Anda di halaman 1dari 18

Masa Kanak-Kanak Dini (usia pra-sekolah)

Masa kanak-kanak dini atau anak usia pra-sekolah merupakan fase perkembangan
individu sekitar 2-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai
perempuan atau laki-laki, dapat mengatur diriya sendiri dan mengenal bebrapa hal yang
dianggap berbahaya. Secara umum, aspek-aspek perkembangan pada usia anak pra sekolah ini
dapat diuraikan sebagai berikut;
1. Perkembangan fisik
Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya.
Seiring meningkatnya pertumbuhan tubuh, baik menyangkut berat badan dan tinggi, maupun
tenaganya, memungkinkan anak untuk lebih mengembangkan keterampilan fisiknya dan
eksplorasi terhadap lingkungan tanpa bantuan orang tua. Pada usia ini banyak perubahan
fisiologis seperti pernapasan yang menjadi lebih lambat dan dalam serta denyut jantung lebih
lama dan menetap.
Proporsi tubuh juga berubah secara dramatis seperti pada usia 3 tahun, rata-rata tingginya sekitar
80-90 cm dan beratnya sekitar 10-13 kg, sedangkan pada usia 5 tahun tingginya dapat mencapai
100-110 cm. Tulang kakinya tumbuh dengan cepat dan tulang-tulang semakin besar dan kuat,
pertumbuhan gigi semakin komplit. Untuk perkembangan fisik anak sangat diperlukan gizi yang
cukup seperti protein, vitamin, dan mineral dsb.
2. Perkembangan Intelektual
Menurut Piaget, perkembangan kognitif pada usia ini berada pada periode
preoperasional, yaitu tahapan dimana anak belum mampu menguasai operasi mental secara logis.
Periode ini juga ditandai dengan berkembangnya representasional atau symbolic function yaitu
kemampuan menggunakan sesuatu untuk mempresentasikan sesuatu yang lain menggunakan
simbol-simbol seperti bahasa, gambar, isyarat, benda, untuk melambangkan sesuatu atau
peristiwa.
Melalui kemampuan diatas, anak mampu berimajinasi atau berfantasi tentang berbagai hal. Ia
dapat menggunakan kata-kata, benda untuk mengungkapkan lainnya atau suatu peristiwa.
3. Perkembangan Emosional
Pada usia 4 tahun, anak sudah mulai menyadari akunya, bahwa akunya (dirinya) berbeda dengan
Aku (orang lain atau benda). Kesadaran ini diperoleh dari pengalaman bahwa tidak semua
keinginannya dapat dipenuhi orang lain. Bersamaan dengan itu berkembang pula perasaan harga
diri. Jika lingkungannya tidak mengakui harga dirinya seperti memperlakukan anak dengan
keras, atau kurang menyayanginya maka dalam diri anak akan berkembang sikap-sikap keras
kepala, menentang, atau menyerah dengan terpaksa.
Beberapa emosi umum yang berkembang pada masa anak yaitu, takut (perasaan terancam),
cemas (takut karena khayalan), marah (perasaan kecewa), cemburu (merasa tersisihkan),
kegembiraan (kebutuhan terpenuhi), kasih sayang (menyenangi lingkungan), phobi (takut yang
abnormal), ingin tahu (ingin mengenal).
4. Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa anak pra-sekolah, dapat diklasifikasikan kedalam dua tahap (sebagai
kelanjutan dari dua tahap sebelumnya). Masa Ketiga (2,0-2,6 tahun) bercirikan;
a) anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal yang sempurna.
b) anak sudah mampu memahami memahami tetang perbandingan.
c) Anak banyak menanyakan tempat dan nama; apa, dimana, darimana, dsb.
d) Anak sudah mulai menggunakan kata-kata berawalan dan berakhiran.[7]
Tahap Keempat (2,6-6,0 tahun) bercirikan;
a) Anak sudah menggunakan kalimat majemuk beserta anak kalimatnya.
b) Tingkat berpikir anak sudah lebih maju
c) Anak banyak bertanya tentang waktu, sebab akibat melalui pertanyaan kapan, mengapa,
bagaimana, dsb.
5. Perkembangan Sosial
Pada usia anak pra-sekolah (terutama mulai usia 4 tahun), perkembangan sosial anak sudah
tampak jelas, karena mereka sudah mulai aktif berhubungan dengan teman sebayanya. Tanda-
tanda perkembangan sosial pada tahap ini adalah;
a) Anak mulai mengetahui aturan-aturan (lingkungan keluarga/lingkungan bermain).
b) Sedikit-sedikit anak sudah mulai tunduk pada peraturan.
c) Anak makin menyadari akan kepentingan diri dan kepentingan orang lain.
d) Anak sudah bisa bersosialisasi (bermain) dengan anak-anak yang lain (peer group)
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh iklim sosio-psikologis keluarga. Anak akan
mampu menyesuaikan diri dengan keharmonisan, kerjasama dan berkomunikasi serta konsisten
pada aturan bila lingkungan keluarga bersuasana kondusif.
6. Perkembangan Bermain
Usia anak pra-sekolah dapat dikatakan sebagai masa bermain, karena setiap waktunya diisi
dengan kegiatan bermain. Terdapat beberapa macam permainan anak seperti;
a) Permainan fungsi (permainan gerak),ex: meloncat-loncat, berlarian dsb.
b) Permainan fiksi, ex: kuda-kudaan, perang-perangan dsb
c) Permainan reseptif atau apresiatif, ex: mendengar cerita, dongeng dsb
d) Permainan konstruksi, ex: membuat kue dari tanah, membuat rumah-rumahan dsb
e) Permainan prestasi, ex: sepak bola, basket, dsb.
Secara psikologis dan pedagogis, bermain mempunyai nilai-nilai yang sangat berharga bagi anak,
diantaranya;
a) Anak memperoleh perasaan senang, puas, bangga dsb
b) Anak dapat mengembangkan rasa percaya diri, tanggung jawab.
c) Anak dapat berimajinasi secara luas dan berkreatifitas.
d) Anak dapat mengenal aturan bermain
e) Anak dapat memahami bahwa dirinya dan orang lain sama-sama mempunyai kelebihan dan
kekurangan.
f) Anak dapat mengembangkan sikap sportif, tenggang rasa atau toleransi.
7. Perkembangan Kepribadian
Masa anak-anak awal ini lazim disebut masa Trotzalter atau periode perlawanan atau masa krisis
pertama. Krisis ini terjadi karena ada perubahan yang signifikan dalam dirinya, yaitu dia mulai
sadar akan Aku-nya, dia menyadari bahwa dirinya terpisah dari lingungannya atau orang lain, dia
suka menyebut nama dirinya apabila bericara dengan orang lain. Dengan kesadaran ini anak
menemukan bahwa ada dua pihak yang berhadapan yaiu Aku-nya dan orang lain (orang tua,
saudara, teman). Dia sadar bahwa tidak semua keinginannya akan dipenuhi orang lain atau
diperhatikan kepentingannya.
Pertentangan didalam diri anak ini dapat menyebabkan ketegangan sehingga tidak jarang anak
meresponsnya dengan sikap membandel atau keras kepala. Bagi usia anak, sikap membandel ini
merupakan suatu kewajaran, karena perkembangan pribadi mereka sedang bergerak dari sikap
dependen (membutuhkan perawatan) ke independent (bebas). Oleh karena itu agar tida
berkembang sikap membandel anak yang kurang terkontrol orang tua harus menghadapinya
secara bijaksana dan penuh kasih sayang.
8. Perkembangan Moral
Pada masa ini, anak sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas terhadap kelompok
sosialnya (orang tua, saudara, dan teman sebaya) melalui pengalaman berinteraksi dengan orang
lain. Melalui proses berinteraksi ini anak belajar memahami tentang kegiatan atau prilaku yang
baik, buruk, dilarang, disetujui, dsb. Maka berdasarkan pemahaman iti, anak harus senantiasa
dilatih dan dibiasakan bagaimana seharusnya bertingkah laku yang baik.
Pada saat mengenalkan konsep-konsep baik buruk, benar salah, orang tua hendaknya
memberikan penjelasan tentang alasannya, seperti; mengapa harus gosok gigi sebelum tidur,
mengapa harus mencuci tangan sebelum makan, mengapa tidak boleh membuang sampah
sembarangan. Hal ini diharapkan akan mengembangkan self-control atau self discipline
(kemampuan mengendalikan diri) pada anak. Pada usia pra-sekolah berkembang kesadaran
sosial anak yang meliputi sikap simpati atau sikap kepedulian terhadap sesama.

