Anda di halaman 1dari 50

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

SINTESIS DAN KARAKTERISASI MATERIAL MAGNETIK BERBASIS


SENYAWA KOMPLEKS INTI GANDA MANGAN(II) DENGAN
2,2-BIPIRIDIN MENGGUNAKAN LIGAN JEMBATAN OKSALAT

SKRIPSI

NIRMAWATI EKA PUTRI

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2012

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

SINTESIS DAN KARAKTERISASI MATERIAL MAGNETIK BERBASIS


SENYAWA KOMPLEKS INTI GANDA MANGAN(II) DENGAN
2,2-BIPIRIDIN MENGGUNAKAN LIGAN JEMBATAN OKSALAT

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh


Gelar Sarjana Sains Bidang Kimia pada
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga

Oleh :

NIRMAWATI EKA PUTRI

NIM. 080810626

Tanggal Lulus :

6 Agustus 2012

Disetujui oleh :

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dra. Hartati, M.Si Harsasi Setyawati, S.Si, M.Si


NIP. 19591115 198703 2 002 NIK. 139080769

ii

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

LEMBAR PENGESAHAN NASKAH SKRIPSI

Judul : Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Berbasis


Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) dengan
2,2-Bipiridin Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat
Penyusun : Nirmawati Eka Putri
NIM : 080810626
Pembimbing I : Dra. Hartati, M.Si
Pembimbing II : Harsasi Setyawati, S.Si, M.Si
Tanggal Ujian : 6 Agustus 2012

Disetujui oleh :

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dra. Hartati, M.Si Harsasi Setyawati, S.Si, M.Si


NIP. 19591115 198703 2 002 NIK. 139080769

Mengetahui,
Ketua Departemen Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga

Dr. Alfinda Novi Kristanti, DEA


NIP. 19671115 199102 2 001

iii

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI

Skripsi ini tidak dipublikasikan, namun tersedia di perpustakaan dalam


lingkungan Universitas Airlangga. Diperkenankan untuk dipakai sebagai referensi
kepustakaan, tetapi pengutipan harus seizin penulis dan harus menyebutkan
sumbernya sesuai kebiasaan ilmiah.

Dokumen skripsi ini merupakan hak milik Universitas Airlangga Surabaya.

iv

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-
Nya yang telah memberikan kemudahan dan kekuatan kepada penulis sehingga
dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Sintesis dan Karakterisasi Material
Magnetik Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) dengan
2,2-Bipiridin Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
Di kesempatan kali ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. Alfinda Novi Kristanti, DEA selaku ketua Departemen Kimia Fakultas
Sains dan Teknologi Universitas Airlangga.
2. Dra. Hartati, M.Si selaku dosen wali dan pembimbing I. Terima kasih atas
bimbingan, masukan, dan perhatiannya terhadap penulis.
3. Harsasi Setyawati, S.Si, M.Si selaku dosen pembimbing II. Terima kasih atas
bimbingan, ilmu, waktu, dan tenaga yang dengan ikhlas diberikan selama
penyusunan skripsi ini.
4. Dra. Aning Purwaningsih, M.Si dan Dr. Ir. Suyanto, M.Si selaku penguji I
dan II yang telah memberikan saran dan masukan yang membangun dalam
kesempurnaan naskah skripsi ini.
5. Kedua orang tuaku tercinta, Bapak Amir dan Ibu Suharyati Suharsih yang
senantiasa selalu memberikan kasih sayang, perhatian, doa, kekuatan dan
dukungan yang sangat besar selama ini kepadaku. Terima kasih bapak, terima
kasih ibu atas dukungannya kepadaku.
6. Adikku tercinta, Lila Mirna Tri Amaliyah yang selalu membuatku
bersemangat dalam setiap waktuku.
7. Adikku Alm. M. Nur Suharyadi yang juga membuatku bersemangat dalam
setiap waktuku.
8. My love_ku, Andhika Bagus Prabowo yang selalu memberikan semangat,
perhatian, dan bantuannya kepadaku.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

9. Mbakku, Chory Angela Wijayanti yang senantiasa membantuku dalam


penyusunan naskah skripsi ini.
10. Seluruh keluarga besarku yang telah memberikan doa dan bantuannya
kepadaku.
11. Om Arif, yang senantiasa membantu dan memberikan doanya untukku.
12. Teman-temanku satu bimbingan, Natalia Dwi C., Putri Oktavia M., Inna
Noviyanti dan Hotma Wardani H. yang saling berbagi suka dan duka dalam
penelitian dan penyusunan naskah skripsi ini.
13. Seluruh dosen dan tenaga kerja di departemen kimia yang telah membagi
ilmu serta pengalamannya kepada penulis.
14. Mas Roch dan Pak Giman yang senantiasa membantuku selama penelitian di
laboratorium lantai 1.
15. Semua teman-temanku kimia angakatan 2008 Universitas Airlangga yang
senantiasa membantu.
16. Teman-teman kimia Universitas Airlangga angkatan 2009, 2010, dan 2011.
Tentunya masih banyak kekurangan dalam penyusunan naskah skripsi ini.
Oleh karena itu, penulis membuka selebar-lebarnya pemberian saran maupun
kritik untuk kesempurnaan skripsi ini. Penulis sangat berharap agar skripsi ini
dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Surabaya, Agustus 2012


Penulis

Nirmawati Eka Putri

vi
Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri
Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Nirmawati Eka Putri, 2012. Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat. Skripsi ini dibawah bimbingan Dra.
Hartati, M.Si dan Harsasi Setyawati, S.Si, M.Si, Departemen Kimia,
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan mengkarakterisasi senyawa


kompleks inti ganda Mn(II)-bipiridin dengan oksalat sebagai ligan jembatan.
Senyawa kompleks inti ganda disintesis melalui reaksi Mn(II) dari garam
MnCl2.4H2O dengan ligan 2,2-bipiridin dan ligan jembatan oksalat sesuai dengan
perbandingan stoikiometri Mn(II) : bipy : oksalat = 2 : 4 : 1. Kristal senyawa
kompleks inti ganda yang dihasilkan berwarna kuning-oranye. Senyawa kompleks
inti ganda hasil sintesis dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis,
spektrofotometer FT-IR, Magnetic Susceptibility Balance (MSB), dan
konduktometer. Analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis diperoleh
panjang gelombang maksimum senyawa kompleks inti ganda yaitu 521 nm.
Analisis menggunakan spektrofotometer FT-IR menunjukkan adanya serapan
Mn-N pada ligan 2,2-bipiridin yang muncul pada 300,9 cm-1, sedangkan serapan
Mn-O pada ligan jembatan oksalat muncul pada 408,91 cm-1. Analisis
menggunakan Magnetic Susceptibility Balance (MSB) menunjukkan bahwa
senyawa kompleks inti ganda bersifat paramagnetik dengan momen magnet
sebesar 8,2085 BM. Analisis menggunakan konduktometer menunjukkan bahwa
senyawa kompleks inti ganda memiliki muatan +3, sehingga rumus senyawa
kompleksnya adalah [(OH)(bipy)2Mn(C2O4)Mn(bipy)2(OH)]3+.

Kata kunci : senyawa kompleks inti ganda, Mn(II)-bipiridin, ligan jembatan


oksalat

vii

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Nirmawati Eka Putri, 2012. Synthesis and Characterization of Magnetic


Material Based Binuclear Complex Compound Mangan(II) with
2,2-Bipyridine Using Oxalate Bridging Ligand. It has been supervised by
Dra. Hartati, M.Si and Harsasi Setyawati, S.Si, M.Si, Chemistry Department,
Faculty of Science and Technology, Airlangga University, Surabaya.

ABSTRACT

The aim of the research is to synthesize and characterize the binuclear complex
compound Mn(II)-bipyridine with oxalate as a bridging ligand. This binuclear
complex compound synthesized through the reaction between Mn(II) of
MnCl2.4H2O with 2,2-bipyridine ligand and oxalate bridging ligand, according to
the ratio of stoiciometric Mn(II) : bipy : oxalate = 2 : 4 : 1. The crystal colour of
binuclear complex compound which produced is yellow-orange. The synthesized
binuclear complex compound was analyzed by spectrophotometer UV-Vis,
spectrophotometer FT-IR, Magnetic Susceptibility Balance (MSB) and
conductometer. Analyze by the spectrophotometer UV-Vis has obtained the
maximum wavelength of binuclear complex compound is 521 nm. Analyze by the
spectrophotometer FT-IR has showed the band of Mn-N from bipyridine ligand,
appeared at 300,9 cm-1. In the other hand, the band of Mn-O from oxalate bridging
ligand appeared at 408,91 cm-1. Then, analyze by the Magnetic Susceptibility
Balance (MSB) has showed that binuclear complex compound has a paramagnetic
character with 8,2085 BM of magnetic moment. Analyze by conductometer
showed that the binuclear complex compounds has +3 charge, so the formula of
complex compound is [(OH)(bipy)2Mn(C2O4)Mn(bipy)2(OH)]3+.

