Anda di halaman 1dari 26

Perawatan Beton (Curing)

Minggu, 04 Maret 2012

Pada prinsipnya tujuan perawatan beton adalah mencegah pengeringan yang bisa menyebabkan
kehilangan air yang dibutuhkan untuk perawatan beton. Pencegahan ini terutama pada umur awal
beton sampai beton berumur 14 hari. Lamanya perawatan tergatung jenis semen yang dipakai,
misalnya type I, II paling sedikit 21 hari. Untuk semen type V dianjurkan 28 hari
Pelaksanaan Perawatan :
1. Melindungi beton selama waktu antara penempatan dan pearwatan (finishing) dengan bahan
pelindung yang lembab (terpal)
2. Selama beberapa jam setelah finishing, diadakan penyiraman halus dengan menggunakan air,
bagian atas beton yang terbuka perlu ditutup dengan bahan pelindung karung basah atau dengan
lapisan tipis membran.
3. Pada pelat pembasahan dilakukan dengan menggenangi dengan air
4. Pada 3 hari pertama sesudah pengecoran selesai, proses pengerasan beton tidak boleh diganggu
getaran-getaran
5. Setelah cetakan dibuka, konstruksi dilindungi dan perawatan dilanjutkan dengan cara yang
sesuai selama paling sedikit 14 hari
6. Perawatan dengan cara uap tekanan tinggi pemanasan, atau proses lain untuk mempersingkat
waktu pengerasan dapat digunakan dengan persetujuan pengawas ahli
Proses curing (perawatan) pada beton memainkan peran penting pada pengembangan kekuatan
dan daya tahan beton , proses curing dilaksanakan segera setelah proses pencetakan selesai.
Proses curing ini meliputi pemeliharaan kelembaban dan kondisi suhu, baik dalam beton
maupun di permukaan beton dalam periode waktu tertentu . Proses curing pada beton
bertujuan memberikan kelembaban yang cukup pada proses hidrasi lanjutan dan
pengembangan kekuatan, stabilitas volume, ketahanan terhadap pembekuan dan pencairan
serta abrasi .
Lamanya proses curing tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut :
1. Jenis semen yang digunakan
2. Proporsi dari campuran
3. Ukuran dan bentuk daripada beton
4. Kondisi cuaca disekitarnya
5. Kondisi cuaca setelahnya

Beton di tanah (misalnya trotoar, tempat parkir, jalanan, lantai, pelapis saluran) dan beton
struktur (misalnya deck jembatan, dermaga, kolom, balok, lempengan) membutuhkan waktu
curing minimal tujuh hari dengan suhu sekitar 5 C diatas suhu sekitarnya.
Institut Beton Amerika (American Concrete Institute-ACI) merekomendasikan jangka waktu
minimum curing, proses curing dilakukan minimum hingga mencapai kekuatan 70 % dari
kekuatan yang direncanakan. 70 % kekuatan dapat dicapai dengan cepat apabila curing
dilakukan pada temperatur yang tinggi dan atau dengan penggunaan bahan kimia tambahan yang
digunakan untuk mempercepat perkembangan kuat tekan.

Komite Institut Beton Amerika merekomendasikan waktu minimum curing sbb :

1. ASTM C 150 semen tipe I, waktu minimum curing 7 hari


2. ASTM C 150 semen tipe II, waktu minimum curing 10 hari
3. ASTM C 150 semen tipe III, waktu minimum curing 3 hari
4. ASTM C 150 semen tipe IV atau V minimum curing 14 hari
5. ASTM C 595, C 845, C 1157 waktu curing bervariasi

Grafik pengaruh waktu curing terhadap perkembangan kuat tekan

Temperatur curing yang tinggi dapat membantu perkembangan kuatan tekan awal beton tetapi
dapat menurunkan kekuatan pada umur 28 hari.

Grafik pengaruh temperatur curing terhadap perkembangan kuat tekan

Jumlah air di dalam beton cair sebetulnya sudah lebih dari cukup (sekitar 12 liter per ak semen)
untuk mnyelesaikan reaksi hidrasi.
Namun sebagian air hilang karena menguap sehingga hidrasi selanjutnya terganggu.
Karena hidrasi relatif cepat pd hari-hari pertama, perawatan yg ling penting adalah pada umur
mudanya.
Kehilangan air yg cepat juga menyebabkan beton menyusut, terjadi tegangan tarik pada beton
yg sedang mengering sehingga dpt menimbulkan retak.
Beton dirawat sebanyak 7 hri akan lebih kuat sekitar 50% daripada beton tidak dirawat.

Perawatan ini dilakukan setelah beton mencapai final setting, artinya beton telah mengeras.
Perawatan ini dilakukan, agar proses hidrasi selanjutnya tidak mengalami gangguan. Jika hal ini
terjadi, beton akan mengalami keretakan karena kehilangan air yang begitu cepat. Perawatan
dilakukan minimal selama 7 (tujuh) hari dan beton berkekuatan awal tinggi minimal selama 3
(tiga) hari serta harus dipertahankan dalam kondisi lembab, kecuali dilakukan dengan perawatan
yang dipercepat (PB,1989:29).

Perawatan ini tidak hanya dimaksudkan untuk mendapatkan kekuatan tekan beton yang tinggi
tapi juga dimaksudkan untuk memperbaiki mutu dari keawetan beton, kekedapan terhadap air,
ketahanan terhadap aus, serta stabilitas dari dimensi struktur.

a) Perawatan Yang Dipercepat

Perawatan dengan uap bertekanan tinggi, uap bertekanan atmosferik, pemanasan dan
pelembaban atau proses lain yang dapat diterima, boleh digunakan untuk mencapai kekuatan
tekan dan mengurangi waktu perawatan. Perawatan ini harus mampu menghasilkan kekuatan
tekan sesuai dengan rencana, dan prosesnya harus mampu menghasilkan beton yang tegar.

