Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

Suku Betawi

Dosen Pengampu

Dr. Iis Nur Asyiah, SP., MP

Disusun oleh :

Angki Tri Agustina 150210103073

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat ALLAH SWT, yang mana selalu mencurahkan


segala rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini
dengan sehat walafiaat. Tak lupa shalawat serta salam tetap telimpahkan kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang kita tunggu syafaatnya di yaummul
kiyamah nanti.

Makalah ini membahas tentang suku betawi. Kemilau dan kekayaan


budaya Betawi mendorong penulis untuk mencari tahu lebih banyak informasi
tentang Betawi, baik dalam hal sejarah, penduduk, kesenian, dan kultur keseharian
mereka. Penulis tidak akan menyimpulkan suatu keputusan karena paparan ini
hanya bersifat menambah wawasan, dengan sedikit cerita tentang Betawi.
Diharapkan, para pembaca dapat lebih mengenal, memahami, dan mengerti
masyarakat Betawi dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Kritik serta
saran yang membangun sangat dibutuhkan penulis demi memperbaiki makalah ini.

Jember, 9 September 2017

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Suku betawi merupakan sebutan untuk para penghuni daerah Jakarta dan sekitarnya,
suku ini banyak di kenal karena letaknya berada di pusat pemerintahan Negara Republik
Indonesia. Beberapa ahli menyebut bahwa Suku Betawi merupakan keturunan dari
perkawinan antar suku di Nusantara. Sebagian berpendapat jika suku Betawi telah ada sejak
lama.

Sebagaian orang menyebutkan bahwa orang-orang suku betawi berasal dari keturunan
dari budak yang di datangkan oleh Belanda. Budak itu di datangkan di antaranya dari Bali,
Sulawesi, Maluku, Tiongkok dan India. Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki
Shahab, MA memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun
1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang
dirintis sejarawan Australia, Lance Castle (Academia, 2015).

Betawi merupakan etnis yang kaya akan keragaman budaya, bahasa, dan kultur. Warna-
warni ini membawa aneka persepsi, tafsiran, dan pemahaman tentang Betawi, baik dari segi
penduduk asli, kultur, maupun kebudayaan. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa penduduk
Betawi itu majemuk. Artinya, mereka berasal dari percampuran darah berbagai suku bangsa
dan bangsa asing.

1.2Rumusan Masalah
1. Bagaimana asal usul Suku Betawi?
2. Bagaimana persebaran Suku Betawi?
3. Bagaimana adat kebudayaan dan kepercayaan lokal Suku Betawi?
1.3Tujuan
1. Untuk mengetahui asal usul Suku Betawi
2. Untuk mengetahui karakteristik Suku Betawi
3. Untuk mengetahui adat kebudayaan dan kepercayaan lokal Suku Betawi
1.4Manfaat
1 Agar semua masyarakat indonesia mengetahui tentang asal usul Suku Betawi
2. Agar semua masyarakat indonesia mengetahui adat kebudayaan dan kepercayaan lokal
Suku Betawi sehingga dapat melestarikannya
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Asal Usul Suku Betawi
Sebagian berpendapat jika suku Betawi telah ada sejak lama. Eksistensi suku Betawi
menurut sejarawan Sagiman MD telah ada serta mendiami Jakarta dan sekitarnya sejak
zaman batu baru atau pada zaman Neoliticum, penduduk asli Betawi adalah penduduk
Nusa Jawa sebagaimana orang Sunda, Jawa, dan Madura. Pendapat Sagiman MD tersebut
senada dengan Uka Tjandarasasmita yang mengeluarkan monografinya "Jakarta Raya dan
Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan Pajajaran (1977)" mengungkapkan
bahwa Penduduk Asli Jakarta telah ada pada sekitar tahun 3500 - 3000 sebelum masehi
(Ayunda Putri,2015:1).

Pada zaman kolonial Belanda tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya
tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut.
Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia
waktu itu.Namun menurut Uka Tjandarasasmita penduduk asli Jakarta telah ada sejak
3500-3000 tahun sebelum masehi. Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr
Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan
kelompok etnis itu juga belum mengakar. Pengakuan terhadap adanya orang Betawi
sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang
lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh
masyarakat Betawi mendirikan Pemoeda Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap
orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Dr. Yasmine Zaki Shahab, M.A. berpendapat bahwa hingga beberapa waktu yang lalu
penduduk asli Jakarta mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Melayu atau menurut
lokasi tempat tinggal mereka, seperti orang Kwintang; orang Kemayoran; orang
Tanahabang dan seterusnya. Setelah tahun 1970-an yang merupakan titik balik kebangkitan
kebetawian di Jakarta telah terjadi pergeseran lebel dari Melayu ke Betawi. Orang yang
dulu menyebut kelompoknya sebagai Melayu telah menyebut dirinya sebagai orang
Betawi.
Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat
campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup
penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal
di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu yang umum
digunakan di Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Brunei dan Thailand Selatan
yang kemudian dijadikan sebagai bahasa Indonesia.

