Anda di halaman 1dari 34

A.

KONSEP PENYAKIT

1. DEFINISI
Penyakit meniere adalah gangguan kronis saluran semisirkular dan
labirin telinga dalam, tampak berhubungan dengan over produksi endolimfe di
telinga dalam ( Elizabeth J Corwin : 2009 ).
Penyakit Maniere adalah suatu kelainan labirin yang etiologinya
belum diketahui dan mempunyai trias gejala yang khas, yaitu gangguan
pendengaran, tinnitus dan serangan vertigo (Kapita Selekta Edisi 3).
Penyakit Mnire adalah penyakit telinga batin yang mempengaruhi
tekanan fluida endolymphatic dalam bagian-bagian yang lebih dalam telinga
yang bertanggung jawab untuk keseimbangan dan mendengar fungsi. Gejala
biasanya mempengaruhi fungsi-fungsi ini dan mungkin berbeda dari orang ke
orang (Ananya Mandal : 2013).

2. ETIOLOGI
Penyebab pasti dari penyakit meniere belum diketahui. Beberapa teori
melaporkan beberapa faktor yang dapat menimbulkan penyakit ini :
a. Gangguan lokal keseimbangan garam dan air yang menyebabkan edema
endolimfe.
b. Gangguan regulasi otonom sistem endoloimfe.
c. Alergi lokal telinga dalam yang menyebabkan edema dan gangguan
kontrol otonom.
d. Gangguan vaskularisasi telinga dalam, terutama stria vaskularisasi.
e. Gangguan duktus / sakus endolimfatik yang mengganggu absorbsi
endolimfe.
f. Perubahan hubungan dinamika tekanan perilimfe dan endolimfe yang
mungkin berhubungan dengan perubahan anatomik di dalam pembuluh
endolimf dan akua duktus koklea.
g. Manifestasi lokal labirin pada penyakit sistemik metabolik yang mengenai
baik tiroid maupun metabolisme glukosa atau keduanya.
h. Berkaitan dengan beberapa kelainan os temporal termasuk berkurangnya
pneumatisasi dari mastoid dan hipoplasi akuaduktus vestibuler. Kantong
endolimf terlalu kecil dan berada dalam posisi abnormal di bawah labirin.
i. Terdapat bukti adanya penimbunan kompleks imun dalam endolimfe pada
pasien dengan penyakit meniere memperkuat dugaan bahwa penyakit ini
suatu gangguan imun.

Penyakit Meniere masa kini dianggap sebagai keadaan dimana terjadi


ketidakseimbangan cairan telinga tengah yang abnormal yang disebabkan oleh
malapsorbsi dalam sakus endolimfatikus.Namun, ada bukti menunjukkan
bahwa banyak orang yang menderita penyakit Meniere mengalami sumbatan
pada duktus endolimfatikus.Apapun penyebabnya, selalu terjadi hidrops
endolimfatikus, yang merupakan pelebaran ruang endolimfatikus.Baik
peningkatan tekanan dalam sistem ataupun ruptur membran telinga dalam
dapat terjadi dan menimbulkan gejala Meniere.

3. MANIFESTASI KLINIK
Meniere ditandai oleh gejala-gejala sebagai berikut :

a. Gejalanya berupa seangan vertigo, mual dan muntah mendadak, yang


berlangsung selama 3-24 jam dan kemudian menghilang secara perlahan.
b. Secara periodik, penderita merasakan telinganya penuh atau merasakan
adanya tekanan di dalam telinga.
c. Pendengaran di telinga yang terkena berfluktuasi (kadang jelas, kadang
kurang) tetapi semakin lama semakin memburuk.
d. Tinnitus bisa menetap atau hilang-timbul dan semakin memburuk
sebelum, setelah maupun selama serangan vertigo.
e. Pada kebanyakan penderita, penyakit ini hanya menyerang 1 telinga dan
pada 10-15% penderita, penyakit ini menyerang kedua telinga.
f. Setelah serangan vertigo mulai, bisa terjadi perbaikan fungsi pendengaran.
g. Pada salah satu bentuk penyakit Meniere, tuli dan tinnitus terjadi beberapa
bulan atau beberapa tahun sebelum seangan vertigo.

