Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Jawa Barat memiliki dua Pelabuhan Perikanan Tipe B yaitu Pelabuhan


Perikanan Kejawanan (Cirebon) dan Pelabuhan Perikanan Pelabuhan Ratu
(Sukabumi). Pelabuhan Ratu (Sukabumi) menurut Ruswandi dan Gartika (2013)
merupakan pusat kegiatan perikanan mulai usaha praproduksi, produksi,
pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Salah satu rangkaian usaha
praproduksi yaitu kegiatan penangkapan. Suatu wilayah perairan laut dapat
dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan apabila terjadi interaksi antara
sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan teknologi
penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan. Hal ini dapat
diterangkan bahwa walaupun pada suatu areal perairan terdapat sumberdaya ikan
yang menjadi target penangkapan tetapi alat tangkap tidak dapat dioperasikan
yang dikarenakan berbagai faktor, seperti antara lain keadaan cuaca, maka
kawasan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan
demikian pula jika terjadi sebaliknya.
Alat penangkapan ikan sangatlah beragam, salah satunya adalah jaring
bloon atau sering disebut dengan gillnet (jaring insang). Jaring insang adalah
suatu dinding jaring berbentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring
yang sama ukurannya pada seluruh badan jaring, dilengkapi dengan pelampung
pada bagian atas jaring dan pemberat pada bagian bawah jaring. Jaring insang
dioperasikan dengan tujuan menghadang ruaya gerombolan ikan.
Ikan-ikan yang tertangkap pada jaring insang menurut Pane (2008)
umumnya karena terjerat (gilled) dibagian belakang penutup insang ataupun
terpuntal (entangled) pada mata jaring, baik untuk jaring insang yang hanya terdiri
dari satu lapis jaring, dua lapis maupun tiga lapis jaring(trammelnet). Dalam
operasi penangkapan, jaring insang biasanya terdiri dari beberapa tinting (piece)
jaring yang digabung menjadi satu sehingga merupakan satu unit jaring yang
panjang, yang panjangnya tergantung dari banyaknya tinting yang akan
dioperasikan. Alat penangkap ini dapat dioperasikan dengan cara dihanyutkan,
dipasang secara menetap pada suatu perairan, dengan cara dilingkarkan, ataupun
dengan cara menyapu dasar perairan. Ikan-ikan tersebut terjerat (gilled) pada mata
jaring atau terbelit-belit (entangled) pada tubuh jaring. Pada umumnya ikan-ikan
yang menjadi tujuan penangkapan. Dengan gillnet ialah jenis ikan yang
verticalmigration-nya tidak seberapa aktif, dengan perkataan lain migrasi dari
ikan-ikan tersebut terbatas pada suatu rangelayer/depth tertentu. Kekuatan Hasil
Tangkapan (KHT) didaratkan di suatu tempat pendaratan atau suatu pelabuhan
perikanan adalah kemampuan keunggulan hasil tangkapan yang ada di suatu
tempat pendaratan atau pelabuhan perikanan tersebut, oleh karena itu praktikum
lapang ini perlu dilakukan karena bertujuan untuk mengetahui komponen dan
pengukuran jaring bloon serta metode pengoperasiannya.
Tujuan

Praktikum lapang ini bertujuan untuk mengetahui komponen dan


pengukuran jaring bloon serta metode pengoperasiannya.