2.2 Karakteristik Suku Betawi

Berdasarkan ciri kebudayaan, etnik Betawi dibagi mejadi dua, yaitu Betawi Tengah
(Betawi Kota) dan Betawi Pinggiran, yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda
disebut Betawi Ora. Berdasarkan geografis, etnik Betawi dibagi menjadi Betawi Tengah
(Kota), Betawi Pesisir, dan Betawi Pinggir (Udik/Ora).

Betawi Tengah/Kota menetap di bagian kota Jakarta yang dahulu dinamakan


keresidenan Batavia (Jakarta Pusat - urban), mendapat pengaruh kuat kebudayaan Melayu
(Islam). Betawi Tengah menganut gaya hidup tempo lama, misalnya perayaan upacara
perkawinan, khitanan, tradisi lebaran, dan memegang teguh agama serta adat istiadat
(mengaji). Orang Betawi yang tinggal di Jakarta Pusat mengalami tingkat arus urbanisasi
dan modernisasi dalam skala paling tinggi, juga mengalami tingkat kawin campuran paling
tinggi. Dalam bidang kesenian, mereka menikmati keroncong Tugu, musik Gambus,
Qasidah, orkes Rebana, dan menggemari cerita bernafaskan Islam seperti cerita Seribu
Satu Malam. Mereka memiliki dialek yang disebut dialek Betawi Kota, bervokal akhiran e
pada beberapa kata yang dalam bahasa Indonesia berupa a atau ah, misalnya: kenapa
menjadi kenape.

Betawi Pinggiran, biasa disebut Betawi Udik atau Ora, terdiri atas dua kelompok,
yaitu pertama, kelompok dari bagian Utara dan Barat Jakarta serta Tangerang, yang
dipengaruhi oleh kebudayaan Cina; kedua, kelompok dari bagian Timur dan Selatan
Jakarta, Bekasi, dan Bogor, yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan adat istiadat Sunda.

Umumnya, Betawi Pinggiran berasal dari ekonomi kelas bawah, bertumpu pada
bidang pertanian, dan bertaraf pendidikan rendah. Pada perkembangannya, masyarakat
Betawi Pinggiran mengalami perubahan pola pekerjaan dan pendidikan yang lebih baik.
Dalam bidang kesenian, yang dihasilkan adalah Gambang Kromong, Lenong, Wayang
Topeng, dan lainnya. Mereka menyenangi cerita seperti Sam Kok dan Tiga Negeri
(pengaruh Tionghoa). Dialek Betawi Pinggiran tidak terdapat perubahan vokal a menjadi e,
misalnya: kenapa menjadi ngapa. Keberadaan dua kebudayaan ini disebabkan oleh banyak
aspek, meliputi perbedaan latar belakang sejarah, ekonomi, sosiologi, dan aspek etnis,
misalnya keaslian dari suku yang mempengaruhi kebudayaan mereka (Purbasari, 2013:2-
3).
2.3 Adat Kebudayaan Dan Kepercayaan Lokal Suku Betawi
2.3.1 Adat Kebudayaan
Upacara Adat Pernikahan

Suku Betawi memiliki tradisi yang menarik dalam melaksanakan upacara pernikahan.
Banyak ritual atau adat yang harus dijalani tahap demi tahap. Pertama ada istilah
ngedelengin, yaitu proses mencari calon, upaya mencari atau menemukan kesamaan visi
dan misi antara seorang lelaki dangan seorang perempuan dalam rangka membina rumah
tangga ( Yahya Andi Saputra, 2008). Proses ngedelengin bisa dilakukan oleh jejaka atau
melalui Mak Comblang. Setelah tahap ngedelengin selanjutnya di lanjutkan acara
ngelamar. Ngelamar adalah proses permintaan resmi oleh keluarga pihak laki-laki kepada
keluarga pihak perempuan. Setelah lamaran di terima oleh pihak perempuan. Di lanjutkan
dengan acara Bawa Tande Putus atau Tundangan. Masyarakat sekarang lebih mengenal
dengan tunangan atau tukar cincin. Arti dari tande putus adalah bahwa si Calon None
Pengantin (pengantin wanita) telah terikat dengan seorang lelaki dan tidak dapat lagi
diganggu oleh pihak lain.

Upacara Adat pindah Rumah

Pindah rumah dalam masyarakat Betawi biasanya dilakukan ketika seseorang telah
berumah tangga. Orang tua biasanya akan mebuatkan rumah untuk anak yang dinikahkan.
Menurut Yahya Andi Saputra, pindah rumah merupakan suatu keharusan dan dilakukan
menurut kebiasaan turun temurun . Jika anak yang telah dinikahkan namun belum
dibuatkan rumah sendiri, maka akan tetap tinggal dalam keluarga inti, tentu saja hal itu
membawa dampak positif dan negatif.