Key words : binuclear complex compound, Mn(II)-bipyridine, oxalate bridging


ligand

viii
Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri
Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR JUDUL .................................................................................... i
LEMBAR PERNYATAAN ..................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................... iii
PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI ................................................ iv
KATA PENGANTAR .............................................................................. v
ABSTRAK ................................................................................................ vii
ABSTRACT .............................................................................................. viii
DAFTAR ISI ............................................................................................. ix
DAFTAR TABEL .................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ xiv

BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1


1.1 Latar Belakang Masalah ..................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................. 2
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................ 3
1.4 Manfaat Penelitian .............................................................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................... 4


2.1 Material Magnetik .............................................................. 4
2.2 Senyawa Kompleks ............................................................ 5
2.3 Mangan ............................................................................... 6
2.4 Ligan 2,2-bipiridin ............................................................ 7
2.5 Ligan Oksalat ...................................................................... 7
2.6 Senyawa Kompleks Inti Ganda ........................................... 8
2.7 Teori Pembentukan Senyawa Kompleks ............................ 9
2.7.1 Teori ikatan valensi .................................................. 10
2.7.2 Teori medan kristal ................................................... 11
2.7.3 Teori orbital molekul ................................................ 13
2.8 Karakterisasi Hasil Sintesis Senyawa Kompleks ............... 14
2.8.1 Spektroskopi UV-Vis ............................................... 14
2.8.2 Spektroskopi inframerah .......................................... 17
2.8.3 Analisis kemagnetan senyawa kompleks .................. 19
2.8.4 Analisis secara konduktometri .................................. 20

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................. 22


3.1 Pelaksanaan Penelitian ....................................................... 22
3.2 Bahan dan Peralatan Penelitian .......................................... 22
3.2.1 Bahan penelitian ....................................................... 22
3.2.2 Peralatan penelitian .................................................. 22
3.3 Diagram Alir Penelitian ...................................................... 23
3.4 Prosedur Penelitian ............................................................. 24

ix

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

3.4.1Pembuatan larutan Mn(II) 10-2 M ............................ 24


3.4.2Pembuatan larutan 2,2-bipiridin 10-2 M ................. 24
3.4.3Pembuatan larutan oksalat 10-2 M ........................... 24
3.4.4Penentuan panjang gelombang maksimum ( maks)
larutan Mn(II) 10-2 M .............................................. 24
3.4.5 Penentuan panjang gelombang maksimum ( maks)
larutan 2,2-bipiridin 10-2 M .................................... 25
3.4.6 Penentuan panjang gelombang maksimum ( maks)
larutan oksalat10-2 M ............................................... 25
3.4.7 Penentuan stoikiometri Mn(II) : bipy ...................... 25
3.4.8 Penentuan stoikiometri Mn(II) : bipy : oksalat ........ 26
3.5 Sintesis Senyawa Kompleks ............................................... 27
3.5.1 Sintesis senyawa kompleks inti tunggal .................. 27
3.5.2 Sintesis senyawa kompleks inti ganda .................... 28
3.6 Prosedur Karakterisasi ........................................................ 29
3.6.1 Spektroskopi UV-Vis .............................................. 29
3.6.2 Spektroskopi FT-IR ................................................. 29
3.6.3 Analisis kemagnetan ................................................ 29
3.6.4 Analisis daya hantar listrik ...................................... 29

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................... 31


4.1 Penentuan stoikiometri senyawa kompleks inti tunggal ... 31
4.2 Sintesis senyawa kompleks inti tunggal .............................. 33
4.3 Penentuan stoikiometri senyawa kompleks inti ganda ....... 34
4.4 Sintesis senyawa kompleks inti ganda ................................ 35
4.5 Karakterisasi senyawa kompleks inti tunggal
dan inti ganda ..................................................................... 37
4.5.1 Analisis spektra senyawa kompleks inti tunggal dan
inti ganda menggunakan spektrofotometer UV-Vis .. 37
4.5.2 Analisis spektra senyawa kompleks inti tunggal dan
inti ganda menggunakan spektrofotometer FT-IR ... 40
4.5.3 Analisis kemagnetan senyawa kompleks inti tunggal
dan inti ganda menggunakan MSB ........................... 43
4.5.4 Analisis muatan senyawa kompleks inti tunggal dan
inti ganda menggunakan konduktometer .................. 46
4.6 Aplikasi material magnetik berbasis senyawa kompleks inti
ganda ................................................................................... 47

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................. 48


5.1 Kesimpulan ......................................................................... 48
5.2 Saran ................................................................................... 49

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 50


LAMPIRAN

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

DAFTAR TABEL

Tabel Judul Tabel Halaman

2.1 Spektrum cahaya tampak dan warna-warna 17


komplementer

3.1 Penambahan larutan 2,2-bipiridin 10-2 M ke 26


dalam larutan Mn(II) 10-2 M dengan metode
perbandingan mol

3.2 Penambahan larutan oksalat 10-2 M secara 27


bertahap ke dalam larutan Mn(II) 10-2 M dan
larutan 2,2-bipiridin 10-2 M dengan metode
perbandingan mol

4.1 Panjang gelombang senyawa kompleks inti 37


tunggal dan inti ganda hasil sintesis

4.2 Hasil momen magnet kristal senyawa kompleks 43


inti tunggal dan inti ganda hasil sintesis

4.3 Data hantaran molar senyawa kompleks inti 46


tunggal dan inti ganda hasil sintesis

xi

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Gambar Halaman

2.1 Struktur 2,2-bipiridin 7

2.2 Struktur ion oksalat 8

2.3 Pembentukan senyawa kompleks [Mn(H2O)6]2+ 10

2.4 Pemisahan orbital 3d pada Co3+ sebagai medan 12


kuat dan medan lemah

2.5 Diagram orbital molekul pada senyawa kompleks 14


dengan struktur ruang oktahedral

2.6 Spektra Mn-bipy dalam mesopori Al-MCM-41 16

4.1 Grafik perbandingan mol Mn(II) : bipy 32

4.2 Prediksi struktur senyawa kompleks inti tunggal 32

4.3 Kristal senyawa kompleks inti tunggal 33

4.4 Kristal senyawa kompleks inti tunggal dengan 33


perbesaran 600x

4.5 Grafik perbandingan mol Mn(II) : oksalat 34

4.6 Prediksi struktur senyawa kompleks inti ganda 35

4.7 Kristal senyawa kompleks inti ganda 36

4.8 Kristal senyawa kompleks inti ganda dengan 36


perbesaran 600x

4.9 Spektra UV-Vis senyawa kompleks inti tunggal 37

4.10 Spektra UV-Vis senyawa kompleks inti ganda 38

4.11 Absortivitas molar pada Mn(II) 39

4.12 Spektra IR senyawa kompleks inti tunggal dan inti 40


ganda

xii

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

4.13 Spektra IR senyawa kompleks inti tunggal 41

4.14 Spektra IR senyawa kompleks inti ganda 42

4.15 Pembentukan senyawa kompleks inti tunggal 44

4.16 Pembentukan senyawa kompleks inti ganda 45

xiii

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Judul Lampiran

1.1 Spektra UV-Vis MnCl2.4H2O

1.2 Spektra UV-Vis garam MnCl2.4H2O secara kualitatif

1.3 Spektra UV-Vis 2,2-bipiridin

1.4 Spektra UV-Vis amonium oksalat

1.5 Spektra UV-Vis senyawa kompleks inti tunggal

1.6 Spektra UV-Vis senyawa kompleks inti ganda

2.1 Spektra FT-IR senyawa kompleks inti tunggal

2.2 Spektra FT-IR senyawa kompleks inti ganda

2.3 Spektra FT-IR 2,2-bipiridin

2.4 Spektra FT-IR amonium oksalat

2.5 Spektra FT-IR MnCl2.4H2O

3 Penentuan sifat kemagnetan senyawa kompleks hasil sintesis

4 Penentuan stoikiometri senyawa kompleks inti tunggal dan inti


ganda

xiv

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Saat ini perkembangan material magnetik sudah mengarah pada senyawa

magnetik berbasis senyawa kompleks, seperti senyawa kompleks inti ganda.

Material magnetik ini berkembang dengan pesat karena kebutuhan teknologi yang

semakin meningkat setiap tahunnya. Aplikasi material magnetik berbasis senyawa

kompleks telah terbukti dapat diaplikasikan sebagai sumber energi, bahan

penyimpan data dan pengeras suara radio (Setiawan, 2008).

Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari atom pusat

dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan pasangan elektron bebas

kepada atom pusat (House, 2008). Senyawa kompleks juga dapat dikatakan

sebagai kombinasi dari asam Lewis, yaitu atom pusat dengan sejumlah basa

Lewis, yaitu ligan (Atkins, dkk., 2010).

Syarat utama senyawa kompleks yang dapat diaplikasikan sebagai material

magnetik adalah harus memiliki sifat kemagnetan yang baik. Logam Mn

merupakan logam transisi yang bertindak sebagai atom pusat penerima pasangan

elektron. Logam Mn, dengan konfigurasi [Ar]3d54s2, mempunyai kemampuan

untuk melakukan transisi elektron. Selain itu, adanya elektron yang tidak

berpasangan pada orbital d akan memberikan sifat magnetik pada senyawa yang

terbentuk. Berdasarkan hal tersebut, dapat dianalisis bahwa logam transisi

merupakan pilihan yang tepat sebagai atom pusat dalam pembentukan senyawa

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

kompleks. Khususnya logam Mn yang memiliki nilai momen magnet yang cukup

besar yaitu 5,92 BM (Bohr Magneton) (Housecroft dan Sharpe, 2005).