9. Perkembangan Kesadaran Beragama


Secara umum, kesadaran beragama pada usia ini ditandai dengan ciri-ciri sebagai
berikut ;
a) Sikap keagamaannya masih bersifat reseptif (menerima) meski banyak bertanya.
b) Pandangan keTuhanannya bersifat anthropormorph (dipersonifikasikan).
c) Penghayatan secara rohaniah masih superficial (belum mendalam) meski telah ikut
berpartisipasi dalam beribadah.
d) Hal keTuhanan dipandang secara khayalan sesuai taraf berpikirnya.
Pengetahuan anak tentang agama akan terus berkembang ketika mendengarkan ucapan-ucapan
orang tuanya, melihat sikap dan prilaku orang tuanya saat beribadah, serta pengalaman dalam
mengikuti ibadah dan meniru ucapan orang tuanya.
http://www.bppaudnibanjarbaru.org/index.php/artikel-paudni/161-teori-perkembangan-pada-
masa-pra-sekolah-dan-fase-sekolah

Perkembangan Anak Usia Prasekolah


Taman kanak-kanak (TK) merupakan bentuk pendidikan pra sekolah dengan tujuan
mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak, yaitu perkembangan mental, perkembangan
psikomotor dan perkembangan sosial secara terpadu. Kegiatan pendidikan di TK adalah sebgai
persiapan untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang mampu berdiri sendiri dan
mampu bertanggung jawab atas pembangunan bangsa, serta memiliki kemampuan dasar sebagai
bekal memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.
Perkembangan anak adalah suatu proses perubahan yang terjadi secara menyeluruh dalam
diri seorang anak atau dapat disebut juga sebagai perkembangan prilaku. Dimensi perkembangan
anak pra sekolah meliputi :
1. Perkembangan Mental
Proses mental adalah proses pengolahan informasi, yang menjangkau kegiatan kognisi,
intelegensia, berfikir, belajar, memecahkan masalah, dan pembentukan konsep.
2. Perkembangan Psikomotor
Perkembangan psikomotor adalah perkembangan adalah perkembangan rmengontrol gerakan-
gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinasi antara susunan syaraf pusat, syaraf, dan otot.
3. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial mengandung makna pencapaian suatu kemampuan untuk berprilaku sesuai
dengan harapan sosial yang ada.
4. Perkembangan Emosi
Kemampuan anak dalam perkembangan mental juga dipengaruhi oleh berbagai factor yang
sebenarnya adalah bagian dari dimensi perkembangan sosial.
5. Perkembangan Bicara
Belajar berbicara merupakan sarana pokok dalam sosialisasi dan sarana memperoleh
kemandirian.

Pada anak usia pra sekolah telah muncul perkembangan psikologis seorang anak
berhubungan dengan kesadaran terhadap diri sendiri dan orang lain. Ia mulai menginginkan
mengurus dirinya sendiri dan sangat tidak suka dipaksa melakukan yang dikehendaki orang
lain.
http://septiawati072.blogspot.com/2012/06/perkembangan-anak-usia-prasekolah.html?m=1

PERKEMBANGAN PERILAKU DAN KEPRIBADIAN MANUSIA MASA PRASEKOLAH


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Beberapa tahap pencapaian perkembangan prilaku atau kepribadian manusia ,yaitu masa
Pranatal,Postnatal,Masa Bayi,Masa anak ,Masa prasekolah,Masa sekolah,Masa Remaja.
Pada masa prasekolah ,anak mengalami proses perubahan dalam pola makan dimana umumnya
mengalami kesulitan untuk makan . Disamping itu juga terjadi perkembangan Kognitif dan
Psikososial.Sebagai Contoh ,Apabila Suatu saat dihadapkan pada masalah yang menimpa diri
anak-anak ini , Ada kecenderungan Untuk mempertanyakan hal-hal sebagai berukut : apa yang
sebenarnya terjadi pada anak ini?, Mengapa ia berbuat demikian ?, dsb .
Berdasarkan uraian diatas , Penulis mencoba sedikit Memberikan uraian tentang perkembangan
prilaku atau keperibadian manusia masa Prasekolah.

1.2 Perumusan Masalah


1. Apa pengetian Perkembangn dan Kepribadian ?
2. Apa saja ciri perkembang prilaku Atau kepribadian Manusia Masa Presekolah?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui perkembangan dan keperibadian
2. Untuk mengetahui Ciri perkembangan Prilaku atau kepribadian manusia pada masa
prasekolah
1.4 Metode Penulisan Pada penulisan makalah yang berjudul Perkembangan prilaku dan
Kepribadian manusia Masa Prasekolah penulis menggunakan metode Pustaka yaitu dengan
Literatur-literatur yang berhubungan dengan makalah ini.

1.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
A.Definisi perkembangan kepribadian
Perkembangan ialah perubahan-perubahan psikofisik sebagai hasil dari proses pematangan
fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak, ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar
dalam pasage waktu tertentu, Menuju kedewasaan (1995:21).
Kepribadian , Bagi bangsa Roma ,Persona Berrarti bagaimana seorang tampil pada orang lain ,
Bukan diri sebenarnya . (1976:236)
Beberapa ciri kepribadian dipelajari dengan cara Coba ralat .Jika misalnya anak lebih banyak
belajar dari hal yang kebetulan ketimbang dari meniru atau ajaran langsung bahwa agresifitas
dalam situasi frustasi menghasilkan persetujuan teman sebaya dan memuaskan kebutuhan
mereka, Mereka akan mengulangi prilaku agresif itu bilamana situasi yang serupa timbul . Lama
kelamaan hal ini akan berkembang menjadi metode karakteristik untuk penyesuaian terhadap
frustasi dan anak mulai dikenal sebagai Anak yang agresif.(1976:239)
B.Tahapan Perkembang Prilaku dan Kepribadian Manusia.
1. Masa Pralahir(Pranatal)
Merupakan masa yang berlangsung sejak konsepsi (bertemunya sel telur dan sperma) sampai
anak lahir.Masa ini cukup penting karena pada saat inilah terbentuknya potensi-potensi
manusia ,Potensi mana berpengaruh pada perkebangan selanjutnya.
Beberapa hal penting pada masa Pralahir yang mempengaruhi perkembangan seseorang antara
lain:
GIZI, jika ibu hamil kekurang gizi ,akan mengakibatkan berat badan lahir bayi rendah dan
perkembangan yang buruk.

