Anda di halaman 1dari 13

BAB II

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN INFEKSI SALURAN


PERNAPASAN AKUT (ISPA)

A. Definisi ISPA
ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari.
Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai
gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga
tengah dan selaput paru.
ISPA atau infeksi saluran pernafasan akut adalah infeksi yang terutama
mengenai struktur saluran pernafasan di atas laring,tetapi kebanyakan, penyakit ini
mengenai bagian saluran atas dan bawah secara simultan atau berurutan (Nelson,
edisi 15).

B. Klasifikasi ISPA
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
1. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
kedalam (chest indrawing).
2. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
3. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam,
tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis
dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia

Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA.


Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk
golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun. Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2
klasifikasi penyakit yaitu :
1. Pneumonia berat: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding pada
bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang
2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.
2. Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat
dinding dada bagian bawah atau napas cepat.

Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :

3
1. Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada
bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa
anak harus dalam keadaan tenang tidak menangis atau meronta).
2. Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -12
bulan adalah 50 kali permenit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali
per menit atau lebih.
3. Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada
bagian bawah dan tidak ada napas cepat (Rasmaliah, 2004).

C. Etiologi ISPA
ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri
penyebabnya antara lain dari genus Streptococcus, Stafilococcus,
Pnemococcus, Hemofilus, Bordetelladan Corinebakterium. Virus penyebabnya
antara lain golongan Micsovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus,
Micoplasma, Herpesvirus.
1. Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya bakteri
stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza yang di udara bebas akan
masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan
dan hidung.
2. Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak-anak usia dibawah 2 tahun
yang kekebalan tubuhnya lemah atau belum sempurna.
3. Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga menimbulkan risiko serangan
ISPA.
4. Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA
pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi kurang, dan
buruknya sanitasi lingkungan.
5. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya.

D. Patofisiologi ISPA
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan
tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia
yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke
arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks
tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran
pernafasan (Kending dan Chernick, 1983 dalam DepKes RI, 1992). Perjalanan
alamiah penyakit ISPA dibagi 4 tahap yaitu :

4
1. Tahap prepatogenesis : penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi
apa-apa
2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa karena nya
tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya
rendah.
3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala
demam dan batuk.
4. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,
sembuh dengan atelektasis, menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia.
Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel
mukosanya telah rusak akibat infeksi yang terdahulu. Selain hal itu, hal-hal yang
dapat mengganggu keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok dan
gas SO2 (polutan utama dalam pencemaran udara), sindroma imotil, pengobatan
dengan O2 konsentrasi tinggi (25 % atau lebih).

E. Manifestasi Klinis
Penyakit ISPA adalah penyakit yang sangat menular, hal ini timbul karena
menurunnya sistem kekebalan atau daya tahan tubuh, misalnya karena kelelahan
atau stres. Pada stadium awal, gejalanya berupa rasa panas, kering dan gatal dalam
hidung, yang kemudian diikuti bersin terus menerus, hidung tersumbat dengan
ingus encer serta demam dan nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung tampak
merah dan membengkak. Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi kental dan
sumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejalanya akan
berkurang sesudah 3-5 hari. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis,
faringitis, infeksi telinga tengah, infeksi saluran tuba eustachii, hingga bronkhitis
dan pneumonia (radang paru).
1. Tanda dan gejala dari penyakit ISPA adalah sebagai berikut:
a. Batuk
b. Nafas cepat
c. Bersin
d. Pengeluaran sekret atau lendir dari hidung
e. Nyeri kepal
f. Demam ringan
g. Tidak enak badan
h. Hidung tersumbat
i. Kadang-kadang sakit saat menelan
2. Tanda-tanda bahaya klinis ISPA

5
a. Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea),
retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah
atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.
b. Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi,
hypotensi dan cardiac arrest.
c. Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala,
bingung, papil bendung, kejang dan coma.
d. Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak

F. Cara Penularan Penyakit ISPA


Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah tercemar,
bibit penyakit masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, oleh karena itu maka
penyakit ISPA ini termasuk golongan Air Borne Disease. Penularan melalui udara
dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita
maupun dengan benda terkontaminasi. Sebagian besar penularan melalui udara
dapat pula menular melalui kontak langsung, namun tidak jarang penyakit yang
sebagian besar penularannya adalah karena menghisap udara yang mengandung
unsur penyebab atau mikroorganisme penyebab. Penularan penyakit ISPA dapat
terjadi melalui:
a. Polusi udara
b. Asap rokok
c. Bibit penyakit masuk kedalam tubuh melalui pernapasan
d. Asap pembakaran bahan kayu yang biasanya digunakan untuk memasak.

G. Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit ISPA


1. Agent
Infeksi dapat berupa flu biasa hingga radang paru-paru. Kejadiannya bisa secara
akut atau kronis, yang paling sering adalah rinitis simpleks, faringitis, tonsilitis,
dan sinusitis. Rinitis simpleks atau yang lebih dikenal sebagai selesma/common
cold/koriza/flu/pilek, merupakan penyakit virus yang paling sering terjadi pada
manusia. Penyebabnya adalah virus Myxovirus, Coxsackie, dan Echo.
2. Manusia
a. Umur
Menurut Francis (2011) dalam Dian dan Fariani (2015), umur sangat muda
merupakan salah satu faktor risiko bagi anak untuk terkena ISPA, selain
karena daya tahan tubuh yang masih rendah, umur anak yang sangat muda
juga berpengaruh pada sistem respirasi, sehingga umur anak yang sangat

6
muda mudah sekali untuk mengalami gangguan pernafasan seperti
pneumonia. Anak yang berusia 0-24 bulan lebih rentan terhadap penyakit
pneumonia dibanding anak-anak yang berusia di atas 2 tahun. Hal ini
disebabkan oleh imunitas yang belum sempurna dan saluran pernafasan
yang relatif sempit.
b. Jenis Kelamin
Menurut Sunyataningkamto (2004), anak laki-laki merupakan faktor risiko
yang mempengaruhi kesakitan ISPA, hal ini disebabkan karena diameter
saluran pernafasan anak laki-laki lebih kecil dibandingkan dengan anak
perempuan atau adanya perbedaan dalam daya tahan tubuh antara anak laki-
laki dan perempuan.
c. Status Gizi
Rendahnya daya tahan tubuh akibat gizi buruk sangat memudahkan dan
mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam tubuh.
d. Status Asi Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang bayi karena
kaya akan faktor antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri dan virus,
terutama selama minggu pertama kehidupan. Jika bayi tidak memiliki
kekebalan tubuh yang didapatkan melalui ASI maka virus dan bakteri akan
sangat cepat menyerang bayi tersebut.

3. Lingkungan
a. Kelembaban Ruangan
Menurut Nurjazuli dan Widyaningtyas (2006), kondisi rumah yang lembab
akan menjadi prakondisi pertumbuhan kuman maupun bakteri patogen yang
dapat menimbulkan penyakit bagi penghuninya.
b. Ventilasi
Menurut Hartati (2011), Ventilasi mempunyai fungsi sebagai sarana
sirkulasi udara segar masuk ke dalam rumah dan udara kotor keluar rumah.
Rumah yang tidak dilengkapi sarana ventilasi akan menyebabkan suplai
udara segar dalam rumah menjadi sangat minimal. Kecukupan udara segar
dalam rumah sangat dibutuhkan untuk kehidupan bagi penghuninya, karena
ketidakcukupan suplai udara akan berpengaruh pada fungsi fisiologis alat
pernafasan bagi penghuninya, terutama bagi anak usia dibawah lima tahun.
c. Kepadatan Hunian Rumah
Menurut Nurjazuli dan Widyaningtyas (2006), kondisi fisik bangunan salah
satunya kepadatan hunian rumah mempunyai hubungan terhadap kejadian
ISPA pada anak-anak terutama pada balita. Kepadatan hunian erat kaitannya

