Anda di halaman 1dari 10

Arti Syariat

Syariat bisa disebut syirah. Artinya secara bahasa adalah sumber air mengalir yang
didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan syaraa fiil maai artinya
datang ke sumber air mengalir atau datang pada syariah. Kemudian kata tersebut
digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia.
Kata syaraa berarti memakai syariat. Juga kata syaraa atau istaraa berarti
membentuk syariat atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman, Untuk setiap umat di
antara kamu (umat Nabi Muhammad dan umat-umat sebelumnya) Kami jadikan peraturan
(syariat) dan jalan yang terang. [QS. Al-Maidah (5): 48]
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) tentang urusan itu
(agama), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang yang tidak
mengetahui. [QS. Al-Maidah (5): 18].
Allah telah mensyariatkan (mengatur) bagi kamu tentang agama sebagaimana apa yang
telah diwariskan kepada Nuh. [QS. Asy-Syuuraa (42): 13].
Sedangkan arti syariat menurut istilah adalah maa anzalahullahu li ibaadihi minal ahkaami
alaa lisaani rusulihil kiraami liyukhrijan naasa min dayaajiirizh zhalaami ilan nuril bi idznihi
wa yahdiyahum ilash shiraathil mustaqiimi. Artinya, hukum-hukum (peraturan) yang
diturunkan Allah swt. melalui rasul-rasulNya yang mulia, untuk manusia, agar mereka keluar
dari kegelapan ke dalam terang, dan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus.
Jika ditambah kata Islam di belakangnya, sehingga menjadi frase Syariat Islam (asy-
syariatul islaamiyatu), istilah bentukan ini berarti, maa anzalahullahu li ibaadihi minal
ahkaami alaa lisaani sayyidinaa muhammadin alaihi afdhalush shalaati was salaami sawaa-
un akaana bil qur-ani am bisunnati rasuulillahi min qaulin au filin au taqriirin. Maksudnya,
syariat Islam adalah hukum-hukum peraturan-peraturan) yang diturunkan Allah swt. untuk
umat manusia melalui Nabi Muhammad saw. baik berupa Al-Quran maupun Sunnah Nabi
yang berwujud perkataan, perbuatan, dan ketetapan, atau pengesahan.
Terkadang syariah Islam juga dimaksudkan untuk pengertian Fiqh Islam. Jadi, maknanya
umum, tetapi maksudnya untuk suatu pengertian khusus. Ithlaaqul aammi wa yuraadubihil
khaashsh (disebut umum padahal dimaksudkan khusus).

Pembagian Syariat Islam


Hukum yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw. untuk segenap manusia dibagi
menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Ilmu Tauhid, yaitu hukum atau peraturan-peraturan yang berhubungan dengan dasar-
dasar keyakinan agama Islam, yang tidak boleh diragukan dan harus benar-benar
menjadi keimanan kita. Misalnya, peraturan yang berhubungan dengan Dzat dan Sifat
Allah swt. yang harus iman kepada-Nya, iman kepada rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-
Nya, kitab-kitab-Nya, dan iman kepada hari akhir termasuk di dalamnya kenikmatan dan
siksa, serta iman kepada qadar baik dan buruk. Ilmu tauhid ini dinamakan juga Ilmi
Aqidah atau Ilmu Kalam.
2. Ilmu Akhlak, yaitu peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pendidikan dan
penyempurnaan jiwa. Misalnya, segala peraturan yang mengarah pada perlindungan
keutamaan dan mencegah kejelekan-kejelekan, seperti kita harus berbuat benar, harus
memenuhi janji, harus amanah, dan dilarang berdusta dan berkhianat.

3. Ilmu Fiqh, yaitu peraturan-peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan


Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ilmu Fiqh mengandung dua
bagian:
a. Ibadah, yaitu yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan manusia dengan
Tuhannya. Dan ibadah tidak sah (tidak diterima) kecuali disertai dengan niat. Contoh
ibadah misalnya shalat, zakat, puasa, dan haji.
b. Muamalat, yaitu bagian yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan antara
manusia dengan sesamanya. Ilmu Fiqh dapat juga disebut Qanun (undang-undang).