2.
Perangsangan, Janin telah menunjukkan reaksi terhadap berbagai perangsanga
seperti,peradapan,Tekanan,Perubaha suhu,Suara,Penyinaran,Obat-Obatan atau rangsang kimia .
Emosi Ibu,Misalnya jika ibu.Mengalami ketegang karena Keadaan ekonomi sehingga terjadi
gerakan bayi yang melingkat dan adanya unsur kecemasan dalam diri si IBU dapat
mempengaruhi kelancaran dari proses melahirkan itu sendiri
Penyakit, Penyakit yang dapat membahayakan janin ,seperti Rubella,Syipilis,TBC,Malaria dan
lain-lain.
Usia IBU, Usia antara 20-30 dikatakan ideal untuk mengandung
2. Masa Bayi(usia 0-2th)
Masa ini banyak disebut sebut sebagai berlangsung dari saatr bayi lahir sampai berumur 2 th
.Beberapa ciri yang merupakan manifestasi dari adanya proses perkembang pada bayi:
1. Adanya perkembang fisik,yan ditunjukan dari bertambahnya ukuran ,panjang ,dan Berat
badan bayi
2. Perkembang Motorik,Seperti adanya respon bayi terhadap rangsang berupa gerakan
seluruh tubuh dan Reflek. Contoh,Mengangkat kepala ,dada
telungkup,Merangkak,Duduk,Berdiri,jalan dan seterusnya .
3. Perkembangan Befikir (Kognitif) Pada bayi ditandai oleh persyaratan rasa ingin tahu .
4. perkembang emosi dan sosial , Seperti tidur nyenyak ,Berceloteh,Tertawa.

3.

3. Masa anak prasekolah


Masa ini disebut juga masa anak-anak awal ,terbentang antara umur 2-6 th. beberapa ciri
perkembangan pada masa ini adalah :
a) Perkembangan Motorik : Dengan bertambah matangnya Perkembangan otak yang
mengatur sistem saraf-saraf otot (neuromuskular) memungkinkan anak-anak usia ini lebih lincah
dan aktif bergerak .(1983:7-11) Pada perkembangn motorik kasak diawali dengan kemampuan
untuk berdiri satu kali selam 1-5 detik , Melompat dengan satu kaki,Berjalan dengan tumit dan
berjalan dengan
b) bantuan.Perkembang motorik halus Mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari-jari
kaki ,Menggambar dua atau tiga bagian , Mampu menjepit benda , melambaikan tangan ,Makan
sendiri ,Minum dari cangkir dengan bantuan , Makan dengan jari, Membuat coretan diatas kertas
.
c) Perkembang Kognitif , Sudah mulai menunjukkan perkembang dan anak sudah
mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah dan tampak sekali kemampuan anak belum mampu
menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat dan anak membutuhkan pengalaman belajar
dengan lingkungan dan orang tuanya .(2005:25-36)
d) Perkembangan Komunikasi , Perkembangan komunikasi Pada usia ini dapat ditunjukkan
dengan perkembangn bahasa anak dengan kemampuan anak sudah mampu memahami kuarang
lebih 10 kata , Pada tahun kedua sudah mampu 200-300 kata dan masih terdengan kata-kata
ulangan. Pada usia 3 tahun anak sudah mampu menguasai 900kata dan banyak kata-kata yang
digunakan seperti Apa,Mengapa,Kapan,dan Bagaimana . Perlu diingat bahwa pada usia ini anak
masih belum fasih dalam berbicara.

4.

Menurut Prof .Dr. Singgih D.Gunarsa dan Dr.Ny.Y Singgih D,Gunarsa, Ada 4 tugas yang pelu
diperhatikan pengembangan komunikasi mengenai perkembangan Bahasa dan berfikir ,yakni:
1. Mengerti pembicaraan orang lain
2. Menyusun dan menambah perbendaharaan kata
3. Menggabungkan kata menjadi kalimat
4. mengucapkan yang baik dan benar
Pada masa ini nampak seakan-akan anak haus nama dimana segala hal ditajanyakan . Dalam
segi berfikir ,Anak berada pada tahap pro operrasional egosentris .Dengan bertambahnya usia ,
Egosentris akan berkurang dan ditambah dengan berbicara anak makin lama makin mapu
menggunakan simbol-simbol .(1983:12)
# CLAM CLIKINAL LINGUISTIK and AUDITORY MILESTENOS SCALE (capute dkk
1986). Menggunakan tonggak perkembangan berbahasa masa prasekolah :

Tonggak perkembangan Usia reranata(Dalam bulan)


Mengetahui kelaminnya 30
Mengetahui nama 36
Mengetahui usia 36
Menggunakan perintah preposisi (dibawah ,diatas,dibelakang,didepan) 36
Mengidentifikasi 3 warna 36
Mengetahui apa yang ia lakukan bila lapar ,cape,Kedinginan 36
Mengikuti tiga tahapan perintah 54
Mengikuti alamat rumah 60
5.

e) Perkembangan psikologis, Pada usia 2 atau 3 tahun seorang anak mulai melihat
kemempuan- kemampuan tertentu dalam dirinya .Sikap terhadap orang lain mulai berubah
.Disatu pihak membutuhkan orang tua , Dilain pihak kekakuannya mulai tumbuh dan ingin
mengikuti kehendak kehendaknya sendiri ,Ia sering membantah , masa ini disebut juga sebagai
masa negatifitas yang pertama ,masa negatifitas tumbuh pada usia 5 sampai 6 tahun , Anak
dalam perkembangan kepribadianya selalu membutuhkan seorang tokoh untuk identifikasi
,Idemtifikasi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain . Pada anak
,Biasanya tokoh yang ingin disamai adalah ayah atau ibu .Dalam prosesnya ,Tampa disadari oleh
sang anak bisanya mengambil alih sikap-sikap ,Norma ,nilai, dan sebagainya dari tokoh
identifikasi (1998:26)
f) Perkembangn Moral , Pada masa ini anak sudah memiliki dasar dasar dari sikap-sikap
moralitas terhadap kelompoknya .Kalau sebelumnya anak diajarkan tentang apa yang benar dan
apa yang salah maka pada masa ini lebih ditunjukkan mengenai bagaimana ia harus bertingkah
laku ,Anak harus dapat merasakan akibat yang menyenangkan dari tingkah lakunya yang sesui
kelompok sosial , Demikian akibat yang tidak menyenangkan pabila ia berlaku demikian. Anak
juga mengenal suatu tindakan itu baik dari hadiah yang dijanjikan oleh orang tuanya .Artinya
anak tau tindakan itu benar jika dengan tindakan itu kebutuhanya terpuasakan. Jadi masa ini anak
dapat memperlihatkan sesuatu perbuatan yang baik ,Tapi masih tampa pengetahuan mengapa ia
harus berbuat demikian .Ia melakukan iani untuk menghindari hukuman yang mingkin akan
dialami dari lingkuangan sosial atau untuk memperoleh pujian atau untuk pemenuhan
kebutuhannya . Dengan adanya rangsangan dari orang tua untuk anak berbuat baik diharapkan
bahwa pada nak-anak tertanam nilai-nilai moral yang baik. Denagn dorongan orang tua

