Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang
diberikan melalui praktik keperawatan dengan sasaran keluarga. Asuhan ini
bertujuan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami keluarga
dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Secara umum, tujuan
asuhan keperawatan keluarga adalah ditingkatkannya kemampuan keluarga
dalam mengatasi masalah kesehatannya secara mandiri (Suprajitpno, 2004 hal
27).
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa
lambung. Secara histopatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-
sel radang daerah tersebut. Gastritis merupakan salah satu penyakit dalam pada
umumnya. Secara garis besar, gastritis dapat dibagi menjadi beberapa macam
Gastritis akut adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut
dengan kerusakan-kerusakan erosi,Gastritis kronis adalah inflamasi lambung
yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau malignadari lambung,
atau oleh bakteri Helicobacter pylory. (Soeparman, 2001, hal. 127)
Komplikasi yang mungkin dapat terjadi pada penderita gastritis ialah
Perdarahan saluran cerna bagian atas. Ulkus peptikum, perforasi dan anemia
karena gangguan absorbsi vitamin. (Mansjoer, 1999, hal : 493).
Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara (2012), bahwa
jumlah pasien Gastritis yang berobat ke Puskesmas dalam wilayah Kabupaten
Aceh Utara dari bulan juni 210-Juni 2011 adalah 16174 orang penderita ISPA.
dan pada tahun 2011-2012 terhitung dari juni 2011 Mei 2012 terdapat 7163
orang yang berobat dengan penyakit gastritis. Dan bila dilihat data dari
Puskesmas blang managat (2012), di mulai dari Bulan juni 2011- Mei 2012
terdapat 9194 pasien yang berobat Gastritis.

1
B. Rumusan Masalah
A. Bagaimana Konsep dasar gastritis ?
B. Bagaimana Konsep keluarga ?
C. Bagaimana Asuhan keperawatan keluarga ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan pengetahuan dan mendapatkan pengalaman yang
nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada keluarga Ny.A dengan
gastritis pada An. T.

2. Tujuan Khusus
a. Dapat melaksanakan pengkajian keperawatan secara komprehensif
pada keluarga dengan masalah Gastritis
b. Dapat merumuskan dan mengidentifikasi diagnosa keperawatan
keluarga, dengan masalah gastritis.
c. Dapat menetukan perencanaa keperawatan keluarga, dengan masalah
gastritis.
d. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan keluarga, dengan masalah
gastritis.
e. Dapat melakukan evaluasi terhadap keberhasilan proses keperawatan
pada keluarga dengan masalah gastritis.
f. Dapat mendokumentasikan tentang asuhan keperawatan keluarga
terutama dengan masalah gastritis.

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa
lambung. Secara histopatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi
sel-sel radang daerah tersebut. Gastritis merupakan salah satu penyakit
dalam pada umumnya. Secara garis besar, gastritis dapat dibagi menjadi
beberapa macam :
a) Gastritis akut adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambung
yang akut dengan kerusakan-kerusakan erosi.
b) Gastritis kronis adalah inflamasi lambung yang lama dapat
disebabkan oleh ulkus benigna atau malignadari lambung, atau oleh
bakteri Helicobacter pylory. (Soeparman, 2001, hal. 127).

2. Etiologi
Gastritis dapat terjadi tanpa diketahui penyebabnya. Pada sebagian
besar kasus, gastritis erosive menyertai timbulnya keadaan klinis yang
berat.keadaan klinis yang sering menimbulkan gastritis erosive misalnya
trauma yang luas, operasi besar, gagal ginjal, gagal napas, penyakit hati
yang berat, renjatan, luka bakar yang luas, trauma kepala, dan septicemia.
Kira-kira, 80-90% pasien yang dirawat diruang intensif menerita gastritis
akut erosive ini. Gastritis akut jenis ini sering disebut gastritis akut stress.
(Soeparman, 2001, hal 127)

3. Patofisiologi
Seluruh mekanisme yang menimbulkan gastritis erosife karena
keadaan-keadaan klinis yang berat belum diketahui benar. Factor-faktor
yang amat penting adalah ischemia pada mukosa gaster di samping factor
popsin, refluks empedu dan cairan pakreas.

