Anda di halaman 1dari 18

TUGAS 1

REKAYASA PENCAHAYAAN BANGUNAN


LIGHTING AND ARCHITECTURE

Disusun oleh:
Ranti Osli 1607115947
Rut Maya Sari 1607123425
M. Agramansyah H 1607123479
Kemas Roqim Azyan 1607123873
Mahya Fiddini Kaffah 1607123891
Muhammad Syifa 1607123852

Dosen Pembimbing :
WAHYU HIDAYAT, ST., MURP

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR S1


JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2017
KATA PENGANTAR

Ucapan puja-puji dan syukur hanya semata milik Allah SWT. Hanya Kepadanya lah kami
memuji dan bersyukur, meminta ampunan dan pertolongan. Kepadanya juga lah kita meminta
perlindungan dari kejelekan diri dari syetan yang senantiasa membisikkan kebatilan kepada hati kita.
Dengan rohmat serta pertolongan-Nya, puji syukur, akhirnya makalah tentang Lighting and
Architecture, ini bisa terselesaikan dengan lancar. Kami menyadari sepenuh hati bahwa tetap terdapat
kekurangan yang ada pada makalah ini.
Kami menantikan kritik dan saran yang membangun dari setiap pembaca untuk materi evaluasi
kami mengenai penulisan makalah selanjutnya. Kami berharap hal itu semua dapat dijadikan cambuk
buat kami supaya lebih mengutamakan kualitas makalah ini di masa yang selanjutnya.

Pekanbaru, Oktober 2017

Tim Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam perancangan ruang. Ruang yang telah
dirancang tidak dapat memenuhi fungsinya dengan baik apabila tidak disediakan akses
pencahayaan. Pencahayaan di dalam ruang memungkinkan orang yang menempatinya dapat
melihat benda-benda. Tanpa dapat melihat benda-benda dengan jelas maka aktivitas di dalam
ruang akan terganggu. Sebaliknya, cahaya yang terlalu terang juga dapat mengganggu
penglihatan. Dengan demikian intensitas cahaya perlu diatur untuk menghasilkan kesesuaian
kebutuhan penglihatan di dalam ruang berdasarkan jenis aktivitas-aktivitasnya. Arah cahaya
yang frontal terhadap arah pandang mata dapat menciptakan silau. Oleh karena itu arah cahaya
beserta efek-efek pantulan atau pembiasannya juga perlu diatur untuk menciptakan kenyamanan
penglihatan ruang. Prinsip umum pencahayaan adalah bahwa cahaya yang berlebihan tidak akan
menjadi lebih baik. Penglihatan tidak menjadi lebih baik hanya dari jumlah atau kuantitas cahaya
tetapi juga dari kualitasnya. Kuantitas dan kualitas pencahayaan yang baik ditentukan dari tingkat
refleksi cahaya dan tingkat rasio pencahayaan pada ruangan. Selain aspek kuantitas dan kualitas
pencahayaan perlu juga memperhatikan aspek efisiensi konsumsi energi dengan memanfaatkan
cahaya alam untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Cahaya alam yang masuk melalui jendela,
dapat dipakai sebagai sumber pencahayaan di dalam bangunan sekaligus upaya untuk menghemat
energi. Oleh karena itu perlu strategi desain pencahayaan dengan memanfaatkan cahaya alam secara
optimal. Desain pencahayaan yang optimal meliputi: optimasi kuantitas cahaya langit, menjaga
kenyamanan visual dan menjaga kesejukan, serta menghemat energi. Penghematan energi dapat
dilakukan dengan melakukan dengan penataan bangunan atau melalui detail bangunan,pada
pencahayaan alami sangat tergantung dengan keberadaan sinar matahari dan keadaan cuaca.

1.2. Tujuan Pengamatan


Adapun rumusan masalah dalam pengamatan ini adalah :
1. Bagaimana sejarah pencahayaan rekayasa bangunan?
2. Apa itu rekayasa pencahayaan bangunan?
3. Bagaimana bentuk rekayasa pada ruangan?
4. Bagaimana aplikasi nya pada kehidupan sehari- hari?

1.3. Manfaat Pengamatan

Adapun tujuan dari pengamatan ini adalah:


1. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mahasiswa.
2. Mahasiswa mampu memahami, mengerti dan membandingkan ilmu dalam Sejarah
Pencahayaan Bangunan dan Pengaplikasiannya.
3. Menambah pengalaman mahasiswa dalam dunia kerja, khususnya Sejarah Pencahayaan
Bangunan dan Pengaplikasiannya.
4. Menyelesaikan tanggung jawab tugas mata kuliah Rekayasa Pencahayaan Bangunan.

