Anda di halaman 1dari 10

ISSN: 2088-687X 67

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARANTRADE APROBLEM


TERHADAPKEMAMPUANPEMECAHAN MASALAH SISWAKELAS
VIIIMTsNTANJUNG PURA MATERIKUBUS DAN BALOKT.A 2013 / 2014

Siti Hadijah1, Edy Surya2


Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan
1
sitikhadija93@gmail.com, 2edy_surya71@yahoo.com

ABSTRAK.

Tujuan dari penelitian adalah melihat pengaruh penggunaan metode pembelajaran Trade A
Problem terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Populasi seluruh siswa kelas
VIII (256 orang), sedangkan sampel kelas VIII-3 (39 orang) dan kelas VIII-4 (40 orang). Rata-rata
nilai pos-tes dikelas eksperimen adalah 69,0833, dan rata-rata dikelas kontrol adalah
81,367521.Berdasarkan perhitungan uji hipotesis menggunakn uji t satu pihak diperoleh t hitung =
5,8109 dan t tabel = 1,6672 dengan = 0,05. Dapat dilihat bahwa thitung >
ttabel,5,8109>1,6672sehingga H0 ditolak. Artinya terdapat pengaruh penggunaan metode
pembelajaran Trade A Problem terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.

Kata Kunci : Trade A Problem, Kemampuan Pemecahan Masalah, Pembelajaran Konvensional.

ABSTRACT

This study aimed at investigating the effect of the Trade A Problem Learning method on
the ability of students mathematical problem solving. Population of this study were all eight
graders (N=256) at Madrasah Tsanawiyah Tanjung Pura. The sample of this study was two classes
consisting of 79 students. Results of this study turned out that the average value for the posttest
conducted in experimental group was 69.0833, whereas the control group was 81.367521.
Furthermore, the party t-test analysis resulted in 5.8109 with the t-table of 1.6672 (=.05). This
indicated that the t-count was higher than the t-table (5.8109), and thus Ho was rejected. It was
reasonable to conclude that the Trade A Problem Learning Method had significant effect on
students ability in mathematical problem solving.

Keywords: Trade A Problem, problem solving ability, learning conventional

Pendahuluan salah satu kemampuan yang penting


Dalam kurikulum tingkat satuan untuk dimiliki oleh semua
pendidikan (KTSP) dikatakan mata siswa(Mulyono, 2003 : 3). Menurut
pelajaran matematika perlu diberikan Utari-Sumarno kemampuan pemecahan
kepada semua siswa mulai dari sekolah masalah adalah tujuan pengajaran
dasar sampai perguruan tinggi. Salah satu matematika bahkan sebagai jantungnya
tujuannya adalah untuk membekali siswa matematika(Rajagukguk, 2011: 428).
dengan kemampuan pemecahan masalah. Hasil survei Utari-Sumarno
Kemampuan pemecahan masalah adalah tentang Current Situation On

AdMathEdu | Vol.6 No.1 | Juni 2016 Pengaruh (Siti Hadijah)


