Anda di halaman 1dari 12

TUGAS IKATAN KIMIA

SENYAWA POLAR DAN MOMEN DIPOL

DISUSUN OLEH :

1. RISKA DIA SAPITRI (E1M015059)

2. ZELISA NUDIA FITRI (E1M015071)

PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2017
SENYAWA POLAR

I. Pengertian Senyawa Polar

Senyawa polar : Senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar elektron pada
unsur-unsurnya. Hal ini terjadi karena unsur yang berikatan tersebut mempunyai nilai
keelektronegatifitas yang berbeda.
Contoh : H2O, HCL, HF, HI dan HBr
Senyawa non polar : Senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar
elektron pada unsur-unsur yang membentuknya. Hal ini terjadi karena unsur yang berikatan
mempunyai nilai elektronegatifitas yang sama/hampir sama.
Contoh : O2, CO2,CH4 dan Cl2

II. Ciri-Ciri Senyawa Polar


1 Dapat larut dalam air dan pelarut polar lain
2 Memiliki kutub( +) dan kutub (-) , akibat tidak meratanya distribusi electron
3 Memiliki pasangan elektron bebas (bila bentuk molekul diketahui) atau memiliki
perbedaan keelektronegatifan
Contoh : alkohol, HCl, PCl3, H2O, N2O5

III. Kepolaran
Sebuah atom yang berikatan dengan atom lain saling tolak menolak sehingga berada
dalam jarak terjauh dengan atom yang diikatnya. Kepolaran senyawa adalah perilaku suatu
zat yang menyerupai medan magnet, yaitu terdapat kutub sementara yang disebut dipol.
Dipol dapat menyebabkan gaya tarik-menarik atau tolak-menolak dalam senyawa.
Dipol () pada suatu senyawa terdiri atas:
1. Dipol positif (+), atom yang berdipol positif adalah yang memiliki keelektronegatifan
lebih kecil dari atom lain.
2. Dipol negatif (), atom berdipol negatif adalah yang memiliki keelektronegatifan lebih
besar dari atom lain.
3. Contoh: Keelektronegatifan H lebih kecil dari Cl, sehingga pada HCl, H bertindak
sebagai +, dan Cl bertindak sebagai .

Kepolaran dalam bentuk molekul dipengaruhi:


1. Sudut ikatan
Atom yang berikatan akan selalu berada jarak jauh maksimum dengan atom lainnya
membentuk sudut ikatan yang merata, dan saling meniadakan kepolaran senyawa.
Namun, jika sudut ikatan tidak tersebar merata, maka kepolaran akan muncul.
2. Simetri bentuk molekul
Bentuk molekul simetris bersifat non-polar, sedangkan asimetris bersifat polar.
3. Pasangan elektron bebas
Jika terdapat pasangan elektron bebas yang tidak saling meniadakan posisinya
(asimetris), maka kepolaran akan muncul.

Tingkat kepolaran senyawa dinyatakan dalam momen dipol dalam satuan Coulumb
meter. Senyawa non-polar memiliki momen dipol nol.

IV. Interaksi Antar Molekul


Gaya antar molekul adalah gaya yang terjadi akibat interaksi antar molekul sejenis.
Gaya London paling Lemah
Gaya tarik dipole-dipol
Gaya van der Waals
Ikatan hydrogen paling Kuat
Gaya antar molekul adalah gaya tarik-menarik antar molekul yang saling berdekatan.
Gaya antar molekul berbeda dengan ikatan kimia. Ikatan kimia, seperti ikatan ionik, kovalen,
dan logam, semuanya adalah ikatan antar atom dalam membentuk molekul. Sedangkan
gaya antar molekul adalah gaya tarik antar molekul.
1. Gaya Van Der Waals
Gaya Van der Waals terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non-polar (Gaya
London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipol-dipol) atau antara molekul non-polar
dengan molekul polar (Gaya dipol-dipol terinduksi). Berikut ini penjelasannya.
a) Gaya Dipol-dipol
Merupakan gaya yang bekerja antara molekul-molekul polar (senyawa kovalen
polar), yaitu molekul-molekul yang memiliki momen dipol. Setiap senyawa kovalen
polar memiliki dipol, yaitu muatan yang terpolarisasi (terkutubkan) menjadi muatan
positif dan negatif. Dipol-dipol yang berbeda akan saling tarik-menarik, sedangkan
yang berlawanan akan tolak-menolak. Makin besar momen dipolnya, semakin kuat
gayanya.