Untuk cuaca yang panas perlu diperhatikan bahan-bahan penyusunnya, cara produksi,
penanganan dan pengangkutan, penuangan, perlindungan dan perawatan untuk mencegah suhu
beton atau penguapan air yang berlebihan sehingga dapat mengurangi kekuatan tekannya dan
mempengaruhi kekuatan struktur.

b) Macam Perawatan

Perawatan beton ini dapat dilakukan dengan pembahasan atau penguapan (steam) serta dengan
menggunakan membran. Pemilihan cara mana yang digunakan semata-mata mempertimbangkan
biaya yang dikeluarkan.

Perawatan Dengan Pembasahan

Pembahasan dilakukan di laboratorium ataupun di lapangan. Pekerjaan perawatan dengan


pembahasan ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

1. Menaruh beton segar dalam ruangan yang lembab.


2. Menaruh beton segar dalam genangan air.
3. Menaruh beton segar dalam air.
4. Menyelimuti permukaan beton dengan air.
5. Menyelimuti permukaan beton dengan karung basah.
6. Menyirami permukaan beton secara kontinyu.
7. Melapisi permukaan beton dengan air dengan melakukan compound.
Cara a, b, dan c digunakan untuk contoh uji. Cara d,e, f digunakan untuk beton di lapangan yang
permukaanya mendatar, sedangkan cara f dan g digunakan untuk yang permukaanya vertikal.
Fungsi utama dari perawatan beton adalah untuk menghindarkan beton dari :

1. Kehilangan air-semen yang banyak pada saat-saat setting time concrete.


2. Kehilangan air akibat penguapan pada hari-hari pertama.
3. Perbedaan suhu beton dengan lingkungan yang terlalu besar.

Untuk menanggulangi kehilangan air dalam beton ini dapat dilakukan langkah-langkah
perbaikan dengan perawatan. Pelaksanaan Curing Compound, sesuai dengan ASTM C.309,
dapat diklasifikasikan menjadi :

1. Tipe I, Curing Compound tanpa Dye, biasanya terdiri dari paraffin sebagai selaput lilin yang
dicampur dengan air.
2. Tipe I-D, Curing Compound dengan Fugitive Dye (warna akan hilang selama beberapa
minggu).
3. Tipe II, Curing Compound dengan zat berwarna putih.

Di pasaran, kita dapat menjumpai beberapa merek sikament, misalnya Antisol Red (termasuk tipe
I-D), Antisol White (termasuk tipe II) dan Antisol E (termasuk Tipe I, Non Pigmented Curing
Compound). Curing compound ini selain berguna untuk perawatan pada daerah vertikal juga
berguna untuk daerah yang mempunyai temperature yang tinggi, karena bersifat memantulkan
cahaya (terutama Tipe I).

Perawatan Dengan Penguapan

Perawatan dengan uap dapat dibagi menjadi dua, yaitu perawatan dengan tekanan rendah dan
perawatan dengan tekanan tinggi. Perawatan tekanan rendah berlangsung selama 10-12 jam pada
suhu 40-55C, sedangkan penguapan dengan suhu tinggi dilaksanakan selama 10-16 jam pada
suhu 65-95C, dengan suhu akhir 40-55C. Sebelum perawatan dengan penguapan dilakukan,
beton harus dipertahankan pada suhu 10-30C selama beberapa jam. Perawatan dengan
penguapan berguna pada daerah yang mempunyai musim singin. Perawatan ini harus diikuti
dengan perawatan dengan pembahasan setelah lebih dari 24 jam, minimal selama umur 7 hari,
agar kekuatan tekan dapat tercapai sesuai dengan rencana pada umur 28 hari.
Perawatan Dengan Membran
Membran yang digunakan untuk perawatan merupakan penghalang fisik untuk menghalangi
penguapan air. Bahan yang digunakan harus kering dalam waktu 4 jam (sesuai final setting time),
dan membentuk selembar film yang kontinyu, melekat dan tidak bergabung, tidak beracun, tidak
selip, bebas dari lubang-lubang halus dan tidak membahayakan beton.

Lembaran plastik atau lembaran lain yang kedapa air dapat digunakan dengan sangat efesien.
Perawatan dengan menggunakan membran sangat berguna untuk perawatan pada lapisan
perkerasan beton (rigid pavement). Cara ini harus dilaksanakan sesegera mungkin setelah waktu
pengikatan beton. Perawatan dengan cara ini dapat juga dilakukan setelah atau sebelum
perawatan dengan pembahasan.

Perawatan Lainnya
Perawatan pada beton lainnya yang dapat dilakukan adalah perawatan dengan menggunakan
sinar infra merah, yaitu dengan melakukan penyinaran selama 2-4 jam pada suhu 90C. hal
tersebut dilakukan untuk mempercepat penguapan air pada beton mutu tinggi. Selain itu ada pula
perawatan hidrotermal (dengan memanaskan cetakan untuk beton-beton pra-cetak selama 4 jam
pada suhu 65C) dan perawatan dengan karbonisasi.
PERAWATAN PADA BETON
Di: teknik sipil

A. Proses Curing

Proses curing (perawatan) pada beton


memainkan peran penting pada pengembangan kekuatan dan daya tahan beton, proses curing

dilaksanakan segera setelah proses pencetakan selesai. Proses curing ini meliputi pemeliharaan
kelembaban dan kondisi suhu, baik dalam beton maupun di permukaan beton dalam periode waktu
tertentu . Proses curing pada beton bertujuan memberikan kelembaban yang cukup pada

proses hidrasi lanjutan dan pengembangan kekuatan, stabilitas volume, ketahanan terhadap
pembekuan dan pencairan serta abrasi. Lamanya proses curing tergantung pada faktor-faktor sebagai
berikut :

