Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMEN SPEKTROSKOPI

PERCOBAAN IV

UJI INTERFERENSI ADANYA UNSUR LAIN PADA ANALISIS BESI(III)

MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis

OLEH:

NAMA : RIZAL SUHARDIMAN

STAMBUK : F1C1 15 098

KELOMPOK : IV (EMPAT)

ASISTEN : BENI SAPUTRA

LABORATORIUM KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Meningkatnya arus pembangunan memberikan dampak yang cukup besar

pada pertumbuhan penduduk. Peningkatan jumlah penduduk tersebut selalu

berbanding lurus dengan pertumbuhan di berbagai sektor penunjang kehidupan

lainnya seperti sektor pemukiman dan perumahan yang tumbuh semakin cepat.

Dengan adanya perkembangan tersebut, menuntut adannya asupan kebutuhan air

bersih dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti mandi, mencuci dan

berbagai aktivitas yang lain. Kebanyakan air yang digunakan di pemukiman

penduduk bersumber dari air sumur. Namun, kualitas air sumur dibeberapa tempat

berbeda karena beberapa faktor, seperti lokasi sumur, tekstur tanah, teknik

pembuatan serta beberapa faktor internal lainnya. Air sumur yang bersumber dari

sumur yang kurang baik tentunya air tersebut belum lanyak pakai atau dikonsumsi

karena mengandung kontaminan-kontaminan berbahaya seperti kadar besi (Fe)

yang cukup tunggi.

Besi (Fe) sering menjadi masalah dalam penyediaan air untuk kebutuhan

rumah tangga terutama sumbernya dari air tanah atau air sumur. Dalam tanah besi

bersifat sukar larut. Selain penampilannya yang tidak menyenangkan, air yang

tinggi kandungan besinya mempunyai rasa yang tidak enak. Pada dasarnya besi

dalam air dalam bentuk Ferro (Fe2+) atau Ferri (Fe3+). Hal ini tergantung dari

kondisi pH dan oksigen terlatut dalam air. Pada pH netral dan adanya oksigen

terlarut yang cukup, maka ion Ferro yang terlarut dapat teroksidasi menjadi ion

Ferri. Kelebihan zat besi dalam tubuh dapat mengakibatkan gangguan kesehatan,
seperti kerusakan saraf dan menyebabkan penyakit jantung, gangguan sumbu

hepsidin- ferroportin, gangguan menstruasi atau pematangan eritoid dan lain-lain.

Mengingat dampak negatif yang muncul akibat kadar besi yang tinggi,

maka perlu dilakukan analisis kadar besi pada sampel Air Sumur. Penentuan kadar

besi dalam suatu sampel dapat dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-

Vis, dimana besi yang akan dianalisa dikomplekskan terlebih dahulu dengan

senyawa pengompleks, sehingga menghasilkan warna spesifik. Senyawa

pengompleks yang dapat digunakan diantaranya 1,10-fenantrolin. Analisa besi

menggunakan pengompleks 1,10-fenantrolin ini dapat ini dapat diganggu oleh

beberapa ion logam misalnya mangan, tembaga, nikel, dan kobalt. Ion Mn(II),

Ni(II), dan Co(II) mengganggu analisa besi dengan menurunkan absorbansi karna

mampu berikatan dengan 1,10-fenantrolin sehingga terjadi kompetisi dengan besi.

Sehingga berkaitan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan percobaan uji

interferensi adanya unsur lain pada analisis besi(III) menggunakan

spektrofotometer UV-Vis.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada perobaan Uji Interferensi Adanya Unsur Lain pada

Analisis Besi(III) Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis, yaitu bagaimana

mengetahui pengaruh adanya unsur lain pada analisis besi menggunakan

spektrofotometer UV-Vis?
C. Tujuan

Tujuan dilakukannya percobaan Uji Interferensi Adanya Unsur Lain pada

Analisis Besi(III) Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis, yaitu untuk

mengetahui pengaruh adanya unsur lain pada analisis besi menggunakan

spektrofotometer UV-Vis.

