Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BAHAN KOROSI

DERET GALVANIS LOGAM - LOGAM

Dosen Pengajar:
ERNIA NOVIKA DEWI, ST. MT.

Disusun oleh:
Sultan Rindang Alam (1631410095)
Nadia Desy (1631410111)

Program Studi D3 Teknik Kimia


Politeknik Negeri Malang
2017
Penentuan Laju Korosi

I. Tujuan Percobaan

Mahasiswa dapat memahami pengaruh lingkungan terhadap laju korosi bahan

II. Tinjauan Pustaka

Laju korosi adalah kecepatan rambatan atau kecepatan penurunan kualitas


bahan terhadap waktu. Dalam perhitungan laju korosi, satuan yang biasa
digunakan adalah mm/th (standar internasional) atau mill/year (mpy, standar
British). Tingkat ketahanan suatu material terhadap korosi umumnya memiliki
niai laju korosi antara 1 200 mpy. Tabel di bawah ini adalah penggolongan
tingkat ketahanan material berdasarkan laju korosinya (Fontana,1986).

Pengukuran laju korosi (corrosion rate) secara eksperimen dapat dilakukan


dengan beberapa metode yaitu:

1. metode pengukuran kehilangan berat

2. Metode elektrokimia (metode lafel dan polarisasi)

3. Metode perubahan tahanan listrik


Pada metode pengukuran kehilangan berat, besarnya korosi dinyatakan sebagai
besarnya kehilangan berat kupon logam yang diuji persatuan luas permukaan
persatuan waktu. Secara sistematis dirumuskan sebagai berikut:

dimana :

W = berat yang hilang (mg)

D = density benda uji korosi (g/cm3)

A = luas permukaan (in2)

T = waktu, hour (jam)

Banyak cara yang telah dilakukan untuk menjelaskan satuan laju korosi yang terjadi
pada suatu material contohnya gram per inchi kuadrat per jam, persen pengurangan
berat dan yang paling banyak dipergunakan adalah mills per year (mpy).

Metode lain yang dapat dipergunakan untuk menentukan laju korosi logam adalah
metode elektrokimia yang pada prinsipnya dengan cara menentukan besarnya arus
korosi yang mengalir (ikor)dari sistem elektroda tersebut.

Laju korosi dapat dihitung melalui arus korosi dengan menggunakan Hukum
Faraday dengan ketentuan sebagai berikut:

1. banyaknya produk suatu reaksi dapat ditentukan oleh banyaknya muatan yang
dipindahkan.

2. Berat produk reaksi berbanding lurus dengan arus listrik yang mengalir per
satuan waktu yang dirumuskan sebagai berikut:

BA i t
W
n F

Dimana:

W = Produk reaksi (gram)

I = Besar arus yang mengalir (coloumb/ detik)


t = Lama reaksi (detik)

n = Banyaknya elektron yang menyertai reaksi

F = Bilangan Faraday (96500 coloumd/ detik)

BA = Berat atom

Jika BA/n menyatakan berat ekivalen (BE) dan W/t menyatakan laju reaksi (gram/detik)
maka persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi:

W BE i
(gram/ detik)
t 96500

III. Bahan dan alat

III.1 Bahan

Larutan basa (NaOH)

Larutan asam (HCl)

Spesimen plat besi berbentuk kartu

III.2 Alat

Mistar sorong

pH meter

Neraca analitik

Wadah plastik
IV. Skema kerja

Mengukur dimensi spesimen dengan mistar sorong

Mencuci dan mengeringkan spesimen. Mendinginkan, menimbang dan mencatat datanya

Menyiapkan wadah plastik bersih yng sudah diisi kapas kira-kira 1cm sebagai dasar

