Anda di halaman 1dari 18

i

MAKALAH BAHAN PAKAN ALTERNATIF

POTENSI DAN PEMANFAATAN AMPAS BEER

KELAS A

KELOMPOK 4

SANTI AGUSTINI 200110140124

IMAN KUSUMA W. 200110140126

AI SOFI FITRIANI 200110140130

RISNA ROSDIANA 200110140139

BUBUN 200110140148

SAIFUL 200110140293

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
i
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah penyusun panjatkan kehadirat Allah Subhanahu

wa Taala yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun

dapat menyelesaikan makalah Potensi dan Pemanfaatan Ampas Beer. Penulisan

makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah bahan pakan alternatif.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna sehingga penulis

membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan

pendidikan di masa yang akan datang.

Selama penyusunan dan penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan,

bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Penyusun menyampaikan ucapan

terima kasih kepada anggota kelompok 4 bahan pakan alternatif atas kerjasama

dan saran-saran yang diberikan.

Sumedang, November 2017

Penyusun

ii
iii

DAFTAR ISI

Bab Halaman
KATA PENGANTAR ........................................................... ii

DAFTAR ISI .......................................................................... iii

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................. 1
1.2 Identifikasi Masalah .................................................... 2
1.3 Kegunaan Penulisan .................................................... 2

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Produksi Ampas Beer ................................................... 3
2.2 Potensi Ampas Beer ..................................................... 4
2.3 Kandungan Ampas Beer ............................................... 4
2.4 Pengolahan Ampas Beer............................................... 5
2.5 Batasan Penggunaan Ampas Beer ................................ 5

III PEMBAHASAN JURNAL

IV KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan ................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 10

iii
1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kebutuhan bahan pakan asal ternak semakin meningkat sejalan dengan
peningkatan jumlah penduduk, tingkat kesejahteraan dan pendidikan.
Kebutuhan ini dapat dipenuhi dari produk peternakan yang berupa daging,
telur maupun susu. Untuk memenuhi permintaan tersebut, perlu upaya
peningkatan produktivitas ternak, termasuk ternak domba sebagai salah satu
jenis ternak penghasil daging. Produktivitas ternak domba dipengaruhi oleh
faktor pakan, dan pada dasarnya pakan utama ternak domba adalah hijauan.
Salah satu jenis hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan utama adalah
rumput lapangan. Sebagai pakan ternak, rumput lapangan menguntungkan
karena sangat disukai oleh domba. Di samping itu, rumput mudah diperoleh
karena memiliki kemampuantumbuh yang tinggi terutama di daerah tropis
meskipun sering dipotong atau disenggut oleh ternak (Kartadisastra, 1997).
Pemberian pakan yang hanya berupa hijauan saja tidak akan mampu
memenuhi kebutuhan nutrien domba, sehingga perlu ditambahkan pakan
penguat yang dapat mencukupi kebutuhan domba. Konsentrat merupakan
pakan penguat yang diberikan untuk melengkapi kebutuhan nutrien yang ada
dalam pakan utama yaitu hijauan. Konsentrat mempunyai kandungan energi,
protein dan lemak yang relatif tinggi dengan kandungan serat kasar yang
relatif lebih rendah daripada hijauan (Williamson dan Payne, 1993).
Menurut Murtidjo (1993) bahwa bekatul sebagai salah satu penyusun
konsentrat ketersediaanya tidak kontinyu. Oleh karena itu, perlu dicari pakan
alternatif yang ketersediaannya kontinyu dan kandungan nutrien yang cukup
baik dalam penyusunan ransum domba, salah satu diantaranya adalah ampas
bir.

1
2

Ampas bir merupakan salah satu limbah industri pembuatan bir yang
menggunakan bahan baku barley atau bahan lain berkadar maltosa tinggi sebagai
bahan pakan utama (Aritonang dan Silalahi, 1992). Ampas bir adalah sisa
ekstraksi malt yang berasal dari biji Barley pada proses pembuatan bir. Dalam
proses pembuatan bir, tepung dan unsur-unsur lain yang terlarut dipisahkan dari
biji Barley sehingga meninggalkan ampas yang relatif masih tinggi kandungan
protein dan seratnya (Valentine dan Wickes, 1982). Kandungan nutrien ampas bir
yaitu PK 33,21%, SK 18,2% dan TDN 9,88% (Andriyani, 2006). Ampas bir dapat
digunakan sebagai bahan pakan sampai levels 20% untuk menghasilkan
pertambahan berat badan sebesar 755; 8,09; 8,31 dan 8,73 g/ekor/hari. Sedangkan
menurut Siregar (1994) kandungan nutrienampas bir adalah BK 85,8%, PK
33,7%, SK 19,2%, LK 6,1% dan TDN 74%. Ampas bir dapat digunakan sebagai
bahan pakan konsentrat pada ternak ruminansia baik pada sapi potong maupun
sapi perah Berdasarkan uraian tersebut maka penulis membuat makalah tentang
potensi dan pemanfaatan ampas bir.

