Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hadis atau sunnah adalah sumber hukum yang kedua setelah Al-Quran,
keduanya merupakan pedoman hidup umat islam, hadis mempunyai fungsi penting
dalam menjelaskan setiap ayat-ayat Muhkamat maupun Mutasyabihat dan sebagai
penjelas terhadap ayat-ayat Al-Quran surah an-nahl ayat 44. Dalam hadis ada yang
dalam periwayatannya telah memenuhi syarat-syarat tertentu untuk diterimanya
sebagai hadis atau hadis maqbul dan hadis yang periwayatannya tidak memenuhi
kriteria-kriteria disebut hadis mardud.
Hal ini terjadi disebabkan keragaman orang yang menerima maupun
meriwayatkan hadis Rasululloh. Berbagai macam hadis yang menimbulkan
kontraversi dari berbagai analisis atas kesahihan sebuah hadis baik dari segi putusnya
sanad dan tumpah tindihnya makna dari matan pun bermunculan untuk menentukan
kualitas hadis.
Kualitas sanad dan matan-nya, para pakar hadits membagi hadits menjadi tiga
yaitu hadis shahih, hadis hasan, dan hadis dhaif. Ulama yang mula-mula
memperkenalkan pembagian hadis menjadi shahih, hasan dan dhaif adalah Imam al-
Tirmidzi.
Taqiyyuddin ibn Taimiyah mengatakan, sebelum Imam Al-Tirmidzi di
kalangan ulama belum dikenal pembagian hadis menjadi 3 bagian, mereka
membaginya menjadi shahih, hasan, dan dhaif. Di sini saya akan membahas hadis
hasan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian hadis hasan?
2. Apa hukum hadis hasan?
3. Bagaimana kehujahan hadis hasan?
4. Apa macam-macam hadis hasan?
5. Ada berapa kedhabithan seorang rawi?
6. Apa istilah yang digunakan hadis hasan?
7. Bagaimana tingkatan-tingkatan hadis hasan?
8. Apa kitab-kitab hadis hasan?

1
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian hadis hasan.
2. Untuk mengetahui hukum hadits hasan.
3. Untuk mengetahui kehujahan hadis hadis hasan.
4. Untuk mengetahui macam-macam hadits hasan.
5. Untuk mengetahui kedhabithan seorang rawi.
6. Untuk mengetahui istilah yang digunakan hadis hasan.
7. Untuk mengetahui tingkatan-tingkatan hadits hasan.
8. Untuk mengetahui kitab-kitab hadis hasan.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Hadits Hasan

Istilah hadis hasan dipopulerkan oleh Imam al-Turmudzi. Alasannya hadis


semacam ini tidak pantas disebut dhaif, tetapi kurang tepat disebut shahih.1

Sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu2

Hasan berasal dari bahasa al-hasnu ) (bermakna al-jamal )=(


keindahan. Menurut istilah para ulama memberikan hadits hasan secara beragam.
Namun, yang lebih kuat dikemukakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam An-
Nukhbah, yaitu:

Khabar ahad yang diriwayatkan oleh orang yang adil, sempurna ke dhabith-
annya, bersambung sanadnya, tidak berillat, dan tidak ada syadz dinamakan shahih
lidzatih. Jika kurang sedikit ke dhabith-annya disebut hasan lidzatih.3

Pengertian dari Ibnu Hajar memberikan definisi:

Hadis yang dinukilkan oleh orang yang adil yang kurang sedikit
kedlabithannya, bersambung-sambung sanadnya sampai kepada Nabi dan tidak
mempunyai illat serta tidak syadz.

Menurut Imam Turmudzi yang dimaksudkan hasan:

1
Muh. Zuhri,(Yogyakarta: Tiara Wacana yogya), 2011 hlm 93.
2
Sohari Sahrani, Ulumul Hadits, (Bogor: Ghalia Indonesia) 2002 hlm 114.
3
Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, (Jakarta: Bumi Aksara), 2010 hlm 159.

3
Hasan menurut pendapat kami, ialah hadis yang selamat dari syadz dan
selamat dari orang-orang yang tertuduh, dan hadis itu diriwayatkan melalui beberapa
jalan (tidak hanya satu wajah/sanad).

