Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN KONDUKTOMETRI

senin, 05 oktober 2015

LAPORAN TETAP
INSTRUMEN DAN PENGUKURAN
KONDUKTOMETRI 1

Oleh: kelompok 2/2KC


Astinesia Himatuliza NIM: 061330400338
Fallen Apriyeni NIM: 061330400344
M. Nabil NIM: 061330400348
Mardian NIM: 061330400349
Muhammad Farhan NIM: 061330400351
Pusta Aryani NIM: 061330400353
Wahyu Sisilia Deviana NIM: 061330400359

Instruktur : Ir. Sutini Pujiastuti Lestari M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2014

KONDUKTOMETRI
I. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan daya hantar listrik suatu larutan.

II. ALAT YANG DIGUNAKAN


Alat yang digunakan
Konduktometer 660
Elektroda emmension cell dengan konstanta cell o,78
Magnetik stirrer
Gelas kimia 250ml, 100ml 5 buah
Pipet ukur 10ml
Labu ukur 100ml 2 buah
Pipet tetes
Kaca arloji
Corong
Spatula
Bahan yang digunakan
KCl
Larutan NaOH 0,1 N
Larutan HCL 0,1 N

III. DASAR TEORI


Pengukuran konduktivitas dapat juga digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi.
Titrasi konduktometri dapat dilakukan dengan dua cara dan tergantung pada frekuensi arus
yang digunakan. Jika arus frekuensinya bertambah besar, maka kapasitas dan induktif akan
semakin besar.
Konduktometri merupakan salah satu metode analisis yang berdasarkan daya hantar
larutan. Daya hantar ini bergantung pada jenis dan konsentrasi ion di dalam larutan. Menurut
hokum ohm arus (I) berbanding lurus dengan potensial listrik (E) yang digunakan, tetapi
berbanding terbalik dengan tahanan listrik (R).
I=E/R
G=I/R
Daya hantar (G) merupakan kebalikan dari tahan yang mempunyai satuan ohm atau
Siemens (S), bila arus listrik dialirkan ke suatu larutan melalui luas bidang elektroda (A) dan
berbanding terbalik dengan jarak kedua elektroda (I), maka:
G=I/R=kxA/I
Dimana:
A / I = tetapan sel
K = daya hantar arus (konduktivitas) dengan satuan SI ohm cm-1 atau s cm-1

Prinsip kerja
Prinsip kerja dari konduktometri ini adalah sel hantaran dicelupkan kedalam larutan
ion positif dan negative yang ada dalam larutan menuju sel hantaran menghasilkan sinyal
listrik berupa hambatan listrik larutan. Hambatan listrik dikonversikan oleh alat menjadi
hantaran arus listrik.

Daya Hantar Ekivalen (Equivalen Conductance)


Kemampuan suatu zat terlarut untuk menghantarkan arus listrik disebut daya hantar
ekivalen yang didefinisikan sebagai daya hantar satu gram ekivalen zat terlarut di antara dua
elektroda dengan jarak kedua electroda 1cm. Yang dimaksud dengan berat ekuivalen adalah
berat molekul dibagi jumlah muatan positif atau negatif

Pengukuran Daya Hantar Listrik


Pengukuran daya hantar memerlukan sumber listrik, sel untuk menyimpan larutan dan
jembatan (rangkaian elektronik) untuk mengukur tahanan larutan.

1. Sumber listrik
Hantaran arus DC (misal arus yang berasal dari batrei) melalui larutan merupakan
proses faradai, yaitu oksidasi dan reduksi terjadi pada kedua elektroda. Sedangkan arus AC
tidak memerlukan reaksi elektro kimia pada elektroda- elektrodanya, dalam hal ini aliran arus
listrik bukan akibat proses faradai. Perubahan karena proses faradai dapat merubah sifat
listrik sel, maka pengukuran konduktometri didasarkan pada arus nonparaday atau arus AC.

2. Tahanan Jembatan
Jembatan Wheatstone merupakan jenis alat yang digunakan untuk pengukuran daya
hantar.

3. Sel
Salah satu bagian konduktometer adalah sel yang terdiri dari sepasang elektroda yang
terbuat dari bahan yang sama. Biasanya elektroda berupa logam yang dilapisi logam platina
untuk menambah efektifitas permukaan elektroda.
IV. PROSEDUR KERJA
4.1 Kalibrasi konduktometer
Memasang sel konduktometer pada socket cond cell dengan socket berwarna hitam.
Memasang resistance thermometer pt-100 pada socket warna merah.
Menghidupkan alat konduktometer.
Mengecek harga konstanta cell pada elektroda emmension cell, memasukkan harga 1,00
pada cell const dan tekan tombol x1
Memasukkan harga temperature pada temp dengan menekan tombol temp.
Memasukkan harga koef temp, untuk larutan KCl 1,95, sedangkan untuk yang lain dapat
dilihat dari tabel, jika tidak ada dalam tabel masukkan harga 2.
Menggunakan frekuensi 2 KHz (tombol tidak ditekan)
Mengisi gelas kimia 50ml dengan KCl 1 N dan memasukkan elektroda ke dalamnya.
Mengatur temperatur larutan sesuai dengan tabel atau menakan tombol temp.
Memasukkan harga K pada suhu laruutan untuk menghitung konstanta cell (K)
K = K tabel pada temp T / (K) pengukuran
Mengkalibrasi telah selesai dan dicatat harga konduktivitas harga larutan KCl 1 N.
Menentukan konduktivitas larutan KCl 0,1 N, 0,05 N (sesuai instruksi) dan membandingkan
perhitungan konduktivitas secara teoritis dan menghitung persen kesalahan.

Tabel Harga o untuk Anion dan Kation


Kation o (S.cm2.mol-1) Anion o (S.cm2.mol-1)
H+ 349,8 OH- 198,3
Na+ 50,1 Cl- 76,3
K+ 73,5 I- 76,8
NH4 73,5 CH3COO- 40,9
C2O42- 74,2
HCO3 44,5

Tabel Harga K untuk penentuan Tetapan sel


T (C0) Ktabel (mS/cm) T (C0) Ktabel (mS/cm)
0 7,15 24 12,64
10 9,33 25 12,88
15 10,48 26 13,13
20 11,67 27 13,37
21 11,91 28 13,62
22 12,15 29 13,87
23 12,39 30 14,12

Zat C (mol/Liter) X 250C (mS/cm)


KNO3 0,001 0,142
0,01 1,33
0,1 12,0
HCl 0,001 0,421
0,01 0,13
0,1 39,1
1 332,0
LiCl 0,001 0,112
0,01 1,070
0,1 9,59
1 7,3
NH4Cl 0,001 1,43
0,01 12,9
1 111,2
NaOH 0,001 2.38
0,1 22,1

Rumus mencari konduktivitas teoritis


L ion + = o ion+ . konsentrasi . 1L/1000 cm3
L ion- = o ion- . konsentrasi . 1L/1000 cm3
1 larutan = L ion+ + L ion-

V. DATA PENGAMATAN

Nama Zat C (mol/L) L kond (ms/cm)


KCl 0,1 16,47
HCl 0,1 13,52
NaOH 0,1 20,00

T KCl = 250C
K pada tabel (250C) = 12,88 ms/cm
K pada pengukuran = 16,47 ms/cm
K = K tabel = 12,88 ms/cm = 0,782
K pengukuran 16,47 ms/cm

VI. PERHITUNGAN

6.1 Pengenceran larutan HCl 2M menjadi 0,1M 100 mL


M1 x V1 = M2 x V2
2M x V1 = 0,1M x 100mL
V1 = 5 mL

6.2 Pembuatan larutan NaOH 0,1M 100 mL


gr = M x V x BM
= 0,1 mmol/mL x 100 mL x 40 mg/mmol
= 400 mg
= 0,4 gram

6.3 Pembuatan larutan KCl 0,1 100 mL


gr = M x V x BM
= 0,1 mmol/mL x 100 mL x 74,55 mg/mmol
= 745,5 mg
= 0,7455 gram

6.4 Menghitung konsentrasi larutan NaOH


M = gr = 0,4185 gram = 0,1046 M
V x BM 0,1 L x 40 gr/mol

6.5 Menghitung konsentrasi larutan KCl


M = gr = 0,7477 gram = 0,1003 M
V x BM 0,1 L x 74,55 gr/mol

6.6 Konduktivitas KCl 0,1003 M


Hasil Praktik = 16,47 ms/cm
Menurut tabel
x : y = a : b
0,1 : 0,1046 = 22,1 : b
b = 0,1046 x 22,1 = 23,12 ms/cm
0,1
Menurut teoritis
o K+ = 73,5 S cm2/mol
o Cl- = 76,3 S cm2/mol
L K+ = o . C
1000
= 73,5 S cm2/mol x 0,1003 mol/L
1000 cm3/L
= 7,37 . 10-3 S cm-1
= 7,37 ms/cm
L Cl -
= o . konsentrasi
1000
= 76,3 S cm2/mol x 0,1003 mol/L
1000 cm3/L
= 7,65 . 10-3 S cm-1
= 7,65 ms/cm
L KCl = L K+ + L Cl-
= 7,37 + 7,65
= 15,02 ms/cm
% Kesalahan prakrik terhadap data tabel

% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100


L tabel

= 22,16 - 16,47 x 100


22,16
= 25,68 %

% Kesalahan prakrik terhadap teori


% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100
L tabel

= 15,02 - 16,47 x 100


15,05
= 9,65 %
6.7 Konduktivitas HCl 0,1 M
Menurut tabel = 39,1 ms/cm
Menurut praktik = 13,52 ms/cm
Konduktivitas teori
o H+ = 349,8 S cm2/mol
o Cl- = 76,3 S cm2/mol
L K+ = o . konsentrasi HCl
1000
2
= 349,8 S cm /mol x 0,1 mol/L
1000 cm3/L
= 3,498 . 10-3 S cm-1
= 34,98 ms/cm
L Cl- = o . konsentrasi
1000
= 76,3 S cm2/mol x 0,1003 mol/L
1000 cm3/L
= 7,63 . 10-3 S cm-1
= 7,63 ms/cm
L KCl = L K+ + L Cl-
= 34,98 + 7,63
= 42,61 ms/cm
% Kesalahan prakrik terhadap data tabel

% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100


L tabel
= 39,1 - 13,52 x 100
39,1
= 65,42 %
% Kesalahan prakrik terhadap teori

% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100


L tabel

= 42,61 - 13,52 x 100


13,52
= 68,27 %

6.8 Konduktivitas NaOH 0,1 M


Menurut tabel = 22,1 ms/cm
Konduktivitas NaOH 0,1046 M
Menurut tabel
x : y = a : b
0,1 : 0,1046 = 22,1 : b
b = 0,1046 x 22,1 = 23,12 ms/cm
0,1
Menurut teoritis
o Na+ = 50,1 S cm2/mol
o OH- = 198,3 S cm2/mol
L Na+ = o . konsentrasi NaOH
1000
2
= 50,1 S cm /mol x 0,1046 mol/L
1000 cm3/L
= 5,24 . 10-3 S cm-1
= 5,24 ms/cm
L OH- = o . konsentrasi
1000
2
= 198,3 S cm /mol x 0,1046 mol/L
1000 cm3/L
= 2,07 . 10-3 S cm-1
= 20,7 ms/cm
L NaOH = L Na+ + L OH-
= 5,24+ 20,7
= 25,94 ms/cm
% Kesalahan prakrik terhadap data tabel

% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100


L tabel

= 23,12- 20 x 100
23,12
= 13,49 %
% Kesalahan prakrik terhadap teori

% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100


L tabel

= 25,94 -20 x 100


25,94
= 22,90 %
VII. ANALISA PERCOBAAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa, setelah membuat larutan
KCl 0,1M, HCl 0,1M dan NaOH 0,1M yang akan diukur konduktivitasnya. Pengukuran
konduktivitas tersebut digunakna untuk mengkalibrasi alat. Berdasarkan hasil pengukuran
didapat hasil bahwa alat yang dikalibrasi masih dalam keadaan baik. Hal ini diketahui dari
nilai konstanta sel yang nilainya mendekati nilai yang ada di tabel refernsi.
Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa asam kuat dan basa kuat memiliki nilai
konduktivitas yang lebih besar dibandingkan asam lemah dan basa lemah kerena pada
umumnya larutan asam dan basa sangat elektrolit. Umumnya keelktrolitan suatu larutan
berkurang dari waktu ke waktu, sehingga kertika suatu larutan diukur konduktivitasnya pada
waktu yang berbeda maka nilainya pun berbeda pula. Daya hantar suatu larutan bergantung
pada jenis dan konsentrasi ion di dalam larutan.

VIII. KESIMPULAN
1. Semakin tinggi keelektrolitan suatu larutan maka nilai konduktivitasnya semakin tinggi.
2. Nilai konstanta sel adalah 0,782
3. Nilai konduktivitas
Secara praktikum
L KCl = 16,97 ms/cm
L HCl = 13,52 ms/cm
L NaOH = 20 ms/cm
Secara teoritis
L KCl = 15,02 ms/cm
L HCl = 42,61 ms/cm
L NaOH = 25,94 ms/cm
4. % Kesalahan
Secara praktikum
KCl = 25,68 %
HCl = 65,42%
NaOH = 13,49%
Secara teoitis
KCl = 9,65 %
HCl = 68,27%
NaOH = 22,90%

DAFTAR PUSTAKA

Tim lab Instrumen danPengukuran. 2014. Penuntun Praktikum Intrumen dan Pengukuran.
Politeknik Negeri Sriwijaya : Palembang.
Tim Penyusun Modul Instrumen dan Teknik Pengukuran. 2013. Instrumen dan Teknik
Pengukuran. Politeknik Negeri Sriwijaya : Palembang.
http://nuansa-harapan.blogspot.com/2011/12/konduktometri.html
http://namikazewand.blogspot.com/2012/01/konduktometri-2.html
LAPORAN PRAKTIKUN KROMOTOGRAFI GAS (GC)
I. TUJUAN - Dapat menjelaskan prinsip kromatografi gas. - Dapat
menganalisa sample yang sederhana de...

Makalah Kebakaran
NAMA : MURNI NIM :331 11 026 KELAS : I...

MAKALAH PENGOLAHAN AIR BERSIH


BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Air merupakan kebutuhan yang
paling utama bagi makhluk hidup. Man...

Contoh Pembahasan Laporan


Pada percobaan ini dikaji tentang penerapan hukum distribusi, dimana iodium yang
digunakan dilarutkan dalam dua pelarut berbeda yang tak c...

KONDUKTOMETRI
A. TUJUAN PERCOBAAN Menjelaskan prinsip konduktometri Melakukan
titrasi konduktometri Mencari hantaran ...

Contoh Laporan Praktikum Destilasi


Abstrak Percobaan ini bertujuan untuk mempraktekkan operasi distilasi kukus untuk
pengambilan miny...

Pemisahan Campuran Dengan Metode Evaporasi


Jika garam dicampur dengan air akan terbentuk larutan, larutan tersebut tidak dapat
dipisahkan dengan metode filtrasi maupun sentrifug...

LAPORAN HUKUM KEKEKALAN MASSA


HUKUM KEKEKALAN MASSA I. TUJUAN Setelah saya melakukan percobaan, saya
dapat menentukan...

Laporan Laju reaksi


BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia sekarang ini banyak reaksi yang
kita lakukan baik sadar maupun tidak sa...

PEMBAHASAN LAPORAN REAKSI HIDROGEN PEROKSIDA DENGAN ASAM


IODIDA
I. PEMBAHASAN Mencari Kesetaraan mL H2O2 dengan Na 2 S 2 O 3 Percobaan
ini bertujuan untuk mempelajari kinetika reaksi d...

Friday, 26 October 2012


KONDUKTOMETRI

A. TUJUAN PERCOBAAN

Menjelaskan prinsip konduktometri

Melakukan titrasi konduktometri

Mencari hantaran (konduktivitas) dari beberapa konsentrasi larutan

B. PERINCIAN KERJA

Kalibrasi konduktometri

Titrasi asam-basa

Hubungan antara konduktivitas dengan konsentrasi

C. ALAT YANG DIGUNAKAN

Konduktometer 660 dan Dosimat 665

Elektroda immersion cell dengan K= 0,77 cm-1

Resisten thermometer Pt-100

Gelas kimia 50 ml, 100 ml, 250 ml

Pipet ukur 10 ml, 5 ml

Pipet volume 10 ml, 5 ml

Labu takar 50 ml

Labu semprot dan Bola isap

D. BAHAN YANG DIGUNAKAN

KCl (khusus untuk immersion cell)

NaOH 1M dan 0,1N


HCl 0,1N

Aquadest dan Es

E. Dasar Teori
Konduktometri merupakan salah satu cara elektroanalisa, yang mengukur konduktivitas
larutan dengan elektroda khusus. Konduktivitas berbanding terbalik terbalik tahanan listrik dalam
larutan, yaitu semakin besar tahanan listrik, semakin kecil konduktivitas.

Konduktivitas mempunyai siemens per cm. konduktivitas larutan kimia lazimnya berkisar
antara 0,1-2000 mili siemens per cm (ms/cm). kalau dua elektroda direndam dalam larutan yang
mengandung ion-ion, maka akan mengalir arus listrik antara kedua elektroda tersebut, apabila
terdapat beda tegangan listrik antara kedua elektroda tersebut.

Arus mengalir dari katoda yang bermuatan negative ke anoda yang bermuatan positif.
Sebagai pembawa arus adalah ion-ion dalam larutan. Selisih potensial antara kedua elektroda
tersebut tidak boleh terlalu besar agar tidak terjadi elektrolisa.

Besarnya arus yang mengalir ditentukan oleh parameter-parameter sebagai berikut :

Beda tegangan antara kedua elektroda.

Konsentrasi ion-ion.

Sifat ion seperti besarnya muatan, derajat disosiasi, besarnya ion, kompleksasi dengan molekul lain
dan sebagainya.

Suhu larutan.

Luas permukaan masing-masing elektroda.

Jarak antara katoda dan anoda.

Semakin besar arus makin besar pula konduktivitas K. Luas permukaan elektroda dan jarak
antara katoda dan anoda merupakan parameter yang tetap, karena parameter-parameter tersebut
bergantung pada rancangan elektroda. Oleh karena itu setiap elektroda mempunyai factor tersendiri
yang dimasukkan dalam perhitungan konduktivitas (cell constant K/cm).

Pada permukaan elektroda dapat terjadi tegangan lebih (over voltage) yang tidak
sebanding lagi dengan arus dan konsentrasi ion. Untuk mencegah tegangan lebih tersebut
perbukaan elektroda dilapis dengan lapisan platinum yang halus dan aktif. Pelapisan elektroda
dengan platinum disebut platinizing.

Parameter harus dipertahankan tetap sama selama pengukuran konduktivitas adalah suhu
larutan. Sebaiknya digunakan wadah titrasi yang dindingnya berlapis dua, sehingga dalam dinding
tersebut dapat dialirkan air pada suhu tertentu dari thermostat.
Perubahan konduktivitas terhadap suhu berbeda-beda untuk setiap senyawa. Setiap
senyawa mempunyai koefisien suhu. Hubungan antara konduktivitas K pada suhu 20 oC dengan
konduktivitas K pada suhu noC dapat dilihat pada persamaan sebagai berikut :

dimana:

Untuk menghitung koefisien suhu digunakan rumus :

Koefisien suhu bergantung pula pada konsentrasi zat. Koefisien suhu dapat ditentukan
sendiri dengan mengukur konduktivitas pada suhu 20 oC dan pada suhu yang lain (misalnya 30 C).

