Anda di halaman 1dari 14

PERCOBAAN 5

PEMBAKARAN DERET NORMAL ALKOHOL

Oleh:

ALDHI KURNIA (4162331001)


SADILLA MUHRENI KASTRO SIMANJUNTAK (4163331025)

PENDIDIKAN KIMIA EKSTENSI A 2016


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., yang telah
memberikan nikmat berupa nikmat iman, nikmat kesehatan, dan nikmat
kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah Akhir
Praktikum Kimia Fisika 1 ini.

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah
Praktikum Kimia Fisika 1. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dan memberikan dorongan serta motivasi
sehingga critical jurnal ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi
tatanan bahasa maupun penyusunannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan penyusunan critical jurnal di
kemudian hari.

Penulis juga memohon maaf apabila dalam penulisan tugas ini terdapat
kesalahan pengetikan dan kekeliruan sehinngga membingungkan pembaca dalam
memahami maksud penulis. Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih, semoga
tugas ini dapat bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan bagi pembaca.

Medan, 4 November 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kalor pembakaran suatu zat adalah kalor yang dibebaskan apabila suatu
zat dibakar sempurna dengan menggunakan oksigen. Dalam hal pembakaran
alkohol dengan oksigen maka akan terjadi pemecahan alkohol membentuk CO2
dan air yang disertai dengan pembebasan kalor. Sebagai contoh reaksi di bawah
ini:
2CH3OH (l) + 3O2 (g) 2 CO2 (g) + 4 H2O (l) + energi
Unsur-unsur karbon dan hidrogen, bila teroksidasi akan menghasilkan CO2
dan air, dan kalor pembentukannya adalah:
H2 (g) + O2 (g) H2O (l) H = -57,8 kkal/mol
C (s) + O2 (g) CO2 (g) H = -94,4 kkal/mol
Kalor pembakaran negatif berarti bahwa untuk membentuk zat tersebut
disertai dengan pembebasan energi atau kalor. Dengan demikian maka pada
pembakaran alkohol akan banyak dihasilkan energi atau kalor.
Deret normal alkohol adalah deret alkohol yang tidak mempunyai rantai
cabang, jadi dengan kata lain semua alkohol jenis ini adalah alkohol primer yang
tidak memiliki rantai cabang. Sebagai contoh, metanol, etanol, n-propanol dan n-
butanol. Makin panjang rantai karbon makin besar kalor pembakarannya, dengan
kenaikan energi yang sebanding dengan kenaikan panjang rantainya.