D. Manfaat

Manfaat dilakukannya percobaan Uji Interferensi Adanya Unsur Lain pada

Analisis Besi(III) Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis, yaitu dapat

mengetahui pengaruh adanya unsur lain pada analisis besi menggunakan

spektrofotometer UV-Vis.
I. TINJAUAN PUSTAKA

Besi merupakan unsur bersifat logam berwarna putih abu-abu, besi ini

merupakan unsur terbanyak ke-4 penyusun kerak bumi yang mana tergolong

transisi utama. Di alam ditemukan dalam beberapa mineral, terutama sebagai

hematit, Fe2O3; limonit, FeO(OH).nH2O; dan magnetit, FeO. Logam besi sangat

reaktif dan mudah berkarat terutama dalam kondisi udara lembab atau suhu tinggi.

Pada pemanasan bereaksi dengan unsur bukan logam serta dapat membentuk

senyawa besi(II) dan senyawa besi(III). Kegunaan logam ini telah dikenal luas

dalam kehidupan misalnya dalam bentuk paduan berupa baja digunakan untuk

badan mesin, konstruksi bangunan, jembatan, kendaraan, peralatan mekanik dan

rumah tangga. Pada tubuh makhluk hidup unsur besi merupakan komponen

penting dalam sel (Nosita dan Djarot, 2014).

Kadar besi dapat ditentukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis.

Besi yang akan dianalisis, direduksi terlebih dahulu kemudian dikomplekskan

dengan senyawa pengompleks, sehingga menghasilkan warna spesifik. Senyawa

besi memiliki dua tingkat oksidasi, yaitu Fe2+ (ferro) dan Fe3+ (ferri). Pada

umumnya besi cenderung membentuk senyawa dalam bentuk ferri daripada dalam

bentuk ferro. Senyawa-senyawa yang dapat digunakan untuk mereduksi Fe3+

(ferri) menjadi Fe2+ (ferro) diantaranya seng, ion Sn2+, sulfit, hidroksilamin

klorida, hidrazin, hidrogen sulfida, natrium tiosulfat, asam askorbat, dan

hidrokuinon. Analisa besi menggunakan pengompleks 1,10-fenantrolin ini dapat

ini dapat diganggu oleh beberapa ion logam misalnya mangan, tembaga, nikel,

dan kobalt (Dianawati dan Djarot, 2013).


Reagen yang paling sering digunakan dalam penentuan kadar Fe adalah

1,10-fenantrolin karena dapat membentuk kompleks yang relatif stabil dan tidak

merubah nilai absorbansi dalam waktu tertentu. Analisa besi menggunakan

pengompleks 1,10-fenantrolin ini dapat ini dapat diganggu oleh beberapa ion

logam misalnya mangan, tembaga, dan nikel. Ion Mn(II), Ni(II), dan Cu(II)

mengganggu analisa besi dengan menurunkan absorbansi. Hasil penelitian yang

telah dilakukan pada kondisi pH 4,5 menunjukkan bahwa ion Mn(II) mulai

mengganggu pada konsentrasi 0,06 ppm, Ni(II) mulai mengganggu pada

konsentrasi 0,08 ppm dan ion Cu(II) mulai mengganggu pada konsentrasi 0,06

ppm (Wang dan R. Djarot, 2015).

Spektrofotometri UV-Vis adalah tehnik analisis spektroskopik yang memakai

sumber radiasi REM ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm)

dengan memakai instrument spektrofotometer. Spektrofotometer UV-Vis melibatkan

energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis sehingga

spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dari pada

kualitatif (Andari, 2013).

Garam rangkap NH4Fe(SO4)2.12H2O digunakan sebagai bahan untuk

membuat larutan baku besi(III). Garam rangkap ini dipilih karena tergolong garam

rangkap yang paling stabil dibandingkan garam rangkap lainnya seperti FeCl3, dan

Fe(NO3)3. Pereaksi yang digunakan untuk membentuk senyawa kompleks

besi(III) adalah larutan KSCN. Senyawa kompleks tersebut mempunyai rumus

molekul [Fe(SCN)6]3 yang berwarna merah jingga. Dari warna larutan kompleks

yang dihasilkan maka absorbansinya dapat diukur dengan spektrofotometer UV-


Vis. Warna yang diukur oleh spektrofotometer UV-Vis adalah warna

komplementer dari senyawa kompleks [Fe(SCN)6]3(Rusmawan dkk., 2015).


