Anda di halaman 1dari 13

LINGKUNGAN FISIK

Diagram Distribusi Frekuensi Luas Rumah Masyarakat Desa Gudang (n=1521 rumah)

Luas Rumah

25% < 8 m2

75% > 8 m2

Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan hasil bahwa 1138 rumah (75%) masyarakat
Desa Gudang lebih dari 8m2 perorang dan sisanya 383 rumah (25%) dibawah 8m2 perorang.
Menurut Winslow dan APHA (American Public Health Association) luas rumah dengan
kategori sehat minimal perorang adalah >8m2 Hal ini dutujukan untuk pencegahan penularan
penyakit, memnuhi rasa nyaman dan privasi setiap anggota keluarga.
Diagram Distribusi Frekuensi Tipe Rumah Masyarakat Desa Gudang (n=1521 rumah)

Tipe Rumah

7% Non-permanen
13%
Semi permanen

80% Permanen

Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan hasil bahwa 1217 rumah (80%) rumah
masyarakat Desa Gudang sudah permanen dan 100 rumah (7%) belum permanen. Dengan
data tersebut dapat dikatakan bahwa sebagian besar rumah di Desa Gudang merupakan
bangunan permanen. Sedangkan menurut data Riskesdas 2013 menyatakan bahwa rumah
yang berdinding tembok di daerah pedesaan hanya 55,3%.
Diagram Distribusi Frekuensi Jenis Lantai Masyarakat Desa Gudang (n=1521 rumah)

Jenis Lantai
11% Tanah

1% Papan

88% Semen/plester/ubi
n
Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 1342 rumah (88%) lantai sudah di
semen/plester/ubin dan ada 15 rumah (1%) yang masih berupa tanah. Dengan data tersebut
dapat dikatakan bahwa mayoritas rumah di Desa Gudang mempunyai jenis lantai
semen/plester/ubin. Hal ini sejalan dengan data Riskesdas tahun 2013 yang menyebutkan
bahwa mayoritas (88,7%) rumah khusunya di pedesaan sudah mempunyai lantai
semen/plester/ubin dan papan.

Diagram Distribusi Frekuensi Anggota Keluarga yang Merokok di dalam Rumah


(n=1521 rumah)

Anggota Keluarga merokok di


dalam rumah

31% Tidak
69% Ya

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 1042 keluarga (69%) terdapat anggota
keluarga yang merokok dan sisanya 472 keluarga (31%) tidak terdapat keluarga yang
merokok di dalam rumah. Data di atas menunjukan bahwa sebagian besar rumah di desa
Gudang memiliki anggota keluarga yang merokok. Sedangkan menurut data Riskesdas tahun
2013 proporsi rumah yang emiliki anggota keluarga yang merokok di dalam rumah di Jawa
Barat sebanyak 21,2%. Dapat disimpulkan bahwa di Desa Gudang masih cukup tinggi
proporsi anggota keluarga yang merokok di dalam rumah.
Diagram Distribusi Frekuensi Jenis Sumber Air yang digunakan (n=1521 rumah)

Jenis Sumber air


Sumur
gali/pompa/bor
12%
Sungai
29% 59%
Air ledeng
0%

Lain-lain,

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 902 rumah (59%) masyarakat desa
gudang gudang menggunakan air yang berasal dari sumur gali/pompa/bor dan masih ada 4
rumah (0,3%) masih menggunakan air yang berasal dari sungai. Hal ini menujukkan bahwa
penggunaan sumber air di Desa Gudang sebagian besar memiliki sumber air yang berasal dari
sumur. Sedangkan menurut data Riskesdas tahun 2013 rumah tangga yang memiliki sumber
air berupa sumur sebanyak 53,3 dan air ledeng/pam sebanyak 19,7%.
Diagram Distribusi Frekuensi Penggunaan Air Minum Masyarakat Desa Gudang
(n=1521 rumah)