Ligan 2,2-bipiridin dapat bertindak sebagai donor pasangan elektron dan

merupakan ligan bidentat, yaitu ligan yang dapat menyumbangkan dua pasang

elektron. Ligan ini termasuk ligan yang memiliki kerapatan elektron yang tinggi

sehingga dapat meningkatkan sifat kemagnetikkan senyawa kompleks. Ligan ini

sangat menarik karena digunakan sebagai pengkelat yang mengelilingi atom pusat

(Palanisami dan Murugavel, 2011). Sementara itu, ligan oksalat merupakan ligan

jembatan yang dapat bertindak sebagai mediator interaksi magnetik antar ion

logam yang dihubungkan (Reinoso, dkk., 2005). Selain itu, ligan ini murah dan

mudah diperoleh, sehingga potensial dijadikan sebagai ligan jembatan dalam

pembentukan senyawa kompleks inti ganda.

Berdasarkan uraian diatas, maka pada penelitian ini akan dilakukan

sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks inti ganda yang mempunyai potensial

sebagai material magnetik dengan menggunakan logam Mn, ligan 2,2-bipiridin

serta ligan jembatan oksalat.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat

dirumuskan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana cara mensintesis senyawa kompleks inti ganda Mn(II)-2,2-

bipiridin dengan ligan jembatan oksalat?

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

2. Bagaimana karakterisasi senyawa kompleks inti ganda Mn(II)-2,2-

bipiridin dengan ligan jembatan oksalat?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mempelajari cara mensintesis senyawa kompleks inti ganda Mn(II)-2,2-

bipiridin dengan ligan jembatan oksalat.

2. Karakterisasi senyawa kompleks inti ganda Mn(II)-2,2-bipiridin dengan

ligan jembatan oksalat.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi ilmiah tentang sintesis

dan karakterisasi senyawa kompleks inti ganda Mn(II)-2,2-bipiridin dengan ligan

jembatan oksalat yang dapat digunakan sebagai material magnetik. Selain itu,

diharapkan juga dapat menambah kajian tentang senyawa kompleks inti ganda

dengan menggunakan ligan jembatan menjadi lebih berkembang.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Magnetik

Perkembangan menarik dari molekul baru berdasarkan penelitian material

magnetik terletak pada hubungan struktur magnetik dan material kompleks

multidimensi (Nemec, dkk., 2011). Jenis material magnetik yang didasarkan pada

respon terhadap medan magnet dan interaksi antar-atom meliputi diamagnetik,

paramagnetik, dan feromagnetik. Saat ini, sudah banyak dikembangkan material

magnetik berbasis senyawa kompleks. Senyawa kompleks sangat populer diantara

kalangan kimiawan dan fisikawan, karena mempelajari fenomena fisika yang

berhubungan dengan kemagnetan (Kocanova, dkk., 2010). Desain material

multifungsi baru merupakan medan perubahan bagi penelitian yang berkembang

pada kimia molekuler, material kimia dan fisika. Sebagai contohnya, kompleks

bipiridin dan fenantrolin yang secara umum digunakan dengan variasi logam

transisi (Lehleh, dkk., 2011).

Salah satu aplikasi material magnetik yang banyak digunakan dalam

kehidupan adalah hard disk drive (HDD). Pada penyimpanan informasi digital,

HDD memegang peranan penting diantaranya sebagai memori dan media

penyimpan data. Pada dekade terakhir, HDD tidak hanya terdapat pada komputer,

tetapi juga terdapat pada media elektronik lain. Suksesnya teknologi HDD karena

kapasitas penyimpanan yang besar dan ditawarkan dengan harga yang murah

(Piramanayagam dan Chong, 2012).

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

2.2 Senyawa Kompleks

Dalam kimia koordinasi, dikenal istilah kompleks yang berarti atom pusat

(logam) atau ion pusat yang dikelilingi oleh ligan (Atkins, dkk., 2010). Ligan

adalah molekul netral atau ion yang memiliki sepasang elektron bebas yang

digunakan untuk membentuk ikatan dengan logam. Ikatan antara logam dengan

ligan dapat dikatakan sebagai interaksi antara basa Lewis (ligan) dan asam Lewis

(logam), sehingga menghasilkan ikatan kovalen koordinasi (Zumdahl dan

Zumdahl, 2007). Senyawa kompleks terbentuk karena adanya ikatan antara atom

pusat (logam) yang berperan sebagai akseptor pasangan elektron dengan ligan

sebagai donor pasangan elektron (Effendy, 2007).

Secara umum, logam transisi banyak digunakan sebagai atom pusat karena

memiliki orbital d yang elektronnya tidak terisi penuh, sehingga logam transisi

cenderung untuk membentuk ion kompleks. Sementara itu, ligan dalam berikatan

dengan ion pusat (logam) tergantung pada jumlah pasangan elektron bebas yang

didonorkan pada ion pusat (logam). Ligan yang hanya mendonorkan sepasang

elektron bebas disebut ligan monodentat, seperti H2O dan NH3, sedangkan ligan

yang mendonorkan dua pasang elektron bebas disebut ligan bidentat, seperti

etilendiamin, NH2CH2CH2NH2 (Chang, 2002).

Aplikasi senyawa kompleks sangatlah banyak dalam kehidupan. Sebagai

contohnya adalah senyawa kompleks dengan rumus molekul [M3(-O)(-

O2CR)6(L)3]0(+1) memberikan sifat kemagnetan yang sangat tinggi, dimana M =

Mn(II), Mn(III), Fe(III), Cr(III), dan R = metil, fenil, serta L = piridin, fenantrolin

dan sebagainya (Jitaru, dkk., 2007). Selain itu, kompleks mangan berperan

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

penting dalam sistem oksidasi reduksi biologi pada fotosistem II (Kaizaki, dkk.,

2009). Penelitian tentang senyawa kompleks cisplatin yang merupakan obat

antikanker berperan penting dalam bidang kesehatan (Chang, dkk., 2011).

2.3 Mangan

Mangan pertama kali ditemukan oleh Johann Gahn pada tahun 1774

kebangsaan Swedia. Mangan merupakan salah satu unsur dari logam transisi yang

mempunyai nomor atom 25 dengan konfigurasi elektronnya adalah (Ar) 3d5 4s2.

Dalam keadaan murni, logam mangan berwarna putih seperti perak, sangat keras,

tetapi mudah patah. Mangan dapat berada pada semua tingkat oksidasi, yaitu +2

sampai dengan +7 (Zumdahl dan Zumdahl, 2007).

Semua senyawa mangan(II) yang mempunyai spin tinggi menunjukkan

sifat yang sangat stabil. Kestabilan mangan(II) dalam keadaan spin tinggi

ditunjukkan oleh variasi kestabilan senyawa yang terbentuk. Sebagai contoh

adalah [Mn(H2O)6]2+ yang mempunyai warna merah muda (Mackay, dkk., 2002).

Kation mangan(II) berasal dari mangan(II) oksida membentuk garam-garam yang

kurang berwarna. Jika senyawa tersebut mengandung air pada pengkristalannya,

maka larutannya berwarna agak merah muda. Hal ini disebabkan oleh adanya ion

heksaakuomanganat(II) yaitu [Mn(H2O)6]2+ (Svehla, 1996).

Senyawa mangan yang paling umum digunakan dalam penelitian adalah

MnCl2.4H2O. Menurut Material Safety Data Sheet (MSDS), MnCl2.4H2O dengan

berat molekul 197,9 g/mol merupakan senyawa yang berbentuk padatan, berwarna

merah muda (pink), larut dalam air dingin, stabil, mempunyai titik didih 1190oC,

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

titik leleh 58oC, dan mempunyai toksisitas yang rendah sehingga aman digunakan

dalam penelitian (Svehla, 1996).

2.4 Ligan 2,2-bipiridin

Ligan 2,2-bipiridin merupakan ligan senyawa organik dengan rumus

molekul (C10H8N2). Ligan 2,2-bipiridin termasuk ligan bidentat, yaitu ligan yang

dapat menyumbangkan dua pasang elektron bebas ke ion pusat. Umumnya, ligan

ini sering disingkat dengan bipy. Ligan 2,2-bipiridin berfungsi sebagai ligan

pengkelat dalam mengikat logam (Chang, dkk., 2011). Adapun struktur molekul

ligan 2,2-bipiridin tertera pada Gambar 2.1.

N N

Gambar 2.1 Struktur 2,2-bipiridin

2.5 Ligan Oksalat

Ligan oksalat merupakan salah satu ligan jembatan yang menghubungkan

dua atom pusat untuk membentuk senyawa kompleks inti ganda. Ligan oksalat

banyak digunakan dalam penelitian karena murah dan mudah diperoleh. Selain

itu, ion oksalat dapat menghasilkan senyawa kompleks multidimensi (Elmila dan

Martak, 2011). Ion oksalat termasuk ligan yang istimewa karena mampu

membentuk senyawa kompleks dengan berbagai ion logam transisi menghasilkan

senyawa dengan sifat dan karakter yang bervariasi (Kurnia, dkk., 2006). Adapun

struktur ion oksalat tertera pada Gambar 2.2.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Gambar 2.2 Struktur ion oksalat

Ligan oksalat merupakan logam yang paling aktif digunakan untuk


untuk mendapatkan

material magnetik yang tinggi. Sebagai contohnya adalah senyawa kompleks inti

ganda [N(C4H9)4[MnIIFeIII(ox)3] yang mempunyai momen magnet sebesar 7,81

BM (Putri dan Martak, 2010) dan [N(C4H9)4[MnCr(ox)3] mempunyai momen

magnet sebesar 7,51 BM (Elmila dan Martak, 2011).

