Anda di halaman 1dari 5

POLITIK BERMARTABAT MENUJU KESEJAHTERAAN BERSAMA : MENUJU

IDEOLOGI PANCASILA

Politik adalah sebagai suatu cara untuk mencapai suatu tujuan dan hasil dari politik
adalah mencapai suatu tata nilai kehidupan sosial masyarakat agar bisa menikmati kehidupan
dalam memenuhi haknya, dimana masyarakat akan hidup bahagia karena memiliki peluang
untuk mengembangkan bakat, bergaul dengan rasa kemasyarakatan yang akrab dalam realitas
berdemokrasi, dan hidup dalam suasana moralitas yang tinggi.Dan suatu tujuan politik dalam
bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan
berkeadilan, dimana persepsi mengenai baik dan adil akan dipengaruhi oleh nilai-nilai serta
ideologi dan zaman yang bersangkutan, sedangkan politik dalam bentuk yang paling buruk
adalah perebutan kekuasaan, kedudukan/takhta, dan kekayaan/harta untuk kepentingan diri
sendiri.

Berkaitan dengan sebuah ideologi dan zaman yang bersangkutan tentunya setiap
sumber kebijakan publik tidak lepas dari hasil karya politik ,dan karya politik yang dirasakan
oleh masyarakat Indonesia hari ini tentunya berawal dari budaya politik yang dianut oleh
masyarakat pada masa lampau dan budaya politik pada masa lampau itu budaya politik
didalamnya ada pengertian Pola sikap, keyakinan, dan perasaan tertentu yang mendasari,
mengarahkan, dan memberi arti kepada tingkah laku dan proses politik dalam suatu sistem
politik, mencakup cita-cita politik ataupun norma yang sedang berlaku dalam masyarakat
politik dalam dilematis pesta demokrasi adalah proyek berdemokrasi .

Setiap bangsa, terlebih yang sedang mengalami perobahan tatanan kekuasaan yang
mendasar, memerlukan sebuah cita-cita besar baik untuk memertahankan eksistensi dan
survivalitasnya maupun untuk mengembangkan diri mencapai cita-cita yang diimpikan
bangsa yang bersangkutan. Gagasan luhur tersebut menjadi absolut karena bangsa yang
bersangkutan harus menemukan nilai-nilai yang dapat memotivasi, memberi inspirasi serta
mempersatukan mereka mewujudkan cita-cita bersama. Upaya tersebut menjadi lebih sulit
kalau bangsa tersebut mempunyai tingkat keragaman primordialistik yang tinggi.
Heterogonitas yang didasarkan atas sentimen primitif sangat rawan terhadap konflik karena
pertarungan menjadi sangat tidak rasional. Glorifikasi dan keungguluan kelompok satu
dengan lainnya tidak mempunyai ukuran yang masuk akal, dan oleh sebab itu sulit
dikompromikan. Dalam sejarah umat manusia perbedaan primordial yang dijadikan sarana
berburu kekuasaan menjadi awal dan penyebab perang saudara yang berdarah-darah dan
saling mematikan.

Indonesia yang terdiri dari berbagai bangsa sangat beruntung karena mempunyai
modal sosial dan modal kesejarahan yang panjang. Berdasarkan modal tersebut, melalui
negosiasi yang keras dan melelahkan, namun disertai dengan semangat dan jiwa yang luhur,
para pendiri bangsa berhasil merumuskan pemikiran-pemikiran besar yang sarat dengan nilai-
nilai mulia bangsa sebagai dasar, ideologi dan falsafah bangsa. Titik kulminasi dari semangat
para pendiri negara untuk membangun bangsa dan negara, akhirnya mereka menemukan
jawaban terhadap permasalahan ideologsi tersebut: Pancasila. Sebagai ideologi bangsa,
Pancasila adalah kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya. Ia merupakan kristalisasi
nilai-nilai luhur yang digali dari akar budaya bangsa. Keutamaan yang mencakup seluruh
kebutuhan hak-hak dasar dan asasi manusia secara universal sehingga dapat dijadikan
landasan dan fasafah hidup bangsa Indonesia yang heterogen.

