Anda di halaman 1dari 9

Filsafat Ilmu

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penelitian sebagai suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni
serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan
langkah ini dalam dunia keilmuan disebut metode. Untuk menegaskan bidang keilmuan itu
seringkali dipakai istilah metode ilmiah (scientific method).
Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja,
tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan
pengetahuan yang ada.
Prosedur yang merupakan metode ilmiah meliputi pengamatan, percobaan, analisis,
deskripsi, penggolongan, pengukuran, perbandingan, dan survai.
Oleh karena ilmu merupakan suatu aktivitas kognitif yang harus mematuhi berbagai kaidah
pemikiran yang logis, maka metode ilmiah juga berkaitan sangat erat dengan logika. Dengan
demkikian, prosedur-prosedur yang tergolong metode logis termasuk pula dalam ruang
lingkup metode ilmiah. Ini misalnya ialah deduksi, abstraksi, penalaran analogis, analisis
logis.
Selanjutnya, metode ilmiah meliputi suatu rangkaian langkah yang tertib. Dalam kepustakaan
metodologi ilmu tidak ada kesatuan pendapat mengenai jumlah, bentuk, dan urutan langkah
yang pasti.
Sheldon J. Lachman mengurai metode ilmiah menjadi 6 langkah yang berikut :
Perumusan pangkal-pangkal duga yang khusus atau pernyataan-pernyataan yang
khusus untuk penyelidikan.
Perancangan penyelidikan itu.
Pengumpulan data.
Penggolongan data.
Pengembangan generalisasi-generalisasi.
Pemeriksaan kebenaran terhadap hasil-hasil, yaitu terhadap data dan generalisasi-
genralisasi.
George Abell merumuskan metode ilmiah sebagai suatu prosedur khusus dalam ilmu yang
mencakup 3 langkah berikut :
Pengamatan gejala-gejala atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan.
Perumusan pangkal-pangkal duga yang melukiskan gejala-gejala ini, dan yang
bersesuaian dengan kumpulan pengetahuan yang ada.
Pengujian pangkal-pangkal duga ini dengan mencatat apakah mereka secara
memadai meramalkan dan melukiskan gejala-gejala baru atau hasil-hasil dari
percobaan-percobaan yang baru.

1
Filsafat Ilmu

Metode ilmiah lain dikemukakan oleh J. Eigelberner yang mencakup 5 langkah sebagai
berikut :
Analisis masalah untuk menetapkan apa yang dicari, dan penyusunan pangkal-
pangkal duga yang dapat dipakai untuk memberi bentuk dan arah pada telaah
penelitian.
Pengumpulan fakta-fakta yang bersangkurtan.
Penggolongan dan pengaturan data agar supaya menemukan kesamaan-kesamaan,
uruttan-urutan, dan hubungan-hubungan yang ada.
Perumusan kesimpulan-kesimpulan dengan memakai proses-proses penyimpulan
yang logis dan penalaran.
Pengujian dan pemeriksaan kebenaran kesimpulan-kesimpulan itu.
Walaupun pendapat para ahli mengenai metode ilmiah dirumuskan secara berbeda-beda, ada
4 5 langkah yang merupakan pola umum yang senantiasa dilaksanakan dalam penelitian.
Langkah-langkah baku itu ialah penentuan masalah, perumusan hipotesis atau pangkal duga
bila dianggap perlu, pengumpulan data, penurunan kesimpulan, dan pengujian atau verifikasi
hasil.
Tata langkah tersebut di muka melibatkan berbagai konsep dalam metode ilmiah. Konsep
adalah ide umum yang mewakili sesuatu himpunan hal yang biasanya dibedakan dari
pencerapan atau persepsi mengenai suatu hal khusus satu per satu. Konsep merupakan alat
yang penting untuk pemikiran utama dalam penelitian ilmiah.
Pengertian metode tidak pula sama dengan tehnik. Metode ilmiah adalah berbagai prosedur
yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam pelaksanaan sesuatu penelitian ilmiah.
Pola dan tata langkah prosedural itu dilaksanakan dengan cara-cara operasional dan tehnis
yang lebih terinci. Cara-cara itulah yang mewujudkan tehnik. Jadi, tehnik adalah sesuatu cara
operasional tehnis yang seringkali bercorak rutin, mekanis, atau spesialistis untuk
memperoleh dan menangani data dalam penelitian.
Dari hal-hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, kegiatan penelaahan atau proses penelitian
yang merupakan ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu
yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam istilah dunia keilmuan
dikenal sebagai metode atau sering disebut metode ilmiah. Metode merupakan ciri penentu
yang kedua dan dengan demikian ilmu dapat pula dibahas, dipahami, dan dijelaskan sebagai
metode.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan
sebagai berikut ;
Apa yang dimaksud dengan ilmu ?
Apa yang dimaksud ilmu sebagai sebagai prosedur ?

