Anda di halaman 1dari 9

PLASMODIUM MALARIAE

PLASMODIUM MALARIAE

DISUSUN OLEH :
Kelompok 5
Rio Weldi
Destyna Yudhit K
Rita Ismawati
Ira Tania A
Novi Pertiwi
Insan Fajriansyah

RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO


AKADEMI KEPERAWATAN
JAKARTA
2011
1. Pengertian

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh suatu parasit yang bernama Plasmodium
(sejenis hewan bersel satu) dengan perantaraan (vector) gigitan nyamuk Anopheles. Malaria bisa
menular dari manusia yang satu ke manusia yang lain hanya dengan gigitan nyamuk Anopheles
yang mengandung Plasmodium. Tak hanya oleh gigitan nyamuk Anopheles saja, malaria juga
bisa menular dari ibu hamil terhadap bayinya serta bisa juga melalui transfusi darah.

2. Hospes
Malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina, yang kali pertama ditemukan oleh Dr.
Laveran.
Ada 2 fase daur hidup Plasmodium, yaitu :
Fase fegetatif : berlangsung dalam tubuh penderita.
Fase generatif : berlangsung dalam tubuh nyamuk
Anopheles.

3. Sejarah
Penyakit malaria termasuk salah satu penyakit kuno. Malaria sudah ada sejak tahun 2600
SM (menurut buku kedokteran Cina). Walaupun usianya sudah sangat tua, penyakit ini tetap
menjadi pembunuh terbesar sepanjang masa. Hal ini karena penyakit malaria merupakan
penyakit yang paling banyak mengakibatkan kematian di setiap tahunnya.
Dengan hasil penelitian dari Alphonse Laverans seorang sarjana Perancis, maka perkiraan
yang mengenai malaria lambat laun mulai sirna. Pada mulanya orang mengira penyakit malaria
itu dikarenakan oleh keadaan udara buruk dan malaria itupun diambil dari pengertian tersebut
yaitu dari kata Mala dan Aria.
Plasmodium termasuk kedalam kelas Sporozoa, kelas sporozoa ini mempunyai ciri-ciri bersel
satu ( berukuran mikroskopis ) dan berkembang biak dengan perantaraan spora-spora, dari
anggota kelas sporozoa ini mempunyai sifat yang sama yaitu :
1) Hidup sebagai parasit.
2) Tidak mempunyai alat untuk bergerak.
3) Pembiakan dengan pembentukan spora.
4) Tidak ada Vakuola kontraktil.

Bila dilihat dari ordonya, maka plasmodium ini termasuk kedalam Haemosporodia yang
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1) Mempunyai spora yang hidup didalam darah
2) Jaringan parenkim pada burung dan mamalia.
3) Tidak membuat spora yang resisten.