Air Minum
Dimasak
8% 0%
Isi ulang
9%
air kemasan
83%
Lain-lain

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil bahwa 1262 rumah (83%) menggunakan
air minum yang dimasak sendiri dan sebanyak 137 rumah (9%) menggunakan air minum
yang diisi ulang, dan sebanyak 122 rumah (8%) menggunakan air kemasan sebagai air
minum dalam Rumah Tangga. Hal ini menunjukan bahwa mayoritas masyarakat Desa
Gudang memenuhi kebutuhan air minum dengan cara dimasak. Hal ini sesuai dengan data
Riskesdas tahun 2013 yang menunjukkan bahwa mayoritas pengolahan air minum yaitu
sebanyak 70,1% dilakukan dengan cara dimasak..
Diagram Distribusi Frekuensi Pengurasan Tempat Air Masyarakat Desa Gudang
(n=1521 rumah)

Pengurasan Tempat Air

7%
tidak pernah
33% < 3 hari sekali
60%
> 3 hari sekali

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil bahwa sebagian besar warga desa
gudang melakukan pengurasan tempat air lebih dari 3 hari sekali yaitu sebanyak 909 rumah
(60%). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Purnajaya, I Ketut dkk pada tahun 2012,
menyatakan bahwa pengurasan tempat penampungan air berpengaruh terhadap kejadian
Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal ini penting menjadi pertimbangan untuk dikaji lebih
lanjut terkait frekuensi pengurasan yang lebih spesifik.
Diagram Distribusi Frekuensi Kualitas Sumber Air Masyarakat Desa Gudng (n=1521
rumah)

Kualitas Sumber Air

Berbau/berasa/berw
1%
arna

Tidak berbau/tidak
berasa/ tidak
99% berwarna

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil bahwa 1513 rumah (99%) memiliki
kualitas air yang baik dan masih ada 8 rumah (1%) memiliki kualitas air yang masih kurang
baik. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas rumah di Desa Gudang telah memiliki sumber
air dengan kualitas yang baik yaitu sebanyak 99%. Menurut data Riskesdas tahun 2013
bahwa pada umumnya kualitas sumber air minum di Indonesia sebanyak 94,1% termasuk
dalam kategori baik (tidak berbau/tidak berasa/tidak berwarna) dan 5,9% diantaranya masih
memiliki kulaitas sumber air yang kurang baik (berbau/berasa/berwarna).

Tabel .... Distribusi Frekuensi Pembuangan Akhir Tinja (n=1521 rumah)

Tempat Pembuangan Akhir


Tinja

0%
6% Sungai/selokan
Septic tank

94% Lain-lain

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil bahwa sebagian besar tempat pembuangan akhir
masyarakat desa gudang sudah menggunakan septictank yaitu 1424 rumah (94%) tapi masih
ada sebanyak 90 rumah (6%) membuangan limbah tinja ke suangai/selokan. Menurut hasil
Riskesdas tahun 2013 di Indonesia menunjukkan bahwa pembuangan akhir tinja rumah
tangga di Indonesia sebagian besar menggunakan tangki septik (66,0%) dan yang tidak
menggunakan tangki septik/sembarang (34,0%). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi
kuintil indeks kepemilikan, semakin tinggi juga proporsi rumah tangga dengan pembuangan
tinja ke tangki septik, sedangkan semakin rendah kuintil indeks kepemilikian, proporsi rumah
tangga yang tidak menggunakan tangki septik semakin tinggi (Buku Riskesdas 2013). Dapat
disimpulkan dari hasil data tersebut bahwa pembuangan akhir tinja di desa gudang (94%)
cukup baik.

Tabel .... Distribusi Frekuensi Jarak Pembuangan Akhir Tinja (n=1521 rumah)

Jarak Pembuangan Akhir Tinja

35% < 10 m

65% > 10 m

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil bahwa 987 rumah (65%) warga desa gudang
memiliki tempat pembuangan akhir tinja lebih dari 10 m dari rumah. Hal ini sesuai dengan
(Arief, 2000) bahwa jarak pembuangan akhir tinja yang baik harus memenuhi syarat lokasi
yaitu jaraknya tidak kurang dari 11 meter dan letaknya diusahakan tidak berada dibawah
tempat tempat sumber air bersih.

