Anda di halaman 1dari 18

TUGAS REKAYASA TAMBAK

MANAJEMEN TAMBAK BERWAWASAN


LINGKUNGAN PADA KAWASAN MANGROVE

OLEH :

RAHMI AFIFI
1407112595

KELAS PILIHAN

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL S1

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS RIAU

2017
TUGAS REKAYASA TAMBAK
BAB VII
MANAJEMEN TAMBAK BERWAWASAN LINGKUNGAN PADA
KAWASAN MANGROVE

7.1 Pengertian Tambak Berwawasan Lingkungan

Budidaya tambak ramah lingkungan ramai didengungkan akibat kerusakan


lingkungan pesisir (mangrove) yang parah, salah satunya akibat kegiatan pembukaan lahan
untuk tambak. Sehingga konsep budidaya tambak ramah lingkungan lebih sering disebut
sebagai budidaya tambak yang melestarikan mangrove sebagai jalur hijau atau penanaman
mangrove di tambak (silvofishery). Padahal konsep budidaya ramah lingkungan tidak hanya
mencakup penerapan jalur hijau (green belt) atau penanaman mangrove, tetapi juga pada
penerapan tata cara budidaya yang baik dalam arti tidak menggunakan bahan baku produksi
yang merusak lingkungan dan atau membahayakan keselamatan dan kesehatan konsumen
produk yang dihasilkan.
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua praktik silvofishery
di Indonesia menerapkan konsep budidaya tambak ramah lingkungan. Hal ini dikarenakan
petambak masih menggunakan bahan baku produksi yang tidak ramah lingkungan seperti
penggunaan pestisida dan atau antibiotik secara gegabah.
Dikarenakan lokasi tambak-tambak di Indonesia umumnya berlokasi di lahan pasang
surut (daerah mangrove) maka panduan ini membahas mengenai pengembangan konsep
budidaya tambak ramah lingkungan di daerah mangrove. Perbaikan ini diharapkan dapat
memberikan manfaat ganda baik dari segi ekonomi maupun lingkungan, dalam arti produksi
dapat meningkat dan menguntungkan petambak serta keseimbangan lingkungan dapat
tercipta/terjaga. Beberapa manfaat atau kelebihan dari tambak ramah lingkungan
diantaranya :
1. Biaya dan resiko produksi jauh lebih rendah dan dapat dioperasikan dalam skala
kecil (rumah tangga).
2. Dapat menghasilkan produksi sampingan dari hasil tangkapan alam seperti udang
alam, kepiting, dan ikan- ikan liar.
3. Pemulihan lingkungan (melalui penanaman/pemeliharaan mangrove) dapat
meningkatkan daya dukung (carrying capacity) tambak, sehingga mampu menjaga
kualitas air dan menopang kehidupan komoditas yang dibudidayakan.
4. Produk udang yang dihasilkan memiliki kualitas yang premium dan memiliki

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
harga yang lebih tinggi di pasaran internasional karena bersifat organik atau tidak
mengandung bahan kimia berbahaya.
5. Kawasan tambak ramah lingkungan lebih tahan terhadap serangan penyakit, akibat
kemampuan mangrove dalam menyerap limbah dan menghasilkan zat antibakteri

7.2 Tambak Ramah Lingkungan

Sebagaimana telah disampaikan pada pendahuluan di atas, definisi konsep tambak


ramah lingkungan tidak hanya mencakup penciptaan atau pemeliharaan jalur hijau di sekitar
areal tambak, akan tetapi juga kepada praktik pengelolaan tambak itu sendiri. Beberapa
penerapan sederhana akan konsep budidaya tambak ramah lingkungan di Indonesia yaitu
sistem silvofishery dan polikultur.

7.2.1 Sistem Silvofishery


Sylvofishery atau dikenal juga dengan sebutan wanamina terdiri dari dua kata yaitu
sylvo yang berarti hutan/pepohonan (wana) dan fishery yang berarti perikanan (mina).
Silvofishery merupakan pola pendekatan teknis yang terdiri atas rangkaian kegiatan terpadu
antara kegiatan budidaya ikan/udang dengan kegiatan penanaman, pemeliharaan,
pengelolaan dan upaya pelestarian hutan mangrove.
Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan menerapkan silvofishery, yaitu:
1. Kontruksi pematang tambak akan menjadi kuat karena akan terpegang akar-akar
mangrove dari pohon mangrove yang ditanam di sepanjang pematang tambak dan
pematang akan nyaman dipakai para pejalan kaki karena akan dirimbuni oleh tajuk
tanaman mangrove.
2. Petambak dapat mengunakan daun mangrove terutama jenis Rhizophora sp,
sebagai pakan kambing sedangkan jenis Avicennia sp, Bruguiera sp, Ceriops sp
kambing tidak menyukainya (ternak sebaiknya dikandangkan agar bibit mangrove
yang masih muda tidak mati dimakan/ diinjak ternak)
3. peningkatan produksi dari hasil tangkapan alam dan ini akan meningkatkan
pendapatan masyarakat petani ikan.
4. Mencegah erosi pantai dan intrusi air laut ke darat sehingga pemukiman dan
sumber air tawar dapat dipertahankan
5. Terciptanya sabuk hijau di pesisir (coastal green belt) serta ikut mendukung
program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global karena mangrove akan