Tanda dan gejala penyakit meniere berdasarkan tipenya :

a. Penyakit Meniere vestibular


Penyakit Meniere vestibular ditandai dengan adanya vertigo episodic
sehubungan dengan tekanan dalam telinga tanpa gejala koklea.
Tanda dan gejala:
1) Vertigo hanya bersifat episodic
2) Penurunan respons vestibuler atau tak ada respons total pada telinga
yang sakit
3) Tak ada gejala koklea
4) Tak ada kehilangan pendengaran objektif
5) Kelak dapat mengalami gejala dan tanda koklea
b. Penyakit Meniere klasik
Tanda dan gejala:
1) Mengeluh vertigo
2) Kehilangan pendengaran sensorineural berfluktuasi
3) Tinitus
4) Penyakit Meniere koklea
c. Penyakit Meniere koklea
Penyakit Meniere koklea dikenali dengan adanya kehilangan
pendengaran sensorineural progresif sehubungan dengan tnitus dan tekanan
dalam telinga tanpa temuan atau gejala vestibuler.
Tanda dan gejala:
1) Kehilangan pendengaran berfluktuasi
2) Tekanan atau rasa penuh aural
3) Tinnitus
4) Kehilangan pendengaran terlihat pada hasil uji
5) Tak ada vertigo
6) Uji labirin vestibuler normal
7) Kelak akan menderita gejala dan tanda vestibuler
Tingkat derajat keparahan penyakit Meniere ;
a. Derajat I :
Gejala awal berupa vertigo yang disertai mual dan
muntah.Gangguan vagal seperti pucat dan berkeringat dapat
terjadi.Sebelum gejala vertigo menyerang, pasien dapat merasakan sensasi
di telinga yang berlangsung selama 20 menit hingga beberapa jam.
Diantara, pasien sama sekali normal.
b. Derajat II :
Gangguan pendengaran semakin menjadi-jadi dan
berfluktuasi.Muncul gejala tuli sensorineural terhadap frekuensi rendah.
c. Derajat III :
Gangguan pendengaran tidak lagi berfluktuasi namun progresif
memburuk.Kali ini mengenai kedua telinga sehingga pasien seolah
mengalami tuli total.Vertigo mulaiberkurang atau menghilang.

4. KOMPLIKASI
a. Neuronitis vestibularis
b. Labirinitis
c. Tuli total.
d. Vertigo posisi paroksimal jinak (VJJP)
e. Vertigoservical. (NNn:2011)
5. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAY
Hidrops (pembengkakan) endolif akibat endolif dalam skala media
oleh vaskularis terhambat.Penyakit Meniere disebabkan oleh penumpukan
cairan dalam kompartemen dari telinga bagian dalam, yang disebut
labirin.labirin berisi organ keseimbangan (saluran setengah lingkaran dan
organ otolithic) dan pendengaran (koklea). Hal ini memiliki dua bagian:
labirin tulang dan labirin membran. Labirin membran diisi dengan cairan yang
disebut endolymph, di organ keseimbangan, merangsang reseptor sebagai
benda bergerak.Reseptor kemudian mengirimkan sinyal ke otak tentang posisi
tubuh dan gerakan.Pada koklea, cairan yang dikompresi dalam merespon
suara getaran, yang merangsang sel-sel indera yang mengirimkan sinyal ke
otak.Pada penyakit Meniere, penumpukan endolymph di labirin mengganggu
sinyal keseimbangan dan normal pendengaran antara telinga bagian dalam dan
otak. Kelainan ini menyebabkan gejala vertigo dan lain dari penyakit Meniere.
Penyakit Meniere masa kini dianggap sebagai keadaan dimana terjadi
ketidakseimbangan cairan telinga tengah yang abnormal yang disebabkan oleh
malapsorbsi dalam sakus endolimfatikus.Namun, ada bukti menunjukkan
bahwa banyak orang yang menderita penyakit Meniere mengalami sumbatan
pada duktus endolimfatikus.Apapun penyebabnya, selalu terjadi hidrops
endolimfatikus, yang merupakan pelebaran ruang endolimfatikus.Baik
peningkatan tekanan dalam sistem ataupun ruptur membran telinga dalam
dapat terjadi dan menimbulkan gejala Meniere. (Nn : 2010)
6. PENATALAKSANAAN
Pasien harus dirawat di rumah sakit, berbaring dalam posisi yang
meringankan keluhan diberikan diet rendah garam dan pemberian diuretik
ringan.obat-obatan sistomatik anti vertigo seperti dimenhidrinat 3x50 mg atau
prometazin 3x25 mg,obat vasodilator perofer seperti papaverin dan
betahistin,atau operasi shunt.dapat pulah diberikan obat antiiskemia dan
neurotonik.adaptasi dengan latihan dan fisioterapi.
A. ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA Tn. P DENGAN KASUS MEINERE
DI RUANG MELATI RS KUSUMASARI

Tgl/Jam MRS : 12 Juni 2017/ 08.00


Tanggal/Jam Pengkajian : 12 Juni 2017/ 09.00
Metode pengkajian : ...............................................
Diagnosa Medis : ..
No. Registrasi : ............................................