1.4. Metode Pengumpulan Data

Laporan Pengamatam Kerja ini menggunakan metode pustaka untuk memperoleh data-data
yang dibutuhkan dalam penyusunannya. Metode pustaka (Literatur) dalam metode pustaka, mencari
informasi dengan mengumpulkan data dalam penyelesaiannya.
BAB 2
STUDI LITERATUR
2.1. Rekayasa Pencahyaan Bangunan
Pencahayaan berasal dari kata cahaya yang merupakan gelombang magnet elektro atau radiasi.
Pencahayaan merupakan salah satu faktor untuk mendapatkan keadaan lingkungan yang aman
dan nyaman dan berkaitan erat dengan produktivitas manusia. Pencahayaan yang baik
memungkinkan orang dapat melihat objek-objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat.

2.1.1. Jenis-jenis Pencahyaan


Darmasetiawan, Christian, dan Lestari Puspakesuma. (1991) dalam bukunya yang berjudul
Teknik Pencahayaan dan Tata Letak Lampu Jilid 1 Pengetahuan Dasar mengklasifikasikan
pencahayaan sebagai berikut :

1) Pencahayaan Alami
Pencahayaan alami adalah sumber pencahayaan yang berasal dari sinar matahari. Sinar
alami mempunyai banyak keuntungan, selain menghemat energi listrik juga baik untuk
kesehatan.
Untuk mendapatkan pencahayaan alami pada suatu ruang diperlukan jendela-jendela yang
besar ataupun dinding kaca sekurang-kurangnya 1/6 daripada luas lantai.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk memperoleh pencahayaan alami yang baik di
antaranya adalah variasi intensitas cahaya matahari, distribusi dari terangnya cahaya, efek
dari lokasi, pemantulan cahaya, jarak antar bangunan, letak geografis, dan fungsi bangunan.

2) Pencahayaan Buatan
Pencahayaan buatan adalah pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber cahaya selain cahaya
alami. Pencahayaan buatan sangat diperlukan apabila posisi ruangan sulit dicapai oleh
pencahayaan alami atau saat pencahayaan alami tidak mencukupi. Fungsi pokok
pencahayaan buatan baik yang diterapkan secara tersendiri maupun yang dikombinasikan
dengan pencahayaan alami adalah sebagai berikut:
a. Menciptakan lingkungan yang memungkinkan penghuni melihat secara detail serta
terlaksananya tugas serta kegiatan visual secara mudah dan tepat
b. Memungkinkan penghuni berjalan dan bergerak secara mudah dan aman
c. Tidak menimbukan pertambahan suhu udara yang berlebihan pada tempat kerja
d. Memberikan pencahayaan dengan intensitas yang tetap menyebar secara merata, tidak
berkedip, tidak menyilaukan, dan tidak menimbulkan bayang-bayang.
e. Meningkatkan lingkungan visual yang nyaman dan meningkatkan prestasi.
f. Seberapa jauh pencahayaan buatan akan digunakan, baik untuk menunjang dan melengkapi
pencahayaan alami.
g. Tingkat pencahayaan yang diinginkan, baik untuk pencahayaan tempat kerja yang
memerlukan tugas visual tertentu atau hanya untuk pencahayaan umum
h. Warna yang akan dipergunakan dalam ruangan serta efek warna dari cahaya

Penerapan pencahayaan buatan yang sering dipergunakan secara umum dapat dibedakan atas 3
macam yakni:

(1) Penerapan pencahayaan Merata


Pada sistem ini iluminasi cahaya tersebar secara merata di seluruh ruangan. Penerapan
pencahayaan ini cocok untuk ruangan yang tidak dipergunakan untuk melakukan tugas visual
khusus. Pada sistem ini sejumlah armatur ditempatkan secara teratur di seluruh langi-langit.

