Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

OSILATOR HARMONIK KUANTUM

Disusun oleh :

Fandi Ahmad

15503003

PRODI FISIKA

FAKULTAS MATATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Gelombang adalah getaran yang merambat. Salah satu contoh gelombang


adalah gelombang Schrodinger. Gelombang Schrodinger menggambarkan
keberadaan electron pada suatu posisi dan waktu. Gelombang Schrodinger dapat
dituliskan dalam suatu persamaan differensial parsial yang lebih kita kenal dengan
persamaan Schrodinger. Untuk mendapatkan persamaan Schrodinger, kita dapat
menggunakan separasi variabel atas x dan t, yang selanjutnya masing-masing
variabel akan dicari persamaannya dengan persamaan differensial biasa.

Persamaan Schrodinger yang menyatakan pada suatu posisi satu dimensi


disebut dengan persamaan Schrodinger satu dimensi, sedangkan persamaan
Schrodinger yang menyatakan posisi tiga dimensi, disebut persamaan Schrodinger
tiga dimensi. Pada persamaan Schrodinger satu dimensi dapat dibentuk suatu
persamaan Schrodinger bebas waktu satu dimensi yang berarti bahwa persamaan
Schrodinger tidak bergantung pada waktu,. Sama halnya dengan persamaan
Schrodinger tiga dimensi yang juga dapat dibentuk menjadi persamaan
Schrodinger bebas waktu tiga dimensi.

Persamaan Schrodinger dapat diterapkan dalam berbagai persoalan fisika.


Berdasarkan persamaan Schrodinger bebas waktu tersebut, kita dapat
mengaplikasi persamaan Schrodinger pada berbagai macam contoh system
partikel yang bergerak di dalam ruang dengan potensial dan kuantitas energi
partikel yang terkait.

Hal inilah yang melatarbelakangi penulisan makalah Aplikasi Persamaan


Schrodinger yang akan membahas mengenai pengaplikasian persamaan
Schrodinger bebas waktu di dalam ruang potensial sederhana dalam satu dimensi
serta kuantitasi energi partikel dalam potensial kotak satu dimensi.

2
1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dari makalah Aplikasi


Persamaan Schrodinger adalah:

1. Jelaskan aplikasi persamaan Schrodinger dalam satu dimensi.


2. Jelaskan kuantitasi energi partikel dalam potensial kotak satu dimensi.
1.3. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penulisan makalah Aplikasi


Persamaan Schrodinger adalah:

1. Menjelaskan aplikasi persamaan Schrodinger dalam satu dimensi.


2. Menjelaskan kuantitasi energi partikel dalam potensial kotak satu dimensi

3
BAB II

PEMBAHASAN

Aplikasi Persamaan Schrodinger


Kotak Potensial Satu Dimensi dan Keadaan Dasar
Sumur Potensial adalah daerah yang tidak mendapat pengaruh potensial. Hal
ini berarti bahwa partikel selama berada dalam sumur potensial, merupakan
electron bebas. Kita katakan bahwa electron terjebak di sumur potensial, dan kita
anggap bahwa dinding potensial sangat tinggi menuju , atau kita katakan sumur
potensial sangat dalam. Dalam gambar berikut kita akan menggambarkan sumur
potensial. Daerah I dan daerah III adalah daerah-daerah dengan V= , Sedangkan
di daerah II, yaitu antara 0 dan L, V= . Kita katakan bahwa lebar sumur potensial
ini adalah L.

Pada sumur potensial yang dalam, daerah I dan III adalah daerah dimana
kemungkinan berada elektron bisa dianggap nol, 1(x) = 0 dan 2(x) = 0.
Sedangkan pada daerah dua kita dapat memberi spesifikasi pada gerak partikel
dengan mengatakan bahwa gerak itu terbatas pada gerak sepanjang sumbu-x
antara x = 0 dan x = L disebabkan oleh dinding keras tak berhingga. Sebuah
partikel tidak akan kehilangan energinya jika bertumbukan dengan dinding, energi
totalnya tetap konstan.

Dari pernyataan tersebut maka energi potensial V dari partikel itu menjadi
tak hingga di kedua sisi sumur, sedangkan V konstan di dalam sumur, dapat

4
dikatakan V = 0 seperti yang terlihat pada gambar di atas, karena partikel tidak
bisa memiliki energi tak hingga, maka partikel tidak mungkin ditemukan di luar
sumur, sehingga fungsi gelombang = 0 untuk 0 x L. Maka yang perlu dicari
adalah nilai di dalam sumur, yaitu antara x = 0 dan x = L . Persamaan
Schrodinger bebas waktu adalah :
2 2
=
2 2
Dengan
2
2
= 2

Dimana
2
=

Sesuai dengan persamaan gelombang, (x) = A sin kx + B cos kx .

Pemecahan ini belum lengkap, karena belum ditentukan nilai A dan B, juga
belum menghitung nilai energi E yang diperkenankan. Untuk menghitungnya,
akan diterapkan persyaratan bahwa (x) harus kontinu pada setiap batas dua
bagian ruang. Dalam hal ini, akan dibuat syarat bahwa pemecahan untuk x < 0 dan
x > 0 bernilai sama di x = 0. Begitu pula pemecahan untuk x > L dan x < L
haruslah bernilai sama di x = L. Jika x = 0, Untuk x < 0 Jadi harus mengambil
(x) = 0 pada x = 0.