1. Jenis semen yang digunakan

2. Proporsi dari campuran

3. Ukuran dan bentuk daripada beton

4. Kondisi cuaca disekitarnya

5. Kondisi cuaca setelahnya


Beton di tanah (misalnya trotoar, tempat parkir, jalanan, lantai, pelapis saluran) dan beton
struktur (misalnya deck jembatan, dermaga, kolom, balok, lempengan) membutuhkan waktu curing
minimal tujuh hari dengan suhu sekitar 5C diatas suhu sekitarnya. Institut Beton Amerika (American
Concrete Institute-ACI) merekomendasikan jangka waktu minimum curing, proses curing dilakukan
minimum hingga mencapai kekuatan 70 % dari kekuatan yang direncanakan. 70% kekuatan dapat
dicapai dengan cepat apabila curing dilakukan pada temperatur yang tinggi dan atau dengan
penggunaan bahan kimia tambahan yang digunakan untuk mempercepat perkembangan kuat tekan.
Komite Institut Beton Amerika merekomendasikan waktu minimum curing sbb :

1. ASTM C 150 semen tipe I, waktu minimum curing 7 hari

2. ASTM C 150 semen tipe II, waktu minimum curing 10 hari

3. ASTM C 150 semen tipe III, waktu minimum curing 3 hari

4. ASTM C 150 semen tipe IV atau V minimum curing 14 hari

5. ASTM C 595, C 845, C 1157 waktu curing bervariasi

Berikut adalah grafik pengaruh waktu curing terhadap perkembangan kuat tekan dan grafik
pengaruh temperatur curing terhadap perkembangan kuat tekan

Temperatur curing yang tinggi dapat membantu perkembangan kuatan tekan awal beton tetapi
dapat menurunkan kekuatan pada umur 28 hari.

B. Akibat Beton Tidak Terawat

Penguapan mengakibatkan kehilangan air, sehingga proses hidrasi terhenti, dengan konsekuensi :

Berkurangnya peningkatan kekuatan.

Penyusutan kering yg terlalu awal dan cepat, mengakibatkan timbulnya tegangan tarik yg
menyebabkan beton retak.

C. Pengaruh Curing terhadap Kekuatan Beton

Dapat dinyatakan bahwa perkembangan yang baik dari kekuatan beton tidak hanya dipengaruhi
keseluruhan semen terhidrasi, dan ini terbukti dalam praktik di lapangan. Kualitas beton juga tergantung
kepada gel/space ratio dari pasta semen. Jika sekiranya ruang yang terisi air dalam beton segar lebih
besar dari volume yang dapat diisi oleh produksi dari hidrasi, hidrasi yang lebih banyak akan
menghasilkan kekuatan yang lebih tinggi dan permeabilitas yang lebih rendah (Neville, 1982).

Oleh sebab itu kehilangan air dari beton harus diproteksi, dan selanjutnya kehilangan air secara
internal oleh pengeringan sendiri harus digantikan oleh air dari luar. Yaitu pemasukan air ke dalam
beton harus difasilitasi sebaik mungkin, sehingga proses hidrasi yang terjadi pada pengikatan dan
pengerasan beton sangat terbantu oleh pengadaan airnya. Meskipun pada keadaan normal, air tersedia

dalam jumlah yang memadai untuk hidrasi penuh selama pencampuran, perlu adanya jaminan bahwa
masih ada air yang tertahan atau jenuh untuk memungkinkan kelanjutan proses hidrasi itu sendiri.
Penguapan dapat menyebabkan suatu kehilangan air yang cukup berarti sehingga mengakibatkan
terhentinya proses hidrasi, dengan konsekuensi berkurangnya peningkatan kekuatan (Neville, 1982 dan
Soroka, 1979).

Dapat ditambahkan juga, bahwa penguapan dapat menyebabkan penyusutan kering yang
terlalu awal dan cepat, sehingga berakibat timbulnya tegangan tarik yang mungkin menyebabkan retak,
kecuali bila beton telah mencapai kekuatan yang cukup untuk menahan tegangan ini. Oleh karena itu

direncanakan suatu cara perawatan untuk mempertahankan beton supaya terus menerus berada dalam
keadaan basah selama periode beberapa hari atau bahkan beberapa minggu. Hal ini termasuk
pencegahan penguapan dengan pengadaan beberapa selimut pelindung yang sesuai maupun dengan

membasahi permukaannya secara berulang-ulang.

Sehari setelah pengecoran merupakan saat yang terpenting untuk periode sesudahnya. Oleh
sebab itu diperlukan perawatan dengan air sehingga untuk jangka panjang, kualitas beton, baik
kekuatan maupun kekedapan airnya, dapat lebih baik. Perawatan dengan cara membasahi
menghasilkan beton yang terbaik. Semakin erat pendekatan kondisi perawatan, semakin kuat beton

yang dihasilkan. Hal ini diperlihatkan pada Gambar 3 (Murdock dan Brook, 1999).

Dalam menafsirkan hasil pengujian laboratorium, harus diperhitungkan bahwa bahan yang diuji

umumnya kecil. Oleh karenanya sifat-sifat bahan ini sangat dipengaruhi oleh perubahan dari lapisan
permukaannya. Karena umumnya lapisan permukaan mudah terpengaruh oleh kondisi perawatan. Hal
ini dibuktikan oleh kerusakan tampang melintang yang tebal jauh lebih kecil daripada yang ditunjukkan
oleh contoh bahan uji yang lebih kecil.