III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum Uji Interferensi Adanya Unsur Lain pada Analisis Besi(III)

Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 20

November 2017, pukul 13.00-17.00 WITA dan bertempat di Laboratorium Kimia

Analitik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu

Oleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan Uji Interferensi Adanya Unsur

Lain pada Analisis Besi(III) Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis, yaitu

seperangkat alat instrument UV-Vis,labu takar 50 mL dan 25 mL, gelas kimia 250

mL, gelas ukur 100 mL, spatula, neraca analitik, batang pengaduk, timbangan

analitik dan pipet tetes.

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan Uji Interferensi Adanya

Unsur Lain pada Analisis Besi(III) Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis, yaitu

garam Fe(NH4)2(SO4).6H2O, Pb(NO3)2, MgSO4.7H2O, 1,10-fenantrolin dan

H2SO4, hidroksilamin-HCl 5%, CH3COONa 5%, akuades, tisu dan aluminium

foil.
C. Prosedur Kerja

Prosedur kerja dalam percobaan Uji Interferensi Adanya Unsur Lain pada

Analisis Besi(III) Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis sebagai berikut:

1. Pembuatan larutan Uji

a. Larutan Fe 3 ppm

Fe(NH4)2(SO4).6H2O

- Ditimbang Fe(NH4)2(SO4).6H2O
sebanyak 0,078 gram
- Ditambahkan aquades hingga volume
50 mL
- Dihomogenkan

Larutan Fe 50 ppm

- Dipipet sebanyak 1,5 mL


- Dimasukan dalam labu ukur 25 mL
- Ditambahkan akuades hingga batas tera
- Dikocok hingga homogen

Larutan Fe 3 ppm
b. Larutan Pb 1 ppm, 3 ppm dan 5 ppm

Pb(NO3)2

- Ditimbang Pb(NO3)2 sebanyak 0,032


gram
- Ditambahkan aquades hingga volume
50 mL
- Diencerkan jika membuat larutan
kerjanya
Larutan PbPb
Larutan 50 50
ppmppm

- Dipipet masing-masing

Pb 0,5 mL Pb 1,5 mL Pb 2,5 mL

- Dimasukan dalam labu ukur 25


- Ditambahkan akuades hingga batas tera
- Dikocok hingga homogen

Larutan Pb 1 ppm
Larutan Pb 3 ppm
Larutan Pb 5 ppm
c. Larutan Mg 2 ppm, 5 ppm dan 8 ppm

(MgSO4).7H2O

- Ditimbang (MgSO4).7H2O sebanyak


0,048 gram
- Ditambahkan aquades hingga volume
50 mL
- Dihomogenkan

Larutan Mg 50 ppm

- Dipipet masing-masing

Mg 1 mL Mg 2,5 mL Mg 4 mL

- Dimasukan dalam labu ukur 25


- Ditambahkan akuades hingga batas tera
- Dikocok hingga homogen

Larutan Mg 2 ppm
Larutan Mg5 ppm
Larutan Mg 8 ppm

2. Pembuatan larutan blanko

1 mL Hidroksil Alamin- HCl 5 % + larutan 5 mL 1,10 fenontralin 0,1 %


+ 6 mL CH3COONa 5 % + 2,5 mL H2SO4

- Dimasukkan kedalam labu takar 25 mL


- Ditambahkan aquades sampai tanda tera
- Dihomogenkan

Larutan blanko : 0 Abs


3. Preparasi dan Pengukuran Interferensi Unsur

a. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

Larutan Kontrol Larutan Blangko

-dimasukkan masing-masing
kedalam kuvet
-di atur range panjang gelombang
-amati petunjuk absorbansnya
-diulangi lagi percobaan hingga 1-7
kali untuk mencari panjang
gelombang mangnya

519,0 nm

b. Larutan Kontrol

Larutan Fe 3 ppm

- Ditambahkan 1 mL hidroksil alamin- 5%


- Ditambahkan 5 mL larutan 1,10
fenontrolin 0,1 %
- Ditambahkan 6 mL larutan CH3COONa
5%
- Dihomogenkan
- Diukur absorbansnya menggunakan
spektrofotometer UV-Vis dengan panjang
gelombang maksimum 519,0 nm