Definisi Fiqh Islam


Fiqh menurut bahasa adalah tahu atau paham sesuatu. Hal ini seperti yang
bermaktub dalam surat An-Nisa (4) ayat 78, Maka mengapa orang-orang itu (munafikin)
hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (pelajaran dan nasihat yang diberikan).
Nabi Muhammad saw. bersabda, Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan
memahamkannya di dalam perkara agama.
Kata Faqiih adalah sebutan untuk seseorang yang mengetahui hukum-hukum syara
yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf, hukum-hukum tersebut diambil dari
dalil-dalilnya secara terperinci.
Fiqh Islam menurut istilah adalah ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum Allah atas
perbuatan orang-orang mukallaf, hukum itu wajib atau haram dan sebagainya. Tujuannya
supaya dapat dibedakan antara wajib, haram, atau boleh dikerjakan.
Fiqh adalah diambil dengan jalan ijtihad. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya
menulis, Fiqh adalah pengetahuan tentang hukum-hukum Allah, di dalam perbuatan-
perbuatan orang mukallaf (yang dibebani hukum) seperti wajib, haram, sunnah, makruh,
dan mubah. Hukum-hukum itu diambil dari Al-Quran dan Sunnah serta dari sumber-
sumber dalil lain yang ditetapkan Allah swt. Apabila hukum-hukum tersebut dikeluarkan dari
dali-dalil tersebut, maka disebut Fiqh.
Para ulama salaf (terdahulu) dalam mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalil di
atas hasilnya berbeda satu sama lain. Perbedaan ini adalah suatu keharusan. Sebab, pada
umumnya dalil-dalil adalah dari nash (teks dasar) berbahasa Arab yang lafazh-lafazhnya
(kata-katanya) menunjukkan kepada arti yang diperselisihkan di antara mereka.

Fiqh Islam terbagi menjadi enam bagian:


1. Bagian Ibadah, yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang dipakai
untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. dan untuk mengagungkan kebesaran-Nya,
seperti shalat, zakat, puasa, dan haji.
2. Bagian Ahwal Syakhshiyah (al-ahwaalu asy-syakhsyiyyatu), yaitu suatu bagian yang
membicarakan hukum-hukum yang berhubungan dengan pembentukan dan pengaturan
keluarga dan segala akibat-akibatnya, seperti perkawinan, mahar, nafkah, perceraian
(talak-rujuk), iddah, hadhanah (pemeliharaan anak), radhaah (menyusui), warisan, dan
lain-lain. Oleh kebanyakan para mujtahidin, bagian kedua ini dimasukkan ke dalam
bagian muamalah.
3. Bagian Muamalah (hukum perdata), yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-
hukum yang mengatur harta benda hak milik, akad (kontrak atau perjanjian), kerjasama
sesama orang seperti jual-beli, sewa menyewa (ijarah), gadai (rahan), perkonsian
(syirkah), dan lain-lain yang mengatur urusan harga benda seseorang, kelompok, dan
segala sangkut-pautnya seperti hak dan kekuasaan.
4. Bagian Hudud dan Tazir (hukum pidana), yaitu bagian yang membicarakan hukum-
hukum yang berhubungan dengan kejahatan, pelanggaran, dan akibat-akibat hukumnya.
5. Bagian Murafaat (hukum acara), yaitu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang
mengatur cara mengajukan perkara, perselisihan, penuntutan, dan cara-cara
penetapkan suatu tuntutan yang dapat diterima, dan cara-cara yang dapat melindungi
hak-hak seseorang.
6. Bagian Sirra wa Maghazi (hukum perang), yaitu bagian yang membicarakan hukum-
hukum yang mengatur peperangan antar bangsa, mengatur perdamaian, piagam
perjanjian, dokumen-dokumen dan hubungan-hubungan umat Islam dengan umat
bukan Islam.

