Anda di halaman 1dari 9

STUDI KELAYAKAN INVESTASI PROYEK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT

LISTRIK TENAGA UAP PLTU RIAU 2x110 MW


Studi Kasus : Proyek PLTU RIAU 2x110 MW Pekanbaru

Aris Febrian1), Rian Tri Komara Iriana2), dan Alfian Malik3)


1)MahasiswaJurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau
2)3)Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau

Kampus Bina Widya Jl.HR Soebrantas KM 12,5 Pekanbaru, Kode Pos 28293
Email : arisfebrian@gmail.com

ABSTRACT

Project PLTU RIAU 2x110 MW is located in Tenayan Raya regency, Pekanbaru, Riau
province. The project proposed to support energy demand especially for Riau Province in line
to support a national program in order to increase national electricity ratio. This project
needs high funding to construct therefore, it is necessary for the Government to study and
analyze some aspects including financial. 30 % of the project funds came from PT PLN
(Persero) equity equal to Rp995.646.470.749,47 while the other 70% which is
Rp2.323.175.098.415,43 came from loan. Feasibility analysis represents that Net Present
Value (NPV) is Rp515.754.288.356,69, Benefit Cost Ratio is 1,05, Internal Rate of Return is
12.62%, whereas Payback period is 16 years and 3 months, it represents that this project is
feasible. The sensitivity analysis showed that the investment will be sensitive at 177,26%, the
benefit will be sensitive at 93%, the cost at 109% from the original value, and interest will be
sensitive at 12,62%. As per deterministic sensitivity analyses from the several variables
indicated that the highest to lowest influences in sequence is (1) tariff, (2) r class tariff, (3)
operational and maintenance cost, (4) exchange rate, and as per the regression value also
indicated that (1) tariff, (2) r class tariff, (3) operational and maintenance cost, (4) exchange
rate, has the effect from the highest to lowest variable.

Keywords: Finansial Analisys, Net Present Value, Benefit Cost Ratio, Internal Rate of Return,
Payback period, Sentivity Analysis.

A. PENDAHULUAN ketenagalistrikan di Indonesia dan secara


Kondisi kelistrikan di Riau khusus di Wilayah Riau
digambarkan dalam dokumen RUPTL Pemerintah menugaskan PT PLN
(Rencana Umum Penyediaan Tenaga (Persero) melalui Perpres 71 2006
Listrik) tahun 2009-2018 yang diterbitkan Penugasan Kepada PT PLN Untuk
PT PLN (Persero) yang kemudian disahkan Melakukan Percepatan Pembangunan
dengan Keputusan Menteri Energi dan Pembangkit Tenaga Listrik Yang
Sumber Daya Mineral No: 2780 Menggunakan Batubara. Adapun salah satu
K/21/MEM/2008 diketahui bahwa rasio pembangkit listrik yang akan dibangun
elektrifikasi wilayah Riau pada tahun 2009 sebagaimana Perpres 71 Tahun 2006
adalah sebesar 41.4 % dengan beban puncak tersebut adalah Pembangkit Listrik Tenaga
kebutuhan energi di Wilayah Riau mencapai Uap (PLTU) berkapasitas 2 x 110 MW yang
457 MW beban puncak ini di proyeksikan disebut dengan PLTU RIAU 2x110 MW
akan mencapai 744 MW pada tahun 2014. yang berlokasi di aliran Sungai Siak pada
Untuk mengantisipasi terjadinya krisis Kawasan Industri Tenayan, Kecamatan