Tabel .... Distribusi Frekuensi Penanganan Sampah RT (n=1521 rumah)

Penanganan Sampah RT
1400
1200
1000 1192
800
600
400
200 22 13 33 33 228
0

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 1192 rumah (78,4%) menangani sampah dengan
cara dibakar sendiri dan masih ada 13 rumah (0,9%) membuang sampai ke sungai serta 22
rumah (1,4%) membuangan sampah sembarangan dibandingkan dengan hasil Riskesdas
tahun 2013 dalam hal cara pengelolaan sampah hanya 24,9 persen rumah tangga di Indonesia
yang pengelolaan sampahnya diangkut oleh petugas. Sebagian besar rumah tangga mengelola
sampah dengan cara dibakar (50,1%), ditimbun dalam tanah (3,9%), dibuat kompos (0,9%),
dibuang ke kali/parit (10,4%), dan dibuang sembarangan (9,7%). Hal ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi kuintil indeks kepemilikan, semakin tinggi juga proporsi rumah tangga
dengan mengelola sampah dengan cara diangkut petugas, sedangkan semakin rendah kuintil
indeks kepemilikian, proporsi rumah tangga yang mengelola sampah dengan cara dibakar
semakin tinggi (Buku Riskesdas 2013). Dapat disimpulkan dari hasil data tersebut bahwa
dalam hal cara pengelolaan sampah di desa gudang (78,4%) sampah dibakar masih cukup
tinggi.
Tabel .... Distribusi Frekuensi Kondisi Pembuangan Sampah RT (n=1521 rumah)

Kondisi Pembuangan Sampah RT

807

479

86 105 44

TIDAK ADA ADA, TERBUKA ADA, ADA, TERBUKA ADA,


TIDAK DIPILAH TERTUTUP DIPILAH TERTUTUP
TIDAK DIPILAH DIPILAH

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 807 rumah (53,1 %) memiliki pembuangan
sampah, terbuka, dan tidak dipilah. Menurut Entjang (2000) syarat tempat sampah yang baik
adalah harus ditutup rapat sehinga tidak menarik serangga atau binatang-binatang lainnya
seperti tikus, kucing dan sebagainya sehingga tidak membahayakan kesehatan manusia. Hal
ini menunjukkan bahwa kondisi pembuangan sampah di desa gudang belum cukup baik.

Tabel .... Distribusi Frekuensi Pemanfaatan Kotoran Hewan Masyarakat Desa Gudang
(n=375 rumah)

Pemanfaatan Kotoran Hewan

23% Tidak ada/ dibuang


sembarangan tempat
ditampung/ ditimbun,
77% dibuat pupuk

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 288 rumah (77%) memanfaatkan


kotoran hewan dengan cara ditampung/ditimbun/dibuat pupuk dan 87 rumah (23%)
tidak dimanfaatkan/ dibuangan sembarangan. Limbah dapat berasal dari berbagai
sumber hasil buangan dari suatu proses produksi salah satunya limbah
peternakan. Limbah tersebut dapat berasal dari rumah potong hewan, pengolahan
produksi ternak, dan hasil dari kegiatan usaha ternak. Limbah ini dapat berupa
limbah padat, cair, dan gas yang apabila tidak ditangani dengan baik akan
berdampak buruk pada lingkungan (A.C. Adityawarman, 2015). Hal ini
menunjukkan bahwa pemanfaatan kotoran hewan di desa gudang ditangani dengan
baik yaitu dengan cara ditampung/ditimbun/dibuat pupuk.

