Anda di halaman 1dari 83

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI DENGAN

PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA MATA PELAJARAN

KETERAMPILAN ELKTRONIKA SISWA SLTP NEGERI 2 KUDUS

TAHUN AJARAN 2004/2005

SKRIPSI

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan


Pada Universitas Negeri Semarang

Disusun Oleh :
Nama : Noor Jannah
NIM : 5314000018
Prodi : Pendidikan Teknik Elektro S1
Jurusan : Teknik Elektro

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005

1
2
3

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang


panitia ujian skripsi pada :
Hari :
Tanggal :

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Usman Nurzaman, M. Pd Drs. A. Trismono


NIP. 130 515 764 NIP. 130 529 524
4

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi dengan judul “ Efektivitas Pembelajaran Berbasis Kompetensi Dengan


Pendekatan Kontekstual Pada Mata Pelajaran Keterampilan Elektronika Siswa
SLTP Negeri 2 Kudus Tahun Ajaran 2004/2005”, telah dipertahankan dihadapan
sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang yang
diselenggarakan pada:
Hari : Selasa
Tanggal : 15 Maret 2005

Panitia
Ketua Sekretaris

Drs. Djoko Adi Widodo, M.T Drs. R. Kartono, M.Pd


NIP. 131 570 064 NIP. 131 474 229

Pembimbing I Penguji I

Drs. Usman Nurzaman, M.Pd Drs. Usman Nurzaman, M.Pd


NIP. 130 515 764 NIP. 130 515 764

Pembimbing II Penguji II

Drs. A. Trismono Drs. A. Trismono


NIP. 130 529 524 NIP. 130 529 524

Penguji III

Drs. Samiyono, M.T


NIP. 130 515 758

Dekan FT

Prof. Dr. Soesanto


5

NIP. 130 875 753


PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini

benar-benar hasil karya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik

sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam

skripsi atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Februari 2005

Noor Jannah
NIM. 5314000018
6

SARI

Noor Jannah, 2005. Efektivitas Pembelajaran Berbasis Kompetensi Dengan


Pendekatan Kontekstual Pada Mata Pelajaran Keterampilan Elektronika Siswa
SLTP Negeri 2 Kudus Tahun Ajaran 2004/2005. Skripsi Pendidikan Teknik
Elektro. Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Semarang.

Mata pelajaran keterampilan elektronika merupakan salah satu jenis


keterampilan teknik yang mempelajari rangkaian listrik arus lemah pokok bahasan
adaptor. Pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar adalah pembelajaran yang
memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yaitu
mampu membuat adaptor. Sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, proses
belajar dan mengajar diharapkan memakai pembelajaran berbasis kompetensi
dengan pendekatan kontekstual agar hasil belajar yang dicapai sesuai dengan
kompetensi (pengetahuan dan keterampilan). Masalah yang diungkap adalah
efektifkah pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontekstual pada
mata pelajaran keterampilan elektronika siswa SLTP Negeri 2 Kudus Tahun
Ajaran 2004/ 2005. Manfaat yang diperoleh yaitu mengetahui efektivitas
pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontekstual, mengetahui
nilai rata-rata hasil belajar siswa, memperbaiki kualitas proses belajar mengajar,
dan bekal dalam penerapan pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan
kontekstual. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektif tidaknya
pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontekstual pada mata
pelajaran keterampilan elektronika.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII sebanyak
enam kelas di SLTP Negeri 2 Kudus dengan jumlah 243 orang. Teknik
pengambilan sampel secara proportional random sampling dengan penentuan
jumlah sampel berpedoman pada rumus Slovin. Dari populasi sebanyak 243 siswa
berdasarkan perhitungan dengan rumus Slovin diperoleh besarnya sampel
sebanyak 71 siswa. Variabel penelitian ada dua yaitu pembelajaran berbasis
kompetensi dengan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran keterampilan
elektronika sebagai variabel bebas dan hasil belajar siswa sebagai variabel terikat.
Metode pengumpulan data dengan metode dokumenter, tes dan observasi. Data
hasil penelitian dianalisis dengan analisis deskriptif persentase.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata nilai kemampuan
praktik siswa adalah 85,92, sedangkan rata-rata nilai kemampuan hasil belajar
teori siswa sebesar 82,6. Dilihat dari hasil belajar masing-masing siswa
menunjukkan bahwa terdapat 70 siswa atau 97,18% yang telah memiliki hasil
belajar lebih dari 75. Hal ini menunjukkan bahwa secara klasikal penerapan
pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontekstual pokok bahasan
adaptor pada mata pelajaran keterampilan elektronika siswa kelas VIII SLTP
Negeri 2 Kudus tahun ajaran 2004/2005 telah mampu mencapai tujuan
instruksional yang ditandai telah tercapainya batas minimal standar ketuntasan
hasil belajar secara klasikal yaitu 85% siswa dalam kelas mencapai nilai minimal
yang ditetapkan (75). Dengan demikian pembelajaran berbasis kompetensi dengan
7

pendekatan kontekstual pokok bahasan adaptor pada mata pelajaran keterampilan


elektronika adalah efektif.
Mengacu dari hasil penelitian tersebut peneliti dapat mengajukan saran
yaitu hendaknya guru mempertimbangkan penerapan pembelajaran pada pokok
bahasan adaptor dengan pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan
kontekstual, sehingga pembelajaran menjadi lebih optimal.
8

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto :
1. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya (QS. Al Baqarah : 285).
2. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang
berilmu pengetahunan dengan beberapa derajat (Al Mujadalah : 11).
3. Tak ada orang yang gagal, yang ada hanyalah orang yang tak pernah
mencoba. Tak ada orang yang bodoh, yang ada hanyalah yang tak rajin
belajar. Tak ada orang yang kalah, yang ada hanyalah orang tidak berani
memulai (Aa Gym).

Persembahan :

Skripsi ini kupersembahkan kepada :

a. Bapak dan Ibu atas segala bantuan


materil dan spiritualnya.

b. Adikku Amah dan Ida yang selalu


memberikan semangat untuk cepat
selesai kuliah.

c. Teman-teman seperjuangan Elektro“00”

d. Temen-temen “Eve cost” spesial mbak


yuli, mbak novi dan lina.
9

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah dipanjatkan kehadirat Allah SWT karena telah

melimpahkan rahmat serta karuniaNya, sehingga dapat terselesaikannya

penyusunan skripsi ini dengan baik untuk memenuhi persyaratan dalam

mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Penyususnan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa adanya bantuan dari

berbagai pihak. Oleh sebab itu pada kesempatan ini disampaiakan ucapan terima

kasih pada yang terhormat:

1. Drs. Djoko Adi Widodo, M.T., Ketua Jurusan Teknik Elektro, Fakultas

Teknik, Universitas Negeri Semarang.

2. Drs. Usman Nurzaman, M.Pd, Pembimbing I yang telah berkenan

memberikan bimbingan dan saran sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini.

3. Drs. A. Trismono, Pembimbing II yang telah berkenan memberikan

bimbingan dan saran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini .

4. Drs. Samiyono, M.T, Penguji Utama yang telah menguji serta memberikan

bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Drs. Aswotono, Kepala SMP Negeri 2 Kudus yang telah memberikan ijin

penelitian dan bimbingan,

6. Rifai, sebagai guru mitra yang telah memberikan bimbingan selama

pelaksanaan penelitian.
10

7. Semua pihak semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang

memerlukan.

Semarang, Februari 2005

Penyusun
11

DAFTAR ISI

Halaman

Judul ............................................................................................................. i

Persetujuan Pembimbing............................................................................... ii

Pengesahan Kelulusan .................................................................................. iii

Pernyataan .................................................................................................... iv

Sari ............................................................................................................... v

Motto dan Persembahan ................................................................................ vii

Kata pengantar .............................................................................................. viii

Daftar Isi....................................................................................................... x

Daftar Gambar .............................................................................................. xiii

Daftar Tabel .................................................................................................. xiv

Daftar Lampiran ........................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1

A............................................................................................ Latar

Belakang .............................................................. 1

B. ........................................................................................... Perm

asalahan................................................................ 3

C. ........................................................................................... Pemb

atasan Masalah ..................................................... 3

D............................................................................................ Pene

gasan Istilah ......................................................... 4


12

E. ........................................................................................... Tujua

n Penelitian........................................................... 5

F. ........................................................................................... Manf

aat penelitian ........................................................ 6

G............................................................................................ Siste

matika Skripsi ...................................................... 6

BAB II LANDASAN TEORI .................................................................... 8

A. Tinjauan Masalah Belajar ......................................................... 8

B. Tinjauan Masalah Mengajar ..................................................... 9

C. Proses Pembelajaran ................................................................. 10

D. Hakekat Muatan Lokal ............................................................. 19

E. Uraian Materi ........................................................................... 20

F. Kerangka Berpikir .................................................................... 33


13

BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 35

A. Desain Penelitian ...................................................................... 35

B. Populasi ................................................................................... 35

C. Sampel ..................................................................................... 36

D. Variabel Penelitian ................................................................... 37

E. Metode Pengumpulan Data ....................................................... 37

F. Instrumen Penelitian ................................................................. 38

G. Teknik Analisis Data ................................................................ 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 45

A. Hasil Penelitian ........................................................................ 45

1. ....................................................................................... Desk

ripsi Data Kemampuan Praktik .............................................. 45

2. ....................................................................................... Desk

ripsi Data Kemampuan Hasil Belajar Teori ............................ 46

3. ....................................................................................... Inter

prestasi Data Hasil Belajar Siswa ........................................... 47

B. Pembahasan ............................................................................. 48

BAB V PENUTUP ................................................................................... 55

A. Simpulan ............................................................................. 55

B. Saran ............................................................................. 65

DAFTAR PUSTAKA
14

LAMPIRAN-LAMPIRAN
15

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. Diagram Blok Komponen-Komponen Proses Pembelajaran ... 11

Gambar 2.2. Transformator ........................................................................ 21

Gambar 2.3. Penyearah Tunggal ................................................................. 22

Gambar 2.4. Penyearah Ganda ................................................................... 23

Gambar 2.5. Penyaring ............................................................................... 24

Gambar 2.6. Pengetesan Transformator ...................................................... 25

Gambar 2.7. Pengetesan Dioda ................................................................... 26

Gambar 2.8. Pengetesan Kondensator Elektrolit ......................................... 27

Gambar 2.9. Pengetesan Resistor................................................................ 28

Gambar 2.10. Pengetesan Transistor............................................................. 28

Gambar 2.11. Pengetesan Sekering............................................................... 29

Gambar 2.12. Rangkaian Adaptor ................................................................ 30

Gambar 4.1. Bagan Distribusi Kemampuan Praktik .................................... 46

Gambar 4.2. Bagan Distribusi Kemampuan Hasil Belajar Teori ................. 47


16

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1. Desain Penelitian .......................................................................... 36

Tabel 3.2. Sampel Penelitian ......................................................................... 36

Tabel 3.3. Ringkasan Validitas Soal Ujicoba ................................................. 40

Tabel 3.4. Ringkasan Tingkat Kesukaran Soal Ujicoba ................................. 42

Tabel 3.5. Ringkasan Daya Pembeda Soal Uji Coba...................................... 43

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Praktik ............................ 45

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Hasil Belajar teori ........... 47
17

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Kisi-Kisi Uji Coba Instrumen Tes Hasil Belajar Teori .............. 58
Lampiran 2 Uji Coba Instrumen Tes hasil Belajar Teori .............................. 61
Lampiran 3 Lembar Jawaban....................................................................... 71
Lampiran 4 Kunci Jawaban Uji Coba Instrumen Tes Hasil Belajar ............. 72
Lampiran 5 Hasil Analisis Uji Coba Soal .................................................... 73
Lampiran 6 Perhitungan Validitas Butir ...................................................... 78
Lampiran 7 Perhitungan Reliabilitas Butir ................................................... 80
Lampiran 8 Perhitungan Tingkat Kesukaran ................................................ 81
Lampiran 9 Perhitungan Daya Pembeda Soal .............................................. 82
Lampiran 10 Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar ...................................... 83
Lampiran 11 Instrumen Tes Hasil Belajar Teori ............................................ 86
Lampiran 12 Kunci Jawaban ........................................................................ 95
Lampiran 13 Skoring Pengamatan Praktik .................................................. 96
Lampiran 14 Petunjuk Praktik ....................................................................... 97
Lampiran 15 Pengambilan Sampel ................................................................ 98
Lampiran 16 Data Hasil Penskoran Instrumen Tes Hasil Belajar ................... 99
Lampiran 17 Analisis Ketuntasan Hasil Belajar Siswa .................................. 101
Lampiran 18 Distribusi Frekuensi Data Hasil Penelitian ............................... 103
Lampiran 19 Deskripsi Data Kemampuan Praktik dan Teori ......................... 104
Lampiran 20 Surat Tugas Dosen Pembimbing............................................... 105
Lampiran 21 Surat Permohonan Ijin Penelitian ............................................. 106
Lampiran 22 Surat Rekomendasi Reserch/ Survey ........................................ 107
Lampiran 23 Ijin Penelitian Dinas Pendidikan Kab. Kudus ........................... 108
Lampiran 24 Surat Keterangan ...................................................................... 109
Lampiran 25 Foto Dokumentasi .................................................................... 110
18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mutu pendidikan perlu ditingkatkan agar dapat sesuai dengan perkembangan zaman,

kemajuan teknologi dan tuntutan pembangunan serta dalam rangka menyiapkan sumber daya

manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan


mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, berkepribadian yang
mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan
(Ngalim Purwanto, 1983: 1).

Untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional ini pemerintah telah membentuk berbagai

jenis lembaga pendidikan diantaranya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) bertujuan

untuk memberi bekal kemampuan dasar yang merupakan perluasan serta peningkatan

pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari sekolah dasar (SD) yang bermanfaat bagi

siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga

negara sesuai dengan tingkat perkembangannya serta mempersiapkan mata pelajaran untuk

mengikuti pendidikan menengah (Hermana Soemantri, 1993: 135)

Di dalam kurikulum Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdapat berbagai


macam program mata pelajaran, salah satunya muatan lokal. Muatan Lokal adalah
program pendidikan yang penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam,
lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari
oleh murid di daerah itu. Tujuan utama masuknya muatan lokal dalam kurikulum
nasional semata- mata untuk menyelaraskan materi pelajaran yang diberikan kepada
siswa dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di daerahnya, mengoptimalkan potensi,
dan sumber belajar yang ada di sekitarnya bagi kepentingan anak didik, menumbuhkan
dan mengembangkan minat perhatian anak didik sesuai dengan kebutuhan daerahnya,
memperkenalkan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat kepada anak
didik sedini mungkin (Nana Sudjana, 1996: 172)

Berkaitan dengan program pelajaran muatan lokal, SLTP Negeri 2 Kudus menentukan

beberapa keterampilan sebagai mata pelajaran muatan lokalnya, yaitu seni musik, seni tari,

seni lukis, komputer, dan keterampilan elektronika. Mata pelajaran keterampilan elektronika
19

merupakan salah satu jenis keterampilan teknik yang mempelajari rangkaian listrik arus lemah

yaitu adaptor.

Sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, proses belajar dan mengajar diharapkan

memakai pembelajaran berbasis kompetensi. Pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar

adalah pembelajaran yang memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai

kompetensi yaitu mampu membuat adaptor. Dengan demikian mendorong individu untuk

belajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar. Pelaksanakan pembelajaran

berbasis kompetensi, guru harus menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching

and Learning). Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah konsep pembelajaran

yang membantu guru dalam mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia

nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki

dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan tujuh

komponen utama pembelajaran efektif antara lain konstruktivisme, menemukan (inquiri),

bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya. Pada

pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, guru mengajak siswa untuk aktif dalam

pembelajaran sehingga mereka dapat menemukan informasi melalui pengalaman (guru dan

siswa sama-sama aktif), dapat menumbuhkan kreativitas sehingga menghasilkan karya dalam

bentuk benda elektronik yaitu adaptor, serta hasil belajar yang dicapai sesuai dengan

kompetensi (pengetahuan dan keterampilan).

Karena itulah memandang perlu melakukan penelitian dengan judul “EFEKTIVITAS

PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI DENGAN PENDEKATAN

KONTEKSTUAL PADA MATA PELAJARAN KETERAMPILAN ELEKTRONIKA

SISWA SLTP NEGERI 2 KUDUS TAHUN AJARAN 2004/ 2005 “

B. Permasalahan

Masalah yang akan diungkap dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Efektifkah pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontekstual pada mata

pelajaran keterampilan elektronika siswa SLTP Negeri 2 Kudus Tahun Ajaran 2004/ 2005 ?
20

C. Pembatasan Masalah

Perlu adanya pembatasan masalah dalam penelitian ini yaitu penelitian

terbatas pada efektivitas pembelajaran berbasis kompetensi pada mata

pelajaran keterampilan elektronika dengan pendekatan kontekstual pada mata

pelajaran elektronika siswa SLTP Negeri 2 Kudus Tahun Ajaran 2004/2005.

D. Penegasan Istilah

Untuk menghindari salah pengertian, maka perlu diberikan penegasan istilah dari

skripsi yang berjudul “Efektivitas Pembelajaran Berbasis Kompetensi Dengan Pendekatan

Kontekstual Pada Mata Pelajaran Keterampilan Elektronika Siswa SLTP Negeri 2 Kudus

Tahun Ajaran 2004/2005”, yang dijelaskan sebagai berikut:

1. Efektivitas

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan efektivitas berasal dari kata

efektif. Efektif berarti ada efeknya (pengaruhnya, akibatnya, kesannya) sehingga

membawa hasil. (WJS. Poerwadarminto, 1986: 266). Menurut (Davis, Alexander, dan

Yellon: 1997) yang dikutip oleh Usman_NZ bahwa keefektifan pembelajaran

menunjukkan banyak siswa mampu mencapai tujuan instruksional khusus. Efektivitas

dalam penelitian ini adalah efektivitas pembelajaran berbasis kompetensi dengan

pendekatan kontekstual.

2. Pembelajaran Berbasis Kompetensi

Pembelajaran Berbasis Kompetensi adalah suatu model pembelajaran dimana

perencanaan, pelaksanaan, dan penilaiannya mengacu pada penguasaan kompetensi.

Pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi dimaksudkan agar segala upaya yang

dilakukan dalam pembelajaran benar-benar mengacu dan mengarahkan peserta didik


21

untuk menguasai kompetensi yang ditetapkan sehingga mereka tuntas dalam belajarnya.

(Depdiknas, 2003: 8)

3. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep pembelajaran

yang mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa

membuat hubungan pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka

(Depdiknas, 2003: 34).

4. Mata Pelajaran Keterampilan Elektronika

Mata pelajaran keterampilan elektronika adalah salah satu jenis keterampilan teknik yang

mempelajari rangkaian listrik arus lemah (Depdikbud, 1994: 1). Bahan ajar yang akan

diberikan pada siswa adalah adaptor.

5. Siswa SLTP Negeri 2 Kudus Tahun Ajaran 2004/ 2005

Siswa SLTP Negeri 2 Kudus Tahun Ajaran 2004/ 2005 adalah siswa kelas VIII (dua)

yang terdaftar sebagai murid SLTP Negeri 2 Kudus Tahun Ajaran 2004/ 2005.

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang diungkap maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui efektivitas pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontekstual

pada mata pelajaran keterampilan elektronika siswa SLTP Negeri 2 Kudus Tahun Ajaran

2004/ 2005.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian adalah sebagai berikut:

1. Bagi Guru

Mengetahui efektivitas pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan

kontekstual.

Mengetahui nilai rata-rata hasil belajar siswa.

Memperbaiki kualitas proses belajar mengajar

2. Bagi Peneliti
22

Bekal dalam penerapan pembelajaran berbasis kompetensi dengan

pendekatan kontekstual.

G. Sistematika Skripsi

Sistematika skripsi terdiri dari 3 bagian yaitu, bagian awal, bagian isi, dan bagian

akhir.

1. Bagian Awal berisi judul, persetujuan pembimbing, pengesahan kelulusan, pernyataan,

sari, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran.

2. Bagian Isi terdiri dari lima bab meliputi:

Bab I : Pendahuluan

Berisi tentang latar belakang, permasalahan, pembatasan masalah, penegasan

istilah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika skripsi.

Bab II : Landasan Teori

Berisi teori-teori yang mendukung dalam pelaksanaan penelitian.

Bab III : Metode Penelitian

Berisi tentang desain penelitian, populasi, sampel, variabel penelitian, metode

pengumpulan data, instrumen penelitian, dan teknik analisis data.

Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berisi tentang hasil penelitian beserta pembahasan.

Bab V : Penutup

Berisi tentang kesimpulan dan saran.

3. Bagian akhir berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Masalah Belajar

Pengertian belajar menurut Max Darsono (2000: 2) yaitu bahwa belajar merupakan

suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Belajar dapat di

definisikan sebagai proses yang menimbulkan atau merubah perilaku melalui latihan atau

pengalaman (Whittaker dalam Max darsono, 2000: 4). Menurut Winkel W.S dalam Max

Darsono (2000: 4) Belajar adalah aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam

interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan pengetahuan, pemahaman,

keterampilan dan nilai sikap. Lebih lanjut diterangkan ciri-ciri belajar yaitu:

Belajar dilakukan dengan sadar dan mempunyai tujuan


Belajar merupakan pengalaman sendiri, tidak dapat diwakilkan pada orang lain. Jadi
belajar bersifat individual
Belajar merupakan proses interaksi antara individu dengan lingkungan
Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan pada diri orang yang belajar
(Max Darsono, 2000: 30)

Dengan belajar siswa mengalami perubahan baik tingkah laku maupun cara berpikir.

Belajar dapat dikatakan berhasil jika siswa aktif dalam proses pembelajaran dan tidak hanya

menerima konsep-konsep saja. Keberhasilan ini dapat dilihat dari hasil belajar. Hasil belajar

adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar

(Nana Sudjana, 1990: 22)

B. Tinjauan Masalah Mengajar

Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang berorientasi pada tujuan pendidikan.

Pengajaran menunjuk suatu kegiatan yang mengandung terjadinya penguasaan pengetahuan,

keterampilan, dan sikap oleh subjek yang sedang belajar. (Suharsimi Arikunto, 1990: 2)

Definisi lain tentang mengajar diantaranya (1) menurut S. Nasution

(1994: 43) mengajar adalah usaha guru untuk menciptakan kondisi atau

mengatur lingkungan sedemikian rupa sehingga terjadi interaksi antara murid

8
9

dan lingkungannya, termasuk guru, alat pelajaran dan sebagainya yang disebut

proses belajar mengajar sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang telah

ditentukan, (2) Dimyati dan Mudjiono (1994: 146) mengatakan bahwa

mengajar atau pembelajaran berarti meningkatkan kemampuan kognitif,

afektif dan keterampilan.

Dari ketiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah

suatu kegiatan untuk meningkatkan kemampuan penguasaan pengetahuan,

keterampilan dan sikap oleh subjek yang sedang belajar.

Untuk mengajarkan keterampilan elektronika sesuai dengan kurikulum

berbasis kompetensi, guru dianjurkan melaksanakan pembelajaran berbasis

kompetensi dengan pendekatan kontekstual. Pembelajaran berbasis

kompetensi adalah suatu model pembelajaran yang perencanaan, pelaksanaan,

dan penilaiannya mengacu pada penguasaan kompetensi (Depdiknas, 2003: 8).

Artinya segala upaya yang dilakukan dalam pembelajaran benar-benar

mengacu dan mengarahkan peserta didik mampu menguasai kompetensi yang

ditetapkan. Sementara itu pendekatan kontekstual (CTL) adalah konsep

pembelajaran yang mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata

dan memotivasi siswa membuat hubungan pengetahuan dengan penerapannya

dalam kehidupan mereka (Depdiknas, 2003: 34). Dengan pendekatan

kontekstual dalam pelaksanaan pembelajaran keterampilan elektronika,

peserta didik mampu menghasilkan karya.


10

Tujuh komponen pendekatan kontekstual (Contextual Teching and

Learning) yaitu sebagai berikut:

1. Mengembangkan pemikiran, bahwa anak perlu mengkonstruksi pengetahuannya sendiri

(Konstruktivisme merupakan landasan pendekatan CTL),

2. Mengembangkan kegiatan menemukan atau inquiri,

3. Mengembangkan keberanian bertanya pada siswa,

4. Menciptakan masyarakat belajar (learning comunity), misal dengan kelompok-kelompok

belajar,

5. Pemodelan, misalnya guru mendemonstrasikan alat-alat listrik (multimeter).

6. Melakukan refleksi misalnya diskusi kecil, melihat catatan siswa, mendengarkan kesan

dan pesan siswa, dsb

7. Melaksanakan penilaian sebenarnya. (Depdiknas, 2003: 10)

C. Proses Pembelajaran

Belajar dan mengajar merupakan dua istilah yang tidak dapat

dipisahkan. Apabila ada guru mengajar, maka akan terdapat siswa yang

belajar. Jadi proses belajar dan mengajar (proses pembelajaran) adalah proses

terjadinya hubungan timbal balik antara guru dengan murid dalam situasi

pengajaran (interaksi edukatif).

Untuk membedakan antara interaksi edukatif dengan interaksi sosial lainnya, berikut

ini beberapa ciri khusus dalam interaksi belajar mengajar, menurut Winarno Surachmad

(1994: 16) yaitu ada tujuan yang jelas yang akan dicapai, ada bahan yang menjadi interaksi,

ada pelajar yang aktif belajar, ada guru yang melaksanakan, ada metode untuk mencapai, ada

situasi yang memungkinkan proses interaksi itu berlangsung dengan baik, dan ada penilaian

hasil interaksi.
11

Semua komponen yang ada dalam proses pembelajaran tidak berdiri sendiri-sendiri,

tetapi saling berhubungan dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Secara

diagram blok komponen-komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran diperlihatkan

gambar 2.1.:

Guru Tujuan Bahan/Isi

Siswa Proses Hasil


Pembelajaran Belajar

Metode/ Teknik Evaluasi/ Penilaian


Gambar 2.1. Diagram blok komponen-komponen Proses Pembelajaran

Dari diagram Proses Pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tujuan Proses Pembelajaran

Kunci keberhasilan proses pembelajaran terletak pada tujuan mengajar yang

dirumuskan secara jelas. Mengajar mempunyai tujuan memberikan bimbingan dan

bantuan kepada orang yang sedang belajar untuk memperoleh sejumlah pengetahuan,

keterampilan, dan pengalaman. Adapun diberikannya pembelajaran berbasis kompetensi

dengan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran keterampilan elektronika pada pokok

bahasan adaptor adalah siswa dapat mengenal bagian-bagian adaptor, siswa dapat

membuat adaptor, dan siswa dapat menguji tiap-tiap komponen adaptor.