1.2 TUJUAN
1. Menentukan kalor pembakaran deret normal alkohol
2. Menentukan hangat air bejana didih kalor pembakaran
3. Menentukan kalor pembakaran bahan bakar alkohol
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Kalor pembakaran suatu zat yaitu jumlah kalor yang dihasilkan apabila
suatu molekul zat tersebut direaksikan dengan oksigen dalam suhu yang tinggi
secara sempurna. Kalor pembakaran zat organic dinyatakan sebagai banyaknya
kalor yang dihasilkan untuk mengoksidasi zat organic menjadi gas CO2 dan H2O
untuk senyawa yang mengandung C, H dan O sedangkan untuk zat organic yang
mengandung N maka akan menghasilkan gas N2 (Chang,1998).
Kalor pembakaran suatu zat adalah kalor yang dibebaskan apabila suatu zat
dibakar sempurna dengan menggunakan oksigen. Dalam hal pembakaran alkohol
dengan oksigen maka akan terjadi pemecahan alkohol membentuk CO2 dan air
yang disertai dengan pembebasan kalor. Sebagai contoh reaksi di bawah ini:
2CH3OH (l) + 3O2 (g) 2 CO2 (g) + 4 H2O (l) + energi
Unsur-unsur karbon dan hidrogen, bila teroksidasi akan menghasilkan CO2
dan air, dan kalor pembentukannya adalah:
H2 (g) + O2 (g) H2O (l) H = -57,8 kkal/mol
C (s) + O2 (g ) CO2 (g) H = -94,4 kkal/mol
Salah satu contoh senyawa organik yang dapat dioksidasi dan
menghasilkan kalor adalah senyawa golongan alkohol. Normal alkohol dengan
rantai alkil pendek sangat efektif sebagai bahan bakar alternative. Reaksi oksidasi
alkohol dengan oksigen menjadi air dan gas CO2 akan menghasilkan tenaga.
Besarnya kalor yang dihasilkan menjadi air dan gas CO2 akan menghasilkan
tenaga. Besarnya kalor yang dihasilkan pada pembakaran alkohol menjadi unsure-
unsurnya dan kemudian dari unsure-unsur tersebut dengan oksigen terbentuk H2O
dan CO2 dapat ditentukan (Doga,1990).
Deret normal alkohol adalah deret dari bentuk alkohol yang tidak
mempunyai rantai samping sama sekali, jadi semua alkohol ini merupakan alkohol
primer yang tidak berantai sampaing, misalnya methanol, etanol, propanol,
butanol, pentanol, dan seterusnya (Keenan.1996)
Kalor reaksi pembakaran dapat ditentukan. Jika kalor pembakaran negative
(delta H negative) berarti untuk membentuk zat tersebut akan dikeluarkan tenaga
atau panas sehingga pada pembakaran alkohol akan menghasilkan banyak tenaga.
Makin panjang rantai CH2 semakin besar kalor pembakarannya, dengan satu
kenaikan tenaga yang seimbang (Chang,1998)
Besarnya entalphi pembakaran deret normal alkohol dapat ditentukan
dengan menggunakan azas black yang menyatakan bahwa jumlah kalor yang
dihasilkan sama dengan jumlah kalor yang diserap (Keenan,1996)
Etanol merupakan zat cair, tidak berwarna, berbau spesifik, mudah terbakar
dan menguap, dapat bercampur dalam air dengan segala perbandingan. Secara
garis besar penggunaan etanol adalah : Sebagai pelarut untuk zat organik maupun
an organik, bahan dasar industri asam cuka, ester, spirtus, asetaldehid, antiseptik
topical dan sebagai bahan baku pembuatan eter dan etil ester (D.R.Endah,2007).
Metanol merupakan bentuk Alkohol paling sederhana yang memiliki titik
didih pada suhu 64,7C. Fungsi Metanol yang telah banyak digunakan pada
berbagai industri adalah untuk anti beku, pelarut, bahan bakar, dan sebagai bahan
baku untuk etanol. Fungsi lainnya juga dapat ditemukan pada proses produksi
biodiesel dengan reaksi Transesterification. Metanol dan Gliserol sebagai
sacrificial agent dalam produksi Hidrogen telah diteliti oleh beberapa penulis.
Metanol adalah salah satu yang terbaik dalam membantu produktivitas produksi
Hidrogen Sementara Gliserol merupakan sacrificial agent yang potensial untuk
digunakan karena diprediksi kuantitasnya yang akan semakin banyak dalam
beberapa waktu ke depan secara lebih spesifik, penggunaan Metanol dalam
produksi Hidrogen ditemukan hampir dua kali lebih besar dibandingkan dengan
Gliserol (Kustiningsih,2015).
BAB III
PROSEDUR KERJA
3.1 ALAT & BAHAN
3.1.1 ALAT
No Nama Alat Ukuran Jumlah
1 Bejana Didih 250ml 1 buah
2 Termometer 300C 1 buah
3 Lampu Spiritus - 1 buah
4 Neraca - 1 buah
5 Tungku - 1 buah

3.1.2 BAHAN
No Nama Bahan Rumus Wujud Warna Konsentrasi Jumlah
Kimia
1 Metanol CH3OH Cair Bening - 16.03 g
2 Etanol C2H5OH Cair Bening - 11.6 g
3 n-propanol C3H7OH Cair Bening - 18.46 g
4 n-butanol C4H9OH Cair Bening - 17.56 g
5 aquades H2O Cair Bening - 150 ml

