Anda di halaman 1dari 51

TUGAS AKHIR 2

Penggunaan Artificial Magnetic Conductor Kapasitif sebagai


Antena Mikrostrip Dual-Band

Oleh:
Ahmad Ikhyari
18112017

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI

SEKOLAH TEKNIK ELEKTRO DAN INFORMATIKA

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2016
Lembar Pengesahan

Penggunaan Artificial Magnetic Conductor Kapasitif sebagai Antena


Mikrostrip Dual-Band

Oleh:
Ahmad Ikhyari
18112017

Tugas Akhir II ini telah disetujui untuk diajukan dalam Seminar Tugas
Akhir II

Pada

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


SEKOLAH TEKNIK ELEKTRO DAN INFORMATIKA
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Bandung,
Disetujui oleh
Dosen Pembimbing

Dr. Eng. Achmad Munir


NIP 197109302008121002

i
Daftar Isi

1 BAB I PENDAHULUAN............................................................................1

1.1 Latar Belakang..........................................................................................1

1.2 Tujuan........................................................................................................1

1.3 Metodologi................................................................................................2

1.4 Ruang Lingkup..........................................................................................2

2 BAB II TEORI DASAR...............................................................................3

2.1 Antena Mikrostrip.....................................................................................3

2.2 Model Saluran Transmisi..........................................................................4

2.3 Teknik Pencatuan......................................................................................8

2.4 Hambatan Masukan dalam Kondisi Resonan.........................................10

2.5 Miniaturisasi Patch.................................................................................10

2.6 AMC........................................................................................................11

2.7 Analisis Penyesuaian Impedansi.............................................................13

3 BAB III SIMULASI...................................................................................14

4 BAB IV HASIL DAN EVALUASI SEMENTARA...................................21

5 BAB V KESIMPULAN.............................................................................24

6 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................25

ii
Daftar Gambar

Gambar 1 (a) Perspektif atas antena mikrostrip (b) Sistem koordinat silinder..............3
Gambar 2 (a) Pita mikrostrip (b) Garis-garis medan listrik (c) Susunan geometri
patch/pita mikrostrip dalam konstanta dielektrik efektif.........................................5
Gambar 3 Konstanta dielektrik efektif berbanding dengan frekuensi, untuk beberapa
substrat tertentu [2]..................................................................................................6
Gambar 4 Panjang fisik dan efektif pada patch rektangular (a) Tampak atas (b)
Tampak samping......................................................................................................7
Gambar 5 Beberapa teknik pencatuan antena mikrostrip yang lazim dipakai [2] (a)
Microstrip line feed (b) Probe feed (c) Aperture-coupled feed (d) Proximity-
coupled feed.............................................................................................................9
Gambar 6 (a) Penampang melintang dari AMC yang dikembangkan oleh Sievenpiper
(b) Tampak atas dari AMC (c) Rangkaian ekivalen antartonjolan pada AMC yang
dikembangkan oleh Sievenpiper [8].......................................................................11
Gambar 7 Patch AMC periodik ganda, tampak atas..............................................12
Gambar 8 Dimensi umum antena tanpa AMC (a) Tampak atas (b) Tampak
samping........................................................................................................................13
Gambar 9 Koefisien refleksi dari desain awal antena............................................15
Gambar 10 VSWR dari desain awal antena pada berbagai nilai frekuensi............16
Gambar 11 Gain dari desain awal antena, pada frekuensi 2,4 GHz.......................16
Gambar 12 Pola radiasi 2-dimensi dari desain awal antena, pada frekuensi
resonansi 2,4 GHz........................................................................................................17

1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem telekomunikasi terdiri atas pemancar informasi (transmitter), kanal
informasi (channel), dan penerima informasi (receiver). Ketiga unsur pokok ini tak
dapat dihilangkan satu sama lain. Udara, relung yang seringkali dianggap sebagai
ruangan kosong, pun merupakan kanal informasi yang mudah didapat.

iii
Antena pun menjadi komponen telekomunikasi yang penting selain kabel tembaga
dan kabel serat optik. Antena mengubah gelombang terbimbing saluran transmisi
menjadi gelombang bebas di udara, seperti yang terjadi pada transmitter, pun
sebaliknya yang terjadi pada receiver. Karena antena bekerja dengan medium atau
channel udara, antena menjadi piranti komunikasi utama di wilayah terpencil.
Struktur fisik antena pun disesuaikan dengan tujuan pembuatan antena tersebut.
Dengan kata lain, antena televisi memiliki struktur yang berbeda dengan antena
telepon selular. Penentuan dimensi struktur antena secara rinci sangat menentukan
parameter-parameter antena, seperti frekuensi kerja, koefisien refleksi, gain, VSWR,
dan pola radiasi. Penentuan metode pencatuan pun berpengaruh secara khas terhadap
parameter-parameter tersebut, mempertimbangkan faktor kemudahan dalam fabrikasi
kontra kinerja antena.
Beberapa teknik miniaturisasi telah dikembangkan guna memperoleh dimensi
patch antena yang lebih kecil untuk frekuensi kerja tertentu. Penggunaan materi
dengan konstanta dielektrik tinggi, penggunaan slot pada patch, dan penggunaan
metamaterial, adalah sebagian teknik miniaturisasi yang dikenal. Pada Tugas Akhir
ini, alternatif teknik miniaturisasi patch diusulkan dengan menggunakan struktur
AMC kapasitif sebagai pengganti groundplane.
Pada Tugas Akhir ini akan diimplementasikan dua antena mikrostrip, satu tanpa
struktur AMC, dan yang lainnya dengan struktur AMC kapasitif. Materi yang
digunakan adalah FR4-Epoxy dengan r =4,4 . Antena yang akan dirancang
bekerja pada dua frekuensi resonan 1,43 GHz dan 1,61 GHz.
1.2 Tujuan
Tugas Akhir ini menargetkan tercapainya beberapa tujuan sebagai berikut:
Merancang dan melakukan simulasi antena mikrostrip tanpa dan dengan
struktur AMC kapasitif sebagai groundplane.
Merealisasikan struktur tersebut dan membandingkan karakteristik antena
tersebut dengan hasil simulasi.
Membandingkan performansi antena mikrostrip biasa dengan antena
mikrostrip dengan AMC kapasitif sebagai groundplane, terutama frekuensi
resonan dan koefisien refleksi pada frekuensi resonan.
Melakukan karakterisasi beberapa parameter kunci pada struktur AMC
kapasitif yang digunakan.

iv
1.3 Metodologi
Tugas ini dilakukan dengan beberapa tahapan sebagai berikut:
Studi literatur, terutama literatur dari perpustakaan dan textbook.
Simulasi, dilakukan dengan bantuan perangkat lunak tiga dimensi hingga hasil
simulasi memenuhi kriteria.
Implementasi, pencetakan rancangan dua jenis antena pada Tugas Akhir ini
menjadi perangkat keras antena.
Pengukuran, dilakukan dengan memperhatikan beberapa parameter penting
antena, seperti koefisien pantul, gain, dan pola radiasi polar, serta
membandingkan hasil pengukuran dengan hasil simulasi.
1.4 Ruang Lingkup
Batasan yang diterapkan dalam tugas ini ditetapkan sebagai berikut:
Antena yang digunakan berbentuk persegi, begitu pun dengan pola tembaga
yang dicetak pada substrat.

v
2 BAB II TEORI DASAR
2.1 Antena Mikrostrip
Antena dalam sistem komunikasi radio merupakan struktur yang menjadi
penghubung antara gelombang terbimbing dan gelombang bebas (medium udara),
atau sebaliknya. Maka, antena dapat dikenali sebagai pemancar atau penerima
gelombang. Ketika antena bertindak sebagai transmitter (pemancar), gelombang
terbimbing merambat melalui saluran transmisi, kemudian antena memancarkan
gelombang tersebut ke ruang bebas, menjadi gelombang bebas. Sebaliknya, ketika
antena bertindak sebagai receiver (penerima), antena menangkap gelombang bebas
dan meneruskannya ke piranti lain, seperti demodulator, melalui saluran transmisi.
Dalam aplikasi pesawat luar angkasa, satelit, dan misil dengan batasan ukuran,
berat, kinerja, kemudahan pemasangan, dan profil aerodinamis, antena dengan low
profile dibutuhkan, yaitu antena mikrostrip. Antena mikrostrip dapat diterapkan pada
permukaan planar dan nonplanar, sederhana, dan tidak mahal. Terlepas dari
keuntungan tersebut, antena mikrostrip memiliki efisiensi yang rendah, daya yang
rendah, kinerja-pemindaian yang rendah, dan pita frekuensi yang sangat
sempit[ CITATION Poz03 \l 1033 ]. Berbagai modifikasi pun dikembangkan pada
antena mikrostrip, seperti penambahan komponen beban antara antena dengan ground
plane.
Antena mikrostrip menjadi perhatian masyarakat luas pada 1970-an, meski
konsepnya telah dibuat pada 1953 dan patennya telah ditetapkan pada 1955. Antena
mikrostrip terdiri atas patch logam yang sangat tipis bila dibandingkan dengan
panjang gelombang yang bekerja pada ruang hampa. Patch tersebut diletakkan di atas
bidang pentanahan (groundplane) dengan jarak h 0 , biasanya
0,003 0 h 0,05 0 . Patch mikrostrip dirancang sedemikian rupa sehingga pola
maksimum tegak lurus terhadap patch. Pita dan bidang pentanahan dipisahkan oleh
substrat dielektrik[CITATION Kra06 \l 1033 ] Antena mikrostrip secara umum
diilustrasikan pada Gambar 1.

vi
(a) (b)
Gambar 1 (a) Perspektif atas antena mikrostrip (b) Sistem koordinat silinder
Terdapat beberapa jenis substrat yang dapat digunakan dalam perancangan antena
mikrostrip; konstanta substrat dielektrik biasanya dalam rentang 2,2 r 12 .
Substrat dengan konstanta dielektrik rendah biasa digunakan dengan ketebalan yang
cukup karena menyediakan efisiensi yang tinggi, pita frekuensi yang lebar, namun
ukuran elemen yang lebih besar. Substrat dengan konstanta dielektrik yang tinggi
biasa digunakan karena dapat mengikat medan-medan yang bekerja hingga
meminimalisasi radiasi dan kopling daya yang tidak diinginkan, dan berimplikasi
pada ukuran elemen yang lebih kecil, namun efisiensi rendah dan pita frekuensi
sempit[ CITATION Kra06 \l 1033 ].
Grounding pada antena patch mikrostrip terpasang pada sisi substrat yang
berlawanan dengan patch. Luas ground plane yang lebih kecil daripada luas substrat
dapat menghasilhan bandwidth yang cukup lebar[ CITATION Gun11 \l 1033 ] serta
peningkatan radiasi back lobe (lobus belakang) atau pengurangan gain maksimum
akibat difraksi[ CITATION Col \l 1033 ].
Seringkali antena mikrostrip diistilahkan dengan antena patch. Elemen peradiasi
dan pita pencatu daya dicetak di atas substrat dielektrik. Struktur persegi, persegi
panjang, dan sirkular umum digunakan karena kemudahan analisis dan fabrikasi, serta
memiliki radiasi polarisasi-silang (cross-polarization) yang rendah[ CITATION Kra06
\l 1033 ].
Dimensi antena patch itu sendiri merupakan parameter penting, terutama terkait
dengan frekuensi kerja. Secara umum dimensi (panjang) antena berbanding terbalik
dengan frekuensi kerja. Antena dengan frekuensi kerja yang relatif tinggi, dalam orde
1-10 gigahertz, biasanya memiliki dimensi rata-rata sekitar 1-10 cm.

vii
Elemen peradiasi pada antena mikrostrip atau antena patch biasanya dicetak
secara photoetching di atas substrat dielektrik. Patch peradiasi dapat berbentuk
persegi, persegi panjang, garis/pita tipis (dipol), lingkaran, elips, segitiga, atau bentuk
geometris lain. Macam-macam bentuk elemen peradiasi antena mikrostrip
diilustrasikan pada Gambar 2[ CITATION Kra06 \l 1033 ]. Pada tugas ini antena
mikrostrip yang diimpelentasikan berbentuk persegi, segi empat dengan panjang sisi
yang identik.