Menurut Al Khathtaby:

Hadis hasan ialah hadis yang dikenal perawi-perawinya dan masyhur


bersumber/tempat keluarnya.4







Hadits hasan adalah hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh
rawi yang adil, yang rendah tingkat kekuatan daya hafalnya tidak rancu dan tidak
bercacat. Hadis sahih diriwayatkan oleh rawi yang sempurna daya hafalnya yakni kuat
hafalannya dan tingkat akurasinya, sedangkan rawi hadis hasan adalah yang rendah
tingkat daya hafalnya.5
Syarat-syarat hadits hasan dibagi menjadi lima:
1. Muttasil sanadnya.
2. Rawinya adil.
3. Rawinya dhabith.
Kedhabitan rawi di sini tingkatannya di bawah ke dhabitan rawi hadis shahih,
yakni kurang sempurna kedhabithannya.
4. Tidak termasuk hadits syadz.
5. Tidak terdapat illat (cacat).6

Imam Ahmad dan gurunya, Yahya bin Said Al-Qaththan, adalah dua orang
imam yang agung. Bahz bin Hakim adalah orang yang jujur dan dapat menjaga diri
sehingga dinilai tsiqat oleh Ali bin al-Madini, Yahya bin Main, Al-Nisai dan lainnya.
Akan tetapi sebagian ulama mempermasalahkan sebagian riwayatnya. Hal ini tidak
mencabut sifat ke dhabit-annya. Contoh hadis hasan, hadis yang diriwayatkan oleh
At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dari Al-Hasan bin Urfah Al-Maharibi dari
Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abi Hurairah, bahwa Nabi bersabda:

4
Moh. Anwar, Ilmu Mushthalah Hadis, (Surabaya: Al Ikhlas) 1981 hlm 60.
5
Nuruddin Itr, Ulumul Hadis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya) 2012 hlm 374.
6
Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, (Yogyakarta: Pustakapelajar) 2009 hlm 59.

4

Usia umatku sekitar 60 sampai 70 tahun dan sedikit sekali yang melebihi
demikian itu.

Para perawi di hadis di atas tsiqah semua kecuali Muhammad bin Amr dia
adalah shaduq= sangat benar. Oleh para ulama hadis nilai tadil shaduq tidak
mencapai dhabith tamm sekalipun telah mencapai keadilan, kedhabithannya kurang
sedikit jika dibandingkan dengan kedhabithan shahih seperti tsiqatun (terpercaya) dan
sesamanya.7

Contoh hadis hasan yang diriwayatkan Ahmad, ia berkata, Yahya bin Said
meriwayatkan hadis kepada kami dari Bahz bin Hakim, ia mengatakanmeriwayatkan
hadis kepadaku Bapakku dan kakekku, katanya: Aku bertanya:
, , : : , :




Ya Rasululloh, kepada siapakah aku harus berbakti? Rasululloh menjawab,
kepada ibumu. Aku bertanya, lalu kepada siapa? Rasululloh menjawab, Lalu
kepada ibumu. Aku bertanya,lalu kepada siapa? Rasululloh menjawab kepada
ibumu kemudian bapakmu, kemudian kerabat terdekat dan selanjutnya.8
B. Hukum Hadis Hasan
Hukum hadis hasan fungsinya sebagai hujjah dan implementasinya adalah
sama seperti hadis shahih, meskipun kualitasnya di bawah hadis shahih. Jika terjadi
pertentangan antara hadis shahih dan hadis hasan, maka mendahulukan hadis shahih,
karena tingkat kualitas hadis dibawah hadis shahih. Hanya saja, jika terjadi
pertentangan antara hadis shahih dengan hadis hasan maka harus mendahulukan hadis
shahih, karena tingkat kualitas hadis hasan berada dibawah hadis shahih. Hal ini
merupakan konsekuensi logis dari dimensi kesempurnaan kedhabitan rawi-rawi hadis
hasan, yang tidak seoptimal kesempurnaan kedhabitan rawi-rawi hadis shahih.9

C. Kehujahan Hadis Hasan


Hadis hasan dapat dijadikan hujah walaupun kualitasnya di bawah hadis
shahih. Semua Fuqaha, sebagian Muhadditsin dan Ushuliyyin mengamalkannya

7
Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: Bumi Aksara) 2010 hlm 160.
8
Nuruddin itr, Ulumul Hadis (Bandung: PT Remaja Rosdakarya) 2012 hlm 375.
9
Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, (Yogyakarta: Pustakapelajar) 2009 hlm 60.