7
dengan penularan penyakit. Bila penghuni terlalu padat dan terdapat
penghuni yang sakit, maka akan mempercepat transmisi atau penularan
penyakit tersebut.
d. Penggunaan Anti Nyamuk
Penggunaan anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan nyamuk
dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan karena menghasilkan
aroma yang mengandung suatu zat yang jika dihirup akan merusak
pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan pada
saluran pernapasan. Menurut Nurjazuli dan Widyaningtyas (2006), debu
dalam udara apabila terhirup akan menempel pada saluran nafas bagian
bawah. Akumulasi tersebut akan menyebabkan elastisitas paru menurun,
sehingga menyebabkan anak-anak maupun balita akan sulit bernafas.
e. Keberadaan Perokok
Menurut Yuwono (2008) dalam Novita dan Galuh (2011), merokok dalam
rumah merupakan salah satu faktor yang bermakna dalam kejadian ISPA
termasuk pneumonia, karena asap rokok mempunyai efek toksik lebih buruk
daripada asap utama terutama dalam menimbulkan iritasi mukosa saluran
nafas dan meningkatkan kecendrungan untuk terjadinya ISPA.

H. Cara Mengatasi ISPA pada Anak


1. Mengatasi panas (demam)
Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun, demam diatasi dengan memberikan
paracetamol dan kompres. Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut
yang terlalu tebal dan rapat, apalagi jika pada anak yang menderita demam
karena akan menghambat keluarnya panas. Jika pilek, bersihkan hidung untuk
mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.
2. Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman, yaitu ramuan obat tradisional
berupa jeruk nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok
teh, diberikan 3 kali sehari. Dapat menggunakan obat batuk lainnya yang tidak
mengandung zat yang merugikan seperti kodein, dekstrometorfan dan
antihistamin.
3. Pemberian makanan
a. Berikan makanan yang cukup bergizi biarpun hanya sedikit tetapi berikan
secara berulang-ulang.
b. Pemberian ASI pada bayi yang menyusui tetap diberikan.
4. Pemberian minuman
Usakan pemberian cairan seperti air putih, air buah dan sebagainya, diberikan
lebih dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak dan mencegah

8
kekurangan cairan. Selain itu, usahakan lingkungan tetap terjaga dan selalu
sehat, yaitu ventilasi yang cukup, dengan cahaya yang memadai dan tidak
berasap.

I. Pencegahan ISPA
Menurut Depkes RI, (2002) pencegahan ISPA antara lain:
1. Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik
Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan mencegah kita atau
terhindar dari penyakit yang terutama antara lain penyakit ISPA. Misalnya
dengan mengkonsumsi makanan denan gizi seimbang, banyak minum air putih,
olah raga dengan teratur, serta istirahat yang cukup. Karena dengan tubuh yang
sehat maka kekebalan tubuh kita akan semakin meningkat, sehingga dapat
mencegah virus/bakteri penyakit yang akan masuk ke tubuh kita.
2. Imunisasi
Pemberian immunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak maupun orang
dewasa. Immunisasi dilakukan untuk menjaga kekebalan tubuh kita supaya tidak
mudah terserang berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh virus/bakteri.
3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik akan mengurangi
polusi asap dapur/asap rokok yang ada di dalam rumah, sehingga dapat
mencegah seseorang menghirup asap tersebut yang bisa menyebabkan terkena
penyakit ISPA. Ventilasi yang baik dapat memelihara kondisi sirkulasi udara
(atmosfer) agar tetap segar dan sehat bagi manusia.
4. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh virus/ bakteri yang
ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit penyakit ini melalui udara yang
tercemar dan masuk ke dalam tubuh.
Cara pencegahan berdasarkan level of prevention:
1. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Ditujukan pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan (health
promotion) dan pencegahan khusus (spesific protection) terhadap penyakit
tertentu. Termasuk disini adalah :
a. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini
diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal
yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. Kegiatan penyuluhan
ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan ASI Eksklusif,