(0) = A sin 0 + B cos 0

(0) = 0 + B.1 = 0

Jadi, didapat B = 0. Karena =0 untuk x > L, maka haruslah berlaku (L) = 0.

(L) = A sin kL + B cos kL = 0

Karena telah didapatkan bahwa B = 0, maka haruslah berlaku:

A sin kL = 0

5
Disini ada dua pemecahan yaitu A = 0, yang memberikan (x) = 0 dan
2(x) = 0, yang berarti bahwa dalam sumur tidak terdapat partikel atau sin kL = 0,
maka yang benar jika:

kL = , 2, 3, n=1,2,3 .

Dengan
2
= =

Dari persamaan tersebut diperoleh bahwa energi partikel mempunyai
harga tertentu yaitu harga eigen. Harga eigen ini membentuk tingkat energisitas
yaitu:
2 2 2
=
22
Energi yang kita tinjau disini berbeda dengan energi Born, dimana pada
energi Born menyatakan energi tingkat atomic, sedangkan tingkat energi pada
persamaan Schrodinger menyatakan tingkat energi untuk elektron.
Fungsi gelombang sebuah partikel didalam sumur yang berenergi En ialah:
2
= sin

2 2
Untuk memudahkan 1 = 22 yang mana tampak bahwa unit energi ini

ditentukan oleh massa partikel dan lebar sumur. Maka E = n2E1 dan demikian
partikelnya hanya dapat ditemukan dengan energi E1, 4E1, 9E1, 16E1 dan
seterusnya. Karena dalam kasus ini energi yang diperoleh hanya pada laju tertentu
yang diperkenankan dimiliki partikel. Ini sangat berbeda dengan kasus klasik,
misalnya manik-manik (yang meluncur tanpa gesekan sepanjang kawat dan
menumbuk kedua dinding secara secara elastik) dapat diberi sembarang kecepatan
awal dan akan bergerak selamanya, bolak-balik, dengan laju tersebut.

Dalam kasus kuantum hal ini tidaklah mungkin, karena hanya laju awal
tertentu yang dapat memberikan keadaan gerak tetap, keadaan gerak khusus ini
disebut keadaan stasioner (disebut keadaan stasioner karena ketergantungan
pada waktu yang dilibatkan untuk membuat (x,t),|(x,t)|2 tidak bergantung
waktu). Hasil pengukuran energi sebuah partikel dalam sebuah sumur potensial

6
harus berada pada salah satu keadaan stasioner, hasil yang lain tidaklah mungkin.
Pemecahan bagi (x) belum lengkap, karena belum ditentukan tetapan A. Untuk

menentukannya, ditinjau kembali persyaratan normalisasi, yaitu |()2 =
1 Karena (x)=0, kecuali untuk 0 x L sehingga berlaku:

2
| | 2 () = 1
0

2
Maka diperoleh A = . Dengan demikian, Pemecahan lengkap bagi

fungsi gelombang untuk 0 x L adalah:


2
n =
= 1, 2, 3,

Dalam gambar di bawah ini akan dilukiskan berbagai tingkat energi,


fungsi gelombang dan rapat probabilitas ||2 yang mugkin untuk beberapa
keadaan terendah. Keadaan energi terendah, yaitu pada n =1 , dikenal sebagai
keadaan dasar dan keadaan dengan energi yang lebih tinggi (n > 1) dikenal
sebagai keadaan eksitasi.

7
Kita lihat di sini bahwa energi elektron mempunyai nilai-nilai tertentu
yang diskrit, yang ditentukan oleh bilangan bulat n. Nilai diskrit ini terjadi karena
pembatasan yang harus dialami oleh 2, yaitu bahwa ia harus berada dalam sumur
potensial. Ia harus bernilai nol di batas-batas dinding potensial dan hal itu akan
terjadi bila lebar sumur potensial L sama dengan bilangan bulat kali setengah
panjang gelombang. Jika tingkat energi untuk n = 1 kita sebut tingkat energi yang
pertama, maka tingkat energi yang kedua pada n = 2, tingkat energi yang ketiga
pada n = 3 dan seterusnya. Jika kita kaitkan dengan bentuk gelombangnya, dapat
kita katakan bahwa tingkat-tingkat energi tersebut sesuai dengan jumlah titik
simpul gelombang. Dengan demikian maka diskritisasi energi elektron terjadi
secara wajar melalui pemecahan persamaan Schdinger.
2 2 2
Persamaan = memperlihatkan bahwa selisih energi antara satu
22

tingkat dengan tingkat berikutnya, misalnya antara n = 1 dan n = 2, berbanding


terbalik dengan kuadrat lebar sumur potensial. Makin lebar sumur ini, makin kecil
selisih energi tersebut, artinya tingkat-tingkat energi semakin rapat. Untuk L sama
dengan satu satuan misalnya, selisih energi untuk n = 2 dan n = 1 adalah E2 - E1 =
2 2
3 8 dan jika L 10 kali lebih lebar maka selisih ini menjadi E2 - E1 = 0,03 8.

8
Jadi makin besar L maka perbedaan nilai tingkat-tingkat energi akan
semakin kecil dan untuk L semakin lebar maka tingkat-tingkat energi tersebut
akan semakin rapat sehingga mendekati kontinu.

9
DAFTAR PUSTAKA

Krane, Kenneth. 1992. Fisika Modern. Jakarta : UI Press


Universitas Sumatera Utara.2011.Persamaan Schrodinger.
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22518/4/Chapter%20II.pdf. 25
Oktober 2016.

10