Penggenangan atau penyiraman secara terus menerus tidak selalu merupakan suatu cara yang
praktis, dan akan lebih baik bila disokong dengan penerapan cara-cara lain. Proteksi terhadap
penguapan air segera setelah pengecoran yaitu menyelimuti permukaan beton dengan lembaran
polythene atau kertas bangunan merupakan cara yang paling efektif pada langkah-langkah berikutnya.
Tetapi, karena kurang baiknya daya insulasi bahan-bahan ini, mungkin diperlukan tambahan

perlindungan untuk mengurangi pengaruh panas sinar matahari.

Secara alternatif, hessian (sejenis karung goni) yang basah dapat ditutupkan langsung pada
permukaan, segera setelah beton cukup keras agar hessian tidak menyebabkan kerusakan atau melekat
pada permukaan beton. Pasir basah, pada lapisan setebal 50 mm juga dapat digunakan untuk merawat
permukaan horizontal yang luas. Baik hessian basah ataupun pasir basah jarang dikerjakan dengan baik,
penyiraman atau pembasahan beton pada interval waktu tertentu siang dan malam hari sering
terlupakan. Menggunakan pasir basah mempunyai kelemahan karena akan menambah biaya
sehubungan dibutuhkannya tenaga kerja tambahan untuk menempatkan dan mengambil kembali pasir

itu (Lubis, 1986 dan 1995).

Permukaan lantai akan mengering lebih cepat sehubungan dengan ketebalannya yang lebih

tipis. Oleh karena itu harus diadakan sarana yang memadai untuk mencegah kekeringan dengan
menyelimuti dengan kertas atau lembaran polythene yang kedap air. Lapisan tipis untuk perawatan
beton, yang harus diterapkan sementara beton masih basah umumnya diterima sebagai suatu sarana
yang memuaskan untuk perawatan beton. Meskipun bukan yang paling efisien, perawatan yang paling
praktis dan ekonomis bentuknya ialah penggunaan senyawa kimia untuk perawatan beton dengan
penyiraman terutama pada permukaan horizontal yang luas.

D. Sistem Perawatan Beton

Cara Cara Perawatan Beton yang Umum Digunakan


Lapisan pasir yang dibasahi dengan tebal tidak kurang dari 5 cm ditaruh diatas permukaan beton yang
sedang kita rawat.

Permukaan beton ditutup dengan karung yang dibasahi terus menerus.

Dengan mempergunakan lapisan curing compound.

Digenangi air diatas pelat beton, dengan terlebih dahulu membuat tonjolan tanah liat sekeliling
daerah yang akan digenangi.

Ditutup dengan membrane kedap air seperti politherene atau kertas berlapis ter

Perawatan dengan uap biasanya untuk beton pracetak.

Perawatan Beton dengan Air

Menggunakan semprotan terus menerus (untuk menahan erosi semprotan air, gunakan karung goni
lembab dibawah semprotan air),

Air yg mengalir atau kolam

Penyelimutan dengan pasir, goni atau bahan penyerap lainnya yg lembab secara terus menerus.

Perawatan Beton dengan Pembasahan

Segera setelah pengecoran, beton harus dilindungi dari pengeringan dini, temperatur yg terlalu panas,
dan gangguan mekanis.

Perawatan harus segera dimulai setelah beton mulai mengeras (sebelum terjadi retak susut basah),
diselimuti dengan bahan yg dapat menyerap air (dalam keadaan basah) paling sedikit selama 7 hari.

Untuk yg mengandung fly Ash minimal 10 hari

Semua bahan perawatan/lembaran bahan penyerap air harus menempel pada permukaan beton yang
dirawat.
Bilamana acuan kayu tidak dibongkar, maka acuan harus dalam kondisi basah sampai acuan
dibongkar, untuk mencegah terbukanya sambungan-sambungan dan pengeringan beton.

Permukaan beton yg langsung digunakan sebagai lapis aus harus dirawat setelah permukaannya mulai
mengeras (sebelum terjadi retak susut basah) dg ditutupi oleh lapisan pasir lembab setebal 50 mm
paling sedikit 21 hari.

Beton semen yg mempunyai sifat kekuatan awal yg tinggi, harus dibasahi sampai kuat tekannya
mencapai 70% dari kekuatan rancangan beton umur 28 hari.

Perawatan Beton dengan Uap

Beton yg dirawat dg uap untuk mendapatkan kekuatan awal yg tinggi, tidak diperkenankan
menggunakan bahan tambahan kecuali atas persetujuan direksi pekerjaan

Perawatan dg uap harus dikerjakan secara menerus sampai waktu dimana beton telah mencapai 70%
dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari.

Tekanan uap pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi tekanan atmosphir

Temperatur pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi 38C selama beton dalam
proses pengikatan awal (minimal 2 jam setelah pengecoran selesai), kemudian temperatur dinaikan
berangsur-angsur sampai mencapai 65C dengan kenaikan temperatur maksimum 14C perjam secara

bertahap.

Perbedaan temperatur pada dua tempat didalam ruangan uap tidak boleh melebihi 5,5C

Penurunan temperatur selama pendinginan secara bertahap dan tidak boleh lebih dari 11C per jam

Perbedaan temperatur beton pada saat dikeluarkan dari ruang penguapan tidak boleh lebih dari 11C
dibanding udara luar

Selama perawatan dg uap, ruangan harus selalu jenuh dg uap air.

Semua bagian struktural yg mendapat perawatan dg uap harus dibasahi selama 4 hari sesudah selesai

perawatan dg uap tersebut.


Pipa uap harus diatur atau beton harus dilindungi agar tidak terkena langsung semburan uap, yg akan
menyebabkan perbedaan temperatur pada bagian-bagian beton.

