Anda di halaman 1dari 18

KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM"

Filsafat Ketuhanan Islam


Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang
berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah.
Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu
sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan
perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia
menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha
menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman
manusia.1[1]
Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami
perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai
orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas
dapat diketahui bahwa pengertian filsafat dari segi kebahasan atau semantik adalah cinta
terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan
atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran
utamanya.
Keimanan dalam Islam merupakan aspek ajaran yang fundamental, kajian ini harus
dilaksanakan secara intensif. Keimanan kepada Allah Swt, kecintaan, pengharapan, ikhlas,
kekhawatiran, tidak dalam ridho-Nya, tawakal nilai yang harus ditumbuhkan secara subur
dalam pribadi muslim yang tidak terpisah dengan aspek pokok ajaran yang lain dalam Islam.
Ketaatan merupakan karunia yang sangat besar bagi muslim dan sebagian orang yang
menyebut kecerdasan spiritual yang ditindak lanjuti dengan kecerdasan sosial. Inti ketaatan
tidak dinilai menurut Allah Swt, bila tidak ada nilai pada aspek sosial.
Muslim yang baik memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kecerdasan spiritual (QS. Ali
Imran: 190-191) sehingga sikap keberagamaannya tidak hanya pada ranah emosi tetapi
didukung kecerdasan pikir atau ulul albab. Terpadunya dua hal tersebut insya Allah menuju
dan berada pada agama yang fitrah. (QS.Ar-Rum: 30).
Jadi, filsafat Ketuhanan dalam Islam bisa diartikan juga yaitu kebijaksanaan Islam untuk
menentukan Tuhan, dimana Ia sebagai dasar kepercayaan umat Muslim.

Siapa Tuhan Itu?


Lafal Ilahi yang artinya Tuhan,2[2] menyatakan berbagai obyek yang dibesarkan dan
dipentingkan manusia, misalnya dalam surat Al-Furqon: 43 yang artinya: Apakah engkau
melihat orang yang menghilangkan keinginan-keinginan pribadinya?
Menurut Ibnu Miskawaih Tuhan adalah zat yang tidak berijisim, azali, dan pencipta. Tuhan
Esa dalam segala aspek. Ia tidak terbagi-bagi dan tidak mengandung kejamakan dan tidak
satupun yang setara dengan-Nya, Ia ada tanpa diadakan dan ada-Nya tidak bergantung
kepada yang lain sementara yang lain membutuhkan-Nya.3[3]
Orang menyediakan hawa nafsunya, yang dipuji dalam hidupnya, berarti telah berbuat syirik
yang sebenarnya menurut Islam hawa nafsu harus tunduk kepada kehendak Allah Swt.
Dalam surah Al-Qoshos: 38, lafal Ilah dipakai oleh Firaun untuk dirinya sendiri, yang artinya:
Dan Firaun berkata, wahai para pembesar aku tidak menyangka bahwa kalian mempunyai
Ilah selain diriku
Bagi manusia, Tuhan itu bisa dalam bentuk konkret maupun abstrak/gaib. Al-Quran
menegaskan Ilah bisa dalam bentuk mufrad maupun jama (ilah, ilahian, ilahuna). Ilah ialah
sesuatu yang dipentingkan, dipuja, diminintai, diagungkan diharapkan memberikan
kemaslahatan dan termasuk yang ditakuti karena mendatangkan bahaya.
Di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah: 163 menegaskan, Dan Tuhanmu, Tuhan Yang Maha
Esa, tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ilah yang dituju
ayat di atas adalah Allah Swt, yang menurut Ulama Ilmu Kalam Ilah di sini bermakna al-
Mabud, artinya satu-satunya yang diibadati/disembah. Sedang Al-Matbu, yang dicintai,
yang disenangi, diikuti. Inilah yang disebut Tauhid Uluhiyah, bahwa Allah Swt. satu-satunya
Tuhan yang diibadahi, dicintai, disenangi, dan diikuti.
Allah Swt memfirmankan dalam Al-Quran surat Thoha : 14, yang artinya: Sesungguhnya
Aku Allah. Tidak ada Tuhan selain Aku (Allah), maka beribadahlah hanya kepada-Ku (Allah),
dan dirikanlah sholat untuk mengingatku.

Kalimat Tauhid keesaan secara konprehensif mempunyai pengertian sebagai berikut:


1. La Kholiqo illa Allah: Tiada Pencipta selain Allah
2. La Roziqo illa Allah: Tiada Pemberi rizqi selain Allah
3. La Hafidha illa Allah: Tiada Pemelihara selain Allah
4. La Malika illa Allah: Tiada Penguasa selain Allah
5. La Waliya illa Allah: Tiada Pemimpin selain Allah
6. La Hakima illa Allah: Tiada Hakim selain Allah
7. La Ghoyata illa Allah: Tiada Yang Maha menjadi tujuan selain Allah
8. La Mabuda illa Allah: Tiada Yang Maha disembah selain Allah

Lafal Al-ilah pada kalimat tauhid4[4] menurut Ibnu Taimiyah memiliki pengertian yang
dipuja dengan cinta sepenuh hati, tunduk kepada-Nya merendahkan diri di hadapan-Nya,
takut dan mengharapkan kepadaNya, berserah hanya kepada-Nya ketika dalam kesulitan
dan kesusahan, meminta perlindungan kepada-Nya, dan menimbulkan ketenangan jiwa
dikala mengingat dan terpaut cinta denganNya. Ini yang disebut Tauhid Rububiyah.

Lawan tauhid adalah syirik, artinya menyekutukan Allah Swt dengan yang lain, mengakui
adanya Tuhan selain Allah, menjadikan tujuan hidupnya selain kepada Allah. Dalam ilmu
tauhid, syirik digunakan dalam arti mempersekutukan Tuhan selain dengan Allah Swt, baik
persekutuan itu mengenai dzatNya, sifatNya atau afalNya, maupun mengenai ketaatan
yang seharusnya hanya ditujukan kepada-Nya saja.
Syirik merupakan dosa yang paling besar yang tidak dapat diampuni, syirik itu bertentangan
dengan perintah Allah Swt, juga berakibat merusak akal manusia, menurunkan derajat dan
martabat manusia, serta membuatnya tak pantas menempati kedudukan tinggi yang telah
ditentukan Allah Swt. dalam kaitannya dengan masalah ini, Allah Swt berfirman dalam surah
Luqman : 13 yang artinya Dan (ingatlah ketika Luqman berkata kepada Anaknya. Wahai
anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah
adalah benar-benar kedhaliman yang amat besar.
Dan didalam ayat lain, Allah Swt menjelaskan bahwa orang yang telah berbuat syirik
kepadaNya, tergolong orang yang telah berbuat dosa besar, sebagaimana firmanNya,
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, bagi siapa berkehendak. Barang siapa
yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar. (QS. An-Nisa:
48).

Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan

a. Pemikiran Barat
Yang dimaksud dengan konsep Ketuhanan menurut pemikiran manusia adalah hasil
pemikiran tentang Tuhan baik melalui pengalaman lahiriah maupun batiniah dari penelitian
rasional, maupun pengalaman batin.
Max Muller berpendapat bahwa konsep pemikiran barat tentang Tuhan mengalami evolusi
yang diawali dengan Dinamisme, Animisme, Politeisme, Henoteisme, dan puncak
tertingginya monoteisme (Nisbi). Pemikiran tentang Tuhan sebagaimana di atas, hasil
pendekatannya adalah budaya, Arnold Toynbe mengatakan: Monoteisme bukan hasil akhir
dan proses pemikiran tentang Tuhan, sebab orang yang sudah maju dalam
intelektualitasnya sangat mungkin justru berputar mundur dalam bertuhan, yakni
animistis.

b. Pemikiran Islam
Pemikiran tentang Tuhan dalam islam melahirkan ilmu kalam, ilmu tauhid atau ilmu
ushuluddin dikalangan umat Islam, setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Aliran-aliran
tersebut ada yang bersifat liberal, tradisional dan ada aliran diantara keduanya. Ketiga corak
pemikiran ini mewarnai sejarah pemikiran ilmu ketuhanan (teologi) dalam Islam. Aliran-
aliran tersebuut adalah:
1. Muktazilah, adalah kelompok rasionalis dikalangan orang Islam, yang sangat
menekankan penggunaan akal dalam memahami semua ajaran Islam. Dalam menganalisis
masalah ketuhanan, mereka memakai bantuan ilmu logika guna mempertahankan
keimanan.
2. Qodariyah, adalah kelompok yang berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan
berkehendak dan berbuat.5[5] Manusia berhak menentukan dirinya kafir atau mukmin
sehingga mereka harus bertanggung jawab pada dirinya. Jadi, tidak ada investasi Tuhan
dalam perbuatan manusia.
3. Jabariyah, adalah kelompok yang berpendapat bahwa kehendak dan perbuatan manusia
sudah ditentukan Tuhan. Jadi, manusia dalam hal ini tak ubahnya seperti wayang. Ikhtiar
dan doa yang dilakukan manusia tidak ada gunanya.
4. Asyariyah dan Maturidiyah, adalah kelompok yang mengambil jalan tengah antara
Qodariyah dan Jabariyah. Manusia wajib berusaha semaksimal mungkin. Akan tetapi,
Tuhanlah yang menentukan hasilnya.

Konsep Ketuhanan Menurut Islam


Konsep Ketuhanan dapat diartikan sebagai kecintaan, pemujaan atau sesuatu yang dianggap
penting oleh manusia terhadap sesuatu hal (baik abstrak maupun konkret).6[6] Eksistensi
atau keberadaan Allah disampaikan oleh Rasul melalui wahyu kepada manusia, tetapi yang
diperoleh melalui proses pemikiran atau perenungan.
Informasi melalui wahyu tentang keimanan kepada Allah dapat dibawa dalam kutipan di
bawah ini:
a. Surat Al-Anbiya : 25 yang artinya Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum
kamu, melainkan Kami wahyukan kepadaNya, bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah,
maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.
Sejak diutusnya Nabi Adam AS sampai Muhammad Saw Rasul terakhir. Ajaran Islam yang
tAllah Swt wahyukan kepada para utusanNya adalah Tauhidullah atau monotheisine murni.
Sedangkan lafadz kalimat tauhid itu adalah laa ilaha illa Allah. Ada perbedaan ajaran
tentang Tuhan yang ada asalnya dari agama wahyu. Hal semacam itu disebabkan manusia
mengubah ajaran tersebut. Dan hal seperti itu termasuk kebohongan yang besar
(dhulmunadhim).
b. Surat Al-Maidah : 72 Dan Al masih berkata; Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan
Tuhanmu, sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka Allah pasti
mengharamkan baginya surga dan tempatnya adalah neraka.
c. Surat Al-Baqarah : 163 Dan Tuhamu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan
kecuali Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa Allah Swt adalah Tuhan yang mutlak keesaannya.
Lafadz Allah swt adalah isim jamid, personal nama, atau isim adham yang tidak dapat
diterjemahkan, digantikan atau disejajarkan dengan yang lain. Seseorang yang telah
mengaku Islam dan telah mengikrarkan kalimat Syahadat Laa ilaha illa Allah (tidak ada
Tuhan selain Allah) berate telah memiliki keyakinan yang benar, yaitu monoteisme
murni/monoteisme mutlak. Sebagai konsekuensianya, ia harus menempatkan Allah Swt
sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas kehidupan.
Bukti Adanya Tuhan
a. Keberadaan Alam semesta, sebagai bukti adanya Tuhan
Ismail RajI Al-Faruqi mengatakan prinsip dasar dalam Teologi Islam, yaitu Khalik dan
makhluk. Khalik adalah pencipta, yakni Allah swt, hanya Dialah Tuhan yang kekal, abadi, dan
transeden. Tidak selamanya mutlak Esa dan tidak bersekutu. Sedangkan makhluk adalah
yang diciptakan, berdimensi ruang dan waktu, yaitu dunia, benda, tanaman, hewan,
manusia, jin, malaikat langit dan bumi, surga dan neraka.
Adanya alam semesta organisasinya yang menakjubkan bahwa dirinya ada dan percaya pula
bahwa rahasia-rahasianya yang unik, semuanya memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu
kekuatan yang telah menciptakannya.
Setiap manusia normal akan percaya bahwa dirinya ada dan percaya pula bahwa alam ini
juga ada. Jika kita percaya tentang eksistensinya alam, secara logika kita harus percaya
tentang adanya penciptaan alam semesta. Pernyataan yang mengatakan Percaya adanya
makhluk, tetapi menolak adanya khalik, adalah suatu pernyataan yang tidak benar.
Kita belum pernah mengetahui adanya sesuatu yang berasal dari tidak ada tanpa diciptakan.
Segala sesuatu bagaimanapun ukurannya, pasti ada penciptanya, dan pencipta itu tiada lain
adalah Tuhan. Dan Tuhan yang kita yakini sebagai pencipta alam semesta dan seluruh isinya
ini adalah Allah Swt.

b. Pembuktian adanya Tuhan dengan Pendekatan Fisika


Ada pendapat dikalangan ilmuwan bahwa alam ini azali. Dalam pengertian lain alam ini
mencpitakan dirinya sendiri. Ini jelas tidak mungkin, karena bertentangan dengan hukum
kedua termodinamika. Hukum ini dikenal dengan hukum keterbatasan energi atau teori
pembatasan perubahan energi panas yang membuktikan bahwa adanya alam ini mungkin
azali.
Hukum tersebut menerangkan energi panas selalu berpindah dari keadaan panas beralih
menjadi tidak panas, sedangkan kebalikannya tidak mungkin, yakni energi panas tidak
mungkin berubah dari keadaan yang tidak panas berubah menjadi panas. Perubahan energi
yang ada dengan energi yang tidak ada.
Dengan bertitik tolak dari kenyataan bahwa proses kerja kimia dan fisika terus berlangsung,
serta kehidupan tetap berjalan. Hal ini membuktikan secara pasti bahwa alam bukanlah
bersifat azali. Jika alam ini azali sejak dahulu alam sudah kehilangan energi dan sesuai
hukum tersebut tentu tidak akan ada lagi kehidupan di alam ini.

c. Pembuktian adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi


Astronomi menjelaskan bahwa jumlah bintang di langit saperti banyaknya butiran pasir yang
ada di pantai seluruh dunia. Benda ala yang dekat dengan bumi adalah bulan, yang jaraknya
dengan bumi sekitar 240.000 mil, yang bergerak mengelilingi bumi, dan menyelesaikan
setiap edaranya selama 20 hari sekali.
Demikian pula bumi yang terletak 93.000.000.000 mil dari matahari berputar dari porosnya
dengan kecepatan 1000 mil perjam dan menempuh garis edarnya sepanjang 190.000.000
mil setiap setahun sekali. Dan sembilan planet tata surya termasuk bumi, yang mengelilingi
matahari dengan kecepatan yang luar biasa.
Matahari tidak berhenti pada tempat tertentu, tetapi ia beredar bersama dengan planet-
planet dan asteroid-asteroid mengelilingi garis edarnya dengan kecepatan 600.00 mil
perjam. Disamping itu masih ada ribuan sistem selain sistem tata surya kita dan setiap
sistem mempunyai kumpulan atau galaxy sendiri-sendiri. Galaxy-galaxy tersebut juga
beredar pada garis edarnya. Galaxy sistem matahari kita, beredar pada sumbunya dan
menyelesaikan edarannya sekali dalam 200.000.000 tahun cahaya.
Logika manusia memperhatikan sistem yang luar biasa dan organisasi yang teliti.
Berkesimpulan bahwa mustahil semuanya ini terjadi dengan sendirinya. Bahkan akan
menyimpulkan, bahwa dibalik semuanya itu pasti ada kekuatan yang maha besar yang
membuat dan mengendalikan semuanya itu, kekuatan maha besar itu adalah Tuhan.