Jadi, Fiqh Islam adalah konsepsi-konsepsi yang diperlukan oleh umat Islam untuk mengatur
kepentingan hidup mereka dalam segala segi, memberikan dasar-dasar terhadap tata
administrasi, perdagangan, politik, dan peradaban. Artinya, Islam memang bukan hanya
akidah keagamaan semata-mata, tapi akidah dan syariat, agama dan negara, yang berlaku
sepanjang masa dan sembarang tempat. Dalam Al-Quran ada 140 ayat yang secara khusus
memuat hukum-hukum tentang ibadah, 70 ayat tentang ahwal syakhshiyah, 70 ayat tentang
muamalah, 30 ayat tentang uqubah (hukuman), dan 20 ayat tentang murafaat. Juga ada
ayat-ayat yang membahas hubungan politik antara negara Islam dengan yang bukan Islam.
Selain Al-Quran, keenam tema hukum tersebut di atas juga diterangkan lewat hadits-hadits
Nabi. Sebagian hadits menguatkan peraturan-peraturan yang ada dalam ayat-ayat Al-
Quran, sebagian ada yang memerinci karena Al-Quran hanya menyebutkan secara global,
dan sebagian lagi menyebutkan suatu hukum yang tidak disebutkan dala mAl-Quran. Maka,
fungsi hadits adalah sebagai keterangan dan penjelasan terhadap nash-nash (teks) Al-Quran
yang dapat memenuhi kebutuhan (kepastian hukun) kaum muslimin.
Hukum Syara
Hukum syara adalah maa tsabata bi khithaabillahil muwajjahi ilaal ibaadi alaa sabiilith
thalabi awit takhyiiri awil wadhi. Maksudnya, sesuatu yang telah ditetapkan oleh titah
Allah yang ditujukan kepada manusia, yang penetapannya dengan cara tuntutan (thalab),
bukan pilihan (takhyir), atau wadha.

Contoh hukum syara, perintah langsung Allah swt., Tegakkahlah shalat dan berikanlah
zakat! [QS. Al-Muzzamil (73): 20]. Ayat ini menetapkan suatu tuntutan berbuat, dengan
cara tuntutan keharusan yang menunjukkan hukum wajib melakukan shalat dan zakat.
Firman Allah swt., Dan janganlah kamu mendekati zina! [QS. Al-Isra (17): 32]. Ayat ini
menetapkan suatu tuntutan meninggalkan, dengan cara keharusan yang menunjukkan
hukum haram berbuat zina.
Firman Allah swt., Dan apabila kamu telah bertahallul (bercukur), maka berburulah. [QS.
Al-Maidah (5): 2]. Ayat ini menunjukkan suatu hukum syara boleh berburu sesudah tahallul
(lepas dari ihram dalam haji). Orang mukallaf boleh memilih antara berbuat berburu atau
tidak.