2.6 Senyawa Kompleks Inti Ganda

Senyawa kompleks inti ganda merupakan senyawa yang mempuny


mempunyai ion

pusat lebih dari satu, antara ion pusat yang satu dengan ion pusat yang lain

dihubungkan oleh ligan jembatan. Senyawa kompleks inti ganda diperoleh dari

pengembangan senyawa kompleks tunggal. Senyawa kompleks tunggal dapat

disintesis dengan cara menggabungkan logam (M) dengan ligan bebas (L),

sehingga dapat digunakan sebagai senyawa awal dalam pembuatan senyawa

kompleks inti ganda..

M + nL M(L)n

Berdasarkan hal tersebut, dengan mengganti satu atau lebih ligan (L) dengan

gugus jembatan dan menggabungkannya dengan senyawa kompleks tunggal yang

lain akan membentuk senyawa kompleks inti ganda.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Pembentukan senyawa kompleks inti ganda lazim menggunakan ligan

jembatan sebagai mediator interaksi magnetik diantara ion logam transisi pusat

dengan ion logam transisi yang lainnya (Elmila dan Martak, 2011). Penelitian

sebelumnya, telah mensintesis senyawa kompleks inti ganda [(bipy)2MnII(-

C2H5CO2)2-MnII(bipy)2](ClO4)2. Dalam hal ini, dua Mn(II) dengan masing-

masing dua ligan 2,2-bipiridin dijembatani oleh dua ligan karboksilat (Zhang dan

Janiak, 2001).

Cara mensintesis senyawa kompleks inti ganda adalah berdasarkan jenis

atom atau ion logamnya, yaitu senyawa kompleks homologam dan senyawa

kompleks heterologam. Senyawa kompleks homologam merupakan senyawa

kompleks yang atom atau ion pusatnya sejenis, sebagai contohnya adalah

[(bipy)2MnII(-C2H5CO2)2-MnII(bipy)2](ClO4)2 (Zhang dan Janiak, 2001).

Sementara itu, senyawa kompleks heterologam merupakan senyawa kompleks

yang atom atau ion pusatnya tidak sejenis, sebagai contohnya adalah

[N(C4H9)4[MnCr(ox)3] (Elmila dan Martak, 2011) dan [N(C4H9)4[MnIIFeIII(ox)3]

(Putri dan Martak, 2010). Sintesis senyawa kompleks inti ganda dapat dilakukan

dengan menggunakan metode perbandingan mol atom pusat dengan ligan

(Balzani, dkk., 1996).

2.7 Teori Pembentukan Senyawa Kompleks

Dalam pembentukan senyawa kompleks terdapat tiga teori yaitu, teori

ikatan valensi (Valence Bond Theory), teori medan kristal (Crystal Field Theory)

dan teori orbital molekul (Molecular Orbital Theory).

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

10

2.7.1 Teori ikatan valensi

Teori ikatan valensi dikemukakan oleh Linus Pauling. Teori ini

menyatakan jumlah orbital pada atom atau ion pusat sama dengan jumlah ligan

sehingga menghasilkan ikatan kovalen kompleks antara ion pusat dan orbital

ligan. Tumpang tindih antara orbital ion pusat dan orbital ligan yang

menghasilkan ikatan kovalen yang kuat (Huheey, dkk., 1993) sehingga

menghasilkan hibridisasi membentuk orbital baru yang disebut orbital hibrida.

Orbital hibrida mempunyai sifat yang berbeda dengan orbital ion pusat dan orbital

ligan yang lama. Pembentukan orbital hibrida menunjukkan struktur ruang

senyawa kompleks.

Sebagai contoh pada ion kompleks [Mn(H2O)6]2+, pembentukan ikatan

hibrida membentuk orbital hibrida baru dapat dijelaskan pada Gambar 2.3.

25Mn = [Ar] 3d5 4s2


Mn pada keadaan dasar

3d 4s 4p

Mn2+ keadaan dasar


3d 4s 4p

[Mn(H2O)6]2+

xx xx xx xx xx xx
3d 4s 4p 4d

sp3d2

Gambar 2.3 Pembentukan senyawa kompleks [Mn(H2O)6]2+

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

11

Pada saat keadaan tereksitasi, Mn2+ berikatan dengan enam ligan H2O membentuk

[Mn(H2O)6]2+ yang mempunyai lima elektron yang tidak berpasangan. Senyawa

kompleks [Mn(H2O)6]2+ disebut sebagai senyawa kompleks orbital luar (outer

orbital complex) karena orbital yang ditempati oleh semua pasangan elektron

bebas ligan adalah orbital d yang luar. Selain itu, [Mn(H2O)6]2+ disebut sebagai

senyawa kompleks spin tinggi (high spin) karena tedapat elektron yang tidak

berpasangan (Muryanti, 2001).

2.7.2 Teori medan kristal

Teori medan kristal dikemukakan oleh Hans Bethe dan John Van Vleck

pada tahun 1930. Teori ini mengasumsikan bahwa interaksi logam-ligan terjadi

pada tingkat yang berbeda. Oleh sebab itu, sebuah kompleks akan relatif

distabilkan dalam ion bebas karena tarik-menarik antara muatan negatif ligan dan

muatan positif logam (Janes dan Moore, 2004). Hal ini merupakan model

elektrostatik dan menggunakan elektron ligan untuk membuat sebuah medan

listrik disekitar logam pusat (Housecroft dan Sharpe, 2005). Pengaruh medan

listrik ligan, terutama pada elektron orbital d ion pusat menyebutkan tingkat

energi orbital d bertambah dan akhirnya terpisah dengan energi yang tidak sama.

Pemisahan kelima orbital d ion pusat disebut medan kristal (Huheey, dkk., 1993).

Pada pemisahan orbital 3d, energi (disimbolkan ) yang menjelaskan

warna dan sifat magnetik ion kompleks pada baris pertama ion logam transisi.

Sebagai contohnya adalah [Co(NH3)6]3+ dalam medan kuat dan [CoF6]3- dalam

medan lemah tertera pada Gambar 2.4.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

12

eg

eg

E besar
kecil
E


t2g t2g
Medan kuat Medan lemah
3+
Gambar 2.4 Pemisahan orbital 3d pada Co sebagai medan kuat dan medan lemah
(Zumdahl dan Zumdahl, 2007)

Jika pemisahan dihasilkan oleh ligan yang sangat besar atau kuat (medan

kuat), maka elektron akan berpasangan pada energi yang lebih rendah dalam

orbital t2g (low spin), sehingga menghasilkan kompleks diamagnetik. Disamping

itu, jika pemisahan dihasilkan oleh ligan yang kecil atau lemah (medan lemah),

elektron akan mengisi kelima orbital sebelum berpasang-pasangan (high spin),

sehingga menghasilkan kompleks yang memiliki elektron yang tidak berpasangan

disebut sebagai paramagnetik (Zumdahl dan Zumdahl, 2007).

Pada pemisahan orbital 3d, orbital eg mengalami peningkatan energi

sedangkan orbital t2g mengalami penurunan energi, sehingga antara kedua orbital

tersebut terdapat perbedaan energi. Perbedaan energi dilambangkan dengan

yang harganya 10 Dq yang disebut sebagai energi stabilisasi medan kristal atau

CFSE (Crystal Field Stabilization Energy). Setiap elektron pada t2g mempunyai

energi sebesar -4 Dq sedangkan pada eg mempunyai elektron sebesar +6 Dq.

Pemisahan kelima orbital d disebabkan adanya pengaruh medan ligan (Muryanti,

2001).

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

13

Ligan-ligan yang berbeda akan menghasilkan kekuatan medan kristal yang

berbeda pula. Sebagai contoh adalah kekuatan medan kristal atau harga 10 Dq

untuk ion-ion kompleks [CrCl6]3-, [Cr(NH3)6]3+ dan [Cr(CN)6]3-. Harga 10 Dq

untuk ion-ion kompleks tersebut secara berturut-turut adalah adalah 163 kJ/mol,

259 kJ/mol, dan 314 kJ/mol. Hal ini disebabkan kekuatan ligan CN- > NH3 > Cl-.

Oleh sebab itu, Fajans dan Tsuchida berhasil membuat urutan relatif kekuatan

beberapa ligan yang disebut dengan deret spektrokimia atau deret Fajans-Tsuchida

(Effendy, 2007).

I- < Br- < S2- < SCN- < Cl- < NO3- < F- < urea - OH- < ox2- - O2- < H2O

< NCS- < CH3CN < NH3 - py < en < bipy phen < NO2- < fosfina < C6H5- <

CN- < CO

2.7.3 Teori orbital molekul

Teori orbital molekul menunjukkan kombinasi atau gabungan dari orbital

logam dengan orbital ligan membentuk orbital molekul (Janes dan Moore, 2004).