3
Aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid merusak mukosa lambung
melalui beberapa mekanisme. Obat-obat ini dapat menghambat aktivitas
siklooksigenese mukosa.
Siklooksigenese merupakan enzim yang penting untuk pembentukan
prostaglandin dari asam arakidonat. Prostaglandin mukosa merupakan
salah satu factor defensive mukosa lambung yang amat penting. Selain
menghambat prostaglandin mukosa, aspirin dan obat antiinflamasi
nonsteroid tertentu dapat merusak mukosa secara topical. (Soeparman,
2001, hal 128).

4. Manifestasi Klinis
Menurut Baughman, D, C & Hackley, J, C. (2000). Manifestasi klinis
pada pasien dengan gastritis adalah sebagai berikut :
a) Dapat terjadi ulserasi superficial dan mengarah pada hemoragi.
b) Rasa tak nyaman pada abdomen dengan sakit kepala, kelesuan, mual,
dan anorexsia. Mungkin terjadi muntah dan cegukan.
c) Beberapa pasien menunjukkan asimptomatik.
d) Dapat terjadi kolik dan diare jika makan yang mengiritasi tidak
dimuntahkan, tetapi malah mencapai usus.
e) Pasien biasanya pulih kembali sekitar sehari, meskipun nafsu makan
mungkin akan hilang selama 1 sampai 3 hari.

5. Komplikasi
a) Perdarahan saluran cerna bagian atas.
b) Ulkus peptikum, perforasi dan anemia karena gangguan absorbsi
vitamin. (Mansjoer, 1999, hal : 493).

6. Penatalaksanaan
Gastritis diatasi dengan menginstruksikan pasien untuk menghindari
alcohol dan makanan sampai gejala berukurang. Bila pasien mampu

4
makan melalui mulut, diet mengandung gizi dianjurkan. Bila gejal
menetap, caira perlu diberikan secara parenteral.
Bila perdarahan terjadi, maka penatalaksanaan adalah serupa dengan
prosedur yang dilakukan untuk hemoragi saluran gastrointestinal atas. Bila
gastritis diakibatkan oleh mencerna makanan yang sangat asam atau alkali,
pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralisasian agen penyebab.
(Suzane & Smelzhert, 2001, hal 1062).

B. Konsep Keluarga
1. Pengertian keluarga
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama
dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran
masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga, seperti yang
dijelaskan oleh Friedmen (1998) dalam Suprajitno (2004, hal 1).
Keluarga adalah suatu ikatan/persekutuan hidup atas dasar
pernikahan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama
atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian
dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal
dalam sebuah rumah, seperti yang dikemukakan oleh Sayekti (1994)
dalam Suprajitno (2004, hal 1).
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami
istri, atau anaknya, atau ibu dan anaknya (UU No. 10 tahun 1992
Suprajitno, 2004, hal 1). Dari ketiga definisi diatas dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa keluarga adalah :
a) Unit terkecil masyarakat
b) Terdiri atas dua orang atau lebih
c) Adanya ikatan perkawinan
d) Hidup dalam satu rumah tangga
e) Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing

5
2. Ciri-ciri keluarga
Menurut Effendi (1998, hal 37) ciri-ciri kelurga yaitu :
a) Diikat dalam satu tali perkawinan
b) Ada hubungan darah
c) Ada ikatan bathin
d) Ada tanggung jawab masing-masing anggotanya
e) Ada pengambilan keputusan
f) Kerjasama diantara anggota keluarga
g) Komunikasi interaksi antar anggota keluarga
h) Tinggal dalam satu rumah

3. Tipe keluarga
Menurut Suprajitno (2004, hal 2) tipe keluarga :
a) Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah,
ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi
b) Keluarga besar (extended family) adalah keluarga inti dengan
ditambah anggota keluarga lain yang masih hubungan darah (kakek,
nenek, paman, dan bibi.
c) Keluarga bentukan kembali (dyaic family) adalah keluarga baru yang
terbentuk dari pasangan yang telah cerai atai kehilangan pasangannya.
d) Orang tua tunggal (singgle parent family) adalah keluarga yang terdiri
dari salah satu orang tua dengan anak-anak akibat perceraian atau
ditinggal pasangan
e) Ibu dengan anak tanpa perkawinan (the unmaried mother)
f) Orang dewasa (laki-laki atau perempuan) yang tinggal sendiri tanpa
pernah menikah (the single adult living alone)
g) Keluarga dengan anak tanpa pernikahan sebelumnya (the nonmatrial
hetesexual cohabiting family)
h) Keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin sama
(gay and lesbian family)

