Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ayam pedaging atau disebut juga dengan broiler merupakan jenis ayam jantan maupun
betina muda berumur sekitar 6 sampai 8 minggu yang dipelihara secara intensif, guna
memperoleh daging yang optimal untuk memenuhi gizi. Ditinjau dari segi mutu daging ayam
memiliki nilai gizi yang cukup tinggi dibandingkan ternak lainnya dan jika ditinjau dari segi
ekonomisnya khususnya ayam ras potong atau ayam negeri yang bisa diusahakan secara
efisien dan cepat dalam masa pemeliharaannya hingga panen.
Sampai saat ini usaha peternakan ayam broiler merupakan salah satu kegiatan yang
paling cepat dan efisien untuk menghasilkan bahan pangan hewani yang bermutu dan bernilai
gizi tinggi, beberapa hal yang menjadi penyebabnya antara lain laju pertumbuhan ayam
broiler lebih cepat disbanding dengan komodasi ternak lain, permodalan yang relative lebih
kecil, penggunaan lahan terlalu luas serta adanya kebutuhan dan kesadaran masyarakat yang
meningkat akan pentingnya gizi sehingga kondisi ini menuntut adanya penyediaan daging
ayam yang cukup, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Usaha peternakan ayam broiler mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan
karena tingginya permintaan daging dan merupakan usaha yang sangat menguntungkan.
Tetapi banyak peternak masih mengabaikan masalah lingkungan, sehingga masyarakat
banyak yang mengeluhkan keberadaan usaha peternakan tersebut. Selain menimbulkan
dampak pencemaran lingkungan seperti polusi udara (bau), banyaknya lalat yang berkeliaran
di kandang dan lingkungan sekitarnya, dan ketakutan masyarakat akan virus Avian Influenza
atau flu burung (H5N1). Untuk mengatasi dampak usaha peternakan tersebut dapat dilakukan
dengan cara penyemprotan desinfektan pada kandang ayam broiler.
Penyebab kerugian dalam ternak ayam broiler bermacam-macam antara lain tingkat
kematian yang tinggi, waktu panen yang lama, bobot ayam tidak memenuhi standar dan lain-
lain. Karena itu peternakan ayam broiler harus mengetahui secara detail setiap langkah dan
komponen penentu keberhasilan ternak ayam broiler dan untuk mencegah terjadinya virus
atau bakteri untuk mengurangi angka kematian.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut :
a. Bagaimana sistem perkandangan yang ada di Peternakan Lepang ?
b. Bagaimana sistem produksi ayam broiler yang ada di Peternakan Lepang ?
c. Bagaimana sistem pengelolaan limbah di Peternakan Lepang ?
d. Bagaimana pengelolaan sampah yang ada di Peternakan Lepang ?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :
a. Mengetahui sistem perkandangan yang ada di Peternakan Lepang.
b. Mengetahui sistem produksi ayam broiler yang ada di Peternakan Lepang.
c. Mengetahui sistem pengelolaan limbah di Peternakan Lepang.
d. Mengetahui cara pengelolaan sampah yang ada di Peternakan Lepang.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat dari penulisan ini adalah mengetahui sistem perkandangan, sistem produksi, sistem
pengelolaan limbah dan cara pengelolaan sampah yang ada di Peternakan Lepang.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ayam Broiler