Menurut Norman D. Levine ( 1990 : 83 ), anggota plasmodium ini serupa dengan


coccidia klasik, tetapi perbedaannya mereka memasuki eritrosit, bukan memasuki sel usus.
Mereka menghasilkan sejumlah mikrogamet yang tidak banyak (biasanya dengan flagella)
tunggal bukan sejumlah besar mikrogamet dengan 2/3 flagella. Merozoit mempunyai seluruh
organel dari kelompok apikal, kecuali homoid, tetapi 24-26 mikrotubulus sub pelikuler dan 2
roptri, generasi merozoit terdapat dalam jumlah yang terhitung besarnya.
Plasmodium berparasit bukanlah pada organ-organ tubuh, seperti tangan, kaki, telinga
dan organ lainnya, tetapi plasmodium ini berparasit pada darah manusia ( eritrosit ), plasmodium
ini mempunyai ukuran tubuh yang lebih kurang 5 (mikron), reproduksi yang dilakukannya bisa
terjadi secara generatif dan juga bisa dilakukan secara vegetatif. Secara vegetatif / aseksual
plasmodium berkembangbiak dengan sporulasi dan terjadi pada insekta.
Perkembangan fase sporogoni hampir selalu terjadi pada tubuh nyamuk, tetapi pada beberapa
kadal, ditularkan oleh lalat pasir. Genus Plasmodium dapat dikelompokkan menjadi 11 sub genus
dan beberapa sub spesies terdapat dalam kelompok-kelompok ini, lebih dari 100 spesies
plasmodium hidup sebagai parasit pada vertebrata, terutama mamalia dan aves ( burung ).
( Elmer R. Noble dan Glenn A. Noble, 1989 : 198 ).
Plasmodium ini bukan hanya menyerang hewan pada daerah tertentu saja seperti hanya
didaerah sedang, di daerah panas, ataupun didaerah dingin. Tetapi plasmodium ini menyerang
orang di semua daerah baik daerah panas, daerah sedang maupun daerah dingin. Dari hasil
penelitian Plasmodium sp yang menyerang orang-orang didaerah subtropis dan daerah sedang
atau daerah dingin ternyata bersifat fatal daripada jika menyerang orang-orang dari daerah
tropik.
Keparasitan Plasmodium bukan hanya pada sebagian dari hidupnya, seperti hanya pada
waktu mudanya, atau pada waktu dewasanya yang parasit tetapi plasmodium ini berparasit pada
inang selama hidupnya sebagai parasit.
Bila kita mengadakan pemeriksaan terhadap plasmodium ini yaitu dengan cara
mengambil darah orang yang terkena penyakit malaria, maka terlihat plasmodium ini berbentuk
cincin didalam eritrosit ( sel darah merah ) dan dipinggir cincin terlihat inti. Bentuk cincin adalah
bentuk malaria muda, tetapi kalau sudah dewasa bentuknya berubah menjadi bundar dengan inti
terdapat didalamnya. Kalau lebih tua lagi akan menjadi bentuk membagi diri, jika telah cukup
umurnya akan pecah menjadi beberapa bagian peristiwa ini dinamakan dengan sporulasi. Dengan
pecahnya bentuk membagi diri, eritrosit turut pecah dan akan tersebar racun-racun kuman dalam
peredaran darah.
Sesudah terjadi sporulasi, bagian-bagian kecil ini dinamakan merozoit yang masuk kedalam
eritrosit baru, didalam eritrosit baru merozoit berbentuk cincin lagi, proses seperti ini dinamakan
siklus berjenis. Bentuk dewasa dari plasmodium, ada yang berubah manjadi :
a. Mikrogamet, jenis jantan dengan inti besar tetapi badan kecil.
b. Makrogamet, yaitu jenis betina, bentuk hampir semua bundar akan tetapi sedikit lebih besar
atau intinya besar.
( Syamsunir Adam, 1992 : 67-68 )

Plasmodium dapat digolongkan kedalam endoparasit dimana terdapat dalam sel darah
merah dalam saluran darah tetapi stadium-stadium tertentu hidup diluar saluran darah yang
tersebut dengan stadium ekstraeritrositer, tetapi masih dalam sel-sel jaringan tubuh. Kita
mungkin mengira hanya kita yang dirugian oleh plasmodium ini, yaitu dengan perantaraan
nyamuk sehingga menyebabkan penyakit malaria, tetapi ternyata nyamuk pun bisa ikut terkena
serangan dari plasmodium ini, Seperti yang dikemukakan oleh Mukayat D. Brotowidjoyo (1987),
bentuk aseksual terdapat sebagai parasit dalam eritrosit manusia dan burung, bentuk seksual
terdapat dalam tubuh nyamuk Anopheles sp, bentuk seksual itupun hidup sebagai parasit, dan
nyamuk dapat mati karena serangan dari plasmodium.
Plasmodium juga disebut parasit stasioner primer, disebut begitu karena plasmodium selama
hidupnya selalu berada dalam tubuh inang. Pada waktu sporulasi suhu badan penderita malaria
meninggi dan menderita malaria bisa terjadi kekurangan darah, hal ini disebabkan oleh karena
plasmodium menyerang dan merusak butir-butir darah merah, karena itulah maka penderita
penyakit malaria kekurangan darah.
Macam-Macam plasmodium
Ada 4 jenis Plasmodium yang bisa menginfeksi manusia hingga menyebabkan penyakit malaria,
yaitu :
1. Plasmodium vivax, yaitu Plasmodium yang banyak tersebar di India dan Amerika Selatan (di
negara lain juga ditemukan tetapi tidak banyak). Masa inkubasinya (masa dari penggigitan di
tubuh manusia hingga menimbulkan penyakit) adalah sekitar 8-13 hari. Infeksi parasit ini bisa
sampai ke bagian limpa. Parasit tipe ini bisa bersembunyi dai dalam hati dan kembali lagi setelah
kondisi memungkinkan.
2. Plasmodium ovale, yaitu Plasmodium yang jarang dan hanya ditemukan di Afrika. Masa
inkubasinya adalah selama 8-17 hari. Parasit tipe ini juga bisa bersembunyi di dalam hati dan
kembali saat kondisi memungkinkan.