Yang dimaksud dengan wadha adalah sesuatu yang diletakkan menjadi sebab atau menjadi
syarat, atau menjadi pencegah terhadap yang lain. Misalnya, perintah Allah swt. Pencuri
lelaki dan wanita, potonglah tangan keduanya. [QS. Al-Maidah (5): 38]. Ayat ini
menunjukkan bahwa pencurian adalah dijadikan sebab terhadap hukum potong tangan.
Bersabda Rasulullah saw., Allah swt. tidak menerima shalat yang tidak dengan bersuci.
Hadits ini menunjukkan bahwa bersuci adalah dijadikan syarat untuk shalat.
Contoh yang lain, sabda Rasulullah saw., Pembunuh tidak bisa mewarisi sesuatu. Hadits ini
menunjukkan bahwa pembunuhan adalah pencegah seorang pembunuh mewarisi harta
benda si terbunuh.
Dari keterangan-keterangan di atas, kita paham bahwa hukum syara dibagi menjadi dua,
yaitu hukum taklifi dan hukum wadhi.
Hukum taklifi adalah sesuatu yang menunjukkan tuntutan untuk berbuat, atau tuntutan
untuk meninggalkan, atau boleh pilih antara berbuat dan meninggalkan.
Contoh hukum yang menunjukkan tuntutan untuk berbuat: Ambilah sedekah dari sebagian
harta mereka! [QS. At-Taubah (9): 103], Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia
terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. [QS. Al-
Imran (3): 97].
Contoh hukum yang menunjukkan tuntutan untuk meninggalkan: Janganlah di antara kamu
mengolok-olok kaum yang lain. [QS. Al-Hujurat (49): 11], Diharamkan bagimu memakan
bangkai, darah, dan daging babi. [QS. Al-Maidah (5): 3].
Contoh hukum yang menunjukkan boleh pilih (mudah): Apabila telah ditunaikan shalat,
maka bertebaranlah kamu di muka bumi. [QS. Al-Jumuah (62): 10], Dan apabila kamu
bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat. [QS. An-Nisa
(4): 101].
Hukum wadhi adalah yang menunjukkan bahwa sesutu telah dijadikan sebab, syarat, dan
mani (pencegah) untuk suatu perkara.
Contoh sebab: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat,
maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku-siku. [QS. Al-Maidah (5): 6]. Kehendak
melakukan shalat adalah yang menjadikan sebab diwajibkannya wudhu.
Contoh syarat: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi
orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. [QS. Ali Imran (3): 97].
Kemampuan adalah menjadi syarat diwajibkannya haji.
Contoh mani (pencegah): Rasulullah saw. bersabda, Pena diangkat (tidak ditulis dosa) dari
tiga orang, yaitu dari orang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia dewasa, dan
dari orang gila sampai ia sembuh (berakal). Hadits ini menunjukkan bahwa gila adalah
pencegah terhadap pembebanan suatu hukum dan menjadi pencegah terhadap perbuatan
yang sah.
Hukum taklifi terbagi menjadi dua, yaitu azimah dan rukhshah. Azimah adalah suatu hukum
asal yang tidak pernah berubah karena suatu sebab dan uzur. Seperti shalatnya orang yang
ada di rumah, bukan musafir. Sedangkan rukhshah adalah suatu hukum asal yang menjadi
berubah karena suatu halangan (uzur). Seperti shalatnya orang musafir.
Azimah meliputi berbagai macam hukum, yaitu:
1. Wajib. Suatu perbuatan yang telah dituntut oleh syara (Allah swt.) dengan bentuk
tuntutan keharusan. Hukum perbuatan ini harus dikerjakan. Bagi yang mengerjakan
mendapat pahala dan bagi yang meninggalkan mendapat siksa. Contohnya, puasa
Ramadhan adalah wajib. Sebab, nash yang dipakai untuk menuntut perbuatan ini adalah
menunjukkan keharusan. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa.
[QS. Al-Baqarah (2): 183]
2. Haram. Haram adalah sesutu yang telah dituntut oleh syara (Allah swt.) untuk
ditinggalkan dengan bentuk tuntutan keharusan. Hukumnya bila dikerjakan adalah batal dan
yang mengerjakannya mendapat siksa. Contohnya, tuntutan meninggalkan berzina,
tuntutan meninggalkan makan bangkai, darah, dan daging babi.
3. Mandub (sunnah). Mandub adalah mengutamakan untuk dikerjakan daripada
ditinggalkan, tanpa ada keharusan. Yang mengerjakannya mendapat pahala, yang
meninggalkannya tidak mendapat siksa, sekalipun ada celaan. Mandub biasa disebut
sunnah, baik sunnah muakkadah (yang dikuatkan) atau ghairu (tidak) muakkadah
(mustahab).
4. Makruh. Makruh adalah mengutamakan ditinggalkan daripada dikerjakan, dengan tidak
ada unsur keharusan. Misalnya, terlarang shalat di tengah jalan. Yang melaksanakannya
tidak mendapat dosa sekalipun terkadang mendapat celaan.
5. Mubah. Mubah adalah si mukallaf dibolehkan memilih (oleh Allah swt.) antara
mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya, dalam arti salah satu tidak ada yang
diutamakan. Misalnya, firman Allah swt. Dan makan dan minumlah kamu sekalian.
Tegasnya, tidak ada pahala, tidak ada siksa, dan tidak ada celaan atas berbuat atau
meninggalkan perbuatan yang dimubahkan.
Apabila Allah swt. menuntut kepada seorang mukallaf untuk melakukan sesuatu perbuatan
lalu perbuatan tersebut dikerjakannya sesuai dengan yang dituntut darinya dengan
terpenuhi syarat rukunnya, maka perbuatan tersebut disebut shahih. Tetapi apabila salah
satu syarat atau rukunnya rusak, maka perbuatan tersebut disebut ghairush shahiih.
Ash-shahiih adalah sesuatu yang apabila dikerjakan mempunyai urutan akibatnya.
Contohnya, bisa seorang mukallaf mengerjakan shalat dengan sempurna, terpenuhi syarat
rukunnya, maka baginya telah gugur kewajiban dan tanggungannya.
Ghairush-shahiih adalah sesuatu yang dilakukannya tidak mempunya urutan akibat-akibat
syara. Contohnya, seorang mukallaf mengerjakan shalat tidak terpenuhi syarat rukunnya,
seperti shalat tanpa rukuk. Kewajiban mukallaf mengerjakan shalat tersebut belum gugur.
Demikian pula kalau shalat dikerjakan tidak pada waktunya atau mengerjakannya tanpa
wudhu. Perbuatan-perbuatan yang dikerjakan tidak sesuai dengan tuntutan Allah swt.
dianggap tidak ada atau tidak mengerjakan apa-apa.