Konduktometer metrohm mengukur konduktivitas dengan arus AC (alternative current)


untuk mencegah terjadinya polarisasi lektrida. Oleh karena itu frekuensi dari arus tersebut perlu
diatur sesuai dengan konduktivitas sampel. Terdapat dua pilihan frekuensi sebagai berikut :

Tombol FREQ tidak ditekan : Frekuensi 2000 Hertz (2 kHz). Frekuensi tinggi dipakai untuk cuplikan
yang mempunyai konduktivitas yang tinggi (lebih dari 100 S/cm), selain itu untuk titrasi
konduktometri.

Tombol FREQ ditekan : Frekuensi 300 Hertz (300 Hz) untuk konduktivitas dibawah 1 mS/cm.

Jenis elektroda konduktometri (measurung cell) harus dipilih sesuai dengan konduktivitas
dari cuplikan. Elekttroda yang mempunyai tetapan rendah sesuai untuk pengukuran konduktivitas
yang rendah, sebaliknya elektroda dengan tetapan tinggi sesuai untuk konduktivitas yang tinggi.

Suhu dikompensasikan secara otomatis dengan sensor Pt-100 atau oleh operatornya
dengan menekan tombol TEMP, lalu mengatur suhu cuplikan, serta koefisien suhu cuplikan. Daerah
pengukuran (measuring range) diatur oleh alat secara otomatis, kecuali bila tombol RANGE ditekan.

Apabila kita ingin membaca harga yang konduktivitas secara teliti, tetapi harga
konduktivitas sering berubah, sehingga keluar dari daerah yang telah diatur, maka kita menaikkan
harga konduktivitas tersebut hingga berada dipertengahan daerah pengukuran.

Konduktometri ini merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar listrik suatu
larutan. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan konsentrasi ion di dalam
larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion di dalam larutan ion yang
mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar. Daya hantar listrik (G) merupakan
kebalikan dari tahanan (R), sehingga daya hantar listrik mempunyai satuan ohm-1 . Bila arus listrik
dialirkan dalam suatu larutan mempunyai dua elektroda, maka daya hantar listrik (G) berbanding
lurus dengan luas permukaanelektroda (A) dan berbanding terbalik dengan jarak kedua elektroda

G = l/R = k (A / l)

dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm -1 cm -1. Daya Hantar Ekivalen
(Equivalen Conductance) . Kemampuan suatu zat terlarut untuk menghantarkan arus listrik disebut
daya hantar ekivalen (^) yang didefinisikan sebagai daya hantar satu gram ekivalen zat terlarut di
antara dua elektroda dengan jarak kedua electroda 1cm. Yang dimaksud dengan berat ekuivalen
adalah berat molekul dibagi jumlah muatan positif atau negatif. Contoh berat ekivalen BaCl2 adalah
BM BaCl2 dibagi dua. Volume larutan (cm3) yang mengandung satu gram ekivalen zat terlarut
diberikan oleh,

V = 100 / C

dengan C adalah konsentrasi (ekivalen per cm-3), bilangan 1000 menunjukkan 1 liter = 1000 cm3.
Volume dapat juga dinyatakan sebagai hasil kali luas (A) dan jarak kedua elektroda (1).

V= l A

Dengan l sama dengan 1 cm

V = A = 100 / C

Substitusi persamaan ini ke dalam persamaan G diperoleh,

G = 1/R = 1000k/C

Menurut hukum Ohm I = E/Reaksi; di mana: I = arus dalam ampere, E = tegangan dalam
volt, Reaksi = tahanan dalam ohm. Hukum di atas berlaku bila difusi dan reaksi elektroda tidak
terjadi. Konduktansi sendiri didefinisikan sebagai kebalikan dari tahanan sehingga I = EL. Satuan dari
hantaran (konduktansi) adalah mho. Hantaran L suatu larutan berbanding lurus pada luas
permukaan elektroda a, konsentrasi ion persatuan volume larutan Ci, pada hantaran ekivalen ionik
S1, tetapi berbanding terbalik dengan jarak elektroda d, sehingga:

L = a/d x S Ci S1

Tanda S menyatakan bahwa sumbangan berbagai ion terhadap konduktansi bersifat aditif. Karena a,
dan d dalam satuan cm, maka konsentrasi C tentunya dalam ml. Bila konsentrasi dinyatakan dalam
normalitas, maka harus dikalikan faktor 1000. nilai d/a = S merupakan faktor geometri selnya dan
nilainya konstan untuk suatu sel tertentu sehingga disebut tetapan sel. Untuk mengukur
konduktivitas suatu larutan, larutan ditaruh dalam sebuah sel, yang tetapan selnya telah ditetapkan
dengan kalibrasi dengan suatu larutan yang konduktivitasnya diketahui dengan tepat, misal, suatu
larutan kalium klorida standar. Sel ditaruh dalam satu lengan dari rangkaian jembatan Wheatstone
dan resistansnya diukur. Pengaliran arus melalui larutan suatu elektrolit dapat menghasilkan
perubahan-perubahan dalam komposisi larutan di dekat sekali dengan lektrode-elektrode, begitulah
potensial-potensial dapat timbul pada elektrode-elektrode, dengan akibat terbawanya sesatan-
sesatan serius dalam pengukuran-pengukuran konduktivitas, kecuali kalau efek-efek polarisasi
demikian dapat dikurangi sampai proporsi yang terabaikan

Daya hantar ekivalen (^) akan sama dengan daya hantar listrik (G) bila 1 gram ekivalen
larutan terdapat di antara dua elektroda dengan jarak 1 cm.^ = 1000k/C Daya hantar ekivalen pada
larutan encer diberi simbol yang harganya tertentu untuk setiap ion. Pengukuran Daya Hantar Listrik.
Pengukuran daya hantar memerlukan sumber listrik, sel untuk menyimpan larutan dan jembatan
(rangkaian elektronik) untuk mengukur tahanan larutan.

Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur hanya bergantung pada ion-
ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Bila larutan suatu elektrolit diencerkan,
konduktivitas akan turun karena lebih sedikit ion berada per cm3 larutan untuk membawa arus. Jika
semua larutan itu ditaruh antara dua elektrode yang terpisah 1 cm satu sama lain dan cukup besar
untuk mencakup seluruh larutan, konduktans akan naik selagi larutan diencerkan. Ini sebagian besar
disebabkan oleh berkurangnya efek-efek antar-ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat dan oleh
kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah.

Penambahan suatu elektrolit kepada suatu larutan elektrolit lain pada kondisi-kondisi yang
tak menghasilkan perubahan volume yang berarti akan mempengaruhi konduktans (hantaran)
larutan, tergantung apakah ada tidaknya terjadi reaksi-reaksi ionik. Jika tak terjadi reaksi ionik,
seperti pada penambahan satu garam sederhana kepada garam sederhana lain (misal, kalium klorida
kepada natrium nitrat), konduktans hanya akan naik semata-mata. Jika terjadi reaksi ionik,
konduktans dapat naik atau turn; begitulah pada penambahan suatu basa kepada suatu asam kuat,
hantaran turun disebabkan oleh penggantian ion hidrogen yang konduktivitasnya tinggi oleh kation
lain yang konduktivitasnya lebih rendah. Ini adalah prinsip yang mendasari titrasi-titrasi
konduktometri yaitu, substitusi ion-ion dengan suatu konduktivitas oleh ion-ion dengan
konduktivitas yang lain.

Biasanya konduktometri merupakan prosedur titrasi, sedangkan konduktansi bukanlah


prosedur titrasi. Metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi jika perbedaan
antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus
diketahui. Berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak elektroda harus tetap. Hantaran
sebanding dengan konsentrasi larutan pada temperatur tetap, tetapi pengenceran akan
menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linear lagi dengan konsentrasi. Hendaknya
diperhatikan pentingnya pengendalian temperatur dalam pengukuran-pengukuran konduktans.
Sementara penggunaan termostat tidaklah sangat penting dalam titrasi konduktometri, kekonstanan
dalam temperatur dituntut, tetapi biasanya kita hanya perlu menaruh sel konduktivitas itu dalam
bejana besar penuh air pada temperatur laboratorium. Penambahan relatif (dari) konduktivitas
larutan selama reaksi dan pada penambahan reagensia dengan berlebih, sangat menentukan
ketepatan titrasi; pada kondisi optimum kira-kira 0,5 persen. Elektrolit asing dalam jumlah besar,
yang tak ambil bagian dalam reaksi, tak boleh ada, karena zat-zat ini mempunyai efek yang besar
sekali pada ketepatan. Akibatnya, metode konduktometri memiliki aplikasi yang jauh lebih terbatas
ketimbang prosedur-prosedur visual, potensiometri ataupun amperometri.