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Bahan dan Alat

Prosedur Kerja

HASIL DAN PEMBAHASAN


Gillnet atau jaring insang atau jaring bloon merupakan alat penangkapan
ikan berbentuk empat persegi panjang yang ukuran mata jaringnya merata dan
dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa
tali ris bawah untuk menghadang ikan sehingga ikan sasaran terjerat mata jaring
atau terpuntal pada bagian tubuh jaring. Istilah gill net sndiri di dasarkan pada
pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap gill net terjerat di sekitar
operculumnya pada mata jaring. Dalam bahasa jepang, gill net disebut dengan
istilah sasi ami, yang berdasarkan pemikiran bahwa tertangkapnya ikan-ikan
pada gill net, ialah dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut menusukkan diri-
sasu pada jaring-ami. Di indonesia, penanaman gill net ini beraneka ragam,
ada yang menyebutnya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring karo, jaring
udang, dan sebagainya), ada pula yang disertai dengan nama tempat (jaring udang
bayeman), dan sebagainya (Ayodhyoa 1981). Bagian-bagian dari surface gill net
antara lain pelampung (float) berfungsi untuk menghasilkan gaya apung pada
surface gill net berbahan karet atau sendal dengan ketebalan 35mm dan panjang
0.04 m, tali pelampung (float line) adalah tali yang dipakai untuk memasang
pelampung yang bahannya terbuat dari bahan sintetis seperti haizek, vinylon,
polyvinyl, polyvinyl chloride, saran atau bahan lainnya yang bisa dijadikan untuk
tali pelampung dengan ketebalan 3mm dan panjang 14, Tali ris atas dan bawah,
berfungsi untuk dipakai memasang atau menggantungkan badan jaring.
Pemasangan tali ris bagian atas dipasang di bawah tali pelampung sedangkan tali
ris bawah dipasang di atas tali pemberat, tali ris ini berbahan polietilen dengan
ketebalan 5 mm dan panjang 14 m, untuk tali penggantung badan jaring bagian
atas dan bawah (upper bolch line and under bolch line), adalah tali yang dipakai
untuk menyambungkan atau menggantungkan badan jaring ke tali ris. Pada
pengukuran mata jaring (mesh size) bagian jaring berbahan nilon monofilamen
berukuran mata jaringnya 40 mm dengan jumlah mata ke arah samping 1484
mata dan jumlah mata ke arah bawahnya 36 mata. Untuk jenis pemberat timah
dan jumlah pemberatnya kurang lebih 30. Harga untuk jaring insang atau bloon
atau gillnet ini berkisar Rp. 300.000 (Martasuganda 2002).
Metode pengoperasian dari Jaring Bloon bertempat di pelabuhan
perikanan Stasiun Lapang Kelautan Pelabuhan ratu. Untuk daerah penangkapan
terdapat di dasar perairan bersubstrat lumpur dan berpasir. Waktu yang ditempuh
ke daerah penangkapan seperapat jam dari stasiun.waktu untuk penyetingan alat
pukul 17.00 WIB dengan lama jaring dalam air 12 jam. ikan hasil tangkapan
biasanya terpuntal pada jaring. Gillnet dibawa oleh kapal dengan berbahan kayu
atau fiber, kapal ini biasanya berukuran 6x0.8 m dengan ketinggian dari atas
hingga bawah dari 23-60 m. Mesin yang digunakan pada kapal ini berupa mesin
diesel dengan harga sekitar Rp. 6.000.000/mesin, bahan bakar yang digunakan
mesin ini berupa bensin atau solar. Setiap melaut nelayan harus memiliki
beberapa kebutuhan operasional seperti solar dengan 4 liter (tiap sekali melaut),
ongkos perhari Rp. 20.000 dan perawatan jaring Rp 30.000. Harga kapal tanpa
jaring dan mesin dapat berkisar Rp. 18.000.000, jika ditambah dengan jaring dan
mesin dapat berkisar Rp. 25.000.000.
Hasil tangkapan utama yang diambil nelayan Gillnet ini berupa lobster
dengan pengambilan setiap 27 hari perbulan, biasanya lobster yang ditangkap
setiap melaut berupa 10 ekor lobster. Lobster yang didapat biasanya berbobot 2 kg
dengan harga yang dibandrol perkilo sebesar Rp. 350.000, itu tergantung jenis
lobster yang didapat. Ikan sampingan yang didapat nelayan gillnet berupa ikan
petek, sebelah, layar, kuniran, belida, dan lainnya. Ikan campuran yang didapat ini
bisa mencapai 20 kg dengan harga yang dibandrol sebesar Rp. 4000. Pemasaran
yang dilakukan nelatan berupa bentuk produk segar kepada pengepul.
Gillnet adalah jenis jaring yang berbentuk empat persegi panjang dimana
di dalam air kedudukannya menghadang pergerakan ikan dan akan menjerat
insang ikan atau membelit badannya (Krisnandar 2000), sedangkan menurut
Mardani (2007), jaring insang (gillnet) merupakan alat penangkapan ikan
berbentuk empat persegi panjang yang ukuran mata jaringnya merata dan
dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa
tali ris bawah untuk menghadang ikan sehingga ikan sasaran terjerat mata jaring
atau terpuntal pada bagian tubuh jaring. Ayodhyoa (1981) menjelaskan bahwa
prinsip pengoperasian alat tangkap ini adalah menghadang pergerakan dari udang
lobster sehingga udang lobster tersangkut dan terpuntal pada jaring. Agar dapat
meningkatkan hasil tangkapan jaring lobster maka perlu adanya suatu cara untuk
menarik kedatangan udang karang.
Balai besar pengembangan penangkapan ikan (2006) menjelaskan bahwa
jenis kapal yang digunakan untuk operasi gillnet dan trammel net sebaiknya di
rancang sedemikian rupa dengan mempertimbangkan beberapa aspek, yaitu
keleluasan dalam olah gerak pada saat penebaran dan penarikan jaring, serta untuk
menempatkan jaring diatas kapal, hal ini membutuhkan lebar yang
cukup.Pertimbangan lainnya adalah tabilitas yang mantap dengan mengurangi
frekuensi goncangan dan ayunan, akan memberikan kenyamanan bagi nelayan
dalam melakukan operasi penangkapan, untuk keperluan ini dapat diperbesar.
Jaring gillnet ini direntang pada dasar laut, yang demikian berarti jenis-
jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish)
ataupun ikan-ikan damersal. Jenis-jenis ikan seperti cucut, tuna, yang mempunyai
tubuh sangat besar sehingga tak mungkin terjerat pada mata jaring ataupun ikan-
ikan seperti flat fish yang mempunyai tubuh gepeng lebar, yang bentuk tubuhnya
sukar terjerat pada mata jaring, ikan-ikan seperti ini akan tertangkap dengan cara
terbelit-belit (entangled). Jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis, misalnya
herring, cod, halibut, mackerel, yellow tail, sea bream, tongkol, cakalang, kwe,
layar, selar, dan lain sebagainya. Jenis-jenis udang, lobster juga menjadi tujuan
penangkapan jaring ini (Mardani 2007).