I. BIODATA
1. IDENTITAS KLIEN
Nama Klien : Tn. P
Alamat : Plumbon Rt 03 Rw 01, Mojolaban, Sukoharjo
Umur : 35 tahun
Agama : Islam
Status Perkawinan : Kawin
Pendidikan : D3
Pekerjaan : Karyawan swasta
2. Identitas Penanggung jawab
Nama : Maryani
Umur : 36 tahun
Pendidikan : D3
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Plumbon Rt 03 Rw 01, Mojolaban, Sukoharjo
Hubungan dengan Klien : Istri
II. RIWAYAT KEPERAWATAN
1. Keluhan Utama
Klien merasa pusing, telinga sakit, dan pendengaran berkurang.
2. Riwayat PenyakitSekarang
Klien mengalami gangguan pendenaran dan terjadi vertigo
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Memiliki keturunan vertigo
5. Riwayat Kesehatan Lingkungan:
Lingkungan terdengar bising karena dekat dengan pabrik

III. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN FUNGSIONAL


1. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan

2. Pola Nutrisi/Metabolik
a. Sebelum Sakit
Frekuensi : tidak ada keluhan
Jenis : tidaka ada keluhan
Porsi : cukup seperti biasanya
Keluhan : tidak ada keluhan
b. Selama Sakit
Frekuensi : berkurang
Jenis : berkurang
Porsi : sedikit karena tidak nafsu
Keluhan : keluhan mual dan mutah

3. Pola Eliminasi
a. BAB
1) Sebelum Sakit
Frekuensi BAB : lancar tidakada keluhan
Konsistensi : tidak ada keluhan
Warna : normal
Keluhan : tidak ada
2) Selama Sakit
Frekuensi BAB : lebih dari normal
Konsistens : tidak normal
Warna : tidak normal
Keluhan : diare
b. BAK
1) Sebelum Sakit
Frekuensi BAB :
....................................................................................
Jumlah Urine :
...................................................................................
Warna :
...................................................................................
Keluhan :
.....................................................................................
2) Selama Sakit
Frekuensi BAB :
....................................................................................
Jumlah urine :
...................................................................................
Warna :
...................................................................................
Keluhan :
.....................................................................................
ANALISA KESEIMBANGAN CAIRAN SELAMA PERAWATAN
Intake Output Analisa
a. Minuman c. Urine Intake :
cc .cc .cc
b. Makanan d. Feses Output:
.cc ...cc cc
e. IWL
..cc
Total Total Balance: ..cc
.cc ..cc
4. Pola Aktifitas dan Latihan (Sebelum dan Selama Sakit)
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4
Makan/minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Mobilitas ditempat tidur
Berpindah
Ambulasi/ROM
Ket:
0: Mandiri, 1: dengan alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain
dan alat; 4: tergantung total

5. Pola Istirahat Tidur


a. Sebelum Sakit : pola tidur tidak terganggu
b. Selama Sakit : pola tidur terganggu karena telinganya berdenging
atau sakit
6. Pola Kognitif Perseptual
a. Sebelum Sakit :
.................................
b. Selama Sakit :
........................................................................................................
7. Pola Persepsi Konsep Diri
a. Sebelum Sakit :
.................................
b. Selama Sakit :
........................................................................................................
8. Pola Hubungan Peran
a. Sebelum Sakit :
.................................
b. Selama Sakit :
.....................................................................................................
9. Pola Seksualitas Reproduksi
a. Sebelum Sakit :
.................................
b. Selama Sakit :
......................................................................................................
10. Pola Mekanisme Koping
a. Sebelum Sakit :
.................................
......
b. Selama Sakit :
..................................................................................................