Titrasi Konduktometri
Titrasi konduktometri dapat dilakukan untuk menentukan kadar ion,
dengan syarat ion tersebut terlibat dalam reaksi kimia sehingga terjadi
penggantian satu jenis ion dengan yang lain yang berarti terjadi perubahan
konduktivitas. Misalnya titrasi HCl dengan NaOH berdasarkan persamaan sebagai
berikut :

H+ + Cl- + OH- + Na+ H2O + Cl- + Na+

Sebelum ditambah NaOH, didalam larutan terdapat ion H+ dan Cl- yang
masing-masing mempunyai harga konduktivitas molar ( 25 C ) sebesar 349,8
cm2/mol dan 76,3 cm2/mol. Pada penambahan NaOH, terjadi reaksi antara
H+dengan OH- membentuk H2O, sehingga jumlah H+ didalam larutan berkurang
sedangkan jumlah NaOH bertambah. Na+mempunyai harga konduktivitas molar
50,1 S cm-1/mol yang jauh lebih kecil dari H+ sehingga harga konduktivitas total
dari larutan turun. Pada titik akhir titrasi, H+ dalam larutan telah bereaksi
seluruhnya dengan OH-, sehingga penambahan NaOH lebih lanjut akan menaikkan
harga konduktivitas total larutan, karena terdapat OH- dengan konduktivitas
molar 198,3 S cm-1/mol.

Titik akhir dapat ditentukan dalam grafik titrasi sebagai berikut :


Titrasi konduktometri sangat sesuai untuk asam atau basa lemah, karena
penggunaan potensiograph/titroprocessor dengan elektroda kaca menghasilkan
titik akhir yang kurang jelas. Namun titrasi konduktometri tidak dapat dilakukan
dalam cuplikan yang mengandung konsentrasi ion lain yang tinggi, karena titik
akhir menjadi kurang tajam. Titrasi konduktometri sangat berguna untuk
melakukan titrasi pengendapan. Keuntungan titrasi konduktometri adalah grafik
titrasi seluruhnya digunakan untuk menentukan titik akhir sedangkan pada kurva
titrasi potensiometri titik akhir ditentukan dari bentuk grafik dekat titik akhir saja.
Kepekaan cara konduktometri jauh lebih baik. Titrasi konduktometri masih
memberi titik akhir yang jelas untuk asam atau basa lemah dalam konsentrasi
encer, sedangkan dengan potensiometri titik akhir tidak jelas lagi.
Pemeliharaan Elektroda
Elektroda yang kering sebelum dipakai direndam sebentar dalam etanol
lalu dibilas dengan air. Sehabis dipakai elektroda dibilas lagi dengan air lalu
disimpan lagi dalam air. Elektroda yang akan disimpan untuk jangka waktu yang
panjang harus dikeringkan lalu disimpan kering. Sekali-sekali elektroda perlu
dilapis ulang dengan platinum (platinizing) sesuai dingin procedure dalam manual.

Secara berkala dan sehabis setiap kali platinizing elektroda perlu


dikalibrasi ulang dengan larutan kalibrasi yang telah disediakan oleh metrohm,
lasimnya dengan larutan kalibrasi KCl. Tetapan elektroda distel pada 1,0 x 1 di
konduktometer, lalu koefisien suhu 2,0 untuk KCl 1 mol/liter. Tetapan elektroda
dihitung dengan rumus :

F. Data pengamatan
a. Mencari Hantaran (Konduktivitas = G) dari beberapa konsentrasi larutan asam
atau basa

Konsentrasi Konduktivitas Larutan


NO
NaOH (M)

1 1 199,9

2 0,5 138,5

3 0,1 30,6

4 0,05 15,69

5 0,01 3,32

b. Titrasi NaOH dengan HCl untuk penentuan konduktivitas

NO. Volume NaOH ( ml ) Konduktivitas ( mS )

1 0 2,13

2 1 1,810

3 2 1,556

4 3 1,373

5 4 1,157

6 5 0,942

7 6 0,714

8 7 0,654
9 8 0,730

10 9 0,844

11 10 0,964

12 11 0,109

13 12 1,228

14 13 1,344

15 14 1,471

16 15 1,605

17 16 1,727

18 17 1,848

19 18 1,976

20 19 2,10

21 20 2,12

G. PERHITUNGAN

a. Pembuatan Larutan NaOH

Pembuatan larutan HCl 1M

V1 . N1 = V2 . N2

50 mL . 1M = V2 1M

V2 = 50 ml

Pembuatan larutan HCl 0,5M


V1 . N1 = V2 . N2

100 mL . 0,5M = V2 1M

V2 = 50 ml

Pembuatan larutan HCl 0,1M

V1 . N1 = V2 . N2

100 mL . 0,1M = V2 1M

V2 = 10 ml

Pembuatan larutan HCl 0,05M

V1 . N1 = V2 . N2

100 mL . 0,05M = V2 1M

V2 = 5 ml

Pembuatan larutan HCl 0,01M

V1 . N1 = V2 . N2

100 mL . 0,01M = V2 1 M

V2 = 1 ml

Penentuan Konsentrasi HCl

Dari kurva diperoleh volume NaOH saat terjadi titk akhir sebesar 7 ml.

Dik : V1 = 7 ml

V2 = 10 ml

N1 = 0,1

Dit : N2?

Penyelesaian :
V1 N1 = V2 N2

7 ml x 0,1 N = 10 ml x N2

N2 = 0,07 N

Normalitas HCl = Molaritasnya= 0,07 M

Jadi, dari perhitungan diperoleh konsentrasi HCl sebesar 0,07 M

H. PEMBAHASAN

Percobaan yang kami lakukan adalah titrasi konduktometri untuk mengukur daya hantar
listrik, titrasi konduktometri dapat dilakukan untuk larutan yang tergolong kedalam larutan elektrolit
saja. Sedangkan untuk larutan nonelektrolit kita tidak dapat menggunakan titrasi konduktometri.
Titrasi konduktometri ini sangat berhubungan dengan daya hantar listrik, sehingga akan
berhubungan juga dengan adanya ion ion dalam larutan yang berperan untuk menghantarkan arus
listrik dalam larutan. Arus listrik ini tidak akan bisa melewati larutan yang tidak terdapat ion ion,
sehingga larutan non elektrolit tidak bisa menghantarkan arus listrik.

Dalam titrasi konduktometri yang kami lakukan penentuan daya hantar listrik sangat
berhubungan dengan konsentrasi dan temperatur dari larutan yang akan ditentukan daya hantar
listriknya. Sehingga kita harus menjaga temperature larutan agar berada dalam keadaan konstan,
sehingga kita dapat memebedakan perbedaan dari daya hantar larutan berdasarkan perbedaan
konsentrasi dari larutan tersebut. Jika temperatur berubah ubah maka bisa saja konsentrasi yang
besar seharusnya memilki daya hantar yang besar tetapi malah sebaliknya yaitu memiliki daya
hantar listrik yang kecil karena pengaruh dari turunnya suhu. Sehingga ion ion dalam larutan tidak
dapat bergerak dengan bebas.

Pada awal percobaan ini kami menentukan konduktivitas setiap larutan HCl dengan
konduktometer. Kami menggunakan larutan dengan konsentrasi yang berbeda yaitu larutan HCl 1 M,
0,5 M, 0,1, 0,005, dan 0,01 M, berikut kurvanya
Dari kurva diatas terlihat pengaruh dari konsentrasi larutan HCl terhadap nilai daya hantar
listrik dalam suatu larutan, semakin tinggi konsentrsi HCl dalam larutan maka nilai daya hantar listrik
yang dihasilkan akan semakin besar. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa Semakin
besar jumlah ion dari suatu larutan maka akan semakin tinggi nilai daya hantar listriknya
(konduktivitas).Hal lain yang mempengaruhi daya hantar listrik selain konsentrasi adalah jenis
larutan.

Selanjutnya melakukan titrasi konduktometri. Titrasi konduktometri dilakukan dengan


menggunakan alat konduktometer untuk mempermudah dalam pengukuran konduktansi suatu
larutan. Prinsip kerja konduktometer adalah bagian konduktor (elektroda) dimasukkan ke dalam
larutan akan menerima rangsang dari suatu ion-ion yang menyentuh permukaan konduktor, lalu
hasilnya akan diproses dan sebagai outputnya berupa angka konduktansi. Semakin banyak
konsentrasi suatu ion dalam larutan maka semakin besar nilai daya hantarnya karena semakin
banyak ion-ion dari larutan yang menyentuh konduktor dan semakin tinggi suhu suatu larutan maka
semakin besar nilai daya hantarnya, hal ini karena saat suatu partikel berada pada lingkungan yang
suhunya semakin bertambah maka pertikel tersebut secara tidak lansung akan mendapat tambahan
energi dari luar dan dari sinilah energi kinetik yang dimiliki suatu partikel semakin tinggi (gerakan
molekil semakin cepat).

Penambahan titran dalam praktikum dilakukan secara bertahap menggunakan dosimat


Setiap penambahan 1 mL titran dilakukan pencatatan konduktansi larutan tersebut. Hal ini
dimaksudkan untuk memudahkan dalam pembuatan grafik titrasi. Setelah penambahan titran
larutan dihomogenkan menggunakan stirer magnetik. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat
terjadinya reaksi pada larutan sehingga semua titran yang ditambahkan benar-benar sudah bereaksi
dan konduktansinya yang terukur sudah representatif atau mewakili konduktansi disetiap bagian
larutan. Selanjutnya elektroda dari konduktometer dicelupkan ke dalam larutan dan terukur
konduktansinya. Elektroda tersebut dibersihkan dengan akuades dari sisa larutan pada pengukuran
sebelumnya.

Pada titrasi konduktometri ini kami menggunakan Titrasi asam kuat- basa kuat Sebagai
contoh larutan HCl dititrasi oleh NaOH. Kedua larutan ini adalah penghantar listrik yang baik. Kurva
titrasinya ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Dari kurva terlihat pada volume NaOH dari 0 ml sampai 7 ml terlihat konduvitas larutan
semakin turun hal ini terjadi karena pada volume ini Pada penambahan NaOH, terjadi reaksi antara
H+ dengan OH- membentuk H2O, sehingga jumlah H+ didalam larutan berkurang sedangkan jumlah
NaOH bertambah. Na+ mempunyai harga konduktivitas molar 50,1 S cm-1/mol yang jauh lebih kecil
dari H+ sehingga harga konduktivitas total dari larutan turun. Pada titik akhir titrasi, H+ dalam larutan
telah bereaksi seluruhnya dengan OH-, sehingga penambahan NaOH lebih lanjut akan menaikkan
harga konduktivitas total larutan, karena terdapat OH- dengan konduktivitas molar 198,3 S cm-1/mol.