(2) Penerapan pencahayaan Terarah


Pada sistem ini seluruh ruangan memperoleh pencahayaan dari salah satu arah tertentu. Sistem
ini cocok untuk pameran suatu objek karena akan tampak lebih jelas. Lebih dari itu,
pencahayaan terarah yang menyoroti satu objek tersebut berperan sebagai sumber cahaya
sekunder untuk ruangan sekitar, yakni melalui mekanisme pemantulan cahaya. Sistem ini dapat
juga digabungkan dengan penerapan pencahayaan merata karena bermanfaat mengurangi efek
menjemukan yang mungkin ditimbulkan oleh pencahayaan merata.
(3) Penerapan pencahayaan Setempat
Pada sistem ini cahaya dikonsentrasikan pada suatu objek tertentu misalnya tempat kerja yang
memerlukan tugas visual.

2.2. Pencahayaan Pada Ruangan


Untuk mendapatkan pencahayaan yang sesuai dalam suatu ruang, diperlukan penerapan
pencahayaan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. Penerapan pencahayaan di ruangan,
dapat dibedakan menjadi 5 macam yaitu:
1) Penerapan pencahayaan Langsung ( direct light ing )
2) Pencahayaan Semi Langsung ( semi direct lighting )
3) Penerapan pencahayaan Difus ( general diffus lighting )
4) Penerapan pencahayaan Semi Tidak Langsung ( semi indirect lighting )
5) Penerapan pencahayaan Tidak Langsung ( indirect lighting )
BAB 3

STUDI KASUS

3.1. SHAH FAISAL MOSQUE


Arsitek : Vedat Dalokay

Lokasi : Isalamabad, Pakistan

Luas : 5000 m2

Shah Faisal Mosque atau biasa juga disebut Masjid Faisal, terletak di kota Islamabad, tepatnya
berada di kaki bukit Margalla yaitu kaki bukit paling selatan Pegunungan Himalaya. Pembangunan
masjid dimulai pada tahun 1976 setelah hibah $ 120 juta dari Raja Saudi Faisal dan menjadi masjid
terbesar di dunia dari tahun 1986 sampai 1993. Masjid Faisal dapat menampung 10.000 jamaah di ruang
shalat utama, 24.000 di serambi depan, 40.000 di halamannya, dan 200.000 lainnya di area penghubung.
Masing-masing dari empat menara Masjid tersebut tingginya 80 m (260 kaki) (menara tertinggi di Asia
Selatan) dan berukuran 10 x 10 m.

Desain yang tidak konvensional oleh arsitek Turki Vedat Dalokay dipilih melalui sebuah
kompetisi internasional. Tanpa kubah yang khas seperti sebagian besar masjid lainnya, masjid ini
berbentuk seperti tenda raksasa Badui yang dikelilingi oleh menara-menara tinggi. Rancangannya
memiliki atap miring berbentuk delapan sisi yang membentuk ruang shalat segitiga. Bagian dalam
masjid ini terlihat sangat indah dengan sentuhan mozaik di dindingnya dan kaligrafi yang dibuat oleh
seniman terkenal Pakistan bernama Gulgee. Masjid tersebut mendominasi pemandangan kota
Islamabad. Masjid yang berdiri di atas lahan seluas 5.000 meter persegi ini, secara arsitektural,
memasukkan gaya Asia Selatan, Arab, dan Turki. Dengan perpaduan ini, bisa dikatakan bahwa Masjid
Shah Faisal merupakan salah satu contoh arsitektur Islam modern di dunia. Kemegahanya tampak
agung dengan pilar-pilar beton raksasa dan menara-menaranya yang menjulang tinggi mencakar langit.

Begitu banyak kritikan terhadap masjid ini dari kalangan muslim yang berpandangan
konservatif, terutama karena bentuknya yang tidak lazim dengan ketiadaan kubah besar layaknya
sebuah masjid yang dikenal secara universal. Namun semua kritikan tersebut kemudian lenyap ketika
masjid ini selesai dibangun dan menghasilkan sebuah bangunan masjid yang begitu besar, megah dan
ditambah lagi dengan pemilihan lokasi yang begitu menarik dengan menjadikan bukit Margalla di latar
belakangnya.

Pencahayaan Shah Faisal Mosque

Di ruang shalat utama terdapat lampu hias raksasa


yang tergantung di langit-langit masjid. Ukurannya
yang sangat besar dan warna emasnya menambah
kemegahan interior masjid. Lampu ini memiliki
berat sekitar 7,5 ton dan menggunakan 1.000 bola
lampu.

Lampu raksasa berwarna emas tersebut juga


dikelilingi oleh lampu-lampu lain yang mendukung
keindahannya. Di atasnya juga terdapat celah-celah
segitiga yang dapat diisi cahaya lampu dengan warna
serupa.