6
4. Fungsi keluarga
Secara umum fungsi keluarga menurut friedman (1998) dalam
Suprajitno (2004, hal 13) adalah sebagai berikut :
a) Fungsi afektif (the affective function) adalah fungsi keluarga yang
utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mepersiapkan anggota
keluarga berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini di hubungkan
untuk perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga.
b) Fungsi asosialisasi dan tempat untuk bersosialisasi (socialization and
social placement function) adalah fungsi mengembangkan dan tempat
melatih anak berkehidupan sosial sebelum meninggal rumah untuk
berhubungan orang lain di luar rumah.
c) Fungsi reproduksi (the economic function) adalah fungsi untuk
mempertahankan kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat
untuk mengembangkan kemampuan individu, meningkatkan
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
d) Fungsi perawatan / memelihara kesehatan (the healht care funcion)
yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota
keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi, fungsi ini
dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.

5. Tugas perkembangan keluarga


Menurut Duvall (1985) dalam Suprajitno (2004, hal 03), tugas
perkembangan keluarga adalah:
1) Keluarga baru menikah
a) Membina hubungan intim yang memuaskan
b) Membina hubungan keluarga lain, teman dan kelompok sosial
c) Mendiskusikan rencana memiliki anak
2) Keluarga dengan anak baru lahir
a) Mempersiapkan menjadi orang tua
b) Adaptasi dengan perubahan adanya anggota keluarga, interaksi
keluarga, hubungan seksual dan kegiatan sosial

7
c) Mempertahankan hubungan dalam rangka memuaskan
pasangannya.
3) Keluarga dengan anak usia pra sekolah
a) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga misal kebutuhan tempat
tinggal, privasi dan aras aman.
b) Membantu anak untuk bersosialisasi.
c) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan
anak yang lain (tua) juga harus terpenuhi.
d) Mempertahankan hubungan yang sehat, baik didalam maupun
diluar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar)
e) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (biasanya
keluarga mempunyai tingkat kerepotan yang tinggi).
f) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga
g) Merencanakan kegiatan dan waktu untuk menstimulasi tumbuh
kembang anak.
4) Keluarga dengan anak usia sekolah
a) Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah,
sekolah dan lingkungan lebih luas.
b) Mempertahankan keintiman pasangan
c) Memenuhi kebutuhan yang meningkat, termasuk biaya
kehidupan dan kesehatan anggota keluarga.
5) Keluarga dengan anak remaja
a) Memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggung jawab
mengingat remaja adalah seorang dewasa muda dan mulai
memiliki otonomi.
b) Mempertahankan hubungan intim dengan keluarga.
c) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua.
d) Mempersiapkan perubahan sistem peran dan peraturan keluarga.
e) Keluarga mulai melepas anak sebagai dewasa
f) Memperluas jaringan keluarga dari keluarga inti menjadi
keluarga besar.

8
g) Mempertahankan keintiman pasangan.
h) Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di
masyarakat.
i) Penataan kembali peran orang tua dan kegiatan di rumah.
6) Keluarga usai pertengahan
a) Mempertahankan kesehatan individu dan pasangan usia
pertengahan.
b) Mempertahankan hubungan yang suasana kehidupan rumah yang
serasi dan dengan memuaskan dengan anak-anaknya dan sebaya.
c) Meningkatkan keakraban pasangan.
7) Keluarga usia lanjut
a) Mempertahankan suasana kehidupan rumah tangga yang saling
menyenangkan pasangannya.
b) Adaptasi dengan perubahan yang akan terjadi : kehilangan
pasangan, kekuatan fisik dan penghasilan keluarga.
c) Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat.
d) Melakukan life review masa lalu.

6. Tugas keluarga di bidang kesehatan


Menurut Suprajitno (2004, hal 17), fungsi pemeliharaan kesehatan
keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu di pahami dan
dilakukan meliputi :
a) Mengenal masalah kesehatan keluarga
b) Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarganya
c) Merawat keluaga yang mengalami gangguan kesehatan
d) Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
e) Momidifikasikan lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan
keluarga.
f) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitar bagi keluarga.