2. Guru di dalam Proses Belajar Mengajar (Proses Pembelajaran)

Tugas guru dalam pembelajaran berbasis kompetensi dengan

pendekatan kontekstual antara lain membantu siswa mencapai tujuan

pembelajaran. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi

yaitu pendekatan kontekstual sebagai strategi pembelajaran daripada

informasi, mengelola kelas, memfasilitasi agar informasi baru bermakna,


12

menghubungkan pengetahuan lama dan baru, memberikan kesempatan

pada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, serta

menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri (Depdiknas,

2003).

3. Siswa/ Peserta Didik

Siswa adalah siwa usia SLTP (11-15 tahun). Menurut Pieget masa

tersebut disebutnya sebagai periode operasi formal. Pada tahap ini siswa

mengembangkan pikiran formalnya. Siswa mampu berpikir logis dengan

objek-objek yang abstrak. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi

dengan pendekatan kontekstual siswa lebih banyak dilibatkan dalam

kegiatan pembelajaran sehingga berdampak positif yaitu dengan kegiatan

praktik lebih menguntungkan daripada teori. Dengan demikian siswa dapat

mengalami belajar secara langsung.

4. Bahan/ Isi

Bahan pelajaran adalah isi yang diajarkan kepada siswa pada saat berlangsungnya

proses pembelajaran. Bahan pelajaran berupa isi dari bahan atau bidang studi yang

diberikan siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakan (Nana Sudjana, 1989: 67).

Melalui bahan pelajaran ini siswa diantarkan kepada tujuan pengajaran. Dengan kata lain

tujuan yang akan dicapai siswa diwarnai dan dibentuk oleh bahan pengajaran. Bahan

pelajaran dibedakan atas fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan (Suryosubroto, 2002:

42). Bahan pelajaran keterampilan elektronika pokok bahasan adaptor di SLTP Negeri 2

Kudus tersusun dari:

a. Bagian-bagian adaptor

1) Bagian input tegangan

Bagian penurun tegangan

Bagian penyearah
13

Bagian filter

Bagian output tegangan

b. Pengujian tiap-tiap komponen adaptor

c. Pembuatan adaptor

a) Menyiapkan alat dan bahan

b) Membuat PCB

c) Memasang Komponen pada PCB

d) Pengawatan komponen pada terminal

e) Menyolder

f) Mencoba

5. Metode/ Teknik

Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan interaksi

antara guru dan siswa (Nana Sudjana, 1989: 76).

Metode pembelajaran yang digunakan adalah dengan pendekatan kontekstual.

Pendekatan kontekstual adalah konsep pembelajaran yang membantu guru dalam

mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan

mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran kontekstual ini

melibatkan tujuh komponen pembelajaran efektif antara lain konstruktivisme,

menemukan (inquiri), bertanya (quetioning), masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan

penilaian sebenarnya.

Pelaksanaan pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran yaitu:

Sub Pokok Bahasan: bagian-bagian adaptor

1) Pendahualuan

Guru menghantarkan materi adaptor

2) Kegiatan Inti

a) Guru mengkondisikan siswa menjadi kelompok-kelompok kecil

b) Guru menggambar diagram blok adaptor


14

c) Siswa mengamati dan mencatat hasil pengamatan

d) Siswa mempresentasikan hasil pengamatan di depan kelas

e) Guru memberi tugas kepada siswa untuk membuat gambar rangkaian

adaptor

f) Guru bertanya tentang prinsip kerja adaptor

g) Siswa mempresentasikan hasil pengamatan

Komponen pendekatan kontekstual yang tampak antara lain:

konstruktivisme, kelompok belajar (learning community), bertanya (quetioning),

dan menemukan (inquiri). Misalnya siswa dapat mengenal adaptor, siswa dapat

mengkonstruksi pengertian adaptor dan prinsip kerja, siswa dapat menunjukkan

komponen adaptor, siswa dapat menunjukkan simbol komponen adaptor, dan

siswa dapat menjelaskan fungsi bagian-bagian adaptor.

3) Penutup

a) Guru memberikan waktu untuk bertanya

b) Guru melakukan penilaian: soal latihan, kerjasama kelompok

Komponen kontekstual yang tampak antara lain, refleksi yaitu siswa

mampu menyimpan pengetahuan dalam benak mereka, siswa mencatat

pengetahuan yang diperolehnya yaitu bagian-bagian dan fungsi adaptor, prinsip

kerja adaptor.

Sub Pokok Bahasan: Pengujian komponen adaptor

1) Pendahuluan

a) Guru memberikan appersepsi tentang komponen elektronika (komponen

aktif dan komponen pasif)

b) Guru bertanya fungsi pengujian komponen

c) Guru mendemonstrasikan penggunaan multimeter

d) Guru mendemonstrasikan pengujian transformator

Komponen pendekatan kontekstual yang tampak antara lain pemodelan

yaitu guru memberikan model tentang cara penggunaan multimeter, refleksi

yaitu siswa mampu menyimpan pengetahuan lama dalam benak siswa,

kontruktivisme yaitu siswa dapat mengkonstruksi fungsi pengujian komponen.


15

2) Kegiatan Inti

a) Guru mengkondisikan siswa menjadi kelompok-kelompok kecil

b) Guru membagikan multimeter dan komponen adaptor

c) Siswa mendemonstrasikan pengujian komponen-komponen adaptor sesuai

lembar kerja siswa

d) Siswa mengamati dan mencatat hasil pengujian

e) Siswa mempresentasikan hasil pengujian

Komponen pendekatan kontekstual yang tampak antara lain: kelompok

belajar (learning community), bertanya (quetioning), dan menemukan (inquiri),

dan kontruktivisme yaitu siswa dapat menyimpulkan hasil dari pengukuran/

pengujian.

3) Penutup

a) Guru memberi waktu untuk bertanya

b) Guru melakukan penilaian: hasil pengamatan, kerja sama kelompok.

Komponen pendekatan kontekstual yang tampak antara lain refleksi yaitu

siswa mampu menyimpan pengetahuan dalam benak mereka, siswa mencatat

pengetahuan yang diperolehnya yaitu mencatat hasil pengamatan tentang pengujian

komponen-komponen adaptor.

Sub Pokok Bahasan: Pembuatan Adaptor

1) Pendahuluan

Guru memberikan apersepsi tentang komponen-komponen adaptor

2) Kegiatan Inti

a) Guru mengkondisikan siswa menjadi kelompok-kelompok kecil

b) Guru memberikan alat dan bahan pembuatan adaptor

c) Guru menerangkan langkah-langkah pembuatan adaptor

d) Guru mendemonstrasikan cara menyolder

e) Siswa melakukan kegiatan pembuatan adaptor

f) Siswa membuat laporan kegiatan


16

Komponen pendekatan kontekstual yang tampak antara lain: kelompok

belajar (learning community), bertanya (quetioning), dan menemukan (inquiri),

dan kontruktivisme yaitu siswa dapat mengelompokkan alat dan bahan dalam

pembuatan adaptor, siswa dapat membuat desain rancangan rangkaian adaptor,

siswa dapat membuat adaptor, dan siswa dapat membuat laporan kegiatan.

3) Penutup

a) Guru memberikan waktu untuk bertanya

b) Guru melakukan penilaian: hasil karya berupa adaptor, laporan kegiatan,

dan kerjasama kelompok.

Komponen pendekatan kontekstual yang tampak antara lain penilaian dan

refleksi. Refleksi yaitu siswa dapat menyimpan pengetahuan tentang pembuatan

adaptor yang diperoleh dari hasil kegiatan praktik.

6. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemempuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia

menerima pengalaman belajar (Nana Sudjana, 1990: 22).

Bloom membagi tiga tipe hasil belajar yaitu kognitif, afektif dan

psikomotor (Nana Sudjana, 1989: 46). Hasil belajar yang harus dimiliki

adalah kemampuan kognitif yaitu siswa mampu menguasai pengetahuan,

pemahaman, dan penerapan/ aplikasi pada pokok bahasan adaptor.

Kemampuan psikomotor yaitu siswa dapat membuat adaptor dan menguji

komponen-komponen adaptor. Kemampuan afektif yaitu aspek tingkah

laku antara lain pengetahuan, pemahaman, kecakapan, dan perhatian.

7. Evaluasi/ Penilaian

Untuk dapat menentukan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran perlu

dilakukan usaha atau tindakan penilaian. Penilaian hasil belajar adalah

proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa


17

dengan kriteria tertentu sesuai tipe hasil belajar yaitu kognitif dan

psikomotor (Zaenal Arifin, 1988: 3).

Hakekat Muatan Lokal Elektronika

Pendidikan keterampilan elektronika diberikan kepada siswa Sekolah Lanjutan Tingkat

Pertama dengan tujuan agar lulusan memiliki keterampilan sekurang-kurangnya satu jenis

keterampilan profesional, sesuai dengan minat dan bakat serta kebutuhan lingkungan. Dalam

program pengajaran, keterampilan elektronika terangkum dalam mata pelajaran muatan lokal.

Mata pelajaran keterampilan elektronika diberikan kepada siswa berupa teori dan

praktik. Hal ini dimaksudkan agar siswa benar-benar paham tentang ilmu yang dipelajarinya,

sehingga mampu berkarya sendiri secara sederhana.

Khusus mengenai keterampilan elektronika di SLTP Negeri 2 Kudus, materi untuk

siswa kelas VIII Tahun Ajaran 2004/ 2005 adalah adaptor yang terdiri dari:

1. Bagian-bagian adaptor

a) Bagian input tegangan

b) Bagian penurun tegangan

c) Bagian penyearah

d) Bagian filter

e) Bagian output tegangan

2. Pengujian tiap-tiap komponen adaptor

3. Pembuatan adaptor

a) Menyiapkan alat dan bahan

b) Membuat PCB

c) Memasang Komponen pada PCB

d) Pengawatan komponen pada terminal

e) Menyolder

f) Mencoba
18

Uraian Materi Adaptor

Bagian-Bagian Adaptor

Agar pesawat elektronika dapat bekerja, maka pesawat tersebut harus

mendapatkan energi listrik. Energi listrik yang diperlukan adalah listrik arus searah (DC=

Direct Current)

Untuk pesawat-pesawat elektronika dengan daya kecil (radio) dapat

menggunakan batu baterai sebagai energi listriknya. Untuk pesawat-pesawat elektronika

yang dengan daya besar sebagai energi digunakan aki/ adaptor.

Adaptor adalah suatu rangkaian elektronika yang berfungsi menurunkan tegangan

listrik bolak-balik (AC) dan mengubahnya menjadi listrik arus searah

(DC). Adaptor adalah salah satu sumber listrik searah yang dapat

menggantikan fungsi kerja beberapa batu baterai/ aki.

Adapun adaptor terdiri atas beberapa bagian, yaitu bagian input tegangan, bagian

penurun tegangan, bagian penyearah, bagian filter/ penyaring, bagian stabilisator, dan

bagian output tegangan.

Bagian Input Tegangan

Aliran arus listrik yang digunakan untuk mensuplay/ memberi daya listrik pada

adaptor disesuaikan dengan tegangan transformator. Biasanya

transformator yang digunakan untuk tegangan-tegangan tertentu misal

110 V, 220 V (gulungan primer). Untuk menyesuaikan tegangan kerja

pada transformator dengan masukan tegangan yang berasal dari jala-

jala PLN/ sumber listrik yang lain, perlu adanya penyesuaian agar

tegangan kerja transformator dapat bekerja dengan baik. Fungsinya


19

untuk menghubungkan arus bolak-balik (AC) yang berasal dari sumber

tegangan dengan transformator.

Bagian Penurun Tegangan

Terdiri dari sebuah transformator step down (penurun tegangan) berfungsi

sebagai penurun tegangan arus bolak-balik (AC), periksa gambar 2.2. Tegangan

sumber biasanya berasal dari arus PLN dengan tegangan 110 V atau 220 V.

Tegangan ini diturunkan menjadi 3 V; 4,5 V; 6 V; 9 V; 12 V dan sebagainya

sesuai dengan lilitan sekunder trafo. Jenis trafo yang digunakan untuk adaptor

adalah trafo output tunggal (tanpa CT) dan trafo output ganda (CT).

0 0
0 12 V
6V
110 V 110 V CT
6V
12V
(a) (b) 12 V
220V
220 V

Gambar 2.2. Transformator


(a) Trafo output tunggal (b) Trafo output ganda
Bagian Penyearah

Tegangan sumber sudah diturunkan oleh trafo, tetapi arus listriknya masih berupa

arus bolak-balik. Bagian penyearah berfungsi merubah arus AC

menjadi arus DC. Untuk merubah arus AC menjadi arus DC digunakan

komponen dioda. Suatu dioda penyearah biasa dinyatakan dengan arus

maksimum yang dapat dialirkan, misal 1 A; 2 A; 4 A; 5 A hingga 10

A.

