang gencar memperkenalkan


pengolahan sampah skala rumah tangga dan

<Judul Analisis Anda> 9


sekolah ini menarik perhatian berbagai pihak yang
peduli lingkungan hidup. Dia semakin sering
diminta menjadi pembicara ke berbagai kota,
seperti Balikpapan, Pontianak, dan Bandar
Lampung. Ia muncul dalam talkshow di radio dan
televisi.

Teti semakin sibuk sebagai pembicara soal


pengolahan sampah dan pemberdayaan warga
untuk menciptakan lingkungan hidup yang bersih
dan hijau. Namun, dia tak mengabaikan tugasnya
sebagai guru.

2. Sampah yang berguna bagi kita

Tak hanya di perkotaan, kini di pedesaan pun


sampah menjadi masalah yang krusial. Masyarakat kita
masih belum menyadari akan arti penting lingkungan
sekitar. Mereka tidak peduli atau mungkin saja tidak
tahu bagaimana nasib generasi yang akan datang bila
terus menghasilkan sampah tanpa dikelola dengan baik.
Contoh nyatanya bisa dilihat di Pasar Pujabahari atau
Tos3000 Batam, disana akan kita temui sampah

10 <Judul Anda>
menggunung di sudut-sudut pasar yang dibiarkan begitu
saja. Sampah-sampah tersebut kemudian menimbulkan
berbagai permasalahan, diantaranya ialah muncul
aroma yang tidak sedap dan pemandangan yang tidak
enak untuk di lihat. Padahal sampah sampah itu bila
diolah dengan sedikit kreativitas dan kerja keras akan
kaya manfaat serta menghasilkan uang yang tidak
sedikit. Salah satunya, sampah bisa diolah menjadi
berbagai suvenir atau aksesoris yang bernilai jual.

Meningkatnya jumlah penduduk dalam ruang


hidup yang konstan, tingginya gaya hidup serta
kurangnya IPTEK & IMTAK merupakan faktor-faktor
yang menyebabkan volume sampah yang di hasilkan
kian hari kian bertambah. Mengutip dari buku Teti
Suryati yang berjudul Bijak dan Cerdas Mengolah
Sampah,
Menurut data Dinas Kebersihan DKI Jakarta
(2007), setiap orang rata-rata menghasilkan 1-2 kg
sampah setiap hari. Jika penduduk Indonesia 200 juta
orang, jumlah sampah yang menumpuk setiap hari
mencapai 400.000 ton dan 60% diantaranya adalah

<Judul Analisis Anda> 11


sampah rumah tangga. Sampah kita. Jika sampah
sebanyak itu tidak dikelola dengan benar, masalah
lingkungan seperti banjir, polusi tanah, air dan udara
serta berbagai penyakit tak pelak segera menyambangi
kita..

Problema sampah ini harus segera ditanggapi


dengan cepat dan serius agar tidak menimbulkan
masalah-masalah yang lebih kompleks di kemudian
hari. Dan tentunya pengolahan sampah bukanlah
pekerjaan rumah pemerintah saja, namun juga perlu
dukungan dari setiap lapisan masyarakat.

Sampah, menurut definisi (WHO), adalah


sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak
disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari
kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Sampah berdasarkan sifatnya terbagi atas dua jenis,
yakni sampah organik dan sampah anorganik. Sampah
organik adalah jenis sampah yang mudah terurai.
Sampah jenis ini mencapai 60-70% dari total volume

12 <Judul Anda>
sampah yang ada di Indonesia. Sampah organik ini pun
terbagi atas dua macam, yaitu:
a) Sampah organik basah : Sampah yang mempunyai
kandungan air yang tinggi, misalnya buah dan
sayuran.
b) Sampah organik kering : Sampah yang
mempunyai kandungan air yang sedikit di banding
sampah organik basah, misalnya kertas, ranting
pohon dan dedaunan
Sebaliknya, sampah anorganik adalah sampah yang
tidak mudah terurai, seperti plastik wadah pembungkus
makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas
minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini
dapat dijadikan sampah komersil yang laku dijual untuk
dijadikan produk lainnya.