3.2 PROSEDUR KERJA

Bejana Didih

Ditimbang
Diisi aquades 500ml pada suhu kamar
Ditimbang kembali
Dicatat suhu kamar (T1) dan massa aquades
Massa gelas Beaker 125ml kosong = 126.7 g, Suhu Kamar = 27C
Massa gelas Beaker + Aquades = 278.9 g, jadi massa aquades = 152.2 g

Lampu Kosong

Ditimbang lampu kosong

Diisi n-propanol

Ditimbang kembali

Dinyalakan lampu pembakaran dibawah bejana didih

Diaduk bejana yang berisi aquades

Dicatat suhu

Dipadamkan lampu

Ditimbang kembali

Diulangi percobaan dengan metanol, etanol, dan n-butanol

Metanol, botol = 131.6 g, + metanol = 148.23 g, akhir = 132.79 g


Etanol, botol = 127.28 g, + etanol = 138.88 g, akhir = 125.98 g
Propanol, botol = 121.64 g, + propanol = 140.10 g, akhir = 130.35 g
Butanol, botol = 117.66 g, + butanol = 135.22 g, akhir = 126.91 g
BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN

4.1 TABEL PENGAMATAN

Massa Lampu Massa Lampu + Massa Lampu +


Zat
Kosong Zat Awal Zat Akhir
G1
Metanol 131.60 g 148.23 g 132.79 g 15,44 g
Etanol 127.23 g 138.88 g 125.98 g 13,88 g
Propanol 121.64 g 140.10 g 130.35 g 9,75 g
Butanol 117.66 g 135.22 g 126.91 g 8,31 g

4.2 REAKSI-REAKSI
Metanol : 2CH3OH(l) + 3O2(g) 2CO2(g) + 4H2O(l)
Etanol : C2H5OH(l) + 3O2(g) 2CO2(g) + 3H2O(l)
Propanol : 2C3H7OH(l) + 9O2(g) 6CO2(g) + 8H2O(l)
Butanol : C4H9OH(l) + 6O2(g) 4CO2(g) + 5H2O(l)

4.3 PERHITUNGAN
Hc= -536,0 kkal/mol
Cp= 1kal/gc= 3,6x10-3 kkal/kg K
Mencari w:
( G1/Mr ) Hc= w (T2-T1) + G2 .Cp (T2-T1)
9,75
x (-536,0 kkal/mol) = w . (296 K) + 0,1522 kg . 3,6x10-3 kkal/kg K
60 /

(296K)
0,1625 x (-536,0 kkal) = w . (296 K) + 0,1621 kkal
-87,1 kkal = w (296 K) + 0,1621 kkal
(-87,1 0,162) kkal = w (296 K)
-87,262 kkal= w (296K)
W = -0,2948 kkal/K
1. Metanol (Mr =32)
( G1/Mr ) Hc = w (T2-T1) + G2 .Cp (T2-T1)
(15,44/32) Hc = -0,2948 (296) + 0,5122 . 3,6x10-3 (296)
0,4825 x Hc = -87,2608 + 0,5458
0,4825 x Hc = -86,715
Hc = -129,72kkal/mol
2. Propanol (Mr=60)
( G1/Mr ) Hc = w (T2-T1) + G2 .Cp (T2-T1)
(9,75/32) Hc = -0,2948 (296) + 0,5122 . 3,6x10-3 (296)
0,1625 x Hc = -87,2608 + 0,5458
0,1625 x Hc = -86,715
Hc = -533,63kkal/mol
3. Etanol (Mr=46)
( G1/Mr ) Hc = w (T2-T1) + G2 .Cp (T2-T1)
(13,88/46) Hc = -0,2948 (296) + 0,5122 . 3,6x10-3 (296)
0,2521 x Hc = -87,2608 + 0,5458
0,2521 x Hc = -86,715
Hc = -343,97kkal/mol
4. Butanol (Mr=74)
( G1/Mr ) Hc = w (T2-T1) + G2 .Cp (T2-T1)
(8,31/74) Hc = -0,2948 (296) + 0,5122 . 3,6x10-3 (296)
0,1122 x Hc = -87,2608 + 0,5458
0,1122 x Hc = -86,715
Hc = -772,86kkal/mol
Gafik Hc dan Mr kalor pembakaran
Hc dan Mr
Mr Hc y = 15.136x - 357.18
R = 0.9981
32 129.72 1000
800
46 343.97
600
Hc