2
Filsafat Ilmu

C. TUJUAN
Makalah ini dimaksudkan agar pembaca dapat memahami apa itu ilmu sebagai aktivitas
(prosedur).
D. MANFAAT
Makalah ini diharapkan mampu memperluas pemahaman tentang Filsafat Ilmu yang dalam
hal ini membahas Ilmu Sebagai Aktivitas (Prosedur). Sehingga pembaca dapat
mengaplikasikan ilmu dalam bermasyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN

A. ILMU SEBAGAI PROSEDUR


Ilmu sebagai prosedur merupakann ilmu sebagai penelitian yang menggunakan metode
ilmiah, metode ilmiah inilah yang digunakan oleh para ilmuwan untuk mencari secara
sistematis pengetahuan baru dengan pengetahuan yang ada.
Sebuah pengetahuan secara umum berkembang antara lain karena manusia memiliki rasa
ingin tahu (curiousity is beginning of knowledge). Hasrat ingin tahu manusia terpuaskan bila
dirinya memperoleh pengetahuan yang benar (kebenaran) mengenai apa yang dipertanyakan.
Di samping itu, ada faktor eksternal, yaitu dorongan dari luar berupa tuntutan untuk
memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan. Untuk itu manusia menempuh berbagai cara agar
keinginan tersebut terwujud.
Berbagai tindakan untuk memperoleh pengetahuan secara garis besar dibedakan menjadi dua,
yaitu secara non-ilmiah, yang mencakup :
akal sehat,
prasangka,
intuisi,
penemuan kebetulan dan coba-coba,
pendapat otoritas dan pikiran kritis, serta tindakan secara ilmiah.
Usaha yang dilakukan secara non-ilmiah menghasilkan pengetahuan (knowledge), dan bukan
science. Sedangkan melalui usaha yang bersifat ilmiah menghasilkan pengetahuan ilmiah
atau ilmu.
Menurut The World of Science Encyclopedia, metode ilmiah ialah prosedur yang digunakan
oleh ilmuwan dalam mencari secara sistematis pengetahuan baru dan peninjauan kembali
pengetahuan yang ada. Dari berbagai definisi yang pernah dikemukakan, dapat disimpulkan
bahwa metode ilmiah pada umumnya menyangkut empat hal yakni: pola prosedural, tata
langkah, teknik-teknik, dan alat-alat.

3
Filsafat Ilmu

Menurut Stanlay dan Thomas C. Hunt yang ditulis dalam buku Jujun S. menjelaskan bahwa
metode dalam mencari pengetahuan ada tiga, yaitu rasionalisme, empirisme dan metode
keilmuan.
1. Rasionalisme
Tidaklah mudah untuk membuat definisi tentang rasionalisme sebagai suatu metode
untuk memperoleh pengetahuan. Rationalism is the view that the ultimate source of
knowledge is reason. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman,
melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi
pikiran dan merupakan pelengkap bagi akal, serta memandang pengalaman sebagai
bahan pembantu atau sebagai pendorong dalam penyelidikannya untuk memperoleh
kebenaran. Dalam rangka kerjanya, kelompok yang disebut rasionalis mendasarkan
diri pada cara kerja deduktif dalam menyusun pengetahuannya.
Plato memberikan gambaran klasik dari rasionalisme. Dia berdalil bahwa untuk
mempelajari sesuatu, seorang harus menemukan kebenaran yang sebelumnya belum
diketahui. Semua prinsip-prinsip dasar dan bersifat umum sebelumnya sudah ada
dalam pikiran manusia. Pengalaman indra paling banyak hanya merangsang ingatan
dan membawa kesadaran terhadap pengetahuan yang selama itu sudah ada dalam
pikiran. Menurut Plato kenyataan dasar terdiri dari ide atau prinsip.
Sedangkan menurut Descrates, dia menganggap bahwa pengetahuan memang
dihasilkan oleh indra, tetapi karena dia mengakui bahwa indra itu bisa menyesatkan
(seperti dalam mimpi dan hayalan), maka dia terpaksa mengambil kesimpulan
bahwa data keindraan tidak dapat diandalkan.