11. Pola Nilai dan Keyakinan


a. Sebelum Sakit :
.................................
b. Selama Sakit :
........................................................................................................

IV. PEMERIKSAAN FISIK


1. Keadaan/Penampilan Umum
a. Kesadaran :

b. Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Nadi
- Frekuensi : 105x/menit
- Irama :
...........................................................................................
- Kekuatan :
..........................................................................................
Pernafasan
- Frekuensi : 20x/menit
- Irama :
...........................................................................................
Suhu : 39OC
Analisa: .......................................
2. Kepala
Bentuk Kepala :
Kulit Kepala :
Rambut :
Analisa: .......................................

3. Muka
a. Mata
Palpebra :
........................................................................................................
Konjungtiva :
........................................................................................................
Sclera :
........................................................................................................
Pupil :
........................................................................................................
Diameter ki/ka :
...........................................................................................
Reflek Terhadap Cahaya :
...............................................................................
Penggunaan alat bantu penglihatan :
......................................................
b. Hidung : ........................................................................
c. Mulut : ........................................................................
d. Gigi : .
e. Telinga : .
Analisa: .......................................
4. Leher :

Analisa: .......................................
5. Dada (Thorax)
1) Paru-paru
Inspeksi :
Palpasi :
Perkusi :
Auskultasi :
Analisa: .......................................
2) Jantung
Inspeksi : .
Palpasi : .
Perkusi : .
Auskultasi : .
Analisa: .......................................
6. Abdomen
Inspeksi :
Auskultasi : ...................................................
Perkusi : ...................................................
Palpasi : ...................................................
Analisa: .......................................
7. Genetalia : ..............................................................
Analisa: .......................................
8. Rektum : ..............................................................
Analisa: .......................................
9. Ekstremitas
Atas
Kekuatan otot kanan dan kiri: .....................................................
ROM kanan dan kiri :
.....................................................
Perubahan bentuk tulang :
.....................................................
Perabaan Akral :
.....................................................
Pitting edema : .....................................................
Analisa: .......................................
Bawah
Kekuatan otot kanan dan kiri: .....................................................
ROM kanan dan kiri :
................................................................
Perubahan bentuk tulang :
................................................................
Perabaan Akral :
................................................................
Pitting edema : ................................................................
Analisa: .......................................

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hari/Tanggal/ Jenis Nilai Satuan Hasil Keterangan Hasil
Jam Pemeriksaan Normal

VI. TERAPI MEDIS


Hari/Tanggal Jenis Terapi Dosis Golongan & Fungsi &
/ jam Kandungan Farmakolog
i
Cairan IV:

Obat Peroral:

Obat
Parenteral:

Obat Topikal:

VII. ANALISA DATA


Nama : Tn. P No. CM :
Umur : 35 Tahun Diagnosa Medis:
No Hari/Tanggal/ Data Fokus Problem Etiologi Ttd
. Jam
1. DS:pasien Gangguan Berhubung
mengeluh pola tidur an dengan
telinganya (000198) gangguan
berdenging. pendengara
DO:adanya n.
gangguan
pendengaran.

2. DS: pasien Resiko Berhubung


merasakan Cedera an dengan
pusing yang perubahan
berputar- mobilitas
putar. karena
DO: - gangguan
cara jalan
dan vertigo

3. DS: pasien Resiko Berhubung


mengeluh kekuranga an dengan
mual dan n cairan mual dan
muntah. muntah
DO: -

4. DS: pasien Ansietas Berhubung


merasakan an dengan
telinganya ancaman
penuh atau dan
adanya tekan perubahan
didalam status
telinga. kesehatan
DO: terjadi dan efek
pembengkaka ketidak
n pada rongga mampuan
endolimfatiku vertigo
s.

VIII. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Gangguan pola tidur
2. Resiko Cedera
3. Resiko kekurangan cairan
4. Ansietas