6.
dan usaha anak itu sendiri untuk selalu berbuat baik ,Diharapkan mulai anak mengerti ,ia sendiri
kan tau mengapa perbuatan tertentu itu dikatakan baik dan yang tidak baik dengan demikian
moralitas anak semakin berkembang.
g) Perkembang sosial ,Dunia pergaulan anak menjadi sangat luas keterampilan dan
penguasaan dalam bidang fisik ,motorik,emosi sudah lebih meningkat. Anak makin ingin
melakukan bermacam-macam kegiatan . Pada masa ini anak dihadapkan pada tuntutan sosial dan
susunan emosi baru ,Bila orang tua dan lingkungan memberi kebebasan dan kesempatan untuk
melakukan kegiatan ,Mereka mau menjawab pertanyaan anak dan tidak menghambat fantasi dan
kreasi dalam bermain ,Dalam diri anak akan berkembang inisiatif. Sebaliknya krena pada masa
ini mulai juga terpupuk kata hati ,Maka bila ajaran moral disiplin ditanamkan terlalu keras dan
kaku ,Pada anak kan timbul rasa bersalah (menurut Erikson terjadi krisis antara inisiatof dengan
rasa bersalah)(1989:12)
Arti bermain bagi anak-anak
Pada usia kanak-kanak fungsi bermain mempunyai pengaruh besar sekali bagi perkembangan
anak . Jika pada orang dewasa sebagian besar dari perbuatanya diarahkan sebagai pencapaian
tujuan dan prestasi dalam bentuk kerja,maka kegiatan anak sebagian terbentuk aktifitas bermain.
Permainan adalah kesibukan yang dipilih sendiri oleh tujuan .Sekalipun kita menyangka anak itu
Cuma bermain-main dengan rasa tak acuh saja , Namun pada hakikatnya kegiantan tadi disertai
intensitasa kesadaran , Minat penuh dan usaha yang keras ,Gerak-gerik kegiantan anak
disebabkan oleh:
1. kelebihan tenaga yang terdapat ada dirinya ,
2. Dorongan belajar guna melatih semua fungsi jasmani dan rohani.
Gerakan-gerakan bermain itu antara lain : Menerjang,memukul mukul,meyembur-
nyembur,merangkak,meluncur,melempar ,menyobek-nyobek kertas ,duduk,berdiri,berlari dan
lain-lain . Identitas gerak permainan bergantung pada besarnya tenaga anak , Terutama pada yang
kelebihan tenaganya . JIka kelebihan tenaganya berkurang maka permainan menjadi mengendor
dan akhirnya berhenti .(1995:116)
7.
4. Masa anak sekolah (umur 6-12 th)
Banyak ahli menganggap masa ini sebagai masa tenang atau masa laten dimana apa yang telah
terjadi dab di pupuk pada masa sebelumya akan berlangsung terus untuk masa masa selanjutnya
.
tahap usia ini disebut sebagai usia kelompok dimana anak mulai perhatian dan hubungan intim
dalamk keluarga kerja sama dalam teman dan sikap terhadap kerja ataupun beklajar.
Dengan memasuki SD salah satu yang penting yang perlu dimiliki anak adalah kematangan
sekolah tidak saja mengikuti kecerdasan dan keterampilan motorik ,Bahasa , Tetapi juga hal lain
seperti dapat menerima otoritas tokoh lain diluar orang tuanya .Kesadaran akan tugas ,Patuh
terhadap peraturan dan dapat mengendalikan emosi-emosinya . Beberapa keterampilan yang
perlu dimiliki anak pada fase ini meliputi antara lain :
1. Keterampilan menolong diri sendiri , Makan ,dandan , mandi
2. Keterampilan bantuan sosial ;anak mampu dalam tugas-tugas rumah tangga ,seerti
nyapu,membersihkan rumah ,mencuci dan sebagainya
3. Keterampilan sekolah : Meliputi penguasaan dalam hal akademik dan non akademik
misalnya mengarang,matematika,menyanyi,melukis,dan sebagainya .
4. Keterampilan bermain ;meliputi keterampilan dalam berbagai jenis permainan seperti
mengendarai sepeda ,sepatu roda ,catur,Bulu tangkisdan lain-lain(1989:13-14)

5. Masa Remaja
Masa remaja dikenal sebagai sebagi masa yang kesukaran ,Bukan saja kesukaran individu yang
bersangkutan Tetapi juga pada orang tuanya ,masyarakatbahkan pada aparat keamanan .Hal ini
disebabkan karena transisi antara anak-anak dan dewasa .Masa ini sering di hadapkan suatu yang
membingungkan ,Disatu pihak ia masih anak anak dilain pihak ia harus seperti orang dewasa .
situasi ini seperti menyebabkan prilaku aneh canggung kalu tidak terkontrol akan menjadi suatu
kenakalan . Dalam usaha mencari
8.
identitas diri sendiri ,Seorang remaja sering membantah oaring tuanya kareana ia mempunyai
pendapat-pendapat sendiri ,Cita-cita serta nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan orang tuanya
.Perbedaan pendapat dan nilai-nilai antara remaja dan orang tuanya menyebabkan remaja tidak
selau mau menurut pada orang tuanya .
Tingkatan-tingkatan perkembangan dalam masa remaja dapat berbagi dalam berbagai cara ,
Salah sarunya pembagian yang dilukan oleh STOLZ adalah sebagai berikut :
a) Masa Prepuber : Satu atau dua tahun sebelum remaja ,Anak menjadi gemuk pertumbuhan
tinggi terhambat sementara .
b) Masa puber : perubahan-perubahan sangat nyata dan cepat anak wanita lebih cepat
memasuki masa ini dari pada pria ,Masa ini lamanya berkisar antara 2,5-3,5 th
c) Masa Postpuber : pertumbuhan yang cepat sudah berlalu tetapi perubahan-perubahan
tetap berlangsung pada beberapa bagian badan.
d) Masa akhir puber : Melanjutkan perkembangan sampai mencapai tanda-tanda
kedewasaan.
6. Masa Dewasa
Memasuki alam kedewasaan ,Seorang laki-laki harus mempersiapkan diri untuk dapat hidup dan
menghidupi keluarganya .Sedangkan kaum wanita mempersiapkan diri untuk berumah tangga
menjadi Istri dan seorang ibu . Laki-laki lebih agresif dan dominan , Sedangkan wanita lebih
pasif dan submitif. Tingkah lakunya pria lebih kasar dan wanita lebih halus .