Menetesi dengan larutan Asam

Menetesi dengan lar. Basa

Menetesi dengan aquades

Mencatat waktu dan tanggal

Meletakkan spesimen di atas kapas dan tutup rapat dengan karet dan plastik

Menyimpan percobaan dan mekanjutkannya minggu selanjutnya

Mengambil spesimen, cuci bersih, keringka, dan timbang


V. Data pengamatan

Awal pemaparan Pengamatan

Tanggal: Tanggal:
Jam: 9.33 Jam: 8.30
No 30-10-2017 20-11-2017

L Wo Wi T Laju korosi
P (in) t (in) A (in2) pH
(in) (mgr) (mgr) (jam) (mpy)

1 3,07 0,2 3,06 3,8 basa 12,273 11,895 498 162x10-4

2 3,02 0,13 3,14 3,13 netral 11,083 7,278 498 14467x10-5

3 2,932 0,1 3,11 3,5 asam 12,102 8,326 498 87046x10-6

VI. Hasil dan Pembahasan

Nadia desy (1631410111)

Spesimen yang didiamkan dalam wadah tertutup dengan suhu ruangan dengan
waktu 21 hari lamanya menunjukan perubahan dan selama waktu belangsung.
Hasil menunjukan pada keadaan basa spesimen besi lebih sukar mengalami korosi
yaitu 162x10-4 mpy.

Pada spesimen besi dalam keadaan asam menjadi lebih cepat mengalami
korosi dengan hasil perhitungan yaitu 87046x10-6 mpy. Spesimen besi yang dalam
keadaan netral diberi aquades tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat pada
proses korosi yang terjadi yaitu 14467x10-5 mpy.

Sultan Rindang Alam (1631410095)

Laju korosi menunjuk langsung pada kecepatan suatu bahan untuk terkorosi.
Laju korosi dinyatakan dengan satuan mili inchi per tahun (mpy).
Dari pengamatan ini kita menuliskan dua persamaan-setengah sederhana.
Reduksi: O2 (g) + 2 H2O (l) + 4e- 4 OH- (aq)
Oksidasi: 2 Fe(s) 2 Fe2+(aq) + 4e-
Menyatakan bahwa proses korosi akan spontan bila reaktan dan produk berada pada
keadaan standar. Umumnya medium korosi mempunyai [OH-] << 1M, Reaksi
setengah reduksi bahkan lebih mudah terjadi, dan Esel bahkan lebih besar. Korosi
sangat signifikan dalam larutan asam, dengan reaksi setengah reduksinya adalah:
O2 (g) + 4H+(aq) + 4e- 2H2O(l)

VII. Kesimpulan

Pengaruh lingkungan terhadap spesimen besi sangat berperngaruh. Apabila


spesimen diletakkan dalam lingkungan yang dingin makan proses laju korosi
menjadi sangat laambat dan apabila dalam keadaan panas maka juga
memperlampat korosi.

VIII. Daftar pustaka

Yusuf, Sofyan; 2008; Laju korosi pipa baja karbon A106 sebagai fungsi
temperatur dan konsentrasi NaCl pada fluida yang tersaturasi gas CO2;
Universitas Indonesia

Pattireuw, Kevin j.; 2013; analisis laju korosi pada baja karbon dengan
menggunakan air laut dan H2SO4; Universitas Sam Ratulangi; Manado
Lampiran

W K
CR (mpy)
D AT

CR = laju korosi (mpy)


W = berat yang hilang (mg)
D = density benda uji korosi (g/cm3)
A = luas permukaan (in2)
T = waktu, hour (jam)
K = konstanta faktor

m 12,273
D1 6,56
v 1,87
m 11,083
D2 9,01056
v 1,23
m 12,102
D3 13,29
v 0,91

Laju korosi

(12,273 11,895)534 201,852


1. Basa = 0,0162 162 104 mpy
6,56 3,8 498 12414,144

(11,083 7,278)534 2031,87


2. Asam = 0,14467 14467 105 mpy
9,01056 3,13 498 14045,1202

(12,102 8,326)534 2016,384


3. Netral = 0,087046 87046 106 mpy
13,29 3,5 498 23164,47