Dari penjelasan di atas terdapat beberapa kritik yang ditujukan pada kaum
rasionalisme. Diantaranya adalah:
Pengetahuan rasional dibentuk oleh yang tidak dapat dilihat maupun
diraba. Sehingga eksistensi tentang idea yang bersifat sudah pasti maupun
bawaan itu sendiri belum dapat dikuatkan oleh semua manusia dengan
kekuatan dan keyakinan yang sama.
Banyak diantara manusia yang berpikiran jauh merasa bahwa mereka
menemukan kesukaran yang besar dalam menerapkan konsep rasional
kepada masalah kehidupan yang praktis.
Teori rasional gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan
pengetahuan manusia selama ini.

2. Empirisme
Empiricism is the view that the ultimate source of knowledge is experience. Jika kita
sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia

4
Filsafat Ilmu

berkata tunjukkan hal itu kepada saya. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia
harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri.
Ada beberapa aspek yang terdapat dalam teori empiris. Pertama, perbedaan antara
yang mengetahui dan yang diketahui. Yang mengetahui adalah subyek dan benda
yang diketahui adalah obyek, terdapat alam nyata yang terdiri dari fakta atau obyek
yang dapat ditangkap oleh seseorang. Kedua, kebenaran atau pengujian kebenaran
dari fakta atau obyek didasarkan kepada pengalaman manusia. Agar berarti bagi
kaum empiris, maka pernyataan tentang ada atau tidak adanya sesuatu harus
memenuhi persyaratan pengujian publik. Ketiga, adalah prinsip keteraturan,
pengetahuan tentang alam didasarkan pada persepsi mengenai cara yang teratur
tentang tingkah laku sesuatu. Pada dasarnya alam adalah teratur. Dengan
melukiskan sesuatu terjadi dimasa lalu, atau dengan melukiskan bagaimana
melukiskan tingkah laku benda-benda yang sama sekarang. Prinsip keempat,
mempergunakan keserupaan. Keserupaan berarti bahwa bila terdapat gejala-gejala
yang berdasarkan pengalaman adalah identik atau sama, maka kita mempunyai
cukup jaminan untuk membuat kesimpulan yang umum mengenai hal itu.
Orang-orang empiris berpendapat bahwa kita dilahirkan tidak mengetahui
sesuatupun. Apapun yang kita ketahui itu berasal dari kelima panca indra kita. John
Locke bapak empirisme mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan, akalnya
merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku
catatan itulah di catat pengalaman-pengalaman indrawi. Sehingga ia memandang
akal sebagai jenis tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil
pengindraan tersebut. Sehingga bisa dikatan bahwa kelompok empiris melihat
bahwa pemahaman manusia hanya terbatas pada pengalamannya.

Selain rasionalisme, ternyata empirisme juga mendapatkan kritik, yang antara lain:
Empirisme didasarkan kepada pengalaman. Namun, jika dianalisis secara
kritis maka pengalaman merupakan pengertian yang terlalu samar untuk
dijadikan dasar bagi sebuah teori yang sistemis.
Sebuah teori yang sangat menitikberatkan pada persepsi panca indra yang
kiranya melupakan kenyataan bahwa panca indra manusia adalah terbatas
dan tidak sempurna. Panca indra kita sering menyesatkan. Empirisme tidak
mempunyai perlengkapan untuk membedakan antara hayalan dan fakta.
Empirisme tidak memeberikan kita kepastian. Apa yang disebut
pengetahuan yang mungkin, dalam pengertian di atas, sebenarnya
merupakan pengetahuan yang seluruhnya diragukan.
Kekurangan lain empirisme ialah karena ia belum terukur, empirisme
hanya sampai pada konsep yang umum.