C. PERKEMBANGAN PRILAKU DAN KEPRIBADIAN MANUSIA MASA


PRASEKOLAH MENRUT ERIKSON
Menurut Erikson ada banyak perkembangan penting pada fase ini ,Yakni : identifikasi terhadap
orang tua(Opdipus komplek) ,Mengembangkan gerakan tubuh ,Keterampilan bahasa ,rasa ingin
tahu ,imajinasai dan kemampuan menentukan tujuan. Ada beberapa pengaruh menurut erikson
yaitu : Aspek Psikoseksual,Konflik

9.
psikososial,Virtue(Tujuan-sengaja),Rituali sasi ritualisme(Dramatik versus impersonasi)
a) Aspek Psikoseksual(perkelamianan-Gerakan),Opdipus komplek adalah drama yang
dimainkan dalam imajenasi anak ,yamg tujuan utamanya adalah memahami berdagai
konsepdasar seperti Reproduksi,pertumbuhan,Masa depan,Kematian. Aktifitas genetal pada usia
ini diikuti dengan peningkatan fasilitas untuk bergerak ,Anak bisa bergerak dengan mudah
berlari,meloncat,memanjat,tampa harus berusaha serius .Dimana permainan mereka
menunjukkan inisiatif dan imajenasi.
b) Konflik Psikososial (Inisiatif fersus perasaan Berdosa ),Ketika anak sudah bisa berderak
dan berkeliling dengan mudah dan semangat dan minat seksualnya muncul , Mereka memakai
cara untuk memahami lingkungan .Inisiatif dipakai untuk memilih dan mengerjakan berbagai
tujuan . Tujuan yang harus dihambat akan menmimbulkan rasa berdosa .Konflik antara inisiatif
dan berdosa menjadi krisis psikososial yang dominant pada usia ini .
c) Virtue(tujuan-sengaja) , Konflik antara inisiatif dengan bedosa menghasilkan kekuatan
dasar. Anak ini kini bermain dengan tujuan ,Terutama permainan kompetisi dan mengejar
kemenangan .
d) Ritualisasi-Ritualisme(Dramatik Versus impersonasi) , Tahap ini dipenuhi dengan fantasi
anak ,menjadi ayah ,ibu,menjadi karakter baik untuk mengalahkan penjahat ,Mereka berinteraksi
dengan menggunakan fantasinya . Dramatik mendorong orang untuk berinteraksi sesui dengan
peran yang diharapkan masyarakat ,Tampa menimbulkan perasaan berdosa pada diri mereka
sendiri.

D. PERKEMBANGAN PRILAKU DAN KEPRIBADIAN MANUSIA MASA


PRASEKOLAH MENRUT SULLLIVAN
Tahap ini dimulai dengan perkembangn bicara dan belajar berfikir sintaksis , Serta perluasan
kebutuhan untuk bergaul kelompok sebaya . Anak mulai belajar
10.
menyembunyikan aspek tingkah laku yang dinyakininya dapat menimbulkan kecemasan atau
hikuman. Misalnya mereka belajar membuat alasan palsu . Mereka memiliki tampilan seolah-
olah (as if formance),Yakni :
1. Dramatisasi : Permainan peran seolah-olah orang dewasa ,Belajar mengidentifikasi diri
dengan orang tuanya ,Bagaimana bertingkah laku yang dapat diterima .Misalnya ,Anak berperan
sebagai orang tuanya dan menghukum boneka yang bertingkah laku yang dikehendakinya .
2. Bergaya sibuk : Anak belajar berkonsentrasi pada satu kegiatan yang membuat mereka
menghindari sesuatu yang menekan dirinya .Misalanya anak mencoba menghindar dari
kecemasan mendapat komentar secara pedas orang tuanya ,Dengan menyibukkan diri dengan
koleksi Musiknya .
3. Tranformasi jahat : Tranformasi jahat Perasaan bahwa hidupnya ditengah-tengah
musuh ,Sehingga hidupnya penuh rasa kecurigaan dan ketidak percayaan samapi tingkah laku
yang paranoid.Ini terjadi karena dramatisasi dan bergaya sibuk yang kalau dipakai sekedarnya
dapat membantu anak tumbuh dan berkembang.Dipakai secara berlebihan ketika anak
dihadapkan pad kecemasan yang sangat ,Untuk mempertahankan diri dari bahaya terlibat dengan
orang lain.
4. Sublimasi Taka sadar : Mengganti sesuatu atu aktifitas yang dapat menimbulkan
kecemasan dengan aktifitas yang dapat diterima secara sosial .
Masa anak ditandai dengan emosai yang timbala balik ,Anak disamping menerima juga bisa
memberi kasih sayang .Hubungannnya dengan ibi jadi lebih pribadi dan tidak lagi searah .Ibu
dinilai lagi ibu baik Ibu buruk berdasarkan pemberian makanan tetapi anak mengevaluasi secara
sintaksis sesui dengn apakah ibu menunjukkan perasaan kasih sayang timbal balik.
Mengembangkan hubungan berdasarkan kepada kebutuhan kepuasan bersama .Masa anak juga
ditandai dengan akulturasi yang cepat . Disamping menguasai bahasa ,anak belajar pola kultural
dalam kebersihan.

11.
E. BEBERAPA TEORI PRILAKU
a. Teori Insting
Teori ini dikemukakan oleh MeDouggal sebagai pelipor dari psikologi sosial , Menurutnya :
Prilaku itu disebabkan oleh insting .dan Meodugall mengajukan satu daftar insting .insting
merupkan prilaku yang bawaan ,dan inring akan mengalami perubahan karena mengalami
perubahan .
b. Teori dorongan
Teori ini dikemukakan Oleh Hull : Teori ini bertitik tolak pada pandangna bahwa organisme itu
mempunyai dorongan. Dorngan ini berkaitan dengan kebutuhan organisme yang mendorong
organisme berprilaku.Bila organisme berprilaku dan memenuhi kebutuhanya maka akan terjadi
pengurangan .
c. Teori Insentif
Teori ini bertitik tolak pada pendapat bahwa prilaku organisme disebabkan karena
Insentif.Dengan adanya dorongan ornisme berbuat atau berprilaku.Insentif atau juga disebut
reinforcement ada yang positif(hadiah) ada yang negatif(Hukuman) .
d. Teori atribusi
Teori ini dikemukan oleh Fritz Heider : Teori ini menjelaskan tentang sebab-sebab apakah
prilaku itu disebabkan oleh disposisi internal yang meliputi motif dan sikap ,atukah disposisi
Ekternal .
e.Teori Kognitif
Teori ini dikemukakan oleh Fishben dan Ajzen : Apabila seseorang memilih prilkau mana yang
mesti dilakukan ,Maka yang bersangkutan akan memilih alternatif prilaku yang akan membawa
mamfaat yang sebesar-besarnya bagi yang bersangkutan .