1.2. Identifikasi Masalah


a. Berapa produksi ampas beer.
b. Bagaimana potensi ampas beer.
c. Apa saja kandungan nutrisi dari ampas beer.
d. Bagaimana cara pengolahan ampas beer.
e. Berapa batasan penggunaan ampas beer.

1.3. Tujuan Penulisan


a. Mengetahui produksi ampas beer.
b. Mengetahui potensi ampas beer.
c. Mengetahui kandungan nutrisi dari ampas beer.
d. Mengetahui cara pengolahan ampas beer.
e. Mengetahui batasan penggunaan ampas beer.

2
3

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Produksi Ampas Beer


Ampas bir merupakan hasil ikutan dari proses pembuatan bir, yang diolah
secara modern. Bir berasal dari biji barley yaitu semacam biji gandum yang
difermentasikan dan dikeringkan serta kandungan pati, protein, vitamin dan
mineral yang tinggi. Ampas bir dapat digunakan sebagai bahan pakan karena
kandungan protein yang cukup tinggi dan zat makanan lain dengan nilai nutrisi
yang baik. Proses fermentasi dalam pembuatan bir dengan menggunakan ragi tape
(Saccharomyces cereviseae) dapat meningkatkan kandungan protein dan
tersedianya asam amino esensial serta meningkatkan daya cerna. Bahkan hasil
fermentasi dapat merangsang nafsu makan, pertumbuhan dan produksi. Ampas bir
dapat digunakan sebagai bahan pakan konsentrat pada ternak ruminansia baik
pada sapi potong maupun sapi perah.
Ampas bir merupakan rebusan gandum yang telah diambil airnya. Ampas
bir yang digunakan sebagai pakan ternak ini adalah sisa ekstrasi dari bahan baku
yang digunakan dalam pembuatan bir. Ampas bir tidak ikut difermentasi, yang
difermentasi adalah air yang dipisahkan dari ampas gandum dan berubah menjadi
bir (Curch dan Pond, 1982 cit Handayani, 1996). Ditambahkan oleh Widarto
(2000) bahwa ampas bir yang di tempatkan dalam wadah tertutup akan
mengalami fermentasi secara alami karena mengandung bakteri pembentuk asam
laktat.
Berdasarkan Fakultas Peternakan IPB (1985) cit Parwanto (2007) produksi
ampas bir pada tahun 1983 sekitar 6984 ton basah dengan penyebaran pemasaran
ke Jawa Barat dan DKI Jakarta. Ditambahkan oleh Curch dan Pond (1982) cit
Handayani (1996) untuk setiap kilogram bahan baku akan dihasilkan ampas bir
yang sama banyaknya yaitu satu kilogram ampas bir basah.

3
4

2.2. Potensi Ampas Beer


Surtleff dan Aoyagi (1979) melaporkan bahwa penggunaan ampas bir
sangat baik digunakan sebagai ransum ternak sapi perah. Ampas bir di Jawa Barat
telah banyak dan sudah biasa digunakan oleh peternak sebagai makanan ternak
sapi potong untuk proses penggemukan. Penggunaan ampas bir sangat berguna
sebagai pakan tambahan, dimana dari ampas bir ini peternak tidak perlu khawatir
dengan harga pakan tambahan yang tinggi. Hal ini sebagai alternative pengganti
bungkil dan bahan pakan lain yang dapat digantikan oleh ampas bir.
Ditinjau dari komposisi kimianya ampas bir dapat digunakan sebagai
sumber protein. Korossi (1982) menyatakan bahwa ampas bir lebih tinggi
kualitasnya dibandingkan dengan ampas tahu. Sedangkan Pulungan, dkk. (1985)
melaporkan bahwa ampas bir mengandung NDF, ADF yang rendah sedangkan
presentase protein tinggi yang menunjukkan ampas bir berkualitas tinggi, tetapi
mengandung bahan kering rendah.
Meskipun ampas bir merupakan salah satu pakan tambahan yang
mempunyai nilai gizi yang tinggi tapi penggunaan ampas bir yang berlebihan
akan menyebabkan pengaruh negative pada ternak. Biasanya penggunaan yang
berlebihan akan mengakibatkan ganguan pencernaan pada ternak ruminansia dan
stress pada ternak non ruminansia.