Pengertian Syariat Islam

Pengertian Syariat Islam - Syariat artinya jalan yang sesuai dengan undang-undang
(peraturan) Allah SWT. Allah menurunkan agama Islam kepada Nabi Muhammad saw.
secara lengkap dan sempurna, jelas dan mudah dimengerti, praktis untuk diamalkan, selaras
dengan kepentingan dan hajat manusia di manapun, sepanjang masa dan dalam keadaan
bagaimanapun.
Syariat Islam ini berlaku bagi hamba-Nya yang berakal, sehat, dan telah menginjak usia
baligh atau dewasa. (dimana sudah mengerti/memahami segala masalah yang dihadapinya).
Tanda baligh atau dewasa bagi anak laki-laki, yaitu apabila telah bermimpi bersetubuh
dengan lawan jenisnya, sedangkan bagi anak wanita adalah jika sudah mengalami datang
bulan (menstruasi).
Bagi orang yang mengaku Islam, keharusan mematuhi peraturan ini diterangkan dalam
firman Allah SWT. "kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat
(peraturan) dari agama itu, maka ikutilah syariat itu, dan janganlah engkau ikuti keinginan
orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. 45/211-Jatsiyah: 18).
Syariat Islam ini, secara garis besar, mencakup tiga hal:
1. Petunjuk dan bimbingan untuk mengenal Allah SWT dan alam gaib yang tak terjangkau
oleh indera manusia (Ahkam syar'iyyah I'tiqodiyyah) yang menjadi pokok bahasan ilmu
tauhid.
2. Petunjuk untuk mengembangkan potensi kebaikan yang ada dalam diri manusia agar
menjadi makhluk terhormat yang sesungguhnya (Ahkam syar'iyyah khuluqiyyah) yang
menjadi bidang bahasan ilmu tasawuf (ahlak).
3. Ketentuan-ketentuan yang mengatur tata cara beribadah kepada Allah SWT atau
hubungan manusia dengan Allah (vetikal), serta ketentuan yang mengatur
pergaulan/hubungan antara manusia dengan sesamanya dan dengan lingkungannya.
Dewasa ini, umat Islam selalu mengidentikkan syariat dengan fiqih, oleh karena sedemikian
erat hubungan keduanya. Akan tetapi antara syariat dan fiqih, sesungguhnya ada perbedaan
yang mendasar. Syariat Islam merupakan ketetapan Allah SWT tentang ketentuan-
ketentuan hukum dasar yang bersifat global dan kekal, sehingga tidak mungkin
diganti/dirombak oleh siapa pun sampai kapan pun. Sedangkan fiqih adalah penjabaran
syariat dari hasil ijtihad para mujtahid, sehingga dalam perkara-perkara tertentu bersifat
lokal dan temporal. Itulah sebabnya ada sebutan fiqih Irak dan lain-lainnya. Selain itu,
karena fiqih hasil dari pemikiran mujtahid, maka ada fiqih Syafi'ie, fiqih Maliki, fiqih Hambali,
fiqih Hanafi.
Oleh Karena syariat Islam adalah ketetapan Allah SWT, maka memiliki sifat-sifat, antara lain:
1. Umum, maksudnya syariat Islam berlaku bagi segenap umat Islam di seluruh penjuru
dunia, tanpa memandang tempat, ras, dan warna kulit. Berbeda dengan hukum perbuatan
manusia yang memberlakukannya terbatas pada suatu tempat karena perbuatannya
berdasarkan faktor kondisional dan memihak pada kepentingan penciptanya.
2. Universal, maksudnya syariat Islam mencakup segala aspek kehidupan umat manusia.
Ditegaskan oleh Allah SWT. "Tidak ada sesuatu pun yang kami luputkan di dalam Kitab (Al-
Qur'an)." (QS. 6/An-An'am: 38). Maksudnya di dalam Al-Qur'an itu telah ada pokok-pokok
agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah, dan tuntunan untuk kebahagiaan
manusia di dunia dan di akhirat.