Ikatan yang terbentuk pada teori orbital molekul ini merupakan ikatan kovalen

(Zumdahl dan Zumdahl, 2007). Untuk senyawa kompleks dengan struktur ruang

oktahedral, orbital molekul dapat dikatakan sebagai hasil dari penggabungan atom

pusat yang menerima sepasang elektron dari setiap enam donor ligan (Miessler

dan Tarr, 2003). Diagram orbital molekul pada senyawa kompleks dengan

struktur ruang oktahedral tertera pada Gambar 2.5.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

14

Orbital logam Orbital molekul Orbital ligan

Gambar 2.5 Diagram orbital molekul pada senyawa kompleks dengan struktur
ruang oktahedral (Lawrance, 2010)

Dengan ketentuan : E = tingkatan energi orbital s, p, d


= perbedaan energi pemisahan orbital d (10 Dq)
A1g
T1u orbital bonding
Eg
A1g*
T1u * orbital antibonding
Eg*

2.8 Karakterisasi Hasil Sintesis Senyawa Kompleks

2.8.1 Spektroskopi UV-Vis

Absorpsi atom atau molekul (M) di daerah ultraviolet dan sinar tampak

dibedakan menjadi proses dua tahap. Tahap pertama melibatkan eksitasi

elektronik yang ditunjukkan sebagai berikut.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

15

M + M

Produk absorpsi oleh energi foton (hv) pada molekul (M) merupakan molekul

tereksitasi yang disimbolkan oleh M . Tahap kedua merupakaan proses relaksasi

yang melibatkan konversi energi eksitasi menjadi panas (Skoog, dkk., 2007).

M M + heat

Absorpsi sinar UV-Vis untuk kompleks logam-ligan anorganik adalah

perpindahan muatan, dimana absorpsi oleh foton menghasilkan keadaan

tereksitasi yaitu perpindahan elektron dari logam (M) ke ligan (L).

M L + hv M L

Absorpsi perpindahan muatan menghasilkan absorbansi yang besar. Pada absorpsi

perpindahan muatan kemungkinan elektron juga dapat bergerak dari ligan ke ion

logam (Harvey, 2009). Selain transisi d-d, ada juga transisi yang disebabkan oleh

adanya transfer muatan dari logam ke ligan yang disebut Metal Ligand Charge

Transfer (MLCT), dan muatan dari ligan ke logam yang disebut Ligand to Metal

Charge Transfer (LMCT).

Pada umumnya, ion atau kompleks pada deret pertama dan kedua logam

transisi mengabsorpsi radiasi sinar tampak yang menghasilkan pita serapan secara

melebar (Skoog, dkk., 2007). Hal ini disebabkan adanya orbital d yang tidak terisi

penuh. Panjang gelombang pada pita absorbansi maksimum tergantung pada

jumlah elektron pada orbital d, geometri senyawa, dan atom yang berkompleks

dengan logam transisi (Robinson, dkk., 2005). Tetapi tidak semua pita serapan

yang dihasilkan tampak melebar, sebagai contohnya adalah kompleks Mn(II)-bipy

dengan pita serapan yang berbentuk punggung dan hampir tidak menunjukkan

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

16

adanya puncak yang spesifik (Kim, dkk.,


dkk., 1997). Pada Gambar 2.6 merupakan

salah satu contoh spektra kompleks Mn-bipy


Mn bipy dalam mesopori Al
Al-MCM-41.

Dalam hal ini : A = Spektra Al-MCM-41


Al
2+
B = Spektra Al-MCM-41-[MnL
Al 2] (5%)

2+
C = Spektra Al-MCM-41-[MnL
Al 2] (7%)

D = Spektra MnL2(NO3)2

E = Spektra MnL2(NO3)2 yang terimpregnasi silika MCM


MCM-41

Huruf D menunjukkan spektra MnL2(NO3), dengan L adalah 2,2


2,2-bipiridin yang

menggambarkan spektra dari logam Mn dengan ligan 2,2


2,2-bipiridin yang

berbentuk punggung.
Absorbansi

Panjang gelombang (nm)


Gambar 2.6 Spektra Mn-bipy
Mn dalam mesopori Al-MCM-41(Kim,
41(Kim, dkk., 1997)

Banyak ion logam transisi seperti Cu(II) dan Co(II) pada larutan berwarna

dalam air, sehingga ion logam tersebut dapat mengabsorpsi sinar tampak pada

rentang panjang gelombang sesuai pada Tabel 2.1. Ketika suatu zat mengabsorpsi

warna atau panjang gelombang


gelo tertentu pada daerah sinar tampak,, dapat dikatakan

bahwa zat tersebut meneruskan warna komplementernya


komplementernya yang nampak pada mata

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

17

sebagai warna. Adapun spektrum cahaya tampak dengan warna komplementernya

pada berbagai rentang panjang gelombang tertera pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Spektrum cahaya tampak dan warna-warna komplementer (Housecroft


dan Sharpe, 2005).

Panjang Gelombang (nm) Warna Warna komplementer


380 - 430 Violet Kuning
430 - 490 Biru Oranye
490 - 560 Hijau Merah
560 - 580 Kuning Violet
580 - 620 Oranye Biru
620 - 700 Merah Hijau

Selama ligan yang terkompleks pada ion logam menunjukkan ukuran

pemisahan orbital d, perubahan warna pada ligan juga ikut berubah. Kondisi ini

terjadi karena perubahan dalam (energi) menunjukkan perubahan panjang

gelombang dari sinar yang diserap untuk perpindahan elektron antara orbital t2g

dan eg (Zumdahl dan Zumdahl, 2007).

2.8.2 Spektroskopi inframerah

Radiasi inframerah (IR) ditemukan oleh Sir William Herschel pada tahun

1800. Radiasi inframerah merupakan spektrum elektromagnetik yang terletak

diantara daerah tampak dan gelombang mikro. Rentangan daerah inframerah

adalah 4000-400 cm-1. Daerah yang rentangnya mulai 12.800-4000 cm-1 disebut

daerah inframerah dekat, sedangkan daerah yang berkisar antara 700-200 cm-1

merupakan daerah inframerah jauh.

Spektrum inframerah merupakan perubahan energi vibrasi dan energi

rotasi pada suatu molekul. Inti atom yang terikat secara kovalen menimbulkan

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

18

getaran atau vibrasi. Apabila molekul menyerap radiasi inframerah menyebabkan

eksitasi molekul ke tingkat energi vibrasi yang lebih tinggi (Silverstein, dkk.,

2005). Untuk mengabsorpsi radiasi inframerah, maka sebuah molekul harus

mengalami perubahan momen dipol sebagai akibat adanya vibrasi dan rotasi

(Skoog, dkk., 2007).

Pada umumnya, vibrasi molekul yang tereksitasi oleh radiasi inframerah

merupakan vibrasi ulur (streching) dan vibrasi tekuk (bending). Vibrasi ulur

menunjukkan perubahan sepanjang ikatan yang menghasilkan perubahan jarak

antar atom, sedangkan vibrasi tekuk menunjukkan perubahan sudut ikatan antar

atom. Sebuah molekul yang terdiri atas dua atom atau lebih bergabung karena

ikatan kimia, seperti vibrasi atom yang satu dengan yang lainnya (Robinson dkk.,

2005).

Spektrum inframerah kompleks 2,2-bipiridin dan 1,10-fenantrolin pada

logam telah banyak dipelajari. Pada umumnya, pita serapan pada daerah yang

mempunyai frekuensi tinggi, tidak sensitif terhadap logam. Jika senyawa

kompleks mempunyai cincin aromatis atau heterosiklik pada ligan, maka

diutamakan memfokuskan pada daerah frekuensi rendah yang menunjukkan

vibrasi M-N dan logam lain yang sensitif akan terlihat tampak, dengan ketentuan

M adalah logam transisi sedangkan N adalah atom donor pasangan elektron bebas

dari 2,2-bipiridin. Hutchinson dkk., dalam Nakamoto (2009) pertama kali

menerapkan metode ini pada kompleks tris-bipy dengan Fe(II), Ni(II) dan Zn(II)

yang kemudian dilanjutkan dengan logam lain dalam berbagai keadaan oksidasi.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

19

Hasilnya, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang menarik antara vibrasi M-

N dan struktur elektronik ion logam yang dijelaskan sebagai berikut.

1. Pada Cr(III), Cr(II), Cr(I), Cr(0), V(II), V(0), Ti(0), Ti(I), Fe(II) dan Co(III)

yang telah terisi atau sebagian terisi orbital t2g dan orbital eg yang kosong

sehingga akan muncul vibrasi M-N dari logam pada daerah 300-390 cm-1.

Logam tersebut dikelompokkan sebagai kelompok A.

2. Pada Co(II), Co(I), Co(0), Mn(II), Mn(0), Mn(I), Ni(II), Cu(II), dan Zn(II)

telah terisi atau sebagian terisi orbital eg. Vibrasi M-N pada logam ini berada

pada daerah 180-290 cm-1, sehingga disebut kelompok B.

3. Tidak terlihat perubahan frekuensi yang tajam pada Cr(III)-Cr(0) dan Co(II)-

Co(0), meskipun penurunan tajam pada frekuensi telah diamati dari Co(III) ke

Co(II) (Nakamoto, 2009).