IX. RENCANA KEPERAWATAN


Nama : Tn. P No. CM :
Umur : 35 tahun Diagnosa Medis:
NoD Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional Ttd
x Hasil
1. Tujuan: Kaji tingkat Membantu
gangguan pola tidur kesulitan menentukan
dapat teratasi. tidur pengobatan
Kriteria hasil : Anjurkan atau
Klien tidak terbangun di klien untuk intervensi
malam hari, klien beradaptasi selanjutnya
mengatakan dapat tidur dengan Perlu
dengan nyenyak. gangguan dijelaskan
tersebut bahwa
Arahkan gangguan
dengan tersebut
melakukan sulit
relaksasi, ditanganni,
contoh sehingga
mendengarka pasien
n musik dianjuurkan
Kolaborasika untuk
n dalam beradaptasi
pemberian dengan
obat kedaan
penenang/obs tersebut,
t tidur karena
penggunaan
obat
penenang
juga tidak
terlalu baik
dan hanya
dapat
digunakan
dalam
waktu
singkat
Tehnik
relaksasi
dapat
membantu
mengalihka
n perhatian
terhadap
tinnitus
Menekan
sistem
vestibular,
digunakan
pada kasus
akut untuk
membantu
mengontrol
vertigo
Membantu
memenuhi
kebutuhan
istirahat
2. Tujuan : Kaji vertigo Riwayat
Tetap bebas dari cedera yang meliputi memberika
yang berkaitan dengan riwayat, n dasar
ketidak simbangan/jatuh amitan, untuk
Kriteria hasil : gambaran intervensi
Tidak mengalami jatuh serangan, selanjutnya
akibat gangguan durasi, Luasnya
keseimbangan frekuensi dan ketidak
ketakutan dan ansietas adanya gejala mampuan
berkurang, melakukan telinga yang menurunka
latihan sesuai ketentuan terkait n resiko
mengenali sifat rasa kehilangan jatuh
penuh atau rasa tekan pendengaran, Latihan
didalam telinga yang tinittus, rasa mempercep
terjadi, sebelum penuh at
serangan segera ditelinga kompensasi
melakukan posisi Kaji luasnya labirin yang
horizontal saat pusing, ketidakmamp dapat
menjaga kepala saat uan dalam mengurangi
diam saat pusing, hubungannya vertigo dan
menggunakan obat yang dengan gangguan
diresepkan secara baik, aktivitas cara jalan
melaporkan upaya yang hidup sehari- Menghilang
dapat mengurangi ari kan gejala
vertigo. Ajarkan atau akut vertigo
tekankan Mengurangi
terapi kemungkin
vestibular/kes an jatuh dan
eimbangan cidera
sesuai Gerakan
ketentuan akan
Brikan atau memperber
ajari cara at vertigo
pemberian Pencatatan
obat yang akurat
antivertigo merupakan
dan atau obat dasar untuk
obbat penggantian
penenang cairan
vestibular Pengenalan
derta beri aural dapat
petunjuk pada membantu
pasien mengetahui
mengenai saat
efek perlunya
sampingnya memakai
Dorong obat
pasien untuk sebelum
berbaring bila terjadi
merasa serangan
pusing, sehingga
dengan pagar dapat
tempat tidur meminimal
dinnaikan kan
Letakkan beratnya
bantal pada efek
kedua sisi Perasaan
kepala untuk vertigo
membatasi berkurang
gerakan dan gerakan
Kaji atau mengalami
minta pasien deslerasi
mengkaji bila mata
masukan dan tetap dijaga
haluaran
(termasuk
emesis, tinja
cair, urine
dan
diaforesis)
pantau hasil
lab
Bantu pasien
menccari dan
menentukan
aural (adanya
gejala aural)
yang
mendahului
terjadinya
setiap
serangan
Anjurkan
pasien
membuka
matanya dan
memandang
lurus kedepan
ketika
berbaring dan
mengalami
vertigo