12.
BAB III
PENETUP
3.1 KESIMPULAN
1. Perkembangan Ialah perubahan perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses
pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak .Ditunjang oleh faktor lingkungan dan
proses belajar dalam waktu tertentu , menuju kedewasaan . Sedangkan kepribadian itu
bagaimana seseorang tampak pada orang lain ,Bukan pada dirinya sendiri .
2. Beberapa Ciri perkembangan atau Kepribadian manusia maa prasekolah adalah sebagai
berikut :
a. Perkembangan motorik,ada 2 perkembangan motorik yaitu perkembangan motorik
kasar,Perkembangan motorik halus .
b. Perkembangan Kognitif,Kemampuan anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan
apa yang ia lihat .
c. Perkembangan konikasi ,Kemampuan anak sudah memahami kuarang lebih 10 kata .
Mengerti pembicaraan orang lain . Menyusun dan menembah pembendaharaan
kata.Menggabungkan kata menjadi kaliamat.Mengucapakan baik dan benar.
d. Perkembangan Psikologis,Pada usia 2atau3 tahun seoarang anak mulai melihat
kemampuan-kemempuan tertentu dalam dirinya .
e. perkembangan moral,Pada masa ini mulai mengerti dasar-dasar dari moralitas dari
kelompoknya .
f. Perkembangan sosial ,Keterampilan dan penguasaan dalam bidang fisik
,motorik,mental,emosi sudah lebih meningkat.

13.
DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa Singgih D. Prof.Dr dan Gunarsa Singgih D.Dra, 1983, Psikologi Perkembangan Anak
dan Remaja, Jakarta : PT BPK Gunung Mulia

Hidayat A.AZR Alimul, 2005 ,Pengantar Ilmu Keperawatan Anak , Surabaya : Salemba Merdeka

Hurlak Elizabeth B , 1978 , Perkembangan Anak Jilid 2 , Jilid 2 , Jakarta: Erlangga

Kartono Kartini DR , 1995, Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan ), Bandung : CV . Mandar


Maju

Lumban Tobing S.M. Prof . Dr . dr ,2006, Anak Dengan Mental Terbelakang , Jakarta : FKUI

Puewanto Heri , 1999 , Pengantar Prilaku Manusia , Jakarta : EGC


http://ruangbebas.wordpress.com/2009/11/05/perkembangan-perilaku-dan-kepribadian-manusia-
masa-prasekolah/
http://digilib.unipasby.ac.id/files/disk1/4/gdlhub--ujangrohma-165-1-ujangro-n.pdf

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Hubungan antara perkembangan sosial emosional pada anak usia dini cukup kuat dengan
berbagai kegiatan yang terkait dalam kehidupannya. Secara umum positif negatif
perkembangan emosi sosial anak akan mempengaruhi tinggi rendahnya kadar aktivitas yang
akan dilakukan oleh anak dalam kehidupannya. Reaksi dari emosi seorang anak membantu
penyiapan proses kondisi tubuhnya ( fisik, mental, psikologis) untuk melakukan tindakan.
Semakin kuat emosi memberikan tekanan, akan semakin kuat mengguncangkan keseimbangan
tubuh menuju tindakan tertentu. Jika kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan tuntutan emosi
maka kegiatan yang dilakukan akan berpengaruh. Hasilnya kegiatan yang dilakukan menjadi
lebih pendek, motivasinya rendah bahkan mungkin keinginan menarik diri dari aktivitas yang
dilakukannya akan menjadi kuat. Akibatnya kemampuan mental anak tidak berfungsi secara baik
untuk mengingat dan berkonsentrasi serta tidak mampu bekerja optimal sesuai tuntutan yang
diharapkan. Jika kegiatan sesuai emosinya, maka anak akan senang melakukannya dan secara
mental akan meningkatkan konsentrasi pada aktivitas mengingatnya, serta secara psikologis akan
positif memberikan sumbangan pada peningkatan motivasi dan minat pada kegiatan yang sedang
dilakukannya. Hasilnya anak dapat beraktivitas dengan durasi lebih lama. Kemampuan mental
anak akan berfungsi secara baik.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana mengenali sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan anak?


2. Bagaimana bentuk hubungan sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan?
3. Bagaimana hubungan sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan?

C. Tujuan Pembahasan

1. Mengenali sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan anak?


2. Mengetahui bentuk hubungan sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan?
3. Mengetahui hubungan sosial emosional dengan aktivitas dan kehidupan?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Mengenali Sosial Emosional dengan Aktivitas dan Kehidupan Anak

Emosi merupakan salah satu aspek perkembangan yang melekat pada diri anak-anak. Kondisi
emosi itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu : positif, misal gembira dan
negatif, misal sedih. Konsep emosi cukup penting bila dikaitkan dengan fungsinya dalam
hubungan interpersonal. Dalam hal ini, ekspresi emosi akan menjadi fasilitasi bagi seorang anak
untuk dapat mengungkapkan perasaannya, perilakunya, serta keinginan-keinginannya.
Emosi memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan anak, baik pada usia
prasekolah maupun pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya, karena memiliki pengaruh
terhadap perilaku anak. Woolfson, 2005:8 menyebutkan bahwa anak memiliki kebutuhan
emosional, yaitu :
a)Dicintai, b)Dihargai, c) Merasa aman, c) Merasa kompeten, d)Mengoptimalkan kompetensi
Apabila kebutuhan emosi ini dapat dipenuhi akan meningkatkan kemampuan anak dalam
mengelola emosi, terutama yang bersifat negatif.Anak mengkomunikasikan emosi melalui
verbal, gerakan dan bahasa tubuh. Bahasa tubuh ini perlu kita cermati karena bersifat spontan
dan seringkali dilakukan tanpa sadar. Dengan memahami bahasa tubuh inilah kita dapat
memahami pikiran, ide, tingkah laku serta perasaan anak. Bahasa tubuh yang dapat diamati
antara lain :
a)Ekspresi wajah, b)Napas, c)Ruang gerak, d)Pergerakan tangan dan lengan
Titik penting emosi mempengaruhi berbagai perasaan seseorang dalam kehidupannya, baik
perasaan menyenangkan maupun tidak menyenangkan karena emosi dapat membawa seseorang
pada suatu yang berlawanan. Titik titik pertentangan tersebutlah yang pada akhirnya membawa
anak pada suatu tindakan, baik dalam konteks sosialisasi maupun dalam kegiatan lainnya
( menjadi bermakna atau tidak bagi anak).
Efek negatif jika kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan tuntutan emosi maka kegiatan
yang dilakukan akan berpengaruh. Hasilnya kegiatan yang dilakukan menjadi lebih pendek,
motivasinya rendah bahkan mungkin keinginan menarik diri dari aktivitas yang dilakukannya
akan menjadi kuat. Akibatnya kemampuan mental anak tidak berfungsi secara baik untuk
mengingat dan berkonsentrasi serta tidak mampu bekerja optimal sesuai tuntutan yang
diharapkan.
Efek positif jika kegiatan sesuai emosinya, maka anak akan senang melakukannya dan secara
mental akan meningkatkan konsentrasi pada aktivitas mengingatnya, serta secara psikologis akan
positif memberikan sumbangan pada peningkatan motivasi dan minat pada kegiatan yang sedang
dilakukannya. Hasilnya anak dapat beraktivitas dengan durasi lebih lama. Bagaimana seorang
guru atau orang tua dapat mengenali dengan cepat dan akurat fenomena emosi seorang anak agar
tidak berdampak buruk dalam kehidupannya? Seorang guru harus memiliki kemempuan
mengenali fenomena emosi anak didiknya. Jika seorang guru menemukan anak didiknya yang
selalu bersemangat ke sekolah, tiba tiba menjadi tidak bersemangat, segera tanyakan pada anak
kenapa tidak bersemangat, lihat proses belajarnya di kelas, lihat dan teliti hasil belajarnya.
Kecepatan guru mengenali dan menemukan berbagai gejala emosi sebagai penyebab akan
membantu anak untuk mengembalikan pada keadaan yang semestinya, tetapi jika sebalinya, akan
menyebabkan hal yang fatal. Kemampuan anak mengendalikan emosi masih terbatas. Akhir dari
pertentangan emosi biasanya anak akan memilih dan bergerak pada pemenuhan emosi yang
dianggapnya paling dapat memenuhi emosinya saja ( Hurlock, 1997 ) dan tentu akibatnya
menjadi fatal dan membawa kerusakan pada anak.
Cara yang paling umum untuk mengenali emosi anak adalah dengan mendekatkan diri pada anak
dan aktivitasnya. Akan lebih baik bila kita menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan anak.
Namun demikian guru dan orang tua agar dapat mengenali fenomena emosi anak, perlu
didukung oleh kemampuan khusus, diantaranya sebagai berikut :
a. kemampuan mendekati anak dalam keadaan apapun
b. kemampuan mengamati mengobservasi berbagai karakter emosi dan perilaku sosial anak,
terutama yang diekspresikan melalui aktivitas , sikap dan tindakan tindakannya.
c. kemampuan dan keterampilan dalam merekam, mencatat dan membuat prediksi prediksi
tentang perbuatan apa yang akan menyertainya. Penanganan seharusnya tidak ditunda.
d. untuk mendukung kemampuan diatas, sebaiknya guru atau orang tua bersifat objektif,
bertindak sesuai kadar dan tingkatan ekspresi yang ditampilkan anak. Guru atau orang tua harus
mampu menjaga perlakuan yang adil dan bijaksana terhadap semua anak sehingga tidak
menimbulkan perilaku emosi dan sosial yang lebih kompleks pada anak anak.