Dari hasil praktikum diketahui pada saat terjadi titik akhir titrasi Volume titran sebanyak 7
ml dan konduktivitas larutan sebesar 0,6 Ms/cm, sehingga diperoleh konsentrasi HCl sebesar 0,07
dari hasil perhitungan.

Pada percobaan masih ada penyimpangan, namun penyimpangan ini masih relatf kecil
sehingga diabaikan. Karena konsentrasi HCl yang dibuat dengan cara pengenceran tidak sama
nilainya yang diuji dengan metode titrasi konduktometri. Dimana diketahui Konsentrasi HCl dengan
metode pengenceran sebesar 0,1 namun setelah diuji dengan titrasi koduktometri konsentrasi HCl
sebesar 0,7. Adapun penyebab terjadinya penyimpangan ini disebabkan antara lain:

1. Praktikan kurang terampil dalam mengukur volume dengan menggunakan pipet.


2. Kesalahan dalam melakukan pengenceran.

Kesimpulan

1. Semakin tinggi konsentrasi NaOH dalam larutan maka akan semakin tinggi konduktifitasnya.

2. Konsentrasi dan temperature larutan sangat mempengaruhi besarnyanilai daya hantar listrik yang
dihasilkan.

3. Dari beberapa konsentrasi HCl diperoleh konduktivitasnya sebagai berikut:

a. HCl 1 M = 199,9 ms/cm

b. HCl 0,5 M = 138,5 ms/cm

c. HCl 0,1 M = 30,6 ms/cm

d. HCl 0,05 M = 15,69 ms/cm

e. HCl 0,01 M = 3,32 ms/cm

4. Semakin besar jumlah ion dari suatu larutan maka akan semakin tinggi nilai daya hantar listriknya
(konduktivitas).

5. Dari hasil titrasi diperoleh konsentrasi HCl sebesar 0,7.

I. DAFTAR PUSTAKA
Buku Panduan Praktikum Analisis Instrumentasi, Politeknik Negeri Ujung Pandang
Tahun 2004 dari File PEDC Bandung.
Laporan praktikum Konduktometri

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Kimia Analisis Instrumen dengan judul Konduktometri disusun oleh :

Nama : Syamsumarlin

NIM : 081304061

Kelas : A

Kelompok : 1

Telah diperiksa oleh asisten dan coordinator asisten dan dinyatakan diterima.

Makassar, Januari 2011

Koordinator Asisten Asisten

Ilham Nur Iman Lukman

Mengetahui,

Dosen Penanggung Jawab

Maryono, S.Si., M,Si., Apt., M.M.

A. Judul Percobaan

Konduktometri

B. Tujuan Percobaan

Untuk mengetahui daya hantar listrik suatu larutan.


C. Landasan Teori

Titrasi konduktometri merupakan metode analisa kuantitatif yang didasarkan pada perbedaan harga
konduktansi masing-masing ion. Dalam konduktometri diperlukan sel konduktometrinya, yaitu alat
mengukur tahanan sel. Namun titrasi ini kurang bermanfaat untuk larutan dengan konsentrasi ionik
yang terlalu tinggi (Muizliana, 2010).

Konduktometri merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar listrik suatu larutan. Daya
hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan konsentrasi ion di dalam larutan. Daya
hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion di dalam larutan ion yang mudah bergerak
mempunyai daya hantar listrik yang besar. Daya hantar listrik (G) merupakan kebalikan dari tahanan
, sehingga daya hantar listrik mempunyai satuan ohm-1. Bila arus listrik dialirkan ke dalam suatu
larutan melalui dua electrode, maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus dengan luas bidang luas
bidang electrode, maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus dengan luas bidang electrode (A) dan
berbanding terbalik dengan jarak kedua electrode (l). jadi,

Dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm-1cm-1 (Tim Dosen Kimia Analitik, 2010).

Biasanya konduktometri merupakan prosesur titrasi, sedangkan konduktometri bukanlah prosedur


titrasi. Metode konduktasi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi jika perbedaan antara
konduktasi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus diketahui.
Berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak elektroda harus tetap, tetapi pengenceran akan
menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linear dengan konsentrasi (Khopkar, 2008).

Titrasi konduktometri sangat berguna bila hantaran sebelum dan sesudah reaksi cukup banyak
berbeda. Metode ini kurang bermanfaat untuk larutan dengan konsentrasi ionic terlalu tinggi,
misalkan titrasi Fe3+ dengan KMnO4, dimana perubahan hantaran sebelum dan sesudah titik
ekivalen terlalu kecil dibandingkan besarnya konduktasi total (Khopkar, 2008).

Larutan ada dua jenis yaitu larutan elektrolit dan nonelektrolit. Larutan elektrolit sering kali
diklasifikasikan berdasarkan kemampuannya dalam menghantarkan arus listrik digolongkan ke
dalam elektrolit kuat, dan elektrolit lemah. Elektrolit kuat adalah suatu senyawa bila dilarutkan
dalam pelarut (misalnya air) akan menghasilkan larutan yang dapat menghantarkan arus listrik
dengan baik. Sedangkan, elektrolit lemah adalah elektrolit yang sifat penghantaran listriknya buruk.
Suatu elektrolit dapat berupa asam, basa, dan garam (Scribd, 2010).

Konduktivitas suatu larutan elektrolit pada setiap temperatur hanya bergantung pada ion-ion yang
ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Bila larutan suatu elektrolit diencerkan, konduktivitas akan
turun karena lebih sedikit ion berada per cm3 larutan untuk membawa arus. Jika semua larutan itu
ditaruh antara dua elektrode yang terpisah 1 cm satu sama lain dan cukup besar untuk mencakup
seluruh larutan, konduktans akan naik selagi larutan diencerkan. Ini sebagian besar disebabkan oleh
berkurangnya efek-efek antar-ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat oleh kenaikan derajat disosiasi
untuk elektrolit-elektrolit lemah (Muizliana, 2010).

Untuk elektrolit kuat, nilai batas dari konduktivitas molar, Ao, dapat ditentukan dengan meneruskan
pengukuran sampai konsentrasi-konsentrasi rendah dan lalu meng-ekstrapolasi grafik antara
konduktivitas terhadap konsentrasi, sampai ke konsentrasi nol. Untuk elektrolit lemah seperti asam
asetat dan ammonia metode ini tidak dapat digunakan, karena disosiasinya adalah jauh dari
sempurna pada konsentrasi terendah yang dapat diukur dengan baik (~10-14 M). Namun,
konduktans batas ini bisa juga dihitung atas dasar hokum migrasi tak bergantung (independen) dari
ion (Svehla, 1990).

Aliran listrik dalam suatu elektrolit akan memenuhi hukum Ohm, yang menyatakan bahwa: besarnya
arus listrik (I ampere) yang mengalir melalui larutan sama dengan perbedaan potensial (V volt)
dibagi dengan tahanan (R ohm). Secara matematika hukum Ohm akan dapat ditulis sebagai

(Scribd, 2010).

Tahanan, R, dari suatu penghantar listrik berbanding lurus dengan panjangnya, l, dan berbanding
terbalik dengan luas penampangnya, A

Dengan r, tahanan jenis. Jika R dinyatakan dalam ohm (W), l dalam meter (m) dan A dalam m2, maka
satuan dari r adalah Wm (Ahmad, 2001).

Menurut Scribd (2010), Besarnya daya hantar bergantung pada beberapa faktor, antara lain:

1. Jumlah partikel-partikel bermuatan dalam larutan {(+)&(-)}

2. Jenis ion yang ada

3. Mobilitas ion

4. Media/pelarutnya

5. Suhu

6. Gaya tarik menarik ion (+) dan (-)

7. Jarak elektroda

D. Alat dan Bahan

a) Alat

1) Konduktometer

2) Gelas piala 250 mL

3) Pipet volume 25 mL

4) Erlenmeyer 250 mL

5) Buret 50 mL
6) Magnetik stirer

b) Bahan

1) Larutan NaOH 0,1 M

2) Larutan HCl 0,1 M

E. Cara Kerja

1. Menyiapkan konduktometer dengan sumber arus

2. Memipet 25 mL HCl ke dalam Erlenmeyer

3. Mengukur daya hantarnya dengan menggunakan konduktometer yang telah disiapkan


tersebut

4. Mencatat konduktans yang ditunjukkan oleh alat yang telah disiapkan tersebut

5. Melakukan titrasi dengan larutan NaOH 0,1 M dan setiap penambahan 3 mL, mencatat
perubahan konduktans dari larutan ang diukur

6. Melakukan titrasi sampai volume NaOH sekitar 50 mL

7. Membuat kurva dengan memplot nilai konduktans vs volume NaOH

8. Menentukan titik ekivalennya

F. Hasil Pengamatan

Volume NaOH

Daya Hantar (ms)

19,9

20,0

16,4

12

15,6
15

13,7

18

11,8

21

10,2

24

7,48

27

6,47

30

5,52

33

4,61

36

3,76

39

3,86

42

4,15

45

4,41

48

4,67

G. Analisis Data

Dik : lo H+ = 349,8
lo Cl- = 349,8

V HCl = 25 mL

V TE = 24 mL

M HCl = 0,1 M

Dit : sampai = .?