Jom FTEKNIK Volume 5 No. 1 April 2018 1


Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Provinsi B. TINJAUAN PUSTAKA
Riau sekitar 11 km arah timur Pekanbaru. Pengertian proyek
Investasi pembangunan proyek PLTU Proyek adalah satu kegiatan sementara
RIAU 2 x 110 MW memerlukan biaya besar yang berlangsung dalam jangka waktu
sehingga memerlukan analisa pembiayaan terbatas dengan alokasi sumber daya tertentu
dan pendanaan proyek. Pendanaan proyek dan dimaksudkan untuk menghasilkan
biasanya dilakukan dengan cara produk atau deliverable yang kriteria
konvensional yaitu pendanaan dengan modal mutunya telah digariskan dengan jelas
sendiri dan hutang jangka panjang dengan (Soeharto, 1999).
suatu komposisi tertentu atau debt to equity
ratio (DER). Biaya yang dikeluarkan Aspek Finansial
tersebut perlu dianalisis secara finansial Aspek finansial adalah yang
dengan suatu tingkat Rate of Return (ROR) menyangkut terutama perbandingan uang
yang ditentukan oleh PLN sehingga dengan revenue earning, apakah proyek itu
anggaran pembangunan dapat direncanakan akan terjamin dana yang dikeluarkannya,
secara sistematis dan keuntungan dapat apakah proyek tersebut mampu membayar
tercapai. kembali dana yang diinvestasikan dan
Analisis ini menitikberatkan pada aspek apakah proyek itu akan berkembang
kelayakan finansial dikarenakan aspek ini sedemikian rupa sehingga secara finansial
lebih dominan dari aspek lainnya sehingga dapat berdiri sendiri (Nabar, 1999).
diharapkan para investor tidak salah dalam
memilih ataupun mengambil keputusan Analisa Penilaian Investasi
untuk berinvestasi. Berdasarkan Evaluasi investasi ini digunakan untuk
pertimbangan tersebut, maka dilakukan menjelaskan suatu kegiatan investasi
analisis kelayakan finansial proyek tersebut akan menjanjikan keuntungan atau
pembangunan PLTU RIAU 2 x 110 MW tidaknya dan juga menjelaskan apakah
dengan menggunakan metode yang alternatif pilihan yang diambil merupakan
memperhitungkan nilai waktu, yakni Net pilihan terbaik. Ada beberapa metode dalam
Present Value (NPV), Internal Rate of mengevaluasi kelayakan investasi, yaitu net
Return (IRR), Benefit Cost Ratio (BCR), present value, benefit cost ratio, internal rate
Break Even Point (BEP). Dilakukan juga of return, break even point dan analisa
analisa sensitivitas yang berguna untuk sensitivitas.
mengukur seberapa sensitif suatu variabel
terhadap parameter pengukur kelayakan. 1. Net Present Value (NPV)
Adapun variabel yang diukur Net Present Value (NPV) adalah
sensitivitasnya, yaitu inflasi, JIBOR, tarif metode menghitung nilai bersih (netto) pada
listrik, nilai tukar mata uang, biaya operasi waktu sekarang (present). Asumsi present
dan maintenance. yaitu menjelaskan waktu awal perhitungan
Berdasarkan latar belakang sebagai bertepatan dengan saat evaluasi dilakukan
mana diuraikan di atas, maka perumusan atau pada periode tahun ke-nol (0) dalam
permasalahan dalam penelitian ini adalah perhitungan cash flow investasi (Giatman,
bagaimana kelayakan finansial proyek 2005: 69).
pembangunan PLTU RIAU 2x110 MW Adapun rumus untuk mendapatkan nilai
dengan tingkat Rate of Return (ROR) yang sekarang netto (NPV) dapat dilihat pada
dipersyaratkan serta mempertimbangkan Rumus 1 berikut. (Soeharto, 1999)
komposisi pinjaman terhadap equity (DER) (1)
sebesar 70:30. Serta penentuan faktor dan dengan :
variable apakah yang paling sensitif (C)t = Aliran kas masuk tahun ke-1
(berpengaruh) terhadap kelayakan finansial (Co)t = Aliran kas keluar tahun ke-1
proyek.
n = Umur investasi