Kebiasaan dan perilaku masyarakat terkait


dengan pengelolaan sampah perlu segera diperbaiki.
Selama ini masyarakat membuang begitu saja sampah
ke tempat-tempat sampah lalu menyerahkan urusannya
ke petugas kebersihan dan menganggap urusan selesai
sampai disitu saja. Padahal dengan terus

<Judul Analisis Anda> 13


menggunungnya sampah di Tempat Pembuangan Akhir
(TPA) akan menjadi problem tersendiri, yakni problem
kesehatan, pencemaran dan keindahan lingkungan.
Oleh karena itu, mulai dari sekarang, sebelum
membuang sampah kita perlu melakukan 4M (Memilah,
Menghemat, Memakai ulang dan Mendaur ulang).
Dengan memilah sampah, baik dengan cara
memisahkan sampah organik dan anorganik ataupun
dengan lebih spesifik memisahkan antara sampah
plastik, kertas, kaleng, dan kaca akan membuat kita
lebih sadar akan jumlah sampah yang kita hasilkan
setiap hari dan tentunya juga memudahkan pengolahan
sampah di tahap selanjutnya. Tak hanya uang yang
perlu dihemat namun demikian juga sampah.

Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara,


contohnya belanja di supermarket dalam jumlah yang
besar sekaligus, sehingga akan menghemat jumlah
plastik yang digunakan. Atau bisa juga dengan
membawa tas kain saat berbelanja agar tidak perlu lagi
menggunakan tas plastik. Tak jauh berbeda dengan
contoh dalam menghemat sampah, memakai ulang bisa

14 <Judul Anda>
dilakukan dengan menggunakan kembali plastik
belanjaan dari supermarket menjadi plastik sebagai
kantong sampah. Yang terakhir, dengan mendaur ulang
sampah menjadi bahan baku dari suatu produk akan
mengurangi pemakaian sumber daya alam yang
semakin lama semakin menipis kuantitasnya dan
tentunya juga bisa mengisi pundi-pundi uang kita.

Terdapat berbagai macam cara pengolahan sampah


organik maupun anorganik yang dapat menghasilkan
uang. Khusus pengolahan sampah organik, yang akan
dibahas oleh penulis di artikel ini hanyalah kompos dan
kerajinan tangan. Keuntungan dari pengolahan sampah
organik menjadi kompos tak hanya untuk mengurangi
jumlah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan
saja, tetapi juga dapat menyediakan lapangan pekerjaan,
menyediakan pupuk organik berkualitas tinggi kepada
para petani dengan harga terjangkau, menanggulangi
kelangkaan pupuk dan lahan kritis, mencegah
pemanasan global dan mendukung terciptanya
ketahanan pangan nasional berbasiskan pertanian
organik. Berikut akan dijabarkan salah satu cara mudah

<Judul Analisis Anda> 15


membuat kompos dengan hanya menggunakan lahan
terbatas yaitu:
1. Sediakan drum atau sejenisnya.
2. Lubangi kecil-kecil bagian dasar drum untuk
rembesan air dari sampah.
3. Tanam drum dengan kedalaman sekitar 10 cm dari
permukaan tanah.
4. Masukkan sampah organik ke dalam wadah (drum)
setiap hari.
5. Taburi dengan sedikit tanah, serbuk gergaji, atau
kapur secara berkala.
6. Bila terdapat kotoran binatang bisa ditambahkan
untuk meningkatkan kualitas kompos.
7. Setelah penuh, tutup drum dengan tanah dan
diamkan selama tiga bulan.
8. Keluarkan isi drum dan angin-anginkan selama 2
minggu.
9. Kompos sudah dapat digunakan

Selain dijadikan kompos, sampah organik juga


dapat dijadikan berbagai kerajinan tangan. Dengan
menggunakan bahan organik sisa hasil industri

16 <Judul Anda>
pertanian misalnya, kita dapat mengolah kulit jagung
menjadi bunga hiasan rumah juga batok kelapa dan
eceng gondok menjadi tas. Banyak pula kerajinan
tangan yang bisa dihasilkan dengan menggunakan kulit
kerang atau kulit ikan, semuanya tergantung kreativitas
dari masing-masing orang.

