Anda di halaman 1dari 5

Plasma Lucutan Korona

Teknologi plasma yang diterapkan pada industri tekstil sebaiknya menggunakan


teknologi plasma bertemperatur rendah supaya tidak merusak material tekstil yang diproses.
Media penghasil plasma untuk industri tekstil sebaiknya berupa peralatan yang dapat
memproduksi plasma non termal dengan konfigurasi geometris yang sesuai untuk daerah
kerja (dimensi panjang dan lebar) kain yang besar dengan hasil perlakuan seragam. Selain itu,
penggunaan plasma untuk proses tekstil harus dapat memenuhi sifat-sifat akhir material yang
diinginkan, tidak mengubah sifat dasar serat pada umumnya (pegangan, tekstur dan lain
sebagainya), tidak mengganggu proses-proses penyempurnaan selanjutnya, serta memiliki
ketahanan terhadap proses pemeliharaan tekstil (penghilangan noda, pencucian, pengeringan,
penyetrikaan, dsb).

Teknologi plasma lucutan korona adalah teknologi plasma tertua dan paling sederhana
yang banyak digunakan untuk memodifikasi permukaan polimer. Ionisasi gas pada plasma
metode lucutan korona terjadi pada tekanan atmosfir. Plasma lucutan korona dihasilkan dari
sepasang elektroda dengan konfigurasi bentuk asimetri yang dialiri arus listrik frekuensi
rendah dengan kejutan tegangan tinggi (pulsed high voltage) hingga 20 kV. Lucutan korona
kemudian terbentuk pada medan listrik tak seragam (non-uniform) yang kuat antar elektroda.
Medan listrik yang tidak seragam ini disebabkan oleh adanya perbedaan geometri antar
elektroda (konfigurasi titik-bidang). Poliester merupakan serat sintetis yang paling banyak
digunakan untuk tekstil dan produk tekstil. (prayogie & novarini, 2015)

Poliester termasuk salah satu serat yang dijadikan objek modifikasi menggunakan
teknologi plasma. Poliester unggul dalam hal kekuatannya yang tinggi, anti kusut dan tahan
abrasi, tahan terhadap berbagai bahan kimia serta memiliki kilau yang tinggi. Namun
demikian poliester memiliki sifat hidrofob, daya serap dan adhesi rendah, kurang nyaman
digunakan serta menghasilkan listrik statik. Kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi
salah satu diantaranya dengan menggunakan teknologi plasma.

Penyempurnaan Tolak Air dengan Fluorokarbon

Efek penyempurnaan tolak air pada bahan dapat terjadi karena zat tolak air
mengikuti bahan padat atau zat tolak air mengisi ruang pada bahan padat dengan oksigen.
(Quer, 2005) seperti yang ditujunkkan pada gambar- dibawah ini
Sumber: On Water Repellency (The Royal Society of Chemistry 2005)

Gambar- (a) zat tolak air mengikuti benda padat (b) zat tolak air meninggalkan oksigen
pada celah permukaan padat

Penempelan fuorokarbon pada permukaan kain (Ahmed, 2012)


PERCOBAAN

Bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu kain poliester rajut yang telah
dilakukan proses persiapan penyempurnaan. Kain poliester tersebut dipotong dengan
ukuran 27 cm x 40 cm sesuai ukuran elektroda pada mesin plasma yang sebelumnya
dilakukan proses penyempurnaan tolak air dengan menggunakan phobol yaitu resin tolak
air berbasis fluorokarbon dengan metoda pad-dry-cure.

Dilakukan pada empat kain yaitu, kain 1 dengan menggunakan jarak elektroda 20
mm selama 10 menit, kain 2 dengan menggunakan jarak elektroda 20 mm waktu 15 menit,
kain 3 dengan menggunakan jarak elektroda 25 mm dengan waktu 10 menit, dan kain 4
menggunakan jarak elektroda 25 mm dengan waktu 15 menit.

DATA PENGAMATAN

Tabel -2 penilaian peforma plasma variasi jarak dan waktu proses

No Jarak Voltage Kuat arus Waktu keterangan


elektroda (kV) (mA) (menit)
(mm)
1 20 15 62,5 10 Terbentuk lapisan plasma berwarna
biru-ungu yang cukup tebal,tidak ada
spark
2 20 15 62,5 15 Terbentuk lapisan plasma biru-ungu,
terdapat spark setelah 10 menit
pertama
3 25 15 62,5 10 Terbentuk lapisan plasma yang
merata di sepanjang elektroda tanpa
muncul spark
4 25 15 62,5 15 Terbentuk lapisan plasma yang
merata di sepanjang elektroda tanpa
muncul spark
Tabel -3 nilai evaluasi spray test AATCC

No Keterangan Nilai uji spray test


Kain
1. Blanko 0
2. kain dengan 90
fluorokarbon
3. Kain 1 P 70
TP 80
4. Kain 2 P 50
TP 70
5. Kain 3 P 50
TP 70
6. Kain 4 P 50
TP 80
*ket: P = dengan treatment plasma
TP = tanpa treatment plasma
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil uji spray test pada tabel-3, apabila dibandingkan antara blanko,
kain dengan penyempurnaan fluorokarbon, dan kain dengan proses penyempurnaan
fluorokarbon dan plasma diperoleh nilai uji spray test yang berbeda. Uji spray test tersebut
bertujuan untuk membuktikan adanya sifat pada kedua permukaan kain yang berbeda. Jarak
elektroda dan waktu proses plasma mempengaruhi hasil hidrofilitas kain poliester.

Apabila dibandingkan, nilai spray test blanko yaitu 0 yang berarti terjadi
pembasahan pada permukan atas kain dan pada permukaan bawah kain yang dapat diartikan
memiliki daya serap yang bagus. Daya serap yang bagus tersebut diperoleh karena kontruksi
kain poliester rajut sehingga terdapat banyak rongga antar rajutannya jika dibandingkan
dengan kain poliester tenun. Setelah dilakukan proses penyempurnaan tolak air dengan resin
fluorokarbon, niali spray test kedua permukaan kain yaitu 90.

Setelah dilakukan proses plasma pada satu bagian permukaan kain, nilai spray test
kedua permukaan kain menjadi berbeda. Berdasarkan tabel-3, pada penilaian performa
plasma, yang paling baik yaitu pada jarak elektroda 25 mm waktu 15 menit dengan nilai
permukaan kain yang diplasma 50 dan nilai spray test permukaan kain tanpa perlakuan
plasma 80. Dari data uji spray test tersebut dapat dibuktikan bahwa kain jersey memiliki dua
permukaan yang berbeda. Pada permukaan yang melalui proses plasma, terjadi penyerapan
yang lebih baik, hal tersebut terjadi karena terbentuk gugus polar baru pada permukaan kain
yang di plasma seperti karbonil, karboksilat, hidroksil, dan gugus peroxide sehingga dapat
membuat daya serap poliester menadi meningkat.

Dengan adanya oksigen radikal dari plasma, maka dapat mengikis kain poliester
(grafting) sehingga selain terdapat penambahan gugus polar, terkikisnya permukaan serat
poliester juga menjadi indikasi penyerapan air yang meningkat.

Berdasarkan tabel-2 yaitu data performa plasma, pada jarak 20 mm maupun25 mm


menghasilkan plasma yang ditunjukan terbentuknya lapisan berwana biru keunguan. Namun
pada jarak elektroda 20 mm selama 15 menit, terjadi spark sehingga jarak yang baik
dilakukan plasma pada kain contoh uji yaitu pada jarak 25 mm dengan waktu 15 menit.