(a) (b) (c) (d) (e)


Persegi Persegi Panjang Dipol Lingkaran Elips

(f) (g) (h) (i)


Segitiga Juring Cincin Sektor Cincin
Gambar 2 Bentuk-bentuk representatif dari elemen patch mikrostrip

2.2 Model Saluran Transmisi


Terdapat beberapa alternatif pemodelan analisis antena mikrostrip persegi, yaitu
model saluran transmisi, model rongga, dan direktivitas. Dari ketiga model termaktub,
model saluran transmisi adalah model yang paling mudah dianalisis, meski
menghasilkan implementasi yang paling tidak akurat [ CITATION Kra06 \l 1033 ]
[CITATION LIL84 \l 1033 ]. Meski demikian, perubahan dimensi dengan model ini
dapat dijelaskan secara fisik. Untuk ketebalan substrat yang tipis, metode analisis
model saluran transmisi dan model cavity menghasilkan pendekatan yang cukup
akurat pada desain patch antena segi empat[ CITATION HPu84 \l 1033 ]. Maka, pada
perancangan tugas akhir ini, antena yang dirancang mengacu pada model saluran
transmisi, seperti yang terilustrasi pada Gambar 3 (a).
Metode analisis model saluran transmisi merepresentasikan antena patch
mikrostrip segi empat sebagai susunan dua apertur sempit atau slot yang meradiasikan
gelombang dan dipisahkan oleh saluran transmisi berimpedansi rendah dengan
panjang L . Efek fringing pada ujung-ujung patch terjadi karena dimensi patch
yang terbatas dalam besaran terhingga dari panjang (length) dan lebar (width).
Fenomena ini diilustrasikan pada Gambar 3 (b), baik pada panjang maupun lebar
patch. Besaran fringing adalah fungsi dari dimensi patch dan ketebalan substrat. Pada

viii
bidang-E fringing adalah fungsi nisbah dari panjang patch ( L p ) terhadap ketebalan
( h ) substrat ( L p /h ) dan fungsi dari konstanta dielektrik substrat ( r )
[ CITATION Kra06 \l 1033 ].

(a) (b)

(c)
Gambar 3 Antena patch mikrostrip dengan model saluran transmisi (a) Pita mikrostrip
(b) Garis-garis medan listrik (c) Susunan geometri patch/pita mikrostrip dalam
konstanta dielektrik efektif
Medan listrik melewati dua jenis dielektrik: umumnya udara dan substrat.
Sebagian besar dari garis medan listrik melewati substrat, dan yang lain melewati
udara. Karena W /h 1 dan r 1 , garis-garis medan listrik terkonsentrasi di
substrat. Dalam kasus ini, fringing menyebabkan pita mikrostrip nampak lebih luas
secara elektrikal berbanding terhadap dimensi fisiknya. Saluran transmisi semacam ini
tidak menyokong transmisi mode transverse-electric-magnetic (TEM), karena
terdapat perbedaan kecepatan fasa antara di udara dan di substrat yang dialami
gelombang yang sama. Mode yang muncul dominan adalam mode quasi-TEM. Maka,
konstanta dielektrik efektif, reff , diperkenalkan untuk dilibatkan dalam pendekatan
perhitungan parameter antena. Konstanta dielektrik efektif didefinisikan sebagai
konstanta dielektrik dari material dielektrik seragam (uniform) sehingga pita
mikrostrip memiliki karakteristik elektrik yang identik, termasuk konstanta propagasi,
sebagai pita sesungguhnya[ CITATION Kra06 \l 1033 ].
Pada frekuensi rendah konstanta dielektrik efektif tetap. Pada frekuensi-frekuensi
intermediet, nilai konstanta tersebut menaik secara monoton hingga mendekati nilai
konstanta dielektrik dari substrat, seperti yang direpresentasikan pada Gambar 4

ix
[ CITATION Kra06 \l 1033 ]. Nilai awal (nilai pada frekuensi rendah) dari konstanta
dielektrik efektif dikenal sebagai nilai statis. Konstanta dielektrik efektif sebagai
fungsi panjang (length) dan lebar (width), secara terpisah, diberikan pada Persamaan
(1)-(2) [ CITATION Kra06 \l 1033 ][ CITATION Ham75 \l 1033 ][ CITATION
Gar01 \l 1033 ].
r +1 r1 W
reff (W )=
2
+
2( )
F
h
(1)

+1 1 L
F( )
r r
reff (L)= + (2)
2 2 h
dengan

{
1 2

() [ ] [ ]
h a a
1+12 2 +0,04 1 , 1
a a h h
F =
h 1
h
a [ a
1+12 2 , 1
h ]

Gambar 4 Konstanta dielektrik efektif berbanding dengan frekuensi, untuk beberapa


substrat tertentu [ CITATION Kra06 \l 1033 ]
Akibat terjadinya efek fringing, secara elektrik patch antena mikrostrip terlihat
lebih besar dari dimensi fisik. Pada bidang-E, seperti terilustrasi pada Gambar 5,
dimensi patch sepanjang panjangnya terkembang pada tiap ujungnya sebesar L ,
sebagai fungsi dari reff dan nisbah W/h. Hubungan secara empiris untuk nilai
perpanjangan panjang ternormalisasi dinyatakan dalam Persamaan (3)[ CITATION
Kra06 \l 1033 ].

x
W
L
=0,412
(
( reff +0,3 ) h +0,264 ) (3)
h W
( reff 0,258 ) ( + 0,8)
h

Patch

Gambar 5 Panjang fisik dan efektif pada patch rektangular (a) Tampak atas (b)
Tampak samping
Akibat perpanjangan panjang patch sebesar L pada tiap ujungnya, panjang
efektif dari patch adalah ( L= /2 untuk mode dominan TM010 tanpa fringing)
Leff =L+2 L (4)
Penentuan frekuensi resonansi pada antena patch mikrostrip segi empat untuk
mode gelombang TMmn dapat dilakukan berdasarkan Persamaan (5) dengan f ,
0 , 0 , m , dan n berturut-turut adalah frekuensi resonansi, permeabilitas
ruang hampa, permitivitas ruang hampa, mode pada L , dan mode pada W
.

( m 2 n 2
1
f=
2 r 0 0 L
+)( )
W
(5)

Pada saat mode propagasi dominan TM10, Persamaan (5) dengan memperhitungkan
efek fringing menjadi Persamaan (6)[ CITATION Kra06 \l 1033 ]. Sementara itu,
panjang patch efektif dengan memperhitungkan efek fringing sebagai fungsi frekuensi
ditunjukkan pada Persamaan (7).
1
( f rc )10= (6)
2 Leff reff 0 0
1
Leff = (7)
2 ( f rc )10 reff 0 0
Panjang fisik dari antena dinyatakan dalam Persamaan (8).
L=Leff 2 L

xi
1
L= 2 L
2 ( f rc )10 reff 0 0

( ( Wh + 0,264 )
)
( reff +0,3 )
1
L= 2 h 0,412 (8)
2 ( f rc )10 reff 0 0 W
( reff 0,258 ) ( +0,8 )
h

Untuk peradiasi efektif, lebar patch dinyatakan sebagai Persamaan (9).


v
W=
1
2
= 0
2
2 f r 0 0 r +1 2 f r r +1 (9)

2.3 Teknik Pencatuan


Antena patch mikrostrip dapat dicatu daya dengan berbagai metode. Secara umum
terdapat dua jenis teknik pencatuan antena mikrostrip, yaitu pencatuan kontak dan
pencatuan tanpa kontak. Pada pencatuan kontak, daya gelombang frekuensi radio
disalurkan dengan patch secara langsung melalui suatu penghubung yang biasanya
adalah konduktor. Sementara itu, pencatuan tanpa kontak tidak melibatkan kontak
langsung antara sumber daya dengan patch. Daya sampai pada patch peradiasi dengan
mekanisme coupling medan elektromagnetik dari catu daya melalui
substrat[ CITATION Kra06 \l 1033 ][ CITATION Gar01 \l 1033 ].
Terdapat beberapa konfigurasi yang dapat digunakan untuk mencatu antena
mikrostrip dengan sumber daya, di antaranya pita mikrostrip, probe koaksial, kopling
apertur, dan kopling medan dekat. Keempat ilustrasi teknik pencatuan daya pada
antena mikrostrip diilustrasikan pada Gambar 6[ CITATION Kra06 \l 1033 ]. Metode
pencatuan pita mikrostrip dan probe koaksial merupakan metode pencatuan kontak
dengan antena, sedangkan metode pencatuan kopling apertur dan kopling medan
dekat termasuk metode pencatuan tanpa kontak dengan antena.
Metode pencatuan microstrip feed line digambarkan pada Gambar 6 (a). Patch
antena dan probe pada tepi substrat dihubungkan dengan pita mikrostrip. Antena
dengan metode pencatuan ini mudah difabrikasi, mudah dalam menyesuaikan
impedansi pada ujung-ujung patch dengan menentukan posisinya, dan sederhana
dalam pemodelan. Meski demikian, pita frekuensi kecil, terbatas pada rentang 25%
seiring dengan arus permukaan dan radiasi samping yang meningkat karena tebalnya
substrat[ CITATION Kra06 \l 1033 ][ CITATION Gar01 \l 1033 ].