PENUTUP

Simpulan

Saran

DAFTAR PUSTAKA
Ayodhyoa AU. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Bogor (ID) : Program Studi
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan. 2006. Klasifikasi Alat
Penangkapan Ikan Indonesia. Semarang (ID) : BBPPI.
Kholifah, N. 1998. Pengaruh ikatan dengan umpan kulit kambing terhadap hasil
tangkapan lobster menggunakan jaring krendet di perairan baron gunung
kidul yogyakarta. [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Krisnandar B. 2000. Uji coba penggunaan umpan pada alat tangkap jaring bloon
(bottom gillnet) untuk menangkap udang karang (Panulirus sp.) di
perairan pelabuhanratu, jawa barat. [skripsi]. Bogor(ID): Institut Pertanian
Bogor.
Mardani. 2007. Tingkat pemanfaatan sumberdaya lobster (Panulirus sp.) dengan
alat tangkap jaring lobster (gillnet monofilament) di kabupaten kebumen,
jawa tengah. [skripsi]. Semarang (ID): Universitas Diponegoro Semarang.
Martasuganda S. 2002. Jaring Insang (Gillnet). Bogor (ID) : Program Studi
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Pane AB. 2010. Kajian kekuatan hasil tangkapan : kasus pelabuhan perikanan
nusantara (ppn) pelabuhan ratu sukabumi. Jurnal Mangrove dan Pesisir.
10 (1) : 8-19.
Ruswandi A dan Gartika D. 2013. Strategi pengembangan investasi di sekitar
pelabuhan perikanan tipe b di jawa barat. Jurnal Akuatika. 4 (1) : 89-101.

LAMPIRAN
Lampiran 1 Dokumentasi praktikum lapang

Jaring bloon Tali ris jarring Pemberat jaring

Jaring Poster jaring bloon Proses wawancara

Anggota kelompok 8