B. Bentuk Hubungan Sosial Emosional dengan Aktivitas dan Kehidupan

Gambaran tentang pola atau bentuk hubungan dan pengaruh emosi terhadap kehidupan anak,
khususnya anak prasekolah dapat digambarkan melalui ilustrasi berikut
Pertama, emosi yang melekat pada seorang anak dapat mewarnai pandangannya terhadap
kehidupan dan pandangannya terhadap lingkungan dan dimensi dimensinya. Cara cara anak
melihat perannya dalam kehidupan dan kedudukannya dalam kelompok sosial sangat
dipengaruhi oleh emosi yang dimilikinya. Persepsi tentang rasa malu, takut, agresif, ingin tahu
atau bahagia, dan sebagainya mengikuti pola tertentu sesuai dengan pola yang berkembang
dalam kelompok sosial dan kehidupannya. Dengan demikian, kita dapat menemukan berbagai
reaksi dan ekspresi yang beragam dari setiap anak bergantung lingkungan sebelumnya.
Kedua, emosi akan sangat mempengaruhi interaksi sosial seorang anak. Semua emosi baik yang
menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, mendorong terjadinya interaksi sosial.
Melalui emosi, anak belajar mengubah perilaku agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan
dan ukuran sosial. Bentuk bentuk emosi akan menentukan bentuk bentuk perilaku sosial
seorang anak.
Ketiga, reaksi emosional apabila dilakukan berulang ulang akan berkembang menjadi suatu
kebiasaan. Setiap ekspresi emosi yang memuaskan anak akan dilakukan berulang ulang, dan
pada suatu saat tertentu akan berkembang menjadi kebiasaan. Makna dari pola hubungan
tersebut adalah jangan sampai ada suatu reaksi emosi yang negatif pada seorang anak yang terus
berkembang tanpa ada yang mengontrol atau meluruskannya. Jika hal itu terjadi, dikemudian
hari akan sulit mengembalikan anak pada keadaan yang normal atau sesuai dengan tuntutan
orang dewasa. Membiarkan suatu reaksi emosi yang negatif mengiringi pertumbuhan anak akan
berakibat menjadi suatu kebiasaan yang buruk sehingga sulit untuk mengubahnya karena sudah
mengkarakter dan melekat kuat pada diri anak.
Secara lebih khusus , Syamsu Yusuf ( 2001 ) menyatakan bahwa perubahan emosi akan
mengakibatkan beberapa perilaku tertentu, diantaranya sebagai berikut :
a. memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas dengan hasil yang telah dicapai
b. melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari
keadaan ini ialah timbulnya putus asa
c. menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan
emosi bisa menimbulkan sikap gugup dan gagap dalam berbicara
d. mengganggu dalam penyesuaian sosial. Apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati
e. suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan memengaruhi
sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

Bentuk bentuk hubungan sosial emosional dengan fisik, mental dan psikologis :
- kemampuan sosial emosional anak ternyata sangat erat kaitannya dengan perkembangan fisik
dan mental sangat erat kaitannya dengan perkembangan fisik dan mental
- salah satu gambaran proses dan hasil penelitian tentang pengaruh perubahan emosi terhadap
perubahan fisik (jasmani) individu dapat di peroleh berdasarkan penelitian yang dilakukan conan
(syamsu yusuf)
- menurut penelitian conan menunjukkan bahwa perkembangan emosi dan perubahan yang nyata
akan berpengaruh atau menyebabkan perubahan pada berbagai dimensi fisik.
- Pengaruh emosi terhadap perubahan fisik
Jenis emosi
Perubahan fisik
1. Tepesona
Reaksi elektris pada kulit
2. Marah
Peredaraan darah bertambah cepat
3. Terkejut
Denyut jantung bertambah cepat
4. Kecewa
Bernapas panjang
5. Sakit / marah
Pupil mata membesar
6. Takut / tegang
Air liur mengering
7. Takut
Berdiri bulu roma . Tegang
8. Pencernaan terganggu otot otot menegang
Pengaruh emosi pada fisik mental seseorang akan membawa pada melemahnya kemampuan
mengingat. Hubungan dan pengaruh dan perkembangan sosial emosional terhadap
perkembangan fisik, mental, individu khususnya anak. Secara tunggal maupun perilaku emosi
yang menyatu dengan perkembangan sosial dan perkembangan lainnya