xii
Metode pencatuan coaxial-line feed, dengan terhubungnya groundplane dan
konduktor luar koaksial, menembus substrat, dan terhubungnya patch dan konduktor
dalam koaksial, seperti yang diilustrasikan pada Gambar 6 (b), juga umum digunakan.
Metode probe koaksial ini mudah difabrikasi dan match dalam penyesuaian
impedansi, serta radiasi samping rendah. Namun antena dengan pencatuan coaxial-
probe feed ini memiliki pita frekuensi yang sempit dan sulit untuk
dimodelkan[ CITATION Kra06 \l 1033 ].
Kedua mode tersebut masih menimbulkan gelombang dengan mode orde lebih
tinggi dan radiasi polarisasi-silang karena struktur yang asimetris. Untuk menangani
masalah tersebut, kopling apertur nirkontak digunakan. Dua metode berikut ini mudah
dimodelkan dan menghasilkan radiasi samping yang moderat, namun dengan
kelemahan berupa sulitnya fabrikasi[ CITATION Kra06 \l 1033 ].

xiii
(a) (b)

(c)

(d)
Gambar 6 Beberapa teknik pencatuan antena mikrostrip yang lazim dipakai
[ CITATION Kra06 \l 1033 ] (a) Microstrip line feed (b) Probe feed (c) Aperture-
coupled feed (d) Proximity-coupled feed
Metode pencatuan aperture coupling dilakukan sedemikian rupa, seperti pada
Gambar 6 (c). Antena dengan pencatuan kopling apertur terdiri atas ground plane
yang dihimpit oleh dua jenis substrat. Pita mikrostrip dipasang pada bagian bawah
dari substrat-bawah dan patch pada bagian atas dari substrat-atas. Lubang atau slot
pada ground plane biasanya terletak tepat sepusat dengan patch antena agar
rancangan antena simetris, sehingga polarisasi silang berkurang[CITATION Des09 \l
1033 ]. Dengan cara ini, energi dari pita mikrostrip dapat dikopling ke patch melalui
celah atau slot pada ground plane. Biasanya substrat bawah menggunakan material
dengan permitivitas relatif yang tinggi; substrat atas menggunakan material dengan
xiv
permitivitas rendah. Metode pencatuan kopling apertur adalah metode yang paling
sulit diimplementasikan di antara keempat metode yang tersebut pada awal
pembahasan teknik pencatuan. Kelebihan lain dari metode ini, pemodelan yang
mudah dan radiasi spurious yang relatif sedang[ CITATION Kra06 \l 1033 ].
Metode pencatuan proximity coupling (kopling medan dekat) terdiri atas
microstrip line yang dihimpit oleh dua jenis substrat, patch di atas substrat-atas, serta
groundplane di bawah substrat-bawah, seperti yang terilustrasi pada Gambar 6 (d).
Seperti pada metode kopling apertur, pada metode kopling proksimitas ini, substrat
atas menggunakan dielektrik dengan permitivitas yang lebih rendah daripada
permitivitas bahan dielektrik untuk substrat bawah. Patch antena dikopling oleh
medan dekat yang dihasilkan pita mikrostrip pencatu. Metode ini mengurangi radiasi
samping dan menghasilkan bandwidth yang sangat lebar akibat pertambahan
ketebalan total antena. Namun, metode ini cukup sulit untuk difabrikasi [ CITATION
Kra06 \l 1033 ].
Teknik pencatuan dengan coaxial-line feed digunakan pada tugas ini. Meski
menghasilkan bandwidth yang sempit, teknik ini digunakan karena menghasilkan
radiasi samping yang rendah. Radiasi pada inti koaksial ditahan oleh substrat hingga
sampai pada patch, sehingga radiasi banyak terpancar pada permukaan patch.

2.4 Hambatan Masukan dalam Kondisi Resonan


Perumusan resistansi (hambatan) masukan dari patch mikrostrip persegi telah
dilakukan oleh Jackson dan Alexopoulos. Perumusan ini menggunakan antena yang
diilustrasikan pada Gambar 7. Sebagai aproksimasi, patch dapat dianggap sebagai
dipol tipis. Model analisis cavity (rongga) digunakan dalam perumusan tersebut.
Asumsi lain yang digunakan adalah mengabaikan imbas dari mode gelombang orde
tinggi. Untuk mode gelombang dominan TM 10, resistansi masukan pada kondisi
resonan disajikan dalam Persamaan (10)[ CITATION Gar01 \l 1033 ] [ CITATION
Jac91 \l 1033 ]. Hal ini menandakan, hambatan masukan pada pusat patch sangat
kecil dan hambatan masukan pada tepi patch relatif besar.

R sin 2 ( Lx )
f
(10)

xv
.
Gambar 7 Antena patch persegi dengan pencatuan koaksial pada (xf, yf), dengan pusat
koordinat (0,0) berhimpit dengan pusat patch [ CITATION Jac91 \l 1033 ]
Meski titik pencatuan dapat dipilih pada sembarang titik sepanjang width W, mode
gelombang TM0n (dengan bilangan ganjil n) tidak tereksitasi dan hanya TM 10 yang
tereksitasi pada patch dalam kondisi titik pencatuan di sepanjang y f =0 dengan
W L , mengacu pada Gambar 7. Penentuan titik pencatuan secara eksak
membutuhkan penghitungan yang iteratif[ CITATION Gar01 \l 1033 ]. Kara
menyatakan penyelesaian xf tanpa penghitungan resistansi radiasi dengan
aproksimasi sebagai berikut[ CITATION Kar96 \l 1033 ],
L
xf = (11)
2 reff (L)
dengan nilai reff ( L) yang dihitung dari Persamaan (2).

2.5 Parameter Antena


2.5.1 Koefisien Refleksi (S11)
Koefisien refleksi menyatakan besaran gelombang yang dipantulkan pada
perbatasan antarmedium. Secara matematis koefisien refleksi sama dengan
perbandingan antara gelombang pantul dengan gelombang datangnya. Pertemuan
antara saluran transmisi dengan antena merupakan satu contoh dari perbatasan
medium. Pantulan akan terjadi jika terdapat perbedaan impedansi karakteristik antara
dua medium. Dalam kasus antena, gelombang yang merambat pada saluran transmisi
akan mengalami pengurangan daya saat menembus perbatasan antara saluran
transmisi dan antena. Selain itu, adanya gelombang pantul menyebabkan pertemuan
gelombang pantul dengan gelombang datangnya dan munculnya gelombang berdiri
atau standing wave. Koefisien refleksi tegangan yang lazim digunakan dalam

xvi
+
parameterisasi antena dinyatakan dalam Persamaan (12), dengan , V , V
, Z A , dan Z0 berturut-turut sebagai koefisien refleksi, amplitudo tegangan
gelombang pantul, amplitudo tegangan gelombang datang, impedansi masukan
antena, dan impedansi karakteristik saluran transmisi[ CITATION Poz03 \l 1033 ]
[ CITATION Kra06 \l 1033 ]. Koefisien pantul nol sebagai kondisi ideal dicapai saat
impedansi antena dan saluran transmisi sama besar.
Z AZ 0
V + =
Z A+ Z0
V (12)

=

Ku
tu
b
E
m
pa
t

Gambar 8 Rangkaian kutub empat


Pada rangkaian kutub empat seperti pada Gambar 8, terdapat dua parameter
scattering yang merupakan koefisien refleksi, yaitu S 11 dan S 22 . Parameter
S 11 adalah koefisien refleksi masukan pada port 1 saat port 2 rangkaian
dihubungkan dengan beban match; parameter S 22 adalah koefisien refleksi
masukan pada port 2 saat port 1 rangkaian dihubungkan dengan beban match
[ CITATION Poz03 \l 1033 ]. Apabila antena patch mikrostrip dianggap sebagai
rangkaian kutub empat, Persamaan (12) merupakan parameter S 11 seperti yang
ditunjukkan pada Persamaan (13).

xvii
+
V1
V
1


(13)
+=0
V2
V 2 = (1 )|
+=0


S11 =
Koefisien refleksi dapat dinyatakan dalam bentuk lain, di antaranya return loss.
Nilai return loss dalam satuan desibel dinyatakan dalam Persamaan (14). Berdasarkan
Persamaan (14), kondisi ideal terjadi saat return loss bernilai tak berhingga (infinitif).
LR =20 log| | dB (14)

2.5.2 Voltage Standing Wave Ratio (VSWR)


Nisbah tegangan gelombang berdiri (VSWR) atau yang biasa disebut standing
wave ratio (SWR) merupakan perbandingan antara nilai maksimum dengan nilai
minimum gelombang berdiri. Gelombang berdiri atau standing wave muncul karena
adanya pertemuan antara gelombang pantul dengan gelombang datangnya. Nilai

+ +
V V
tegangan gelombang berdiri dapat berosilasi dari hingga .
V min = V max =
Maka, VSWR dirumuskan menjadi Persamaan (15) berikut.
V max 1+| |
VSWR= = (15)
V min 1||
Berdasarkan Persamaan (15), nilai VSWR berkisar pada interval 1 VSWR .
Gelombang berdiri yang memiliki amplitudo terlampau dapat merusak peralatan
pemancar, sehingga dalam praktiknya terdapat batasan VSWR yang diperbolehkan,
yaitu 1 VSWR 2 [ CITATION Kra06 \l 1033 ]. Dengan rentang tersebut,
diperlukan nilai koefisien refleksi maksimum sebesar 0,33 atau sekitar -9,54 dB.
Biasanya nilai koefisien refleksi maksimum yang harus dipenuhi ditetapkan pada
level -10 dB. Persyaratan nilai koefisien refleksi maksimum berikutnya menentukan
bandwidth antena.

xviii
2.5.3 Gain
Gain antena didefinisikan sebagai perbandingan antara intensitas radiasi
maksimum dari suatu antena dengan intensitas radiasi maksimum dari antena
referensi dengan daya masukan yang sama. Parameter gain terkait dengan parameter
direktivitas. Direktivitas sendiri adalah nisbah antara intensitas radiasi maksimum
dengan intensitas radiasi rata-rata dari suatu antena. Dengan kata lain, direktivitas
terkait dengan konsentrasi atau pengarahan radiasi antena. Hubungan antara gain
dengan direktivitas diekspresikan dalam Persamaan (16), dengan G , , dan
D sebagai gain, efisiensi antena, dan direktivitas, secara berurutan. Persamaan
(17) menunjukkan gain sebagai fungsi dari apertur efektif. Apertur efektif ( A e )
didefinisikan sebagai suatu bidang yang dapat menyerap atau meradiasikan daya.
G=D (16)
4 Ae
G= 2 (17)