d. Argumentasi Qurani
Allah Swt. berfirman, termaktub dalam surat Al-Fatihah ayat 2 yang terjemahya Seluruh
puja dan puji hanalah milik Allah Swt, Rabb alam semesta.
Lafadz Rabb dalam ayat tersebut, artinya Tuhan yang dimaksud adalah Allah Swt. Allah Swt
sebagai Rabb maknanya dijelaskan dalam surat Al-Ala ayat 2-3, yang terjemahannya
Allah yang menciptakan dan menyempurnakan, yang menentukan ukuran-ukuran
ciptaannya dan memberi petunjuk. Dari ayat tersebut jelaslah bahwa Allah Swt yang
menciptakan ciptaannya, yaitu alam semesta, menyempurnakan, menentukan aturan-
aturan dan memberi petunjukterhadap ciptaannya. Jadi, adanya alam semesta dan seisinya
tidak terjadi dengan sendirinya. Akan tetapi, ada yang menciptakan dan mengatur yaitu
Allah Swt.
Didalam surat Al-Araf ayat 54, termaktub yang Tuhanmu adalah Allah yang telah
menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Lafadz Ayyam adalah jamak dari yaum yang
berarti periode. Jadi, sittati ayyam berarti enam periode dan tentunya membutuhkan
proses waktu yang sangat panjang.
Dalam menciptakan sesuatu memang Allah tinggal berfirman Kun Fayakun yang artinya
jadilah maka jadi. Akan tetapi, dimensi manusia dengan Allah berbeda sampai kepada
manusia membutuhkan waktu enam periode. Hal ini agar manusia dapat meneliti dan
mengkaji dengan metode ilmiahnya sehingga muncul atau lahir berbagai macam ilmu
pengetahuan.

Konsepsi Tentang Tuhan PROBLEMA KETUHANAN


AL QURAN adalah kitab Allah yang diwahyukan kepada nabi muhammad untuk menjadi
petunjuk dan bimbingan kepada umat manusia seluruhnya. Didalamnya terkandung
berbagai tuntunan dan ajaran yang apabila ditaati dengan baik, manusia kan memperoleh
kesentosaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Di antara ajaran al Quran yang
penting adalah seruan dan himbauan kepada seluruh umat manusia untuk menyembah
hannya kepada Allah, tidak memperserikatkannya dengan sesuatu jua pun. Untuk maksud
ini, al Quuran dalam berbagai ayatnya, mengajak manusia mempergunakan akalnya untuk
mengamati dan merenungkan segala peristiwa yang terjadi dalam kosmos ini, bahkan juga
hal ihwal dirinya sendiri karena didalamnya terkandung bukti-bukti yang kuat da
menyakinkan tentang adanya Allah Yang Maha Esa, pencipta alam semesta. Selain itu, al
Quran juga menjelaskan bahwa Allah mempunyai sifat-sifat atau nama-nama yang maha
baik (al Asmaul-Huana). Melalui sifat-sifat ini, kita dapat mengetahui corak hubungan
antara allah, sebagai khalik, dengan alam da manusia sebagai makhluk.
Dalam hal ini, al Quran menetapkan sifat-sifat allah dan juga merupakan sifat-sifat yang
lazim belaku dalam dunia manusia, sebagai tanda adanya keakraban hubungn antara
keduanya. Dan jika dalam hal ini ada kemungkinan terbayang persamaaan allah dengan
manusia, maka hal itu hanyalah pada kata-kata lahiriyah semata, tidak menyentuh hakikat.
Al Quran dengan tegas menyatakn bahwa tiidak ada suatu jua pun dari makhluk ini yang
dapat menyamainya, baik dzat, sifat maupun fiil-nya .

ALLAH DALAM MAZHAB MUTAKALLIMIN


Tidak ada perbedaan pendapat dalam kalangan mutakallimin, baik mutazilah, maupun
asyariyyah, tentang wujud allah dan dztnya Yang Maha Esa. Petunjuk Al Quran dan
bimbingannya dalam masah ini merupakan pegangan dasar, hanya lebih jelas dan logis,
merumuskan dalam suatu kerangka pemikiran yang sistematis. Demikianlah misalnya kita
melihat Imam Abu Bakar muhammad ibn al Thayyib al Baqillani (men. 403 H), salah seorang
pengikut asyariyyah dan pemuka madzhab Ahlussunnah Waljamaah, merumuskan dalil
adanya Tuhan berdasarkan kenyataan alam ini. Alam inderawi ini, katanya adalah baharu
karena ia terdiri dari tiga unsur: jisim, jauhar (substansi) dan aradh (accident) yang melekat
(layanfakku) pada keduanya. Jisim bukanlah sesuatu yang tunggal, tetapi ia tersusun daru
jauhar-jauhar, dan jauhar itu adalah unsur atau bagian terkecil yang tidak dapat di bagi lagi.
Seangkan aradh adalah keadaan satu sifat yang melekat pada jisim dan jauhar. Ia selalu
berubah dan menghilang dalam pada saat kedua wujudnya pada jisim dan jauhar untuk
diganti dengan yang lain (wa jabthulu fi tsani hali wujudihi fihima). Oleh karena jisim dan
jauhar tidak terlepas dari aradh, dan sebaiknya aradh sangat bergantung wujudnya pada
sisim dan jauhar, yakni tidak dapat berdiri sendiri, di samping itu ia juga baharu karena
selalu berubah, maka alam semesta ini, yang terdiri dari tiga unsur tersebut, juga
keadaannya baharu. Jika alam ini baharu, maka tentunya harus ada suatu dzat yang tidak
baharu sebagai sebab bagi perubahan itu. Dzat itu adalah Allah taala. Dalam kalangan
mutazilah, konsep jauhar fard dikemukakan oleh Abu al hudzail al allaf (men. 235 H.) yang
pada hakikatnya tidak berbeda isinya dengan apa yang terdapat pada Al Baqillani tersebut di
atas . Adapun perbedaan yang sangat mendasar antara mutazilah dan asyaryyah adalah
mengenai pengertia tauhid atau keesaan allah. Apakah tauhid itu mengharuskan pesamaan
(identik) sifat dengan dzat atau keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Golongan
mutazilah pada umumnya menganut pendapat pertama, yakni sifat allah identik dengan
dzatnya. Karena itu mereka menyebut diri mereka sebagai ahlul-tauhid. Adapun sifat-sifat
tuhan yang banyak itu tidaklah merupakan sesuatu yang berlainan dengan dzat nya karena
sifat itu pada hakikatnya merupakan pandangan akal (itibarun aqliyyun) terhadap dzat
yang esa itu. Mereka menolak dengan keras penafsiran lain terhadap sifat karena dapat
menimbulkan apa yang disebut taaddudul-qudama (berbilang yang kadim) pada dzat allah
yang esa, sehingga dapat bertentangan dengan pengertian tauhid.