Ayam broiler merupakan hasil teknologi yaitu persilangan antara ayam Cornish dengan
Plymouth Rock. Karakteristik ekonomis, pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging,
konversi pakan rendah, dipanen cepat karena pertumbuhannya yang cepat, dan sebagai
penghasil daging dengan serat lunak (Murtidjo, 1987). Menurut Northe (1984) pertambahan
berat badan yang ideal 400 gram per minggu untuk jantan dan untuk betina 300 gram per
minggu.
Menurut Suprijatna et al. (2005) Ayam broiler adalah ayam yang mempunyai sifat
tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan
produksi telur rendah. Dijelaskan lebih lanjut oleh Siregar et al. (1980) bahwa ayam Broiler
dalam klasifikasi ekonomi memiliki sifat-sifat antara lain : ukuran badan besar, penuh daging
yang berlemak, temperamen tenang, pertumbuhan badan cepat serta efisiensi penggunaan
ransum tinggi.
Ayam broiler adalah ayam tipe pedaging yang telah dikembangbiakan secara khusus
untuk pemasaran secara dini. Ayam pedaging ini biasanya dijual dengan bobot rata-rata 1,4
kg tergantung pada efisiensinya perusahaan. Menurut Rasyaf (1992) ayam pedaging adalah
ayam jantan dan ayam betina muda yang berumur dibawah 6 minggu ketika dijual dengan
bobot badan tertentu, mempunyai pertumbuhan yang cepat, serta dada yang lebar dengan
timbunan daging yang banyak. Ayam broiler merupakan jenis ayam jantan atau betina yang
berumur 6 sampai 8 minggu yang dipelihara secara intensif untuk mendapatkan produksi
daging yang optimal. Ayam broiler dipasarkan pada umur 6 sampai 7 minggu untuk
memenuhi kebutuhan konsumen akan permintaan daging. Ayam broiler terutama unggas
yang pertumbuhannya cepat pada fase hidup awal, setelah itu pertumbuhan menurun dan
akhirnya berhenti akibat pertumbuhan jaringan yang membentuk tubuh. Ayam broiler
mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan dibandingkan dengan jenis ayam piaraan dalam
klasifikasinya, karena ayam broiler mempunyai kecepatan yang sangat tinggi dalam
pertumbuhannya. Hanya dalam tujuh atau delapan minggu saja, ayam tersebut sudah dapat
dikonsumsi dan dipasarkan padahal ayam jenis lainnya masih sangat kecil, bahkan apabila
ayam broiler dikelola secara intensif sudah dapat diproduksi hasilnya pada umur enam
minggu dengan berat badan mencapai 2 kilogram per ekor (Anonimus, 1994).
Untuk mendapatkan bobot badan yang sesuai dengan yang dikehendaki pada waktu yang
tepat, maka perlu diperhatikan pakan yang tepat. Kandungan energi pakan yang tepat dengan
kebutuhan ayam dapat mempengaruhi konsumsi pakannya, dan ayam jantan memerlukan
energy yang lebih banyak daripada betina, sehingga ayam jantan mengkonsumsi pakan lebih
banyak, (Anggorodi, 1985). Hal-hal yang terus diperhatikan dalam pemeliharaan ayam
broiler antara lain perkandangan, pemilihan bibit, manajemen pakan, sanitasi dan kesehatan,
recording dan pemasaran. Banyak kendala yang akan muncul apabila kebutuhan ayam tidak
terpenuhi, antara lain penyakit yang dapat menimbulkan kematian, dan bila ayam dipanen
lebih dari 8 minggu akan menimbulkan kerugian karena pemberian pakan sudah tidak efisien
dibandingkan kenaikkan/penambahan berat badan, sehingga akan menambah biaya produksi
(Anonimus, 1994).
Daghir (1998) membagi tiga tipe fase pemeliharaan ayam broiler yaitu fase starter umur 0
sampai 3 minggu, fase grower 3 sampai 6 minggu dan fase finisher 6 minggu hingga
dipasarkan.
Ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang
kekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu
semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia
dengan berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu
pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta
peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia.
Banyak strain ayam pedaging yang dipelihara di Indonesia. Strain merupakan
sekelompok ayam yang dihasilkan oleh perusahaan pembibitan melalui proses pemuliabiakan
untuk tujuan ekonomis tertentu. Contoh strain ayam pedaging antara lain CP 707, Starbro,
Hybro (Suprijatna et al., 2005).
BAB III

METODOLOGI

3.1 Lokasi dan Waktu Pengamatan


a. Lokasi Pengamatan
Lokasi yang digunakan untuk pengamatan yaitu peternakan ayam broiler yang bertempat
di Desa Lepang, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.
b. Waktu Pengamatan
Waktu pelaksanaan pengamatan yaitu pada tanggal 19 dan 20 November 2017.