Lampu ini hanya dihidupkan pada malam hari dan


setiap hari Jumat. Ketika malam hari semua lampu
dihidupkan sehingga menciptakan suasana hangat di dalam masjid yang dapat menambah kekhusyukan
jamaah dalam beribadah.
Ribuan lampu menerangi setiap sudut Masjid Faisal sehingga mempercantik suasana malam Kota
Islamabad. Gantungan sejumlah lampu hias di salah satu sisi.

Selain penerangan dari cahaya buatan, Masjid Faisal juga memanfaatkan sinar matahari sebagai cahaya
alami untuk menghemat energi pada siang hari. Sinar matahari masuk ke dalam masjid melalui celah
celah ditutupi kaca yang berada di atap dan sekeliling dinding sehingga distribusi cahaya di dalam
ruangan cukup merata dan tidak menyilaukan. Pola penyusunan celah menghasilkan keunikan dalam
pembentukan bayangan yang terlihat dari dalam masjid.

Bangunan Masjid Faisal memanfaatkan cahaya alami dengan semaksimal mungkin karena tidak banyak
penghalang cahaya matahari.
Di atas lantai masjid yang luas
terbentang karpet yang faktor
refleksinya rendah sehingga tidak
banyak pantulan cahaya dari bawah. Hal
ini bermanfaat untuk mengu-rangi efek
silau. Apabila terdapat silau di dalam
ruang ibadah tentu akan mengganggu
penglihatan dan kekhusyukan jamaah
dalam ibadahnya.

3.2. Stadion Allianz Arena

Stadion Allianz Arena Bayern Munich berada di Bavaria, Jerman dengan kapasitas 69.901 tempat
duduk. Dikenal luas untuk eksterior panel plastic ETFE yang ditiup, ini adalah stadion pertama di dunia
yang bisa mengubah warna eksterior dengan penuh warna. Terletak di tepi utara Schwabing-Freimann
borough Munich pada Frttmaning Heath, ini adalah arena terbesar ketiga di Jerman.
Dua klub sepak bola profesional Munich, FC Bayern Munich dan TSV 1860 Mnchen, telah
memainkan pertandingan kandang mereka di Allianz Arena sejak awal musim 2005-06. Klub klub ini
sebelumnya memainkan pertandingan kandang mereka di Stadion Olimpiade Munich sejak tahun 1972.

Para desainer utama adalah arsitek Herzog & de Meuron. Stadion ini dirancang sedemikian rupa
sehingga pintu masuk utama ke stadion adalah dari area lapang yang ditinggikan secara perlahan dari
ruang parkir yang terdiri dari tempat parkir bawah tanah terbesar di Eropa. Atap stadion memiliki built-
in roller blinds yang dapat dimajukan dan ditarik selama permainan untuk memberikan perlindungan
penonton dari matahari.

Total beton yang digunakan selama konstruksi stadion: 120.000 m


Total beton yang digunakan untuk garasi parkir: 85.000 m
Total baja yang digunakan selama konstruksi stadion: 22.000 ton
Total baja yang digunakan untuk garasi parkir: 14.000 ton

Eksterior yang bercahaya Arena fasad dibangun dari 2.874 panel udara ETFE-foil yang dijaga
mengembang dengan udara kering pada tekanan diferensial 3,5 Pa. Panel tampak putih dari kejauhan
tetapi ketika diteliti dengan seksama, ada titik-titik kecil di panel. Bila dilihat dari jauh, mata
menggabungkan titik dan melihat putih. Bila dilihat secara lebih dekat adalah mungkin untuk melihat
tembus melalui foil. Foil memiliki ketebalan 0,2 mm. Setiap panel dapat menyala mandiri dengan
cahaya putih, merah, atau biru atau kombinasinya. Panel menyala untuk setiap pertandingan dengan
warna dari masing-masing tim kandang merah untuk Bayern Munich, biru untuk TSV dan putih untuk
tim nasional sepak bola Jerman. Putih juga digunakan ketika stadion adalah tempat netral, seperti Final
Liga Champions UEFA 2012. Warna lain atau skema pencahayaan yang berubah dinamis secara teoritis
sangat mungkin, tapi Kepolisian Munich sangat menekankan satu skema warna saja karena telah terjadi
beberapa kecelakaan mobil di jalan tol dekat stadion, A9 Autobahn, yang disebabkan oleh terganggunya
pengemudi karena warna lampu yang berubah. Pada malam yang cerah stadion dapat dengan mudah
terlihat bahkan dari puncak pegunungan di Austria, pada jarak sekitar 50 mil (80 km).