Tabel .... Distribusi Frekuensi Hal yang dilakukan jika ternak sakit (n=375 rumah)

Jika Hewan Ternak Sakit

Dibiarkan saja
49% 51%
Diobati

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 191 rumah (51%) mengaku hewan ternak
dibiarkan saja jika sakit dan 184 rumah (49%) mengaku mengobati ternak jika sakit

Tabel ... Distribusi Frekuensi Jarak Kandang Hewan dari Rumah (n=375 rumah)

Jarak Kandang Hewan

19%
< 10 m
> 10 m
81%

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 303 rumah (81%) memiliki jarak
kandang hewan dibawah 10 m dari rumah dan 72 rumah (19%) memiliki jarak
kandang hewan lebih dari 10 m dari kandang. Menurut Peraturan Menteri Pertanian
Republik Indonesia tahun 2013, jarak terdekat antara kandang dengan bangunan lain
(rumah, sumber air) minimal 25 meter. Hal ini menunjukan bahwa jarak kandang
hewan di desa gudang masih belum memenuhi standar. Anita, 2008 dalam Purwanti
E, 2016 menyebutkan bahwa Jarak kandang yang dekat dengan rumah dapat
meningkatkan kepadatan lalat, semakin dekat jarak kandang dengan rumah makin
tinggi dan semakin tinggi kepadatan lalat makin tinggi pula penyebaran penyakit
termasuk diare.

KEHAMILAN
Tabel .... Distribusi Frekuensi Usia Kehamilan Masyarakat Desa Gudang (n=39 jiwa)

Usia Kehamilan

20% TM I (1-12 MG)


44% TM II (12-24 mg)

36% TM III (>24 mg)

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 39 jiwa ibu hamil dengan 17 jiwa (44%) berada
pada trimester III, 14 jiwa (36%) pada trimester II, dan 8 jiwa (20%) pada timester I.
Dibandingkan dengan data Riskesdas (2013), menyebutkan bahwa jumlah ibu hamil di
Indonesia adalah sebanyak 2,68%.
Tabel .... Distribusi Frekuensi Status Kehamilan Masyarakat Desa Gudang (n=39 jiwa)

Status Kehamilan

5% primipara
44% multipara
51%
grande-multipara

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 20 jiwa (51%) merupakan multipara dan ada 2
jiwa (5%) merupakan grande multipara.
Menurut Bobak (2014), pada primipara dapat terjadi pre-ekampsia sekitar 85%. Sementara
ibu multipara dan grande multipara beresiko mengalami pre-eklampsia sebanyak 15%.
Tabel .... Distribusi Kepemilikan KMS Ibu Hamil Masyarakat Desa Gudang (n=39 jiwa)

Kepemilikan KMS

15%
tidak
ya
85%

Berdasarkan hasil pengkajian 33 jiwa (85%) memiliki buku KMS atau KIA dan ada 6 jiwa
(15%) tidak memiliki KMS atau KIA.
Buku KIA memuat informasi tentang cara memelihara dan merawat kesehatan ibu dan anak,
dimana buku KIA juga termasuk dalam Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K) yang merupakan program Kementerian Kesehatan dalam pemberdayaan
masyarakat tentang kesehatan ibu sebagai upaya untuk menurunkan kematian ibu. Setiap
kehamilan mendapatkan satu buku KIA.
Berdasarkan hasil Riskesdas (2013), sebanyak 80,8% ibu hamil di Indonesia memiliki buku
KIA. Dibandingkan dengan prevalensi dari data Riskesdas, kepemilikan KIA bukan
permasalahan bagi ibu hamil di Desa Gudang.
Tabel .... Distribusi Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan Ibu Hamil Masyarakat Desa Gudang
(n=39 jiwa)