Bukti bahwa hukum Islam mencakup segala urusan manusia, berikut kami petikkan
beberapa ayat Al-Qur'an, antara lain:
a. tentang ekonomi dan keuangan. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan
utang-piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan
hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar." (QS. 2/Al-
Baqoroh: 282].
b. tentang usaha dan kerja. Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah
diusahakannya." (QS. 53/An-Najm: 39).
c. tentang peradilan. "...dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya
kamu menetapkannya dengan adil." (QS. 4/An-Nisa':58).
d. tentang militer. "Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi
mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat
menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak
mengetahuinya, tetapi Allah mengetahuinya." (QS. 8/Al-Anfal: 60)
e. tentang masalah perdata. "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji." (QS. 5/Al-
Maidah: 1). Maksudnya adalah janji kepada Allah, janji terhadap sesama manusia, dan janji
kepada diri sendiri.

3. Orisinil dan abadi, maksudnya syariat ini benar-benar diturunkan oleh Allah SWT, dan
tidak akan tercemar oleh usaha-usaha pemalsuan sampai akhir zaman. "Sesungguhnya
Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." (QS. 151
Al-Hijr: 9). Firman Allah tersebut telah terbukti. Beberapa kali umat lain gagal memalsukan
ayat-ayat Al-Qur'an.
4. Mudah dan tidak memberatkan. Kalau kita mau merenungkan syariat Islam dengan
seksama dan jujur, akan kita dapati bahwa syariat Islam sama sekali tidak memberatkan dan
tidak pula menyulitkan. "Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan
kesanggupannya." [QS. 2/Al-Baqoroh: 286).

Bukti-bukti bahwa syariat ini mudah dan tidak memberatkan, bisa kita dapati antara lain
bagi:
a. orang yang bepergian (Musafir) mendapat keringanan boleh mengqoshor (memendekkan
sholat yang empat rokaat menjadi dua rokaat), dan boleh tidak berpuasa dengan catatan
harus menggantinya pada hari yang lain.
b. orang yang sedang sakit tidak diharuskan bersuci dengan wudhu, melainkan dengan
tayammum yakni menggunakan debu. Dalam menunaikan sholat pun jika tidak sanggup
berdiri, boleh dengan duduk, atau bahkan boleh sambil merebahkan diri.
c. percikan najis dari genangan air di jalanan, apabila mengena pakaian, dimaafkan karena
itu sulit di hindarkan.
d. dalam keadaan terpaksa, tidak ada secuil pun makanan untuk mengganjal perut, makanan
yang telah diharamkan seperti bangkai, boleh dimakan asalkan tidak berlebihan.
5. Seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat. Islam tidak memerintahkan umatnya
untuk mencari kesenangan dunia semata, sebaliknya juga tidak memerintahkan pemeluknya
mencari kebahagiaan akhirat belaka. Akan tetapi Islam mengajarkan kepada pemeluknya
agaromencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak. Ayat-ayat Al Quran yang
mensuratkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, antara lain: "Dan carilah
(pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi
janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia." (QS. 28/Al-Qoshosh: 77). Dialah yang
menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia
menjadikan siang untuk bangkit berusaha." (QS. 25/Al-Furqon: 47).
Sumber Syariat Islam
Ada 5 (lima) sumber syariah Islam yaitu Al-Qur'an, hadits Nabi, ijma', qiyas (analogi) dan
ijtihad.