Perawatan Beton dengan Lembaran Kedap Air

Lembaran plastik tipis atau kertas kedap air

Menahan penguapan air pencampur beton

Melindungi beton dari kerusakan selama pelaksanaan

Hindari plastik berwarna gelap selama cuaca panas, kecuali untuk bagian dalam

Beton harus basah pada saat lembaran kedap air dipasang dan secara berkala dibasahi.

Perawatan beton yang dipercepat (accelerated curing):

Dengan kondisi curing normal, beton mengeras secara perlahan. Curing harus dipertahankan
minimal 14 hari untuk mendapatkan kekuatan akhir yang mendekati kekuatan beton yang dirawat 28
hari. Dengan mengerasnya pasta beton, akan terbentuk penampang beton sesuai dengan bentuk yang

diinginkan. Lamanya pencapaian kekuatan beton yang direncanakan supaya dapat memikul beban
menyebabkan pembongkaran bekisting dapat dilaksanakan setelah umur beton mencapai empat
minggu (28 hari).

Pencapaian kekuatan beton dalam waktu yang lebih singkat dapat dilakukan dengan menambah
bahan tambahan untuk mempercepat pengerasan atau dengan menaikkan temperatur saat curing.
Mempersingkat waktu curing untuk mendapatkan kekuatan umur normal beton 28 hari mempunyai
beberapa keuntungan:

- Pembangunan dapat dipercepat.

- Penggunaan cetakan atau bekisting dapat digunakan secara berulang-ulang dengan frekuensi yang

tinggi, sehingga dapat menghemat biaya bekisting.

- Dapat mengurangi gudang penyimpanan beton yang telah mengeras, terutama pada produksi beton

pracetak.
- Mempercepat produksi beton dan mempercepat pengantaran ke lapangan.

Selain keuntungan di atas, cara curing ini memerlukan biaya yang cukup besar, sehingga perlu
dipertimbangan dari segi ekonomisnya. Metode mempercepat perawatan beton dapat dilakukan
dengan perawatan dengan uap panas. Ada 2 jenis perawatan dengan uap panas:

a. Perawatan dengan uap panas tekanan rendah.

Pemeliharaan dengan cara ini adalah untuk mempercepat waktu pemeliharaan yang dapat dilakukan
pada tekanan atmosfir dan temperatur di bawah 100C dan dimaksudkan untuk menghasilkan siklus
pekerjaan yang pendek pada industri komponen beton (beton prefab/pracetak).

b. Perawatan dengan uap panas tekanan tinggi.

Metode ini sangat berbeda dengan metode pemeliharaan dengan uap bertekanan rendah dan
bertekanan atmosfir. Metode ini digunakan bila diperlukan pekerjaan beton yang memerlukan
persyaratan berikut:

Diperlukan kekuatan awal tinggi dan kekuatan 28 hari dapat dicapai dalam waktu 24 jam.

Diperlukan keawetan yang tinggi dengan ketahanan terhadap serangan sulfat atau bahan kimia lainnya,
juga terhadap pengaruh pembekuan (cold storage) atau temperatur yang tinggi.

Diperlukan beton dengan susut dan rangkak rendah.

Kedua jenis perawatan tersebut memerlukan biaya dan waktu perawatan yang tidak sama. Waktu
perawatan dengan tekanan tinggi lebih cepat dari waktu perawatan dengan tekanan rendah.

Senyawa kimia untuk perawatan beton:

Senyawa kimia untuk perawatan dengan membentuk lapisan tipis adalah suatu cairan yang
disemprotkan pada permukaan beton untuk menghambat penguapan air dari beton. Sebuah jenis

penyemprot kebun yang dapat dipegang dengan tangan sesuai untuk pekerjaan ini. Hampir semua
bahan-bahan kimia untuk perawatan beton yang tersedia di pasaran dan terbukti memuaskan
pemakaiannya terdiri dari larutan sejenis damar. Setelah digunakan, larutan itu menguap dan
meninggalkan permukaan beton.

Lapisan resin (sejenis damar) tersebut tinggal dengan sempurna sekitar empat minggu.
Selanjutnya lapisan ini menjadi getas dan mulai mengelupas akibat pengaruh sinar matahari dan cuaca.
Pengujian di laboratorium dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa cara ini telah memberikan
perawatan pada beton yang setara dengan membasahinya secara terus menerus selama 14 hari.
Penggunaan curing compound biasanya dilakukan untuk permukaan beton yang vertikal dan terkena

sinar matahari seperti kolom, balok dan dinding beton.

Pemeliharaan dengan sistem elektris:

Pemeliharaan dengan uap bila digunakan untuk komponen yang besar di lapangan tidak praktis
untuk diterapkan. Untuk tujuan ini, sejumlah cara dengan sistem elektris telah dikembangkan oleh
berbagai perusahaan. Namun metode ini kurang banyak digunakan di lapangan pekerjaan. Metode ini
menggunakan resistor yang berfungsi menyalurkan arus listrik. Yang berfungsi sebagai resistor itu
adalah campuran beton itu sendiri, tulangan atau benda-benda yang terdapat di dalam penampang

beton.

Di dalam pelaksanaannya ditemui kesukaran yang membuatnya hampir tidak mungkin untuk

menyalurkan arus listrik pada keseluruhan bahan di lapangan. Hal ini disebabkan terbatasnya panjang
penulangan dan besarnya penampang yang harus dialiri, dan hal yang sama juga terlihat bila
menggunakan batang tulangan prategang sebagai resistor. Dari hasil pengamatan, kabel prategang lebih
sesuai bila digunakan sebagai resistor. Oleh karena itu pemeliharaan elektrik memberikan hasil yang
memuaskan bila menggunakan berkas kabel prategang (Neville, 1982).

