Anda di halaman 1dari 11

TUGAS BENDUNGAN & BANGUNAN AIR

SURVEY TOPOGRAFI BENDUNGAN

OLEH :
KELOMPOK 2

AZHAR RIADY 1407113785


ERWIN 1407110453
NIKO RIZALDI 1407118970
RAHMI AFIFI 1407112595

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL S1


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2017
1. LINGKUP PEKERJAAN SURVEY TOPOGRAFI
Lingkup pekerjaan Survey Topografi terdiri atas tahapan berikut ini :
a. Persiapan
b. Pemasangan Bench Mark (BM) dan Patok-patok Kayu
c. Pengukuran Poligon / Kontrol Horizontal (Koordinat Kerangka
Pemetaan)
d. Pengukuran Waterpass / Kontrol Vertikal (Long Section)
e. Pengukuran Situasi (Pemetaan Daerah Rencana Bangunan Utama)
f. Pendataan dan Perhitungan / Evaluasi Data Ukur
g. Penyusunan Laporan dan Penggambaran

2. DESKRIPSI PEKERJAAN
Secara umum kegiatan Survey Topografi Pekerjaan dapat digambarkan
sebagai berikut :
1. Melakukan pengukuran secara lengkap pada rencana bendungan dengan
menggunakan waterpass dan theodolite.
2. Pekerjaan pengukuran meliputi pemasangan BM/CP, pengukuran
poligon, waterpass, site survei, pengukuran profil pemanjang dan
melintang dengan jarak interval 100 m pada kondisi lurus.
3. Penambahan patok BM baru jika jarak BM yang ada melebihi
2,50 km, sedangkan untuk bangunan penting dipasang neut/baut pada
dekzerk bangunan atau dicor beton.
4. Pengukuran kembali terhadap ketinggian semua patok beton BM
yang ada serta mengukur koordinat (x,y,z) BM baru.
5. Pengukuran pada setiap patok dengan jarak profil 100 m dengan
potongan melintang dengan kerapatan sesuai petunjuk Direksi, serta
perlu dilakukan pengukuran site survey dan pemasangan patok CP.
6. Potongan melintang harus mencakup semua detail rencana bendungan
yang berdekatan serta harus memperlihatkan ketinggian tanah di
sekitarnya.
7. Potongan melintang harus diplotkan berskala 1:100 untuk vertikal
dan horisontalnya dan memperlihatkan posisi semua patok.
8. Seluruh ruas rencana bendungan yang telah diukur digambar
lengkap dengan lokasi setiap bangunan yang ada dan memperlihatkan
ketinggian dasar serta puncaknya.
9. Pengukuran setempat (site survey) untuk pemetaan pada rencana
bangunan yang diperlukan. Alat yang digunakan Theodolite T-0 dan
Penyipat datar. Setiap bentuk/perubahan bangunan diukur sampai pada
titik detail terkecil , karena akan digambarkan pada skala 1 : 100.

3. DATA DASAR PENDUKUNG


3.1 Peta Pekerja
Peta kerja yang tersedia dan digunakan untuk kegiatan ini adalah sebagai
berikut :
1. Peta Rupabumi Digital Indonesia, Skala 1 : 25.000, Lembar 1409-324
Jekulo, oleh Bakosurtanal, Th. 2000.
2. Peta Rupabumi Digital Indonesia, Skala 1 : 25.000, Lembar
1409-342 Gembong, oleh Bakosurtanal, Th. 2000.
3. Peta Pengukuran Topografi Pekerjaan Survai Dan Detail Desain
Embung Logung Proyek Irigasi Andalan Jawa Tengah (PIAJT), oleh
PT. Stadia Reka, Th 2002
4. Peta Pengukuran Topografi Pekerjaan Review Detail Desain
Embung Logung Proyek Jratunseluna, oleh PT.Indra Karya, Th.
2004.
5. Peta Administrasi Kabupaten Kudus, oleh Bappeda Kab. Kudus, Th.
2009
6. Peta Administrasi Kecamatan-Kecamatan di Kab. Kudus, oleh Bappeda
Kab. Kudus, Th. 2009

3.2 Bench Mark (BM) Referensi


Titik referensi yang dipergunakan adalah titik Bench Mark (BM) yang ada
disekitar lokasi pengukuran (peta dasar), misalnya titik triangulasi, titik NWP
atau titik referensi lainnya atas persetujuan pihak Direksi Pekerjaan. Bila
tidak ditemukan titik-titik referensi tersebut di atas, maka akan dipakai
Global Positioning System (GPS) Geodetic untuk menentukan
koordinat bangunan yang direncanakan. Titik Referensi yang digunakan
adalah Patok BM.E.LG.0 Ka yang dibuat oleh PT. Indra Karya pada studi
tahun 2004 yang terletak di lokasi rencana As Bendungan Logung. Data
koordinat untuk BM.E.LG.0 Ka adalah X = 491.274,690 dan Y =
9.252.971,957.