Peny :

(lo H+ + lo Cl-)

1. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 25 mL + 0 mL

= 25 mL

C1 = 0,1 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,044 ohm-1

2. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 25 mL + 3 mL

= 28 mL

C2 = 0,0893 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0396 ohm-1

3. n HCl = VHCl x [HCl]


= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 28 mL + 3 mL

= 31 mL

C3 = 0,0806 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0357 ohm-1

4. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 31 mL + 3 mL

= 34 mL

C4 = 0,0735 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0326 ohm-1

5. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 34 mL + 3 mL

= 37 mL

C1 = 0,0675 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0299 ohm-1

6. n HCl = VHCl x [HCl]


= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 37 mL + 3 mL

= 40 mL

C6 = 0,0625 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0277 ohm-1

7. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 40 mL + 3 mL

= 43 mL

C7 = 0,05814 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0258 ohm-1

8. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 43 mL + 3 mL

= 46 mL

C8 = 0,0543 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0241 ohm-1

9. n HCl = VHCl x [HCl]


= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 46 mL + 3 mL

= 49 mL

C9 = 0,0510 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0226 ohm-1

10. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 49 mL + 3 mL

= 52 mL

C10 = 0,0481 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0213 ohm-1

11. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 52 mL + 3 mL

= 55 mL

C11 = 0,04545 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0202 ohm-1

12. n HCl = VHCl x [HCl]


= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 55 mL + 3 mL

= 58 mL

C12 = 0,0431 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0191 ohm-1

13. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 58 mL + 3 mL

= 61 mL

C13 = 0,0409 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0182 ohm-1

14. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 61 mL + 3 mL

= 64 mL

C14 = 0,0390 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,01793 ohm-1

15. n HCl = VHCl x [HCl]


= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 64 mL + 3 mL

= 67 mL

C15 = 0,0373 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0165 ohm-1

16. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 67 mL + 3 mL

= 70 mL

C16 = 0,0357 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0158 ohm-1

17. n HCl = VHCl x [HCl]

= 25 mL x 0,1 M

= 2,5 mmol

Vtot = 70 mL + 3 mL

= 73 mL

C17 = 0,0343 M

(lo H+ + lo Cl-)

(349,8 + 76,3)

= 0,0152 ohm-1
GRAFIK HUBUNGAN VOLUME NaOH DAN KONDUKTANS

H. Pembahasan

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui daya hantar listrik suatu larutan. Konduktivitas suatu
larutan elektrolit bergantung pada ion-ion yang ada dalam konsentrasinya. Pada percobaan ini, sel
konduktansi dibilas dengan aquades agar alat yang digunakan bebas dari ion-ion yang mengganggu
serta untuk menetralkan alat sehingga tidak dipengaruhi oleh pengukuran sebelumnya.

Pada percobaan ini, dilakukan penentuan titik ekuivalen antara larutan HCl dan larutan NaOH
dimana kedua larutan ini, merupakan penghantar listrik yang baik.

Setiap proses titrasi, (penambahan NaOH 3 mL) dilakukan proses pengadukan dengan magnetik
stirer. Hal ini dilakukan agar dapat mengoptimalkan kemampuan daya hantar listriksehingga ionnya
dapat menyebar merata.

Dari hasil pengamatan diperoleh konduktans larutan semakin kecil dan saat volume NaOH yang
ditambahkan sebanyak 39 mL, terjadi kenaikan konduktans yang menandai tercapainya titik
ekivalen.Daya hantar listrik menurun sampai titik ekivalen tercapai karena jumlah H+ dalam larutan
semakin berkurang sedangkan daya hantar OH- bertambah setelah titik ekivalen (TE) tercapai
karena jumlah OH- dalam larutan bertambah.

Menurut teori, titik ekivalen (TE) tercapai pada volume 24 mL. Sedangkan dari hasil percobaan
diperoleh titik ekivalen (TE) pada volume 39 mL. Perbedaan ini dapat terjadi akibat beberap faktor
yaitu kualitas bahan yang digunakan, maupun suhu ruangan saat proses percobaan dilakukan.

I. Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan

Dari hasil percobaan ini dapat disimpulkan bahwa titik ekivalen daya hantar listrk larutan sebesar 3
mL.
2. Saran

Sebaiknya lebih teliti dan hati-hati dalam melakukan percobaan agar diperoleh hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Hiskia. 2001. Kimia Larutan. Bandung : PT. Cipta Aditya Bakti.

Khopkar, S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI-Press.

Muizliana, Choir. 2010. Percobaan 5 Konduktometri.


Http://choalialmu89.blogspot.com/2010/10/percobaan5konduktometri.html diakses pada 26
Desember 2010.

Scribd. 2010. Sekilas Tentang Konduktometri. Http://www.scribd.com/doc/5006057/konduktometri


diakses pada 26 Desember 2010.

Svehla, G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganuik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta : PT Kalman
Media Pustaka.

Tim Dosen Kimia Analitik. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Analisis Instrumen. Makassar :
Laboratorium Kimia, FMIPA, UNM

KONDUKTOMETRI

I. TUJUAN

a. Menentukan titik ekivalen dari titrasi dengan cara mengukur daya hantar listrik suatu larutan
elektrolit.

b. Untuk mengetahui hubungan antara penambahan pentiter terhadap daya hantar listrik secara
konduktometri.

c. Mengetahui cara menghitung konsentrasi larutan Cx berdasarkan kurva larutan standar.

II. TEORI DASAR

Prinsip kerja dari konduktometri ini adalah sel hantaran dicelupkan kedalam larutan ion positif dan
negative yang ada dalam larutan menuju sel hantaran menghasilkan sinyal listrik berupa hambatan
listrik larutan. Hambatan listrik dikonversikan oleh alat menjadi hantaran listrik larutan.
Konduktometri adalah suatu metoda analisi yang berdasarkan kepada pengukuran daya hantar listrik
yang dihasilkan oleh sepasang elektroda inert yang mempunyai luas penampang (A) dan jarak
tertentu (d). Daya hantar listrik tersebut merupakan fungsi konsentrasi dari larutan elektrolit yang di
ukur. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion di dalam larutan ion yang
mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar.

Daya hantar listrik (G) merupakan kebalikan dari tahanan (R), sehingga daya hantar listrik
mempunyai satuan ohm-1 . Bila arus listrik dialirkan dalam suatu larutan mempunyai dua elektroda,
maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus dengan luas permukaan elektroda (A) dan berbanding
terbalik dengan jarak kedua elektroda (l).

G = l/R = k (A / l)

dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm -1 cm -1

Daya Hantar Ekivalen (Equivalen Conductance)

Kemampuan suatu zat terlarut untuk menghantarkan arus listrik disebut daya hantar ekivalen (^)
yang didefinisikan sebagai daya hantar satu gram ekivalen zat terlarut di antara dua elektroda
dengan jarak kedua electroda 1cm. Yang dimaksud dengan berat ekuivalen adalah berat molekul
dibagi jumlah muatan positif atau negatif. Contoh berat ekivalen BaCl2 adalah BM BaCl2 dibagi dua.
Volume larutan (cm3) yang mengandung satu gram ekivalen zat terlarut diberikan oleh,

V = 100 / C

dengan C adalah konsentrasi (ekivalen per cm-3), bilangan 1000 menunjukkan 1 liter = 1000 cm3.
Volume dapat juga dinyatakan sebagai hasil kali luas (A) dan jarak kedua elektroda (1).

V= l A

Dengan l sama dengan 1 cm ,

V = A = 100 / C

Substitusi persamaan ini ke dalam persamaan G diperoleh,

G = 1/R = 1000k/C

Daya hantar ekivalen (^) akan sama dengan daya hantar listrik (G) bila 1 gram ekivalen larutan
terdapat di antara dua elektroda dengan jarak 1 cm.

^ = 1000k/C

Daya hantar ekivalen pada larutan encer diberi simbol yang harganya tertentu untuk setiap ion.

Pengukuran Daya Hantar Listrik


Pengukuran daya hantar memerlukan sumber listrik, sel untuk menyimpan larutan dan jembatan
(rangkaian elektronik) untuk mengukur tahanan larutan.

1. Sumber listrik

Hantaran arus DC (misal arus yang berasal dari batrei) melalui larutan merupakan proses faradai,
yaitu oksidasi dan reduksi terjadi pada kedua elektroda. Sedangkan arus AC tidak memerlukan reaksi
elektro kimia pada elektroda- elektrodanya, dalam hal ini aliran arus listrik bukan akibat proses
faradai. Perubahan karena proses faradai dapat merubah sifat listrik sel, maka pengukuran
konduktometri didasarkan pada arus nonparaday atau arus AC.

2. Tahanan Jembatan

Jembatan Wheatstone merupakan jenis alat yang digunakan untuk pengukuran daya hantar.

3. Sel

Salah satu bagian konduktometer adalah sel yang terdiri dari sepasang elektroda yang terbuat dari
bahan yang sama. Biasanya elektroda berupa logam yang dilapisi logam platina untuk menambah
efektifitas permukaan elektroda.

III. PROSEDUR KERJA

3.1 Alat

Seperangkat alat konduktometer : mengukur DHL dari larutan

Buret : sebagai tempat zat, baik yang digunakan sebagai sampel atau penitar

Labu ukur : membuat larutan sampel dan Cx dengan volume yang teliti

Gelas piala : wadah larutan sampel atau cx pada saat pengukuran DHL

Pipet tetes: untuk memipet aquades pada saat menepatkan larutan

Pipet takar : untuk memipet zat

3.2 Bahan

Asam sulfat (H2SO4) 0,1 N : sebagai sampel


Natrium hidroksida (NaOH) 0,1N : sebagai larutan penitar

Aquadest: sebagai penetral konduktometer, mengencerkan larutan dan membilas alat.\

3.3 Cara kerja

A. Pengukuran Daya Hantar Listrik

1. Pasang dengan peralatan konduktometer dan celupkan system elektroda ini pada larutan
akuades.

2. Hidupka alat dengan memutar tombol function dari posisi off ke line. Biarkan alat stabil selama
lebih kurang 5 menit.

3. Minimumkan tombol sensitivity amati indicator alat, atur range selector sampai didapatkan
posisi paling jarak terjauh pada bayangan system indicator.