Kesimpulan Pekerjaan Perawatan (Curing)

Banyak penelitian yang dilakukan dalam rangka memperoleh sistem yang terbaik untuk
pekerjaan curing dari beton, antara lain: variasi kondisi penyimpanan sampel, apakah basah terus
menerus, kering terus menerus, menggunakan curing compound/sealed ataupun variasi awal basah
kemudian terus menerus kering dan awal kering kemudian terus menerus basah, dan dalam variasi
waktu maupun variasi campuran beton, memakai bahan pengisi/admixture atau beton normal saja
(Lubis, 1986 dan 1995).
Tujuan Perawatan Beton dan Tips Untuk Merawat Beton
Posted by Rahman Jumantoro 0 comments

Setelah beton tercetak atau beton segar kenapa sih kita harus repot repot merawat beton ? emang dia
sakit perlu dirawat ? hehe

Pasti ada tujuanya kenapa beton itu dirawat, lalu bagaimana tips untuk merawat beton ?

Sedikit ilmu yang bisa saya beri.

Tujuan perawatan beton yaitu :

1) Mencegah kehilangan moisture pada beton (tidak kurang dari 80%)


2) Mempertahankan suhu yang baik selama durasi waktu tertentu (diatas suhu beku dan
dibawah 50 derajat Celcius)

Tips untuk perawatan beton :

1. Gunakan air secukupnya

2. Jangan dibiarkan kering

3. Beton kering = semua reaksi berhenti

4. Beton tidak dapat direvitalisasi setelah kering

5. Pertahankan suhu yang sedang (20-30 derajat Celcius)

6. Beton yang mengandung abu terbang membutuhkan waktu perawatan lebih lama

Perawatan yang baik terhadap beton akan memperbaiki beberapa dari segi kualitasnya.
Disamping lebih kuat dan lebih awet terhadap agresi kimia, beton ini juga lebih tahan terhadap aus
karena lalau lintas lebih kedap air. Beton ini juga lebih kecil kemungkinannya dirusak oleh agresi kimia.

Gambar 3 memperlihatkan jumlah siklus pembekuan dan pencairan yang diperlukan untuk
mengurangi berat benda uji beton sampai 25%, dibandingkan masa perawatan dengan membasahinya.
Kurva-kurva tersebut menunjukan bahwa beton harus dicegah menjadi kering sampai sekurang-
kurangnya 5 sampai 7 hari agar diperoleh ketahanan maksimal terhadap disintegrasi (pemecahan) oleh
forst (pembekuan musim dingin), kekurangan kedap air ( permeability) sejalan dengan masa
perawatan dengan cara membasahi mengikuti suatu kurva yang sama dan meningkatkan ketahanan
terhadap forst pada masa perawatan yang lama, mungkin disebabakan sebagian oleh pengurangan air
yang berlebihan.

Prosedur yang actual untuk peawatan beton banyak variasinya, tergantung pada jenis kontruksi,
keadaan lapangan, ukkuran dan bentuk bagian konstruksi. Meskipun demikian, perawatan perawatan
yang secara umum dipergunakan dapat dibagi secara luas atas adua kelompok sebagai berikut :

1) Permukaan horizontal yang Luas


2) Beton didalam acuan (form), seperti kolom, balok, dan dinding.

Permukaan horizontal yang luas


Perawatan teliti sejak saat pengecoran, dibutuhkan beton yang luas permukaannya dan tak
dilindungi oleh acuan (form), seperti yang ada pada pekerjaan jalan, perkerasan lapangan terbang,lantai
dan waduk-waduk. Diantar abeberapacara perawatan yang ada, yang tebaik dan tak diragukan lagi ialah
cara dengan menyirami atau menggenangi beton dengan air secara terus menerus agar tetap basah.
Cara ini tidak hanya memberikan perawatan baik, tetapi juga menurunkan suhunya, sebagai akibat
penguapan yang terjadi. Oleh karenanya kontraksi suhu berikutnya juga dikurangi.
Perpipaan menyiram biasa, yang disambungkan dengan sumber penyediaan air dan
diperlengkapi keran penyiram dapat diergunakan untuk menyiram dapat dipergunakan untuk meniram
permukaan beton. Pada jenis kontruksi tertentu pemasangan system penyiraman secara terus menerus
mungkin dinilai lebih ekonomis. Air dari system perpipaan penyiraman dapat mengandung larutan besi
yang cukup banyak dan dapat menyebabakan noda kotoran. Hal in dapat dihindari dengan penggunaan
pipa yang di galvanisir atau dari logam campur, suhu air yang sama dengan suhu beton, dan dalam
keadaan apapun sebaiknya harus diatas titik beku. Tak diperlukan penggunaan air sebagai bahan untuk
perawatan beton dalam keadaan beku bilamana forst (pembekuan di musim dingin) akan terjadi.
Penyiraman dengan air segera setelah pengecoran beton dan menyelimuti dengan polythene
atau kertas bangunan, mungkin cara yang paling efektif pada langkah-langkah berikutnya. Tetapi karena
kurang baiknya daya insulasi bahan-bahan ini, mungkin diperlukan tambahan perlindungan untuk
mempengaruhi penaruh panas dari sinar matahari.
Seca alternatif hessian (sejenis karung) yang basah dapat ditutupkan langsung pada permukaan,
segera setelah beton cukup keras agar hessian tak menyebabkan kerusakan atau melekat pada
permukaannya. Pasir basah, dan lapisan setebal 50 mm telah digunakan juga untuk merawat permukaan
horizontal yang luas. Baik hessian basah dan pasir basah jaran dikerjakan denga baik dan penyiraman
atau membasahi beton pada interval waktu tertentu siang dan malam hari sering terlupakan.pasir basah
juga mengalami kerugian dibutuhkannya tenaga kerja tambahan untuk menempatkan dan mengambil
kembali pasir itu.