Larutan Kontrol : 0,416 Abs


c. Larutan Uji Pb

3 mL Larutan Fe 3 ppm

- Ditambahkan larutan Pb 3 mL
- Ditambahkan 5 mL larutan 1,10
fenontrolin 0,1 %
- Ditambahkan 6 mL larutan CH3COONa
5%
- Dihomogenkan
- Diukur absorbansnya menggunakan
spektrofotometer UV-Vis dengan panjang
gelombang maksimum 519,0 nm

Larutan Uji Pb
1 ppm : -0,137 Abs
3 ppm : -3,368 Abs
5 ppm : -3,130 Abs

d. Larutan Uji Mg

3 mL Larutan Fe 3 ppm

- Ditambahkan larutan Mg 3 mL
- Ditambahkan 5 mL larutan 1,10
fenontrolin 0,1 %
- Ditambahkan 6 mL larutan CH3COONa
5%
- Dihomogenkan
- Diukur absorbansnya menggunakan
spektrofotometer UV-Vis dengan panjang
gelombang maksimum 519,0 nm

Larutan Uji Mg
2 ppm : 0,001 Abs
5 ppm : -0,086 Abs
8 ppm : 0,353 Abs
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Data Pengamatan

a. Pengukuran Panjang Gelombang

No Pengukuran max
1 Panjang gelombang maksimum 519,0 nm

b. Penentuan Absorbans

No Pengukuran Uji 1 (Abs) Uji 2 (Abs) Uji 3 (Abs)


1 Kontrol 0,417 0,417 0,416
2 Blanko 0,000 0,000 0,000
Larutan Uji Pb
3 1 ppm -0,137 -0,317 -0,317
Larutan Uji Pb
4 3 ppm -3,368 -3,368 -3,368
Larutan Uji Pb
5 5 ppm -3,130 -3,130 -3,130
Larutan Uji Mg
6 2 ppm 0,001 0,002 0,001
Larutan Uji Mg
7 5 ppm -0,086 -0,086 -0,086
Larutan Uji Mg
8 8 ppm 0,354 0,354 0,353

c. Tabel nilai rata-rata penentuan absorbans

No Pengukuran Abs Rata-rata


1 Kontrol 0,416
2 Uji Pb 1 ppm -0,137
3 Uji Pb 3 ppm -3,368
4 Uji Pb 5 ppm -3,130
5 Uji Mg 2 ppm 0,001
6 Uji Mg 5 ppm -0,086
7 Uji Mg 8 ppm 0,353
d. Gambar

Gambar 1 Gambar 2

Gambar 3
e. Grafik 1. Kurva Interferensi Pb

Kurva Inteferensi Pb
2
Lu. Pb 1,3,5
Absorbans

0 ppm
Blanko fe 3 fe 3 fe 3
-2 Kontrol Fe 3
ppm ppm ppm
ppm
-4

f. Grafik 2. Kurva Interferensi Mg

Kurva Interferensi Mg
0.6

0.4 kontrol Fe 3 ppm


Absorbas

0.2
LU. Mg 2, 5 ,8
0 ppm
Blanko fe 3 fe 3 fe 3
-0.2 ppm ppm ppm
g. Grafik 3. Kurva Gabungan Interferensi Pb dan Mg

Kurva Gabungan Interferensi Pb dan Mg


1

0
Blanko fe 3 fe 3 fe 3 Kontrol Fe 3 ppm
Axis Title

-1 ppm ppm ppm


LU. Pb 1,3,5 ppm
-2
LU. Mg 2,5,8 ppm
-3

-4

B. Pembahasan

Besi (Fe) merupakan logam transisi yang sangat berguna dan logam yang

sangat reaktif. Dalam keadaan murni, besi tidak terlalu keras, tetapi jika

ditambahkan dengan sedikit karbon dan logam lainnya maka akan terbentuk alloy

baja yang kuat. Besi adalah logam kedua dan unsur keempat terbanyak di kerak

bumi sebesar 6,2% dalam persen massa. Karena kelimpahan besi yang cukup

besar sehingga pengolahanya relatif mudah dan murah. Besi mempunyai sifat-

sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi. Besi sangat banyak

dimanfaatkan karena kemudahannya dalam perolehan atau proses penambangan

bijihnya dan dapat ditemukan di banyak tempat. Penentuan besi sangat penting

untuk untuk perlindungan lingkungan, hidrogeologi, proses kimia dan studi

kesehatan masyarakat.

Kadar besi dapat ditentukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis.