68 ISSN: 2088-687X

Mathematics And Science Education In mencapai suatu tujuan yang berguna bagi
Bandung yang disponsori oleh JICA siswa.
(Rajagukguk, 2011 : 430), menyatakan Permasalahan yang sama juga
pemecahan masalah matematika terjadi di MTs Negeri Tanjung Pura.
merupakan salah satukegiatan Kemampuan siswa dalam memecahkan
matematika yang dianggap penting baik masalah masih tergolong rendah. Hal ini
oleh guru maupun siswa disemua tingkat diketahui oleh peneliti dari wawancara
dari SD sampai SMU. Namun hal yang dilakukan peneliti pada beberapa
tersebut dianggap bagian paling sulit siswa dan guru matematika, rekapitulasi
dalam mempelajarinya maupun bagi guru nilai ulangan siswa, tes, serta observasi
dalam mengajarinya. langsung kekelas saat proses
Mekipun pemecahan masalah pembelajaran matematika berlangsung.
adalah kemampuan yang esensial untuk Dari hasil observasi peneliti
dimiliki oleh siswa namun pada merangkum penyebab rendahnya
kenyataannya siswa kurang mandiri dan kemampuan pemecahan masalah siswa,
tidak mampu menggunakan konsep yang berkaitan dengan pokok bahasan kubus
telah diajarkan kedalam pemecahan dan balok yaitu : (1) dari awal siswa
masalah. Hal ini dipertegas oleh pendapat masih beranggapan bahwa pelajaran
Arends (Trianto, 2009 : 7) yang matematika adalah pelajaran yang sangat
menyatakan dalam mengajar guru selalu sulit. Sugesti yang buruk menurunkan
menuntut siswa belajar dan jarang minat siswa untuk belajar. Hal ini
memberikan pelajaran tentang menyebabkan sebelum belajar siswa
bagaimana siswa untuk belajar, guru juga sudah mengalami tekanan psikologis
menuntut siswa untuk menyelesaikan terlebih dahulu sehingga saat
masalah, tapi jarang mengajarkan siswa pembelajaran berlangsung pun siswa sulit
bagaimana cara menyelesaikan masalah. memahami konsep matematika yang
Melalui proses pembelajaran seperti ini, disampaikan, bahkan ada siswa yang
kecil kemungkinan kemampuan mengatakan saya tidak tahu mengapa
pemecahan matematika siswa dapat harus ada pelajaran matematika, saya
berkembang. Menurut Polya (Effandi, mempelajarinya hanya karena itu ada
2007 : 117) pemecahan masalah didalam mata pelajaran. (2) pembelajaran
merupakan suatu cara mencari jalan masih menggunakan model konvensional
keluar dari suatu kesukaran atau suatu yang cenderung terkesan hanya
cara mengatasi sesuatu halangan dan mentransfer pengetahuan dari guru

Pengaruh (Siti Hadijah) AdMathEdu | Vol.6 No.1 | Juni 2016


ISSN: 2088-687X 69

kepada siswa, sehingga proses Metode Penelitian


pembelajaran hanya terjadi satu arah (3) Jenis penelitian yang digunakan
guru belum mampu menerapkan model dalam penelitian ini adalah quasi
pembelajaran yang dapat meningkatkan eksperimen.Penelitian dilakukan di MTs
kemampuan pemecahan masalah siswa, Negeri Tanjung Pura tahun ajaran
ketidaksesuaian model yang digunakan 2013/2014 dengan populasi seluruh siswa
guru menyebabkan proses pembelajaran kelas VIII MTsN Tanjung Pura dan
yag terjadi cendrung membosankan. sampel yang terpilih adalah siswa kelas
Untuk mengembangkan VIII 3 sebanyak 39 orang dan siswa
kemampuan siswa dalam memecahkan kelas VIII 4 sebanyak 40 orang.Desain
masalah, maka harus diterapkankan penelitian yang digunakan adalah pretes-
sebuah metode pembelajaran yang postes control group design, dengan
melibatkan siswa secara aktif, membantu prosedur penelitian meliputi tahap pra
siswa merancang dan mengevaluasi penelitian, tahap persiapan, tahap
langkah-langkah penyelesaian pelaksanaan, dan tahap akhir. Instrument
masalah.Salah satu metode pembelajaran yang dipakai terdiri atas instrumen
yang dapat mengatasi kejenuhan siswa pembelajaran terdiri atas LAS dan RPP,
saat belajar matematika adalah metode serta instrumen pengumpulan data terdiri
pembelajaran Trade A Problem. Metode atas tes kemampuan pemecahan masalah
Trade A Problem adalah metode yang terbagi menjadi pre-test dan pos-
pembelajaran kooperatif yang berisi suatu test.
struktur yang digunakan untuk meriview Data dianalisis untuk melihat
atau melatih konsep-konsep (Maesuri, pengaruh penggunaan metode
2002 : 39). pembelajaran Trade A Problemterhadap
Berdasarkan uraian diatas maka kemampuan pemecahan masalah antara
peneliti mengangkat sebuah judul siswa kelas Trade A Problemdan siswa
penelitian yaitu : Pengaruh Penggunaan kelas biasa. Analisis statistik yang
Metode Pembelajaran Trade A Problem digunakan adalah uji-t satu pihak.
Terhadap Kemampuan Pemecahan
Masalah Siswa Kelas VIII MTs Negeri Hasil Penelitian
Tanjung Pura Pada Materi Bangun Ruang Setelah dilakukan pre-test dan
Sisi Datar Tahun Ajaran 2013 / 2014. pos-test kepada siswa diperoleh rata-rata
indeks gain kelas eksperimen dan kelas
kontrol adalah 0,596417 dan 0,407.