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
mengikat karbondioksida dari atmosfer dan melindungi kawasan pemukiman dari
kecenderungan naiknya muka air laut.
6. Mangrove akan mengurangi dampak bencana alam, seperti badai dan gelombang
air pasang, sehingga kegiatan berusaha dan lokasi pemukiman di sekitarnya dapat
diselamatkan

Dalam pengembangannya, tambak silvofishery telah banyak dimodifikasi, namun


secara umum terdapat (tiga) model tambak silvofishery, yaitu: model empang parit,
komplangan, dan jalur (Gambar 1).

(A)

(B)

(C)

(D)

Gambar 1. Model : (A) Empang Parit, (B) Komplangan, (C) Jalur, (D) Tanggul

7.2.1 Sistem Polikultur


Polikultur merupakan suatu istilah budidaya yang membudidayakan lebih dari satu
jenis komoditas dalam satu masa pemeliharaan dalam petak yang sama. Konsep polikultur
berkembang dikarenakan banyaknya kasus kegagalan produksi monokultur di tambak
terutama udang, sehingga diharapkan dengan memelihara dua atau lebih jenis komoditas,
masih dapat menghasilkan produksi untuk menutupi kegagalan lainnya. Dalam
perjalanannya ternyata konsep polikultur malah dapat meningkatkan produksi kedua
komoditas yang dipelihara akibat faktor yang menguntungkan satu sama lain di dalam

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
tambak, seperti misalnya antara udang dan bandeng, atau udang dan rumput laut, dll.
Polikultur yang akhir-akhir ini dikembangkan adalah kombinasi budidaya rumput
laut Gracillaria, udang windu dan bandeng dalam satu petak tambak. Kombinasi ketiga
jenis ini didasarkan pada peran Gracillaria sebagai penyerap limbah (filter pollutan) dan
pergerakan bandeng yang membantu aerasi air tambak secara alami. Namun demikian
berdasarkan pengalaman kelompok petambak di Desa Pesantren Pemalang, polikultur
bandeng dengan rumput laut menyebabkan rasa hanyir/bau rumput laut pada bandeng yang
dipanen dan menjadi kurang laku di pasaran.

Gambar 2. Tambak polikultur bandeng dan rumput laut (panah kuning menunjukan jembatan
dan pelampung untuk mengontrol rumput laut di dalam tambak)

Hasil diskusi verbal dengan H.Qosim seorang praktisi tambak organik di Sidoarjo
Jawa Timur menyebutkan, berdasarkan pengalamannya bahwa masalah bau hanyir pada
bandeng yang dicampur dengan rumput laut dikarenakan penggunaan pupuk UREA
ataupun TSP sebagai pemacu pertumbuhan rumput laut. Beberapa rumput laut yang telah
dewasa terlepas dari kuntumnya mati membusuk di dasar tambak dan dimakan oleh
bandeng. Hal inilah yang menyebabkan bandeng menjadi bau hanyir.

7.3 Tahapan Pengelolaan Budidaya Tambak Ramah Lingkungan

Pada dasarnya tahapan pengelolaan tambak ramah lingkungan baik untuk


komoditas udang windu, bandeng dan rumput laut akan melalui beberapa tahap sederhana
seperti diagram di bawah ini.
1. Pemilihan Lokasi
2. Persiapan lahan dan air (perbaikan pematang dan saluran, pengeringan,
pengapuran, pembasmian hama dan pemupukan)

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
3. Pemilihan dan penebaran benur
4. Pengelolaan kualitas air dan pakan
5. Pengelolaan kesehatan udang windu
6. Panen dan pasca panen
7. Pencatatan dan evaluasi data harian di dalam buku harian tambak (format)

Tahapan nomor dua sampai dengan nomor tujuh merupakan suatu siklus yang terus
berlangsung dalam suatu siklus produksi sebagaimana ilustrasi berikut

Gambar 3. Siklus produksi budidaya tambak ramah lingkungan

7.3.1 Pemilihan Lokasi


1. Tidak menghilangkan atau menebang tumbuhan di area sekitar 130 m untuk
membuka tambak. Hal ini sesuai dengan hukum Nasional mengenai lebar jalur
hijau, yaitu 130 kali selisih rat-rata pasang tertinggi dan surut terendah.
2. Jangan memilih lokasi tambak baru di lokasi dengan produksi tambak yang rendah
atau sedang mewabah penyakit pada udang/ ikan.
3. Patuhi semua peraturan yang berlaku dan perencanaan pengembangan wilayah
pesisir.
4. Penanaman kembali hutan bakau dapat membantu merehabilitasi tambak-tambak
yang telah mati dan meningkatkan produksi tangkapan alam.

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK

Rekomendasi bentuk tambak tradisional :


1. Bentuk tambak dibuat persegi panjang teratur sehingga memudahkan dalam
pengontrolan dan pengelolaan.
2. Pintu air terbuat dari kayu yang tahan air dan diberi saringan berlapis, terletak di
saluran utama pemasok air dan dipasang di tengah sisi pematang tambak.
3. Elevasi atau tinggi pematang harus memungkinkan kedalaman air bisa mencapai
minimal 80 cm di pelataran.
4. Ukuran luasan tambak sebaiknya tidak terlalu luas berkisar antara 2-5 ha, agar
pengelolaan terhadap air dan tanah saat persiapan dan pemeliharaan mudah dilakukan,
dan panen mudah dilakukan.
5. Memiliki caren dengan kedalaman kurang lebih 40-80 cm dengan lebar 1-4 meter di
sekeliling tambak.
6. Jika memungkinkan, pengaturan kemiringan dasar tambak harus lebih
diperhatikan untuk memudahkan kesempurnaan saat pembuangan air.
7. Lebar atas pematang sebaiknya memungkinkan dilalui sepeda motor untuk
kepentingan transportasi.

7.3.2 Persiapan Lahan dan Air


Tahap persiapan sering dianggap remeh petambak, padahal keberhasilan produksi
tidak bisa terlepas dari kesempurnaan proses persiapan. Tahapan persiapan tersebut dibagi
ke dalam persiapan lahan dan persiapan air sebelum tebar.
Persiapan lahan meliputi: pengeringan lahan, perbaikan prasarana produksi seperti
pematang, pintu air, jembatan anco, saringan, dll), pembajakan atau pembalikan
tanah (jika ada), pengapuran (jika ada), dan pemberantasan hama.
Persiapan air meliputi pengisian air, pemupukan, dan, jika ada, pengapuran susulan.

Penerapan tahap persiapan lahan dan air pada sistem tambak tradisional
umumnya tidak semuanya dilakukan oleh petani tambak, hal ini dikarenakan
bergantung kepada kondisi lahan dan ketersediaan modal. Sebagai contoh petambak di
Teluk Banten yang membudidayakan bandeng maupun udang pada umumnya tidak
mengeringkan lahan atau tambak tidak pernah benar-benar dikosongkan saat panen. Hal

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
tersebut dikarenakan konstruksi pintu air pembuangan lebih tinggi daripada kedalaman
caren. Pengeringan hanya dimungkinkan jika dilakukan pemompaan air di caren ke saluran
pembuangan, dan ini tentu saja membutuhkan biaya.
Demikian halnya pada proses persiapan tambak di Pemalang, dimana juga tidak
dilakukan persiapan lahan sampai kering. Persiapan lahan dilakukan hanya pada tahapan
perbaikan tambak. Namun kelebihan tambak-tambak di Pemalang meski lahan tambak tidak
dikeringkan karena memiliki sungai besar yang bermuara di laut yaitu Sungai Jamuran dan
Saluran Cepuk, sehingga pembilasan tambak saat panen hampir mendekati sempurna.

A. Pengeringan dan Pembilasan Lahan


Pengeringan lahan pada tambak udang sangatlah penting guna memperbaiki kualitas
tanah dengan mengurangi zat beracun dan membunuh organisme yang tidak diinginkan.
Lama pengeringan biasanya antara satu hingga dua minggu, tergantung dengan kondisi
cuaca. Dasar tambak yang dijemur harus benar-benar kering hingga timbul retakan (pecah-
pecah) secara merata, dan diperlukan pembalikan tanah atau pembuangan lumpur hitam
untuk memperbaiki kualitas tanah yang busuk. Pengeringan dan ekspos udara akan
mempercepat perbaikan kualitas tanah tambak secara mudah dan alamiah.

Prosedur yang umum dilakukan adalah:


1. Setelah panen, keringkan lahan dengan penjemuran selama kurang lebih 7
hari jika cuaca baik (cerah) hingga dasar tambak retak-retak. Bila air di
dalam tambak tidak dapat dikeringkan secara sempurna, maka harus dibantu
dengan menggunakan pompa untuk mengeluarkan air genangan tersebut.
Pompa berbahan bakar bensin yang umumnya digunakan mulai dari 5,5 PK
hingga di atas 10 PK.
2. Setelah dasar tambak kering, angkat lumpur yang berwarna hitam
(busuk) dan, sisa-sisa bangkai ikan/udang dll yang masih ada di dasar
tambak. Pastikan buangan tersebut tidak masuk lagi ke dalam tambak saat
hujan lebat.
3. Bilas kolam dengan cara mengisinya dengan air laut sedalam sekitar 30 cm dan
didiamkan selama 24 jam, lalu buang airnya keluar keesokan harinya sampai habis
sama sekali. Pada kasus tanah sulfat asam (pyrite) disarankan untuk membilas
tambak berkali-kali pada masa persiapan untuk menaikkan pH tanah. Praktik ini

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
sangat jauh lebih mudah dan murah dibandingkan dengan pengapuran dalam jumlah
besar. Periksa perubahan pH tanah selama proses pembilasan.
Pada budidaya bandeng di tambak, pengeringan dasar tambak umumnya dilakukan
bila dua kali siklus produksi pertumbuhan bandeng tidak signifikan atau dikenal dengan
istilah kuntet, maka sebaiknya dilakukan pengeringan dasar tambak sampai dasar tambak
pecah-pecah, sama seperti tahapan dalam tambak udang.

B. Pengapuran, Pengisian Air dan Pemupukan


Pengapuran Dasar
Tanah tambak di daerah mangrove umumnya memiliki pH (keasaman) yang lebih
rendah dibandingkan dengan pH tanah di daerah atasnya (sawah, kebun, dll). Hal ini
dikarenakan tingginya kandungan bahan organik (humus) di dalam tanah di daerah
mangrove. Pengapuran tanah dasar tambak yang masam merupakan salah satu faktor
penting dalam peningkatan produksi udang di tambak, karena tanah masam menyebabkan :
(1) Tingkat kematian udang dan ikan tinggi, (2) Resiko terhadap penyakit tinggi, (3)
Pertumbuhan alga sebagai pakan alami rendah, (4) Dapat menurunkan kadar oksigen
terlarut.
Gunakan pengukur pH tanah, diukur saaat tanam basah
Jangan membalik tanah yang masam karena dapat menyebabkan tanah menjadi lebih
asam
Pengapuran tanah dasar tambak bertujuan untuk menaikkan pH tanah hingga
pada tingkat yang dibutuhkan udang/ikan (>6.0-7.0).

Pemberian kapur dalam jumlah banyak juga sangat disarankan pada dasar tambak
yang sulit dikeringkan dengan maksud untuk membunuh bibit penyakit Manfaat pengapuran
dasar tambak diantaranya adalah: (1) membunuh parasit, (2) menaikkan pH tanah hingga
mencapai level yang cocok untuk udang/ikan, (3) mencegah fluktuasi pH yang drastis, (4)
meningkatkan produktivitas biologi dengan mengaktifkan bakteri pemecah bahan organik di
dalam tanah. (6) menetralisir zat berbahaya seperti asam, dan (7) secara tidak langsung
memperbaiki tekstur tanah tambak.
Beberapa kriteria yang perlu dijadikan patokan sebelum melaksanakan pengapuran
adalah:
a) Pemberian kapur dilakukan saat dasar tambak kering, setelah pembilasan. Jenis
dan Jumlah Kapur Dasar yang Dibutuhkan berdasarkan pH Tanah di Daerah

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
Mangrove
b) Pemberian kapur disarankan pada waktu dimana angin tidak berhembus kencang
untuk mencegah kapur beterbangan keluar tambak. Tempatkan posisi tubuh yang
membelakangi arah angin agar kapur tidak mengenai tubuh saat pemberian kapur.
c) Sebarkan kapur semerata mungkin di dasar tambak dan pematang bagian dalam,
terutama pada bagian caren atau bagian yang masih tergenang.
d) Diamkan tambak selama beberapa hari setelah pengapuran, kemudian isi dengan air
laut dan, jika memungkinkan, dilakukan pemeriksaan pH air. Diharapkan pH air telah
mencapai 7,5-8,5 yang menunjukkan bahwa proses pengapuran telah berhasil.

Perbaikan Konstruksi dan Prasarana Tambak


Perbaikan konstruksi dan prasarana tambak dilakukan untuk melakukan perawatan
terhadap pematang, pintu air, dan, jika ada, jembatan anco. Penambalan pematang yang
bocor sangat bermanfaat untuk mencegah kehilangan air selama masa pemeliharaan dan
mencegah introduksi penyakit lewat carrier yang masuk (misalnya kepiting atau udang liar).
Perbaikan pintu air dan saringannya juga harus dilakukan untuk mencegah masuknya
predator (ikan buas), carrier dan kompetitor lainnya (ikan, kepiting, udang liar).

Pengisian Air

Pengisian air pertama kali dilakukan jika tahapan persiapan lahan dan
perbaikan prasarana sudah dilakukan dengan sempurna. Penting untuk dicatat bahwa
pengisian air perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
a) Pengisian air hanya dilakukan jika air sumber (tandon atau saluran masuk)
memiliki kualitas yang baik tidak keruh, kotor, atau berbau).
b) Tidak disarankan untuk mengambil air dari saluran pembuangan tambak, ataupun
dari tambak sebelahnya, untuk mencegah wabah penyakit.
c) Sangat disarankan untuk mengisi air ke dalam tambak saat air mulai surut dari
pasang tertinggi, untuk mencegah pengambilan air yang keruh.
d) Saringan berlapis harus dipasang pada pintu air saat pengisian air ke dalam
tambak untuk mencegah masuknya hama/predator, carrier, dan atau ikan liar
e) Jika air dalam kolam mengandung hama/predator (seperti kakap, kepiting dll),
maka kolam yang telah berisi air perlu diberi bahan desinfektan seperti bubuk teh
(saponin) dan akar tuba (retenon).

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK

Pembasmian Hama
Pembasmian hama bertujuan untuk membunuh benih/anakan ikan liar yang
terlanjur masuk ke dalam tambak dan atau tendon. Jenis ikan liar yang masuk tergantung
pada daerah masing-masing misalnya kakap putih, keting, belanak, mujair, dan, terkadang,
kerapu. Beberapa hal penting dalam pembasmian hama di dalam tambak adalah:
a) Pembasmian hama dilakukan setelah beberapa hari (4 hari) sejak pengisian air,
untuk menjamin telur dari hama telah menetas, sehingga meningkatkan efektivitas
pemusnahan hama.
b) Pada budidaya udang Pembasmian hama ikan liar dilakukan dengan menggunakan
saponin (20-30 ppm) atau akar tuba (7-10 ppm). Penggunaan saponin dan akar tuba
hanya efektif untuk membunuh ikan, sementara untuk membunuh udang dan
kepiting liar umumnya menggunakan kaporit. Penggunaan kaporit pada daerah yang
masih tergenang juga sangat efektif membunuh hama.
c) Pemberian saponin sebaiknya dilakukan pada saat siang atau sore hari untuk
meningkatkan efektivitas pembasmian hama, karena efektivitas saponin terjadi
pada temperatur dan salinitas yang lebih tinggi. Sebagai tambahan, jika
pembasmian hama ingin dilakukan di tengah-tengah masa pemeliharaan, maka
jangan dilakukan pada malam hari karena dapat menurunkan pH dan mematikan
plankton.
d) Diamkan air selama 3 hari setelah pemberian saponin, untuk mengumpulkan ikan
liar yang mati dan untuk mengurangi sifat racun sebelum dilakukan penebaran benur
atau ikan.
e) Jangan gunakan pestisida karena dapat merusak kualitas lingkungan. Mitos bahwa
penggunaan pestisida dapat menumbuhkan cacing yang berguna untuk makanan
udang adalah tidak benar adanya.

Pemupukan

Pemupukan berguna untuk mempercepat pertumbuhan plankton/ pakan alami


menjadi lebih cepat. Selain sebagai pakan alami, plankton juga berperan dalam efek
peneduhan dan penyerapan dan pembuangan zat beracun di dalam tambak.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemberian pupuk adalah:

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
a) Pemupukan anorganik dilakukan setelah pengisian air dan harus dilakukan secara
sedikit demi sedikit dan bertahap untuk mencegah pertumbuhan berlebih (blooming)
dan kematian massal (crash).
b) Pupuk harus larut dalam air dan disebarkan secara merata. Pemberian pupuk
anorganik terutama TSP dengan penebaran langsung akan menjadi tidak efektif
dikarenakan sifat larutnya yang lamban di dalam air.
c) Pemberian pupuk organik/kompos umumnya berupa kotoran ayam. Pupuk harus
direndam di dalam air selama 24 jam sebelum disebar ke dalam tambak, dan
berguna untuk membantu pembentukan zooplankton yang merupakan pakan alami
utama dari larva udang atau anak ikan.
d) Jenis pupuk yang berbeda akan menumbuhkan plankton yang berbeda sehingga
warna air tambak juga berbeda. Terlambatnya penumbuhan plankton di kolom air
akan mempercepat penumbuhan klekap di dasar tambak. Bagi tambak udang
klekap mengganggu namaun klekap merupakan pakan alami bagi bandeng.
e) Jumlah (dosis) pupuk yang diberikan harus disesuaikan dengan luas tambaknya
tetapi yang biasa digunakan adalah pupuk organik sebanyak 1030 kg/ha ditebar
secara merata di pelataran tambak. Sementara jika menggunakan pupuk anorganik
seperti urea, TSP atau NPK atau kombinasi diantara ketiganya maka dapat diberikan
sebanyak 1-2 ppm.

7.3.3 Pemilihan dan Penebaran Benur/Nener

Pemilihan dan penebaran benih merupakan proses lanjutan setelah kegiatan


persiapan lahan dan air, dimana tahapan ini bisa dilakukan jika hanya proses sebelumnya
telah berjalan secara sempurna. Pemilihan benih sangat penting dilakukan untuk
mendapatkan benih yang berkualitas agar memiliki pertumbuhan yang baik dan tahan
terhadap serangan penyakit. Sementara itu, tahapan penebaran benih memerlukan
perlakuan khusus dalam proses manipulasi lingkungan dan aklimatisasi.

A. Pemilihan Benur/Nener
Secara umum, pastikan hanya membeli benur/nener yang sehat, memiliki riwayat
hidup yang baik, kuat, dan cukup umur. Untuk mudahnya, belilah benih pada panti benih
yang besar dan terpercaya, atau jika mungkin, hatchery yang memiliki sertifikat dari instansi
yang berwenang (Kementerian Kelautan dan Perikanan/Balai). Sangat disarankan untuk

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
tidak mudah terpengaruh oleh penawaran harga benih yang murah, karena umumnya, walau
tidak selalu, makin murah harganya akan makin buruk kualitasnya.
Ciri benur yang baik :
Seragam dalam panjang dan warna
Ukuran panjang sesuai umur (kurang lebih 13 mm untuk PL 15),
Anggota tubuh lengkap dan normal, ekor (uropod) sudah membuka sempurna,
tidak ada kerusakan kaki atau rostrum, tidak ada penempelan penyakit pada tubuh
Tidak mengalami stress yang ditunjukkan dengan warna kemerahan.
Benur yang sehat berwarna keabuan, coklat atau coklat tua.
Berenang melawan arus jika air dalam wadah diputar.
Sangat responsif terhadap cahaya dan kejutan
Usus penuh berisi makanan, warna usus bergantung pada jenis makanan
umumnya berwarna kecoklatan
Lulus test uji formalin 200 ppm selama 1 jam (SR>95%)

B. Penebaran Benur/Nener
Prosedur penebaran benur yang baik adalah:
a) Sebagai syarat tempat hidup yang baru, air tambak harus memiliki cukup pakan
alami (warna air kehijauan atau kecoklatan dan kecerahan air cukup).
b) Penebaran dilakukan di pagi hari untuk mendapatkan suhu air tambak yang rendah
agar mencegah stress pada benur/nener yang ditebar.
c) Dilakukan aklimatisasi atau adaptasi benur/nener terhadap lingkungan baru
dengan cara merendam kantong plastik di dalam air tambak selama 30-60 menit
untuk menyesuaikan suhu air di dalam kantong dengan air di dalam tambak
d) Setelah proses aklimatisasi suhu, sambil tetap direndam, kantong plastik dibuka
sedikit demi sedikit air tambak dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah
dibuka, atau bisa juga dengan perlahan membalikkan kantong hingga benur/nener
akan berenang keluar kantong secara bertahap
e) Benur/nener harus ditebar secara merata (menyebar) ke seluruh sisi tambak.
f) Kantong plastik dikumpulkan setelah benur/nener di dalam kantong telah keluar
semua.
g) Indikasi benur/nener yang kuat (tidak stress) adalah berenang dengan cepat setelah
dilepas, indikasi stress jika benur berenang lambat di permukaan air dan atau warna

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
tubuhnya kemerahan.

7.4 Pengelolaan Kualitas Air dan Pakan

Pengelolaan kualitas air dan pakan bertujuan untuk mengelola lingkungan agar
media hidup di dalam tambak sesuai untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup
udang/ikan yang dipelihara. Dikarenakan sifatnya yang ekstensif maka pengelolaan pakan
lebih mengarah kepada pembentukan dan menjaga kelimpahan pakan alami di dalam
tambak.

7.4.1 Pengelolaan Kualitas Air


Proses pengelolaan air sebetulnya sudah dimulai sejak pengisian air pertama kali.
Seperti dijelaskan di bab sebelumnya bahwa penyaringan dan pemupukan awal
merupakan salah satu tahapan pengelolaan air. Pengelolaan air setelah tebar lebih
diarahkan untuk menjaga agar kualitas air selalu berada pada kisaran yang baik untuk
pertumbuhan udang/ikan. Untuk tambak tradisional di daerah mangrove, parameter yang
menjadi perhatian utama biasanya adalah salinitas, pH dan oksigen terlarut. Pengisian air
umumnya dilakukan setiap hari saat air laut mengalami pasang tinggi dan membuang air
tambak saat surut. Pasang surut air laut berbeda dari satu hamparan pesisir dengan yang
lainnnya.
Prosedur yang digunakan sangat standar dan sederhana:
a) Sebelum memasukkan air, saringan dobel harus sudah terpasang di pintu air untuk
mencegah masuknya hewan liar ke dalam tambak
b) Air sumber harus memiliki kualitas yang baik, dalam arti tidak keruh, kotor
atau berbau. Usahakan memasukkan air saat pasang tertinggi dalam siklus harian
atau saat air mulai surut. Parameter air normal untuk pemeliharaan udang adalah
salinitas 15-25 ppt, pH 7,5-8,5, DO>4 ppm, dan kecerahan 30-35 cm
c) Akan lebih baik jika petani tambak dapat mengukur, setidaknya, salinitas dan
pH air sumber sebelum melakukan pengisian air. Perubahan salinitas tidak boleh
melebihi 3 ppt dalam satu hari di dalam tambak.
d) Pengelolaan air di tambak meliputi pemantauan kedalaman, kecerahan, dan
warna air. Kedalaman air harus dipertahankan untuk mengantisipasi kehilangan air
akibat kebocoran atau penguapan. Pemupukan susulan perlu dilakukan jika
kecerahan air (makanan alami) mulai berkurang. Dosis pemupukan diberikan sedikit
demi sedikit atau jika mungkin ditempatkan di dalam karung di depan pintu air agar

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
dapat larut sedikit demi sedikit.
e) Pada tambak udang, pertumbuhan klekap yang berlebih harus ditangani dengan
cara pengangkatan dari pinggir atau sudut kolam. Walaupun terkadang klekap
sengaja ditumbuhkan untuk makanan bandeng, namun patut diketahui bahwa
klekap yang tenggelam kembali (mati) akan menyebabkan kebusukan dasar tambak
dan membahayakan udang.
f) Pemberian saponin susulan bisa dilakukan jika terdapat banyak hama ikan liar di
dalam tambak. Namun hal ini tidak bisa dilakukan jika bandeng juga dipelihara di
dalam tambak (polikultur).
g) Pemberian kapur susulan bisa dilakukan jika fluktuasi pH air harian tidak stabil
atau pH air cenderung rendah selama masa pemeliharaan. Kaptan dan dolomit
lebih direkomendasikan untuk diberikan sesuai kemampuan keuangan petani, dosis
yang disarankan adalah 5-10 kg/hektar setiap 2-3 hari sekali.
h) Pada saat hujan lebat turun, salinitas dan pH air dapat turun secara drastis dan
kekeruhan meningkat, maka penanganan diperlukan dengan cara membuang air
permukaan serta pemberian kaptan sebanyak 2-3kg/10m2 ke atas pematang.
Jika air tambak menjadi keruh maka perlu diberikan kaptan sebanyak 200-300 kg
per hektar.

7.4.2 Pengelolaan Pakan


Beberapa hal penting perlu dicatat jika petani tambak bermaksud untuk memberikan
pakan buatan kepada udang/nener yang dipelihara, diantaranya:
a) Pemberian pakan benur pada kolam dengan tingkat kecerahan air lebih tinggi
(pakan alami sedikit) pemberian pakan harus diberikan lebih awal atau paling
lambat pada umur 25 hari sejak tanggal penebaran
b) Jumlah (dosis) pakan yang diberikan adalah sekitar 0,5 kg/hari per 10.000 PL
benur yang ditebar dan dibagi ke dalam tiga kali pemberian (masing-masing
sepertiga dari jumlah per hari). Untuk pemeliharaan nener, pemberian pakan dapat
dilakukan jika nener sudah merespon pemberian pakan.
c) Pakan untuk udang adalah pellet yang tenggelam (sinking type) sedangkan pellet
untuk bandeng adalah yang mengapung (floating type).
d) Perlu diperhatikan untuk senantiasa memilih dan menjaga kualitas pakan dengan
cara memilih pakan dari perusahaan yang terbukti kredibel (bermerk), selalu