2.8.3 Analisis kemagnetan senyawa kompleks

Sifat kemagnetan senyawa kompleks dapat diketahui dari jumlah elektron

yang tidak berpasangan dalam suatu orbital molekul. Senyawa yang elektronnya

berpasangan bersifat diamagnetik yaitu ditolak oleh medan magnet, sedangkan

senyawa yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan bersifat

paramagnetik, yaitu ditarik oleh medan magnet (Atkins, dkk., 2010). Pengukuran

sifat kemagnetan ini disebut magnetic susceptibility (Miessler dan Tarr, 2003).

Untuk menghitung besarnya momen magnet suatu senyawa kompleks dapat

menggunakan alat Magnetic Susceptibility Balance (MSB). Adapun rumus yang

digunakan adalah sebagai berikut.

( )
Xg = (2.1)

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

20

Dalam hal ini : Cbalance = 1

l = panjang sampel (cm)

R = nilai tabung dan sampel yang terbaca

R0 = nilai tabung kosong yang terbaca

m = massa sampel (gram)

Xg = momen massa

Nilai yang diperoleh dari persamaan di atas dikonversi menjadi momen magnet

menggunakan rumus sebagai berikut.

Xm = Xg Mr (2.2)

= 2,82 Xm T (2.3)

Dengan ketentuan : = momen magnet (BM = Bohr Magneton)

Mr = massa molekul relatif sampel (g mol-1)

T = suhu (K)

Xm = momen molar

2.8.4 Analisis secara konduktometri

Konduktansi (hantaran) yang disimbolkan dengan G yang merupakan

kebalikan dari tahanan/resistant (R) yang bersatuan ohm-1. Konduktivitas larutan

elektrolit pada setiap temperatur hanya bergantung pada ion-ion yang ada dan

konsentrasi ion-ion tersebut. Bila larutan suatu elektrolit diencerkan,

konduktivitas akan turun karena lebih sedikit ion berada per cm3 larutan untuk

membawa arus. Jika semua larutan itu diletakkan antara dua elektrode yang

terpisah 1 cm satu sama lain dan cukup besar untuk mencakup seluruh larutan,

konduktansi akan naik selagi larutan diencerkan. Ini sebagian besar disebabkan

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

21

oleh berkurangnya efek-efek antar ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat dan oleh

kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah.

Penambahan suatu elektrolit pada suatu larutan elektrolit lain pada kondisi

yang tidak menghasilkan perubahan volume yang berarti akan mempengaruhi

konduktansi (hantaran) larutan, tergantung apakah ada atau tidak terjadi reaksi

ionik. Jika tidak terjadi reaksi ionik, seperti pada penambahan satu garam

sederhana pada garam sederhana lain (misalnya, kalium klorida pada natrium

nitrat), konduktansi hanya semata-mata akan naik. Jika terjadi reaksi ionik,

konduktansi dapat naik atau turun, begitulah pada saat penambahan suatu basa

pada suatu asam kuat, hantaran turun disebabkan oleh penggantian ion hidrogen

yang konduktivitasnya tinggi oleh kation lain yang konduktivitasnya rendah

(Basset, dkk., 1994).

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian Departemen Kimia

Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga Surabaya, mulai bulan

Februari sampai dengan Juli 2012.

3.2 Bahan dan Peralatan Penelitian

3.2.1 Bahan penelitian

Bahan-bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini memiliki derajat

kemurnian pro analysis (p.a) meliputi Mn(II) klorida tetrahidrat, 2,2-bipiridin,

amonium oksalat, metanol, dan akuabides.

3.2.2 Peralatan penelitian

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah

spektrofotometer Shimadzu UV-1800, spektrofotometer Inframerah Jasco FT-IR

5300, konduktometer, Magnetic Susceptibility Balance Sherwood Scientific

(MSB), timbangan analitis Mettler AE 200, oven, kertas saring, mortar, serta

peralatan gelas yang biasa digunakan dalam laboratorium.

22

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

23

3.3 Diagram Alir Penelitian

Pembuatan larutan :
Mn(II) 10-2 M
2,2-bipiridin 10-2 M
Oksalat 10-2 M

Penentuan panjang gelombang maksimum :


Mn(II) 10-2 M
2,2-bipiridin 10-2 M
Oksalat 10-2 M

Penentuan stoikiometri Penentuan stoikiometri


Mn(II) : bipy Mn(II) : bipy : oksalat
(metode perbandingan mol) (metode perbandingan mol)

Sintesis senyawa
kompleks

Sintesis senyawa Sintesis senyawa


kompleks inti tunggal kompleks inti ganda

Analisis menggunakan :
Spektrofotometer UV-Vis
Spektrofotometer FT-IR
Magnetic Susceptibility Balance (MSB)
Konduktometer

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

24

3.4 Prosedur Penelitian

3.4.1 Pembuatan larutan Mn(II) 10-2 M

Garam mangan klorida tetrahidrat (MnCl2.4H2O) ditimbang dengan tepat

sebanyak 0,1979 gram, kemudian dilarutkan dengan akuabides dalam gelas beker

100 ml. Setelah semua larut, larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml dan

diencerkan dengan akuabides hingga tanda batas. Setelah itu, larutan

dihomogenkan.

3.4.2 Pembuatan larutan 2,2-bipiridin 10-2 M

Senyawa 2,2-bipiridin (C10H8N2) ditimbang dengan tepat sebanyak

0,1560 gram, kemudian dilarutkan dengan akuabides dalam gelas beker 100 ml.

Setelah semua larut, larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml dan

diencerkan dengan akuabides hingga tanda batas. Setelah itu, larutan

dihomogenkan.

3.4.3 Pembuatan larutan oksalat 10-2 M

Amonium oksalat (NH4)2C2O4 ditimbang dengan tepat sebanyak 0,1240

gram, kemudian dilarutkan dengan akuabides dalam gelas beker 100 ml. Setelah

semua larut, larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml dan diencerkan

dengan akuabides hingga tanda batas. Setelah itu, larutan dihomogenkan.

3.4.4 Penentuan panjang gelombang maksimum ( maks) larutan Mn(II)


10-2 M

Larutan Mn(II) 10-2 M dimasukkan ke dalam kuvet, kemudian diukur

panjang gelombang maksimumnya dengan rentang panjang gelombang 200-380

nm.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

25

3.4.5 Penentuan panjang gelombang maksimum ( maks) larutan


2,2-bipiridin 10-2 M

Larutan 2,2-bipiridin 10-2 M dimasukkan ke dalam kuvet, kemudian

diukur panjang gelombang maksimumnya dengan rentang panjang gelombang

200-380 nm.

3.4.6 Penentuan panjang gelombang maksimum ( maks) larutan oksalat


10-2 M

Larutan oksalat 10-2 M dimasukkan ke dalam kuvet, kemudian diukur

panjang gelombang maksimumnya dengan rentang panjang gelombang 200-380

nm.

3.4.7 Penentuan stoikiometri Mn(II) : bipy

Penentuan stoikiometri Mn(II) : bipy dilakukan dengan menggunakan

metode perbandingan mol yaitu membuat enam larutan dari larutan Mn(II) 10-2 M

dan larutan 2,2-bipiridin 10-2 M dengan perbandingan volume sesuai Tabel 3.1.

Larutan Mn(II) 10-2 M dengan volume tertentu dimasukkan ke dalam labu ukur 5

ml, kemudian ditambahkan secara bertahap larutan 2,2-bipiridin 10-2 M.

Selanjutnya, larutan tersebut diencerkan menggunakan akuabides hingga tanda

batas. Adapun penambahan larutan 2,2-bipiridin 10-2 M ke dalam larutan Mn(II)

10-2 M dengan metode perbandingan mol tertera pada Tabel 3.1.

Pada setiap penambahan larutan 2,2-bipiridin 10-2 M ke dalam larutan

Mn(II) 10-2 M dilakukan pengukuran serapan di daerah UV-Vis dengan

menggunakan panjang gelombang maksimum senyawa kompleks. Sementara itu,

larutan blanko yang digunakan untuk pengukuran serapan di daerah UV-Vis

adalah akuabides.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

26

Tabel 3.1 Penambahan larutan 2,2-bipiridin 10-2 M ke dalam larutan Mn(II) 10-2
M dengan metode perbandingan mol

Volume larutan (ml)


Larutan ke- Volume total setelah
Mn(II) 2,2-bipiridin
ditambahkan akuabides
1 0,5 0,5 5
2 0,5 1 5
3 0,5 1,25 5
4 0,5 1,5 5
5 0,5 1,75 5
6 0,5 2 5