Macam-macam penyearah yaitu:

1) Penyearah Tunggal
20

Perubahan arus AC menjadi arus DC pada rangkaian

penyearah tunggal hanya menggunakan sebuah dioda untuk arus

listrik yang berasal dari trafo output tunggal (tanpa CT). Perhatikan

gambar 2.3.

+
+ + R
- -

Gambar 2.3. Penyearah tunggal

Bila dioda mendapat masukan (input) arus bolak-balik satu

gelombang yang bertanda positip (setengah gelombang).

Penyearah sistem ini menghasilkan arus searah yang berdenyut.

2) Penyearah Ganda

Untuk mendapatkan arus searah yang lebih stabil

digunakan penyearah ganda yaitu bila trafo yang digunakan adalah

trafo tunggal penyearahnya dengan 4 buah dioda yang dikenal

dengan diode jembatan (periksa gambar 2.4a). Bila digunakan trafo

ganda maka cukup dengan 2 dioda penyearah (lihat gambar 2.4b).

D2
+ D1
+ + R
- D4
D3

(a)

+
- CT + + R
21

(b)

Gambar 2.4. Penyearah Ganda

(a) Penyearah dioda jembatan (b) Penyearah titik cabang tengah

Bagian Filter

Hasil penyearahan masih mengandung tegangan ripple (berdenyut). Agar

mendapatkan tegangan yang lebih sempurna/ halus diperlukan rangkaian filter.

Komponen yang digunakan sebagai filter antara lain:

1) Condensator Elektrolit (elco) kerjanya mengisi/ menutup hasil dari penyearahan.

2) Lilitan atau resistor kerjanya menghambat arus agar arus yang ditampung

kondensator tidak cepat habis.

Gambar 2.5a memperlihatkan bagian filter adaptor menggunakan

rangkaian kondensator dan resistor (RCR) dan gambar 2.5b memperlihatkan

gambar bagian filter adaptor menggunakan rangkaian kondensator dan lilitan

(CLC).

+ C1 + + + C2
- CT R

(a)

+ C1 C2
- CT R
+ + +

(b)

Gambar 2.5. Penyaring

(a) Penyaring sistem CRC (b) Penyaring sistem CLC


22

Bagian Stabilisator/ Pemantap Tegangan

Pemantap tegangan adaptor diperlukan untuk menstabilkan tegangan

yang naik turun. Komponen stabilisator tegangan yang digunakan antara lain

dioda zener, transistor, dan IC.

Bagian Output Tegangan

Bagian output tegangan pada adaptor terdiri dari penghubung dan jack/

jepit buaya berfungsi sebagai penghubung antara output DC adaptor dengan

pesawat pemakai, misalnya radio.

Menguji Komponen Adaptor

Sebelum komponen dirangkai, dalam pembuatan adaptor, sebaiknya diuji dahulu

untuk memastikan komponen-komponen yang diperlukan dalam

keadanan baik atau rusak. Untuk mengetes komponen pada adaptor

digunakan alat multimeter (ohmmeter).

Mengetes Transformator

Cara melakukan uji baik buruknya transformator dapat dilihat seperti gambar 2.6.

Gambar 2.6. Pengetesan transformator

Langkah-langkah pengetesan transformator:

1) Arahkan sakelar pada posisi ohm meter R. X1K

2) Lakukanlah pengetesan pada kumparan primer, colok ohm meter boleh bolak-

balik

Hasil pengetesan

a) 0 dengan 110 : jarum begerak berarti baik, bila jarum diam berarti putus

b) 0 dengan 220: jarum bergerak berarti baik, bila jarum diam berarti putus
23

3) Lakukanlah pengetesan pada kumparan sekunder

0 dengan 3; 4; 5; 6; 9; dan 12 secara bergantian: jarum bergerak berarti baik, bila

jarum diam berarti putus (rusak)

4) Lakukanlah pengetesan pada kumparan primer dengan kumparan sekunder

a) Jika jarum diam berarti baik

b) Jika jarum bergerak berarti konsleting

5) Hubungkan kabel merah pada plat inti besi dan kabel hitam pada kumparan

primer atau kumparan sekunder

a) Jika jarum diam berarti plat inti besi dengan kumparan primer atau

kumparan sekunder baik

b) Jika jarum bergerak berarti plat inti besi dengan kumparan primer atau

kumparan sekunder konsleting

Mengetes Dioda

Cara melakukan uji baik buruknya dioda dapat dilihat seperti gambar 2.7.

+ +
- -

Gambar 2.7. Pengetesan dioda

Langkah-langkah pengetesan dioda:

1) Arahkan sakelar pada posisi ohm meter (R. X1, R. X10, K)

2) Hubungkan kabel hitam dengan kaki anoda dan kabel merah pada kaki katoda

a) Jika jarum ohm meter bergerak menuju angka tertentu berarti dioda baik

b) Jika jarum ohm meter diam berarti dioda putus

3) Hubungkan kabel hitam dengan kaki katoda dan kabel merah pada kaki anoda

a) Jika jarum ohm meter diam berarti dioda baik

b) Jika jarum ohm meter bergerak menuju angka tertentu berarti dioda

konsleting
24

c) Jika jarum ohm meter bergerak jauh kekanan berarti dioda bocor

Mengetes Kondensator elektrolit (elco)

Cara melakukan uji baik buruknya kondensator elektrolit (elco) dapat dilihat

seperti gambar 2.8.

Gambar 2.8. Pengetesan kondensator elektrolit

Langkah-langkah pengetesan elco:

1) Arahkan sakelar pada posisi ohm meter (R. X1, R. X10, K).

2) Setel jarum tepat pada angka nol dengan knop penyetel jarum skala.

3) Hubungkan kabel merah dengan kaki negatif elco dan kabel hitam dengan

kaki positip elco

a) Jika jarum ohm meter bergerak kekanan kemudian kembali semula

berarti elco baik

b) Jika jarum ohm meter bergerak kekanan dan tidak kembali semula

berarti elco bocor

c) Jika jarum ohm meter bergerak kekanan dan kembali berhenti tidak

sampai ke nol berarti elco rusak

d) Jika jarum ohm meter tidak bergerak berarti elco putus

Mengetes Resistor

Cara melakukan uji baik buruknya resistor dapat dilihat seperti

gambar 2.9.
25

Gambar 2.9. Pengetesan resistor

Langkah-langkah pengetesan resistor:

1) Putarlah saklar pada posisi ohm meter R. X1, R. X10, R. X1K menurut

besarnya nilai hambatan yang diperkirakan

2) Stel jarum pada angka nol ohm dengan cara menghubungkan kedua kabel

ohm meter, putar pengatur jarum nol ohm

3) Hubungkan kabel merah dan kabel hitam pada kedua kaki resistor (boleh

bolak-balik)

a) Jika jarum ohm meter bergerak ke kanan menunjuk nilai hambatan

yang sesuai berarti resistor baik

b) Jika jarum ohm meter tidak bergerak berarti resistor putus

Mengetes Transistor PNP dan NPN

Cara melakukan uji baik buruknya transistor PNP dan NPN dapat

dilihat seperti gambar 2.10.

Gambar 2.10. Pengetesan transistor

Langkah-langkah pengetesan transistor PNP:

1) Putarlah saklar pada posisi ohm meter R. X1

2) Hubungkan kabel merah pada basis dan kabel hitam secara bergantian pada kaki

emitor colektor

a) Jika jarum ohm meter bergerak ke kanan berarti transistor baik


26

b) Jika jarum ohm meter diam berarti transistor putus

Langkah-langkah pengetesan transistor NPN:

1) Putarlah saklar pada posisi ohm meter R. X1

2) Hubungkan kabel hitam pada kaki basis dan kabel merah secara bergantian pada

kaki emitor atau colektor

a) Jika jarum ohm meter diam berarti transistor putus

b) Jika jarum ohm meter bergerak ke kanan berarti transistor baik

f. Mengetes sekering

Cara melakukan uji baik buruknya sekering dapat dilihat seperti gambar 2.11.

Gambar 2.11. Pengetesan sekering

Langkah-langkah pengetesan sekering:

1) Putarlah saklar pada posisi ohm meter R. X1

2) Hubungkan kabel merah dan kabel hitam pada ujung sekering

a) Jika jarum ohm meter bergerak ke kanan berarti sekering baik

b) Jika jarum ohm meter diam berarti sekering rusak

Pembuatan Adaptor

R1
220 Ohm
T (0,5 - 1A) D1 1N 4001
S C1 C2 +
1000uF 470uF
R2
820 Ohm

TR
D1 1N 4001

Gambar 2.12. Rangkaian adaptor -

Untuk membuat adaptor sesuai gambar 2.12. perlu :

Menyiapkan Alat dan Bahan


27

1) Alat-alat

a) Solder listrik 30-40 W/ 220 e) Pisau/ silet

V f) Tespen

b) Pinset g) Soldering atraktor

c) Tang potong h) Multimeter

d) Tang lancip

2) Bahan atau komponen

a) Kabel steker h) Kondensator C2 470 µF/16V

b) Sekering i) Resistor R1 220 Ω/3W


c) Saklar geser j) Resistor R1 820 Ω/3W
d) Saklar putar k) Transistor Tr 2 SB178
e) Trafo 220/12V (0,5-1 A) l) PCB
f) Dioda tipe 1N 4001 m) Kabel dan tinol
g) Kondensator C1 1000

µF/16V

b. Membuat PCB

PCB berguna sebagai tempat komponen-komponen agar teratur dan rapi, karena

tidak banyak menggunakan kabel. Bahan yang digunakan dalam pembuatan PCB antara

lain:

1) Copper Plate Board

2) Rencana gambar

3) Spidol tahan air, letter print elektronik

4) Larutan ferriclorida (FeCl3)

5) Mini bor dengan mata bor 0,8 mm

Langkah-langkah pembuatan PCB

1) Membuat rencana gambar pada kertas milimeter

2) Bersihkan Copper Plate Board dari kotoran atau karat dan keringkan

3) Gambar rencana gambar pada permukaan tembaga sesuai dengan desain gambar

4) Membuat larutan FeCl3 dalam ember atau loyang plastik


32

5) Masukkan Copper Plate Board ke dalam larutan FeCl3, sambil di goyang-goyang

dan tunggu sesaat agar lapisan tembaga yang tidak tertutup spidol cepat larut

6) Bersihkan PCB dengan air sabun dan dianginkan

7) Lubangi tempat kaki komponen dengan bor mini

c. Memasang komponen pada PCB

Memasang komponen pada PCB maksudnya merangkai komponen sesuai skema dengan

memperhatikan letak kaki komponen.

d. Pengawatan Komponen pada Terminal

Menghubungkan komponen yang satu dengan yang lain dengan menggunakan

kabel atau kawat disebut pengawatan. Sedangkan suatu penghantar yang merupakan titik

pertemuan dari berbagai kawat penghubung disebut terminal. Misalnya terminal pada

trafo, sekering, saklar dan laian-lain. Oleh sebab itu di dalam pembuatan adaptor

diperlukan pengawatan pada terminal.

e. Menyolder

Alat yang digunakan adalah solder listrik atau solder yang dipanaskan dengan

api. Hal yang harus diperhatikan sebelum menyolder:

1) Ujung solder runcing dan bersih dari kerak atau karat

2) Suhu solder panas, berdaya 30-40 W

3) Jalur tembaga pada PCB dan kaki komponen harus bersih

4) Timah berkalitas baik

Langkah-langkah menyolder:

1) Setelah komponen dipasang pada PCB, tempelkan mata solder pada jalur PCB dan

tenol pada kaki komponen membentuk sudut ± 300.

2) Usahakan timah yang menempel membentuk setengah lingkaran dan mengkilat. Hasil

solderan jangan digoyang agar rapi.

f. Mencoba

Sebelum mencoba adaptor yang telah dibuat sebaiknya periksa terlebih dahulu

hal-hal berikut antara lain:

1) Jalur PCB dan kaki komponen yang disolder menempel dengan baik
33

2) Hubungan pada terminal pada trafo, sakelar, PCB dengan menggunakan kabel sudah

baik dan benar

3) Letak kaki komponen tidak terbalik seperti dioda, elco dan transistor

4) Cek tegangan listrik pada stop kontak dengan tespen atau multimeter

Mencoba Adaptor (lihat gambar 2.12. hal 30) :

1) Masukkan steker adaptor pada stop kontak PLN

2) Geser saklar ke posisi On

3) Perhatikan lampu indikator, bila menyala berarti rangkaian adaptor bekerja

4) Ukurlah tegangan output dengan multimeter, bila tegangan output sesuai dengan yang

dikehendaki berarti adaptor bekerja dengan baik

Kerangka Berpikir

Sebagai lembaga yang menghasilkan lulusan pendidikan tingkat pertama yang

berkualitas, SLTP Negeri 2 Kudus telah menyiapkan kurikulum muatan lokal bagi siswanya.