4. Sensitivity dimaksimumkan lalu atur tombol drive sedemikian rupa sampai didapat posisi
maksimum pengamatan bayangan pada system indicator.

5. Baca dan catat nilai skala yang ditunjukkan. Nilai DHL merupakan nilai skala dikalikan dengan
nilai factor pada range yang terpilih.

6. Siapkan dengan memipet 10 mL H2SO4 masukkan kedalam beker gelas, tambahkan akuades
sampai volumenya menjadi 50 mL.

7. Celupkan elektroda dan lakukan titrasi dengan NaOH 0,1 N dengan tahapan penambahan
pentiter tiap 0,5 mL sampai didapatkan kenaikan nilai DHL, dalam hal ini dibutuhkan minimal 5 data
kenaikan sebelum titrasi dihentikan.

8. Daya hantar terkoreksi didapat dengan memasukkan factor pengenceran pada tiap tahapan
titrasi yakni :

DHL terkoreksi = DHL terbaca x V0 + y / V0

9. Buat kurva titrasi antara DHL terkoreksi Vs volume pentiter. Didapatkan dua pola garis
percobaan DHL sebelum dan sesudah titik ekivalensi dimana garis ini akan berpotongan pada satu
titik, titik inilah merupakan titik ekivalensi titrasi.

10. Lakukan hal yang sama dengan larutan Asam Sulfat dan selanjutnya larutan tugas Cx yang
diberikan.

3.4 Skema kerja NaOH

Buret.png
Ukur DHL (daya hantar listrik) sampai dicapai angka optimum dengan konduktometer

Description: F:\595342.jpeg

Sampel Asam Sulfat

Larutan Cx

IV. HASIL PENGAMATAN

Tabel. Hasil pengamatan untuk sampel dan Cx

Volume NaOH

DHL (Sampel)

DHL (Cx)

0.5

18.78

14.2

18.43

13.5

1.5

17.29

12.5

16.78
11.6

2.5

16.21

10.9

15.32

9.8

3.5

14.51

9.1

13.9

8.2

4.5

13.06

12.29

6.7

5.5

11.66

5.9

10.78

5.1

6.5

10.16
4.7

9.45

5.1

7.5

8.75

5.6

8.08

6.3

8.5

7.42

6.84

7.7

9.5

7.03

10

7.6

10.5

8.16

11

8.71
11.5

9.27

Kurva Titrasi Sampel

Konsentrasi asam sulfat :

Vas.sulfat . Nas.sulfat = VNaOH . NNaOH

10 mL x N = 9 mL x 0,1

N = 0,9 : 10

Nas.sulfat = 0,09N

Kurva Titrasi Cx

Volume Asam sulfat :

Vas.sulfat . Nas.sulfat = VNaOH . NNaOH

V x 0,09 = 6,5 mL x 0,1

V = 0,65 : 0,09

Vas.sulfat = 7,222 mL

V. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini yaitu uji daya hantar listrik suatu larutan dengan metode konduktometri,
digunakan larutan asam sulfat sebagai sampel yang akan diukur dan natrium hidroksida sebagai
pentitarnya. Perlakuannya adalah larutan asam sulfat dipipet 10 mL ke Erlenmeyer, kemudian dititar
dengan NaOH 0,1 N. Volume NaOH pertama 0,5 N, lalu ukur DHL asam sulfat tersebut. Setelah itu
tambahkan NaOH lagi sebanyak 0,5 mL, lalu ukur DHL, begitu seterusnya. Dengan catatan,
penambahan NaOH harus rangenya 0,5 mL sampai didapatkan titik akhir yang ditandai dengan
naiknya angka DHL setelah turun. Data yang didapatkan harus dibuat dalam bentuk grafik supaya
titik akhir bisa dibaca dan diketahui.

Asam sulfat yang digunakan belum diketahui konsentrasinya, maka perlu dihitung dengan
menggunakan rumus (V.N)1 = (V.N)2. Setelah didapatkan nilai konsentrasi dari asam sulfat maka
ditentukan nilai Cx dari analis. Konsentrasi asam sulfat yang digunakan setelah dilakukan
perhitungan adalah 0,09 N. Dan nilai untuk Cx yaitu berapa volume asam sulfat yang dipakai dapat
diketahui setelah didapatkan nilai konsentrasinya. Volume asam sulfat yang digunakan untuk Cx
adalah 7,222 mL.

VI. KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa :

a. Titik ekivalen untuk sampel adalah pada penambahan NaOH 9 mL, sedangkan titik ekivalen
untuk Cx adalah pada penambahan NaOH 6,5 mL.

b. Konsentrasi asam sulfat yang didapatkan adalah 0,09 N

c. Konduktometri digunakan untuk mengukur daya hantar listrik suatu larutan dengan metode
titrasi dan diukur dengan konduktometer.

DAFTAR PUSTAKA

Hafnimardiyanti dan Martalius.2011.Modul praktikum instrument analisis II. ATIP:Padang

http://masykuri.staff.fkip.uns.ac.id/files/2010/01/konduktometri.pdf.

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANALITIK
PERCOBAAN VI
KONDUKTOMETRI
Nama Praktikum NIM Tanggal Tanda Tangan
Kumpul Praktikum Instruktur
1. SISWANTO 201511009 20 APRIL
2. SITI HAFIZA 201511024 2016
3. LODI 201511032
DESVILDO

Nama Penilai Tanggal Koreksi Nilai Tanda Tangan


HANIFAH
KHAIRIAH, S.ST

PROGRAM STUDI TEKNIK PENGOLAHAN SAWIT


POLITEKNIK KAMPAR
2016

I. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini Adalah:
1. Menentukan Konsentrasi Natrium asetat dengan Asam Klorida
2. Menentukan % kadar aspirin dalam sampel menggunakan metode konduktometri

II. DASAR TEORI


Menurut hukum Ohm I = E/R; di mana: I = arus dalam ampere, E = tegangan dalam
volt, R = tahanan dalam ohm. Hukum di atas berlaku bila difusi dan reaksi elektroda tidak
terjadi. Konduktansi sendiri didefinisikan sebagai kebalikan dari tahanan sehingga I = EL.
Satuan dari hantaran (konduktansi) adalah mho. Hantaran L suatu larutan berbanding lurus
pada luas permukaan elektroda Titrasi konduktometri merupakan metode analisa kuantitatif
yang didasarkan pada perbedaan harga konduktansi masing-masing ion. Dalam
konduktometri diperlukan sel konduktometrinya, yaitu alat mengukur tahanan sel. Namun
titrasi ini kurang bermanfaat untuk larutan dengan konsentrasi ionik yang terlalu tinggi
(Muizliana, 2010).
Metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti reaski titrasi jika perbedaan
antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus
diketahui. Berarti selama pengukuran berturut-turut jarak elektroda harus tetap. Hantaran
sebanding dengan kosentrasi larutan pada temperatur tetap, tetapi pengenceran akan
menyebabkan hantaran nya tidak berfungsi secara linier lagi dengan konsentrasi. (Khopkar,
1990).
Biasanya konduktometri merupakan prosesur titrasi, sedangkan konduktometri
bukanlah prosedur titrasi. Metode konduktasi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi
jika perbedaan antara konduktasi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen.
Tetapan sel harus diketahui. Berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak elektroda
harus tetap, tetapi pengenceran akan menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linear
dengan konsentrasi (Khopkar, 2008).
Titrasi konduktometri sangat berguna bila hantaran sebelum dan sesudah reaksi cukup
banyak berbeda. Metode ini kurang bermanfaat untuk larutan dengan konsentrasi ionic terlalu
tinggi, misalkan titrasi Fe3+ dengan KMnO4, dimana perubahan hantaran sebelum dan
sesudah titik ekivalen terlalu kecil dibandingkan besarnya konduktasi total (Khopkar, 2008).