Sebelum Upacara pindah rumah dilakukan, terlebih dahulu dilakukan tahap pembuatan
rumah (bikin rume), orang Betawi percaya akan perhitungan yang dilakukan oleh orang
pintar. Orang pintar yang dimaksud adalah seorang kiai yang ahli dalam ilmu falak.
Setelah perhitungan selesai, di lanjutkan dengan pra pembangunan, hingga selesai. Setelah
rumah selesai di bangun akan di adakan selamatan rumah baru.

Rumah memiliki arti khusus bagi orang Betawi, bukan hanya sebagai tempat
berlindung. Melainkan sebagai tempat menebar benih, untuk generasi yang akan datang.
Pindah rumah diawali dengan pembacaan selawat dustur oleh guru ngaji, dilanjutkan
dengan mebaca basmalah 3 kali oleh orang yang akan pindah. Kemudian orang yang akan
pindah rumah mengambil tanah dari halaman rumah lama, di bungkus dengan kain putih.
Setelah itu yang bersangkutan meninggalkan rumah lama diiringi sholawat dan rebana
ketimprung.

Upacara Adat Sunatan

Sunat dalam suku Betawi memiliki arti yang khusus yaitu sebagai proses atau etape
pembeda. Maksudnya orang yang telah disunat harus bisa membedakan antara hak dan
yang batil, membedakan antara dunia anak-anak dan dunia dewasa, karena telah akil balig,
orang yang telah di sunat juga dianggap telah bisa menjaga diri dari perbuatan yang
melanggar ajaran agama atau adat yang berlaku.
Sebelum melakukan sunat, orang Betawi melakukan rembukan terlebih dahulu.
Biasanya orang tua akan mengajak sesepuh kampung untuk meminta nasihat. Hal yang di
tentukan dalam rembukan adalah apakah anak sudah siap untuk di sunat, siapa bengkong
(dukun sunat), serta kapan pelaksanaannya?

Pelaksanaan upacara sunatan dibagi ke dalam 2 hari, hari pertama disebut sebagai hari
membujuk atau menghibur pengantin sunat dan hari ke duanya hari pelaksanaan sunat.

Pada hari pertama, setelah pengantin selesai dirias, pengantin sunat akan diarak
keliling kampung dengan naik kuda atau bisa juga sang pengantin sunat diarak dengan
duduk di kursi yang di angkat oleh orang dewasa berjumlah 4 orang. Di barisan paling
depan ada ondel-ondel dan di barisan belakang ada teman-teman pengantin serta para
tetangga yang ikut meramaikan. Tak lupa rebana ketimprung selalu mengiring sepanjang
perjalanan.

Upacara Adat Akeke


Upacara akeke biasanya di lakukan satu kali seumur hidup oleh orang Betawi. Upacara
ini juga di kaitkan dengan tradisi potong rambut dan peresmian nama si jabang bayi.
Tradisi akeke ini mengikuti ajaran agama Islam mengenai akikah.

Akeke biasanya akan dilaksanakan pada pagi hari atau sesudah sholat dzuhur, tapi
biasanya sesudah sholat isya. Upacara dimulai dengan membaca dzikir dan tahlil. Si bayi
kemudian di bawa ke tempat upacara untuk dicukur rambutnya. Rambut yang telah
dipotong, selanjutnya dikumpulkan dan ditimbang, untuk kemudian ayah si bayi akan
membeli emas setara dengan rambut yang telah dipotong tadi.

Tari-tarian

Tari merupakan gerakan yang dinamis dan indah yang dimainkan dengan penuh
isyarat yang terkandung dalam setiap gerakannya. Tari merupakan salah satu bentuk
kesenian yang bebeda-beda dalam setiap suku di Indonesia.

Salah satu tarian dari Betawi adalah tari Lenggang Nyai, tari ini terinspirasi dari
kehidupan Nyai Dasima. Nyai Dasima memberontak atas apa yang di lakukan oleh
suaminya (orang Belanda). Perjuangan atas hak-hak perempuan oleh Nyai Dasima
kemudian menjadi inspirasi dalam membuat tarian ini. Tarian ini biasanya diiringi dengan
musik gambang kromong. (Direktorat jendral kebudayaan Indonesia. 2014)

Selain Tari Lenggang Nyai, Betawi juga memiliki seni tari yang lain, yaitu tari
Renggong Manis. Tari ini merupakan tarian yang mengungkapkan kebahagiaan dan
kebersamaan remaja putri yang terdiri dari budaya Betawi, Arab, India, dan terutama
budaya Cina Klasik. (Direktorat jendral kebudayaan Indonesia.2014). Tarian ini biasa
dimainkan untuk menyambut tamu yang datang atau ketika ada sebuah acara resmi.
Dikarenakan tarian ini merupakan bentuk ungkapan kebahagiaan.