Jom FTEKNIK Volume 5 No. 1 April 2018 2


t = Periode waktu impas dapat dicapai ketika keadaan usaha
i = Arus pengembalian mendapatkan pendapatan total yang dapat
menutupi semua pengeluaran total atau nilai
2. Benefit Cost Ratio (BCR) BEP nya lebih kecil dari umur proyek.
Metode benefit cost ratio (BCR) adalah rumus Break Even Point dapat dilihat pada
salah satu metode yang sering digunakan Rumus 4 di bawah ini:
dalam tahap-tahap evaluasi awal (4)
perencanaan investasi atau sebagai analisis
tambahan dalam rangka menvalidasi hasil dengan:
evaluasi yang telah dilakukan dengan = Tahun dimana NPV bernilai (-)
metode lainnya. Metode BCR ini = Tahun dimana NPV bernilai (+)
memberikan penekanan terhadap nilai = Nilai NPV (-)
perbandingan antara aspek manfaat (benefit)
= Nilai NPV (+)
yang akan diperoleh dengan aspek biaya dan
kerugian yang akan ditanggung (cost) Dalam praktik penilaian kelayakan
dengan adanya investasi tersebut (Giatman, finansial suatu proyek, para analis
2005: 79) cenderung menggunakan WACC sebagai
Adapun rumus yang digunakan dapat discount rate pada cashflow proyek,
dilihat pada Rumus 2 sebagai berikut sehingga metoda evaluasi ini disebut juga
(Soeharto, 1999): dengan metoda WACC. Dalam
penerapannya, metoda ini menganggap
(2) bahwa rasio antara hutang dan equity proyek
selalu tetap selama masa investasi.
3. Internal Rate of Return (IRR) Pada penerapannya, diperhitungkan
Arus pengembalian internal (internal adanya komposisi pendanaan antara hutang
rate of return) adalah arus pengembalian (debt) dan modal sendiri (equity) dalam
yang menghasilkan NPV aliran kas masuk = investasi modal. Oleh karenanya, cashflow
NPV aliran kas keluar. Pada metode NPV proyek akan didiskon dengan suatu discount
analisis dilakukan dengan menentukan rate yang diambil dari nilai rata-rata
terlebih dahulu besar arus pengembalian tertimbang antara cost of debt dengan cost of
(diskonto) (i), kemudian dihitung nilai equity (setelah pajak) yang dikenal dengan
sekarang netto (PV) dari aliran kas masuk weight average cost of capitol (WACC).
dan kas keluar. Untuk IRR ditentukan dulu WACC ditulis dalam bentuk Rumus 5
NPV=0, kemudian cari berapa besar arus berikut :
pengembalian (diskonto) (i) agar hal tersebut
(5)
terjadi. (Soeharto, 1999). Adapun rumus
yang digunakan dapat dilihat pada Rumus 3
dengan:
berikut:
WACC = weight average cost capital
(3)
rd = cost of debt (biaya hutang)
dengan: re = cost of equity (biaya modal
(C)t = Aliran kas masuk tahun ke-1 sendiri)
(Co)t = Aliran kas keluar tahun ke-1 T = tax (pajak)
n = Tahun
i = Arus pengembalian (diskonto) D = debt (hutang)
E = equity (modal sendiri)
4. Break Even Point (BEP)
Break even point adalah dimana selisih
antara biaya total dengan pendapatan total Analisa Sensitivitas
sama dengan nol artinya pendapatan sama Analisa sensitivitas digunakan untuk
besarnya dengan biaya total. Maka titik mengetahui dampak-dampak parameter

Jom FTEKNIK Volume 5 No. 1 April 2018 3


investasi yang bisa berubah oleh faktor dengan cara biaya-biaya tersebut dianalisa
situasi dan kondisi selama umur investasi. secara sistematis dengan formulasi dalam
Parameter-parameter investasi analisa ekonomi teknik dengan menggunakan
sensitivitas, yaitu : metode Net Present Value (NPV), Benefit
a. benefit (keuntungan) Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return
b. investation (investasi) (IRR), Break Event Point (BEP) dan Analisa
c. cost (biaya) Sensitivitas.
d. interest (bunga)
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
C. METODOLOGI PENELITIAN Cashflow pada proyek didiskon dengan
Pada penelitian ini dalam menentukan weight average cost of capital (WACC)
biaya langsung dan tidak langsung adalah sebagai discount rate adapun
dengan menghitung berdasarkan perhitungannya ditampilkan pada Tabel 1
data/informasi yang didapat dari berikut:
pembangunan PLTU RIAU 2x110 MW.
selanjutnya menganalisis kelayakan finansial