AdMathEdu | Vol.6 No.1 | Juni 2016 Pengaruh (Siti Hadijah)


70 ISSN: 2088-687X

Sementara itu variansi kedua kelas adalah ringkas hasil perhitungan uji hipotesis
0,026089 dan 0,0380952 dengan standart dapat dilihat pada tabel 1.
deviasi masing-masing adalah 0,161521 Tabel 1.Ringkasan Hasil Perhitungan Uji
dan 0,19518. Kriteria indeks gain, Hipotesis.
menunjukkan bahwa rata-rata Dat Kelas Rata- thitu ttabel Kesimp
a Rata ng ulan
peningkatan kemampuan pemecahan Pret Eksperi 52,136 1,80 1,99 HO
es men 752 9 4 Diterim
masalah kedua kelas berada pada kategori Kontrol 46,166 a.
sedang. Selanjutnya komposisi 7
Post Eksperi 81,367 5,81 1,66 HO
interpretasi normalized gain untuk est men 521 09 72 Ditolak.
Kontrol 69,083
masing-masing kelas persentase indeks 33
Gai Eksperi 0,5964 4,69 1,66 HO
gain kategori tinggi pada kelas n men 17 98 72 Ditolak.
Kontrol 0,4070
eksperimen adalah 28,21% (11 siswa), 02
sedangkan dikelas kontrol adalah 5% (2 Berdasarkan tabel 1 kesimpulan yang
orang), persentase indeks gain kategori diperoleh yaitu :
sedang pada kelas eksperimen adalah 1. Pada tes awal (pretes) diperoleh
66,67% (26 siswa), sedangkan dikelas ttabel< thitung< ttabel yaitu 1,994 < 1,809
kontrol adalah 67,5% (27 orang), < 1,994 maka HO Diterima. Dapat
persentase indeks gain kategori rendah disimpulkan kemampuan pemecahan
pada kelas eksperimen adalah 5,12% (2 masalah siswa kelas eksperimen sama
siswa), sedangkan dikelas kontrol adalah dengan kemampuan awal pemecahan
27,5% (11 orang). Berdasarkan hasil masalah matematika siswa kelas
yang telah dikemukan diatas dapat kontrol.
diprediksi bahwa peningkatan 2. Setelah diberikan perlakuan, pada tes
kemampuan pemecahan masalah yang akhir (postes) diperoleh thitung< ttabel
terjadi dikelas eksperimen lebih baik yaitu 5,8109 < 1,6672 maka HO
daripada peningkatan kemampuan Ditolak. Dapat disimpulkan
pemecahan masalah yang terjadi dikelas kemampuan pemecahan masalah siswa
kontrol. yang diajar melalui metode
Berdasarkan hasil perhitungan uji pembelajaran Trade A Problem
hipotesis untuk data pretes diperoleh dengan pemberian Reward lebih baik
thitung =1,809 dan ttabel = 1,994, untuk data daripada kemampuan pemecahan
postest diperoleh thitung = 5,8109 dan ttabel masalah siswa yang diajarkan melalui
= 1,6672, untuk data gain diperoleh thitung pembelajaran konvensional.
= 4,6998 dan ttabel = 1,6672. Secara