Bahasa

Terakhir tanggal 23 Juli 2009, DKI Jakarta meluncurkan kamus dialek Betawi,
selama hampir 33 tahun perjalanan Jakarta untuk mengembangkan dialek yang
berkembang, setelah produk kamus ungkapan dan dialek Betawi diterbitkan pada 1974.
Bahasa Melayu Betawi Dialek Bekasi-Depok-Tangerang merupakan anak bahasa dari
Melayu-Betawi ditambah dengan unsur-unsur Bahasa Sunda, Bahasa Bali, Bahasa Jawa,
Bahasa dari Cina Selatan (terutama Bahasa Hokkian), dan Bahasa Arab. Dialek bahasa ini
pada awalnya dipakai oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah pada masa-masa awal
perkembangan Batavia (Jakarta tempo dulu) dan sekitarnya. Dialek ini berkembang secara
alami dan tak ada struktur baku yang jelas yang membedakan antara bahasa Betawi Tengah
(DKI Jakarta) dan Betawi Ora (pinggiran) di sekitar Depok, Bogor dan Tangerang.
Bahasa di setiap suku memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain, suku Betawi
merupakan bahasa yang dekat dengan bahasa Indonesia, akan tetapi memiliki keunikan
tersendiri. Dalam suku betawi, huruf a di akhir kata biasanya di ganti menjadi e,
pengucapan e yang di maksud bukan e pada kata negara melainkan e dalam kata
emansipasi. Contoh kita menjadi kite, ana menjadi ane dan lain-lain.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Suku betawi merupakan sebutan untuk para penghuni daerah Jakarta dan sekitarnya,
suku ini banyak di kenal karena letaknya berada di pusat pemerintahan Negara Republik
Indonesia. Beberapa ahli menyebut bahwa Suku Betawi merupakan keturunan dari
perkawinan antar suku di Nusantara. Sebagian berpendapat jika suku Betawi telah ada
sejak lama. Eksistensi suku Betawi menurut sejarawan Sagiman MD telah ada serta
mendiami Jakarta dan sekitarnya sejak zaman batu baru atau pada zaman Neoliticum,
penduduk asli Betawi adalah penduduk Nusa Jawa sebagaimana orang Sunda, Jawa, dan
Madura.

Secara garis besar, kebudayaan dan kesenian etnis Betawi tumbuh dan berkembang di
kalangan rakyat secara spontan dengan segala kesederhanaannya. Oleh sebab itu, kesenian
Betawi dapat digolongkan sebagai kesenian rakyat. Keberadaban masyarakat Betawi
sebagai suku bangsa bisa disimak dari pengakuan mereka terhadap ciri-ciri budaya tertentu
seperti bahasa, dialek, dan kesenian. Tiga yang dianggap penting dalam fase kehidupan
orang Betawi, yaitu khitanan, kawinan, dan kematian. Adat hidup yang banyak bertopang
pada agama Islam lebih mengajarkan mereka untuk lebih mengingat-ingat hari kematian.
Ini merupakan ritual yang sarat akan unsur agamis.

3.2 Saran

Pada dasarnya setiap suku di Indonesia memiliki nilai yang baik untuk kehidupan,
selama aturan adat yang berlaku masih di pertahankan. Kebudayaan di Indonesia
mengajarkan tentang kehidupan yang sejalan dengan alam. Maka dari itu perlu adanya
penyelamatan kebudaayanan di Indonesia yang kini mulai tergusur oleh modernitas, yang
justru merusak moral. Sebagai para generasi muda indonesia kita memiliki kewajiban
dalam melestarikan budaya lokal.
DAFTAR PUSTAKA

Purbasari, Mita. 2010. Indahnya Betawi. HUMANIORA Vol 1(1): 1-11.

Adi, Windoro. 2010. Batavia 1740 :Menyisir Jejak Betawi. Jakarta. PT.

Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta. 2010.


Ngedelengin.http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/2047/Nge delengin. [Di
aksesmpada 9 September 2017]

Kania, Tjandra. 2006. Arsitektur Rumah Betawi Keturunan. Jurnal Ilmiah Arsitektur.
Karawaci. Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan. Universitas Pelita Harapan

Muhadjir Ed. 2000. Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya.Jakarta.

Said, Rusuna. 2009. Enskiklopedia Jakarta-Jilid 6. Jakarta: Lentera Abadi.

Yunus, A. dkk. 1993. Arti dan fungsi upacara tradisional daur hidup pada masyarakat Betawi,
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.