Kelebihan titrasi konduktometer


a. titrasi tidak menggunakan indikator, karena pada titik keivalen sudah dapat ditentukan
dengan daya hantar dari larutan tersebut.
b. Dapat digunakan untuk titrasi yang berwarna
c. Dapat digunakan untuk titrasi yang dapat menimbulkan pengendapatan
d. Lebih praktis
e. Lebih cepat atau waktu yang diperlukan lebih sedikit
f. Untuk persen kesalahanya lebih kecil jika dibandingkan dengan titrasi volumetri

Kekurangan titrasi konduktometer


a. Hanya dapat diterapkan pada larutan elektrolit saja
b. Sangat dipengaruhi temperatur
c. Dapat ditunjukka dengan tidak langsung
d. Peralatan cukup mahal
e. Jika tidak hati hati maka akan cepat rusak
f. Tidak bisa digunakan pada larutan yang sangat asam atau basa karena akan meleleh.
Konduktivitas suatu larutan elektrolit pada setiap temperatur hanya bergantung pada
ion-ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Bila larutan suatu elektrolit diencerkan,
konduktivitas akan turun karena lebih sedikit ion berada per cm3 larutan untuk membawa
arus. Jika semua larutan itu ditaruh antara dua elektrode yang terpisah 1 cm satu sama lain
dan cukup besar untuk mencakup seluruh larutan, konduktans akan naik selagi larutan
diencerkan. Ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya efek-efek antar-ionik untuk
elektrolit-elektrolit kuat oleh kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah
(Muizliana, 2010).
Menurut Scribd (2010), Besarnya daya hantar bergantung pada beberapa faktor, antara lain:
1. Jumlah partikel-partikel bermuatan dalam larutan (+) dan(-)
2. Jenis ion yang ada
3. Mobilitas ion
4. Media/pelarutnya
5. Suhu
6. Gaya tarik menarik ion (+) dan (-)
7. Jarak elektroda

III. ALAT DAN BAHAN


3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1. Hot plate
2. Buret
3. Gelas piala 500 ml
4. Gelas piala 100 ml
5. Erlenmeyer 250 ml (2 buah)
6. Kaca arloji
7. Statif+klem
8. Elektroda
9. Batang pengaduk
10. Pipet volum 100 ml
11. Pipet mohr 25 ml
12. Magnetik stirrer
13. Bulb
14. Botol semprot
15. Labu takar 250 ml
16. Labu takar 100 ml
17. Corong

3.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1. Tablet aspirin.
2. Larutan natrium asetat 0,01 M
3. Larutan Asam klorida (HCl) 0,01 M
4. Larutan natrium hidroksida (NaOH) 0,01 M
5. Etanol (CH3CH2OH)
6. Aquades (H2O)

IV. CARA KERJA


4.1 Penentuan Natrium Asetat dengan HCl 0,01 M
1. Sel hantaran dibilas dengan air kemudian dimasukkan ke dalam gelas piala.
2. Pengaduk magnet stirer dimasukkan didalam sebuah bejana besar berisi air, kemudian bejana
titrasi berisi sel hantaran ditempatkan didalamnya, diatas pengaduk magnet.
3. Larutan Natrium asetat 0,01 M dimasukkan di dalam sel sebanyak 50 ml, dimasukkan larutan
HCl kedalam buret. Buret ditempatkan kira-kira 1 cm diatas permukaan larutan natrium
asetat.
4. Sel dengan pengukur hantaran dihubungakn, lalu pengadukan dimulai.
5. HCl ditambahkan setiap 1 ml sampai 20 ml, kemudian diukur Daya hantar.
4.2 Analisa Tablet Aspirin
1. Satu tablet aspirin ditimbang, kemudian dihaluskan dan ditimbang kembali.
2. Setelah ditimbang, dimasukkan didalam labu takar 250 ml dan diencerkan dengan aquades
kira-kira setengah badan labu takar, kemudian diaduk.
3. Larutan etanol ditambahkan sebanyak 30 ml dan diaduk sampai homogen dan ditera dengan
aquades.
4. Diambil larutan sebanyak 100 ml dan dimasukkan di dalam erlenmeyer kemudian
ditambahkan indikator pp.
5. Larutan aspirin ditirasi dengan larutan NaOH 0,01 M serta diukur konduktansinya.
Dilakukan duplo.

V. DATA PENGAMATAN
5.1 Penentuan Natrium asetat dengan HCl 0,01 M.
No Uraian Hasil
1. Penimbangan Natrium Asetat 0,01 M 0,0830 ml
2. Volume natrium Asetat 0,01 M 50 ml
3. HCl 0,01N dilarutkan 25 ml
4
No Volume HCl (ml) Konduktansi (ms)
0. 0 9,64
1. 1 9,65
2. 2 9,62
3. 3 9,58
4. 4 9,54
5. 5 9,49
6. 6 9,45
7. 7 9,42
8. 8 9,38
9. 9 9,34
10. 10 9,30
11. 11 9,26
12. 12 9,23
13. 13 9,21
14. 14 9,18
15. 15 9,15
16. 16 9,11
17. 17 9,07
18 18 9,04
19. 19 9,01
20. 20 8,98

5.2 Analisa Tablet Aspirin


No Uraian Hasil
1. Penimbangan Aspirin tablet 0,964 gram
2. Penimbangan Aspirin bubuk 0,69 gram
3. Pembuatan larutan Aspirin 70 ml
4. Penambahan Etanol 30 ml
5. Penambahan indikator pp 3 tetes
6. Volume titrasi 1. 4,7 ml
2. 4,5ml

VI. PERHITUNGAN
1. Natrium Asetat 0,01 M
Diketahui :
M = 0,01 M Mr CH3COONa = 82,03
Jawab:

hasil penimbangan 0,08331 gram

2. HCL 0,01 M
Diketahui :
Mr HCL = 36,5
M = 0,01 M
Jawab :

V1C1=V2C2
V10,1=2500,01
V1=2,5/0,1= 25 ml
3. NaOH 0,01 M
Diketahui :
Mr NaOH = 40
ek = 1 M = 0,01
jawab:

4. Hitung konsentrasi aspirin!


Jawab :

Mr aspirin (C9H604) = 180

VII. HASIL DAN PEMBAHASAN


7.1 Penentuan Natrium Asetat dengan HCl 0,01 M
Konduktivitas suatu larutan elektrolit pada setiap temperatur bergantung pada ion-ion
yang ada dalam konsentrasinya. Dalam percobaan ini mula-mula meembilas sel hantaran
dengan air agar alat yang digunakan ini bebas dari ion-ionnya yang menganggu (pengatur)
yang melekat pada dindingnya. Melakukan pengadukan dengan pengaduk magnetik supaya
dapat mengoptimalkan kemampuan daya hantar listrik sehingga ionnya dapat tersebar merata.
Kemudian melakukan titrasi dengan CH3COONa (garam asam lemah) dengan larutan HCl
(asam kuat).
Tujuan dari titrasi ini adalah untuk mengetahui nilai konduktansinya. Titrasi ini akan
membuat suatu penggeseran anion dari asam lemah digantikan oleh anionnya. Ketika proses
titrasi dilakukan, penambahan HCl sangat berpengaruh. Pada awal titrasi, ion klorida
mempunyai konduktansi yang lebih besar dari pada ion asetat. Hal ini yang menyebabkan
terjadinya kenaikan konduktansi. Selain itu, bisa juga disebabkan adanya pergantian ion
natrium (Na+) oleh atom H+ dari HCl yang memiliki nilai konduktivitas lebih tinggi. Reaksi
yang terjadi saat natrium asetat ditambah dengan HCl adalah sebagai berikut :
HCl + CH3COONa CH3COOH + NaCl
Nilai konduktans menurun seiring bertambahnya volume titran. Pengamatan
dilakukan setiap bertambahnya 1 ml larutan HCl pada buret. Pembentukan NaCl ini yang
menurunkan titrasi ini, kemudian terjadi pergantian masukyan H+ menggantiakan Na+ akan
menyebabkan kenaikan konduktansi.
CH3COO- + H+ CH3COOH
Pembentukan garam NaCl pada awal titrasi ini menurunkan konduktansi larutan. Dari hasil
pengamatan saat melakukan titrasi, dapat dibuat sebuah grafik.
Jika suatu elektrolit ditambahkan kedalam elektrolit lain, maka akan menghasilkan
perubahan volume yang berarti akan mempengaruhi larutan tersebut, tergantung ada tidaknya
reaksi ionik. Jika terjadi reaksi ionik, maka konduktansi (hantaran) dapat naik maupun turun.
Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur bergantung pada ion-ion
yang ada dan konsentrasi ion-ion tersebut. Jika suatu larutan diencerkan, nilai konduktivitas
larutan tersebut akan turun karena lebih sedikit ion yang berbeda per cm3 larutan untuk
membawa arus. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya efek-efek ionik untuk elektrolit lemah
hal itu akibat naiknya derajat disosiasi. Namun dalam percobaan didapatkan hasil grafik yang
menurun.

7.2 Analisa Tablet Aspirin


Dalam percobaan ini kita menggunakan sampel 1 tablet aspirin dengan berat 0,96
gram yang dicampurkan dengan aquades ini bertujuan untuk tablet aspirin ini yang semula
berbentuk padatan berubah menjadi cair. Karena bila masih dalam bentuk cairan/larutan lalu
ditambahkan etanol . penambahan etanol ini bertujuan melarutkan partikel-partikel aspirin
yang belum melarut dalam air secara perlahan-lahan sambil diaduk.
Percobaan ini didasarkan pada pertukaran ion berdasarkan perbedaan
konduktivitasnya. Aspirin adalah salah satu asam lemah yaitu asam salisilat. Reaksi dengan
anhibrida asetat mengubah gugus karbonil fenolik dari asam salisilat menjadi ester asetil.
Kemudian melakukan titrasi dengan NaOH 0,01 M. Tujuan dari titrasi ini adalah untuk
mengetahui nilai konduktansi laruatan aspirin. Penambahn NaOh pada larutan akan
menyebabkan terjadinya reaksi asam basa. Dari data pengamatan volume rata-rata titrasi
adalah 4,6 ml dan konsentrasi Aspirin adalah 8,6 %.

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN


8.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah di laksanakan, dapat di ambil beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
1. Konduktometri adalah suatu metode yang didasarkan pada hantaran atau konduktansi dari
ion.
2. Metode konduktometri menggunakan sel konduktometri, yaitu alat untuk mengukur tahanan
sel untuk menganalisa secara kuantitatif.
3. Konduktansi pada penetapan Natrium asetat dengan HCl 0,01 M mengalami penurunan.
8.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan pratikan adalah :
1. Praktikan harus lebih teliti dalam melakukan percobaan, khususnya pengukuran daya hantar.
2. Sebelum memulai praktikum, praktikan harus memahami prosedur kerja terlebih dahulu.

IX. DAFTAR PUSTAKA


Khairiah, hanifah. 2016. Modul Praktikum Kimia Analitik. Bangkinang, Politeknik Kampar.
Hal 17 21
http://choalialmu89.blogspot.in/2010/10/percobaan-5-konduktometri.html