Dengan kurikulum yang ada siswa disiapkan untuk mampu mengembangkan kehidupannya

sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara sesuai dengan tingkat perkembangan

serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan tingkat menengah.

Sedangkan usaha guru dalam pembelajaran adalah dengan memperbaiki model

pembelajaran yaitu dengan menerapkan pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan

kontekstual. Pelaksanaan proses pembelajaran yaitu pembelajaran yang memberdayakan

semua potensi yang peserta didik untuk menguasai kompetensi (pengetahuan dan

keterampilan) sehingga mendorong individu untuk belajar sepanjang hayat dan mewujudkan

masyarakat belajar.

Dengan diterapkannya pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan

kontekstual diharapkan siswa dalam kegiatan belajar dapat mencapai tujuan pembelajaran

khusus (mencapai penguasaan kompetensi). Untuk mengetahui keefektivan pembelajaran

dapat dilihat dari siswa yang mencapai tujuan instruksional yang terdapat pada tes hasil

belajar.
34

Berdasar uraian diatas, timbullah keinginan untuk melakukan penelitian di SLTP

Negeri 2 Kudus tentang efektifitas pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan

kontekstual pada mata pelajaran keterampilan elektronika siswa SLTP Negeri 2 Kudus Tahun

Ajaran 2004/ 2005.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen.

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah One-shot case study. One-shot case

study yaitu suatu metode penelitian yang menggunakan treatment satu kali dan diadakan post

test satu kali (Suharsimi Arikunto, 1998: 83)

Tabel 3.1. Desain penelitian


Perlakuan (treatment) Posttes
X O

Langkah-langkah desain penelitian adalah sebagai berikut:

Memilih sekelompok siswa untuk sampel dari seluruh siswa kelas VIII yaitu sejumlah 72

orang.

Siswa diberi perlakuan yaitu diajar dengan pembelajaran berbasis kompetensi dengan

pendekatan kontekstual.

Siswa diberi post test untuk mengetahui pencapaian terhadap hasil belajar.

Dari hasil post test diambil kesimpulan yaitu dengan melihat nilai rata-rata hasil belajar teori

dan praktik dibandingkan dengan standar minimal rata-rata belajar tuntas.

B. Populasi

Populasi didefinisikan sebagai keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi Arikunto:

1998: 115). Menurut Sudjana (1996: 6) populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin,

hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik

tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-

sifatnya.

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas VIII sebanyak

enam kelas di SLTP Negeri 2 Kudus dengan jumlah 243 orang.

C. Sampel

45
46

Sampel adalah sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi.

Sampel paling sedikit harus mempunyai satu sifat yang sama ( Sutrisno Hadi, 1988: 221).

Menurut Suharsimi Arikunto (1998: 117) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang

diteliti.

Dalam penelitian, pengambilan sampel menggunakan rumus slovin sebagai berikut :

N
n= 2
1 + N (e )
Keterangan:
n = Ukuran sampel
N = Ukuran populasi
e = Persen kelonggaran ketidaktelitian kesalahan pengambilan sampel yang
masih ditolelir, yang diambil dalam penelitian ini adalah 10%. (Husein,
1996: 78)
Berdasarkan rumus tersebut, maka sampel yang akan diteliti dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2. Sampel Penelitian


No Kelas Populasi Sampel
1 VIII-A 40 12
2 VIII-B 41 12
3 VIII-C 40 12
4 VIII-D 42 12
5 VIII-E 40 11
6 VIII-F 40 12
Jumlah 243 71

Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 72 siswa dengan teknik

pengambilan sampel secara proportional random sampling, yaitu pengambilan sampel secara

acak sesuai proporsinya. Dengan demikian peneliti memberi hak yang sama kepada setiap

siswa dari pada tiap kelas untuk memperoleh kesempatan yang sama menjadi sampel

penelitian.

D. Variabel Penelitian

Menurut Suharsimi Arikunto (1998: 99) variabel penelitian adalah sesuatu yang

menjadi objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
47

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebasnya adalah pembelajaran berbasis

kompetensi dengan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran keterampilan elektronika.

Sedangkan variabel terikatnya yaitu hasil belajar siswa.

E. Metode Pengumpulan Data


1. Metode Dokumenter

Metode dokumenter adalah metode pengumpulan data dengan mencatat data yang

ada pada arsip, misalnya untuk mengetahui nama siswa kelas VIII SLTP Negeri 2 Kudus.

Teknik dokumentasi dilaksanakan dengan cara menganalisis data yang terdapat

dalam dokumen-dokumen sekolah seperti buku induk, buku pribadi, catatan guru atau

wali kelas, surat rekomendasi atau keterangan dan lain-lain.

2. Metode Tes

Menurut Suharsimi Arikunto (1999: 53) tes merupakan alat atau prosedur yang

digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dari kegiatan belajar, dengan cara

dan aturan yang sudah ditentukan. Untuk mengerjakan tes tergantung dari petunjuk yang

diberikan misalnya melingkari salah satu huruf di depan pilihan jawaban, menerangkan,

mencoret jawaban yang salah, melakukan tugas atau suruhan, menjawab dengan lisan dan

sebagainya.

Penelitian ini digunakan tes objektif berupa tes pilihan ganda. Alasan digunakan

tes pilihan ganda yaitu untuk mempermudah pemberian nilai dan tes pilihan ganda tidak

bersifat subjektif.

3. Metode Observasi

Metode observasi/pengamatan digunakan untuk mengukur keterampilan praktik

siswa dalam pembuatan adaptor.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini terdiri atas dua macam yaitu lembar

pengamatan untuk mengukur kemampuan praktik siswa dalam pembuatan

adaptor dan instrumen tes tertulis berupa soal-soal pokok bahasan adaptor

yang berjumlah 50 butir soal obyektif. Penyusunan instrumen tes soal obyektif
48

dalam penelitian ini mengacu pada GBPP 1994. Jadi instrumen yang

digunakan untuk mengukur aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang

dimiliki individu atau kelompok (Suharsimi Arikunto, 1993: 123).

Agar butir-butir soal tersebut memenuhi syarat untuk dijadikan instrumen penelitian,

maka dilakukan uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya

pembeda.
a. Validitas

Menurut Suharsimi Arikunto (1998: 160) validitas adalah suatu ukuran yang

menunjukkan tingkat-tingkat kesahihan suatu instrumen. Untuk mengetahui valididas

butir soal digunakan rumus Korelasi Point Biserial.

M p − Mt p
rpbis =
St q

Keterangan:

rphis : Koefisien korelasi poin biserial

Mp : Rerata skor dari subjek yang menjawab betul bagi item yang dicari validitasnya

Mt : Rerata skor total

St : Standar deviasi dari skor total

p : Proporsi subyek yang menjawab betul

 banyaknya siswa yang menjawab benar 


 p = 
 jumlah siswa 
q : proporsi siswa yang menjawab salah

(q = 1-p)

Butir soal valid jika mempunyai koefisien korelasi rpbis > rtabel

(Suharsimi Arikunto, 1999: 79)

Berdasarkan hasil uji coba terhadap 40 siswa kelas IXA diperoleh

7 soal yang tidak valid dari 50 soal yang diujicobakan. Hasil perhitungan
49

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran dan terangkum seperti pada

tabel 3.3.

Tabel 3.3. Ringkasan Validitas Soal Uji Coba

No Kriteria No soal Jumlah

1 Valid 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 12, 13, 14, 15, 43 soal


17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 27,
28, 29, 30, 31, 33, 34, 35, 36, 37, 38,
39, 40, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49

2 Tidak valid 5, 11, 16, 26, 32, 41, 50 7 soal

Berdasarkan analisis ujicoba tersebut dapat diambil kesimpulan

bahwa dari 50 soal terdapat 43 soal yang layak digunakan untuk

instrumen penelitian.

b. Reliabilitas

Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahan sesuatu

instrumen dapat dipercaya kebenarannya untuk digunakan sebagai alat

pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. (Suharsimi

Arikunto, 1998: 170). Rumus yang digunakan untuk mengukur reliabilitas

adalah rumus K-R20. Yaitu:

 k  S − ∑ pq 
2

r11 =  
 k − 1  S2 

Keterangan:

r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan

p = proporsi subjek yang menjawab benar

q = proporsi subjek yang menjawab salah

k = banyaknya butir soal


50

S = Standar deviasi dari tes (standar deviasi adalah akar varians)

(Suharsimi Arikunto, 1999: 101)

Kemudian harga r11 yang diperoleh dikonsultasikan dengan tabel

product moment. Apabila rhitung > rtabel dengan taraf signifikan 5% maka

instrumen dinyatakan reliabel. Berdasarkan hasil analisis ujicoba

instrumen diperoleh r11 sebesar 0,9138 > rtabel = 0,312 maka instrumen

tersebut reliabel.

c. Tingkat kesukaran soal

Tingkat kesukaran butir soal menunjukkan kemampuan butir soal

tersebut menyaring banyaknya peserta tes yang dapat mengerjakan dengan

betul. Untuk mengetahui tingkat kesukaran butir soal digunakan rumus:

B
P=
JS

Keterangan:

P = indeks kesukaran butir soal

B = banyaknya siswa yang menjawab benar

JS = jumlah siswa peserta tes

(Suharsimi Arikunto, 1999: 210)

Indeks kesukaran tersebut diklasifikasikan sebagai berikut:

0,00 < p ≤ 0,30 sukar

0,30 < p ≤ 0,70 sedang

0,70 < p ≤ 1,00 mudah

(Suharsimi Arikunto, 1999: 210)

Berdasarkan hasil ujicoba instrumen tes diperoleh 8% soal dengan

kriteria sukar, 50% sedang dan 42% mudah. Hasil perhitungan dapat

dilihat pada lampiran dan terangkum pada pada tabel 3.4.


51

Tabel 3.4. Ringkasan Tingkat Kesukaran Soal Ujicoba

No Kriteria Nomor soal Jumlah %


1 Sukar 6, 34, 36, 45 4 8
2 Sedang 2, 4, 7, 8, 9, 12, 13, 14, 15, 18, 25 50
19, 23, 28, 29, 30, 31, 33, 35, 38,
41, 42, 43, 44, 48, 49
3 Mudah 1, 3, 5, 10, 11, 16, 17, 20, 21, 22, 21 42
24, 25, 26, 27, 32, 37, 39, 40, 46,
47, 50

d. Daya Pembeda Soal

Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk

membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi (kelompok atas)

dengan siswa yang berkemampuan rendah (kelompok bawah). Rumus

yang digunakan adalah:

BA BB
D= −
JA JB

Keterangan:

D = Indeks diskriminasi (daya pembeda)

JA = Banyaknya peserta kelompok atas

JB = Banyaknya peserta kelompok bawah

BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar

BB = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar

(Suharsimi Arikunto, 1999: 214)

Klasifikasi item soal berdasarkan indeks daya pembeda soal yaitu:

0,71 - 1,00 Sangat Baik

0,41 - 0,70 Baik

0,21 - 0,40 Cukup

0,00 - 0,20 Jelek


52

Jika Negatif Sangat Jelek

(Suharsimi Arikunto, 1999: 218)

Berdasarkan hasil ujicoba diperoleh 12% soal yang daya


pembedanya jelek, 60% cukup dan 28% dalam kategori baik. Hasil
perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran dan terangkum
seperti pada tabel 3.5.
Tabel 3.5. Ringkasan Daya Pembeda Soal Ujicoba
No Kriteria Nomor soal Jumlah %
1 Jelek 5, 11, 16, 26, 32, 50 6 12
2 Cukup 1, 3, 7, 9, 10, 12, 18, 19, 20, 30 60
22, 24, 25, 28, 29, 31, 33, 34,
35, 36, 37. 38, 39, 40, 41, 42,
44, 45, 46, 48, 49
3 Baik 2, 4, 6, 8, 13, 14, 15, 17, 21, 14 28
23, 27, 30, 43, 47

Berdasarkan analisis ujicoba tersebut dapat diambil kesimpulan

bahwa dari 50 soal terdapat 43 soal yang layak digunakan untuk

instrumen penelitian.

G. Teknik Analisis Data

Untuk menentukan tingkat kemampuan atau pemahaman siswa terhadap materi

pembelajaran dilakukan dengan teknik tes. Tingkat penguasaan masing-masing siswa akan

efektif jika memenuhi standart ketuntasan belajar yaitu rata-rata hasil belajar minimal siswa >

75 dan secara klasikal yang telah mencapai batas ketuntasan belajar minimal 85%

(Depdiknas,2003).

Nilai rata-rata dicari dengan menggunakan rumus:

X =
∑x i
, (Sudjana, 1996)
n

Keterangan :

X = nilai rata-rata hasil tes

∑ x = jumlah seluruh nilai siswa


i
53

Sedangkan untuk menghitung persentase ketuntasan belajar siswa

secara klasikal digunakan rumus sebagai berikut :

n
%= x100% (Muhammad Ali, 1987)
N

Keterangan :

n = Jumlah siswa yang sudah tuntas

N = Jumlah seluruh siswa


54

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam Bab ini dipaparkan tentang hasil penelitian meliputi deskripsi data

hasil kemampuan praktik, kemampuan hasil belajar teori, dan interprestasi

kemampuan praktik dan hasil belajar teori siswa beserta pembahasannya.