AL-QURAN
Al-Quran merupakan sumber pertama dan utama dari syariah. Quran menjelaskan dasar-
dasar syariah seperti aqidah, ibadah, dan muamalah baik secara rinci (tafshil) maupun global
(ijmal). Quran menurut ulama syariah bersifat pasti ketetapannya.
Akan tetap dalam soal dalil Quran dalam kaitannya dengan hukum maka ia adakalanya
bersifat pasti (qath'i) adakalanya bersifat dzanni (tidak pasti). Dalil Quran bersifat pasti
dalam situasi di mana kata atau teks dalam ayat Quran hanya mengandung satu makna dan
pemahaman. Dalil Quran bersifat dzanni apabila teks dalam Quran mengandung lebih dari
satu makna.
AL-HADITS (AS-SUNNAH)
Hadits adalah sumber kedua dalam syariah Islam. Ulama hadits (muhaddits) telah
mengumpulkan hadits-hadits Nabi yang tersusun dalam sejumlah kitab hadis seperti Sahih
Bukhari, Sahih Muslim dan kitab hadits yang lain seperti Muwatta' Malik, Sunan Abu Dawud,
Sunan Tirmidzi, dan lain-lain.

Dari segi sanad (perawi hadits), hadits terbagi menjadi tiga bagian menurut madzhab Hanafi
yaitu hadits mutawatir, masyhur, dan ahad. Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama,
hadits terbagi menjadi dua yaitu mutawatir dan ahad.

IJMA
Ijmak adalah sumber ketiga dari syariah Islam. Ijmak adalah kesepakatan mayoritas ulama
mujtahid atas suatu masalah hukum berdasarkan pada dalil Quran dan hadits yang
berkenaan denga suatu hukum.

QIYAS (ANALOGI)
Qiyas merupakan sumber keempat syariah Islam. Qiyas adalah menganalogikan suatu
perkara, yang tidak disebut secara tersurat dalam Quran, hadits dan Ijmak, dengan perkara
lain yang status hukumnya jelas tersebut dalam Quran, hadits atau ijmak karena adanya
persamaan dalam sebab hukumnya.

IJTIHAD
Ijtihad adalah sumber kelima syariah Islam. Ijtihad adalah usaha yang dilakukan seorang
ulama atau beberapa ulama untuk menghasilkan hukum atas suatu masalah tertentu yang
tidak pernah disebut atau dibahas dalam Quran, hadits, ijmak. Seperti masalah-masalah
baru. Ulama mensyaratkan sejumlah syarat pada mereka yang berhak menjadi mujtahid
karena tidak semua orang memiliki kompetensi dan kapabilitas untuk melakukan ijtihad.
MACAM-MACAM HUKUM SYARIAT ISLAM
Hukum Syariat Islam terdiri dari lima macam, yaitu fardlu, haram, mandub, makruh, dan
mubah. Hukum syariat Islam bisa berbentuk tuntutan untuk melakukan sesuatu atau
tuntutan untuk meninggalkannya. Jika seruan itu berbentuk tuntutan untuk untuk
melakukan sesuatu, maka seruan itu dibagi ke dalam dua macam. Pertama, yang berkaitan
dengan tuntutan yang harus dikerjakan, yang dinamakan fardlu atau wajib. Tidak ada
perbedaan antara dua istilah tersebut. Kedua, yang berkaitan dengan tuntutan yang tidak
harus dikerjakan, yaitu apa yang dinamakan mandub. Jika hukum syara berkaitan dengan
tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan, maka seruan itu juga dibagi dua macam.
Pertama, yang berkaitan dengan tuntutan yang harus ditinggalkan, yang dinamakan haram
atau mahdlur. Tidak ada perbedaan antara kedua istilah tersebut. Kedua, jika berkaitan
dengan tuntutan yang tidak mengharuskan meninggalkannya. Inilah yang dinamakan
makruh.
Karena itu, fardlu atau wajib adalah seluruh perbuatan yang mendapatkan pujian bagi
pelakunya, dan celaan bagi yang meninggalkannya. Atau, bagi orang yang meninggalkannya
akan memperoleh sanksi/siksaan. Sedangkan haram adalah perbuatan yang mendapatkan
celaan bagi pelakunya, dan pujian bagi yang meninggalkannya. Dengan kata lain, orang yang
melakukannya akan memperoleh sanksi/siksaan. Adapun mandub adalah pujian bagi
pelakunya, tetapi tidak mendapatkan celaan bagi yang meninggalkannya. Sedangkan
makruh adalah pujian bagi yang meninggalkannya, atau meninggalkannya lebih utama dari
pada melakukannya. Mubah, adalah apa yang dituju oleh dalil sami (wahyu) terhadap
seruan Syari yang di dalamnya terdapat pilihan, antara melakukan atau meninggalkannya.