2.3. Kandungan Ampas Beer


Andriyani (2006) menyebutkan bahwa ampas bir mempunyai kandungan
27,58% BK, 72,84% TDN, 23,93% PK, 19,19% SK. Ampas bir juga
mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe
200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih
dari 50 ppm (Sumardi dan Patuan, 1983). Di samping memiliki kandungan zat
gizi yang baik, ampas bir juga memiliki antinutrisi berupa asam fitat yang akan
mengganggu penyerapan mineral bervalensi 2 terutama mineral Ca, Zn, Co, Mg,
dan Cu, sehingga penggunaannya untuk unggas perlu hati-hati (Cullison, 1978).

4
5

Tabel 1. Kandungan Nutrisi Ampas Bir (Cullison, 1978)


Bahan BK Prk SK LK NDF ADF Abu Ca P Eb
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (Kkal)
Ampas
Bir 13.3 21.0 23.58 10.49 51.93 25.63 2.96 0.53 0.24 4730

2.4. Pengolahan Ampas Beer


Ampas bir adalah sisa ekstraksi malt yang berasal dari biji gandum pada
proses pembuatan ampas bir. Pada proses pembuatan ampas bir, tepung dan
unsur-unsur lain yang terlarut dipisahkan dari biji gandum sehingga meninggalkan
ampas yang relatif masih tinggi kandungan protein dan seratnya (Andriyani,
2006). Dijelaskan oleh Suliantari dan Winiati (1990) bahwa malt yaitu biji
gandum yang dikecambahkan dan dikeringkan, malt merupakan bahan baku yang
banyak mengandung pati, protein juga vitamin dan mineral Produk ini
mengandung alkohol sekitar 3,8% dengan kisaran antara 3-7%.
Ampas bir merupakan limbah industri pembuatan bir yang menggunakan
barley dan bahan lain berkadar maltosa tinggi sebagai bahan utama. Ampas bir
yang disimpan dalam wadah tertutup, akan mengalami proses fermentasi secara
alami karena mengandung bakteri pembentuk asam laktat (Lactobacillus,
Bifidobacterium). Produk fermentasi oleh bakteri asam laktat bersifat tidak
beracun dan menimbulkan bau harum. Dengan adanya proses fermentasi dapat
meningkatkan kandungan protein dan daya cerna (Hartini, 2008).

2.5. Batasan Penggunaan Ampas Beer


Ampas bir dapat digunakan sebagai bahan pakan sampai level 20% untuk
ternak non ruminansia dapat menghasilkan pertambahan berat badan sebesar 7,55;
8,09; 8,31 dan 8,73 g/ekor/hari. Ampas bir dapat digunakan sebagai bahan pakan
konsentrat pada ternak ruminansia baik pada sapi potong maupun sapi perah bisa
mencapa level 40-60%. Penggunaan ampas bir yang berlebihan akan
menyebabkan pengaruh negatif pada ternak. Biasanya penggunaan yang

5
6

berlebihan akan mengakibatkan gangguan pencernaan pada ternak ruminansia dan


stress pada ternak non ruminansia (Pulungan, dkk., 1985).

6
7

III

PEMBAHASAN JURNAL

Penggunaan Ampas Bir dalam Ransum untuk Meningkatkan Kualitas


Daging Domba
Penelitian dilaksanakan menggunakan domba lokal jantan sebanyak 16
ekor, umur 4-5 bulan. Bahan pakan yang digunakan adalah rumput gajah, dedak
padi, bungkil kedele dan ampas bir. Percobaan dilakukan menggunakan
Rancangan Acak Kelompok, masing-masing perlakuan diulang empat kali.
Perlakuan yang diuji terdiri atas 4 taraf penggunaan ampas bir yaitu : R1 : 12%;
R2 : 24%; R3 : 36% dan R4 : 48% dari Bahan Kering (BK) ransum. Susunan
ransum yang digunakan, secara rinci tertera pada Tabel 1.