9
C. Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Pengkajian Keperawatan
Menurut Effendy (1998, hal 46). Pengkajian adalah sekumpulan
tindakan yang digunakan oleh perawat untuk mengukur keadaan klien
(keluarga) dengan memakai norma-norma kesehatan keluarga maupun
sosial, yang merupakan sistem yang terintegrasi dan kesanggupan keluarga
untuk megatasinya.
Norma yang digunakan untuk menentukan status kesehatan keluarga
adalah, seperti yang dijelaskan oleh Effendy (1998, hal 46) dan tambahan
isi format pengkajian keluarga :
1) Data umum
Data umum, yaitu meliputi nama keluarga, alamat dan telepon,
komposisi keluarga (dilengkapi dengan genogran keluarga), tipe
keluarga, suku (dikaji data yang berhubungan dengan suku kebiasaan-
kebiasaan yang berhubungan dengan suku seseorang atau keluarga),
agama (dikaji tentang agama yang dianut), aktifitas rekreasi keluarga
(dikaji data tentang kebiasaan dan pendapatan keluarga), status
ekonomi keluarga (dikaji data tentang besarnya penghasilan atau
pendapatan keluarga).
2) Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
a) Tahap perkembangan saat ini: Dikaji tentang tahap perkembangan
tertinggi yang saat ini dicapai oleh keluarga.
b) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi saat ini.
Dikaji tentang maladaptif dari tengah pertumbuhan dan
perkembangan keluarga yang terpenuhi.
c) Riawayat kesehatan keluarga inti: Menjelaskan riwayat kesehatan
keluarga inti, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga,
perhatian terhadap upaya dan pengalaman keluarga terhadap
pelayanan kesehatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
kesehatan, meliputi keluhan, berapa lama sudah terjadi, apa upaya
yang dilakukan untuk menanggulangi dan bagaimana hasilnya.

10
d) Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya: Menjelaskan riwayat
kesehatan diatas orang tentang riwayat penyakit keturunan, upaya
generasi tersebut tentang upaya peanggulangan penyakit, upaya
kesehatan yang di pertahankan sampai saati ini.
3) Lingkungan
a) Karakteristik rumah: Dikaji tentang ukuran rumah, jumlah kamar,
ventilasi, sumber air, jumlah keliarga, saluran pembuangan limbah,
jamban keluarga, pembuangan sampah dan kandang ternak.
b) Karakteristik tentang komunikasi: Meliputi tentang jenis pekerjaan
yang dominan dari tetangga diawali yang terdekat dengan
kleuarga.
c) Mobilitas keluarga: Bagaimana perpindahan tempat tinggal yang
terjadi dalam keluarga.
d) Perkumpulan keluarga dan nteraksi dengan masyarakat meliputi
data keefketifan dalam berinteraksi dengan masyarakat.
e) Sistem pendukung keluarga: Meliputi tentang sumbe pendukung
eperti orang tua, mertua, saudara, teman dan lain-lain.
4) Struktur keluarga
a) Pola komunikasi keluarga: Meliputi data tentang sifat komunikasi
dalam keluarga.
b) Struktur kekuatan keluarga: Meliputi data tentang kemampuan
komunikasi keluarga.
c) Struktur peran: Meliputi data tentang peran anggota keluarga
misalnya, ayah berperan sebagai kepala keluarga.
d) Nilai dan norma kebudayaan: Meliputi data tentang nilai dan aturan
yang ada dalam keluarga.
5) Fungsi keluarga
a) Fungsi efektif: Meliputi sikap dan perhatian masing-masing
keluarga terhadap anggota keluarga yang lain.
b) Fungsi sosialisasi: Meliputi bagaimana keluarga mengajarkan
anak-anak untuk bersosialisasi dengan orang lain.

11
c) Fungsi peran kesehatan: Menjelaskan kemampuan keluarga
mengenai masalah kesehatan dan mengambil keputusan terhadap
masalah kesehatan atau manfaat fasilitas pelayanan kesehatan.
6) Stresor dan koping keluarga
a) Stresor jangka panjang dan pendek: Kekuatan keluarga
memikirkan tentang penyakit yang terjadi pada keluarga.
b) Kemapuan keluarga berespon terhadap masalah
c) Strategi koping yang digunakan: Meliputi mekanisme pertanahan
diri yang digunakan oleh keluarga jika mendapatkan
masalah/stressor.
d) Strategi adaptasi dsifungsional: Meliputi data tentang mekanisme
pertahanan diri (koping) keluarga yang maladaptif.
e) Pemeriksaan fisik: Meliputi pemeriksaan head to toe untuk semua
anggota keluarga baik sehat maupun yang sakit.
7) Harapan keluarga
Meliputi tentang apa yang diharapkan keluarga dengan bantuan yang
diberikan oleh perawat keluarga.

