Anda di halaman 1dari 2

Memetik Pelajaran dari Yahukimo

Suhardi Suryadi

Bencana kelaparan yang terjadi di Kabupaten Yahukimo, Papua, telah menyita


perhatian publik belakangan ini.

Meski dengan cepat direspons dengan penyediaan bantuan bahan pangan-namun


sebagaimana kasus busung lapar yang melanda sejumlah provinsi beberapa waktu
lalu-reaksi pemerintah terkesan menyalahkan kondisi alam dan masyarakat,
menyederhanakan persoalan, dan memberi solusi yang bersifat ad hoc. Kelaparan di
Yahukimo oleh bupati justru dianggap karena ketidakmampuan masyarakat
mengantisipasi kegiatan penanaman umbi-umbian sesuai dengan musim. Bahkan, ada
kesan untuk menutupi masalah kelaparan ini oleh pemerintah, seperti pernyataan
Menko Kesra yang menyebut bahwa apa yang terjadi di Yahukimo bukanlah
peristiwa kelaparan besar, melainkan hanya gejala awal kelaparan.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan keterbatasan pemerintah di dalam memahami dan


berusaha memahami realitas sosial yang ada. Ini tampak dari solusi yang ditawarkan
untuk tidak mengulang terjadinya kelaparan yaitu dengan membangun lumbung
pangan, memperbaiki cara cocok tanam, maupun introduksi tanaman baru yang
bernilai ekonomi. Tawaran perubahan sistem pertanian dari konvensional menjadi
modern belum tentu layak untuk diterapkan sesuai dengan kondisi sosial masyarakat
setempat.

Hal ini seakan-akan melengkapi ketidakmampuan pemerintah memberikan akses


pembangunan yang dapat menyejahterakan masyarakat miskin pedesaan di wilayah
tertinggal, terisolir dan terpinggirkan. Kasus Yahukimo juga dapat dibaca sebagai
penegasan atas problem sosial negara Indonesia yang semakin akut di mana
masyarakat sangat rentan dan tidak memiliki jaminan sumber daya dalam menghadapi
setiap bentuk bencana alam dan perkembangan ekonomi yang tidak adil.

Standar kebijakan

Sesungguhnya kelaparan yang dihadapi masyarakat bukan karena faktor kondisi alam
semata, melainkan bisa juga terjadi karena sistem pembangunan ekonomi yang
menciptakan ketimpangan. Arus globalisasi dalam aspek kehidupan ekonomi saat ini
jelas akan memberikan implikasi berupa kompetisi di antara berbagai kepentingan
yang pada akhirnya dapat merugikan dan memarjinalisasi kelompok ekonomi skala
kecil yang serba terbatas sumber dayanya. Akumulasi ketidakadilan dapat menjadi
pemicu dan potensi terjadinya kemiskinan dan kelaparan bagi masyarakat lapisan
bawah.

Kegagalan memberikan alternatif penyelesaian yang komprehensif dalam


mengantisipasi ancaman dan potensi kelaparan oleh pemerintah akan menciptakan
hilangnya potensi negara untuk menjamin hak-hak masyarakat dalam konteks
peningkatan kesejahteraannya. Padahal, sesuai dengan kesepakatan masyarakat
internasional, DPR telah meratifikasi Kovenan tentang hak ekonomi, sosial, dan
budaya pada bulan September 2005. Dengan meratifikasi ini, negara mempunyai
kewajiban penuh untuk menyantuni hak sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.
Maka, sangatlah ironis jika ternyata masih dijumpai kasus gizi buruk, busung lapar,
hingga kelaparan.

Karena itu, masalah pangan haruslah menjadi kebijakan pangan nasional yang standar
dan dioperasionalkan menurut konteks sosial budaya daerah setempat.

Penerjemah budaya

Sebagaimana di Kabupaten Yahukimo, kurang lebih seperempat penduduk Indonesia


tinggal dan hidup di daerah terisolir dan pinggiran, terutama di lahan tandus, lahan
kering, dan pegunungan. Masyarakat ini sangat rentan terhadap kelaparan karena
kendala kondisi alam dan keterbatasan infrastruktur serta informasi.

Karena itu, dalam mengatasi potensi kelaparan, rawan pangan, dan busung lapar
adalah bagaimana mendorong komunitas ini dapat memunculkan ide untuk mengatasi
masalah sosial-ekonominya. Bukan menerapkan sistem baru di bidang pertanian yang
sesungguhnya asing bagi kehidupannya.

Jadi, yang diperlukan adalah adanya kebijakan, program, dan tenaga yang dapat
menjembatani kepentingan masyarakat pinggiran dengan menerjemahkan nilai-nilai
sosial-budayanya ke dalam langkah nyata untuk memperbaiki kehidupannya. Suatu
harapan yang biasanya sulit dilakukan karena pemerintah sering kali lebih menyukai
pendekatan yang instan.

Suhardi Suryadi Direktur LP3ES Jakarta