5
kecuali sedikit dari kalangan orang yang sangat ketat dalam mempersyaratkan
penerimaan hadis (musyaddidin) . Bahkan sebagian Muhadditsin yang mempermudah
dalam persyaratan shahih (mutasahilin) memasukkannya ke dalam hadis shahih,
seperti Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah.10
D. Macam-macam Hadis Hasan
Hadis shahih dibagi menjadi dua yaitu:
1. Hadis Hasan li Dzatihi
Adalah hadis yang memenuhi syarat sebagai hadis shahih, hanya saja kualitas
kedhabitan salah seorang atau beberapa orang perawinya berada di bawah
kualitas perawi hadis shahih.11

Hadis yang terkenal para perawinya tentang kejujuran dan amanahnya tetapi
hafalannya tidak mencapai derajat para perawi hadis shahih.12
Definisi ini sama pengertiannya dengan definisi yang dikemukakan oleh Ibnu
Hajar di atas, dan definisi inilah yang juga dimaksudkan oleh Al Khaththaby
diatas.13
:



Dari Muhammad ibn Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa
Rasululloh saw. Berkata, Sekiranya tidak merepotkan kepada umatku, niscaya
aku perintah mereka bersiwak (gosok gigi) untuk setiap kali hendak sholat.
Diperoleh informasi bahwa seorang periwayat yang bernama Muhammad ibn
Amru ibn Alqamah terkenal kejujurannya. Tetapi, ia tidak termasuk orang yang
kuat hafalan. Karena itu ada yang menilainya lemah dari segi kekuatan hafalan,
dan ada yang menilai adil dari segi kejujurannya, sehingga hadis ini disebut
Hasan li dzatihi. Kemudian ia naik derajat menjadi shahih li ghairihi karena hadis
tersebut diriwayatkan melalui jalur lain, oleh al-Araj dan Said al-Maqbari.

2. Hadis Hasan li Ghairihi

10
Abdul Majid Khon, Ulumul hadis, (Jakarta: Bumi Aksara) 2010 hlm 161.
11
Mohammad Gufron & Rahmawati, Ulumul Hadits, (yogyakarta: Teras) 2013 hlm 127.
12
Muh. Zuhri, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya) 2011 hlm 93-94.
13
Moh. Anwar, Ilmu Mushthalah Hadis, (Surabaya: Al Ikhlas) 1981 hlm 61.

6
Adalah hadis yang pada asalnya tidak hasan kemudian meningkat mencapai
derajat hasan karena ada sesuatu yang mendukungnya. Hadis itu asalnya dhaif
disebabkan mursal atau tadlis atau rawi-rawinya tidak dikenal, atau hafalan rawi-
rawinya yang jujur dan terpercaya itu lemah, atau dalam sanadnya terdapat rawi
yang tertutup dan dia rawi yang tidak pelupa dan termasuk orang fasiq, dan hadis
itu ditolong oleh rawi-rawi yang kenamaan yang dikuatkan oleh hadis mutabi
atau hadis syahid sehingga tingkatan hadis itu meningkat sampai pada derajat
hasan.
Dari dua definisi di atas dapat dipahami bahwa hadis dhaif bisa naik menjadi
hasan li ghairihi.
Hadis itu bisa meningkat dari hadis munkar, atau hadis yang tidak diketahui
sumbernya, apabila dilihat dari dimensi banyak-nya riwayat-riwayat lain, seperti
hadis yang diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dan dia menilainya hasan, dari
Abdullah bin Amir bin Rabiah, dari ayahnya, berbunyi sebagai berikut:

:







Bahwasanya seorang perempuan dari Bani Fuzarah menikah dengan mahar
sepasang sandal. Kemudian, Rasulullah berkata kepadanya, Apakah kamu
merelakan dirimu dinikahi sedang harta yang diberikan kepadamu sebagai
mahar hanya sepasang sandal? Dia menjawab, Ya. Maka, Rasulullah SAW
melangsungkan perkawinan itu.14
E. Dhabithnya Seorang Rawi
1. Syarat Kedhbithan Periwayat
Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian dhabith, namun apabila
pendapat-pendapat ulama tersebut digabungkan, maka butir-butir sifat dhabith
adalah sebagai berikut:
a. Periwayat memahami dengan baik riwayat yang telah didengarnya
(diterimanya).
b. Periwayat itu hafal dengan baik riwayat yang telah didengarnya (diterimanya)
c. Periwayat itu mampu menyampaikan riwayat yang telah dihafalnya itu
dengan baik:
1) Kapan saja dia menghendakinya

14
Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, (Yogyakarta: Pustakapelajar) 2009 hlm 62.