Pengaruh (Siti Hadijah) AdMathEdu | Vol.6 No.1 | Juni 2016


ISSN: 2088-687X 71

3. Pada data indeks gain diperoleh thitung< Metode Trade A Problem


ttabel yaitu 4,6998 < 1,6672 maka HO digunakan peneliti untuk meriview
Ditolak. Dapat disimpulkan kembali materi yang sudah dipelajari.
peningkatan kemampuan pemecahan Pada kelas yang diajarkan dengan
masalah siswa kelas eksperimen lebih menggunakan metode pembelajaran
tinggi daripada peningkatan Trade A Problem guru lebih banyak
kemampuan pemecahan masalah siswa memberikan bimbingan kepada siswa
kelas kontrol. Hasil perhitungan uji dalam memahami materi. Guru tidak
hipotesis secara lengkap terdapat pada secara langsung menjelaskan materi
lampiran. secara keseluruhan akan tetapi guru
memulainya dengan masalah yang
Pembahasan Hasil Penelitian terdapat didalam LAS. Masalah yang
Proses penelitian diawali dengan disajikan berkaitan dengan kehidupan
pemberian pretes kemampuan pemecahan nyata siswa. Bukan sesuatu yang
masalah matematika pada kedua kelas. langsung abstrak dengan memuat simbol-
Berdasarkan hasil analisis skor rata-rata simbol. Langkah ini dilakukan guru agar
pretes kemampuan pemecahan masalah siswa merasa tertarik dan merasa bahwa
siswa, diperoleh kesimpulan bahwa mereka perlu untuk memahami pelajaran
kedua kelas memiliki kemampuan awal ini agar dapat menyelesaikan masalah
yang sama. Hal tersebut ditunjukkan oleh tersebut. Setelah siswa siap untuk
hasil pengujian hipotesis dengan uji menerima informasi yang akan diberikan,
kesamaan dua rat-rata pretes kemudian guru memberikan stimulus
menggunakan uji t pada taraf signifikansi berupa informasi yang menambah
5% bahwa Ho diterima. Selanjutnya pemahaman siswa. Guru menjelaskan
penelitian dilanjutkan dengan melakukan konsep-konsep secara sederhana agar
pembelajaran sebanyak empat kali siswa tidak merasa konsep matematika
pertemuan dengan pokok bahasan kubus itu sulit.
dan balok. Untuk kelas eksperimen Selanjutnya siswa dibentuk
pembelajaran yang berlangsung kedalam beberapa kelompok kecil. Satu
menggunakan metode Trade A Problem, kelompok terdiri dari 4 sampai 5 orang.
sedangkan dikelas kontrol menggunakan Guru mengarahkan siswa agar membaur
metode yang biasa digunakan guru dengan kelompoknya dengan tetap
(konvensional). menjaga kekondusipan suasana belajar.
Setiap kelompok berdiskusi untuk

AdMathEdu | Vol.6 No.1 | Juni 2016 Pengaruh (Siti Hadijah)


72 ISSN: 2088-687X

memperoleh strategi pemecahan masalah terbanyak akan menjadi pemenangnya.


pada LAS. Setelah berhasil Pembelajaran diakhiri guru dengan
menyelesaikan LAS, kemudian guru bersama-sama menarik kesimpulan dari
mengarahkan siswa memikirkan apa yang dipelajari hari ini, dan
permasalahan yang terjadi didalam memberikan tugas rumah untuk siswa.
kehidupan nyata siswa berkaitan dengan Pada kelas kontrol peneliti hanya
kubus dan balok. Guru meminta setiap berperan sebagai pengamat. Dikelas
kelompok merancang soal beserta kontrol pembelajaran yang berlangsung
penyelesaiannya sesuai dengan batas dilaksanakan oleh guru bidang studi.
pengetahuan yang mereka miliki. Tiap Suasana pembelajaran terlihat sangat
siswa berdiskusi didalam kelompoknya kondusif. Jauh berbeda dengan kelas
dalam merancang soal tersebut. Bertukar eksperimen. Pada kelas eksperimen
ide, pendapat, pemahaman dengan suasana kelas agak sulit dikontrol (ribut).
temannya menjadikan siswa berpikir Dikelas kontrol guru menjelaskan materi
lebih keras dan kreatif. Pembelajaran pelajaran dengan sangat jelas, sistematis
seperti ini membuat pemahaman siswa dan mudah dimengerti oleh siswa.
terhadap suatu masalah menjadi tidak Meskipun tidak terlalu banyak siswa
sempit. yang bertanya tetapi semua siswa terlihat
Setelah masing-masing kelompok sangat tekun memperhatikan penjelasan
siap dengan masalah yang mereka buat dari guru. Latihan-latihan yang diberikan
guru mengacak undian untuk masing- guru juga dapat diselesaikan dengan baik
masing kelompok. Pasangan kelompok oleh siswa. Setelah materi pelajaran
yang terpilih didalam undian akan saling selesai disampaikan selama 2 kali
menukar soal dan berusaha secepat pertemuan, kemudian peneliti
mungkin menyelesaikannya. Kelompok memberikan test akhir untuk melihat
yang berhasil menjawab diminta kemampuan akhir pemecahan masalah
mempersentasikan hasil yang mereka matematika siswa pada kedua kelas.
peroleh. Perhitungan point didalam Pembelajaran dengan
perlombaan ini yaitu soal yang berhasil menggunakan metode Trade A Problem
dijawab akan memberikan point untuk dengan Reward membuat siswa lebih
kelompok penjawab sedangkan soal yang senang belajar karena siswa didorong
tidak berhasil dijawab akan memberikan lebih aktif berpikir, berkomunikasi,
point untuk kelompok pembuat soal. mencari strategi, melaksanakan strategi
Kelompok yang mengumpulkan point yang sudah dibuat untuk memecahkan