Sebagai tambahan, kini di Indonesia telah dibangun


Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). PLTSa
didefinisikan sebagai "pemusnah sampah" (Incinerator)
modern yang dilengkapi peralatan kendali pembakaran
serta sistem monitor emisi gas buang yang kontinyu dan
dapat menghasilkan energi listrik. Dan ternyata teknik
pengolahan sampah menjadi energy listrik
menggunakan prinsip yang sangat sederhana yaitu:
1. Sampah di bakar sehingga menghasilkan panas
(proses konversi thermal)
2. Panas dari hasil pembakaran dimanfaatkan untuk
merubah air menjadi uap dengan bantuan boiler
3. Uap bertekanan tinggi digunakan untuk memutar
bilah turbin

<Judul Analisis Anda> 17


4. Turbin dihubungkan ke generator dengan bantuan
poros
5. Generator menghasilkan listrik dan listrik
dialirkan kerumah rumah atau ke pabrik.

Terbukti dengan kreativitas dan kerja keras,


masalah-masalah sampah di Negara kita bisa diatasi,
bahkan lebih dari itu, kita juga dapat memperoleh
tambahan penghasilan dari sampah. Maka dari itu,
marilah mulai sekarang kita olah sampah-sampah
disekitar kita agar bisa menjadi lebih dari sekedar
sampah, untuk bumi yang lebih baik. Karena sampah
merupakan tanggung jawab kita bersama.

Dari sini kita dapat banyak belajar bagaiman cara


mengelolah sampah yang awalnya sesuatu yang tidak
berguna dan tidak bernilai menjadi barang yang
memiliki harga jual. Sehingga kita dapat mengurangi
sedikit sampah disekitar kita dan membantu
menyelesaikan masalah masyarakat yaitu terlalu
banyaknya sampah yang menumpuk di dunia ini.

18 <Judul Anda>
Sayangnya buku ini memakai Bahasa yang berbelit-
belit sehingga membuat pembaca merasa bosan karena
materi yang dibahas hanya itu saja secara terus-
menerus. Buku ini juga kurang membahas cara
mengelola sampah dengan cara lain, yang di fokuskan
hanya pada pembuatan kompos sehingga terasa
membosankan.

3. Penutup

Sampah merupakan masalah bagi seluruh


masyarakat. Sampah-sampah tersebut dapat
menimbulkan bau tidak sedap,tidak pandang dilihat,
dan menjadi sarang penyakit. Buku ini menjelaskan
bagaimana cara agar sampah-sampah ini dapat
berkurang yaitu dengan cara mengelolah sampah-
sampah itu menjadi barang yang berguna bagi
kehidupan kita sehari-hari. Dengan cara-cara yang
dilakukan tadi kita dapat mengurangi setidaknya
sedikit sampah yang kita hasilkan menjadi suatu hal
yang berguna bagi kita.

<Judul Analisis Anda> 19


Buku ini memang sangat bagus untuk
membantu kita untuk mengetahui bagaimana kita
dapat mengelolah sampah yang tidak berguna bagi
kita menjadi barang yang berharga. Sayangnya
Bahasa yang digunakan dalam buku ini terlalu
berbelit-belit. Sehingga membuat pembaca merasa
bosan karena mengulang sesuatu yang sudah kita
baca. Alangkah baiknya jika penjelasan dari buku
ini sedikit di persingkat dan tidak di ulang-ulang.

20 <Judul Anda>
<Judul Analisis Anda> 21
DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, Mariana. 2016. Menganggap Seks


sebagai Tabu adalah Kejahatan
Kemanusiaan. Retrieved from http://www.jur
nalperempuan.org/tokoh/djenar-maesa-ayu-
menganggap-seks-sebagai-tabu-adalah-
kejahatan-kemanusiaan

Analisis Novel Nayla dengan Pendekatan


Feminimisme. 2014. Retrieved from
http://kumpulanmakalah0.blogspot.co.id/2015
/10/analisis-novel-nayla-karya-djenar-
maesa.html

Arswendo Atmowiloto. 2009. Retrieved from http://


badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/
tokoh/741/Arswendo%20Atmowiloto

Arya. 2016. Pengertian Novel Beserta Ciri Ciri,


Struktur, dan Unsur Unsurnya. Retrieved
from http://sahabatnesia.com/pengertian-
novel/

Atmowiloto, Arswendo. Canting. 2007. Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama.