Pengukuran gain antena dapat dilakukan dengan cara pengukuran absolut.
Pengukuran ini dilakukan berdasarkan persamaan transmisi Friis, seperti pada
persamaan (18). Terdapat beberapa cara untuk melakukan pengukuran gain absolut, di
antaranya dengan cara dua antena. Syarat dilakukannya pengukuran gain absolut
dengan cara dua antena adalah identiknya seluruh antena serta terpenuhinya kriteria
medan jauh pada masing-masing antena. Persamaan (19) merupakan rumusan
penghitungan gain antena dengan cara dua antena. Dengan persyaratan identiknya dua
antena yang digunakan, maka gain antena pemancar GT sama dengan gain antena
penerima GR CITATION Kra02 \l 1033 [13] .
2

( )
PR =PT G T G R
4 R
(18)

P
+10 log ( )
4 R
G +G =20 log ( ) R
T R (19)
P T

2.5.4 Pola Radiasi


Pola radiasi merupakan diagram tiga dimensi yang melibatkan perubahan medan
atau daya sebagai fungsi dari koordinat bola dan . Pada antena, pola radiasi
menunjukkan arah pemancaran dan penerimaan dari antena. Bentuk tiga dimensi pola
radiasi dalam pengukuran cukup sulit diperoleh. Karenanya, pola radiasi biasa didapat

xix
dalam bentuk dua dimensi. Pengukuran pola radiasi dapat dilakukan dengan cara
menetapkan nilai konstan dengan pengubahan nilai , lalu sebaliknya,
menetapkan nilai konstan dengan pengubahan nilai . Selanjutnya pola radiasi
tiga dimensi dari antena dapat digambarkan oleh dua diagram dua-dimensi dalam
bentuk bidang E dan bidang H, atau dalam bentuk bidang elevasi dan bidang azimuth.
menunjukkan contoh pola radiasi dari antena berikut dengan sistem koordinat bola.
Parameter penting terkait diagram pola radiasi antena adalah beamwidth.
Beamwidth menyatakan lebar berkas dalam satuan sudut dari radiasi maksimum atau
lobe utama pada pola radiasi antena. Penentuan beamwidth umumnya menggunakan
terminasi half-power beamwidth (HPBW). Artinya, batas beamwidth adalah sudut
terkecil dari dua titik saat daya radiasi antena bernilai setengah daya maksimumnya.

2.6 Miniaturisasi Patch


Miniaturisasi patch adalah suatu cara yang dilakukan untuk memperkecil ukuran
patch yang dibutuhkan untuk menghasilkan frekuensi resonansi tertentu. Efektivitas
teknik miniaturisasi patch dapat dinyatakan dalam rasio miniaturisasi patch dan rasio
penurunan frekuensi. Rasio miniaturisasi patch adalah perbandingan selisih ukuran
patch hasil miniaturisasi terhadap ukuran patch konvensional. Rasio penurunan
frekuensi adalah perbandingan antara pengurangan frekuensi antena hasil
miniaturisasi dan frekuensi antena konvensional.
Salah satu cara miniaturisasi patch adalah dengan menggunakan material
berkonstanta dielektrik ( r ) tinggi sebagai substrat. Dengan begitu, panjang
gelombang terbimbing (guided wavelength) di bawah patch berkurang, sehingga
ukuran patch juga dapat diperkecil. Antena mikrostrip patch konvensional dengan
r senilai 23 berukuran sekitar 0,35 0 . Jika r dinaikkan menjadi 10,
ukuran patch mengecil men
jadi hanya sekitar 0,2 0 CITATION Kra06 \l 1033 [2] .
Cara lain memperkecil dimensi patch adalah pembuatan slot pada patch. Arus
pada patch dan medan di bawah patch secara implikatif akan merambat dari ujung
satu ke ujung lain dengan lintasan yang lebih panjang. Perubahan lintasan semacam
ini menurunkan frekuensi resonan patch[ CITATION Sun12 \l 1033 ].
Terdapat metode lain dalam miniaturisasi patch, yaitu penggunaan metamaterial.

xx
2.7 AMC
Permukaan berimpedansi tinggi atau high impedance surface (HIS) adalah
struktur yang memiliki sifat khas terkait fasa gelombang pantul relatif terhadap fasa
gelombang datang. Secara umum, perfect electric conductor (PEC) adalah materi
yang dapat menghasilkan refleksi dengan fasa refleksi 180 dari gelombang datang
atau =1 . Perfect magnetic conductor (PMC) didefinisikan sebagai materi yang
dapat menghasilkan fasa relatif nol atau =+1 CITATION Zha03 \l 1033
[15] . PMC tidak tersedia secara alami. Satu cara yang mungkin untuk membuat
permukaan PMC secara artifisial adalah membuat deretan atau array dari beberapa
patch yang dengan jarak yang dekat. PMC artifisial menghasilkan refleksi dengan
fasa relatif 0 pada rentang frekuensi tertentu. Maka, PMC artifisial yang kemudian
dikenal sebagai artificial magnetic conductor (AMC) adalah pendekatan fisik dari
PMC [ CITATION Oli10 \l 1033 ][ CITATION Rah11 \l 1033 ][ CITATION Dan99 \l
1033 ].
Dengan menambahkan tekstur tertentu pada permukaan konduktif, sifat-sifat
elektromagnetik permukaan tersebut dapat diubah [ CITATION Yab \l 1033 ].
Khususnya pada permukaan yang memiliki periode tekstur yang sangat kecil bila
dibandingkan dengan panjang gelombang operasionalnya, parameter penting dari
struktur tersebut adalah impedansi permukaan. Sievenpiper telah mengembangkan
satu bentuk AMC, seperti pada Gambar 9, terdiri atas susunan dari tonjolan-tonjolan
permukaan patch logam yang ditopang oleh via di atas permukaan logam yang datar,
terbentuk seperti jamur atau payung paku di atas permukaan logam. Jika ukuran
tonjolan lebih kecil daripada panjang gelombang operasional, sifat-sifat
elektromagnetik digambarkan sebagai yang susunan paralel dari elemen-elemen
lumped berupa kapasitor dan induktor, seperti pada poin (c) Gambar 9. Pada rentang
frekuensi tertentu ketika impedansi permukaan sangat tinggi, di sekitar frekuensi
resonan sirkuit LC, seperti pada Persamaan (20), medan magnetik yang
bersinggungan dengan permukaan bernilai kecil, bahkan dengan medan listrik yang
besar sepanjang permukaan. Struktur semacam ini sering disebut sebagai magnetic
conductor.

(a)

xxi
(b)

(c)

(d)
Gambar 9 (a) Penampang melintang dari AMC yang dikembangkan oleh Sievenpiper
(b) Tampak atas dari AMC (c) Rangkaian ekivalen antartonjolan pada AMC yang
dikembangkan oleh Sievenpiper (d) Rangkaian ekivalen sederhana untuk AMC yang
dikembangkan oleh Sievenpiper [ CITATION Dan99 \l 1033 ]
1
f r= (20)
2 LC
jL
Z= (21)
12 LC
Sifat elektromagnetik dari AMC tersebut dapat disederhanakan menjadi rangkaian
ekivalen LC, seperti pada Gambar 9 (d). Impedansi dari rangkaian paralel resonan LC
diberikan pada Persamaan (21). Rangkaian pada Gambar 9 (d) bersifat induktif pada
frekuensi rendah, dan mode gelombang permukaan TM menjadi dominan.
Sebaliknya, rangkaian tersebut bersifat kapasitif pada frekuensi tinggi, dan mode
gelombang permukaan TE dominan. Ketika permukaan pada Gambar 9 (a) menjadi
high surface impedance (HIS), permukaan tersebut merefleksikan gelombang

xxii
elektromagnetik tanpa pembalikan fasa pada konduktor datar[ CITATION Dan99 \l
1033 ].
Meskipun begitu, via sulit dan mahal untuk difabrikasi. Sebagai alternatif, satu
struktur AMC planar lain telah dikembangkan oleh Zhang. Struktur AMC yang
dimaksud adalah susunan periodik ganda dari elemen patch logam di sisi atas struktur
substrat dan groundplane di sisi bawah, seperti yang digambarkan secara sederhana
pada Gambar 10 dengan elemen patch AMC persegi[ CITATION Zha03 \l 1033 ].

(a)

(b)
Gambar 10 (a) Diskontinuitas celah antar-patch AMC dan (b) rangkaian-
ekivalennya
Kapasitansi struktur AMC planar muncul akibat diskontinuitas celah antar-patch
AMC. Patch sendiri dengan aliran arusnya menghasilkan induktansi. Diskontinuitas
ini dimodelkan seperti pada Gambar 10 (a). Kapasitansi antara patch dan ground
plane (bidang dasar) adalah C s , konduktansi paralelnya yang mewakili radiasi
adalah Gs ; kapasitansi antara dua patch berdekatan adalah C g , dan Gg
merupakan konduktansi tambahan untuk rugi-rugi dan radiasi. Rangkaian- dari gap
(celah) antar-patch dianalisis dengan rangkaian-T yang ekivalen. Rangkaian-T yang
dimaksud ditunjukkan dalam Gambar 10 (b) berupa daerah yang dibatasi dengan
kotak bergaris putus-putus.

xxiii
Asumsikan patch-patch AMC memiliki lebar w , dan struktur patch dikelilingi
oleh material 1 pada satu sisi dan material 2 pada sisi lain. Fluks yang sampai
pada satu patch sama dengan muatan pada patch tersebut, yang juga sama dengan
hasil kali dari kapasitansi dan tegangan antar-patch AMC. Kapasitansi di tepi antara
dua patch dirumuskan dalam Persamaan (22) berikut, dengan Gambar 11 sebagai
ilustrasi kasus tersebut. Induktansi ditentukan melalui Persamaan (23), dengan 0
dan t sebagai permeabilitas ruang hampa dan ketebalan substrat, berturut-
turut[ CITATION Dan991 \l 1033 ].
w ( 1 + 2 ) a
C=
()
cosh 1
g
(22)

L=0 t (23)

Gambar 11 Geometri kapasitor pada high-impedance surface (HIS) dua-


lapisan[ CITATION Dan991 \l 1033 ]
Pada Tugas Akhir ini, struktur AMC yang digunakan adalah patch periodik ganda
yang disisipkan di tengah substrat secara simetris. Patch-patch AMC dipisahkan satu
sama lain dengan menentukan gap luar dan dipisahkan dengan ujung substrat dengan
menentukan gap dalam. Stuktur AMC kapasitif diperoleh dengan menghubungkan sisi
patch-patch AMC yang berhadapan, dengan kapasitor SMD.