5
Filsafat Ilmu

3. Metode Keilmuan: kombinasi antara rasionalisme dan empirisme


Dari beberapa kritik yang ditujukan pada metode-metode di atas, maka munculah
metode kombinasi antara rasionalisme dan empirisme. Terdapat suatu anggapan
yang luas bahwa ilmu pada dasarnya adalah metode induktif-empiris dalam
memperoleh pengetahuan, di jelaskan bahwa empirisme merupakan epistemology
yang telah mencoba menjadikan alat indra berperan dalam pengamatan untuk
memperoleh keterangan tentang pengetahuan ilmiah. Memang terdapat beberapa
alasan untuk mendukung penilaian yang populer ini, karena ilmuan mengumpulkan
fakta-fakta yang tertentu, melakukan pengamatan dan mempergunakan data indrawi.
Walaupun demikian analisis yang mendalam terhadap metode keilmuan akan
menyingkap kenyataan, bahwa apa yang dilakukan oleh ilmuan dalam usahanya
mencari pengetahuan lebih tepat digambarkan sebagai suatu kombinasi antara
prosedur empiris dan rasional. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa metode
keilmuan adalah satu cara dalam memperoleh pengetahuan. Dengan demikian maka
berkembanglah metode ilmiah yang menggabungkan cara berpikir deduktif dengan
induktif yang merupakan pertemuan antara empirisme dan rasionalisme.
Hal ini dilakukan para ahli filsafat untuk membedakan antara mana pengetahuan
yang dianggap ilmiah dan mana yang bukan. Sehingga munculah metode ilmiah,
sebagai jawabannya. Disiplin yang menerapkan karakteristik ilmiah akan
menghasilkan pengetahuan ilmiah, sehingga yang tidak menerapkan metode ilmiah
ini, pengetahuannya bisa dianggap bukan merupakan pengetahuan ilmiah.

Walaupun demikian metode ini juga masih mendapatkan kritik, yang antara lain:
Metode keilmuan membatasi secara begitu saja mengenai apa yang dapat
diketaui manusia, yang hanya berkisar pada benda-benda yang dapat
dipelajari dengan alat dan teknik keilmuan.
Ilmu memperkenankan tafsiran yang banyak terhadap suatu benda atau
kejadian. Tiap tafsiran bisa saja benar sejauh apa yang dikemukakan.
Berbagai hipotesis bisa saja diajukan, sehingga kesatuan dan konsistensi
dari pengetahuan keilmuan ternyata tidak sejelas apa yang kita duga.
Pengetahuan keilmuan, meskipun sangat tepat, tidaklah berarti bahwa hal
ini merupakan keharusan. Karena pengetahuan keilmuan hanyalah
pengetahuan yang mungkin dan secara tetap harus terus menerus berubah.
karena ilmu menyadari bahwa dia tidak mampu untuk menyediakan
pengetahuan yang pasti dan lengkap, yang tidak terjangkau oleh kegiatan
keilmuan.

6
Filsafat Ilmu

Selain beberapa metode di atas, dalam tulisan ini juga akan dijelaskan beberapa metode untuk
memperoleh pengetahuan yang dianggap populer menurut para ahli, dia
ntaranya yaitu:
1. Intuisionisme
Intuisi adalah kemampuan yang ada pada diri manusia yang berupa proses kejiwaan
tanpa suatu rangsangan atau stimulus. Pada diri manusia intuisi menempati bagian
kejiwaan yang sangat sentral, sehingga benar-benar bersifat batiniah sekali. Dengan
kata lain, intuisi merupakan gejala batin yang sangat pribadi.
Intuisi dianggap dapat menjadi metode memperoleh pengetahuan karena memalui
intuisi manusia mendapati ilmu secara langsung tidak melalui penalaran tertentu,
tapi jelas dan pasti bagi orang-orang tertentu. Sehingga memlaui intuisi manusia
secara tiba-tiba menemukan jawaban dari masalah yang dihadapinya. Jika dengan
tiba-tiba seseorang tergerak untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan
tertentu dengan penuh keyakinan, maka itulah dunia intuisi.
Orang sering bertindak berdasarkan pengetahuan intuitifnya, dan sesering itu pula
pengetahuannya benar. Oleh karena itu, orang perlu melatih kepekaan intuisinya
agar memperoleh peralatan yang lebih lengkap, dan dengan demikian bias
memperoleh pengetahuan yang lebih lengkap pula. Aliran ini menganggap bahwa
banyak masalah hidup dan kehidupan ini yang tidak bisa dipecahkan dengan akal
pikiran