Tanda "+" menunjukkan dipol positif, tanda "-" menunjukkan dipol negatif

Contoh dalam senyawa HCl

b) Gaya Dipol Sesaat-Dipol Terinduksi (Gaya dispersi London)


Gaya antarmolekul ini umumnya dimiliki senyawa kovalen nonpolar yang tidak
memiliki dipol (memiliki muatan namun tidak terkutubkan). Molekul-molekul pada
senyawa kovalen nonpolar tersusun dari inti atom dan elektron-elektron yang selalu
bergerak bebas. Karena elektron selalu bergerak, muatan pada molekul nonpolar
akhirnya terkutubkan (dipol sesaat) yang kemudian dapat menginduksi molekul
nonpolar lainnya (dipol terinduksi). Gaya antarmolekul ini dikenal dengan sebutan
gaya dispersi London.Kemudahan suatu molekul untuk membentuk dipol sesaat atau
untuk menginduksi (mengimbas) suatu dipol disebut polarisabilitas (keterpolaran).
Polarisabilitas ini berkaitan dengan massa molekul relatif(Mr) dan bentuk molekul.
Pada umumnya, makin banyak jumlah elektron, makin mudah mengalami polarisasi.
Karena jumlah elektron berkaitan dengan Mr, maka semakin besar Mr, semakin kuat
gaya London. Gaya dispersi London ini termasuk gaya yang relatif lemah, karena
interaksi yang terjadi adalah antar molekul nonpolar. Contoh molekul yang
mengalami gaya london diantaranya: gas hidrogen, gas nitrogen, metana dan gas-gas
mulia.

Dua buah molekul nonpolar berinteraksi, kemudian salah satu molekul mulai terkutubkan
karena pergerakan elektron yang bebas membentuk dipol sesaat. Disebut dipol sesaat karena
dipol molekul tersebut dapat berpindah milyaran ribu kali dalam satu detik. Pada saat
berikutnya dipol itu hilang atau bahkan sudah berbalik arahnya. Molekul tersebut kemudian
menginduksi molekul non polar yang lainnya. Sehingga terjadi gaya dipol terinduksi. Oleh
karena itu, gaya antar molekul ini disebut gaya dipol sesaat-dipol terinduksi (gaya dispersi
London)
c) Gaya Dipol-dipol terinduksi
Suatu molekul polar yang berdekatan dengan molekul nonpolar, akan dapat
menginduksi molekul nonpolar. Akibatnya, Molekul nonpolar memiliki dipol
terinduksi. Dipol dari molekul polar akan saling tarik-menarik dengan dipol
terinduksi dari molekul nonpolar. Contohnya terjadi pada interaksi antara HCl
(molekul polar) dengan Cl2 (molekul nonpolar)

2. Gaya Ion-dipol
Gaya antarmolekul ini terjadi antara ion dan senyawa kovalen polar. Ketika dilarutkan
dalam senyawa kovalen polar, senyawa ion akan terionisasi menjadi ion positif dan ion
negatif. Ion positif akan tarik menarik dengan dipol negatif, dan sebaliknya.
Selain gaya ion-dipol, juga dikenal gaya ion-dipol sesaat, dimana terjadi dari interaksi
antar gaya dipol-dipol terinduksi dengan gaya ion-dipol. Jika ion dari senyawa ion
berdekatan dengan molekul nonpolar, ion tersebut dapat menginduksi dipol molekul
nonpolar. Dipol terinduksi molekul nonpolar yang dihasilkan akan berikatan dengan ion.