Beton Di Dalam Acuan (form)


Acuan umumnya memberkan perlindungan yang memadai terhadap kekeringan, tetapi
permukaan yang tidak tertutupi seperti bagian ats balok dan dinding harus ditutupi segera setelah
pengecoran dalam keadaan cuaca kering.
Perawatan yang baik dari balok, tiang, dan permukaan dinding vertical dapat dicapai dengan
penerapan penyiraman air secara terus menerus. Hal ini jarang dipraktekan, terutama untuk permukaan
vertikal, oleh karena gangguan yan ditimbuka oleh air yang menitik pada pekerjaan lai dibawahnya.
Penampang melintang kecil seperti tiang dan balok dapat dirawat dengan memuaskan oleh penyiraman
air kemudian menyelimutinya dalam bungkusan polythene segera setelah acuan (form) diambil. Secara
elternatif , hessian atau burlap (sejenis penutup) basah yang melekat pada permukaannya sesuai
juga untuk dipakai, asalkan pengaturan seperlunya harus diadakan dilapangan untuk menjamin bahwa
hessian dijaga terus menerus basah. Harus dimaklumi bahwa hessian basah dapat kering dengan cepat
pasda hari yang panas, atau bahkan pada hari-hari yang dingin apabila angin menerpa dengan kuat.
Pada beberapa bagian kontruksi, lapiusan tipis untuk perawatan mungkin sudah cukup. Tetapi
penerapan penyiraman dengan senyawa kimia untuk perawatan terhadap permukaan vertikal yang luas
sering tidak rata, apabila pekerjaannya tidak dikerjakan dengan hati-hati. Keadaan udara yang berangin
seringkali mendatangkan masalah.

Senyawa Kimia Untuk Perawatan Beton


senyawa kimia untuk perawatan dengan pemenuk lapisan tipis adalah suatu cairan yang disemprotkan
pada perfmukaan beton untuk menghambat penguapan air dari beton. Sebuah jeis penyemprot kebun
yang dapat dipegang dengan tangan sesuai dengan pekerjaan yang ada. Hampir semua bahan-bahan
kimia untuk perawatan beton yang tersedia di pasaran dan terbukti memuaskan pemakainnya terdiri
atas larutan sejenis dammar.setelah digunakan, larutan menguap dan meninggalkan pada permukaan
beton sebuah lapisan tips resin (sejenis damar) tersebut tinggal dengan sempurna sekitar empat
minggu, selanjutnya lapisan ini terjadi getas dan mulai mengelupas akibat pengaruh sinar matahari
dan cuaca. Pengaruh laboratorium dan pengamaan dilapangan telah menunjukan bahwa suatu selaput
tipis yang menempel sempurna selama empat minggu memberikan perawatan pada beton yang
ekuivalen dengan membasahinya secara terus menerus selama 14 hari.

Sebagian besar kepemilikan senyawa kimia untuk perawatan beton yang ada terbagi atas
beberapa tingkatan. Dasarnya adalah suatu tingkatan standar yang mempunyai suatu efisiensi
perawatan 90%. Kedua-duanya berwarna jerami yang pucat. Cara pengujian untuk menentukan efisiensi
perawatan diberikan pada specification of road and bridge work yang dikeluarkan oleh department
tansport, dan pada ASTM Designation c 156-74. Penggunaan bahan celup yang mudah lentur
dimaksudkan untuk memberi bukti penglihatan bahwa bahan ini telag diterapkan denga rata dan jumlah
yang memadai. Hal ni sangat disarankan pelasanaannya. Bahan celup ini hilang dengan cepat setelah
penerapannya dan tak akan menodai permukaannya, denga catatan bawa bahanini tak digunakan pada
permukaan beton yang kering.suatu zat warna putih yang mengandung alumunium, terutama cukup
membantu dalam memantulkan sinar matahari yang jika dibiarkan dapat berakibat diserapnya sejumlah
vesar panas ke dalam beton. Pengujian telah menujukan bahawa permukaan yang berwarna putih
mempunyai efek yang hampir sama dengan efek bayangan , di dalam mempertahankan suhu rendah
pada beton terhadap sinar matahari.

Selimut yang lebih tipis dari pada penggunaan lapisan 4m2/1 diperlukan untuk permukaan beton
yang terjamin kehalusannya. Permukaan yang lebih kasar dan tepi-tepinya akan membutuhkan
pemakaian lebih banyak untuk menjamin kontinuitas dari selaput tipi situ.

Bilaman senyawa kimia untuk perawatan beton hendak diterapkan terhadap suatu permukaan
vertical, ini harus dipasang segera setelah acuan dibuka. Bilamana permukaan sudah tidak hijau lagi dan
kering, ini harus dibasahi sampai jenuh dengan air yang disemprotkan, serta senyawa kimia untuk
perawatan beton harus dipasang kemudian, ketika permukaan beton masih lembab. Senyawa kimia
untuk perawatan beton tak boleh dipasang pada beton yang kering permukaannya, karena senyawa in
dapat diserap dan menyebabakan noda-noda.

Kontrol Dari Variasi Suhu

Sarana perlindungan awal untuk mengontrol variasi suhu bagian kontruksi beton adalah penting
bilamana konstruksi dilaksanakan pada musim dingin atau panas dan terutama pada pengecoran beton
secara besar-besaran. Pada kasus yang terakhir harus dipierhitungkan suhu tinggi yang dikembangkan
oleh massa beton pada hidrasi semen.

Pendinginan selanjutnya diatas suhu maksimum menyebabkan kontraksi pada beton, yang
blamana tertahan dapat menimbulkan retak. Pengaruh ini sering disebut penyusutan (shrinkage), tapi
penggunaan istilah ini dapat menimbulkan tafsir, karena shrinkage adalah dengan ucapan yang lebih
tepat pengurangan volume dengan pengeringan beton dan merupaan fenomena jangka panjang.