Konsep stadion dengan fasad pencahayaan yang inovatif, Allianz Arena telah kemudian diadopsi di
tempat-tempat yang baru dibangun lainnya, seperti Stadion MetLife dekat New York City, yang
menyala dengan warna biru untuk NFL Giants, hijau untuk Jets, dan merah untuk konser.

Transportasi Pengunjung dapat memarkir mobil mereka di struktur parkir terbesar di Eropa, yang
terdiri dari parkir gedung berlantai empat dengan 9.800 tempat parkir. Selain itu, 1.200 tempat dibangun
ke dalam dua tingkatan pertama arena, 350 tempat tersedia untuk bus (240 di ujung utara, dan 110 di
pintu masuk selatan), dan 130 lebih tempat yang disediakan untuk mereka yang cacat. Stadion ini
terletak di sebelah stasiun Frttmaning U-Bahn, berada pada trayek U6 dari Munich U-Bahn (sistem
kereta api Jerman).

Pembangunan stadion dianggarkan sebesar 286 juta Euro (sekitar 4 triliun rupiah, kurs 14000), namun
kemudian secara keseluruhan memakan biaya sebesar 340 juta Euro (4,76 triliun rupiah, kurs 14000).
Biaya ini tidak termasuk nilai investasi sebesar 210 juta Euro (2,94 triliun rupiah, kurs 14000) dari
Pemerintah Jerman untuk pengembangan area dan infrastruktur di sekitar stadion.

3.3. CAF HUMMINGBIRD EATERY BANDUNG

Caf Hummingbird terdapat 3 zona, yaitu zona ruang makan utama yang berada di dalam bangunan
yang diberi tanda berwarna merah, zona teras yang berada di sisi kiri dan depan bangunan yang diberi
tanda berwarna orange, dan terakhir zona semi - private yang berada di area belakang dalam bangunan
yang diberi tanda berwarna hijau. Pada sisi kiri halaman depan terdapat sebuah bangunan berbentuk
lengkung yang terinspirasi dari bentuk sangkar burung sehingga menjadikan bangunannya menjadi
lebih fresh dan fun. Rangka bangunan yang menyerupai sangkar burung terbuat dari bahan rangka baja
dan rotan artifisial . Bangunan yang berfungsi sebagai dining area yang lebih bersifat kasual ini,
sekarang menjadi ikon dari Caf Hummingbird .
Gambar 1 : Layout Caf Hummingbird Eatery
Untuk area indoor nya, suasana hangat diperkuat dengan bahan kayu yang berjenis rubber wood
dengan finishing natural. Warna-warna bernuansa pastel yang nyaman dan lembut. Pada salah satu sisi
dinding dining area terdapat desain mural yang digambarkan bagaikan sebuah ensiklopedia kuno yang
menceritakan mengenai kehidupan seputar burung hummingbird yang memperkuat konsep desain
interiornya.

PENCAHAYAAN PADA HUMMINGBIRD EATERY BANDUNG

Penggunaan cahaya buatan lebih dominan dibanding cahaya alami pada Caf Hummingbird
agar dapat memaksimalkan suasana yang ingin dihadirkan dan juga untuk menyoroti elemen-elemen
estetis yang ada pada Humming bird Eatery. Fungsional dan memiliki nilai estetis merupakan salah
satu deskripsi tentang pencahayaan buatan yang dikutip dalam Majalah Asri.

Pencahayaan dining area pada gambar 2 yang mengekspos wall treatment menyerupai setengah sangkar
burung menggunakan jenis LED spotlight lamp dengan warna daylight .

Gambar 2 : Pencahayaan pada dining area

Fungsi LED Spotlight lamp tersebut yaitu untuk menyoroti sangkar burung menambah
keindahan estetika pada area serta memperkuat tema caf. Sedangkan armatur atau rumah lampu pada
lampu gantung menggunakan tali tambang jauh dari kesan elegant dan menghasilkan desain lampu
yang bersifat kontemporer dengan menggunakan lampu pijar warna hangat (warm light) untuk
menerangi area makan. Pencahayaan pada area ini membuat ruangan menjadi lebih fresh, cerah, dan
kontemporer dengan aksesori bantal yang berwarna biru langit.