Gaya Ion-dipol

Gaya Ion-dipol terinduksi


MOMEN DIPOL

I. Pengertian Momen Dipol


Momen dipole ( ) merupakan suatu besaran vektor yang digambarkan menggunakan
moment ikatan. Jika jumlah vektor momen-momen ikatan (momen dipole ) > dari nol
atau < 0, maka molekul tersebut bersifat polar, sebaliknya jika jumlah vektor momen ikatan
(momen dipole ) = 0, maka maka molekul tersebut bersifat nonpolar. Secara kuantitatif,
momen dipol () merupakan hasil kali muatan Q dan jarak antar muatan r.

=Qxr
keterangan:

= momen dipol (D, debye)


Q = selisih muatan (Coulomb)
r = jarak antara muatan positif dengan muatan negatif (m)
Semakin besar harga momen dipol, semakin polar senyawa yang bersangkutan
bahkan mendekati ke sifat ionik. Pada penentuan momen dipol digunakan data hasil
eksperimen.

II. Pembentukan Momen Ikatan


Momen ikatan terbentuk jika dua atom yang berikatan dalam suatu senyawa
memiliki perbedaan keelektronegatifan. Elektron yang yang ditarik oleh atom yang lebih
elektronegatif menunjukan arah momen ikatan dan ditunjukan menggunakan tanda dari
atom yang kurang elektronegatif menuju atom yang lebih elektronegatif. Akibat tarikan
elektron yang terjadi, terbentuk semacam kutub negatif pada atom yang lebih
elektronegatif, sedangkan pada atom yang kurang elektronegatif akan terbentuk semacam
kutub positif.
Kutub positif atau negatif yang terbentuk disebut muatan parsial, yang digambarkan
menggunakan simbol delta (). Muatan parsial negatif () diberikan pada unsur yang lebih
elektronegatif dan muatan parsial positif (+) diberikan pada unsur yang kurang
elektronegatif (lebih elektropositif). Berikut contoh menggambar muatan parsial pada
molekul HCl.
Dari contoh di atas terlihat bahwa terdapat muatan positif dan negatif pada tanda
yang digunakan. Tanda tersebut tidak sama dengan +1 atau -1 seperti pada simbol ion,
tetapi tanda ini hanya menggambarkan elektron ikatan tidak sepenuhnya dipindahkan ke
atom Cl.
Untuk senyawa diatom yang disusun oleh unsur yang sejenis, molekul yang
dimiliki selalu bersifat nonpolar kecuali ozon yang bersifa polar. Hal ini disebabkan dua
atom penyusun senyawa memiliki keelektronegatifan sama sehingga tidak terbentuk
momen ikatan. Sedangkan untuk senyawa diatom yang disusun oleh dua atom yang
berbeda molekul yang dimiliki selalu bersifat polar karena adanya perbedaan
keelektronegatifan.

III. Momen dipole dan karakter ionic


Harga momen dipol suatu senyawa polar dapat digunakan untuk memperkirakan
besarnya karakter ionik pada senyawa tersebut. Pada molekul HF bila ikatannya dianggap
100 % ionic, maka muatan pada ion H+ dan ion F- adalah sebesar 1,6 10-19 C. Harga
momen dipolnya adalah :

()adalah momen dipole HF berdasarkan data eksperimen. Jadi karakter ionic HF adalah

40,05 %
IV. Pengaruh arah momen PEB dan momen ikatan terhadap kepolaran molekul

Pengaruh arah momen PEB dan momen ikatan terhadap kepolaran molekul dapat
ditunjukkan dengan besarnya harga momen dipol dari NH3 dan NF3. Kedua molekul
tersebut merupakan molekul polar dengan arah momen ikatan dan momen PEB tinjukkan
pada gambar dibawah ini :

Pada NH3 momen tiga ikatan N-H dan momen PEB searah, sedangkan pada NF3 momen
tiga ikatan N-F dan momen ikatan PEB arahnya berlawanan sehingga momen dipole NH3
lebih besar dari pada momen dipole NF3, akibatnya kepolaran NH3 lebih tinggi daripada
kepolaran NF3.