Pengertian kitab al maqashid menjelaskan pendirian mereka dengan mengatakan bahwa


sifat-sifat itu, yakni sifat-sifat maani ada dua kemungkinan: baharu atau kadim. Jika ia
baharu, maka lazimlah yang baharu melekat pada dzat allah yang kadim. Ini berarti bahwa
allah tidak memiliki sifat-sifat kesempurnaan sejak azali. Hal ini adalah mustahil. Dan jika
sifat-sifat itu kadim, maka lazimnya terdapat berbilang yang kadim, dan ini syirk, seperti
halnya umat nasrani yang mengatakan dua yang kadim (Bapak dan Anak), maka betapa lagi
yang kadim itu lebih dari dua.
Berbeda dengan itu adalah pendapat asyaryyah atau keyakinan yang umumnya dianut
dalam kalangan Ahlussunnah waljamaah. Mereka mengatakan, sifat allah bukan dzat-nya
dan juga bukan lain dzat-nya (al-shifat laisatidzat wala hiya ghairuha). Bahwa sifat itu
memang bukan dzat adalah suatu hal yang jelas, karena pengertian sifat berbeda dengan
dzat. Akan tetapi bahwa sifat itu juga bukan lain dzat (wala hiya ghairuha) tidaklah berarti
bahwa sifat adalah dzat, karena yang dimaksud dengan al-ghairyyah disini ialah boleh
berpisah (mufaraqah) sesuatu dengan lainnya dari suatu segi tertentu. Dengan demikian,
pengertian sifat bukan lain dzat adalah bahwa dalam keadaan apa pun juga sifat-sifat itu
tidak boleh berpisah dari dzat. Ini berarti, adanya perbedaan sifat dengan dzat, maka tidak
saja dzat allah yang kadim, tetapi juga sifat-sifatnya. Pernyataan seperti ini, menurut
asyaryyah, tidak menjadi syirk atau bertentangan dengan pengertian keesaan allah (tauhid),
seperti yang dikatakan mutazilah, karena sifat-sifat itu tidak berwujud sendiri di luar dzat,
akan tetapi selalu melekat (qaimah) pada dzat, tidak bercerai dengannya dalam keadaan
apa pun juga.

Imam al-Qhazali menetapkan empat ciri-ciri khas bagi sifat-sifat allah sebagai berikut:
1. Sifat-sifat maani itu bukan dzat, tetapi tambahan yang berdiri pada dzat.
2. Sifat-sifat itu adalah kadim seperti halnya zdat allah
3. Sifat-sifat tersebut tidak boleh berpisah dari dzat allah dalam keadaan apapun juga,
karena berpisah atau bercerai itu bukan watak sifat, tetapi watak jisim. Artinya sifat
tidak berwujud di luar jisim.
4. Nama-nama allah yang berasal dari sifat-sifat tersebut (tujuh sifat) telah berwujud pada
allah sejak azali. Sejak azali, allah itu berkuasa (al-qadim), hidup (alhayy), mendengar
(alsami) dan berbicara (al-mtakallim).

Adapun apa yang dikatakan oleh mutazilah bahwa sifat itu identik dengan dzat, pada
hakikatnya merupakan pernyataan bahwa yang ada hannya dzat allah semata, sedangkan
sifat-sifatnya atau al-asmaul-husna tidak ada. Pendirian ini sangat bertentangan dengan al-
Quran. Karena itulah, al-baqillani menuduh mutazilah sebagai golongan muaththilah, yakni
orang-orang yang menyangkal adanya sifat-sifat allah . Syahrastani menyebutkan, pada
mulanya masalah sifat belum merupakan yang matang dalam kalangan mutazilah. Wasil ibn
atha, pemuka mutazilah terkenal mengatakan, orang yang mengakui adanya sifat-sifat
allah, maka ia adalah musyrik . Kemampuan akal manusia dalam masalah ini adalah sangat
terbatas, dan karena itu manusia harus mempergunakan wahyu sebagai sumber ilmunya
dalam soal-soal ketuhanan. Hanya allah yang maha tahu akan dirinya, sedangkan manusia
hanya dapat mengetahuinya melalui wahyu yang diturunkan kepada Rosulnya.
ALLAH DALAM KONSEPSI IBN ARABI
Ibn Arabi (men. 1240 M) adalah seorang tokoh sufi besar dan pendiri madzhab wahdatul-
wujud (panteisme) dalam tasawuf islam, yakni suatu paham yang berdasarkan pada keesaan
allah dan alam. Karena itu konsepsinya tentang tuhan tidak dapat dipisahkan dari
konsepsinya tentang alam. Konsepsinya dalam masalah ketuhanan telah mendominir ajaran
dan filsafat tasawwuf di aceh, terutama tasawwuf Hamzah fansuri dan syamsuddin
sumatrani dan juga pengaruhnya yang sangat terkesan pada pemikiran syeikh Nuruddin ar-
Raniry.

Ibn Arabi mengatakan, wujud ini pada hakikatnya adalah satu, yakni wujud allah yang
mutlak. Wujud yang mutlak ini bertajalli (menampak diri) dalam tiga martabat, yaitu:
1. Martabat Ahadyyah. Dalam martabat ini, yang juga disebut martabat Dzatiyyah, wujud
allah merupakan dzat yang mutlak lagi mujarrad, tidak bernama dan tidak bersifat.
Karena itu, ia tidak difahami atau dihayalkan; merupakan Yang Esa (the one) dalam
filsafat new-platonisme. Oleh karena itu ibn arabi menolak pendapat sementara failasuf
dan juga imam al-Ghazali yang mengatakan bahwa tuhan dapat dikenal tanpa melalui
alam ini, memang dapat dikenal dzat yang kadim lagi azali, tetapi bukan sebagai tuhan
(ilah), sehingga diketahui (lebih dulu) makhluk (maluk).
2. Martabat wahidiyyah. Dalam martabat ini, yang juga disebut martabat Tajalli Dzat atau
Faidh Aqdas (limpahan yang terkudus), dengan tajalli ini, dzat tersebut dinamakan allah,
pengumpulan atau pengiat sifat-sifat allah dan nama-nama yang maha sempurna (al-
asmau l-husna). Akan tetapi sifat dan asmak tersebut pada suatu sisi tidak berlainan
(identik) dengan dzat allah (ain dzat), seperti yang dikatakan mutazilah, dan pada sisi
lain merupakan hakikat alam empiris ini (Ayan tsabitah). Proses ini juga disebut taayun
awwal (kenyataan pertama), dimana dzat yang mujarrad itu bertajalli untuk pertama
kalinya dalam citra (shuwar) asma dan sifat. Namun, itu belum memiliki wujud karen
awujud yang riel hanyalah tuhan semata. Inilah yang dimaksud dalam suatu hadits,
kana allah wa lam yakum maahu syaun ghairuhu,nyang artinya : allah telah ada dan
tidak ada suatu jua pun bersamanya. Sebab hal ini lebih merupakan prores yang terjadi
dalam diri dzat.
3. Martabat tajalli syuhudi. Dalam martabat ini, yang juga disebut Faidh muqaddas
(limpahan kudus) dan taayyun Tsani (kenyataan kedua), allah bertajalli melalui asma
dan sifatnya dalam kenyataan empiris. Dengan perkataan lain, melalui fiman: kun, maka
ayan tsabitah yang dulunya merupakan wujud potensial dalam dzat illahi, kini menjadi
kenyataan aktual dalam berbagai cira alam empiris . Tujuannya ialah agar tuhan dapat
dikenal lewat asma dan sifatnya bertajalli pada alam ini. Oleh karena itu allah
menjadikan insan sebagai cerminnya yang sudah diasah sehingga ia dapat memenuhi
kehendak allah yang bertajalli. Karena peranan inilah maka insan itu diangkat allah
sebagai khalifah nya di bumi ini, yang dirinya merupakan perwujudan kehendak allah
bertajalli dalam bentuk yang kongkri