Pengaruh (Siti Hadijah) AdMathEdu | Vol.6 No.1 | Juni 2016


ISSN: 2088-687X 73

masalah, dan akhirnya menyimpulkan yang diajar menggunakan metode


materi yang sudah dipelajari. Metode pembelajaran konvensional. Hasil
pembelajaran Trade A Problem dengan penelitian ini diperkuat dengan Penelitian
Reward mengorganisasi siswa untuk relevan yang dilakukan oleh Apriska
belajar, dalam hal ini siswa dibentuk (2011) yang menunjukkan bahwa
menjadi beberapa kelompok yang pembelajaran matematika yang
beranggota 4-5 orang sehingga menggunakan metode Trade A Problem
mempunyai banyak teman untuk berpikir pada pokok bahasan SPLDV dapat
dan bekerja sama. Berdasarkan hasil meningkatkan prestasi belajar siswa.
wawancara terhadap beberapa siswa, Penelitian lainnya dilakukan oleh Afifah
mereka menyatakan pembelajaran seperti (2013) dengan hasil penelitian penerapan
ini lebih menyenangkan. Membuat waktu model pembelajaran kooperatif NHT
tidak terasa berlalu dengan cepat. menggunakan metode Trade A Problem
Membuat mereka tidak merasa jenuh. dapat meningkatkan kemampuan siswa
Selain itu berdasarkan pengamatan dalam memecahkan masalah. Selain itu
peneliti terhadap lembar jawaban LAS hasil penelitian ini juga didukung dengan
setiap kelompok, peneliti melihat setiap teori kebermaknaan yang dikemukakan
kelompok berhasil menyelesaikan LAS oleh Ausubel. Dimana dalam metode
nya dengan baik. Hal ini Trade A Problem kebermaknaan belajar
mengindikasikan bahwa minat mereka dapat dirasakan siswa pada saat mereka
untuk menyelesaikan LAS tersebut baik. mencoba merancang permasalahan, dan
Pada kelas kelas kontrol, antusias siswa menyelesaikan permasalahan yang
dalam belajar cukup rendah, karena diberikan orang lain. Teori lain yang
proses interaksi hanya terjadi satu arah. mendukung adalah teori skiner yang
Sehingga kemampuan pemecahan menyatakan bahwa ganjaran memberikan
masalah mereka kurang berkembang. penguatan positif bagi siswa didalam
Berdasarkan hasil uji hipotesis proses belajar. Hal ini dapat
diperoleh hasil penelitian bahwa mengembangkan kemampuan siswa
kemampuan pemecahan masalah memecahkan setiap masalah.
matematika siswa yang diajar Beberapa kendala yang dihadapi
menggunakan metode pembelajaran oleh guru (peneliti) selama proses
Trade A Problem dengan Reward lebih pembelajaran, yaitu : (1) suasana didalam
baik dibandingkan dengan kemampuan kelas sulit dikontrol (ribut) karena siswa
pemecahan masalah matematika siswa kurang terbiasa dengan metode

AdMathEdu | Vol.6 No.1 | Juni 2016 Pengaruh (Siti Hadijah)