V. Penentuan kepolaran molekul berdasarkan momen-momen ikatan (momen dipol)


Kepolaran suatu molekul ditentukan oleh harga momen dipolnya. Perbedaan
keelektronegatifan 2 atom yang membentuk ikatan kovalen menyebabkan atom yang lebih
elektro positive kekurangan rapatan elektron, sebaliknya atom yang lebih elektronegatif
akan kelebihan rapatan elektron. Akibatnya pada atom yang elektropositif terjadi muatan
parsial positif (+) sedangkan pada atom yang elektronegatif terjadi muatan parsial
negative ().
Meskipun memiliki ikatan kovalen polar, tetapi molekul CCl4, CO2 dan BeCl2
merupakan molekul-molekul nonpolar karena bentuk molekulnya menyebabkan jumlah
vector dari momen ikatan dan momen pasangan electron bebasnya sama dengan nol.
Secara sederhana dalam menentukan polar tidaknya suatu molekul cukup dengan
menjumlahkan secara vector momen-momen ikatan yang ada tanpa memperhatikan
momen pasangan electron bebas.
Pada molekul CCl4, yang mempunyai bentuk molekul tetrahedaral dengan C
sebagai atom pusat dan dikelilingi oleh 4 atom Cl seperti pada Gambar.

Perbedaan keelektronegatifan C dan Cl adalah sebesar 3-2,5 = 0,5. Jadi ikatan CCl
termasuk ikatan kovalen (tepatnya ikatan kovalen polar) karena perbedaan keeltronegatifan
lebih kecil 1,7. Walaupun ikatan CCl berupa ikatan kovalen polar tetapi molekulnya
bersifat nonpolar. Hal ini disebabkan, bentuk tetrahedral dari molekul CCl4 dapat
dikatakan simetrism karena memiliki pusat simetri pada atom C ditengah, sehingga jumlah
momen ikatan yang sama dengan nol. Atau dapat dikatan tarikan elektron akibat adanya
perbedaan keelektronegatifan saling meniadakan atau saling menguatkan (perhatikan tanda
panah pada strutur). Hal ini dapat diandaikan, suatu benda yang berada di tengah-tengah
ditarik dari empat sudut dengan kekuatan sama, maka benda tersebut tidak akan bergerak.
Karena hal inilah molekul CCl4 bersifat nonpolar.
Jika CCl4 salah satu atom Cl diganti oleh atom lain misalnya H, maka sifat molekul
yang awalnya nonpolar berubah menjadi polar. Hal ini disebabkan kepolaran ikatan C-H
berbeda dengan kepolaran ikatan C-Cl, sehingga momen dipol yang terbentuk tidak saling
meniadakan. Tetapi apabila semua atom C diganti oleh atom H maka molekulnya bersifat
nonpolar karena kepolaran semua ikatan CH sama besar sehingga momen ikatan yang
terbentuk saling meniadakan.
Molekul H2O walaupun rumus molekulnya mirip dengan CO2 dan BCl2 tetapi
bersifat polar.
Hal ini disebabkan, pada molekul H2O, atom O sebagai atom pusat masih memiliki
pasangan elektron bebas. Hal ini menyebabkan molekul H2O tidak berbentuk linear seperti
molekul CO2 dan BCl2, sehingga momen ikatan yang terbentuk tidak saling menguatkan
atau tidak saling meniadakan.
DAFTAR PUSTAKA

Sari, Heti Puspa. 2009. Kimia Anorganik Fisik. Palembang: Universitas Sriwijaya
https://www.scribd.com/document/359116301/Makalah-Uji-Kepolaran-Senyawa-Kimia
https://www.scribd.com/document/263026584/makalah-ikatan-kimia
https://www.scribd.com/doc/209582546/Momen-Dipol
https://www.scribd.com/document/98619951/Senyawa-Polar