3.4.8 Penentuan stoikiometri Mn(II) : bipy : oksalat

Penentuan stoikiometri Mn(II) : bipy : oksalat dilakukan dengan

menggunakan metode perbandingan mol yaitu membuat enam larutan dari larutan

Mn(II) 10-2 M, larutan 2,2-bipiridin 10-2 M, dan larutan oksalat 10-2 M dengan

perbandingan volume sesuai Tabel 3.2. Larutan Mn(II) 10-2 M dan larutan 2,2-

bipiridin 10-2 M dengan perbandingan mol 1 : m : n dimasukkan ke dalam labu

ukur 5 ml dengan volume tertentu, kemudian ditambahkan secara bertahap larutan

oksalat 10-2 M dengan volume tertentu juga. Selanjutnya, larutan tersebut

diencerkan menggunakan akuabides hingga tanda batas. Maka, pada perbandingan

mol tertentu Mn(II) : bipy : oksalat menunjukkan kemungkinan terbentuknya

spesi-spesi senyawa kompleks. Adapun penambahan larutan oksalat 10-2 M secara

bertahap ke dalam larutan Mn(II) 10-2 M dan larutan 2,2-bipiridin 10-2 M dengan

metode perbandingan mol tertera pada Tabel 3.2.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

27

Tabel 3.2 Penambahan larutan oksalat 10-2 M secara bertahap ke dalam larutan
Mn(II) 10-2 M dan larutan 2,2-bipiridin 10-2 M dengan metode
perbandingan mol

Volume larutan (ml)


Larutan
ke- Volume total setelah
Mn(II) 2,2-bipiridin Oksalat
ditambahkan akuabides
1 0,1 0,3 0 5
2 0,1 0,3 0,05 5
3 0,1 0,3 0,10 5
4 0,1 0,3 0,15 5
5 0,1 0,3 0,20 5
6 0,1 0,3 0,25 5

Pada setiap penambahan larutan oksalat 10-2 M ke dalam larutan Mn(II)

10-2 M dan larutan 2,2-bipiridin 10-2 M dilakukan pengukuran serapan di daerah

UV-Vis dengan menggunakan panjang gelombang maksimum senyawa kompleks.

Sementara itu, larutan blanko yang digunakan untuk pengukuran serapan di

daerah UV-Vis adalah akuabides.

3.5 Sintesis Senyawa Kompleks

3.5.1 Sintesis senyawa kompleks inti tunggal

Berdasarkan hasil penentuan stoikiometri Mn(II) : bipy pada 3.4.7

diperoleh komposisi yang tepat untuk mensintesis senyawa kompleks inti tunggal

dalam gelas beker 50 ml. Sebanyak 1 mol Mn(II) dari senyawa MnCl2.4H2O dan

3 mol 2,2-bipiridin masing-masing dilarutkan dalam metanol. Kemudian larutan

2,2-bipiridin dituangkan secara perlahan melalui dinding gelas beker Mn(II) agar

terbentuk spesi-spesi senyawa kompleks tunggal. Selanjutnya, larutan senyawa

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

28

kompleks inti tunggal didiamkan selama beberapa hari pada suhu kamar dan

ditutup menggunakan kertas saring agar terbentuk kristal senyawa kompleks

tunggal.

3.5.2 Sintesis senyawa kompleks inti ganda

Berdasarkan hasil penentuan stoikiometri Mn(II) : bipy : oksalat pada

3.4.8 diperoleh komposisi yang tepat untuk mensintesis senyawa kompleks inti

ganda dalam gelas beker 50 ml. Sebanyak 2 mol Mn(II) dari senyawa

MnCl2.4H2O dan 4 mol 2,2-bipiridin masing-masing dilarutkan dalam metanol.

Larutan 2,2-bipiridin dituangkan secara perlahan melalui dinding gelas beker

Mn(II), agar terbentuk spesi-spesi senyawa kompleks inti tunggal yang kemudian

didiamkan beberapa menit agar senyawa kompleks inti tunggal saling bereaksi

sempurna. Sementara itu, sebanyak 1 mol amonium oksalat dilarutkan dalam

akuabides, kemudian larutan ini dituangkan secara perlahan melalui dinding gelas

beker larutan senyawa kompleks tunggal. Selanjutnya larutan ini dipanaskan pada

suhu rendah dan tidak sampai mendidih agar terbentuk spesi-spesi senyawa

kompleks inti ganda. Setelah itu, larutan senyawa kompleks inti ganda didiamkan

beberapa menit dan disaring menggunakan kertas saring. Filtrat senyawa

kompleks inti ganda yang dihasilkan, didiamkan selama 1-2 minggu pada suhu

kamar dengan ditutup menggunakan kertas saring agar terbentuk kristal senyawa

kompleks inti ganda.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

29

3.6 Prosedur Karakterisasi

3.6.1 Spektroskopi UV-Vis

Masing-masing kristal senyawa kompleks hasil sintesis yaitu kristal

senyawa kompleks inti tunggal dan inti ganda dilarutkan dalam akuabides,

kemudian dianalisis spektrumnya dengan panjang gelombang 200-700 nm

menggunakan spektrofotometer Shimadzu UV-1800.

3.6.2 Spektroskopi FT-IR

Masing-masing padatan kristal senyawa kompleks hasil sintesis yaitu

kristal senyawa kompleks inti tunggal dan inti ganda dicampur dengan KBr,

kemudian dibuat pellet. Selanjutnya, diukur serapan inframerahnya pada bilangan

gelombang 4000-300 cm-1 menggunakan spektrofotometer Inframerah Jasco FT-

IR 5300.

3.6.3 Analisis kemagnetan

Masing-masing padatan kristal senyawa kompleks hasil sintesis yaitu

kristal senyawa kompleks inti tunggal dan inti ganda ditumbuk sampai halus

dalam mortar, kemudian dimasukkan ke dalam kuvet MSB sampai homogen.

Masing-masing padatan halus dianalisis momen magnetnya menggunakan

Magnetic Susceptibility Balance (MSB).

3.6.4 Analisis daya hantar listrik

Masing-masing kristal senyawa kompleks hasil sintesis yaitu kristal

senyawa kompleks inti tunggal dan inti ganda dilarutkan dalam akuabides pada

konsentrasi yang sama dengan larutan pembanding. Larutan pembanding yang

digunakan adalah KCl untuk muatan +1, MgCl2.6H2O untuk muatan +2 dan

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

30

FeCl3.6H2O untuk muatan +3, yang masing-masing dibuat dengan konsentrasi

2x10-3 M dalam labu ukur 100 ml. Sebanyak 0,0149 gram KCl, 0,0406 gram

MgCl2.6H2O, dan 0,0541 gram FeCl3.6H2O dilarutkan dalam akuabides pada labu

ukur 100 ml. Sementara itu, pada konsentrasi yang sama dengan larutan

pembanding yaitu 2x10-3 M, ditimbang sebanyak 0,0333 gram kristal senyawa

kompleks inti tunggal dan 0,0589 gram kristal senyawa kompleks inti ganda yang

dilarutkan dengan akuabides pada labu ukur 25 ml.

Dengan membandingkan daya hantar listrik larutan sampel dengan larutan

standar pada konsentrasi yang sama, dapat diketahui muatan ion kompleks yang

memberi dukungan pada rumus molekul senyawa kompleks menggunakan

konduktometer.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai

berikut.

1. Sintesis senyawa kompleks inti ganda Mn(II)-bipiridin menggunakan ligan

jembatan oksalat dilakukan dengan cara mensintesis senyawa kompleks inti

tunggal terlebih dahulu. Sintesis senyawa kompleks inti tunggal diperoleh

berdasarkan perbandingan mol Mn(II) : bipy = 1 : 3, sedangkan senyawa

kompleks inti ganda disintesis berdasarkan perbandingan mol Mn(II) : bipy :

oksalat = 2 : 4 : 1.

2. Karakterisasi senyawa kompleks inti ganda Mn(II)-bipiridin menggunakan

ligan jembatan oksalat meliputi analisis spektroskopi UV-Vis, spektroskopi

FT-IR, analisis kemagnetan menggunakan Magnetic Susceptibility Balance

(MSB) dan konduktometri. Analisis spektroskopi UV-Vis menunjukkan

bahwa panjang gelombang maksimum senyawa kompleks inti ganda terletak

pada panjang gelombang 521 nm. Analisis spektroskopi FT-IR menunjukkan

bahwa ikatan Mn-N pada ligan 2,2-bipiridin terdapat pada daerah bilangan

gelombang 300,9 cm-1, sedangkan ikatan Mn-O pada ligan jembatan oksalat

terletak pada bilangan gelombang 408,91 cm-1. Analisis kemagnetan senyawa

kompleks inti ganda menggunakan MSB menunjukkan harga momen magnet

sebesar 8,2085 BM yang bersifat paramagnetik. Analisis menggunakan

48

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

49

konduktometer menunjukkan bahwa muatan senyawa kompleks inti ganda

adalah +3, sehingga kompleks yang terbentuk diduga mempunyai rumus

[(OH)(bipy)2Mn(C2O4)Mn(bipy)2(OH)]3+.

5.2 Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa saran

untuk perkembangan penelitian senyawa kompleks inti ganda selanjutnya.

1. Penelitian sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks inti ganda perlu

dikembangkan dan diteliti lebih lanjut, terutama menggunakan logam-logam

transisi lain karena aplikasinya untuk material magnetik sangatlah banyak.

2. Untuk dapat memastikan sifat kemagnetan dari senyawa kompleks inti ganda

yang telah disintesis, perlu dilakukan analisis ESR untuk kemagnetan karena

aplikasinya berhubungan dengan material magnetik.

3. Untuk mengetahui struktur dari senyawa kompleks inti ganda yang telah

disintesis, perlu dilakukan analisis difraksi kristal tunggal yang dilanjutkan

dengan XRD kristalografi.