Hasil Penelitian

Deskripsi Data Kemampuan Praktik

Penilaian kemampuan praktik siswa pada pembuatan adaptor mata pembelajaran

keterampilan elektronika siswa kelas VIII SLTP Negeri 2 Kudus tahun pelajaran 2004/2005

digunakan lembar observasi/pengamatan yang menilai persiapan bahan dan alat, ketepatan langkah

kerja, penggunaan alat ukur, pengujian komponen, hasil karya, ketepatan waktu, keseriusan kerja

dan laporan praktik. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata nilai kemampuan praktik

siswa sebesar 85,92 , dengan nilai maksimal 96, minimal 72, modus 83,36 dan standar deviasi

5,81. Ditinjau hasil belajar praktik masing-masing siswa dalam proses pembuatan adaptor pada

mata pelajaran keterampilan elektronika diperoleh hasil seperti disajikan pada tabel 4.1. berikut :

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi


Data Kemampuan Praktik Pembuatan Adaptor
Kelas Interval Titik Tengah f fX X2
(X)
71 - 75 73 2 146 5329
76 - 80 78 13 1014 6084
81 - 85 83 21 1743 6889
86 - 90 88 15 1320 7744
91 - 95 93 16 1488 8649
96 - 100 98 4 392 9604
Jumlah 71 6103 44299
55

Lebih jelasnya hasil belajar praktik pembuatan adaptor pada mata

pelajaran keterampilan elektronika siswa kelas VIII SLTP Negeri 2 Kudus tahun

pelajaran 2004/2005 tersebut dapat dilihat pada gambar 4.1. :

Gambar 4.1. Bagan Distribusi Kemampuan Praktik dalam Pembuatan Adaptor Siswa Kelas VIII
SLTP Negeri 2 Kudus Tahun Ajaran 2004/2005.

Deskripsi Data Kemampuan Hasil Belajar Teori

Hasil pengukuran kemampuan hasil belajar teori siswa tentang adaptor pada mata pelajaran

keterampilan elektronika siswa kelas VIII SLTP Negeri 2 Kudus tahun ajaran 2004/ 2005

menggunakan instrumen tes soal obyektif diperoleh nilai rata-rata sebesar 82,6 , nilai tertinggi

yang dapat dicapai siswa adalah 93 nilai terendah yang dapat dicapai siswa adalah 62,8 , modus

86,33 dan standar deviasi tersebut 6,78. Harga standar deviasi yang relatif kecil tersebut

menunjukkan bahwa perbedaan kemampuan hasil belajar teori masing-masing siswa relatif kecil.

Ditinjau kemampuan hasil belajar teori masing-masing siswa tentang adaptor pada mata pelajaran

keterampilan elektronika diperoleh hasil seperti disajikan pada tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi


Data Kemampuan Hasil Belajar Teori Siswa Tentang Adaptor
Kelas Interval Titik Tengah (X) f fX X2
62.8 - 67.8 65,3 5 326.5 4264.09
67.9 - 72.9 70,4 2 140.8 4956.16
73.0 - 78.0 75,5 8 604.0 5700.25
78.1 - 83.1 80,6 12 967.2 6496.36
83.2 - 88.2 85,7 26 2228.2 7344.49
56

88.3 - 93.3 90,8 18 1634.4 8244.64


Jumlah 71 5901.1 37005.99

Lebih jelasnya kemampuan hasil belajar teori siswa tentang adaptor mata

pelajaran keterampilan elektronika siswa kelas VIII SLTP Negeri 2 Kudus tahun

pelajaran 2004/ 2005 tersebut dapat dilihat pada gambar 4.2. :

Gambar 4.2. Bagan Distribusi Kemampuan Teori tentang Adaptor Siswa Kelas VIII SLTP Negeri
2 Kudus Tahun Ajaran 2004/2005.

Interprestasi Data Hasil Belajar Praktik dan Teori

Berdasarkan data hasil belajar praktik dan hasil belajar teori siswa kelas

VIII SLTP Negeri 2 Kudus pada pokok bahasan adaptor mata pelajaran

keterampilan elektronika tahun ajaran 2004/2005 diperoleh rata-rata sebesar 84,2.

Nilai tertinggi yang dapat dicapai siswa adalah 90,5, nilai terendah yang dapat

dicapai siswa adalah 72,9, modus 87,35 dan standar deviasi 4,41. Harga standar

deviasi yang relatif kecil tersebut menunjukkan bahwa perbedaan hasil belajar

dari masing-masing siswa relatif kecil. Dilihat dari hasil belajar masing-masing

siswa menunjukkan bahwa terdapat 70 siswa atau 97,18% yang telah memiliki

hasil belajar lebih dari 75. Hal tersebut tersebut menunjukkan bahwa secara

klasikal penerapan pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan


57

kontekstual pokok bahasan adaptor pada mata pelajaran keterampilan elektronika

siswa kelas VIII SLTP Negeri 2 Kudus tahun ajaran 2004/2005 tersebut telah

melebihi batas minimal standar ketuntasan hasil belajar secara klasikal yang

ditetapkan yaitu 85%. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis

kompetensi dengan pendekatan kontekstual tersebut efektif.

B. Pembahasan
Proses pembelajaran pokok bahasan adaptor pada mata pelajaran keterampilan

elektronika dengan pendekatan kontekstual yaitu suatu proses pembelajaran yang menekankan

perolehan pengalaman belajar dalam hal bagaimana kerja sama dan berinteraksi dengan teman

dalam sebuah “team work”, dapat menjalin hubungan yang erat dengan teman yang nantinya akan

berkembang menjadi semangat solidaritas kolegial, dan juga membina hubungan kemitraan

dengan guru. Hal yang perlu ditumbuhkan dalam diri siswa yaitu adanya kesadaran bahwa apa

yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti, sehingga mereka dapat memposisikan dirinya

sebagai sosok yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti dengan mempelajari apa yang

bermanfaat bagi dirinya dan berupaya untuk mencapainya. Pada pembelajaran praktikum,

kedudukan guru hanya sebagai pembimbing dan pengarah, yang membantu siswa untuk mencapai

tujuannya.

Kegiatan utama yang dilakukan siswa pada proses pembelajaran pembuatan adaptor

melalui pendekatan kontekstual yaitu berupa praktik dan diskusi. Melalui kegiatan praktik tersebut

siswa diarahkan untuk dapat berpikir secara konstruktivisme tentang bagaimana cara kerja adaptor.

Dengan proses ini diharapkan siswa dapat mengetahui serta membuktikan kebenaran dari konsep

yang sedang mereka pelajari sehingga proses pembelajaran tersebut dapat bermakna bagi siswa

karena siswa mendapatkan kebenaran konsep melalui pengalaman nyata atau melalui fakta-fakta

yang telah dilihatnya dalam praktik.

Kegiatan utama yang lain setelah kegiatan praktikum selama proses

belajar mengajar adalah diskusi. Melalui kegiatan diskusi tersebut siswa dapat
58

membahas dan menunjukkan bukti-bukti dari hasil pengamatannya tersebut.

Setelah kegiatan diskusi selesai, siswa selanjutnya menyajikan atau merefleksikan

hasil kerja kelompok di depan kelas. Dengan kegiatan diskusi klasikal ini akan

menciptakan situasi kondusif antar siswa untuk mengemukakan pendapatnya.

Guru sebagai motivator ikut memotivasi siswa agar terlibat aktif, tidak hanya

diam dan mendengarkan. Guru memberikan penegasan konsep sehingga siswa

memperoleh persepsi yang sama. Kegiatan terakhir yang dilakukan pada proses

pembelajaran praktikum yaitu kegiatan penilaian. Penilaian dilakukan dalam

bentuk ulangan harian, laporan diskusi kelompok, dan pengamatan terhadap

kegiatan siswa.

Penilaian terhadap proses pembelajaran pokok bahasan adaptor pada

mata pelajaran keterampilan elektronika baik berdasarkan penilaian hasil praktik

dan kemampuan hasil belajar teori menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar

yang telah dicapai siswa adalah 84,2 dengan ketuntasan hasil belajar siswa secara

klasikal yaitu 97,18%. Dari hasil belajar siswa tersebut dapat diketahui bahwa

ketuntasan belajar secara klasikal yang diterapkan sebagai indikator keberhasilan

belajar siswa yaitu 85% sudah tercapai.

Tingginya pemahaman siswa tersebut disebabkan kemudahan siswa

memahami materi yang diajarkan dengan metode ini yang pada akhirnya

berdampak terhadap meningkatkan sikap siswa dalam menyenangi materi,

meningkatnya minat, semangat, dan motivasi siswa dalam mempelajari materi

yang sedang diajarkan. Dalam setiap kegiatan belajar, siswa selalu menampakkan

keaktifan baik dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang
59

sukar diamati. Keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh keaktifannya dan

keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Belajar harus dilakukan secara

aktif baik secara individu maupun kelompok, dan guru bertindak sebagai

pembimbing dan fasilitator.

Dengan peningkatan keaktifan siswa melalui pembelajaran kontesktual

tersebut mengakibatkan baiknya hasil belajar yang diperoleh siswa. Hal tersebut

sesuai dengan pendapat Sudjana (1989) yang menyatakan bahwa semakin tinggi

keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, maka makin tinggi hasil belajar yang

dicapainya.

Hal yang dapat direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian ini yaitu penerapan

pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontekstual hendaknya dilakukan secara

berkelompok sehingga siswa mampu mengidentifikasikan pengetahuan yang telah diketahuinya

dan memperluas pengetahuan tersebut melalui kegiatan praktik. Komponen-komponen di dalam

pembelajaran praktikum dengan pendekatan kontekstual yaitu konstruktivisme (contructivisme),

menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), permodelan (modeling), refleksi

(reflection), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Keadaan ideal yang dapat

dilakukan dalam pembelajaran praktikum dengan pendekatan kontekstual di dalam kelas agar

tujuan pembelajaran tersebut terwujud, maka dirumuskan komponen-komponen pembelajaran

sebagai berikut:

1. Komponen konstruktivisme

Pada komponen konstruktivisme para siswa perlu menumbuhkan diri tentang

kesadaran bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti, sehingga mereka

dapat memposisikan dirinya sebagai sosok yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya

nanti dengan mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya untuk

mencapainya. Kegiatan yang dilakukan siswa pada komponen ini adalah praktik, berlatih,

berdemonstrasi, serta menciptakan ide bersama-sama teman satu kelompok. Peran guru pada
60

tahap ini adalah membentuk siswa menjadi kelompok-kelompok kecil, agar siswa dapat

dengan mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit. Pada saat proses

pemahaman konsep tersebut guru sesekali memberikan materi yang bermakna dan relevan

bagi siswa untuk memotivasi siswa memahami konsep yang sedang dipelajari. Guru tidak

diperkenankan memberikan informasi kepada siswa tentang konsep, akan tetapi lebih

memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk menemukan dan

menerapkan idenya sendiri dalam rangka penemuan konsep tersebut oleh siswa.

2. Komponen Pemodelan

Pada komponen ini kegiatan yang dilakukan oleh guru adalah

membuat suatu model yang nantinya akan ditiru oleh siswa dan

mendemonstrasikan cara melakukannya. Guru membuka kesempatan seluas-

luasnya kepada siswa yang belum jelas dengan penjelasan guru tersebut dan

memberikan kesempatan kepada siswa-siswa yang belum aktif. Kegiatan

siswa pada komponen pemodelan ini adalah memperhatikan seluruh

penjelasan guru dengan seksama dan menanyakan setiap penjelasan guru yang

belum dipahaminya.

3. Komponen penemuan

Pada komponen ini kegiatan siswa adalah melakukan observasi,

bertanya, mengajukan dugaan, mengumpulkan data hasil pengamatan dan

memberikan simpulan atas perolehannya tersebut. Untuk menciptakan

keaktifan siswa pada kegiatan penemuan guru harus mampu menciptakan

iklim yang mendukung, menciptakan situasi yang dapat memudahkan siswa

menyusun pertanyaan, mengajukan dugaan, dan mengumpulkan data serta

mengarahkan siswa untuk dapat menyimpulkan data temuannya terebut

melalui pemberian contoh pengajuan pertanyaan kepada siswa, mengarahkan


61

siswa untuk menulis pertanyaan tersebut, dan ikut membantu siswa-siswa

yang belum mampu menyusun pertanyaan serta membantu perumusan dugaan

atas jawaban pertanyaan yang disusun siswa. Pada langkah selanjutnya guru

mengarahkan siswa untuk mengumpulkan data pengamatan beserta pembuatan

simpulannya sambil sesekali memotivasi siswa-siswa yang belum berperan

aktif dalam kegiatan tersebut.

4. Komponen pembentukan masyarakat belajar

Pada komponen pembentukan masyarakat belajar, kegiatan utama

yang dilakukan adalah diskusi hasil pengamatan. Untuk menciptakan

keaktifan siswa pada kegiatan tersebut, peran guru adalah menciptakan situasi

yang mendukung, menfasilitasi kemungkinan terjadinya interaksi antara

presenter dengan audiens, membantu mengembangkan cara mengevaluasi

hasil penemuan studi selama presentasi baik secara lisan maupun tertulis.