Pemotongan domba dilakukan setelah pemeliharaan 100 hari. Ternak


dipuasakan selama 12 jam dan ditimbang sesaat sebelum dipotong untuk
memperoleh data bobot potong. Karkas segar diperoleh setelah semua organ
tubuh bagian dalam dikeluarkan, yaitu alat reproduksi, hati, limpa, jantung, paru-
paru, trachea, alat pencernaan, empedu dan pankreas, kecuali ginjal. Sampel
daging untuk analisis lemak diambil dari karkas sebelah kanan pada bagian

7
8

pundak. Peubah respon yang diamati dalam penelitian ini adalah kualitas daging
secara fisik dan kualitas daging secara kimiawi.
1. Pengamatan Kualitas Daging Secara Fisik
Pengamatan kualitas daging secara fisik menunjukkan bahwa perlakuan
berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot karkas, edible meat, bobot
tulang bawah, pH daging, suhu daging, daya ikat air, susut masak, keempukan
daging dan luas area mata rusuk (Tabel 2).

Hal tersebut menunjukkan bahwa ampas bir dapat digunakan untuk


campuran pakan domba tanpa mengganggu proses fisiologis dan metabolisme di
dalam tubuh, sehingga kualitas daging yang dihasilkan tetap terjaga.
2. Pengamatan Daging Secara Kimiawi
Pengamatan kualitas daging secara kimiawi (Tabel 3) menunjukkan
bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar air, kandungan
air bebas, kandungan air terikat, kadar lemak, kolesterol dan komposisi asam
lemak daging.

8
9

Hal tersebut menunjukkan bahwa domba yang diberi ampas bir belum
mampu untuk menghambat proses biohidrogenasi dalam rumen, karena tannin
yang terkandung dalam pakan hanya sebesar 20 g/kg BK, sedangkan untuk
menghambat proses biohidrogenasi dalam rumen dibutuhkan tannin 200 g/kg BK.
Peningkatan asam lemak tak jenuh tertinggi adalah asam lemak stearat
sebesar 54,60 persen pada perlakuan penggunaan ampas bir 36 persen, diikuti
asam lemak linoleat dengan peningkatan 43,91 persen pada perlakuan ampas bir
48 persen dan peningkatan asam lemak oleat sebesar 37,48 persen pada perlakuan
penggunaan ampas bir 24 persen.

9
10

IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan
1. Produksi ampas bir 6984 ton basah, untuk setiap kilogram bahan baku
akan dihasilkan ampas bir yang sama banyaknya yaitu satu kilogram
ampas bir basah.
2. Potensi penggunaan ampas bir sangat baik digunakan sebagai ransum,
bahwa ampas bir lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan ampas
tahu.
3. Ampas bir mempunyai kandungan 27,58% BK, 72,84% TDN, 23,93% PK,
19,19% SK.
4. Pengolahan ampas bir dilakukan proses fermentasi yang dapat
meningkatkan kandungan protein dan daya cerna.
5. Ampas bir dapat digunakan sebagai bahan pakan sampai level 20% untuk
non ruminansia dan untuk ruminansia bisa mencapai level 40-60%.

10
11

DAFTAR PUSTAKA

Andriyani, A.K., 2006. Pengaruh Penggunaan Ampas Bir dalam Ransum


terhadap Peforman Kelinci New Zealand White Jantan. Skripsi S1.
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Cullison, E.A. 1978. Feeds and Feeding. New Dehli: Prentice Hall of India
Private Limited.

Church, D.C. and W.G. Pond, 1982. Basic Animal Nutrition and Feeding. John
Willey and Sons. New York, Chichester, Brisbane, Toronto, Singapur.

Handayani, H. T., 1996. Pengaruh Pemberian Ampas Bir Fermentasi dalam


Ransum terhadap Produksi dan Kualitas Veal Sapi Friesian Holstein.
Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Hartini, Sri. 2008. Pengaruh Penggunaan Ampas Bir dalam Ransum terhadap
Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik pada Domba Lokal
Jantan. [skripsi]. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret.
Surakarta.

Korosi, K.A.,1982. Seuntai Pengetahuan Usaha Tani Indonesia. Rineka Cipta.


Jakarta.

Parwanto. A.E., 2007. Pengaruh Penggunaan Ampas Bir dalam Ransum terhadap
Performan Sapi Peranakan Ongole Jantan. Skripsi S1. Fakultas Pertanian.
Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Priyono, Agus, S.N.O. Suwandyastuti, Iriyanti, Ning. 2013. Penggunaan Ampas Bir
dalam Ransum untuk Meningkatkan Kualitas Daging Domba. Agripet Vol 13,
No. 1 :1-5

Pulungan, H., J.E. Van Eys, dan M. Rangkuti. 1985. Penggunaan Ampas Bir
Sebagai Makanan Tambahan pada Domba Lepas Sapih yang
Memperoleh Rumput Lapangan. Balai Penelitian Ternak. Sogor. 1(7):
311-335

Suliantari dan Winiati. P, 1990. Teknologi Fermentasi Biji-Bijian dan Umbi


Umbian. Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut
Pertanian Bogor.