Pancasila secara moral dan imperatif menjadi tuntutan tabiat dan perilaku seluruh
warga negara dalam mewujudkan cita-cita bersama. Kesepakatan seluruh bangsa tersebut
menjadi sangat monumental karena kelompok-keolompok yang mempunyai perbedaan
ideologi yang bersandarkan sentimen primordial sepakat lebih mengutamakan kepentingan
umum, dan mengkesampingkan kepentingan sempit mereka. Oleh karena itu bangsa
Indonesia sudah seharusnya mengembangkan dan melaksanakan nilai-nilai tersebut sebagai
dasar kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mewujudkan cita-cita-cita bersama.

Dalam tataran ide atau gagasan, Pancasila sebagai ideologi yang mempersatukan
seluruh elemen bangsa dalam mewujudkan cita-cita sudah final. Namun sayangnya dalam
sejarah perjalanan bangsa, sejak kemerdekaan hingga kini, pelaksanaan Pancasila mengalami
berbagai hambatan. Terutama disebabkan oleh dinamika politik yang menyalahgunakan
Pancasila untuk menyusun kekuasaan. Ideologi bangsa dan negara yang sarat dengan nilai-
nilai luhur sekedar dijadikan sarana memburu kekuasaan dengan mengingkari niai-nilai
Pancasila itu sendiri. Sumber dari segala sumber persoalan terjadinya perilaku politik yang
berseberangan dengan Pancasila adalah rentannya para pemegang kekuasan terhadap godaan
kekuasaan. Melalui sejarah perjalanan bangsa dapat dengan mudah ditelusuri mulai dari rejim
Orde Lama, Orde Baru serta Orde Reformasi, pada awalnya rezim-rezim selalu beretorika
bertekad melaksanakan Pancasila. Namun dalam perjalannya rezim-rezim tersebut tumbang
atau gonta-gonti karena memanipulasi Pancasila untuk kepentingan kekuasaan.

Praktek penyelengaraan pemerintahan dewasa ini masih belum efektif disebabkan


oleh karena menggabungkan sistem presidensial dengan multipartai tak-terbatas.
Penggabungan dua variabel tersebut adalah kombinasi yang tidak kompatibel. Beberapa
kelemahan pokok yang mengakibatkan kedua sistem tersebut tidak kompatibel adalah sebagai
berikut : Pertama, Sistem presidensial dan sistem multi partai mengakibatkan hubungan
antara kedua lembaga tersebut diancam oleh kemacetan. Hal ini berbeda dengan sistem
parlementer dimana partai mayoritas atau gabungan partai-partai yang berhasil membangun
koalisi membentuk pemerintahan, sehingga selalu ada jaminan dukungan pemerintah oleh
parlemen. Sementara itu sistem presidensial dalam multipartai, presiden tidak selalu
mendapatkan jaminan mayoritas di parlemen sehingga dipaksa harus selalu melakukan
koalisi atau deal-deal politik dalam menangani setiap isyu politik. Kedua, kombinasi sistem
presidensial dan multi partai akan menimbulkan persoalan yang kompleks dalam hal
membangun koalisi di antara partai-partai politik.

Koalisi partai dalam sistem presidensial dan sistem parlementar mempunyai tiga perbedaan
sebagai berikut. Pertama, dalam sistem parlementer partai-partai menentukan atau memilih
anggota kabinet dan perdana menteri, dan mereka (partai-partai) tetap bertanggung-jawab
atas dukunganya terhadap pemerintah. Sementara itu dalam sistem presidensial, presiden
memilih sendiri anggota kabinetnya, akibatnya partai-partai kurang mempunyai komitmen
dukungan terhadap presiden. Kedua, berlawanan dengan sistem parlementer, dalam sistem
presidensial tidak ada jaminan partai akan mendukung kebijakan presiden meskipun presiden
mengakomodasi secara indivividual beberapa tokoh partai politik dijadikan anggota kabinet.
Ketiga, dalam koalisi semacam itu dorongan partai politik untuk melepaskan diri atau keluar
dari koalisi lebih mudah dibandingkan dalam sistem parlementer. Berdasarkan kerangka
pemikiran tersebut sistem presidensial paling cocok dengan sistem multipartai yang terbatas.