74 ISSN: 2088-687X

pembelajaran Trade A Problem. (2) Rewardlebih tinggi daripada


kesulitan untuk membuat siswa lebih kemampuan pemecahan masalah
berani dan percaya diri berbicara didepan siswa yang diajar dengan
kelas. (3) memerlukan banyak waktu menggunakan pembelajaran
untuk menerapkan metode ini sehingga konvensional.
besar kemungkinan jika metode ini terus 2. Peningkatan kemampuan pemecahan
digunakan akan menyebabkan benyak masalah siswa yang diajar
materi yang tertinggal. (4) memerlukan menggunakan metode pembelajaran
banyak biaya untuk memberikan Reward Trade A Problem dengan Reward
pada kelompok. (5) ada beberapa siswa lebih tinggi daripada peningkatan
yang kurang fokos sehingga mengganggu kemampuan pemecahan masalah
konsentrasi teman sekelompoknya. (6) siswa yang diajar dengan
siswa yang memiliki kemampuan lebih menggunakan metode pembelajaran
tinggi cendrung mendominasi konvensional.
perlombaan hal ini menyebabkan siswa
lain kurang termotivasi. (7) Siswa merasa Saran
canggung untuk diskusi dalam kelompok Berdasarkan hasil penelitian
karena pada pembelajaran sebelumnya dilapangan, ada beberapa hal yang
siswa jarang diminta untuk kiranya perlu direkomendasikan oleh
berdiskusi.Berdasarkan hasil lembar peneliti untuk dapat dilaksanakan oleh
observasi, kemampuan peneliti dalam guru, lembaga terkait maupun para
mengelola pembelajaran dikelas peneliti selanjutnya, yaitu :
eksperimen tergolong baik, dan aktivitas 1. Pembelajaran dengan menggunakan
belajar siswa dalam prose pembelajaran metode Trade A Problem dapat
dapat dikatakatan sudah efektif. dijadikan guru sebagai salah satu
alternatif untuk meningkatkan
Kesimpulan kemampuan pemecahan masalah
Berdasarkan analisis terhadap data matematika siswa.
penelitian maka didapat kesimpulan 2. Proses pembelajaran yang biasanya
sebagai berikut : terjadi satu arah menyebabkan siswa
1. Kemampuan pemecahan matematika kurang berani dan percaya diri
siswa yang diajarkan dengan berbicara didepan kelas, karena itu
menggunakan metode pembelajaran disarankan kepada guru agar lebih
Trade A Problem dengan

Pengaruh (Siti Hadijah) AdMathEdu | Vol.6 No.1 | Juni 2016


ISSN: 2088-687X 75

memotivasi dan membiasakan siswa Abdurrahman, Mulyono. 2003.


untuk tampil berbicara didepan kelas. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan
3. Keterbatasan waktu yang dimiliki Belajar. Jakarta : Rineka Cipta
peneliti menyebabkan hasil yang Maesuri, Siti. 2002. Pembelajaran
dicapai kurang maksimal, karena itu Kooperatif Dalam Kelas
disarankan bagi guru atau peneliti Matematika. Surabaya : Universitas
lainnya yang ingin menerapkan Surabaya
metode ini, hendaknya dilakukan
Rajagukguk, Waminton. 2011. Upaya
secara berkala dan dengan jangka
Meningkatkan Kemampuan
waktu yang cukup lama
Pemecahan Masalah Matematika
4. Penggunaan metode Trade A
Siswa Dengan Penerapan Teori
Problem dengan Reward, masih
Belajar Bruner Pada Pokok
asing bagi siswa, siswa merasa
Bahasan Trigonometri Di Kelas X
kurang terbiasa, maka peneliti
Sma Negeri 1 Kualuh Hulu Aek
menyarankan perlu untuk
Kanopan T.A. 2009/2010VISI
dilakukannya sosialisasi oleh sekolah
(2011) 19 (1) 427-442, 0853-0203,
maupun lembaga terkait denga
429.
harapan dapat meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah Trianto. 2011. Mendesain Model
bagi siswa. Pembelajaran Inovatif-Progresif.
Jakarta : Kencana.
Pustaka Zakaria, Effandi, Dkk. 2007. Trend
Pengajaran Dan Pembelajaran
Matematika. Malaysia: PN

AdMathEdu | Vol.6 No.1 | Juni 2016 Pengaruh (Siti Hadijah)


76 ISSN: 2088-687X

Pengaruh (Siti Hadijah) AdMathEdu | Vol.6 No.1 | Juni 2016