11
12

Sumardi dan L.P.S. Patuan. 1983. Kandungan Unsur-unsur Mineral Essensial


dalam Limbah Pertanian dan Industri Pertanian di Pulau Jawa.
Proceeding Seminar. Lembaga Kimia Nasional-LIPI, Bandung.

Surtleff, W. dan A. Aoyagi .1979. The Book of Tempeh. Harper and Row
Publisher. New York.

Widarto, B. 2000. Suplemen Fermentatif. Prambanan Offset. Klaten.

12
13

HASIL DISKUSI

Kelompok :4

Judul makalah : Potensi dan Pemanfaatan Ampas Bir

Moderator : Ai Sofi

Notulen : Risna Rosdiana

Pemateri : Santi Agustini

Iman Kusuma W.

Bubun

Saiful

Pertanyaan

1. Nelva (200110140260)

Mengapa ampas bir dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada ternak

ruminansia dan stres pada ternak non ruminansia?

2. Lutpi (200110140015)

Bagaiman ampas bir ini dapat meningkatkan PBB tetapi dapat juga

menjadi pencahar atau gangguan bagi pencernaan?

3. Silvi (200110140155)

Penggunaan ampas bir pada level 20% untuk ternak ruminansia atau non

ruminansia?

4. Ahmad Zaeni (200110140094)

Apakah perlu fermentasi kembali untuk pengolahan ampas bir? Lalu

dimana penghasil ampas bir terbesar dan harganya berapa?

5. Anies (200110140206)

Bagaiman palatabilitas ampas bir dan bagaimana pemberian pada ternak?

13
14

6. Azimah (200110140171)

Potensi ampas bir di Indonesi di daerah mana?

7. Afif (200110140168)

Bagaimana pengolahan yang baik untuk ampas bir?

Jawaban

1. Santi (200110140124)

Menurut Hartini (2008) menyatkan bahwa ampas bir dapat mengganggu

pencernaan ternak ruminansia dan stres ternak non ruminansia disebabkan

jika ampas bir yang diberikan terbuat dari biji gandum. Hal ini disebabkan

karena pada biji gandum kandungan taninnya lebih tinggi dan pada biji

gandum mempunyai sifat pencahar, kandungan tersebut yang diduga dapat

menyebabkan gangguan pada ternak, untuk ternak non ruminansia ampas

bir ini harus hati-hati dalam penggunaannya karena tidak mengandung

xantofil yang dimiliki jagung.

2. Santi (200110140124)

Berdasarkan Handayani (1996) menyatakan bahwa ampas bir dapat

menjadi pencahar atau mengganggu pencernaan ternak bila penggunaan

ampas bir berlebihan, namun jika penggunaannya sesuai kebutuhan maka

ampas bir dapat meningkatkan PBB ternak.

3. Risna (200110140139)

Menurut Pulungan (1985) penggunaan ampas bir level 20% untuk ternak

non ruminansia dan untuk ternak ruminansia bisa mencapai level 40-60%.

14
15

4. Saiful (200110140293)

Menurut Suliantari dan Winiati (1990) menyatakan bahwa ampas bir tidak

dilakukan fermentasi kembali karena ampas bir telah melewati proses

fermentasi. Namun, untuk daya simpan lebih lama bisa dilakukan

penyimpanan secara kering ataupun secara basah. Penghasil terbesar di

Indonesia yaitu di daerah Surabaya dengan harganya pada tahun 2007

yaitu Rp 2.500/kg.

5. Iman (200110140126)

Menurut Pulungan (1985) menyatakan bahwa palatabilitas ampas bir akan

meningkat bila pemberian pada ternak ampas bir 1,25 % BB ditambah

dengan rumput lapangan secara ad libitum.

6. Iman (200110140126)

Untuk pertama kali potensi ampas bir di Indonesia adalah di Surabaya dan

pengguna terbesar di pulau Jawa.

7. Bubun (200110140148)

Berdasarkan Suliantari dan Winiati (1990) pengolahan ampas bir

dilakukan dengan fermentasi saat akan dibuat menjadi ampas bir dan

untuk meningkatkan daya simpan bisa dilakukan dengan penyimpanan

secara kering.

15