Sebab, memaksakan sistem presidensial dengan sistem multi partai tak-terbatas, ancaman
terjadinya titik buntu dalam penyelenggaraan pemerintahan atau instabilitas politik sangat
mungkin terjadi. Biasanya jalan tengah yang dapat dilakukan adalah membatasi jumlah partai
serta melakukan rekayasa konstitusional agar dapat menghindari ancaman-ancaman
sebagaimana disebutkan di atas.
Oleh sebab itu proses transformasi politik harus terus disempurnakan. Agenda yang sangat
penting melakukan penyempurnaan terhadap berbagai regulasi politik tentang sistem
pemerintahan, sistem pemilihan umum dan sistem kepartaian. Beberapa prinsip mendasar dan
paradigma yang harus dijadikan acuan dalam menyusun penyempurnaan regulasi politik
adalah sebagai berikut. Pertama, proses demokratisasi yang sedang berlangsung dewasa perlu
ditingkatkan dan dilembagakan. Kedua, sementara itu pada saat yang sama diperlukan
pemerintahan yang efektif agar rakyat dapat menikmati secara konkrit hasil dari proses
demokrasi dalam wujud kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. Hal itu harus menjadi
pilihan mengingat demokrasi dalam dirinya selalu mengandung kontradiksi antara
governability (pemerintahan yang efektif) di satu pihak, representativeness (keterwakilan)
dipihak lain.

Oleh sebab itu pendidikan ideologi Pancasila harus dilakukan kepada para kader-
kader partai politik yang nanti akan menjadi pemegang otoritas politik. Mereka inilah harus
menjadi sasaran prioritas, sebab merekalah yang akan memiliki kewenangan yang setiap
keputusannya mengikat warga masyarakat. Transformasi politik tanpa disertai dengan
pembangunan karakter yang didasarkan nilai-nilai luhur bangsa dapat dipastikan hanya akan
merusak tatanan dan menghangcurkan masa depan bangsa dan Negara. Oleh karena itu
pembangunan karakter harus pula menjadi salah satu agenda urgensi. Dengan menanamkan
nilai-nilai Pancasila, diharapakan kehidupan politik menjadi lebih mulia. Kehidupan politik
lebih bermartabat. Ke depan diharapkan, mereka yang akan terjun ke medan politik harus
berbekal niat untuk berjuang bagi kepentingan bangsanya; bukan mencari gelimang
kemewahan dan kekuasaan. Cara paling praktis, murah tetapi efektif adalah kesediaan para
tokoh dan pimpinan di berbagai bidang dan lapisan masyarakat memberikan keteladanan
dalam sikap dan perilaku kehidupan sehari-hari. Mengatakan sesuatu, terutama janji-janji
politik tanpa disertai dengan bukti yang konkrit, hanya akan menyuburkan perilaku munafik
dan membuat rakyat semakin tidak percaya kepada tatanan baru yang disebut demokrasi.

Sementara itu untuk memutus mata rantai ketidak teraturan yang dihadapi bangsa
Indonesia agenda yang harus menjadi prioritas adalah menyusun regulasi yang berkenaan
dengan penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan. Perangkat regulasi harus mempunyai
tujuan dan arah yang jelas serta dilakukan secara komperehensif, kohesif dan koheren antara
regulasi yang satu dengan lainnya. Beberapa regulasi yang terkait dengan penataan kekuasaan
pemerintahan, misalnya regulasi tentang pemilihan presiden, kepala daerah, dewan
perwakilan rakyat, sistem kepartaian, pemilihan umum, desentralisasi, perimbangan
keuangan pusat dan daerah, bahkan regulasi yang berkenaan dengan keamanan nasional.
Dengan kebijakan politik perundang-undangan yang mempunyai proyeksi yang visioner serta
pakem dan paradigma yang jelas, diharapkan dapat diwujuddkan pemerintahan yang efektif
tetapi tetap dapat dikontrol oleh masyarakat.

Gagasan dan pemikiran semacam itu sudah banyak dimiliki oleh masyarakat, bahkan
sudah terlalu sering disampaikan kepada para wakil rakyat serta pemerintah dalam berbagai
forum dan kesempatan. Namun nampaknya mereka sudah kedap terhadap himbauan serta
wacana publik yang menyuarakan dan mendesak agar agenda reformasi dilakukan dengan
kaidah-kaidah yang benar. Oleh sebab itu sudah saatnya masyarakat membangun kekuatan
yang demokratis untuk melakukan tekanan dan desakan terus menerus kepada otoritas politik
agar tunduk kepada kehendak rakyat.