C. Mengarahkan Hubungan Sosial Emosional dengan Aktivitas dan Kehidupan


Cara yang biasanya dilakukan seseorang untuk bereaksi sebagian besar bergantung pada faktor
yang memberikan kepuasan padanya, pada perilaku yang dapat diterima secara sosial, dan pada
perilaku yang tidak menimbulkan penolakan dari orang orang yang berarti baginya. Dengan
demikian, agar setiap anak memenuhi pernyataan di atas secara positif maka persiapan fisik,
mental, dan psikologis untuk bertindak sesuai dengan cara yang memenuhi kriteria di atas. Pada
tingkatan anak prasekolah hal ini menjadi sangat penting karena mereka berada pada periode
yang masih tinggi fleksibelitasnya. Tugas orang tua dan guru adalah mengarahkan emosi anak ke
pola hubungan yang bersifat positif, artinya yang dapat mengembangkan emosi anak ke arah
keterampilan sosial untuk beraktivitas mengisi kehidupannya menjadi lebih sempurna dan
diterima oleh lingkungan sosialnya. Lebih khusus lagi guru hendaknya bisa mengarahkan semua
anak belajar tentang cara menyalurkan energi emosionalnya yang berlebihan agar mereka tidak
menderita kerusakan fisik dan psikologis terlalu besar apabila sewaktu waktu diperlukan
pengendalian emosi. Tindakan guru atau orang tua menyalurkan energi emosional anak secara
tepat diantaranya sebagai berikut :
a. membantu menyibukkan diri anak dalam kegiatan sehari hari, baik dengan bermain maupun
bekerja
b. membantu menjalin hubungan emosional yang akrab, paling tidak dengan salah seorang
anggota keluarga. Orang tua dapat membantu anak mengembangkan pandangan yang lebih
matang terhadap masalah mereka
c membantu menemukan seorang teman yang bisa menjadi akrab untuk anak menceritakan
kesulitan dan mengadu. Dapat juga membantu agar anak bersedia menceritakan masalahnya
dengan seseorang yang dianggapnya bersikap simpatik.
d. membantu anak mengenali dirinya, termasuk pentingnya tertawa, humor, tersenyum juga
termasuk memiliki rasa takut

Kunci utama cara membantu atau mengarahkan anak adalah dengan memberikan kasih sayang
dengan benar. Jika tidak, maka akan timbul akibat akibat sebagai berikut :
a. terhadap perkembangan bahasa, yakni perkembangan bahasa terhambat, anak sering
mangalami gangguan bicara, misalnya gagap
b. terhadap kemampuan bergaul atau bersosialisasi, bereaksi secara negatif terhadap pendekatan
orang lain , sukar di ajak kerja sama dan bersikap memusuhi. Mereka merasa tidak pandai dan
memperlihatkan kekesalan dengan perilaku agresif, tidak patuh dan bentuk perilaku antisosial
lainnya
c. terhadap kepribadian, kelaparan kasih sayang, cenderung mengarahkan perhatian pada diri
sendiri, menaruh perhatian kecil pada orang lain, mementingkan diri sendiri, dan suka menuntut.

Dampaknya bisa berjangka panjang dan berlangsung lama, dan cenderung menimbulkan
malasuai (maladjustment) apabila disertai kondisi lain yang tidak menyenangkan , misalnya
menjadi hidup tidak bahagia. Begitu pula jika terlalu berlebihan memberikan kasih sayang,
akibatnya akan menghalangi penerimaan mereka sebagai teman , anak tidak menaruh minat pada
orang lain dan sedikit saja menaruh kasih sayang kepada mereka. Hal ini, akan mendorong anak
memusatkan kasih sayang secara mencolok pada satu atau dua orang saja. Akibatnya anak akan
merasa cemas dan tidak tenteram apabila orang orang itu tidak ada atau apabila perilaku
mereka pada suatu saat mengesankan bahwa hubungan mereka terancam. Keadaan itu akan
menimbulkan perasaan sunyi dan tersiksa karena kesal terhadap kegembiraan yang dialami
teman sebayanya.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Cara yang paling umum untuk mengenali emosi anak adalah dengan mendekatkan diri pada
anak dan aktivitasnya. Akan lebih baik bila kita menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan
anak.
Gambaran tentang pola atau bentuk hubungan dan pengaruh emosi terhadap kehidupan anak.
Pertama, emosi mewarnai pandangan anak terhadap dimensi kehidupan. Persepsi tentang rasa
malu, takut, agresif, ingin tahu atau bahagia, dan sebagainya mengikuti pola tertentu sesuai
dengan pola yang berkembang dalam kelompok sosial dan kehidupannya. Kedua, emosi
mempengaruhi interaksi sosial. Melalui emosi anak belajar cara mengubah perilaku agar dapat
menyesuaikan diri dengan tuntutan dan ukuran sosial. Ketiga , reaksi emosional apabila diulang
ulang akan berkembang menjadi suatu kebiasaan. Tugas orang tua dan guru adalah
mengarahkan emosi anak ke pola hubungan yang bersifat positif, artinya yang dapat
mengembangkan emosi anak ke arah keterampilan sosial untuk beraktivitas mengisi
kehidupannya menjadi lebih sempurna dan diterima oleh lingkungan sosialnya.

B. SARAN

Kepada para pembaca kami menyarankan agar lebih banyak membaca buku yang berkaitan
dengan hubungan sosial emosional anak dengan aktivitas dan kehidupannya agar semakin
memahami dan dapat memberi masukan pada makalah yang kami susun.

DARTAR PUSTAKA

Nugraha, A. & Rachmawati, Yeni.(2006).Metode Pengembangan Sosial


Emosional. Jakarta: Uviversitas Terbuka.

http://www.scribd.com/doc/21281354/PENGEMBANGAN-SOSIAL-
EMOSIONAL

http://www.bppnfi-reg4.net/index.php/perkembangan-emosi-anak.html

http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/04/sosio-emosional-aspek-yang-
melekat-pada-anak/
http://hantsui.blogspot.com/2012/05/keterkaitan-sosial-emosional-anak.html?m=1
Anak Usia Dini
Sepanjang hidup manusia, mulai masih dalam kandungan , dilahirkan, dan kemudian sampai tua
memproleh sebutan yang berganti-ganti.[1] Pergantian sebutan didasarkan pada usianya, dan
merupakan fase-fase dalam perkembangan yang dilewati. Menurut Sugiyanto dan Sudjarwo
(1991) secara garis besar ada 5 fase perkembangan dalm hidup manusia:

Fase Prenatal (sebelum lahir.[1]


Fase Infant (bayi), yaitu fase perkembangan mulai lahir sampai umur 1-2 tahun. Mulai lahir
sampai 4 minggu merupakan fase kelahiran atau neonatal.[1]
Fase Childhood (anak-anak), adalah fase perkembangan mulai umur 1atau 2 tahun sampai 10-12
tahun, fase ini diklasifikasikan lagi menjadi dua, yaitu early childhood (anak kecil) antara 1-6
tahun, dan later childhood (anak besar) antara 6-12 tahun.[1]
Anak Usia Dini oleh Beeker dikelompokkan pada anak yang berusia antara 3-6 tahun, anak
usia tersebut biasanya mengikuti program pendidikan dini atau kindergarten.[1] Dalam
bukunya,Soemiarti (2003), menyebutnya anak prasekolah, yang di Indonesia biasanya mengikuti
program di Tempat Penitipan Anak, Pendidikan anak usia dini, dan Taman Kanak-kanak.[2]
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_anak_usia_dini