Pemeriksaan Kehamilan

tidak melakukan
3%
5% pemeriksaan
ya kurang dari
kebutuha

92% ya sesuai dari


kebutuhan

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 36 jiwa (92%) ibu hamil memeriksa kehamilan
sesuai kebutuhan dan ada 1 jiwa (3%) tidak melakukan pemeriksaan kehamilan dengan
alasan kehamilan baru diketahui sehingga ibu belum sempat memeriksakan kehamilan.
Data riskesdas (2013) menyebutkan bahwa angka kunjungan pemeriksaan ibu semasa hamil
adalah 95,4% dari total keseluruhan jumlah ibu hamil di Indonesia. Berdasarkan MDGs,
standar pemeriksaan kunjungan kehamilan minimal dilakukan sebanyak 4 kali. Kunjungan
pertama dilakukan 1 kali pada trimester 1, 1 kali pada trimester 2, dan 2 kali pada trimester 3.
Tabel .... Distribusi Frekuensi Pemeriksa Kehamilan (n=39 jiwa)
Pemeriksa Kehamilan
35
30
25
20
15 33
10
5 1 0 4 1 0
0

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil sebanyak 33 jiwa (83%) ibu hamil melakukan
pemeriksaan kehamilan oleh bidan.
Dibandingkan dengan data dari Riskesdas (2013), kunjungan pemeriksaan oleh bidan
sebanyak 87,8%, kunjungan pada dokter kebidanan dan kandungan sebanyak 11,1%,
kunjungan dokter umum 0,7%, dan kunjungan pada perawat sebanyak 0,4%.
Tabel ... Distribusi Frekuensi Tempat Pemeriksaan Kehamilan (n=39 jiwa)

Tempat Memeriksa Kehamilan


35
30
25
20
15 32
10
5
0 1 1 4 1
0
TIDAK PARAJI BIDAN DOKTER PUSKESMAS RS
PERIKSA KLINIK

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 32 jiwa (83%) ibu hamil diperiksa di tempat
praktik bidan dan ada 1 jiwa (3%) di periksa di rumah sakit
Menurut data riskesdas (2013), praktek bidan juga merupakan tempat pemeriksaan yang
paling banyak dikunjungi oleh ibu hamil (52,5%), kemudian puskesmas (16,6%), dan
posyandu (10%). Masyarakat dengan karakteristik tinggal di pedesaan, pendidikan rendah
dan berada pada kuintil indeks kepemilikan terbawah hingga menengah cenderung memilih
bidan saat melakukan pemeriksaan kehamilan.

Tabel .... Distribusi Frekuensi Imunisasi TT pada Ibu Hamil Masyarakat Desa Gudang (n=39
jiwa)
Mendapat Imunisasi TT

21%
tidak
ya
79%

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 31 jiwa (79%) ibu hamil mendapat imunisasi
TT dan sisanya sebanyak 8 jiwa (21%) ibu hamil tidak mendapat imunisasi TT.
Imunisasi TT adalah untuk mencegah terjadinya tetanus sebagai komplikasi pada melahirkan
terutama pada persalinan yang tidak bersih, misalnya persalinan yang dilakukan di tempat
non fasilitas kesehatan (rumah atau paraji). Berdasarkan data Riskesdas (2010), jumlah ibu
hamil yang mendapatkan imunisasi TT adalah 63,6%.
Tabel .... Distribusi Frekuensi Konsumsi Tablet Fe (n=39 jiwa)

Konsumsi Tablet Fe

5%
tidak
23%
ya, tidak teratur
72% ya, teratur

Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh hasil 28 jiwa (72%) ibu hamil mengkonsumsi tablet
Fe secara teratur dan ada 2 jiwa (5%) ibu hamil tidak mengkonsumsi tablet Fe.
Zat besi sangat dibutuhkan oleh ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia dan menjaga
pertumbuhan janin secara optimal. Kementerian kesehatan menganjurkan agar ibu hamil
mengonsumsi paling sedikit 90 tablet Fe selama kehamilan (Depkes RI, 2001). Berdasarkan
riskesdas (2013), sebanyak 89,1% ibu hamil mengonsumsi tablet Fe. Namun, data
menunjukkan bahwa hanya 33,3% ibu hamil yang rutin mengonsumsi tablet Fe.
Hasil perbandingan proporsi jumlah ibu hamil yang mengonsumsi tablet Fe menunjukkan
bahwa hal ini bukan permasalahan ibu hamil di Desa Gudang
Tabel .... Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kehamilan Berisiko dan Penyakit Penyerta Ibu
Hamil Masyarakat Desa Gudang (n=39 jiwa)