Tabel 1. Perhitungan WACC


Indikator Nilai Keterangan Sumber
Risk free rate (rf) 6,78% SBI Bank Indonesia
Risk premium (rp) 7,50% Selisih antara ekpektasi pengembalian pasar Wibowo dan Kochendorfer
dengan risk free rate (rm-rf) (2005)
Beta Equity ( e) 0,99 Sensitivitas pengembalian atas investasi equity Wibowo (2005)
terhadap pengembalian pasar
Beta Debt (d) 0,43 Sensitivitas pengembalian atas investasi Wibowo dan Kochendorfer
pinjaman terhadap pengembalian pasar (2005)
Cost of Equity (re) 13,41% rf + be (rm - rf) Hasil perhitungan
Cost of Debt (rd) 9,66% rf + d(rm - rf) Hasil perhitungan
Tax 30% Pajak Penghasilan (PPh) Ketentuan

WACC 9,96% Hasil perhitungan

Opportunity cost 11,27% Hasil perhitungan


of capital (r)

Dari Tabel 1 di atas didapatkan nilai WACC Nilai Internal Rate of Return (IRR)
sebagai discount rate cashflow investasi sebesar 12.62 % sehingga memenuhi
sebesar 9,96%. persyaratan. yaitu lebih besar dari nilai arus
Berdasarkan perhitungan Net Present pengembalian yang diinginkan sebesar 12%
Value (NPV) dengan suku bunga WACC sehingga proyek pembangunan PLTU RIAU
sebesar 9,96% didapat nilai NPV sebesar 2x110 MW layak dibangun
Rp515.754.288.356,69 dapat disimpulkan Payback Period didapat pada tahun ke
bahwa proyek pembangunan PLTU RIAU 19 bulan ke 3.
2x110 MW layak secara finansial. Analisa Sensitivitas untuk investasi
Nilai Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar akan sensitif pada nilai
1.05 > 1 sehingga proyek pembangunan Rp1.764.835.714.929,88 atau meningkat
PLTU RIAU 2x110 MW layak untuk menjadi 177,26%, dimana jika investasi
dibangun. meningkat dari Rp995.646.470.749,47
sampai Rp1.764.835.714.929,88 investasi
Jom FTEKNIK Volume 5 No. 1 April 2018 4
tetap layak, apabila investasi melebihi nilai Pinjaman (70%) Rp2.323.175.098.415,43
sensitivitas maka investasi tidak layak. 2 Parameter kelayakan investasi
Sensitivitas terhadap keuntungan a NPV Rp515.754.288.356,69
(benefit) sensitif pada nilai b IRR 12,62%
Rp9.928.332.519.514,86 menurun menjadi c BCR 1,05
93%, dimana jika keuntungan menurun dari d BEP 16 tahun 3 bulan
Rp10.697.521.763.695,30 sampai 3 Analisa Sensitivitas
Rp9.928.332.519.514,86 keuntungan tetap a Investasi Rp1.764.835.714.929,88
layak, apabila dalam pelaksanaannya Layak naik 177,26%
keuntungan /pemasukan lebih kecil dari b Benefit Rp9.928.332.519.514,86
benefit sensitif maka tidak layak lagi. Layak turun 93%
Sensitivitas terhadap pengeluaran (cost) c Cost Rp9.716.332.001.505,09
Layak naik 109%
sensitif pada nilai Rp9.462.897.045.681,37
d Bunga 12,62%
meningkat menjadi 109%, dimana jika
pengeluaran meningkat dari
Rp8.947.142.757.324,68 sampai Rp Analisa sensitivitas melalui pendekatan
9.716.332.001.505,09 pengeluaran tetap deterministik dilakukan secara manual
layak, kondisi tidak layak apabila dalam dengan mengganti nilai variaber input
pelaksanaannya pengeluaran lebih besar dari tertentu dengan nilai baru tertentu. Output
cost sensitif. yang dihasilkan adalah sejumlah persamaan
Sensitivitas terhadap suku bunga garis yang terbentuk menyerupai jarring
merupakan nilai Internal Rate of Return laba-laba sehingga menghasilkan diagram
yang sudah dianalisa sebelumnya, karena spider. Analisis dilakukan dengan cara
IRR tersebut dimana pada posisi investasi merubah suatu variable input dalam satuan
sama dengan 0, sehingga suku bunga pada persen (%) dan mempertahankan nilai
investasi pembangunan PLTU RIAU 2 x variable-variabel input lain pada nilai
110 MW terletak pada 12,62% apabila suku aslinya. Hasil analisis menghasilkan suatu
bunga melebihi suku bunga 12,62% maka nilai output (NPV) baru pada kondisi base
investasi tidak layak lagi. case dalam satuan persen (%). Perubahan
Hasil perhitungan Analisa Sensistivitas atas variable input dilakukan pada batasan -
dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini: 40% hingga +40% pada interval 10%. Nilai
NPV akibat perubahan nilai variable input
dihasilkan seperti pada Tabel 3 serta
Tabel 2. Analisa Sensitivitas
digambarkan dengan grafik pada Gambar 1.
No Parameter Nilai
1 Modal Rp3.318.821.569.164,90
Investasi
Modal sendiri Rp995.646.470.749,47
(30%)