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W., Overton, T.L., Rourke, J.P., Weller, M.T., dan Armstrong, F.A.,
2010, Inorganic Chemistry, Fifth Edition, W.H. Freeman and Company,
New York, hal. 199, 478

Balzani, V., Juris, A., dan Venturi, M., 1996, Luminescent and Redox-Active
Polynuclear Transition Metal Complexes, Chem. Rev, Vol. 96, hal. 759-
833

Basset, J., Denney, R.C., Jeffery, G.H., dan Mendham, J., 1994, Buku Ajar Vogel
Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik, Edisi Keempat, Cetakan Pertama,
Terjemahan oleh L. Setiono dan A. Hadyana P., Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta, hal. 720-723

Chang, T., Shivaji, V.M., Norman, L., Jyun-Wei, J., Yi-Chuan, C., Shu-Chuan, J.,
dan Wen-Shan, L., 2011, Polyuorinated Bipyridine Cisplatins
Manipulate Cytotoxicity Through The Induction of S-G 2 /M Arrest
and Partial Intercalation Mechanism, Bioorganic and Medicinal
Chemistry, Vol. 19, hal. 48874894

Chang, R., 2002, Chemistry, Seventh edition, Mc-Graw Hill Companies, Inc., hal.
878-884

Effendy, 2007, Perspektif Baru Kimia Koordinasi, Jilid 1, Bayu Media


Publishing, Malang, Jatim, hal. 14, 146

Elmila, I., dan Martak, F., 2011, Peningkatan Sifat Magnetik Kompleks
Polimer Oksalat (N(C4H9)4)(MnCr(C2O4)3) dengan Menggunakan
Kation Organik Tetrabutil Amonium, Prosiding Skripsi, SK-091304,
Jurusan Kimia Fakultas MIPA, ITS

Harvey, D., 2009, Analytical Chemistry, Second edition, Mc-Graw Hill


Companies, hal. 559

House, J.E., 2008, Inorganic Chemistry, Elsevier Inc., Canada, hal. 577

Housecroft, C.E., dan Sharpe, A.G., 2005, Inorganic Chemistry, Second edition,
Pearson, Prentice Hall, hal. 539, 557, 581

Huheey J.E., Keiter, E.A., dan Keiter, R.L., 1993. Inorganic Chemistry,
Principles of Structure and Reactivity, Fourth edition, HarperCollins
College Publisher, New York, hal. 391-400

50

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

51

Janes, R., dan Moore, E., 2004, Metal-Ligand Bonding, The Open University,
London, hal. 5, 31, 44

Jianzhong, C., Wei, S., Peng, C., Xufang, C., Daizheng, L., Shipping, Y.,
Zonghui, J., dan Genglin, W., 2003, Synthesis and Magnetic Properties
of One-dimensional Mn(II) Complexes Linked by Dithiooxalato,
Chinese Science Bulletin, Vol. 48, hal 859-861

Jitaru, I., Ungureanu, E., dan Alexandru, M., 2007, Synthesis and
Characterization of new Mn(II,III) and Fe(III) Oxo polynuclear
Complexes, U.P.B. Sci. Bull., Series B, Vol. 69, hal 11-20

Kocanova, I., Kuchar, J., Orendac, M., dan Cernak, J., 2010, Cu-Ni
Heterobimetallic Compounds Part 2 : Study of The System Cu(II)-
bpy-[Ni(CN)4]2- (bpy = 2,2-bipyridine), Polyhedron, Vol. 29, hal. 3372-
3379

Kaizaki, S., Nakahanada, M., Fuyuhiro, A., Ikedo-Urade, M., dan Abe, Y., 2009,
Synthesis, Characterization and Redox Reactivity of L-Tartrato
Bridged Dinuclear Manganese Complex with 2,2-bipyridine,
Inorganica Chimica Acta, Vol. 362, hal. 5117-5121

Kim, S., Zhang, W., dan Pinnavaia, T., 1997, Catalitytic Oxidation of Styrene
by Manganese(II) Bipyridine Complex Cations Immobilized in
Mesoporous Al-MCM-41, Catalysis Letters, Vol. 43, hal. 149-154

Kurnia, K.A., Onggo, D., Patrick, D., dan Stevenson, K.L., 2006, Sintesis
Senyawa Kompleks K[Cr(C2O4)2(H2O)2].2H2O dan [N(n-C4H9)4]
[CrFe(C2O4)3].H2O, Jurnal Kimia Indonesia, Vol. 1, hal. 7-12

Lawrance, G.A., 2010, Introduction to Coordination Chemistry, John Wiley and


Sons Ltd, hal 60, 225

Lehleh, A., Beghidja, A., Beghidja, C., Mentre, O., dan Welter, R., 2011,
Synthesis, Crystal Structure and Thermal Decomposition of Cu(II),
Co(II), Mn(II) Complexes with Hetero-ligands Containing Cysteic
acid, 4,4-dimethyl-2,2-bipyridine and Azide, C. R. Chimie, Vol. 14, hal.
462-470

Mackay, K.M., Mackay, R.A., dan Henderson W., 2002, Introduction to Modern
Inorganic Chemistry, Sixth edition, Nelson Thomes Ltd, Delta Place,
United Kingdom, hal. 323

Martak, F., 2009, Studi Struktur Kompleks Ligan Karboksilat, Desertasi,


Institut Teknologi Bandung

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

52

Miessler, G.L., dan Tarr, D.A., 2003. Inorganic Chemistry, Third edition.
Prentice-Hall, Inc., New Jersey, hal. 339-398

Muryanti, L., 2001, Sintesis Senyawa Koordinasi Mn(II)-2,2Bipiridin dalam


Ruang Interlamelar Monmorilonit, Skripsi, Departemen Kimia Fakultas
MIPA Universitas Airlangga, Surabaya

Nakamoto, K., 2009, Infrared and Raman Spectra of Inorganic and Coordination
Compounds, Sixth edition, John Wiley and Sons, Inc., New Jersey, hal. 29-
31

Nemec, I., Herscel, R., Boca, R., Svoboda, I., Travnicek, Z., Dlhan, L.,
Matelkova, K., dan Fuess, H., 2011, Heterobimetallic Assemblies of
Ni(II) Complexes with a Tetradentate Amine Ligand and Diamagnetic
Cyanidometallates, Inorganica Chimica Acta, Vol. 366, hal. 366-372

Palanisami, N., dan Murugavel, R., 2011, Synthesis, Spectral characterization,


and Single Crystal X-ray Structures of a Series of Manganese-2,2-
bipyridine Complexes Derived from Substituted Aromatic Carboxylic
Acids, Inorganica Chimica Acta, Vol. 365, hal. 430-438

Piramanayagam, S.N., dan Chong, T.C., 2012, Development in Data Storage,


Materials Perspective, John Wiley and Sons, Inc., New Jersey, hal. 97

Putri, S. D., dan Martak, F., 2010, Pengaruh Kation Organik pada Kompleks
Binuklir [A][MnIIFeIII(ox)3], A = [N(n-C4H9)4]+ atau [N(n-C5H11)4]+,
Prosiding Skripsi, SK-091304, Jurusan Kimia Fakultas MIPA, ITS

Reinoso, S., Victoria, P., Zorilla, J.M., Lezama, L., Felices, L.S., dan Beitia, J.I.,
2005, Inorganic-Metalorganic Hybrids Based on Copper(II)-
Monosubstituted Keggin Polyanions and Dinuclear Copper(II)-
Oxalate Complexes. Synthesis, X-Ray Structural Characterization,
and Magnetic Properties, Inorg. Chem, Vol. 44, hal. 9731-9742

Robinson, J.W., Skelly Frame, E.M., dan Frame II, G.M., 2005, Undergraduate
Instrumental Analysis, Sixth edition, Marcel Dekker, New York, hal. 217,
325

Setiawan, Nur C.E., 2008. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari
Ion Logam Cu2+ dengan Ligan Isokuinolin dan Ion Kompleks
[Co(SCN)6]4-, Skripsi, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang

Silverstein, R.M., Webster, F.X., Morril, dan Kiemle, D.J., 2005, Spectrometric
Identification of Organic compounds, Seventh edition, John Wiley and
Sons, Inc., United States of America, hal. 72, 81-83

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

53

Skoog, D.A., Holler, F.J., dan Crouch, S.R., 2007, Principles of Instrumental
Analysis, Sixth edition, Thomson Brooks, Canada, hal. 367-375, 431, 461

Svehla, G., 1996, Vogels Qualitative Inorganic Analysis, Seventh edition,


Longman, London, hal. 135

Zhang, C., dan Janiak, C., 2001, Synthesis and Crystal Structure of
Manganese(II) Bipyridine Carboxylato Complexes, Z. Anorg. Allg.
Chem, Vol. 627, hal 1972-1975

Zumdahl, S.A., dan Zumdahl, S.S., 2007, Chemistry, Seventh edition, Houghton
Mifin Company, New York, hal. 953-956

Skripsi Sintesis dan Karakterisasi Material Magnetik Nirmawati Eka Putri


Berbasis Senyawa Kompleks Inti Ganda Mangan(II) Dengan 2,2-Bipiridin
Menggunakan Ligan Jembatan Oksalat.