7
2) Sampai saat dia menyampaikan riwayat itu kepada orang lain.
Untuk butir (a) tidak semua ulama menyebutkannya. Sedangkan untuk
butir (b) ulama sependapat menyatakannya, dan untuk butir (c) pendapat
ulama terbagi kepada dua versi; ada yang tidak membatasi waktu dan ada yang
membatasi waktu. Walaupun terbagi dua pendapat, tetapi pada dasarnya kedua
pendapat itu sama. Sebab, kemampuan hafalan yang dituntut dari seorang
periwayat, sehingga karenanya dia dapat dinyatakan sebagai seorang yang
dhabith, adalah tatkala periwayat itu menyampaikan riwayat kepada orang
lain. Periwayat yang mengalami perubahan kemampuan hafalan tetap
dinyatakan sebagai periwayat yang dhabith sampai saat sebelum mengalam
perubahan. Sedangkan sesudah mengalami perubahan dia dinyatakan tidak
dhabith.
Adapun cara penetapan kedhabithan seorang periwayat menurut
berbagai pendapat ulama dapat dinyatakan sebagai berikut;
a) Kedhabithan periwayat dapat diketahui berdasarkan kesaksian ulama.
b) Kedhabithan periwayat dapat diketahui juga berdasarkan kesesuaian
riwayatnya dengan riwayat yang disampaikan oleh periwayat lain yang
telah dikenal kedhabithannya. Tingkat kesesuannya itu mungkin hanya
sampai ke tingkat makna atau mungkin ke tingkat harfiah.
c) Apabila seorang periwayat sesekali mengalami kekeliruan, maka dia masih
dapat dinyatakan sebagai periwayat yang dhabith. Tetapi apabila kesalahan
itu sering terjadi, maka periwayat yang bersangkutan tidak lagi disebut
sebagai periwayat.
Dalam hubungan ini, yang menjadi dasar penetapan kedhabithan
periwayat secara implisit ialah hafalannya dan bukan tingkat kefahaman
periwayat tersebut terhadap hadits yang diriwayatkan.
Karena bentuk kedhabithan para periwayat yang dinyatakan bersifat
dhabith tidak sama, maka dhabith terbagi dua istilah, yaitu:
1. Istilah dhabith diperuntukkan bagi periwayat yang:
a. Hafal dengan sempurna hadits yang diterimanya.
b. Mampu menyampaikan dengan baik hadits yang dihafalnya itu kepada
orang lain.
2. Istilah tamm dhabith yang bila diindonesiakan dapat dipakai istilah dhabith
plus, diperuntukkan bagi periwayat yang:

8
a. Hafal dengan sempurna hadits yang diterimanya.
b. Mampu menyampaikan dengan baik hadits yang dihafalnya itu kepda
orang lain.
c. Faham dengan baik hadits yang dihafalnya itu.15

Kedhabithan yang dibahas di atas termasuk dalam kategori dhabith shadr.


Selain itu ada lagi kedhabithan yang lain yaitu, dhabith kitab. Yang dimaksud dengan
periwayat dhabith kitab ialah periwayat yang ada padanya, apabila ada kesalahan
tulisan dalam kitab, dia mengetahui letak kesalahannya.

F. Istilah-Istilah yang Digunakan dalam Hadis Hasan


1. Di antara gelar tadil para perawi yang digunakan dalam hadis maqbul atau hasan
sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Jah wa At-Tadil adalah:
Orang yang dikenal/orang baik
= Terpelihara
= Orang baik

= Orang yang teguh/kuat
=
Orang kuat
=
Serupa dengan shahih
\
= Orang baik/bagus
2. Perkataan mereka muhadditsin:
= ini hadis hasan sanadnya.

Maknanya hadis ini hanya hasan sanad-nya saja sedang matan-nya perlu
penelitian lebih lanjut. Mukharrij hadis tersebut tidak menanggung kehasanan
matan mungkin ada syadzaz atau ilat.

3. Ungkapan At-Tirmidzi dan yang lain: = ini hadis hasan shahih.

Makna ungkapan ini ada beberapa pendapat, di antaranya:
a. Hadis tersebut memiliki dua sanad, yang shahih dan hasan.
b. Terjadi perbedaan dalam penilaian hadis sebagian berpendapat shahih dan
golongan lain berpendapat hasan.
c. Atau dinilai hasan lidzatihi dan shahih li ghayrihi.16

15
M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad HaditsOp, Ct., hal:135-138.
16
Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, (Jakarta: Bumi Aksara) 2010 hlm 162.