Beberapa kritik terhadap aliran intuisionisme, yaitu:


Apa yang diketahui secara intuitif bagi seseorang belum tentu sama bagi
orang lain. Artinya cara seseorang mendapatkan pengetahuan yang pasti
itu, tidak atau belum tentu berlaku bagi orang lain.
Pengetahuan intuisi ini kebenarannya sulit diukur. Karena berasal dari
lapisan hati nurani seseorang yang tedalam. Benar tidaknya sangat
tergantung kepada keyakinan orang tersebut. Oleh karenanya sulit
diterangkan kepada orang lain. Orang lain maksimum hanya bisa meniru
perilakunya yang dianggap sesuai dengan hati nuraninya sendiri.
Pengetahuan ini tergolong pengetahuan langsung. Tetapi tidak setiap orang
mempunyai pengalaman yang sama

2. Positivisme
Menurut Adian istilah positivisme pertama kali digunakan oleh Henri Saint Simon.
Istilah positivisme kemudian dipopulerkan oleh Aguste Comte. Istilah itu berasal
dari kata positif. Dalam prakata Cours de Philosophie Positive, dia mulai
memakai istilah filsafat positif dan terus menggunakannya dengan arti yang
konsisten di sepanjang bukunya.

7
Filsafat Ilmu

Dengan filsafat dia mengartikan sebagai sistem umum tentang konsep-konsep


manusia, sedangkan positif diartikannya sebagai teori yang bertujuan untuk
penyusunan fakta-fakta yang teramati. Dengan kata lain, positif sama dengan
faktual, atau apa yang berdasarkan fakta-fakta. Dalam hal ini, positivisme
menegaskan bahwa hendaknya tidak melampaui fakta-fakta. Positivisme adalah
suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber
pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik.
Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.
Sebenarnya aliran positivisme erat kaitannya dengan rasionalisme dan empirisme.
Positivisme mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis dan ada bukti
empirisnya, yang terukur. Ukuran-ukuran ini operasional, kuantitatif, tidak
memungkinkan perbedaan pendapat. Positivisme sudah dapat disetujui untuk
memulai upaya untuk membuat aturan untuk mengatur manusia dan mengatur alam.
Ajukan logikanya, ajukan bukti empirisnya yang terukur, tetapi bagaimana caranya?
Hal inilah yang mempengaruhi perkembangan selanjutnya yaitu munculnya metode
ilmiah sebagai alat lain dari kelanjutan positivisme.

Beberapa kritik yang bias diajukan kepada kaum positivism:


Meskipun sudah mulai berupaya menggabungkan cara berpikir empiris dan
rasionalis, namun positivisme belum memiliki tahapan yang jelas dalam
penerapannya.
Adakalanya tidak semua bukti empiris bisa terukur.

8
Filsafat Ilmu

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Terdapat beberapa metode yang yang digunakan manusia untuk memperoleh pengetahuan,
itu dikarenakan adanya hasrat manusia yang selalu ingin tahu. Secara garis besar dapat
dikatakan bahwa cara memperoleh pengetahuan dibedakan menjadi dua, yaitu pengetahuan
yang diperoleh dengan cara non-ilmiah dan ilmiah. metode ilmiah adalah prosedur yang
mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk
memperoleh pengetahuan.
Usaha yang dilakukan secara non-ilmiah menghasilkan pengetahuan (knowledge), dan bukan
science. Sedangkan melalui usaha yang bersifat ilmiah menghasilkan pengetahuan ilmiah
atau ilmu.
Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara
konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa metode ilmiah adalah sebuah teori pengetahuan yang
dipergunakan manusia dalam memberikan jawaban tertentu terhadap suatu pertanyaan.
Metode ini menitik beratkan pada suatu urutan prosedur.
Terdapat berbagai macam langkah yang diajukan oleh berbagai ilmuwan, tapi terdapat empat
sampai lima pola langkah yang secara umum dipakai. Antara lain: penentuan masalah,
perumusan hipotesis bila dianggap perlu, pengumpulan data, penurunan kesimpulan, dan
pengujian atau verivikasi hasil.