3. Plasmodium malariae, yaitu Plasmodium yang banyak terdapat di mana-mana. Masa


inkubasinya 2-4 minggu. Jika tidakdiobati, infeksi bisa bertahan dalam waktu tahunan.
4. Plasmodium falciparum, yaitu Plasmodium yang paling banyak mengancam kehidupan.
Hal ini karena parasit ini sering kebal terhadap berbagai macam obat dan antibiotik. Masa
inkubasinya adalah selama 5-12 hari.

Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale mungkin akan tetap berada di dalam sel-sel
hati dan secara periodik akan melepaskan parasit yang matang ke dalam aliran darah, sehingga
menyebabkan serangan dari gejala-gejala malaria.
Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae akan keluar dari hati. Jika infeksi tidak
diobati atau diobati tidak sampai tuntas, maka bentuk Plasmodium falciparum dewasa akan tetap
berada di dalam darah selama berbulan-bulan dan Plasmodium malariae dewasa tetap berada di
dalam darah selama bertahun-tahun, menyebabkan serangan gejala malaria yang berulang-ulang.

4. Daur hidup

Siklus hidup dari penyakit malaria ini adalah sebagai berikut :


Nyamuk anopheles betina yang mengandung bibit penyakit, menyerang manusia yang sehat,
segera sporozoit memasuki sel-sel parenkim limpa, bentuk seperti amoeba yang disebut dengan
trophozoit memasuki sel-sel darah dan mengadakan pembelahan, tiap trophozoit berubah
menjadi schizon, mengadakan pembelahan berubah menjadi 6 36 anak yang disebut dengan
merozoit. Pembelahan thropozoit menjadi merozoit terjadi didalam eritrosit ( sel darah merah).
Pada sel darah merah yang mengandung merozoit pecah hingga merozoit menyebar dalam
plasma darah setelah lebih kurang 10 hari jumlah parasit cukup banyak, malah pada saat
merozoit lepas dari sebuah sel eritrosit yang sudah pecah akan menimbulkan demam pada
penderita (hospes), hal ini dikarenakan tersebarnya toksin yang disebarkan oleh Plasmodium
malariae. Terjadinya tergantung pada jenis plasmodiumnya. Seperti Plasmodium vivax, yang
menyebabkan penyakit malaria tertiana, dengan demam 48 jam sekali, Plasmodium malariae
dengan demam 72 jam sekali. Dan Plasmodium falciparum yang menyebabkan malaria tropika
dengan demam satu kali sehari ( tidak menentu ).

Setelah schizogony beberapa merozoit menjadi gametocyt, tetapi gamet tersebut tidak akan
mengalami perubahan selama dalam tubuh manusia, akan tetapi bila gamet tersebut terhisap oleh
nyamuk Anopheles dan masuk kedalam perut, gametocyt akan berubah sebagian menjadi
microgamet, 2 gametocyt yang berbeda jenis akan mengadakan peleburan menjadi zigot,
selanjutnya didalam tubuh menjadi ookinet yang menembus dinding pencernaan, masuk dalam
rongga tubuh, dalam pertumbuhan selanjutnya ookinet menjadi oocyst, biasanya seekor nyamuk
betina mengandung 50 500 oocyst. Dalam 6 7 hari oocyst membelah diri, sporogony menjadi
seribu sporozoit dan selanjutnya dalam kelenjar ludah menunggu pemindahan masuk ketubuh
manusia lain. ( Maskoeri Jasin, 1992 : 75 ).
5. Gejala dan Komplikasi
Gejala yang terjadi saat manusia terkena penyakit malaria di antaranya adalah anemia (kurang
darah karena sel darah merah diinfeksi Plasmodium yang berada dalam fase merozoit);
kedinginan; koma; demam; sakit kepala; sakit kuning; sakit otot; mual; kotoran berdarah; terus
berkeringat; dan muntah-muntah. Gejala dan tanda yang dapat ditemukan seperti :
a. Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang ( sporulasi ). Pada
malaria tertiana ( P. vivax dan P. ovale ), pematangan skizon tiap 48 jam maka periodisitas
demamnya setiap hari ke-3, sedangkan malaria kuartana ( P. malariae ) pematangannya tiap 72
jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap serangan ditandai dengan beberapa serangan
demam periodik. Demam khas malaria terdiri atas 3 stadium, yaitu menggigil ( 15 menit-1 jam ),
puncak demam ( 2-6 jam ), dan berkeringat (2-4 jam ).demam akan mereda secara bertahap
karena tubuh dapat beradaptasi terhadap parasit dalam tubuh dan ada respon imun.
b. Splenomegali