Jom FTEKNIK Volume 5 No. 1 April 2018 5


Tabel 3. Perubahan Nilai NPV (%) Terhadap Perubahan Variabel Input (%)
No. Variabel Input Perubahan Nilai NPV (%) Terhadap Perubahan Variabel Input (%)
-40 -30 -20 -10 0 +10 +20 +30 +40
1 Inflasi 125,87 119,48 113,04 106,54 100,00 93,41 86,76 80,07 73,32
2 JIBOR 107,41 106,75 105,26 103,00 100,00 96,31 91,97 87,03 81,52
3 Tarif -480,76 -335,57 -190,38 -45,19 100,00 245,19 390,38 535,57 680,76
4 Tarif golongan r -419,95 -289,96 -159,98 -29,99 100,00 229,99 359,98 489,96 619,95
5 Tarif golongan i 50,76 63,07 75,38 87,69 100,00 112,31 124,62 136,93 149,24
6 Tarif golongan b 99,85 99,89 99,93 99,96 100,00 100,04 100,07 100,11 100,15
7 Tarif golongan s 92,88 94,66 96,44 98,22 100,00 101,78 103,56 105,34 107,12
8 Tarif golongan p 95,74 96,80 97,87 98,93 100,00 101,07 102,13 103,20 104,26
9 Tarif golongan l 99,96 99,97 99,98 99,99 100,00 100,01 100,02 100,03 100,04
10 Nilai mata uang 227,53 195,59 163,72 131,86 100,00 68,14 36,28 4,41 -27,45
11 Biaya O&P 427,38 345,54 263,69 181,85 100,00 18,15 -63,69 -145,54 -227,38

Gambar 1. Grafik Spider Analisa Sensitivitas

Variabel yang paling sensitif pula variable input terhadap NPV proyek.
(berpengaruh) ditandai dengan tingkat Berdasarkan grafik hasil analisis seperti
kecuraman garis yang dihasilkan, tingkat pada Gamber 1 menunjukkan bahwa
kecuraman ditentukan dari nilai NPV variable output yang paling sensitive
maksimum dan NPV minimum setelah (berpengaruh) sesuai tingkat kecuraman
variable input dirubah nilainya dari -40% ke garis adalah: (1) Tarif, (2) Tarif Golongan r,
+40%. Semakin besar selisih antara nilai (3) Biaya O&P, (4) Nilai Tukar Mata Uang.
NPV(-40) dengan NPV(+40) maka semakin
curam garis input, dan semakin sensitive
Jom FTEKNIK Volume 5 No. 1 April 2018 6
Besar nilai koefisien regresi masing-masing 2. Hasil analisa sensitivitas terhadap
variable input dapat dilihat pada tabel 4 variabel yang berpengaruh terhadap
Sebagai berikut: kelayakan finansial yakni (1) investasi
Tabel 4. Nilai Koefisien Regresi mengalami peningkatan menjadi
No. Variabel Input Regresi Rp1.764.835.714.929,88 atau 177,26%
1 Tarif 14,519 analisa terhadap, (2) Benefit dapat turun
2 Tarif golongan r 12,998 menjadi Rp9.928.332.519.514,86 atau
3 Biaya O&P -8,184
mengalami penurunan menjadi 93%. Analisa
terhadap, (3) cost dapat naik menjadi
4 Nilai tukar mata uang -3,186
Rp9.716.332.001.505,09 menjadi 109%, (4)
5 Tarif golongan b 1,231
bunga meningkat sebesar 12.62%.
6 Inflasi -0,656
Berdasarkan Analisis sensitivitas dengan
7 JIBOR -0,326
pendekatan deterministik, dari sebelas
8 Tarif golongan s 0,178
variabel input ditemukan bahwa variable
9 Tarif golongan p 0,106
paling berpengaruh (sensitive) berturut-turut
10 Tarif golongan i 0,003 adalah: (1) Tarif, (2) Tarif Golongan r, (3)
11 Tarif golongan l 0,001 Biaya O&P, (4) Nilai Tukar Mata Uang.
Berdasarkan nilai regresi didapatkan bahwa
Berdasarkan Tabel 4 di atas didapatkan variable paling berpengaruh (sensitive)
nilai koefisien regresi yang dapat digunakan berturut-turut adalah: (1) Tarif, (2) Tarif
sebagai indikator penentu besarnya Golongan r, (3) Biaya O&P, (4) Nilai Tukar
pengaruh suatu variabel menunjukkan Mata Uang.
bahwa variable paling berpengaruh secara
berturut-turut adalah: (1) Tarif, (2) Tarif
Golongan r, (3) Biaya O&P, (4) Nilai Tukar Saran
Mata Uang. Dari hasil analisa dan perhitungan yang
dilakukan ada beberapa hal yang harus
diperhatikan pada proyek ini antara lain:
KESIMPULAN DAN SARAN 1. Selain analisa investasi sebaiknya
Kesimpulan owner juga melakukan pengendalian
Dari analisa dan perhitungan yang
terhadap waktu karena semakin cepat proyek
dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai
pembangunan PLTU RIAU 2x110 MW
berikut :
Pekanbaru diselesaikan maka akan menjadi
1. Hasil analisis parameter kelayakan
solusi atas masalah sering terjadinya
investasi secara finansial dengan DER (debt
pemadaman listrik saat ini.
equity ratio) atau ratio pinjaman terhadap
2. Diharapkan untuk melakukan
modal sebesar 30:70 didapatkan nilai Net
perhitungan manajemen resiko pada
Present Value sebesar Rp
penelitian selanjutnya.
515.754.288.356,69 Benefit Cost Ratio
3. Sebaiknya dilengkapi juga dengan
sebesar 1,05% dan Internal Rate of Return
analisa perhitungan teknis.
sebesar 12,62%. Sedangkan Payback Period
selama 16 (Sembilan belas) tahun 3 (tiga)
bulan. sehingga secara keseluruhan
pembangunan Proyek PLTU RIAU 2x110
MW Pekanbaru layak untuk dibangun.
Jom FTEKNIK Volume 5 No. 1 April 2018 7
DAFTAR PUSTAKA Menteri Energi dan Sumber Daya
Alfian. (2016). Analisa Sensitivitas Variabel Mineral Republik Indonesia.
Berisiko pada Pembangunan
Nabar, D. (1999). Ekonomi Teknik.
Infrastruktur Rencana Ruas Jalan
Palembang: Universitas Sriwijaya.
Tol Kandis Dumai. Pekanbaru:
Tesis Fakultas Teknik Sipil Pekanbaru, P. D. (2010). Peraturan.
Universitas Riau. Pekanbaru: Dinas Tata Kota.
Bank Indonesia. (2017, 7 15). Bi-rate. Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 7.
Diambil kembali dari Web site resmi (2012). Retribusi Izin Mendirikan
Bank Indonesia: Bangunan. Pekanbaru: Pemerintah
http://www.bi.go.id/id/moneter/bi- Kota Pekanbaru.
rate/data/Default.aspx
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 51
Bank Indonesia. (2017, 7 15). Inflasi. tahun 2012. (2012). Perhitungan
Diambil kembali dari Web site resmi tarif pelayanan Penerimaan Negara
Bank indonesia: Bukan Pajak. Jakarta: Kemenkeu.
http://www.bi.go.id/id/moneter/inflas
i/data/Default.aspx Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
45/PRT/M/2007. (2007). Pedoman
Bank Indonesia. (2017, 7 15). JIBOR. Teknis Pembangunan Bangunan
Diambil kembali dari Web site resmi Gedung Negara. Jakarta: Permen.
Bank Indonesia:
http://www.bi.go.id/id/moneter/jibor/ PT PLN (Persero). (2011). Statistik PLN
data-historis/Default.aspx 2010. Jakarta: Sekretariat perusahaan
PT PLN (Persero).
BPS. (2017, April 1). Indeks Harga
Konsumen dan Inflasi Bulanan PT PLN (Persero). (2017, April 1). Profil
Indonesia. Diambil kembali dari Perusahaan. Diambil kembali dari
https://www.bps.go.id: Web site resmi PT PLN (Persero):
https://www.bps.go.id/linkTabelStati http://www.pln.co.id/2011/03/30/pro
s/view/id/907 fil-perusahaan/

Giatman. (2005). Ekonomi Teknik. Jakarta: PT PLN (Persero). (2017, April 1). Struktur
Raja gravindo Persada. Perusahaan. Diambil kembali dari
Website resmi PT PLN (Persero):
Hasil Perhitungan . (2016). Hasil http://www.pln.co.id/2011/03/30/stru
Perhitungan . Pekanbaru. ktur-perusahaan/
Ibrahim, Y. (2003). Studi Kelayakan Bisnis. Republik Indonesia. (2007). Peraturan
Jakarta: Rineka Cipta. Menteri Pekerjaan Umum Nomor
45/PRT/M/2007 tentang Pedoman
Kodoatie, R. J. (1994). Analisis Ekonomi
Teknis Pembangunan Bangunan
Teknik. Yogyakarta: Andi
Gedung Negara. Jakarta: Menteri
yogyakarta.
Pekerjaan Umum.
M.Mangitung, D. (2012). Ekonomi
Republik Indonesia. (2009). Undang-
Rekayasa. Yogyakarta: Andi Offset.
undang Republik Indonesia Nomor
Marsudi, D. (2010). Pembangkitan Energi 30 Tahun 2009 tentang
Listrik. Jakarta: Erlangga. Ketenagalistrikan. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Menteri ESDM. (2010). Peraturan Menteri
Energi dan Sumber Dataya Mineral Republik Indonesia. (2010). Peraturan
Nomor 07 Tahun 2010. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia

Jom FTEKNIK Volume 5 No. 1 April 2018 8


Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis
dan Tarif Atas Jenis Penerimaan
Negara Bukan Pajak yang Berlaku
pada Badan Pertanahan Nasionl.
Jakarta: Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. (2016). Peraturan
Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Nomor 28 Tahun 2016
tentang Tarif Tenaga Listrik yang
Disediakan PT Perusahaan Listrik
Negara (Persero). Jakarta:
Kementerian ESDM.
Soeharto, I. (1999). Manajemen Proyek.
Jakarta: Erlangga.
Sutojo, S. (2003). Studi Kelayakan Proyek.
Jakarta: PT.Sapdodadi.
Walikota Pekanbaru. (2010). Peraturan
Daerah Kota Pekanbaru Nomor 1
Tahun 2010 tentang Retribusi Izin
Mendirikan Bangunan. Pekanbaru:
Sekretariat Daerah Kota Pekanbaru.

Jom FTEKNIK Volume 5 No. 1 April 2018 9