5. Komponen refleksi

Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari

atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu.

Pada komponen ini yang peran guru adalah menyiapkan sedikit waktu di akhir

pembelajaran untuk memberikan pernyataan langsung tentang apa yang

diperolehnya, catatan atau jurnal selama kegiatan berlangsung. Pada

kesempatan ini siswa diberikan kesempatan untuk memberikan kesan terhadap

kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dan memberikan saran demi

kebaikan pelaksanaan pembelajaran untuk kesempatan berikutnya.

6. Komponen penilaian yang sebenarnya.


62

Penilaian merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa

memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Pada kesempatan ini

yang dilakukan guru adalah melakukan penilaian berdasarkan catatan-catatan

yang diperoleh guru selama proses belajar mengajar berlangsung terkait

dengan karya siswa, penampilan siswa selama diskusi, penilaian terhadap

laporan hasil praktek siswa, dan penilaian hasil tes tertulis siswa.
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan metode

pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontesktual pada mata pelajaran

keterampilan elektronika mampu mencapai tujuan instruksional khusus yang ditunjukkan dari

telah terpenuhinya kriteria belajar tuntas secara indivudu maupun secara klasikal. Hal ini

tampak dari rata-rata hasil belajar yang dicapai siswa melalui metode kontekstual yaitu 84,2

lebih besar dari 75. Ditinjau dari ketuntasan hasil belajar secara klasikal menunjukkan bahwa

70 siswa atau 97,18% telah mencapai batas minimal ketuntasan belajar secara klasikal yaitu

85% siswa dalam kelas memperoleh nilai melebihi 75. Karena batas ketuntasan siswa secara

klasikal yaitu 85% telah tercapai menunjukkan bahwa metode ini sangat efektif.

B. Saran

Atas dasar simpulan disampaikan saran yaitu sebagai bahan pertimbangan guru

elektronika untuk dapat melakukan pembelajaran pada pokok bahasan adaptor dengan

pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontekstual, sehingga pembelajaran

menjadi lebih optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1994. Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Dasar Propinsi Jawa


Tengah. Jakarta

Depdiknas. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Sekolah


Menengah Pertama (SMP). Jakarta.

. 2003. Pedoman Khusus Penilaian Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama


(SMP). Jakarta.

. 2003. Pendekatan Kontekstual. Jakarta

45
46

Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud

Hermana Soemantri. 1993. Perekayasaan Kurikulum Pendidikan Dasar dan


Menengah. Bandung: Angkasa

Husein Umar. 1996. Metodologi Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: Raja Grafindo
Persada

K.S Tugiyono, dkk. 1983. Pendidikan Keterampilan Teknik Elektronika Adaptor. Solo: Tiga
Serangkai

Muhammad Ali. 1987. Penelitian Pendidikan Prosedur & Strategi. Bandung:


Angkasa
Max Darsono. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press

Nana Sudjana. 1990. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

1996. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru

. 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru

Ngalim Purwanto. 1997. Prinsip-Prinsip Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja


Rosdakarya

Prasodjo, dkk. 1983. Belajar Elektronika. Solo: Tiga Serangkai

Suharsimi Arikunto. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi.


Yogyakarta: PT Rhineka Cipta
. 1998. Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rhineka Cipta

. 1999. Dasar-Dasar Evaluasi


Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Sutrisno Hadi. 1998. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset

S Nasution. 1994. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Angkasa


Sudjana. 1996. Metode Statistika. Bandung: Tarsito

Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rhineka Cipta

Tabrani Rusyan, dkk. 1992. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remadja
Rosdakarya

Usman_NZ. 1991. Keefektivan Metode Pemetaan Konsep pada Mata Pelajaran Ilmu Listrik dan
Bahan-bahan Listrik STM Negeri se-Kotamadia Semarang. Tesis Pendidikan FPS IKIP
Jakarta tidak dipublikasikan.

WJS Porwodarminto. 1986. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Winarno Surakhmad. 1994. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar Dasar dan Teknik Metodologi
Pengajaran. Bandung: Tarsito
47

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam Bab ini dipaparkan tentang hasil penelitian meliputi deskripsi data

hasil kemampuan praktik, kemampuan hasil belajar teori, dan interprestasi

kemampuan praktik dan hasil belajar teori siswa beserta pembahasannya.

Hasil Penelitian

Deskripsi Data Kemampuan Praktik

Penilaian kemampuan praktik siswa pada pembuatan adaptor mata pembelajaran

keterampilan elektronika siswa kelas VIII SLTP Negeri 2 Kudus tahun pelajaran 2004/2005

digunakan lembar observasi/pengamatan yang menilai persiapan bahan dan alat, ketepatan langkah

kerja, penggunaan alat ukur, pengujian komponen, hasil karya, ketepatan waktu, keseriusan kerja

dan laporan praktik. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata nilai kemampuan praktik

siswa sebesar 85,92 , dengan nilai maksimal 96, minimal 72, modus 83,36 dan standar deviasi

5,81. Ditinjau hasil belajar praktik masing-masing siswa dalam proses pembuatan adaptor pada

mata pelajaran keterampilan elektronika diperoleh hasil seperti disajikan pada tabel 4.1. berikut :

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi


Data Kemampuan Praktik Pembuatan Adaptor
Kelas Interval Titik Tengah f fX X2
(X)
71 - 75 73 2 146 5329
76 - 80 78 13 1014 6084
81 - 85 83 21 1743 6889
86 - 90 88 15 1320 7744
91 - 95 93 16 1488 8649
96 - 100 98 4 392 9604
Jumlah 71 6103 44299
Lebih jelasnya hasil belajar praktik pembuatan adaptor pada mata

pelajaran keterampilan elektronika siswa kelas VIII SLTP Negeri 2 Kudus tahun

pelajaran 2004/2005 tersebut dapat dilihat pada gambar 4.1. :


48

Gambar 4.1. Bagan Distribusi Kemampuan Praktik dalam Pembuatan Adaptor Siswa Kelas VIII
SLTP Negeri 2 Kudus Tahun Ajaran 2004/2005.

Deskripsi Data Kemampuan Hasil Belajar Teori

Hasil pengukuran kemampuan hasil belajar teori siswa tentang adaptor pada mata pelajaran

keterampilan elektronika siswa kelas VIII SLTP Negeri 2 Kudus tahun ajaran 2004/ 2005

menggunakan instrumen tes soal obyektif diperoleh nilai rata-rata sebesar 82,6 , nilai tertinggi

yang dapat dicapai siswa adalah 93 nilai terendah yang dapat dicapai siswa adalah 62,8 , modus

86,33 dan standar deviasi tersebut 6,78. Harga standar deviasi yang relatif kecil tersebut

menunjukkan bahwa perbedaan kemampuan hasil belajar teori masing-masing siswa relatif kecil.

Ditinjau kemampuan hasil belajar teori masing-masing siswa tentang adaptor pada mata pelajaran

keterampilan elektronika diperoleh hasil seperti disajikan pada tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi


Data Kemampuan Hasil Belajar Teori Siswa Tentang Adaptor
Kelas Interval Titik Tengah (X) f fX X2
62.8 - 67.8 65,3 5 326.5 4264.09
67.9 - 72.9 70,4 2 140.8 4956.16
73.0 - 78.0 75,5 8 604.0 5700.25
78.1 - 83.1 80,6 12 967.2 6496.36
83.2 - 88.2 85,7 26 2228.2 7344.49
88.3 - 93.3 90,8 18 1634.4 8244.64
Jumlah 71 5901.1 37005.99
49

Lebih jelasnya kemampuan hasil belajar teori siswa tentang adaptor mata

pelajaran keterampilan elektronika siswa kelas VIII SLTP Negeri 2 Kudus tahun

pelajaran 2004/ 2005 tersebut dapat dilihat pada gambar 4.2. :

Gambar 4.2. Bagan Distribusi Kemampuan Teori tentang Adaptor Siswa Kelas VIII SLTP Negeri
2 Kudus Tahun Ajaran 2004/2005.

Interprestasi Data Hasil Belajar Praktik dan Teori

Berdasarkan data hasil belajar praktik dan hasil belajar teori siswa kelas

VIII SLTP Negeri 2 Kudus pada pokok bahasan adaptor mata pelajaran

keterampilan elektronika tahun ajaran 2004/2005 diperoleh rata-rata sebesar 84,2.

Nilai tertinggi yang dapat dicapai siswa adalah 90,5, nilai terendah yang dapat

dicapai siswa adalah 72,9, modus 87,35 dan standar deviasi 4,41. Harga standar

deviasi yang relatif kecil tersebut menunjukkan bahwa perbedaan hasil belajar

dari masing-masing siswa relatif kecil. Dilihat dari hasil belajar masing-masing

siswa menunjukkan bahwa terdapat 70 siswa atau 97,18% yang telah memiliki

hasil belajar lebih dari 75. Hal tersebut tersebut menunjukkan bahwa secara

klasikal penerapan pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan

kontekstual pokok bahasan adaptor pada mata pelajaran keterampilan elektronika


50

siswa kelas VIII SLTP Negeri 2 Kudus tahun ajaran 2004/2005 tersebut telah

melebihi batas minimal standar ketuntasan hasil belajar secara klasikal yang

ditetapkan yaitu 85%. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis

kompetensi dengan pendekatan kontekstual tersebut efektif.

B. Pembahasan
Proses pembelajaran pokok bahasan adaptor pada mata pelajaran keterampilan

elektronika dengan pendekatan kontekstual yaitu suatu proses pembelajaran yang menekankan

perolehan pengalaman belajar dalam hal bagaimana kerja sama dan berinteraksi dengan teman

dalam sebuah “team work”, dapat menjalin hubungan yang erat dengan teman yang nantinya akan

berkembang menjadi semangat solidaritas kolegial, dan juga membina hubungan kemitraan

dengan guru. Hal yang perlu ditumbuhkan dalam diri siswa yaitu adanya kesadaran bahwa apa

yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti, sehingga mereka dapat memposisikan dirinya

sebagai sosok yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti dengan mempelajari apa yang

bermanfaat bagi dirinya dan berupaya untuk mencapainya. Pada pembelajaran praktikum,

kedudukan guru hanya sebagai pembimbing dan pengarah, yang membantu siswa untuk mencapai

tujuannya.

Kegiatan utama yang dilakukan siswa pada proses pembelajaran pembuatan adaptor

melalui pendekatan kontekstual yaitu berupa praktik dan diskusi. Melalui kegiatan praktik tersebut

siswa diarahkan untuk dapat berpikir secara konstruktivisme tentang bagaimana cara kerja adaptor.

Dengan proses ini diharapkan siswa dapat mengetahui serta membuktikan kebenaran dari konsep

yang sedang mereka pelajari sehingga proses pembelajaran tersebut dapat bermakna bagi siswa

karena siswa mendapatkan kebenaran konsep melalui pengalaman nyata atau melalui fakta-fakta

yang telah dilihatnya dalam praktik.

Kegiatan utama yang lain setelah kegiatan praktikum selama proses

belajar mengajar adalah diskusi. Melalui kegiatan diskusi tersebut siswa dapat

membahas dan menunjukkan bukti-bukti dari hasil pengamatannya tersebut.


51

Setelah kegiatan diskusi selesai, siswa selanjutnya menyajikan atau merefleksikan

hasil kerja kelompok di depan kelas. Dengan kegiatan diskusi klasikal ini akan

menciptakan situasi kondusif antar siswa untuk mengemukakan pendapatnya.

Guru sebagai motivator ikut memotivasi siswa agar terlibat aktif, tidak hanya

diam dan mendengarkan. Guru memberikan penegasan konsep sehingga siswa

memperoleh persepsi yang sama. Kegiatan terakhir yang dilakukan pada proses

pembelajaran praktikum yaitu kegiatan penilaian. Penilaian dilakukan dalam

bentuk ulangan harian, laporan diskusi kelompok, dan pengamatan terhadap

kegiatan siswa.

Penilaian terhadap proses pembelajaran pokok bahasan adaptor pada

mata pelajaran keterampilan elektronika baik berdasarkan penilaian hasil praktik

dan kemampuan hasil belajar teori menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar

yang telah dicapai siswa adalah 84,2 dengan ketuntasan hasil belajar siswa secara

klasikal yaitu 97,18%. Dari hasil belajar siswa tersebut dapat diketahui bahwa

ketuntasan belajar secara klasikal yang diterapkan sebagai indikator keberhasilan

belajar siswa yaitu 85% sudah tercapai.

Tingginya pemahaman siswa tersebut disebabkan kemudahan siswa

memahami materi yang diajarkan dengan metode ini yang pada akhirnya

berdampak terhadap meningkatkan sikap siswa dalam menyenangi materi,

meningkatnya minat, semangat, dan motivasi siswa dalam mempelajari materi

yang sedang diajarkan. Dalam setiap kegiatan belajar, siswa selalu menampakkan

keaktifan baik dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang

sukar diamati. Keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh keaktifannya dan


52

keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Belajar harus dilakukan secara

aktif baik secara individu maupun kelompok, dan guru bertindak sebagai

pembimbing dan fasilitator.