60 533.63
400
74 772.86 200
0
0 20 40 60 80
Mr
4.4 PEMBAHASAN
Secara Teori: Kalor pembakaran adalah kalor yang dilepaskan atau diserap
oleh pembakaran 1 mol unsur atau senyawa dan diberi symbol Hc. Pada proses
pembakaran ini melibatkan alkohol dan O2 dari udara dan akan dihasilkan karbon
diokisda (CO2) dan uap air (H2O). Dalam prosesnya akan terjadi reaksi eksoterm
(pelepasan kalor dari system ke lingkungan) dengan nilai Hc (perubahan entalpi)
selalu negatif
Secara Praktek: Kalor pembakaran pada percobaan ini yaitu methanol,
etanol, propanol, dan butanol dari proses pratikum unutuk menentukan kalor
pembakaran pada bunseb/spiritus yang berisi methanol, etanol, propanol dan
butanol diawali dengam pemanasan air. Sebelum memanaskan air yang akan
digunakan untuk memanaskan ir ditimbang terlebih dahulu menggunakan neraca,
sehingga didapatkan massa methanol awal sebesar , -129,72kkal/mol Propanol -
533,63kkal/mol, etanol-343,97kkal/mol, dan butanol-772,86kkal/mol
Sehingga dapat diambil kesimpulan dari hasil perhitungan kami sesuai
dengan teori yang dijelaskan.
BAB V
JAWABAN DAN PERTANYAAN

1. Metanol (Mr =32)


( G1/Mr ) Hc = w (T2-T1) + G2 .Cp (T2-T1)
(15,44/32) Hc = -0,2948 (296) + 0,5122 . 3,6x10-3 (296)
0,4825 x Hc = -87,2608 + 0,5458
0,4825 x Hc = -86,715
Hc = -129,72kkal/mol
BAB VI
KESIMPULAN & SARAN

6.1 KESIMPULAN
1. Kalor pembakaran pada percobaan ini yaitu methanol, etanol, propanol,
dan butanol
2. Hangat air bejana didih kalor pembakaran yaitu126,7g --> Ester Beaker
125ml kosong Suhu Kamar 27C, Massa Aquades + gelas kimia -->278.9,
Massa Aquades --> 152,2
3. - Metanol Hc = 22739.3649
- Propanol Hc = 42600.0656
- Etanol Hc = 22739.3649
- Butanol Hc = 5269.668

6.2 SARAN
Semoga dengan adanya laporan dan pratikum ini kami bisa lebih mengerti
tentang deret normal alkohol dan pada pratikum tidak adanya kesalahan dalam
percobaan seperti menimbang kembali aquades setiap percobaan pembakaran
setiap alkohol.
DAFTAR PUSTAKA

Chang,Raymond.,(1998),Kimia dasar II Jilid 3, Erlangga , Jakarta


D.R.Endah., Sperisa.D., Adrian.N., Paryanto.,(2007),Pengaruh Kondisi
Fermentasi Terhadap
YIELD etanol pada pembuatan bioethanol dari pati garut,Jurnal Teknik Kimia,Vol
10(II)
Doga.S.,(1990),Kimia Fisik dan soal-soal, UI-Pres, Jakarta
Keenan ., (1996) , Kimia untuk universitas, Erlangga, Jakarta
Kustiningsih, Indar., Haryadi.W., Slamet., (2015) , studi produksi hidogen
mengunakan
fotokatali Pt (1%) Titawa nanotube dengan sactifical agentmetanol dan gliseron,
jurnal konversi, Vol 4(1)