xxiv
3 BAB III PERANCANGAN DAN SIMULASI
3.1 Desain Awal
Antena yang akan direalisasikan terlebih dahulu dirancang dan disimulasikan
dengan menggunakan software simulasi tiga dimensi. Rancangan dasar antena pada
penelitian tugas akhir ini merupakan antena patch mikrostrip berbentuk persegi yang
bekerja pada dua frekuensi, dalam rentang pengukuran dengan batas 0.5 GHz dan 2.5
GHz. Pada referensi tersebut juga diteliti pengaruh pemasangan struktur AMC sebagai
ground plane. Pemberian struktur AMC pada ground plane secara umum berdampak
pada penurunan frekuensi kerja antena. Sebagai referensi, patch antena tanpa struktur
AMC yang dirancang pada tugas akhir ini berbentuk persegi dengan frekuensi
resonansi 1,575 GHz. Struktur awal AMC yang digunakan pada perancangan tugas
akhir ini menggunakan struktur yang sama seperti pada [ CITATION Zha03 \l 1033 ],
yaitu struktur planar doubly periodic array dengan komponen patch AMC persegi.
Modifikasi yang dilakukan pada struktur AMC adalah berupa perubahan celah antar-
patch AMC, perubahan jumlah patch AMC, dan penambahan kapasitor pada celah
antar-patch. Adapun penelitian lain yang dilakukan adalah modifikasi letak pencatuan
coaxial probe terhadap titik pusat antena untuk keperluan matching impedansi antena.
Material yang digunakan pada seluruh rancangan terdiri atas konduktor dan
dielektrik. Konduktor yang digunakan adalah tembaga dengan asumsi permitivitas
relatif r =1 , permeabilitas relatif r =0,999991 , dan konduktivitas =58
MS/m. Dielektrik yang dipakai adaah FR4-Epoxy dengan asumsi permitivitas relatif
r =4,4 , permeabilitas relatif r =1 , dan loss tangent =0,02 . Seluruh
ketebalan lempengan tembaga dianggap sebesar t=0,035 mm. Antena dicatu
dengan menggunakan konektor SMA dengan kabel koaksial. Metode pencatuan yang
digunakan adalah coaxial probe feed. Pada simulasi, antena berada dalam enam sisi
batas radiasi berbentuk kubus, dengan satu sisi berhimpit pada sisi bawah base
connector dari konektor SMA.

xxv
(a)

(b)
Gambar 12 Dimensi umum antena tanpa AMC (a) Tampak atas (b) Tampak samping

3.2 Rancangan Antena Tanpa Struktur AMC


Sebagai referensi, antena tanpa struktur AMC tersusun atas tiga elemen utama,
yaitu patch, substrat, dan ground plane. Struktur antena ini mendapat catu daya
melalui pemasangan konektor tipe SMA dengan metode pencatuan daya coaxial
probe feed. Konektor SMA dipasang menembus struktur antena sedemikian rupa
sehingga konduktor dalam terhubung dengan patch, konduktor luar terhubung dengan
ground plane, dan dielektrik dalam (PTFE) memisahkan kedua konduktor tersebut
dan terhubung dengan substrat. Patch sebagai radiator dan ground plane sebagai
grounding disusun sedemikian rupa di antara substrat dielektrik. Rancangan antena
secara umum menggunakan parameter geometris, sebagaimana yang tercantum dalam
Gambar 12. Seluruh besaran ditentukan dalam satuan milimeter[CITATION Rah11 \l
1033 ].

xxvi
Dimensi rancangan awal antena tanpa AMC didapat dari Persamaan (1)-(9) pada
bab Dasar Teori, menggunakan model saluran transmisi. Tebal substrat ditetapkan
dengan nilai h=3,2mm . Antena dirancang sedemikian rupa sehingga bekerja
efektif pada frekuensi resonansi f r=1,575 GHz. Hasil perhitungan tersebut
disajikan dalam Tabel 1 sebagai berikut. Seluruh besaran dinyatakan dalam satuan
milimeter.
Tabel 1 Nilai-nilai besaran dimensi rancangan awal antena mikrostrip hasil
perhitungan matematis
Wp L Lp h t
57,92 1,47 44,53 3,2 0,035
Karena nilai W p tidak sama dengan L p , nilai W p yang digunakan adalah
L p . Frekuensi kerja pada mode dasar propagasi TM10 dependen terhadap Lp .
Selain itu, letak pencatuan coaxial probe feed terkait dengan dimensi patch. Maka,
untuk memudahkan analisis antena terkait letak pencatuan probe feed dari pusat patch
yang berbanding lurus dengan dimensi patch itu sendiri, desain awal pada Gambar 12
ditentukan dengan nilai-nilai yang dipandang cukup dekat dengan L p , seperti pada
Tabel 2. Semua besaran dinyatakan dalam satuan milimeter.
Tabel 2 Nilai-nilai besaran dimensi rancangan awal antena mikrostrip
Wp Lp h t
0,03
40 40 3,2
5
Analisis yang dilakukan atas antena referensi ini mencakup beberapa parameter
penting, yaitu koefisien refleksi atau parameter S 11, nisbah tegangan gelombang
berdiri (VSWR), bati atau gain, dan pola radiasi. Variabel bebas dari parameterisasi
ini adalah letak pencatuan probe feed, ukuran patch, ukuran substrat

3.2.1 Pengaruh Letak Pencatuan Coaxial Probe Feed


Antena secara keseluruhan dipandang sebagai beban (impedansi) yang
dihubungkan dengan sumber tegangan melalui saluran transmisi yang juga memiliki
impedansi. Transfer daya maksimum terjadi saat impedansi saluran transmisi match
dengan impedansi beban (antena); kedua resistansi (nilai real) sama besar dan kedua
reaktansi (nilai imajiner) saling berlawanan.
Untuk menentukan nilai impedansi antena mikrostrip persegi, dibutuhkan analisis
yang cukup kompleks. Impedansi masukan, bersamaan dengan pola radiasi dalam
diagram polar dipengaruhi oleh distribusi arus di area dekat probe (pencatu daya) dari

xxvii
patch[ CITATION Jac91 \l 1033 ]. Untuk teknik pencatuan coaxial feed, penyesuaian
impedansi antena dengan impedansi saluran transmisi dapat dilakukan secara
sederhana dengan memasang feed pada lokasi yang tepat. Cara ini kurang fleksibel
daripada metode pencatuan stripline feed. Pada teknik stripline feed, transformator
seperempat panjang gelombang dapat dipasang untuk menimbulkan efek matching.
Alternatif lain, penyesuaian impedansi dapat dilakukan dengan mengatur lebar
stripline atau pita pencatuan, atau dengan memasukkan atau melekukkan pita
pencatuan ke dalam sisi patch[ CITATION Jam89 \l 1033 ].
Pada tugas ini, antena tanpa struktur AMC diberi catu daya dengan variasi letak
dari pusat patch antena. Parameterisasi tersebut dimaksudkan untuk menentukan titik
pencatuan yang sesuai, tidak untuk menentukan nilai impedansi masukan dari antena
pada titik tersebut.

Object 269

Gambar 13 Parameter S11 antena tanpa AMC dengan ukuran patch 40mm x 40mm,
konstanta permitivitas relatif substrat 4,4, dan ukuran substrat 52mm x 52mm, serta
variabel bebas letak pencatuan dari titik pusat (dalam mm)
Mode gelombang yang dominan dihasilkan antena tanpa AMC dengan catu daya
di pusat antena bukanlah mode dasar semacam TM 10 karena nilai minimum parameter
S11 tidak muncul pada frekuensi kerja di sekitar f r=1,575 GHz, mungkin muncul
pada frekuensi di atas 2,5 GHz. Setelah penggeseran lokasi catu daya sejauh 2 mm
dari pusat patch, nilai kritis parameter S11 di rentang frekuensi 0,5 GHz dan 2,5 GHz
muncul, di 1,63 GHz, untuk ukuran patch 40mm x 40mm. Perubahan yang cukup

xxviii
kecil pada frekuensi resonan terjadi dengan meneruskan penggeseran lokasi dengan
kenaikan tiap 2 mm.

Object 273

Gambar 14 Koefisien refleksi minimum terhadap letak pencatuan dari titik pusat pada
antena tanpa AMC dengan ukuran patch 40mm x 40mm (dalam mm)
Lebih lanjut lagi, mengacu pada hasil simulasi yang tersaji pada Gambar 14,
koefisien pantul terendah dicapai dengan memasang probe koaksial pada jarak 8 mm
dari titik pusat patch, atau tepat 20% dari panjang sisi patch. Nilai terendah koefisien
pantul pada kondisi ini dicapai pada frekuensi 1.69 GHz dengan nilai -38.20 desibel.
Kondisi tersebut dapat dimaknai, bahwa impedansi antena match dengan impedansi
probe koaksial.

3.2.2 Pengaruh Dimensi Patch


Mengacu pada Persamaan (3)-(9), dimensi patch (terutama panjang L) sangat
terikat dengan variabel frekuensi kerja. Pada parameterisasi dimensi patch ini akan
ditentukan dimensi yang menghasilkan frekuensi kerja 1,575 GHz dan sekitarnya.
Pengubahan dimensi patch tersebut dilakukan dengan menjaga jarak titik pencatuan
terhadap pusat patch sebesar 20% dari panjang sisi patch.

xxix
Object 275

Gambar 15 Parameter S11 antena tanpa AMC dengan variabel bebas ukuran patch
(persegi, dalam mm) serta letak pencatuan dari titik pusat 20% dari ukuran tepi patch
dan ukuran substrat 52mm x 52mm
Terlepas dari nilai minimum koefisien refleksi, Gambar 15 mengilustrasikan
hubungan dimensi patch terhadap frekuensi kerja (dalam hal ini, frekuensi dengan
nilai koefisien refleksi minimum). Dimensi patch yang lebih kecil bekerja pada
frekuensi kerja yang lebih tinggi; dimensi patch yang lebih besar bekerja pada
frekuensi kerja yang lebih rendah. Dari gambar tersebut, patch berukuran 43 mm x
43mm menghasilkan frekuensi kerja 1,58 GHz. Jika mengacu pada nilai length dari
patch L p=4 4,53 mm dari Tabel 1, terdapat selisih antara hasil perhitungan rumus
terhadap hasil simulasi, sekitar 3,56 %.

