Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II (IATA:
PKU, ICAO: WIBB) adalah sebuah bandar udara yang terletak di Kota
Pekanbaru dan sebelumnya bernama Bandara Simpang Tiga. Bandara ini
memiliki luas 321,21 ha. Dalam rangka menyambut PON XVII pada tahun 2012,
bandara ini diperluas sehingga nantinya dapat menampung pesawat yang lebih
besar. Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II tidak hanya melayani
air carrier dan general aviation, tetapi juga melayani militer karena menjadi
home-base bagi Skuadron Udara 12 TNI AU. Nama bandara ini diambil dari
nama Sultan Syarif Kasim II, seorang pahlawan Nasional Indonesia dari Riau.

Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II dikelola oleh PT.


Angkasa Pura II. Pada tahun 2013 menurut PT. Angkasa Pura II, jumlah
pergerakan penumpang di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II
mencapai 3,25 juta penumpang atau meningkat 17,32% dibandingkan dengan
tahun 2012 sebanyak 2,77 juta penumpang. Sementara itu jumlah pergerakan
pesawat pada tahun 2013 naik 19% menjadi 30.022 pergerakan dibandingkan
dengan tahun 2012, yaitu 25.244 pergerakan.

Peningkatan pertumbuhan transportasi udara di Indonesia bertolak belakang


dengan kondisi infrastruktur transportasi udara di Indonesia. Berdasarkan laporan
dari WEF Global Competitiveness Report 2014-2015, kondisi infrastruktur
Indonesia berada pada peringkat ke-64 diantara infrastruktur transportasi udara di
seluruh dunia. Peringkat tertinggi dimiliki oleh Singapura (posisi ke-1), Uni
Emirat Arab (ke-2), Malaysia (ke-19), Thailand (ke-37), Sri Lanka (ke-56), dan
China (ke-58). Kualitas infrastruktur transportasi udara di Indonesia hanya lebih
baik sedikit saja daripada rata-rata kualitas infrastruktur transportasi udara di
dunia.

1
2

Tabel 1.1 Kualitas infrastruktur transportasi udara

(Sumber: The Global Competitiveness Report 2014-2015, 2014)


Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola bandara di Indonesia untuk
mengembangkan infrastruktur yang ada. Salah satu infrastruktur tersebut adalah
apron. Apron merupakan bagian dari sisi udara suatu bandara yang terdiri dari
tempat parkir pesawat (aircraft gates, aircraft stands / ramps) yang dirancang
untuk pesawat menurunkan dan menaikkan penumpang, barang, serta servis
lainnya dan jalur khusus untuk sirkulasi pesawat keluar dan masuk tempat parkir
(taxilane).

Analisis tentang kapasitas apron ini perlu dilakukan untuk mengetahui


seberapa banyak pergerakan pesawat baik harian maupun bulanan, dan seberapa
banyak pesawat yang dapat dilayani oleh apron dalam kurun waktu tertentu
(kondisi saat ini dan tahun-tahun mendatang). Disamping itu, dianalisis
optimalisasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kapasitas apron tersebut.
Seiring dengan pertumbuhan transportasi udara di Indonesia yang semakin pesat,
diharapkan mampu diimbangi dengan perkembangan infrastrukturnya. Selain itu,
3

karena penggunaan apron yang unik, karena melayani air carrier, general
aviation, dan militer memungkinkan timbulnya suatu permasalahan yang tidak
dapat ditemui di apron bandar udara lainnya yang hanya melayani air carrier dan
general aviation saja. Hal ini yang menjadi latar belakang penelitian penulis
tentang analisis kapasitas dan optimalisasi apron di Bandar Udara Internasional
Sultan Syarif Kasim II.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, maka terdapat beberapa permasalahan
yang akan dibahas dalam Tugas Akhir ini, diantaranya sebagai berikut :
1. Berapa jumlah pergerakan pesawat yang menggunakan apron pada saat
jam puncak di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II?
2. Apakah parking stand yang ada masih cukup menampung pergerakan
pesawat pada jam puncak?
3. Berapa kebutuhan parking stand untuk 5 dan 10 tahun mendatang?
4. Apakah langkah yang dilakukan untuk mengoptimalisasi apron untuk 5
dan 10 tahun mendatang?