ALLAH DALAM KONSEP SYEIKH NURUDDIN AR-RANIRY


1. Wujud Allah Sebagai seorang sufi yang menganut teori tajalli, syeikh Nuruddin sangat
terkesan dengan konsepsi ibn arabi tentang tuhan, alam dan manusia, terutama teori
tajalli tentang penciptaan alam ini. Konsepsinya tentang masalah tersebut merupakan
suatu kesatuan yang saling berkaitan, namun doktrin ahlussunnah tentang ketuhanan
pada khususnya masih tetap berperan dalam dirinya, sehingga ia tidak terbawa jauh ke
dalam ajaran panteisme dari versi ibn Arabi. Dalam pembahasan wujud allah, syeikh
Nuruddin berbeda halnya dengan para mutakallimin, baik mutazilah maupun
Ahlussunnah. Ia tidak mengemukakan dalil tentang adanya allah, seperti yang lazim
terjadi dalam kalangan mereka. Tampaknya, ia berpendirian bahwa adanya allah
merupakan suatu kenyataan iman yang harus diyakini sebagai suatu kebenaran yang
tidak perlu kepada bukti . Kata mutakallimin wujud itu dua perkara: pertama wujud
allah. Kedua wujud alam. Maka wujud allah itu wajibul-wujud lagi qaim sendirinya, dan
wujud alam itu mumkinul-wujud, yakni dijadikan haqq taala dari pada adam (tidak
ada) kepada wujud khariji (wujud empiris), lagi ia qaim dengan haqq taala maka jadilah
hakikat keduanya berlain-lain karena haqq taala itu kadim lagi menjadikan, dan alam itu
muhdats (baharu) lagi dijadikan . Adapun pendapat ahli sufi itu pun dengan dalil akal dan
naqal (wahyu) jua, lagi ditambah pula kasyf dan dzauq (pengalaman batin). Maka dititik
mereka itu dengan mata hatinya dab dirasanya denga perasaanya bahwa wujud itu esa
jua, yaitulah wujud allah yang tiada kelihatan dengan mata kepala dalam darul l-dunya
ini: dan yang kelihatan dengan mata kepala itu yaitu alam yang tiada wujud hakiki lagi
mutlak, dan wujud alam itu wujud majazi lagi muqayyad (relatif) zhill (bayangan) dan
milik bagi wujud allah. Demikianlah pendapat ahli sufi yang diperlukan oleh syeikh
Nuruddin dengan dalil wahyu dan khsyf tentang kebenaran paham monisme dalam
masalah wujud, dalam arti bahwa wujud allah adalah wujud yang esa lagi hakiki,
sedangkan alam ini merupakan wujud bayangan atau mazhhar (tempat kenyataan) bagi
allah. Tampaknya, syeikh Nuruddin berkeberatan untuk menerima pernyataan bahwa
alam mempunyai wujud yang terletak dibawah martabat wujd tuhan, seperti yang
dikatakan mutakallimi, karena pengertian wujud yang demikian itu dapat membawa
kepada kepercayan adanya dua jenis wujud yang akhirnya akan jatuh ke dalam syerk
.Tampaknya, syeikh Nuruddinn berpendapat bahwa pada hakikatnya tidak ada
perbedaan pendapat antara mutakallimin dengan para sufi tentang wujud ini, dan apa
yang di ajarkan oleh mutakallimin tentang dualisme dalam wujud hanya ditunjukan
untuk konsumsi oarang awam, sedangkan untuk orang khusus yang kedalamnya juga
termasuk para mutakallimin dan para sufi, maka akidah yang benar adalah monisme
atau paham keesaan wujud . Wujud allah, kata syeikh Nuruddin, adalah wujud yang
mutlak, bukan wujud muqayyad (terbatas), bebas dari segala ikatan sejak azali sampai
abadi. Wujud allah dzat-nya yang berdiri sendiri, yang esa, tidak terdiri dari unsur-unsur,
baik dalam kenyataan maupun dalam pikiran. Dzat allah tidak terbilang, tidak terbatas,
tidak semua dan tidak sebagian, tidak berhimpun dan bersuku, tidak khas dan am, tidak
jauhar (substansi), tidak aradh (accident) dan tidak jisim. Ia maha sempurna dari segala
kekurangan, tidak berubah, tidak berkurang dan lebih, baik sebelum alam ini di jadikan
maupun sesudahnya, azali lagi abadi .2.
2. Sifat dan dzat allah Seperti yang terdapat ayat-ayat al-Quran menyatakan bahwa allah
memiliki nama-nama yang maha indah (al-asmaul-husna) akan tetapi al Quran tidak
menjelaskan sifat hubungan antara nama-nama atau sifat-sifat allah itu dengan zdat nya,
sehingga telah mengundang yimbulnya perbedaan pendapat dalam kalangan umat
islam. Golongan mutazilah mengatakan, sifat adalah identik dengan dzat, sedangkan
golongan asyaryyah mengatakan, keduanya berbeda; artinya sifat itu buka dzat dan ia
tidak dapat dipisahkan dari dzat dalam keadaan apapun juga. Syeikh Nuruddin berupaya
mencari kompromi melalui penafsiran yang diperlukan untuk memperoleh titik temu
dari dua pendapat yang saling bertentangan, sifat itu dapat dilihat dari dua segi: segi
wujud dan segi pengertian. Dari segi wujud, sifat itu tidak berbeda dengan dzat (ain
dzat), karena wujud hakiki hanyalah dzat allah semata, sehingga sifat itu tidak dapat
berlainan dengan dzat. Hanya dari segi makna atau pengertian, sifat itu memang
berbeda dengan dzat karena pengertian sifat dengan pengertia dzat dan juga pengertian
satu sifat dengan lainya adalah tidak sama . Adapun sifat-sifat allah itu dapat dibagi
kepada sifat dzat dan sifat maani. Sifat dzat terdiri dari enam sifat, yaitu: Qidam
(dahulu), baqa (kekal), mukhalafatuhu lil-hawadits (berbeda dengan makhluknya),
Qiyamuhu bi nafsihi (berdiri sendiri), dan wahdanyyah (keesaan). Sedangkan sifat-sifat
maani itu terdiri dari tujuh sifat, yaitu: al-hayah (hidup), al-almu (ilmu), al0qudrah
(kuasa), al-iradah (kehendak), al-samau (mendengar), al-basharu (melihat), dan al-
kalamu (berbicara). Dari safat-sifat maani lahirlah sifat manawiyyah, yaitu: al-hayyu
(yang hidup), al-alimu (yang mengetahui), al-Qadiru (yang berkuasa), al-muridau (yang
berkehendak), al-samiu (yang mendengar), al-bashiru (yang melihat), dan al-
mutakallimu (yang berbicara). Selanjutnya dari sifat-sifat manawiyyah ini lahirlah sifat-
sifat fiil yang langsung berhubungan dengan alam makhluk ini, yaitu: al-khaliq
(pencipta), al-raziq (pemberi rizki), al-hadi (pemberi petunjuk), al-muhyi (yang
menghidupkan) al-mumit (yang mematikan) dan lain-lain sebagainya.

Eksistensi Tuhan adalah salah satu masalah paling fundamental manusia, karena
penerimaan maupun penolakan terhadapnya memberikan konsekuensi yang fundamental
pula. Alam luas yang diasumsikan sebagai produk sebuah Kekuatan Yang Maha Sempurna
dan Maha Bijaksana dengan tujuan yang sempurna berbeda dengan alam yang diasumsikan
sebagai akibat dari kebetulan atau insiden. Manusia yang memandang alam sebagai hasil
penciptaan Tuhan Yang Maha Bijaksana adalah manusia yang optimis dan bertujuan.
Sedangkan manusia yang memandang alam sebagai akibat dari serangkaian peristiwa acak
(chaos) adalah manusia yang pesimis, nihilis, absurd, dan risau akan kemungkinan-
kemungkinan yang tak dapat diprediksi.
Umat manusia sejak awal kehadirannya di atas pentas sejarah telah memberikan nama yang
berbeda-beda, sesuai dengan bahasa yang digunakan masing-masing, kepada kausa prima
alam keberadaan. Orang Persia menyebutnya Yazdan atau Khoda. Orang Inggris
menyebutnya Lord atau God. Kita menyebutnya Tuhan atau Sang Hyang. Dialah Tuhan Yang
Maha Sempurna. Kepercayaan pada yang adikodrati, merupakan bagian integral dari
kehidupan manusia, baik terbentuk dalam sebuah lembaga transendental yang disebut
agama maupun tidak diagamakan. Kendati demikian, konsep dan keyakinan tentang
Tuhan telah berkembang dan terpecah dalam beberapa aliran ketuhanan.