Atmowiloto, Arswendo. 2009. Projo & Brojo.


Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

22 <Judul Anda>
Ayu, Djenar Maesa. 2005. Nayla. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.

Biografi dan Profil Tere Liye: Penulis Novel


Terkenal Asal Indonesia. 2016. Retrieved
from http://www.biografiku.com/2016/09/bio
grafi-dan-profil-tere-liye-penulis-novel-
terkenal-asal-indonesia.html

Biografi Djenar Maesa Ayu. 2015. Retrieved from


https://sites.google.com/site/sastrawanindones
ia/home/biografi-djenar-maesa-ayu

Biografipedia. 2015. Biografi Raditya Dika Penulis


Novel. Retrieved from http://www.biografiped
ia.com/2015/07/biografi-raditya-dika-penulis-
novel.html

Damono, Sapardi. 2017. Pingkan Melipat Jarak.


Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Dika, Raditya. 2015. Koala Kumal. Jakarta: Gagas


Media

Fajrin, M. Rifan. 2016. Pengertian Tokoh dan Jenis-


Jenis Tokoh Dalam Cerita. Retrieved
from http://www.rifanfajrin.com/2016/03/pe
ngertian-tokoh-dan-jenis-jenis-tokoh.html

Gagasmedia. nd. Retrieved from http://www.gagas


media.net/

Daftar Pustaka 23
Kinamu, Kingkin. Review buku Lengking burung
Kasuari. Retrieved from https://kingkinkinam
u.wordpress.com/2017/04/15/review-buku-
lengking-burung-kasuari/

Kumparan. 2017. Buku untuk 77 Tahun Sapardi


Djoko Damono. Retrieved from
https://kumparan.com/adhie-ichsan/7-buku-
untuk-77-tahun-sapardi-djoko-damono

Pengertian Pendekatan Deskriptif Analitis. nd. Ret-


rieved from http://www.bimbingan.org/penge
rtian-pendekatan-deskriptif-analitis.htm

Pramoedya Ananta Toer. 2016. Retrieved from http


s://m.merdeka.com/profil/indonesia/p/pramo
edya-ananta-toer/

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan


Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.

Santoso, Sukrisno. 2014. Sinopsis Novel Nayla


Karya Djenar Maesa Ayu. Retrieved from
http://sastra33.blogspot.co.id/2010/06/nayla-
djenar-maesa-ayu.html?m=1

Satmowi Atmowiloto. nd. Retrieved from http://pwi


press.org/jakarta/satmowi-atmowiloto

Setiawan, Jody. 2012. Sastra Indonesia Reading


Challenge 2012. Retrieved from

24 <Judul Anda>
http://sepetaklangitku.blogspot.co.id/2012/11
/canting.html

Siapa sih Arswendo Atmowiloto. nd. Retrieved


from https://sites.google.com/site/sastrawani
ndonesia/home/siapa-sih-arswendo-
atmowiloto

Sinopsis dan Resensi Novel Hujan Karya Tere Liye.


2016. Retrieved from https://referensibukubag
us.wordpress.com/2016/01/19/sinopsis-dan-
resensi-novel-hujan-karya-tere-liye/

Sofia, Dheril. 2017. 'Lengking Burung Kasuari' dan


Nostalgia Anak Anak. Retrieved from http://
dunia-sofia.blogspot.co.id/2017/04/lengking-
burung-kasuari-dan-nostagia.html

Tisna, A. A. Pandji. 1992. Sukreni Gadis Bali.


Jakarta: Balai Pustaka

Toer, Pramoedya Ananta. 2007. Bukan Pasar Ma-


lam. Jakarta: Lentera Dipantara

Wiyatmi. 2003. Pengantar Kajian Sastra.


Yogyakarta: Pustaka.

Daftar Pustaka 25
26 <Judul Anda>