3 Tujuan: kebutuhan Berikan atau Pencatatan


cairan tubuh dapat ajari cara yang akurat
terjaga pemberian merupakan
Ktiteria hasil: elektrolit obat anti dasar untuk
tubuh dalam batas vertigo atau penggantian
normal. Mual dan obat cairan
muntah tidak terjadi. penenang Pengenalan
Membran mukosa vestibular aura dapat
lembab. Turgor kulit serta beri membantu
elastis tidak tampak petunjuk pada mengetahui
lemas pasien saat
mengenai perlunya
efek memakai
sampingnya. obat
Dorong sebelum
pasien untuk terjadi
berbaring bila serangan
merasa sehingga
pusing dapat
dengan pagar meminimal
tempat tidur kan
dinaikkan. beratnya
Letakkan efek
bantal pada Perasan
kedua sisi vertigo
kepala untuk berkurang
mengatasi dan
gerakan pergerakan
Kaji indikasi mengalami
dehidrasi dehidrasi
termasuk bila mata
tekanan dijaga pada
darah, denyut posisis yang
nadi, turgor tetap
kulit, Penggantia
membran n cairan
mukosa, dan oral harus
tingkat dimulai
kesadaran. sesegera
Dorong mungkin
konsumsi untuk
cairan oral mengganti
sesuai kehilangan
toleransi, cairan
hindari Mengurangi
minuman mual dan
yang muntah dan
mengandung mengurangi
kafein kehilangan
(stimulasi cairan
vestibular)
Kolaborasi
pemberian
obat
antiemetik
seperti
supositoria
prometasin,
anti diare
4 Tujuan: mengurangi Kaji tingkat Memaduka
atau tidak mengatasi ansietas n intervensi
ansietas bantupasien terapeutik
Kriteria hasil: ketakutan mengidentifik dan
dan ansietas tentang aasi partisipatif
serangan vertigo ketrampilan dalam
berkurang atau hilang. koping yang perawatan
Merasakan telah diri,
berkurangnya dilakukan ketrampilan
ketegangan. Ansietas dengan hasil koping pada
dan ketidakpastian klien pada masa lalu
mampu memanfaatkan masalalu. dapat
teknik manajemen stress Beri mengurangi
bila diperlukan. Klien informasi ansietas.
mampu menghindari mengenai Maningkatk
peristiwa yang vertigo dan an
menjengkelkan. Klien penanganann pengetahua
mampu mengulangi ya. n mampu
instruksi yang diberikan Dorong membantu
dan menyebutkan psaien mengurangi
pemahaman mengenai mendiskusika ansietas
penanganan ansietas n ansietas dan Meningkatk
gali an
keprihatinan kesadaran
mengenai dan
serangan pemahaman
vertigo hubungan
Ajarkan antara
pasien teknik tingkat
penatalaksana ansietas dan
an stress atau perilaku
lakukan Memperbai
rujukan bila ki
perlu menejemen
Berikan stress,
upaya mengurangi
kenyamanan frekuensi
dan hindari dan
aktifitas yang beratnya
menyebabkan serangan
stress. vertigo
Instruksikan Situasi
paisen dalam penuh strss
aspek dapat
program memperber
pengobatan at gejala
kondisi ini
Pengetahua
n psien
membantu
mengurangi
ansietas.

X. TINDAKAN KEPERAWATAN/IMPLEMENTASI
Nama : No. CM :
Umur : Diagnosa Medis:
Hari/Tgl No Dx Implementasi Respon Ttd
/Jam
1 mengkaji tingkat S : pasien mengatakan
kalau tidurnya sudah
kesulitan tidur nyenyak
mengajurkan klien untuk O: pasien terlihat sudah
cukup nyaman
beradaptasi dengan
gangguan tersebut
mengarahkan dengan
melakukan relaksasi,
contoh mendengarkan
music
mengkolaborasikan
dalam pemberian obat
penenang/obst tidur

2 mengkaji vertigo yang S: pasien mengatkan


sudah merasa nyaman
meliputi riwayat, dan vertigonya sudah
amitan, gambaran mulai berkurang
O: pasien terlihat sudah
serangan, durasi, tenang dan vertigonya
frekuensi dan adanya sudah mulai berkurang
gejala telinga yang
terkait kehilangan
pendengaran, tinittus,
rasa penuh ditelinga
mengkaji luasnya
ketidakmampuan dalam
hubungannya dengan
aktivitas hidup sehari-ari
mengajarkan atau
menekankan terapi
vestibular/keseimbangan
sesuai ketentuan
memberikan atau
mengajari cara
pemberian obat
antivertigo dan atau obat
obbat penenang
vestibular derta beri
petunjuk pada pasien
mengenai efek
sampingnya
mendorong pasien untuk
berbaring bila merasa
pusing, dengan pagar
tempat tidur dinnaikan
meletakkan bantal pada
kedua sisi kepala untuk
membatasi gerakan
mengkaji atau meminta
pasien mengkaji
masukan dan haluaran
(termasuk emesis, tinja
cair, urine dan
diaforesis) pantau hasil
lab
membantu pasien
mencari dan
menentukan aura
(adanya gejala aura)
yang mendahului
terjadinya setiap
serangan
menganjurkan pasien
membuka matanya dan
memandang lurus
kedepan ketika
berbaring dan
mengalami vertigo