Dengan peningkatan keaktifan siswa melalui pembelajaran kontesktual

tersebut mengakibatkan baiknya hasil belajar yang diperoleh siswa. Hal tersebut

sesuai dengan pendapat Sudjana (1989) yang menyatakan bahwa semakin tinggi

keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, maka makin tinggi hasil belajar yang

dicapainya.

Hal yang dapat direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian ini yaitu penerapan

pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontekstual hendaknya dilakukan secara

berkelompok sehingga siswa mampu mengidentifikasikan pengetahuan yang telah diketahuinya

dan memperluas pengetahuan tersebut melalui kegiatan praktik. Komponen-komponen di dalam

pembelajaran praktikum dengan pendekatan kontekstual yaitu konstruktivisme (contructivisme),

menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), permodelan (modeling), refleksi

(reflection), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Keadaan ideal yang dapat

dilakukan dalam pembelajaran praktikum dengan pendekatan kontekstual di dalam kelas agar

tujuan pembelajaran tersebut terwujud, maka dirumuskan komponen-komponen pembelajaran

sebagai berikut:

7. Komponen konstruktivisme

Pada komponen konstruktivisme para siswa perlu menumbuhkan diri tentang

kesadaran bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti, sehingga mereka

dapat memposisikan dirinya sebagai sosok yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya

nanti dengan mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya untuk

mencapainya. Kegiatan yang dilakukan siswa pada komponen ini adalah praktik, berlatih,

berdemonstrasi, serta menciptakan ide bersama-sama teman satu kelompok. Peran guru pada

tahap ini adalah membentuk siswa menjadi kelompok-kelompok kecil, agar siswa dapat
53

dengan mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit. Pada saat proses

pemahaman konsep tersebut guru sesekali memberikan materi yang bermakna dan relevan

bagi siswa untuk memotivasi siswa memahami konsep yang sedang dipelajari. Guru tidak

diperkenankan memberikan informasi kepada siswa tentang konsep, akan tetapi lebih

memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk menemukan dan

menerapkan idenya sendiri dalam rangka penemuan konsep tersebut oleh siswa.

8. Komponen Pemodelan

Pada komponen ini kegiatan yang dilakukan oleh guru adalah

membuat suatu model yang nantinya akan ditiru oleh siswa dan

mendemonstrasikan cara melakukannya. Guru membuka kesempatan seluas-

luasnya kepada siswa yang belum jelas dengan penjelasan guru tersebut dan

memberikan kesempatan kepada siswa-siswa yang belum aktif. Kegiatan

siswa pada komponen pemodelan ini adalah memperhatikan seluruh

penjelasan guru dengan seksama dan menanyakan setiap penjelasan guru yang

belum dipahaminya.

9. Komponen penemuan

Pada komponen ini kegiatan siswa adalah melakukan observasi,

bertanya, mengajukan dugaan, mengumpulkan data hasil pengamatan dan

memberikan simpulan atas perolehannya tersebut. Untuk menciptakan

keaktifan siswa pada kegiatan penemuan guru harus mampu menciptakan

iklim yang mendukung, menciptakan situasi yang dapat memudahkan siswa

menyusun pertanyaan, mengajukan dugaan, dan mengumpulkan data serta

mengarahkan siswa untuk dapat menyimpulkan data temuannya terebut

melalui pemberian contoh pengajuan pertanyaan kepada siswa, mengarahkan

siswa untuk menulis pertanyaan tersebut, dan ikut membantu siswa-siswa


54

yang belum mampu menyusun pertanyaan serta membantu perumusan dugaan

atas jawaban pertanyaan yang disusun siswa. Pada langkah selanjutnya guru

mengarahkan siswa untuk mengumpulkan data pengamatan beserta pembuatan

simpulannya sambil sesekali memotivasi siswa-siswa yang belum berperan

aktif dalam kegiatan tersebut.

10. Komponen pembentukan masyarakat belajar

Pada komponen pembentukan masyarakat belajar, kegiatan utama

yang dilakukan adalah diskusi hasil pengamatan. Untuk menciptakan

keaktifan siswa pada kegiatan tersebut, peran guru adalah menciptakan situasi

yang mendukung, menfasilitasi kemungkinan terjadinya interaksi antara

presenter dengan audiens, membantu mengembangkan cara mengevaluasi

hasil penemuan studi selama presentasi baik secara lisan maupun tertulis.

11. Komponen refleksi

Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari

atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu.

Pada komponen ini yang peran guru adalah menyiapkan sedikit waktu di akhir

pembelajaran untuk memberikan pernyataan langsung tentang apa yang

diperolehnya, catatan atau jurnal selama kegiatan berlangsung. Pada

kesempatan ini siswa diberikan kesempatan untuk memberikan kesan terhadap

kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dan memberikan saran demi

kebaikan pelaksanaan pembelajaran untuk kesempatan berikutnya.

12. Komponen penilaian yang sebenarnya.

Penilaian merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa

memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Pada kesempatan ini


55

yang dilakukan guru adalah melakukan penilaian berdasarkan catatan-catatan

yang diperoleh guru selama proses belajar mengajar berlangsung terkait

dengan karya siswa, penampilan siswa selama diskusi, penilaian terhadap

laporan hasil praktek siswa, dan penilaian hasil tes tertulis siswa.
BAB V
PENUTUP

B. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan metode

pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontesktual pada mata pelajaran

keterampilan elektronika mampu mencapai tujuan instruksional khusus yang ditunjukkan dari

telah terpenuhinya kriteria belajar tuntas secara indivudu maupun secara klasikal. Hal ini tampak

dari rata-rata hasil belajar yang dicapai siswa melalui metode kontekstual yaitu 84,2 lebih besar

dari 75. Ditinjau dari ketuntasan hasil belajar secara klasikal menunjukkan bahwa 70 siswa atau

97,18% telah mencapai batas minimal ketuntasan belajar secara klasikal yaitu 85% siswa dalam

kelas memperoleh nilai melebihi 75. Karena batas ketuntasan siswa secara klasikal yaitu 85%

telah tercapai menunjukkan bahwa metode ini sangat efektif.

B. Saran

Atas dasar simpulan disampaikan saran yaitu sebagai bahan pertimbangan guru

elektronika untuk dapat melakukan pembelajaran pada pokok bahasan adaptor dengan

pembelajaran berbasis kompetensi dengan pendekatan kontekstual, sehingga pembelajaran

menjadi lebih optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1994. Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Dasar Propinsi Jawa


Tengah. Jakarta

Depdiknas. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah
Pertama (SMP). Jakarta.

. 2003. Pedoman Khusus Penilaian Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama


(SMP). Jakarta.

. 2003. Pendekatan Kontekstual. Jakarta

56
57

Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud

Hermana Soemantri. 1993. Perekayasaan Kurikulum Pendidikan Dasar dan


Menengah. Bandung: Angkasa

Husein Umar. 1996. Metodologi Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: Raja Grafindo
Persada

K.S Tugiyono, dkk. 1983. Pendidikan Keterampilan Teknik Elektronika Adaptor. Solo: Tiga Serangkai

Muhammad Ali. 1987. Penelitian Pendidikan Prosedur & Strategi. Bandung:


Angkasa
Max Darsono. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press

Nana Sudjana. 1990. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

1996. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru

. 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru

Ngalim Purwanto. 1997. Prinsip-Prinsip Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya

Prasodjo, dkk. 1983. Belajar Elektronika. Solo: Tiga Serangkai

Suharsimi Arikunto. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Yogyakarta:


PT Rhineka Cipta
. 1998. Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rhineka Cipta

. 1999. Dasar-Dasar Evaluasi


Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Sutrisno Hadi. 1998. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset

S Nasution. 1994. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Angkasa


Sudjana. 1996. Metode Statistika. Bandung: Tarsito

Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rhineka Cipta

Tabrani Rusyan, dkk. 1992. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remadja
Rosdakarya

Usman_NZ. 1991. Keefektivan Metode Pemetaan Konsep pada Mata Pelajaran Ilmu Listrik dan
Bahan-bahan Listrik STM Negeri se-Kotamadia Semarang. Tesis Pendidikan FPS IKIP
Jakarta tidak dipublikasikan.

WJS Porwodarminto. 1986. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Winarno Surakhmad. 1994. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar Dasar dan Teknik Metodologi
Pengajaran. Bandung: Tarsito
KISI – KISI INTRUMEN SOAL TES HASIL BELAJAR
58

KETERAMPILAN ELEKTRONIKA POKOK BAHASAN ADAPTOR

Materi
TIU TIK
Pelajaran C1
Adaptor 1. Siswa dapat mengenal 1. Siswa dapat menyebutkan bagian – bagian, 1, 2
nama dan memahami komponen – komponen adaptor
penggunaan bagian
(stage) yang terdapat 2. Siswa dapat menyebutkan fungsi dari masing
pada gambar / skema – masing komponen pada bagian – bagian 3, 4, 6, 7
sumber daya adaptor adaptor

3. Siswa dapat menunjukkan simbol – simbol


komponen elektronika 8, 9, 10, 12, 13,
14, 15, 17

4. Siswa dapat membaca nilai yang terdapat


pada badan komponen

5. Siswa dapat menjelaskan gambar bagian –


bagian adaptor 22

6. Siswa dapat menjelaskan arti nilai


kondensator 25

2. Siswa dapat membuat


adaptor 1. Siswa dapat menyebutkan alat, bahan dalam
pembuatan adaptor 27, 28

2. Siswa dapat menyebutkan fungsi PCB


29
3. Siswa dapat meyebutkan prosedur pembuatan
PCB 30

4. Siswa dapat menyebutkan pemasangan


komponen elektronika pada adaptor 31

5. Siswa dapat menerangkan


pengawatan komponen pada terminal
33
6. Siswa dapat menerangkan menyolder
pengawatan
34
7. Siswa dapat menunjukkan hubungan input
dan sekering

8. Siswa dapat menyebutkan prosedur uji coba


adaptor
36
3. Siswa dapat mengetes 1. Siswa dapat menerangkan multimeter
bagian – bagian pada
adaptor 2. Siswa dapat menerangkan keadaan komponen 37
pada adaptor
39
59

3. Siswa dapat menunjukkan batas ukur pada 45


saklar pemilih

4. Siswa dapat menentukan bagian – bagian


adaptor yang dites groundnya
48
5. Siswa dapat menerangkan besar tegangan
input dan tegangan pada kumparan sekunder
49

Keterangan:
C1 : Pengetahuan
C2 : Pemahaman
C3 : Aplikasi/ Penerapan
60

KISI – KISI INTRUMEN UJI COBA SOAL TES HASIL BELAJAR


KETERAMPILAN ELEKTRONIKA POKOK BAHASAN ADAPTOR

Materi
TIU TIK
Pelajaran C1
Adaptor 4. Siswa dapat mengenal 7. Siswa dapat menyebutkan bagian – bagian, 1, 2
nama dan memahami komponen – komponen adaptor
penggunaan bagian
(stage) yang terdapat 8. Siswa dapat menyebutkan fungsi dari masing
pada gambar / skema – masing komponen pada bagian – bagian 3, 4, 5, 6, 7
sumber daya adaptor adaptor

9. Siswa dapat menunjukkan simbol – simbol


komponen elektronika 8, 9, 10, 11, 12,
13, 14, 15, 16, 17

10. Siswa dapat membaca nilai yang terdapat


pada badan komponen

11. Siswa dapat menjelaskan gambar bagian –


bagian adaptor 22

12. Siswa dapat menjelaskan arti nilai


kondensator 25

5. Siswa dapat membuat


adaptor 9. Siswa dapat menyebutkan alat, bahan dalam 27, 28
pembuatan adaptor

10. Siswa dapat menyebutkan fungsi PCB 29

11. Siswa dapat meyebutkan prosedur pembuatan 30


PCB

12. Siswa dapat menyebutkan pemasangan 31, 32


komponen elektronika pada adaptor

13. Siswa dapat menerangkan


pengawatan komponen pada terminal
33
14. Siswa dapat menerangkan menyolder
pengawatan
34
15. Siswa dapat menunjukkan hubungan input
dan sekering

16. Siswa dapat menyebutkan prosedur uji coba


adaptor
36
6. Siswa dapat mengetes 6. Siswa dapat menerangkan multimeter
bagian – bagian pada
adaptor 7. Siswa dapat menerangkan keadaan komponen 37
61

pada adaptor
39
44
8. Siswa dapat menunjukkan batas ukur pada
saklar pemilih

9. Siswa dapat menentukan bagian – bagian


adaptor yang dites groundnya
48
10. Siswa dapat menerangkan besar tegangan
input dan tegangan pada kumparan sekunder
49

Keterangan:
C1 : Pengetahuan
C2 : Pemahaman
C3 : Aplikasi/ Penerapan
62
63

KUNCI JAWABAN
INSTRUMENT SOAL TES HASIL BELAJAR
1. A 34. A
2. A 35. C
3. B 36. A
4. C 37. D
5. D 38. B
6. D 39. A
7. C 40. A
8. A 41. A
9. A 42. D
10. B 43. A
11. C 44. B
12. D 45. A
13. D 46. C
14. C 47. C
15. B 48. D
16. A 49. C
17. A 50. B
18. B
19. C
20. D
21. D
22. A
23. B
24. C
25. D
26. A
27. D
28. C
29. A
30. A
31. C
32. D
33. A
i