Tipe pencahyaaan dibalik wall display pada gambar3 merupakan sistem penerangan decorating
lighting yang menciptakan suasana hangat pada ruangan. Sedangkan cahayanya menggunakan lampu
click stripe dibelakang wall display.

Pada area ini, ruangan terasa lebih homey dengan aksesori yang dipajang pada wall display ,
serta didukung dengan pencahayaan yang terkesan hangat, santai, dan dramatis.

Jenis cahaya yang digunakan pada langit-langit yaitu jenis lampu TL ( tubular lamp ) yang
disembunyikan ( hidden lamp ) sehingga tidak langsung menempel pada dinding yang seolaholah
terlihat melayang (gambar 5). Langit-langit dibuat lebih rendah agar lampu tidak langsung menyinari
ruangan sehingga pantulan cahayanya menghasilkan terang yang merata tanpa membuat silau dan dapat
menampilkan karakter dan keindahan lukisan pada dinding (gambar 6). Selain itu langit-langit dibuat
bertingkat yang difungsikan sebagai pembeda fungsi ruang dan estetika agar tidak terlihat monoton.
Untuk memperoleh terang yang merata pada seluruh ruangan, pada langit-langit digunakan lampu
downlight LED adjustable 25 Watt yang langsung menerangi area sirkulasi. Titik lampu terlihat
proporsional sehingga semua aktivitas umum dapat terjangkau cahaya.
Untuk bagian area mini bar dan out door, menggunakan pencahayaan task lighting dengan jenis
lampu gantung pijar warm light 40 Watt yang menyerupai sangkar burung sehingga terkesan sederhana
dan natural. Fungsi utama dari lampu gantung untuk menerangi area sirkulasi, setiap meja disediakan
tealight candle yang bersifat decorative lighting untuk menciptakan suasana yang romantis.

Area outdoor , pencahayaan alami berasal dari atap yang terbuat dari kaca. Namun ketika siang
hari, kapasitas cahaya pada area ini berlebihan sehingga terasa panas. Apabila pada malam hari, area
outdoor baik pada teras depan maupun samping banyak diminati oleh pengunjung karena suasana yang
terasa lebih romantis.
BAB 3

PENUTUPAN

3.1. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa peranan pencahayaan dan material merupakan
salah satu unsur penting sebagai penunjang eksistensi serta identitas dari sebuah fasilitas publik
khususnya caf. Keduanya sangat berkesinambungan dalam menciptakan suasana hangat dan
nyaman yang menciptakan suasana seperti berada di rumah sendiri. Warna yang muncul bukan saja
semata-mata dari cahaya tetapi juga dihasilkan oleh furnitur di dalam ruang, dinding, lantai, langit-
langit dan juga elemen estetis lainnya.

Faktor lain dari material dan cahaya adalah pemilihan tema unik untuk suatu fasilitas dengan
penggunaan waktu yang cukup panjang. Walaupun fungsi utama dari caf adalah tempat untuk
menikmati makanan dan minuman, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa pengunjung akan
tinggal lama setelah makanan tersebut habis. Dalam hal ini, pemilihan tema burung kolibri yang
lengkap dengan gambar, informasi, bahkan peniruan sangkar burung yang tidak umum untuk suatu
caf , dapat menarik minat pengunjung yang tidak hanya dapat bersantap di dalam tetapi juga dapat
dilakukan di luar bangunan.

3.2. SARAN

Kami berharap kepada pihak yang bersangkutan dalam matakuliah teori bentuk dan fungsi ini,
baik dari dosen pembimbing Wahyu Hidayat, ST., MURP., serta teman teman semua agar bisa
memberi masukan dari materi pembahasan kami kali ini.
DAFTAR PUSTAKA

http://indonesian.shinlight.com/china-
8_watt_ac_220_240v_tubular_cfl_lamp_cri_80_for_supermarket_lighting-1850920.html
www.gomuslim.co.id/.../masjid-shah-faisal-islamabad-masjid-tanpa-kubah
https://en.wikipedia.org/wiki/Faisal_Mosque khazanah.republika.co.id
https://www.google.com/search?client=firefox-b-ab&btnG=Telusuri&q=allianz+arena
https://proteksikeluargasyariah.com/2016/02/18/allianz-arena-stadion-canggih-
bergemerlap-cahaya/comment-page-1/
webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:jWvDrLkMHmsJ:jurnalonline.itenas.ac.id
/index.php/rekajiva/article/download/376/544+&cd=1&hl=en&ct=clnk

Anda mungkin juga menyukai