Gambar 1. Patok BM Referensi Gambar 2. Pengecekan koordinat


Koordinat BM.E.LG. 0 Ka patok BM Referensi
BM.E.LG. 0 Ka dengan
Alat Global Positioning
System (GPS) Geodetic

Sedangkan untuk referensi data elevasi di gunakan titik referensi dari


BM.LG.B1 PIJT yang dibuat oleh CV. Cipta Rencana pada studi tahun 2001
yang terletak di sebelah kanan Bendung Logung + 3 km di hilir rencana
Bendungan Logung. Data elevasi untuk BM.LG.B1 PIJT adalah Z = + 27,005

Gambar 3. Lokasi BM.LG.B1 PIJT Gambar 4. Patok BM Referensi


di Sebelah Kanan Bendung Logung Elevasi BM.LG.B1 PIJT
4. PELAKSANAAN PEKERJAAN SURVEY TOPOGRAFI
4.1 Persiapan
Persiapan administrasi / laporan, peralatan dan personil.
Pengumpulan data pendukung dan instansi terkait, antara lain :
a. Peta Topografi 1 : 25.000
b. Foto produk baru (jika ada) skala 1 : 10.000 atau skala lebih besar.
c. Titik referensi yang akan digunakan.
d. Sistem Proyeksi (UTM)
e. Batas areal pengukuran.
f. Data-data yang diperlukan.
Survai lapangan pendahuluan dilakukan bersama-sama antara Tim
Konsultan dan Tim Direksi Teknis Pekerjaan, untuk memperoleh
informasi antara lain :
a. Batas lokasi untuk pemetaan
b. Data-data yang diperlukan

4.2 Personil dan Peralatan


A. Personil
Untuk menghasilkan suatu produk survey Topografi yang optimal,
diperlukan Tenaga Ahli Geodesi yang profesional dengan tingkat disiplin
ilmu sekurang-kurangnya setingkat strata 1. Tenaga ahli yang akan
ditugaskan dalam kegiatan ini harus memiliki latar belakang pendidikan dan
pengalaman pada bidang survey pengukuran Topografi Bendungan pada
khususnya.
Selain Tenaga Ahli Geodesi yang mutlak harus dipenuhi sesuai dengan
disiplin ilmunya untuk kelancaran dan ketertiban serta optimalnya produk
akhir pengukuran yang diinginkan, seyogyanya perlu ditunjang oleh tenaga
pendukung yang profesional dan berpengalaman. Oleh sebab itu dalam
pelaksanaan kegiatan ini diperlukan tenaga pendukung sesuai dengan
keahliannya dengan tingkat disiplin ilmu yang dapat melaksanakan tugas
sesuai pula dengan kedudukannya.
B. Peralatan
Kebutuhan peralatan survey lapangan untuk pekerjaan pemetaan
Topografi disesuaikan dengan penugasan tenaga teknis yang melaksanakan
pekerjaan tersebut di lapangan, seperti rincian berikut :
1. Theodholite T2 : 2 unit
2. Theodholite T0 : 2 unit
3. Waterpass : 2 unit
4. Kamera Digital : 1 bh
5. GPS : 2 bh
6. Roll Meter (50 m) : 3 bh
7. Meteran (10 m) : 6 bh
8. Kendaraan Roda 2 : 2 unit
9. Kendaraan Roda 4 : 1 unit
Alat ukur sebelum dibawa ke lapangan terlebih dahulu dilakukan
pengecekan, di antaranya pengecekan salah Indeks dan salah kolminasi
untuk alat jenis theodolit dan salah garis bidik untuk alat jenis waterpass
yang akan dipakai tersebut.
Formulir yang dipakai adalah formulir standard yang biasa dipakai
untuk pekerjaan pemetaan Bendungan yaitu :
Formulir Pengukuran Sudut dan Jarak (Poligon)
Formulir Pengukuran Waterpass
Formulir Pengukuran Detail Dan Situasi