3.2.3 Pengaruh Dimensi Substrat


Langkah awal untuk merancang antena adalah memilih substrat yang tepat.
Substrat pada antena mikrostrip pada dasarnya dibutuhkan untuk mendukung
pencetakan (metalisasi) antena secara mekanis. Parameter penting dari substrat adalah
ketebalan dan loss tangent. Substrat yang lebih tebal, selain lebih kuat secara fisik,
juga menaikkan daya teradiasi, mengurangi rugi-rugi konduktor, dan memperbaiki
bandwidth impedansi. Meski begitu, substrat yang lebih tebal menambah berat antena,
rugi-rugi dielektrik, rugi-rugi gelombang permukaan, dan radiasi sampingan dari catu
daya probe feed. Konstanta dielektrik substrat juga menjadi parameter penting. Nilai
konstanta dielektrik yang rendah menghasilkan fringing effect atau efek rambatan

xxx
pada ujung-ujung patch berikut daya yang diradiasikan. Penambahan ketebalan
substrat menghasilkan efek yang serupa dengan pengurangan nilai konstanta
dielektrik r . Nilai loss tangent yang tinggi menambah rugi-rugi dielektrik dan
berdampak pada penurunan efisiensi antena[ CITATION Gar01 \l 1033 ].
Seperti yang telah dijelaskan pada [ CITATION Kra06 \l 1033 ] dengan
pendekatan model analisis saluran transmisi, bahwa dimensi patch yang finite
(berhingga, berbilang) menimbulkan efek fringing pada tepi patch. Pada tugas akhir
ini dimensi substrat yang menjadi acuan adalah 52 mm x 52 mm. Jika dibandingkan
dengan dimensi patch, efek fringing sedikit berpengaruh pada dimensi efektif. Meski
begitu, pengubahan dimensi substrat pada simulasi, di antaranya, memasukkan nilai
dimensi substrat yang hampir berhimpit dengan patch, dengan asumsi fringing effect
pada kondisi terakhir cukup berpengaruh pada dimensi efektif antena.

Object 281

Gambar 16 Parameter S11 antena tanpa AMC dengan ukuran patch 43mm x 43mm dan
letak pencatuan dari titik pusat 8,5 mm serta variabel bebas ukuran substrat (dalam
mm persegi)
Gambar 16 menunjukkan bahwa pengubahan dimensi substrat tidak berpengaruh
signifikan terhadap frekuensi kerja. Dari hasil simulasi tersebut, substrat yang
digunakan untuk seluruh antena pada tugas ini berukuran 52 mm x 52 mm.

xxxi
Object 283

Gambar 17 Parameter S11 minimum terhadap ukuran substrat (dalam mm persegi)


pada antena tanpa AMC dengan ukuran patch 43mm x 43mm
Mengacu pada hasil simulasi pada Gambar 17, perubahan ukuran substrat
menyebabkan perubahan nilai minimum koefisien refleksi. Ketidakkonsistenan pola
perubahan nilai minimum koefisien refleksi dari dimensi substrat 46 mm x 46 mm
menjadi 48 mm x 48 mm dapat dikaitkan dengan ukuran substrat yang hampir
menyamai ukuran patch.

3.2.4 Desain Akhir Antena Tanpa AMC


Hasil simulasi dari pengubahan lokasi pencatuan koaksial pada patch 43 mm x 43
mm disajikan dalam Gambar 18. Selanjutnya, pada simulasi dan realisasi akan
digunakan antena dengan patch berukuran 43 mm x 43 mm yang dicatu daya dengan
lokasi pencatu 8.5 mm dari pusat patch. Meski lokasi pencatu 8.5 mm menghasilkan
koefisien refleksi minimum (S11 = -39.278 dB) yang lebih tinggi dari yang dihasilkan
dengan lokasi pencatu 8.6 mm (S11 = -23.706 dB), hasil tersebut lebih rendah daripada
yang dihasilkan dengan lokasi pencatu 8 mm (S11 = -43.959 dB) dan dengan lokasi
pencatu 9 mm (S11 = -29.215 dB). Desain akhir ini dilakukan dengan ketelitian
dimensi 0.5 mm karena pertimbangan galat antara dimensi yang digunakan pada
simulasi dengan pada implementasi.

xxxii
Object 285

Gambar 18 Parameter S11 antena tanpa AMC dengan ukuran patch 43mm x 43mm dan
ukuran substrat 52mm x 52mm serta variabel bebas letak pencatuan dari titik pusat
(dalam mm)
Desain antena tanpa AMC yang siap diimplementasikan memiliki dimensi fisik
seperti yang tercantum pada Tabel 3 berikut ini. Semua besaran yang tertera memiliki
satuan milimeter. Kecuali substrat, besaran-besaran pada Tabel 3 juga digunakan
sebagai dimensi antena dengan struktur AMC.
Tabel 3 Nilai-nilai besaran dimensi rancangan akhir antena mikrostrip tanpa AMC,
dalam milimeter
Wp L p Ls x h t
52 8,5 0,03
43 43 3,2
5

3.3 Rancangan Antena dengan Struktur AMC


Antena dengan struktur AMC tersusun atas patch antena, substrat atas, sejumlah
patch AMC, substrat bawah, dan ground plane. Patch antena, patch AMC, dan
ground plane berbahan tembaga, sedangkan kedua substrat berbahan FR4-Epoxy.
Pada prinsipnya, antena dengan AMC merupakan modifikasi dari desain antena
tanpa AMC. Jika substrat pada antena tanpa AMC memiliki ketebalan 3,2 mm,
substrat tersebut dibagi menjadi dua bagian sehingga masing-masing substrat
memiliki ketebalan 1,6 mm. Di antara kedua substrat tersebut disisipkan sejumlah
patch AMC.

xxxiii
(a)

(b)

(c)
Gambar 19 Dimensi umum antena dengan AMC (a) Lapisan atas, tampak atas (b)
Lapisan tengah, tampak atas (c) Tampak samping

Sebelum melakukan parameterisasi antena dengan AMC, terlebih dahulu


dilakukan perbandingan besaran koefisien refleksi pada antena tanpa AMC dan antena

xxxiv
dengan AMC, dengan dimensi patch antena 43 mm x 43 mm, dimensi substrat total
52 mm x 52 mm x 3,2 mm. Sebagai acuan dalam perbandingan ini, struktur AMC
pada antena dengan AMC tersusun atas 4 patch AMC dengan celah antar-patch 2 mm
dan celah antara tepi patch AMC dan tepi substrat setengah dari celah antar-patch, 1
mm, dengan mempertimbangkan diameter konduktor-dalam pada konektor SMA
sebesar 1,27 mm, seperti terilustrasi pada Gambar 19. Patch AMC tersusun secara
konsentris. Dalam kondisi celah antara dua patch yang berdekatan 2 mm, jarak antara
tepi patch dengan tepi substrat 1 mm, Implikasinya, tiap patch AMC dengan celah
antar-patch 2 mm berdimensi 24 mm x 24 mm.

Object 299

Gambar 20 Perbandingan parameter S11 antara antena tanpa AMC dan antena dengan
AMC
Tembaga merupakan materi yang konduktif. Elektron-elektron antaratom tembaga
mudah berpindah-pindah. Dengan penyisipan tembaga di antara kedua substrat,
terdapat konsentrasi arus listrik berlebih pada tembaga, sehingga besaran konstanta
dielektrik efektif reff bertambah atau menaik.
Perbandingan antara antena tanpa AMC dan antena dengan AMC dalam hal
parameter/koefisien refleksi digambarkan dalam Gambar 20. Data pada gambar
tersebut menunjukkan, frekuensi resonan pada antena dengan AMC lebih rendah
daripada frekuensi resonan antena tanpa AMC. Mengacu pada Persamaan (6),
kenaikan nilai reff sebanding dengan penurunan frekuensi kerja.

xxxv
Meski begitu, nilai minimum S11 pada antena dengan AMC lebih tinggi daripada
ada antena tanpa AMC. Hal ini menandakan bahwa impedansi antena dengan AMC
tersebut kurang match dengan impedansi saluran transmisi.

3.3.1 Pengaruh celah antar-patch AMC terhadap parameter refleksi


Secara matematis perubahan konstanta dielektrik efektif reff akibat
penambahan area celah udara antara dua lapis dielektrik dapat dijelaskan dalam
hubungan fraksional terhadap volume. Karena fraksi konstanta dielektrik tersebut
menempati dimensi panjang dan lebar yang sama, fraksi reff dipengaruhi oleh
dimensi ketinggian atau ketebalan bahan. Misalkan reff ternormalisasi untuk
substrat yang pejal adalah 1. Dengan penyisipan materi tembaga di pertengahan
lapisan substrat (permitivitas tembaga lebih kecil daripada permitivitas substrat FR4-
Epoxy), nilai konstanta dielektrik reff ternormalisasi bernilai kurang dari 1.
Perubahan semacam ini dapat diterapkan dengan asumsi ketebalan total substrat
sangat besar bila dibandingkan dengan ketebalan tembaga. Ekspresi matematis fraksi
konstanta dielektrik efektif terhadap volume dinyatakan dalam Persamaan (23).

reff =
n V n (23)
Vn
Pada tugas ini dilakukan simulasi antara antena tanpa struktur AMC dan beberapa
antena dengan struktur AMC 2x2 dengan jarak antar-patch AMC yang berbeda-beda.
Dimensi substrat dipertahankan pada 52 mm x 52 mm. Patch-patch AMC diletakkan
secara konsentris. Impikasinya, penambahan jarak antara dua patch menyebabkan
pengurangan dimensi patch itu sendiri.

xxxvi
5 58 66 74 82 9 98 06 14 22 3 38 46 54 62 7 78 86 94 02 1 18 26 34 42 5
0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2.
0

-5

-10

-15

-20

-25

-30

-35

-40

-45
noAMC gap1 gap2 ga p4

Gambar 21 Perbandingan parameter S11 antara antena tanpa AMC dan antena dengan
AMC 2x2, dengan ukuran patch 43 mm x 43 mm dan ukuran substrat 52mm x 52mm
serta variabel bebas besaran celah antarstruktur AMC (dalam mm)
Berdasarkan hasil simulasi yang diilustrasikan pada Gambar 21, antena tanpa
AMC memiliki frekuensi kerja 1,58 GHz. Dengan penambahan struktur AMC dengan
celah antar-patch AMC 1 mm, terjadi penurunan frekuensi kerja, menjadi 1,5 GHz.
Namun, pelebaran celah antar-patch AMC menyebabkan kenaikan frekuensi kerja,
mendekati frekuensi kerja dari antena tanpa AMC. Untuk gap antar-patch AMC 2
mm, frekuensi kerja 1,5 GHz; untuk gap antar-patch AMC 4 mm, frekuensi kerja 1,53
GHz.
Dengan acuan hasil simulasi tersebut, besaran celah antar-patch AMC yang akan
diimplementasikan ialah sebesar 2 mm. Hal ini juga mempertimbangkan konduktor-
dalam pada konektor SMA yang berdiameter 1,27 mm, meski implementasi diameter
lubang pada substrat untuk pemasangan konektor cenderung mendekati 2 mm.

xxxvii
0.2

0
noAMC gap1 ga p2 gap3

-0.2

-0.4

-0.6

-0.8

-1

Gambar 22 Gain antena saat nilai S11 minimum terhadap celah antarstruktur AMC
untuk ukuran patch antena sama (celah dalam mm)
Perubahan gain antena terhadap frekuensi dinyatakan dalam Persamaan (17).
Gain antena berbanding terbalik dengan kuadrat panjang gelombang, sedangkan
panjang gelombang berbanding terbalik dengan frekuensi. Maka, gain antena
berbanding lurus dengan frekuensi kerja. Gambar 22 menunjukkan hubungan
tersebut. Frekuensi kerja semakin naik seiring dengan penambahan celah antar-patch.
Hal ini berimplikasi terhadap naiknya gain. Namun, gain pada antena dengan AMC
tidak melampaui gain antena tanpa AMC.