2. Diagnosa Keperawatan
Setelah mengumpulkan data dan menganalisa, maka diagnosa
keperawatan keluarga yang mungkin terjadi pada keluarga dengan masalah
gastritis menurut klasifikasi NANDA dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Gangguan Pemenuhan nutrisi b.d masukan nutrient yang tidak adekuat
2. Nyeri akut b.d mukosa lambung teriritasi
3. Kurang pengetahuan mengenai penyakit b.d ketidaktahuan keluarga
tentang masalah kesehatan

12
3. Intervensi Keperawatan
Menurut ANA (1995) intervensi sebagai rencana tindakan perawat
untuk kepentingan klien atau keluarga. Perencanaan pada masalah yang
dilengkapi dengan kriteria dan standar yang mengacu pada penyebab,
selanjutnya merumuskan tindakan keperawatan yang berorientasi pada
kriteria dan standar.
Hal penting dalam penyusunan rencana asuhan keperawatan :
1) Tujuan hendaknya logis, sesuai masalah dan mempunyai jangka waktu
yang sesuai dengan kondisi klien.
2) Kriteria hasil hendaknya dapat diukur dengan alat ukur dan diobservasi
dengan pancaindra perawat yang objektif.
3) Rencana tindakan disesuaikan dengan sumber daya dan dana yang
dimiliki ketergantungan dapat diminimalisasi.

4. Implementasi
Implementasi merupakan aktualisasi dari perencanaan yang telah
disusun sebelumnya. Prinsip yang mendasari implementasi keperawatan
keluarga antara lain (Setaiwan dan Dermawan, 2008, hal 47) :
1) Implementasi mengacu pada rencana perawatan yang dibuat.
2) Implementasi dilakukan dengan tetap memperhatikan prioritas
masalah.
3) Kekuatan-kekuatan kleuarga berupa finansial, motivasi dan sumber-
sumber pendukung lainnya jangan diabaikan.
4) Pedokumentasian implementasi keperawatan keluarga janganlah
terlupakan dengan menyertakan tanda tangan petugas sebagai bentuk
tanggung gugat dan tanggung jawab profesi.

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahapan terakhir dari proses keperawatan
keluarga. Eveluasi merupakan tahapan yang menentukan apakah tujuan
dapat tercapai sesuai yang ditetapkan dalam tujuan direncanakan

13
keperawatan. Apabila setelah dilakukan evaluasi tujuan tidak tercapai maka
ada beberapa kemungkinan yang ditinjau kembali yaitu (Setiawan dan
Dermawan, 2008, hal 47) :
1) Tujuan tidak realistis.
2) Tindakan keperawatan tidak tepat
3) Faktor-faktor lingkungan yang tidak bisa diatasi.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Keluarga adalah suatu ikatan/persekutuan hidup atas dasar pernikahan
antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang
laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak,
baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah, seperti yang
dikemukakan oleh Sayekti (1994) dalam Suprajitno (2004, hal 1).
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami
istri, atau anaknya, atau ibu dan anaknya (UU No. 10 tahun 1992 Suprajitno,
2004, hal 1).

B. Saran
Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan hal pertama yang harus
dilakukan adalah membangun saling percaya dengan didasarkan sifat empati.

15
DAFTAR PUSTAKA

Efendy Nasrul. (1998). Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat


(Edisi 2). Jakarta : EGC
Setiawan S. Dan Dermawan C. A. (2008). Penuntun Praktik Asuhan
Keperawatan Keluarga . ( Edisi 2). Jakarta : TIM
Suprajipno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC
Baughman, D, C & Hackley, J, C. (2000). Keperawatan medical bedah, alih
bahasa : yasmin asih. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, Jilid I, FKUI,
Jakarta.Menurut ANA (1995)
Soeparman, 1999, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, FKUI, Jakarta.
Brunner dan Suddart, 2000, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.

16