1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kapasitas apron Bandar
Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru eksisting dan pada tahun
rencana, yaitu tahun 2020 dan 2025 dalam melayani pergerakan pesawat pada jam
puncak. Selain itu, dilakukan perhitungan perluasan apron jika volume pergerakan
pada jam puncak melebihi kapasitas apron

1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat dari penulisan Tugas Akhir ini, yaitu:
1. Menambah wawasan tentang optimalisasi apron bagi penulis maupun
bagi masyarakat umum.
2. Sebagai referensi pihak pengelola Bandar Udara untuk melakukan
optimalisasi dalam penggunaan apron di Bandar Udara Internasional
Sultan Syarif Kasim II untuk rentang 5 dan 10 tahun mendatang.
4

1.5 Batasan Penilitian


Dalam melakukan penelitian di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif
Kasim II ditetapkan berbagai batasan sebagai berikut :
1. Lokasi penelitian adalah di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif
Kasim II.
2. Data yang digunakan dalam analisis merupakan data sekunder yang
diperoleh dari PT. Angkasa Pura II dan tidak melakukan pengukuran di
lapangan.
3. Metode yang digunakan mengacu kepada ICAO sesuai Annex 14.
4. Tidak memperhitungkan penggunaan parking stand untuk suatu maskapai
tertentu.
5. Pembagian kategori pesawat berdasarkan ukuran bentang pesawat, bukan
berdasarkan kecepatan pesawat saat landing.
6. Memperhitungkan penggunaan apron baik oleh air carrier, general
aviation maupun militer.
7. Tidak memperhitungkan penggunaan gate untuk suatu maskapai tertentu.
8. Tidak memperhitungkan tarif parkir pesawat terbang dan kebutuhan
penumpang.

1.6 Keaslian Penelitian


Sejauh pengetahuan dan informasi yang telah penulis kumpulkan, penelitian
Tugas Akhir mengenai Evaluasi Kapasitas Apron Bandar Udara Internasional
Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru belum pernah dilakukan sebelumnya. Pemilihan
topik pada penilitan Tugas Akhir ini merupakan hasil pemikiran penulis dengan
menggunakan panduan dari berbagai referensi. Adapun penelitian yang sudah
pernah dilakukan dan menjadi referensi bagi penulis ditampilkan pada Tabel 1.2.
5

Tabel 1.2 Referensi Penelitian


No Peneliti Judul Metode Hasil Perbedaan Penelitian
Pada tahun 2023 diperlukan Menggunakan regresi linear
penambahan 4 parking stand dalam forecasting pada tahun
untuk melayani pergerakan rencana
Haryo Analisis Kapasitas dan Optimalisasi pesawat tipe E dan 12 parking
1 Widiandoko Apron (Studi Kasus Terminal 2 Bandar Analitik stand baru untuk melayani
(2014) Udara Internasional Soekarno-Hatta) pergerakan pesawat tipe C

Pada Tahun 2017 dan Menggunakan data jumlah


2022,kapasitas apron terminal pergerakan penumpang yang
1 sudah terlampaui dan tidak kemudian dikonversi menjadi
dapat lagi menampung jumlah pergerakan pesawat
Analisis Kapasitas dan Optimalisasi
Taqia Rahman pergerakan pesawat pada jam
2 Apron (Studi Kasus Terminal 1 Bandar Analitik
(2013) puncak
Udara Internasional Soekarno-Hatta)
Hanya menganalisis satu jenis
tipe pesawat, yaitu B 737-900

Didapatkan peak hour pada Menggunakan regresi linear


FAA tahun 2022 sebesar 51 sebagai acuan forecasting pada
Rifdia Arisandi pergerakan, dan diperlukan tahun rencana
dan Ir. Hera Perencanaan Pengembangan Apron penambahan jumlah gate
Rigid Pavement (Apron)
3 Widiyastuti, Bandar Udara Internasional Juanda menjadi 39 buah, dengan luas
M.T., Ph.D. Surabaya apron rencana 1691,36 meter x
(2012) Flexible Pavement 124 meter
(runway, taxiway)

Pada tahun 2017 dibutuhkan Menggunakan model


Studi Kapasitas Apron di Bandar Udara 34 parking stand dan 39 persamaan berpangkat dalam
Dewi Sartika parking stand pada tahun forecasting
4 Internasional Sultan Hasanuddin Analitik,FAA
(2008) 2022
Makassar

Lebar taxiway eksisting dapat Menggunakan metode JICA


melayani pesawat terbang jenis dalam peramalan pergerakan
B 737-400 hingga 20 tahun pesawat pada jam sibuk
mendatang

Hazanawati dan
Kajian Pengembangan Sisi Udara Bandar Dimensi apron eksisting perlu
5 Wardhani S. ICAO,FAA,JICA
Udara Japura Kabupaten Indragiri Hulu diperlua menjadi 173 m x 123
(2008)
m agar dapat melayani pesawat
terbang jenis B 737-400 hingga
20 tahun mendatang

Perbedaan utama penelitian ini dengan penelitian yang lain adalah


karakteristik bandar udara yang diteliti yang secara umum hanya melayani air
carrier dan general aviation saja, sedangkan Bandar Udara Internasional Sultan
Syarif Kasim II juga melayani aktivitas penerbangan militer.