Spektrofotometri UV-Vis adalah tehnik analisis spektroskopik yang memakai

sumber radiasi REM ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780

nm) dengan memakai instrument spektrofotometer. Spektrofotometer UV-Vis


melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis

sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif

dari pada kualitatif. Syarat utama sampel yang akan dianalisis dengan metode ini

adalah larutan harus berwarna dan berpacu pada hokum Lambert-Beer.

Tahapan pertama pada percobaan ini adalah pembuatan larutan Fe 3 ppm

sebagai larutan uji. Larutan Fe dibuat dari garam rangkap Fe(NH4)2(SO4).6H2O

karena tergolong garam rangkap yang paling stabil dibandingkan garam rangkap

lainnya seperti FeCl3, dan Fe(NO3)3. Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan

larutan Pb dari Pb(NO3)2 dalam tiga variasi konsentrasi yang berbeda, yaitu 1

ppm, 3 ppm dan 5 ppm. Kemudian pembuatan larutan Mg dari MgSO4.7H2O

dengan tiga variasi konsentrasi, yaitu 2 ppm, 5 ppm dan 8 ppm. Peranan larutan

Pb dan Mg pada percobaan ini adalah untuk melihat pengaruh atau

interferensinya terhadap Fe yang akan dilihat pada nilai absorbansi yang keluar

melalui instrument spektrofotometer UV-Vis. Alasan menggunakan Pb dan Mg

karena dalam suasana larutan, Pb dan Mg akan membentuk ion Pb2+ dan Mg2+,

dimana hal tersebut sama dengan ion Fe yaitu Fe2+ (bilanagn oksidasi sama +2)

yang memungkunkan untuk terjadinya kompetisi untuk membentuk senyawa

kompleks dengan 1,10-fenantrolin yang bertindak sebagai pengompleks sehingga

berdampak pada penaikan atau penurunan absorbansi. Hal tersebut pula akan

berpengaruh pada penentuan kadar Fe dalam sampel secara spektrofotometri UV-

Vis.

Tahapan selanjutnya yaitu pembuatan larutan blanko dari campuran

larutan hidroksilamin-HCl 5%, CH3COONa 5% dan 1,10-fenantrolin 0,1%, asam


sulfat dan akuades. Larutan balnko merupakan larutan selain analit yang akan

dianalisis. Setelah pembuatan larutan blanko tahapan selanjutnya preparasi dan

pengukuran interferensi unsur yang terdiri atas penentuan panjang gelombang

maksimal, preparasi larutan control Fe, uji interferensi Pb dan terakhir uji

interferensi Mg terhadap Fe. Panjang gelombang maksimum kompleks besi(II)-

1,10- fenantrolin ditentukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-

Vis. Hal ini merupakan pengukuran awal pada penelitian ini. Panjang gelombang

maksimum ini ditunjukkan pada panjang gelombang yang memiliki absorbansi

maksimal. Kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari

suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu dibuat untuk menentukan panjang

gelombang maksimum. Larutan kompleks besi(II)-1,10-fenantrolin yang diukur

absorbansinya untuk penentuan max berwarna merah jingga sehingga dipilih

panjang gelombang 480-560 nm, yaitu 519 nm.

Selanjutnya yaitu preparasi larutan kontrol Fe, dimana larutan Fe larutan

standar ditambahkan dengan larutan hidroksilamin-HCl 5%, CH3COONa 5% dan

1,10-fenantrolin 0,1%. Tujuan penambahan larutan hidroksilamin-HCl 5% yaitu

untuk mereduksi Fe3+ menjadi Fe2+. Besi dalam keadaan Fe2+ akan lebih stabil

dibandingkan besi Fe3+. Dalam keadaan dasar, larutan besi tidak berwarna

sehingga perlu ditambahkan larutan 1,10-fenantrolin 0,1% agar membentuk

kompleks larutan berwarna dan dapat dianalisis di spektrofotometer UV-Vis.

Sedangkan untuk penambahan larutan baffer CH3COONa bertujuan untuk

mempertahankan pH larutan standar. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh

nilai absorbansi larutan kontrol sebesar 0,416 Abs.


Gambra 1. Struktur Oktahedral Senyawa Kompleks Besi (II)-fenantrolin.