9
penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan anak,
penyuluhan kesehatan lingkungan, penyuluhan bahaya rokok.
b. Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka
kesakitan ISPA.
c. Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi mal nutrisi.
d. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir
rendah.
e. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani
masalah polusi di dalam maupun di luar rumah.
2. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan dan diagnosis
sedini mungkin. Dalam pelaksanaan program P2 ISPA, seorang balita keadaan
penyakitnya termasuk dalam klasifikasi bukan pneumonia apabila ditandai
dengan batuk, serak, pilek, panas atau demam (suhu tubuh lebih dari 37 0C),
maka dianjurkan untuk segera diberi pengobatan.
Upaya pengobatan yang dilakukan terhadap klasifikasi ISPA atau bukan
pneumonia adalah tanpa pemberian obat antibiotik dan diberikan perawatan di
rumah. Adapun beberapa hal yang perlu dilakukan ibu untuk mengatasi anaknya
yang menderita ISPA adalah :
a. Mengatasi panas (demam).
Untuk balita, demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan
kompres dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu
air es).
b. Pemberian makanan dan minuman
Memberikan makanan yang cukup tinggi gizi sedikit-sedikit tetapi sering,
memberi ASI lebih sering. Usahakan memberikan cairan (air putih, air
buah) lebih banyak dari biasanya.
3. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita yang bukan pneumonia agar
tidak menjadi lebih parah (pneumonia) dan mengakibatkan kecacatan
(pneumonia berat) dan berakhir dengan kematian. Upaya yang dapat dilakukan
pada pencegahan Penyakit bukan pneumonia pada bayi dan balita yaitu
perhatikan apabila timbul gejala pneumonia seperti nafas menjadi sesak, anak
tidak mampu minum dan sakit menjadi bertambah parah, agar tidak bertambah

10
parah bawalah anak kembali pada petugas kesehatan dan pemberian perawatan
yang spesifik di rumah dengan memperhatikan asupan gizi dan lebih sering
memberikan ASI.

J. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian ISPA
a. Identitas Pasien
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan dan adanya suara tambahan saat
tidur (stridor).
2) Keluhan Saat Dikaji
Batuk atau pilek disertai dengan demam, sakit tenggorokan dan adanya
suara tambahan saat tidur (stridor).
3) Riwayat kesehatan dahulu
Apakah klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit yang
dialami saat ini.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit
klien tersebut.
5) Riwayat kesehatan lingkungan
Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah,
misalnya tungau, serpih atau buluh binatang, spora jamur yang terdapat
di rumah, bahan iritan: minyak wangi, obat semprot nyamuk dan asap
rokok dari orang dewasa.Perubahan suhu udara, angin dan kelembaban
udara dapat dihubungkan dengan percepatan terjadinya serangan asma.
6) Riwayat imunisasi
Anak usia Pra Sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara
lain : BCG, POLIO (I,II, dan III), DPT (I, II, dan III) dan campak.
c. Pemeriksaan fisik pada anak (Data Objektif)
1) Keadaan umum
2) Tanda-tanda vital
3) Berat badan
4) Tinggi badan
5) LIKA
6) LILA

11
7) Pemeriksaan Head to Toe
a) Kepala
Bentuk kepala simetris, warna rambut hitam tebal, kulit kepala
tidak kotor, tidak ada nyeri tekan.
b) Mata
Bentuk mata simetris, konjungtiva non anemis , sklera putih, tidak
ada nyeri tekan. Pupil mengecil ketika di beri rangsangan cahaya.
c) Hidung
Bentuk hidung simetris, klien dapat mencium kayu putih.
d) Mulut
Mulut simetris, bibir kering, tidak ada stomatitis.
e) Telinga
Lubang telinga simetris, tidak ada nyeri tekan, klien dapat
mendengar detak jam.
f) Leher
Bentuk leher simetris. Adanya nyeri tekan pada leher.
g) Dada / thorax
Bentuk dada simetris, tidak ada nyeri tekan, adanya suara
tambahan (stridor) ketika sedang tidur.
h) Abdomen
Bentuk abdomen simetris, tidak ada nyeri tekan.
i) Punggung
Bentuk punggung simetris, tidak ada nyeri tekan.
j) Ekstremitas
Atas
Tangan lengkap simetris, tidak ada nyeri tekan, kuku tidak kotor
dan tidak panjang, tidak ada kelainan.
Bawah
Kaki lengkap simetris, tidak ada nyeri tekan, kuku tidak kotor
dan tidak panjang, tidak ada kelainan.
2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan
a. Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi
Tujuan : suhu tubuh normal berkisar antara 36 37,5 C