3.3.2 Pengaruh jumlah patch AMC terhadap parameter refleksi


Pada tugas ini dilakukan simulasi antara antena tanpa struktur AMC dan beberapa
antena dengan struktur AMC dengan jarak antar-patch AMC 2 mm. Simulasi
dilakukan dengan menggunakan struktur AMC dengan jumlah patch AMC yang
bervariasi, yaitu 2x2 (dimensi satuan patch 24 mm x 24 mm), 4x4 (dimensi satuan
patch 11 mm x 11 mm), 8x8 (dimensi satuan patch 4,5 mm x 4,5 mm), dan 16x16
(dimensi satuan patch 1,25 mm x 1,25 mm). Dimensi substrat dipertahankan pada 52
mm x 52 mm. Patch-patch AMC diletakkan secara konsentris, dengan jarak antara
tepi patch dengan tepi substrat 1 mm. Tentu, celah antara dua patch yang berdekatan 2
mm. Implikasinya, penambahan jumlah patch menyebabkan pengurangan dimensi
satuan dan total patch itu sendiri.

xxxviii
5 58 66 74 82 9 98 06 14 22 3 38 46 54 62 7 78 86 94 02 1 18 26 34 42 5
0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2.
0

-5

-10

-15

-20

-25

-30

-35

-40

-45
wi thout AMC AMC 2x2 AMC 4x4
AMC 8x8 AMC 16x16

Gambar 23 Perbandingan parameter S11 antara antena tanpa AMC dan antena dengan
AMC, dengan ukuran patch 43mm x 43mm, ukuran substrat 52mm x 52mm, dan
besaran celah antarstruktur AMC 2mm, serta variabel bebas jumlah patch AMC
(dalam mm)
Berdasarkan hasil simulasi yang diilustrasikan pada Gambar 23, antena tanpa
AMC memiliki frekuensi kerja 1,58 GHz. Dengan penambahan struktur AMC 2z2,
terjadi penurunan frekuensi kerja, menjadi 1,5 GHz. Namun, penambahan struktur
AMC menjadi 4x4 menyebabkan kenaikan frekuensi kerja, menjadi 1,52 GHz.
Frekuensi kerja antena dengan AMC 8x8 adalah 1,57 GHz; frekuensi kerja antena
dengan AMC 16x16 ialah 1,6 GHz. Berdasarkan Persamaan (22), penambahan jumlah
patch AMC yang juga bermakna pengurangan dimensi total patch AMC
menyebabkan kenaikan frekuensi resonan, mendekati frekuensi resonan antena tanpa
AMC. Meski begitu, frekuensi kerja antena dengan AMC 16x16 sedikit lebih tinggi
daripada frekuensi kerja antena tanpa AMC. Hal ini dikaitkan dengan perubahan
ketebalan total struktur antena akibat penambahan struktur AMC planar di antara
kedua substrat.
Kenaikan frekuensi yang demikian terkait dengan Persamaan (20) dan (22). Pada
kedua persamaan tersebut terdapat hubungan antara pengurangan lebar patch AMC
w dengan penurunan kapasitansi AMC C , serta antara penurunan C dengan
kenaikan frekuensi resonan f r . Kondisi demikian telah dibuktikan pada
[ CITATION Ris12 \l 1033 ].

xxxix
0.6

0.4

0.2

0
2x2 4x4 8x8 16x16

-0.2

-0.4

-0.6

-0.8
Ta npa AMC Denga n AMC

Gambar 24 Gain antena saat S11 minimum terhadap jumlah patch AMC untuk ukuran
patch antena sama (antena tanpa AMC 43 mm x 43 mm)
Perubahan gain pada hasil simulasi, seperti yang tergambar dalam Gambar 26,
terkait dengan Persamaan (17). Peningkatan gain beriringan dengan kenaikan
frekuensi kerja. Pun, terlampauinya gain antena dengan AMC 16x16 terhadap gain
antena tanpa AMC juga terkait dengan terlampauinya frekuensi resonan antena
dengan AMC 16x16 terhadap frekuensi resonan antena tanpa AMC.

3.3.3 Pengaruh orientasi pemasangan kapasitor


Pada tugas ini dilakukan simulasi antara antena tanpa struktur AMC dan dua
antena dengan struktur AMC dengan jarak antar-patch AMC 2 mm, masing-masing
dengan pemasangan dua kapasitor eksternal berbentuk surface-mount device (SMD)
pada orientasi yang berbeda pada celah antar-patch. Konfigurasi pemasangan
kapasitor tersebut dapat diterangkan melalui Gambar 25. Pengamatan ini dilakukan
dengan menggunakan kapasitor 10 pikofarad.

xl
(a) (b)
Gambar 25 Konfigurasi pemasangan dua kapasitor pada celah antar-patch AMC (a)
sepanjang sumbu-x (b) sepanjang sumbu-y

5 58 66 74 82 9 98 06 14 22 3 38 46 54 62 7 78 86 94 02 1 18 26 34 42 5
0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2.
0

-5

-10

-15

-20

-25

-30
wi thout C C al ong X-axi s 10pF C al ong Y-axi s 10pF

Gambar 26 Perbandingan parameter S11 antara antena dengan AMC tanpa kapasitor
dan dengan pemasangan kapasitor 10pF, dengan ukuran patch 43mm x 43mm, ukuran
substrat 52 mm x 52mm, dan besaran celah antarstruktur AMC 2mm
Pengaruh penggunaan kapasitor eksternal pada struktur AMC terhadap koefisien
refleksi dengan acuan antena tanpa struktur AMC ditunjukkan dalam Gambar 26.
Dapat disimpulkan bahwa penambahan dua kapasitor sepanjang sumbu-x
menghasilkan karakteristik yang serupa dengan tanpa penambahan kapasitor.
Mengacu pada Gambar 25, arah arus adalah ke arah sumbu-x negatif. Implikasinya,
kapasitor yang menghasilkan pengaruh yang dominan hanyalah kapasitor yang
menghubungkan patch AMC sisi x positif dengan patch AMC sisi x negatif.
Sementara itu, pengaruh pemasangan kapasitor yang menghubungkan patch AMC sisi
y positif dengan patch AMC sisi y negatif tidak terlalu signifikan.

3.3.4 Pengaruh nilai kapasitansi dari kapasitor eksternal


Pemasangan elemen resistif eksternal (resistor SMD) pada struktur AMC untuk
meningkatkan performansi antena terkait penyesuaian impedansi dan rugi-rugi akibat
pantulan atau return loss telah diinvestigasi pada perbaikan return loss dari penyerap
radar gelombang mikro atau microwave radar absorber [ CITATION Mun09 \l
1033 ]. Selanjutnya, efek penggunaan kapasitor eksternal pada struktur AMC akan
diselidiki dengan bantuan simulasi.

xli
Pengamatan dilakukan dengan nilai kapasitansi dari 1 pF hingga 10 pF dengan
kenaikan setiap 1 pF. Pada selang tersebut akan diperoleh perubahan frekuensi kerja
yang dihasilkan. Namun, nilai kapasitansi yang tersedia di pasaran dalam rentang 1 pF
hingga 10 pF adalah 1 pF, 1,2 pF, 1,5 pF, 1,8 pF, 2,2 pF, 2,7 pF, 3,3 pF, 3,9 pF, 4,7 pF,
5,6 pF, 6,8 pF, 8,2 pF, dan 10 pF. Dengan nilai kapasitansi yang baru, dilakukan
simulasi ulang. Berikut hasil simulasi koefisien pantul dari antena dengan struktur
AMC kapasitif dengan beberapa nilai kapasitansi.

5 58 66 74 82 9 98 06 14 22 3 38 46 54 62 7 78 86 94 02 1 18 26 34 42 5
0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2.
0

-5

-10

-15

-20

-25

-30

-35
wi thout C C 1pF C 4.7pF C 8.2pF C 10pF

Gambar 27 Perbandingan parameter S11 antena dengan AMC, dengan ukuran patch
43mm x 43mm, ukuran substrat 52mm x 52mm, dan besaran celah antarstruktur AMC
2mm, serta variabel bebas nilai kapasitansi dari kapasitor yang dipasang di sepanjang
sumbu-y
Simulasi dalam rentang frekuensi 0,5-2,5 GHz, seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 27, menunjukkan bahwa karakteristik, khususnya koefisien refleksi, dari
antena dengan AMC kapasitif 1 pF tidak jauh berbeda dari antena dengan AMC.
Namun, pada antena dengan AMC kapasitif 4,7 pF, muncul dua frekuensi yang
memiliki nilai koefisien refleksi minimum lokal, atau dengan kata lain, muncul satu
frekuensi resonan lain yang lebih tinggi. Seiring dengan penambahan nilai kapasitansi
kapasitor eksternal, frekuensi resonan yang lebih rendah mengalami kenaikan
koefisien refleksi; frekuensi resonan yang lebih tinggi mengalami penurunan
koefisien refleksi. Pola ini berlanjut hingga kapasitasi kapasitor SMD naik hingga 8,2
pF, saat frekuensi resonan tinggi lebih match daripada frekuensi resonan rendah.
Hingga pengamatan terhadap kapasitansi eksternal 10 pF, frekuensi resonan tinggi
hampir mendekati frekuensi resonan antena AMC tanpa kapasitor.
xlii
5

0
5 7 4 1 8 5 2 9 6 3 2 7 4 1 8 5 2 9 6 3 9 7 4 1 8 5 2 9 6
0. 0.5 0.6 0.7 0.7 0.8 0.9 0.9 1.0 1.1 1. 1.2 1.3 1.4 1.4 1.5 1.6 1.6 1.7 1.8 1. 1.9 2.0 2.1 2.1 2.2 2.3 2.3 2.4
-5

-10

-15

-20

-25

-30

-35
noAMC C 1pF C 4.7pF C 8.2pF C 10pF

Gambar 28 Gain antena terhadap nilai kapasitansi eksternal sepanjang sumbu-y untuk
ukuran patch antena sama (antena tanpa AMC 43 mm x 43 mm) dan AMC 2x2
Gambar 28 menunjukkan bahwa karakteristik, termasuk gain, dari antena dengan
AMC kapasitif 1 pF tidak jauh berbeda dari antena dengan AMC. Lain halnya dengan
antena dengan AMC kapasitif 4,7 pF. Gain pada frekuensi resonan tinggi justru cukup
rendah, -3.750. Pada nilai kapasitansi kapasitor SMD eksternal yang lebih tinggi (8,2
pF dan 10 pF), gain antena bernilai minimum di antara dua frekuensi resonan. Dari
Gambar 28 pula, gain antena pada frekuensi resonan tinggi bukanlah gain yang
maksimum.