3.2 Metode Pengumpulan Data


a. Metode Primer
Metode pengumpulan data primer yang digunakan adalah wawancara langsung
kepada pemilik peternak ayam boiler yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab
langsung.
b. Metode sekunder
Metode pengumpulan data sekunder yang digunakan adalah pengumpulan data
dengan berkunjung ke peternak ayam boiler dan mendapatkan data yang kuat dari
peternak, data hasil foto dari peternakan ayam boiler serta mencari data dari pusat kajian
terkait dengan peternakan ayam boiler.
c. Metode analisis
Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis kualitatif, dimana data
didapat dari hasil pengamatan, wawancara, dokumentasi. Wawancara digunakan untuk
menggali lebih dalam informasi yang diperoleh mengenai peternakan ayam broiler di
Desa Lepang, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Perkandangan
Kandang yang baik adalah kandang yang dapat memberikan kenyamanan bagi ayam,
mudah dalam tata laksana, dapat memberikan produksi yang optimal, memenuhi persyaratan
kesehatan dan bahan kandang mudah didapat serta murah harganya. Bangunan kandang yang
baik adalah bangunan yang memenuhi persyaratan teknis, sehingga kandang tersebut biasa
berfungsi untuk melindungi ternak terhadap lingkungan yang merugikan, mempermudah tata
laksana, menghemat tempat, menghindarkan gangguan binatang buas, dan menghindarkan
ayam kontak langsung dengan ternak unggas lain (Anonimus, 1994).
Kandang serta peralatan yang ada di dalamnya merupakan sarana pokok untuk
terselenggarakannya pemeliharaan ayam secara intensive, berdaya guna dan berhasil guna.
Ayam akan terus menerus berada di dalam kandang, oleh karena itu kandang harus dirancang
dan ditata agar menyenangkan dan memberikan kebutuhan hidup yang sesuai bagi ayam-
ayam yang berada di dalamnya. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini
adalah pemilihan tempat atau lokasi untuk mendirikan kandang serta konstruksi atau bentuk
kandang itu sendiri. Kandang merupakan modal tetap (investasi) yang cukup besar nilainya,
maka sedapat mungkin semenjak awal dihindarkan kesalahan-kesalahan dalam
pembangunannya, apabila keliru akibatnya akan menimbulkan problema-problema terus
menerus sedangkan perbaikan tambal sulam tidak banyak membantu (Williamsons dan
Payne, 1993).
Sistem perkandangan yang ideal untuk usaha ternak ayam ras meliputi: persyaratan
temperatur berkisar antara 32,2-35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60-70%,
penerangan/pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar
mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang, model kandang
disesuaikan dengan umur ayam, untuk anakan sampai umur 2 minggu atau 1 bulan memakai
kandang box, untuk ayam remaja 1 bulan sampai 2 atau 3 bulan memakai kandang box
yang dibesarkan dan untuk ayam dewasa bisa dengan kandang postal atapun kandang
bateray. Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat,
bersih dan tahan lama(Bambang,1995).
a. Lokasi
Lokasi kandang ayam broiler pada Peternakan Lepang yaitu jauh dari pemukiman
warga dan dekat dengan Pantai Lepang.
b. Bahan dan Konstruksi
Bahan yang digunakan untuk kandang ayam broiler adalah beton sebagai penyangga
kandang, bambu sebagai alas dan penutup bagian samping kanan, samping kiri, depan
dan belakang, atapnya terbuat dari besi seng, dan terdapat terpal untuk menutupi
kandang tersebut.
c. Sumber Air
Sumber air yang digunakan adalah air PDAM yang setiap harinya dapat digunakan
untuk keperluan ayam broiler minum.
d. Pencahayaan dan Ventilasi
Sumber pencahayaan pada kandang ayam broiler melalui cahaya lampu yang
diletakkan pada atap kandang tersebut.
e. Tempat pakan dan minum
Tempat pakan dan minum diberikan satu-satu berjejer dengan jarak kurang lebih 1
meter.
f. Kebersihan kandang
Untuk menjaga kebersihan kandang, pengelola peternakan biasanya membersihkan
kandang ayam broiler ketika setelah panen, untuk setiap harinya tidak dibersihkan.

Gambar 1. Kandang ayam broiler tipe panggung


Gambar 2. Kondisi di dalam kandang tipe panggung

4.2 Sistem Produksi


a. Jumlah Ternak
Jumlah ternak dalam satu kandang adalah 500 ekor ayam.
b. Jenis Ternak
Jenis ternak dalam satu kandang adalah ayam broiler betina dan jantan.
c. Pengelolaan Pakan dan minum
Ayam broiler di Peternakan Lepang biasanya diberikan pakan dua kali dalam sehari yaitu
pada pagi dan sore hari. Pakan yang diberikan adalah pakan comfeed broiler.

Gambar 3. Pakan comfeed ayam broiler


d. Pengelolaan kesehatan
Untuk masalah kesehatan ayam broiler yang dating ke Peternakan Lebah biasanya
diberikan vaksin gumboro dan vitamin agar kesehatannya lebih terjaga karena ayam
broiler termasuk ayam yang rentan terhadap penyakit.
e. Umur produksi
Ayam pedaging (broiler) adalah ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat
menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat (5-8 minggu).
f. Pemasaran
Untuk pemasaran ayam broiler Peternakan Lepang biasanya dijual ke pasar yang ada di
daerah Klungkung ataupun di kirim ke luar Kabupaten Klungkung.