Penyakit Penyerta
Tidak Ada Anemia Lain-lain Total
Kehamilan Tidak 34 0 0 34
Berisiko Ya 0 3 2 5
Total 34 3 2 39

Berdasarkan pengkajian diperoleh hasil 34 jiwa (87%) tidak memiliki risiko kehamilan dan
ada 5 jiwa (13%) ibu hamil memiliki risiko kehamilan, yaitu 3 ibu dengan anemia dan 2 ibu
dengan penyakit asthma.

Tablet ... Distribusi Frekuensi LLA Ibu Hamil Masyarakat Desa Gudang (n=39 jiwa)

LLA Bumil

15%
<23,5 cm
>23,5 cm
85%

Berdasarkan pengkajian diperoleh hasil 33 jiwa (85%) ibu hamil memiliki LLA lebih dari
23,5 cm dan 6 jiwa (15%) ibu hamil memiliki LLA kurang dari 23,5 cm
Berdasarkan Riskesdas (2013), ibu hamil dengan LLA lebih dari 23,5cm sebanyak 75,8% dan
ibu hamil dengan LLA kurang dari 23,5cm sebanyak 24,2%.
Tabel .... Distribusi Frekuensi Rencana Melahirkan Ibu Hamil Masyarakat Desa Gudang
(n=39 jiwa)

Rencana Melahirkan
pelayanan
kesehatan ( RS,
19% Puskesmas,
Puskesdes)
pelayanan non
81% kesehatan
Berdasarkan pengkajian diperoleh hasil 32 jiwa (81%) ibu hamil memiliki rencana untuk
melahirkan di tempat pelayanan kesehatan seperti RS, Puskesmas, Bidan. Sedangkan 7 jiwa
(19%) memiliki rencana persalinan di tempat non kesehatan seperti di rumah sendiri
Tempat persalinan yang ideal menurut Riskesdas (2013) adalah rumah sakit karena apabila
sewaktu-waktu memerlukan penanganan kegawatdaruratan tersedia fasilitas yang dibutuhkan
atau minimal bersalin di fasilitas kesehatan lainnya sehingga apabila perlu rujukan dapat
segera dilakukan. Berdasarkan data, sebanyak 70,4% kelahiran terjadi di fasilitas kesehatan
dan posbindes/poskesdes, dengan presentasi tertinggi yaitu di rumah bersalin, klinik, praktek
dokter atau bidan sebanyak 30,8%, dan terendah di poskesdes/polindes sebanyak 3,7%.
Sedangkan 29,6% persalinan dilakukan di rumah atau lainnya.

Daftar Pustaka
Bobak, Irene, M., Lowdermilk., and Jensen. 2014. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi
4. Jakarta: EGC
Depkes, RI. 2001. Profil Kesehatan Indonesia 2001 menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI
Riskesdas, 2010. Riset Kesehatan dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementerian Kesehatan RI
Riskesdas, 2013. Riset Kesehatan dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementerian Kesehatan RI
Adityawarman, A.C. Salundik. C, Lucia. 2015. Pengolahan Limbah Ternak Sapi Secra
Sederhana di Desa Pattalassang Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu Produksi dan
Teknoogi Hasil Peternakan Vol.03 No 03.
Arief S. 2000. Hubungan jarak septic tank terhadap jumlah kandungan bakteri Escherichia
coli dalam air sumur gali di Desa Bukateja Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal .
Anita, P. 2008. Hubungan Antara Kondisi Sanitasi Kandang Ternak Dengan Kejadian Diare
Pada Peternak Sapi Perah Di Desa Singosari Kecamatan Mojosongo Kabupaten
Boyolali.Universitas Muhammadiyah Pontianak.
Riset Kesehatan Dasar. 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
Kesehatan RI
Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia. 2013.
Entjang, I. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti