Anda di halaman 1dari 8

BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Analisis Hambatan Crushing Plant


Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan yang dilakukan selama 30

hari dengan waktu produktif 7,55 jam/hari ada beberapa jenis hambatan

yang terjadi pada kegiatan crushing plant ini yaitu :

Data hambatan untuk kegiatan pengecilan ukuran dimulai dari

hambatan primary crusher sampai tertiary crusher yaitu :

1. Waktu hambatan primary crusher

We = Wp Wh

Keterangan :

We = Waktu Efektif (jam)

Wp = 7,55 jam

Wh = 1,47jam/hari

We = Wp - Wh

We =7,55 jam 1,47 jam

= 6,08 jam

Efisiensi kerja

EF = x 100%

6,08 jam
EF = 7,55 x 100%
jam

EF = 80.52 %

72
73

2. Waktu hambatan secondary crusher dan tertiary crusher

We = Wp Wh

Keterangan:

We = Waktu efektif (jam)

We = Wp - Wh

We = 7,55 jam 1,554 jam

= 6 jam

Efisiensi kerja dapat dicari dengan cara sebagai berikut:



EF = x 100%

6 jam
EF = x 100%
7,55 jam

EF = 79,47 %

5.2 Analisis Produktivitas Crushing Plant Di Perusahaan

Untuk menganalisa kegiatan crushing plant dilakukan mulai dari tahap

masuknya feed bahan galian ke hopper sampai menjadi produk keluar dari

tertiary crusher (cone crusher II). Dengan itu analisa yang dibutuhkan

meliputi :

1. Data ritase dump truck sebagai umpan masuk dengan menggunakan

dump truck fuso 220 FN 527 ML membawa bahan galian ke hopper yang

akan di produksi dengan berat muatan material 24 ton menghasilkan :

Berat muatan truck Hino (w1) = 24 ton

Ritase rata-rata truck fuso/hari = 45 rit/hari

Total Tonase = (ritase FUSO x w1 )


74

= (45 rit x 24 ton )

= 1075,2 ton/hari

Produksi/jam = 1075,2 : 7,55 ton/jam

= 142,411 ton/jam

1. Data produk yang keluar dari primary crusher dengan uji beltcut.

Tonase Biscose

CV 01 = 21,431 kg/meter

(Q) = (W/1000)(VxLx3600) (Tph)

= (21,431 /1000)(0,752x1x3600) (Tph)

= 58,081 (Tph)

Produktivitas jaw crusher

CV 02 = 51,658 kg/meter

(Q) = (W/1000)(VxLx3600) (Tph)

= (51,658 /1000)(0,7x1x3600) (Tph)

= 141,894 (Tph)

2. Data produk umpan yang masuk ke tahap cone crusher dengan uji

Beltcut CV03 dari gudang batu.

CV03 = 58,231 kg/meter

(Q) = (W/1000)(VxLx3600) (Tph)

= (58,231 /1000)( 0,613 x1x3600) (Tph)

= 128,504 (Tph)

3. Data produk yang keluar dari secondary crusher dengan uji beltcut.

CV5 = 47,996 kg/meter

(Q) = (W/1000)(VxLx3600) (Tph)


75

= (47,996 /1000)( 0,621 x1x3600) (Tph)

= 127,861 (Tph)

Data produk yang keluar dari tertiary crusher hasil uji beltcut

(CV08,CV09,CV10).

a. Spilt 2 = 56,615 (Tph)

b. Spilt 3 = 40,209 (Tph)

c. abu (dust) = 30,904 (Tph)

Total = 56,615 (Tph) +40,209 (Tph) + 30,904 (Tph)

= 127,729 Tph)

Dari analisa produktivitas crushing plant yang di peroleh dari uji beltcut

sebelum merubah pengaturan CSS didapat data sebagai berikut.(Tabel 5.1)

Tabel 5.1
Data Hasil Pengujian Kapasitas Crusher Di Perusahaan
Clossed
Ukuran
side Nama Tonase Persentase
Crusher Produk
setting Produk (Tph) (%)
(mm)
(CSS)
Jaw
Crusher 150 - 250-450 141,894 99,636
(TRIMAX)
Cone
Crusher I 40 - 40-28 127,861 99,499
(KOBELCO)
Split 2 28 56,615 44,324
Tertiary
25 Split 3 11 40,209 31,480
(TRIMAX)
Abu 0,7 30,904 24,196

5.3 Peningkatan Produk Dengan Pengaturan CSS


Dalam pengamatan ini diambil salah satu faktor yang menentukan

produktivitas dari suatu alat processing unit yaitu Closed Side Setting (CSS)

yang menjadi parameter acuannya.


76

Closed side setting (CSS) merupakan pengaturan pada alat crusher

untuk menentukan ukuran dari keluaran produk dari hasil penghancuran alat

tersebut. CSS pada alat crusher,. Pengaturan CSS lebih dominan

berpengaruh terhadap ukuran material yang diinginkan. Untuk pengaturan

CSS di PT Silva Andia Utama yaitu primary crusher 150mm, secondary

crusher 40mm dan tertiary crusher 25mm. Pengaturan tersebut harus

disesuaikan dengan kebutuhan material, karena apabila pengaturan CSS

terlalu besar maka ukuran produk material akan lebih dominan berukuran

besar, dan apabila pengaturan CSS terlalu kecil maka produk akan lebih

dominan berukuran kecil, persentase material split dan abu akan lebih besar.

Dengan mengambil salah satu contoh perhitungan dari hasil penelitian

mengenai persentase produksi yang dihasilkan dari beberapa kali

pengaturan CSS, didapat data sebagai berikut.(Tabel 5.2)

Tabel 5.2
Data Hasil Pengujian Kapasitas Crusher Setelah Perubahan CSS
Clossed
Ukuran
side Nama Tonase Persentase
Crusher Produk
setting Produk (Tph) (%)
(mm)
(CSS)
Jaw
Crusher 150 - 250-450 141,894 99,636
(TRIMAX)
Cone
Crusher I 42 - 41-26 128,701 99,947
(KOBELCO)
Split 2 28 61,423 47,783
Tertiary
26 Split 3 11 41,980 32,657
(TRIMAX)
Abu 0,7 25,144 19,560
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Dari hasil pengujian yang dilakukan dengan merubah pengaturan alat

sebagai berikut :
77

Primary (CSS 150mm)

Cone secondary (CSS 42mm)

Cone Tertiary (CSS 26mm)

Tonase = 61,423 (Tph) +41,980 (Tph) + 25,144 (Tph)

= 128,548(Tph)

Diperoleh persentase produk sebagai berikut:

- Split 2 = 47,783%

- Split 3 = 32,657%

- Abu Batu (Dust) =19,560%

Setelah dilakukannya perubahan pada pengaturan CSS dari alat cone

crusher tersebut, untuk cone secondary dari CSS asalnya 40mm menjadi

42mm, dan cone tertiary dari CSS 25mm menjadi 26mm dapat memberikan

penambahan persentase produk yang dihasilkan, untuk produk split yang

asalnya 75,84% menjadi 80,44%, dan abu batu yang asalnya 24,19%

menjadi 19,56%. Sehingga mencapai target persentase produk yang

diharapkan oleh perusahaan (80%), persentase abu mengecil menjadi 19%

bahkan melebihinya. Tonasepun meningkat dari 127,729 ton/jam menjadi

128,548 ton/jam dari target perusahaan 125 ton/jam.

Untuk pengaturan CSS pada alat cone crusher tertiary harus

disesuaikan dengan kebutuhan produk. Karena apabila terlalu besar maka

akan memproduksi produk oversize kembali sehingga produk oversize

semakin besar. Dan apabila terlalu kecil juga akan berpengaruh kepada

persentase produk abu batu akan semakin besar. Dari hasil pengujian

dengan pengaturan CSS 26 mm pada alat Cone crusher tertiary setelah


78

digabungkan dengan pengaturan CSS 42 mm cone crusher secondary

menghasilkan persentase produk utama (split) sebanyak 81%, persentase

tesebut diatas dari target perusahaan yaitu sekitar 80,44%.dari hasil data

diatas dapat dilihat dengan grafik yang tercantum pada (Gambar 5.1).

PERSENTASE PRODUK HASIL DARI PERUBAHAN


SECONDARY CRUSHER CSS 40mm-42mm DAN TERTIARY CRUSHER CSS 25mm-26mm

60 120%
berat sebelum
99,50% 99,64%
50 99,50% 99,64% 100%
berat sesudah
80,44% 80,44%
40 48,311 51,658 80%
75,84% 75,84% 51,658 persentase

Persentase
47,996
Berat /kg

sebelum
30 60%
34,533
32,343 persentase sesudah
20 40%
2 per. Mov. Avg.
24,20% 19,56% (berat sebelum)
10 20%
10,343 8,514
8,514 10,343

0 0%
-7mm -11mm+7mm -28mm+11mm -40+28mm -150mm

Tertiary Crusher Secondary Crusher Primary Cr usher

Sumber : Hasil Pengolahan Data


Gambar 5.1
Data Hasil Pengujian Kapasitas Crusher Setelah Perubahan CSS

5.4 Production Rate Index


Production rate index adalah nilai yang menunjukkan seberapa besar

kemampuan alat dalam berproduksi dengan batasan serta maksimal dari alat

tersebut. Hasil dari pengamatan kesiapan alat dengan production rate index

ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini (Tabel 5.3).dengan grafi tercantum

pada (Gambar 5.2).

Tabel 5.3
Production Rate index Crushing Plant
Produktivitas Produktivitas
Proses Aktual Teoritis PRI (%)
(ton/jam) (ton/jam)
Primary Crushing 141,894 167 84

Secondary 128,701 167 76


79

Crushing

Tertiary Crushing 128,548 165 77

Sumber : Pengolahan Data Lapangan

Produk Rate Index


Produktivitas Crusher Pada Crushing Plant

180 167 167 165 86,00%


Produktivitas
160 141,894 84% 84,00% Aktual
140 128,701 128,548
82,00%
120
100 80,00% Produktivitas
Teoritis
80 78,00% (ton/jam)
60 77%
76% 76,00%
40 PRI (%)
20 74,00%
0
0 72,00%
Primary Crushing Secondary Crushing Tertiary Crushing

Sumber : Pengolahan Data Lapangan


Gambar 5.2
Production Rate index Crushing Plant

Nilai production rate index dipengaruhi oleh dua parameter yaitu

produktivitas teoritis dan produktivitas aktual, yang mana selama jumlah

umpan dapat disuplai secara kontinu dan jumlah yang disuplai dapat

mendekati nilai dari produktivitas teoritis, maka target production rate index

pun akan dapat dipenuhi. Selama kegiatan pengamatan dilapangan salah

satu faktor yang menyebabkan tidak tercapainya target production rate index

ini ialah banyaknya hambatan yang terjadi selama proses produksi

berlangsung adanya pengotor dan kandungan air dalam material yang ikut

terbawa dari kegiatan penambangan sehingga ini menjadi faktor hambatan

yang yang mengakibatkan bertambahnya waktu untuk menggerus material

sehingga produktivitaspun akan menurun.