Intervensi:
1) Observasi tanda-tanda vital
2) Anjurkan klien/keluarga untuk kompres pada kepala/aksila
3) Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan dapat
menyerap keringat seperti pakaian dari bahan katun.
4) Atur sirkulasi udara
5) Anjurkan klien untuk minum banyak 2000 2500 ml/hari
6) Anjurkan klien istirahat di tempat tidur selama fase febris penyakit.
7) Kolaborasi dengan dokter:
- Dalam pemberian terapi, obat antimikrobial
- Antipiretika

12
Rasionalisasi:
1) Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan
perawatan selanjutnya.
2) Dengan memberikan kompres, maka akan terjadi proses
konduksi/perpindahan panas dengan bahan perantara.
3) Proses hilanganya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan
tidak akan menyerap keringat.
4) Penyediaan udara bersih.
5) Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat
6) Tirah baring untuk mengurangi metabolisme dan panas.
7) Untuk mengontrol infeksi pernafasan dan menurunkan panas.
b. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d
anoreksia
Tujuan:
1) Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah pada BB
normal.
2) Klien dapat menoleransi diet yang dianjurkan.
3) Tidak menunjukkan tanda malnutrisi
Intervensi:
1) Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari.
2) Berikan makan porsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat.
3) Tingkatkan tirah baring.
4) Kolaborasi : konsultasi ke ahli gizi untuk memberikan diet sesuai
kebutuhan klien.
Rasionalisasi:
1) Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan BB dan
evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.
2) Untuk menjamin nutrisi adekuat/meningkatkan kalori total. Nafsu makan
dapat dirangsang pada situasi rileks, bersih, dan menyenangkan.
3) Untuk mengurangi kebutuhan metabolik.
4) Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau
kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal.
c. Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil
Tujuan: nyeri berkurang/terkontrol
Intervensi:
1) Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya (dengan skala 0 10 ), faktor
yang memperburuk atau meredakan nyeri, lokasi, lama, dan
karakteristiknya.
2) Anjurkan klien untuk menghindari alergen/iritan terhadap debu, bahan
kimia, asap rokkok, dan mengistirahatkan/meminimalkan bicara bila
suara serak.

13
3) Anjurkan untuk melakukan kumur air hangat.
4) Kolaborasi : berikan obat sesuai indikasi (steroid oral, IV, dan inhalasi,
dan analgesik)
Rasionalisasi:
1) Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan
suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan
untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan.
2) Mengurangi bertambahberatnya penyakit.
3) Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri
tenggorokan.
4) Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi/menghambat
pengeluaran histamin dalam inflamasi pernafasan. Analgesik untuk
mengurangi nyeri.
d. Risiko tinggi penularan infeksi b.d tidak kuatnya pertahanan sekunder
(adanya infeksi penekanan imun)
Tujuan: tidak terjadi penularan, tidak terjadi komplikasi

Intervensi:
1) Batasi pengunjung sesuai indikasi
2) Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktivitas
3) Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin
4) Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak dibawah usia 2 tahun,
lansia, dan penderita penyakit kronis. Konsumsi vitamin C, A dan
mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh menurun/asupan
makanan berkurang.
5) Kolaborasi pemberian obat sesuai hasil kultur
Rasionalisasi:
1) Menurunkan potensi terpajan pada penyakit infeksius
2) Menurunkan konsumsi/kebutuhan keseimbangan O dan memperbaiki
pertahanan klien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.
3) Mencegah penyebaran patogen melalui cairan
4) Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan
tahanan terhadap infeksi.
5) Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan
kultur dan sensitifitas atau diberikan secara profilaktik karena risiko
tinggi.
3. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuaidengan
rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatandapat bersifat

14
mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu adanya
pengawasan dan dimonitor kemajuan kesehatan klien (Santosa, NI. 1989).
4. Evaluasi Keperawatan
a. Diagnosa 1 : Suhu tubuh normal berkisar antara 36 37,5C
b. Diagnosa 2 : Klien dapat mencapai berat badan normal dan tidak
menunjukkan tanda malnutrisi
c. Diagnosa 3 : Nyeri berkurang
d. Diagnosa 4 : Tidak terjadi penularan dan tidak terjadi komplikasi

15