Tuhan sejak babak pertama peradaban sampai sekarang telah menjadi objek pengimanan
dan penolakan. Manusia, sebelum dibagi dalam kelompok agama, bahkan sebelum dibagi
dalam kelompok monoteis dan politeis, telah terbagi dalam dua aliran besar, ateisme dan
teisme. Istilah ini berasal dari kata Yunani atheos (tanpa Tuhan), dari a (tidak) dan Theos
(Tuhan). Ia adalah aliran yang menolak adanya Tuhan Pencipta alam semesta. Dalam bahasa
Arab disebut al-Ilhad.

Kata yang memberikan signifikansi Wujud Pencipta dalam al-Quran sangat banyak.
Semuanya dapat dibagi dalam beberapa dimensi dan konteks.
1. kata yang menunjuk Tuhan dipergunakan sebagai nama umum atau atribut universal.
2. kata yang menunjuk Tuhan digunakan dalam dua bentuk sekaligus, universal dan
personal.
3. kata yang menunjuk Tuhan digunakan sebagai nama umum semata.
4. kata yang mengandung arti kesempurnaan dan kebaikan (Asmaul Husna). Kata Tuhan,
misalnya, yang bila digunakan sebagai nama umum, maka huruf t di depannya
dikecilkan (tuhan), dan bila digunakan untuk menunjuk nama khusus, maka huruf t di
depannya dibesarkan (Tuhan). Demikian pula God dalam bahasa Inggris atau Khoda
dalam bahasa Parsi. Karena itu, bila ada yang mengartikan la ilaha illallah dengan tiada
tuhan selain Tuhan bisa ditolerir.
5. kata yang menunjuk Tuhan digunakan sebagai nama personal (alam syakhshi) semata.
Dalam bahasa Arab, kata Allah sebagai lafzhul jalalah (nama kebesaran) dipergunakan
dan ditetapkan sebagai nama personal (alam syakhshi). Sedangkan ar-Rahman
ditetapkan sebagai predikat khusus. Selain dari kata Allah (yang merupakan nama
khusus) dan kata ar-Rahman (yang merupakan sifat khusus), tidak bersifat khusus.1
Itulah sebabnya, mengapa kata rabb, ilah, khalik digunakan untuk selain Allah,
bahkan rauf dan rahim digunakan untuk Nabi saw, Sesungguhnya telah datang
kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu.
Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Amat belas kasihan, lagi
penyayang terhadap orang-orang Mukmin. (QS. at-Taubah [9]: 128).

Atas dasar itu, kata Allah, baik berupa kata baku (jamid) atau pun kata olahan (musytaq),
ditetapkan sebagai sebuah nama personal, dan ia tidak mempunyai arti selain Zat Yang
Adikodrati Swt. Namun, tatkala Zat Kudus tersebut tidak dapat diinderakan, maka untuk
mengenali arti Allah, mereka menggunakan sebuah simbol yang berkonotasi secara
eksklusif pada Allah seperti Zat Yang Menghimpun sifat-sifat kesempurnaan, bukan berarti
kata Allah ditetapkan untuk mengartikan rangkaian pengertian-pengertian ini.
Dengan demikian, jelaslah bahwa pembahasan seputar materi dan bentuk kata ini tidak
akan dapat membantu kita untuk memahami artinya sebagai sebuah nama personal (alam
syakhshi).
Kata personal Allah karena oleh sebagian besar mufasir dianggap sebagai ism marifah
dengan alif dan lam (kata tertentu), menurut kaidah kesusasteraan, kurang tepat dikaitkan
dengan sebutan panggilan ya. Karena itulah, bisa dipastikan kalimat Ya Allah (Wahai
Allah) tidak terdapat dalam al-Quran.2 Kata Ya diganti dengan huruf mim yang di-syaddah-
kan dan di-fathah-kan pada bagian akhir kata Allah, maka jadilah Allahumma. Kata
panggilan khas ini ditemukan satu kali dalam surah Ali Imran ayat 26, satu kali dalam surah
al-Maidah ayat 114, satu kali dalam surah al-Anfal ayat 32, satu kali dalam surah Yunus ayat
10, dan satu kali dalam surah az-Zumar ayat 46.3

Namun kata Allah menurut sebagian ulama bukanlah bentuk marifah dari kata ilah. Kata
ini dianggap berasal dari bahasa Ibrani yang diadaptasi ke dalam bahasa Arab. Kata ini
menurut mereka juga yang berarti Zat Tuhan Yang Mahaesa. Oleh karena itu, dalam Agama
Ortodoks Suriah, bahkan sekte-sekte Kristen lainnya, diyakini sebagai kata atau nama
personal Tuhan Bapa.4

Dalam kitab suci al-Quran, kata yang juga memberikan signifikansi pada Allah adalah ilah
dan rabb. Kata ilah juga digunakan dalam syahadat, la ilaha illallah. Kata ilah adalah
bentuk kata yang mengikuti wazan fial yang berarti maful. Ilah berarti mabud (yang
disembah), seperti kitab yang berarti maktub (yang ditulis). Dengan demikian, la ilaha
illallah dapat diartikan tiada yang layak disembah selain Allah.5

Kata Tuhan dalam bahasa Indonesia, misalnya, hampir memiliki arti yang berdekatan
dengan tuan yang berarti majikan atau pemilik, seperti tuan rumah yang berarti
pemilik rumah,6 atau kata Hyang yang memiliki arti berdekatan dengan eyang yang
berarti kakek atau nenek. Hanya saja, yang perlu diperjelas, apakah Tuhan menunjuk
Sang Pencipta (Khalik) ataukah menunjuk Yang disembah (al-ilah, al-mabud). Kata
tuhan dalam bahasa Indonesia memiliki arti yang lebih dekat dengan ar-rab dalam
bahasa Arab yang berarti Maha Pengatur. Seandainya Tuhan atau Ilah berarti
Pencipta (Khalik), maka syahadat la ilaha illallah berarti tiada pencipta selain Allah.
Tentu syahadat dengan arti seperti ini tidak mengecualikan seluruh kaum Quraisy
penyembah berhala dan kaum musyrik lainnya, yang sejak semula meyakini Allah sebagai
Pencipta. (QS. Lukman: 25) Dalam al-Quran, kata Allah disebutkan sebanyak 930 kali7
sedangkan kata ilah (tanpa dhamir) disebutkan sebanyak 80 kali.8

Arti ilah dalam rangkaian syahadat (kalimah at-tahlil) bisa berarti al-mabud atau yang
disembah, dan bisa pula berarti al-mabud bil haq.9 Apabila arti pertama dipilih, maka setiap
sesuatu yang dalam kenyataan disembah selain Allah dapat dianggap sebagai ilah. Apabila
arti kedua yang dipilih, maka berarti ilah hanya bisa disandang oleh Allah, sebab al-
mabudiyah (ke-tersembah-an) merupakan derivasi dari ar-rububiyah.

Kata rabb dalam al-Quran disebutkan sebanyak 84 kali. Satu dalam surah al-Fatihah, satu
dalam surah al-Baqarah, satu dalam surah al-Maidah, empat dalam surah al-Anam, enam
dalam surah al-Araf, satu dalam surah at-Taubah, dua dalam surah Yunus, satu dalam surah
ar-Rad, satu dalam surah al-Isra, satu dalam surah al-Kahfi, satu dalam surah Maryam, satu
dalam surah Thaha, dua dalam surah al-Anbiya, tiga dalam surah al-Mukminun, lima belas
dalam surah asy-Syuara, empat dalam surah an-Naml, satu dalam surah al-Qashash, satu
dalam surah as-Sajdah, satu dalam surah Saba, satu dalam surah Yasin, enam dalam surah
ash-Shaffat, satu dalam surah Shad, satu dalam surah az-Zumar, tiga dalam surah Ghafir,
satu dalam surah Fushshilat, tiga dalam surah az-Zukhruf, dua dalam surah ad-Dukhan, tiga
dalam surah al-Jatsyiyah, satu dalam surah adz-Dzariyat, satu dalam surah an-Najm, dua
dalam surah ar-Rahman, satu dalam surah al-Waqiah, satu dalam surah al-Hasyr, satu
dalam surah al-Haqqah, satu dalam surah al-Maarij, satu dalam surah al-Muzzammil, satu
dalam surah an-Naba, satu dalam surah at-Takwir, satu dalam surah al-Muthaffifin, satu
dalam surah al-Quraisy, satu dalam surah al-Falaq, dan satu dalam surah an-Nas.10

Selain berupa kata personal Allah, ilah, dan rabb, Tuhan juga merupakan entitas
penghimpun semua nama-nama terbaik (Asmaul Husna). Kata Asmaul Husna disebutkan
empat kali dalam al-Quran, satu dalam surah al-Araf ayat 180, satu dalam surah al-Isra ayat
110, satu dalam surah Thaha ayat 8, dan satu dalam surah al-Hasyr ayat 24.11
Dengan demikian, nama dan sifat yang memberikan signifikansi kebaikan dan
kesempurnaan maksimum adalah milik Allah. Karenanya, nama dan sifat manusia berasal
dari Allah sebagai Pemilik Absolut nama-nama terbaik. Dalam sebuah hadis, Nabi saw
memerintahkan kita untuk berakhlak dengan akhlak Allah. Dalam al-Quran terdapat
sejumlah ayat yang menekankan tentang posesi atau kepemilikan Tuhan atas semua nama
terbaik.
(QS. al-Hadid [57]: 4; QS. al-Araf [7]: 180; QS. Thaha [20]: 8; QS. al-Isra [17]: 110; dan QS. al-
Hasyr [59]: 24)

,
.

Menurut sebagian mufasir mutakhir, tidak ada dalil qathi (definitif) tentang ketentuan
jumlah Asmaul Husna, meskipun yang populer dalam riwayat disebutkan berjumlah 99.12
Setiap nama (ism) dalam alam keberadaan adalah sebaik-baik nama (Ahsanul Asma).
Semuanya adalah milik Allah Swt. Karena itulah, jumlah nama Allah tidaklah terbatas. 13
Dengan nama-nama terbaik yang banyak dan mencakup spektrum dimensi dan nilai
kesempurnaan maksimal itulah, hamba-hamba-Nya berpeluang untuk berkomunikasi
dengan Allah. Seorang yang papa dan dirundung kemiskinan dapat memanggil-Nya dengan
nama al-Karim, ar-Raziq, dan ar-Razzaq. Seseorang yang bergelimang dosa dapat memohon
ampunan-Nya dengan memanggil-Nya al-Ghaffar. Seseorang yang ingin mendapatkan
petunjuk dapat menyeru-Nya dengan nama al-Hadi dan sebagainya.
Yang patut diketahui ialah bahwa kata asma juga dapat diartikan sebagai sifat-sifat, karena
ism dalam Ilmu Sharf mencakup ismul fail dan ash-shifat al-musyabbahah. Menurut
Allamah Thabathabai, Asmaul Husna adalah setiap kata yang menunjukkan arti predikatif
seperti ilah, al-hayy, dan lainnya. Sedangkan kata Allah, adalah alam syakhshi (nama
personal) atau alam adz-dzat, yang merupakan nama personal bagi Tuhan.14
Kata ism yang dikaitkan (diidhafahkan) dengan Allah dan Rabb, berjumlah 18 kali, yaitu
empat dalam surah al-Anam, satu dalam surah al-Maidah, lima dalam surah al-Hajj, satu
dalam surah ar-Rahman, dua dalam surah al-Waqiah, satu dalam surah al-Haqqah, satu
dalam surah al-Muzzammil, satu dalam surah al-Insan, satu dalam surah Hud, dan satu
dalam surah al-Naml. Jika Bismillhirrahmnirrahm dianggap sebagai pembuka dan bagian
dari setiap surah, kecuali surah al-Baraah, maka jumlah keseluruhan ism yang kaitkan pada
Allah dan Rabb berjumlah 131.15
Ismul Azham (nama kebesaran), menurut opini masyarakat Arab, adalah ismul lafzhi yang
merupakan salah satu dari asma Allah, yang bila diseru dalam doa, maka dikabulkan.
Namun, anehnya, ia tidak tergolong dalam Asmaul Husna yang populer, dan tidak pula
dianggap sebagai bagian dari lafzhul jalalah. Menurut mereka, Ismul Azham terdiri atas
huruf-huruf tak dikenal (huruf majhulah) dengan komposisi yang tak dikenal pula. Dalam
sebuah riwayat disebutkan bahwa kata Allah dalam basmalah itulah yang dimaksud dengan
Ismul Azham.16
Asma Allah atau Asmaul Husna kadangkala dikaitkan dengan sifat-sifat Allah (shifatullah).
Menurut Sayid Quthub, firman Allah itu mengandung makna bahwa manusia dibenarkan
memanggil atau menyeru dan menamakan Tuhan mereka sekehendak mereka sesuai
dengan nama-nama-Nya yang paling baik (Asmaul Husna). Firman itu juga merupakan
sanggahan terhadap kaum Jahiliyah yang mengingkari nama ar-Rahman, selain nama
Allah.17
Berkenaan dengan alasan turunnya firman itu, tafsir-tafsir klasik menuturkan adanya hadis
dari Ibnu Abbas, bahwa di suatu malam Nabi saw beribadah, dan dalam bersujud beliau
mengucapkan, Ya Allah, Ya Rahman. Ketika Abu Jahal, tokoh musyrik Mekah yang sangat
memusuhi kaum beriman, mendengar tentang ucapan Nabi saw dalam sujudnya itu, ia
berkata, Dia (Muhammad) melarang kita menyembah dua tuhan, dan sekarang ia sendiri
menyembah Tuhan yang lain lagi. Ada juga penuturan bahwa ayat itu turun kepada Nabi
saw karena kaum Ahlulkitab pernah mengatakan kepada beliau, Engkau (Muhammad)
jarang menyebut nama ar-Rahman, padahal Allah banyak menggunakan nama itu dalam
Taurat.18
Maka turunnya ayat itu tidak lain ialah untuk menegaskan bahwa kedua nama itu sama saja,
dan keduanya menunjuk kepada Hakikat, Zat atau Wujud yang satu dan sama. Zamakhsyari,
Baidhawi dan Nasafi menegaskan bahwa kata ganti nama Dia dalam kalimat maka bagi
Dia adalah nama-nama yang terbaik dalam ayat itu mengacu tidak kepada nama Allah
atau ar-Rahman, melainkan kepada sesuatu yang dinamai, yaitu Zat (Esensi) Wujud Yang
Mahamutlak itu sendiri. Sebab, suatu nama tidaklah diberikan kepada nama yang lain, tetapi
kepada suatu zat atau esensi. Jadi, Zat Yang Mahaesa itulah yang bernama Allah dan atau
ar-Rahman serta nama-nama terbaik lainnya, bukannya Allah bernama ar-Rahman
atau ar-Rahim.
Jadi yang bersifat Mahaesa itu bukanlah nama-Nya, melainkan Zat atau Esensi-Nya, sebab
Dia mempunyai banyak nama. Karena itu, Baidhawi menegaskan bahwa paham Tauhid
bukanlah ditujukan kepada nama, melainkan kepada esensi. Maka Tauhid yang benar ialah
Tawhid adz-Dzat bukan Tawhid al-Ism (Tauhid Esensi, bukan Tauhid Nama).19
Pandangan ketuhanan yang sangat mendasar ini diterangkan dengan jelas sekali oleh Imam
Jafar Shadiq as, guru dari para imam dan tokoh keagamaan besar dalam Sejarah Islam, baik
untuk kalangan Ahlusunah maupun Syiah. Dalam sebuah penuturan, ia menjelaskan nama
Allah dan bagaimana menyembah-Nya secara benar sebagai jawaban atas pertanyaan
Hisyam, Allah (kadang-kadang dieja, Al-lah) berasal ilah dan ilah mengandung
makna maluh, (yang disembah), dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai (al-
musamma). Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna, ia sungguh telah kafir dan
tidak menyembah apa-apa. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus), maka ia
sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. Dan barangsiapa menyembah makna tanpa
nama maka itulah Tauhid. Engkau mengerti, wahai Hisyam? Hisyam mengatakan lagi,
Tambahilah aku ilmu. Imam Jafar Shadiq as menyambung, Bagi Allah Yang Mahamulia
dan Mahaagung, ada sembilan puluh sembilan nama. Kalau seandainya nama itu sama
dengan yang dinamai, maka setiap nama itu adalah suatu tuhan. Tetapi Allah Yang
Mahamulia dan Mahaagung adalah suatu Makna (Esensi) yang dirujuk oleh nama-nama itu,
sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah sama dengan Dia20

Kalau kita harus menyembah Makna atau Esensi, dan bukan menyembah Nama seperti yang
diperingatkan dengan keras sebagai suatu bentuk kemusyrikan oleh Imam Jafar Shadiq as
itu, berarti kita harus menunjukkan penyembahan kita kepada Dia yang menurut al-Quran
memang tidak tergambarkan, dan tidak sebanding dengan apa pun. Berkenaan dengan ini,
Imam Ali bin Abi Thalib ra mewariskan penjelasan yang amat berharga kepada kita, dia
mengatakan, Allah artinya Yang Disembah (al-Mabud), yang mengenai Dia itu makhluk
merasa tercekam (yalahu) dan dicekam (yulahu) oleh-Nya. Allah adalah Wujud dan
tertutup dari kemampuan penglihatan, dan yang terdinding dari dugaan dan benih pikiran. 21
Dan Imam Muhammad Baqir ra menjelaskan, Allah maknanya Yang Disembah yang agar
makhluk (aliha, tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya (Mahiyah) dan
memahami Kualitas-Nya (Kaifiyah). Orang Arab mengatakan, Seseorang tercekam (aliha)
jika ia merasa bingung (tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya, dan orang itu
terpukau (walaha) jika ia merasa takut (fazia) kepada sesuatu yang ia takuti atau
khawatirkan.[icc-jakarta.com]

1. i. Konsep-konsep Ketuhanan yang menyimpang menurut Mc Muller.


1. Dinamisme
Dinamisme mempercayai benda-benda tertentu mempunyai kekuatan gaib dan
berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari.
1. Animisme
Animisme percaya bahwa tiap benda mempunyai roh. Roh dianggap mempunyai
rupa, dan butuh makanan. Roh-roh tersebut ditakuti dan dihormati bangsa primitif,
maka perlu dibuat senang, dengan memberikan sesajen, sesuai petunjuk dukun. Roh
tidak boleh dibuat marah, sebab kalau marah akan menimbulkan malapetaka.
2. Politeisme
Paham politeisme mempercayai dewa-dewa. Tiap dewa mempunyai tugas tertentu. Tujuan
hidup manusia memberi persembahan dan sesajen, juga berdoa untuk menjauhkan dari
amarah dewa.
1. Henoteisme
Henoteisme mengaku satu Tuhan untuk satu bangsa. Bangsa lain mempunyai Tuhan sendiri.
Tuhan mereka disebut Tuhan nasional. Paham ini seperti agama Yahudi yang mengakui
Yahweh sebagai Tuhan nasional mereka.
j. Allah swt Pencipta alam semesta
Allah adalah Khaliq (Pencipta segala sesuatu). Ciptaannya biasa disebut makhluq (ciptaan).
Khaliq dan Makhluq adalah sebuah kata dalam bahasa Arab yang diambil dari kata kerja
khalaqa yan artinya membuat atau mencipta. Kata Khaliq termasuk kata subjek (isim fail)
yang mengandung arti : yang membuat atau yang mencipta. Sedang makhluq termasuk kata
benda penderita (ism maful) yang bermakna: yang dibuat atau dicipta.
Semua benda hidup ataiu mati yang ada di sekeliling kita termasuk manusia disebut
makhluk. Langit dan bumi beserta isinya yang ditangkap oleh pancaindera (alam nyata) dan
juga alam yangtidak ditangkap oleh pancaindera seperti barzakh, surga, neraka, arsy, dan
alam ghaib lainnya itu pun termasuk makhluq. Artinya selain Khaliq adalah makhluq. Selain
Allah swt adalah makhluq.
Allah adalah pencipta alam secara semesta dan seisinya. Maka, inilah arti sesungguhnya dari
ketergantungan manusia sebagai makhluq-Nya. Sesuatu yang tergantung tidak dapat
dibayangkan tanpa adanya tempat ia bergantung. Allah adalah dimensi yang memungkinkan
adanya dimensi-dimensi lain. Dia memberikan arti dan kehidupan kepada setiap sesuatu.
Dia serba meliputi secara harfiah. Dia adalah tak terhingga dan hanya Dia sajalah yang tak
terhingga. Di dalam kehidupan, setiap sesuatu yang selain dari Dia terlihat tanda
keterhinggaannya dan tanda bahwa ia adalah ciptaan Allah. Segala sesuatu selain-nya akan
musnah.
Dari sinilah kemudian muncul term syirik yang berarti ganda atau menyekutukan, artinya
perbuatan yang menganggap bahwa ada zat yang Maha Agung selain Allah, tidak sebatas itu
kemudian tenggelam dalam menuhankannya. Syirik merupakan perbuatan dosa terbesar
yang tidak akan diampuni oleh Allah.
Demikian indahnya konsep ketuhanan dalam Islam yang tiada tandingannya, ia sempurna
sehingga kesempurnaannya dapat dipahami oleh siapa saja, baik yang sekolah maupun yang
tidak sekolah, orang pelosok dan kota.

1. B. Konsep Alam.
1. Menurut faham liberalis, individualis atau kapitalis, alam dapat dimiliki dan
dikuasai secara bebas oleh individu tanpa terbatas. Alam dapat dijadikan
kapital atau modal.
2. Menurut faham komunis, alam adalah milik Negara (komune), untuk
digunakan bersama oleh seluruh rakyat negara.
3. Menurut Undang-undang Dasar 1945 pasal 33:
(1) Perekonomian sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan. (2) Cabang produksi
penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai Negara. (3) Bumi, air, serta
kekayaan alam dikuasai Negara untuk kesejahteraan rakyat.
1. Menurut Al Quran
Alam diciptakan secara sungguh-sungguh, tidak main-main (Ad-Dukhan 38:39). Alam
diciptakan untuk kesejahteraan manusia (Al-Baqarah 2:29). Pemilik alam adalah Allah,
manusia hanya memanfaatkan (Ali Imran 3:109). Manusia mengolah alam sesuai aturan
Allah, bukan menurut keinginan manusia. Eksplorasi alam dilakukan dengan cara halalan
thayyiban (halal dan baik) bukan dengan riba (berlebihan). Kepemilikan manusia terhadap
alam milik relatif pada usahanya, bukan mengambil hak Pemilik (Allah), karena pemilik
hakiki adalah Allah. Pendistribusian alam harus adil berdasarkan prestasi kerja, maka harus
berlomba untuk berprestasi (fastabiqul khairat).