9
G. Tingkatan-tingkatan Hadis Hasan
Kualitas hadis hasan bertingkat-tingkat, sebagaimana halnya hadis shahih. Hal
ini ditentukan oleh dekatnya kedhabitan para rawi hadis hasan li dzatihi kepada
kedhabitan rawi hadis shahih.
Para ulama menyebutkan beberapa contoh berkaitan dengan tingkatan-tingkatan
hadis hasan li dzatihi.
Al-Dzahabi menyatakan bahwa tingkatan hadis hasan yang paling tinggi adalah
riwayat Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya, dan yang sejenisnya yang
menurut satu pendapat dinyatakan sebagai hadits shahih. Hadis hasan tingkatan ini
termasuk hadis shahih pada tingkatan terendah. Tingkatan berikutnya adalah hadis
yang diperselisihkan kehasanan dan kedhaifannya, seperti hadis riwayat al-Haris bin
Abdullah dan Ashim bin Dhamrah.
Dengan demikian, tingkatan hadis hasan berada di antara hadis sahih dan hadis
dhaif. Kadang-kadang ia dekat kepada hadis sahih dan kadang-kadang dekat dengan
hadis dhaif. Hadis seperti ini merupakan bahan kekhawatiran mereka.
Banyak keserupaan antara hadis hasan dan hadis shahih sehingga sekelompok
ahli hadis memasukkan hadis hasan ke dalam jajaran hadis shahih dan tidak
menjadikannya sebagai jenis hadis tersendiri. Demikianlah tampaknya maksud
pernyataan al-Hakim Abu Abdillah al-Naisaburi dalam berbagai kesempatan. 17
H. Kitab-Kitab Hadis Hasan
Diantara kitab-kitab hadis yang memuat hadis hasan adalah sebagai berikut:
1. Jami At-Tirmidzi yang masyhur dikenal Sunan At-Tirmidzi. Kitab ini yang
mengkuatkan pertama istilah hadis hasan, karena semula hadis dari segi
kualitasnya hanya dua, yakni hadis hasan dan dhaif. Kemudian setelah
mempertimbangkan cacat sedikit saja misal dhabith yang kurang sempurna (ghayr
tamm) sedikit dimasukkan ke bagian dhaif maka diambillah jalan tengah yaitu
hadis hasan.
2. Sunan Abi Dawud, di dalamnya terdapat hadis shahih, hasan, dan dhaif dengan
dijelaskan kecacatannya. Hadis yang dijelaskan kedhaifannya dan tidak dinilai
keshahihannya oleh para ulama dinilai hasan oleh Abu Dawud.
3. Sunan Ad-Daruquthni yang dijelaskan di dalamnya banyak hadis hasan. 18

17
Nuruddin Itr, Ilmu Ulumul Hadis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya) 2012 hlm 378-379.
18
Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, (Jakarta: Bumi Aksara) 2010 hlm 162

10
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Hadis hasan adalah hadis yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang
adil, yang rendah tingkat kekuatan daya hafalnya tidak rancu dan tidak bercacat.

Hukum hadis hasan jika terjadi pertentangan antara hadis shahih dan hadis hasan,
maka mendahulukan hadis shahih, karena tingkat kualitas hadis dibawah hadis
shahih.

Hadis hasan dapat dijadikan hujah walaupun kualitasnya di bawah hadis shahih.
Semua Fuqaha, sebagian Muhadditsin dan Ushuliyyin mengamalkannya kecuali
sedikit dari kalangan orang yang sangat ketat dalam mempersyaratkan penerimaan
hadis (musyaddidin) .

Macam-macam hadis hasan ada dua yaitu hadis hasan li dzatihi dan hadis hasan li
ghairihi
Kualitas hadis hasan bertingkat-tingkat, sebagaimana halnya hadis shahih. Hal ini
ditentukan oleh dekatnya kedhabitan para rawi hadis hasan li dzatihi kepada
kedhabitan rawi hadis shahih.
kitab-kitab hadis yang memuat hadis hasan yaitu Jami At-Tirmidzi, Sunan Abi
Dawud, Sunan Ad-Daruquthni.

11
DAFTAR PUSTAKA

Al-Maliki, Alawi Muhammad. 2009, Ilmu Ushul Hadis, Yogyakarta: Pustakapelajar.

itr, Nuruddin. 2012, Ulumul Hadis, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Khon, Majid Abdul. 2010, Ulumul Hadis, Jakarta: Bumi aksara.

Gufron, Mohammad & Rahmawati. 2013, Ulumul Hadits, Yogyakarta: Sukses Offset.

Anwar, Moh. 1981, Ilmu Mushthalah Hadis, Surabaya: Al Ikhlas.

Zuhri, Moh. 2011, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Sahrani, Sohari. 2002, Ulumul Hadis, Bogor: Ghalia Indonesia.

12