Splenomegali merupakan gejala khas malaria kronik. Limpa mengalami kongesti,


menghitam, dan menjadi keras timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat yang akan
bertambah.

c. Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah anemia
karena P. falciparum, anemia disebabkan oleh :
Penghancuran eritrosit yang berlebihan
Eritrosit normal tidak dapat hidup lama
Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sumsum tulang (
diseritropoesis ).
d. Ikterus
Ikterus disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar. Malaria laten adalah masa
pasiendi luar masa serangan demam. Periode ini terjadi bila parasit tidak dapat ditemukan dalam
darah tepi, tetapi stadium eksoeritrosit masih bertahan dalam jaringan hati. Relaps adalah
timbulnya gejala infeksi setelah serangan pertama. Relaps dapat bersifat:
Relaps jangka pendek (rekrudesensi), dapat timbul 8 minggu setelah serangan pertama hilang
karena parasit dalam eritrosit yang berkembang biak.
Relaps jangka panjang (rekurens), dapat muncul 24 minggu atau lebih setelah serangan pertama
hilang karena parasit eksoeritrosit hati masuk ke darah dan berkmbang biak.

6. Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya, dimana terjadi serangan demam dan


menggigil secara periodik tanpa penyebab yang jelas.
Dugaan malaria semakin kuat jika dalam waktu 1 tahun sebelumnya, penderita telah
mengunjungi daerah malaria dan pada pemeriksaan fisik ditemukan pembesaran limpa. Untuk
memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan darah guna menemukan parasit penyebabnya.
Mungkin perlu dilakukan beberapa kali pemeriksaan karena kadar parasit di dalam darah
bervariasi dari waktu ke waktu.

7. Pengobatan
Pengobatan malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap
klorokuin. Untuk suatu serangan malaria falciparum akut dengan parasit yang resisten terhadap
klorokuin, bisa diberikan kuinin atau kuinidin secara intravena.
Pada malaria lainnya jarang terjadi resistensi terhadap klorokuin, karena itu biasanya diberikan
klorokuin dan primakuin.
Pengobatan Serangan Akut :
1. Klorokin 600 mg basa, 6 jam kemudian diberikan lagi 300 mg basa. Hari-hari berikutnya
diberikan 300 mg basa per hari sampai dosis total 1,5 2,1 gr. Pada Plasmodium Vivax,
Plasmodium Malariae, dan Plasmodium Ovale diberikan juga primakin 15 mg (1 tablet)
sehari selama seminggu.
Untuk Plasmodium Falciparum, primakin diberikan juga untuk bentuk gametosit dengan dosis
15 mg sehari selama 5 hari.
Efek samping klorokin yaitu sakit kepala ringan, pruritus, anoreksia, pandangan kabur, malaise,
dan urtikaria.
Efek samping primakin yaitu reaksi hemolitik dan agranulositosis. Primakin jangan diberikan
bersama atau setelah pemberian kinakrin (mepakrin) karena toksisitas bertambah.
2. Kinina sulfat 3 x 1 tablet (650 mg) sehari selama 10 hari. Mulai hari kedua dikombinasikan
dengan primakin. Pada 3 hari pertama sebaiknya ditambahkan pirimetamin 2 x 50 mg. Efek
samping kinina yaitu berupa tinitus, vertigo, tuli, sakit kepala, dan gangguan penglihatan.
Pirimetamin jarang toksik, bila dipakai lama mungkin timbul anemia dan lekopeni.
3. Sulfadiazin 4 gr sehari dan DDS (Depson) 100 mg sehari, diberikan selama 10 hari. Dipakai
untuk kasus-kasus resistensi.
Pada pasien gawat (koma) diberikan obat secara parenteral, yaitu:
1. Klorokin 200 mg basa, diencerkan dengan garam faal, diberikan per infus perlahan-lahan. Hati-
hati terjadi kolaps. Ulangi tiap 8 jam, setelah dapat menelan ganti dengan pemberian per-os.
2. Dapat juga diberikan kinina dihidroklorida 600 mg dalam 300 cc garam faal diberikan per infus
perlahan-lahan.bila diberikan cepat dapat terjadi syok.