Tahapan terakhir yaitu melihat interferensi Pb terhadap Fe. Pada prosedur

sebelumnya absorbansi larutan kontrol Fe telah ditentukan tanpa adanya

penambahan ion Pb maupun Mg yaitu sebesar 0,416 Abs. Namun ketika larutan

Fe tersebut ditambahkan beberapa mili larutan Pb dalam tiga variasi konsentrasi

yang berbeda yaitu 1, 3 dan 5 ppm. Diperoleh nilai absorbansi larutan dengan

penambahan ketiga konsentrasi larutan tersebut berturut-turut -0,137 Abs, -3,368

Abs dan 3,130 Abs. Dari data ini, dapat dilihat bagaimana pengaruh ion Pb2+

memberikan interferensi atau pengaruh yang sangat besar terhadap penurunan

nilai absorbansinya. Sebagaimana penelitian sebelumnya oleh Dianawati dkk.

(2013) tentang pengaruh ion pengganggu Ni(II) diperoleh bahwa kompetisi yang

terjadi antara Ni(II) dengan Fe(II) pada pembentukan kompleks dengan 1,10-

fenantrolin dapat menurunkan absorbansi dikarenakan kompleks Ni(II)-1,10-

fenantrolin dapat menurunkan intensitas warna yang dibentuk oleh Fe(II)-1,10-

fenantrolin. Hal tersebut juga terjadi pada penelitian ini, apabila kompleks Pb(II)-

1,10-fenantrolin terbentuk dapat mengganggu pembentukan kompleks besi(II)-


1,10-fenantrolin yang menyebabkan penurunan nilai absorbansi yang ditunjukkan

pada Tabel 1.

Tidak berbeda dengan Pb, kehadiran ion Mg2+ memberikan pengaruh yang

sangat signifikan terhadap penurunan absorbansi akibat kompetisi antara ion

dengan bilangan oksidasi sama yakni ion Mg2+ dan Fe2+. Data absorbansi yang

diperoleh untuk tiga variasi konsentrasi yang ditambahkan yaitu 0,001 Abs, -

0,086 Abs dan 0,353 Abs.


V. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dan tujuan dari percobaan ini, maka dapat

disimpulkan bahwa analisis ion Fe2+ pada sampel umunya terdapat kandungan

ion-ion yang salah satunya adalah ion Pb2+ dan Mg2+ yang kemungkinan dapat

mengganggu pembentukan kompleks Fe(II) dengan 1,10-fenantrolin. Karena Pb

dan Mg memiliki bilangan oksidasi yang sama dengan besi, maka akan terjadi

kompetisi antara Pb(II) atau Mg(II) dengan besi (II) dalam membentuk senyawa

kompleks dengan 1,10-fenantrolin. Akibat dari hal tersebut mengakibatkan

penurunan nilai absorbansi.


DAFTAR PUSTAKA

Andari, S., 2013, Perbandingan Penetapan Kadar Ketoprofen Tablet Secara


Alkalimetri dengan Spektrofotometri- UV, Jurnal Eduhealth, Vol. 3(2).

Dianawati, S. dan R. Djarot, S.K.S., 2013, Studi Gangguan Ag(I) dalam Analisa
Besi dengan Pengompleks 1,10-Fenantrolin pada pH 4,5 secara
Spektrofotometri UV-Vis, Jurnal Sains dan Seni Pomist, Vol. 2(2): 2337-
3520.

Nosita, S.V. dan R. Djarot, S.K.S., 2014, Analisis Gangguan Kalsium pada Besi
dengan Kondisi Ph 4,5 Menggunakan Pengompleks 1,10-Fenantrolin
Secara Spektrofotometer UV-Vis, Jurnal Sains dan Seni Pomits, Vol. 1(1).

Rusmawan, C.A., Djulia, O. dan Irma, M., 2015, Analisis Kolorimetri Kadar
Besi(III) dalam Sampel Air Sumur dengan Metoda Pencitraan Digital,
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains, SNIPS
2015..

Wang, S. dan R. Djarot, S., 2015, Studi Gangguan Cu2+ pada Analisa Besi(III)
dengan Pengompleks 1,10-Fenantrolin pada pH 3,5 secara
SpektrofotomeTRI UV-Vis, Jurnal Sains dan Seni ITS, Vol. 4(2): 2337-
3520.

Anda mungkin juga menyukai