memberikan atau 3 ajari S: pasien menggatakan


3 sudah tidak mual dan
3 cara pemberian obat anti muntah lagi
vertigo atau obat O: pasien terlihat sudah
tidak merasa mual dan
penenang vestibular muntah
serta beri petunjuk pada
pasien mengenai efek
sampingnya.
mendorong pasien untuk
berbaring bila merasa
pusing dengan pagar
tempat tidur dinaikkan.
meletakkan bantal pada
kedua sisi kepala untuk
mengatasi gerakan
Mengkaji indikasi
dehidrasi termasuk
tekanan darah, denyut
nadi, turgor kulit,
membran mukosa, dan
tingkat kesadaran.
mendorong konsumsi
cairan oral sesuai
toleransi, hindari
minuman yang
mengandung kafein
(stimulasi vestibular)
Kolaborasi pemberian
obat antiemetik seperti
supositoria prometasin,
anti diare
mengkolaborasi
pemberian obat
antiemetik seperti
supositoria prometasin,
anti diare
4 mengkaji tingkat S: pasien mengatakan
sudah memahami cara
ansietas bantupasien penatalaksanaan
mengidentifikaasi vertigo, dan tidak
cemas lagi
ketrampilan koping yang O: pasien terlihat sudah
telah dilakukan dengan memahami bagaimana
cara penatalaksanaan
hasil pada masalalu. vertigo dan tidak cemas
memberi informasi lagi
mengenai vertigo dan
penanganannya.
mendorong psaien
mendiskusikan ansietas
dan gali keprihatinan
mengenai serangan
vertigo
mengajarkan pasien
teknik penatalaksanaan
stress atau lakukan
rujukan bila perlu
memberikan upaya
kenyamanan dan hindari
aktifitas yang
menyebabkan stress.
Instruksikan paisen
dalam aspek program
pengobatan

XI. CATATAN KEPERAWATAN


Nama : Tn. P No. CM :
Umur : 35 tahun Diagnosa Medis:
No Dx Hari/Tgl/Jam Evaluasi Ttd
1 S: pasien mengatakan sudah nyaman saat tidur
O: pasien terlihat sudahnyaman
A: masalah teratasi
P: hentikan perawatan
2 S: pasien mengatakan vertigonya sudah mulai
membaik
O: pasien terlihat vertigonya mulai berkurang
A: masalah teratasi
P: hentikan perawatan
S: pasien mengatakan sudah tidak merasa mual
dan muntah
O: pasien terlihat sudah tidak mual dan muntah
A: masalah teratasi
P: hentikan perawatan
S: pasien mengatakan sudah tidak merasa ceas lagi
O: pasien terlihat sudah tidak cemas
A: masalah teratasi
P: hentikan perawatan
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Efiaty, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan TELINGA, HIDUNG,
TENGGOROKAN, KEPALA dan LEHER edisi keenam. Jakarta :Balai
penerbit FKUI

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.

Haq, Nuzulul Zulkarnain. 2009. Askep Meniere, (Online), (http://nuzulul-


fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35550Kep%20Sensori%20dan%20
Persepsi-Askep%20Meniere.html, diakses pada 10 Mei 2013)
Latief, abdul dkk. 2007. Ilmu kesehatan anak. Jakarta : bagian ilmu kesahatan anak
fakultas kedokteran universitas Indonesia

Mandal, Ananya. 2013. Gejala Penyakit Meniere, (Online), (http://www.news-


medical.net/health/Symptoms-of-Menieres-disease-(Indonesian).aspx, diakses
pada 10 Mei 2013)

Nn . 2011. Asuhan Keperawatan Sindrom Meniere, (Online),


(Http://Kumpulanbahankesehatan.Blogspot.Com/2011/03/Asuhan-
Keperawatan-Sindrome-Meniere-Kmb.Html, Diakses Pada 10 Mei 2013)

Nn. 2010. Penyakit Meniere, (Online), (http://dastodebelto.blogspot.com


/2010/02/penyakit-meniere.html, diakses pada 10 Mei 2013)

Nn. 2011. Penyakit Meniere, (Online), (http://adharaspica.blogspot.com


/2011/03/penyakit-meniere.html, diakses pada 10 Mei 2013 )

Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.Jakarta : Gramedia


Pustaka Utama.

Prasetyo B. Ilmu Penyakit THT. Jakarta: EGC