8. Pencegahan
Pencegahan penyakit malaria dapat dilakukan dengan cara meminum obat tertentu sebelum
sebelum seseorang akan pergi ke daerah tempat banyak terdapatnya nyamuk Anopheles. Obat ini
harus dimakan 2 minggu sebelum pergi.
Misalnya saja jika akan pergi ke Amerika Selatan, Afrika, India, atau Pasifik Selatan,
Anda harus meminum obat mefloquine, doxycycline, choroquine, hydroxychoroquine, atau
malarone 2 minggu sebelum pergi. Bahkan wanita hamil juga harus meminum obat ini. Adapun
risiko obat bagi bayi akan sedikit lebih ringan dibandingkan jika sang ibu terkena penyakit
malaria.
9. Keperawatan
Orang-orang yang tinggal di daerah malaria atau yang mengadakan perjalanan ke daerah
malaria bisa melakukan hal-hal berikut:
# Menggunakan semprotan pembasmi serangga di dalam dan di luar rumah
# Memasang tirai di pintu dan jendela
# Memasang kawat nyamuk
# Mengoleskan obat anti nyamuk di kulit
# Mengenakan pakaian yang menutupi tubuh sehingga mengurangi daerah tubuh yang digigit
nyamuk.
Obat-obatan bisa diminum untuk mencegah malaria selama melakukan perjalanan ke daerah
malaria. Obat ini mulai diminum 1 minggu sebelum perjalanan dilakukan, dilanjutkan selama
tinggal di daerah malaria dan 1 bulan setelah meninggalkan daerah malaria.
Obat yang paling sering digunakan adalah klorokuin. Tetapi banyak daerah yang memiliki
spesies Plasmodium falciparum yang sudah resisten terhadap obat ini.
Obat lainnya yang bisa digunakan adalah meflokuin dan doksisiklin. Doksisiklin tidak boleh
diberikan kepada anak-anak dibawah usia 8 tahun dan wanita hamil.

Beberapa hal yang perlu diingat mengenai malaria :


# Obat-obat yang digunakan dalam tindakan pencegahan tidak 100% efektif
# Gejalanya bisa timbul 1 bulan atau lebih setelah gigitan nyamuk
# Gejala awalnya tidak spesifik dan seringkali disalahartikan sebagai influenza
# Diagnosis dan pengobatan dini sangat penting, terutama pada malaria falciparum, yang bisa
berakibat fatal pada lebih dari 20% penderita.
Daftar Pustaka
Amel Z.Husna.1999.kapita kedokteran edisi tiga.jakarta.Media Aesculapius.
Amel Z.Husna.1982.kapita kedokteran edisi dua.jakarta.Media Aesculapius.

Sumber lain :
www.google.com/keperawatan komunitas: malaria
Apotik online dan media informasi obat - penyakit :: m e d i c a s t o r e . c o m

coccidiosis

Apicomplexa (Sporozoa)

Seluruh anggota dari phylum ini adalah parasit di dalam organisme lain. Beberapa di antaranya
menyebabkan penyakit yang serius pada manusia. Apicomplexa disebut juga Sporozoa. Sporozoa
adalah satusatunya anggota Protozoa yang tidak memiliki alat gerak.

Contoh Sporozoa yang terkenal adalah Plasmodium. Plasmodium dapat menyebabkan penyakit
malaria. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Ada banyak jenis
Plasmodium, di antaranya P. falciparum, penyebab penyakit malaria tropikana dengan masa
sporulasi (pembentukan spora aseksual) setiap 24 jam. Contoh lainnya adalah P. vivax, penyebab
penyakit malaria tertiana dengan sporulasi setiap 48 jam. Untuk mengetahui daur hidup P. vivax,
perhatikanlah Gambar berikut!

Gambar : Daur hidup Plasmodium vivax

Penyakit malaria merupakan penyakit menahun karena Plasmodium dapat berada di dalam darah
inangnya selama bertahun-tahun. Pencegahan penyakit ini lebih baik dilakukan daripada
melakukan pengobatan.

Plasmodium lainnya yang terkenal adalah P. malariae, penyebab penyakit malaria uartana dengan masa
sporulasi setiap 72 jam. Contoh Sporozoa yang lain adalah Pneumocystis carinii dan Toxoplasma gondii.
Pneumocystis carinii dapat menyebabkan penyakit pneumonia (paru-paru basah) yang biasanya terjadi
pada pasien AIDS tahap awal. Adapun Toxoplasma gondii dapat menyebabkan to oplasmosis pada wanita
hamil. Penyakit ini membahayakan bayi yang dikandungnya.

Sumber :

Firmansyah, Rikky. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 1 : untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Ilmu
Pengetahuan. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.