4.3 Hasil Uji


a. Hasil Uji Kualitas Udara
Dampak dari peternakan ayam terhadap lingkungan sekitar adalah berupa bau yang
dikeluarkan selama proses dekomposisi kotoran ayam. Bau tersebut berasal dari
kandungan gas amonia yang tinggi dan gas hidrogen sulfida , (H2S), dimetil sulfida,
karbon disulfida, dan merkaptan.
b. Hasil Uji Kualitas Limbah
Pemeliharaan ayam pedaging dewasa kotoran yang dikeluarkan sebanyak 0,1
kg/hari/ekor, dan kandungan bahan keringnya 25%. Pada saat penumpukan kotoran atau
penyimpanan terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganisme yang membentuk gas
amonia, nitrat, dan nitrit serta gas sulfida. Gas-gas tersebutlah yang menyebabkan bau
dan mencemari lingkungan. Air buangan berasal dari cucian tempat pakan dan minum
ayam serta keperluan domestik lainnya. Jumlah air buangan ini sedikit dan biasanya
terserap ke dalam tanah serta tidak berpengaruh besar terhadap lingkungan sekitar.

4.4 Sistem Pengelolaan Limbah Ternak


a. Teknik pengumpulan (collections)
b. Pengangkutan (transport)
c. Pemisahan (separation)
d. Penyimpanan (storage) atau pembuangan (disposal)
Teknik Pengumpulan :

Arah kemiringan kandang dibuat agar pada saat dibersihkan dengan air, limbah mudah
mengalir menuju ke parit. Kemudian limbah ternak berbentuk cair tersebut dikumpulkan di
ujung parit untuk kemudian dibuang.

Pada kandang sistem feedlots terbuka, sebagian besar limbah ternak menumpuk di lokasi
yang terbuka di depan kandang, lantai pada lokasi ini biasanya ditutup dengan bahan yang keras
dan rata dengan kemiringan tertentu untuk mengalirkan limbah cairnya. Untuk membersihkan
lantai digunakan pipa semprot yang kuat agar limbah cair dapat didorong dan mengalir ke tempat
penampungan.

Ada 3 cara mendasar pengumpulan limbah:

1. Scraping, yaitu mmembersihkan dan mengumpulkan limbah dengan cara menyapu atau
mendorong (dengan sekop atau alat lain) limbah.
2. Free-fall, yaitu pengumpulan limbah dengan cara membiarkan limbah tersebut jatuh
bebas melewati penyaring atau penyekat lantai kedalam lubang pengumpul di bawah
lantai kandang.
3. Flushing, yaitu pengumpulan limbah menggunakan air untuk mengangkat limbah tersebut
dalam bentuk cair.

4.5 Sistem Pengelolaan Sampah


1. Sampah bulu ayam yang dijadikan Tepung Ransum
- Pertama kita mengumpulkan bulu ayam kemudian cicuci bersih.
- Setelah dicuci rebus dengan air panas sampai layu
- Setelah perebusan di keringkan, saat sudah mulai tiris dan kerning kemudian digiling
hingga halus
2. Sampah organik untuk pelet pakan ayam dan ikan
- Pertama kita pilah terlebih dahulu mana sampah organic yangbaik untuk dimakan
ayam
- Setelah dipilah sampah difermentasi selama 5 hari menggunakan mikroba nitrogen
fosfat tertentu.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil
persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama
dalam memproduksi daging ayam. Ayam merupakan salah satu ternak yang potensial di
daerah kita, dilihat dari segi konsumsi masyarakat dan kebutuhan masyarakat akan daging
sangat tinggi karena hampir setiap hari dikonsumsi, sehingga beternak ayam adalah salah
satu peluang bisnis yang sangat menguntungkan jika kita mau menekuninya dengan
sungguh-sungguh.
Beternak ayam juga memerlukan profesionalime dan dedikasi yang penuh terhadap
peternakan ayamnya, agar hasil yang didapat juga maksimal dan sangat memuaskan. Dalam
arti kita mendapat keuntungan dari sisi ekonomi.

5.2 Saran
Perlunya melakukan manajemen teknik pembudidayaan ayam pedaging yang benar akan
meningkatkan kualitas produksi ayam pedaging, yang akan menguntungkan peternak itu
sendiri. Teknik pembudiayaan meliputi penyiapan sarana dan prasarana, pembibitan,
pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit serta manajemen panen yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

Rachmawati, Sri.2000.Upaya Pengelolaan Lingkungan Usaha Peternakan.Balai Penelitian

Veteriner, Bogor, Indonesia

Nurir Badriah dan M. Ubaidillah.2013.Pengaruh Frekuensi Penyemprotan Desinfektan pada

Kandamg Terhadap Jumalh Kematian Ayam Broiler.Program studi Peternakan Fakultas


Peternakan, Lamongan, Indonesia
Lampiran Dokumentasi