4.3 Pengukuran Topografi


A. Pemasangan Patok, CP dan BM
Pelaksanaan pemasangan patok dan BM sbb :
Patok terbuat dari kayu ukuran 5 / 7 atau bambu bulat, panjang
50 cm, ditanam 40 cm dan bagian atasnya + 10 cm diberi cat
merah dan paku payung.
Patok dipasang sepanjang / melingkupi batas areal irigasi yang
berfungsi sebagai kerangka pengukuran. Apabila kerangka ini
terlalu besar gara dibuat menjadi beberapa loop sesuai
petunjuk Direksi.
Patok dipasang setiap jarak 100 m ( jika alat ukur jaraknya adalah
roll meter dari baja.
BM harus dipasang sebelum dilaksanakan pengukuran. BM dipasang di
tempat yang stabil, aman dari gangguan dan mudah dicari. Setiap BM harus
difoto, dibuat diskripsinya, diberi nomor dan kode sesuai petunjuk Direksi.
Pada BM dimana dilakukan pengamatanmatahari harus dipasang
azimuth mark sebagai acuan azimuth.
Pemasangan BM harus direncanakan kerapatannya dan mendapat
persetujuan Direksi, sehingga memenuhi persyaratan :
Setiap 250 Ha.
Pada kerangka setiap 2,5 Km dan pada tiap titik simpul.
Bentuk dan Konstruksi BM sesuai ketentuan yang berlaku (KP)

B. Pengukuran Kerangka Horizontal (Poligon)


Pengukuran kerangka horisontal adalah sebagai berikut :
Menggunakan metode pengukuran polygon.
Alat ukur sudut yang digunakan adalah Theodolite T-2 atau alat yang
lain yang sejenis.
Alat ukur jarak yang digunakan adalah EDM untuk polygon
utama dan roll meter baja untuk polygon cabang.
Jalur pengukuran polygon megikuti jalur kerangka pengukuran.
Sudut horisontal diukur 1 (satu) seri lengkap (B,LB).
Perbedaan sudut horisontal bacaan biasa dan luar biasa < 5".
Untuk orientasi arah kontrol ukuran sudut harus dilakukan
pengamatan matahari sesuai petunjuk Direksi.
Jarak antara patok diukur 2 (dua) kali atau bolak-balik,
perbedaannya harus < 1 : 1/10.000 (L = jarak rata-rata).
Panjang seksi pengukuran polygon maksimum 2,5 Km dan setiap
ujungnya ditandai dengan BM
C. Pengukuran Kerangka Vertikal (Sipat Datar)
Pelaksanaan pengukuran kerangka vertikal adalah sbb :
Menggunakan metode pengukuran sifat datar / waterpass.
Alat yang digunakan harus alat waterpass otomatis dan rambu
ukur yang dilengkapi dengan nivo.
Ketinggian / elevasi setiap titik polygon dan BM ditentukan
dengan pengukuran waterpass.
Sebelum dan sesudah pengukuran (setiap hari) harus dilakukan
checking garis bidik.
Metode pengukuran waterpass adalah double stand dan pergi
pulang.

D. Pengukuran Situasi Bendungan (Long and Cross)


Pengukuran Long dimaksudkan untuk mendapatkan potongan
memanjang dan melintang, adapun teknis pekerjaannya adalah
sebagai berikut :
Pengukuran trase dilakukan pada rencana bendungan yang
direncanakan sesuai dengan layout yang definitive
Penampang memanjang
o Dalam melaksanakan pengukuran ini dilakukan
pengukuran beda tinggi dengan jarak maksimum tiap 100
m, kecuali pada daerah-daerah khusus yang kemiringannya
cukup besar dan kondisi medan yang spesifik, maka
pengukuran harus dilaksanakan secara lebih teliti (dirapatkan)
o Hasil review tersebut di atas, sudah harus dapat
memberikan sistem dan bendungan yang akan direncanakan
o Sudut sungai atau belokan sungai harus dilaksanakan dengan
cermat, baik untuk menentukan bend horisontal maupun bend
vertikal pada tanjakan yang pada tanjakan yang memang
diperlukan
o Pada MAR pengukuran rencana bendungan, harus diberi
tanda dengan menggunakan cat atau patok sehingga secara
jelas dapat dibuat pedoman didalam pelaksanaan fisik
pekerjaan
Penampang melintang
o Lebar potongan melintang diukur 50 m ke kiri dan ke kanan
dari tepi
o Alat ukur yang digunakan adalah Theodolit T. 0
o Jarak pengamatan disesuaikan dengan sifat kemiringan
tanah dengan kerapatan titik maksimum 2 m
o Interval penampang 100 m pada tempat yang lurus dan
pada tikungan dirapatkan sesuai kondisi tikungan
o Pengukuran posisi titik penampang akan menggunakan cara
pengukuran poligon sedang ketinggian dengan cara
tachymetri

E. Pengukuran Situasi Area Genangan


Menggunakan metode pengukuran Tachymetri.
Alat ukur yang digunakan adalah Theodholite T-0.
Posisi titik detail ditentukan oleh arah dan jarak atau sudut dan
jarak.
Kerapatan elevasi pada daerah genangan maksimum tiap 100
m.
Batas-batas daerah genangan di lapangan harus diukur.
Semua kenampakan yang ada baik alami maupun buatan
manusia harus diukur (jaringan saluran irigasi, pembuang,
jalan kampung dan lain-lain ).
Pengukuran harus diikatkan pada titik polygon.

4.4 Perhitungan Data


Hasil pengukuran yang didapatkan dari lapangan harus segera dihitung
dengan demikian bila terjadi kesalahan dapat dengan segera diadakan
pengukuran ulang. Sebelum memulai pengukuran koordinat, harus diadakan
terlebih dahulu pengecekan-pengecekan hasil ukuran misalnya syarat-syarat
pengukuran polygon kring, ketelitian sudut yang diijinkan dan lain-lain,
sehingga sebelum memulai hitungan koordinat dan elevasi syarat-syarat
tersebut harus sudah terpenuhi.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses pendataan dan
perhitungan hasil pengukuran, antara lain :
Sistem pendataan, blangko data maupun tata cara perhitungan
sebelumnya memperoleh persetujuan dari Tim Direksi Teknis Pekerjaan.
Perhitungan dan koreksi dilapangan diperlukan untuk menghindari
kekeliruan (perhitungan sementara)
Perhitungan Definitif meliputi :
o Perhitungan koordinat sesuai dengan system koordinat titik ikat.
o Perhitungan ketinggian sesuai dengan titik referensi dan dihitung per
section
Perhitungan situasi terdiri dari perhitungan beda tinggi dan jarak datar. Data
ukur hasil pengukuran di lapangan berupa :
1. Data Ukur Pengukuran Waterpass.
2. Data Ukur Pengukuran Melintang.
3. Data Ukur Pengukuran Polygon.
4. Data Ukur Pengukuran Situasi.

4.5 Penggambaran dan Penyajian Peta


1. Peta dasar pendahuluan skala 1 : 1000 atau 1 : 2000 harus memperlihatkan
keadaan pada saat dilakukan pengukuran.
2. Peta harus digambar di atas kertas kalkir 80/85 mg ukuran A1 (594 x
841 mm) dengan tata laksana penggambaran sesuai dengan Kriteria
Perencanaan (KP. 07).
3. Ukuran tulisan, angka dan ketebalan garis harus sesuai dengan Kriteria
Perencanaan (KP. 07).
4. Setelah perhitungan - perhitungan koordinat selesai, sambil menunggu hasil
perhitungan elevasi dan titik-titik detail, pengeplotan koordinat dengan
system grafis tidak diperbolehkan.
5. Seperti pekerjaan-pekerjaan pengukuran; perhitungan; pekerjaan
penggambaran ini harus dipimpin oleh seorang koordinator yang
berpengalaman, hal ini dimaksudkan agar dapat terkoordinir dengan baik
serta hasil survey yang maksimum dengan waktu yang tepat.
6. Ketentuan gambar sebagai berikut :
Garis silang grid dibuat setiap 10 cm arah x dan arah y.
Gambar konsep draft harus diperiksa terlebih dahulu kepada direksi

sebelum digambar final pada drafting ukuran 80/90 gram/m2.


Semua BM baik yang lama maupun yang baru atau yang digunakan
sebagai BM referensi harus digambar pada peta lengkap dengan
ketinggiannya.
Pada tiap kelipatan 5 m, garis kontur dibuat tebal dan dilengkapi dengan
elevasinya.
Setiap lembar gambar dilengkapi dengan arah orientasi, daftar
legenda, nomor urut dan jumlah lembar gambar serta titik referensi
yang digunakan lengkap dengan data x, y dan z - nya.
7. Penggambaran peta situasi sebagai berikut :
Kerangka pemetaan dengan system koordinat siku - siku, grid standar
= 10 cm, overlapping peta = 5 cm.
Detail situasi dengan system POLAR, lengkapi legenda dan peta situasi
berskala 1 : 2.000
Kontur dengan interpolasi interval 1 m, setiap kenaikan 5 m dibuat
dengan ketebalan garis yang berbeda.
8. Peta petunjuk skala 1 : 50.000 dilengkapi dengan posisi cross section , Bench
Mark dll.
9. Penggambaran Long Cross Section sebagai berikut :
Cross Section digambar dengan skala tinggi 1 : 200, skala panjang 1 :
200, tinggi patok dan BM.
Long Section digambar dengan skala tinggi 1 : 200, skala panjang 1 :
1.000.