3.4 Desain Antena untuk Fabrikasi


Bagian ini merupakan rangkuman dari hasil simulasi yang dikemukakan
sebelumnya. Desain antena berikut merupakan desain yang dianggap dapat mewakili
seluruh pengamatan yang dilakukan. Rancangan-rancangan yang dimaksud adalah
antena tanpa AMC, antena dengan AMC, dan desain antena dengan pemasangan
kapasitor SMD. Rancangan tersebut akan diimplementasikan untuk selanjutnya
dilakukan pengukuran dan pembandingan antara hasil simulasi dan hasil pengukuran.

Tabel 4 Pemilihan desain akhir antena untuk fabrikasi


Tanpa Dengan
AMC dengan Kapasitor
AMC AMC
Parameter
Antena Antena Antena Antena Antena Antena
A B C D E F

xliii
Jumlah patch
- 2x2 2x2 2x2 2x2 2x2
AMC
Letak pencatuan
8,5 8,5 8,5 8,5 8,5 8,5
dari pusat (mm)
Kapasitansi (pF) - - 1 4,7 8,2 10
Frekuensi {1,48, {1,42, {1,37,
1,58 1,5 1,5
resonansi (GHz) 1,84} 1,59} 1,56}
Koefisien refleksi {-21.17, {-13.08, {-10.02,
-39.278 -26.862 -30.194
minimum (dB) -7.98} -19.27} -23.77}
{1.191, {1.570, {1.922,
VSWR minimum 1.022 1.095 1.064
2.327} 1.244} 1.139}
Gain di frekuensi {-0.893, {-2.052, {-3.213,
0.0505 -0.726 -0.664
resonansi (dB) -3.750} -0.514} -0.242}

Perbandingan profil koefisien refleksi tiap profil antena pada Tabel 4 ditampilkan
pada . Kurva VSWR ditunjukkan pada .
0
5 7 4 1 8 5 2 9 6 3 2 7 4 1 8 5 2 9 6 3 9 7 4 1 8 5 2 9 6
0. 0.5 0.6 0.7 0.7 0.8 0.9 0.9 1.0 1.1 1. 1.2 1.3 1.4 1.4 1.5 1.6 1.6 1.7 1.8 1. 1.9 2.0 2.1 2.1 2.2 2.3 2.3 2.4
-5

-10

-15

-20

-25

-30

-35

-40

-45
A B C D E F

xliv
250

200

150

100

50

0
5 7 4 1 8 5 2 9 6 3 2 7 4 1 8 5 2 9 6 3 9 7 4 1 8 5 2 9 6
0. 0.5 0.6 0.7 0.7 0.8 0.9 0.9 1.0 1.1 1. 1.2 1.3 1.4 1.4 1.5 1.6 1.6 1.7 1.8 1. 1.9 2.0 2.1 2.1 2.2 2.3 2.3 2.4

A B C D E F

Kurva karakteristik gain terhadap frekuensi masing-masing desain antena


disajikan dalam . Profil gain maksimum terjadi saat dan bernilai nol.
Pada gambar dapat diterangkan bahwa tidak terjadi gain maksimum pada
frekuensi-frekuensi resonan.
5

0
5 7 4 1 8 5 2 9 6 3 2 7 4 1 8 5 2 9 6 3 9 7 4 1 8 5 2 9 6
0. 0.5 0.6 0.7 0.7 0.8 0.9 0.9 1.0 1.1 1. 1.2 1.3 1.4 1.4 1.5 1.6 1.6 1.7 1.8 1. 1.9 2.0 2.1 2.1 2.2 2.3 2.3 2.4
-5

-10

-15

-20

-25

-30

-35
A B C D E F

Pola radiasi dari desain akhir antena ditampilkan pada . menunjukkan pola
radiasi dua dimensi dengan dua bagian, (a) saat bernilai nol dan variabel
(bidang xz) dan (b) saat bernilai nol dan variabel (bidang xy). Seluruh
besaran sudut menggunakan kenaikan sebesar 5. Sementara itu, menunjukkan
pola radiasi tiga dimensi.

xlv
-10-5 0 5101520
-15 -10-5 0 5101520
-15
-25 -20
-30 2530 -25 -20
-30 2530
-35
-40 20 3540 -35
-40 5 3540
-45 45 -45 45
-50 50 -50 50
-55 55 -55 55
-60 60 -60 60
-65 65 -65 65
0 0
-70 70 -70 70
-75 75 -75 75
-80 80 -80 80
-85 85 -85 85
-90 -20 90 -90 -5 90
-95 95 -95 95
-100 100 -100 100
-105 105 -105 105
-110 110 -110 110
-115 115 -115 115
-120 120 -120 120
-125 125 -125 125
-130 130 -130 130
-135 135 -135 135
-140
-145 140
145 -140
-145 140
145
-150
-155-160 150 -150 150
-165
-170 170 160155
165
-155-160
-165
-170 160155
165
170
-175 175
-180 -175 175
-180

A B C A B C
D-1,48 D-1,64 E-1,42 D-1,48 D-1,64 E-1,42
E-1,59 F-1,37 F-1,56 E-1,59 F-1,37 F-1,56

xlvi
4 BAB IV HASIL DAN EVALUASI SEMENTARA

xlvii
5 BAB V KESIMPULAN

xlviii
6 DAFTAR PUSTAKA

[1] D. M. Pozar, Microwave Engineering, 3rd ed., New York: John Wiley & Sons
Inc., 2003.
[2] C. A. Balanis, Antenna Theory, 2nd ed., New York: John Wiley & Sons Inc.,
1997, pp. 722-723.
[3] M. A. Gunung, A. Munir and Chairunnisa, "Size Reduction of Compact Dual-
Band Antenna," in The 6th International Conference on Telecommunication
Systems, Services, and Applications, Denpasar, 2011.
[4] S. Collins and Y. M. M. Antar, "Single elements and arrays with a reduced
ground plane size," Royal Military College of Canada, Canada.
[5] E. H. V. Lil and A. R. V. d. Capelle, "Transmission Line Model for Mutual
Coupling Between Microstrip," IEEE Transactions on Antennas and
Propagation, Vols. AP-32, no. 8, pp. 816-821, August 1984.
[6] H. Pues and A. v. d. Capelle, "Accurate Transmission-Line Model for the
Rectangular Microstrip Antenna," Microwaves, Optics and Antennas, IEE
Proceedings H, vol. 131, no. 6, pp. 334-340, 1984.
[7] E. O. Hammerstad, "Equations for Microstrip Circuit Design," in Fifth European
Microwave Conference, Hamburg, 1975.
[8] R. Garg, P. Bhartia, I. Bahl and A. Ittipiboon, Microstrip Antenna Design
Handbook, Massachusetts: Artech House, 2001.
[9] J. R. James and P. S. Hall, Handbook of Microstrip Antennas, London: Peter
Peregrinus Ltd., 1989.
[10] R. Waterhouse, Microstrip Patch Antennas: A Designers Guide, New York:
Springer Science & Business Media, 2013.
[11] D. R. Jackson and N. G. Alexopoulos, "Simple Approximate Formulas for Input
Resistance, Bandwidth, and Efficiency of a Resonant Rectangular Patch," IEEE
Transactions on Antennas and Propagation, vol. 39, no. 3, pp. 407-410, March
1991.
[12] M. Kara, "The Resonant Frequency of Rectangular Microstrip Antenna Elements
with Various Substrate Thicknesses," Microwave and Optical Technology
Letters, vol. 11, no. 2, pp. 55-59, February 1996.
[13] J. D. Kraus and R. J. Marhefka, Antennas: for All Applications, 3rd ed., New
York: McGraw-Hill Higher Education, 2002.
[14] S. Bhunia, "Effects of Slot Loading on Microstrip Patch Antennas,"
International Journal of Wired and Wireless Communications, vol. I, no. 1, 2012.
[15] Y. Zhang, J. von Hagen, M. Younis, C. Fischer and W. Wiesbeck, "Planar

xlix
Artificial Magnetic Conductors and," IEEE Transactions on Antennas and
Propagation, vol. LI, no. 10, p. 2704, 2003.
[16] L. Olivia, F. Kurniasih and A. Munir, "Characterization of microwave," in 28th
Progress In Electromagnetics Research Symposium (PIERS), Cambridge, 2010.
[17] F. Rahmadani and A. Munir, "Microstrip Patch Antenna Miniaturization Using
Artificial Magnetic Conductor," in The 6th International Conference on
Telecommunication Systems, Services, and Applications, Denpasar, 2011.
[18] D. Sievenpiper, L. Zhang, R. F. J. Broas, N. G. Alexopolous and E.
Yablonovitch, "High-Impedance Electromagnetic Surfaces with a Forbidden
Frequency Band," IEEE Transactions on Microwave Theory and Techniques,
vol. 47, no. 11, pp. 2059-2074, 1999.
[19] E. Yablonovitch and D. F. Sievenpiper, "Circuit and Method for Eliminating
Surface Currents on Metals". United States of America Patent 6,262,495, 17 July
2001.
[20] D. F. Sievenpiper, "High-Impedance Electromagnetic Surfaces," Ph.D.
dissertation, Dept. Elect. Eng., Univ. California, Los Angeles, 1999.
[21] R. R. Ihsan and A. Munir, "Utilization of Artificial Magnetic Conductor for
Bandwidth Enhancement of Square Patch Antenna," in 7th International
Conference on Telecommunication Systems, Services, and Applications (TSSA),
Bali, 2012.
[22] A. Munir, V. Fusco and Chairunnisa, "Return loss enhancement of surface
resistors loaded microwave radar absorber," in 2009 Asia Pacific Microwave
Conference, Singapore, 2009.