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
menyimpan pada kemasan tertutup, diletakkan di tempat yang kering dan bersih,
tidak basah dan terserang jamur, dan tidak kadaluarsa.
e) Pakan disebarkan dari pinggir kolam (sekeliling pematang) dan merata ke
seluruh area yang bersih di tambak.
f) Jika mungkin, taruh beberapa anco untuk mengetahui laju konsumsi pakan
(populasi, nafsu makan udang) dan senantiasa diperiksa secara rutin setelah 2 jam.
g) Jangan berlebih dalam pemberian pakan karena dapat merusak kualitas air dan
menyebabkan pemborosan karena harga pakan yang tinggi.
h) Kurangi jumlah pakan setengahnya atau hentikan sama sekali jika udang tidak
nafsu makan, sedang molting, atau saat hujan lebat. Pakan dapat diberikan kembali
keesokan harinya atau 2 hari setelahnya.
i) Sesuaikan ukuran/tipe pakan yang diberikan dengan ukuran udang/bandeng yang
dipelihara. Lakukanlah konsultasi dengan penjual pakan mengenai tata cara
pemberian pakan yang lebih baik (tepat, hemat)

7.5 Panen dan Pasca Panen

7.5.1 Manajemen Panen


Panen umumnya dilakukan jika petani merasa udang sudah cukup umur (bobot/size)
dan pasar memiliki permintaan dengan harga yang bagus. Panen dan penjualan umumnya
bergantung pada sistem distribusi pemasaran di masing-masing daerah, dimana petani
tambak bisa menjual udang terlebih dahulu kepada pengumpul ataupun langsung ke
pasar. Keberadaan klembagaan formal seperti koperasi petani tambak juga berperan
penting dalam kegiatan usaha tambak, dimana koperasi umumnya memberikan pinjaman
modal dan membantu penyediaan sarana produksi serta mengatur jadwal panen dan
penjualan udang milik petani tambak.
Prosedur panen :
Untuk menjamin kualitas dan ukuran/size udang/bandeng agar memiliki harga yang bagus,
maka perlu dilakukan sampling udang minimal satu hari sebelum panen untuk melihat
kualitas udang/bandeng yang akan dipanen. Kriteria visual yang diamati oleh pembeli
udang (pabrik) diantaranya adalah ukuran, kesegaran, kekerasan karapas, dan warna.
Semakin besar ukuran, semakin segar, semakin keras cangkang atau semakin gelap warna
udang maka akan semakin dilirik dan memiliki harga yang lebih baik, begitupun sebaliknya.
Sementara untuk bandeng, pembeli cenderung menyukai ukuran (permintaan pasar) dan

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
rasa/bau. Oleh karena itu untuk menjaga kualitas hasil panen maka prinsip-prinsip di bawah
ini perlu diperhatikan:
Mempersiapkan tim panen, peralatan dan bahan yang dibutuhkan seperti box
(styrofoam atau plastik) dan es dengan jumlah yang cukup.
Pastikan semua peralatan yang digunakan (wadah tampungan, dll) telah
bersih dan didesinfeksi.
Waktu panen tidak dilaksanakan saat udang molting. Panen saat udang molting
massal akan merusak kualitas udang dan menjatuhkan harga jual udang di pasar.
Persentasi udang molting di bawah 5% masih dapat ditolerir.
Waktu panen dilaksanakan saat surut terendah dalam siklus bulanan,
untuk memudahkan dan mempercepat panen. Sangat disarankan untuk
menurunkan/membuang air tambak sedikit demi sedikit menjelang panen agar
mampu mempersingkat waktu panen.
Untuk mencegah kerusakan atau kesegaran, waktu panen dilakukan saat suhu
rendah (malam atau menjelang pagi) dan harus selesai sebelum matahari terik.
Pemasangan jaring panen pada pintu air (outlet) tambak harus menampung
udang/bandeng yang dipanen dan mencegah kebocoran yang menyebabkan
udang/bandeng lolos dari jaring panen
Udang yang terkumpul dalam jaring panen harus segera diangkat untuk mencegah
kerusakan udang (mati berlama-lama, patah rostrum atau ekor, atau terkena lumpur).
Sangat disarankan udang/bandeng yang dipanen segera direndam dalam air es
sebelum mati untuk mempertahankan kesegarannya.
Udang/bandeng kemudian dicuci dengan air laut bersih kemudian ditempatkan
dalam wadah box yang telah dilapisi es dibawahnya. Pastikan udang/ikan terekspos
es di dua sisi atas dan bawah untuk mempertahankan kesegaran selama perjalanan.
Perbandingan udang dan es adalah minimal seimbang dalam jumlah/volume.
Untuk mencegah dan memperlambat proses pembusukan, kepala udang dapat
dikupas dengan hati-hati sebelum dibawa ke tempat penampungan sementara.
Tindakan ini hanya dilakukan jika pasar menghendaki kriteria udang tanpa
kepala (headless).
Hasil panen harus sesegera mungkin dikirim ke penampungan udang atau
pabrik, untuk mencegah terjadinya kerugian akibat pembusukan. Walaupun pada
praktik umumnya, ada beberapa pengumpul yang sengaja membekukan udang

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
selama beberapa hari untuk meningkatkan berat udang sebelum dijual.

RAHMI AFIFI (1407112595)