Pada konstruksi waduk beton ada pembatasan pada standar praktiknya terhadap tinggi pada
setiap pengecoran (lift) sampai sekitar 1,5-2 m agar kenaikan suhu diatas batas yang dapat diterima
dapat dicegah. Sarana lain untuk mengontrol variasi suhu pada kontruksi waduk beton, dibahas pada
halaman 367-71, dan prinsip yang sama diterapkan terhadap bentuk konstruksi lain.
Perawatan Beton dan Faktor yang Mempengaruhinya
Tata cara perawatan divariasikan dengan keadaan terus menerus basah, awal basah 7 hari, awal
basah 14 hari, awal basah 28 hari, terus menerus kering, awal kering 7 hari, awal kering 14 hari, awal
kering 28 hari, awal kering 60 hari dan dengan menggunakan perawatan lapisan membran Semakin lama
masa perawatan yang diberikan secara terus menerus menghasilkan peningkatan kuat tekan dan
penurunan permeabilitas. Seluruh variasi perawatan kering tidak mampu mendekati hasil perawatan
basah.

Kurangnya kelembaban akan membuat mineral semen kurang bereaksi dengan baik untuk
menghasilkan karakteristik beton yang dikehendaki .

Terjemurnya beton yang baru selesai terhadap matahari, akan dengan cepat menghilangkan
kandungan air yang dibutuhkan didalam beton untuk sempurnanya reaksi sehingga akan menghasilkan
mutu beton yang tidak baik, retak dan kerusakan pada permukaan beton.

Berdasarkan hasil kajian, kelembaban yang relative didalam beton yang aptimum untuk reaksi
adalah 80% keatas, bila kelembaban beton terpengaruh oleh pengaruh lingkungan hingga turun
dibawah 80%, maka reaksi akan terganggu bahkan terhenti sama sekali.

Oleh karena itu menjaga kondisi beton tetap lembab secara kontinyu sampai mencapai mutu
beton yang disyaratkan.

Temperatur merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan kekuatan beton, suhu
optimal agar terjadi reaksi sempurna berkisar antara 10 23 C, bahkan jika perawatan dilakukan
dibawah suhu 10 C, maka tidak akan memberikan perkembangan kekuatan nyang tinggi, bahkan jika
perawatan dibawah titik beku maka tidak akan menghasilkan kekuatan sama sekali.

Sebaliknya jika suhu naik diatas 23 C, perkembangan kekuatan di umur awal semangkin
meningkat, namun bisa menimbulkan efek lain, misalnya laju perkembangan kekuatan berikutnya akan
terhambat dan mengakibatkan kekuatan beton akhir, lebih rendah, efek lainnya dengan menaiknya suhu
lingkungan, laju penguapan air juga akan semangkin meningkat pula sehingga kelembaban akan turun
dan mengakibatkan laju kekuatan beton berikutnya juga terganggu.
Pengaruh temperatur terhadap beton :

1. Semakin tinggi suhu, semakin cepat terjadinya reaksi hidrasi,

2. Suhu ideal adalah suhu ruang,

3. Bila beton membeku selama 24 jam pertama, maka beton tersebut tidak akan pernah
mencapai kembali sifat awalnya,

4. Suhu perawatan diatas 50 derajat C dapat merusak beton karena semen mengeras terlalu cepat,

5. Perawatan yang dipercepat dapat menghasilkan beton yang lebih kuat namun memiliki durabilitas
yang rendah.

Jika adukan beton setelah dituang dan dipadatkan, dan tidak dilakukan proses perawatan yang
memadai dan hanya dibiarkan terekspos diruang terbuka, maka mutu dan kekuatan beton yang
dihasilkan akan berkurang, bahkan bisa mengurangi kekuatan hingga 50% dari nilai rancangan mutu
beton.

Bahkan perawatan dari beton pada saat selesai dituangkan dalam pekerjaan sehari-hari sering
sekali diabaikan, perawatan hanya pada hari pertama, sedangkan hari berikutnya beton dibiarkan
kering.

Oleh karena itu, perawatan beton yang baik harus dilakukan terutama di umur awal, minggu
pertama, sebab bila terjadi penguapan air yang signifikan diumur awal, beton akan mengalami
penyusutan dan hal ini akan menimbulkan beban tarik yang terjadi lebih besar dari kekuatan tarik beton
yang dicapai, maka dipastikan akan terjadi retak-retak permukaan.

Beton (selain beton kuat awal tinggi) harus dirawat pada suhu di atas 10 C dan dalam

kondisi lembab untuk sekurang-kurangnya selama 7 hari setelah pengecoran. Beton kuat awal tinggi
harus dirawat pada suhu di atas 10 C dan dalam kondisi lembab untuk sekurang-kurangnya selama 3
hari pertama.

Perawatan dipercepat : (1) Perawatan dengan uap bertekanan tinggi, penguapan pada tekanan
atmosfir, panas dan lembab, atau proses lainnya yang dapat diterima, dapat dilakukan untuk
mempercepat peningkatan kekuatan dan mengurangi waktu perawatan. (2) Percepatan waktu
perawatan harus memberikan kuat tekan beton pada tahap pembebanan yang ditinjau sekurang-
kurangnya sama dengan kuat rencana perlu pada tahap pembebanan tersebut. (3) Proses perawatan
harus sedemikian hingga beton yang dihasilkan mempunyai tingkat keawetan tinggi (4) Bila diperlukan
oleh pengawas lapangan, maka dapat dilakukan penambahan uji kuat tekan untuk menjamin bahwa
proses perawatan yang dilakukan telah memenuhi persyaratan.

SEMOGA BERMANFAAT

Jika ingin copy paste harap cantumkan sumber, hargai penulis yang menulis

TERIMA KASIH